Analisis Postur Kerja di Bengkel XYZ dengan Metode ROSA dan CMDQ
Ahmad Zaidan1, Hersa Ajeng Priska2, Kamila Aurelia3, Febiola Andarista4 Departmen Teknik Industri, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, Indonesia
1[email protected]2[email protected] 3[email protected] 4[email protected]
Abstrak— Beberapa pekerja berkerja di depan komputer lebih dari jam kerja normal (8 jam dalam sehari). Hasil survei keluhan menunjukkan bahwa sebagian besar responden pernah mengalami keluhan ketidaknyamanan mata. Sebanyak 30% sering mengalami ketidaknyamanan bagian punggung. Dua kondisi ini mengindikasikan perlunya intervensi perbaikan stasiun kerja responden. Tujuan dari penelitian adalah untuk menganalisis sikap kerja pekerja di bagian administrasi pada salah satu bengkel. Hasil dari penelitian ini secara subjektif, pekerja meraskan keluhan rasa sakit pada bagian punggung, lengan kanan atas, paha berdasarkan output yang diperoleh dari kuesioner CMDQ. Hasil tersebut didukung oleh fakta penilaian secara objektif dengan metode ROSA, bahwa postur kerja pekerja berada tingkat berbahaya dengan nilai 6. Kedua hasil penilaian tersebut diakatan sesuai dan sama, karena terdeapat kesesuaian terkait hasil secara subjektif dan objektif.
Kata Kunci—CMDQ, Office Ergonomics, Postur Kerja, ROSA
I. PENDAHULUAN
Bengkel merupakan sebuah bangunan yang menyediakan ruang dan peralatan untuk melakukan konstruksi atau manufaktur, dan/atau memperbaiki benda, didalam bengkel tedapat berbagai jenis pekerjaan, salah satunya yaitu bidang administrasi untuk mengontrol persediaan barang. Bidang administrasi ini bekerja didalam bengkel yang berfokus di depan komputer, karena tugasnya ialah yang berhubungan dengan kasir, penyediaan barang/suku cadang. Pekerja ini bekerja hanya di depan koputer, jam kerja yang terlalu lama dan postur kerja yang tidak benar/nyaman tentu akan menimbulkan suatu masalah baru yang dapat mengganggu pekerjaan mereka.
Penggunaan komputer pada masa kini memiliki peran yang besar bagi pekerjaan. Penggunaan komputer dalam bekerja memiliki pengaruh pada efisiensi dan efektivitas kerja. diketahui berdasarkan survei bahwa banyak pekerja kantor yang menghabiskan 75%
waktunya untuk duduk di depan komputer [1].
Beberapa pekerja berkerja di depan komputer lebih dari jam kerja normal (8 jam dalam sehari). Lama waktu kerja dengan komputer juga menunjukan rata-rata waktu yang dihabiskan pegawai dalam posisi duduk. Sebagian besar responden berada dalam usia masih relatif muda dan tergolong baru bekerja. Hasil survei keluhan menunjukkan bahwa sebagian besar responden pernah mengalami keluhan ketidaknyamanan mata. Sebanyak 30% sering mengalami ketidaknyamanan bagian punggung. Dua kondisi ini mengindikasikan perlunya intervensi perbaikan stasiun kerja responden [2].
Pada tahun 2003 peningkatan frekuensi penggunaan komputer pada saat bekerja bervariasi secara signifikan di seluruh pekerjaan, posisi terendah pada pendidikan sebesar 62%, 70% di bidang kesehatan dan 90% dalam administrasi publik, layanan informasi, profesional jasa, jasa keuangan, manufaktur, dan sebagainya [3]. Penggunaan teknologi informasi, dimana komputer sebagai medianya kini semakin meningkat.
Meningkatnya intensitas penggunaan komputer ini memberikan efektivitas dan efisiensi dalam peningkatan produktivitas dalam sebuah pekerjaan tetapi disisi lain, muncul aspek berbahaya yang meningkat juga, yaitu aspek kesehatan seperti mengalami keluhan keluhan penyakit seperti pegal pegal atau keram yang sering di sebut dengan CTDs (Cummulative Trauma Disorder).begitupun sebaliknya [4].
