• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah Filsafat Barat Abad Pertengahan.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Sejarah Filsafat Barat Abad Pertengahan."

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Persiapan UTS  S.F.B. Abad Pertengahan

Fr. Nikodemus, CP

PENGANTAR

1. Periode: jatuhnya kekaisaran Romawi (476)-awal jaman modern. Kriterianya: Budaya sbg batas ant dunia klasik dgn jaman modern. Masa ini mrp puncak kejayaan iman Kristiani di mana eropa bertobat dan kekristenan meresapi seluruh aspek kehidupan yang memunculkan masyarakat baru yang berdasarkan injil Kristus Republika Kristiana. Injil menjadi inspirasi yg mencolok yg memunculkan Filsafat Kristiani meskipun masih diperdebatkan.

2. Konsep Filsafat Kristiani:

 Digagas oleh para ahli sejarah krn status para pemikir Kristen spt Agustinus, Anselmus, Duns Scotus, Thomas Aguino yang rancu yaitu ant filsuf atau teolog sebab dlm fils mereka selalu ada konsep mengenai Tuhan.

 Istilah Filsafat Kristiani dikritik oleh filsuf Leon Brunschwig dan M. Heidegger yang menyatakan bahwa fils Kristiani sbg Contradictio in terminis, krn selalu dikaitkan dengan iman dan Kitab Suci. Leon menyatakan seharusnya disebut: Filsafat & Kristiani. Contohnya ialah filsafat Thomas yang membaptis filsafat Aristoteles baik dari esensi maupun substansinya. Dari esensinya, fils Thomas sangat Aristotelian bukan Kristiani sedangkan dari substansinya sangat Kristiani krn merupakan suatu iman bukan filsafat. Heidegger dlm Einfuhrung in die Metaphysik (yg mrp istilah equivokal): Orang kristen tdk mempunyai disposisi filosofis sebab semua dikaitkan dgn Tuhan. Menurutnya iman menolak obyek mendasar yaitu pertanyaan mengenai dasar-dasar ada dengan menyatakan bahwa ada-ada itu diciptkan Tuhan. Akibatnya, iman menyangkal akan kebenaran lebih jauh utk mempertanyakan pertanyaan-2 metafisis.

 Dari polemik ini lahir para filsuf Kristen yang gemilang seperti Jacques Maritain, Etiene Gilson, Mourice Blondel dst membentuk filsafat Kristen. Dasarnya adalah:

 Kultural: artinya lingkup Kristianitas yg mempengaruhi cara berpikir mereka meskipun mereka sebenarnya bukan Kristen. Misal, B. Spinoza, Kant, Hegel, August Comte dll.  Tendensial: artinya prinsip-2 pemikiran mereka terbuka pada Kristianitas spt Plato,

Aristoteles, Zeno dan Ibnu Sina (Islam).

 Esensial: artinya pemikiran mereka merangkul kebenaran yg berasal dari wahyu biblis dan Kristianitas meskipun bidang penelitiannya ilmiah/filosofis.

Dari data-data ini, tampak bahwa terminologi Filsafat Kristiani sangat TEPAT.

3. Usaha para filsuf Kristen untuk mempertahankan konsep Filsafat Kristiani, misalnya mengenai konsep:

 Kesatuan Tuhan: samakah dengan gagasan Tuhan dalam agama lain.

 Misteri penciptaan yaitu bahwa Allah menciptakan dari ketiadaan VS fils Yunani bahwa yang ada itu ada yg tidak ada itu tidak ada.

 Kebebasan: apakah tanpa batas atau kondisional ? Kristiani: Kebebasan batin

 Pribadi: konsep tentang Allah Tritunggal

 Sejarah yang kristosentris VS lineal

 Kontigensi yang mengandaikan adanya yang abadi yaitu Allah

 Kebaikan materi sbg medium utk menemukan Allah VS pemikiran Plato yg lihat materi sbg buruk. Nilai positif tubuh manusiatubuh harus dirawat/dipelihara

 Penyelenggaraan IlahiVS kebebasan manusia

(2)

4. Potensi Filosofis Kristianitas

Scr Formal fils Kristen hrs memenuhi kondisi epsitemologis filsafat terutama mengenai kebenaran, kejelasan dan kepastian. Kebenaran yang digarap berasal dari inspirasi Kristianitas. Hal ini tampak dlm Kis 7:16-34.

Pengetahuan filosofis adalah pengetahuan akan kebenaran sedangkan Injil mrp sabda kebenaran (PDV 52. OT 15). Tentu Kristianitas adalah suatu agama bukan filsafat sebab di dlmnya ada sejarah dan struktur keselamatan. Tapi di dlmnya terkandung kemampuan filosofis. Dgn kemampuan ini para pemikir Kristen mulai menggagas filsafat Kristen spt konsep ttg pribadi, kebebasan, sejarah dan waktu, Tuhan, kejahatan, penciptaan dan fils dlm PB. Tema-tema ini sulit dikembangkan oleh fils Yunani.

PARA PENDIRI FILSAFAT KRISTEN

1.

Siapakah pendiri filsafat Kristen?

