Jurnal
AgriSains
PENANGGUNGJAWAB
Ketua LPPM Universitas Mercu Buana Yogyakarta
Ketua Umum : Dr. Ir. Ch Wariyah, MP
Sekretaris :
Awan Santosa, SE., M.Sc
Dewan Redaksi : Dr. Ir. Wisnu Adi Yulianto MP Dr. Ir. Sri Hartati Candra Dewi, MP
Dr. Ir Bambang Nugroho MP
Penyunting Pelaksana : Ir. Wafit Dinarto, M.Si Ir. Nur Rasminati, MP
Pelaksana Administrasi : Gandung Sunardi
Hartini
Alamat Redaksi/Sirkulasi :
LPPM Universitas Mercu Buana Yogyakarta Jl. Wates Km 10 Yogyakarta
Tlpn (0274) 6498212 Pesawat 133 Fax (0274) 6498213 E-Mail : [email protected]
Jurnal yang memuat artikel hasil penelitian ini diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Mercu Buana Yogyakarta, terbit dua kali setiap tahun.
Redaksi menerima naskah hasil penelitian, yang belum pernah dipublikasikan baik yang berbahasa Indonesia maupun Inggris. Naskah harus ditulis sesuai dengan format di Jurnal AgriSains dan harus diterima oleh redaksi paling lambat dua bulan sebelum terbit.
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah SWT, atas rahmat dan hidayahNya, sehingga Jurnal Agrisains Volume 4, No. 6, Mei 2013 dapat kami terbitkan. Redaksi mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada para penulis yang telah berbagi pengetahuan dari hasil penelitian, untuk dipublikasikan dan dibaca oleh pemangku kepentingan, sehingga memberikan kemanfaatan yang lebih besar bagi perkembangan IPTEKS.
Pada jurnal Agrisains edisi Mei 2013, disajikan beberapa hasil penelitian di bidang studi Peternakan, Agroteknologi, Teknik Informatika yang berisi tentang peningkatan kualitas daging unggas, peningkatan produksi tanaman pangan melalui pengurangan hama dan peningkatan kualitas pupuk serta di bidang teknik informasi tentang segmentasi tekstur citra lidah.
Redaksi menyadari bahwa masih terdapat ketidaksempurnaan dalam penyajian artikel dalam jurnal yang kami terbitkan. Untuk itu kritik dan saran sangat kami harapkan, agar penerbitan mendatang menjadi semakin baik. Atas perhatian dan partisipasi semua pihak redaksi mengucapkan terima kasih.
Yogyakarta, Mei 2013 Redaksi
DAFTAR ISI
Hal
Kata Pengantar iii
Daftar Isi iv EVALUASI KINERJA ITIK MANILA JANTAN DAN BETINA
PADA PEMBERIAN RANSUM DENGAN ARAS PROTEIN YANG BERBEDA 1-9 FX Suwarta
OPTIMALISASI KONSENTRASI MIKROKONIDIUM
DALAM FORMULASI AGENS HAYATI FUSARIUM OXYSPORUM F. SP. CEPAE AVIRULEN DAN DOSIS PENGGUNAANNYA UNTUK PENGENDALIAN
PENYAKIT MOLER PADA BAWANG MERAH 10-19
Bambang Nugroho
PENGARUH NANOKAPSUL EKSTRAK KUNYIT DALAM RANSUM
TERHADAP KUALITAS SENSORI DAGING AYAM BROILER 20-31
Sundari
SEGMENTASI TEKSTUR CITRA LIDAH PENDERITA TIFOID
MENGGUNAKAN METODE ADAPTIF 32-41
Supatman
KUALITAS KIMIA DAGING AYAM KAMPUNG DENGAN RANSUM BERBASIS
KONSENTRAT BROILER 42-49
Sri Hartati Candra Dewi
PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK
HASIL PENGOMPOSAN LIMBAH PENGOLAHAN KOPI DENGAN MENGGUNAKAN
PROBIOTIK URIN SAPI PADA BUDIDAYA TANAMAN SELADA 50-69
Bambang Sriwijaya
PEDOMAN PENULISAN NASKAH 70
EVALUASI KINERJA ITIK MANILA JANTAN DAN BETINA PADA PEMBERIAN RANSUM DENGAN ARAS PROTEIN YANG BERBEDA
FX Suwarta
Program Studi Peternakan, Fakultas AgroIndustri, Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Jl.
Wates Km 10 Yogyakarta 55753 E-mail : [email protected].
ABSTRACT
This experiment aims was to evaluate the performance of male and female muscovy on providing ration with protein levels different. This Research using experimental methods, with completely randomized factorial design (2x2) by sex and protein level different on the ration . This research conducted by experiment method by factorial experiment (2x2) two factors, the first factor was sex (male and female) and second factor was protein level on the ration (18 and 20%). The sixty muscovy ducks consisted 30 male and 39 female alocated by factorial experiment (2x2) following completely Randomized Design, Ration were given isonutrient except protein level (18 and 20 %). The collected data were i.e feed consumption, average daily gain, feed conversion, protein and energy efficiency and performance indeks (PI). The results of this experiment showed feed consumption, gain weight, feed conversion and performance indeks on male muscovy significantly (P<0,05) better than female muscovy.
Duck ration with 20% protein showed feed conversion and performance indeks siginificantly (P<0,05) better than duck ration with 18%.. The results concluded, male muscovy have feed consumption, gain weight, feed conversion and performance indeks was better than female ducks. Duck ration with 20% protein have feed conversion and performance indeks was better than duck ration 18%. Performance duck affected by sex interaction and protein level on the ration.
Key words: muscovy, sex, protein level, ration , performance.
PENDAHULUAN
Di Indonesia, unggas air (water fowl) merupakan salah satu unggas yang mempunyai peranan penting dalam menyediakan bahan pangan. Diantara berbagai bangsa unggas air dikenal itik manila (Muscovy). Keunggulan itik manila dibanding unggas air lainnnya adalah ukuran badannya lebih besar sehingga potensial sebagai penghasil daging dengan produksi telur cukup baik. Kandungan protein daging itik manila hampir sama dengan daging ayam dan kandungan lemaknya rendah dengan akumulasi lemak lebih banyak terjadi di bawah kulit.
Disamping sebagai penghasil daging, itik
manila juga dimanfaatkan sebagai unggas pengeram dan diambil bulunya untuk industri suttle cock. Itik manila mempunyai pertumbuhan lebih cepat dibanding itik, sehingga sangat potensial sebagai unggas pedaging. Itik manila juga mempunyai kemampuan memanfaatkan bahan pakan berserat kasar tinggi secara baik, sehingga pakannya dapat bersumber pada sayuran, rumput dan gulma. Penggunaan tanaman enceng gondok dan teratai sampai delapan persen tidak mengganggu pertumbuhan (Soesiawaningrini, et al., 1979), sedang penggunaan sekam padi sampai lima persen sudah menurunkan kinerja karena tingginya Si (Suwarta, 1996).
Pertumbuhan itik manila sangat bervariasi diantara itik jantan dan betina, pola pemeliharaan dan keragaman antar individu. Itik manila jantan mempunyai pertumbuhan lebih cepat dibanding itik manila betina. Itik manila jantan dewasa dapat mencapai berat 5,5 kg, sedang pada itik manila betina dewasa hanya mencapai berat 3 kg. Perbedaan dalam cara pemeliharaan pada itik manila juga menghasilkan perbedaan pertumbuhan. Itik manila yang dipelihara secara intensif menggunakan ransum ayam pedaging pada umur 8 minggu dapat mencapai berat badan 1,8 kg (Ermanto, 1986). Dengan pakan ayam petelur periode starter berat badan itik manila pada umur 8 minggu dapat mencapai berat badan 1,64 kg (Antawidjaja, 1990)
Pertumbuhan unggas secara umum dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor genetik menentukan potensi kemampuan pertumbuhan itik untuk tumbuh secara optimal, jika mendapatkan nutrien dan perlakuan manajemen secara baik. Pada umumnya pada fase pertama , itik akan mengalami pertumbuhan sangat cepat. Pertumbuhan paling cepat terjadi sejak menetas sampai umur 1,5 bulan.
Mulai umur 1,5 bulan sampai 3 bulan kecepatan pertumbuhan secara berangsur- angsur akan berkurang, sampai akhirnya pertumbuhan akan berhenti sama sekali.
Dengan makanan yang baik, itik manila betina dapat mencapai berat 1,5-1,7 kg pada umur 8 minggu (Leclercq dan de
Carville, 1985). Sejak umur 6 sampai 7 minggu, mempunyai pertumbuhan naik hampir linear, kemudian akan mengalami plateu sesudah berumur 8 minggu.
