ABSTRAK
HUBUNGAN ANTARA LAMA KETUBAN PECAH DINI DENGAN SKOR APGAR NEONATUS DI RSUP DR M. DJAMIL PADANG
Oleh
Hanifa Hafni
Ketuban pecah dini (KPD) merupakan keadaan dimana pecahnya selaput ketuban setiap saat sebelum adanya tanda-tanda persalinan. KPD merupakan salah kehamilan beresiko tinggi, semakin lama Ketuban Pecah Dini akan semakin meningkatkan resiko morbiditas pada bayi. Skor Apgar merupakan metode yang digunakan untuk menilai bayi baru lahir. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara lama ketuban pecah dini dengan skor apgar neonatus Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan menggunakan desain penelitian Cross Sectional Study. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh rekam medik RSUP dr M. Djamil Padang yang didiagnosis sebagai kasus ketuban pecah dini selama periode Januari 2010 sampai Desember 2011. Sampel diambil dari seluruh populasi yang memenuhi kriteria restriksi menggunakan tekhnik total sampling, dari seluruh populasi didapatkan 164 sampel yang memenuhi kriteria.
Dari penelitian ini ditemukan insiden KPD di RSUP Dr. M. Djamil Padang yaitu 8,1%. Pasien dengan KPD kurang dari 6 jam didapatkan skor Apgar baik 95 kasus (57,9%) dan skor apgar buruk 4 kasus (2,4%), sedangkan KPD lebih dari 6 jam didapatkan skor apgar baik 5 kasus (3%), dan skor Apgar buruk 60 kasus (36,6%). Dari hasil analisis bivariat dengan menggunakan uji chi squre
diperoleh nilai p = 0.485 (p > 0.05). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada penelitian ini tidak terdapat hubungan antara lama KPD dengan skor Apgar neonatus di RSUP Dr. M. Djamil Padang.
RELATIONSHIP BETWEEN THE USE OF INJECTABLE HORMONAL
CONTRACEPTIVE DMPA WITH WEIGHT GAIN IN LAPAI HEALTH CENTERS OF
PADANG
By:
Dhania Pratiwi
1010312066
Injectable hormonal contraceptive Depo-Medroxyprogesterone Acetate (DMPA) is a widely used
method of contraception. Contraception has good effecacy, but it has some side effects. Those
side effects were menstrual disorders such as amenorrhea, patchy hemorrhage, and bleeding
outside the menstrual cycle. In addition, there is increased body weight in DMPA contraceptive
usage.
The purpose of this study was to determine the relationship between the use of injectable
hormonal contraceptive DMPA with weight gain. The study was conducted in Lapai Health
Center of Padang, during May to December, 2013. This research used an observational analytic,
cross sectional design. The sample was the acceptors who had used DMPA contraception at least
eight times, comprising 40 acceptors. Bivariate data were analyzed using T test.
The results showed 23 acceptors (57.50%) experienced increase in body weight. Most of the
average weight gain in one year is >0 – 1 kg (47.8% acceptor). Average body weight before and
after usage of DMPA contraception is 54.4 kg and 58.1 kg. There was a relationship between the
use of injectable hormonal contraceptive DMPA with weight gain (p=0.000 > 0.05).
ABSTRAK
HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN KONTRASEPSI HORMONAL SUNTIK DMPA
DENGAN PENINGKATAN BERAT BADAN DI PUSKESMAS LAPAI KOTA PADANG
Oleh:
Dhania Pratiwi
1010312066
Kontrasepsi hormonal suntik Depo-Medroxyprogesterone Acetate (DMPA) merupakan salah
satu metode kontrasepsi yang banyak digunakan. Kontrasepsi ini memiliki efektivitas yang baik,
tetapi memiliki beberapa efek samping. Efek samping tersebut adalah gangguan haid berupa
amenorea, bercak-bercak perdarahan, dan perdarahan di luar siklus haid. Selain itu terdapat
adanya peningkatan berat badan pada penggunaan kontrasepsi DMPA.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara penggunaan kontrasepsi
hormonal suntik DMPA dengan peningkatan berat badan. Penelitian dilakukan di Puskesmas
Lapai Kota Padang, pada bulan Mei sampai Desember 2013. Jenis penelitian ini adalah analitik
observasional dengan rancangan cross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah akseptor yang
telah menggunakan kontrasepsi DMPA minimal delapan kali, dengan jumlah 40 akseptor.
Analisis data dilakukan secara bivariat dengan menggunakan uji T.
Hasil penelitian menunjukkan 23 akseptor (57.50%) mengalami peningkatan berat badan.
Sebagian besar rata-rata peningkatan berat badan dalam satu tahun adalah >0 – 1 kg (47.8%
akseptor). Rata-rata berat badan sebelum dan setelah penggunaan kontrasepsi DMPA adalah 54.4
kg dan 58.1 kg. Terdapat hubungan yang bermakna antara penggunaan kontrasepsi hormonal
suntik DMPA dengan peningkatan berat badan (p=0.000 < 0.05).
ABSTRAK
HUBUNGAN ANXIETAS DENGAN KEJADIAN AMENORE SEKUNDER PADA
MAHASISWI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS
ANDALAS
FLORA OKTAVIA
0910312030
Amenore sekunder merupakan salah satu gangguan siklus menstruasi yang berkaitan
dengan penurunan fertilitas dan gangguan kesehatan organ reproduksi. Anxietas merupakan
faktor yang dapat menyebabkan amenore sekunder. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
hubungan anxietas dengan kejadian amenore sekunder pada mahasiswi pendidikan dokter
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas angkatan 2009 dan 2010 yang dipilih sebagai sampel.
Penelitian ini menggunakan cross sectional study dengan jumlah sampel 193 orang.
Pengumpulan data dari responden dilakukan dengan wawancara terpimpin (pengisian kuesioner).
Analisis statistic yang digunakan adalah uji chi square.
Hasil penelitian menemukan bahwa kejadian amenore sekunder lebih banyak terjadi pada
responden yang mengalami anxietas (35,3%), jika dibandingkan dengan responden yang tidak
mengalami anxietas (2,3%). Uji statistik chi square menunjukkan ada hubungan yang bermakna
antara anxietas dengan kejadian amenore sekunder (p<0,05) dan ada hubungan yang bermakna
antara tingkat anxietas dengan kejadian amenore sekunder berdasarkan uji statistik chi square
(p<0,05).
Hasil penelitian menyarankan untuk dilakukan penyuluhan kepada wanita mengenai
anxietas sebagai salah satu faktor predisposisi amenore sekunder. Disamping itu disaranka
kepada peneliti selanjutnya untuk meneliti faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan amenore
sekunder pada wanita.
ABSTRACK
RELATIONSHIP OF ANXIETY AND SECONDARY AMENORRHEA INCIDENT OF
FEMALE MEDICAL FACULTY OF ANDALAS UNIVERSITY
FLORA OKTAVIA
0910312030
Secondary amenorrhea is one a menstrual cycle disturbances have been associated with
decreased fertility and various health disorderson reproductive systems. Anxiety have been found
at risk of disturbances of the secondary amenorrhea. This study aimed to determine the
association of anxiety with secondary amenorrhea in female medical faculty of Andalas
University.
This study use cross sectional study design with 193 samples. Data is collected by
guided interview. Statistic analysis use chi square test.
Result of this study find that incidence of secondary amenorrhea is more common in
women who experience anxiety (35,3%) , when compared with who did not has anxiety (2,3%).
Chi square test statistic showthre is significant relationship between anxiety and secondary
amenorrhea (p<0,05) and also there is significant relationship between anxiety levels and
secondary amenorrhea base on statistic square test (p<0,05).
Result of this study suggest to do illumination for female about anxiety as a predisposing
factor of secondary amenrrhea. Beside that suggest to next researcher to examine other factors
that is cause secondary amenorrhea at female.
ABSTRAK
HUBUNGAN DERAJAT DISPEPSIA DENGAN KUALITAS HIDUP PADA
PENDERITA DISPEPSIA DI RSUP M.DJAMIL PADANG PADA TAHUN
2011
OLEH :
MERRY CARDINA
Dispepsia adalah kumpulan gejala di saluran makanan dengan keluhan
nyeri perut atas, pedih, mual yang kadang – kadang disertai dengan muntah , rasa
panas di dada dan perut, lekas kenyang, anoreksi, kembung, regurgitasi, banyak
mengeluarkan gas masam dari mulut. Kualitas hidup merupakan kemampuan
fungsional seseorang sebagai respon terhadap penyakit dan pengobatan.dispepsia
merupakan salah satu masalah pencernaan yang paling sering ditemukan dan
mempengaruhi kualitas hidup. Namun sebagian besar penderita masih
mengabaikan dan tidak mengobati dispepsia. Tujuan penlitian ini adalah untuk
melihat hubungan derajat dispepsia dengan kualitas hidup pada penderita
dispepsia di RSUP M DJamil Padang pada tahun 2011.
