B B
eberapa mahasiswa FISIP ke luar negeri. Ada puluhan mahasiswa D‐3 pariwisata yang magang‐kerja di hotel berbintang di Timur Tengah. Beberapa ikut student‐exchange ke Belanda dan Turki dalam rangka program Erasmus Mundus.Beberapa ikut kegiatan AIESEC di Polandia, China dan Taiwan. Ada rombongan anak‐
anak Politik dan Hubungan Internasional yang ikut simulasi Sidang PBB di New York akhir Maret lalu. Ada yang ikut program kapal ASEAN‐Jepang. Selain itu, masih ada yang masih menunggu waktu untuk berangkat ke luarnegeri dalam kerjasama Erasmus Mundus.
Di lain pihak, ada mahasiswa luarnegeri yang akan ke fakultas kita. Bulan Mei nanti, sepuluh mahasiswa Malaysia bersama beberapa dosennya akan ke kampus kita untuk seminar dan kuliah sit‐in. Ada juga mahasiswa Edith Cowan University yang mau pindah dan meneruskan studinya ke fakultas kita.
Pertautan dengan luarnegeri itu tak
hanya mahasiswa, juga staf pengajar. Selain Madame Anna dari Prancis, ada Dr Michael Hurst dari Fulbright. Ada yang dari program Erasmus Mundus, akan datang Mei nanti doktor dari Polandia. Ada juga peneliti dari Australia. Sebagaimana pernah diberitakan di edisi sebelumnya, kita punya beberapa mahasiswa asing di program magister kita:
dari Myanmar, Papua Nugini, Fiji, Kamboja, dan Madagaskar.
Jumlah mahasiswa yang ke luarnegeri itu tentu tidak banyak, apalagi kalau dibandingkan dengan jumlah seluruh mahasiswa aktif yang hampir 3.000 orang.
Tetapi makin hari makin terasa bahwa jumlahnya bertambah. Itu karena universitas mencoba memfasilitasi pelbagai kerjasama dan pertautan dengan pihak‐
pihak di luarnegeri. Tidak hanya dengan Erasmus Mundus, tetapi dengan universitas‐universitas lain di luarnegeri dalam rangka menuju World Class University.
Kerjasama itu tentu akan berguna kalau
kita, di sini dan kini, bisa memperkuat kinerja dan kualitas kita sebagai lembaga pendidikan. Kalau kita tidak kuat di dan dari dalam, maka kita tidak akan bisa maksimal dan optimal memanfaatkan pertautan dengan sesama sivitas akademika dari luarnegeri itu. Sedangkan kalau kita kuat di dalam dan dari dalam, maka ibarat cakra kita akan bisa mudah memanfaatkan setiap pertautan dengan sesama sivitas akademika dari luarnegeri itu.
Bisa diprediksi, ke depan pertautan dengan luarnegeri ini akan makin banyak.
Beberapa mahasiswa program Erasmus Mundus gelombang pertama dari Eropa kini sudah berada di fakultas‐fakultas lain. Akan datang gelombang kedua bulan‐bulan depan. Kita, seluruh sivitas akademika, mesti berbenah diri agar lebih siap bila nanti lebih banyak kegiatan pertautan luarnegeri itu. Tidak hanya soal gedung dan fisik yang lain, tetapi terutama soal kinerja dan kualitas pengajaran kita.
(I Basis Susilo)
Pertautan Mahasiswa dengan Luar Negeri
edisi: 14/April 2010
editorial
REKAMAN ACARA BERDUKA CITA
lPENANGGUNG JAWAB: I. Basis Susilo (Dekan FISIP)
lPEMIMPIN UMUM: V. DUGIS (Wakil Dekan III) lPIMPINAN REDAKSI: Yayan Sakti Suryandaru
lJURNALIS: Debrina Tedjawidjaja ; Intan Fitranisa ; Putri Rizkl Pramadhani, Muhammad Zaki Ath. T; Puspita Adiyani C.
lFOTOGRAFER: Yanuar Satria Putra, Prima Kirtti Utomo lLAY‐OUT/PRODUKSI: Irfan Wahyudi, S.Sos
lAlamat Redaksi: Gedung FISIP Kampus B Universitas Airlangga Jl. Dharmawangsa Dalam Surabaya Telp.(031) 5034 015, 5047 754, 5011 744, 5017 429. Fax.(031) 5012 442 le‐mail: fi[email protected]
PENGABDIAN MASYARAKAT
Sabtu, 6 Maret 2010
1. Drs. Sudarso, MSi ; 2. Siti Mas’udah, S.Sos., MSi Pembicara/Narasumber :
Kegiatan Workshop Karya Ilmiah dengan tema “ Pendidikan dan Pelatihan Metodologi Penelitian dan Penulisan Ilmiah" ‐ FISIP Universitas Trunojoyo
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐
Kamis, 11 Maret 2010 Dra. Liestianingsih Dwi D., M.Si
Pembicara/Narasumber :
Pola Menonton Televisi secara Aman dan Cerdas untuk Anak' Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Jatim Jl. Bandilan Waru‐Sidoarjo
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐
14‐16 Maret 2010 Dr. Drs. Henry Subiakto, SH., MA
Pembicara/Narasumber :
Kegiatan Workshop on Taiwan Media's Development
Director Press Information Division Taipe Economic and Trade Office, Indonesia
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐
17‐24 Maret 2010 Kacung Marijan (Politik)
narasumber : Workshop “Consumer Attitude toward Islamic Banking”
di Ritsumeikan Asia Pasific University Jepang
dengan membawakan makalah “Social Enteprenuership and Islamic Microfi‐
nance: Lesson from Pesantren Sidogiri.”
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐
18‐20 Maret 2010 Drs. Yan Yan cahyana, MA Fasilitator Leadership Sensivity Training Pemprov Maluku dengan Pusdiklat SPIMNAS
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐
23 Maret 2010
1. Dra. Tri Susantari, M.Si ; 2. Sri Endah Nurhidayati, S.Sos., M.Si Pembicara/Narasumber : Penguatan Focal Point ‐ Pemberdayaan Masyarakat
& KB Pemkot Surabaya
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐
23 Maret 2010 Drs. Priyatmoko, MA
Pembicara/Narasumber : Menciptakan suasana kondusif dalam Mensuk‐
seskan Pemilukada Tahun 2010 di Jawa Timur ‐ BAKESBANGPOL Prov. Jatim
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐
30‐31 Maret 2010
1. Dra. Tri Susantari, M.Si ; 2. Sri Endah Nurhidayati, S.Sos., M.Si;
3. Novianto Edi Suharno, SST
Pembicara/Narasumber : Sosialisasi Gender untuk Guru ‐ Pemberdayaan Masyarakat & KB Pemkot Surabaya
WAKTU ACARA TEMPAT
3, 6, 7 Maret 2010 HI’s Language Inside Tournament
Lantai 3 Gedung C FISIP
3 Maret 2010 Rapat Yudisium Ruang Adisukadana
4 - 9 Maret 2010 Kompetisi 2nd Malaysia Debate Open 2010 (diikuti maha- siswa Komunikasi 2007, Brigiv Aditya )
Kuala Lumpur, Malaysia
8 Maret 2010 Pembekalan bagi calon wisudawan
Ruang Adisukadana
19 Maret s/d 14 April 2010
HI Cup 2010 - Lapangan parkir FIB - Lapangan basket
kompleks Cheng Ho - Lapangan Basket
Araya di Galaxy Bumi Permai Tahap II
19 maret 2010 Dies Natalis Sosiologi ke-32
Kampus FISIP
26 Maret 2010 Persekutuan Doa Ju- matan (PDJ) yang di- adakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kristen Protestan UNAIR
FISIP Gedung A
27 Maret 2010 Outbond SKI FISIP Kebun Raya Pur- wodadi
28 Maret-2 April 2010 Konferensi Nasional, National Model United Nations 2010
New York, Amerika Serikat
31 Maret 2010 Movie Day, memperi - ngati hari Film Na- sional
Mini Theater (MiThe) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP)
Telah berpulang ke Rahmattulloh JUMARI (kaur Sarana Prasarana) pada 21 Maret 2010 pukul 19.00 WIB.
Jenazah dimakamkan di TPU Kedungcowek
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐
Telah berpulang ke Rahmattulloh ayahanda Isti Widiastuti (staf kependidikan) pada 29 Maret 2010. Jenazah dimakamkan di TPU Yogyakarta
hubungan internasional
M
engembangkan potensi gene- rasi bangsa tidak lepas dari tanggung jawab perguruan tinggi.Departemen Hubungan Internasio- nal Unair yang sadar betul akan hal ini, tanggal 3 dan 6-7 Maret 2010 lalu menyelenggarakan HI’s Lan- guage Inside Tournament (HI-Lite) sebagai wujud tanggung jawab ter- sebut. Acara yang diselenggarakan di lantai 3 Gedung C FISIP ini berisi kompetisi debat (Debate contest) dan pidato dalam bahasa Inggris (speech contest) untuk siswa SMA se-Jawa Timur.Selain untuk men- gasah kreatifitas dan kecerdasan,
even ini diselenggarakan sebagai ajang sosialisasi departemen Hu- bungan Internasional ke publik.
