• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAPATA ARKEOLOGIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "KAPATA ARKEOLOGIS"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

BANGGAI DALAM PELAYARAN DAN

PERDAGANGAN ABAD KE-19 DI KAWASAN TIMUR SULAWESI

BANGGAI IN SAILING AND TRADING IN THE 19 TH CENTURY IN EASTERN REGION OF

SULAWESI

Hasanuddin

Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Utara Jalan Katamso, Bumi Beringin Lingkungan Manado

[email protected]

Abstract

Banggai had a strategic role in the shipping and trading networks because it had geographical location in eastern of Sulawesi which linked with Ternate and Makassar. Besides the availability of iron ore, sea cucumbers, turtle scales, bird nest, sandalwood, resin, rattan, and copra was a commodity that had attracted the arrival of many traders. The shipping and trading that had taken place before in the 19th century, formed networks connecting with destination region and showed their pattern. In this context, Banggai became the factor of socio-political structure formation that affecting the development of people's lives. The role of traders and migrants from Bugis, Buton, Gorontalo, Mandar, Bajo, China, and Arabs became the factor of the multicultural community formation that can be seen today. This condition caused the emergence of a new situation through intensive encounters between local communities showing a dynamic cultural process. The dynamic cultural process was appearing because each community brought ideology, belief system, political system, and various other cultural elements, such as, customs, arts, literature, economic ethos, and technology. Traders that came from various regions settled and established settlements, such as;

settlement of Bugis, Buton, Gorontalo, Bajo, China and Arabic had a major role in the development of Banggai's shipping and trading networks. Banggai's maritime network became the factor of the integration process in the waters of East Sulawesi. The resources of this article are based on archive documents and library research Banggai.

Keywords: Shipping, Trading, Plural Society, Banggai.

Abstrak

Banggai memiliki peran strategis dalam jaringan pelayaran dan perdagangan karena letak geografis di timur Sulawesi, yang menghubungkan Ternate dan Makassar. Selain itu tersedianya bijih besi, tripang, sisik penyu, sarang burung, kayu cendana, damar, rotan, dan kopra merupakan komoditas yang telah menarik kedatangan banyak pedagang. Pelayaran dan perdagangan yang telah berlangsung dalam masa sebelum abad ke-19 ini, membentuk jaringan ke berbagai daerah tujuan dan menunjukkan polanya sendiri. Banggai dalam konteks itu menjadi faktor pembentuk struktur sosial dan politik Kerajaan Banggai sehingga mempengaruhi perkembangan kehidupan masyarakatnya. Peran para pedagang dan pendatang dari Bugis, Buton, Gorontalo, Mandar, Bajo, Cina, dan Arab menjadi faktor pembentuk komunitas yang berkarakter majemuk di Banggai yang dapat disaksikan hingga kini.

Kondisi ini melahirkan situasi baru melalui perjumpaan intensif antara pendatang baru dan penduduk setempat sehingga memperlihatkan proses kultural yang dinamis. Hal ini terjadi karena masing-masing komunitas membawa ideologi, sistem kepercayaan, sistem politik, dan berbagai unsur kebudayaan lainnya seperti adat istiadat, kesenian, kesusastraan, etos ekonomi, dan teknologi. Para pedagang yang berasal dari berbagai daerah bermukim dan mendirikan perkampungan seperti kampung Bugis, Buton, Gorontalo, Bajo, Cina, dan Arab berperan besar

: 10.24832/kapata.v%vi%i.%a

(2)

pengembangan jaringan pelayaran dan perdagangan Banggai. Jaringan maritim Banggai menjadi faktor terbentuknya proses integrasi di kawasan perairan Sulawesi Timur. Sumber penulisan ini bertumpu pada bahan pustaka dan sebagian arsip.

Kata Kunci: Pelayaran, Perdagangan, Masyarakat Majemuk, Banggai.

PENDAHULUAN

Setelah melalui survey pada bulan (Februari 2015 dan Juli 2017) dapat diamati bahwa Pelabuhan Banggai (Kabupaten Banggai Laut) memegang peran lebih besar dibandingkan Pelabuhan Salakan (Kabupaten Banggai Kepulauan). Salah satu

fungsi pokok sejarah adalah

kemampuannya untuk menjelaskan ‘benang merah’ bahwa masa kini merupakan akibat dari perkembangan masa lalu. Jawaban atas permasalahan itu dapat bersifat implisit tetapi juga ada kalangan yang menginginkan sejarah dapat menjawab secara eksplisit. Tentu saja terdapat kekuatan dan kelemahannya masing- masing. Keinginan yang bersifat positif akan mendorong ke arah jawaban subyektif, tetapi dengan pandangan kritis sesuai dengan metodologi yang ketat, akan menjadi kerangka yang dapat diterapkan untuk penyelidikan yang hasilnya relatif lebih obyektif. Tujuannya adalah untuk menggali dan mengindentifikasi nilai-nilai budaya yang terungkap dari pengetahuan masyarakat maritim yang unggul (local indegenious) dan yang arif (local wisdom) sebagai landasan untuk membangun negara maritim Indonesia yang kuat.

Kajian mengenai jalur palayaran dan perdagangan merupakan tema penting yang belum banyak dilakukan. Dewasa ini kajian tentang sejarah Indonesia lebih banyak didominasi oleh peristiwa yang terjadi di dalam kehidupan politik kerajaan- kerajaan di Nusantara yang berorientasi daratan. Meskipun sudah terdapat beberapa kajian sejarah maritim dengan mengambil tema pelayaran, akan tetapi fokus pada kawasan pesisir timur Sulawesi sangat jarang. Adapun satu dua kajian mengenai kawasan ini mengenai persaingan perdagangan dan perompakan suku-suku Bugis, Bungku, Buton, dari Indonesia timur lainnya. Lapian (1987)

telah mengawali studi kawasan laut Sulawesi mengenai Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut, kemudian diterbitkan dalam bentuk buku tahun 2011. Terdapat kajian nengenai Buton yang bersinggungan dengan Banggai tetapi belum dieksplorasi lebih jauh (Zuhdi, 2010). Kajian tersebut semakin diperlukan karena Indonesia merupakan sebuah wilayah yang terdiri dari ribuan pulau besar dan kecil, sepanjang 3.000 mil dari Sabang sampai Merauke, dan dari Miangas sampai Rote.

