“Sulap” Sampah Kulit Siwalan Menjadi Asap Cair Pengawet Ikan Alami
UNAIR NEWS – Prihatin terhadap penggunaan formalin dan tingginya angka pengangguran, mahasiswa UNAIR memberikan pelatihan wirausaha dengan “menyulap” limbah kulit siwalan menjadi pengawet ikan alami pada remaja di Dusun Ngareng, Desa Jatimulyo, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban
Perkembangan teknologi dan kemajuan zaman seharusnya dapat memberikan dampak positif dengan adanya kemudahan akses informasi. Terutama seputar kesehatan dan peluang pekerjaan yang lebih luas. Namun tidak sedikit masyarakat masih mengabaikan, sehingga masih banyak risiko buruk terhadap kesehatan, salah satunya penggunaan formalin sebagai pengawet makanan.
Banyaknya pengangguran pada remaja di Dusun Ngareng tersebut juga memberikan sumbangsih terhadap peningkatan angka kemiskinan di Kab. Tuban yang mulanya 196.590 pada tahun 2015 menjadi 198.350 jiwa pada tahun 2016 (BPS Provinsi Jawa Timur).
Melihat fenomena itu, Ika Zulkafika Mahmudah, Mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga beserta 4 anggotanya yang berasal dari Tuban ikut prihatin dan berinovasi memberikan pelatihan kewirausahaan kepada remaja di wilayah itu dengan memanfaatkan pengawet dari bahan alami yang tidak berbahaya bagi kesehatan.
Keberadaan limbah kulit siwalan yang menjadi masalah kebersihan di Tuban karena dibiarkan berserakan tanpa diolah oleh masyarakat, ternyata mengandung zat kimia yang dapat diolah menjadi pengawet alami. Hal ini memberikan jawaban bagi Ika Zulkafika Mahmudah, Tutut Dwi Cahyati, Teguh Dwi Saputro,
Inas Pramitha Abdini Haq, dan Sutra Mahardika semakin menguatkan tekadnya melaksanakan pengabdian masyarakat ini.
Pengabdiannya itu kemudian dituangkan dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian masyarakat (PKMM) dan berhasil lolos untuk meraih pendanaan dari Kemenristek Dikti, dengan judul “BILQIS (Bio Liquid Smoke): Pemanfaatan Asap Cair Dari Kulit Siwalan sebagai Pengawet Ikan dalam Upaya Menciptakan Peluang Usaha Baru Masyarakat Dusun Ngareng, Desa Jatimulyo, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban”.
”Ide ini berawal dari teman saya, Teguh yang melihat banyaknya kulit siwalan berserakan di tepi jalan. Dia mengusulkan bagaimana kalau dijadikan asap cair saja, pasti lebih berguna untuk masyarakat. Tentu saja kami sependapat,” kata Ika Zulkafika M, ketua tim PKMM.
Proses pembuatan asap dilakukan dengan pembakaran melalui tabung yang disebut Pirolisator, lalu asapnya diembunkan menjadi zat cair dan disuling untuk dihasilkan tiga tingkatan asap cair. Tingkat 1 adalah paling bagus dan bisa digunakan sebagai pengawet makanan. Sedangkan untuk pengawet ikan digunakan asap cair tingkat 2.
”Kami memilih Dusun Ngareng Desa Jatimulyo Kec. Plumpang Kab.
Tuban karena terdapat banyak limbah kulit siwalan. Selain itu Tuban merupakan wilayah di jalur pantara Jawa yang terkenal dengan hasil lautnya. Agar ikan hasil tangkapan tidak cepat yang busuk, nelayan menggunakan pengawet formalin, garam, dan es batu yang lebih mahal, tidak praktis dan efisien. Namun mayoritas masih banyak yang menggunakan formalin karena dianggap paling murah dan tahan lama,” ujar Teguh, anggota tim.
Pelaksanaannya dilakukan melalui beberapa program dengan sasaran Karang Taruna. Tahap pertama yaitu BILQIS On Training dilakukan selama dua tahap. Tahap pertama memberikan pengetahuan manfaat kulit siwalan dan cara pembuatan asap
cair. Dalam hal ini, tim mendatangkan pemateri dari Dinas Pertanian Kabupaten Lamongan, Kartono, S.TP., yang berpengalaman dalam usaha produksi asap cair. Kemudian Karang Taruna diajak praktik dan diberikan pelatihan pemasaran. Tahap kedua pelatihan desain dalam pengemasan, praktik mandiri Karang Taruna dan Pembentukan Kader.
