• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Persepsi

2.1.1 pengertian persepsi

Menurut Salim dan Salim (1991) dalam Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, mendefinisikan persepsi sebagai pandangan dari seseorang atau banyak orang akan hal atau peristiwa yang didapat atau diterima, atau dapat diartikan sebagai proses diketahuinya suatu hal pada seseorang melalui pancaindera yang dimiliki. Persepsi terhadap lingkungan mencakup aspek yang lebih luas, tidak sekedar persepsi sensoris individual seperti yang dilihat dan didengar, melainkan mencakup pula kesadaran dan pemahaman manusia terhadap lingkungan.

Menurut Surata (1993) persepsi sangat mempengaruhi perilaku seseorang terhadap lingkungannya. Seseorang yang mempunyai persepsi yang benar mengenai lingkungan, kemungkinan besar orang tersebut berperilaku positif terhadap upaya-upaya pelestarian lingkungan. Hal ini sejalan dengan pernyataan Kartini (1984) yang menyatakan bahwa persepsi adalah pandangan dan pengamatan, pengertian dan interpretasi seseorang atau individu terhadap suatu kesan obyek yang diinformasikan kepada dirinya dan lingkungan tempat ia berada sehingga dapat menentukan tindakannya. Dengan demikian persepsi bisa mempengaruhi orang dalam menentukan sikap dan tindakannya sehingga orang akan ikut berpartisipasi di dalam proses pembangunan.

2.1.2 Faktor-faktor persepsi

Menurut Kayam (1985) diacu dalam Purwanto (1998) menyatakan bahwa persepsi ditentukan oleh faktor dalam individu (internal) dan faktor luar individu (eksternal). Faktor internal meliputi kecerdasan, minat, emosi, pendidikan, pendapatan, kapasitas alat indera dan jenis kelamin. Sedangkan faktor eksternal meliputi pengaruh kelompok, pengalaman masa lalu dan perbedaan latar belakang sosial budaya.

Krench dan Crutchfield (1963) diacu dalam Fuad (2003) menyatakan bahwa persepsi seseorang dipengaruhi oleh dua faktor yaitu:

(2)

a. Faktor Struktural

Faktor-faktor yang terdapat dalam situasi fisik seperti gerakan, perubahan, frekuensi, intensitas dan peristiwa-peristiwa neural yang dihasilkan oleh sistem syaraf individu.

b. Faktor Fungsional

Faktor yang terdapat dalam diri individu seperti kebutuhan, suasana hati, pengalaman masa lalu dan sifat-sifat lain dari individu.

Menurut Mauludin (1994) faktor pendidikan dapat dijadikan faktor penduga persepsi paling baik dibandingkan faktor-faktor lainnya seperti umur, jenis kelamin dan pekerjaan. Faktor pendidikan dalam pengaruhnya terhadap persepsi juga telah dibuktikan melalui penelitian yang dilakukan oleh Purwanto (1998) menyatakan bahwa tingkat pendidikan menunjukkan hubungan yang cukup erat terhadap persepsi masyarakat. Hubungan tersebut menunjukkan semakin tinggi tingkat pendidikan, maka persentase nilai persepsi semakin besar. Hal tersebut juga sejalan dengan pernyataan Kurniasih (2004) bahwa tingkat pendidikan dan komposisi umur berdasarkan angkatan kerja memiliki hubungan yang lebih dekat terhadap tingkat persepsi dibandingkan dengan pendidikan, pekerjaan dan jarak tempat tinggal dari pusat kota. Sedangkan menurut Zakih (1997) menyatakan bahwa media massa merupakan sumber yang efektif dalam menyebarkan informasi. Hal ini dikarenakan terdapat hubungan antara informasi dengan tingkat persepsi bahwa semakin banyak informasi yang diterima oleh masyarakat tingkat persepsi juga semakin tinggi.

2.1.3 Persepsi masyarakat terhadap hutan kota

Menurut PP No. 63 Tahun 2002 Hutan kota adalah suatu hamparan lahan yang bertumbuhan pohon-pohon yang kompak dan rapat di dalam wilayah perkotaan baik pada tanah negara maupun tanah hak, yang ditetapkan sebagai hutan kota oleh pejabat yang berwenang. Hutan kota diperlukan untuk memelihara kualitas hidup masyarakat perkotaan (Dwivedi et al. 2009). Banyak manfaat yang diberikan dengan adanya hutan dalam suatu lingkungan kota. Hutan Kota juga memiliki beberapa peranan penting yaitu menghasilkan oksigen, mengurangi polusi, meredam kebisingan, melestarikan air tanah, menambah keindahan sebagai sarana rekreasi, penyerap partikel timbal dan pelestarian plasma nutfah.

