• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN ALOKASI ANGGARAN PENDIDIKAN: Studi Alokasi Anggaran dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Dasar Sembilan Tahun di Provinsi Jawa Barat.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "IMPLEMENTASI KEBIJAKAN ALOKASI ANGGARAN PENDIDIKAN: Studi Alokasi Anggaran dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Dasar Sembilan Tahun di Provinsi Jawa Barat."

Copied!
58
0
0

Teks penuh

(1)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... iv

KATA PENGANTAR ... vi

UCAPAN TERIMA KASIH………... viii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR GRAFIK ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang………. 1

B. Fokus Penelitian ………. 7

C. Pertanyaan Penelitian………... 8

D. Tujuan Penelitian………. 8

E. Manfaat Penelitian……… 9

F. Metode Penelitian ……… 10

BAB II KAJIAN PUSTAKA A.Anggaran Pendidikan dalam Konteks Administrasi Pendidikan………... 12

(2)

ii

C. Kerangka Konsep Pendidikan Dasar ... 33

D. Kerangka Konsep Pendidikan Bermutu... 43

E. Otonomi Daerah dan Desentralisasi Pendidikan... 50

F. Alokasi Anggaran Pendidikan... 53

G. Kesimpulan Tinjauan Pustaka... 74

H. Kerangka Pikir Penelitian………. 75

I. Premis Penelitian……… 78

BAB III METODE PENELITIAN A. Objek Penelitian………. 80

B. Metode Penelitian………... 81

C. Pendekatan Penelitian……… 81

D. Lokasi Penelitian………. 82

E. Jenis Data Penelitian………... 83

F. Sumber Data Penelitian……….. 85

G. Teknik Mendapatkan Informan ... 87

H. Teknik dan Proses Pengumpulan Data... 88

I. Keabsahan Data... 93

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian……….. 95

(3)

iii BAB V MODEL ALTERNATIF IMPLEMENTASI ALOKASI ANGGARAN

PENDIDIKAN

A. Pengertian Model……… 247 B. Faktor Internal dan Eksternal Pendidikan di Provinsi Jawa Barat 249 C. Rasionalitas dan Urgensi Pengembangan Alternatif Model

Strategi ………... 254 D. Konstelasi Model ……… 254 E. Pengembangan Alternatif Model Kebijakan Alokasi Anggaran

Pendidikan di Provinsi Jawa Barat………. 257

BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan………. 261 B. Rekomendasi ……… 263

(4)

iv DAFTAR TABEL

[image:4.595.111.511.202.710.2]

Tabel

2.1 Stakeholders dalam Kebijakan Otonomi Daerah... 24

4.1 Pendapatan Daerah Tahun 2009………. 98

4.2 APBD Pemprov Kabupaten /Kota se Jawa Barat Tahun Fiskal 2007 (dalam Miliar Rupiah)………. 101

4.3 Alokasi Anggaran Pendidikan Tahun 2009... 122

4.4 Realisasi Anggaran Tahun 2009 Dinas Pendidikan ... 123

4.5 Alokasi Anggaran Pendidikan yang Berasal dari APBN………... 129

4.6 Jumlah SD dan SMP se-Jawa Barat………... 143

4.7 Alokasi Dana BOS Provinsi Jawa Barat………. 145

4.8 Anggaran Pendidikan Kota Bandung………. 146

4.9 Jumlah Lulusan SD dan SMP se-Jawa Barat……….. 150

4.10 Indikator Kinerja Pembangunan Daerah di Bidang Pendidikan……… 152

4.11 Pembagian Peran OPD dalam Penjaminan Mutu Pendidikan ……….. 157

4.12 Hasil Akreditasi Sekolah di Provinsi Jawa Barat………... 162

4.13 Jumlah dan Tingkat Pendidikan Guru SD dan SMP se-Jawa Barat………. 166

4.14 Target dan Capaian Indeks Pendidikan Jawa Barat………... 179

4.15Kerangka Waktu Pencapaian Misi Mewujudkan Sumber Daya……… 194

4.16 Tahapan Alokasi Anggaran Pendidikan di Provinsi Jawa Barat…….... 199

4.17 Konversi Belanja ke Dalam Biaya Pendidikan……….. 206

(5)

v

4.19 Prosentase PUC Terhadap Biaya Yang Dibutuhkan………... 211

4.20 SPN, SPM dan Pencapaian Makro ……….... 223

4.21 Realisasi Input dan Output………. 236

4.22 Skala Penilaian………. 238

(6)
[image:6.595.112.512.143.633.2]

vi DAFTAR GAMBAR

Gambar

2.1Model Manajemen Stratejik... 19

2.2 Tipe Analisis Kebijakan... 27

2.3 Pendekatan Membangun Sistem Manajemen Mutu... 47

2.4. Kerangka Pikir Penelitian... 77

4.1 Sumber-sumber Penerimaan Daerah……… 96

4.2 Proses Penyusunan RPJP Daerah Provinsi Jawa Barat……… 104

4.3 Perencanaan Strategis Provinsi Jawa Barat……….. 106

4.4 Proses Penyusunan dan Penetapan APBD Jawa Barat……….... 118

4.5 Strategi Peningkatan Mutu Pendidikan di Jawa Barat ……… 155

(7)
[image:7.595.117.510.230.627.2]

vii DAFTAR GRAFIK

Grafik

1.1 Tingkat Pendidikan yang Ditamatkan Penduduk Provinsi Jawa Barat

(8)

viii DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran-Lampiran

1 Matriks Instrumen Penelitian

2 Data

1) Catatan Observasi

2) Catatan Wawancara

3) Catatan Peneliti Sebagai Human Instrument

(9)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Provinsi Jawa Barat merupakan provinsi yang pertama dibentuk di Hindia Belanda yang kemudian menjadi Indonesia (Staatsblad 1925 No. 378), baru kemudian menyusul Provinsi Jawa Tengah pada tahun 1928 dan Provinsi Jawa Timur pada tahun 1929. Pembentukan provinsi-provinsi dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda dalam rangka otonomi yang dicetuskan oleh Ratu Belanda pada tahun 1901. Sedangkan istilah Jawa Barat (West Java) sudah dikenal sejak tahun 1880, sejak Pulau Jawa dibagi atas tiga daerah militer, yaitu Daerah Militer I atau Jawa Barat, Daerah Militer II atau Jawa Tengah dan Daerah Militer III atau Jawa Timur (West Java Miracle Sight a mass of verb and scene information, 2005: 18).

Peradaban masyarakat Jawa Barat sangat dipengaruhi oleh alam yang subur. Dalam perilaku sosial terdapat suatu falsafah yang melandasi masyarakat Jawa Barat yaitu falsafat silih asuh, silih asih dan silih asah. Filosofi tersebut mengajarkan manusia untuk saling mengasuh yang dilandasi sikap saling mengasihi dan saling berbagi pengetahuan serta pengalaman, suatu konsep kehidupan demokratis yang berakar pada kesadaran dan keluhuran akal budi (2005:22).

(10)
[image:10.595.104.509.231.604.2]

2 Secara umum derajat pendidikan dapat dilihat dari jenjang pendidikan yang ditamatkan. Artinya semakin banyak penduduk yang menyelesaikan jenjang pendidikan yang lebih tinggi, maka hal tersebut sudah mengarah pada indikasi adanya peningkatan kualitas SDM. Selain itu derajat pendidikan dilihat secara luas, yaitu meliputi pendidikan formal maupun non-formal.

Grafik 1.1 Tingkat Pendidikan Yang Ditamatkan Penduduk Jawa Barat Tahun 2007 (Sumber :Pemerintah Propinsi Jawa Barat, 2008)

Berdasarkan data tahun 2007, penduduk Jawa Barat kebanyakan baru menyelesaikan pendidikannya pada jenjang SD, yaitu 38,07%, bahkan 23,27% tidak tamat SD. Persentase penduduk yang tamat SLTP atau SLTA hampir sama yaitu 17%, sedangkan yang menamatkan jenjang akademi atau universitas sekitar 5%. Sementara data BPS (Maret 2009) menunjukkan bahwa sampai dengan tahun 2008, rata-rata lama sekolah penduduk Jawa Barat baru mencapai 7,91 tahun, yang berarti pendidikan dasar sembilan tahun belum tercapai. Karena itu Gaffar 0

1 10 11 20 21 30 31 40

(11)

3 dalam Ali dkk. (2007:568) menyatakan bahwa “usaha untuk melanjutkan pelaksanaan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun” dan “ peningkatan alokasi anggaran pendidikan dan peningkatan fungsi-fungsi pengawasan” merupakan bagian dari “agenda mendasar …untuk memajukan sistem pendidikan nasional” .

