• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PUSHOVER DAN DAKTILITAS GEDUNG STRUKTUR BETON BERTULANG Studi Kasus : Gedung Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ANALISIS PUSHOVER DAN DAKTILITAS GEDUNG STRUKTUR BETON BERTULANG Studi Kasus : Gedung Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat."

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS

PUSHOVER

DAN DAKTILITAS GEDUNG

STRUKTUR BETON BERTULANG

Studi Kasus : Gedung Dinas Kesehatan Provinsi

Sumatera Barat

TUGAS AKHIR

Diajukan Sebagai Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Program Strata-1 Pada Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik

Universitas Andalas Padang

Oleh

RIESZKI SYAH FITRI

1010921007

Pembimbing

RIZA ARYANTI, M.T.

RENDY THAMRIN, Dr.Eng.

JURUSAN TEKNIK SIPIL-FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS ANDALAS

(2)

ABSTRAK

Perencanaan struktur bangunan gedung tahan gempa di Indonesia

menjadi suatu hal yang sangat penting mengingat sebagian besar wilayah

Indonesia terletak dalam wilayah gempa cukup tinggi. Salah satu contoh wilayah

yang sering terjadi gempa adalah Sumatera Barat. Penelitian ini bertujuan untuk

evaluasi terhadap pembangunan rekonstruksi gedung Dinas Kesehatan Provinsi

Sumatera Barat pasca gempa bumi yang terjadi tahun 2009 lalu, evaluasi yang

dilakukan meliputi evaluasi daktilitas dan kuat penampang struktur.

Dalam penelitian ini, Penulangan elemen struktur didesain setelah

melakukan analisis struktur dengan mengacu pada SNI 1762.2012 tentang Tata

Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Bangunan Gedung dan Non Gedung

dan data gempa berdasarkan kondisi gempa di kota Padang serta melakukan

perbandingan dengan penulangan yang telah digunakan pada lapangan. Setelah

desain tulangan didapatkan, kemudian dilakukan analisis struktur akibat beban

gempa dengan analisis pushover. Selanjutnya dilakukan analisis kekuatan penampang struktur (balok dan kolom) tersebut. Dari analisis pushover

didapatkan nilai daktilitas struktur dan lokasi terjadinya sendi plastis.

Setelah analisis lebih lanjut, dapat dilihat bahwa kerusakan awal

terjadi pada balok. Hasil tersebut telah sesuai dengan prinsip perencanaan strong

column weak beam.

(3)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Perencanaan struktur bangunan gedung tahan gempa di Indonesia

menjadi suatu hal yang sangat penting, mengingat sebagian besar

wilayah Indonesia terletak dalam wilayah gempa cukup tinggi. Salah

satu contoh wilayah yang sering terjadi gempa adalah Sumatera Barat,

dimana gempa besar yang terjadi pada tahun 2009 lalu, telah

mengakibatkan korban jiwa dan material, kerusakan gedung dan

prasarana. Pasca gempa, bangunan yang rusak atau runtuh karena

kegagalan dalam perencanaan struktur telah dilakukan rehabilitasi atau

rekonstruksi dengan merencanakan struktur bangunan tahan gempa.

Pada bangunan bertingkat yang sangat rawan terhadap

keruntuhan tersebut harus direncanakan dengan baik. Oleh karena itu,

diperlukan suatu perencanaan struktur yang tepat dan teliti agar dapat

memenuhi kriteria kekuatan (strength), kenyamanan (serviceability),

keselamatan (safety), dan umur rencana bangunan (durability) (Hartono,

1999).

Perencanaan struktur gedung tersebut pada umumnya

menggunakan metoda linier dinamik (spektra respons) dengan nilai

kemampuan nominal struktur harus sama atau lebih besar dari nilai

total beban terfaktor (metode perencanaan batas). Namun

Perencanaan dengan metode tersebut tidak memperlihatkan kondisi

(4)

2

batas kekuatannya dalam mekanisme keruntuhan, terutama akibat

beban gempa.

Metoda respons spektrum akan menghasilkan hasil perencanaan

penampang struktur yang linear atau berbanding lurus dengan gaya

geser akibat beban gempa rencana yang digunakan. Dengan kata lain,

beban rencana ultimate akan ditahan oleh kapasitas struktur maksimum

pula. Hal ini akan sedikit berbeda dengan metoda analisa pushover yang

menggunakan analisa non linear. Perbedaannya adalah kapasitas

rencana yang digunakan bukan berdasarkan beban rencana ultimate

namun beban saat struktur mulai mengalami leleh (yield) atau sendi

plastis yang pertama. Sedangkan pada saat beban mulai bertambah

hingga mencapai beban rencana ultimate, struktur akan mengalami

perilaku plastis yang diiringi dengan perpindahan titik puncak yang

semakin jauh serta mulai mengalami kerusakan-kerusakan minor hingga

akhirnya struktur tersebut runtuh (failure).

Dalam perencanaan dengan analisa pushover, struktur memang

akan mengalami kerusakan tertentu. Namun,

kerusakan-kerusakan tersebut harus dikontrol dengan prinsip “kolom kuat, balok

lemah” sehingga kerusakan yang terjadi tidak membahayakan para

penghuni dari struktur tersebut. Dengan kata lain, struktur boleh rusak

namun tidak terjadi keruntuhan yang tentu saja harus dikontrol

sedemikian rupa sehingga tidak membahayakan orang-orang.