Faktor ini menyebabkan Indonesia termasuk dalam negara kepulauan terbesar di dunia (Kusumoprojo, 2009: 46). Kondisi ini mempengaruhi keadaan masyarakat yang mendiami wilayah Indonesia, sehingga muncul berbagai suku bangsa yang memiliki ciri khas tersendiri baik dari segi tradisi maupun pola kehidupan sosial.

Wilayah Indonesia yang sebagian besar berbatasan dengan laut menyebabkan sebagian masyarakatnya melakukan kegiatan dengan mencari kehidupan dari laut.

Bangsa Indonesia mulai memahami arti penting kawasan maritim, hal ini memberi petunjuk bahwa meskipun sekian abad kerajaan-kerajaan terpencar di kepulauan Nusantara tapi secara ekonomi, sosio- kultural, dan politik telah bergabung atau digabungkan dalam satuan-satuan yang lebih besar (Lapian, 2008: 1). Sehingga dapat berfungsi sebagai landasan dalam mengukuhkan kembali kejayaan bangsa Indonesia sebagai bangsa bahari yang hidup di negara kepulauan. Menurut Lapian (2011: 2), perhatian terhadap aspek maritim bukan lagi merupakan hal yang pantas dilakukan, namun sesuatu yang wajib dan menjadi prioritas utama. Dilihat dari perspektif kemaritiman, Indonesia merupakan pulau-pulau ingatan kolektif, namun banyak ‘pulau sejarah’ yang terabaikan (Zuhdi, 2014).

(3)

Banggai terletak di bagian timur Pulau Sulawesi dan berhadapan dengan Laut Maluku, Teluk Tomini, dan Teluk Tolo/Laut Banda merupakan sebuah wilayah kerajaan yang sukses menyerap berbagai perjumpaan budaya dan kuasa dengan daerah sekitarnya, seperti Ternate, Gowa, Bone, Mandar, Wajo, Boalemo, Gorontalo, Bajo, Buton, Bungku, Parigi, dan Kepulauan Togian

Letak geografis Banggai dalam jalur pelayaran dan perdagangan cukup strategis berada di antara Ternate, Buton, dan Makassar sebagai pusat perdagangan. Jalur inilah merupakan jalan strategis atau kemudahan terpenting dalam konteks transportasi dan hubungan komunikasi lintas pulau. Tidak dapat

dipungkiri bahwa faktor

perdagangan maritim ikut berperan pada persaingan usaha dan kekuasaan Ternate – Makassar – Bone telah menentukan dinamika politik di Banggai. Dalam dinamika sejarah Nusantara, Banggai tampaknya terpinggirkan walaupun pernah berhasil membangun suatu hubungan interaksi pelayaran antar- pulau. Hubungan lalu lintas pelayaran inilah yang menjadi faktor utama Banggai mengalami kemajuan perdagangannya.

Beberapa sumber menjelaskan bahwa Banggai telah dikenal pada abad ke-14.

Sumber utama terdapat dalam naskah Nagara Kartagama ditulis Mpu Prapanca pada tahun 1287 Saka (1365 M). Dalam naskah Nagara Kartagama, pupuh 14 bait 5 disebutkan Banggawi merujuk kepada Banggai, dan dikategorikan sebagai saka sanusa nusa atau daerah pulau-pulau (Riana, 2009:102). Banggai dikenal sebagai daerah pengekspor besi, dan menjadi komoditas penting di masa itu.

Pada abad ke-16, Banggai menguasai perdagangan besi, diperkirakan sebagai produk ekspor utama Sulawesi tertua dari Tobungku dan Mori (Henley, 2005: 34).

Menurut Couto bahwa sejak dahulu orang Bugis dan Makassar terkenal sebagai tukang besi dan tukang tembaga (loyang) yang mahir. Besi yang dipergunakan waktu dahulu tidak hanya berasal dari Luwu,

tetapi juga dari Banggai (Pelras, 2011: 18).

Kerajaan-kerajaan pengekspor rempah- rempah di Maluku mendapatkan besi dan persenjataannya dari Banggai berupa kapak besi, parang, pedang, dan pisau. Akhir abad ke-16, pelabuhan-pelabuhan penting di Sulawesi bagian timur dikuasai oleh Ternate termasuk Banggai (Reid, 2014:

125).

Demikian pula kemajuan perdagangan ditentukan adanya komoditas perdagangan utama yaitu produk besi, teripang, sisik penyu, sarang burung, kulit kerang, kayu, dan kemudian kopra menyebabkan Banggai menjadi daerah penting dan menarik para pedagang Bugis, Gorontalo, Mandar, Ternate, Cina, dan asing lainnya melakukan aktifitas perdagangan (Paulus, 1917: 139).

Selain itu, munculnya bajak laut Tobelo dan Minadano yang aktif melakukan perompakan di perairan Kepulauan Banggai, ikut mewarnai dinamika pelayaran dan perdagangan di kawasan itu. Bajak laut disebut sebagai orang yang melakukan tindakan kekerasan di laut, tanpa mendapat wewenang dari pemerintah untuk melakukan tindakan itu (Lapian, 2011:

163).

Hubungan komunikasi melalui pelayaran dan perdagangan sangat penting karena jalur-jalur komunikasi menarik para pedagang dari berbagai suku bangsa menetap dan mendirikan perkampungan di Banggai. Faktor ini menciptakan hubungan interaksi antara penduduk setempat dan pedagang/pendatang yang saling mempengaruhi satu sama lain, dan memberi peran penting dalam kemajuan masyarakat Banggai. Mereka membawa ideologi, sistem kepercayaan, sistem politik, dan berbagai unsur kebudayaan lainnya seperti adat istiadat, kesenian, kesusastraan, etos ekonomi, teknologi, dan sebagainya. Kondisi ini memungkinkan lahirnya situasi baru sebagai konsekuensi dari perjumpaan intensif antara pendatang baru dan penduduk setempat sehingga membentuk komunitas sosial yang majemuk ditandai dengan proses kultural yang dinamis. Dalam kerangka pemikiran di atas maka penting untuk mengangkat peran Banggai dalam jaringan pelayaran dan perdagangan di kawasan timur Sulawesi pada abad ke-19.

(4)

METODE

Penelitian ini menggunakan metode sejarah yaitu melalui beberapa tahap, pertama adalah mengumpulkan data-data sejarah (heuristik) dilakukan dengan proses menemukan, sumber-sumber sejarah. Oleh karena periode penelitian ini mencakup masa kolonial Belanda, maka sumber primer berupa arsip-arsip dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) seperti arsip, Koloniaal Verslag (KV), perjanjian atau kontrak dengan kolonial Belanda, serta surat kabar. Adapun sumber sekunder berupa buku-buku hasil kajian tentang pelayaran dan perdagangan Banggai didapatkan di perpustakaan.