Adalah para Bapa Gereja di Zaman Patristik (-+ abad 2-7). Para Bapa patristik ini adalah para uskup dan mereka yang mempunyai otoritas doktrinal dgn kriteria: kemurnian ajaran, kesucian hidup, pengakuan Gereja dan antiquitas (arti, mereka berasal dari abad-2 pertama). Pada awal helenisasi, Kristianitas mulai menyebar dari tingkat linguistik ke semua bidang kebudayaan (moral, hukum, pendidikan, sastra dst)lahir filsafat Kristen dengan tokoh-2 awali: Yustinus Martir, Clement dari Aleksandria, dan Origenes.

2.

Sebutkan tiga tahap Helenisasi di bidang Filsafat:

 Jaman para Rasul: digunakan beberapa konsep kunci filsafat secara spontan dan tidak menyentuh metodologinya

 Masa ketika para pemikir Kristiani mulai memikirkan dan mempertimbangkan peran filsafat dlm hubungannyan dgn Kristianitas yaitu sbg sarana epistemologis

 Masa ketika pertimbangan-2 filosofis dibawa secara sistematis yang selalu dengan kesadaran akan pengharapan filsafat Kristen. Masa ini mulai dari ClementPseudo-Dyonisius dan Boethius.

3.

Jelaskan pemikiran beberapa tokoh filsuf Kristen awali!

Yustinus Martir

Riwayat: Sebelum bertobat: Lahir di Flavia Neapolis. Orang tua kafir. Pendidikan bagus termasuk dlm bid Filsafat. Setelah bertobat: dirikan sekolah filsafat di Roma, thn 165 meniggal dgn dipenggal kepalanya setelah ia mengakui imannya di depan kaisar.

Karya: dua apologi dan Dialog dengan Trypho (seorang Yahudi). Dalam karyanya ini Ia menjelaskan perjalanan filosofisnya dalam mencari kebenaran hingga ia akhirnya menemukan bahwa Kristuslah Sang Kebenaran Sejati. Penemuannya ini ia ungkapkan dalam apologi-apologinya.

Pemikiran: Setiap manusia sejauh berakal budi, ambil bagian dalam akal budi Ilahi (Logos Abadi/suatu prinsip Universal dari rasionalitas), krn itu, tiap orang mampu mengumpulkan beberapa fragmen kebenaran namun tidak secara penuh sebab hanya Kristuslah yang memampukan orang untuk mengetahui kebenaran secara penuh. Oleh sebab itu, agama Kristen jauh lebih luhur dari ajaran manusiawi manapun, sebab Kristus yang menghadirkan prinsip Logos dalam totalitasnya menampakkan diri kepada kita. Logos yang dimaksud Yustinus adalah logos dari Kristus yang diwartakan PL maupun PB, bukan logos dalam konsep Yunani. Menurutnya, relasi antara filsafat Yunani dgn Kristianitas: mrp relasi antara yang kurang sempurna dan parsial dgn yang sempurna dan menyeluruh.

Catatan: Yustinus belum menggagas atau mengusulkan perlunya digaraf fils Kristen. Tapi ia memungkinkan pengarapan filsafat Kristen karena tidak ada oposisi/kontradiksi antara keduanya.

(3)

Riwayat: lahir skt thn 150 dari keluarga kafir, meninggal skt thn 215. Pendidikan: sastra dan filsafat Yunani. Setelah bertobat: menjadi murid Patenus, seorang guru di sekolah Aleksandriaia pun menjadi guru yg terkenal.

Karya: Quis dives salvetur (apakah orang kaya diselamatkan?), Protrepticus (pidato/pengajaran), Paedagogus (pendidik), Stromata (tulisan mengenai berbagai masalah). Isi karya hampir sama yaitu bersifat apologetik: mempertahankan agama dari serangan orang kafir dan ajaran sesat (gnostik) dan utk memberi suatu struktur logis dan rasional (filosofis) pada ajaran-2 Kristiani. krn itu ia disebut sebagai pengarang pengetahuan agama Kristen dan sebagai bapa filsafat Kristen.

Pemikiran: legitimasi filsafat sebagai sebuah persiapan untuk Injil, perlunya filsafat untuk memperdalam dan memformulasikan iman dengan baik, bahwa filsafat tidak cukup untuk menghasilkan keselamatan, proses helenisasi Kristianitas dan Kristianisasi Filasafat Yunani, serta menegaskan unsur-unsur filsafat Kristiani mengenai Allah-Manusia-Dunia.

Legitimasi filsafat sebagai sebuah persiapan untuk Injil: dia menganalogikan bahwa filsafat bagi orang Yunani=Hukum Taurat bagi orang Yahudi sampai kedatangan Kristus. Sampai kepada Kristus berarti sampai kepda pengetahuan Hukum Taurat dan org Yunani yang beri diri kepada filsafat yang disampaikan melalui ajaran Tuhan berarti sampai kepada pengetahuan filsafat yang benar. Ia menegaskan fungsi filsafat sebagai instrumen atau sarana yang mempersiapkan orang yunani untuk beriman. Bagi orang kristen sendiri, filsafat perlu untuk memperdalam dan memformulasikan iman dengan baik.