Lebih dari seratus siswa SMA Se-Jawa Timur terlibat dalam kom- petisi ini. Tak hanya dalam kuantitas, rata-rata peserta yang datang sudah menguji kualitas di sekolah masing- masing. Perwakilan sekolah yang di- kirim adalah mereka yang terbaik, sehingga kompetisi berlangsung seru dan sangat menarik karena ka- pasitasnya bisa dibilang seimbang.
Dalam speech contest yang men- jadi pembuka dalam rangkaian acara ini, tampak para peserta sudah kom- peten dalam berpidato. Penampilan
mereka sudah tampak sudah diper- siapkan dengan matang. ”Pengua- saan panggung rata-rata sudah nggak ada yang canggung. Cuma im- provisasinya yang beda-beda, dan ini yang bikin seru. Yang lihat nggak bosen,” ungkap Arif Setyanto, ketua panitia HI-Lite.
Dengan tema Facing The Chal- lege of Terorism yang ditentukan pa- nitia, para peserta menggali ide-ide intelektualnya untuk mengintepre- tasi. Ada yang menyisipkan cerita studi kasus, lagu-lagu, puisi hingga prosa heroik dalam penyampaian pi- dato mereka. Aksi-aksi ini menjadi
poin plus, karena pidato menjadi lebih hidup dan segar. Namun, ka- dang menjadi kelewat ”menyegar- kan” lantaran keasyikan beraksi peserta kadang lupa pada poin uta- manya. ”Habis nyanyi gitu, lupa mau pidato apa lagi, he he.. tapi secara keseluruhan bagus kok penampilan- nya,” ceritanya sambil tersenyum geli.
Peserta speech contest yang lolos penyisihan harus melalui tan- tangan yang lebih berat lagi. Kali ini tidak ada aksi, karena tema pidato diberikan saat itu juga dan penyusu- nan naskahnya on the spot. Selain itu, mereka hanya boleh membawa
note kecil untuk pengingat saja.
Tema Enviromentalizm as Global Movement disajikan oleh peserta dengan pidato yang lebih serius kepada isi pidato.
Kompetisi Debat yang diseleng- garakan tanggal, 6-7 Maret tak kalah seru. Seperti lomba debat pada umumnya, peserta harus bisa mem- pertahankan pendapatnya, menepis argumen lawan, maupun membalik- kan pendapat lawan. Menariknya, di HI-Lite Debate Contest, isu-isu yang diperdebatkan adalah isu ter- kini seputar politik global, isu inter- nasional, terorisme, lingkungan dan teknologi. ”Cukup berat memang,
jadi kalau nggak sering baca koran bisa mengalami kesusahan,” ujar ketua yang merupakan mahasiswa HI angkatan 2009 ini.
Dengan begini, secara tidak langsung HI ingin menyampaikan bahwa aware terhadap info terkini menjadi suatu keharusan. Bagaimana permasalahan nasional atau mung- kin tingkat global, bisa diselesaikan bila penerusnya saja tidak tahu apa permasalahan yang dihadapi. ”HI- Lite ini kami usahakan menjadi even tahunan, karena selain jadi ajang so- sialisasi yang mencerdaskan, kami ingin HI-Lite menjadi pembejaran sosial juga,” pungkas Arif. (int)
Lomba Speech Contest di HI-Lite
“GOOOL .. “ , teriakan lantang itu- lah yang terdengar di lapangan parkir Fakultas Ilmu Budaya beberapa waktu lalu setelah salah seorang ma- hasiswa menceploskan bola ke ga- wang lawan. Ini merupakan salah satu bagian dari kompetisi olahraga dan fun games yang diadakan oleh maha- siswa Ilmu Hubungan Internasional secara periodik setiap tahunnya.
Acara ini merupakan acara yang di- peruntukkan bagi mahasiswa ilmu hubungan internasional Unair guna
memperkuat rasa solidaritas antar mahasiswa. Acara ini berlangsung seru dan meriah sejak 19 maret hingga 14 april 2010. Selain di la- pangan parkir FIB, HI CUP juga menggunakan lapangan basket kom- pleks Cheng Ho, yang terletak persis di depan masjid Cheng Ho yang be- gitu terkenal itu, dan lapangan Basket Araya di Galaxy Bumi Permai II.
HI CUP yang bertajuk Friends- hip first , competition second ini be- risikan lomba futsal, basket, voli, tarik
tambang, triathlon (makan, minum, meletuskan balon), balap bakiak, foto angkatan dan make up. Serangkaian acara tersebut berhasil menimbul- kan gelak tawa khususnya dalam lomba make up. Disini mahasiswa cowok didandani sedemikian rupa hingga menyerupai jeng kelin, su- zanna, dan pinky girl. “ gilaaa ……
bisa juga ya cowok keren terus cool didandani jadi kaya macan ompong gini,“ ungkap Roswita Mathilda salah seorang penonton di acara ini.
HI CUP 2010 yang benar benar dikemas secara fun ini berjalan seru dan meriah. Sutikno, salah seorang peserta mengaku sampai serak dan habis suaranya karena berteriak memberikan dukungan pada timnya ketika bertanding. “Iiyaaa mas... se- perti piala duniaa sajaa,“ timpalnya.
Acara ini melahirkan juara umum yang melalui akumulasi poin dari se- tiap lomba. Adalah angkatan 2008 yang menjadi kampiun disini.
Esensi dari HI CUP sendiri ada- lah untuk memberikan ruang bagi para mahasiswa HI untuk menyalur- kan bakat di bidang non akademis sekaligus sebagai wadah komunikasi dan kumpul kumpul antar maha- siswa. Disini mahasiswa yang jarang bertemu dapat bersua dan ngobrol.
Dominicus Enjang, selaku ketua pa- nitia menandaskan bahwa acara ini dijadikan sebagai sarana rekreasi ma- hasiswa saja, “Intinya ya fun itu mas, jadi ketika ikut acara ini teman- teman bisa mengekspresikan bakat- nya yang terpendam. Asal itu dengan cara yang benar, tidak boleh rusuh,”
timpalnya.
Acara HI CUP ini ditutup oleh HI KUSTIK yang bertajuk live band oleh para mahasiswa HI sendiri pada 16 April 2010 lalu. Tentunya acara ini diharapkan dapat terus ada dan se- makin baik dari tahun ke tahun dan dapat menjadi kenangan indah pada saat lulus nanti. (tan)
Futsal Putri dalam rangka HI Cup
HI-Cup: Friendship First, Competition Second
HI-Lite, Ajang Sosialisasi Mencerdaskan
kuliah
L L
ulus dan menjadi seorang sarjana tentu impian tiap mahasiswa yang sedang me- nempuh masa pendidikan. Tidak terkecuali para mahasiswa di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Karena itu, dekanat ber- sama semua ketua departemen beserta dosen pembimbing mengadakan rapat yudisium, Rabu (3/3), di ruang Adisukadana FISIP. Rapat ini bertujuan untuk menetapkan kelulusan mahasiswa periode semester genap 2009/2010.Pada rapat tersebut, para dosen pembim- bing dari tiap departemen mengajukan nama para mahasiswa yang telah memenuhi syarat kelulusan. Kemudian, tiap dosen pembimbing menyerahkan semua data mahasiswa berkai- tan dengan syarat kelulusan kepada ketua de- partemen. Nantinya, data-data itu akan diserahkan oleh ketua departemen kepada dekan untuk dibuatkan Surat Keputusan (SK) perihal kelulusan mahasiswa.
“Syarat kelulusan belum ada perubahan.
Masih sama seperti yang lalu,” ujar Drs. Dja- dimin selaku Kepala Sub Bagian Akademik.
Syarat kelulusan sendiri meliputi jumlah sks mahasiswa (Sistem Kredit Semester-red) mi-
nimal 144, IPK (Indeks Prestasi Kumulatif-red) minimal 2,0, telah mengikuti semua mata ku- liah wajib yang telah ditetapkan oleh Fakultas dan masing-masing departemen, nilai D ku- rang dari dua puluh persen, serta menyerta- kan sertifikat nilai TOEFL atau LPT yang didapat selama masih berstatus sebagai ma- hasiswa aktif di FISIP.
Untuk nilai TOEFL, lanjut Jadimin, nilai yang harus diraih mahasiswa program S1 mi- nimal 425 dan program D3 minimal 375. “Ke- tentuan itu hanya berlaku hingga tahun 2010.
Sedangkan mulai tahun 2011, peraturannya sudah berubah. Nilai TOEFL untuk mahasiswa program S1 minimal 450 dan minimal 400 untuk program D3,” ucap Djadimin. Nilai TOEFL menjadi penting sebab selain sebagai syarat kelulusan, nilai tersebut juga akan di- sertakan dalam Surat Keterangan Lulus (SKL) mahasiswa.