Sumber-sumber primer yang telah dikumpulkan harus dikoreksi ulang, sebab titik tolak semua karya sejarah adalah mengenal penggunaan sumber primer maupun sekunder (Gottshalk, 1986: 35- 40). Selain itu, landasan utama metode sejarah adalah bagaimana menangani bukti-bukti sejarah yang sesuai dengan pokok permasalahan yang akan ditulis.

Sumber itu dapat berupa arsip dan surat- surat pribadi. Bukti-bukti ini dipelajari kemudian dipertimbangkan, mana yang sesuai dengan pokok masalah (Frederick &

Soeroto, 1984: 13-14). Langkah ini dilaksanakan mengingat bahwa setiap keterangan tidak luput dari arti subyektif.

Selanjutnya dilakukan kritik sumber baik otentitas atau keabsahan sumber sebagai kritik ekstern maupun kredibilitas sumber tersebut sebagai kritik intern (Kuntowijoyo, 1995: 100). Kemudian dilakukan interpretasi dengan merangkai, menghubungkan, dan menerangkan data- data yang ada kaitannya dengan permasalahan yang dikaji dapat menjadi sebuah historiografi (Kartodirdjo, 2014: 1- 2).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Jalur Pelayaran

Kegiatan pelayaran niaga lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi angin. Sistem angin memegang peranan penting pada periode itu, sehingga teknologi pelayaran

sangat bergantung penuh pada tenaga angin. Angin musim yang berubah arah secara konsisten dalam setiap setengah tahun telah menciptakan sesuatu yang penting bagi pelayaran dan perdagangan.

Peranan angin musim memberi pengetahuan kepada para pelaut dan pedagang dapat memperhitungkan kegiatannya dengan tepat sesuai irama pertukaran angin yang konsisten tersebut.

Ditemukannya sistem angin – musim barat dan timur – telah memberikan kemungkinan pengembangan jalur pelayaran barat dan timur secara teratur (Kartodirdjo, 1993: 1-2).

Angin muson tidak hanya dapat mempengaruhi perubahan musim tetapi juga hubungan jalur pelayaran niaga. Angin muson barat laut biasanya dimanfaatkan oleh pedagang yang berada di bagian barat, seperti Malaka, Batavia, Surabaya, dan Makassar untuk berlayar ke arah timur melalui Kendari, Pulau Buton, ke Teluk Tolo, Pulau Banggai, Teluk Tomini, Gorontalo dan terus ke Kepulauan Maluku (kepulauan rempah-rempah). Demikian pula pelayaran balik dari Maluku ke Banggai umumnya menggunakan angin muson timurlaut, yang bertiup dari Mei hingga September. Keadaan ini memungkinkan terjadinya hubungan niaga antara Banggai dan pelabuhan lain di kawasan Teluk Tomini, serta pusat-pusat perdagangan di Ternate, Makassar, dan Batavia.

Pelayaran dari luar Pulau Banggai dapat memasuki Pulau Banggai melalui tiga arah.

Pertama, dari sebelah utara melalui Laut Cina Selatan melewati Laut Sulu, kemudian memasuki Laut Maluku. Kedua, jalur sebelah timur melalui pelayaran dari Samudera Pasifik dan Laut Maluku. Ketiga, Laut Jawa menghubungkan Laut Flores menuju Kendari, Teluk Tolo dan memasuki Pulau Banggai. Para pedagang Bugis yang melakukan perjalanan ke Maluku dilakukan pada bulan Desember dan Maret, dengan berlayar searah angin musim barat.

Berangkat dari pantai sebelah timur Sulawesi Selatan melalui jalur sebelah utara melalui Kendari, Teluk Tolo, Pulau Banggai, Teluk Tomini, Ternate, Halmahera Utara, dan Papua (Pelras, 2006: 363).

Hubungan pelayaran niaga dengan daerah-daerah pelabuhan khususnya di

(5)

Banggai dilakukan oleh para pedagang baik bumiputra maupun asing. Para pedagang Bugis melakukan aktifitas pelayaran menggunakan kapal padewakang dan panlarij. Pelayaran Bugis sebagian besar dikembangkan oleh pelaut dari Bone yang bermukim di Cendrana, Bajoe, dan Kajuara.

Selain pelaut Bone, pelaut Wajo yang berlayar dari Danau Tempe atau Sungai Cendrana berlayar dari pelabuhan kecil mereka sendiri di Doping dan Pineki ke Makassar, dimana orang Wajo memiliki komunitas tersendiri yang cukup penting posisinya (Pelras, 2006: 303).

Pelayaran pelaut Bone ke Pulau Banggai dapat melalui jalur timur ke Selat Kabaena menuju Muna terus ke Buton kemudian ke utara menuju Kendari terus ke Salabangka menuju Bungku kemudian ke Teluk Tolo memasuki Pulau Banggai. Demikian pula pelaut Wajo melalui jalur selatan menuju Selat Selayar kemudian ke timur melalui Selat Kabaena menuju Pulau Muna dan Pulau Buton kemudian ke utara menuju Kendari terus ke Salabangka menuju Bungku kemudian ke Teluk Tolo memasuki Pulau Banggai. Kegiatan perdagangan mereka lebih terkonsentrasi pada pelayaran antar-pulau. Hal ini tampak pada tahun 1828, terjadi arus kapal yang datang dan berangkat dari Gorontalo ke Banggai (Inventaris Arsip Gorontalo 1810-1865).

Meskipun terjadi penurunan, namun menarik untuk dicatat bahwa tahun 1840 dilaporkan sekitar 20 sampai 30 kapal layar Bugis (padewakang) mengunjungi Banggai, dan setiap tahunnya memuat komoditas perdagangan besi dan teripang (Henley, 2005: 458).

Pelayaran pelaut Mandar ke Banggai umumnya menggunakan jalur utara melalui Selat Makassar menuju Donggala.

Kemudian melanjutkan pelayaran ke utara memasuki Teluk Tambu ke timur Kasimbar.

Setelah di Kasimbar ke utara menuju Moutong (merupakan basis kekuasaan Mandar). Pelayaran dilanjutkan ke Kepulauan Togian menuju Ampana ke timur menuju Salakan (Pulau Peling) dan ke selatan menuju Pulau Banggai.

Demikian pula orang Bajo melakukan migrasi secara berkelompok ke Pulau Banggai, karena dianggap daerah yang lebih aman dari arus angin dan ombak.