Penelitian ini dilakukan dengan metode cross sectional dengan teknik
pengambilan sampel secara total sampling sebanyak 41 orang. Data diolah dan
dianalisa dengan menggunakan program komputer SPSS for windows 17 dengan
uji statistik chi – square.
Hasil analisis univariat menunjukan frekuensi penderita dispepsia
terbanyak adalah dispepsia sedang sebanyak 58,5% dan kualitas hidup
penderitaan dispepsia terbanyak adalah kulitas hidup buruk sebanyak 56,1%.
Hasil analisis bivariat secara umum menunjukkan ada hubungan bermakna secara
statistik derajat dispepsia dengan kualitas hidup pada penderita dispepsia.
ABSTRACT
THE CORRELATION BEETWEEN DYSPEPSIA AND QUALILY OF LIFE IN
PATIENS DYSPEPSIA DR.M.DJAMIL PADANG HOSPITAL IN 2011
BY:
MERRY CARDINA
Dyspepsia is a collection of symptoms on the gastrointestinal with upper
abdominal pain, poignant,nausea, sometimes accompanied by vomiting, burning
sensation in the chest and abdomen, early satiety, anorexia, bloating,
regurgitation,and a lot of sour gas issuing from the mouth. Quality of life is a
human functional abilities as a response to disease and curing. Dyspepsia is one of
the most common digestive problems are found and affects the quality of life. But
mostly, people still ignore and do not treat the dyspepsia.The goal of this research
is to seeing the degree of dyspepsia relationship with quality of life in patients
with dyspepsia in Dr M Djamil Padang in 2011.
This research was conducted by cross sectional sampling technique with
the total of sample as many as 41 people. The data was processed and analyzed
using the computer program SPSS for windows 17 with the statistical test Chi -
Square.
The result of univariate analysis showed that the highest frequency of
dyspeptic patients are 58,5 persen and their life’s quality is mostly categorized as
poor life as much as 56,1 persen. The result of the bivariate generally showed that
there was no statistically significant relationship with the degree of dyspepsia with
their life’s quality in patients with dyspepsia.
ABSTRAK
HUBUNGAN DERAJAT MEROKOK BERDASARKAN INDEKS BRINKMAN DENGAN
KADAR HEMOGLOBIN
Oleh
Rizky Amelia
Merokok sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Jumlah perokok di Indonesia mencapai
70% dari total jumlah penduduk. Salah satu zat yang terdapat dalam asap rokok adalah karbon
monoksida yang sangat mudah berikatan dengan eritrosit, sehingga tubuh mengalami hipoksia
dan berusaha untuk meningkatkan kadar hemoglobin.Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui hubungan derajat merokok berdasarkan Indeks Brinkman dengan kadar hemoglobin.
Desain penelitian ini adalah cross-sectional study. Populasi adalah pendonor darah di Palang
Merah Indonesia cabang Padang. Jumlah sampel sebanyak 65 orang yang diambil secara
accidental sampling dengan kriteria inklusi adalah perokok dan berjenis kelamin laki-laki. Data
derajat merokok diperoleh melalui wawancara dan kadar hemoglobin diperiksa dengan
menggunakan metode sianmethemoglobin. Untuk melihat hubungan antara derajat merokok
dengan kadar hemoglobin digunakan uji statistik ANOVA, dengan p value <0,05.
Hasil penelitian diperoleh rerata lama merokok responden 19,65 ± 10,95 tahun dan jumlah rokok
yang dihisap perhari 19,28 ± 11,88 batang. Derajat perokok terbanyak adalah perokok ringan
sebanyak 27 orang (41,5%). Rerata kadar hemoglobin responden adalah 15,47±1,41 gr/dl. Dari
analisis statistik tidak didapatkan hubungan antara derajat merokok berdasarkan Indeks
Dari hasil penelitian disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut dengan
menggunakan sampel yang lebih besar dan metode penelitian yang dapat mengontrol
faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi kadar hemoglobin.
ABSTRACT
THE CONNECTION OF DEGREE OF OBESITY AND FASTING BLOOD GLUCOSE OF THE RESIDENTS OF KELURAHAN BATUNG TABA,
KECAMATAN LUBUK BEGALUNG AND KELURAHAN KORONG GADANG, KECAMATAN KURANJI, PADANG CITY
By
Andi Fadilah Yusran Putri
0910312051
Obesity signifies excessive body fat in adipose tissue, where the degree of obesity is equal to the rate of body fat accumulation. Accumulation of body fat increases fasting blood glucose. This study discovers the connection of the degree of obesity and fasting blood glucose of people who live in Kelurahan Batung Taba, Kecamatan Lubuk Begalung and Kelurahan Korong Gadang, Kecamatan Kuranji.
This study uses an observational, cross-sectional study approach to 32 residents of 35 to 60 years old in Batung Taba and Korong Gadang, and was taken by purposive sampling method. The degree of obesity is determined by Body Mass Index of Asian-Pacific criteria,
an anthropometric method, with obese I (BMI ≥25 kg/m2) and obese II (BMI ≥30 kg/m2).
Fasting blood glucose were determined enzimatically.
The result of this study show that mostly obese population in Batung Taba and Korong Gadang is female, as represented by housewifes. The majority of the population is
obese I and has fasting blood glucose with DM criteria ≥100 mg/dl. As estimated by
chi-square analysis, the p value was 1,000 (p>0,05) and there is no significant connection is found between the degree of obesity and fasting blood glucose
The conclusion from this study shows there is no relation between fasting blood glucose levels in obese I and obese II among the residents of Kelurahan Batung Taba and Kelurahan Korong Gadang.
ABSTRAK
HUBUNGAN DERAJAT OBESITAS DENGAN KADAR GULA DARAH PUASA PADA MASYARAKAT DI KELURAHAN BATUNG TABA,
Obesitas merupakan suatu keadaan yang ditandai dengan akumulasi lemak tubuh yang berlebihan didalam jaringan adiposa. Derajat obesitas sebanding dengan tingkat akumulasi lemak tubuh. Peningkatan akumulasi lemak tubuh akan meningkatkan kadar gula darah puasa. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara derajat obesitas dengan kadar gula darah puasa pada masyarakat di Kelurahan Batung Taba, Kecamatan Lubuk Begalung dan Kelurahan Korong Gadang, Kecamatan Kuranji.
Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional dengan pendekatan cross
sectional study, yang dilakukan kepada 32 orang masyarakat yang berumur 35-60 tahun di Kelurahan Batung Taba dan Korong Gadang dengan teknik pengambilan sampel berupa purposive sampling. Derajat obesitas diukur dengan metode antropometrik berupa indeks
massa tubuh menurut kriteria Asia-Pasifik, yaitu obese I (IMT ≥25 kg/m2) dan obese II (IMT
≥30 kg/m2). Kadar gula darah puasa diukur secara enzimatik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat obese di Kelurahan Batung Taba, Kecamatan Lubuk Begalung dan Kelurahan Korong Gadang, Kecamatan Kuranji adalah berjenis kelamin perempuan dan berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Sebagian besar masyarakat memiliki berat badan dengan kriteria obese I dan kadar gula darah
puasa dengan kriteria DM ≥100 mg/dl . Dari hasil analisa dengan uji chi-square didapatkan
nilai p value sebesar 1,000 (p>0,05), sehingga tidak terdapat hubungan yang signifikan antara derajat obesitas dengan kadar gula darah puasa.
Kesimpulan yang didapatkan dari penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan antara kadar gula darah puasa pada obese I dan obese II pada masyarakat di Kelurahan Batung Taba dan Kelurahan Korong Gadang.
.
Abstrak
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEJADIAN DEPRESI PADA USIA TUA DI NAGARI TANJUNG BANAI AUR, KECAMATAN SUMPUR KUDUS,
KABUPATEN SIJUNJUNG TAHUN 2012
Oleh
Figa Prima Dani
Pendahuluan: Depresi pada usia tua merupakan keadaan yang ditandai dengan perasaan sedih, kurang bersemangat, merasa gelisah, penurunan konsentrasi, selalu berpikiran buruk, dan susah untuk sosialisasi dengan lingkungan sekitar serta mudah putus asa dalam menghadapi masalah. Dengan adanya dukungan keluarga berupa dukungan informasi, dukungan penilaian, dukungan instrumental, dan dukungan emosional akan menurunkan kejadian depresi pada usia tua. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan kejadian depresi pada usia tua di Nagari Tanjung Banai Aur,
Kecamatan Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung. Metode penelitian : Jenis penelitian yang
digunakan adalah observasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel yang diambil
dalam penelitian ini adalah usia tua yang berumur lebih dari 60 tahun yang tinggal bersama keluarganya di Nagari Tanjung Banai Aur, Kecamatan Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung
yaitu sebanyak 82 orang, dengan metode pengambilan sampelnya adalah stratified sampling.
