• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN MODEL PRAKTIKUM KIMIA DASAR BERBASIS BUDAYA BALI UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS MAHASISWA CALON GURU KIMIA.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGEMBANGAN MODEL PRAKTIKUM KIMIA DASAR BERBASIS BUDAYA BALI UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS MAHASISWA CALON GURU KIMIA."

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ..……… I

PERSETUJUAN PEMBIMBING ……….. Ii

PERNYATAAN ………...….. Iii

KATA PENGANTAR ……… Iv

UCAPAN TERIMA KASIH ……….. Vi

ABSTRAK ……….. ix

ABSTRACT ……… x

DAFTAR ISI ………... xi

DAFTAR TABEL ………... xiii

DAFTAR GAMBAR ………..……… xv

DAFTAR LAMPIRAN ………...………… xvi

BAB I PENDAHULUAN ………...………... 1

A. Latar Belakang ………..………. 1

B. Rumusan Masalah ………..……. 13

C. Tujuan Penelitian ………...…. 13

D. Manfaat Penelitian ………... 14

BAB II MEMBANGUN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS MELALUI PRAKTIKUM ASAM-BASA DAN ELEKTROLISIS BERBASIS BUDAYA LOKAL …………... 16

A. Konsep Berpikir Kritis ………... 16

B. Keterampilan Berpikir Kritis ……….. 23

C. Pembelajaran Berpikir Kritis ………..……… 24

D. Pembelajaran Berbasis Inkuiri ………... 27

E. Pembelajaran Berbasis Budaya ………... 36

F. Keterampilan Proses Sains ……….. 43

G. Peranan Pertanyaan dalam Pembelajaran ………... 47

(2)

BAB III METODE PENELITIAN ……….. 66

A. Paradigma Penelitian ……….. 66

B. Desain Penelitian ……… 67

C. Prosedur Pengembangan MPKD-BBB ………..………… 68

C. Instrumen Penelitian ………... 76

D. Analisis Data ……….. 77

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ………. 79

A. Hasil Penelitian ……….. 79

1. Hasil Studi Pendahuluan ………... 79

2. Karakteristik Model Praktikum Berbasis Budaya Bali ... 95

3. Hasil-hasil Validasi Ahli ………... 99

4. Hasil-hasil Uji Coba Tes ………... 100

5. Hasil-hasil Uji Coba Terbatas ………... 102

6. Hasil-hasil Uji Coba Utama ……….. 115

B. Pembahasan Hasil Penelitian ……….. 133

BAB V KESIMPULAN DAN IMPLIKASI ……… 145

A. Kesimpulan ………. 145

B. Implikasi Penelitian ……… 148

DAFTAR PUSTAKA ……… 150

LAMPIRAN-LAMPIRAN ……… 159

(3)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kimia sebagai bagian dari sains, merupakan suatu ilmu berlandaskan

eksperimen yang pengembangan dan aplikasinya menuntut standar tinggi pada

kerja eksperimental. Eksperimen atau praktikum kimia membantu mahasiswa

mendapatkan keterampilan-keterampilan teknis, misalnya, manipulasi peralatan

dan material, observasi, pengumpulan data, analisis data, interpretasi hasil

observasi, pemecahan masalah, kerja tim, mendesain eksperimen, dan

keterampilan berkomunikasi (Bennett dan O’Neale, 1998; Johnstone dan

Al-Shuali, 2001, dalam Limniou et al., 2007). Lebih lanjut, Witteck et al. (2007)

menyatakan bahwa praktikum merupakan komponen esensial untuk mengajarkan

metode ilmiah dan memahami hakekat sains. Pelaksanaan praktikum dalam kimia

dapat membangkitkan keingintahuan mahasiswa terhadap kimia. Dalam

melakukan praktikum, mahasiswa didorong untuk berpartisipasi aktif dan dilatih

untuk mengembangkan sikap ilmiah.

Sementara itu, Hofstein dan Mamlok-Naaman (2007) menyatakan bahwa

praktikum di laboratorium dimaksudkan untuk meningkatkan penguasaan konsep

dalam sains dan aplikasinya; kemampuan memecahkan masalah dan

keterampilan-keterampilan ilmiah; kebiasaan berpikir ilmiah; memahami

bagaimana sains dan ilmuwan bekerja; menumbuhkan minat dan motivasi. Hal

(4)

laboratorium dalam pembelajaran sains bertujuan untuk membangkitkan minat

mahasiswa, mengajarkan keterampilan-keterampilan laboratorium; membantu

memperoleh dan mengembangkan konsep, menanamkan sikap ilmiah, dan

mengembangkan keterampilan sosial.