(3)

Penelitian mengenai persepsi masyarakat terhadap hutan kota sebelumnya telah dilakukan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Purwanto (1998) di Kelurahan Cengkareng Barat, Jakarta Barat menyatakan bahwa sebagian besar masyarakat memiliki persepsi yang tinggi terhadap lingkungan hijau di pemukiman. Persepsi yang tinggi dapat dilihat dari kemampuannya dalam menilai manfaat atau fungsi pepohonan dan tanaman lain yang ada di pemukiman, serta dukungan dalam pengelolaannya. Namun pada kenyataannya persepsi masyarakat tersebut tidak menunjukkan hubungan dengan perilakunya. Hal ini disebabkan adanya faktor lain yang lebih berpengaruh dari pada persepsi yaitu tingkat pendapatan dan keterbatasan lahan.

Mauludin (1994) juga melakukan penelitian mengenai persepsi masyarakat terhadap hutan kota yang dilakukan di Kecamatan Bogor Timur dan Bogor Selatan, Kotamadya Bogor. Hasil penelitian menunjukkan masyarakat memiliki persepsi yang tinggi terhadap hutan kota. Persepsi yang positif terhadap hutan kota diwujudkan dalam bentuk kesukaan masyarakat terhadap tanaman dengan tujuan menciptakan kesejukan, kenyamanan, indah dan asri. Sedangkan menurut Fuad (2003) yang melakukan penelitian mengenai persepsi masyarakat terhadap hutan kota di Kabupaten Serang menyatakan bahwa persepsi masyarakat Kabupaten Serang terhadap hutan kota tergolong sedang. Djatmiko (2008) menyatakan bahwa persepsi masyarakat dari RW.013, RW.002 dan RW.020 Kelurahan Kayuringin Jaya, Kecamatan Bekasi Selatan memiliki tingkat persepsi yang sama dan tergolong tingkat persepsi yang tinggi terhadap hutan kota. Tingginya tingkat persepsi masyarakat tersebut menjadi potensi keberhasilan program pengembangan dan pengelolaan hutan kota di Bekasi.

Hasil penelitian Zakih (1997) yang membandingkan persepsi masyarakat kota modern dengan masyarakat kampung kota terhadap hutan kota di Kecamatan Kebayoran Baru Jakarta Selatan menyatakan bahwa masyarakat kota modern memiliki persepsi yang tinggi terhadap hutan kota, sedangkan masyarakat kampung kota memiliki persepsi yang masih tergolong rendah terhadap hutan kota. Namun, kedua golongan masyarakat tersebut menginginkan keberadaan hutan kota di Jakarta terus digalakkan dan dilestarikan. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Kurniasih (2004) di Kota Cilegon yang menyatakan bahwa

(4)

meskipun masyarakat kota Cilegon memiliki persepsi yang masih tergolong sedang terhadap hutan kota, namun mereka mendukung penyelenggaraan pembangunan hutan kota.

2.2 Partisipasi

2.2.1 Pengertian partisipasi

Menurut Suharto dan Iryanto (1989) diacu dalam Rahmawaty et al. (2006) pengertian partisipasi adalah hal turut berperan serta dalam suatu kegiatan. Dengan demikian dapat dikatakan partisipasi tersebut sama dengan peranserta. Menurut PP No.69 Tahun 1996 Tentang Penataan Ruang peranserta masyarakat adalah berbagai kegiatan masyarakat yang timbul atas kehendak dan keinginan sendiri di tengah masyarakat untuk berminat dan bergerak dalam penyelenggaraan penataan ruang. Canter (1977) mendefinisikan peranserta masyarakat sebagai proses komunikasi dua arah yang terus menerus untuk meningkatkan pengertian masyarakat atas suatu proses dimana masalah-masalah dan kebutuhan lingkungan sedang dianalisa oleh badan yang bertanggungjawab.

