• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS POSTUR KERJA PADA PEKERJA GUDANG DENGAN METODE OWAS DAN QEC DI PT. SAMI SURYA INDAH

N/A
N/A
yohanes stefanus

Academic year: 2025

Membagikan "ANALISIS POSTUR KERJA PADA PEKERJA GUDANG DENGAN METODE OWAS DAN QEC DI PT. SAMI SURYA INDAH"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

Beberapa metode yang dapat digunakan untuk menganalisis postur kerja adalah Ovako Working Posture Analysis System (OWAS). Hudaningsih et al., (2021) melakukan penelitian yang berjudul Analisis postur kerja pada saat mengganti oli mobil dengan menggunakan metode Rula dan Reba di bengkel barokah mandiri. Sekarsari & Prasetyo, (2022) melakukan penelitian analisis postur kerja dengan metode reba pada pekerja pembuatan batako di UD.

Ergonomi

Definisi Ergonomi

Ergonomi Fisik

Kesehatan Jangka Panjang, Ergonomi fisik yang baik mendukung kesehatan jangka panjang dengan mengurangi risiko penyakit terkait pekerjaan dan masalah kesehatan kronis. Lingkungan kerja yang nyaman dan aman meningkatkan kepuasan kerja, yang dapat berdampak positif pada moral dan motivasi pekerja (Fallis, 2013). Banyak negara memiliki regulasi dan standar yang mengharuskan perusahaan untuk memastikan kondisi kerja yang aman dan sehat.

Secara keseluruhan, ergonomi fisik sangat penting karena menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan pekerja, meningkatkan efisiensi, dan mengurangi risiko cedera. Dengan menerapkan prinsip-prinsip ergonomi fisik, perusahaan dapat menciptakan tempat kerja yang lebih aman, nyaman, dan produktif (Fallis, 2013).

Ergonomi Dalam Lingkungan Kerja

Ketika pekerja merasa bahwa kesejahteraan mereka diperhatikan oleh perusahaan, hal ini dapat meningkatkan rasa memiliki dan loyalitas terhadap perusahaan, serta meningkatkan citra diri dan kebanggaan atas pekerjaan mereka. Hal ini dapat mengurangi kelelahan, stres, dan ketegangan, serta meningkatkan kepuasan kerja dan motivasi (Astuti et al,. 2009). Hal ini dapat mengurangi gejala ergonomi seperti ketegangan otot, kelelahan mata, dan sakit kepala, serta meningkatkan kesehatan dan kenyamanan karyawan.

Lingkungan kerja yang dirancang dengan baik dapat meningkatkan efisiensi kerja, mengurangi waktu istirahat yang diperlukan, dan meningkatkan produktivitas keseluruhan. Dengan tata letak yang baik dan penggunaan peralatan ergonomis, pekerja dapat bekerja dengan lebih efisien, mengurangi waktu yang terbuang untuk penyesuaian alat atau mencari peralatan. Ergonomi yang baik membantu mengurangi kelelahan fisik dan mental, sehingga pekerja dapat mempertahankan produktivitas tinggi sepanjang hari.

Penerapan ergonomi dapat mengurangi biaya kompensasi pekerja karena lingkungan kerja yang sehat dan aman, sehingga risiko cedera dan kecelakaan kerja dapat diminimalkan. Hal ini juga dapat menghemat biaya karena berkurangnya hari absen dan kecelakaan kerja (Astuti et al,. 2009).

Analisis Postur Kerja

Definisi Analisis Postur Kerja

Analisis postur kerja adalah proses evaluasi sistematis untuk menilai posisi tubuh pekerja saat melakukan tugas tertentu. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi potensi risiko cedera muskuloskeletal (MSD) yang dapat timbul akibat posisi tubuh yang tidak ergonomis atau gerakan yang berulang. Analisis ini menggunakan metode-metode tertentu untuk mengukur, memantau, dan mengoptimalkan posisi tubuh agar sesuai dengan prinsip-prinsip ergonomi (Tarwaka, 2004).