Hasil penelitian : usia tua yang mengalami depresi memiliki dukungan keluarga rendah.
Kesimpulan : terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan kejadian depresi pada usia tua di Nagari Tanjung Banai Aur, Kecamatan Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung.
i
ABSTRAK
HUBUNGAN FAKTOR RISIKO DENGAN KEJADIAN PRE-EKLAMPSIA BERAT DI RSUP DR M DJAMIL PADANG
Oleh
Nurulia Muthi Karima
Pre-eklampsia Berat (PEB) masih merupakan salah satu penyumbang morbiditas dan mortalitas ibu apabila tidak mendapatkan penanganan yang adekuat. Penyebab terjadinya PEB hingga saat masih belum diketahui, tetapi hipotesis yang paling banyak dianut hingga saat ini adalah teori iskemia plasenta. PEB pada ibu hamil tidak terjadi dengan sendirinya. Ada banyak hal yang mempengaruhi, beberapa diantaranya adalah usia ibu, paritas, usia kehamilan, jumlah janin, jumlah kunjungan ANC, dan riwayat hipertensi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor risiko terhadap kejadian PEB di RSUP dr M Djamil Padang dengan menggunakan desain penelitian Case-Control Study. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diambil di Instalasi Rekam Medik (Medical Record), yakni data rekam medik ibu melahirkan dengan pre-eklampsia berat dan tanpa pre-eklampsia di bagian obstetrik dan ginekologi RSUP dr. M. Djamil, periode 1 Januari 2010 – 31 Desember 2011. Jumlah sampel yang diteliti adalah 74 sampel kontrol dan 74 sampel kasus dengan kriteria ekslusi penderita pre-eklampsia berat dengan komplikasi kehamilan lain dan data yang diteliti tidak lengkap. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan dari bulan September 2012 - Januari 2013.
Dari penelitian ini ditemukan didapatkan angka distribusi yang hampir sama dari semua variabel, kecuali pada variabel riwayat hipertensi yang hanya didapatkan pada ibu dengan PEB. Dari hasil analisis bivariat dengan menggunakan uji Chi Square diperoleh hasil tidak terdapat hubungan signifikan antara faktor risiko (usia ibu, paritas, usia kehamilan, jumlah janin, jumlah kunjungan ANC) dengan masing-masing nilai p > 0,05. Sedangkan dari hasil analisis multivariat dengan menggunakan uji regresi logistik didapatkan bahwa usia ibu > 35 tahun merupakan faktor risiko terhadap kejadian PEB dengan nilai Sig. = 0,034. Melalui penelitian ini diharapkan untuk dapat dilakukannya skrining terhadap kejadian pre-eklampsia berat terutama pada ibu dengan usia > 35 tahun dan memiliki riwayat hipertensi.
ii
ABSTRACT
RELATION OF RISK FACTORS AND SEVERE PRE-ECLAMPSIA IN RSUP DR M DJAMIL PADANG
By
Nurulia Muthi Karima
Severe Pre-eclampsia is one of the contributors of maternal morbidity and mortality if not getting an adequate treatment. the cause of Severe Pre-eclampsia is still unknown till now, but the most widely adopted hypothesis is the theory of placental ischemia. Severe pre-eclampsia does not happen by single way. There are many things that influence, such as maternal age, parity, gestational age, number of fetuses, the number of ANC visits, and history of hypertension.
The aim of this research is to determine the relations of risk factors and severe pre-eclampsia in RSUP M Djamil Padang with Case-Control Study as the research design. This research use secondary data that take from the Installation Medical Record, the data that will be taken of medical record are the maternal medical record data with severe pre-eclampsia and without pre-eclampsia in the obstetrics and gynecology RSUP dr. M. Djamil, period 1st January 2010 – 31st December 2011. The number of samples that will be researched was 74 as case samples and 74 as control samples, with the exclusion criterias are the patients of severe pre-eclampsia with other pregnancy complications and incomplete data. Implementation of the research was conducted from September 2012 - January 2013.
The result of this research is the distributions of all variables almost have the same numbers, except the variable history of hypertension which is only found in women with severe pre-eclampsia. The result of the bivariate analysis using Chi Square test is there are no significant association between risk factors (maternal age, parity, gestational age, number of fetuses, the number of ANC visits) with each p value > 0.05. While the results of the multivariate analysis using logistic regression is maternal age > 35 years was a risk factor for the incidence of severe pre-eclampsia with Sig. value = 0.034. With this research, the screening of the incidence of severe pre-eclampsia can be able to do, especially in women with age> 35 years and had a history of hypertension.
i
KATA PENGANTAR
Dengan segala kerendahan hati, peneliti ucapkan puji syukur kehadirat
Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga peneliti
dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Hubungan IMT Dengan
Ketahanan (Endurance) Kardiorespirasi pada Mahasiswa Pendidikan Dokter
Unand 2009-2012” sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana
Kedokteran.
Ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya peneliti
ucapkan kepada:
1. Bapak Dr. dr. Masrul, M.Sc, Sp.GK selaku Dekan Fakultas Kedokteran
Universitas Andalas Padang yang memberi kesempatan kepada siapa saja
yang berkeinginan untuk meningkatkan ilmu pengetahuan.
2. Bapak Dr. dr. Afriwardi, Sp.KO, MA selaku pembimbing I yang telah
meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk memberi pengarahan, saran
dan dukungan moril dalam penyusunan skripsi ini.
3. Ibu Dr. Eti Yerizel, MS selaku pembimbing II yang telah meluangkan
waktu, tenaga dan pikiran untuk memberi pengarahan, saran dan dukungan
moril dalam penyusunan skripsi ini.
4. Bapak dr. Erkadius, M.Sc selaku penguji.
5. Ibu dr. Rahmi Lestari, Sp.A selaku penguji.
6. Bapak dr. Husnil Kadri, M.Kes selaku penguji.
7. Ibu Prof. dr. Rahmatina B Herman, PhD, AIF selaku Kepala Bagian
ii
penelitian di Laboratorium Fisiologi. sehingga penelitian ini bisa
terlaksana dengan lancar.
8. Ibu dr. Ulya Uti Fasrini selaku Pembimbing Akademik yang dengan sabar,
teliti dan senang hati membantu peneliti dalam memberikan ide, dorongan
dan masukan dalam penulisan skripsi ini.
9. Para dosen dan staf Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang.
10.Ayahanda Diski Hero (almarhum) dan Ibunda Sri Azharni, orang tuaku
tercinta yang dengan penuh kasih sayang dan pengorbanan telah
mengasuh, membesarkan, mendidik dan menanamkan rasa disiplin dan
tanggung jawab serta senantiasa memberikan dorongan, doa dan semangat
kepada peneliti, sujud dan bakti peneliti haturkan dengan tulus hati.
11.Teman-teman tercinta Tiara Wahyuni, Meidiza Ariandiny, Sri Rahmadani,
Poppy Silvia, Heri Fitrianto, Rizky Erizka, Rigo Juniadi, Ramzy Bayuni
yang telah membantu dalam melakukan penelitian.
12.Teman-teman dan adik-adik angkatan yang telah bekerja sama dan
bersedia menjadi responden penelitian.
13.Komting angkatan 2009 dan sahabat-sahabat senasib seperjuangan di
Pendidikan Dokter 2009 FK UNAND Padang, atas bantuan, kekompakan,
kesetiakawanan dan kerjasama yang selalu ada dalam suka dan duka
selama menempuh pendidikan.
14.Serta semua pihak yang tidak dapat peneliti sebutkan satu-persatu.
Peneliti menyadari skripsi ini masih jauh dari sempurna. Namun peneliti
berharap semoga penelitian ini dapat memberikan manfaat sekecil apapun kepada
iii
sebesar-besarnya kepada semua pihak apabila terdapat salah dan khilaf selama
menempuh pendidikan maupun selama melakukan penelitian. Semoga Allah SWT
senantiasa berkenan memberikan berkat dan rahmat-Nya kepada kita semua.
Padang, Maret 2013
iv ABSTRACT
THE RELATIONSHIP BETWEEN BODY MASS INDEX (BMI) AND CARDIORESPIRATORY ENDURANCE ON STUDENTS OF MEDICAL body at work by increase aerobic work capacity. Nowadays, there are many cases about increasing the weight of body, especially at younger generation. It is caused by anappropriate diet and inactive lifestyle. Increasing of weight will cause declining of cardiorespiratory endurance. So that, it will impact on physical work capacity. This study aims to determine the mean of body mass index, cardiorespiratory endurance and the relationship between cardiorespiratory with BMI in medical student of Andalas University.
