commit to user
1
UNTUK MENINGKATKAN KADAR HEMOGLOBIN DAN KONSUMSI
PROTEIN HEWANI BAGI ANAK TAMAN KANAK-KANAK
Desi1,
Diffah Hanim
2,Kusnandar
21 Mahasiswa Program Studi Ilmu Gizi Pascasarjana UNS
2 DosenProgram Studi Ilmu Gizi Pascasarjana UNS
commit to user
2
Keywords:
Pendidikan anak usia 0-6 tahun
dinilai sebagai strategi pembangunan
sumber daya manusia yang fundamental
dan strategis. Hal ini disebabkan
anak-anak berada dalam masa keemasan,
sekaligus periode kritis dalam tahap
perkembangan manusia. Pada tahapan
inilah diperlukan asupan gizi yang
seimbang dan stimulus psikososial yang
tepat (Damayanthi, dkk 2013).
Masalah anemia adalah masalah
gizi yang penting dan banyak ditemui di
dunia, prevalensi tertinggi ditemui di
negara berkembang termasuk Indonesia.
Hasil analisis data RISKESDAS (2013),
commit to user
3
prevalensi anemia pada pada balita usia
12-59 bulan yaitu 28,1%, sedangkan
anak-anak 5-14 tahun sebesar 26,4%.
Anemia gizi disebabkan oleh hubungan
timbal balik antara kecukupan
gizi, terutama zat besi dan protein
dengan infeksi penyakit terutama
kecacingan. Dampak yang ditimbulkan
anemia gizi adalah kesakitan
dankematian meningkat, gangguan
pertumbuhan fisik, perkembangan otak,
motorik, mental, dan kecerdasan
terhambat, daya tangkap belajar
menurun, pertumbuhan dan kesegaran
fisik menurun, serta interaksi sosial
kurang (Istiany dan Rusilanti, 2013).
Protein merupakan zat gizi yang
sangat penting bagi tubuh karena selain
berfungsi sebagai sumber energi dalam
tubuh juga berfungsi sebagai zat
pembangun dan pengatur. Protein
berperan penting dalam transportasi zat
besi dalam tubuh (Almatsier, 2011).
Konsumsi protein yang kurang memiliki
kemungkinan untuk menderita anemia.
Protein merupakan sumber utama zat
besi dalam makanan. Absorpsi besi yang
terjadi di usus halus dibantu oleh alat
angkut protein yaitu transferin dan
feritin. Transferin mengandung besi
berbentuk ferro yang berfungsi
mentransport besi ke sumsum tulang
untuk pembentukan hemoglobin (Tadete
, 2013).
Pendidikan gizi pada anak usia
dini bertujuan untuk membentuk
perilaku gizi menjadi baik, mengingat
kelompok usia ini memiliki kebiasaan,
sikap yang masih relatif mudah
dibentuk (Khomsan, 2002). Pendidikan
gizi yang dilakukan selama ini masih
banyak menggunakan model
penyuluhan, leaflet, dan poster.
Sebenarnya upaya untuk meningkatkan
pengetahuan gizi dapat dilakukakan
dengan media yang tepat, menarik, dan
mudah dipahami bagi anak.
Media untuk permainan edukatif
anak dengan metode tradisional tanpa
perangkat komputer menjadi permainan
yang mudah, bermanfaat dan
menyenangkan merupakan kunci
terpenting dalam mendesain permainan
anak. Media yang dipilih mudah
diterapkan kepada anak taman
kanak-kanak yaitu menggunakan media ular
tangga gizi, dikarenakan anak usia ini
masih tertarik pada permainan. Konsep
ini merujuk pada konsep bermain
sambil belajar (Wijanarka, 2013).
Perlu dikembangkan media
pendidikan gizi yang tepat, menarik,
dan disukai anak. Oleh karena itu, telah
dilakukan penelitian mengenai
pendidikan gizi melalui permainan
model ular tangga untuk meningkatkan
kadar hemoglobin dan konsumsi protein
hewani bagi anak taman kanak-kanak.
Penelitian ini bertujuan menganalisis
pengaruh pendidikan gizi melalui
permainan model ular tangga untuk
meningkatkan konsumsi protein hewani
dan kadar hemoglobin bagi anak taman
commit to user
4
Penelitian ini dilakukan di sekolah
Taman Kanak-Kanak di daerah yang
berbatasan langsung dengan Kota
Pontianak yaitu Kecamatan Sui. Kakap,
Kecamatan Sui Raya, Kecamatan Sui.