Pada umumnya orang-orang Bajo yang menetap di Kepulauan Banggai berasal dari Bajoe (Bone). Mereka melakukan pelayaran menuju Pulau Banggai ke timur melalui Selat Kabaena terus ke Kepulauan Tioro menuju Kolo (Baturube) terus ke Tanjung Butung ke utara menuju Salabangka terus ke Teluk Tolo menuju ke Pulau Kalumbatang dan sebagian menyebar ke Kalupapi (Pulau Bangkurung) menuju ke Pulau Banggai. Selain jalur pelayaran, mereka juga mempunyai jaringan tempat- tempat pembuatan perahu seperti di Kolo (Baturube) – Kolonodale – Bungku – Salabangka (Kalerowa) – Banggai Laut (Kende’) – Salakan (Bonggana).

Perdagangan Antarpulau

Hubungan dagang Banggai dengan para pedagang pribumi lebih terpusat pada pelayaran antarpulau. Hampir setiap tahunnya, dihasilkan produk besi dan teripang (Henley, 2015: 457-458). Berbagai komoditas perdagangan khususnya produk besi dalam bentuk kapak besi, pedang, dan pisau dibawa dalam jumlah besar ke Ternate (Pires, 2014: 299-300). Produk tembaga dan timah hitam tampaknya berada di bawah kekuasaan pedagang Bugis dan Makassar yang memasarkannya ke Ternate (Pelras, 2006: 144; Meilink, 2016: 96). Beberapa produksi kapak besi, pedang, dan pisau juga dibawa ke Ambon (Meilink, 2016: 214). Selain timah hitam dan tembaga, kulit penyu juga sebagai komoditas perdagangan yang mewah (Pelras, 2011: 18).

Jaringan perdagangan yang dijalin orang Bugis terdapat pada jalur perdagangan lewat berbagai pelabuhan. Para pedagang Bugis berlabuh di pelabuhan guna mengumpulkan produk komunitas sekaligus sebagai titik pemberangkatan pelayaran dagang mereka menuju pelabuhan utama di kawasan Nusantara dan Singapura. Di utara dan tengah Pulau Sulawesi mereka membawa serbuk emas, kayu cendana, sarang burung, dan cangkang penyu.

Sekembalinya dari Singapura, mereka membawa candu (opium) Cina, peralatan dapur Cina, sutra mentah Cina, kain wol

(6)

Eropa, dan komoditas lainnya (Pelras, 2006:

362).

Gambar 1. Peninggalan keramik di Pulau Banggai

(Sumber: Hasanuddin, 2015)

Setelah Banggai mengalami

perkembangan dalam jalur pelayaran dan perdagangan telah menarik Ternate untuk menguasainya. Walaupun di bawah kekuasaan Ternate, Banggai terus dipengaruhi oleh kepentingan politik dan ekonomi Bone dan Gowa. Para pedagang Bugis yang sering mengunjungi pesisir Banggai, dianggap bagi Ternate telah menggangu kekuasaannya. Begitupula bagi Tobungku di wilayah pinggiran Ternate, mendapat perhatian dari kolonial Belanda sebagai daerah ‘impian para penyelundup’.

Pedagang Bugis dari Malaka singgah ke pelabuhan Tobungku, karena dikenal sebagai penghasil budak, rempah-rempah, tempurung penyu, lilin, tembakau, dan banyak produk lainnya dengan harga lebih murah. Ketika kolonial Belanda kekurangan barang dagangan berupa tempurung penyu, maka Tobungku menjadi pemasok tempurung penyu yang berkualitas, yang didatangkan dari Togian dan Pulau Banggai (Andaya, 2015: 96; Meilink, 2016: 96).

Kepulauan Banggai juga kaya akan jenis- jenis kayu yang berkualitas, termasuk kayu cendana yang menduduki posisi utama dalam perdagangan. Selain itu, terdapat jenis kayu yang cocok untuk membangun rumah dan perahu, sama dengan jenis kayu dari daerah Tombuku. Produk jenis kayu hitam atau ebony (kayu meloegottan), kemoeni, dan kuning atau disebut kayu gaharu juga sangat diminati oleh para pedagang (Bosscher & Matthijssen, 1854:

99). Pulau Peling banyak ditemukan produk mika; pohon kelapa di mana-mana ditemukan untuk bahan pembuatan kopra;

sagu dan padi ditemukan dalam jumlah besar di Balantak; damar, rotan, dan lilin banyak dihasilkan dari kampung-kampung bagian selatan; dan di Pulau Salui terdapat sarang burung. Demikian pula duit tembaga lama sebanyak 120 keping dinilai satu gulden. Sejak ditemukannya kandungan emas menarik para penambang untuk melakukan ekspoltasi (Paulus, 1917: 139).

Tingginya permintaan komoditas perdagangan menyebabkan munculnya persaingan dari para penguasa dan pedagang untuk menguasai komoditas perdagangan.

Terjadi persaingan antara Ternate dan Bone untuk kepentingan politik dan ekonominya di Banggai, karena letak Banggai yang strategis sebagai jalur perdagangan utara (Ternate) ke selatan (Makassar) harus melewati Pelabuhan Banggai. Selain itu, Banggai sebagai tempat menampung komoditas perdagangan dari daerah-daerah sekitar (city periphery) seperti Tombuku, Pulau Peling, Pulau Taliabu, Kepulauan Sula, dan Kepulauan Togian ke Pelabuhan Banggai.

Orang-orang Bugis khususnya Bone berusaha mempengaruhi dan mendukung perlawanan Raja Banggai untuk melepaskan kekuasaan Ternate.

Kepentingan Bone bertujuan untuk menanamkan pengaruhnya di Mendono, Banggai, Buton, dan Kendari agar dapat melindungi jalur pelayaran dan perdagangannya di kawasan timur Sulawesi (de Jong, 2011: 60).

Pada tahun 1829, Raja Atondenga bergelar mumbu doi Galela melakukan perlawanan terhadap Sultan Ternate, Muhammad Zain. Raja Atondenga menolak pembayaran upeti dan mengusir utusan Sultan Ternate. Beberapa orang Bugis yang dipimpin Daeng Mangajae, dan para kepala negeri (basalo atau basanyo) mendukung tindakan Raja Atondenga. Kemudian semua kepala negeri mundur, kecuali Basanyo

Batui yang tetap membantu

perlawanannya. Setelah diketahui orang- orang Tobelo ikut membantu Ternate, maka Basanyo Batui dan para pengikutnya melarikan diri ketika pasukan Ternate dan bantuan dari Tobelo mendekat di Banggai.