Praktikum di laboratorium menyediakan lingkungan belajar unik yang

memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk terlibat aktif dalam proses

penyelidikan dan inkuiri yang mirip dengan apa yang dikerjakan oleh para

ilmuwan (Hofstein dan Lunneta, dalam Domin, 2007). Hasil dari proses

penyelidikan dan inkuiri ini diharapkan dapat memberikan mahasiswa belajar

secara lebih bermakna jika dibandingkan bentuk pembelajaran sains yang lain.

Sementara itu, Tobin (dalam Kipnis dan Hofstein, 2007) menyatakan bahwa

praktikum sebagai suatu cara untuk belajar pemahaman dan sekaligus terlibat aktif

dalam proses mengkonstruksi pengetahuan melalui pengerjaan sains. Masih

menurut Tobin, belajar bermakna di laboratorium akan terjadi jika mahasiswa

diberi kesempatan memanipulasi peralatan dan material untuk mengkonstruksi

pengetahuan dari suatu fenomena dan menghubungkannya dengan konsep-konsep

sains. Manfaat praktikum bagi mahasiswa dapat diringkas menjadi tiga domain

(Willington, dalam Ketpichainarong, et al., 2010), yaitu untuk mengembangkan:

(1) domain kognitif, misalnya konten sains dan hakekat sains; (2) domain afektif,

misalnya menumbuhkan sikap positif terhadap sains; dan (3) domain

psikomotorik, misalnya keterampilan proses sains, keterampilan laboratorium,

keterampilan pemecahan masalah, dan keterampilam berpikir, terutama

(5)

Berpikir kritis merupakan serangkaian keterampilan kognitif dan disposisi

intelektual yang diperlukan untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan

mengevaluasi argumen secara efektif agar dapat menemukan dan mengatasi

prasangka pribadi, dapat merumuskan dan menyajikan alasan yang meyakinkan

dalam mendukung kesimpulan, dan dapat membuat keputusan yang rasional dan

tepat tentang apa yang dilakukan dan diyakini (Bassham et al., 2008). Dengan

demikian, keterampilan berpikir kritis merupakan kemampuan berpikir bagi

seseorang dalam membuat keputusan yang dapat dipercaya dan bertanggung

jawab yang mempengaruhi hidup seseorang. Keterampilan berpikir kritis juga

merupakan inkuiri kritis, sehingga seseorang yang berpikir kritis menyelidiki

masalah, mengajukan pertanyaan, mengajukan jawaban baru yang menentang

status quo, menemukan informasi baru, dan menentang dogma dan dokrin

(Schafersman, 1991). Menurut Lipman (2003), keterampilan berpikir kritis sangat

penting dimiliki agar kita dapat terhindar dari penipuan, indoktrinasi, dan

pencucian otak (mindwashing). Pentingnya peningkatan atau pengembangan

keterampilan berpikir kritis siswa/mahasiswa telah menjadi tujuan dari pendidikan

pada akhir-akhir ini (Tsapartis dan Zoller, 2003; Lubezky et al., 2004, Phillips dan

Bond, 2004). Oleh karena itu, institusi pendidikan pada semua level sudah

seharusnya memfokuskan pada pengembangan keterampilan berpikir kritis

siswa/mahasiswa (Zoller, et al., 2000).

Pengembangan keterampilan berpikir kritis mahasiswa dimaksudkan

untuk: (1) menyiapkan mahasiswa agar berhasil menghadapi kehidupan

(6)

pemahaman/literasi terhadap lingkungan (environmental literacy) (Ernst dan

Monroe, 2004); dan (3) meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam

menganalisis, mengkritisi, menyarankan ide-ide, memberi alasan secara induktif

dan deduktif, serta untuk mencapai kesimpulan yang faktual berdasarkan

pertimbangan-pertimbangan yang rasional (Dumke, dalam Jones, 1996).

Sementara itu, Beyer (1995) menyatakan bahwa pembelajaran atau praktikum

keterampilan berpikir kritis sangat penting diterapkan, agar dapat

mengembangkan daya nalar mahasiswa. Masih menurut Beyer (1995), untuk

berhasil hidup dalam alam demokrasi, mahasiswa harus dapat berpikir kritis agar

dapat membuat keputusan dengan tepat.