Program berikutnya kunjungan industri bersama Karang Taruna untuk mengetahui industri pembuatan asap cair sekaligus menambah wawasan mereka. Keberlanjutan di akhir program adalah seminar produk asap cair yang telah diproduksi mandiri oleh Karang Taruna kepada masyarakat setempat dan nelayan untuk mencapai tujuan program, yakni adanya peluang usaha dan memberikan solusi pengganti formalin sebagai pengawet ikan secara alami. (*)
Editor: Bambang Bes
Pemberdayaan Anak Jalanan Berbasis Jaringan Sosial Sebagai Upaya P4GN
UNAIR NEWS – Berawal dari kepedulian terhadap tingginya angka penyalahgunaan narkoba di kalangan anak-anak jalanan (anjal), lima mahasiswa Universitas Airlangga merancang dan mengusulkan program kreativitas mahasiswa (PKM) berjudul “Pemberdayaan Anak Jalanan Berbasis Jaringan Sosial Sebagai Upaya P4GN (Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba).
Dengan urgensinya permasalahan yang dipilih itu, proposal PKM bidang Pengabdian Masyarakat (PKMM) ini lolos seleksi Dikti
dan memperoleh dana pengembangan dari Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) untuk program PKM tahun 2016-2017.
Program pemberdayaan anak jalanan ini dilaksanakan oleh Nur Syamsiyah (2014), Dini Nurul Ilmiah (2014), Dewi Miftakhur Roifah (2014), Oktavimega Yoga (2014) dan Hasna Putri Permana (2015). PKMM ini lebih menekankan pada edukasi kreatif dan membangun jaringan sosial di kalangan anak jalanan.
ANAK jalanan terlibat aktif menjadi subyek dalam pembelajaran berbasis jaringan sosial. (Foto: Dok PKMM)
Penyampaian materinya dilakukan secara interaktif, sehingga anak jalanan juga turut aktif menjadi subyek dan tidak sekedar menjadi audiens pasif dengan disertai kegiatan outbound dan simulasi bahaya narkoba secara kreatif.
Penyampaian materi juga menjadi lebih optimal ketika anjal dapat mendefinisikan sendiri tentang bahaya narkoba melalui sudut pandang mereka berdasarkan contoh-contoh pengalaman tentang kehidupan pengguna atau mantan pengguna narkoba dengan melihat realitas yang ada.
Hal ini juga sejalan dengan tema besar Hari Anti Narkotika Internasional yang diperingati pada 26 Juni 2017 lalu, yaitu
“Listen First”. Tema besar tersebut menekankan pada edukasi bahaya narkoba sejak dini tanpa mendoktrin anak-anak, melainkan lebih banyak mendengar permasalahan mereka dan memberikan ruang bagi mereka untuk bisa didengar.
Pelaksanaan program ini juga mendapat dukungan banyak pihak, diantaranya Komunitas Save Street Child Surabaya (SSC), Badan Narkotika Nasional Provinsi Jawa Timur, juga Prof. Dr. Bagong Suyanto, M.Si sebagai pakar sosial anak sekaligus pembimbing program ini.
Setelah dilaksanakan selama empat bulan di wilayah Ambengan Selatan Karya, diperoleh hasil bahwa ada peningkatan pemahaman pada anjal terhadap bahaya narkoba serta tindakan P4GN (Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba).
Melalui program ini telah dibentuk kader anti-narkoba di kalangan anak jalanan dengan sebutan “Satria Anti Narkoba”
(SAN). Para kader itu diharapkan dapat memahami bahaya narkoba serta tindakan yang harus dilakukan apabila terjadi kasus penyalahgunaan narkoba di lingkungan sekitarnya. Dengan demikian, anak jalanan dapat membentengi diri mereka dan lingkungannya dari bahaya narkoba. (*)
Editor: Bambang Bes
Mengajarkan Kewirausahaan
Mandiri untuk Anjal dan Anak Marginal
UNAIR NEWS – Dengan sasaran membantu mengatasi perekonomian keluarga, tak sedikit anak-anak dibawah umur dijumpai sudah terjun menjadi pedagang asongan di jalan-jalan raya. Realita seperti itu tidaklah adil jika kebutuhan dan hak yang seharusnya mereka dapatkan tidak tercukupi. Waktu bermain dan belajar untuk memiliki keterampilan mereka korbankan demi ikut menopang nasib keluarga.