Frekuensi yang tinggi akan penggunaan komputer yang tidak memperhatikan sisi ergonomi dalam bekerja mengakibatkan adanya resiko yang dirasakan oleh pengguna. Menurut [5], pengguna merasakan kelelahan yang berlebihan seperti, sakit kepala, stress, ketegangan pada leher, punggung, lengan, bahu, nyeri otot, dan bagian yang berhubungan langsung dengan kerja komputer.
Posisi duduk yang statis dan berkelanjutan dapat meningkatkan resiko nyeri pada beberapa bagian pada tubuh, hal ini dikarenakan pada saat duduk menyebabkan tekanan dan menghambat aliran dalam tubuh sehingga mengurangi nutrisi yang akan diserap oleh sendi.
Sikap kerja yang buruk dan cara kerja yang tidak tepat akan menimbulkan gangguan kesehatan dan kecelakaan kerja [6]. Keluhan yang dirasakan oleh pekerja tersebut dinamakan dengan musculoskeletal disorder (MSDs), yaitu keluhan pada otot skeletal seperti otot leher, bahu, lengan, tangan, jari, punggung, pinggang dan otot-otot bagian bawah yang dirasakan seseorang [7].
Dalam penelitian ini akan dilakukan pengamatan dan penilaian postur tubuh terhadap pelayan Bengkel Kampus Motor.
Berdasarkan uraian yang telah peneliti jelaskan, maka dari itu perlu di adakannya penelitian terhadap pekerja bengkel yang berfokus pada bidang administrasi, dengan harapan setelah dilakukan penelitian ini mampu mengurangi dan meminimalisir keluhan-keluhan yang terjadi pada pekerja di bidang administrasi pada bengkel.
II. METODE A. Subjek dan Objek
Subjek adalah pekerja di bagian administrasi bengkel XZY yang bekerja 8 jam dalam sehari. Subjek berupa 1 orang laki-laki berusia 42 tahun dan 1 perempuan berusia 24 tahun. Subjek telah bekerja selama 1 tahun. Sebagai pekerja yang memiliki tanggung jawab dalam administrasi, subjek bertugas untuk mencatat barang masuk-keluar, mencatat keuangan, memeriksa kondisi barang yang ada di gudang, serta melayani pelanggan. Objek adalah sikap postur kerja yang dilakukan oleh subjek pada saat bekerja.
B. Metode Pengumpulan Data
Pada pengumpulan data dilakukan secara sekunder yaitu data yang diperoleh dari sumber yang sudah ada. Diantaranya aalah penelitian terdahulu terkait Office Ergonomic, menurut [8] office ergonomics merupakan penerapan dari ilmu ergonomi yang meliputi keseluruhan lingkungan kerja dan alat kerja yang digunakan seperti perangkat komputer dan kursi. Penerapan ergonomi di perkantoran lebih fokus pada bahaya penggunaan komputer. Bahaya di perkantoran umumnya disebabkan oleh postur kerja yang salah, gerakan berulang dan posisi yang tetap dalam jangka waktu yang lama. Bahaya yang ditimbulkan pada saat bekerja di perkantoran juga dipengaruhi oleh peralatan yang digunakan, diantaranya adalah mouse, keyboard, monitor, meja dan kursi komputer. Masing-masing dari peralatan tersebut memiliki prasyarat kondisi ergonomis, sehingga pengguna dapat menggunakan dengan nyaman.
Ergonomi kantor (office ergonomics) dapat diartikan sebagai aturan mengenai hubungan atau interaksi antara manusia dengan peralatan kantor saat melakukan pekerjaan di kantor. office ergonomics merupakan penerapan dari ilmu ergonomi yang meliputi keseluruhan lingkungan kerja dan alat kerja yang digunakan seperti perangkat komputer dan kursi. Penerapan ergonomi di perkantoran lebih fokus pada bahaya penggunaan komputer [9].
Penelitian lainnya tentang postur kerja atau sikap kerja, yaitu sikap kerja yang memungkinkan melaksanakan pekerjaan dengan efektif dan dengan usaha otot yang sedikit [10]. Postur atau sikap kerja merupakan suatu tindakan yang diambil pekerja dalam melakukan pekerjaannya. Postur kerja memiliki beberapa metode pengukuran, seperti metode OWAS, REBA, RULA, ROSA, PLIBEL, QEC dan JSI [11].