Pelaksanaan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun memerlukan upaya-upaya yang terintegrasi dalam program-program pembangunan pendidikan yang membutuhkan belanja langsung maupun tidak langsung baik pada tingkat Pemerintah, Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Kota /Kabupaten. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, diperlukan kebijakan alokasi angggaran pendidikan untuk memastikan ketersediaan sumber pembiayaan pendidikan yang merupakan bagian integral dari APBN maupun APBD sebagai implementasi otonomi daerah di bidang pendidikan.

(12)

4 sumber-sumbernya. Sumber-sumber pendapatan pemerintah dan pemerintah daerah berasal dari pajak, retribusi, hasil pengelolaan kekayaan Negara/daerah, hibah, bantuan maupun pinjaman.

Menurut Thomas dalam Encyclopedia Americana Vol. 9 , besaran anggaran pendidikan berkaitan dengan kemampuan pemerintah dalam mengalokasikan anggaran yang berbeda-beda di tiap Negara dan daerah. Di Israel mencapai 17% dari APBN, Jepang 6,5%, Inggris 4,6% dan Bangladesh 0,01% (2001:736). Sedangkan besaran anggaran pendidikan di Indonesia sejak akhir dasawarsa 90-an mencapai 20% dari APBN, termasuk gaji guru di dalamnya.

Menurut data dari Majalah TEMPO, pada tingkat daerah juga terjadi variasi, di provinsi Riau mencapai 23%, di Kabupaten Wonosobo mencapai 47% dan di Provinsi Jawa Barat sejak tahun 2009 mencapai 20% dari APBD. Perbedaan tersebut berkaitan dengan adanya otonomi daerah sejak tahun 1999 yang memberikan keleluasaan bagi daerah untuk mengatur rumah tangganya berdasarkan kemampuan daerahnya, termasuk di dalam bidang pendidikan. Otonomi daerah dapat dijalankan karena adanya desentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan. Rasionalitas kehadiran desentralisasi menurut Rodinelli & Cheema (1983:14-16) ialah bahwa desentralisasi merupakan

…cara yang ditempuh untuk mengatasi keterbatasan karena perencanaan yang bersifat sentralistik dengan mendelegasikan sejumlah kewenangan kepada pejabat di daerah yang tahu betul masalah yang dihadapi masyarakat.

(13)

1 masyarakat. Ketentuan tersebut menyiratkan sebuah diskresi dan tanggung jawab bagi pemerintah daerah.

Pada tahun 1999/2000 anggaran pendidikan di Jawa Barat baru mencapai 7,57% dari APBD. Hingga tahun 2008 alokasi anggaran untuk pendidikan baru mencapai 11% dari total APBD, itu artinya baru mencapai besaran Rp 800 miliar dari Rp7 triliun APBD. Karena kuatnya tuntutan masyarakat dan dorongan anggota DPRD pada tahun 2009 menjadi 20% dari APBD atau Rp 1,6 triliun dari Rp 8 triliun besaran APBD. Dari anggaran pendidikan tersebut, alokasi anggaran untuk pendidikan dasar hanya Rp 111,99 miliar yang berarti kurang dari 10% dari total anggaran pendidikan padahal menurut Bank Dunia pada umumnya negara-negara Asia mengalokasikan dana pemerintah untuk pendidikan dasarnya mencapai 48%, bahkan di Amerika Serikat mencapai 51% (Fattah dalam Ali, 2007:596).

(14)

6 pendidikan khususnya pendidikan dasar Sembilan tahun (wajar dikdas sembilan tahun) di Provinsi Jawa Barat dapat berjalan dengan baik dan bermutu.

Beberapa panduan berkenaan dengan pemanfaatan sumberdaya dikaitkan dengan pencapaian hasil menurut Lee dan Kwong (2004 :832) yaitu berkaitan dengan akuntabilitas praktek (did states actually shift their accountability practices from outputs to outcomes ?); perubahan ( did new states policy bring about any changes in resources allocations?); keadilan ( what are the concequences of the state policy shift for the equity ?); pemihakan pada kelompok berpendapatan rendah (did performance –driven accountability bypass the issue of disparities in schooling resources and opportunities for low income, minority

students) dan mempersempit kesenjangan (able to narrow the persistent racial and socioeconomic achievements gap ?)

Agar kebijakan dapat diimplementasikan dengan baik, Kelompok Kerja Pendanaan Pendidikan dalam Konferensi Pendidikan di Indonesia pada tahun 1999 menyampaikan pemikiran mengenai :

(15)

7 Dalam konteks penyelenggaraan pemerintahan maka pendanaan pendidikan harus diletakkan dalam formulasi anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). Atas dasar tersebut perlu diteliti bagaimana implementasi suatu kebijakan publik yaitu pada kebijakan penganggaran pendidikan dijalankan pada pemerintahan daerah di provinsi Jawa Barat. Jika masalah ini tidak diteliti dikhawatirkan pemerintahan daerah tidak mengetahui persoalan-persoalan yang timbul dari kebijakan yang dibuat dan tidak mengetahui kelemahan-kelemahan dan penyebab-penyebabnya. Jika itu yang terjadi dikhawatirkan maka kebijakan tersebut tidak akan berjalan dengan baik dan tidak mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dengan demikian penelitian ini diharapkan dapat memberikan penjelasan terhadap fenomena dari implementasi kebijakan dan dapat memberikan rekomendasi, baik berupa solusi maupun continuous improvement.

Karena penelitian ini menyoroti suatu kebijakan maka penelitian ini berada pada studi analisis kebijakan. Analisis kebijakan mencari pelbagai alternatif kebijakan yang paling menentukan dalam pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Dengan demikian penelitian ini berada pada tataran makro. Penelitian pada tingkat makro menjadi penting untuk mengetahui implementasi kebijakan alokasi anggaran pendidikan dan mencari solusi atas permasalahan yang terjadi.

B. Fokus Penelitian

(16)

8 ANGGARAN PENDIDIKAN (Studi Alokasi Anggaran dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Dasar Sembilan Tahun di Provinsi Jawa Barat)”.

Aspek-aspek yang menjadi fokus penelitian ini adalah berkenaan dengan kemampuan keuangan daerah, prioritas anggaran, pemanfaatan anggaran dan dampak dari implementasi kebijakan alokasi anggaran pendidikan pada tahun 2009 pada jenjang pendidikan dasar di Provinsi Jawa Barat .

C. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka pemikiran dapat dirinci dalam pertanyaan penelitian berikut:

1. Bagaimana kemampuan Pemerintah Daerah dalam penyediaan sumber dana alokasi anggaran pendidikan di Provinsi Jawa Barat ?

2. Apa yang menjadi prioritas alokasi anggaran di Provinsi Jawa Barat? 3. Bagaimana pemanfaatan anggaran pendidikan di Provinsi Jawa Barat?

4. Bagaimana hasil dari kebijakan alokasi anggaran terhadap mutu pendidikan dasar di Provinsi Jawa Barat?

5. Apa dampak dari kebijakan alokasi anggaran terhadap mutu pendidikan dasar di Provinsi Jawa Barat ?

D. Tujuan Penelitian

Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui :

(17)

9 2. Prioritas alokasi anggaran pendidikan di Provinsi Jawa Barat.

3. Pemanfaatan anggaran pendidikan di Provinsi Jawa Barat.

4. Hasil dari kebijakan alokasi anggaran terhadap mutu pendidikan dasar di Provinsi Jawa Barat.

5. Dampak dari kebijakan alokasi anggaran terhadap mutu pendidikan dasar di Provinsi Jawa Barat.

E. Manfaat Penelitian 1. Teoretis

Untuk memperkaya khazanah Ilmu Administrasi Pendidikan khususnya dalam Ilmu Pembiayaan Pendidikan, baik aspek substansi (bidang garapan) dan proses, maupun dalam konteks pembangunan pendidikan di Daerah serta Ilmu Administrasi Pembangunan, dan Administrasi Pemerintahan atau Administrasi Publik.

2. Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan :

a. Sumbangan pemikiran bagi manajemen dalam melaksanakan fungsi penganggaran khususnya dalam pengalokasian anggaran bagi program wajib belajar sembilan tahun di provinsi Jawa Barat.

(18)

10 F. Metode Penelitian

Masalah pelaksanaan otonomi penyelenggaraan pendidikan di daerah merupakan realitas sosial yang bersifat kontekstual. Karena itu tujuan utama penelitian ini bukanlah untuk menguji suatu hipotesis namun ditujukan untuk mendeskripsikan objek yang diteliti melalui proses pengeksplorasian fakta dan data lapangan sebagaimana adanya. Dengan demikian pendekatan penelitian yang dianggap cocok digunakan menurut Nasution (1988) adalah pendekatan penelitian kualitatif (Sumianto, 2008: 9).