4 tese penting dari Clement mengenai peranan filsafat:

 Filsafat tidak dapat memproduksi keselamatan: *ia hanya mencapai sebuah bayangan kebenaran tentang dunia yaitu kebenaran kata-kata, bukan kebenaran benda-benda. Krn itu fils sibuk dengan keindahan kata-kata. *kebenaran itu tidak diperoleh langsung dari Tuhan melainkan melalui para nabi dan malaekat.

 Iman lebih tinggi dari filsafat baik dalam hal efeknya (iman itu menyelamatkan) maupun dalam esensinya (iman membuat kita mengetahui baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan)  Tidak ada alasan bagi iman untuk tidak mempercayai filsafat: filsafat mempersiapkan dan

mempertahankan iman, melayani sebagai sarana untuk menghadirkan iman kepada publik, dan membantu mengerti iman dengan lebih baik. Filsafat mempersiapkan iman: mempersiapkan orang Yunani utk kedatangan Kristus, melatih orang utk beriman

 Filsafat dipergunakan untuk mengerti dan memformulasikan iman dengan lebih baik: sebagai penghantar dan penyerta kaum kafir kpd iman, melengkapi instrumen-2 untuk mengerti iman secara alamiah.

4 alasan manusia menempatkan filsafat untuk melayani iman: (1) utk mempengaruhi diri sendiri untuk menerima Sabda Tuhan sebab filsafat merupakan suatu latihan otak (preparatoris), (2) untuk mengerti sedalam mungkin Sabda Ilahi/ajaran iman melalui studi (Kritis), (3) untuk mengajar dengan cakap kebenaran yang diwahyukan (edukasional), (4) untuk mempertahankan kebenaran secara efikak yaitu membedakannya dari ajaran-ajaran sesat (apologetis). Karena ke-4 pelayanan ini, filsafat disebut “ancilla theologiae”

Clement menggunakan filsafat baik secara teoritis maupun praktis yaitu sebagai penolong untuk mengerti, mengorganisir, menyusun, merekonstruksi, mengajar dan mempertahankan wahyu. Dengan filsafat, Ia berusaha 1) mempertemukan dan menyelesaikan masalah relasi iman dan akal budi, filsafat dan teologi. 2) memberikan hak-hak yang penuh dalam Kristianitas terhadap filsafat Yunani dan segala sesuatu mengenai hakekat dan akal budi manusia.

(4)

Unsur-unsur filsafat Kristiani mengenai Allah, manusia dan dunia: Allah dalam konsep Clement beda dgn fils Yunani terutama dalam hal hakekat. Menurutnya ada 3 kesalahan gagasan Yunani menegenai Allah yaitu polytheisme, ketidakmampuan dari para dewa kekurangan mereka akan pemeliharaan terhadap dunia. Polytheismepolytheisme dobel: percaya akan ada-ada yang tidak ada (dewa-dewa) dan atheisme dan kultus terhadap iblis-iblis yang mewakili titik tertinggi dari hal-hal yang tidak berguna. Sumber polytheisme: kekaguman akan keindahan ciptaan, ketakutan akan kekuatan alam, peninggian perasaan-perasaan dan ambisi-ambisi manusia dan pendewaan para pahlawan. Clement menyerang gagasan ini dengan mengemukakan bahwa Allah itu satu dan kesatuan Allah merupakan prinsip lengkap dari segala sesuatu yaitu sebagai prinsip pencipta. Allah itu sempurna dan mandiri yaitu sebagai penyebab yang tidak diciptakan dari mana kesempurnaan dari segala sesuatu itu berasal, ia tidak membutuhkan apapun sebab di dalamnya ada kelimpahan. Allah itu tidak terbatas, tidak terbagai, tanpa dimensi-dimensi, bentuk tanpa nama. Ia mahakuasa dan hadir di mana-mana. Hal ini tampak dari aktivitas-Nya yang menciptakan segala sesuatu dari ketiadaan: surga, dunia dan manusia. Allah itu penyelenggara. Merupakan atribut ilahi yang paling jelas. Merupakan konsekuensi dari kemahakuasaan dan kemahatahuan-Nya. Merupakan karakteristik yang membedakan antara filsafat yang baik dengan filsafat yang buruk sebab filsafat Yunani tidak pernah mengajarkan bahwa Allah memelihara segalanya. Allah itu pencipta dunia dan manusia. Ia merupakan prinsip tunggal dan total dari segala sesuatu, prinsip efisien. Sebagai ada, ia adalah prinsip pertama dalam tindakan sebagai kebaikan, dalam kebiasaan sebagai akal budi, prinsip penalaran dan keputusan. Ia menciptakan manusia secitra dengan diri-Nya (Imago Dei) sehingga manusia mempunyai nilai abadi dan tidak dapat mati, mutlak dan tidak terbatas. Tiga gambaran imago Dei: Logos, orang Kristiani, setiap orang. Dua bentuk Imago Dei: eikon/gambaran alamiah (diterima setiap orang sewaktu lahir, dasarnya: Kej 1:27) dan homoiosis/gambaran supernatural dari orang Kristiani (diterima orang tertentu, dasarnya: pengetahuan dan cinta).