2.2.2 Faktor-faktor partisipasi

Menurut pendapat Sastropoetro (1986) diacu dalam Siahaan (2010) ada 5 (lima) unsur penting yang menentukan gagalnya dan berhasilnya partisipasi, yaitu: 1. Komunikasi yang menumbuhkan pengertian yang efektif atau berhasil

2. Perubahan sikap, pendapat dan tingkah laku yang diakibatkan oleh pengertian yang menumbuhkan kesadaran

3. Kesadaran yang didasarkan pada perhitungan dan pertimbangan

4. Enthousiasme yang menumbuhkan spontanitas, yaitu kesediaan melakukan sesuatu yang tumbuh dari dalam lubuk hati sendiri tanpa dipaksa orang lain 5. Adanya rasa tanggungjawab terhadap kepentingan bersama

Selain itu Sastropoetro (1986) menjelaskan bahwa ada 5 (lima) hal yang dapat mempengaruhi partisipasi masyarakat, yaitu :

1. Pendidikan, kemampuan membaca dan menulis, kemiskinan, pendidikan, sosial dan rasa percaya pada diri sendiri.

2. Faktor lain adalah penginterpretasian yang dangkal terhadap agama

3. Kecenderungan untuk menyalahartikan motivasi, tujuan dan kepentingan organisasi penduduk yang biasanya mengarah kepada timbulnya persepsi

(5)

yang salah terhadap keinginan dan motivasi serta organisasi penduduk seperti halnya terjadi di beberapa negara

4. Kesediannya kesempatan kerja yang lebih baik di luar pedesaan

5. Tidak terdapatnya kesempatan untuk berpartisipasi dalam berbagai program pembangunan

2.2.3 Tingkat-tingkat partisipasi

Arstein (1969) menggambarkan delapan tingkatan partisipasi yang setiap tingkatannya menggambarkan peningkatan pengaruh masyarakat dalam menentukan produk akhir pembangunan. Delapan tingkatan tersebut dari yang terendah hingga tertinggi adalah manipulasi, terapi, informasi, konsultasi, penentraman, kemitraan, pelimpahan kekuasaan dan kontrol masyarakat. Tabel 1 menggambarkan delapan tingkatan partisipasi masyarakat yang dapat dikelompokkan dalam tiga level yaitu tidak ada partisipasi, partisipasi semu dan partisipasi aktif.

Tabel 1 Tangga partisipasi Arnstein

Tingkatan terendah adalah manipulasi dan terapi yang dideskripsikan sebagai tidak adanya partisipasi. Pada tingkatan ini tidak ada partisipasi dari masyarakat dalam merencanakan maupun melaksanakan program. Pemegang kekuasaan mendikte masyarakat, tidak ada dialog diantara mereka.

Tingkatan tiga, empat dan lima merupakan peningkatan pada level partisipasi semu yang memungkinkan masyarakat yang semula tidak didengarkan menjadi didengarkan dan memiliki suara. Ada tindakan dari masyarakat untuk mulai terlibat dalam partisipasi. Namun pada tingkatan ini, tidak ada jaminan bahwa suara mereka akan didengarkan oleh pemegang kekuasaan.

8 Kontrol masyarakat Partisipasi aktif 7 Pelimpahan kekuasaan 6 Kemitraan 5 Penentraman Partisipasi semu 4 Konsultasi 3 Informasi

2 Terapi Tidak ada partisipasi

(6)

Pada tingkatan partisipasi aktif, masyarakat dapat bermitra dengan pemegang kekuasaan yang memungkinkan mereka bernegoisasi. Jika tingkat partisipasi diperdalam hingga level tertinggi yaitu kontrol masyarakat, masyarakat memiliki kekuasaan penuh untuk membuat keputusan. Tingkatan partisipasi masyarakat dapat diidentifikasikan dengan mengkaji darimana asal partisipasi apakah dari pemerintah, masyarakat ataukah bersama-sama antara pemerintah dan masyarakat.

Huda (2008) menyatakan bahwa pelibatan masyarakat dalam pengelolaan ekosistem mangrove dapat dilakukan dalam beberapa tahap yaitu pada tahapan

perencanaan, pelaksanaan awal, adopsi program/persetujuan,

implementasi/pelaksanaan serta tahapan pemantauan dan evaluasi. Secara tipologi, Pretty (1995) mengklasifikasikan partisipasi atas tujuh karakteristik (Tabel 2).

