• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA A."

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

15 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian Teori 1. Partai Politik

Partai politik di Negara demokrasi memiliki peran yang sangat sentral, hal ini dikarenakan kehadirannya sangat dibutuhkan dalam melakukan partisipasi politik dan penyaluran aspirasi masyarakat kepada pemerintah dan dapat menjadi penyeimbang (balance) bagi penguasa. Serta partai politik dapat pula mengelola hubungan baik antara masyarakat dengan pemerintah sesuai dengan tugas pokok dan fungsi partai politik itu sendiri.

a) Pengertian Partai Politik

Definisi partai politik telah banyak dikemukakan oleh para ahli. Menurut Carl J. Friedrich dalam (Budiarjo, 2007: 404) berpendapat bahwa:

A political party is a group of human beings, stably organized with the objective of securing or maintaining for its leaders the control of a government, with the further objective of giving to members of the party, through such control ideal and material benefits and advantages (Friedrich, 1950).

Partai politik adalah sekelompok manusia yang terorganisir secara stabil dengan tujuan merebut atau mempertahankan penguasaan terhadap pemerintah bagi pemimpin partainya dan berdasarkan penguasaan ini, memberikan kepada anggota partainya kemanfaatan yang bersifat idiil serta materiil(Friedrich, 1950).

Dari pernyataan yang dikemukakan oleh Friedrich diatas, partai politik terdiri dari orang-orang yang memiliki tujuan yang sama merebut atau

(2)

16

mempertahankan kekuasaan dan terhimpun dalam wadah yang sama yaitu partai politik. Hal demikian dapat terwujud jika budaya politik yang terbangun di dalam partai politik adalah partisipatif. Tujuan partai politik sulit untuk terwujud jika anggota partai politiknya berjalan masing-masing dan tidak memiliki kerjasama yang baik.

Ahli lain, Sartori dalam (Budiarjo, 2007: 404) menekankan pada penempatan jabatan publik oleh pada kader partai politik. Partai politik adalah suatu kelompok politik yang mengikuti pemilihan umum dan, melalui pemilihan umum itu, mampu menempatkan calon- calonnya untuk menduduki jabatan- jabatan publik (G. Sartori, 1976).

Namun secara umum, ada kesamaan dalam setiap definisi partai politik yang dikemukakan oleh para ahli. Menurut Riswanda dalam (Ratnawati, 2006: 2) kesamaan ciri tersebut adalah sebagai berikut; pertama, kumpulan orang-orang se ide dan berupaya mewujudkan ide-ide tersebut. Kedua, memiliki organisasi yang rapi, yang memiliki kontinuitas kegiatan sepanjang tahun. Ketiga, berupaya menyusun agenda kebijakan, serta berusaha mempengaruhi pengambilan keputusan atas agenda tersebut. Keempat, berambisi menempatkan wakil- wakilnya dalam jajaran pemerintahan untuk mewujudkan ide-idenya.

b) Fungsi Partai Politik

Selanjutnya partai politik dalam menjalankan roda aktivitas politik nya memiliki fungsi yang menjadi tugas pokok partai politik, lebih tegas Miriam Budiardjo menyebutkan fungsi partai politik sebagai berikut;

(3)

17 1. Sarana komunikasi politik;

2. Sarana sosialisasi politik;

3. Rekrutmen politik;

4. Pengatur konflik;

Sarana komunikasi politik menjadikan partai politik sebagai interest aggregation atau penggabungan kepentingan dari suara masyarakat yang berbeda latar belakang. Sarana sosialisasi politik merupakan proses yang melaluinya seseorang memperoleh sikap dan orientasi terhadap fenomena politik. Rekrutmen politik sendiri erat kaitannya dengan masalah seleksi kepemimpinan. Pengatur Konflik menjadikan partai politik sebagai penghubung psikologis dan organisasional antara warga negara dengan pemerintahnya dan elit politik dianggap dapat mengatasi perbedaan-perbedaan atau perpecahan di tingkat massa bawah (Budiardjo, 2007).

Sedangkan dengan bahasa yang agak berbeda Almond dan Powel menyebutkan ada tiga fungsi partai politik

1. Rekrutmen politik;

2. Sosialisasi politik;

3. Artikulasi dan Agregasi Kepentingan;

Dari beberapa fungsi partai politik yang telah disebutkan diatas ada satu kesamaan fungsi partai politik intinya untuk menjadi wadah dan penyalur kepentingan masyarakat kepada pemerintah agar orientasi akhir kebijakan yang

(4)

18

dibuat pro terhadap masyarakat, di negara demokrasi fungsi partai politik sudah selayaknya seperti itu (Budiardjo, 2007: 405).

Dalam penelitian ini kajian teoritis penulis berfokus pada fungsi partai politik yang meliputi “sarana komunikasi politik” dan “sarana sosialisasi politik”. hal ini disesuaikan dengan dimensi cultural pelembagaan partai politik yang meliputi value infus dan reification.

1. Sarana Komunikasi politik

Miriam Budiardjo menjelaskan dalam masyarakat yang memiliki kompleksitas yang beragam, akan memiliki dan menimbulkan aspirasi dan pendapat yang beragam pula. Pendapat dan aspirasi seseorang atau masyarakat akan hilang tak berbekas seperti suara di padang pasir, apabila tidak ditampung dan digabung dengan pendapat dan aspirasi orang lain yang senada. Proses ini adalah interest aggregation atau penggabungan kepentingan. Sesudah digabungkan, pendapat dan aspirasi tadi diolah dan dirumuskan dalam bentuk yang lebih teratur. Proses ini adalah interest articulation atau perumusan kepentingan (Budiardjo, 2007: 405)

Dengan adanya agregasi dan artikulasi kepentingan ini dapat meminimalisir misinformasi dan aspirasi, serta lebih mudah menyerap dan menyalurkan kepentingan aspirasi dari grass root. Agregasi dan artikulasi itulah yang menjadi fungsi komunikasi partai politik.