Dinyatakan pula terdapat perbedaan pola pertumbuhan dan karkas antara itik manila dan itik, perbedaan tersebut karena garis keturunan. Sejak minggu pertama sampai minggu ketiga itik manila tumbuh lebih lambat dari daripada itik pekin dan sesudah 4 minggu sampai umur 9 minggu, naik secara tajam. Pada umur 9 sampai 13 minggu pertumbuhannya relatif statis. Itik manila betina disamping produksi telurnya rendah, juga mempunyai pertumbuhan lebih lambat dari pada itik jantan. Berat badan itik manila jantan pada umur 13 minggu dapat mencapai 4 kg, sedang itik manila betina hanya mencapai 2,5 kg. Itik manila jantan mempunyai berat dada 700 g atau sekitar 35-70 persen lebih tinggi daripada itik betina dan 75 persen lebih berat daripada itik pekin jantan.
Pertumbuhan itik sangat terkait dengan konsumsi nutriennya, sehingga itik perlu diberi pakan sesai dengan pertumbuhannya yang relatif cepat.
Ransum itik harus mengandung nutrien yang dibutuhkan dan mempunyai kecernaan yang baik. Untuk mencapai pertumbuhan yang optimal, itik manila yang dipelihara secara intensif memerlukan ransum yang formulasinya cukup baik mengandung protein, energi, vitamin, mineral dan nutrien lainnya. Dinyatakan oleh Scott dan Dean (1991) bahwa untuk
mencapai pertumbuhan normal, itik pekin memerlukan ransum dengan kandungan energi 2200-33—kcal/kg. Namun beberapa penelitian menunjukkan bahwa laju pertumbuhan akan menurun dengan pemberian ransum berenergi di bawah 2600 kcal/kg. Ditambahkan oleh Dean dan Shen (1982) bahwa itik pekin yang mendapat ransum dengan kadar protein 22%, metionin 0,47% dan sistin 0,33%
menghasilkan pertumbuhan 10% lebih baik jika dibandingkan dengan ransum yang disuplementasi metionin 0,1%.
Mengingat belum adanya standard baku kebutuhan nutrien itik manila di Indonesia, untuk menyusun ransum itik biasanya digunakan standard dari ayam pedaging (Srigandono, 1996). Scott dan Dean (1991) menyatakan bahwa mengingat adanya perbedaan yang mencolok antara kandungan lemak tubuh dari itik dan ayam, itik lebih banyak memerlukan energi.
Demikian pula mengingat itik manila mempunyai pertumbuhan lebih cepat dari ayam, juga memerlukan protein yang berbeda pula. Dinyatakan oleh Srigandono (1996) bahwa untuk mencapai produksi yang tinggi itik membutuhkan protein 19%, energi termetabolis 2800-2900 kcal/kg, Ca 2,5-3,25%, P 0,35-0,45%, lisiin 0,79% dan metionin 0,34%.
Dalam ransum biaya protein dapat mencapai 50-60%, sedang harga nutrien lainnya relatif murah. Mengingat adanya perbedaan pertumbuhan yang mencolok
antara itik manila jantan dan betina, kebutuhan proteinnya juga berbeda.
MATERI DAN METODE PENELITIAN
Bahan dan alat
Penelitian menggunakan 60 ekor itik manila , umur 1 minggu, terdiri dari itik manila jantan dan betina masing-masing sebanyak 30 ekor. Selama penelitian itik manila ditempatkan dalam kandang kelompok sebanyak 12 kandang masing- masing berukuran panjang 1 m, lebar 80 cm dan tinggi 40 cm.Kapasitas setiap kandang 5 ekor. Kandang dilengkapi dengan tempat pakan dan air minum. Ransum yang diberikan selama penelitian disusun dari beberapa bahan pakan yaitu jagung, bekatul, tepung ikan, tepung tulang.
Ransum dibedakan atas kandungan proteinnya yaitu 18,1 dan 20,1 %. Macam bahan pakan dan kandungan nutrien bahan pakan penyusun ransum perlakuan tertera pada Tabel 1, sedang susunan dan kandungan nutrien ransum perlakuan tertera pada Tabel 2.
Tabel 1. Kandungan nutrien bahan pakan penyusun ransum Perlakuan
Bahan Pakan
PK (%)
ME (kcal/
kg) Ca (%)
P (%)
SK (%) Jagung 8,7 3430 0,02 0,30 2,0 Beketul 12,0 1630 0,04 1,40 3,0 Bungkil
kedele
43,8 2425 0,32 0,67 6,0 Tepung
ikan
60,0 2970 5,50 2,80 1,0 Tepung
tulang
- - 24,0 12,0 -
Tepung kerang
- - 38,0 - -
Tabel 2. Susunan dan kandungan nutrien ransum perlakuan
Bahan Pakan (%)
Ransum Penelitian
Ransum I Ransum II
Jagung 52,0 48,0
Bekatul 21,0 17,0
Bungkil kedele
20,0 20,0
Tepung ikan
5,0 5,0
Tepung tulang
2,0 2,0
Jumlah 100,0 100,0
PK (%) 18,1 20,1
ME (Kcal/kg)
2681,1 2699,1
SK (%) 2,78 2,93
Ca (%) 1,80 1,82
P (%) 0,90 0,91
Cara Penelitian
Penelitian dilakukan dengan metode eksperimen menggunakan rancangan acak lengkap pola faktorial (2x2), dengan faktor Jenis kelamin dan aras protein ransum.
Enam puluh ekor anak iitik yang terdiri dari 30 ekor itik jantan dan 30 ekor itik betina, dialokasikan ke dalam 12 kandang, masing-masing kandang sebanyak 5 ekor.
Setiap tiga kandang yang masing-masing berfungsi sebagai ulangan, digunakan sebagai satu kombinasi perlakuan. Itik dipelihara sampai umur 8 minggu dan diberi ransum sesuai dengan perlakuan secara ad libitum. Data yang diambil meliputi konsumsi pakan, kenaikan berat badan dan konversi pakan diambil seminggu sekali.
Rancangan Percobaan
Penelitian dirancang dengan rancangan acak lengkap pola faktorial (2x2) dengan faktor jenis kelamin (Jantan dan betina) dan faktor aras protein ransum ( 18% dan 20%). Setiap kombinasi perlakuan, digunakan ulangan tiga kali, masing-masing menggunakan 5 ekor itik.
Variabel yang diambil meliputi konsumsi pakan, kenaikan berat badan, konversi pakan dan indeks performan (IP). Analisis data dilakukan dengan analisis variansi dilanjutkan dengan uji Duncan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Variabel yang diamati selama 8 minggu meliputi konsumsi pakan, pertambahan berat badan ,konversi pakan, efisiensi penggunaan protein dan energi serta indeks performan.
Konsumsi Pakan
Konsumsi pakan rata-rata itik manila jantan sebesar 763,3 g/ekor/minggu secara nyata lebih tinggi daripada itik manila betina yaitu 698,2 g/ekor/minggu. Konsumsi pakan itik pada pemberian ransum dengan kadar protein 18% berbeda tidak nyata dengan kadar protein 20%. Data selengkapnya tertera pada Tabel 3.
Itik manila jantan secara nyata (P<0,05) mengkonsumsi pakan lebih tinggi dibanding itik manila betina, disebabkan itik manila jantan secara genetik mempunyai
pertumbuhan yang lebih cepat sehingga saluran cernanya berukuran lebih besar.
Adanya sifat sexual dymorphisme mengakibatkan itik manila jantan mempunyai pertumbuhan lebih cepat (Scott dan Dean, 1991). Konsumsi pakan itik manila pada pemberian ransum dengan kadar protein 18% berbeda tidak nyata dengan kadar protein 20%. Hal ini menunjukkan
konsumsi pakan itik manila lebih banyak dikontrol oleh kandungan energi ransumnya dari pada kandungan protein.. Dengan ransum yang mendekati isoenergi (2700 kcal/kg), seperti halnya pada ayam, itik juga akan mengkonsumsi pakan dalam jumlah yang hampir sama (Anggrodi, 1995).
Tabel 3. Konsumsi pakan itik manila dari masing-masing perlakuan (g/ekor/minggu).
Jenis Kelamin Protein
ransum Ula nga n
Jantan Betina Rata- rata (ns)
1 796,8 587,7
2 789,8 596,0
PK : 18%
3 776,6 642,5
698,2 Rata-
rata
787,7 608,7
1 817,4 592,6
2 778,0 637,0
PK : 20%
3 824,8 623,1
712,2 Rata-
rata
806,7 617,6 Rerata 763,3a 613,2b (-) Keterangan :
- ns : pada kolom rata-rata menunjukkan berbeda Nyata
-a,b : pada baris rerata menunjukkan berbeda nyata
- (-) : tidak ada interaksi
Pertambahan Berat Badan
Rata-rata pertambahan berat badan itik manila jantan sebesar 284,6 g/ekor/minggu secara nyata lebih tinggi dari pada itik manila betina yaitu 211,0 g/ekor/minggu. Rata-rata pertambahan berat badan itik manila pada pemberian ransum dengan kadar protein 18% sebesar 234,9 g/ekor/minggu sedang pada pemberian ransum dengan kadar protein 20% sebesar 260,8 g/ekor/minggu. Data selengkapnya disarikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Pertambahan berat badan itik manila dari masing-masing perlakuan (g/ekor/minggu).