ROSA (Rapid Office Strain Assessment) merupakan salah satu metode pada office ergonomics, dimana penilaiannnya dirancang untuk mengukur risiko yang terkait dengan penggunaan komputer serta untuk menetapkan tingkat tindakan perubahan berdasarkan laporan dari ketidaknyamanan pekerja [12]. Faktor-faktor risiko dari penggunaan komputer dibedakan dalam beberapa bagian yaitu kursi, monitor, telepon, mouse dan keyboard. Faktor-faktor risiko tersebut diberi nilai yang meningkat dari mulai 1 sampai 3. Pada nilai akhir ROSA akan diperoleh nilai yang berkisar antara 1 sampai 10. Apabila nilai akhir yang diperoleh lebih besar dari 5 maka 54 dianggap berisiko tinggi dan harus dilakukan pengkajian lebih lanjut pada tempat kerja yang bersangkutan.
Serta CMDQ yang merupakan daftar periksa yang singkat dan alat penyaringan yang mudah digunakan untuk mengukur keterpaparan terhadap faktor dalam setting praktik umum di lingkungan kerja nyata yang sibuk. CMDQ memiliki tiga komponen : satu halaman kuesioner, template penilaian praktis, dan satu halaman panduan untuk pendaftaran jumlah skor [13]. Cornell Musculoskeletal Discomfort Questionnaire (CMDQ) merupakan alat ukur subjektif berupa kuesioner pemetaan bagian tubuh yang dirasa mengalami sakit dalam bekerja. CMDQ merupakan kuesioner kombinasi yang dasarnya diambil melalui kuesioner sejenis yaitu Nordic Body Map (NBM) dengan tambahan pertanyaan tentang prevalensi nyeri muskuloskeletal, tingkat keparahan, dan apakah itu mengganggu kinerja responden dalam bekerja [14].
Pada pengumpulan data secara primer dilakukan pengambilan data secara langsung kepada subjek penelitian.
Pengambilan data dilakukan dengan kuesioner ROSA dan CMDQ, selain itu dilakukan pengambilan foto subjek ketika
bekerja untuk dianalisis lebih lanjut.
Gambar 7. Contoh Kuesioner CMDQ
III. HASILDANPEMBAHASAN A. Cornell Muscolusketal Disorder Questionnaire (CMDQ)
Untuk mengukur keterpaparan pada tubuh akibat dari sikap kerja pekerja, dilakukan penilaian menggunakan Cornell Muscolusketal Disorder Questionnaire, sebagai berikut:
TABLE I. HASIK KUESIONER CMDQ
During the last week, how often did you
experience ache, pain, discomfort in : If you experienced ache, pain, discomfort, how uncomfortable was this?
If you experienced ache, pain, discomfort, did this interfere
with your ability to use of laptop and perform computer
activity?
Neve r
1-1 time s last week
3-4 time s last week
Once ever y day
Severa l times
every day
Slightly
uncomfortable Moderatly
uncomfortable Very
uncomfortable Not
at all Slightly intrfered
Substant ially interfed
Neck 1 1 2 2
Shoulder Righ
t 1 1 2 1 1
Left 1 1 2 1 1
Upper back 2 1 1 1
Upper arm Righ
t 1 1 1 1 1
Left 2 1 1 2
Lower back 1 1 2 1 1
Forearm Righ
t 1 1 2 1 1
Left 1 1 2 1 1
Wrist
Right 1 1 1 1 1 1
Left 1 1 2 1 1
Hand/Finge r
Righ
t 1 1 2 2
Left 1 1 2 2
Hip/Buttock 1 1 1 1 2
During the last week, how often did you
experience ache, pain, discomfort in : If you experienced ache, pain, discomfort, how uncomfortable was this?
If you experienced ache, pain, discomfort, did this interfere
with your ability to use of laptop and perform computer
activity?