The research was done on medical student of Andalas University Padang in December 2012 – February 2012. This research used observational study with cross sectional design study. Sample of this research were 30 people. Cardiorespiratory endurance was obtained by calculate the value of VO2max. This measurement used ergometer bicycle with the method was using Astrand 6 minute cycle test.This test measured the weight and height body. Statistical analysis was simple linear regression.
The result found that the average body mass index is 23.2 ± 5.1 and an average maximum oxygen volume is 39.5 ± 12.1. Linear regression found that there is a moderate significant effect between BMI and cardiorespiratory endurance (r=0.567, p <0.05) with the effect about 32.1% (R2 = 0.321) and the regression equation was Y = 70.827 to 1.349 X.
In conclusion, the subjects have average cardiorespiratory endurance level and normal body mass index. If the body of mass index is higher, the cardiorespiratory endurance is lower.
v ABSTRAK
HUBUNGAN IMT DENGAN KETAHANAN (ENDURANCE)
KARDIORESPIRASI PADA MAHASISWA PENDIDIKAN DOKTER UNAND 2009-2012
Oleh:
RENY JAYUSFANI 0910312103
Ketahanan kardiorespirasi yang baik sangat berguna untuk memenuhi kebutuhan biologis tubuh saat bekerja, yaitu dengan meningkatkan kapasitas kerja aerobik. Saat ini terjadi peningkatan kelebihan berat badan terutama pada generasi muda disebabkan oleh diet yang tidak tepat dan gaya hidup yang tidak aktif. Peningkatan berat badan ini akan berakibat pada penurunan daya tahan kardiorespirasi hingga berdampak pada kapasitas kerja fisik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rerata indeks massa tubuh, ketahanan kardiorespirasi dan hubungan IMT dengan ketahanan kardiorespirasi pada mahasiswa FK Unand.
Penelitian dilakukan pada mahasiswa FK Unand Padang pada bulan Desember 2012 – Februari 2013. Penelitian ini merupakan studi observasional analitik menggunakan desain cross sectional study dengan jumlah sampel 30 orang. Ketahanan kardiorespirasi didapat dengan menghitung nilai VO2maks menggunakan tes ergometer sepeda metode Astrand 6 minute cycle test. Dilakukan pengukuran berat badan dan tinggi badan. Analisis statistik yang digunakan adalah uji regresi linear sederhana.
Hasil penelitian menemukan bahwa rata-rata indeks massa tubuh 23,2 ± 5,1 dan rata-rata volume oksigen maksimal 39,5 ± 12,1. Uji regresi linear menunjukkan terdapat hubungan antara indeks massa tubuh dengan ketahanan kardiorespirasi dengan tingkat hubungan sedang (r=0,567, p<0,05) dengan pengaruh sebesar 32,1% (R2=0,321) dan persamaan regresi yang didapat adalah Y=70,827 – 1,349X.
Kesimpulan dari hasil penelitian adalah subjek memiliki tingkat ketahanan kardiorespirasi rata-rata dan memiliki indeks massa tubuh yang normal. Semakin tinggi indeks massa tubuh semakin rendah ketahanan kardiorespirasi.
ABSTRAK
HUBUNGAN JUMLAH TROMBOSIT DENGAN MANIFESTASI PERDARAHAN PADA ANAK DENGAN DEMAM BERDARAH DENGUE
DI RS DR M DJAMIL PADANG Oleh
FANNY LEO CHIANDRA
0910313248
Manifestasi perdarahan adalah gejala klinis yang sering terjadi pada demam berdarah dengue. Salah satu penyebab terjadinya perdarahan pada demam berdarah dengue adalah jumlah trombosit yang menurun. Penurunan jumlah trombosit disebabkan oleh patogenesis dari perjalanan penyakit demam berdarah dengue. Penurunan jumlah trombosit dapat menyebabkan manifestasi perdarahan yang lebih berat.
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi hubungan jumlah trombosit dengan manifestasi pada anak dengan demam berdarah dengue yang dirawat di bagian anak dalam tahun 2011 dengan
menggunakan design penelitian Cross Sectional study. Penelitian ini menggunakan data
sekunder berupa rekam medik yang diambil di bagian rekam medik RS DR M Djamil. Data
dianalisis dengan uji Chi-Square pada p-value < 0,05.
Hasil penelitian ditemukan bahwa pada RS DR M Djamil tahun 2011 pasien DBD terbanyak adalah berjenis kelamin laki-laki, banyak pada kelompok umur 5-9 tahun, sebagian besar mempunyai status gizi baik dan banyak menderita derajat II. Dari analisis bivariat didapatkan bahwa pasien DBD banyak mengalami trombositopenia berat dan ptekie spontan. Dari analasis bivariat didapatkan nilai p=0,021 (p < 0,05) yang menunjukkan bahwa ada hubungan antara jumlah trombosit dengan manifestasi perdarahan pada penyakit demam berdarah dengue.
Kesimpulan yang didapatkan dari penelitian ini adalah terdapatnya hubungan jumlah trombosit dengan manifestasi perdarahan pada penyakit demam berdarah dengue.
iii
ABSTRAK
Hubungan Jumlah Trombosit, Hematokrit, dan Hemoglobin dengan Derajat Klinik Demam Berdarah Dengue Pada Pasien Dewasa di RSUP.
M. Djamil Padang Oleh Yobi Syumarta
Diagnosis yang tepat terhadap stadium dan kondisi penderita DBD penting untuk menentukan prognosisnya. Pemeriksaan trombosit, hematokrit, dan hemoglobin untuk setiap derajat klinik DBD diharapkan membantu dalam mengelompokkan dan mengelola pasien berdasarkan derajat kliniknya. Penelitan ini bertujuan untuk melihat hubungan hasil pemeriksaan trombosit, hematokrit, dan hemoglobin dengan derajat klinik DBD berdasarkan kriteria WHO.
Penelitian dilakukan secara retrospektif terhadap 84 sampel dari rekam medik Bagian Ilmu Penyakit Dalam di RSUP. M. Djamil Padang dari januari 2011 sampai 30 April 2013. Data yang diambil adalah usia, jenis kelamin, derajat klinik DBD, trombosit, yang diperiksaan menggunakan metode Rees Ecker, hematokrit dengan metode langsung cara mikro, dan hemoglobin menggunakan metode Sahli. Uji hipotesis menggunakan analisis bivariat dengan uji hipotesis nonparametrik Kendal’s Tau dengan software SPSS.
Hasil penelitian ditemukan rerata umur 25.49±10.09 tahun. Laki-laki 46 orang (54.8%) lebih banyak dari wanita 38 orang (45.2%). Rerata trombosit derajat 1,2,dan 3 adalah 62.64, 31.14, 36.17 ribu/mm3. Hasil analisis didapatkan trombosit berhubungan dengan derajat klinik DBD, semakin rendah trombosit semakin berat derajat kliniknya (p < 0.05, r = 0.336). Rerata hematokrit derajat1, 2, dan3 adalah 44.22, 46.90, 38.47 %. Hematokrit tidak berhubungan dengan derajat klinik DBD (p > 0.05, r = 0.059). Rerata hemoglobin derajat 1, 2, dan 3 adalah 14.88, 15.14, 12.96 gr/dl. Hemoglobin tidak berhubungan dengan derajat klinik DBD (p > 0.05, r = - 0.036).
Semakin rendah jumlah trombosit semakin berat derajat klinik DBD, hematokrit dan hemoglobin tidak berhubungan dengan derajat klinik DBD.
iv
ABSTRACT
Relation Between The Amount Of Platelets, Hematocrit, and Hemoglobin with a degree Clinical Dengue Hemorrhagic Fever In Adult Patients in
RSUP. M. Djamil Padang by
Yobi Syumarta
Prompt diagnosis and as an accurate assessment of the stage and condition of DHF cases is a very important factor for determining patient prognosis . The existence of an exact value of the results of platelets , hematocrit , and hemoglobin for each grade of DHF are expected to greatly assist in classify and manage patients based on the clinical degree. This research was aimed to determine the relationship between the results of the hemoglobin, hematocrit and platelets count with the degree of clinical DHF according to WHO criteria.
This research with retrospective design in 84 samples were taken from the medical records of adult patients in RSUP. M. Djamil Padang from 1 January 2011 until 30 April 2013 . Data that taken from medical records were age, gender, clinical degree of DHF, platelets, that used direct method Rees Ecker, hematocrit’s used direct method micro method, and hemoglobin’s used Sahli method. Data processed by Kendal Tau tests using SPSS software.