Bagi mahasiswa, keterampilan berpikir kritis diperlukan terutama untuk

memahami konsep-konsep pada mata kuliah yang sedang dipelajari. Dengan

keterampilan berpikir kritis, mahasiswa akan dapat menganalisis masalah,

mengidentifikasi konsep-konsep yang terkait, mempertimbangkan kredibilitas

sumber informasi, memilih informasi yang relevan, menganalisis argumen,

mengkritisi pendapat, dan mengevaluasi solusi yang mungkin, sehingga

dihasilkan solusi yang terbaik.

Mengingat pentingnya keterampilan berpikir kritis khususnya bagi

mahasiswa calon guru kimia, keterampilan berpikir kritis hendaknya

dikembangkan sejak dini (tahun pertama kuliah) baik melalui perkuliahan teori

maupun praktikum. Mata kuliah Kimia Dasar merupakan suatu mata kuliah yang

diprogramkan di tahun pertama kuliah. Pada mata kuliah Kimia Dasar terintegrasi

(7)

melakukan praktikum-praktikum kimia tingkat lanjut, sehingga perlu ditangani

secara sungguh-sungguh terutama untuk mengembangkan penguasaan konsep,

keterampilan proses sains, dan keterampilan berpikir kritis mahasiswa.

Praktikum Kimia Dasar yang dilakukan, tidak serta merta dapat

meningkatkan hasil belajar mahasiswa, terutama keterampilan berpikir kritis

mahasiswa. Hal ini didukung oleh pernyataan Lunetta dan Nekhleh (dalam

Witteck et al., 2007) bahwa praktikum yang dilakukan tidak otomatis memberikan

hasil positif terhadap pencapaian hasil belajar kognitif dan metode ilmiah. Hodson

(Kipnis dan Hofstein, 2007) mengkritik kerja laboratorium dan mengklaim bahwa

kerja laboratorium tidak produktif dan membingungkan, ketika kerja laboratorium

dilakukan tanpa suatu pertimbangan dan ketidakjelasan dari tujuan praktikum,

serta praktikum lebih menekankan terhadap apa yang dikerjakan mahasiswa di

laboratorium. Secara lebih tegas, Roth (dalam Domin, 2007) menyatakan:

’Although laboratories have long been recognized for their potential to facilitate

the learning of science concept and skills, this potential has yet to be realized’.

Beberapa faktor penghambat pencapaian hasil praktikum diungkapkan

oleh Hofstein dan Lunetta (dalam Donnell et al., 2007), meliputi: (1) pelaksanaan

praktikum ekspositori oleh sebagian besar institusi tidak memberikan kesempatan

kepada mahasiswa untuk berpikir tentang tujuan dari penyelidikan dan urutan

tugas-tugas yang dibutuhkan hanya untuk mengejar penyelesaian tugas-tugas

tersebut, (2) asesmen secara sungguh-sungguh diabaikan, memberikan kesan

bahwa praktikum tidak perlu dilakukan secara serius, dan (3) terbatasnya sumber

(8)

bahwa pengelolaan praktikum Kimia Dasar di salah satu institusi pendidikan

dilakukan melalui praktikum ekspositori di mana mahasiswa melakukan

praktikum berdasarkan buku penuntun praktikum yang telah disediakan oleh

dosen. Mahasiswa tidak diberi kesempatan untuk merancang atau mendesain

praktikum sendiri. Menurut Edelson (dalam Donnell et al., 2007), implementasi

praktikum di mana mahasiswa sendiri yang merancang eksperimen (praktikum)

adalah suatu tantangan yang signifikan bagi mahasiswa. Kemampuan merancang

eksperimen untuk keperluan pembelajaran dan penelitian merupakan salah satu

kompetensi yang harus dimiliki oleh guru-guru kimia (Depdiknas, 2007).

Praktikum ekspositori memiliki beberapa kelemahan seperti yang telah

dilaporkan oleh beberapa peneliti. Praktikum ekspositori tidak memperhatikan

kreativitas atau kontekstualisasi, dan sering merupakan suatu verifikasi atau

pengujian teori yang telah dipresentasikan dalam perkuliahan (McGarvey, dalam

Donnell et al., 2007). Lebih lanjut, Garratt (dalam Limniou et al., 2007)

menyatakan bahwa pelaksanaan praktikum ekspositori tidak memberikan peluang

pembelajaran tentang mendesain eksperimen, penyelidikan, dan analisis hasil

secara kritis. Mahasiswa yang mengikuti praktikum ekspositori tidak mengerjakan

eksperimen, tetapi melakukan latihan, sebab mereka biasanya mengikuti instruksi

secara mekanik tahap demi tahap, tanpa berpikir (Clow dan Garratt, dalam

Limniou et al., 2007).