Ambawang Kabupaten Kubu Raya
Provinsi Kalimantan Barat. Dilaksanakan
selama 4 bulan (Februari sampai Mei
2015). Jenis penelitian ini merupakan
experimental dengan menggunakan
rancangan pre-post test with control
group. Populasi penelitian ini adalah
seluruh anak yang terdaftar di Taman
Kanak-Kanak Kabupaten Kubu Raya
Kalimantan Barat pada tahun ajaran
2014/2015.Sampel berjumlah 160 orang
ditentukan secara
porposive sampling.
Analisis data yang digunakan
meliputi univariat untuk menganalisis
jenis kelamin, pendidikan orang tua,
pekerjaan orang tua, pendapatan orang
tua, jumlah anggota keluarga, uang
saku, dan data antropometri. Analisis
bivariat digunakan untuk menjelaskan
hubungan antara variabel independen
( ) dengan
variabel dependen (hemoglobin anak
dan konsumsi protein hewani). Model
analisis
untuk uji beda rata-rata (mean) variabel
konsumsi pangan hewani dan kadar
hemoglobin antara kelompok permainan
model ular tangga dan kelompok
penyuluhan.
Media permainan ular tangga pada
penelitian ini adalah sebuah papan
karton bergambar sumber makanan
protein hewani dalam petak-petak,
berukuran 6x6 petak. Tiap petak diberi
Petak-petak tertentu berisi gambar
karikatur yang mengandung pesan atau
perbuatan, ada pesan atau perbuatan
baik dan ada yang buruk. Pesan atau
perbuatan baik biasanya diganjar
dengan kenaikan ke petak yang lebih
tinggi lewat tangga, sedangkan pesan
atau perbuatan buruk dihukum dengan
cara turun ke petak yang lebih rendah
dengan melewati ular.
Komponen permainan sesuai
dengan permainan ular tangga, yaitu
adanya 3 pemain; adanya lingkungan
untuk pemain berinteraksi yaitu
permainan dilakukan di atas papan
karton kemudian pemain saling
bergantian menjalankan bidaknya;
adanya aturan main yaitu permainan
menggunakan dadu dan bidak sesuai
jumlah pemain, pemain memulai dari
petak pertama dan bergiliran
melemparkan dadu, bidak dijalankan
sesuai mata dadu yang muncul, bidak
commit to user
5
naik ke ujung tangga, dan bidak yang di
ujung ular langsung turun menuju
kepala ular; adanya tujuan tertentu yang
ingin dicapai yaitu pemenang permainan
adalah pemain yang pertama kali
mencapai petak terakhir. Dalam
permainan ini anak menyebutkan dan
memberikan pendapat tentang gambar
ada pada saat menjalankan bidaknya. Ini
dilakukan secara bergantian dengan
anak lainnya dalam satu kelompok.
Permainan akan berhenti jika pemain
sudah mencapai petak terakhir.
Gambar yang dimaksud pada
papan permainan ular tangga dalam
penelitian ini yaitu konsumsi protein
hewani. Papan ular tangga konsumsi
protein hewani menyajikan
gambar-gambar yang ada pada beberapa petak
merupakan gambar jenis-jenis bahan
makanan sumber protein hewani.
Perubahan perilaku gizi anak
terhadap pesan-pesan yang disampaikan
melalui permainan ular tangga adalah
anak sudah mencuci tangan sebelum
makan, anak mau sarapan, minum susu,
mengurangi makanan fastfood,
mengurangi jajanan snack yang banyak
mengandung MSG, aktif melakukan
aktivitas fisik, meningkatnya konsumsi
daging sapi, daging ayam, ikan laut, ikan
air tawar, telur, produk olahan daging
seperti sosis, nauget, dan bakso.
Dari Tabel1 dapat diketahui bahwa
rata-rata jenis kelamin subjek adalah
perempuan (58,75%). Karena sebagian
besar peserta didik taman kanak-kanak
secara demografi lebih banyak
perempuan.
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Pada Kelompok Penelitian
Jenis Kelamin
Kelompok Penelitian
Total
Ceramah Ular Tangga
n % n % n %
bahwa rata-rata pendidikan ayah adalah
tamat SMA (52,5%). Sedangkan
Pendidikan ibu juga tamat SMA (51,25%).