Setelah itu partai politik merumuskannya menjadi usul kebijakan. Usul kebijakan ini dimasukkan ke dalam program atau platform partai (goal

(5)

19

formulation) untuk diperjuangkan atau disampaikan melalui parlemen kepada pemerintah agar dijadikan kebijakan umum (public policy). Demikianlah tuntutan dan kepentingan masyarakat disampaikan kepada pemerintah melalui partai politik. selain itu menurut Miriam Budiarjo (2007) partai politik memiliki peran;

“Untuk memperbincangkan kebijakan-kebijakan yang telah dan akan dibuat oleh pemerintah. Karena kebijakan yang dibuat oleh pemerintah harus sampai pada masyarakat sampai ke akar rumput. Oleh karena itu akan terjadi dialog dua arah, dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas. Diisi lain melalui komunikasi politik ini partai politik juga berperan sebagai penghubung antara pemerintah dan yang diperintah.

Oleh karena itu partai politik harus tanggap dalam menyampaikan kebijakan yang dibuat pemerintah dan juga aspirasi masyarakat yang perlu disampaikan pada pemerintah”.

Dalam menjalankan fungsi inilah label parantra (broker) tersemat pada partai politik dalam suatu bursa ide-ide (clearing house of ideas). Terkadang Partai Politik bagi pemerintah berfungsi sebagai alat pendengar, sedangkan bagi warga masyarakat sebagai “pengeras suara”.

Menurut Sigmund Neumann dalam hubungannya dengan komunikasi politik, partai politik merupakan perantara yang besar yang menghubungkan kekuatan-kekuatan dan ideologi sosial dengan lembaga pemerintah yang resmi dan yang mengaitkannya dengan aksi politik di dalam masyarakat politik yang lebih luas.

2. Sarana Sosialisasi Politik

Melalui sosialisasi politik seseorang dapat menentukan sikap dan orientasi politiknya. Hal ini dikarenakan akan adanya hal baru dan informasi

(6)

20

baru terkait hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat. Menurut Miriam Budiarjo (2007) sosialisasi politik dipandang sebagai;

“sosialisasi politik diartikan sebagai suatu proses yang melaluinya seseorang memperoleh sikap dan orientasi terhadap fenomena politik, yang umumnya berlaku dalam masyarakat di mana ia berada. Ia adalah bagian dari proses yang menentukan sikap politik seseorang, misalnya mengenai nasionalisme, kelas sosial, suku bangsa, ideologi, hak dan kewajiban”.

Sedangkan menurut ahli sosiologi politik M. Rush (1992) yang dikutip dalam (Budiardjo: 2007, 407) Sosialisasi politik dipandang sebagai;

Sosialisasi politik adalah proses yang melaluinya orang dalam masyarakat tertentu belajar mengenali sistem politiknya. Proses ini sedikit banyak menentukan persepsi dan reaksi mereka terhadap fenomena politik.

Political socialization may be denied is the process by which individuals in a given society become acquainted with the political system and which to a certain degree determines their perceptions and their reactions to political phenomena.

Proses sosialisasi berjalan seumur hidup terutama, dimulai dari masa kanak-kanak dan berkembang melalui keluarga, sekolah, peer group, tempat kerja, pengalaman sebagai orang dewasa, organisasi keagamaan, dan partai politik. Sosialisasi politik ini juga memiliki fungsi untuk saling menerangkan nilai-nilai politik dari satu generasi ke generasi lainnya. Hal ini agar generasi mendatang bisa memahami dan belajar dari nilai-nilai politik masa lalu. Banyak cara dalam melakukan sosialisasi politik seperti bisa melalui media massa, ceramah-ceramah, penerangan, penataran kader, dan lain sebagainya.

(7)

21

Disisi lain fungsi sosialisasi ini adalah untuk menciptakan citra baik bagi partai politik di dalam benak publik. Hal ini penting bagi partai politik jika ingin mendapatkan dukungan masyarakat secara maksimal, sehingga di pemilu suara partai politik tersebut dapat meningkat. Selain itu partai politik melalui fungsi sarana sosialisasi politik harus mampu mendidik kadernya sebagai manusia yang sadar akan tanggung jawabnya sebagai warga negara yang menempatkan kepentingan pribadinya dibawah kepentingan nasional.

Fungsi partai politik memiliki keterkaitan erat dengan pelembagaan partai. hal ini dikarenakan fungsi partai politik sangat berpengaruh pada peningkatan pelembagaan partai politik.

2. Pelembagaan Partai Politik

Pelembagaan partai politik dikenalkan pertama kali oleh Samuel P.

Huntington di tahun 1976 dalam sebuah karyanya yang berjudul Political Order In Changing Societis. Huntington mendefinisikan pelembagaan partai politik adalah sebagai suatu proses di mana suatu organisasi menentukan tata cara untuk memperoleh nilai baku dan stabil (Huntington, 1983: 23).