Namun demikian untuk mendalami setiap permasalahan yang diteliti sehingga pemecahannya sesuai dengan kaidah-kaidah keilmuan dan akhirnya memberikan sumbangan yang berarti bagi maksud dan tujuan penelitian, diperlukan kajian secara mendalam sesuai dengan karakteristik permasalahan yang diteliti. Penelitian bukan sekedar mendeskripsikan realitas sosial, tetapi perlu analisis-analisis yang bersifat prediktif, maka metode yang paling dianggap sesuai dengan konteks masalah yang diteliti digunakan metode penelitian analisis kebijakan atau metoda post policy analysis (MacMillan & Schumacher, 2001:526-581).

(19)

11 Subject -A Concern -Evidence from -In this body of

area -A Problem the literature evidence, what is Something -Evidence from missing ? that needs a practical -What do we solution experiences need tho know

more about ? How will addressing what we need to know help : -reseachers -educators -policy makers -individuals like those in the study

Sumber : Aliran Gagasan Penelitian menurut Creswell (1994).

Topik dalam penelitian ini adalah implementasi kebijakan alokasi anggaran pendidikan . Masalah yang perlu dipecahkan adalah bagaimana bagaimana anggaran yang relatif kecil dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan mutu pendidikan dasar di Provinsi Jawa Barat. Data pendahuluan menunjukkan bahwa anggaran pendidikan dasar kurang dari 10% dari total anggaran pendidikan di Provinsi Jawa Barat. Dari data tersebut perlu diketahui bagaimana kemampuan keuangan daerah dan apa yang menjadi prioritas anggaran pendidikan serta bagaimana hasil dan dampaknya terhadap mutu pendidikan dasar di Provinsi Jawa Barat. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dan disimpulkan sehingga dapat dibuat rekomendasi bagi para peneliti, pendidikan, pembuat kebijakan dan individu yang tertarik dengan studi alokasi anggaran pendidikan.

(20)

80 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Objek Penelitian

Berdasarkan metode penelitian sebagaimana diungkapkan pada Bab I maka desain penelitian merujuk pada metode analisis kebijakan, yakni suatu metode yang menganalisis dan menggambarkan fenomena yang terjadi dalam perumusan kebijakan otonomi pendidikan pada tingkat Provinsi Jawa Barat dan kemudian mengeksplorasi data tentang pengalokasian anggaran bagi pendidikan dasar Sembilan tahun.

Data yang diperlukan untuk setiap problematik penelitian yang perlu dianalisis berkenaan dengan keseluruhan data mengenai implementasi kebijakan yang menjadi bidang garapan manajemen pendidikan khususnya pada alokasi anggaran pendidikan di Provinsi Jawa Barat, yaitu : kemampuan Pemerintah Daerah dalam penyediaan sumber dana alokasi anggaran pendidikan di Provinsi Jawa Barat ; prioritas alokasi anggaran di Provinsi Jawa Barat; pemanfaatan anggaran pendidikan di Provinsi Jawa Barat; hasil dari kebijakan alokasi anggaran terhadap mutu pendidikan dasar di Provinsi Jawa Barat ; dan dampak dari kebijakan alokasi anggaran terhadap mutu pendidikan dasar di Provinsi Jawa Barat.

(21)

81 suatu teknik analisis posisi (baik secara internal maupun eksternal) yang memuat gambaran kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan atau ancaman yang mungkin ditemui. Setelah posisi pendidikan dapat diketahui, kemudian merumuskan model implementasi kebijakan yang memuat aspek-aspek berikut : Pengembangan rasionalitas dan urgensi tentang pengembangan alternatif model strategi implementasi alokasi anggaran pendidikan yang diperlukan; Prioritas yang perlu dibenahi; Pengembangan visi dan misi implementasi kebijakan pada tingkatan pemerintah daerah; Pengembangan asumsi-asumsi strategis implementasi kebijakan dalam bidang kurikulum, ketenagaan, pembiayaan, sarana dan prasarana, serta peningkatan partisipasi masyarakat; dan Pengembangan model strategi implementasi.

B. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah analisis kebijakan atau metode post policy analysis. Sedangkan analisis kebijakan yang digunakan adalah analisis biaya-manfaat.

C. Pendekatan Penelitian

(22)

82 dari hal-hal spesifik, dari satu tahapan ke tahapan selanjutnya dan memadukan data sedemikian rupa sehingga pada akhirnya kesimpulan-kesimpulan dapat ditemukan. Dengan sifatnya yang demikian maka studi ini tergolong dalam penelitian yang menggunakan Metode Naturalistik dengan Pendekatan Kualitatif.

D. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian berada di Provinsi Jawa Barat. Subyek yang diteliti adalah para pejabat eksekutif dan legislatif dan praktisi pendidikan serta stakeholders (pemangku kepentingan) yang dipilih secara non sampling.

Pertimbangan pemilihan lokasi adalah mengingat strategisnya posisi Jawa Barat yang berdekatan dengan ibukota negara, mendorong Jawa Barat berperan sebagai agent of development (agen pembangunan) bagi pertumbuhan nasional. Provinsi Jawa Barat menggunakan indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dalam mengukur kinerja pemerintahan dan pembangunannya, yang di dalamnya termuat komponen tingkat pendidikan masyarakat dalam rangka peningkatan kualitas dan produktivitas sumber daya insani. Pembangunan pendidikan diprioritaskan pada peningkatan pemerataan dan mutu pendidikan. Sedangkan pembangunan kebudayaannya diprioritaskan pada revitalisasi nilai-nilai budaya dan kearifan lokal.

(23)

83 anggaran yang besar bahkan jika dibandingkan dengan anggaran provinsi-provinsi lain di luar DKI Jaya. Secara khusus Provinsi Jawa Barat memberlakukan tiga buah Peraturan Daerah tentang kebudayaan daerah yang diimplementasikan melalui pendidikan sebagai bentuk kebijakan berkenaan dengan kearifan lokal Jawa Barat sehingga menarik untuk diteliti

E. Jenis Data Penelitian

Jenis data yang diungkapkan dalam penelitian ini adalah bersifat skematik, narasi, dan uraian juga penjelasan data dari informan baik lisan maupun data dokumen yang tertulis , perilaku subyek yang diamati di lapangan juga menjadi data dalam pengumpulan hasil penelitian ini, dan berikutnya dideskripsikan sebagai berikut :

1. Rekaman Audio Visual

(24)

84 2. Catatan Lapangan

Dalam membuat catatan di lapangan, maka peneliti melakukan prosedur dengan mencatat seluruh peristiwa yang benar-benar terjadi di lapangan penelitian. Catatan berkisar pada isi catatan lapangan, model dan bentuk catatan lapangan, proses penulisan catatan lapangan.

Sebelum melakukan penelitian yang terprogram, peneliti melakukan pra survai terlebih dahulu untuk mencari masalah penelitian dan menemukan fokus penelitian. Di Bandung peneliti mendatangi Kantor Gubernur, DPRD, Kantor Dinas Pendidikan, beberapa sekolah, Komite Sekolah, forum orang tua siswa, LSM, beberapa museum dan komunitas kesenian. Di Cirebon dan Bogor peneliti mengadakan kontak dengan beberapa orang guru, wartawan dan seniman maupun budayawan yang berminat dengan masalah pendidikan dan kebudayaan. di samping menemui beberapa pejabat daerah.

3. Dokumentasi

Data ini dikumpulkan dengan melalui berbagai sumber data yang tertulis, baik yang berhubungan dengan masalah kondisi objektif, dan pendukung data lainnya.

Dokumentasi ada yang berasal dari sumber primer yaitu dari subyek penelitian seperti pemerintahan dan pemangku kepentingan, ada pula yang dari sumber sekunder.

(25)

85 Menengah), RKP (Rencana Kerja Pemerintah), KUA, Nota Pengantar RAPBD (Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah), dan risalah-risalah rapat di DPRD Jawa Barat (Rapat Komisi, Rapat Panitia Khusus, Rapat Paripurna).

Dari sumber sekunder yaitu dari media cetak baik jurnal, majalah, bulletin, surat kabar dan lain-lain.

Pola yang peneliti gunakan adalah mencocokkan satu sumber dengan sumber lainnya, antara dokumen Negara dengan berita di media demikian pula sebaiknya sampai ditemukan data yang dapat dipercaya.

F. Sumber Data Penelitian

Sumber data penelitian ini berkenaan dengan eksistensi pengelolaan organisasi sistem pendidikan pada tingkat provinsi sebagai total sistem yang mempunyai keterkaitan dengan sistem lain. Sebagai total sistem, pengelola organisasi sistem pendidikan pada tingkat provinsi mempunyai perangkat kendali, perangkat operasional dan perangkat pendukung (Sumiarto, 2009).

Perangkat kendali sistem berkenaan dengan peraturan perundang-undangan yang menjadi penentu arah pelaksanaan otonomi pendidikian dimulai dari UUD 1945, UU, PP, Permen, Perda, Pergub, serta pedoman teknis pelaksanaan.