Artinya rata-rata Pendidikan orang tua
subjek adalah menengah (berpendidikan
commit to user
6
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Pendidikan Orang Tua Pada Kelompok Penelitian
Sumber : Data Primer, 2015.
Dari Tabel 3 dapat diketahui
bahwa sebelum pendidikan gizi rata-rata
status gizi baik (86,25%), sesudah
pendidikan gizi rata-rata status gizi baik
(80,63%). Terdapat angka overweight
secara total pada penelitian ini (7,5%)
artinya angka kejadian kegemukan
sudah menjadi masalah kesehatan
masyarakat anak taman kanak-kanak di
Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan
Barat. Namun ada anak taman
kanak-kanak yang termasuk kurus (11,25%)
dikarenakan pola konsumsi yang tidak
adekuat. Ada kejadian pada kelompok
ceramah yaitu status gizi kurus
meningkat dari 2 anak menjadi 9 anak
selisih 7 anak (8,75%). Status gizi baik
menurun dari 66 anak menjadi 59 anak
selisih 7 anak (8,75%). Artinya anak
berstatus gizi baik menjadi berstatus
gizi kurang.
Katagori Kelompok Penelitian Total
Ceramah Ular Tangga
Pendidikan Ayah n % n % n %
Tidak Tamat SD 0 0,0 0 0,0 0 0,0
Tamat SD 4 5,0 16 20,0 20 12,5
Tamat SMP 18 22,5 13 16,25 31 19,38
Tamat SMA 43 53,75 41 51,25 84 52,5
PT 15 18,75 10 12,5 25 15,62
Total 80 100 80 100 160 100
Pendidikan Ibu
Tidak Tamat SD 1 1,25 2 2,5 3 1,875
Tamat SD 2 2,5 14 17,5 16 10
Tamat SMP 20 25 19 23,75 39 24,375
Tamat SMA 46 57,5 36 45,0 82 51,25
PT 11 13,75 9 11,25 20 12,5
commit to user
7
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Status Gizi Berdasarkan IMT Menurut Umur Pada Kelompok Penelitian
Status Gizi
Kelompok Penelitian
Total
Kel. Ceramah Kel. Ular Tangga
Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
n % n % n % n % n % n %
Sumber : Data Primer, 2015
Tabel 4 menunjukkan tingkat
konsumsi protein hewani pada anak
taman kanak-kanak kelompok ceramah
dan kelompok permainan ular tangga di
Kabupaten Kubu Raya kurang dari
angka kecukupan gizi yang dianjurkan
(58,75%). Sesudah pendidikan gizi angka
kecukupan gizi kurang menjadi 42,5%.
Hal ini terjadi karena pada
umumnya anak mengalami masalah
makan. Anak biasanya mempunyai rasa
suka dan tidak suka terhadap makanan
tertentu. Pada periode ini nafsu makan
anak tidak menentu dan tidak bisa
diduga (Almatsier, 2011). Anak dengan
persen AKG baik dari kelompok
ceramah mengalami penurunan 18 anak
menjadi 17 anak (21,25%). Namun
persen AKG lebih ada peningkatan 15
anak menjadi 16 anak (20%). Anak
tersebut menyukai makanan yang
renyah sehingga anak akan meningkat
nafsu makannya bila mendapatkan
makanan yang diinginkannya dari orang
tuanya. Walaupun nafsu makan
menurun dan konsumsi makanan tidak
menentu, namun anak menyukai
makanan yang disiapkan dan
dihidangkan secara menarik. Setelah
mendapatkan pendidikan gizi terjadi
perubahan persen angka kecukupan gizi
kurang pada kelompok permainan ular
commit to user
8
Tabel 4. Distribusi Frekuensi Konsumsi Protein Hewani Pada Kelompok Penelitian
% AKG
Kelompok Penelitian
Total
Kel. Ceramah Kel. Ular Tangga
Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
n % n % n % n % n % n %
Kurang 47 58,75 47 58,75 40 50 21 26,25 87 54,37 68 42,5
Baik 18 22,5 17 21,25 30 37,5 30 37,5 48 30 47 29,37
Lebih 15 18,75 16 20 10 12,5 29 36,25 25 15,63 45 28,13
Total 80 100 80 100 80 100 80 100 160 100 160 100
Sumber: Data Primer, 2015
Dari Tabel 5 diketahui bahwa
rata-rata konsumsi tertinggi bahan makanan
sumber protein hewani sebelum
pendidikan gizi adalah konsumsi telur
ayam negeri (56,50%), sedangkan
konsumsi telur ayam negeri sesudah
pendidikan gizi (55,85%) penelitian ini
menunjukkan pada kelompok
permainan ular tangga asupan bahan
makanan sumber protein hewani
mengalami peningkatan setelah
dilaksanakan pendidikan gizi yaitu
daging sapi, daging ayam, ikan laut, ikan
air tawar, telur, sosis, nauget, dan bakso.