Results found average ages of 25.49 ± 10,09 years. The number of male patients 46 (54.8 %) higher than female patients 38 (45.2 %). Average trombocyte for grade 1, 2,and 3 were 62.64, 31.14, 36.17 thousand/mm3. Analysis showed that there is a relationship between the platelet with clinical degree of DHF, where the lower the number, the more severe the clinical degree of DHF (p < 0.005 , r = - 0336). Average hematocrit for grade 1, 2,and 3 were 44.22, 46.90, 38.47%. There is no relation between hematocrit with clinical degree of DHF (p > 0.05 , r = 0.059). Average hemoglobin for grade 1, 2,and 3 were 14.88, 15.14, 12.96 gr/dl, there is no relation between hemoglobin with clinical degree of DHF (p > 0.05 , r = - 0.036) .
More lower the number of trombosit, the more severe the clinical degree of DHF, and there is no relation between hematocrit and hemoglobin with clinical degree of DHF.
ABSTRAK
HUBUNGAN KADAR FT4 DENGAN GEJALA KLINIS
YANG TERKAIT EFEK SIMPATIS BERDASARKAN INDEKS WAYNE DI NAGARI
KOTO SALAK DHARMASRAYA
Oleh
Nining Kurniawati
Saraf simpatis merupakan bagian dari saraf otonom yang mengatur sebagian besar dari kerja fungsi tubuh. Salah satu hal yang dapat mempengaruhi aktivitas saraf simpatis adalah hormon tiroid melalui pengaruhnya terhadap sensitivitas katekolamin. Peningkatan aktivitas saraf simpatis dapat terjadi pada keadaan hipertiroid dan sebaliknya pada hipotiroid. Pengukuran kadar hormon tiroid dilakukan dengan mengukur kadar FT4, FT3, TSH, dll.
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi hubungan kadar FT4 dengan gejala klinis yang terkait efek simpatis di nagari koto salak dharmasraya. Nagari Koto Salak merupakan daerah yang tergolong ekses yodium berat berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Sumatera Barat tahun 2010. Keadaan ekses yodium dapat menyebabkan hipertiroid yang selanjutnya akan mempengaruhi aktivitas saraf simpatis. Mengingat luasnya gejala klinis efek simpatis yang dapat terjadi, maka pada penelitian ini akan dibatasi berdasarkan kriteria Indeks Wayne. Dari kriteria indeks Wayne, penulis memilih 5 kriteria berupa palpitasi, penurunan berat badan, nervous, berkeringat lebih, dan tremor jari halus untuk diteliti. Penelitian ini menggunakan desain
penelitian Cross Sectional Study.
Dari penelitian ini ditemukan subjek dengan peningkatan kadar FT4 12,96% dan terdapat subjek dengan gejala klinis palpitasi, penurunan berat badan, nervous, berkeringat lebih, dan tremor jari halus dengan persentase berturut-turut adalah 42,59% , 38,89% , 46,30%, 25,93% , dan 44,44%.
Dari hasil analisis bivariat dengan menggunakan uji statistik Chi-Square diperoleh hasil tidak
ditemukan adanya hubungan hubungan kadar FT4 dengan 5 gejala klinis yang terkait efek
simpatis berdasarkan indeks wayne (p > 0.05).
Penelitian ini masih sederhana dan belum bisa menunjukkan adanya hubungan antara kadar FT4 dengan gejala klinis yang terkait efek simpatis. Sebaiknya untuk penelitian yang akan datang diharapkan dapat memiliki jumlah sampel yang banyak dan cakupan gejala klinis lain yang terlibat dalam aktivitas saraf simpatis yang lebih luas sehingga dapat lebih lengkap dan spesifik.
ABSTRAK
HUBUNGAN KADAR GLUKOSA DARAH SAAT MASUK RUMAH SAKIT DENGAN LAMA HARI RAWAT PASIEN SINDROM KORONER AKUT (SKA) DI RSUP DR. M.
DJAMIL PADANG
Oleh
Rosi Oktarina
Hiperglikemia masih menjadi topik penelitian yang sering dihubungkan dengan kejadian sindrom koroner akut (SKA) di dunia, terutama hiperglikemia saat masuk rumah sakit. Hal ini didasari oleh beberapa pengaruh kadar glukosa darah yang tinggi terhadap sistem kardiovaskuler seperti gangguan fungsi ventrikel kiri, stroke volume yang menurun, regurgitasi katup mitral berulang, gangguan pada waktu pengisian diastolik hingga risiko tinggi untuk arritmia, serta hubungannya dengan peningkatan risiko trombosis. Sehingga semakin memperjelas pengaruh hiperglikemia yang tidak hanya dapat meningkatkan risiko terjadinya SKA, melainkan juga dapat memperburuk kondisi pasien SKA sendiri.
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi hubungan kadar glukosa darah sewaktu dengan lama hari rawat pasien Sindrom Koroner Akut (SKA) dengan menggunakan desain penelitian Cross Sectional Study. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diambil di Instalasi
Rekam Medik (Medical Record), yakni data rekam medik pasien yang didiagnosis sebagai
Sindrom Koroner Akut (SKA) yang dirawat inap di Rumah Sakit Umum Pusat DR. M. Djamil Padang Periode Januari –Desember 2011. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan dari Bulan Oktober 2011- Desember 2012.
Dari penelitian ini ditemukan sebagian besar pasien SKA masuk rumah sakit dengan
kadar Glukosa Darah Sewaktu (GDS) sebesar ≥ 200 mg/dl (40%) dan lama hari rawat sebesar ≥
7 hari (52%). Dari hasil analisa bivariat dengan menggunakan uji korelasi Spearman ditemukan adanya hubungan searah antara kadar glukosa darah saat masuk rumah sakit dengan lama hari
rawat pasien SKA dengan kekuatan hubungan yang sedang, r = +0,492 , p = 0, 000 (p<0,05).
Melalui penelitian ini diharapkan adanya pemantauan terhadap kadar GDS yang diperiksa saat pasien masuk rumah sakit dan untuk penelitian yang akan datang diharapkan dapat diteliti lebih lanjut faktor-faktor lain yang mempengaruhi lama hari rawat pasien SKA.
ABSTRAK
HUBUNGAN KADAR TRIGLISERIDA DAN KOLESTEROL HDL DARAH DENGAN KADAR ALANINE AMINOTRANSFERASE PADA PASIEN NON
ALCOHOLIC FATTY LIVER DISEASE Oleh:
Bayu Gemilang 1010312007
Trigliserida dan Kolesterol HDL (c-HDL) merupakan beberapa dari komponenkomponen
sindroma metabolik (SM). SM dipercaya merupakan faktor utama penyebab Non Alcoholic Fatty
Liver Disease (NAFLD). NAFLD merupakan penyakit hati kronik yang nantinya dapat
menyebabkan fibrosis sel-sel hepar dan juga keganasan. NAFLD tidak menunjukkan manifestasi
klinis yang khas, sehingga diperlukan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan enzim hati
untuk menegakkan diagnosis. Dari berbagai penelitian Alanine Aminotransferase (ALT) menjadi
pilihan sebagai marker pada penyakit NAFLD. Penelitian ini merupakan penelitian analitik
deskriptif dengan desain retrospektif menggunakan data pasien NAFLD di instalasi rekam medik
RSUP dr.M.Djamil Padang. Sampel penelitian ini adalah 51 pasien NAFLD. Hasil penelitian
didapatkan dari uji korelasi pearson terdapat derajat hubungan yang kuat (r=0,512) dan
hubungan yang bermakna (p<0,0001) antara kadar trigliserida dengan kadar ALT serum dan
derajat hubungan yang sedang (r=0,26) dan hubungan yang tidak bermakna (p=0,065) antara
c-HDL dengan ALT serum. Kesimpulan penelitian ini adalah kadar trigliserida berhubungan
dengan kadar ALT pada penderita NAFLD.
ABSTRAK
HUBUNGAN KOMUNIKASI DOKTER – PASIEN TERHADAP
KEPUASAN PASIEN BEROBAT DI POLIKLINIK RSUP DR. M. DJAMIL
PADANG
OLEH :
TIARA WAHYUNI
Komunikasi dokter – pasien adalah suatu hal yang sangat penting dalam proses terapeutik di
Rumah Sakit. Kualitas komunikasi yang terjadi diantara kedua belah pihak akan menghasilkan
kepuasan di dalam diri pasien karena pasien akan merasa puas dan kembali lagi ke dokter yang
sama jika komunikasi mereka baik dan efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
hubungan komunikasi dokter – pasien dengan kepuasan pasien berobat di poliklinik RSUP Dr.
M. Djamil Padang. Desain penelitian adalah Cross Sectional dengan teknik pengambilan sampel
yaitu proportionate stratified random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 107 orang. Data
diolah dan dianalisis dengan menggunakan program komputer SPSS for windows 17 dengan uji
statistik chi-square. Hasil analisis univariat menunjukkan komunikasi dokter – pasien cukup baik
yaitu 46,7% dan tingkat kepuasan pasien yaitu 86,9%. Hasil analisis bivariate secara umum
menunjukkan ada hubungan bermakna antara komunikasi dokter – pasien terhadap kepuasan
pasien. Diharapkan penelitian ini bermanfaat untuk RSUP Dr. M. Djamil Padang untuk terus
meningkatkan pelayanan kesehatan baik dokter maupun tenaga kesehatan lainnya.