Jenis Kelamin Protein
ransum Ula nga n
Jantan Betina
Rata- rata 1 275,3 209,9
2 262,8 202,9 PK :
18%
3 269,3 189,1
234,9a Rata-
rata
269,1e 200,6f 1 291,9 218,6 2 305,0 230,5 PK :
20%
3 303,4 215,2
260,8b Rata-
rata
300,1g 221,4h
Rerata 284,6c 211,0d (+) Keterangan :
-a,b : superskript pada kolom atau baris rerata menunjukkan berbeda
nyata
- (+) : ada interaksi
Itik manila jantan mempunyai pertambahan berat badan lebih tinggi dari pada itik betina. Hal ini sebagai akibat adanya interaksi antara genetik dan lingkungan (pakan). Secara genetik
sebagai akibat adanya sexual dymorphisme itik manila jantan mempunyai potensi tumbuh lebih cepat (Scott and Dean, 1991).
Itik manila jantan juga mempunyai konsumsi pakan lebih tinggi, sehingga ketersediaan nutrien untuk pertumbuhan juga leih baik. Itik manila yang diberi ransum dengan kadar protein 20% secara nyata mempunyai pertumbuhan lebih tinggi.daripada 18%. Hal ini disebabkan karena konsumsi proteinnya meningkat sebagai akibat dari meningkatnya konsumsi pakan dan kandungan protein ransum.
Pertumbuhan itik manila secara bersama- sama dipengaruhi oleh interaksi antara jenis kelamin dan aras protein.
Efisiensi Pemanfaatan Protein Untuk Pertumbuhan
Efisiensi pemanfaatan protein untuk pertumbuhan, dihitung berdasarkan kenaikan berat badan dibagi konsumsi protein dikalikan 100%. Data selengkapnya disarikan pada Tabel 5.
Dari Tabel 5 diketahui pada itik manila jantan setiap mengkonsumsi 100 g protein mampu meningkatkan pertambahan berat badan 189,41 g, sedang pada itik manila betina meningkatkan berat badan 175,99 g.
Ransum dengan kandungan protein 18%
menunjukkan pada itik setiap mengkonsumsi 100 g protein akan meningkatkan pertambahan berat badan 184,34 g, sedang pada aras protein 20%
akan meningkatkan pertambahan berat badan 182,77 g. Terdapat interaksi antara
jenis kelamin dan aras protein. Itik manila jantan yang diberi ransum dengan kadar protein 20% mempunyai efisiensi pemanfaatan sama dengan itik manila betina yang diberi ransum dengan aras protein 18%. Itik manila betina jika diberi ransum dengan kadar protein 20%
menunjukkan efisiensi yang rendah.
Tabel 5. Efisiensi pemanfaatan protein untuk pertumbuhan pada itik manila (%)
Jenis Kelamin Protein
ransum Ulan
gan Jantan Betina
Rata- rata (ns) 1 168,40 198,42
2 184,86 189,13 PK :
18%
3 192,65 172,59
184,34 Rata-
rata
181,97a 186,71b 1 178,55 184,44 2 196,02 181,03 PK :
20%
3 183,92 172,68
182,77 Rata-
rata
186,16b 179,38c Rerata
(ns)
189,41 175,99 (+) Keterangan :
ns : pada kolom atau baris rata-rata menunjukkan perbedaan tidak nyata.
-a,b : superskript pada kolom atau baris rerata menunjukkan berbeda nyata
- (+) : ada interaksi
Efisiensi Pemanfaatan Energi
Efisiensi pemanfaatan energi untuk pertumbuhan dihitung berdasarkan jumlah energi yang diperlukan untuk setiap kenaikan 1 g berat badan. Data efisiensi
pemanfaatan energi selengkapnya disarikan pada Tabel 6.
Tabel 6. Efisieni pemanfaatan energi untuk pertumbuhan pada itik manila (cal/g
pertumbuhan)
Jenis Kelamin Protein
ransum
Ulangan
Jantan Betina
Rata- rata
1 7,81 7,56
2 8,11 7,93
PK : 18%
3 7,79 9,17
8,05a Rata-
rata
7,90 8,22
1 7,56 7,32
2 6,89 7,46
PK : 20%
3 7,34 7,81
7,40b Rata-
rata
7,26 7,55 Rerata 7,58a 7,89b (-) Keterangan :
-a,b : pada baris atau kolom rerata Menunjukkan berbeda nyata (P<0,05)
- (-) : tidak ada interaksi
Hasil analisis variansi menunjukkan itik manila jantan secara nyata mempunyai efisiensi penggunaan energi lebih baik daripada itik betina. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada itik jantan mampu mengkonvesikan energi menjadi pertumbuhan lebih baik, sebagai akibat adanya sifat genetiknya. Efisiensi pemanfaatan energi pada itik manila yang diberi ransum dengan kadar protein 20%
lebih baik daripada18 %. Hal ini menunjukkan pada aras tersebut terjadi keseimbangan energi-protein yang optimal untuk pertumbuhan. Ransum dengan aras protein 18% terjadi in- efiesiensi
penggunaan energi akibat kurang tersedianya protein.
Konversi Pakan
Konversi pakan rata-rata itik manila jantan sebesar 2,68, sedang itik manila betina sebesar 2,91. Rata-rata konversi pakan itik pada pemberian ransum dengan kadar protein 18 % sebesar 3.00 sedang pada pemberian ransum dengan kadar protein 20% sebesar 2,74. Data selengkapnya disarikan padaTabel 7.
Tabel 7. Konversi pakan itik manila dari masing-masing perlakuan (g/ekor/minggu).
Jenis Kelamin Protein
ransum
Ulangan
Jantan Betina
Rata- rata
1 2,89 2,80
2 2,96 2,94
PK : 18%
3 3,06 3,34
3,00c Rata-
rata
2,97ef 3,34f
1 2,80 2,71
2 2,55 2,77
PK : 20%
3 2,72 2,90
2,74d Rata-
rata
2,69e 2,79ef Rerata 2,68a 2,91b (+)
Keterangan :
- ns : pada kolom rata-rata menunjukkan berbeda nyata
-a,b : pada baris rerata menunjukkan berbeda nyata
- (+) : Ada interaksi
Konversi pakan itik manila yang diberi ransum dengan kadar protein 20%
secara nyata (P<0,05) lebih baik dibanding dengan itik manila yang diberi ransum
dengan kadar protein 18%. Tingginya konvesri pakan pada itik manila yang mendapat ransum dengan kadar protein 18% menunjukkan pada ransum dengan kadar protein rendah itik manila kurang optimal mengkonversi pakan menjadi pertumbuhan. Pada itik manila betina juga menghasilkan konversi pakan lebih tinggi, karena secara genetik itik manila betina mempunyai pertumbuhan yang lebih rendah. Konversi pakan itik dipengaruhi oleh interaksi antara jenis kelamin dan aras protein.
Indek Performan (IP)
Analisis variansi menunjukkan bahwa rata-rata IP itik jantan sebesar 157,11 secara nyata (P<0,05) lebih baik daripada itik manila betina yaitu 116,38. Hal tersebut membuktikan pada umur yang sama itik manila jantan mempunyai kemampuan tumbuh dan mengkonversikan pakan lebih baik daripada itik manila betina.
Ransum dengan kadar protein 20% mampu memberikan pertumbuhan lebih baik dan lebih efisien untuk dikonversi menjadi pertumbuhan sehingga dihasilkan IP lebih baik.
Tabel 7. IP itik manila dari masing-masing perlakuan (g/ekor/minggu).
Jenis Kelamin Protein
ransum Ulan
gan Jantan Betina
Rata- rata 1 138,13 116,26 2 133,23 125,13 PK :
18%
3 131,77 89,83
122,4 0c Rata-
rata
134,38e 110,41g 1 155,12 124,71 2 174,15 126,85 PK :
20%
3 164,62 115,47
143,4 9d Rata-
rata
164,63f 122,34h Rerata 2,57,11a
116,38b (+) Keterangan :
-a,b : pada baris rerata menunjukkan berbeda nyata
- (+) : Terdapat interaksi
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan :
Dari hasil penelitian disimpulkan :
1. Itik manila jantan mempunyai konsumsi pakan, kenaikan berat badan, efisiensi pemanfaatan protein lebih tinggi daripada itik betina, dengan konversi pakan dan indeks performan lebih baik dari pada itik manila betina.
2. Ransum dengan aras protein 20%
memberikan kinerja lebih baik daripada ransum dengan aras protein 18%.