Akhirnya Raja Atodenga melarikan diri dan ditangkap di Mendono, kemudian

(7)

diasingkan ke Ternate dan wafat di Galela ( Clercq, 1890: 175; Dormeier, 1947: 182).

Bahkan pada bulan November 1840, persaingan antara Ternate dengan orang- orang Bugis semakin meningkat, setelah utusan dan semua pasukan Ternate di Tobungku dibunuh oleh penduduk atas perintah Raja Tobungku, Dongke Kombe.

Pemberontakan Kombe setelah mendapat bantuan dari dua orang bangsawan Bugis, yakni Daeng Mangkala dan Daeng Palili.

Pada pertengahan tahun 1842, Sultan Ternate menyerang dan berhasil menguasai kembali Tobungku (Kartodirdjo, dkk, 1973:

344).

Pada bulan Oktober 1846,

pemberontakan kembali terjadi ketika Raja Banggai, Agama bergelar mumbu doi Bugis setelah mendapat bantuan dari orang-orang Bugis di Kendari dan Togian, kemudian Raja Agama menolak permintaan utusan Sultan Ternate dengan jumlah kekuatan

pasukan dua kora-kora untuk

menjemputnya ke Ternate. Pada bulan Februari 1847, terjadi perang di lautan antara pasukan Raja Agama dibantu orang Bugis melawan pasukan Ternate dengan menggunakan kora-kora. Akhirnya pasukan Banggai dapat ditaklukkan, Raja Agama bersama orang Bugis melarikan diri ke Tojo. Pada bulan April 1847, Sultan Ternate mengirim ekspedisinya dengan armada kora-kora ke Tojo untuk menangkap Raja Agama. Setelah mengetahui kedatangan pasukan Ternate, Raja Agama melanjutkan pelariannya ke Buton dan kemudian meminta perlindungan kepada Arung Bone, La Parenrengi Arung Ugi (Kartodirdjo, 1973: 345; Clerq, 1890: 178; de Jong, 2011:

57-58).

Produk teripang didapatkan dari pulau- pulau dengan jumlah yang besar. Setiap tahunnya hasil tangkapan teripang mencapai 800 sampai 900 pikul, begitupula komoditas lainnya seperti sisik penyu, sarang burung, dan hasil hutan untuk diperdagangkan. Sistem perdagangan sepenuhnya berada di bawah penguasa lokal, karena teripang dan sisik penyu tidak masuk ke Banggai, namun langsung di ekspor. Para pedagang hanya membayar pajak ikan, yang penghasilannya dibagi setengah untuk Ternate dan setengah lainnya diberikan kepada para kepala/raja

(Bosscher & Matthijssen, 1854: 91). Tahun 1880, pedagang dari Mandar mulai aktif melakukan kegiatan perdagangan di Banggai. Setiap pedagang Mandar dikenakan uang jangkar atau pajak pelabuhan yang merupakan penghasilan dari perwakilan Sultan Ternate di Banggai (Dormeier, 1947: 133).

Di daerah Banggai seringkali didatangi para pedagang Cina dari Gorontalo, mereka umumnya membeli hasil hutan terutama damar dan rotan yang kemudian diangkut ke Gorontalo. Kemudian dibuat suatu kontrak untuk mengatur penebangan dan pengangkutan kayu bagi pengolahan tanah.

Demikian pula kopi yang merupakan produk utama umumnya dibeli oleh orang Bajo, Cina, dan Gorontalo (Kolonial Verslag, Tahun 1883).

Setelah Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan kebijakan politik dalam mengatur pelayaran untuk melindungi kapal-kapal dagangnya dari persaingannya dengan kapal-kapal Eropa, serta perahu- perahu Bugis, Makassar, dan Mandar.

Kebijakan ini memberi keuntungan bagi kapal-kapal milik pengusaha Belanda atau Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) yang mendominasi pelayaran dan pengangkutan barang. Perdagangan kopra antarpulau awalnya dikuasai oleh perahu- perahu pedagang Bugis, setelah Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan kebijakan monopoli KPM, maka para pedagang mulai mengalihkan perhatiannya ke KPM.

Pedagang Cina lebih memilih KPM karena mampu mengangkut kopra dalam jumlah besar dan waktu yang lebih cepat. Meski KPM memiliki monopoli pelayaran, tetapi pelayaran yang dikuasai orang-orang Bugis tetap menjadi saingan KPM. Beberapa perahu Bugis dan Makassar yang semula menguasai pelayaran niaga, secara perlahan mengangkut kopra secara estafet.

Monopoli pengangkutan antarpulau yang dilakukan pedagang Bugis membentuk jaringan yang semakin kuat setelah munculnya perdagangan kopra. Kegiatan perdagangan bagi pedagang Bugis dan Mandar semakin mudah dilakukan karena hubungan pengaruh kekuasaan orang Bugis dan Mandar di kawasan Teluk Tomini.

Pelayaran KPM (jalur 21) melayani jalur sepanjang pantai selatan dan timur

(8)

Sulawesi melalui Selat Buton – Teluk Tumori – Kolonadale – Banggai –Gorontalo ditempuh dalam waktu empat minggu dari Makassar (Asba, 2007: 101).

Awal tahun 1895, Sultan Ternate mengeluarkan kebijakan dengan melakukan penawaran kepada suatu usaha dagang Eropa di Gorontalo untuk menghapus hak dagang monopoli bagi penebangan dan pengangkutan kayu. Tujuannya adalah untuk membebaskan penebangan oleh penduduk, untuk keperluan pembuatan kapal dan rumah, serta untuk memenuhi kebutuhan Sultan. Selain itu, hak mengumpulkan produk hasil hutan bagi setiap pembeli dapat membuat kesepakatan sesuai harga konsesi dalam bentuk cukai yang ditawarkan melalui kontrak kepada Sultan, yakni f 1.000 per tahun. Hasil cukai dalam kontrak produk kayu selama 15 tahun diberikan kepada Raja Banggai dan para bangsawan taklukannya sebesar 20 persen (Kolonial Verslag, Tahun 1896).

Setelah tahun 1906, Banggai dibawah kekuasaan kolonial Belanda, semua produk kerang mutiara, dan hak monopoli produk laut lainnya di perairan Banggai dikuasai oleh kolonial Belanda (Paulus, 1917: 139).