Neve r
1-1 time s last week
3-4 time s last week
Once ever y day
Severa l times
every day
Slightly
uncomfortable Moderatly
uncomfortable Very
uncomfortable Not
at all Slightly intrfered
Substant ially interfed s
Thigh Righ
t 2 2 2
Left 2 2 2
Knee
Right 2 2 2
left 2 2 2
Lower leg Righ
t 2 2
left 2 2 2
Pada Tabel 1. dari semua hasil pada setiap bagian tubuh pekerja, beberapa bagian seperti neck, upper back, upper arm right, wrist, forearm, lower back dan hip adalah dampak dari posisi/sikap kerja pekerja yang tidak ergonomis karena posisi monitor yang tidak sejajar dengan mata, tangan yang tidak memiliki support berupa sandaran, serta barang barang yang dibutuhkan namun jauh dari jangkauan pekerja.
Dari hasil perhitungan CMDQ pekerja, diperoleh nilai terbesar adalah pada bagian punggung , lengan kanan atas, paha, karena pada saat jam kerja, pekerja tidak hanya melayani sebagai administrasi, namun ikut membantu jikalau ada yang hendak melakukan service dan pada akhirnya kegiatan kerja yang dilakukan oleh pekerja ganda, sebagai pelayan administrasi dan sebagai montir.
Pada pekerja perempuan mengalami keluhan pada bagian shoulder, lower back, forearm, wrist yang disebabkan karena postur tubuh dan area kerja yang tidak ergonomis bagi pekerja. Meja yang terlalu tinggi, kursi yang tidak sesuai dengan tinggi pekerja, sehingga pekerja tidak nyaman untuk bekerja dengan duduk dalam waktu yang lama, serta posisi tangan pekerja ketika mengetik yang tidak normal, atau tidak sejajar dengan bahu.
B. ROSA
Gambar 2. Pekerja Administrasi
Setelah mengetahui bagian tubuh pekerja yang sakit akibat dari sikap kerja, selanjutnya mencari tahu penyebab dari sakit pada tubuh pekerja pertama menggunakan kuesioner ROSA, sebagai berikut:
TABLE II. HASIL KUESIONER ROSA
Section Kategori Klasifikasi Score Area score
Section A-Chair
Chair height
Too low - knee angle <90 2 Insufficient space under desk- 4
ability to cross legs +1
Non adjustable +1
Pan Depth
Approximately 3 inches of space between knee and edge
of seat 1
2
Non-adjustable +1
Armrest Unsupported 2
Back support No back support 2 2
Chair height + Pan Depth 6
Armrest + Back support 4
Section A + duration +0 5
Section B- Monitor and
telephone
Monitor
Too low 2
3
Too far +1
Duration +0
Telephone Too far of reach 2
2
Duration 0
Section B 2
Section C-Mouse and keyboard
Mouse
Reaching to mouse 2
5 Mouse/keyboard on different
surfaces +2
Pinch grip on mouse +1
duration +0
Keyboard
Wirsts extend 2
Deviation while typing +1 4 Platform non-adjustable +1
Duration +0
Section C 6
Monitor and peripheral score
Section B 3
Section C 6 6
ROSA FINAL SCORE
Monitor and peripheral score 6
Chair 5 6
TABLE III. HASIL SECTION A
SECTION A Nilai
Chair Height 4
Pan depth 2
Armrest 2
backsupport 2
Pada hasil rekapitulasi Tabel I. section A bagian chair height, kaki pekerja membentuk sudut <90 (too low) dikarenakan tempat duduk pekerja terlalu pendek. Oleh karean itu terdapat penambahan skor sebesar 2. Lalu jarak kaki pekerja dan meja untuk menyimpan keyboard terlalu dekat sehingga mengganggu dan membuat sempit area kerjanya, oleh karena itu terdapat penambahan nilai sebesar 1, dan pada kursi yang digunakan, tidak terdapat pengaturan untuk meninggikan atau menurunkan kursi, sehingga ada penambahan skor sebesar 1. Maka skor untuk bagian kursi sebesar 4.
Pada bagian pan depth, jarak belakang lutut dengan alas duduk kursi kurang lebih sebesar 3 inch, sehingga diperoleh skor 1.
Tidakterdapat pengaturan untuk pan depth jadi ditambahkan nilai 1, sehingga di peroleh nilai untuk pan depth sebesar 2. Apabila dijumlahkan dengan nilai chair height menjadi 6.