3. Kinerja itik manila ditentukan oleh jenis kelamin, aras protein ransum dan interaksi keduanya.
Saran
Disarankan untuk mencapai
produktivitas yang optimal peternak dapat memelihara itik manila jantan dengan pemberian ransum berkadar protein 20%.
DAFTAR PUSTAKA
Anggorodi, R. 1995. Kemajuan muthakir Dalam Ransum Unggas. UI Press.
Jakarta
Antawidjaja Tata. 1990. Meningkatkan peranan ternak entog (Cairina moschata) dalam pembangunan peternakan. Proceeding : Temu tugas sub sektor peternakan. Sub Balitnak, Klepu. Januari, 1990.
Dean,W.F dan T.F.Shen, 1982. Effect of methionine on the chlorine requirement of ucklings. J.Poult. Sci. 61:1447-1448.
Ermanto, C. 1986. Perbandingan performan itik tegal (Anas plathyrinchos), itik manila (Cairina moschata) dan hasil
persilangannya (Mule duck). Karya ilmiah. Fakultas Peternakan, IPB, Bogor.
Leclercq, B and H. De Carville. 1985.
Growth and Bodu composition of muscovy duckling, in : Duck production science and world practice. Univ. New England.
Scott, M. L and W. F. Dean. 1991. Nutrition and management ducks. M,L. Scott of Ithaca, New York.
Soesiawaningrini, D.P., B. Suwardi and M.
Thorari. 1979. Waterhyacinth (Eichornia crassipes mart) in broiler duck ration. In : Proceedings of the 6th Asian Pasific.
Weed Science Society Conference.
Jakarta. PP:623-627.
Suwarta, FX. 1996. Evaluasi Peranan Seka dan Aras Sekam Padi Dalam Ransum Terhadap Kinerja Itik Manila. Thesis.
Pasca Sarjana. UGM.
Srigandono, 1996. Ilmu Produksi Unggas Air. Gajah Mada University Press.
OPTIMALISASI KONSENTRASI MIKROKONIDIUM DALAM FORMULASI AGENS HAYATI FUSARIUM OXYSPORUM F. SP. CEPAE AVIRULEN DAN DOSIS PENGGUNAANNYA
UNTUK PENGENDALIAN PENYAKIT MOLER PADA BAWANG MERAH
Bambang Nugroho
Fakultas Agroindustri, Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Jl. Wates Km 10 Yogyakarta 55753
E-mail : [email protected]
ABSTRACT
An effective biological control agent, avirulent Fusarium oxysporum f. sp. cepae (Foc33), was developed to control moler disease on shallot and was well formulated in zeolite powder.
However, its effectiveness was affected by several factors including dose of application and concentration of microcodia in the formula. This study was carried out to find the appropriate dose of application and microconidia concentration of the agent in controlling moler diseases and giving the best yield of shallot. The research was single factor with three replications arranged in completely randomized design. The treatment was the application of biological control agent of Foc33 formulated in zeolite powder with five levels, i.e. A = Control, B = the dose of 35 kg/ha (0,22 g/polybag) with the concentration of 104 spore/ml, C = the dose of 40 kg/ha (0,25 g/polibag) with the concentration of 104 spore/ml, D = the dose of 35 kg/ha (0,22 g/polibag) with the concentration of 104 spore/ml, E = the dose of 40 kg/ha (0,25 g/polibag) with the concentration of 106 spore/ml. Shallot bulb (Kuning variety) was planted in the polybag 25 cm in diameter containing planting medium of soil and cow manure mixture with the ratio of 2:1 v/v. Before planting, Foc33 was applied by placing the zeolite formula in the planting hole as much as the dose used in the treatment. Pathogen inoculation was done before Foc33 application by pouring 20 ml microconidium suspension of virulent Fusarium oxysporum f. sp.
cepae with the concentration of 106 spore/ml. Moler disease intensity, growth variable (plant height, leaf number, and plant fresh weight), and yield variable (bulb number, bulb diameter, bulb weight after harvest, and bulb sun-dried weight) were observed. Data was analyzed using ANOVA. The results showed that effectiveness of Foc33 in controlling moler disease was affected by its dose and concentration. The higher the dose and concentration, the lower the disease intensity. The best treatment is E (the dose of 40 kg/ha (0,25 g/polibag) and the concentration of 106 spore/ml) with lowest disease intensity of 47 per cent. The use of Foc33 could increase the plant height and leaf number but did not improve bulb number and bulb diameter. However, the use of this biological control agent with the appropriate dose and concentration (treatment E) was able to save about 40 per cent of yield loss based on the bulb sun-dried weight.
Key words: moler disease, Foc33, application dose, microconidium concentration
PENDAHULUAN
Penyakit merupakan salah satu kendala utama di lapangan dalam pengembangan bawang merah di Indonesia karena hampir selalu ditemukan di setiap
daerah penanaman. Penyakit busuk pangkal umbi (moler) yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f. sp. cepae adalah penyakit yang perlu diberi perhatian khusus dalam penanganannya, karena luas serangannya dari tahun ke tahun terus
bertambah. Pada 2003-2005 kumulatif luas tambah serangan penyakit moler adalah 48,1 ha, 116,8 ha, dan 268,1 ha (Anonim, 2006a). Hal ini menunjukkan bahwa upaya pengendalian penyakit moler yang dilakukan selama ini belum efektif, padahal kumulatif luas pengendalian penyakit ini dari tahun ke tahun terus meningkat yaitu 4.569,1 ha (2003), 8.095,8 ha (2004), dan 5.867,2 ha (2005) (Anonim, 2006b).
F. oxysporum f. sp. cepae adalah jamur patogen yang mampu bertahan hidup di dalam tanah dalam jangka waktu yang lama. Patogen hidup secara internal di dalam jaringan tanaman inangnya. Kondisi yang demikian menyebabkan penyakit sulit dikendalikan apabila menggunakan fungisida. Tanah yang sudah terinfestasi patogen juga sulit untuk dibebaskan kembali sehingga memungkinkan penyakit senantiasa muncul sepanjang musim.
Sementara itu varietas bawang merah yang tahan terhadap penyakit ini belum tersedia.
Dengan demikian perlu dikembangkan metode pengendalian yang efektif, murah, mudah diaplikasikan, dan ramah terhadap lingkungan.
Pengendalian hayati dengan memanfaatkan agens pengendali biologi merupakan metode yang tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut. Agens hayati yang efektif untuk mengendalikan penyakit moler telah diperoleh yaitu varian avirulen dari Fusarium oxysporum f. sp.
cepae yang diberi nama Foc33. Agens
hayati ini juga sudah diformulasikan dalam bentuk tepung (powder) dengan bahan pembawa zeolit (Nugroho, 2010). Namun demikian, dosis penggunaan yang tepat dan konsentrasi spora yang terbaik di dalam formulasi tersebut perlu diteliti lebih jauh.
Oleh karena itu, dalam penelitian ini akan dilakukan optimasi dosis dan konsentrasi tersebut sehingga mampu meningkatkan efektivitas agens hayati dalam mengendalikan penyakit moler.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis penggunaan formulasi dan konsentrasi spora (mikrokonidium) agens hayati Foc33 yang tepat yang memberikan pengaruh terbaik dalam mengendalikan penyakit moler bawang merah dan memberikan hasil bawang merah yang terbaik.
MATERI DAN METODE 1. Rancangan Percobaan
Penelitian ini merupakan percobaan faktor tunggal yaitu penggunaan agens hayati Fusarium oxysporum f. sp. cepae (Foc33) yang sudah diformulasikan dalam zeolit dengan lima aras perlakuan yaitu:
A = Kontrol
B = Dosis penggunaan 35 kg/ha (0,22 g/polibeg) dengan konsentrasi mikrokonidium 104 spora/ml
C = Dosis penggunaan 40 kg/ha (0,25 g/polibeg) dengan konsentrasi mikrokonidium 104 spora/ml
D = Dosis penggunaan 35 kg/ha (0,22 g/polibeg) dengan konsentrasi mikrokonidium 104 spora/ml
E = Dosis penggunaan 40 kg/ha (0,25 g/polibeg) dengan konsentrasi mikrokonidium 106 spora/ml
Percobaan disusun dalam rancangan acak lengkap dengan 3 ulangan.
Tiap-tiap satuan perlakuan digunakan 10 polibeg (10 tanaman) sehingga populasi total tanaman sebanyak 5 x 3 x 10 = 150 tanaman.
2. Pembuatan Formulasi
Zeolit yang digunakan disterilkan terlebih dahulu dengan cara pengovenan selama 2 jam pada suhu 60oC. Pembuatan formulasi dilakukan dengan menginokulasi 4 g zeolit yang sudah disterilkan dengan agens pengimbas Foc33 sebanyak 10 ml dengan konsentrasi mikrokonidium 104 spora/ml dan 106 spora/ml sesuai dengan perlakuan (Singh et al., 1998). Zeolit yang sudah diinokulasi dibiarkan mengering di dalam cawan petri. Setelah mengering, formulasi tersebut dihancurkan dan dilembutkan dengan kuas steril dan siap digunakan.