Namun pada kelompok ceramah ada
beberapa bahan makanan sumber
protein hewani mengalami penurunan
yaitu daging sapi, daging ayam, ikan
laut, ikan air tawar, telur. Dilihat dari
sumber protein hewani yang dikonsumsi
anak taman kanak-kanak termasuk
dalam protein berkualitas tinggi. Telur
dan ikan merupakan sumber protein
yang menyumbangkan kandungan
protein cukup besar dalam konsumsi
sehari-hari anak taman kanak-kanak.
Selain mudah di dapat telur dan ikan
harganya terjangkau di kalangan
commit to user
9
Tabel 5. Sepuluh Bahan Makanan Sumber Protein Hewani Tertinggi Di Konsumsi Pada Kelompok Penelitian
No Bahan Makanan
Kelompok Penelitian
Kel. Ceramah Kel. Ular Tangga TOTAL
Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
Gr/Hari Gr/Hari Gr/Hari Gr/Hari Gr/Hari Gr/Hari
1. Daging Sapi 0,3195 1,5741 0,1894 1,3223 0,5089 2,8964
2. Daging Ayam 12,4766 12,1778 10,7991 13,7417 23,2757 25,9195
3. Ikan Laut 20,9453 17,0165 18,3490 21,0595 39,2943 38,076
4. Ikan Air Tawar 24,1089 19,0189 10,4472 12,9915 34,5561 32,0104
5. TelurAyam Kampung 9,8817 9,5470 7,4055 8,5214 17,2872 18,0684
6. Telur Ayam Negeri 30,8106 28,5311 25,6929 27,3241 56,5035 55,8552
7. Telur Bebek 0,4438 0,4500 0,3969 0,4613 0,8407 0,9113
8. Sosis 6,4609 6,6195 5,4203 5,9694 11,8812 12,5889
9. Nauget 1,3388 1,4552 1,2433 2,0244 2,5821 3,4796
10. Bakso 21,2271 22,5672 12,0248 17,99567 33,2519 40,56287
Sumber : Data Primer, 2015.
Tabel 6 menunjukkan kadar
hemoglobin normal kedua kelompok
penelitian sebelum pendidikan gizi
sebesar 88,13 %. Mengalami peningkatan
kadar hemoglobin normal sesudah
pelaksanaan pendidikan gizi yaitu 95%.
Artinya pada kelompok ceramah ada
perbaikan kadar Hb pada anak sebesar 4
anak (5%). Sedangkan kelompok
permainan ular tangga ada perbaikan
kadar Hb sebesar 7 anak (8,75%).
Tabel 6. Status Anemia Pada Kelompok Penelitian
Status Anemia
Kelompok Penelitian
Kel. Ceramah Kel. Ular Tangga Total
Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
n % n % n % n % n % n %
Anemia 12 15 8 10 7 8,75 0 0 19 11,87 8 5
Tidak
Anemia 68 85 72 90 73 91,25 80 100 141 88,13 152 95
Total 80 100 80 100 80 100 80 100 160 100 160 100
commit to user
10
Hasil analisis
, sebelum dilakukan pendidikan
gizi tidak ada perbedaan konsumsi
protein hewani antara kelompok
ceramah dan permainan ular tangga
(p=0,477), adanya perbedaan konsumsi
sesudah pendidikan gizi antara
kelompok ceramah dan permainan ular
tangga (p=0,000). Ada selisih konsumsi
protein hewani antara kedua kelompok
sebesar (112,86 – 86,39 gr = 26,4
gr/anak).
Hasil analisis
,menunjukan bahwa sesudah
pendidikan gizi ada perbedaan
peningkatan Hb antara kelompok
ceramah dan permainan model ular
tangga rata-rata sebesar
(12,1563-11,57142=0,6387gr/dl).