(26)

86 Perangkat pendukung berkenaan dengan lingkungan sosial proses implementasi kebijakan otonomi daerah yang berkaitan dengan unsur sarana dan prasarana, lokasi, situasi, konteks, keadaan, waktu, gejala-gejala, peristiwa, peristiwa, benda-benda yang digunakan.

Adapun unit-unit analisis ialah : 1) Pemerintahan Provinsi Jawa Barat.

2) SD dan SMP di beberapa tempat di Provinsi Jawa Barat. 3) Dokumen-dokumen.

Selanjutnya dalam upaya penyusunan hasil penelitian, rujukan utama dalam mengkaji unit-unit analisis tersebut bersumber pada :

1) Visi misi pendidikan nasional dan provinsi

2) Kondisi dan permasalahan, sasaran, urusan pemerintahan, besaran kelembagaan organisasi perangkat Daerah (OPD), kepegawaian, sumber daya keuangan daerah, proses penyusunan anggaran, pendayagunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), pendayagunaan asset-aset pemerintahan daerah dan hubungan kepemerintahan di antara stakeholder di daerah

3) Analisis terhadap alternatif model yang akan dijadikan bahan kebijakan umum tentang pendayagunaan alokasi anggaran pendidikan dasar.

4) Unsur manusia dan Non Manusia

(27)

87 Peneliti sebagai human instrument melibatkan diri dalam obyek penelitian dengan menghadiri rapat-rapat antara eksekutif dan legislatif di DPRD Jawa Barat, datang ke Bapeda, bertemu dengan Kepala Dinas Pendidikan dan mendatangi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, melihat, mendengar dan mengamati bagaimana kebijakan dirumuskan.

Peneliti juga mengunjungi beberapa SD dan SMP, menghadiri pertunjukan kesenian, mendatangi museum, mendatangi perajin batik di Cirebon dan Indramayu, berdiskusi dengan kepala sekolah guru serta budayawan, mempraktekkan penggunaan bahasa daerah, ikut mencarikan sponsor pagelaran kesenian daerah, mempromosikan angklung melalui dunia maya, menulis di surat kabar mengenai kearifan lokal, menjadi pembicara dalam workshop dalam masalah anggaran, membeli seni kriya, mendatangi kampung adat dan berinteraksi dengan masyarakatnya, mengunjungi situs purbakala

Unsur non manusia sebagai data pendukung penelitian, seperti setting sekolah, museum, pertunjukan kesenian, upacara adat, dokumen-dokumen, situs-situs website, bentang alam, arsitektur bangunan, makanan, kerajinan tangan, busana, percakapan dan lain-lain.

G. Teknik Mendapatkan Informan

(28)

88 Penentuan sumber data tersebut didasarkan pertimbangan bahwa sample yang digunakan adalah purposeful qualitative sampling untuk “select people/sites who can best help us understand our phenomenon” yang tujuannya adalah “ To develop detailed understanding that might be useful: information; That might help

people learn about the phenomenon ; That might give voice to silenced people “

(Shop & Cresswell, 1994: ).

H. Teknik dan Proses Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data penelitian yang luas serta mendalam, maka upaya yang dilakukan meliputi :

1. Teknik Pengumpulan Data a. Pengamatan

Pengamatan dilakukan/ditujukan baik kepada responden (manusia) maupun terhadap obyek-obyek. Proses pengamatan itu ditempuh melalui dua cara (teknik), yaitu pengamatan langsung (partisipant observation) dan pengamatan tidak langsung (non partisipant observation).

(29)

89 ini berlangsung dalam setting pemerintahan, maka peneliti terjun langsung dan ikut serta dalam kegiatan-kegiatan pemerintahan. Melalui pengamatan langsung terhadap berbagai kegiatan itu, diharapkan dapat diperoleh pemahaman yang holistik tentang intensitas upaya implementasi kebijakan pendidikan di Provinsi Jawa Barat, sehingga pada akhirnya dapat memberi gambaran terhadap kondisi nyata implementasi kebijakan penganggaran pendidikan dasar lokal di Jawa Barat. .

Proses pengamatan langsung dilakukan dengan pertimbangan sejauh tidak mengganggu rutinitas kegiatan pemerintahan. Dengan demikian, ada saat-saat di mana peneliti harus mengambil jarak dengan orang atau obyek yang diteliti. Terhadap kegiatan-kegiatan yang tidak mungkin digunakan pengamatan langsung, maka peneliti sedapat mungkin akan berupaya untuk mengamatinya secara tidak langsung. Tentu saja data yang diperoleh melalui pengamatan tidak langsung ini adalah bersifat terbatas. Namun demikian, pengamatan tidak langsung ini kadang-kadang lebih akurat mengingat memungkinkan diperoleh pure information dari situasi yang lebih alamiah.

b. Wawancara

(30)

90 melalui telepon dan surat elektronik (email) maupun pelayanan pesan pendek (short message service).

c. Focus Group Discussion

Peneliti mengikuti diskusi kelompok bersama eksekutif, legislatif maupun masyarakat umum pada Musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan) yang beberapa kali diselenggarakan oleh Bappeda untuk membahas pendidikan dan pengalokasian anggarannya.

d. Studi dokumentasi

Studi dokumentasi terutama mengenai akurasi sumber dokumen, bermanfaat bagi bukti penelitian,dan sesuai dengan standar kualitatif, tidak reaktif.

2. Alat pengumpul data

Pedoman observasi dan studi dokumen, pedoman wawancara dan lembar rangkuman hasil analisis.

3. Proses pengumpulan data

(31)

91 maupun hasil pengamatan dikonfirmasikan dan ditriangulasikan kepada sumber data.

4. Teknik Analisis Data

Pengolahan data dilakukan secara terus menerus sejak penulis memahami data sampai seluruh data terkumpul. Setiap perolehan data dari catatan lapangan kemudian direduksi, dikelompokkan, dianalisis dan diinterpretasikan ke dalam lembar rangkuman.

Teknis analisis data yang digunakan untuk penyusunan kebijakan umum implementasi otonomi daerah sesuai obyeknya akan menggunakan teknik analisis kebijakan publik. Sesuai kelaziman teknik analisis kebijakan ini akan ditempuh melalui tahapan : (1) Pengkajian persoalan (2) Analisis kriteria tujuan dan penilaian alternatif (3) Penyusunan alternatif strategi sebagai rekomendasi kebijakan.

(32)

92 Kemudian, analisis selanjutnya dilakukan melalui tahap-tahap : (1) tahap penyajian informasi, merupakan tahap menggambarkan data yang disajikan dalam bentuk deskripsi terintegrasi, yang diambil dari catatan lapangan dan lembar rangkuman; (2) tahap analisis komparasi, merupakan proses analisis keseluruhan data yang dikaji dari perspektif etik, dan kemudian diarahkan pada interpretasi data sebagai pedoman merumuskan kesimpulan penelitian; (3) tahap penyajian hasil dilakukan setelah melakukan penafsiran data hasil analisis komparasi, yang dihubungkan dengan tujuan penelitian dan kemudian dirangkum dalam upaya merumuskan kesimpulan penelitian sebagai jawaban terhadap problematik penelitian,

Dalam analisis penelitian kualitatif, syarat minimum adalah bahwa kesimpulan dari studi kualitatif harus berdasar pada argumentasi yang kuat -- sound argument (Roberts, 1982 dalam Lythcott, 1990: 445). Selanjutnya dikatakan bahwa argumentasi yang kuat akan menunjukkan bagaimana kesimpulan diambil dari data dengan jaminan yang didukung backing. Jika datanya kuat dan jaminannya memiliki legitimasi dari otoritas yang berwenang, maka minimum ada jaminan bagi penafsiran hasil penelitian. Sedangkan berkaitan dengan reliabilitas dan validitas Roberts (1990:460) berpandangan reliability and validity :

(33)

93 5. Proses Interpretasi

Berbeda dengan proses analisis yang bersifat deskriptif dan informatif maka proses interpretasi bersifat reformatif dan transformatif yang dalam tradisi etnografis, perbedaan ini sering juga dilukiskan sebagai proses emic dan etic. Dalam proses emic, peran peneliti adalah bersifat internal, di sini peneliti berbicara atas dasar perspektif orang-orang maupun obyek-obyek yang diteliti. Peneliti berperan sebagai orang dalam (insider's). Sedangkan dalam proses etic, peran peneliti menjadi berubah sebagai orang luar (outsider's) sebab peneliti harus berbicara dalam perspektif eksternal. Di sini peneliti harus dapat mengkomunikasikan temuan-temuan yang diperoleh dalam bahasa ilmiah. Maka dalam proses etic ini peneliti dituntut untuk memiliki kemampuan dalam menafsirkan, mengadakan keterkaitan konteks, referensi konsep (teori), dan membangun pemahaman-pemahaman baru.