3. Persiapan Umbi Bibit dan Penanaman Sebelum ditanam, umbi bibit bawang merah varietas Kuning didisinfeksi dengan direndam dalam NaOCl 1% selama 1 menit, dicuci dengan akuades steril dan ditiriskan semalam di atas kertas koran
(Ozer et al., 2004). Umbi yang sudah diperlakukan ditanam dalam polibeg berdiameter 25 cm yang berisi campuran tanah dan pupuk kandang sapi 2:1 v/v.
Setiap polibeg ditanami satu umbi. Tanah yang digunakan disterilkan lebih dahulu dengan cara steaming (pengukusan) selama lebih kurang 2 jam. Untuk menimbulkan penyakit moler, sebelum tanam ke dalam setiap lubang tanam diinokulasi dengan 20 ml suspensi mikrokonidium patogen F. oxysporum f. sp.
cepae isolat Bt dengan konsentrasi 106/ml.
4. Pemberian Perlakuan
Agens hayati yang sudah diformulasikan dalam zeolit dengan konsentrasi mikrokonidium yang sudah ditentukan, diberikan pada pada setiap polibeg dengan dosis seperti perlakuan.
Pemberian dilakukan sebelum umbi bibit ditanam dengan cara menaburkan di lubang tanam.
5. Pemeliharaan Tanaman
Pemeliharaan tanaman yang dilakukan meliputi pemupukan, penyiraman, dan penyiangan gulma. Pupuk kandang sapi dicampur secara merata dengan tanah sebagai medium tanam dengan perbandingan 2/1 v/v. Dosis pupuk anorganik yang diberikan masing-masing adalah urea 0,625 g/polibeg (setara dengan 100 kg urea/ha), ZA 1,56 g/polibeg (setara dengan 250 kg ZA/ha), TSP 1,25 g/polibeg (setara dengan 250 kg TSP/ha), dan KCl 0,625 g/polibeg (setara dengan
100 kg ZA/ha). Pupuk kandang dan TSP diberikan sebelum tanam sebagai pupuk dasar, sedangkan pupuk yang lain diberikan dua kali pada umur 2 dan 5 minggu setelah tanam masing-masing dengan setengah dosis. Penyiraman dilakukan tiap hari untuk menjaga kelembaban tanaman, sedangkan penyiangan dilakukan sesuai dengan kondisi gulma di polibeg.
6. Pengamatan
Pengamatan dilakukan untuk memperoleh data-data sebagai berikut:
a. Intensitas Penyakit. Intensitas penyakit dihitung sebanyak 6 kali pengamatan dimulai sejak 2 minggu setelah tanam. Pengamatan dilakukan seminggu sekali.
Intensitas penyakit dihitung dengan menggunakan rumus:
a
IP = --- X 100%
b
dengan IP = intensitas penyakit, a = jumlah tanaman yang bergejala, dan b =jumlah tanaman yang diamati.
b. Variabel pertumbuhan meliputi jumlah daun, tinggi tanaman, dan bobot segar tanaman. Pengamatan dilakukan mulai umur 2 sampai dengan 6 minggu setelah tanam untuk variabel jumlah daun dan tinggi tanaman, sedangkan. bobot segar tanaman ditimbang pada akhir penelitian. Pengamatan dilakukan terhadap 10 tanaman.
c. Variabel hasil meliputi jumlah umbi per rumpun, diameter umbi, dan bobot umbi. Pengamatan dilakukan setelah panen terhadap 10 tanaman.
7. Analisis Data
Data dianalisis dengan analisis varians dan apabila terdapat beda nyata dilanjutkan dengan DMRT (Duncan New Multiple Range Test) (p=0,05%).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengaruh perlakuan terhadap intensitas penyakit moler mulai terlihat pada pengamatan minggu ke 4, walaupun pada pengamatan sebelumnya, yaitu minggu kedua dan ketiga intensitas penyakit moler pada kontrol selalu yang tertinggi. Pada minggu kedua (pengamatan pertama), intensitas penyakit moler pada kontrol (perlakuan A) sudah mencapai 50% lebih.
Pemberian agens hayati Foc33 mampu menekan intensitas penyakit moler sampai dengan pengamatan terakhir. Pada pengamatan terakhir, intensitas penyakit moler pada perlakuan dengan dosis dan konsentrasi terendah (perlakuan B) tidak berbeda nyata dengan kontrol. Semakin tinggi konsentrasi dan dosis pemakaian agens hayati Foc33, semakin rendah intensitas penyakit molernya. Intensitas terndah diperoleh pada perlakuan E sebesar 47% yang berbeda nyata dengan kontrol (Tabel 1).
Tabel 1. Intensitas penyakit moler bawang merah pada masing-masing perlakuan mulai minggu kedua sampai dengan minggu keenam setelah tanam (data ditransformasi ke arc sin)
Pengamatan minggu ke Perlakuan
2 3 4 5 6
A 50,85a 70,08a 72,29a 72,29a 72,29a B 41,07a 52,86a 52,86b 57,00a 61,92ab C 37,14a 48,93a 50,85b 55,08a 55,08b D 26,07a 47,01a 48,93b 55,77a 54,78b E 30,93a 45,08a 47,30b 49,22a 47,01b
Keterangan: A = Kontrol, B = Dosis penggunaan 35 kg/ha (0,22 g/polibeg) dengan
konsentrasi mikrokonidium 104 spora/ml, C = Dosis penggunaan 40 kg/ha (0,25 g/polibeg) dengan konsentrasi mikrokonidium 104 spora/ml, D = Dosis penggunaan 35 kg/ha (0,22 g/polibeg) dengan konsentrasi mikrokonidium 104 spora/ml, E = Dosis penggunaan 40 kg/ha (0,25 g/polibeg) dengan konsentrasi mikrokonidium 106 spora/ml (notasi yang sama pada setiap kolom menunjukkan tidak berbeda nyata menurut uji DMRT dengan α = 0,05)
Efektivitas yang lebih tinggi pada perlakuan E dalam menekan intensitas penyakit moler, berkaitan dengan dosis penggunaan dan konsentrasi mikrokonidium agens hayati yang lebih tinggi yaitu masing-masing sebesar 40 kg/ha dan 106 spora/ml. Konsentrasi ini sama dengan konsentrasi mikrokonidium patogennya yang digunakan untuk inokulasi buatan. Hasil penelitian Shishido (2005) menunjukkan hal yang sama. Penelitian ini menguji efektivitas agens hayati F.
oxysporum non-patogenik strain Fo-B2 untuk mengendalikan penyakit layu pada tanaman tomat yang disebabkan oleh F.
oxysporum f. sp. lycopersici. Konsentrasi spora agens hayati yang digunakan bervariasi dari 104 sampai dengan 107/ml, sedangkan konsentrasi spora patogennya
dari 104 sampai dengan 106/ml. Hasilnya menunjukkan bahwa intensitas penyakit layu semakin menurun dengan meningkatnya konsentrasi spora agens hayati yang digunakan pada setiap konsentrasi spora patogennya. Intensitas penyakit bisa lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol apabila konsentrasi spora agens hayatinya lebih rendah daripada konsentrasi spora patogennya. Hal ini mengindikasikan bahwa agens pengimbas akan bekerja efektif apabila konsentrasi spora yang digunakan lebih tinggi daripada konsentrasi spora patogennya.
Peningkatan efektivitas penekanan penyakit oleh agens hayatinya berkaitan dengan kolonisasi akar sebelum terinfeksi patogen.
Kemungkinan dengan meningkatnya
konsentrasi spora agens hayati, kolonisasi akar juga semakin baik.
Penurunan intensitas penyakit akibat penggunaan agens pengimbas dengan dosis dan konsentrasi yang tepat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanamannya. Hal ini dapat dilihat pada tinggi tanaman dan jumlah daun. Tanaman yang dikendalikan dengan agens hayati menunjukkan tinggi yang lebih baik dibandingkan dengan kontrol. Pada akhir pengamatan, tinggi tanaman pada kontrol hanya 19,484 cm sedangkan pada perlakuan di atas 30 cm (Tabel 2). Sejalan dengan perkembangan intensitas penyakit, perbedaan jumlah daun akibat perlakuan yang diberikan terlihat pada pengamatan minggu keempat (Tabel 3). Pada minggu keempat, jumlah daun terbanyak diperoleh
pada perlakuan D, sedangkan yang terendah diperoleh pada kontrol. Pada akhir pengamatan, rerata jumlah daun pada kontrol hanya 7,167 buah, sedangkan pada perlakuan di atas 13 buah.
Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Santosa et al. (2007) yang mendapatkan bahwa pada petak-petak bawang merah yang diinokulasi dengan patogen moler menunjukkan pertumbuhan yang kurang baik dibandingkan dengan petak-petak yang tidak diinokulasi.
Intensitas penyakit pada petak-petak yang diinokulasi patogen tersebut lebih tinggi daripada petak-petak yang tidak diinokulasi.
Tabel 2. Tinggi tanaman bawang merah pada masing-masing perlakuan mulai minggu kedua sampai dengan minggu keenam setelah tanam (cm)
Pengamatan minggu ke Perlakuan
2 3 4 5 6
A 28,313a 33,756a 33,945a 31,883bc 19,484b B 29,789a 38,181a 38,700a 41,383a 39,883a C 29,100 a 35,890 a 35,187 a 30,107c 31,093 a D 28,400 a 35,728 a 40,256 a 36,039abc 35,094 a E 28,450 a 36,362 a 40,942 a 39,428ab 37,611 a
Keterangan: A = Kontrol, B = Dosis penggunaan 35 kg/ha (0,22 g/polibeg) dengan konsentrasi mikrokonidium 104 spora/ml, C = Dosis penggunaan 40 kg/ha (0,25 g/polibeg) dengan konsentrasi mikrokonidium 104 spora/ml, D = Dosis penggunaan 35 kg/ha (0,22 g/polibeg) dengan konsentrasi mikrokonidium 104 spora/ml, E = Dosis penggunaan 40 kg/ha (0,25 g/polibeg) dengan konsentrasi mikrokonidium 106 spora/ml (notasi yang sama pada setiap kolom menunjukkan tidak berbeda nyata menurut uji DMRT dengan α = 0,05)
Tabel 3. Jumlah daun bawang merah dan bobot segar tanaman pada masing-masing perlakuan mulai minggu kedua sampai dengan minggu keenam setelah tanam (cm)
Pengamatan minggu ke
Perlakuan
2 3 4 5 6
Berat segar total tanaman
(g) A 19,070a 23,450 a 10,875b 18,500 a 7,167 a 83,375 a B 19,200 a 29,711 a 22,167ab 18,833 a 23,500 a 92,577 a C 24,800 a 28,430 a 18,700ab 12,167 a 13,333 a 127,960 a D 21,200 a 24,680 a 27,170 a 22,222 a 20,833 a 61,480 a E 20,470 a 27,700 a 23,230ab 16,750 a 15,111 a 131,015 a
Keterangan: A = Kontrol, B = Dosis penggunaan 35 kg/ha (0,22 g/polibeg) dengan konsentrasi mikrokonidium 104 spora/ml, C = Dosis penggunaan 40 kg/ha (0,25 g/polibeg) dengan konsentrasi mikrokonidium 104 spora/ml, D = Dosis penggunaan 35 kg/ha (0,22 g/polibeg) dengan konsentrasi mikrokonidium 104 spora/ml, E = Dosis penggunaan 40 kg/ha (0,25 g/polibeg) dengan konsentrasi mikrokonidium 106 spora/ml (notasi yang sama pada setiap kolom menunjukkan tidak berbeda nyata menurut uji DMRT dengan α = 0,05)
Efektivitas agens hayati dalam menekan penyakit moler belum mampu meningkatkan jumlah umbi per tanaman secara nyata walaupun jumlah umbi pada kontrol lebih rendah daripada jumlah umbi pada seluruh perlakuan. Jumlah umbi dihitung setelah bawang merah dipanen dan dilakukan pada tanaman yang masih
hidup hingga akhir penelitian. Tanaman yang masih hidup hingga panen adalah tanaman yang sehat atau tidak menunjukkan gejala penyakit. Hal inilah yang diduga menyebabkan jumlah umbi tidak berbeda nyata antarperlakuan (Tabel 4).
Tabel 4. Jumlah umbi per tanaman, diameter umbi, jumlah tanaman yang hidup pada saat panen, bobot segar umbi, dan bobot kering matahari umbi pada masing- masing perlakuan
Perlakuan Jumlah umbi
Diameter umbi (mm)
Bobot segar umbi (g)
Bobot kering matahari
umbi (g)
Jumlah tanaman
hidup A 4,25a 16,455 a 37,050 a 24,500 a 4 a B 5,00 a 15,710 a 34,250 a 19,530 a 6 a C 5,50 a 15,875 a 57,200 a 36,800 a 6 a D 4,83 a 13,580 a 20,940 a 10,977 a 6 a E 6,50 a 16,170 a 59,950 a 40,500 a 9 a
Keterangan: A = Kontrol, B = Dosis penggunaan 35 kg/ha (0,22 g/polibeg) dengan konsentrasi mikrokonidium 104 spora/ml, C = Dosis penggunaan 40 kg/ha (0,25 g/polibeg) dengan konsentrasi mikrokonidium 104 spora/ml, D = Dosis penggunaan 35 kg/ha (0,22 g/polibeg) dengan konsentrasi mikrokonidium 104 spora/ml, E = Dosis penggunaan 40 kg/ha (0,25 g/polibeg) dengan konsentrasi mikrokonidium 106 spora/ml (notasi yang sama pada setiap kolom menunjukkan tidak berbeda nyata menurut uji DMRT dengan α = 0,05)
Perlakuan yang diberikan juga tidak berpengaruh terhadap diameter umbi.
Umbi yang diperoleh berukuran relatif kecil karena diameternya tidak mencapai 2 cm.
Nugroho (2009) pada penelitian sebelumnya juga mendapatkan hasil yang sama, bahwa walaupun agens hayati yang digunakan efektif dalam menekan perkembangan penyakit moler tetapi tidak berpengaruh terhadap diameter umbi.
Perbedaan yang terlihat pada hasil akibat perlakuan yang diberikan lebih disebabkan karena agens hayati mampu menurunkan jumlah tanaman yang mati (mempertahankan jumlah tanaman yang
hidup). Pada akhir pengamatan, jumlah tanaman yang masih hidup terendah diperoleh pada kontrol sebanyak empat tanaman, sedangkan yang tertinggi diperoleh pada perlakuan E sebanyak sembilan tanaman. Hal ini berarti dengan dosis dan konsentrasi penggunaan agens hayati Foc33 yang tepat (perlakuan E) mampu menurunkan kematian tanaman hingga 55% bila dibandingkan dengan kontrol (perlakuan A). Rengwalska dan Simon (1986) menyatakan bahwa patogen F. oxysporum f. sp. cepae memang mampu menyebabkan kematian pada tanaman inang termasuk pada bawang bombay secara cepat karena terjadinya kematian
jaringan (busuk) pada pangkal batang (basal rot). Patogen ini juga dapat menyebabkan penyakit pada bawang putih.
Bobot segar umbi dan bobot kering matahari umbi diperoleh dengan menimbang seluruh umbi dari jumlah tanaman yang masih hidup (Tabel 4).
Dengan demikian, maka bobot segar dan bobot kering matahari umbi tertinggi juga diperoleh pada perlakuan E masing-masing sebesar 59,95 g dan 40,5 g. Sementara itu pada kontrol bobot segar dan bobot kering matahari umbi masing-masing adalah 37,05 dan 24,5 g. Hal ini berarti bahwa dengan pemakaian agens hayati dengan dosis dan konsentrasi yang tepat mampu menyelamatkan hasil sebesar kurang lebih 40%. Sementara itu pada penelitian sebelumnya, dengan waktu aplikasi yang tepat penggunaan agens hayati ini mampu menyelamatkan hasil hingga 48% lebih (Nugroho, 2009).
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwa:
1. Efektivitas penekanan penyakit moler oleh agens hayati Fusarium oxysporum f. sp. cepae avirulen (Foc33) yang diformulasikan dalam zeolit dipengaruhi oleh dosis penggunaan dan konsentrasi mikrokonidiumnya. Dosis yang paling baik yang diperoleh adalah 40 kg/ha (0,25 g/polibeg) dengan konsentrasi mikrokonidium 106 spora/ml.
2. Efektivitas Foc33 dalam menekan intensitas penyakit moler dapat diperoleh dengan konsentrasi minimal sama dengan konsentrasi patogennya.
3. Penggunaan agens hayati Foc33 mampu menyelamatkan hasil dalam bentuk bobot kering matahari umbi sebesar 40%.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2006a. Kumulatif luas tambah serangan OPT pada tanaman bawang merah 2000-2005.
www.deptan.go.id/ditlinhorti/.
Diakses 05/01/07.
______. 2006b. Kumulatif luas pengendalian OPT pada tanaman bawang merah 2000-2005.
www.deptan.go.id/ditlinhorti/.
Diakses 05/01/07.
Nugroho, Bambang. 2009.