Sedangkan menurut tokoh lain Randal dan Svasand mendefinisikan pelembagaan partai sebagai pemantapan partai politik dalam aspek kultural dan aspek struktural dimana aspek tersebut terwujud dan tercermin dalam pola perilaku serta dalam sikap dan budaya (Randal dan Svasand, 2002: 13). Tokoh lainnya Ramlan Surbakti dalam tulisannya di harian kompas 2003 mengartikan pendapatnya Randal dan Svasand sebagai suatu proses pemantapan partai politik

(8)

22

baik baik dalam wujud perilaku yang memola maupun dalam sikap dan budaya.

Dengan kata lain partai politik akan terlihat terlembaga dengan baik jika mapan dalam hal-hal sikap, budaya, pola perilaku, dan mengakar secara terintegrasi.

Dalam karyanya Randall dan Svasand (party institutionalization in New Democracies: 2002) membagi pelembagaan partai politik menjadi dua aspek yaitu aspek internal-eksternal dan aspek struktural-kultural. Jika aspek ini dipersilangkan maka hasilnya seperti di bawah ini:

Tabel 2.1

Dimensi Pelembagaan Partai Politik Internal Eksternal

Struktural Systemness

Decisional

Autonomy

Kultural

Value

Infusion

Reification

Sumber: Randall dan Svasand (2002)

Hasil persilangan pertama antara aspek internal dengan struktural disebut dengan kesisteman (systemnes), persilangan kedua antara aspek internal dengan kultural disebut dengan identitas nilai (Value infusion). Persilangan ketiga antara aspek eksternal dan struktural disebut otonomi partai dalam membuat suatu keputusan (decisional autonomy). Keempat persilangan antara aspek eksternal dan kultural menghasilkan drajat citra partai di mata public (reification), (Randal

(9)

23

dan Svasand, 2002: 13). Hasil persilangan tersebut menjadi tolak ukur bagi pelembagaan partai politik.

Kesisteman merupakan tentang bagaimana partai tumbuh dan berkembang serta penyelesaian konflik-konflik yang dijalankan sesuai Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) partai politik yang telah disepakati dan ditetapkan; Infus nilai mengacu pada perilaku anggota dan kelompok populis (basis popular) pendukung partai dengan keterkaitannya pada ideologi dan platform partai; otonomi keputusan berkaitan dengan hubungan partai dan kelompok eksternal partai; Citra Partai merujuk pada pengetahuan publik atau masyarakat pada keberadaan partai politik (Randall dan Svasand, 2002).

Dimensi pelembagaan partai yang dikemukakan oleh Randal dan Svasand inilah yang kemudian menjadi rujukan dalam penelitian ini. Hal ini didasari karena konsep pelembagaan yang dikemukakan oleh mereka adalah hasil elaborasi dan perpaduan konsep pelembagaan yang sebelumnya telah dikemukakan oleh para ahli.

Kajian teoritis penulis akan berfokus pada pelembagaan dimensi kultural dalam hal ini infus nilai (value infusion) dan bangunan reifikasi (reification) terhadap Partai Golkar Banten.

a) Value Infusion (infus nilai)

Menurut Randall dan Svasand dalam (Tomsa, 2008) Identitas nilai menyangkut tindakan basis populer dan anggota partai politik dan keterikatannya

(10)

24

pada partai dengan identifikasi ideologi partai dan platform partai, Pembentukan identitas nilai sangat dipengaruhi oleh budaya partai. Randal dan Svasand juga mendefinisikan value infusion sebagai berikut:

“Value infusion is the other internal dimension of party institutionalization. It refers to the strength of a distinctive party culture or value-system and can be a vital source of party cohesion especially where more strictly organizational mechanisms are weak.

This kind of transcending loyalty has been a notable feature of a range of party types in western democracies (Vicky Randal, 2006:

22)”.

“Infus nilai adalah dimensi internal dari pelembagaan partai. Ini mengacu pada kekuatan budaya partai serta sistem nilai yang khas dan dapat menjadi sumber vital kohesi partai terutama di mana mekanisme organisasi yang lebih ketat lemah. Loyalitas dalam hal ini menjadi fitur penting dari berbagai jenis partai di demokrasi barat (Vicky Randal, 2006: 22)”

Identitas nilai tampak pada pola dan arah kebijakan yang diperjuangkan partai politik serta juga tampak pada basis sosial pendukungnya. Penciptaan identitas nilai yang khas dapat dapat secara signifikan berkontribusi pada kohesi partai karena memberikan dasar pada ikatan yang kuat antara partai sebagai organisasi dan anggota serta pendukungnya (Vicky Randal, 2006)

Lebih lanjut Randal dan Svasand Identitas nilai tidak dapat dilepaskan dari; (a) hubungan partai dengan kelompok populis tertentu (popular bases), dalam hal ini partai politik dianggap sebagai gerakan sosial yang didukung oleh kelompok atau golongan populis tertentu. (b) pengaruh klienelisme dalam organisasi, yaitu apakah hubungan partai dengan anggota cenderung bersifat instrumentalis yaitu anggota selalu mengharapkan tangible resources berupa

(11)

25

materi dari partai, atau lebih bersifat ideologis yaitu anggota mengenal dan mengharapkan partai bertindak berdasarkan identifikasi terhadap ideologi partai.

Sehingga untuk melihat kondisi infus nilai di area luar partai perlu untuk mengidentifikasi basis populer pendukung partai dan, untuk melihat kondisi infus nilai dalam internal partai perlu untuk mengidentifikasi pengaruh klienelisme dalam partai itu sendiri. Hubungan partai dengan anggota dan basis populer akan sangat berpengaruh pada dimensi infus nilai dalam pelembagaan partai politik.