Pada penelitian ini pendidikan gizi
melalui permainan model ular tangga
berpengaruh signifikan terhadap
konsumsi protein hewani pada anak
taman kanak-kanak. Hal ini menunjukan
bahwa pendidikan gizi model permainan
ular tangga mampu meningkatkan
konsumsi protein hewani anak taman
kanak-kanak. Media memang dapat
berfungsi meningkatkan motivasi dan
perhatian anak taman kanak-kanak
untuk belajar dan meningkatkan minat
ingin tahu pada suatu pesan. Sehingga
meningkatkan konsumsi protein hewani
anak taman kanak-kanak. Penelitian ini
didukung oleh penelitian Saputri, (2012).
Bahwa pendidikan kesehatan dengan
alat permainan edukatif (APE) ular
tangga mempunyai pengaruh yang
signifikan terhadap pengetahuan dn
sikap anak dalam pemilihan jajanan
sehat. Hal ini ditunjukkan dengan hasil
analisis statistik
didapatkan nilai signifikansi
p=0,000. Penelitian yang dilakukan
Escamilla (2008), pendidikan gizi
memiliki pengaruh positif pada
pengetahuan gizi umum dan perilaku
asupan makan. Hasil penelitian tentang
commit to user
11
menyatakan bahwa pendidikan gizi yang
terkoordinasi secara signifikan dapat
mempengaruhi konsumsi makanan
kearah yang lebih baik pada pemilihan
makanan sehat (Ritchie 2010).
Memberikan informasi gizi pada
pendidikan gizi dapat mempromosikan
pilihan makanan sehat (Fredman and
Connos, 2011).
Ada perubahan rata-rata konsumsi
protein hewani sebelum dan sesudah
pendidikan gizi pada kelompok
penyuluhan dan kelompok permainan
ular tangga. Pada penelitian ini
menggambarkan bahwa dengan
permainan model ular tangga anak
taman kanak-kanak biasa
mengkonsumsi protein hewani lebih
sering dari sebelumnya. Program
pendidikan gizi merupakan inti dari
pelayanan dasar yang bertujuan untuk
mengatasi masalah gizi. Dengan
memberikan pesan-pesan gizi untuk
mengoptimalkan status gizi melalui
perubahan perilaku dalam pemilihan
dan penyediaan makanan. Hal tersebut
tergambar pada pendidikan gizi di
sekolah Hongkong yang dirancang
menarik serta pelaksanaan yang efektif
dalam menanamkan kebiasaan makanan
yang sehat (Yeung, 2010).
Protein adalah bagian dari semua
sel hidup yang merupakan bagian
terbesar tubuh sesudah air. Protein
mempunyai fungsi khas yang tidak
dapat digantikan oleh zat lain, yaitu membangun serta memelihara sel– sel
dan jaringan tubuh (Almatsier, 2011).
Fungsi khas protein inilah yang
menyebabkan protein sangat
dibutuhkan oleh anak. Hal ini
dikarenakan anak merupakan kelompok
yang dalam masa pertumbuhan dan
perkembangannya memerlukan zat gizi
yang relatif besar jumlahnya dan bila
konsumsi tidak seimbang maka dapat
menimbulkan masalah gizi (Khomsan,
2002).
Pada penelitian ini pendidikan gizi
berpengaruh secara signifikan terhadap
peningkatan kadar hemoglobin anak
taman kanak-kanak. Setiap dilakukan
pendidikan gizi maka akan
meningkatkan kadar hemoglobin
(p=0,000). Hal ini menunjukan bahwa
bahwa pendidikan gizi permainan ular
tangga mampu meningkatkan kadar
hemoglobin anak taman kanak-kanak.
Protein merupakan asam amino
esensial yang diperlukan sebagai zat
pembangun, yaitu untuk pertumbuhan
dan pembentukan protein dalam serum,
commit to user
12
antibodi. Selain itu untuk mengganti sel–
sel yang telah rusak, memelihara
keseimbangan asam basa cairan tubuh,
dan sumber energi (Arisman, 2010). Hal
ini sejalan dengan penelitian Andriana
dan Sumarmi (2006),tentang Hubungan
Konsumsi Protein Hewani dan Zat Besi
dengan Kadar Hemoglobin pada Balita Usia 13–36 Bulan. Berdasarkan hasil
penelitian diketahui bahwa terdapat
hubungan yang sangat erat antara
tingkat konsumsi protein hewani
dengan kadar hemoglobin balita. Wijaya
Chandra (2012), tentang Hubungan
Asupan Zat Gizi dengan Kejadian
Anemia Pada Anak Usia 6-23 bulan di
Kabupaten Aceh Besar, yang
menyatakan ada hubungan antara
konsumsi protein dengan kejadian
anemia
1. Metode sampling yang lemah pada
penelitian menyebabkan kesimpulan
tidak bisa digeneralisasikan ke
populasi yang lebih luas.