Pengembangan Fusarium
oxysporum f. sp. cepae varian avirulen sebagai agens pengimbas ketahanan bawang merah terhadap penyakit moler. Laporan Akhir Hasil Penelitian Hibah Bersaing (Tahun II).
Tidak dipublikasikan.
________________. 2010.
Pengembangan Fusarium
oxysporum f. sp. cepae varian avirulen sebagai agens pengimbas ketahanan bawang merah terhadap
penyakit moler. Laporan Akhir Hasil Penelitian Hibah Bersaing (Tahun III). Tidak dipublikasikan.
Ozer, N., N.D. Koychu, G. Chilosi, dan P.
Magro. 2004. Resistance to Fusarium basal rot of onion in greenhouse and field and associated expression of antigungal compounds. Phytoparasitica 32(4):
388-394.
Rengwalska, M. M., and Simon, P. W. 1986.
Laboratory evaluation of pink root and Fusarium basal rot resistance in garlic. Plant Disease 70:670-672.
Santoso, Suprapto Edy, Loekas Susanto, dan Totok Agung Dwi Haryanto.
2007. Penenkanan hayati penyakit
moler pada bawang merah dengan Trichoderma harzianum, Trichoderma koningii, dan Psudomonas fluorescens P60. J.
HPT Tropika 7(1):53-61
Shishido, M., Miwa, C., Usami, T., Amemiya, Y., and Johnson, K. B.
2005. Biological control efficiency of Fusarium wilt of tomato by nonpathogenic Fusarium oxysporum Fo-B2 in different environments.
Phytopathology 95:1072-1080.
Singh, P.P., Shin, Y.C., Park, C.S., and Chung, Y.R. 1999. Biological control of Fusarium wilt of cucumber by chitinolytic bacteria.
Phytopathology 89:92-99.
PENGARUH NANOKAPSUL EKSTRAK KUNYIT DALAM RANSUM TERHADAP KUALITAS SENSORI DAGING AYAM BROILER
Oleh :
Sundari1*, Zuprizal2, Tri-Yuwanta2, Ronny Martien3
1Fakultas Agroindustri, Universitas Mercu Buana Yogyakarta,Jl.Wates km 10,Sedayu- Bantul 55753
2 Fakultas Peternakan,Universitas Gadjah Mada Jl. Fauna 3, Bulaksumur Yogyakarta 55281
3Fakultas Farmasi,Universitas Gadjah Mada,Sekip Utara Yogyakarta 55281
*E -mail: [email protected] ABSTRACT
This study aimed to evaluate the effect of turmeric-extract nanocapsule levels in the ration on sensory quality and fatty acids composition of broiler chicken meat. This study used a completely randomized design, one way classification. One hundred and twenty male broiler chicks were divided into 10 treatments with 3 replicates, each of 4 birds per replicate. Ten thtreatments are : P1 (BR + Bacitracin 50 ppm), P2 (BR /Basal-Rations /control), P3 (BR + Chitosan 0.1%), P4 (BR + Turmeric-Extract 0.1%), P5 (BR + STTP 0.1%), P6 (BR + Nanocapsule 0.2%), P7 (BR + Nanocapsule 0.4%), P8 (BR + Nanocapsule 0.6%), P9 (BR + Nanocapsule 0.8%), P10 (Commercial-Ration). The variables measured of sensory quality were : color, odor, taste, tenderness, texture and preference panelists and meat fatty acids composition. ANOVA followed LSD was used for data analysis. The results showed that treatments ofthe feed had no significant difference (P>0.05) for color, odor, taste, tenderness, and preference panelists but significantly difference (P<0.05) in the texture of the meat. It was concluded that turmeric extracts nanocapsule can be used in broiler rations a t levels 0.4% yield sensory quality are good in meat broiler chicken.
Key words: Turmeric-extract, Nanocapsule, Sensory-quality, Fatty-acids, Broiler-chicken.
PENDAHULUAN
Sebagian masyarakat mulai enggan untuk mengkonsumsi daging ayam broiler, hal ini antara lain disebabkan oleh adanya bau amis, anyir atau bau yang lainnya yang disebut sebagai off odor disamping takut efek samping adanya residu antibiotik ataupun lemak dalam daging. Antibiotik secara luas digunakan pada budidaya unggas tidak hanya untuk mengobati penyakit tetapi juga untuk memelihara kesehatan, meningkatkan pertumbuhan, dan memperbaiki efisiensi pakan (Gaudin et al., 2004). Pemberian antibiotik yang tidak terkontrol dan tidak terbatas dapat
menyebabkan akumulasi atau residu dalam tubuh ternak dan produknya (Wachira et al., 2011). Disamping antibiotik guna mencapai kinerja yang tinggi pada ayam broiler juga dipakai ransum berprotein dan berenergi / berlemak tinggi menyebabkan tingginya kandungan lipid daging terutama asam lemak jenuh dan kolesterol serta off odor.
Penyakit jantung dan aterosklerosis merupakan penyebab utama kematian manusia, berhubungan erat dengan konsumsi kolesterol dan asam lemak jenuh (Sacks, 2002 cit. Omojola et al., 2009).
Adanya kontroversi penggunaan antibiotik dan ransum berenergi tinggi
diatas, perlu upaya mencari feed additive dari bahan alami yang mempunyai potensi pengganti fungsi antibiotik, mengurangi off odor sekaligus penurun asam lemak jenuh/kolesterol dalam daging. Beberapa peneliti terdahulu melaporkan bahwa antioksidan merupakan komponen yang dapat menunda, memperlambat dan mencegah reaksi oksidasi radikal bebas dalam oksidasi lipid (Barroeta, 2007).
Kurkumin telah terbukti sebagai antioksidan yaitu dapat menangkap radikal hidroksi merupakan salah satu bentuk dari radikal bebas (Nurfina, 1996 cit. Aznam, 2004).
Beberapa penelitian secara in vitro dan in vivo menunjukkan bahwa kunyit mempunyai aktivitas sebagai antibakteri, antiinflamasi (antiperadangan), antitoksik, antihiperlipidemia, antioksidan dan antikanker, tetapi kurkumin mempunyai bioavailabilitas yang rendah (kelarutan rendah, penyerapan rendah, cepat lewat, tingginya tingkat metabolisme di sel usus, eliminasi cepat) (Anand et al., 2007). Salah satu sebab rendahnya bioavailabilitas kurkumin adalah tidak larut air pada asam atau pH netral, dan ini penyebab sulitnya diabsorpsi (Maiti et al., 2007), sehingga aplikasi kurkumin diperlukan teknologi dan polimer yang mampu membawa dan mengantarkannya untuk dapat terabsorbsi dengan baik, seperti kitosan nanopartikel.
Kurkumin atau kunyit cenderung mempunyai muatan negatif. Kitosan pada suasana asam akan terprotonasi. Kedua muatan yang berlawanan jika dicampur
akan berikatan ionik (kitosan mengenkapsulasi kurkumin). Sehubungan dengan pemberian nanokapsul ini secara oral dan sifat kitosan yang labil terhadap pH rendah serta protease yang dihasilkan di lambung, agar ikatan ionik antara kitosan dan kurkumin tidak seluruhnya rusak maka diperlukan bahan anion misalnya sodium tripolifosfat (STPP) sebagai cross-linking.
Cas yang berlawaanan dari poli elektrolit dapat menstabilkan kompleks inter molekuler untuk enkapsulasi dari makro molekul (Swatantra et al., 2010). Produk nanokapsul ekstrak kunyit ini adalah produk baru, oleh karenanya perlu dipelajari pengaruhnya pada penerimaan konsumen (uji sensoris) terhadap daging hasil aplikasinya.
MATERI DAN METODE
Penelitian pemeliharaan ternak ayam broiler dilakukan di kandang percobaan Laboratorium Ilmu Makanan Ternak Fakultas Peternakan UGM.
Sedangkan uji sensoris dilakukan di Laboratorium sensoris Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan Rancangan AcakLengkap (RAL) pola searah. Susunan 10 kombinasi ransum basal dan feed additive perlakuan adalah sebagai berikut: P1(RB + Bacitracin 50 ppm), P2( RB /Ransum Basal/kontrol), P3(RB + Kitosan 0,1%), P4(RB + Ekstrak Kunyit 0,1%), P5(RB + STTP 0,1%), P6(RB + Nanokapsul 0,2%), P7(RB + Nanokapsul 0,4%), P8(RB + Nanokapsul 0,6%), P9(RB + Nanokapsul 0,8%), P 10(Ransum
Komersial). Peubah yang diukur : uji sensoris atau organoleptik adalah warna, bau, rasa, keempukan, tekstur dan kesukaan panelis serta kadar asam lemak daging. Seratus dua puluh ekor anak ayam broiler umur 2 minggu dibagi secara acak dalam 10 perlakuan ransum. Setiap perlakuan diulangi 3 kali dan setiap ulangan terdiri dari 4 ekor. Ayam dipelihara di kandang kawat dilengkapi dengan alat makan dan minum serta pemanas listrik dari umur 2-6 minggu. Ransum yang diberikan
dalam bentuk mash dan kandungan nutrient disesuaikan dengan kebutuhan ayam broiler (NRC, 1994). Ransum dan air minum diberikan ad libitum. Bahan dan komposisi serta kandungan gizi ransum basal disajikan dalam Tabel 1. Pada umur 6 minggu, tiap ulangan diambil 1 ekor ayam dipotong untuk diambil sampel daging bagian paha atas tanpa kulit untuk keperluan uji sensori.