Dengan demikian, tergambar bahwa dalam proses interpretasi diperlukan analisis dan sintesis interdisipliner, yakni menghubungkan atau mengkomunikasikan hasil-hasil penelitian dengan landasan teori (konseptualisasi) yang menjadi kerangka acuan (frame of reference) peneliti dan keterkaitannya dengan temuan-temuan dari penelitian lainnya yang relevan.

I. Keabsahan Data

(34)

94 menerus sejak data dideskripsikan, dianalisis, ditafsirkan hingga data tersebut disimpulkan sebagai upaya menjawab masalah penelitian.

Triangulasi menurut Wiersma (1986) adalah “qualitative cross validation” atau pengecekan data dari pelbagai sumber dengan pelbagai cara dan pelbagai waktu (Sugiyono, 2010:273).

(35)

247 BAB V

MODEL ALTERNATIF IMPLEMENTASI KEBIJAKAN ALOKASI ANGGARAN PENDIDIKAN

A. Pengertian Model

Model merupakan kerangka kerja formal yang mewakili ciri-ciri pokok dari suatu sistem yang kompleks dengan mengambil beberapa hubungan sentral. Model merupakan suatu konstruksi dari suatu konsep yang digunakan sebagai pendekatan untuk memahami suatu realitas. Model merupakan penyederhanaan dari elemen-elemen dasar realitas yang begitu kompleks atau abstraksi terhadap elemen tersebut terhadap apa yang akan diterapkan (Syafioeddin, 2010:549).

Menurut Sanusi dalam Damin (1998:251), model bukanlah suatu realitas kehidupan karena realitas kehidupan ini tidaklah linear, sementara model merupakan suatu pendekatan untuk memahami atau mendekati realitas. Model dengan demikian merupakan abstrasi RLS (real life system) dan bukanlah RLS yang sebenarnya.

(36)

248 atau organisasi untuk melakukan berbagai terobosan-terobosan dalam penyelenggaraan kegiatan pribadi atau organisasi.

Burger (1966) berpendapat bahwa model merupakan hasil dari suatu upaya untuk membuat tiruan kenyataan. Saeed (1984) berpandangan model haruslah mempunyai titik kontak (points of contact) dengan kenyataan (reality) dan perbandingan yang berulangkali dengan dunia nyata (real world).

Lebih lanjut, suatu model harus menggambarkan adanya persepsi atau ide-ide dalam suatu keputusan , adanya gambaran fungsi-fungsi, tujuan-tujuan proses, adanya proses tingkah laku dan adanya tindakan nyata yang berorientasi pada pangawasan terhadap fungsi-fungsi dalam pelaksanaan model yang efektif. Hal tersebut sesuai dengan kategori model menurut Johnson (Syafioedin, 2009:550) : cognitive models (human concepts); normative models (purposive oriented); descriptive models (behavior oriented); functional models (function and control oriented). Dengan demikian model harus mengandung aspek kognitif manusia seperti gagasan atau konsep , memiliki norma-norma dan tujuan, dapat menggambarkan orientasi perilaku manusia dan fungsional dalam melakukan pengawasan.

(37)

249 mengikutsertakan masyarakat melalui penyusunan, pelaksanaan, pengawasan dalam berbagai kegiatan.

Empat kategori model menurut Johnson (Syafioedin, 2009:550) : cognitive models (human concepts); normative models (purposive oriented); descriptive models (behavior oriented); functional models (function and control oriented). Dengan demikian model harus mengandung aspek kognitif manusia seperti gagasan atau konsep , memiliki norma-norma dan tujuan, dapat menggambarkan orientasi perilaku manusia dan fungsional dalam melakukan pengawasan.

Rumusan model implementasi anggaran pendidikan memerlukan data tentang posisi pendidikan yang menjadi kewajiban pemerintah provinsi. Data posisi pendidikan tersebut dianalisis berdasarkan suatu teknik analisis posisi (baik secara internal maupun eksternal) yang memuat gambaran kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan atau ancaman yang mungkin ditemui.

B. Faktor Internal dan Eksternal Pendidikan di Provinsi Jawa Barat

(38)

250 diubah karena sudah terjadi perubahan seperti sentralisasi pendidikan yang semakin berkurang dan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 2 Tahun 1989 yang telah diganti dengan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003, meskipun telah ada wacana untuk melakukan revisi terhadap UU No. 20 Tahun 2003 tersebut.

1. Faktor Internal : Potensi (Kekuatan) dan Peluang a. Kekuatan

1) Masyarakat Jawa Barat memiliki falsafah yang melandasi masyarakat Jawa Barat yaitu falsafah silih asuh, silih asih, dan silih asah. Suatu filosofi yang mengajarkan manusia untuk saling mengasuh yang dilandasai sikap saling mengasihi dan saling berbagi pengetahuan (pengalaman), suatu konsep kehidupan demokratis yang berakar pada kesadaran dan keluhuran akal budi. 2) Potensi religiusitas masyarakat berkontribusi pada usaha keras dalam

mencerdaskan dirinya dan berkompetensi untuk mencapatkan ilmu pengetahuan. Berdasarkan nilai-nilai agama Islam masyarakat memiliki etos dan semangat tinggi untuk memberantas kebodohan dan setinggi mungkin memasuki jenjang pendidikan.

3) Adanya arahan pembangunan pendidikan yang jelas baik tingkat nasional maupun tingkat provinsi (RPJPD).

(39)

251 b. Peluang

1) Industrialisasi yang terus berlangsung di Indonesia pada era perdagangan bebas, menuntut peningkatan kualitas pendidikan pada setiap jenjang dan jenis, baik sekolah negeri maupun swasta. Peningkatan kualitas ini meliputi pengetahuan keahlian dan kepribadian peserta didik serta tenaga kepentidikan. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang cepat juga menuntut efektivitas dan efisiensi pelaksanaan sistem serta aktivitas pendidikan, penelitian dan penerapan pengetahuan dan teknologi.

2) Adanya UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional merupakan peluang untuk menyusun strategi baru yang lebih akurat (berwawasan masa depan).

3) Diberlakukannya otonomi daerah merupakan peluang untuk menata sistem pendidikan yang lebih akomodatif terhadap tuntutan kebutuhan pembangunan di daerah yang berwawasan lingkungan dan budaya setempat.

4) Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi komunikasi menjadi peluang munculnya model pembelajaran jarak jauh yang berwawasan global.

5) Tingginya minat dan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi.

6) Banyaknya lembaga pendidikan yang bermutu serta memiliki standar yang baik.

7) Tersedianya dunia industri dan dunia usaha yang bisa mendukung kegiatan pembangunan pendidikan di Jawa Barat.

(40)

252 2. Faktor Eksternal : Kendala dan Tantangan

a. Kendala

1) Keterbatasan sarana, ketenagaan dalam penyelenggaraan pendidikan. Di samping itu rendahnya pendapatan perkapita masyarakat, terutama masyarakat miskin yang berada di desa-desa tertinggal. Akibatnya kelompok tersebut secara umum berpendidikan rendah.

2) Anggapan ketidakpastian perolehan pekerjaan bagi lulusan SLTP dan SLTA dan relatif tingginya tingkat pengangguran terdidik di masyarakat dapat mengurangi semangat dan partisipasi masyarakat dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

3) Relevansi pendidikan dengan kebutuhan ketenagakerjaan masih rendah sehingga lulusan pendidikan belum siap kerja (baru siap latih) dan menimbulkan masalah pengangguran.

4) Keadaan geografis dan penyebaran penduduk yang tidak merata, kekurangan jumlah guru pada setiap daerah, khususnya daerah-daerah terpencil, di samping mutu yang rendah serta sarana pendidikan yang terbatas.

5) Dampak negatif teknologi komunikasi merupakan masalah pendidikan keluarga sehingga perlu keseriusan untuk diantisipasi bagi penyelamatan generasi mendatang.

(41)

253 7) Krisis moneter berkepanjangan yang dialami Indonesia menyebabkan

meningkatnya angka putus sekolah dan angka pengangguran.

b. Tantangan

1) Posisi Jawa Barat yang berdampingan dengan Ibu Kota dan strategis dalam upaya pengembangan kawasan industri menuntut pengembangan berbagai keahlian dan kejuruan yang mampu bersaing secara global disertai minat yang tinggi untuk melanjutkan pendidikan pada setiap jenjang dan jenis pendidikan. 2) Kecenderungan umum masyarakat menunjukkan adanya perubahan cara

berpikir yang memandang pendidikan sebagai langkah menyiapkan peserta didik secara utuh baik dari aspek pengetahuan, sikap, minat dan ketrampilan secara fungsional bagi kehidupan pribadi, warga Negara dan warga masyarakat. Pendidikan juga harus mampu mengembangkan kebudayaan masyarakat Jawa Barat sebagai perwujudan sasaran manusia Indonesia seutuhnya.