ABSTRAK
Hubungan Luas Infark Miokard dengan Kadar Glukosa Darah
pada ST Elevation Myocardial Infarction di RSUP Dr. M. Djamil Padang
Oleh: Sri Rahmadani, BP 0910313199
Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan luas infark miokard dengan kadar glukosa darah pada ST Elevation Myocardial Infarction (STEMI) di RSUP Dr. M. Djamil Padang. STEMI, salah satu klasifikasi infark miokard akut (IMA), memiliki Case Fatality Rate (CFR) tertinggi 13,49% IMA pada tahun 2007 di rumah sakit Indonesia. Prevalensi penyakit kardiovaskuler di Padang tinggi. Oklusi total pada STEMI menyebabkan ukuran infark miokard yang luas dan berkaitan dengan peningkatan kadar glukosa darah. Ukuran infark dapat diukur dengan sistem skoring QRS Wagner, skor yang lebih sederhana, yaitu menggunakan 37 kriteria dan maksimal 29 poin. Glukosa darah yang diukur adalah glukosa darah sewaktu saat masuk. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan cross sectionalstudy dan diimplementasikan ke dalam program SPSS 16 dengan jumlah sampel 40 data rekam medik pasien STEMI tanpa diabetes. Hasil penelitian ini adalah laki-laki 31 orang, perempuan 9 orang, umur terbanyak 40-59 (tahun), kadar glukosa darah sewaktu terbanyak 100-149 (mg/dl), dan pada luas infark miokard berat diperoleh rerata kadar glukosa darah sewaktu yang tinggi. Pada uji statistik (uji ANOVA) diperoleh p = 0,009 (p<0,05) yang berarti terdapat hubungan yang bermakna antara luas infark miokard dengan kadar glukosa darah. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan luas infark miokard dengan kadar glukosa darah pada STEMI.
ABSTRACT
Correlation between Myocardial Infarctiom Size with Blood Glucose Levels
in ST Elevation Myocardial Infarction in RSUP Dr. M. Djamil Padang
By: Sri Rahmadani, BP 0910313199
This study aims to know the correlation between myocardial infarction size with blood glucose levels in ST Elevation Myocardial Infarction (STEMI) in the RSUP Dr. M. Djamil Padang. STEMI, one of the classification of acute myocardial infarction (AMI), is highest Case Fatality Rate (CFR) 13.49% IMA in 2007 at hospitals in Indonesia. The prevalence of cardiovascular disease in Padang is high. Total occlusion of STEMI cause extensive infarction and is associated with increased blood glucose levels. Infarct size can be measured with Wagner QRS scoring system, a simpler scores, using 37 criterias and 29 points maximum. Blood glucose was measured is random blood glucose level. This study uses a cross-sectional study and implemented in SPSS 16 with 40 samples from medical records of STEMI patients without diabetes. The results of this study were 31 male, 9 female, most aged is 40-59 (years old), most random blood glucose levels is 100-149 (mg / dl), and mean random blood glucose levels in severe myocardial infarction is high. In the statistical test (ANOVA test) obtained p = 0.009 (p <0.05), which means there is a significant correlation between size of myocardial infarction with blood glucose levels. The conclusion of this study is there is correlation between myocardial infarction size with blood glucose levels in STEMI.
ABSTRAK
HUBUNGAN NILAI HEMATOKRIT TERHADAP JUMLAH TROMBOSIT PADA PENDERITA
DEMAM BERDARAH DENGUE
oleh
Amrina Rasyada
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama di
Indonesia. Perjalanan penyakit ini sangat cepat dan sering menjadi fatal karena banyak pasien yang
meninggal akibat penanganannya yang terlambat. DBD menjadi penyebab kematian terbanyak di Rumah
Sakit Kota Padang. Pengenalan penyakit DBD saat masuk rumah sakit dapat menentukan prognosis baik
atau buruk pada pasien. Pemeriksaan nilai hematokrit dan jumlah trombosit menjadi indikator diagnosis
DBD. Nilai hematokrit akan meningkat (hemokonsentrasi) karena penurunan volume plasma darah,
sedangkan jumlah trombosit akan menurun (trombositopenia) akibat supresi sum-sum tulang dan
munculnya antibodi terhadap trombosit.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan nilai hematokrit terhadap jumlah trombosit pada
penderita demam berdarah dengue. Penelitian ini merupakan penelitian analitik retrospektif, dengan
jumlah sampel sebanyak 112 orang. Data dikumpulkan melalui hasil rekam medis yang kemudian
dianalisis melalui uji korelasi Spearman.
Hasil dari penelitian ini mendapatkan nilai koefisien korelasi Spearman (r) sebesar -0,115 dan nilai
signifikasi p>0,05. Dengan demikian, terdapat korelasi negatif yang tidak bermakna antara nilai
hematokrit dengan jumlah trombosit saat masuk rumah sakit pada pasien DBD di RSUP DR. M. Djamil
Padang.
Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa semakin besar nilai hematokrit maka jumlah trombosit
akan semakin menurun.
ABSTRAK
Dismenorea merupakan salah satu keluhan ginekologi tersering yang membawa pasien datang ke dokter. Dismenorea terjadi merata pada 40-80% wanita dan pada 5-10% nya, dismenorea dirasakan terlalu berat dan tidak tertahankan. Obat anti inflamasi non steroid (OAINS) adalah modalitas terapi yang paling sering digunakan untuk pengelolaan dismenorea primer. Namun efek samping yang terjadi karena penggunaan OAINS tidaklah ringan, terutama efek pada saluran cerna. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan OAINS pada pengobatan dismenorea dengan kejadian dispepsia pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Rancangan penelitian ini adalah analitik cross-sectional. Subjek penelitian berjumlah 62 orang yang diambil dengan menggunakan metode total sampling.
Keseluruhan responden telah menandatangani surat pernyataan persetujuan. Selanjutnya data dianalisa dengan menggunakan program SPSS versi 16. Penelitian ini menilai OAINS (jenis, jumlah, dan kombinasi) pada pengobatan dismenorea dengan dengan kejadian dispepsia yang timbul.
Dari penelitian ini diperoleh jumlah responden yang mengalami dispepsia adalah 14 orang (22,6%). Derajat dispepsia yang dikeluhkan umumnya ringan. Hasil uji
chi-square antara jenis OAINS pada pengobatan dismenorea dengan kejadian
dispepsia didapatkan p = 0,120. Hasil uji chi-square antara jumlah OAINS pada pengobatan dismenorea dengan kejadian dispepsia didapatkan p = 1,00. Hasil uji
chi-square antara kombinasi OAINS pada pengobatan dismenorea dengan
kejadian dispepsia didapatkan p = 0,125. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa tidak terdapat hubungan antara jenis, jumlah, dan kombinasi OAINS pada pengobatan dismenorea dengan kejadian dispepsia.
HUBUNGAN PRESTASI BELAJAR DENGAN TINGKAT STRES PADA
SISWA KELAS X DAN XI DI SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 10
PADANG
Oleh: Lieka Nugrahi Jaslindo
1010312032
Abstrak
Kualitas siswa dapat dilihat dari prestasi belajar yang diraihnya, sehingga dipandang sebagai
bukti usaha yang diperoleh siswa. Prestasi belajar adalah hasil atau nilai yang dicapai oleh
seseorang sebagai usaha belajar dalam jangka waktu tertentu. Prestasi belajar memiliki pengaruh
terhadap terjadinya stres pada siswa. Stres adalah suatu tekanan atau wilayah ketegangan, baik
pada aspek jasmani maupun rohani seseorang. Prestasi belajar rentan membuat siswa jatuh
kepada stres dalam proses belajar mengajar jika hasil belajar tidak sesuai dengan standar yang
telah ditetapkan. Penelitian dilakukan pada siswa kelas X dan XI di Sekolah Menengah Atas
Negeri (SMAN) 10 Padang dengan metode analitik dengan membandingkan dua kelompok
prestasi, dengan total sampel 260 sampel. Penelitian ini menggunakan teknik Purposive
Sampling yaitu mengelompokan siswa sesuai prestasi belajar menjadi kelompok tertinggi dan
kelompok terendah data nilai siswa TA 2012-2013 sedangkan tingkat stres siswa diukur dengan
skala Holmes selama tahun ajaran tersebut. Pada akhir penelitian dilakuan uji statistik chisquare
dengan menggunakan software Statistical Program for Social Science (SPSS). Hasil penelitian
adalah didapatkan bahwa Prestasi belajar siswa kelas X dan XI SMAN 10 Padang TA 2012/2013
baik dikarenakan rata-rata nilai > 75. Siswa Kelas X dan XI di SMAN 10 yang menjadi sampel
penelitian terdapat 116 siswa yang mengalami stres (44,7%). Hasil uji statistik chi square pada
data prestasi belajar dan tingkat stres pada siswa kelas X dan XI di SMAN 10 Padang adalah
nilai p = 0,013 (p < 0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah Terdapat hubungan bermakna
antara prestasi belajar dan tingkat stres pada siswa kelas X dan XI di SMAN 10 Padang.