Pada section A lainnya terdapat bagian armrest, kursi pelayan bengkel ini tidak memiliki armrest, sehingga dikategorikan sebagaiunsupported dan diberikan nilai sebesar 2. Pada bagian backsupport, punggung pelayan tidak di support oleh kursi yang digunakan, sehingga di kategorikan sebagai unsupported dan diberikan nilai sebesar 2. Apabila di jumlahkan dan dihitung dengan tabel yang ada di lembar pengamatan ROSA, maka di dapat nilai untuk section A sebesar 5.
TABLE IV. HASIL SECTION B
SECTION B Nilai
Monitor 3
Telephone 3
Pada section B terdapat aspek untuk monitor dan telepon. Pada aspek monitor, pekerja melihat monitor tidak lurus sejajar denganmata, melainkan too low seingga diberikan nilai sebesar 2, lalu jarak mata pekerja dan monitor telalu jauh, maka diberikan nilai sebesar 1, maka diperoleh skor untuk are monitor sebesar 3.
Lalu pada aspek telepon, posisi telepon terlalu jauh untuk dicapai, maka diberikan nilai sebesar 2, maka dari itu skor untuk section B sebesar 2.
TABLE V. HASIL SECTION C
SECTION C Nilai
Mouse 5
Keyboard 4
Pada section selanjutnya, yaitu secion C berisi aspek untuk mouse dan keyboard. Pada aspek mouse dan keyboard berada di dua permukaan yang berbeda, oleh karena itu ditambahkan skor sebesar 2, lalu perlu menjangkau mouse yang jauh dari posisi badan pekerja sehingga diberikan nilai sebesar 2, lalu ukuran mouse terlalu kecil maka diberikan nilai sebesar 1, dan diperoleh nilai skor akhir untuk bagian mouse sebesar 5.
Pada bagian keyboard, posisi tangan itu tidak sejajar dengan keyboard melainkan tegak lurus dengan keyboard sehingga diberikan nilai sebesar 2, dan juga membentuk sudut deviasi ketika menulis, sehingga diberikan nilai sebesar 1, tidak terdapat pengaturan untuk tinggi rendah keyboard, sehingga ditambahkan nilai sebesar 1. Sehingga didapat total skor untuk bagian keyboard ialah sebesar 4.
TABLE VI. KLASIFIKASI ROSA
Nilai Akhir Klasifikasi
Kurang dari 5 Tidak berlebihan
Lebih dari sama dengan 5 Beresiko tinggi dan harus dilakukan pengkajian lebih lanjut
Pada Tabel 6. skor akhir ROSA merupakan skala antara 1 - 10, dengan 1 menunjukan minimum level resiko dalam kantor, dan 10 menunjukan level maksimum dari resiko. Apabila skor ROSA berada pada angka 5 ke atas maka itu termasuk dalam kategori berbahaya. Jika nilai akhir ROSA terhadap pekerja itu melebihi 5, maka postur kerja yang lakukukan oleh pekerja sudah dinyatakan meiliki risiko CTDs. Dari ketiga section, dilakukan perhitungan rosa, maka didapat nilai sebesar 6, yang masuk kedalam kategori berbahaya.
Skor tersebut diperoleh dari perhitungan pada 3 section yaitu pada section A, terdiri dari aspek chair height, pan depth, lalu pada section B terdiri dari monitor dan telepon, lalu pada section C terdiri dari aspek mouse dan keyboard. nilai 6 didapatkan karena dari ketiga section peniliaian, banyak komponen dimana pekerja mendapatkan skor yang besar, sehingga nilai akhir ROSA juga besar.
Pada section A, bagian chair height, kaki pekerja membentuk sudut <90 dikarenakan kursi terlalu pendek, oleh karena itu diberikan skor 2, lalu jarak tangan dan meja untuk menyimpan keyboard terlalu dekat sehinnga membatasi gerak gerik pekerja, maka dari itu diberikan nilai 1. Selain itu pad kursi tidak ada support untuk tangan sehingga diberikan skor 2. Pada section B berisi aspek untuk monitor dan telepon, posisi kepala pada saat menatap layar monitor itu too low karena membentuk sudut <30 seingga diberikan nilai 2, lalu jarak monitor dan kepala jauh sehingga diberikan nilai tambahan 1, lalu pekerja perlu meraih telepon dan itu diberikan nilai sebesar 1. Pada section C berisi aspek untuk mouse dan keyboard. pada aspek mouse, antara mouse dan keyboard berada di dua permukaan yang berbeda, oleh karena itu bisa membuat posisi kedua tangan kita bisa berubah menjadi tinggi sebelah jikalau dalam penggunaan mouse dan keyboard terlalu lama seperti itu.