(5)

3 1.2. Tujuan dan Manfaat

Tujuan dari penulisan tugas akhir ini adalah;

1. Menghitung nilai daktilitas dari struktur dengan analisa

pushover .

2. Menganalisis kekuatan penampang struktur (balok dan kolom)

yang telah dianalisis sebelumnya.

Manfaat yang diharapkan adalah memberikan pemahaman dan

pembelajaran kepada penulis bahwa dalam perencanaan suatu struktur

harus dilakukan analisis lebih lanjut dengan memakai analisa puhover

sebagai salah satu pembanding dalam merancang suatu struktur gedung

bertingkat. Sehingga saat terjadi peristiwa gempa, gedung yang telah

dirancang tidak langsung runtuh sehingga dapat menyelamatkan dan

memberikan waktu evakuasi yang cukup bagi orang-orang yang ada

didalamnya.

1.3. Batasan masalah

Batasan masalah dalam penulisan Tugas Akhir ini adalah sebagai

berikut :

1.

Struktur bangunan yang digunakan adalah gedung Dinas

Kesehatan Provinsi Sumatera Barat.

2.

Mutu beton dan mutu baja tulangan sesuai dengan data proyek

pembangunan gedung tersebut.

3.

Elemen struktur yang menjadi objek adalah kolom dan balok.

4.

Perhitungan dan analisa struktur dilakukan dengan 3 dimensi.

Beban-beban yang diperhitungkan dalam analisa struktur

(6)

4

a) Beban mati / berat sendiri bangunan (dead load)

b) Beban hidup (live load)

c) Beban gempa (earthquake load)

5.

Desain dan analisis tulangan menggunakan software ETABS

(Extended 3D analysis of Building Systems)versi 9.7.2.

6.

Analisis pushover menggunakan ETABS untuk mendapat nilai

daktilitas.

7.

Analisis penampang menggunakan program RCCSA versi.4.0

(reinforced Concrete Cross Analysis).

8.

Penyusunan tugas akhir ini berpedoman pada

peraturan-peraturan sebagai berikut:

SNI 03-2847-2002 tentang Tata cara Perhitungan Struktur

Beton Untuk Bangunan Gedung

SNI 03-1726-2002 tentang Tata Cara Perencanaan

Ketahanan Gempa Untuk Struktur Bangunan Gedung

SNI 03-1727-1989-F tentang Tata Cara Perencanaan

Pembebanan untuk Rumah dan Gedung

SNI 1762-2012 tentang Tata Cara Perencanaan Ketahanan

Gempa untuk Bangunan Gedung dan Non Gedung.

1.4 Sistematika penulisan

Untuk dapat memperoleh penulisan yang sistematis dan terarah,

maka alur penulisan Tugas Akhir ini akan dibagi dalam enam bab

dengan rincian sebagai berikut:

(7)

5

Pada bab ini diuraikan tentang latar belakang, tujuan dan

manfaat, batasan masalah, spesifikasi teknis, dan sistematika penulisan.

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini berisikan tentang dasar-dasar teori yang digunakan

dalam proses evaluasi bangunan.

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini berisikan tentang urutan pekerjaan yang dilakukan

dalam proses penyusunan Tugas Akhir ini dan ditunjukkan dalam

flowchart.

BAB IV : PROSEDUR DAN HASIL KERJA

Bab ini berisikan tentang tatacara proses pengerjaan yang

terdiri dari pemodelan struktur, pembebanan struktur, dan hasil analisis

struktur.

BAB V : ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Bab ini berisikan mengenai analisis dan pembahasan hasil

evaluasi.

BAB VI : KESIMPULAN

Bab ini berisikan tentang kesimpulan yang diperoleh dari hasil

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkam untuk kelas kontrol total kemampuan pemahaman konsep sebesar 460 atau sekitar 57,5% dari skor total, 2Kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang memperoleh

Sedangkan untuk bangkitan kampus Universitas Bina Darma terhadap ruas jalan Jenderal Ahmad Yani yaitu 4.54% dengan bangkitan Universitas Bina Darma 64 pergerakan

Hal ini dapat disimpulkan bahwa kadar abu pada kerupuk pisang kepok kuning lebih tinggi dibandingkan dengan Standar Nasional Indonesia untuk kerupuk udang yang digunakan sebagai

(1) Pemegang IUP Operasi Produksi yang telah memperoleh perpanjangan IUP Operasi Produksi sebanyak 2 (dua) kali sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 ayat (6), dalam jangka waktu

Dari ketiga hal tersebut apabila dihubungkan dengan kasus di atas, maka dapat terlihat implikasi yang dapat disebabkan oleh putusan Pengadilan Negeri dan

Raya Mapanget, Kecamatan Talawaan Kabupaten Minahasa Utara TKDN: Tidak Belanja modal Perencanaan dan Pengawasan Gedung dan Bangunan Penunjukan Langsung 38.000.000 8 Penelitian

Alhamdulillāh, puji dan syukur atas hadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan karunia-Nya lah, penulis dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhir yang