Menurut Tarwaka, (2004) saat bekerja, posisi tubuh sangat ditentukan oleh jenis pekerjaan atau aktivitas yang dilakukan, karena pengaruh setiap posisi kerja dapat berbeda pada setiap tubuh. Postur kerja yang baik, sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan sangat penting karena berpengaruh terhadap nyeri musculoskeletal pada pekerja (Tamala, 2020). Dengan demikian, analisis postur kerja tidak hanya bertujuan untuk melindungi kesehatan pekerja, tetapi juga untuk meningkatkan kinerja organisasi secara keseluruhan dengan menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat, dan produktif.

Tujuan Analisis Postur Kerja

Analisis postur kerja dilakukan untuk mengidentifikasi posisi tubuh pekerja yang tidak ergonomis atau gerakan yang berpotensi menyebabkan cedera muskuloskeletal (MSD). Ini termasuk posisi tubuh yang tidak alami, beban fisik yang berlebihan, atau gerakan yang berulang (Nova et al,. 2022). Dengan menggunakan teknik pengukuran dan evaluasi seperti analisis biomekanik, analisis postur kerja membantu dalam mengukur beban fisik yang diterima oleh tubuh pekerja selama menjalankan tugas-tugas kerja tertentu.

Dengan mengidentifikasi dan memahami faktor-faktor risiko ergonomis, analisis postur kerja dapat memberikan dasar untuk merancang tugas, peralatan, dan lingkungan kerja yang lebih aman dan ergonomis. Dengan memastikan bahwa posisi tubuh pekerja yang optimal telah diidentifikasi dan diperbaiki, analisis postur kerja membantu meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Hasil dari analisis postur kerja dapat digunakan sebagai dasar untuk merancang atau menyesuaikan tempat kerja, peralatan, dan alat bantu kerja lainnya agar sesuai dengan prinsip-prinsip ergonomi.

Dengan menciptakan lingkungan kerja yang lebih nyaman dan aman, analisis postur kerja berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup kerja pekerja. Dengan demikian, analisis postur kerja tidak hanya mengidentifikasi masalah ergonomis, tetapi juga memberikan landasan untuk perbaikan yang dapat menghasilkan lingkungan kerja yang lebih sehat, lebih aman, dan lebih produktif bagi semua pekerja.

Muskuloskeletal Disorders (MSDS)

Pekerja yang bekerja dalam lingkungan yang ergonomis cenderung lebih efisien dalam melakukan tugas mereka (Nova et al,. 2022). Mendukung desain ergonomis adalah proses yang melibatkan berbagai pendekatan dan strategi untuk memastikan bahwa lingkungan kerja dirancang agar sesuai dengan kebutuhan fisik dan kognitif pekerja. Hal ini mencakup pengaturan ulang tugas kerja, desain peralatan yang ergonomis, dan implementasi prosedur kerja yang lebih aman (Nova et al,. 2022).

Ini mencakup meningkatkan kenyamanan, mengurangi stres fisik, dan meningkatkan kepuasan kerja secara keseluruhan (Nova et al,. 2022). Tendinitis, peradangan pada tendon yang dapat disebabkan oleh gerakan berulang atau beban berlebihan pada sendi tertentu. Epikondilitis Lateral (Tennis Elbow) dan Medial (Golfer's Elbow), peradangan pada tendon di siku, yang sering kali terjadi karena gerakan repetitif atau penggunaan yang berlebihan pada otot lengan.

Gangguan pada bahu, seperti bursitis atau tendinitis bahu yang dapat disebabkan oleh pengulangan gerakan yang tidak tepat atau beban yang berlebihan. Oleh karena itu, pencegahan dan manajemen MSDS melalui prinsip-prinsip ergonomi dan perhatian terhadap lingkungan kerja yang aman sangatlah penting.

Metode Ovako Working Posture Analysis System (OWAS)

Karakteristik Metode OWAS

Metode observasional, OWAS menggunakan pendekatan pengamatan langsung untuk mengidentifikasi dan mencatat posisi tubuh pekerja saat melakukan tugas-tugas kerja. Observasi dilakukan oleh pengamat yang terlatih untuk mengamati dan mencatat posisi tubuh dalam waktu yang telah ditentukan (Astuti et al,. 2009). Penilaian berbasis kategori, hasil observasi diklasifikasikan ke dalam kategori- kategori tertentu berdasarkan posisi tubuh yang diamati.