Selanjutnya mencari penyebab keluhan yang dirasakan oleh pekerja kedua menggunakan metode ROSA, dengan hasil rekapitulasi sebagai berikut:
TABLE VII. HASIL ROSA PEKERJA 2
Section Kategori Klasifikasi Score Area Score
Section A + Chair
Chair Height Knees at 90 1 1
Pan Depth
Approximately 3 inches of space between knee
and edge of seeat 1
2
Non-adjustable 1
Arm rest Arm Unsupported 2 2
Back Support
Worker leaning
forward 2
4 Work surface too high 1
Back rest non-
adjustable 1
Chair Heigh – Pan Depth Arm Rest & Back Support Section A + Duration
3 6
1 6
Section B – Monitor and Telephone
Monitor Too low (below 30) 2
Documents – No holder 1 3
Telephone
One hand on phone &
neutral neck posture 1
1
Duration 0
Section B 4
Section C – Mouse and keyboard
Mouse Reaching to mouse 2
Duration 1 3
Keyboard Deviation while Typing 1
4 Keyboard too high
(shoulders Shrugged) 1
Platform non –
adjustable 1
Duration 1
Section C 5
Monitor and Peripheral Score
Section B 3
Section C 5 5
ROSA final Score Monitor and Peripheral Score 5
Chair 5 5
.Pada pengukuran dengan menggunakan metode ROSA didapatkan skor pada section A sebesar 6, dengan chair heigh- pan depth, arm rest- back support masing-masing dengan skor sebesar 3 dan 6. Skor teringgi terdapat pada bagian arm rest- back hal ini disebabkan meja yang digunakan pekerja terlalu tinggi dan kursi yang tidak dilengkapi dengan arm rest, selain itu juga dalam pekerjaanya operator tidak bersender pada sandaran kursi sehingga membuat bagian punggung operator mudah merasa lelah. Pada section B didapatkan skor sebesar 4, dengan skor area monitor sebesar 3 dan skor area telephone sebesar 1. Skor tertinggi berada pada area monitor hal ini disebabkan tinggi layar monitor yang tidak pararel dengan posisi mata operator, selain itu juga tidak terdapat dokumen holder yang dapat membantu kerja operator.
Pada section C didapat skor sebesar 5 dengan skor area mouse sebesar 3,dan skor area keyboard sebesar 4. Skor tertinggi berada pada skor area keyboard hal ini disebabkan postur tanggan operator yang menyimpang saat mengetik, dan juga operator bekerja dengan mengetik dalam jangka waktu yang lama yaitu lebih dari empat jam perharinya. Selain itu posisi keyboard yang terlalu tinggi operator juga dapat menjadi faktor ketidak nyamanan saat bekerja.
Besar nilai monitor dan pirephreral skor pada metode ROSA adalah 5, skor tersebut berada pada area kolom yang berwarna orange. Indikasi warna ini menyatakan bahwa berdasarkan analisis menggunakan metode ROSA operator berada pada postur kerja yang berbahaya dan memerlukan perbaikan secepatnya, untuk dapat menghindari cedera yang tidak dingginkan.