Tabel 1. Komposisi dan kandungan nutrien ransum basal *:
BAHAN PAKAN PERSENTASE (%)
Jagung kuning giling 52,00
Dedak padi 13,00
Bungkil kedelai 19,00
Tepung ikan 9,50
Minyak sawit 5,15
Batu kapur 0,85
Garam NaCl Premix **
L-Lysine HCl DL Metionin
0,25 0,20 0,10 0,05
TOTAL 100,00
KANDUNGAN NUTRIEN
Protein kasar (%) 20,21
Metabolizable Energy (kcal/kg) 3199,83
Lemak kasar (%) 4,71
Serat kasar (%) 4,02
Kalsium (%) 0,94
Fosfor tersedia (%) 0,41
Lisin (%) 1,15
Metionin (%) 0,40
Keterangan :
*Standar kebutuhan nutrien ayam broiler umur 3-6 minggu (NRC, 1994): protein 20%;
Lys 1,0%; Met 0,38%; energy 3200 kcal/kg, Ca 0,9%; P av 0,35%.
** Komposisi premix per kilogram : Ca 32,5%; P 10,0%; Fe 6,0 g; Mn 4 g; Iod 0,075 g;
Zn 3,75 g; vit B12 0,5 mg; vit D3 50000 IU.
Uji kualitas sensoris daging dilakukan dengan sampel daging yang
dimasak tanpa garam atau bumbu. Skor aroma, warna, rasa, tekstur, keempukan,
dan daya terima pada uji sensoris disajikan pada Tabel 2. Pada uji sensoris perebusan daging dilakukan selama 60 menit pada suhu 80ºC. Ukuran panjang, lebar dan tinggi setiap potongan daging adalah 1 x 1 x 1 cm. Panelis yang digunakan dalam uji ini adalah panelis agak terlatih (semi terlatih) sebanyak 15 orang sesuai metode Rayahu,1998 cit. Purba et al., 2010.
Seluruh panelis bertugas untuk memberikan skor pada setiap sampel yang disajikan ke dalam formulir yang disediakan.
Data hasil uji sensoris dianalisis dengan statistic non parametric Kruskal Wallis dan ANOVA untuk yang berbeda nyata dilanjutkan uji LSD menggunakan program computer SPSS versi 16 for Windows.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penilaian kualitas sensoris atau uji organoleptik
Penilaian kualitas sensoris atau uji organoleptik terhadap daging ayam broiler dilakukan dengan uji hedonic. Kualitas sensoris / sifat mutu daging merupakan parameter kualitas daging yang terdiri dari uji aroma, warna, rasa, tekstur, keempukan, dan daya terima / kesukaan keseluruhan panelis terhadap daging yang diuji secara subyektif oleh panelis. Daging yang digunakan untuk uji ini adalah daging bagian paha atas. Panelis diminta untuk memberikan skor 1 (satu) sampai dengan 5 (lima), dengan arti sebagai berikut: 1=
sangat suka, 2 = suka, 3 = agak suka, 4 = tidak suka, 5 = sangat tidak suka. (Jadi derajad kesukaan panelis dimulai dari angka kecil dan paling tidak disukai mempunyai skor nilai yang besar).
Aroma daging.
Aroma merupakan sifat mutu yang penting untuk diperhatikan dalam penilaian organoleptik bahan pangan, karena aroma merupakan faktor yang sangat berpengaruh pada daya terima konsumen terhadap suatu produk. Aroma merupakan sifat mutu yang sangat cepat memberikan kesan bagi konsumen. Penilaian terhadap aroma dapat dilakukan dari jarak jauh, atau tanpa melihat produk itu sendiri. Nilai rataan kesukaan panelis terhadap aroma daging antara 2,20 hingga 2,73 yaitu berkisar suka hingga agak suka, dapat dilihat pada Tabel 2. Secara statistik perlakuan penambahan feed additive / nanokapsul ekstrak kunyit berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap aroma daging dibandingkan kontrol ransum basal ataupun ransum komersial. Tetapi jika dilihat dari angka reratanya daging ayam yang diberi ransum komersial atau nanokapsul 0,4% merupakan yang paling disukai aromanya (Gambar 1). Menurut Soeparno (2005) aroma daging dipengaruhi oleh umur ternak, jenis pakan, lama dan kondisi penyimpanan setelah dipotong.
Dalam hal ini jenis pakan /nanokapsul ekstrak kunyit setelah sampai di saluran pencernaan ayam sebagian kecil akan didegradasi dan sebagian lagi akan diabsorbsi masuk ke darah dan dibawa ke
seluruh tubuh (kecernaan kurkumin dalam ransum ayam broiler yang ditambah nanokapsul 0,5% adalah 70,64%).
Kurkumin setelah ada di cairan sel akan cepat dimetabolisme dan diubah menjadi senyawa turunannya sehingga sudah kehilangan sifat aslinya yang beraroma
enak setelah menjadi daging sehingga memberikan aroma yang tidak berbeda nyata. Aroma amis /fishy (off odor) daging pada seluruh perlakuan tidak tampak, semua daging harum dan enak, disini pemakaian tepung ikan sama yaitu 9,5%
(Tabel 1).
Gambar 1. Skor nilai aroma daging yang pakannya ditambah nanokapsul.
Warna daging.
Warna daging merupakan salah satu sifat dari sensoris daging yang utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor warna daging ayam broiler yang diberi pakan dengan penambahan nanokapsul ekstrak kunyit berbeda tidak nyata (P>0,05) yaitu antara 2,20 sampai 2,87/ warna agak kuning sampai putih kekuningan. Hal ini disebabkan karena penambahan nanokapsul ekstrak kunyit tidak mempengaruhi mioglobin (Soeparno, 2005;
Fanatico et al., 2007), hemoglobin (Chartrin et al., 2006), dan pigmen heme yang menentukan warna daging. Menurut
Soeparno (2005), faktor-faktor yang mempengaruhi warna daging adalah pakan, spesies, bangsa, umur, jenis kelamin, stres (tingkat aktifitas dan tipe otot), pH dan oksigen. Pada penelitian ini kadar hemoglobin dari seluruh perlakuan juga tidak berbeda nyata rerata 5,75 g/dl atau berkisar antara 4,2 – 9,3 g/dl. Jadi seperti dijelaskan diatas bahwa kurkumin yang merupakan pigmen kuning dari kunyit setelah ada di dalam sel tubuh akan cepat dimetabolisme dan berubah menjadi derivatnya sehingga sudah kehillangan warna aslinya (kuning) sehingga tidak memberikan warna yang berbeda nyata
pada daging yang ransumnya ditambah ekstrak kunyit. Kalau dilihat dari nilai rerata skor warna yang paling disukai 2,20 adalah P1 (ransum yang ditambah bacitracin 50 ppm) dan P5 (ransum yang ditambah STTP
0,1%) memberikan warna daging putih kekuningan. Warna daging ayam broiler yang pakannya ditambah nanokapsul ekstrak kunyit paling disukai T8 (level NP 0,6%) Gambar 2.
Gambar 2. Skor nilai warna daging yang pakannya ditambah nanokapsul.
Rasa daging.
Rasa merupakan kualitas sensoris daging yang berkaitan dengan indera perasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor rasa daging ayam broiler yang diberi pakan dengan penambahan nanokapsul ekstrak kunyit berbeda tidak nyata (P>0,05) yaitu 2,33 sampai 3,07 yaitu berkisar antara rasa agak gurih sampai gurih. Rasa daging ayam broiler relatif sama yaitu gurih, hal ini disebabkan karena penambahan nanokapsul ekstrak kunyit dalam pakan tidak mempengaruhi substansi
atsiri (volatil) yang terdapat di dalam daging (Soeparno, 2005) sebagai molekul kecil yang dilepaskan oleh makanan (selama pemanasan, pengunyahan dan lain-lain) yang bereaksi dengan reseptor dalam mulut atau rongga hidung yang menentukan rasa daging dan daging yang berkualitas baik mempunyai rasa yang relatif gurih. Dalam penelitian ini rasa daging paling disukai pada penambahan STTP 0,1% dengan skor 2,33. Rasa daging ayam broiler yang pakannya ditambah nanokapsul ekstrak kunyit paling disukai T9 (level NP 0,8%) Gambar 3.