Selain penetapan kelulusan mahasiswa, rapat yudisium juga menetapakan tiga maha- siswa terbaik dari tiap program studi yang ada di FISIP. “Dari program studi S1, mahasiswa terbaiknya yaitu Nurlaeli Khusnul Imama dari departemen Administrasi Negara dengan IPK
3,76. Untuk program studi D3 yaitu Ma’isatin Aliyah dari Teknisi Perpustakaan dengan IPK 3,54. Sedangkan, dari program S2 yaitu Supi,STT.AK, mahasiswa jurusan PSDM (Pen- gembangan Sumber Daya Manusia) dengan IPK 3,94,” kata Djadimin. (int)
Pemeriksaan berkas Mahasiswa FISIP jelang Yudisium
Syarat Kelulusan Belum Berubah
T T
idak lama lagi, tepatnya tanggal 10 April 2010, para mahasiswa Unair yang telah dinyatakan lulus lewat rapat yudisium akan mengikuti prosesi kelulusan (wisuda-red) di Auditorium Kampus C Unair. Sebelum itu, mereka wajib mengikuti pembekalan bagi calon wisudawan. Tidak terkecuali para ma- hasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).Pembekalan tersebut diadakan di ruang Adi Sukadana FISIP, Senin (8/3). Hadir seba- gai pembicara, Hendrik Setia Budi selaku
perwakilan dari Pusat Pembinaan Karier dan Kewirausahaan (PPKK). Melalui kegia- tan ini, para calon mahasiswa akan dibekali strategi-strategi masuk ke dunia kerja.
Menurut Hendrik, persaingan kerja saat ini sangatlah ketat. Apalagi, jumlah lapangan pekerjaan tidak sebanding dengan jumlah lulusan perguruan tinggi (PT) yang menca- pai 4000-5000 orang pertahunnya. Karena itu, lulusan perlu mempersiapkan diri agar dapat terserap di lapangan pekerjaan yang sesuai dengan harapan.
“Sayangnya, lulusan PT sekarang hanya fokus mengembangkan aspek hardskill me- reka. Sehingga, aspek softskill diabaikan,”
ungkap Hendrik. Terbukti, para stakeholders (perusahaan-red) sering mengeluhkan ki- nerja para lulusan PT yang kurang maksi- mal. Bahkan, tergolong “payah”. Misalnya, cepat bosan, tidak bisa bekerjasama dalam tim, dan kurang tangguh.
Selain itu, para lulusan seringkali kurang mampu “menjual diri” mereka ke perusa- haan yang hendak disasar. Hal ini bisa dilihat dari kemampuan mereka dalam membuat surat lamaran dan Curiculum Vitae (CV).
“Masih banyak lulusan yang asal-asalan membuat surat lamaran dan CV. Padahal, dua hal itu penting untuk membangun kesan pertama yang baik di mata perusa- haan,” keluh lulusan Fakultas Kedokteran Gigi Unair ini.
Karena itu, Hendrik menyarankan para lulusan untuk berlatih membuat surat lama- ran dan CV. Hal terpenting, menurut Hend- rik, yang perlu ditonjolkan dalam CV adalah potret diri serta hasrat dan keinginan lulu- san ketika bekerja di perusahaan tersebut.
Aspek pendidikan, pengalaman, dan kegia- tan-kegiatan yang pernah diikuti sebaiknya juga dicantumkan. Hal ini dilakukan untuk menambah nilai jual dari lulusan itu sendiri.
Berbekal kemampun hardskill dan soft- skill yang baik serta mampu membuat surat lamaran dan CV yang menarik, diharapkan para lulusan Unair nantinya semakin mudah terserap oleh lapangan pekerjaan. Sehingga, masa tunggu lulusan pun tidak terlalu lama, dapat bekerja di bidang yang sesuai dengan ilmu yang dimiliki, dan mendapat penghasi- lan yang tinggi.
(int)
Bekali Diri Terjun ke Dunia Kerja
Hendrik saat pembekalan calon wisudawan
kuliah
A
da pemandangan baru dan cukup menyenangkan ketika kita berjalan menuju parkir motor atau menuju mushola mahasiswa. Tampak beberapa aktivis mahasiswa FISIP yang mondar- mandir masuk ke Student Center (SC), terlihat sibuk dan bersemangat. Ka- dang, mereka membawa tamu juga ke dalamnya. Di dalam Student Center ada aktivitas yang ”hidup”, seperti me- rencanakan program kerja, sibuk men- getik proposal dan LPJ, mengeprint undangan, rapat, bernegoisasi, berdis- kusi dan bersosialisasi.Pemandangan ini tergolong langka jika dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. Karena selama ini SC hanya digunakan sebagai gudang untuk menumpuk barang-barang yang digu- nakan pasca-even yang dilaksanakan mahasiswa. Hal ini menyimpang dari
fungsi utama dibangunnya SC. Awalnya gedung ini dibangun sebagai homebase bagi kegiatan-kegiatan mahasiswa yang tidak bisa ditampung di ruang-ruang kelas akademik. Sehingga organisasi mahasiswa FISIP punya ”rumah” untuk berkreasi.
Pemandangan baru ini tidak lepas dari pembaharuan besar-besaran ter- hadap SC. Semua elemen kampus, baik pihak fakultas, BEM, Hima prodi, hingga BSO yang ada, bekerja sama untuk mengembalikan kembali fungsi SC yang sebenarnya. Pihak fakultas mengawali inisiatif ini dengan menambah beberapa fasilitas dalam SC.
”Kami diberitahu oleh pihak fakul- tas bahwa SC dipasang AC, listrik dan air yang sudah berfungsi dengan baik.
Selanjutnya, kami dihimbau untuk me- nyiapkan ruangan untuk menerima fa-
silitas lain,” ungkap Abdul Chodir, pre- siden BEM FISIP. Fasilitas yang dimak- sud adalah perangkat komputer lengkap dengan printernya, bagi tiap- tiap ruangan Hima prodi dan BSO yang ada di SC.
Stimulus ini ditanggapi semangat yang luar biasa oleh BEM, Hima prodi dan BSO. Student Center yang dulunya gudang, disulap menjadi tempat yang nyaman dan kondusif untuk berorgani- sasi. ”Karena itu kami berterima kasih pada pihak fakultas dan juga BEM pe- riode sebelumnya yang memperjuang- kan hal ini,”ujarnya.
Dengan aktifnya SC ini, kebera- daan organisasi kampus, termasuk BEM menjadi jelas. Dimana mereka bisa di- temui, bekerja dan mengadakan rapat sudah pasti tempatnya. Sosialisasi pro- gram BEM ataupun koordinasi dengan pihak hima prodi juga semakin mudah, karena para pengurusnya pasti bisa di- temui di ruang masing-masing.
Kembali berfungsinya SC sesuai dengan tujuan awalnya, mendorong BEM dan organisasi lainnya menjadi kian produktif. Di bulan April saja, BEM sudah mengumumkan proker khusus untuk bulan tersebut sedemikian ba- nyak dan dipampang didepan SC. ”Pro- ses pengerjaan juga cepat, nggak ada alasan lagi proposal,undangan atau LPJ terlambat. Kan sudah ada komputer dan printer sekaligus. Kalau rapat juga nggak bingung, rapat kondusif dimana,”
jelas Chodir.
Dari segi sosial, hubungan Hima
prodi juga semakin akrab. Mahasiswa dari seluruh jurusan di FISIP dapat ber- temu di SC ini dan bertukar pikiran.
Selain itu, jika ada kunjungan studi ban- ding dari universitas lain atau tamu untuk BEM, hima prodi atau BSO, bisa dengan bangga dibawa ke SC. ”Kalau dulu malu ya, ada tamu dibawa ke galeri aja. Alasannya, SC-nya sedang dikunci, padahal malu karena jadi gudang,” te- rangnya.
Sekarang, organisasi mahasiswa se- cara formal punya ”ru mah”nya sendiri.
Dan tentu saja, berbangga mempersi- lahkan tamunya masuk ke ruang pro- duktif ini. Bahkan ketika pihak DIKTI mengecek kondisi organisasi di FISIP dan bagaimana kinerjanya, mereka ter- kesan dengan apa yang ada.
Yang perlu dicermati, ketika sudah diaktivasi kembali dengan doro ngan pemberian fasilitas, tugas selan jut nya menjaga dan merawatnya. Namun, say- ang hal ini yang kurang diperhatikan mahasiswa. Sebagai ruang publik ber- AC yang jelas-jelas peraturannya ditulis dilarang merokok di dalam ruangan, masih saja banyak yang dengan bangga- nya berpesta asap sambil berdiskusi atau sekedar bermain poker. Disadari atau tidak, perbuatan ini merusak si- stem kerja AC dan kesehatan teman- teman mahasiswa lain di seluruh ruangan tersebut. Kepercayaan yang di- berikan harusnya dijawab dengan makin produktifnya organisasi maha- siswa, baik BEM, Hima prodi dan BSO yang ada. (puz)
Aktivitas mahasiswa di Student Center
Aktivasi Student Center
S S
ejak beberapa bulan lalu, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga dimanjakan lewat fasilitas eksklusif seputar akses infor- masi. Ya, mahasiswa FISIP sudah diman- jakan dengan fasilitas wi-fi (wireless-fidelity). Fasilitas ini dapat dengan mudah diakses oleh seluruh mahasiswa FISIP, terutama bagi mereka yang posisinya ada di sepanjang galeri (pelataran gedung A FISIP).Sejalan dengan penambahan fasili- tas eksklusif ini, pihak dekanat, khusus- nya bagian Sumber Daya Mahasiswa, terus berupaya untuk meningkatkan kenyamanan mahasiswa terutama untuk akses free wi-fi ini. Pihak Sumber Daya Manusia masih terus mempelajari seluk beluk fasilitas akses internet gratis tersebut. Utamanya, tentang
bagaimana penataan teknis dan berba- gai perencanaan ke depan lainnya.