Tabel 2 Tipologi dan karakteristik partisipasi

Tipologi Karakteristik

Partisipasi pasif Masyarakat berpartisipasi berdasarkan informasi yang mereka terima dari pihak luar tentang apa yang terjadi di lingkungan mereka

Partisipasi informasi Masyarakat berpartisipasi dengan cara menjawab pertanyaan ekstraktif yang diajukan pihak luar (misalnya peneliti dengan menggunakan kuesioner), di mana hasil temuan tidak dimiliki,dipengaruhi, dan diperiksa akurasinya oleh masyarakat

Partisipasi konsultasi Masyarakat berpartisipasi melalui konsultasi dengan pihak luar, di mana pihak luar tersebut mengidentifikasi masalah dan sekaligus mencarikan solusinya serta memodifikasi penemuan berdasarkan respons masyarakat Partisipasi intensif

material

Masyarakat berpartisipasi dengan menyediakan sumber daya, misalnya tenaga kerja dan lahan untuk ditukar dengan insentif material, namun partisipasi masyarakat terhenti seiring berakhirnya imbalan insentif tersebut

Partisipasi fungsional Masyarakat berpartisipasi dengan membentuk kelompok dan melibatkan pihak luar dalam rangka menentukan tujuan awal program/kegiatan , di mana pada umumnya pihak luar terlibat setelah keputusan rencana utama dibuat

Partisipasi interaktif Masyarakat berpartisipasi dalam melakukan analisis kolektif dalam perumusan kegiatan aksi melalui metode interdisiplin dan proses pembelajaran terstruktur, di mana masyarakat mengawasi keputusan lokal dan berkepentingan dalam menjaga serta sekaligus memperbaiki struktur dan kegiatan yang dilakukan

Partisipasi mobilisasi swadaya

Masyarakat berpartisipasi dengan cara mengambil inisiatif dan tidak terikat dalam menentukan masa depan, di mana pihak luar hanya diminta bantuan dan nasihat sesuai dengan kebutuhan masyarakat dalam pemanfaatan sumber daya

(7)

2.3 Peran Para Pihak

Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 5 tahun 2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan, peran masyarakat dalam penyediaan dan pemanfaatan RTH merupakan upaya melibatkan masyarakat, swasta, lembaga badan hukum dan atau perseorangan baik pada tahap perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian. Upaya ini dimaksudkan untuk menjamin hak masyarakat dan swasta, untuk memberikan kesempatan akses dan mencegah terjadinya penyimpangan pemanfaatan ruang dari rencana tata ruang yang telah ditetapkan melalui pengawasan dan pengendalian pemanfaatan ruang oleh masyarakat dan swasta dalam pengelolaan RTH.

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 5 tahun 2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan disebutkan peran dari masing-masing pihak yang terlibat dalam pengelolaan RTH. Peran masyarakat, swasta dan badan hukum dalam penyediaan RTH publik meliputi penyediaan lahan, pembangunan dan pemeliharaan RTH. Peran dalam penyediaan RTH ini dapat berupa:

a. Pengalihan hak kepemilikan lahan dari lahan privat menjadi RTH publik (hibah)

b. Menyerahkan penggunaan lahan privat untuk digunakan sebagai RTH publik c. Membiayai pembangunan RTH publik

d. Membiayai pemeliharaan RTH publik e. Mengawasi pemanfaatan RTH publik

f. Memberikan penyuluhan tentang peranan RTH publik dalam peningkatan kualitas dan keamanan lingkungan, sarana interaksi sosial serta mitigasi bencana.

Peran masyarakat pada RTH privat meliputi:

a. Memberikan penyuluhan tentang peranan RTH dalam peningkatan kualitas lingkungan

b. Turut serta dalam meningkatkan kualitas lingkungan di perumahan dalam hal penanaman tanaman, pembuatan sumur resapan (bagi daerah yang memungkinkan) dan pengelolaan sampah

(8)

c. Mengisi seoptimal mungkin lahan pekarangan dan lahan kosong lainnya dengan berbagai jenis tanaman, baik ditanam langsung maupun ditanam dalam pot

d. Turut serta secara aktif dalam komunitas masyarakat pecinta RTH.