Melihat kesulitan yang dihadapi anak-anak yang hidup di jalanan ini, tiga mahasiswa jurusan Ilmu Administrasi Negara FISIP Universitas Airlangga (UNAIR) yaitu Aisyah Nusa Ramadhana, Aisah Anggraeni Reswariningtyas, dan Muhammad Reza Dzulfikri, mengenalkan pembelajaran kewirausahaan bagi anak- anak agar mereka kelak bisa mandiri dan tidak terus bergantung pada orang lain.
Diantara anak jalanan (anjal) tersebut adalah yang ngasong di Jl. Gemblongan Surabaya, yang ternyata juga bagian anak-anak yang sudah bergabung dalam komunitas Save Street Child (SSC) Surabaya.
Sumbangan pemikiran untuk pengembangan potensi kewirausahaan bagi anak jalanan dan marginal itu, kemudian mereka tulis ke dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian Masyarakat (PKMM) dengan judul ”COCA-COLA (Cool Handycraft and Cooking Class) sebagai Sarana Pengembangan Potensi Kewirausahaan bagi Anak Jalanan dan Marginal di Komunitas Save Street Child Surabaya”.
Dibawah bimbingan dosennya, proposal ini berhasil lolos seleksi Dikti, sehingga berhak memperoleh dana hibah pengembangan dari Kemenristekdikti dalam program PKM tahun 2016-2017.
Aisyah Nusa Ramadhana, ketua kelompok PKM ini menjelaskan, gerakannya ini bertujuan untuk memberikan solusi efektif dalam mengembangkan potensi kewirausahaan pada anak jalanan dan marginal. Dalam jangka panjang dengan pemberian wawasan semacam “COCA-COLA” ini dapat mengurangi jumlah anak jalanan dan jumlah anak yang menghabiskan waktu di luar rumah.
”Ciri khas dalam pelaksanaan kami dengan mengadakan Training of Trainer bagi anggota tim agar maksud dan tujuan dapat tersampaikan dengan baik serta pelatihan berjalan lancar sesuai rencana yang telah disusun,” kata Aisyah N. Ramadhana.
SEORANG anggota Tim COCA-COLA melakukan pembelajaran ditengah anak-anak anjal. (Foto:
Dok PKMM)
Kegiatan yang dilaksanakan, pertama dengan nama “Which One Your Cool Handycraft” dilakukan sosialisasi, pengenalan, serta pelatihan membuat kerajinan tangan. Yang kedua dengan topik
”Let’s Join Cooking Class” anak-anak komunitas SSC wilayah Gemblongan diberikan pemahaman dan pelatihan masak-memasak.
Kegiatan ketiga, “Market Day”, yaitu berkunjung ke pusat keramaian serta mengadakan bazaar untuk memasarkan hasil kreasi anak didik.
”Prinsipnya, kegiatan yang kami dalam COCA-COLA ini lebih mengarah pada penanaman mindset wirausaha pada anak sejak dini, utamanya anjal dan anak marginal agar tingkat ketergantungan pada bidang ekonomi semakin menurun dan menjadi pribadi mandiri,” lanjut Aisyah.
Selama empat bulan tim COCA-COLA melaksanakan program tersebut diatas. Keterampilan seperti kerajinan yang berhasil diajarkan kepada anak-anak antara lain kerajinan tangan dari kokoru, membuat kartu ucapan, pelatihan memasak (membuat salad buah, es capucino, es krim, dan es kopyor), serta pelatihan menjualnya. Dari program ini juga telah terbentuk kader penerus kegiatan, dimana telah bekerja sama dengan Dinas S o s i a l K o t a S u r a b a y a u n t u k m e m a n t a u d a n m e n d u k u n g keberlanjutan program ini.
“Respon adik-adik terhadap program COCA-COLA sangat aktif dan antusias. Bahkan ada salah satu anak, bernama Siska, nyeletuk,
’Mbak, tiap minggu ajarin bikin kokoru ya, nanti tak jual ke temen-temenku’. Jadi seperti ada hembusan angin kebahagiaan saat mendengar pernyataan tersebut bahwa program ini mampu memancing tumbuhnya jiwa kewirausahaan adik-adik,” tambah Aisyah.