Salah satu aspek yang perlu men- jadi fokus bagian Sumber Daya Manusia adalah keselarasan antara kuantitas mahasiswa dengan jumlah maksimal pengguna. “Semuanya sedang kami pelajari, salah satunya tentang kenya- manan akses terkait dengan apakah fasilitas internet ini sudah memadai dengan jumlah mahasiswa yang me- manfaatkan fasilitas tersebut.” ujar Drs.
Moh. Imron, MM, Kepala Bagian Sum- ber Daya Mahasiswa FISIP Unair.
Meski begitu, Imron menam- bahkan bahwa wi-fi memang seharus- nya mendapatkan porsi perhatian yang cukup besar. Sebab, mahasiswa yang se- lalu berkutat dengan tugas kampus tentu saja membutuhkan ruang untuk
mengeksplorasi data di internet.
“Kampus harus seimbang, mem- beri tugas, tapi juga akses untuk menyelesaikan secara optimal. Maha- siswa menjadi prioritas kebijakan kami.
Salah satunya ya wi-fi ini,” imbuh Imron.
Akses wi-fi memang terbentur aset-aset pribadi mahasiswa. Bagi ma- hasiswa yang berlaptop, akses wi-fi bakal dapat dicapai dengan mudah.
Tinggal membuka laptop pribadi dan mengaktifkan fitur wi-fi. Namun bagi mahasiswa tak ber-notebook, akses wi- fi hanya menjadi imajinasi semata.
Untuk mengatasi masalah terse- but, Imron menginginkan agar maha- siswa yang tak memiliki laptop tetap terfasilitasi. Salah satunya dengan menyediakan ruangan yang berisi be- berapa komputer pribadi (personal
computer). Menurut Imron, rencana ini sekaligus menciptakan gebrakan ino- vasi yang dapat meningkatkan kenya- manan mahasiswa dalam menempuh kegiatan belajar di kampus oranye ter- cinta.
Imron juga menjelaskan, maha- siswa penikmat wi-fi harus menerap- kan etika saat menik matinya. “Karena ini lingkungan akademis, duduk harus dijaga. Mahasiswa harus dapat menjaga nama baik fakultas, dan juga universi- tas.” ujar Imron.
Bagi mahasiswa FISIP yang belum sempat mencicipi fasilitas free wi-fi ini, caranya sangat mudah. Imron mema- parkan, mahasiswa hanya perlu meny- odorkan KTM dengan membawa laptop ke bagian Informasi dan bertemu dengan mas Yance. (put)
Prioritaskan Mahasiswa, Matangkan Ruang Internet
opini
T T
ulisan ini sedikit akan mencoba mengkritik proses pemilihan rektor Unair. Sebagaimana diketahui, pemilihan Rektor Unair kali ini merupakan yang pertama kalinya bagi Unair ditengah statusnya sebagai BHMN.Namun sayang, prosesnya yang dikritik banyak pihak tidak transparan, menjadi satu dari sekian buruknya proses pilrek kali ini. Tidak hanya itu, dari susuan dan fungsi SA (senat akademik) yang diketuai oleh Sam Soeharto dan MWA yang diketuai oleh Sudi Silalahi juga tak luput dari kritik.
Dilihat dari susunan yang ada dalam struktur SA, dengan tegas tidak ada keterwakilan mahasiswa disana. Hal ini menjadi permasalahan, lan‐
taran fungsi SA yang dinilai memang cukup strategis.
Disini, SA lah yang berhak menentukan siapa yang akan masuk kedalam 3 nama yang nantinya akan dibawa ke Jakarta kedalam rapat MWA.
Dari sinilah sebenarnya kritik mengenai transparansi mene‐
mui titik gentingnya. Dalam penjaringan 12 nama kedalam 3 nama carek tersebut tidak secara jelas disebutkan apa saja yang menjadi indikator
serta bagaimana pengawasan akan objektifitas penilaian SA tersebut didasarkan.
Sedangkan dalam struktur MWA sendiri yang didalamnya terdapat keterwakilan maha‐
siswa sebagaimana susunan MWA yang disahkan melalui SK mendiknas, menjadi per‐
masalahan yang ikut menam‐
bah nilai merah dalam proses pilrek kali ini.
Dalam pilrek kali ini, selain pertama kalinya dilaksanakan ketika Unair berstatus BHMN, namun juga pertama kalinya terdapat keterwakilan maha‐
siswa dalam Struktur MWA.
Bagi penulis, keterwakilan ma‐
hasiswa dalam struktur MWA ini selain memiliki segi positif, namun dirasa lebih banyak sisi negatifnya, jika dite rapkan dengan sistem Ormawa (Or‐
ganisasi Mahasiswa) yang ada di Unair saat ini. Sikap BEM Fisip yang sejak semula mem‐
pertanyakan Representasi BEM UNAIR serta ditunjukkan dengan tidak adanya PEMIRA UNAIR (Pemilihan Umum Raya Bem‐Keluarga Mahasiswa) di Fisip menjadi wujud kongkrit bahwasannya tindakan ataupun kebijakan yang diam‐
bil oleh Bem KM ini tidak men‐
dapatkan legitimasi dari kalangan Gras root, khususnya dari Fisip.
Mungkin terlalu berlebihan memang statement diatas, namun hal tersebut akan dapat kita pahami jika kita mampu mengetahui alasan dikemukakannya statement tersebut. Disinilah penulis mencoba menjelaskan dengan mulai menggali informasi yang ada mengenai keterwakilan mahasiswa dalam struktur MWA. Diketahui bahwa keter‐
wakilan mahasiswa yang ada dalam susunan MWA meru‐
pakan “syarat” Bagi Universi‐
tas‐universitas guna berganti menjadi BHMN, tak terkecuali
Unair. Keterwakilan ini bukan‐
lah suatu hal yang salah, bahkan hal ini menjadi bukti bahwa mahasiswa memang selayaknya diakui sebagi bagian dari pengambil kebi‐
jakan/ keputusan Universitas.
Menjadi salah, lantaran sis‐
tem Ormawa yang ada di Unair dalam hal ini, masihlah mener‐
apkan sistem (Orma wa) Badan Eksekutif Mahasisiwa–Kelu‐
arga Ma ha siswa Unair (Bem ‐ KM) yang dalam setiap Pemi‐
ranya selalu dipertanyakan keterwakilannya. Hadirnya keterwakilan mahasiswa dalam struktur MWA, yang di‐
tunjuk ataupun diputuskan se‐
cara langsung oleh Keputusan Mendiknas, NOMOR126/
MPN.A4/KP/ 2007 , yakni Pres‐
iden Bem Unair inilah yang juga menjadi perdebatan. Hal ini dirasa janggal lantaran dalam Anggaran Rumah Tangga Unair Pasal 8 ayat 5 telah dijelaskan bahwa “Tat‐
acara pemilihan dan pen‐
gangkatan anggota Majelis Wali Amanat dari unsur masyarakat yang berasal dari mahasiswa dilakukan dengan penjaringan dan seleksi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa”.
Jika dalam Ketentuan Penutup Anggaran Rumah Tangga Unair kemudian dijelaskan bahwa perwakilan MWA dari unsure masyarakat mahasiswa per‐
tama kali adalah Presiden Bem Universitas, namun ketika lebih lanjut dikroscek, bahwa perwakilan Presiden Bem Uni‐
versitas yang ada saat ini adalah perwakilan (atas nama mahasiswa) dari generasi ketiga, maka ketentuan penutup ART Unair dalam hal ini tidaklah lagi berlaku. Se‐
hingga perwakilan mahasiswa dalam susuan MWA harusnya bukanlah serta merta Presiden Bem KM Unair, namun di‐
lakukan seleksi dan pen‐
jaringan atau dalam bahasa
lainnya yakni musyawarah untuk menetukan perwakilan MWA yang dilakukan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa.