Organisasi non pemerintah atau organisasi lain yang serupa berperan utama sebagai perantara, pendamping, menghubungkan masyarakat dengan pemerintah dan swasta, dalam rangka mengatasi kesenjangan komunikasi, informasi dan pemahaman di pihak masyarakat serta akses masyarakat ke sumber daya. Untuk mencapai peran tersebut, terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan organisasi non-pemerintah antara lain:

a. Membentuk sistem mediasi dan fasilitasi antara pemerintah, masyarakat dan swasta dalam mengatasi kesenjangan komunikasi dan informasi pembangunan ruang terbuka hijau

b. Menyelenggarakan proses mediasi jika terdapat perbedaan pendapat atau kepentingan antara pihak yang terlibat

c. Berperan aktif dalam mensosialisasikan dan memberikan penjelasan mengenai proses kerjasama antara pemerintah, masyarakat dan swasta serta mengenai proses pengajuan keluhan dan penyelesaian konflik yang terjadi d. Mendorong dan/atau menfasilitasi proses pembelajaran masyarakat untuk

memecahkan masalah yang berhubungan dengan penyusunan RTH perkotaan. Kegiatan ini dapat berupa pemberian pelatihan kepada masyarakat dan/atau yang terkait dalam pembangunan ruang terbuka hijau, maupun dengan proses diskusi dan seminar

e. Menciptakan lingkungan dan kondisi yang kondusif yang memungkinkan masyarakat dan swasta terlibat aktif dalam proses pemanfaatan ruang secara proporsional, adil dan bertanggung jawab. Dengan membentuk badan atau lembaga bersama antara pemerintah, perwakilan masyarakat dan swasta untuk aktif melakukan mediasi

f. Menjamin tegaknya hukum dan peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati oleh semua pihak dengan konsisten tanpa pengecualian.

(9)

Dukungan instansi pemerintah daerah yang sangat diperlukan untuk membangun pengelolaan kolaboratif dengan peran sebagai berikut (White et al. 1994):

a. Menciptakan ruang politik yang cukup untuk partisipasi masyarakat dalam pengelolaan. Pemerintah perlu menyediakan forum dialog yang setara antara wakil pemerintah dengan wakil masyarakat dalam mendiskusikan pengelolaan kolaboratif.

b. Menentukan arah kebijakan pengelolaan sumberdaya yang bias mengakomodasi aspirasi masyarakat.

c. Melakukan koordinasi dengan instansi lain yang terkait agar kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh semua pemangku kepentingan dari banyak instansi bisa berjalan dengan harmonis.

d. Memberikan pengakuan dan penghargaan terhadap kegiatan kelompok masyarakat yang berhasil.

e. Menegakkan hukum dalam kaitannya dengan penegakan hukum terhadap pelanggaran aturan lokal, maka pemerintah perlu mendelegasikan kepada kelompok masyarakat. Tetapi pemerintah harus siap memberikan bantuan dalam penegakan hukum, jika masyarakat membutuhkannya. Hal ini berarti bahwa instansi pemerintah perlu selalu memantau efektifitas pengelolaan partisipatif oleh masyarakat.

f. Menyelesaikan konflik dan masalah yang muncul antara pemangku kepentingan.

g. Memberikan bantuan kepada masyarakat berupa pelatihan, penyuluhan, keuangan, sarana dan perlengkapan, serta peningkatan kesadaran masyarakat. 2.4 Strategi

2.4.1 Strategi meningkatkan partisipasi

Beberapa penelitian mengenai peningkatkan partisipasi masyarakat telah dilakukan. Kristianto (2010) dalam penelitiannya yang berjudul Peningkatan Partisipasi Masyarakat Dalam Pembangunan Infrastruktur Jalan menyebutkan bahwa strategi peningkatan partisipasi masyarakat adalah sebagai berikut :

1. Meningkatkan kinerja fasilitator dengan menambah jumlah fasilitator atau menjaga mutu fasilitator,

(10)

2. Pemerintah harus memberikan dana-dana stimulus pembangunan yang berkelanjutan,

3. Pemerintah perlu secara terbuka dan akuntabel memperhatikan aspirasi masyarakat sehingga infrastruktur yang dibangun merupakan keperluan masyarakat secara mayoritas,

4. Pemberian pendidikan nonformal kepada masyarakat sebagai upaya penguatan modal sosial dengan meningkatkan pelibatan masyarakat dalam kegiatan, berangsur mengurangi peran fasilitator dalam ikut mengambil keputusan, serta meningkatkan intensitas kegiatan kepada masyarakat,

5. Memperkuat keberadaan jaringan sosial yang berupa organisiasi-organisasi kemasyarakatan.

2.4.2 Strategi pembangunan hutan kota

Fakultas Kehutanan IPB (1987) menyatakan bahwa strategi yang harus dilakukan dalam pengembangan hutan kota meliputi beberapa aspek, yaitu:

1. Peraturan Perundangan, terdiri dari:

a. Peraturan pemerintah yang menyatakan bahwa setiap daerah perkotaan mempunyai Rencana Umum Tata Ruang

b. Peraturan Daerah yang mewajibkan kepada setiap Pengusaha untuk mengalokasikan lahan Ruang Terbuka Hijau

c. Peraturan Daerah yang mewajibkan warga perkotaan untuk menanam, memelihara pohon/vegetasi berkayu pada lokasi-lokasi tertentu, serta harus melaporkan dan meminta ijin apabila akan menebangnya.

d. Peraturan Daerah yang mengatur tentang tata cara mendirikan bangunan, membuat sumur dan membuang air limbah

2. Organisasi

Pembentukan organisasi yang menangani hutan kota yang meliputi Perencanaan dan Pengendalian dibawah koordinasi Bappeda Kota/Kabupaten serta pelaksana dibawah tanggung jawab Walikota/Bupati dengan Tim Pembina dibawah koordinasi Bappeda Provinsi.

(11)

3. Pendanaan

Perumusan sistem pendanaan dengan sumber-sumber yang jelas, yang dapat digali dari masyarakat dan anggaran Pemerintah Pusat dan Daerah untuk pembangunan hutan kota.

4. Peningkatan Partisipasi Masyarakat

Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat harus dilakukan progran penyuluhan terpadu meliputi:

a. Memasukkan masalah lingkungan termasuk lingkungan perkotaan dan hutan kota ke dalam bagian kurikulum pendidikan

b. Membuat leaflet dan poster tentang pentingnya hutan kota, agar dimengerti dan dipahami oleh masyarakat luas

c. Melaksanakan penyuluhan melalui lembaga-lembaga swadaya masyarakat tentang masalah lingkungan perkotaan dan hutan kota.

5. Penelitian

Pelaksanaaan penelitian meliputi:

a. Pemilihan jenis dan pengadaan bibit untuk masing-masing bentuk dan tipe hutan kota

b. Teknik pembuatan dan pemeliharaan tanaman c. Sistem manajemen hutan kota.

2.5 Kelembagaan dalam Penyelenggaraan Hutan Kota

Hutan kota memerlukan suatu pengelolaan yang tertib agar keberadaan dan fungsinya terpelihara sepanjang masa dengan melibatkan tiga unsur, yaitu: individu, masyarakat dan Pemerintah Kota/Kabupaten. Pemerintah Kota/Kabupaten harus membuat perencanaan hutan kota untuk lahan yang tersedia di lahan milik pemerintah maupun lahan milik masyarakat dan individu. Setiap unit lahan yang berada pada suatu kota harus dibuat perencanaannya oleh pemerintah, kemudian jika lahan itu milik pemerintah pelaksanaannya dilakukan oleh pemerintah, tetapi jika lahan milik masyarakat dilaksankan oleh masyarakat dan jika lahan itu milik individu masyarakat maka pelaksanaannya oleh individu masyarakat dengan bimbingan teknis dari pemerintah supaya benar pelaksanaannya (Fakuara 1986) .

(12)

Pembentukan organisasi yang menangani hutan kota meliputi perencanaan dan pengendalian di bawah koordinasi Bappeda Tk.II serta pelaksana dibawah tanggung jawab Walikota/Bupati dengan tim pembina di bawah koordinasi Bappeda Tk.I (Fakultas Kehutanan IPB 1987). Secara umum organisasi pengelolaan dan pengembangan hutan kota dapat didekati dengan Gambar 2.

Gambar 2 Organisasi pengelolaan dan pengembangan hutan kota (Dahlan 2004). Sedikitnya ada lima instansi yang merupakan pihak yang berperan dalam penyelenggaraan hutan kota di Kota Bogor yaitu (Abdurahman 2005):

1. Bappeda Kota Bogor yang berperan dalam perencanaan alokasi ruang,

2. Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor – LIPI sebagai pengelola Kebun Raya Bogor,

3. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam sebagai pengelola Hutan Penelitian Darmaga dan Arboretum Gunung Batu,

Penanggung Jawab Kepala Wilayah (Walikota/Bupati)

Pelaksana

 Dinas Kehutanan Dinas Pertamanan  Dinas Tata Kota Dinas Perkebunan  Dinas Pertanian Perusahaan Negara  Dinas Kebersihan Swasta