3) Bahwa sistem pendidikan yang diatur oleh Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 belum mampu memenuhi tuntutan amanah UUD 1945 dan aspirasi masyarakat dalam pembangunan pendidikan.

4) Kecenderungan umum pemanfaatan media teknologi modern masih rendah, terbatas pada fungsi hiburan atau belum mengarah pada fungsi pendidikan. 5) Sikap profesional kependidikan yang belum membudaya secara mapan dan

(42)

254 C. Rasionalitas dan Urgensi Pengembangan Alternatif Model Strategi

Setelah melihat gambaran kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan atau ancaman yang mungkin ditemui maka nampaklah rasionalitas dan urgensi pengembangan alternatif model implementasi alokasi anggaran pendidikan, yaitu bagaimana alternatif model di satu sisi memelihara kekuatan yang dimiliki dan bahkan mengembangkannya dan menghilangkan atau minimal mengurangi kelemahan; di sisi lain mampu memanfaatkan peluang dan menjawab tantangan dan menghilangkan ancaman.

D. Konstelasi Model

1. Prioritas yang Perlu Dibenahi

Agar alternatif model yang dibuat dapat menjadi model yang efektif maka sedapat mungkin terhindar dari kelemahan dan dapat memanfaatkan potensi yang dimili untuk menjawab tantangan dan menghadapi ancaman. Berdasarkan alasan itu maka dibuatlah prioritas berikut ini yang harus untuk dibenahi dan diutamakan dalam pengalokasian anggaran pendidikan berbasis kearifan lokal di Provinsi Jawa Barat.

Prioritas diberikan pada :

a. Peningkatan sarana dan prasarana dalam penyelenggaraan pendidikan b. Pemenuhi kekurangan guru baik segi kuantitas maupun kualitasnya pada

setiap daerah, khususnya daerah-daerah terpencil .

(43)

255 d. Pemanfaatan media teknologi modern pada fungsi pendidikan

e. Pemberian bantuan biaya pendidikan bagi anak-anak yang berasal dari keluarga berpendapatan rendah atau miskin terutama yang berada di desa-desa tertinggal. Secara lebih spesifik adalah anak-anak petani, nelayan, dan buruh.

f. Peningkatan relevansi pendidikan dengan tiga hal : pertama, falsafah yang melandasi masyarakat Jawa Barat yaitu falsafah silih asuh, silih asih, dan silih asah. Kedua, potensi religiusitas masyarakat berkontribusi pada usaha keras dalam mencerdaskan dirinya dan berkompetensi untuk mendapatkan ilmu pengetahauan. Ketiga, tersedianya dunia industri dan dunia usaha yang bisa mendukung kegiatan pembangunan pendidikan di Jawa Barat.

2. Pengembangan Visi dan Misi Implementasi Kebijakan pada Tingkatan Pemerintah Provinsi

Visi yang ditawarkan dalam model ini adalah : “Pendidikan dasar berbasis kearifan lokal, dikelola secara profesional dan bermutu global”.

Misi yang harus dijalankan Pemerintah Provinsi untuk mencapai visi tersebut adalah :

(44)

256 b. Memberikan bantuan biaya pendidikan bagi masyarakat yang berpendapatan per kapita rendah terutama masyarakat miskin yang berada di desa-desa tertinggal.

c. Meningkatkan dan membudayakan profesionalisme baik di kalangan guru maupun para tenaga kependidikan lainnya.

d. Menyediakan dan memanfaatkan media teknologi modern untuk fungsi pendidikan.

e. Meningkatkan relevansi pendidikan dengan pemenuhan kebutuhan bagi keberlangsungan kehidupan, dengan mengaitkannya pada falsafah hidup dan potensi masyarat Jawa Barat serta dunia industri.

3. Asumsi-asumsi untuk Model

Asumsi, anggapan dasar atau postulat menurut Surakhmad (1985 :107) adalah suatu titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh peneliti.

Asumsi-asumsi yang digunakan untuk model alternatif adalah sebagai berikut :

a. Pendidikan dasar berbasis kearifan lokal, yang dikelola secara profesional dan bermutu global memerlukan kepemimpinan transformasional.

(45)

257 para tenaga kependidikan lainnya, (4) penyediaan dan pemanfaatan media teknologi modern untuk fungsi pendidikan, dan (5) peningkatan relevansi pendidikan dengan pemenuhan kebutuhan bagi keberlangsungan kehidupan, yang berbasis pada falsafah hidup dan potensi masyarat Jawa Barat serta dunia industri.

c. Alokasi anggaran pendidikan dasar memerlukan strategi implementasi kebijakan dalam bidang kurikulum, ketenagaan, pembiayaan, sarana dan prasarana, serta peningkatan partisipasi masyarakat

d. Implementasi kebijakan alokasi anggaran pendidikan dasar akan meningkatkan Angka Melek Huruf, dan meningkatkan Rata-rata Lama Sekolah

e. Meningkatnya Angka Melek Huruf dan Rata-rata Lama Sekolah akan meningkatkan mutu pendidikan di Provinsi Jawa Barat.

f. Mutu pendidikan dasar merupakan konsep yang mengaitkan Indeks Pendidikan masyarakat Jawa Barat dengan budi perkerti luhur serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

E. Pengembangan Alternatif Model Kebijakan Alokasi Anggaran Pendidikan Existing Model

(46)

258 pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya. Tujuan penggunaan anggaran berbasis kinerja adalah untuk meningkatkan akuntabilitas perencanaan anggaran serta menjamin efektivitas dan efisiensi penggunaan anggaran ke dalam program/kegiatan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa model kebijakan alokasi anggaran pendidikan di Provinsi Jawa Barat adalah Model Paradigma Rasional atau Rational Paradigma (Thomas,1971:123), dengan karakteristik penganggaran program (Budgeting by Program or Performance).

Alternatif Model

Strategi yang digunakan untuk model alternative adalah bahwa kebijakan alokasi anggaran pendidikan harus dapat : (1) Mendorong tingkat pendidikan masyarakat (melalui implementasi kebijakan di bidang ketenagaan, pembiayaan, sarana dana prasarana, partisipasi masyarakat) ; dan (2) Menjadikan masyarakat Jawa Barat yang berbudiperkerti luhur serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (melalui implementasi kebijakan di bidang kurikulum).

(47)
(48)

260

Gambar 5.1. Alternatif Model Kebijakan Alokasi Anggaran Pendidikan Masyarakat

yang berbudiperkerti

luhur, toleran serta menguasai

ilmu pengetahuan dan

teknologi.

Implementasi Kebijakan

Indeks Pendidikan

Kebijakan Alokasi Anggaran Pendidikan Otonomi

Daerah

Strategi

Tujuan Visi dan Misi

Kepemimpinan Transformasional

Lingkungan Strategis

Pendidikan Bermutu

(49)

266 DAFTAR PUSTAKA

Abdul Azis Wahab dan Kusumastuty, Dyah. (2009). Penjaminan Mutu. Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia.

Abdul Wahab, Solichin. (1990). Pengantar Analisis Kebijaksanaan Negara. Jakarta: Rineka Cipta.

Ali, Mohammad dalam Ali dkk. (2007). Penjaminan Mutu Pendidikan dalam Ilmu dan Aplikasi Pendidikan. Bandung : Pedagoginana Press.

Alma, Buchari & Hurriyati, Ratih. (2008). Manajemen Corporate & Strategi Pemasaran Jasa Pendidikan Fokus Pada Mutu dan Layanan Prima. Bandung: Alfabeta.

Card, David. (----). "Returns to Schooling," dalam The New Palgrave Dictionary of Economics , 2nd Edition.

Checchi, Daniele. (2006). The Economics of Education: Human Capital, Family Background and Inequality. Cambridge: ---.

Chaedar, A., A. (2002). Pokoknya Kualitatif. Dasar-dasar Merancang dan Melakukan Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya dan Pusat Studi Sunda.

Christopher, Williams. (2006). Leadership Accountability in a Globalizing World. London: Palgrave Macmillan.

Creswell, J.A. (1994). Research Design: Qualitative and Quantitative Approach. London: SAGE Publication, International Educational and Profesional. Depdiknas. (2006). Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2005-2009 Menuju

Pembangunan Pendidikan Nasional Jangka Panjang 2025. Jakarta: Depdiknas.

Depdiknas. (2005). Rencana Strategis Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2005-2009. Jakarta: Depdiknas.

(50)

267 Dye, Thomas R. (1984). Understanding Public Policy. Englewood Cliffs, N.J. :

Prentice Hall Inc.

Edward III, George C. (1980). Implementing Public Policy. Washington DC : Congressional Quarterly Press.

Engkoswara dalam Ali dkk. (2007). Pendidikan Berbasis Unggulan Lokal dalam Ilmu dan Aplikasi Pendidikan. Bandung: Pedagogiana.