Dalam penelitian sebelumnya Randall dan Svasand (2002) mencatat bahwa infus nilai paling kuat jika partai politik diidentifikasikan dengan gerakan sosial yang lebih luas.

b) Reification (reifikasi)

Sedangkan reifikasi berkaitan erat dengan konstruksi imajinasi publik.

Oleh karena itu untuk memantapkan dirinya dalam imajinasi publik, sebuah partai perlu menciptakan dan mengembangkan sarana interaksi yang efektif dengan publik. Oleh karena itu, akses reguler ke media massa merupakan kebutuhan vital bagi setiap pihak yang ingin menyebarluaskan pesan politiknya kepada publik. Hal ini selaras dengan pendapat nya Randall dan Svasand:

“Obviously one vital requirement for reification is time. But a further advantage in projecting the party to a wider public is likely to be access to the mass media. Especially where the state still controls the broadcasting media, ruling parties have been able to exploit these media links (Vicky Randal, 2006: 27)”.

(12)

26

“Jelas satu persyaratan penting untuk reifikasi adalah waktu. Tetapi keuntungan lebih lanjut dalam memproyeksikan partai ke publik yang lebih luas kemungkinan adalah akses ke media massa. Terutama di mana negara masih mengontrol media penyiaran, partai-partai yang berkuasa telah dapat mengeksploitasi tautan media ini (Vicky Randal, 2006: 27)”.

Randall dan Svasand dalam (Tomsa, 2008) Politik kontemporer disampaikan kepada masyarakat terutama melalui media massa dan tidak ada pihak saat ini yang mampu dijauhi oleh media. Hal yang sama pentingnya untuk reifikasi adalah penggunaan simbol dan label terkenal secara efisien karena mereka berfungsi sebagai alat bagi publik untuk menyusun preferensi elektoral mereka.

Menurut Mainwaring dan Scully dalam (Tomsa, 2008) Pemilih secara alami mengasosiasikan harapan tertentu dengan partai politik. Namun biasanya hanya sebagian kecil masyarakat yang mengetahui secara rinci program dan kebijakan partai. Sebaliknya, kebanyakan orang cenderung mengandalkan simbol dan organisasi untuk mengarahkan partai politik mereka. Nama partai memainkan peran penting dalam hal ini, tetapi simbol tradisional, warna, atau slogan yang menarik juga bisa menjadi cara yang efektif untuk mengamankan tempat di benak masyarakat.

Tetapi keuntungan lebih lanjut dalam memproyeksikan partai ke publik yang lebih luas adalah akses ke media massa. Terutama di mana negara masih mengontrol media penyiaran, partai-partai yang berkuasa dapat mengeksploitasi media dengan mudah. (Vicky Randal, 2006)

(13)

27

Oleh karena itu, lebih lanjut Randall dan Svasand menilai reifikasi sangat berkaitan erat dengan; (a) simbol-simbol populer partai seperti warna, dan logo yang melekat dalam reifikasi. (b) akses pada media massa, bagaimana partai diberitakan dalam media massa.

Reifikasi adalah proses yang panjang dan hanya dapat dicapai oleh waktu. Seperti yang dikatakan Randall dan Svasand (2002: 23), dalam reifikasi partai pada akhirnya yang terpenting adalah fungsi dari umur panjang, kemampuan partai untuk bertahan dari waktu ke waktu. Sementara transisi demokrasi seringkali menyebabkan menjamurnya partai-partai politik baru, biasanya hanya sedikit yang selamat dari euforia awal seputar pemilu.

Dibandingkan dengan banyak pendatang baru, partai-partai yang sudah ada baik sebelum atau di bawah rezim otoriter yang digulingkan dapat menikmati keuntungan yang signifikan dalam hal reifikasi

3. Landscape Politik Lokal Indonesia

Menurut Powercab dalam (Chalik: 2017) politik lokal merupakan masalah masalah politik di tingkat lokal, dapat berupa politik di tingkat Provinsi, Kota/Kabupaten, atau sekalipun pada tingkat Desa. Isu-isu yang seringkali diangkat dalam arena politik lokal seperti birokrasi, demokrasi lokal, otonomi daerah, partisipasi warga, akuntabilitas pemerintah daerah, pemilukada, rekrutmen elit politik, relasi pusat dan daerah, kekerasan di daerah, konflik pusat dan daerah, hingga masalah disintegrasi.

(14)

28

Kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah melalui UU No 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, beserta revisinya UU No 32 Tahun 2004, kemudian diperkuat oleh UU No 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.

Sudah menjadi konsekuensi iklim politik Indonesia ketika bertransformasi pada sistem yang baru, termasuk pembaharuan dari sentralisasi kepada desentralisasi hal ini akan membuat munculnya free rider dalam perubahan tersebut. Dan sudah menjadi konsekuensi ketika beralih pada sistem desentralisasi memunculkan orang-orang kuat lokal (local strongman).

Iklim dinamika politik lokal di Indonesia mengalami peningkatan pasca berakhirnya pemerintahan orde baru. Hal ini dikarenakan sentralisasi pusat mengalami pelemahan power sehingga raja-raja kecil di daerah mengalami peningkatan power atau pengaruh di lingkungannya (Migdal, 1988). Terlebih ketika desentralisasi mulai berlaku di Indonesia yang banyak melibatkan aktor, institusi, dan budaya lokal yang mulai bermunculan kembali dalam panggung politik lokal. Aktor-aktor politik lokal mulai terorganisir dengan baik, dan memiliki simbol lokal yang dibawa ke panggung politik (Nordholt dan Klinken, 2007:1).