Sang Logos dalam Protrepticus dan Paedagogus=Guru Ilahi. Tujuan manusia adalah untuk menjadi seserupa mungkin dengan Sang Logos dan untuk ditetapkan kembali sebagai anak melalui Putra. Caranya: penguasaan terhadap tubuh yang merupakan suatu kontrol terhadap penderitaan dan imitasi dengan Sang Logos.

Platonisme Kristen dari Clement: ia mengatakan bahwa semua filsafat berisi fragmen-fragmen kebenaran yang keluar dari sumber yang satu yaitu: Sang Logos. Tugas para filsuf Kristen adalah mengumpul;kan fragmen-fragmen ini dengan cara mengarahkan pandangan kepada Sang Logos yang adalah matahari yang memancarkan kebenaran itu. Dengan demikian, ia mengakui kebenaran substansial teologi platonis (kosmologi) Yunani dan memberi dasar rasional yang solid kepada Kristianitas.

Origenes

Murid dan pengganti Clement. Lahir thn 185 di Aleksandria. Studi sastra profan dan Kitab Suci. Belajar pada sekolah Ammonius Saccas. Meninggal thn 253.

Karya: menurut Epiphanius: 600 tulisan, Hironimus: 800. Karyanya antara lain: Exapla (Kitab suci), De principiis (sistem lengkap), Contra Celsum (apologetis melawan kaum kafir, heretik dan pengajar sesat). 3 point pemikiran: pembenaran akan penting dan bergunanya filsafat, sistem dalam De principiis dan simbolisme.

Pembenaran akan pentingnya Filsafat: dukung solusi Clement dengan menegaskan bahwa tidak ada pertentaangan antara keduanya, filsafat bagi kristianitas itu menguntungkan yaitu sebagai persiapan bagi orang Yunani untuk beriman yaitu mengerti dan menerima pewahyuan (sebelu kedatangan Kristus) dan untuk membuktikan kebenaran pewahyuan dengan penalaran (sesudah kedatangan Kristus).

Sistem dalam De Principiis: ia mengaitkan antara kebenaran-kebenaran Kristianitas dengan filsafat. Ia memakai pertimbangan kosmologis. Di sini kita melihat 2 maksud dari risetnya yaitu: argumen sistematis dan argumen rasional/filosofis. Ia bedakan 2 macam kebenaran yaitu: kebenaran yang sudah didefinisikan oleh Gereja (ttg Tuhan, Kristus, Roh Kudus dst) dan yang masih dalam diskusi.

Beberapa point pemikirannya antara lain tentang:

(5)

adalah prinsip segalanya berdasarkan kesederhanaan-Nya, dalam Dia tidak ada komposisi, Dia adalah forma yang paling murni, substansi. Dgn menjadi sederhana dan tidak bertubuh, Ia hanya satu dan tidak ada yang dapat ditambahkan atau dikurangkan dari pada-Nya. Akal budi tidak dapat menangkap bagaimana Dia sebab Ia lebih besar dari apa yang dapat kita pikirkan tentang Dirinya. Kita dapat sampai kepada-Nya melalui keindahan ciptaan. Origenes bedakan antara hakekat ilahi dengan atribut ilahi (cara Dia bertemu dengan ciptaan-Nya). Kitab Suci berbicara tentang Tuhan sedangkan alam berbicara tentang atribut-atribut-Nya.

Penciptaan: Allah menciptakan sesuatu kompleks dari hakikat-2 rasional dan semuanya baik, bebas dan sempurna. Akibat penggunaan kebebasan, ciptaan itu membedakan diri dlm malaikat-2, manusia dan setan-2. Ia menentang tiga kategori kaum gnostik mengenai manusia yang berbeda dalam hakikat (kodrat), asal-usul dan nasibnya. Ia juga melawan teori yang mengatakan bahwa pada awal ciptaan semuanya sama. Menurutnya, Allah adalah Bapa, sumber ada, Logos, paradigma dari yang tercipta. Persoalannya adalah: bagaimana dengan paham creatio ex nihilo dapat dimengerti? Menurutnya, dalam penciptaan ada suatu siklus progresif. Dunia secara kontinyu terus lahir, setelah itu ada satu yang lebih baik dengan kurang jelek sehingga pada akhirnya setan diselamatkan. Karena pandangan ini, ia dituduh heretik oleh Teofilus dari Aleksandria dan Efifanius dalam satu konsili.