Tercantumkannya kata Badan Eksekutif Mahasiswa, seharus‐
nya merujuk pada BEM‐BEM yang ada di Unair, dalam hal ini maka merujuk pada BEM Fakultas, sehingga 13 BEM fakultas yang ada di Unair se‐
harusnya melakukan musya ‐ warah untuk menunjuk perwakilan mahasiswa dalam susunan MWA, sekaligus per‐
wakilan (JUBIR) mahasiswa dalam setiap kebijakan ataupun keputusan yang men‐
gatasnamakan mahasiswa. Se‐
hingga penegasan atas penggunaan nama Mahasiswa selayaknya mendapatkan legit‐
imasi dari Grass root, maha‐
siswa itu sendiri.
Jika melihat hal ini, maka sebenarnya konsep system Or‐
mawa Dema (Dewan Maha‐
siswa) lebih sejalan dengan substansi keterwakilan maha‐
siswa dari pada konsep BEM‐
KM. Tawaran yang beberapa tahun belakangan ini selalu diperjuangkan fisip untuk mengembalikan makna eksis‐
tensi Mahasiswa. Konsep Dema serta keterwakilan mha‐
siswa dalam sususnan MWA yang ada dalam tulisan ini sekaligus menepis anggapan ataupun ketakutan bahwa keterwakilan mahasiswa akan menjadi 13 orang, seba‐
gaimana jumlah fakultas yang ada dalam unair, namun tetap 1 perwakilan mahasiswa seba‐
gaimana yang tertera dalam AD‐ART Unair.
Ketua BLM Fisip Unair, Aditya Nugraha, mencoba menjelaskan bagaimana pengamatannya dalam proses Pilrek Unair, serta gerak‐gerik dari BEM‐KM dalam merespon pilrek kali ini. Berdasarkan pengalamannya mengikuti uji masyarakat kampus, salah satu
kritiknya yang h masyarak kedua tak jari. Padah nya aka menentu ada, dari orang ca akan dib Dalam p narkah jik calon rect tor kali in belum ad kampus.
siswa ilmu ini menam KM yang mengada mahasisw dakan yan waktu se teknis pel Pada mahasisw suara m memberi baik bag malah m mencede mahasisw hasiswa jakan/kep mengatas layaknya d sistem su hasiswa y mampu jawabkan jure yang kenyataan sep Dema cara dipertang resentasi pakan sis ideal untu suara ma (*)
Presiden riode 20 kajian un Sy
Keterwakilan (Hampa) Proses Pilrek Un
Abdul Kodir
kuliah
yakni, bagaimana SA hadir dalam uji kat kampus pada hari k lebih dari hitungan hal SA lah yang nanti‐
n menjaring serta kan calon rektor yang
12 carek menjadi 3 arek yang nantinya
bawa kepada MWA.
pandangannya, be‐
ka sebenarnya 3 nama tor atau bahakan rec‐
ni, telah terpilih se‐
danya uji masyarakat Lebih lanjut maha‐
u politik angkatan ’07 mbahkan, sikap BEM‐
g rencananya akan akan pemilihan versi wa (PVM) adalah tin‐
ng membuang‐buang erta tidak jelas akan
laksanaannya.
hakekatnya, suara wa harusnya menjadi murni yang mampu kan konstribusi ter‐
i Unair, dan bukan menjadi suara yang erai makna eksistensi wa. Representasi ma‐
dalam setiap kebi‐
putusan yang snamakan mahasiswa dikembalikan kepada sunan organisasi ma‐
yang secara de facto dipertanggung‐
n dan bukan hanya de seringkali mengakali n. Maka dari itu kon‐
a, yang memang se‐
nyata dapat ggung jawabkan rep‐
nya rasanya meru‐
stem ormawa yang uk menjaga eksistensi hasiswa yang murni.
Oleh : Abdul Kodir BEM FISIP UNIAR pe‐
009‐2010, pemerhati niversitas BHMN dan
ystem Ormawa Unair.
nair
P
ada malam 19 maret 2010 Dies Natalis Sosiologi diadakan di tempat parkiran mobil sastra ber‐tema I Love Sosiologi. Puncak Dies
Natalis Sosiologi ke‐32 yang sekali‐
gus sebagai acara penutup. Acara puncak ini berupa penampilan gitar akustik, penampilan seni tari,
teater, dan band oleh Mahasiswa Sosiologi dan Alumni Sosiologi serta sumbangan apresiasi seni Dosen Sosiologi. Serangkaian acara yang sebelumnya telah lebih da‐
hulu diselenggarakan adalah lomba‐lomba unik dan lucu yang diadakan mulai dari lomba sepak bola daster, tarik tambang, bakiak, gigit koin, balap karung, gobak sodor, lomba PS II. Ditambah lagi adanya Sosiologi Cup, pertan‐
dingan sepak bola dan basket tak ketinggalan hadir memeriahkan‐
nya.
Acara yang di koordinasi oleh Rima Irsalina Sosiologi angkatan 2007 itu, dapat dibilang sukses.
Sebab semua apa yang direncana‐
kan telah tertampil dipanggung Dies Natalis. ”I Love Sosiologi fore‐
ver”. (gun)
Pak Novri (kanan ke kiri), Rima(ketua panitia), Hepy (kahima) dan Ayik
Peringatan 32 tahun Sosiologi
L L
ima orang delegasi Sosiologi Fisip Universitas Airlangga yang dilimpahi wewenang untuk datang ke acara Rakorwil JMSJ (Jaringan Mahasiwa Sosiologi se-Jawa) sekaligus diundang dalam Dies Na- talis Sosiologi FISIB (Fakultas Ilmu Sosial dan Budaya Universitas Trunojoyo), Bangkalan Madura pada 7 April. Lima delegasi terse- but adalah Hepy, Guntur, Riza, Rizki dan Toni.Kunjungan tersebut sebagai bentuk silahturrahmi dan pertalian saudara sosiologi antar kampus di- wilayah jatim. Padahal JMSJ sendiri baru dibentuk sekitar Jan- uari lalu, saat kongres se-Jawa di Universitas Brawijaya Malang.
Dengan dibentuknya JMSJ berarti lebih membangun tali per- saudaraan setiap calon sosiolog diseluruh pulau Jawa ini. Untuk se- mentara waktu JMSJ diketuai oleh salah satu aktivis dari Universitas
Truno Joyo (Unijoyo), karena serta merta memang yang membentuk JMSJ selama ini adalah mahasiswa – mahasiswa Unijoyo tersebut.
Menurut pembicara dari UGM, Mas Lubis, bahwa terisolasinya bu- daya kita oleh westernisasi karena kurangnya sikap kritis dari bangsa ini menanggapi isu tanpa menyiap- kan perisai untuk menakar mod- ernisasi tersebut.
Dalam Rakorwil itu, para pen- gurus dari 3 anggota JMSJ berkumpul, kami wakil dari Unair, Ari dari Universitas Brawijaya Malang, kemudian yang terakhir segenap anggota Himadep Sosi- ologi dari Truno Joyo sendiri.
Namun delegasi dari dua kampus Universitas Jember dan IAIN Surabaya tak terlihat datang pada saat itu. Saat rapat terjadi perde- batan, mengenai konsepsi apa yang harus dilakukan untuk JMSJ dan struktur keanggotaannya, ten-
tang apa dan bagaimana konsep organisasi tersebut tetap eksis dan mendapat dukungan berbagai pihak. Terutama mengenai perte- muan Oktober mendatang, dan So- siologi Unair sebagai tuan rumahnya. Akan tetapi menurut Hepy di Bulan Oktober Hima Sosi- ologi Unair mempunyai banyak acara yang tak dapat dihindari.
Sebagai gantinya Universitas Jem- ber lah yang akan menjadi tuan rumah. Akan tetapi keputusan dalam rapat tersebut belum sepenuhnya deal. Karena UneJ sendiri belum dikonfirmasi. Maka pada Oktober mendatang Sosiologi Unair tetap harus siap-siap sebagai fasilitator.
Di akhir rapat, Ari mengu sul - kan peningkatan kegiatan karya ilmiah, termasuk penelitian sosial di JMSJ.
(gun)
Jejaring Mahasiswa Sosiologi se-Jawa
kuliah
P
ada tanggal 26 Maret 2010, siang hari, tampak sekitar tiga ratus mahasiswa mengikuti ke giatan di ruang 309, FISIP gedung A. Mereka tampak khusyuk mendengarkan pence- ramah yang bernama Andre Kho, M. Div, seorang teolog yang juga pengajar Sekolah Al- kitab Asia Tenggara. Siang itu, Andre sedang menyampaikan ceramah tentang Eksistensi Allah. Setelah selesai sesi ce- ramah, tampak beberapa maha- siswa dengan semangat bertanya mengenai materi ce- ramah kepada Andre.Rupanya para mahasiswa ini sedang mengikuti kegiatan rutin Persekutuan Doa Jumatan (PDJ) yang diadakan Unit Kegiatan
Mahasiswa (UKM) Kristen Protestan UNAIR. Kegiatan PDJ ini, meskipun rutin, masih sering menjumpai kendala tempat.