ABSTRAK
HUBUNGAN RESISTENSI INSULIN DENGAN GAMBARAN KLINIS PADA
SINDROM OVARIUM POLIKISTIK
Oleh:
MELIZA WAHYUNI
0910312026
Sindrom ovarium polikistik merupakan kelainan endokrin dan metabolic yang sering
terjadi pada wanita dalam usia reproduksi. SOPK merupakan kumpulan gejala dari amenore,
oligomenore, infertilitas, obesitas, hirsustisme, acne, alopesia, dan akantosis nigrikans.
Resistensi insulin diyakini sebagai salah satu penyebab tersering dari SOPK melalui berbagai
mekanisme, yaitu penurunan kadar IGFBP-I, peningkatan IGF-I, aktivasi jalur autofosforilasi
serin, peningkatan aktivasi P450c17, dan penurunan kadar SHBG. Mekanisme-mekanisme
tersebut akan merangsang timbulnya gambaran-gambaran klinis pada SOPK. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui hubungan resistensi insulin dengan gambaran klinis sindrom
ovarium polikistik. Penelitian ini dilakukan pada pasien SOPK dengan menggunakan studi cross
sectional dengan pendekatan retrospektif, yaitu mengumpulkan kejadian masa lalu selama 3
tahun dari tahun 2009 - 2011, dengan jumlah sampel 105 orang. Analisis statistik yang
digunakan adalah uji chi square. Hasil penelitian menemukan bahwa didapatkan 33,3%
penderita SOPK mengalami resistensi insulin. Berdasarkan gambaran klinis ditemukan 35,23%
amenore, 64,77% oligomenore, 72,04% infertilitas, 50,5% obesitas, 0,95% hirsustisme, acne
20%, alopesia dan akantosis nigrikans 0%. Dari 33,3% SOPK dengan resistensi insulin 40%
Berdasarkan penelitian tersebut dari hasil uji statistik ditemukan hubungan bermakna
antara resistensi insulin dengan obesitas (p<0,05) dan tidak ditemukan hubungan bermakna
antara resistensi insulin dengan infertilitas, hirsustisme, dan acne (p>0,05).
Kata Kunci : SOPK, Resistensi Insulin, Amenore, Oligomenore, Infertilitas, Obesitas,
ABSTRAK
HUBUNGAN UMUR DAN LAMANYA HEMODIALISIS DENGAN STATUS
GIZI PADA PENDERITA PENYAKIT GINJAL KRONIK YANG
MENJALANI HEMODIALISIS DI RS. DR. M. DJAMIL PADANG
Oleh : Hannie Qalbina Syaiful
Penyakit Ginjal Kronik (PGK) masih merupakan masalah kesehatan dunia, karena prevalensinya
yang meningkat, “ireversible” dan progresif yang berakhir dengan penyakit ginjal tahap akhir
yang memerlukan terapi pengganti ginjal. Malnutrisi lebih banyak ditemukan pada PGK.
Sebanyak 40% melnutrisi ditemukan pada penderita pada awal hemodialisis. Malnutrisi pada
PGK berhubungan dengan peningkatan kesakitan, kematian dan menurunnya kualitas hidup.
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan umur dan lamanya hemodialisis
dengan status gizi pada penderita penyakit ginjal kronik yang mejalani hemodialisis.
Metode : Penelitian ini adalah penelitian “Cross Sectional Study” yang dilakukan pada bulan
Oktober 2013 di Unit Hemodialisis RS Dr. M. Djamil Padang. Diteliti 59 orang penderita PGK.
Penilaian gizi diukur dengan Lingkaran Lengan Atas (LILA) dan Tebal Lipat Kulit (Skin Fold).
Data dianalisa dengan program SPSS.
Hasil : Umur penderita berkisar 22-75 tahun dengan rata-rata 52,39 ±10,39 tahun, dan terbanyak
umur 50-59 tahun yaitu sebesar 50,86%. Laki-laki lebih banyak dari pada perempuan (1,6-2,2 :
1) dan lamanya menjalani HD berkisar 1-97 bulan dengan rata-rata 24,54 ± 24,69 bulan.
Malnutrisi pada penderita PGK berdasarkan LILA dan Skin Fold, didapatkan berturut-turut 33
orang (55,93%) dan32 orang (54,24%). Tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara
gambaran gizi dengan umur dan lamanya menjalani DH ( P<0,05, r<1 ).
Kesimpulan : Malnutrisi pada PGK yang menjalani HD berkisar antara 54,24% – 55,93%,
tergantung kriteria penilaian status gizi yang digunakan. Tidak terdapat hubungan antara status
gizi dengan umur dan lamanya menjalani HD.
i ABSTRACT
THE RELATION BETWEEN AGE AND CLINICOPATHOLOGIC FEATURES OF BREAST CANCER AT DEPARTMENT OF SURGERY
DR M DJAMIL GENERAL HOSPITAL
By
Aisha Rahmatya
Breast cancer is now become the most common cancer diagnosed in women and the leading cause of deaths from cancer among women. The incidences of the disease vary globally, it has been reported to be increasing in developing countries while slightly down in developed countries. The clinicopathologic features of breast cancer may vary from each age groups and it has an important role as a prognostic factors.
The objective of this study is to acknowledge the relation between age of the breast cancer patients with their clinicopathologic features. The clinicopathologic features contains of staging, histologic subtypes, and histologic grades.
This is an analythical study by using cross sectional method with total sampling technique. Samples were patients with primary breast cancer in Dr. M. Djamil
General Hospital period January 2012 – December 2012. From 112 patients with
primary breast cancer there were only 46 who fulfilled the criteria. The samples
were analyzed by chi square test (p ≤ 0,05).
The result of this study has revealed that most of the patients ≥ 40 years of age
(78,3%) and < 50 years of age (67,4%), diagnosed in late stage (69,6%) with invasive ductal carcinoma (87%) and low histologic grade (78,3%). Bivariat analyze found that there is no significant relation between age and clinicopathologic features of breast cancer.
ii ABSTRAK
HUBUNGAN USIA DENGAN GAMBARAN KLINIKOPATOLOGI KANKER PAYUDARA DI BAGIAN BEDAH RSUP DR M DJAMIL PADANG
Oleh
Aisha Rahmatya
Kanker payudara merupakan kanker yang paling sering mengenai perempuan dan menjadi penyebab kematian terbanyak akibat kanker pada perempuan. Angka kejadian kanker payudara bervariasi secara global dimana terjadi peningkatan insiden di negara berkembang tetapi cenderung menurun di negara maju. Gambaran klinikopatologi kanker payudara dapat bervariasi sesuai kelompok usia dan memiliki peran penting dalam faktor prognostik penyakit.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan usia dengan gambaran klinikopatologi kanker payudara. Gambaran klinikopatologi meliputi stadium klinis, subtipe histologi, dan gradasi histologi.
Penelitian ini adalah penelitian analitik menggunakan metode cross sectional
dengan teknik total sampling. Sampel penelitian yaitu pasien kanker payudara
primer di bagian bedah RSUP Dr. M. Djamil Padang periode Januari 2012 –
Desember 2012. Dari 112 penderita kanker payudara primer hanya 46 yang
memenuhi kriteria. Sampel penelitian dianalisis dengan uji chi square (p≤ 0,05).
Dari penelitian ditemukan bahwa sebagian besar penderita berusia ≥ 40 tahun
(78,3%) dan < 50 tahun (67,4%), datang pada stadium lanjut (69,6%) dengan tipe invasive ductal carcinoma (87%) dan bergradasi rendah (78,3%). Analisis bivariat menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara usia dengan gambaran klinikopatologi kanker payudara.
iii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
“Hubungan usia dengan gambaran klinikopatologi kanker payudara di
bagian bedah RSUP Dr. M. Djamil Padang”. Skripsi ini disusun sebagai salah
satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran di Fakultas Kedokteran
Universitas Andalas Padang.
Terima kasih saya ucapkan kepada Dekan Fakultas Kedokteran Universitas
Andalas, Dr. dr. Masrul, M.Sc, SpGK.