Manusia: manusia itu bebasmemilih, berkehendak. Kebebasan memilih merupakan anugerah mendasar manusia. Sebagai binatang berakal budi, manusia mempunyai kemampuan untuk membedakan (baik atau buruk) dan menghakimi (menerima atau menolak) sesuatu. Karena penyalahgunaan kebebasan memilih waktu penciptaan, manusia terbuat dari jiwa dan badan. Gagasan ini tidak jelas sebab Origenes dilain pihak melihat ada yang bertubuh ini sebagai suatu elemen consubstansial dengan jiwa rasional, tanda keterbatasan jiwa. Manusia juga adalah ikonisitas Allah. Ikonisitas ini dalam dua bentuk: yang asli dari penciptaan/donum (merupakan anugerah Tuhan) dan yang konklusif/imitasi Kristus (merupakan konsekuensi dari aplikasi sebagai donum)

Simbol: ada 2: simbolisme metafisis (dalam pengetahuan akan Tuhan baik sifat maupun relasi-Nya dengan dunia) dan simbolisme biblis (dalam penafsiran Kitab Suci). Simbol bisa berwujud benda-benda. Ia merupakan suatu keindahan, harmoni dan interpretasi. Simbol itu penting baik secara anthropologis (sejauh manusia adalah korporeal) maupun secara teologis (sebab akibat dosa asal, Tuhan berbicara kepada manusia melalui simbol-simbol). Jadi, ada 3 alasan adanya simbol: karena kondisi manusia yang korpeoreal (sejauh jiwa masih tercampur dengan tubuh), karena dosa asal, dan karena edukasi ilahi (lewat figur sensibilis). Simbolisme biblis dapat menghantar manusia pada pengetahuan yang lebih sempurna akan Allah karena Kitab suci merupakan gambaran ilahi yang khusus dan lengkap; KS ditulis di bawah bimbingan Roh Kudus. Simbolisme metafisis menghadirkan benda-benda ilahi sebagai gambaran dari realitas ilahi sehingga manusia dapat sampai kepada Tuhan.

Bahasa: berhub dgn ilmu gnoseologi (ilmu mengenal). Dasar gnoseologi: ketidakmampuan mutlak mengetahui hakikat ilahi in se dan adanya simbolisme yang memungkinkan manusia untuk mengetahui sejumlah atribut Allah dan relasi-Nya dengan manusia. dari sini muncul bahasa teologis yang berhubungan dengan dasar ontologis dan ungkapan-ungkapan anthropomorfistis. Dasar ontologis berkaitan dengan simbolisme dan anthropomorfistis berhub dgn atribut Tuhan. Atribut dikenal melalui simbolisme dan simbolisme diungkapkan dalam bahasa teologis. Sarana yang sering dipakai dalam simbolisme dan anthropomorfisme adalah analogi. Dengan ini Origenes melawan Celsus yang menyatakan bahwa Allah tidak dapat dikatakan dalam bahasa anthropomorfistis.

Aurelius Agustinus

(6)

pertobatan victorinus) dan Pontitianus (bercerita tentang St. Antonius dari Mesir), dan KSPB yang ia baca (Rom 13:13-14).

Karya-karya antara lain: karya filosofis (Contra Academicos, De Beata Vita, De Ordine, De Immortalitate Animae, Soliloquia, De Musica, De Libero Arbitrio, De Magistero), karya-karya polemis melawan Manikeisme, Donatisme dan Pelagianisme (antara lain: de Moribus Manichaeorum, Contra Faustum, De baptismo contra donatisme, De natura et gratia dll), karya-2 aksegetis (Quaestionum evangeliorum libri duo, de genesi ad litteram, Tractatus CXXIV in evangelium Ioannius dll), karya pastoral (De Mendacio, De sancta virginitate dll), karya-2 teologis (De doctrina christiana, De trinitate dll), Kotbah-2 dan surat-2, tulisan otobiogrfis (confessiones, Retractationes).

Beberapa momen historis penting yang terjadi pada masanya: aspek politis (orang Kristen tidak lagi dikejar-kejar dan tn 313M agama Kristen menjadi agama negarapemikiran Kristen merasuk dalam berbagai bidang berlawanan dengan hukum kafir dan paganisme), aspek kultur (budaya kafir memudar, budaya Kristen mengalami perkembangan bai di Timur maupun di Barat, filsafat <stoisisme dan Neo-Platonisme>mengalami kejayaan), aspek religius (muncul banyak bidaah).

Pemikiran: sangat dipengaruhi oleh pemikiran platonis. Antara lain tentang:

Pengetahuan: berawal dari keraguannya akan kebenaranpersoalan epistemologis: 1) apakah kita mengetahui kebenaran? dijawab dengan kritiknya terhadap skeptisisme seperti yang terdapat dalam

Contra Academicos 2) bagaimana kita bisa mengetahui kebenaran itu? Dijawab dengan doktrin iluminasi yang menggantikan ajaran Plato tentang reminiscentia (kenang-kenangan) dan Aristoteles tentang abstraksi.