“Karena kami minoritas, kami sering digusur kalau men- gadakan Persekutuan Doa di tempat-tempat lain,” jelas Daniel Susilo, mahasiswa ilmu komunikasi yang juga Ketua Pembinaan Pelaksana Tugas UKM Kristen Protestan. Karena kebingungan mencari tempat yang bisa digunakan secara tetap, akhirnya UKM ini pun mencoba meminta tempat ke FISIP. Dan ternyata pihak FISIP sangat terbuka dan menerima mereka sehinggan memberikan sebuah ruangan yang bisa mereka pakai setiap hari Jumat
pukul 10.30 sampai 13.30 untuk kegiatan Persekutuan Doa mereka. Dengan adanya ijin ini, mahasiswa UKM Kristen tidak perlu lagi berpindah-pindah tempat setiap hari Jumat untuk melakukan PDJ.
Lantas, apa saja yang mereka lakukan di setiap PDJ?
“Berganti-ganti. Kadang kami dibagi menjadi kelompok- kelompok kecil, kadang kelom- pok besar. Kalau dalam kelompok kecil, kami dibimbing oleh kakak-kakak senior untuk sharing tentang keimanan, dok- trin-doktrin, dan lain-lain. Kalau kelompok besar, kami men- datangkan seorang penceramah dari gereja-gereja protestan di Surabaya,” cerita Daniel dengan bersemangat. Jika sedang dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil, mereka didampingi seo- rang senior untuk setiap kelom- pok. Ada kelompok paduan suara, klasis iman, kelompok yang memainkan musik, dan lain-lain. sedangkan jika wak- tunya kelompok besar, mereka selama kurang lebih dua jam mendengarkan ceramah dari seorang teolog. Daniel juga
mengatakan bahwa pihak UKM Kristen Protestan menerapkan interdenominasi dalam memilih penceramah untuk PDJ. Mereka tidak memilih-milih penceramah khusus dari gereja tertentu untuk diundang, tapi siapa saja teolog dari Gereja Protestan boleh mengisi kegiatan ini. Dan penceramah yang datang meru- pakan penceramah yang diun- dang oleh bagian pembinaan FISIP.
Pihak UKM Kristen menya - ta kan senang atas dukung an yang telah diberikan FISIP. Sebab selain memberikan ijin, fasilitas ruangan, dan juga pelayanan pencera mah, mereka juga merasa tidak ada hambatan saat berkegiatan di FISIP, tidak seperti ketika mereka mela ku - kannya di fakultas lain. Perseku- tuan Doa tiap Jumat yang mereka laksanakan selalu ber- jalan lancar dan para petugas juga sangat welcome dengan mereka. “FISIP ternya ta sangat pluralis. Kami telah membuk- tikannya,” ujar Daniel mantap, sambil tersenyum.
(zaa) Suasana Persekutuan Doa Jumatan di gedung A FISIP
Terbukti FISIP Pluralis
I
tulah tema Rihlah Sie Kerohan- ian Islam (SKI) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) kali ini. Acara tahunan Departemen Syiar ini diadakan di Kebun Raya Purwodadi, Sabtu (27/3). Se- banyak lima puluh peserta, baik anggota maupun nonanggota SKI, ikut dalam kegiatan yang terbuka bagi seluruh mahasiswa FISIP itu.“Sesuai dengan tema, kegiatan ini bertujuan untuk memperbarui semangat setelah liburan panjang sekaligus mempererat tali per- saudaraan,” terang Aji Cahya se- laku ketua panitia Rihlah SKI FISIP
2010. Selama sehari penuh, para peserta diajak bersenang-senang lewat berbagai aktivitas. Mulai dari permainan outbond, games seru, dan tidak ketinggalan, ada doorprize bagi pemenang di tiap perlombaan.
Ada yang menarik saat Rihlah ini berlangsung. Saat para peserta asyik bermain, tiba-tiba hujan turun cukup deras. Bukannya berteduh, baik panitia maupun peserta malah meneruskan per- mainan mereka sampai selesai.
“Nggak peduli ujan deras, kita tetep maen aja. Malah gara-gara
ujan, maen-nya jadi tambah seru,”
ucap Aji, tertawa.
Aji berharap, nantinya, Rihlah bisa diadakan di lokasi yang berbeda dari tahun ini. Sebab, Kebun Raya Purwodadi sudah menjadi lokasi Rihlah SKI selama
dua tahun terakhir. Keterbatasan dana masih menjadi alasan belum berubahnya lokasi Rihlah. “Se- moga Rihlah tahun depan se- makin banyak peminatnya. Jadi, bisa pindah lokasi,” ujar maha- siswa Antropologi ’09 ini. (int)
Refresh Your Spirit, Refresh Your Ukhuwah
Outbond SKI di Kebun Raya Purwodadi
diskusi & seminar
R R
abu (31/3), jam masih menunjukkan pukul 09.00 WIB. Namun, sudah ter‐dengar keriuhan di dalam Mini Theater (MiThe) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Berbeda dari hari rabu biasanya, hari itu, MiThe memang sengaja dibuka lebih awal. Sebab, Divisi Kajian Sinema (Peeping Comm) HIMAKOM menggelar acara berta‐
juk Movie Day, memperingati hari Film Na‐
sional yang jatuh setiap tanggal 30 Maret.
Pada acara tersebut, menurut Wita Nuggrahini selaku ketua pelaksana Movie
Day, ada tiga film nasional yang akan diputar. Menariknya, ketiga film ini memiliki genre yang berbeda‐beda. Mulai dari genre action, drama, hingga horor. “Untuk film ac‐
tion, kami pilihkan Merantau, Virgin 2 untuk genre drama, dan Keramat untuk genre horor,” jelas Wita. Selain film‐film nasional, diputar pula film garapan sendiri seperti 1001 Shura dan Kosong.
Merantau dipilih sebagai pembuka Movie Day pagi itu. Disusul dengan Virgin 2, dan Keramat sebagai penutup. ”Kami
sengaja muterin film Merantau di jam awal, biar nggak ngantuk,” ujar mahasiswi Departemen Komunikasi ’07 ini. Antusi‐
asme penonton mencapai puncaknya saat film Keramat diputar. Terbukti, dari para penonton yang memadati ruangan MiThe, tidak sedikit yang berteriak ketakutan be‐
gitu film ini menampilkan adegan‐adegan yang membuat bulu kuduk berdiri.
Berbagai tanggapan pun bermunculan dari para penonton usai mengikuti Movie Day. Mayarani Nurul Islami (Kom’09), mis‐
alnya. Ilmi, begitu dia biasa disapa, merasa salut dengan Movie Day yang diadakan oleh Peeping Comm. Selain menawarkan film‐
film Indonesia yang beragam, lewat Movie Day, generasi muda bisa belajar menghar‐
gai hasil karya bangsa sendiri. Berbeda den‐
gan Ilmi, Roidatul Ula A’izah (Kom’09) menyarankan agar Peeping Comm memu‐
tar lebih banyak film di Movie Day berikut‐
nya.
Respon yang beragan ini ditanggapi Wita secara positif. Sebab, respon para penonton dapat dijadikan bahan evaluasi untuk Movie Day selanjutnya. Ke depannya, Wita berharap, Movie Day bisa menjadi program tahunan Peeping Comm. ”Semoga di tahun‐tahun berikutnya, Movie Day tetap diadakan,” tambah Wita. (int)
Pepping Comm Gelar Movie Day
Pemutaran tiga film nasional dalam Movie Day
H H
IMA FORSTA Prodi IIP, menyelenggarakan semi‐nar diskusi interaktif, bertemakan Urgensi dan Pelu‐
ang Kerja di Era Globalisasi 14 April 2010. Hima Forsta (Infor‐
masi dan Perpustakaan) menggelar acara tersebut dengan tujuan membimbing para mahasiswa lebih sensitif terhadap globalisasi dan sege‐
nap perubahan sosial yang telah terjadi. Terlebih lagi mengenai pengenalan dunia informasi dan perpustakaan melalui diskusi interaktif terse‐
but.
Acara yang dihadiri seluruh mahasiswa departemen ilmu informasi dan perpustakaan Universitas Airlangga serta
siswi‐siswi beberapa SMA di Surabaya itu meriah dengan partisipannya yang ikut mera‐
maikan suasana. ”generasi penerus bangsa harus lebih kreatif dalam menghadapi pe‐
liknya dunia informasi dan bis‐
nis” tutur Gana Royana Putri mahasiswi Prodi IIP angkatan 2009, selaku ketua panitia Forsta Week saat diwawan‐
carai Jendela kemarin. Semi‐
nar yang dipindah di Fakultas Ilmu Budaya tersebut, juga mengundang pembi cara Amelya Marihesya ketua ikaforsta dan Pak Johny Alfian Khusyairi kepala departemen IIP.