Kategori ini mencakup posisi kerja atas (upper arm), posisi kerja bawah (lower arm), posisi punggung (trunk), dan posisi kaki (leg) (Astuti et al,. 2009). Penilaian risiko ergonomis, setelah pengamatan selesai, hasilnya dievaluasi untuk menentukan tingkat risiko ergonomis berdasarkan kombinasi posisi tubuh yang teramati. Metode ini membantu mengidentifikasi posisi tubuh yang mungkin menyebabkan ketidaknyamanan atau risiko cedera muskuloskeletal (Astuti et al,. 2009).

Rekomendasi perbaikan, berdasarkan hasil evaluasi, metode OWAS dapat memberikan rekomendasi perbaikan ergonomis untuk mengurangi atau menghilangkan posisi tubuh yang tidak aman atau tidak ergonomis. Ini bisa termasuk perubahan desain tempat kerja, penyesuaian peralatan, atau modifikasi proses kerja (Astuti et al,. 2009).

Tujuan Penggunaan Metode OWAS

Perbaikan desain tempat kerja, dengan menghasilkan data observasional tentang posisi tubuh, OWAS membantu dalam merancang ulang atau menyesuaikan desain tempat kerja agar lebih ergonomis dan aman bagi pekerja (Bintang et al,. 2017). Evaluasi rutin kondisi kerja, metode ini dapat digunakan secara rutin untuk mengevaluasi kondisi kerja di berbagai industri dan sektor untuk memastikan bahwa lingkungan kerja mendukung kesehatan dan kesejahteraan pekerja (Bintang et al,. 2017). Tujuan utama penggunaan Metode OWAS adalah untuk meningkatkan kondisi kerja dengan mengurangi risiko cedera muskuloskeletal melalui evaluasi posisi tubuh pekerja dan implementasi perbaikan ergonomis yang tepat.

Cara Kerja Metode Owas

Penilaian ini membantu dalam menentukan prioritas perbaikan ergonomis dan memastikan bahwa kondisi kerja yang tidak aman atau tidak ergonomis diidentifikasi dan diatasi dengan tepat waktu.

Metode Quick Exposure Check (QEC)

Cara Kerja Metode QEC

David et al., (2008) QEC adalah sebuah metode yang digunakan untuk menilai risiko cedera muskuloskeletal (MSDs) pada pekerjaan yang berhubungan dengan postur tubuh. Data proses produksi digunakan untuk menunjang analisis terhadap masalah yang terjadi, sedangkan data kuesioner QEC digunakan untuk menganalisis beban postur tubuh yang dirasakan oleh pekerja. Kuesioner ini ditujukan untuk pihak peneliti/observer dan mengukur beban postur tubuh operator ketika melakukan pekerjaannya.

Kuesioner Operator, Kuesioner ini ditujukan untuk operator/worker dan lebih menitikberatkan pada beban yang dirasakan oleh operator saat melakukan pekerjaannya, seperti beban yang harus diangkat dan durasi kerja. Metode QEC menggunakan kuesioner untuk menilai risiko cedera muskuloskeletal pada pekerjaan yang berhubungan dengan postur tubuh. Kuesioner ini mengukur beban postur tubuh yang dirasakan oleh pekerja dan memberikan skor risiko cedera.

Tingkat risiko cedera ini digunakan untuk menentukan tindakan yang perlu dilakukan untuk mengurangi risiko tersebut. Tingkat Risiko, Tingkat risiko cedera dikelompokkan menjadi beberapa kategori, seperti "aman perlu penelitian lebih lanjut perlu penelitian lebih lanjut dan dilakukan perubahan", dan "dilakukan penelitian dan perubahan secepatnya".

Tahap-Tahap Metode QEC

Kemudan untuk membantu dalam mengkategorikan skor hasil QEC dan memberikan penanganan yang sesuai untuk setiap kategori risiko, diperlukan skor dan penanganan hasil QEC. Dengan demikian, perusahaan dapat mengambil tindakan yang tepat untuk meningkatkan kondisi kerja dan mengurangi risiko cedera bagi pekerja.