2. Penelitian ini tidak dapat terhindar
dari bias informasi dan data sampel,
yaitu keterangan jenis dan frekuensi
konsumsi protein hewani yang
didapat melalui wawancara sehingga
memiliki kemungkinan underestimate
dan overestimate serta keterbatasan
daya ingat responden.
1. Pendidikan gizi melalui permainan
ular tangga mampu meningkatkan
konsumsi protein hewani pada anak
taman kanak-kanak dibandingkan
dengan pendidikan gizi melalui
ceramah.
Pendidikan gizi melalui permainan
ular tangga dapat meningkatkan
kadar hemoglobin anak taman
kanak-kanak dibandingkan dengan
pendidikan gizi melalui ceramah.
1. Secara teori pendidikan gizi melalui
ceramah dikelas untuk anak taman
kanak-kanak sudah lazim dilaksanakan
dengan hasil yang beragam. Namun
pendidikan gizi menggunakan model
permainan ular tangga konsumsi
protein yang menggunakan gambar
kartun lucu dan pesan-pesan konsumsi
protein hewani bagi tumbuh yang sehat,
aktif, cerdas dan kreatif perlu
disosialisasikan karena terbukti lebih
berhasil guna bagi anak taman
kanak-kanak.
2. Implikasi Praktis
a. Pendidikan gizi dengan model
permainan ular tangga konsumsi
protein hewani lebih cepat diterima
anak taman kanak-kanak karena
mereka tidak bosan dengan
permainan yang penuh tantangan
commit to user
13
hewani bagi tubuh untuk hidup sehat,
aktif, cerdas dan kreatif.
b. Implikasi hasil penelitian dapat
dijadikan rujukan panduan
pendidikan gizi anak taman
kanak-kanak di Indonesia melalui model
permainan ular tangga.
1. Intervensi untuk meningkatkan kadar
hemoglobin dapat dilakukan dengan
memberikan informasi tentang
konsumsi protein hewani
menggunakan permainan ular tangga.
2. Diperlukan penelitian lebih lanjut
tentang pendidikan gizi kepada orang
tua sehingga anak mendapat
dukungan dalam menentukan
pemilihan makanan.
UCAPAN TERIMA KASIH
1. Terima kasih kepada tim penguji
Dr. Budiyanti Wiboworini, dr,
M.Kes, Sp.GK dan Dr. Sapja
Anantanyu, MS yang telah
memberikan saran dan masukan
untuk perbaikan jurnal ini.
2. Terima kasih kepada Kepala
Pustanserdik PPSDM Kemenkes RI
yang telah memberikan beasiswa
3. Terima Kasih Kepada Direktur
Poltekkes Kemenkes Pontianak
yang telah memberikan
kesempatan tugas belajar dan
dukungan untuk kelancaran
pendidikan penulis.
Almatsier, S. . 2011.
. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Andarina, D. & Sumarni, S. 2006.
. The Indonesian Journal of Public Health, 3 (1), pp. 19-23.
Literaturee Review Original
Research Article J Nutr Educ
. Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan
Kementrian kesehatan.
Khomsan A, 2002.
commit to user
14
Bogor. Jurusan Gizi Masyarakat
dan Sumber Daya Keluarga.
Fakultas Pertanian, Institut
Pertanian Bogor.
Murti, B. 2013.
. Yogyakarta: UGM Press.
Ritchie L. D. , 2010.
. Original Research Article J Nutr Educ Behav. 2010 : 42 : S2-S10.
Sumarmi S. 2000.
. Project CHN-III Dirjen
Pendidikan Tinggi Nasional.
Jakarta.
Tadete
O.
&Allenfina
et
al
,
2013.
Hubungan Antara Asupan Zat
Besi, Protein dan Vitamin C
Dengan Kejadian Anemia Pada
Anak Sekolah Dasar di Kelurahan
Bunaken
Kecamatan
Bunaken
Kepulauan Kota Manado.
Fakultas
Kesehatan Masyarakat, Universitas
Sam Ratulangi Manado Sulawesi
Utara.
Wijanarka, A. . 2013.
Jurnal Teknologi Kesehatan Volume 9
Nomor 2, September 2013.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.
Wijaya, C. 2012.