Pada gilirannya memang gene rasi muda seperti maha‐
siswa Fisip lebih mengede‐
pankan kapasitas intelektual, dalam menyongsong masa
depan yang masih terlihat samar. (gun)
Mempersiapkan Lulusan IIP
Seminar IIP tentang Urgensi dan peluang kerja
mahasiswa
M M
ahasiswa FISIP Unair berpar- tisipasi bersama dengan 5000 rekan-rekan dari 340 universitas di lima benua dalam konferensi Nasio- nal, National Model United Nations di Hotel Sheraton dan Markas Besar PBB di New York. Acara yang ber- langsung sejak tanggal 28 Maret-2 April 2010 ini, merupakan agenda tahunan PBB yang berupa konfe- rensi mahasiswa seluruh dunia.Konferensi yang diadakan setiap bulan Maret hingga April ini dibuka oleh H.E Mr. Kiyotaka Akasaka, Wakil Sekretaris-Jenderal untuk Komunikasi dan Informasi publik bersama dengan H.E Mr. Fransisco Carrion Mena, Wakil tetap Ekuador untuk PBB. Mr. Akasaka berbagi pengalamannya sebagai mahasiswa model UN dan mendorong delegasi untuk bermimpi besar dan bekerja untuk untuk mencapai mimpi terse- but. Lalu Mr. Carrion menam- bahkan, peran penting PBB dan perlunya partisipasi kaum muda untuk mencapai tujuan masa depan.
Hal ini senada dengan pidato Duta Besar Rice, “PBB adalah satu-satu- nya institusi dimana 192 negara berkumpul, untuk memajukan kea- manan global dan memecahkan ma- salah kolektif. Ini merupakan cara terbaik yang bisa ditempuh. Pilar keamanan PBB membantu untuk membangun kembali masyarakat yang hancur, meletakkan dasar- dasar demokrasi dan pembangunan, serta menciptakan kondisi dimana orang bisa hidup lebih bermartabat dan saling menghormati”.
Universitas Airlangga mengirim- kan 9 delegasi dalam acara ta hunan ini, yang terdiri dari 8 mahasiswa dan 1 staf pengajar. Para delegasi dari Indonesia ini terbagi dalam be-
berapa kelompok, Dr. Emy Susanti, M.A (Dosen Sosiologi) mewakili Bulgaria, Natasha Karina Ardiani (HI) dan Praditya Ardinugroho (Ekonomi Pembangunan Unair) duduk sebagai Majelis Umum, lalu berikutnya Yurike Wahyudi , dan Akhmad Hasan Ismail (Ilmu Politik) mewakili Majelis Umum Komite 1.
Selanjutnya Majelis Umum Komite 2, Frandi Kuncoro, (HI), Majelis Umum Komite 3, Syahmanda Pra- manta Diaz (Ilmu Politik) , Ika Para- mita yang mewakili NATO (HI) , dan Rifky Affandy yang mewakili IAEA. Mereka selama lima hari kon- ferensi, membahas satu topik ter- tentu dalam komitenya, yang diputuskan kuorum, kemudian be- kerja sama wakil negara lain untuk meloloskan resolusi.
Acara yang dihadiri ribuan ma-
hasiswa dan akademisi dari berbagai belahan dunia ini berisi dorongan kepada delegasi muda untuk men- jadi warga dunia yang bertanggung jawab dan memahami kompleksitas hubungan internasional. Oleh ka- rena itu para delegasi diberikan ke- sempatan untuk turut serta dalam konferensi model PBB di markas besar mereka. Mereka dihadapkan layaknya delegasi negara, seperti konferensi PBB pada umumnya se- suai dengan prosedur pemungutan suara, kuorom, dan semua tata cara melakukan konferensi sesuai stan- dar internasional PBB.
National Model United Nations berikutnya akan diadakan 29-31 Oktober 2010 di Washington D.C dan NMUN-Eropa yang akan dise- lenggarakan 21-27 November di Republik Ceko. (tan)
Dosen dan mahasiswa FISIP di depan markas PBB, New York
Partisipasi Mahasiswa FISIP
dalam National Model United Nations di New York 2010
A A
dalah Natasha Karina Ar- diani, mahasiswi Ilmu Hubungan Internasional Air- langga yang baru saja lulus 3.5 tahun dan mendapat predikat magna cumlaude yang berhasil merasakan sejuknya benua Eropa lebih dekat. “Aku ke Polandia dua bulan, dapat full scholarship dari AIESEC (Association Interna- tionale des Etudiants en Sciences Economiques et Commerciales) bulan Januari sampai Maret 2010 ini, ungkap Tasha, begitu ia kerap dipanggil, memilih program Inter- national School , sebuah program yang bertujuan untuk memperkenalkan budaya asal duta (dalam hal ini Tasha adalah satu- satunya duta AIESEC dari Indonesia yang ke Polandia) kepada para siswa di negara tujuan, mulai tingkat TK, gymna- sium (institusi pen- didikan bagi anak berusia 11-18 tahun), hingga siswa sekolahmenengah atas.
Tasha mengaku persiapannya mengikuti program ini sangat singkat, sehingga ia sedikit bin- gung dan tergesa gesa ketika jad- wal keberangkatannya tinggal 3 hari. “wahh..bingung, harus nyi- apin ini itu, udah mau berangkat besok . banyak yang mesti diurus . skripsi revisi ini itu. Hahahaha tapi akhirnya bisa selesai, “ tan- dasnya. Selama persiapan ke- berangkatannya, Putri pasangan
Agus Hartono - Mardiana Niken Shintawati ini memang bersamaan dengan masa pengu- jian skripsi, sehingga tak ayal Tasha sedikit repot kala itu.
Di Polandia, Tasha berada di Kota Szezechin, sebuah kota indah yang dapat ditempuh se- lama dua jam melalui perjalanan darat dari ibukota. Disana, ia be- lajar budaya baru yang sebelum- nya hanya dapat ia bayangkan saja, berkenalan dengan orang- orang dari berbagi be- lahan dunia, dan tentu saja memperkenalkan Indonesia dengan segala keberagaman budaya, etnis dan suku.
Rupanya dua bulan dis- ana, Tasha mendap- atkan pengalaman yang begitu berharga, begitu indah yang dapat ia ke- nang kelak dan semoga Tasha dapat menggapai cita-citanya sebagai analis hubungan inter- nasional kelak. Se- moga! (tan)
Duta Budaya di Polandia
Natashsa Karina Ardiani, di Warsawa
mahasiswa
P P
ada tanggal 4 hingga 9 Maret lalu, Brigiv Aditya, mahasiswa ilmu komunikasi angkatan 2007, mengikuti kompetisi 2ndMalaysia Debate Open 2010. Ditemui di kamar bicara umum (KBU), Brigiv ber‐cerita tentang pengalamannya mengikuti kompetisi debat In‐
ternasional di Malaka tersebut.
Brigiv berangkat ke Malaysia bersama rekan setimnya yaitu Nimas Zahrotus dari Fakultas Ilmu Budaya, Muhammad Reza dari Fakultas Hukum dan Edwin Okta dari HI angkatan 2006. Tim ini merupakan satu dari tiga kandidat yang mewakili Indone‐
sia. Selain Universitas Airlangga (UNAIR), ada dua universitas lain yang juga mengirimkan wa‐
kilnya yaitu Universitas Mu‐
hammadiyah Malang (UMM) dan Bakrie School of Manage‐
ment (BSM).
Brigiv dan ketiga rekan se‐
timnya merupakan anggota dari komunitas debat di Unair CARES (Community of Airlangga Debaters). Komunitas ini, sejak 2006, telah mengikuti berbagai macam kompetisi debat baik itu di tingkat regional maupun na‐
sional. Hingga akhirnya, di tahun 2010, muncullah keing‐
inan mereka untuk mencoba berpartisipasi dalam lomba debat berskala internasional.
Keinginan ini kemudian diwu‐
judkan dengan mencari infor‐
masi tentang lomba‐lomba berskala internasional. Dan ak‐
hirnya, salah seorang dari me‐
reka menemukan kompetisi Malaysia Debate Open (MDO) yang diselenggarakan oleh Mul‐
timedia University of Malaka, Malaysia.
Brigiv dan timnya berangkat dengan dana dari fakultas ma‐
sing‐masing dan tanpa sponsor.
“Kami sempat kesulitan men‐
cari dana, sebab dana yang kami butuhkan cukup besar.
Dan CARES juga belum menjadi sebuah UKM (Unit Kegiata Ma‐
hasiswa, red). Tapi untunglah dana yang kami dapatkan dari FISIP, FIB dan FH lumayan bisa meng‐cover (anggaran, red).
Jadi kami bisa berangkat ke Ma‐
laysia,” cerita Brigiv. Brigiv juga menjelaskan bahwa dana yang diberikan oleh ketiga fakultas itu berbada‐beda. FISIP sendiri memberikan dana masing‐ma‐
sing dua setengah juta rupiah untuk Brigiv dan juga Reza.
Dana itu berasal dari IKOMA dan Fakultas.
Di Malaysia, para peserta MDO menginap di Emperor Hotel, Malaka, sekitar dua jam perjalanan dari Kuala Lumpur.