Para relawan pengajar SSC juga berperan aktif, tak pernah absen berpartisipasi. Demikian juga dorongan kuat dari dosen- dosen pembimbing tak kalah aktifnya. Hal ini ditunjukkan dalam banyaknya saran dan kritik yang disampaikan setiap proses kegiatan. Semangat dan motivasi yang tinggi inilah diharapkan program COCA-COLA ini dapat mengubah mindset anak jalanan dan anak marginal untuk mendiri dalam wirausaha.
Langkah selanjutnya COCA-COLA sedang membentuk kader dari luar komunitas SSC, baik yang berlatarbelakang akademisi atau masyarakat umum, sehingga program ini mampu menumbuhkan kepekaan sosial terhadap lingkungan sekitar. Jika program ini bermula dari komunitas SSC wilayah Gemblongan, selanjutnya bisa meluas ke seluruh wilayah Komunitas SSC di Surabaya. (*)
Editor: Bambang Bes
Meningkatkan Pola Hidup Sehat Penghuni Panti Asuhan
‘Millenium’ Sidoarjo
UNAIR NEWS – Kebersihan lingkungan dan kesehatan di panti asuhan (PA) masih banyak yang diabaikan dan tidak memenuhi syarat kesehatan pada umumnya. Berangkat dari realitas itulah mahasiswa FISIP Universitas Airlangga (UNAIR) ingin berbuat membantu pemberdayaan pola hidup sehat pada panti asuhan.
Pengabdian mereka itu dilaksanakan di PA Milenium, di Desa Tenggulunan, Kec. Candi, kab. Sidoarjo.
Empat mahasiswa FISIP UNAIR penggiat pengabdian itu diketuai Sofie Egita Vermalia, dengan anggota Sri Ayu Dinda Lestari, Lestari Dyah Ningtyas, dan Weka Nastiti.
Dijelaskan oleh Sofie, PA Milenium selama ini menampung anak- anak yatim piatu, anak terlantar, serta dhuafa. Dari segi bangunan panti yang unik paduan arsitektur Bali dan Islam ini, sayangnya tentang kebersihan dan kesehatan masih kurang maksimal.
Seperti yang diterangkan oleh Ustadz Muhammad Sholeh Effendie, Panti Asuhan Milenium diakui belum bisa membuat program mengarah kesana, karena kurang adanya sosialisasi terhadap pola hidup sehat yang sesuai syarat pada umunya. Karena itulah dengan kehadiran mahasiswa UNAIR ini diharapkan bisa berubah menjadi lebih baik dan lebih sehat.
Kegiatan Sofie Dkk ini kemudian disusun menjado proposal
Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dengan judul “KAPAL ( Kesehatan Anak Panti Asuhan Milenium) Guna Meningkatkan Pentingnya Hidup Sehat”. Konsep ini diharapkan dapat dijadikan program lanjutan oleh pihak PA Milenium di Sidoarjo ini.
Dibawah bimbingan seorang dosennya, proposal “KAPAL” ini juga lolos penilaian Dikti, sehingga juga berhak untuk mendapatkan dana hibah pengembangan dari program PKM 2016-2017 dari Kemenristekdikti.
Sofie Dkk berharap dengan kegiatannya ini dapat meniadakan persoalan yang telah “viral” terjadi di PA ini bahwa pihak panti beberapa kali mendapat berita buruk dengan pengasuhan yang kurang baik, lingkungan yang kurang layak, serta kesehatan yang kurang belum memenuhi kriteria pada umunya.
“Dari keadaan seperti itulah mendorong kami membuat program ini untuk meningkatkan betapa pentingnya hidup sehat dan kebersihan lingkungan di sekitarnya,” kata Sri Ayu Dinda Lestari menambahkan.
Dalam memberdayakan anak-anak di PA ini dilakukan melalui program yang telah disusun Tim PKMM mahasiswa UNAIR ini, memulai memberikan sosialisasi terhadap pemilik dan pengurus panti, serta kepada anak-anak penghuni panti.
Pembelajaran yang disampaikan mengenai kehidupan sehari-hari.
Misalnya cara gosok gigi yang baik dan benar, mencuci tangan dengan benar, membersikan lingkungan bersama-sama dengan pengurus panti dan anak-anak penghuni panti.
“Kami juga memberikan pembelajaran melalui menonton video pola hidup sehat dan bagaimana cara menjaga kebersihan di lingkungan sendiri,” tambah Sofie Egita Vermalia, ketua kelompok.