Menjamurnya elit informal yang gandrung bermain di arena politik nasional membuat elit politik ini menyusup ke arena politik lokal. Hal ini dikarenakan adanya kesempatan besar untuk bermain di tingkat lokal, dan memiliki keuntungan yang menjanjikan, khususnya terhadap pengendalian dan pengaturan langsung sumber-sumber daya kekayaan daerah, dan keistimewaan di

(15)

29

aras lokal (Agustiono, 2010). Elit lokal inilah yang di kemudian hari akan bermain dominan di perpolitikan di aras lokal Indonesia.

Banten merupakan salah satu provinsi yang memiliki iklim politik dinasti yang kuat sehingga politik lokal di Banten cenderung memiliki tendensi yang tinggi. Banten memiliki sejarah politik di masa lalu sebagai sebuah kesultanan dalam kurun waktu yang cukup lama pada tahun 1526 M sampai dengan 1828 M (Hamid, 2013).

Agama Islam merupakan agama mayoritas di Banten dengan jumlah pemeluknya sebesar 95,89% (Banten dalam angka, 2007). Menurut Van Bruinessen (1995) Pemeluk Islam di Banten cenderung lebih taat dalam menjalankan ibadahnya di bandingkan muslim di tempat lain. Sehingga tokoh- tokoh Islam di Banten memiliki kedudukan yang penting dalam tatanan sosial masyarakat Banten. Pemimpin agama di Banten secara kultural disebut Kyai.

Dalam pemahaman yang lebih luas Kyai adalah dipandang sebagai elit secara kultural, ekonomi, sosial, maupun politik. Mereka pengajar agama (preacher) biasanya sekaligus pemilik tanah yang luas.

Di Banten sendiri bukan hanya ada kyai sebagai tokoh penting dalam tatanan kehidupan masyarakat Banten. Jawara juga merupakan salah satu elit kultural penting di Banten. Fenomena jawara ini tidak terlepas dari fenomena

”Jago” yang pada prakteknya terjadi di berbagai wilayah di Jawa. Posisi jago ini tidak terlepas dari sejarah kekuasaan di Jawa (Hamid, 2013). Pada masa prakolonial Jago merupakan satu-satunya alat kekuasaan bagi sang penguasa. Di

(16)

30

berbagai tempat di Jawa Jago ini memiliki nama yang berbeda-beda di Banten ada ”Jawara”, di Madura ada ”Blater”, dan di Jawa pada umumnya disebut

”Bandit” atau ”Kecu” (Rozaki, 2004).

Kyai dan Jawara merupakan dua elit yang memiliki peran penting dalam sejarah Banten. Bahkan dalam pemberontakan Geger Cilegon 1888 (Kartodirdjo, 1984) dan Pemberontakan Komunis 1926 (Williams, 2003) menempatkan Kyai dan Jawara sebagai pemimpin dan penggerak utama. Bahkan revolusi 1945 membuat kyai dan jawara ditempatkan sebagai pemimpin formal di Banten.

Posisi pejabat publik seperti Residen, Bupati, Camat, Wedana, sampai kepala desa dijabat oleh kyai. Bahkan pemimpin militer saat itu dijabat oleh Kyai Syam'un di kemudian hari bergelar Brigadir Jenderal (Suharto, 2001).

Ketika era Orde Baru kuatnya hegemoni dua elit kultural tersebut kyai dan jawara di Banten membuat rezim Orde Baru membidik mereka untuk menjadi tulang punggung bagi Golkar. Gagasan ini ternyata disambut baik oleh Gubernur Solichin G.P dan panglima Kodam Siliwangi yaitu A.T. Witono.

Maka coba ditemukanlah mereka dengan K.H Mahmud seorang kyai karismatik dan amat sangat disegani di Banten. Dalam pertemuan tersebut belum menemukan titik terang seperti apa yang diinginkan oleh pemerintah Orde Baru (Hamid, 2013).

Bagitu pentingnya sosok ulama dan jawara di Banten membuat Presiden Soeharto harus ikut turun tangan untuk menemui K.H Mahmud. Maka digelarlah pertemuan berikutnya di Batu Kuwung. Dalam pertemuan ini K.H Mahmud dan

(17)

31

para Kyai menyatakan diri sebagai pendukung Golkar. Maka dibentuklah Satkar Ulama pada tanggal 3 Mei 1970. Dengan ketua umumnya K.H Mahmud (Artati, 1988). Satkar Ulama ini kemudian masuk menjadi Sayap Golkar (Hasta Karya).

Turun langsungnya presiden Soeharto menunjukan posisi kyai di Banten dipandang begitu sentral oleh pemerintah pusat. Dan dibentuknya Satkar Ulama di Banten merupakan langkah korporatisasi yang dilakukan Golkar. Masyarakat seolah dikotak-kotakan dengan dibentuknya berbagai kelompok elit di Banten agar nantinya lebih mudah dikontrol oleh pemerintah. Tidak hanya ulama yang berhasil dijinakkan oleh rezim Orde Baru, Jawara pun demikian dibuat wadah untuk mempermudah mengakomodir kepentingan dan mengontrol mereka, maka dibuatlah Satkar Jawara yang kemudian berganti nama menjadi Persatuan Pendekar Persilatan Seni Budaya Banten Indonesia (PPPSBBI).

Dalam proses selanjutnya Jawara dan pengusaha mendominasi di Banten.