Jumlah peserta yang kurang lebih tujuh puluh tim, berasal dari negara‐negara di Afrika, Singapura, China, Thailand, Qatar dan lain‐lain. Namun tetap, peserta terbanyak bera‐
sal dari Malaysia sendiri. Tiap tim terdiri dari empat orang, tiga orang berposisi sebagai de‐
baters dan satu orang sebagai adjudicator atau juri. Brigiv sen‐
diri berposisi sebagai adjudica‐
tor di tim nya. Meskipun mereka menginap di hotel, namun perlombaan tetap dia‐
dakan di Multimedia University of Malaka. “Jadi setiap pagi kami dijemput bis untuk ber‐
lomba di kampus, dan sorenya kami diantar kembali ke hotel.”
terang Brigiv.
Lantas pengalaman apa yang ia dapatkan selama men‐
gikuti kompetisi tersebut?
“Kompetisi tingkat internasio‐
nal itu ternyata berbeda. Inde‐
penden sekali. Kita disuruh mandiri karena nggak ada pen‐
damping kelompok. Jadi ru‐
angan‐ruangan disuruh nyari sendiri, pokoknya apa‐apa sen‐
diri. Beda dengan di Indonesia, selama lomba, pasti tiap kelom‐
pok diberi pendamping dari pihak panitia.” ujar Brigiv. Selain itu, dia juga merasa terkesan, karena menemukan keunikan‐
keunikan dari peserta lain. “Aku bertemu orang‐orang yang ber‐
beda kultur dan etnis. Jadi unik kalo komunikasi sama mereka, kadang nggak nyambung kalo ngomong. Apalagi kalau mau bercanda. Jadi suka bingung,”
cerita Brigiv sambil tertawa.
Perlombaan yang diadakan selama enam hari tersebut ak‐
hirnya dimenangkan oleh tim asal Malaysia yang sebelumnya juga pernah menjuarai kompe‐
tisi debat tingkat internasional.
Sedangkan prestasi yang dica‐
pai tim Indonesia hanya sampai terpilihnya dua orang dari dua tim untuk menjadi Chair Adju‐
dicator. “Chair adjudicator ada‐
lah juri yang berhak melakukan verbal adjudicator dan yang membawahi adjudicator A, B, C dan juga adjudicator trainee.
Aku dan seorang peserta dari Universitas Muhammadiyah terpilih menjadi chair adjudica‐
tor,” cerita Brigiv bersemangat.
Meskipun hanya berhasil me‐
raih posisi chair adjudicator dan tidak lolos ke babak semifinal, tim dari UNAIR tetap merasa bangga dan berniat untuk men‐
gikuti kompetisi berskala inter‐
nasional lainnya.
(zaa) Brigiv Aditya (paling kanan) bersama pesertaMalaysia Debate Open 2010
Brigiv Aditya tentang Pengalamannya Mengikuti Malaysia Debate Open 2010
Berawal dari Coba-Coba,
Raih Posisi Chair Adjudicator
in memoriam
F F
ISIP Unair kehilangan salah satu warga civitas akademika. Beliau adalah Jumari, staf bagian Sarana Prasarana. Pria berdedikasi tinggi pada peker‐jaan ini meninggalkan istri be‐
serta dua orang anaknya.
Jumari di mata teman‐teman sejawat beliau adalah seorang yang rajin, tekun, ulet, dan murah senyum.
Darah Seni Jumari
Jumari kecil lahir di Sleman pada 14 Maret 1955. Gending‐
gending gamelan Jawa sudah tidak asing lagi bagi pria Jawa Tengah ini. Rangkaian suara kenong, bonang, gong, peking, gambang memikat Jumari kecil.
Rasa cinta terhadap kesenian Jawa Tengah mengalir deras di dalam aliran darah Jumari.
Jumari kecil pun beranjak dewasa. SMEA Negeri Tempel adalah tempat beliau menggali ilmu dan tempat menemukan jati diri. Jumari yang saat itu SMEA jatuh hati pada gamelan Jawa yang selalu mengiringi langkah kakinya sejak kecil. Pria Sleman ini mencoba menun‐
jukkan rasa cinta terhadap kearifan lokal melalui per‐
mainan gamelan. Jumari be‐
serta anggota karang taruna di kampungnya unjuk gigi dengan memainkan ketoprak, sebuah kesenian khas Jawa Tengah yang berbau komedi.
Jumari & FISIP
Tahun berganti tahun Ju‐
mari mencoba peruntungan di kota Pahlawan. Surabaya, begi‐
tulah orang menyebut kota
tersebut. Di kota tersebut Ju‐
mari dengan semangat mu‐
danya mencoba mencari sesuap nasi. Gayung bersam‐
but, Ponijo, salah satu staf FISIP Unair menawarkan pekerjaan kepada Jumari muda. Kemam‐
puan hitung‐menghitung yang ia dapat dari SMEA jurusan akuntansi membuka jalan lebar membentang. Selang beberapa tahun, Jumari pun mendapat gelar PNS.
Kejujuran, ketelitian mem‐
buat sang Jumari dipercaya untuk mengelola keluar ma‐
suknya uang. Jumari pun bek‐
erja di bagian Keuangan FISIP 31 tahun yang lalu. 31 tahun bukanlah waktu yang singkat.
Separuh usia Jumari didedikasikan untuk melayani segenap civitas akademika.
Presiden Republik Indonesia memberi penghargaan Satya Lancana Karya Satya berupa medali emas pada tahun 2009 untuk 30 tahun pengabdian se‐
bagai PNS.
Tahun 2005, Jumari dibu‐
tuhkan tenaganya di bagian Sarana Prasarana. Di bagian Sarana Prasarana keseharian Jumari dihiasi dengan mem‐
buat surat pembelian barang, penggandaan, pegang buku induk barang. Sebuah peker‐
jaan yang sekali lagi membu‐
tuhkan ketelitian, disiplin tinggi dan kejujuran.
Jumari Di Mata FISIP
Menurut I. Basis Susilo, Dekan FISIP, “Jumari adalah staff yang tekun, tidak pernah marah, menghormati pimp‐
inan, rajin dan sopan”
“Jumari menurut saya adalah seorang yang rajin, penuh tanggung jawab dalam menjalani tugas, tidak mem‐
beda‐bedakan teman, gag per‐
nah cuti, datang tepat waktu,pulang agak lambat untuk menyelesaikan tugas”
aku Parlan, sahabat dekat Ju‐
mari yang juga staf bagian
Sarana Prasarana.
Kata Mulyono staf bagian keuangan, “Pak Jumari orang yang baik, kerjanya rapi, disi‐
plin, sedikit bicara tapi kerja, sabar, ulet, teliti. Kalau ketemu, beliau berkata ‘dek mul... gi‐
mana kabarnya ???’”
Menurut Agung, staf Sarana Prasarana “Beliau seo‐
rang yang loyal, tidak membe‐
dakan teman, ontime apapun acara yang dikunjungi, selalu rapi, hormat dengan teman, low profile. Walaupun beliau sakit masih masuk kerja”
Jumari di Mata Keluarga Jumari Meninggalkan istri bernama Sedar Hati, anak laki‐
laki bernama Eko Purwanto Putro, dan anak perempuan bernama Tatik Dwi Purwanti.
Pernah suatu ketika Ponijo, staf FISIP menyarankan Jumari untuk kuliah. Namun ditolak oleh Jumari. Jumari merasa biar anak‐anaknya saja yang kuliah. Jumari boleh berbangga hati karena kedua anaknya ku‐
liah di Unair. Anak pertama masih kuliah S1 Manajemen dan anak kedua sudah lulus D3 PSTP.
Di mata istri, Jumari adalah seorang suami yang sabar, baik, disiplin waktu, pendiam, lucu, suka bercanda dan ser‐
ingkali memberi nasihat kepada anak‐anaknya. Menu‐
rut Sedar Hati, Jumari meru‐
pakan sosok yang suka beror‐
ganisasi terbukti dengan Ju‐
mari pernah menjabat sebagai ketua RT.
“Bapak murah senyum, se‐
tiap bertemu orang beliau se‐
lalu senyum atau paling tidak menganggukkan kepala. Bapak juga suka anak‐anak kecil”, ketus Guru di sebuah TK di Tambaksari tersebut. “Dalam mengisi waktu luang beliau se‐
lalu membaca buku‐buku ilmu pengetahuan. Dan hebatnya beliau selalu dapat mengap‐
likasikan kemampuan hi‐
tungnya dalam aktifitas sehari‐hari” aku Sedar Hati.
Jumari memelihara 25 bu‐
rung perkutut dan beberapa pot Adenium, perlambang bahwa Jumari adalah seorang yang rajin dan disiplin waktu.
Bukanlah hal yang mudah untuk membagi hobi dengan pekerjaan seperti yang di‐
lakukan Jumari. Bahkan sehari sebelum meninggal dunia, be‐
liau sempat memangkas be‐
berapa tanaman.
Pria berkaca mata ini meng‐
hadap sang pencipta pada 21 Maret 2010. Dan dikebumikan di pemakaman umum Islam Setro. (Pri)
Jumari, Senyummu Tetap di Hati
Almarhum Jumari
Spirit kerja Jumari akan dilanjutkan teman-temannya di Bagian Sarana Prasarana