Upaya-upaya peningkatan kualitas praktikum telah dilakukan oleh

beberapa peneliti untuk menyelidiki efektivitas praktikum pada pendidikan sains

(9)

2007). Limniou et al. (2007) melakukan integrasi simulator viskositas interaktif

dalam sesi pra-laboratorium untuk membantu mahasiswa memahami materi kimia

dengan lebih baik. Dalam praktikum ini, mahasiswa melakukan eksperimen

virtual menggunakan simulator viskositas pada sesi pra-laboratorium, dilanjukan

dengan melakukan praktikum riil di laboratorium. Di pihak lain, Donnell et al.

(2007) menerapkan pembelajaran berbasis masalah proyek mini (PBL proyek

mini) sebagai suatu metode pembelajaran laboratorium untuk mengembangkan

keterampilan mahasiswa melakukan praktikum di laboratorium kimia. PBL

proyek ini merefleksikan situasi pemecahan masalah kehidupan nyata yang

mampu meningkatkan partisipasi dan keyakinan mahasiswa melakukan

praktikum. Witteck et al. (2007) menggunakan pendekatan pembelajaran

perusahaan (learning company approach) untuk memotivasi siswa secara

kooperatif melakukan eksperimen pengaturan diri (self-regulated). Sementara itu,

Ketpichainarong et al. (2010) menyelidiki efektivitas praktikum selulase berbasis

inkuiri untuk meningkatkan inkuiri mahasiswa dalam bioteknologi. Lebih lanjut,

Green et al., (2004) juga menerapkan pembelajaran laboratorium berbasis inkuiri

untuk lebih menekankan penggunaan metode ilmiah secara eksplisit serta

mengajak mahasiswa untuk merumuskan dan menguji hipotesisnya sendiri.

Upaya-upaya peningkatan kualitas praktikum pada suatu institusi

pendidikan di Bali juga telah dilaporkan oleh beberapa peneliti. Suardana (2001)

menerapkan modul pertanyaan untuk mengefektifkan pelaksanaan praktikum

Kimia Dasar. Semetara itu, Sudria et al. (2002) mengembangkan bimbingan klinis

(10)

praktikum Kimia Anorganik. Redhana (2008) menerapkan open-ended laboratory

pada praktikum Biokimia untuk meningkatkan keterampilan pemecahan masalah

dan pemahaman mahasiswa terhadap konsep-konsep Biokimia. Peningkatan

kualitas praktikum ini lebih difokuskan untuk meningkatkan kualitas proses dan

penguasaan konsep mahasiswa, tetapi belum diupayakan untuk meningkatkan

keterampilan berpikir kritis mahasiswa.

Penelitian tentang upaya peningkatan keterampilan berpikir kritis

[image:10.595.108.515.234.641.2]

mahasiswa, sesungguhnya juga telah banyak dilaporkan oleh beberapa peneliti.

Tabel 1.1 meringkas beberapa hasil penelitian yang berkaitan dengan upaya untuk

meningkatkan keterampilan berpikir kritis atau keterampilan yang berhubungan,

baik pada siswa maupun mahasiswa. Berdasarkan Tabel 1.1 dapat diketahui

bahwa implementasi pembelajaran atau praktikum inkuiri, scaffolding, berbasis

masalah, berbasis budaya lokal, dan metode bertanya, dapat meningkatkan

keterampilan berpikir kritis siswa/mahasiswa. Dari semua penelitian tersebut,

penelitian tentang pengembangan praktikum berbasis budaya lokal, khususnya

praktikum Kimia Dasar berbasis budaya Bali belum pernah dilakukan.