 Dinas Perkebunan Kampus/Sekolah  Perorangan, dll

Perencana Bappeda Tk.II

(13)

4. Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Bogor sebagai pengelola jalur hijau, taman kota, kuburan dan Taman Makam Pahlawan,

5. Badan Penelitian In Vitro (Balittro) sebagai pengelola Kebun Percobaan Cimanggu.

Bappeda Kota Bogor berperan dalam perencanaan alokasi ruang yang diwujudkan dalam kewenangannya menyusun produk perencanaan tata ruang yaitu Rencana Tata Ruang Wilayah yang didalamnya memuat kebijakan mengenai keberadaan lahan hutan kota yang dinyatakan sebagai lahan yang tidak dapat dialih fungsikan menjadi peruntukkan lainnya. Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor – LIPI, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam dan Balittro dalam penyelenggaraan hutan kota di Kota Bogor berperan sebagai pengelola hutan kota. Dinas Kebersihan dan Pertamanan merupakan salah satu perangkat daerah yang memiliki peran penting dalam penyelenggaraan hutan kota di Kota Bogor, karena pengelolaan hutan kota dalam bentuk jalur, taman dan lain-lain dilimpahkan kepada Dinas Kebersihan dan Pertamanan. Bagian yang berperan dalam kegiatan penyelenggaraan hutan kota yaitu bidang pertamanan dengan seksi pembangunan dan penataan taman serta seksi pemeliharaan taman. Struktur organisasi Dinas Kebersihan dan Pertamanan dapat dilihat pada Gambar 3.

(14)

Sumber : Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Bogor (2009)

Gambar 3 Struktur organisasi Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Bogor. Kepala dinas Sekretariat Sub bagian umum dan kepegawaian Sub bagian keuangan Sub bagian perencanaan dan pelaporan Kelompok jabatan fungsional Bidang kebersihan Seksi Penyapuan Seksi Pengangkutan Bidang penerangan jalan umum dan dekorasi kota

Seksi pembangunan PJU

dan dekorasi kota

Seksi pemeliharaan PJU dan dekorasi kota Bidang pertamanan Seksi pembangunan dan penataan taman Seksi pemeliharaan taman Bidang pembinaan pengelolaan sampah Seksi pengembangan teknologi penanggulangan sampah Seksi pengembangan kemitraan

UPTD Pemakaman UPTD Pengolahan air limbah

UPTD Pengolahan sampah

Gambar

Tabel 1  Tangga partisipasi Arnstein
Tabel 2  Tipologi dan karakteristik partisipasi
Gambar 2  Organisasi pengelolaan dan pengembangan hutan kota (Dahlan 2004).
Gambar 3  Struktur organisasi Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Bogor.

Referensi

Dokumen terkait

Banyak projek dan alat-alat dikembangkan oleh akademisi dan profesional dengan menggunakan Arduino, selain itu juga terdapat banyak modul pendukung (sensor, tampilan, penggerak

Raflarýnda ne kadar çok kitap olduðunun farkýna var... ve bunla- rýn senin doðduðun andan itibaren gördüðün, ...duyduðun, ....hisset- tiðin ...her þeyin kaydýnýn

Tindak tutur dalam tuturan komisif ini adalah tindak tutur yang diungkapkan dengan modus yang tidak sesuai dengan maksud penyampaiannya, tetapi makna kata-kata yang

Faktor-Faktor yang mempengaruhi initial return 1 hari, return 1 bulan dan pengaruh terhadap return 1 Tahun setelah initial public offering, Journal of Applied Finance

Perencanaan Sistem Koordinasi Rele Arus Lebih (OCR) Dengan Rele Gangguan Tanah (GFR) Sistem Proteksi Kota Padang.. Universitas Bung Hatta:

a. Data primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari obyek penelitian, baik melalui wawancara, observasi maupun laporan dalam bentuk tidak resmi sebagai sumber

(3) Dalam hal Instansi Utilitas melakukan kegiatan pembangunan jaringan utilitas tidak memiliki Surat Izin Pelaksanaan Kegiatan atau memiliki Surat Izin Pelaksanaan

Usulan program investasi infrastruktur Bidang Cipta Karya tidak dapat dipergunakan mendukung kegiatan yang dapat mengakibatkan dampak negatif terhadap habitat alamiah, warga