Dalam Contra Academicos (kritik terhadap skeptisisme, ia menyatakan bahwa manusia tahu beberapa kebenaran dengan kepastian misalnya tentang prinsip non-kontradiksi dan pengakuan akan eksistensinya seperti yang ia ungkapkan dengan pernyataan “si fallor sum=jika saya ditipu, saya ada”. 3 alasan melawan skeptisisme: argumen tentang ketidaksepakatan antar filsuf itu tidak sahih (karna pengikut skeptisisme meragukan kebenaran sebab pandapat para ahli berbeda-beda), argumen tentang panca indra yang dapat ditipu juga tidak sah. Karena itu skeptisisme itu salah karena konsekuensi moralnya besar (mereka bisa mempertanyakan apakah ada kebenaran moral). 3 aktivitas kognitif: indera-indera, indera batin, akal budi. Obyeknya: kualitas fisik, hukum-hukum alam, kebenaran abadi. Titik tolak pengetahuan: kodrat manusia yang ingin tahu, tapi lebih dari itu ada kerinduan akan Allah. Mengapa? sebab ternyata manusia terus gelisah dan tidak pernah puas meskipun ia sudah tahu segalanya. Kebenaran juga terarah kepada tujuan pendapat manusia yaitu kebahagiaan dan sikap hidup. Allah adalah sumber kebahagiaan itunilai tertinggi. Karena itu, kebahagiaan ini ada dalam kebenaran. Manusia mampu mencapai kebenaran dengan mencari arti dan makna hidupnya. Agustinus mengikuti ajaran Plato: kebenaran adalah yang tidak tersembunyi (aletheia), terdapat pada apa yang dikenal dan terus diolah dalam pikiran. Ia mengemukakan tiga tingkat pengetahuan: Inderawi, ingatan, akal budi dan illuminasi. Inderawi...empirisme: hanya sarana, tidak mampu memproduksi pengetahuan, dimungkinkan karena kesadaran jiwa. Obyeknya selalu berubah. Ingatan: hadir hanya bila pernah terjadi. Mengingatmenghadirkan kembali apa yang pernah terjadi. Gambaran ingatan lebih hidup, lebih jelas, sama dengan pengalaman. Lupa? Ketidakmampuan ingatan mengenal kembali apa yang terjadi atau yang disebut Agustinus sebagai “ada yang lain”. Akal budi dan illuminasi: Pengetahuan ilmiah diperoleh lewat akal budi yang lebih rendah dengan proses abstraksi. Pengetahuan akan kebenaran abadi diperoleh lewat illuminasi ilahi. Illuminasi adalah suatu terang yang asalnya sendiri abstrak/tidak bertubuh yang memungkinkan kebenaran ilahi dapat dilihat dan dapat dimengerti. Sang Illuminator adalah Allah sendiri. Mengapa? ada dua penafiran: illuminasi memungkinkan kita untuk melihat ide-ide dengan pasti dan untuk mengerti kebenaran keputusan (S-P).

Bahasa: tampak dalam De magistro dan de Doctrina Christiana. Bahasa mpy fungsi instrumental yaitu utk mengkomunikasikan ide-ide yang berasal dari benda-benda. Karena itu, kata-kata mempunyai nilai. Mungkin dapat dikatakan bahwa kata merupakan representasi benda-benda.

(7)

Manusia: dgn akal budi ia mencari penjelasan akan segala realitas. Ditemukan bahwa Tuhan adalah prinsip segalanya. Melalui ciptaan manusia dapat sampai kepada Tuhan sebab ciptaan itu cermin Tuhan meskipun tidak sempurna. Manusia sebagai ciptaan terdiri atas kesatuan jiwa dan tubuh (vs plato). Manusia itu abadi, ia bisa berefleksi (kemampuan interioritas) dan memperbaharui diri terus menerus. 3 aktivitas dasar jiwa manusia: mengingat, mengerti dan berkehendak. Bagi Agustinus, manusia yang baik adalah dia yang mencintai apa yang harus dicintai. Mencintai Tuhan disebut “caritas” dan mencintai diri sendiri dan dunia disebut “cupiditas” (nafsu, hasrat).

Tuhan: adalah prinsip, abadi, tidak terbatas, tidak terpahami, mengatasi ruang dan waktu, satu, Tritunggal dan dikenal lewat ciptaan terutama lewat manusia sendiri. Ia merupakan norma kebenaran. Di dalam Tuhan ada ide yang merupakan paradigma bag ciptaan. Bagi Allah semuanya present (hadir/sekarang).

Dunia: diciptakan dari ketiadaan. Diciptakan karena Allah tidak ingin bahwa suatu ciptaan yang baik tinggal dalam ketiadaapa-apaan (kehampaan, kosong). Soal: Allah menciptakan dalam keabadian atau dalam waktu? waktu bagi Aristoteles = ukuran gerak, Plato=imaginasi yang dapat bergerak dari keabadian, Agustinus=durasi dari satu hakikat terbatas yang tidak dapat semua dari dirinya sendiri, yang perlu fase-fase suksesif dan terus menerus yaitu lampau, present (sekarang yang tidak akan selalu) dan yang akan datang. Waktu tidak ada di luar kita, waktu itu subyektif, ia ada dalam akal budi manusia. waktu di ukur dalam jiwa yang meninggalkan satu kesan sementara melalui ciptaan yang beranekaragam dan merupakan hasil proses rationes seminales.

