• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebohongan Pada Anak.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Kebohongan Pada Anak."

Copied!
1
0
0

Teks penuh

(1)

Riasnugrahani, Missiliana, Cakrawala (BPK Penabur Cimahi Newsletter), Edisi Desember 2008

Kebohongan pada anak

Salah satu hal yang diperhatikan secara serius oleh para orangtua adalah kebohongan pada anak. Orangtua biasanya menjadi kaget dan panik jika mengetahui anaknya mulai berbohong.”Siapa sih yang ngajarin kamu berbohong?” demikian biasanya orangtua menegur anaknya. Tapi sadarkah anda bahwa si kecil sering kali belajar berbohong dari orang tuanya sendiri? Pernah anda berjanji akan memberikan mainan jika ia bersikap baik dan anda ’lupa’ memberikannya? Atau, pernahkah anda berkata pada anak untuk mengatakan pada tamu yang datang bahwa anda sedang tidur hanya karena anda malas menemui tamu tersebut? Salah satu kesalahan yang sering dilakukan orangtua adalah ’mengajarkan’ anaknya berbohong, meskipun anda merasa hal itu adalah ’kebohongan putih’. Anda kerapkali ’mencontohkan’ bahwa perlu menjaga perasaan orang lain dengan mengatakan yang sebaliknya. Misalnya saat bertamu dan dihidangkan kue, anda mungkin mengatakan kuenya enak, padahal sebenarnya tidak enak. Anak anda mungkin bertanya-tanya, mengapa orangtuanya berbohong, padahal jelas-jelas kuenya tidak enak. Jadi sebenarnya bagaimana kita harus menyikapi kebohongan pada anak? Berikut beberapa hal yang dapat dicermati tentang kebohongan anak.

Usia anak. Arti dan motivasi anak berbohong berbeda-beda sesuai dengan usianya. Anak usia 3 tahunan biasanya berbohong karena belum bisa membedakan antara fantasi dan kenyataan. Anak kadang-kadang bercerita tentang fantasinya pada teman-temannya tanpa ada maksud berbohong. Anak-anak ini pun biasanya mudah lupa pada apa yang telah dilakukannya, sehingga ketika ia mengatakan ’tidak tahu’ dimana ia sembunyikan kacamata ayahnya, ia tidak bermaksud berbohong, tapi karena ia lupa telah melakukannya. Anak usia 4-6 tahun, telah mengetahui mana yang benar dan salah, mana yang fantasi dan kenyataan. Anak mulai membangun rasa bersalah, sehingga kebohongan terkadang dilakukan untuk menghindari hukuman. Anak juga mulai ingin mendapatkan perhatian lebih sehingga berbohong merupakan salah satu strategi untuk menarik perhatian. Anak usia 7-8 tahun lebih mampu membedakan ’jenis’ kebohongan, antara kebohongan yang buruk dan kebohongan baik (kebohongan putih atau kesopanan). Oleh karena itu pada usia ini kita dapat mulai mengajarkan dia untuk bersikap sopan, menjaga perasaan orang lain dengan ’mengatakan sebaliknya’. Misalnya mengatakan kuenya enak padahal ia tidak menyukainya. Sedangkan pada usia remaja, kebohongan biasanya dilakukan untuk melindungi privasi, membangun independensi, ataupun menghindari hukuman.

Hukuman. Hukuman atas kebohongan memang perlu dilakukan agar anak anda memahami konsekuensi dari ketidakjujuran. Namun sebagai orangtua perlu bijaksana dalam memberikan hukuman pada anak agar tujuan mendidik anak dapat tercapai. Berikan hukuman dengan penuh kasih, sehingga anak anda menyadari bahwa perilakunya salah tapi cinta orangtuanya tidak pernah hilang untuknya. Jadilah teladan baginya dalam hal kejujuran, ini lebih efektif karena anak lebih cepat meniru orangtuanya. Berikan pujian atas kejujurannya, ini lebih baik daripada memberikan hukuman pada kebohongannya. Oleh karena itu jika anak anda mengakui kesalahannya, jangan langsung dimarahi, tapi hargai dulu kejujurannya, setelah itu baru luruskan kesalahannya. Jangan memberikan hukuman fisik, hal ini membuat anak takut untuk mengakui kesalahannya dan cenderung berbohong. Lebih baik berikan hukuman yang mendidik, misalnya jika ia berbohong pada temannya maka ia harus meminta maaf dan menjelaskan yang sebenarnya pada teman. Hal ini terkadang menimbulkan rasa malu, yang cukup membuat anak merasa jera untuk berbohong. Jelaskan pula, bahwa dalam pertemanan yang sehat, kejujuran merupakan nilai yang terpenting.

Referensi

Dokumen terkait

Pengasuhan ibu pada anak usia dini dari sisi budaya jawa merupakan cara orangtua dalam mendidik anak untuk menjadi anak yang njawani. Kekhasan yang tampak adalah

Karena dalam pandangan Al-Ghazali anak pada usia ini sudah dapat membedakan sesuatu yang baik dan yang buruk yang diistilahkannya dengan li isyroqi nuuri al-'aqli 'alaihi

Masa akhir kanak-kanak menurut psikologi islam adalah tahap tamyiz, fase ini anak mulai mampu membedakan yang baik dan buruk, yang benar dan yang salah, pada usia Nabi

Berdasarkan usia dan jenis kelamin, anak laki-laki usia 8-12 tahun cenderung memiliki rentang tangan yang lebih panjang dibandingkan dengan tinggi badan, sedangkan

Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa anak usia 5-6 tahun pada saat bermain dakon telah mampu membedakan ukuran besar dan kecil pada lubang dakon.. Ketika anak

 Usia di mana anak sudah bisa membedakan antara yang baik dan yang buruk, bisa membedakan antara yang bermanfaat dan yang.

Perhitungan dengan menggunakan rumus Dilling ini biasanya digunakan pada anak usia 8 tahun ke atas: Da = n/20 x Dd mg Contoh soal: seorang anak 12 tahun sedang mengalami demam tinggi,

Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk membahas perkembangan semantik pada anak usia 8 tahun atau setara kelas 2 SD dengan menggunakan teori jenis-jenis makna pada kajian semantik,