Dalam proses terbentuknya provinsi Banten kyai tidak terlalu menonjol, cenderung terdominasi oleh Jawara yang seringkali terlihat mengerahkan massa dan berpakaian hitam serta membawa golok dalam tiap-tiap berbagai event.

Pada masa reformasi Jawara mendominasi dalam berbagai agenda politik di Banten seperti proses pengisian anggota DPRD Banten dan proses pemilihan Gubernur Banten Tahun 2001 yang berhasil membuat Atut Chosiah terpilih menjadi Wakil Gubernur, Atut merupakan anak dari Chasan Sochib seorang elit lokal yang karismatik dan disegani di Banten.

(18)

32

Jawara ini dalam mendominasi menggunakan powernya selalu dengan cara mengamankan posisi di Internal Golkar dan kemudian nantinya akan merekomendasikan sosok calon yang akan berkontestasi dalam pemilu.

Seringkali juga jawara melakukan intimidasi dengan cara mengerahkan massa dengan narasi pengamanan, bahkan dalam ruang persidangan sekalipun jawara kerap kali hadir, sehingga memberikan tekanan secara psikologis pada anggota dewan. Bahkan dalam menjalankan aksinya di arena politik lokal di Banten jawara kerap kali menggunakan politik uang untuk membeli suara dewan, dan membeli kalangan media yang mendukung kepentingan jawara, serta menekan kalangan media yang tidak kooperatif dengan kekerasan (Hamid, 2013).

Eratnya hubungan antara tokoh-tokoh Jawara dengan petinggi aparat keamanan. Berdampak pada kasus-kasus kekerasan yang melibatkan kalangan Jawara tak pernah tersentuh hukum. Semua kasus dianggap selesai begitu saja.

sebagai kelompok strategis jawara berhasil membentuk koalisi.

Dalam perjalanannya, pengusaha menjadi salah satu aktor penting dalam perpolitikan di Banten, kekayaan yang menjadi basis sumber daya kekuasaan oligarki sangat dominan di Banten, Bahkan dalam beberapa literatur oligarki yang memiliki sumber daya materil yang terpusat menjadi salah satu kaki/topangan dari dinasti politik yang terbentuk di Banten, yaitu dinasti keluarga Chasan Sochib (Trah Rau). Keluarga Chasan Sochib dalam memperkuat pondasi dinastinya setidaknya ditopang oleh sepuluh perusahaan yang dikendalikan langsung oleh keluarga Trah Rau ini (Munjin, 2018).

(19)

33

Konsep politico business oligarchy seakan sudah menjadi hal yang lumrah di Banten. Pasca reformasi hingga kini wajah politiknya Banten masih kental dengan dinasti politik yang menjamur di berbagai wilayahnya tidak hanya di tingkat provinsi, akan tetapi sampai menjamur ke tingkat kota dan kabupaten, di pandeglang masih terdominasi oleh keluarga Natakusumah, di Lebak ada keluarga Jayabaya, dan di Cilegon masih terdapat keluarga Aat Syafaat.

B. Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu ini digunakan sesuai kebutuhan peneliti untuk memudahkan studi komparasi ketika ada data di lapangan yang memiliki kemiripan dengan studi terdahulu. Untuk memudahkan komparasi pelembagaan Partai Politik di tingkat lokal, maka penelitian terdahulu yang digunakan yang memiliki persamaan meneliti pelembagaan partai Golkar di tingkat Lokal.

Adapun penelitian Dirk Tomsa (2008) mengenai “Party Politics and Democratization in Indonesia (Golkar in the Post Soeharto era)” digunakan peneliti sebagai bahan komparasi mengenai pelembagaan partai Golkar secara lebih general. Mengingat penelitian Tomsa lebih general mengenai pelembagaan Partai Golkar dan penelitian dilakukan pada tingkat nasional. Adapun penelitian terdahulu yang dianggap relevan sebagai berikut;

1. Primadi dan Purwaningsih (2019)

Penelitian yang dilakukan oleh primadi dan purwaningsih yang berjudul

”Institusionalisasi Partai Politik dalam Pilkada 2017 (Studi Kasus: Partai Golkar Provinsi Kepulauan Bangka Belitung)”. penelitian ini dilatarbelakangi

(20)

34

dengan adanya proses rekrutmen politik oleh internal Partai Golkar Bangka Belitung yang carut marut. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, pengumpulan data melalui wawancara dan observasi serta tambahan pada beberapa literature. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori pelembagaan partai politik.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Primadi dan Purwaningsih berkesimpulan bahwa kekalahan calon dari partai Golkar di akibatkan karena institusionalisasi partai politik di internal partai Golkar Provinsi Kepulauan Bangka Belitung belum berjalan dengan maksimal. Adapun faktor kekalahan lainnya (1) Pengambilan kebijakan rekrutmen calon Gubernur dan Wakil Gubernur di pemilihan tahun 2017 masih diwarnai dengan pelanggaran konstitusi partai; (2) adanya “politik dagang sapi” dalam proses rekrutmen; (3) adanya pembelotan kader dalam proses pemenangan di Pilgub 2017 di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Penelitian yang dilakukan oleh Primadi dan Purwaningsih pada tahun 2019 memiliki persamaan dengan peneliti yaitu membahas soal pelembagaan partai politik pada tingkat lokal dengan studi kasus partai Golkar. Namun yang membedakan dari penelitian Primadi dan Purwaningsih pada tahun 2019 dengan peneliti adalah perbedaan fokus yang diteliti dalam proses pelembagaan partai Golkar di tingkat lokal. Primadi dan Purwaningsih lebih memfokuskan penelitiannya pada rekrutmen Partai Golkar terhadap calon Gubernur pada Pilkada 2017 dan kaitannya pada aktor-aktor pada pilkada 2017 di Bangka Belitung. Dan peneliti lebih memfokuskan pada penelitiannya pada proses

(21)

35

pelembagaan Partai dalam hal infus nilai dengan kaitannya pada perilaku dan gerakan pada anggota dan basis pendukung partai terhadap partai itu sendiri.