Objek penelitian

Subjek penelitian

Pendekatan kuantitatif

Alat dan bahan

Bahan Penelitian 1. Dokumen dan Literatur

Referensi untuk memahami dan menerapkan metode OWAS dan QEC, seperti buku, jurnal, dan artikel yang terkait dengan analisis postur kerja dan ergonomi. Dalam proses penelitian, Kertas dan alat tulis membantu dalam pengumpulan, pencatatan, perencanaan, dan analisis data. Instrumen OWAS dan QEC merupakan alat yang berguna untuk menilai risiko ergonomis dan merancang tindakan untuk meningkatkan keselamatan dan kesehatan pekerja.

Formulir atau perangkat lunak juga digunakan untuk mengkategorikan dan menganalisis postur kerja berdasarkan standar OWAS dan QEC, untuk membantu dalam pengumpulan dan pengolahan data postur kerja pekerja gudang.

Teknik pengumpulan data

Menggunakan formulir QEC untuk menilai faktor risiko ergonomis yang mencakup, frekuensi gerakan, durasi aktivitas, beban yang diangkat atau didorong, Posisi tubuh yang digunakan. Memeriksa kembali data yang telah dicatat untuk memastikan keakuratannya, memindahkan data dari formulir observasi ke dalam software analisis statistik untuk memudahkan analisis lebih lanjut.

Diagram Alir

Analisis Postur Kerja Dengan Metode Owas (Ovako Working Posture Analysis System) Dan Qec (Quick Exposure Checklist) Untuk Mengurangi Terjadinya Kelelahan Musculoskeletal Disorders Di Pt. Analisis Postur Kerja Pada Saat Mengganti Oli Mobil Dengan Menggunakan Metode Rapid Upper Limb Assessment (Rula) Dan Rapid Entire Body Assessment (Reba) Di Bengkel Barokah Mandiri. Analisa Ergonomi Dengan Pendekatan Rapid Upper Limb Assessment Pada Postur Kerja Statis Karyawan Produksi Kerajinan Kayu Di Ud.

ANALISIS POSTUR KERJA MENGGUNAKAN METODE OWAS (OVAKO WORKING ANALISIS SYSTEM) UNTUK PERBAIKAN FASILITAS KERJA PADA BAGIAN PACKAGING KOPERASI AGRO NIAGA JABUNG (KAB JABUNG).

Referensi

Dokumen terkait

Untuk mengetahui pengaruh secara bersama-sama dan signifikan antara pendidikan, pelatihan, dan pengalaman kerja terhadap prestasi kerja karyawan pada PT.. Sami

Skripsi berjudul “Analisis Faktor Risiko Musculoskeletal Disorders (MSDs) Dengan Metode Quick Exposure Checklist (QEC) Pada Pekerja Laundry ” telah diuji dan disahkan

Aplikasi metode OWAS didasarkan pada hasil pengamatan dari berbagai posisi yang diambil pada pekerja selama melakukan pekerjaannya dan digunakan untuk mengidentifikasi dengan posisi

Dari hasil analisis tingkat keluhan Musculoskeletal Disorders (MsDs) atau gangguan otot menggunakan metode OWAS terhadap keempat opeator Manual Handling area

Berdasarkan kriteria OWAS, aktivitas pengangkatan produk menunjukkan hasil skor 3 yaitu postur atau sikap pekerja membungkuk saat mengambil produk sehingga dapat berbahaya

mengetahui keluhan apa saja yang diderita oleh pekerja dan faktor-faktor yang berpengaruh pada metode OWAS dengan merekam dan mengambil gambar postur kerja operator di

Analisis Faktor Risiko Musculoskeletal Disorders (MSDs) dengan Metode Quick Exposure Checklist (QEC) pada Pekerja Laundry; Alifatul Fitria Susianingsih, 102110101018;

Hasil Skor Akhir REBA Sumber: Pengolahan Data 4.3 Perhitungan Ovako Work Posture Analysis System OWAS Adapun perhitungan postur kerja pada pekerja 1 menggunakan metode OWAS adalah