Kejahatan dan Kebebasan: persoalankalau Tuhan adalah sebab dari semua yang ada, bagaimana dengan kejahatan (malum)? Tuhan bukan sebab dari kejahatan! Agustinus: kejahatan tidak bisa berdiri sendiri, ia harus ada dalam suatu substansi yang dalam dirinya sendiri adalah baik. Malum adalah suatu privasi/kekurangan dari satu kesempurnaan yang seharusnya dimilikinya atau dapat dikatakan sebagai privasi dari yang baik (privatio). Sebab malum adalah ciptaan. Kesalahan menimbulkan penderitaan. Kesalahan menempatkan akal budi dibawah keinginan-keinginan, tidak taat pada hukum ilahi, dan menjauhi kebaikan tertinggi. Keselahan itu tidak lepas dari manusia. Jadi, sebab terakhir dari malum adalah manusia. Kecenderungan manusia untuk menjauhkan diri dari kebaikan tertinggi karena penggunaan kebebasan yang tidak bertanggug jawab menimbulkan penderitaan/malum “malum facimus ex libero voluntatis arbitrio”=kami membuat kejahatan dari kehendak bebas. Jadi, penderitaan adalah konsekuensi dari kesalahan. Kesalahan buat manusia gelisah, penuh ketakutan dan kehilangan sumber kebahagiansituasi dosa. Manusia selamat karena pertolongan rahmat yaitu berkat Yesus Kristus.

Teologi sejarah:dalam “De civitate Dei/ The City of God”. Menurutnya, sejarah dibagi dalam 3 zaman: asal-usul kemanusiaan (diketahui melalui wahyu yaitu diciptakan oleh Tuhan dan diangkat ke level ilahi), waktu lampau yang penuh kejahatan (dijelaskan oleh pewahyuan yaitu kejatuhan asal dan penebusan)dan waktu yang akan datang (masa depan di mana Kristus akan menjadi hakim yang adil bagi semua ciptaan). Visinya mengenai sejarah: sebagai suatu perjalanan dalam garis lurus (linear) yang berangkat dari bumi ke surga. Dalam buku ini, Ia juga berbicara tentang hubungan Gereja dan negara, antara kota surgawi (cinta kepada Tuhan/orang baik, para malaikat dan orang-2 suci) dan duniawi (cinta kepada diri sendiri/orang jahat, pendosa, setan). Arti sejarah ditentukan dalam dualisme ini. kota Allah adalah perjalanan dari HabelAbrahamKristus, kota duniawi dari pembunuhan Habel oleh Kainsejarah kaisar-kaisar besar dunia.

Gregorius dari Nyssa

Hidup:Lahir di Nyssa skt 335. Adik Basilius dan Macrina. Konsentrasi pada studi filsafat dan retorika. Sebagai seorang filsuf ia mempertimbangkan dan memikirkan kembali berbagai argumen yang sebelumnya dibatasi tempatnya oleh para pemikir lain. Ia mengikuti jejak Philo dan Neo-Platonis Plotinus. Usia 16 thn masuk biara. Atas pengaruh Basilius ia menjadi uskup Nyssa tapi karna bertengkar dengan Basilius ia dipecat oleh kaisar. Setelah kaisar meninggal ia kembali menjadi uskupuskup agung Sebastis. Pendukung terbesar ortodoksi dalam konsili 381. Meninggal thn 394

(8)

segi doktrinal, tema antara lain tentang Trinitas, penciptan, kejatuhan, ikarnasi, penebusan), De Anima et Resurrectione (ditulis waktu kematian Macrina, topik, hakekat dan tujuan jiwa: immortalitas, kebangkitan dan balas jasa) dan De Hominis Opificio (tentang anthropologi Kristiani dalam perspektif Neo-PlatonisImago Dei)

Pemikirannya antara lain tentang:

Allah: transendensi, ketidakdapatdimengertian, tidak terkatakan: Eunomiusmanusia dapat mengetahui dengan sempurna hakekat Allah melalui atribut “agennesia” yang merupakan suatu sifat ekslusif Allah sehingga Putra tidk bisa merupakan Allah. Ditentang Gregorius dengan tesis ketidakmampuan mutlak manusia untuk Allah dan bahwa Allah itu tidak terkatakan sebab manusia sebagai ciptaan secara kualitatif esensial berbeda dari Allah yang adalah pencipta. Plotinus menyebutnya kesederhanaan dari yang satu. Argumen 1: yang tidak terbatas. Dlm fils Yunani mpy konsep negatif krn itu tidak pernah diperuntukkan bagi Tuhan tapi utjk materi. Gregorius:dlm arti positifsebagai sesuatu yang berisi setiap kesempurnaan, tanpa restriksi, tidak ada ukuran yang dapat megukurnya, tanpa dimensi, hakikatnya tidak tersentuh kejahatan dan tidak berubah. Karena itu, konsep dan kata-kata manusia tidak mungkin mengungkapkan dengan sempurna hakikat Allah sebab Ia melampaui pemikiran dan kata-kata manusia. Gregorius menyatakan bahwa manusia memang bisa sampai kepada Allah dalam tiga cara: ketika mereka dimurnikan dari kesalahan dan kejahatan (bisa setiap orang), melalui hal-hal yang sederhana dalam hidup manusia, melalui suatu cara yang terus menerus sebab perjalanan menuju Allah itu merupakan suatu proses (bahkan cara itu bisa ditemukan dalam kegelapan). Argumen 2: Tuhan yang tidak dapat diketahui dan tidak terkatakan: perbedaan kualitatif esensil antara pencipta dan ciptaan. Dunia yang tercipta dan yang tidak tercipta mempunyai struktur yg khas (berbeda) dan tidak ada hubungan langsung, tidak ada titik temu yang umum. Kekhasannya adalah bahwa Tuhan (dunia yang tdk dicipta) mengatasi semua bentuk pemikiran dan jiwa manusia tidak berdaya untuk mencapainya dengan fakultas kognitif. Menurutnya, ketidakdapatdimengertian Tuhan tidak berkurang meskipun manusia memiliki ikonisitas ilahi dalam ciptaan, hakekat Allah tetap tidak terlukiskan meskipun tampak sebagai suatu pembicaraan yang cukup, pikiran tentang Tuhan tetap tidak terkatakan. Mengapa? menurutnya, Allah dan manusia berbeda pada tataran ontologis (Allah selalu melebihi apa yang dapat dilakukan manusia). Karena itu, ia menyimpulkan bahwa di hadapan Tuhan manusia hanya bisa diam/bersikap hening. Kendati demikian, manusia bukan sama sekali tidak dapat mengetahui Tuhan. Buktinya, Tuhan yang melampaui setiap nama mendapat nama sejauh Dia disebut menurut multiplisitas karya-karyaNya (aspek dinamis karya Tuhan). Oleh sebab itu, Gregorius menyatakan bahwa kerinduan akan tidak pernah berhenti sebab kita menunggu sesuatu yang selalu lebih mulia dan ilahi daripada yang kita kontemplasikan. Dengan logika Aristoteles ia menegaskan ketidakmampuan utk mengetahui Tuhan: tidak mungkin mendiskusikan yang tidak terbatas, orang hanya dapat mencapai karya-Nya (melalui keindahan dan kebesaran dunia), bukan hakikat-Nya.

Penciptaan manusia, sebagai ikon Allah: manusia ciptaan terkahir sebagai kepala dan berkuasa atas alam semesta. Kodrat manusia: ilahi dan manusiawi shg ia dapat menikmati baik Tuhan maupun dunia. 2 tindakan Allah yang berbeda dlm penciptaan: (1) penciptaan manusia yang ideal (2) penciptaan manusia historis. Allah memateraikan manusia sebagai gambaran-Nya, memberi kebebasan kehendak dan kekuasaan atas alam semesta. Kehendak bebas adalah hak terakhir akan kesempurnaan dan keluhuran. Ikonisitas juga berkaitan dengan latihan utk menguasai alam semesta. Krn itu manusia mpy kehidupan, rasio, keutamaan dan semua kebaikan utk melayani Tuhan sehingga terima kasih kepada benda-benda (melalui pelestarian dan pemeliharaanya) merupakan pelayanan untuk Tuhan. Ikonisitas manusia historis: manusia diciptakan laki-laki dan perempuan. 2 arah ikonisitas manusia historis: akan Allah (Imago Dei) melalui jiwa dan sarana-sarananya dan akan ciptaan (imago naturae) melalui tubuh dan seksualitas

(9)

para nabi hingga anak-Nya sendiri yaitu Yesus Kristus dan juga sakramen-sakramen. Dengan mengusahakan “imago Dei” melalui imitasi Yesus Kristus manusia dapat bangkit dari kejatuhannya. Perjalanan jiwa menuju “imago Dei” ini merupakan suatu proses tanpa akhir dan bersifat komunal sebab rahmat pengudusan tidak diterima untuk diri sendiri tapi utk berkerjasama demi pengudusan jiwa-jiwa lain. Oleh sebab itu, Gregorius menyatakan bahwa Kristianitas adalah imitasi akan hakikat ilahi.

Referensi

Dokumen terkait

Bedasar pada latar belakang dan ma- salah yang telah diungkapkan di depan, bahwa penting bagi seorang arsitek untuk menggali kemampuan dari dalam dirinya, memahami dirinya

Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah(Lembaran Negara

Wallpaper sangat praktis di gunakan untuk menggantikan cat dinding sebab bahan tersebut banyak sekali motif yang sangat unik sehingga sangat tepat jika anda menggunakan bahan

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui penerapan pendekatan PAKEM untuk meningkatkan motivasi belajar siswa kelas III SD dalam pembelajaran menulis karangan

Fakultas Kesehatan Masyarakat pada umumnya merupakan Fakultas yang mempelajari ilmu kesehatan masyarakat dalam hal preventif atau pencegahan suatu penyakit baik menular maupun

Pada penelitian ini dipakai limbah padat kunyit yang ditambahkan ke dalam pakan ayam.. Tujuan penelitian adalah untuk menentukan dosis yang tidak toksik pada limbah

Dari sini dapat disebut bahwa batas dinding merupak an pencegah masuknya orang lain, karenanya pintu-pintu sebagai dinding pemisah agar mencegah orang yang masuk

Kondisi pada kuadran II ini merupakan kondisi yang cukup rawan karena akan menjadi ajang kepentingan banyak pihak, termasuk pihak asing untuk berebut memanfaatkan (eksploitasi)