Bajak Laut

Banggai mempunyai pelabuhan yang baik, tempat persembunyian yang aman dan terdapat banyak pelayaran rahasia atau penyelundupan yang dapat dilakukan di antara pulau-pulaunya, sehingga menarik para bajak laut untuk membangun tempat persembunyiannya. Walaupun kolonial Belanda telah menempatkan seorang letnan sebagai gezaghebber sipil bersama beberapa orang serdadu dan mendapat kewenangan untuk menumpas para bajak laut, ternyata tidak mampu menumpas para bajak laut. Hal ini disebabkan tidak adanya sarana bagi gezaghebber berupa kapal laut untuk menumpas para bajak laut dalam mempertahankan kekuasaannya (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie, 29 Januari 1910: 2).

Bajak laut yang terkenal pada abad ke- 19 adalah orang Tobelo (Halmahera Utara).

Wilayah perompakan orang Tobelo sangat luas meliputi Laut Flores, Laut Banda, Laut

Maluku, Teluk Tomini (Gorontalo), Kepulauan Banggai, Tobungku, dan Kepulauan Butung atau Buton (Lapian, 2008: 183).

Banggai seringkali menjadi sasaran para perompak Tobelo sampai ke pedalaman dengan menjarah dan membakar pemukiman penduduk. Untuk mengatasi serangan para perompak, di pusat-pusat daerah baik di pulau maupun di daratan di bangun benteng yang dikelilingi tembok batu. Jika diketahui kedatangan para bajak laut Tobelo, maka penduduk dimasukkan ke dalam benteng, sedangkan bagi laki-laki bertugas sebagai pertahanan dalam menghadapi serangan para bajak laut Tobelo. Hampir semua serangan yang dilakukan bajak laut Tobelo berhasil mengalahkan perlawanan penduduk di kampung atau daerah, sehingga sejumlah penduduk ditawan dan dijadikan budak.

Walaupun terdapat prajurit di beberapa daerah, seperti Batui, Tangkian, Kintom, dan Mendono yang berjumlah sekitar empat puluh prajurit dan beberapa perwira, namun bukan khusus diperuntukkan bagi pertahanan di daerah. Mereka lebih banyak diperuntukan bagi kemegahan peristiwa- peristiwa penting, seperti perayaan- perayaan agama dan pesta-pesta lainnya.

Tugas-tugas pertahanan dalam kondisi berbahaya dibebankan kepada semua laki- laki yang siap perang (Dormeier, 1947:180).

Pada tahun 1820, akibat tekanan patroli kapal perang Belanda, menyebabkan bajak laut Tobelo melakukan persekutuan dengan bajak laut Mindanao, dan mereka mempunyai persembunyian dan logistik (Velthoen, 2010: 204). Dalam kegiatannya ekspedisinya, terdapat 4 atau 5 perahu bajak laut Tobelo dengan memuat sampai 10 orang. Untuk ekspedisi yang lebih penting atau besar, beberapa perahu kecil diikat bersama untuk membentuk pasukan yang lebih besar di bawah perintah seorang pimpinannya. Pada tahun 1870, terdapat 48 perahu bajak laut Tobelo beroperasi di Teluk Tomini. Kemudian dipisah menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil dan menyebar ke perairan timur Sulawesi (Velthoen, 2010: 214).

Serangkaian pemberontakan Raja Banggai terhadap Sultan Ternate, dan terbentuknya koalisi Mindanao dan Tobelo

(9)

sebagai koloni bajak laut, menjadikan pantai timur bagian Sulawesi sebagai daerah yang berbahaya pada pertama dekade abad ke- 19. Pada tahun 1850, Van der Hart mengelilingi pulau dan seluruh hamparan pantai dari Kendari ke Balantak tampaknya menemukan rumah-rumah benar-benar kosong, penduduk dipindahkan ke pedalaman atau ke tempat lain. Pada tahun yang sama, Revius mengunjungi tepian Teluk Tomori yang terbuka dan menemukan kampung yang baru didirikan (Henley, 2005: 246).

Perompakan dan penawanan penduduk untuk dijadikan budak jelas membawa pengaruh bagi pemukiman di sekitar pesisir laut. Banyak orang meninggalkan daerah Tomini ke pantai Gorontalo untuk mencari perlindungan dan keselamatan dari serangan bajak laut. Pada umumnya penduduk menghindari membuat pemukiman di pantai karena memiliki keterkaitan dengan merampok budak (Henley, 2005: 430-431). Di Balantak, kegiatan bajak laut Tobelo seringkali menawan penduduk untuk dijadikan budak.

Setelah itu, kedatangan bajak laut Tobelo mendapat perlawanan dari penduduk Balantak. Timbulnya berbagai perlawanan penduduk mengakibatkan bajak laut Tobelo jarang memasuki daerah Balantak.

Perkampungan

Pedagang dan

Pendatang

Letak geografis Banggai sebagai daerah transito perdagangan dan tersedianya tanah yang subur dan menghasilkan komoditas perdagangan telah menarik para pedagang ke Banggai. Beberapa pedagang mendirikan perkampungan seperti Kampung Bugis, Buton, Gorontalo, Bajo, Cina, dan Arab memiliki potensi besar dalam mengembangkan usaha perdagangan dengan memanfaatkan jaringan pelayaran dan perdagangan.

Kaum pedagang dan pendatang yang menetap di Banggai, diantaranya adalah koloni orang-orang Bugis dan Gorontalo membentuk perkampungan dengan pemerintahan sendiri serta berswadaya.

Koloni Bugis dan Gorontalo tersebar di

seluruh wilayah Banggai, dan umumnya menetap di daerah-daerah pesisir. Koloni orang Bugis mempunyai ikatan keluarga dengan orang-orang Bugis dari Wani, Palu, dan Gorontalo. Selain itu, pemukiman bagi orang-orang Bajo menetap di Tinakun (Pulau Banggai), sebagian besar menetap di Kalumbantang (pesisir Timur Peling) dan Pagimana di Teluk Tomini (Dormeier, 1947:

46-47). Mereka menetap di rumah-rumah bertiang di atas laut dengan kepala-kepala dan adat sendiri. Orang Buton umumnya berasal dari Muna dan hanya datang sebagai pekerja musiman. Kadangkala orang Buton menetap hanya beberapa bulan atau memilih menetap beberapa tahun di suatu kampung dan bekerja sebagai pemetik kelapa atau pedagang kecil (Dormeier, 1947: 7-8).