Ucapan terima kasih dengan penuh hormat saya tujukan kepada dr. Daan
Khambri, SpB(K) Onk, M.Kes selaku dosen pembimbing I yang telah
meluangkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk memberikan bimbingan dan
petunjuk serta saran dan masukan dalam penyusunan skripsi ini.
Kepada dr. Henny Mulyani, M.Biomed, SpPA selaku dosen pembimbing II, saya
ucapkan terima kasih banyak atas waktu, tenaga, dan pikiran yang telah
diluangkan dalam memberikan bimbingan, arahan, semangat, dan saran dalam
penyusunan skripsi ini.
Terima kasih kepada dr. Wirsma Arif Harahap, SpB(K) Onk dan dr. Aswiyanti
Asri, M.Si Med, SpPA selaku dosen penguji atas segala saran dan masukan demi
iv
Terima kasih kepada dr. Dewi Rusnita selaku pembimbing akademik yang telah
memberi bimbingan dan nasihat dalam menjalani pendidikan di Fakultas
Kedokteran Universitas Andalas.
Khusus kepada kedua orang tua tercinta, Ir. H. Arwizal Mawi dan Hj. Darmayanti,
dengan penuh rasa hormat saya ucapkan terima kasih yang tidak terhingga atas
segala dukungan, nasihat, semangat, dan doa yang tidak pernah putus.
Ucapan terima kasih juga saya tujukan kepada seluruh civitas akademika Fakultas
Kedokteran Universitas Andalas, terutama dosen pengajar, para staf, dan
teman-teman di Pendidikan Dokter 2009.
Serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu yang telah membantu
dalam penyelesaian skripsi ini. Semoga Allah SWT senantiasa mencurahkan
rahmat dan hidayah-Nya kepada semua pihak yang telah membantu.
Akhir kata segala tegur sapa berupa kritik dan saran sangat diharapkan demi
kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi dunia
pendidikan, instansi yang terkait, dan masyarakat luas.
Padang, Maret 2013
ABSTRAK
IDENTIFIKASI BAKTERI ESCHERICHIA COLI PADA AIR MINUM ISI ULANG YANG
DIPRODUKSI DEPOT AIR MINUM ISI ULANG DI KECAMATAN PADANG SELATAN
Oleh
FATHONI AFIF
0910313229
Tiga per empat tubuh manusia terdiri dari air, sehingga membuat air menjadi komponen yang
penting bagi manusia. Salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan tubuh manusia terhadap air
adalah dengan minum. Menurut Permenkes No. 492 tahun 2010, air minum berkualitas dinilai
dari parameter mikrobiologi adalah tidak ditemukannya bakteri total coliform dan Escherichia
coli dalam 100ml sampel. Menurut beberapa penelitian sebelumnya, banyak depot air minum isi
ulang yang memproduksi air tidak sesuai dengan persyaratan secara mikrobiologi tersebut.
Dengan ditemukannya bakteri coliform, terdapat kemungkinan air tersebut juga tercemar dengan
bakteri patogen lainnya yang dapat menyebabkan keluhan pada sistem pencernaan. Penelitian ini
bertujuan untuk mengidentifikasi kehadiran bakteri Escherichia coli pada air minum yang
diproduksi depot air minum isi ulang di Kecamatan Padang Selatan.
Telah dilakukan penelitian di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas
Andalas pada sampel air yang didapat dari 13 depot yang tidak melakukan uji kualitas. Jenis
penelitian ini adalah eksperimental dan deskriptif. Data diperoleh dengan cara observasi dan
wawancara langsung.
Hasil penelitian didapatkan bahwa 10 dari 13 sampel tercemar oleh bakteri coliform dan 2
sampel memenuhi syarat untuk penelitian selanjutnya secara kualitatif. Setelah penelitian
lanjutan, tidak ditemukan bakteri Escherichia coli namun ditemukan bakteri Pseudomonas
aeruginosa.
ABSTRAK
IDENTIFIKASI VEKTOR MALARIA DI DAERAH SEKITAR PLTU TELUK SIRIH KECAMATAN BUNGUS KOTA PADANG PADA TAHUN 2011
Oleh
Rezka Gustya Sari
Malaria adalah penyakit infeksi parasit yang disebabkan oleh protozoa obligat intraselular dari genus Plasmodium yang ditularkan melalui nyamuk Anopheles. Penyakit malaria sampai saat ini masih menjadi masalah utama kesehatan masyarakat di Indonesia. Jumlah kasus malaria di Kota Padang meningkat dari 187 kasus menjadi 354 kasus pada tahun 2011. Bungus merupakan salah satu kecamatan dengan kasus malaria tinggi di Kota Padang, terdapat 69 kasus malaria pada tahun 2011. Salah satu cara penanggulangan malaria adalah dengan pengendalian vektornya. Pengendalian vektor malaria dibutuhkan pengetahuan mengenai spesies vektor. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan spesies nyamuk tersangka vektor malaria.
Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober s/d November 2011 di daerah sekitar PLTU Teluk Sirih Kecamatan Bungus yang merupakan salah satu daerah endemik malaria. Nyamuk
Anopheles di tangkap di dalam dan di luar ruangan menggunakan light trap dan umpan orang
menggunakan aspirator. Penangkapan dilakukan pada malam hari pada jam 18.00 s/d 06.00 dan pagi hari pada jam 07.00 s/d 09.00. Semua nyamuk yang berhasil tertangkap diidentifikasi di bawah mikroskop.
Hasil penelitian ini memperlihatkan nyamuk Anopheles yang di temukan di daerah
sekitar PLTU Teluk Sirih Kecamatan Bungus ada 5 spesies yaitu An. subpictus (45,5 %), An.
aconitus (14,7 %), An. sundaicus (29,4 %), An. Kochi (1,8 %), dan An. barbirostris (4,6 %).
Puncak aktivitas menggigit An. sundaicus pada jam 19.00 s.d 20.00 di luar rumah dan di dalam
rumah pada jam 21.00 s/d 01.00. An. subpictus pada jam 02.00 s/d 03.00 di luar rumah dan di
dalam rumah pada jam 22.00 s/d 23.00. An. aconitus pada jam 21.00 s/d 22.00 di luar rumah dan
di dalam rumah pada jam 21.00 s/d 22.00.
Bedasarkan penelitian yang telah dilakukan didapatkan nyamuk An. subpictus, An.
sundaicus, dan An.aconitus dengan persentase (49,5 %) , (29,4 %), dan (14,7%). Hal ini
menunjukkan bahwa An. sundaicus, An. subpictus, dan An. aconitus memiliki potensi yang besar
dalam penularan penyakit malaria.
ABSTRAK
INSIDEN MALARIA DI PUSKESMAS SUNGAI DURIAN DAN PUSKESMAS TALAWI KOTA SAWAHLUNTO
BULAN OKTOBER 2011 SAMPAI FEBRUARI 2012
OLEH :
MAREZA DWITHANIA
Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit dari genus Plasmodium dan ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles. Malaria masih merupakan masalah kesehatan dunia, termasuk Indonesia. Secara epidemiologi dikatakan bahwa penyakit malaria masih endemis di Indonesia karena angka kesakitan dan kematian akibat penyakit ini masih cukup tinggi. Sumatera Barat sebagai salah satu daerah yang memiliki geografi perbukitan, pegunungan, dan daerah pantai juga menunjukkan Annual Malaria Insidence yang meningkat dari tahun ke tahun. Terjadinya infeksi dan tingginya insiden malaria pada suatu daerah dapat dipengaruhi oleh parasit, hospes, dan vektor. Sawahlunto sebagai suatu daerah perbukitan memiliki risiko tinggi untuk penyebaran dan penularan penyakit malaria.
Desain penelitian ini adalah deskriptif observasional. Data diperoleh dengan pemeriksaan secara mikroskopik sediaan darah tebal dan sediaan darah tipis dari sampel darah tepi yang telah dipulas dengan pewarnaan Giemsa.
Penelitian telah dilakukan pada pasien yang datang berobat ke Puskesmas Sungai Durian dan Puskesmas Talawi Kota Sawahlunto selama bulan Oktober 2011 sampai Februari 2012. Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui insiden dan distribusi malaria menurut spesies parasit penyebab malaria, umur serta jenis kelamin penderita. Selain menentukan spesies parasit malaria, juga diklasifikasikan derajat infeksi berdasarkan hitung parasit pada sediaan positif malaria.
Seluruh pasien yang datang dengan gejala klinis malaria selama bulan Oktober 2011 sampai Februari 2012, yaitu 312 orang diperiksa sampel darahnya. Dari hasil penelitian didapatkan 13 sediaan darah positif malaria. Dari semua pasien malaria ditemukan parasit dominan adalah Plasmodium vivax (76,92%), diikuti Plasmodium falciparum (15,38%) dan
Plasmodium malariae (7,69%). Berdasarkan distribusi umur, frekuensi tertinggi dari parasit