Program tersebut memberikan respon positif bagi pihak panti yang telah membantu anak-anak penghuni panti asuhan dalam meningkatkan bagaimana kesehatan diri sendiri dan
lingkungannya. (*) Editor : Bambang Bes
Program GEN PEKUNG, Tingkatkan Siswa ABK untuk Merajut Potensi
UNAIR NEWS – Anggapan bahwa anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) hanya menjadi beban keluarga dan tidak memiliki kemampuan atau potensi, berusaha dikikis oleh mahasiswa Universitas Airlangga PSDKU Banyuwangi dalam pengabdiannya di SLB ABCD PGRI Kalipuro, Kelurahan Bulusan, kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi.
Setelah dilakukan sosialisasi secara cukup ke berbagai pihak terkait, termasuk perencanaan program dan perijinan, lima orang mahasiswa yang melaksanakan pengabdian selanjutnya melakukan pembelajaran kepada siswa-siswa ABK di SLB tersebut.
Yang diajarkan meliputi peningkatan pengetahuan terkait lingkungan hidup dan sampah, pemanfaatan potensi lingkungan, pelatihan pengolahan sampah secara mudah, dan pelaksanaan penanaman 100 pohon penghijauan.
Lima mahasiswa penggiat tersebut adalah Inriza Yuliandari (Ketua/2015), Nahda Ruce Triyanti (2015), Yuniar Faraizka Amalia (2015), Aulia Ivana Romli (2015), dan Ikhya’ Ulumuddin (2014). Tujuan pengabdian masyarakat ini untuk mengetahui cara pengoptimalan potensi serta pengetahuan para siswa ABK di SLB tersebut.
Bahkan, dalam penanaman 100 pohon penghijauan itu anak-anak
ABK itu melakukannya bersama orang tuanya, guru pembimbing, Lurah Kalipuro, Perwakilan LSM Bengkel Kreasi Banyuwangi, wakil instansi terkait lainnya, di Pantai Waru Doyong, Desa Bulusan, Kec. Kalipuro, Banyuwangi.
”Tema kegiatan ini kami sesuaikan dengan kurikulum di SLB ABCD PGRI Kalipuro. Karena dalam kurikulum ini belum ada bentuk pelaksanaan kegiatan, sehingga kami berusaha untuk memberikan sesuatu inovasi yang baru, berbagai pelatihan tadi,” kata Inriza Yuliandari, ketua kelompok mahasiswa UNAIR Banyuwangi ini.
Kegiatan ini kemudian mereka susun dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa bidang pengabdian masyarakat (PKMM) dengan judul ”Optimalisasi GEN PEKUNG (Generasi Peduli Lingkungan) pada Siswa Berkebutuhan Khusus di SLB ABCD PGRI Kalipuro Banyuwangi.”
”Bersyukur proposal kami ini dinilai Dikti berhasil lolos s e l e k s i d a n b e r h a k m e m p e r o l e h d a n a p e m b i n a a n d a r i Kemenristekdikti dalam program PKM tahun 2016-2017,” tambah Inriza Yuliandari.
PEMBELAJARAN yang lain kepada anak-anak ABK di SLB ABCD PGRI Kalipuro, Banyuwangi. (Foto: Dok PKMM)
Dengan diterimanya proposal PKMM ini, diakui inovasi tim ini menjadi lebih bersemangat, dikemas secara menarik, disertai kegiatan pemberdayaan berupa peningkatan pengetahuan serta praktik lapangan untuk meningkatkan semangat dan rasa percaya diri siswa ABK.
Diterangkan oleh Inriza, Desa Kalipuro di Banyuwangi ini merupakan salah satu daerah yang terletak cukup jauh dari pusat kota (11 km). Disini berdiri lembaga pendidikan SLB ABCD PGRI Kalipuro, sekolah khusus bagi anak-anak penyandang disabilitas. Di SLB ini terdapat enam siswa tuna grahita, 15 siswa autis, tiga siswa Cerebral Palsy (CP), 3 anak Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), dan 4 anak kategori Anak Kesulitan Belajar (AKB), dan amsing-masing seorang siswa tuna runggu dan Down Syndrome (DS).
Menurut keterangan Kades Bulusan, sebagian besar masyarakat disini cenderung beranggapan bahwa ABK hanya menjadi beban keluarga dan tidak memiliki kemampuan atau potensi yang dapat
dioptimalkan atau dikembangkan sebagai suatu keahlian tersendiri. Masyarakat juga tidak tahu apa yang harus diperbuat dan diberdayakan kepada anak-anak berkebutuhan khusus itu.