Orang Bugis, Gorontalo, Buton, dan Bajo diberi kebebasan untuk mengatur

masyarakatnya dalam setiap

perkampungan. Kelompok imigran Bugis dari Bunta selama bertahun-tahun mendapat pengakuan dari Pemerintah Hindia Belanda sebagai distrik bawahan (sub-distrik) dan dipimpin seorang pimpinan bergelar kapitan. Demikian pula bagi perkampungan Bajo di bawah kepemimpinan sendiri bergelar punggawa dengan menempati rumah-rumah mereka yang khas di atas laut. Orang Gorontalo membentuk perkampungan sendiri dengan memilih pimpinannya bergelar mayor (gelar lebih rendah dari kapitan). Di Bunta terdapat seorang mayor Gorontalo di bawah kekuasaan seorang kapitan Bugis.

Pemilihan kepala kampung bagi koloni Bugis berdasarkan pada keturunan pendiri kampung bergelar kapitan lolo, dan membawahi beberapa kepala disebut matoa. Selain itu, perkampungan orang Gorontalo di Boalemo dan Pagimana masing-masing dipimpin seorang mayor.

Bagi perkampungan orang Saluan di bawah kepemimpinan seorang bergelar kapala kampong (Dormeier, 1947: 82 & 128).

Koloni Bugis tersebar di wilayah Banggai, dan umumnya menetap di daerah- daerah pesisir. Bagi orang Banggai menyebutnya orang Bungin, bukan To Ugi seperti kebanyakan diperantauan. Para pedagang Bugis diberikan sebuah wilayah oleh Jogugu Banggai untuk mendirikan

(10)

pemukiman dan dikembangkan menjadi Kampung Bugis, dengan pemerintahan sendiri serta berswadaya. Mereka diberi kebebasan untuk mengatur masyarakatnya, di sekitar Kampung Bugis terdapat juga Kampung Buton, Bungku, dan Gorontalo (sekarang menjadi Tanjung, Kelurahan Lompio).

Pada tahun 1840, antara 100 sampai 150 perahu Bajo (soppe) memasuki perairan Kepulauan Banggai dan menyebar ke Pulau Peling, Pulau Banggai, dan pulau-pulau di bagian tenggara. Sebuah fakta penting bagi penguasa lokal bahwa sangat tergantung pada orang-orang Bajo yang sebagian besar membawa komoditas ekspor dalam perdagangan antarpulau. Ikan karang diperuntukkan bagi pemasukan sendiri, sedangkan ikan kering dibarter dengan barang kebutuhan sehari-hari. Komoditas teripang, tempurung kura-kura, dan sirip hiu di ekspor ke pasar Cina (Shoper, 1977:

149). Sebagian besar hidup secara eksklusif di atas air dengan kapal yang cukup besar disebut padewakang, sebagai tempat anak- anak lahir dan dibesarkan (Shoper, 1977:

212).

Gambar 2. Rumah di atas laut di Kepulauan Banggai dengan latar belakang kapal uap s.s.

Spilbergen, 1926

(Sumber: Tropenmuseum-TM30004043) Kehidupan koloni Bajo di Kalumbatan (pantai timur Pulau Peling) berada di bawah kekuasaan sendiri bergelar punggawa dengan adat sendiri. Jumlah orang Bajo sekitar 300 sampai 400 jiwa. Pengembaraan orang Bajo menjadikan pemukiman sepanjang pantai timur Sulawesi sampai ke Kepulauan Togian. Mereka dibebankan membayar pajak ikan sebesar f 4 setiap tahunnya kepada Sultan Ternate. (Clercq,

1890: 132). Mata pencaharian utama sebagai pencari teripang dan kerang mutiara yang kemudian di ekspor (Paulus, 1917: 139).

Kampung Bajo di Pagimana lebih banyak berorientasi kepada kekuasaan Bone.

Mereka menetap dengan arsitektur rumah bertiang di atas laut (Dormeier, 1947: 46- 47). Sampai awal abad ke-20, Orang Bajo tidak membayar pajak kepada kolonial Belanda, melainkan mengirim upeti kepada Raja Bone. Begitupula orang Bajo di Kepulauan Banggai yang mengakui kekuasaan Raja Bone, tetapi diwajibkan membayar pajak karang kepada utusan Sultan Ternate yang berkedudukan di Banggai (Lapian, 2011: 155). Setiap tahun orang-orang Bajo membayar pajak f 1 kepada Sultan Ternate, sebagai hak untuk menangkap ikan di perairan Banggai.

Selain itu, mereka juga diwajibkan membayar pajak f 4/perahu dan f 2/rumah agar dapat melakukan kegiatannya sehari- hari (Dormeier, 1947: 134).

KESIMPULAN

Letak geografis yang cukup strategis di bagian timur Pulau Sulawesi dan berhadapan dengan Laut Maluku, Teluk Tomini, dan Teluk Tolo/Laut Banda sebagai jalur pelayaran Ternate, Buton, dan Makassar memberi keuntungan bagi Banggai sebagai daerah transit pelayaran.

Jaringan pelayaran dan perdagangannya telah ramai bahkan pada abad ke-14, faktor ini juga didorong sebagai penghasil bijih besi yang merupakan salah satu komoditas perdagangan utama. Bahkan abad ke-16, perdagangan ekspor besi telah dikuasai Banggai.

Demikian pula produk teripang, sisik penyu, sarang burung, kulit kerang, kayu, dan kemudian kopra menempatkan Banggai menjadi daerah penting dalam perdagangan. Kedatangan para pedagang Bugis, Gorontalo, Buton, Bajo, Mandar, Ternate, Cina, dan asing lainnya membawa kemajuan dalam perdagangan Banggai.

Dampak kemajuan perdagangan Banggai menyebabkan timbulnya persaingan usaha dan kekuasaan antara Ternate dan Bone

(11)

yang secara langsung mempengaruhi dinamika politik di Banggai.

Pelayaran dan perdagangan Banggai merupakan faktor penting dalam menggerakkan jalur-jalur yang menghubungkan sejumlah pelabuhan dan membentuk dinamika kawasan timur Sulawesi. Dalam jaringan itu pula berlangsung komunikasi para pedagang yang berasal dari berbagai suku bangsa

yang menetap dan mendirikan

perkampungan di Banggai. Terbentuknya jaringan pelayaran menjadi faktor integrasi baik dalam hubungan antarpulau maupun pembentukan masyarakat ‘baru’ yang berasal dari beragam asal usul daerah.

Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang turut membantu penelitian ini. Terima kasih kepada Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya, para tokoh masyarakat Banggai Laut, Banggai Kepulauan, dan Luwuk atas waktu dan kesempatan yang diberikan selama penelitian. Terima kasih juga kepada Kapata Arkeologi yang telah mempublikasikan penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Andaya, Leonard Y. (2015). Dunia Maluku:

Indonesia Timur Pada Zaman Modern Awal.

Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Asba, Rasyid. (2007). Kopra Makassar Perebutan Pusat dan Daerah: Kajian Sejarah Ekonomi Politik Regional di Indonesia.

Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Bosscher, C dan P.A. Matthijssen. (1854).

Schetsen van de rijken van Tomboekoe en Banggai, op den oostkust van Celebes. In Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde (TBG), II.

Clercq, F.S.A De. (1890). Ternate: The Residency and its Sultanate. In Bijdragen tot de kennis der Resindetie Ternate. Leiden: E.J.

Brill.

de Jong, Christiaan G.F. (2011). Nieuwe hoofden Nieuwe goden: Geschiedenis van de Tolaki en Tomoronene, twee volkeren in Zuidoost-Celebes (Indonesië), tot ca. 1950.

Saarbrücken: Lambert Academic Publishing.

Dormeier, J.J. (1947). Banggaisch Adatrecht. In Verhandelingen van het Koninklijk

Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (VKI), VI. 's-Gravenhage: Martinus Nijhoff.

Frederick, William H. & Soeri Soeroto (eds).

(1984). Pemahaman Sejarah Indonesia:

Sebelum dan Sesudah Revolusi. Jakarta:

LP3ES.

Gottshalk, Louis. (1986). Mengerti Sejarah.

Nugroho Notosusanto (Terj.). Jakarta: UI Press.

Inventaris Arsip Gorontalo, 1810-1865. Jakarta:

Arsip Nasional Republik Indonesia.

Henley, David. (2005). Fertility, Food and Fever:

Population, Economy and Environment in North and Central Sulawesi, 1600-1930.

Leiden: KITLV.

Kartodirdjo, Sartono, dkk. (1973). Ikhtisar Keadaan Politik Hindia-Belanda Tahun 1839-1848. Penerbitan Sumber-Sumber Sejarah No. 5. Jakarta: Arsip Nasional Republik Indonesia.

Kartodirdjo, Sartono. (1993). Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900: Dari Emporium Sampai Imperium. Jakarta:

Gramedia Pustaka Utama.

_____________. (2014). Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah. Yogyakarta:

Penerbit Ombak.

Koloniaal Verslag, Tahun 1883 dan 1896.

Jakarta: Arsip Nasional Republik Indonesia.

Kuntowijoyo. (1995). Pengantar Ilmu Sejarah.

Yogyakarta: Benteng.

Kusumoprojo, Wahyono Suroto. (2009).

Indonesia Negara Maritim. Jakarta:

Teraju.

Lapian, Adrian B. (1987). Orang Laut-Bajak Laut-Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX. Disertasi Universitas Gadjah Mada.

_____________. (2008). Pelayaran dan Perniagaan Nusantara Abad Ke-16 dan 17. Jakarta:

Komunitas Bambu.

_____________. (2011). Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX. Jakarta: Komunitas Bambu.

Meilink, M.A.P-Roelofsz. (2016). Persaingan Eropa & Asia di Nusantara, Sejarah Perniagaan 1500-1630. Jakarta: Komunitas Bambu.

Paulus, J. (1917). Encyclopaedie van Nederlandsch Indie, eerste deel.‘s.

Gravenhage: Martinus Nijhoff.

Pelras, Christian. (2006). Manusia Bugis.

Jakarta: Nalar kerjasama Forum Jakarta- Paris École francaise d’Extrême-Orient.

(Translation of The Bugis. Oxford:

Blackwell, 1996).

________. Desember 2011. Sulawesi Selatan Sebelum Kedatangan Agama Islam Mengikut Sumber-Sumber Asing Terawal.

(12)

In Jurnal Terjemahan Alam & Tamadun Malayu 3. 1 (pp. 13-40). Kuala Lumpur:

Universitas Kebangsaan Malaysia.

Pires, Tome. (2014). Suma Oriental. Yogyakarta:

Penerbit Ombak.

Reid, Anthony. (2014). Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680. 1. Jakarta:

Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Riana, I Ketut. (2009). Kakawin Desa Warnana Uthawi, NĀGARA KRTĀGAMA, Masa Keemasan Majapahit. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.

Sopher, David E. (1977). The Sea Nomads: A Study Of The Maritime Boat People Of Southeast Asia. Singapore: National Museum Singapore.

Tanpa Penulis. (29 Januari 1910). Rondom Celebes. Het nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie, p. 2.

Velthoen, Esther. (2010). Wanderers, Robbers and Bad Folk’: the Politics of Violence, Protection and Trade in Eastern Sulawesi 1750-1850. In Anthony Reid (Ed.), The Last Stand of Asian Autonomies Responses to Modernity in the Diverse States of Southeast Asia and Korea, 1750

—1900 (pp. 367—387). London: MacMillan Press Ltd.

Zuhdi, Susanto. (2010). Sejarah Buton yang Terabaikan Labu Rope Labu Wana.

Jakarta. Rajawali Rajagrafindo.

____________. (2014). Nasionalisme, Laut, &

Sejarah. Depok: Penerbit Komunitas Bambu.

Referensi

Dokumen terkait

Dengan mengelola kecerdasan emosional dalam proses belajar-mengajar, tidak hanya siswa yang memilki IQ tinggi yang dapat berhasil dalam belajar namun siswa

Tanggung jawab Dewan Komisaris terhadap Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), dewan Komisaris harus mengawasi kinerja Direksi agar menjalankan Perseroan berdasarkan keputusan

Dari uraian diatas penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh rasio profitabiltas dalam hal ini adalah Rasio ROA, ROE dan NPM Terhadap Harga Saham pada Perusahaan yang

Universitas Sumatera Utara... Kepala

Berdasarkan uraian pada latar belakang, fenomena serta perbedaan hasil yang diperoleh dari beberapa penelitian sebelumnya maka penulis tertarik untuk melakukan

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui biaya usahatani udang galah, besarnya penerimaan dan pendapatan udang galah serta kendala-kendala yang dihadapi kelompok tani Mina Loka

Saya bukanlah saya bila salah satu sistim tersebut tidaklah seperti apa yang bekerja pada diri saya saat ini; Anda bukanlah Anda, bila otak Anda tidak ada sewaktu Anda lahir