Serta konstruksi imajinasi publik terhadap partai.

2. Dirk Tomsa (2008)

Penelitian ini dilakukan oleh Dirk Tomsa pada tahun 2008 dengan judul

”Politik Partai dan Demokratisasi di Indonesia: Golkar di era pasca Soeharto”

di latar belakangi oleh bahwa Golkar memiliki beberapa kelemahan kelembagaan yang cukup besar yang pada tahun 2004 menghalangi partai tersebut untuk mencapai hasil yang lebih baik dalam pemilihan umum. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Penelitian ini sangat bergantung pada kerangka konseptual yang dikembangkan oleh Vicky Randall dan Lars Svasand dalam artikel mereka tahun 2002 Party Institutionalization in New Democracies. Dalam artikel ini, penulis membongkar beberapa kebingungan konseptual (Randall dan Svasand 2002a: 6) yang melingkupi gagasan pelembagaan partai.

Kesimpulan dari penelitian ini bahwa Golkar memang terlembagakan lebih baik daripada kebanyakan partai lainnya. Satu-satunya partai yang menandingi kekuatan kelembagaan Golkar adalah PKS, namun partai ini masih dalam tahap awal pengembangan organisasi dan masih harus dilihat apakah bisa menindaklanjuti langkah awal yang baik menuju pelembagaan. Modifikasi bahwa PKS masih merupakan partai yang sangat muda sangatlah penting dan berhubungan langsung dengan salah satu domain kekuasaan utama Golkar.

(22)

36

Penelitian yang dilakukan oleh Tomsa memiliki kesamaan dengan peneliti yakni membahas institusionalisasi partai politik, dengan objek penelitian yang sama yaitu Partai Golkar. perbedaan penelitian Tomsa dengan penelitian penulis terletak pada level kepengurusan partai Golkar, peneliti lebih berfokus pada level DPD Golkar, sedangkan tomsa pada level DPP. Serta analisis utama penelitian ini hanya berfokus pada dua dimensi pelembagaan yaitu Infusi Nilai dan Reifikasi, sedangkan tomsa pada keempat dimensi pelembagaan dilakukan analisis seutuhnya.

3. Muhammad Ridho T.R (2016)

Penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Ridho pada tahun 2016 yang berjudul ”Dilema Pelembagaan Partai Golongan Karya (Golkar) di Tingkat Lokal: Fenomena Politik Klan” yang di latar belakangi adanya fenomena politik klan yang membangun sebuah paradoks demokratisasi di Indonesia, fokus dari penelitian ini adalah keterkaitan antara politik klan dan dengan institusionalisasi partai politik, dengan melihat Partai Golkar sebagai sebuah arena dimana politik klan dan institusionalisasi partai bertemu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi.

Kesimpulan dari hasil penelitian Muhammad Ridho pada tahun 2016 adalah, politik klan dapat muncul dalam proses demokratisasi internal partai Golkar akibat dari; Pertama, demokrasi di Indonesia yang membutuhkan biaya sangat mahal yang membuat partai membutuhkan dukungan finansial yang mumpuni dengan memanfaatkan kader-kader di daerah yang tergolong kepada

(23)

37

local strongman yang memiliki akses kepada modal ekonomi dan juga modal sosial. Kedua, adanya ketidaksiapan publik menghadapi perubahan yang dibawa oleh demokratisasi, ketika mereka sudah terbiasa selama 32 tahun berada dalam bayang-bayang rezim otoriter Orde Baru untuk memilih seseorang dalam pemilu berdasarkan hubungan patron klien.

Penelitian yang dilakukan Muhammad Ridho memiliki persamaan dengan peneliti yakni membahas soal institusionalisasi partai politik dalam skala lokal lebih tepatnya di dalam tubuh partai Golkar, namun peneliti disini tidak berfokus pada keterkaitan politik kekerabatan dengan institusionalisasi partai politik seperti fokus dari penelitian Ridho, namun lebih kepada hal yang mempengaruhi basis populer pendukung Partai Golkar dalam memberikan pilihannya pada Partai Golkar di Provinsi Banten, dan bangunan reifikasi yang dipengaruhi oleh simbol-simbol partai Golkar di Banten dan media massa.

(24)

38 Tabel 2.2

Persamaan dan Perbedaan Penelitian Terdahulu

Komponen Perbanding an

Peneliti Primadi dan

Purwaningsih (2019)

Dirk Tomsa (2008)

Muhamad Ridho (2016)

Naufal Muzaki (2022)

Judul

Institusionalisa si Partai Politik dalam Pilkada 2017 (Studi Kasus: Partai Golkar Provinsi Kepulauan Bangka Belitung)

Politik Partai dan

Demokratisasi di Indonesia:

Golkar di era pasca Soeharto

Dilema Pelembagaan Partai

Golongan Karya (Golkar) di Tingkat Lokal:

Fenomena Politik Klan

Institusionalisas i Partai Golkar Banten dalam Infusi Nilai dan Reifikasi di masa