Fattah, Nanang dan Nurdin, Diding dalam Ali dkk. (2007). Ekonomi Pendidikan dalam Ilmu dan Aplikasi Pendidikan. Bandung : Pedagogiana Press.

Fischel, William A. (2008). "Educational Finance" dalam The New Palgrave Dictionary of Economics, 2nd Edition.

Fowler, Frances C. (2009). Policy Studies for Educational Leaders An Introduction Third Edition. Boston : Pearson Education Inc.

Gaffar, Fakry dan Nurdin, Diding dalam Ali dkk. (2007). Manajemen Pendidikan dalam Ilmu dan Aplikasi Pendidikan. Bandung : Pedagogiana Press

Goetz, Judith Preisle & LeCompte, Margareth Diane. (1984). Ethnography and Qualitative Design in Educational Research. London: Academic Press Inc. Guba, E.G. (1978). Toward A Methodology of Naturalistic Inquiry in Educational

Evaluation. California : University of California.

Grindle, Merilee S. (1990). Politics and Policy Implementation in the Third World. New Jersey : Princeton Press.

Hadi, Ahmad. (2007). Lancar Bahasa Sunda Pangajaran Basa Sunda pikeun Murid SMP/MTs. Bandung : CV Atikan Mandiri.

Hartley, Harry J. (1968). Educational Planning-Programming-Budgeting. Englewood Cliffs, New Jersey : Prentice Hall, Inc

Hendarto, Agung & Suhendar, Nizar. (2002). Good Governance dan Penguatan Institusi Daerah. Jakarta : Masyarakat Transparansi Indonesia.

Hill et. al. (2004). Strategic Management an Integrated Approach. Milton : Wiley & Houghton Mifflin.

(51)

268 Hoxby, Caroline. (2008). "School Choice and Competition" dalam The New

Palgrave Dictionary of Economics, 2nd Edition. ----.

Hunger, J. David dan Wheelen, Thomas L. (1996). Manajemen Strategis. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Islamy, Irfan. (2000). Prinsip-prinsip Perumusan Kebijakan Negara. Jakarta: Sinar Grafika.

Jalal, Fasli dan Supriadi, Dedi. (2001). Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah. Yogyakarta : Depdiknas-Bappenas-Adicita Karya Nusa. Jones, Charles O. (1989). An Introduction to the

Study of Public Policy. Monterey, CA : Brooks/Cole Publishing Company. Kettl, Donald F. (2001). “Government Budget” dalam The Encyclopedia

Americana International Edition Vol. 4. Danbury, Connecticut : Grolier Incorporated.

Kartasasmita, Ginanjar. (1997). Administrasi Pembangunan Perkembangan Pemikiran dan Praktiknya di Indonesia. Jakarta: PT Pustaka LP3ES Indonesia.

McMillan, James H. & Schumacher, Sally. (2001). Research in Education: A Conceptual Introduction. New York: Addison Wesley Longman Inc. Morrisan. (2004). Pemerintahan Daerah UU No. 32 Tahun 2004 Beserta

Penjelasannya. Tanggerang : Ramdina Prakarsa.

Mulyasa. (2003). Menjadi Kepala Sekolah Profesional, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Nasution, S. (1988). Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung : Tarsito. Nawawi, H. (2000). Manajemen Strategik. Yogyakarta : Gadjah Mada University

Press.

Patton, Carl V. dan Sawicki, David S. (1993). Basic Methods od Policy Analysis and Planning (2nd). NJ: Prentice Hall.

Poerbakawatja, Soegarda dan Harahap, Abu Hasyim. (1981). Ensiklopedia Pendidikan. Jakarta: Gunung Agung.

(52)

269 Rondinelli, Dennis A. & G. Shabbir Cheema. (1988). “Implementing Decentralization Policies: an Introduction” dalam Cheema dan Rondinelli, Decentralization and Development, Policy Implementation in Developing Countries, California : Sage Publication Inc.

Rubin, Irene S. (1992). “Budgeting: Theory, Concept, Methods and Issues” dalam Rabin, Jack (ed.). Handbook of Public Budgeting. New York : Marcel Dekker, Inc.

Sallis, Edward. ! "

# " $ % & ' ' $ ( )

Sa’ud, Udin Syaefudin dan Sumantri, Mulyani dalam Ali dkk. (2007). Pendidikan Dasar dan Menengah dalam Ilmu dan Aplikasi Pendidikan. Bandung: Pedagogiana Press.

Schedler, Andreas. (1999). "Conceptualizing Accountability" dalam Andreas Schedler, Larry Diamond, Marc F. Plattner. The Self-Restraining State: Power and Accountability in New Democracies. London: Lynne Rienner Publishers.

Sergiovani, Thomas J. et. al. (1980). Educational Governance and Administration. Engelwood Clifs, New Jersey :Prentice Hall,Inc.

Siagian, S.P. (2007). Manajemen Strategik. Jakarta : Bumi Aksara.

Sugiarto, Soleh et. al. (2009). Memori DPRD Provinsi Jawa Barat Periode 2004-2009. Bandung : Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Barat. Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:

Alfabeta.

Suryadi, Ace & Tilaar, H.A.R. (1983). Analisis Kebijakan Pendidikan Suatu Pengantar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Syaukani et. al. (2002). Otonomi Daerah dalam Negara Kesatuan. Yogjakarta: Pustaka Pelajar & Pusat Pengkajian Etika Politik dan Pemerintahan. Tanumulyana, Rine et.al. (2007). Nyangkem Basa Pangajaran Basa Sunda pikeun

SMP Kelas VIII. Bandung : Penerbit Pelilta Ilmu.

Thomas, J. Alan. (1971). The Productive School. New York : John Wiley & Sons, Inc.

(53)

270 Ul Haq, Mahbub et al. (1985). Human Development Report 1985. New York :

Oxford University Press.

Universitas Pendidikan Indonesia. (2008). Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, Bandung : UPI Press.

Usman, Husaini. (2008). Manajemen Teori Praktek dan Riset Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Wachyan, Abdul et. al. (2002). Rencana Pembangunan Regional Makro Pendidikan Jawa Barat. Bandung : Badan Perencanaan Daerah Provinsi Jawa Barat.

" * ' ' + (

, '

-! " ) .

-* $ % ) )

, ' # ) , ' # /

----. (2001). The Encyclopedia Americana International Edition Vol. 4 dan Vol. 22. Danbury, Connecticut : Grolier Incorporated.

Jurnal / Artikel

Alisyahbana, Armida S. (2005). “Otonomi Daerah dan Desentralisasi Pendidikan”. Artikel. [Online]. Tersedia : http://www.geocities.com.arief_anshory/otda_pendidikan.pdf [20 Mei 2010].

BAN-SM. (2010). Akreditasi Sekolah Dasar dan Madrasah. [Online]. Tersedia : http://www.ban-sm.or.id/statistik [3 Februari 2011].

Carhill, Avory; et.al. (2008). “Explaining English Language Proficiency Among Adolescent Immigrant Students” dalam American Educational Research Journal Volume 45 Number 4 December 2008.

(54)

271 Dykstra, Clarence A. (1939). "The Quest for Responsibility" dalam The American Political Science Review, Vol. 33, No. 1. [Online]. Tersedia :

doi:10.2307/1949761. http://jstor.org/stable/1949761. [10 April 2011]. Goldin and Katz. (----). “Education Policy Failings in Historical Perspective"

dalam Economis Journal Watch Volume6 (1). ----.

Hannaway, Jane dan Woodroffe, Nicola. (2003). “Policy Instruments in Education” dalam Review of Research in Education 27, 2003. Washington DC : AERA.

Lee, Jaekyung & Kwong, Kenneth. (2004). “The Impact of Accountability on Racial and Economic Equity : Concidering Both School Resources and Achievement Aoutcomes” dalam American Educational Research Journal, winter 2004, Volume 4 No. 4.

Lythcoth, Jean dan Durch, Richard. (1990). “Qualitative Research : From Methods to Colclusion” dalam Science Education 74 (4) : 445-460 (1990). --- : Jon Wiley and Sons, Inc.

Miller, Robert J. dan Rowan, Brian. (2006). “Effects of Organic Management on Students Achievements” dalam American Educational Research Journal Summer 2006 Volume 43 Number 2.

Mulgan, Richard (2000). "'Accountability': An Ever-Expanding Concept?" dalam Public AdministrationVolume 78 Number 3.

Patta, Johnny. (2008). Peningkatan Kapasitas Pembiayaan Pembangunan di Propinsi Jawa Barat 2008-2013 dalam Warta Bapeda Propinsi Jawa Barat Volume 13 No. /April-Juni 2008). Bandung : Subid Pendataan Bidang Monitoring dan Evaluasi Bapeda Provinsi Jawa Barat.