IV. KESIMPULAN
Hasil dari penelitian ini secara subjektif, pekerja meraskan keluhan rasa sakit pada bagian punggung, lengan kanan atas, paha berdasarkan output yang diperoleh dari kuesioner CMDQ. Hal tersebut didapat karena pekerja melakukan pekerjaan ganda dalam seharin-harinya. Hasil tersebut didukung oleh fakta penilaian secara objektif dengan metode ROSA, bahwa postur kerja pekerja berada tingkat berbahaya dengan nilai 6. Kedua hasil penilaian tersebut diakatan sesuai dan sama, karena terdeapat kesesuaian terkait hasil secara subjektif dan objektif. Rekomendasi yang dapat diberikan berdasarkan hasil penelitian tersebut adalah perbaikan work station, dengan mengatur letak alat kerja seperti monitor, keyboard, mouse, dan lainnya yang mudah dijangkau dan sejalan denga prinsip office ergonomics. Perbaikan tata letak tersebut seperti mengatur jarak antara kursi dengan meja, yaitu memposisikan kursi dekat dengan meja yang bertujuan untuk menghindari gerakan atau posisi menggapai [15]. Kursi yang digunakan memiliki 5 kastor untuk memastikan stabilitas dari kursi. Kursi dapat diatur menyesuaikan tinggi pengguna sehingga postur paha pengguna dapat sejajar dan membentuk sudut 90°. Selain itu alas dudukan dapat diatur maju mundurnya menyesuaikan jarak antara alas duduk dengan bagian belakang betis. Jarak optimal nya adalah satu tiga inch [16].
V. DAFTARPUSTKA
[1] Matos, M., & Arezes, P. M. (2015). Ergonomic evaluation of office workplaces with Rapid Office Strain Assessment (ROSA). Procedia Manufacturing, 3, 4689-4694.
[2] Aisha, A. N. (2016). Office Ergonomics Assessment pada Kantor Bank X. JRSI (Jurnal Rekayasa Sistem dan Industri), 1(01),68-74..
[3] Lin, Z., Popovic, A., & Policy, S. (2003). Working with computers in Canada: An empirical analysis of incidence, frequency and purpose. Human Resources Development Canada.
[4] Williams R, Westmorland M. Occupational cumulative trauma disorders of the upper extremity. Am J Occup Ther. 1994 May;48(5):411-20.
[5] Watchman, G. R. (1997). Working Safely with Video Display Terminals. New York: Departement of Labor US
[6] Fragastia, V. A., & Ramadhan, M. D. (2022). Penilaian Postur Kerja Operator Pada UKM XYZ Dengan Metode Biomekanika. IESM Journal (Industrial Engineering System and Management Journal), 3(1), 67-80.
[7] Kroemer, K. H. E. (2002). Office ergonomics. CRC Press.
[8] Rosma Hani Damayanti, Irwan Iftadi, dan R. D. A. (2014). Analisis Postur Kerja Pada Pt. Xyz Menggunakan Metode Rosa (Rapid Office Strain Assessment). 1–7.
[9] Tarwaka, S., & Sudiajeng, L. (2004). Ergonomi untuk keselamatan, kesehatan kerja dan produktivitas. Uniba, Surakarta, 34-50.
[10] Oesman, T. I., Irawan, E., & Wisnubroto, P. (2019). Analisis Postur Kerja dengan RULA Guna Penilaian Tingkat Risiko Upper Extremity Work-Related Musculoskeletal Disorders. Studi Kasus PT. Mandiri Jogja Internasional. Jurnal.
[11] Eko, N. (2003). Ergonomi Konsep Dasar dan Aplikasi. Surabaya. Prima Printing.
[12] onne, M., Villalta, D. L., & Andrews, D. M. (2012). Development and evaluation of an office ergonomic risk checklist: ROSA–Rapid office strain assessment. Applied Ergonomics, 43(1), 98–108.
[13] Christensen, K. S., Fink, P., Toft, T., Frostholm, L., Ørnbøl, E., & Olesen, F. (2005). A brief case-finding questionnaire for common mental disorders: the CMDQ. Family Practice, 22(4), 448-457.
[14] Hedge, A., Morimoto, S., & Mccrobie, D. (1999). Effects of keyboard tray geometry on upper body posture and comfort. Ergonomics, 42(10), 1333-1349.
[15] Middlesworth, M. (2016). 10 Office Ergonomics Tips to Help You Avoid Fatigue. (ErgoPlus) Retrieved October 21, 2018, from ErgoPlus: https://ergo- plus.com/officeergonomics-10-tips-to-help-you-avoid-fatigue
[16] UNC. (2016, November 22). Office Ergonomics. (UNC) Retrieved October 21, 2018, from The University of North Carolina Web:
https://ehs.unc.edu/workplacesafety/ergonomics/office/