Kepemimpinan Ratu Tatu Chasanah

Fokus

Rekrutmen Partai Golkar terhadap calon Gubernur pada Pilkada 2017 dan kaitannya

Analisis mendalam tentang politik partai

Indonesia kontemporer

Melihat Partai Golkar sebagai sebuah arena

politik klan dan

Melihat pelembagaan dari dimensi kultural dalam hal ini infus nilai dan

(25)

39 pada aktor-

aktor pada pilkada 2017 di

Bangka Belitung.

dan penjelasan sistematis mengapa Golkar masih menjadi partai terkuat di Indonesia.

institusionalis asi bertemu

reifikasi terhadap Partai Golkar Banten

Lokus

Provinsi Bangka Belitung

Indonesia Indonesia Provinsi Banten

(Sumber: diolah oleh penulis)

Sedangkan peneliti menggunakan teori pelembagaan partai politik (Randal dan Svasand) yang memfokuskan pada dimensi infus nilai partai Golkar Provinsi Banten yang berkaitan pada gerakan dan perilaku basis populer pendukung dan anggota Partai Golkar (klentalisme organisasi) dengan identifikasi ideologis dan platform partai. Dan reifikasi yang berkaitan dengan bangunan reifikasi yang dipengaruhi oleh simbol-simbol partai dan media massa.

Teori tersebut digunakan sesuai dengan kebutuhan peneliti dan disesuaikan dengan identifikasi penelitian.

C. Kerangka Berpikir

Dalam Penelitian yang akan penulis lakukan tentang “Institusionalisasi Partai Golkar Banten dalam Infusi Nilai dan Reifikasi di masa Kepemimpinan Ratu Tatu Chasanah” penulis mengidentifikasi bahwa pasca orde baru Partai Golkar yang masih mampu bertahan ditengah bola panas yang dilemparkan kepadanya dan bahkan mampu bertransformasi menjadi partai politik merupakan

(26)

40

suatu pembuktian untuk keseriusan dalam melakukan transformasi gerakan dan budaya dalam tubuh Golkar yang bermuara pada terlembaganya Partai Golkar dengan baik. .

Bentuk keseriusan dan langkah-langkah baik yang telah diambil oleh DPP Golkar tidak berjalan seiringan dengan DPD-DPD Golkar di tingkat daerah.

Di Banten, Kasus korupsi Ratu Atut Chosiah pada tahun 2013 yang merupakan kader partai Golkar dan mantan Gubernur Banten, dan terciptanya politik kekerabatan di Banten menjadikan partai Golkar Banten memiliki catatan tersendiri di dalam benak publik. Meski demikian pada pemilu 2014 Partai Golkar Banten memperoleh suara terbesar kedua dan pada Pilgub 2017 kader Golkar sekaligus anak Ratu Atut Chosiah berhasil terpilih menjadi wakil Gubernur Banten.

Berdasarkan identifikasi masalah tersebut penulis melihat adanya basis Pendukung Golkar dan anggota partai Golkar yang masih tetap setia pada Golkar. Meski kasus korupsi dan dinasti politik terjadi pada kader Golkar, terlebih Ratu Atut merupakan figur penting di Banten dan di dalam Partai Golkar Banten.

Dalam penulisan ini terdapat dua teori utama (grand theory) yang akan penulis gunakan untuk membantu mengidentifikasi dan menerjemahkan fenomena-fenomena yang ada di lapangan. Pertama teori pelembagaan partai politik dimensi infus nilai dan pembangunan reifikasi (Randal dan Svasand).

Kedua, teori partai politik yang mencakup fungsi partai politik, yang merupakan

(27)

41

middle theory. Hal ini dikarenakan fungsi partai politik sangat mempengaruhi pelembagaan partai politik. Teori yang digunakan berdasarkan kebutuhan peneliti guna menganalisa serta memberikan sudut pandang yang lebih teoritis terhadap data-data yang diperoleh dari hasil turun lapangan.

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir

Indikator

Golkar selalu masuk tiga besar partai dengan perolehan suara terbanyak

di provinsi Banten

Pelembagaan Partai Golkar

Dimensi Value Infusion

Fungsi partai politik tidak berjalan maksimal

Dimensi Reification

(28)

42

(Sumber: Diolah oleh penulis) Basis pendukung

Klienelisme Partai

Internal Eksternal

Simbol populer partai Akses media

massa

Terlembaga Tidak terlembaga

Referensi

Dokumen terkait

dikenal sebelumnya, dan ditemukan pada sebagian besar genus Shorea, sehingga penetapan strukturnya dilakukan dengan pembandingan data spektrum UV dan IR serta perbandingan

Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan lebih menarik karena pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang

Tata Usaha pada UPTD Tindak Darurat Dinas Cipta Karya dan Tata Kota Samarinda Eselon

Dari keseluruhan dapat dilihat bahwa hasil volume yang didapat mendekati nilai set point yang diinginkan meskipun terdapat error rata-rata sebesar 0,08 cm

Kredibilitas atau kepercayaan terhadap data hasil penelitian kualitatif antara lain dilakukan dengan: 1) Perpanjangan pengamatan. Pada penelitian pendahuluan dilakukan pengamatan

(1) Laporan Kinerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) disampaikan kepada atasan masing-masing secara berjenjang dan sesuai dengan format dan jadwal yang telah

Pemilihan Umum Nomor 5 Tahun 2015 tentang Sosialisasi dan Partisipasi Masyarakat dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur , Bupati dan Wakil Bupati, dan/atau Walikota

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya, peneliti dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Hubungan Aktivitas Fisik Sehari-hari Dengan