Sinclair, Amanda (1995). "The Chameleon of Accountability: Forms and Discourses" dalam Accounting, Organizations and Society 20 (2/3).---. Superfine, Benjamin Michael (2009). “The Evolving Role of The Courts in

Educational Policy : The Tension Between Judicial, Scientific and Democratic Decision Making in Kitzmiller v. Dover” dalam American Educational Research Journal Volume 46 Number 4, December 2009. Washington DC : AERA & SAGE.

Surakhmad, Winarno. (2009). “Kebijakan Pendidikan Yang Mengindonesiakan”. Artikel. Koran Tempo, 1 Desember 2009.

The World Bank.(2009). Education For All (EFA). Artikel. [Online] Tersedia : Wikipedia, the free encylopedia. (2010). Budget. Artikel. [Online]. Tersedia :

(55)

272 Wikipedia, the free encyclopedia. (2011). Education Economics. Artikel. [Online]. Tersedia: http://en.wikipedia.org/wiki/Education_economics. [11 April 2011].

Wiseman, Alexander E. (2010). The Uses of Evidence for Education Policy Making : Global Context and International Trends dalam What Counts as Evidence in Educational Setting ? Rethinking Equity, Diversity dan Reform in the 21st Century, Review of Research in Education. Washington DC : American Educational Research Association and SAGE.

---. (2009). West Java. Artikel. [Online]. Tersedia :

http://jawabarat.blogspot.com/search/label/About%20West%20Java. [11 Desember 2010] .

---. (2009). “DPRD Jabar Menyoroti LKPJ Gubernur TA 2008”. Artikel. Bewara Edisi IV/2009. Bandung : Sekretariat DPRD Provinsi Jawa Barat.

---. (2009). “Sembilan Prioritas Garapan”. Artikel. Bewara Edisi I / 2009. Bandung : Sekretariat DPRD Provinsi Jawa Barat.

---. (2010). Bahasa Sunda Sebagai Pengantar di Sekolah. Artikel. [Online] Tersedia :

http://oase.kompas.com/read/2010/04/23/00104280/Bahasa.Sunda.Sebagai .Pengantar.di.Sekolah [23 April 2010].

Disertasi/Tesis/Laporan Penelitian/Makalah:

Clark, David et. Al. Financing of Education in Indonesia. Manila: Asian Development Bank & Comparative Education Research Centre, The University of Hong Kong.

Kelompok Konsentrasi Pendidikan Dasar dan Menengah (S3 Reguler). (2009). Studi Tentang Impelementasi Kebijakan Komite Sekolah dan BP3 Sebagai Perbandingan di Kabupaten Bandung. Tugas Mata Kuliah Seminar Kajian Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Dr. H. Azis Wahab, MA. Laporan Studi Lapangan. Bandung : Sekolah Pascasarjana UPI. Pramono, Adi. (2008). Pengawasan Strategis Program Bantuan Pendidikan dalam

(56)

273 Subardiman et. al. (2009). “Percepatan Peningkatan Mutu Pendidikan. Analisis Kebijakan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI)” . Laporan Studi Lapangan. Bandung: Sekolah Pascasarjana UPI.

Sumianto, Toto. (2008). “Implementasi Kebijakan Otonomi Daerah dalam Bidang Manajemen Pendidikan: Studi Analisis Implementasi Kebijakan Otonomi Daerah dalam Bidang Pendidikan Berdasarkan Peraturan Perundangan yang Relevan di Kabupaten Majalengka”. Disertasi. Bandung : Pendidikan Pasca Sarjana UPI.

Sumantri, Agus. (2010). Efektivitas Implementasi Manajemen Sekolah Bermutu. (Studi tentang Hubungan antar Komponen Sekolah Bermutu dengan Mutu Kinerja SMPN RSBI di Wilayah Jawa Barat). Disertasi. Bandung : Sekolah Pascasarjana UPI.

Sunu, Arya. (2011). Pendidikan Multikultural di Provinsi Bali. Disertasi. Bandung : Sekolah Pascasarjana UPI.

Syafioeddin, Irianto Machfud Sidik.(2009). Pembangunan Pendidikan Berbasis Kewilayahan di Tingkat Kabupaten (Studi Implementasi Kebijakan Pendidikan di Kabupaten Indramayu dalam Konteks Otonomi Daerah). Disertasi. Bandung : Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia.

Peraturan Perundang-undangan/Produk Kebijakan

---. (2003). Produk Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi Jawa Barat. Peraturan Daerah Tahun 2003. Keputusan Dewan dan Pimpinan Dewan 2003. Bandung : Sekretariat DPRD Propinsi Jawa Barat.

---. (2004). Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta : Kaldera.

---. (2004). Undang-undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 104,, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4421) .

---. (2004). Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Sistem Pemerintahan Daerah. Jakarta : Eka Jaya.

(57)

274 ---. (2005). Berita Daerah Provinsi Jawa Barat No. 1 2005 Seri E Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 72 Tahun 2005 tentang Tata Cara Perencanaan Pembangunan Daerah.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005

tentang # "

---. (2008). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan.

---. (2008). Berita Daerah Provinsi Jawa Barat No. 8 2008 Seri E Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 9 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2005-2025.

---. (2008). Berita Daerah Provinsi Jawa Barat No. 54 2008 Seri E Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 54 Tahun 2008 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2008-2013.

Laporan

Haryadi, Dedi. (2010). Laporan Hasil Pelaksanaan Penilaian Sinergitas Kecamatan Tingkat Provinsi Cluster Kota. Bandung : ---

Heryawan, Ahmad. (2010). Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Gubernur Jawa Barat Akhir Tahun Anggaran 2009. Bandung : Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Zarkasy, Wahyudin. (2010). Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintahan (LAKIP) Tahun 2009. Bandung : Pemerintah Provinsi Jawa Barat Dinas Pendidikan.

---. (2010). Laporan Panitia Khusus Pembahasan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Gubernur Jawa Barat Akhir Tahun Anggaran 2009. Bandung : DPRD Provinsi Jawa Barat.

---. (2010). Pelaksanaan APBD Tahun 2008-2009. Bandung : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat.

Brosur / Leaflet :

(58)

275 ---. (2009). Sekilas Tentang DPRD Provinsi Jawa Barat Periode 2009-2014.

Bandung : Sekretariat DPRD Provinsi Jawa Barat.

---. (2010). Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2005-2025. Dengan Iman dan Takwa, Provinsi Jawa Barat Termaju di Indonesia. Bandung : Bappeda Provinsi Jawa Barat.

---. (2010). Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2008-201. Tercapainya Masyarakat Jawa Barat yang Mandiri, Dinamis dan Sejahtera. Bandung : Bappeda Provinsi Jawa Barat.

Surat Kabar/Majalah/e-paper/Website : Galamedia , 31 April 2010; 31 Mei 2010.

Galamedia. [Online] Tersedia : http://www.klik-galamedia.com [3 Februari 2011]. Kompas, 7 Januari 2008 dan 17 Maret 2009.

Kompas (edisi Jawa Barat), 17 Juli 2009; 4 Agustus 2009. Koran Tempo, 1 Desember 2009.

Media Indonesia, 4 Mei 2010.

Pikiran Rakyat, 11 November 2009; 11 April 2010. Radar Bandung, 15 April 2010.

Republika. [Online]. Tersedia : --- [---]. Tribun Jabar, 21 Januari 2010; 3 Mei 2010.

Gambar

Tabel
Gambar
Grafik 1.1 Tingkat Pendidikan yang Ditamatkan Penduduk Provinsi Jawa Barat
Grafik 1.1 Tingkat Pendidikan Yang Ditamatkan Penduduk Jawa Barat Tahun

Referensi

Dokumen terkait

Perhaps East Asia’s earliest effort to allow private sector involvement in common-user facilities occurred in 1987, when the Philippine Ports Authority established a 25-year

kebahasaan yang ia peroleh, faktor motivasi yang akan mendorongnya untuk bergiat dalam segala aktivitas keterampilan berbahasa, dan faktor sikap akan menampak pada

This article proposes an alternative method based on height gradients from LiDAR data, for occlusion detection that can be used for true orthophoto

Untuk menghitung kerugian head mayor maupun kerugian head minor yang terjadi di sepanjang jaringan pipa dapat digunakan persamaan Hazzen Williams dimana kapasitas aliran pada

Dapat disimpulkan dari Gambar (11) sampai dengan Gambar (13) bahwa pada prinsipnya semua metode yang digunakan dalam penelitian ini dapat memisahkan aliran dasar dari

Berdasarkan hasil penelitian dari tahap analisis, perancangan, implementasi dan pengujian, maka dapat disimpulkan bahwa Sistem Monitoring Nilai Siswa Berbasis Web

Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk olahan gandaria (selai) masih memiliki daya awet yang cukup baik sampai pada masa penyimpanan 90 hari.. Kata kunci :

Menguasai Maintenance, Repair, Overhaull, & Diagnosis kendaraan secara profesional, dengan memilih metode yang sesuai dari beragam pilihan Menguasai konsep sains