”Dari penjelasan seperti inilah kami dari mahasiswa UNAIR di PSDKU Banyuwangi ingin berbuat sesuatu, yang tentu saja sifatnya edukatif,” tandas Inriza mengakhiri penjelasannya.
(*)
Editor : Bambang Bes
Mengubah Beternak Ayam Secara Tradisional Menjadi Semi Intensif
UNAIR NEWS – Terinspirasi dari kondisi masyarakat Desa Tanjungsari, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur, khusunya ibu-ibu yang banyak menggemari memelihara ayam kampung. Sayangnya, sistem pemeliharaannya masih tradisional, padahal kebutuhan ayam kampung di pasaran semakin meningkat.
Untuk itulah kelompok lima mahasiswa Universitas Airlangga berinisiatif memberdayakan masyarakat tersebut melalui ternak ayam kampung yang nantinya diharapkan dapat menjadi penopang kegiatan ekonomi produktif di Desa Tanjungsari, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung. Selain itu juga untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat yang lebih baik.
Setelah melihat kondisi masyarakat di desa tersebut, Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian (PKMM) UNAIR
ini terinspirasi dan melakukan pelatihan program MAMA TERAPUNG, kependekan dari “Manajerial Masyarakat Peternakan Ayam Kampung”.
Dibawah bimbingan dosennya, Sunaryo Hadi Warsito, drh., M.P., PKM MAMA TERAPUNG ini dituangkan ke dalam proposal. Setelah melalui penilaian Dikti, proposal bertajuk “MAMA TERAPUNG:
Upaya meningkatkan kesadaran masyarakat di Desa Tanjungsari, Boyolangu, Tulungagung dengan pelatihan manajerial beternak ayam kampung Menggunakan Metode P3E” ini lolos dan berhak memperoleh dana Program PKM dari Kemenristekdikti tahun 2017.
Menurut Septiana Megasari, ketua Tim PKMM ini, pelatihan tersebut dilakukan melalui beberapa tahap dan metode, antara lain pendahuluan (survey), tahap pelaksaan yang meliputi penyuluhan dan praktek langsung, serta pendampingan dan yang terakhir evaluasi.
Mitra dari program MAMA TERAPUNG ini, adalah peternak Pak Maripin dan istrinya. Kemudian pada saat penyuluhan dilakukan di Balai Desa Tanjungsari dengan mendatangkan pemateri dari Dinas Peternakan Kabupaten Tulungagung. Kemudian dilakukan praktek langsung atau pemberian contoh yang dilakukan di rumah mitra (peternak), yaitu tentang perubahan sistem kandang dari yang semula umbaran (dibiarkan liar) menjadi semi intensif, yaitu ayam yang biasanya dibiarkan mencari makan sendiri kini diubah dalam manajemen pakan yang terjadwal.
TIM PKMM Mahasiswa UNAIR. (Foto: Dok PKMM)
”Sebagai pedoman ibu-ibu PKK Desa Tanjungsari dalam beternak ayam kampung, juga kami buatkan modul beternak yang di dalamnya meliputi materi pembuatan kandang, pemeliharaan ayam kampung serta penyusunan pakan,” demikian Septiana, mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR ini.
Melalui progam MAMA TERAPUNG ini dapat menjadikan masyarakat, khususnya ibu-ibu PKK di Desa Tanjungsari menjadi terampil beternak ayam kampong, sehingga dapat meningkatkan perekonomian keluarga, bahkan dapat menciptakan desa tersebut sebagai pusat percontohan peternakan ayam kampung.
Selain dipandegani oleh Septiana Megasari dari FKH sebagai ketua kelompok PKMM, juga terdapat empat orang mahasiswa lain sebagai anggota tim, yaitu Tiara Prastiana Putri dan Evania Haris Chandra (keduanya dari Fakultas Kedokteran Hewan), Arizqa Miftahurrohmah (Fakultas Ekonomi dan Bisnis), dan Intan Nurmahani (Fakultas Hukum).
”Kami berharap taraf hidup masyarakat di Desa Tanjungsari,
Kec. Boyolangu, Tulungagung ini juga meningkat, seiring berkembangnya peternakan mereka,” kata Septiana memungkasi.
(*)
Editor: Bambang Bes