Pengintegrasian budaya Bali dalam praktikum Kimia Dasar merupakan

suatu upaya yang sangat penting untuk dilakukan. Hal ini didasarkan atas alasan

sebagai berikut. Pertama, pengetahuan mahasiswa tentang materi praktikum

Kimia Dasar dalam bentuk konten dan konteks budaya yang ada di sekitarnya

merupakan pengetahuan awal yang dibawa dalam praktikum. Pengetahuan awal

ini sangat bermanfaat dalam membantu mahasiswa memahami materi praktikum

(11)

dipahami melalui konten dan konteks budaya mahasiswa juga memberikan

pengaruh terhadap peningkatan pemahaman mahasiswa terhadap budaya yang

dimiliki. Hal ini akan dapat menghindari terjadinya ketidakcocokan (clash) dan

konflik budaya atau marginalisasi khasanah budaya Bali serta dapat memperkuat

budaya Bali dari pengaruh budaya asing. Ketiga, pengintegerasian budaya Bali

dalam praktikum akan dapat meningkatkan kecintaan mahasiswa terhadap potensi

(budaya) daerahnya dan keinginan untuk terus melestarikannya.

Pentingnya pengintegrasian budaya lokal dalam pembelajaran atau

praktikum telah dilaporkan oleh beberapa peneliti (Jegede dan Okebukola, dalam

Suastra, 2005; Baker dan Taylor, 1995; Cobern dan Aikenhead, 1996; Costa,

1995; dan Ogawa, 2002). Menurut Jegede dan Okebukola (Suastra, 2005), bahwa

memadukan sains asli siswa (sains sosial-budaya) dengan pelajaran sains di

sekolah ternyata dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Sementara itu, Baker

dan Taylor (1995) menyatakan bahwa jika pembelajaran atau praktikum sains

tidak memperhatikan budaya siswa/mahasiswa, maka konsekuensinya adalah

siswa/mahasiswa akan menolak atau menerima hanya sebagian dari

konsep-konsep sains yang dikembangkan dalam pembelajaran atau praktikum. Pendapat

senada dikemukakan oleh Cobern dan Aikenhead (1996), yang menyatakan

bahwa jika subbudaya sains modern yang diajarkan selaras dengan subbudaya

kehidupan sehari-hari siswa/mahasiswa, maka pembelajaran sains akan dapat

memperkuat pandangan siswa/mahasiswa tentang alam semesta, hasilnya adalah

enculturation. Jika enculturation terjadi, maka berpikir ilmiah siswa/mahasiswa

(12)

yang diajarkan di sekolah berbeda atau bahkan bertentangan dengan subbudaya

keseharian siswa, maka pembelajaran sains akan memisahkan pandangan siswa

tentang alam semesta (Costa, 1995 dan Ogawa, 2002), sehingga mereka

meninggalkan atau meminggirkan cara asli mereka untuk mengetahui, dan

rekonstruksi terjadi menuju cara mengetahui menurut ilmuwan (scientific).

Agar dapat mengintegrasikan budaya lokal, khususnya budaya Bali ke

dalam praktikum Kimia Dasar, eksplorasi konten dan kontek budaya Bali yang

berkaitan dengan materi praktikum Kimia Dasar merupakan hal yang sangat

mendesak untuk dilakukan. Dari penelusuran aspek budaya Bali yang berkaitan

dengan materi praktikum Kimia Dasar, ditemukan bahwa aplikasi reaksi

netralisasi asam dan basa telah dimanfaatkan oleh masyarakat Bali dalam proses

pengobatan secara tradisonal. Dalam pengobatan sengatan lebah, misalnya,

masyarakat Bali biasanya menggunakan air pamor (air kapur). Bisa sengatan

lebah (apiktoksin) bersifat asam sehingga dapat dinetralkan dengan air pamor

yang bersifat basa. Demikian juga, untuk menghentikan ketagihan candu yang

mengandung senyawa-senyawa alkaloid yang bersifat basa, digunakan ramuan

obat yang bersifat asam; ramuan ini terdiri atas: buah belimbing besi, garam

dapur, dan lunak tanek (asam jawa/Tamarindus indica L. yang telah dimasak).

Aspek budaya Bali yang juga berkaitan dengan materi praktikum Kimia

Dasar adalah penyepuhan emas. Perhiasan dari sepuhan emas banyak digunakan

oleh masyarakat Bali, khususnya oleh perempuan-perempuan Bali dalam kegiatan

keagamaan atau kesenian. Secara tradisonal, penyepuhan emas dilakukan melalui

(13)

berupa emas murni, dan katodanya adalah perhiasan yang disepuh. Penyepuhan

emas adalah proses elektrolisis dengan cara melapisi emas pada benda yang

disepuh. Pada proses penyepuhan emas, benda yang disepuh ditempatkan sebagai

katoda dan emas ditempatkan sebagai anoda.

Mencermati pentingnya pengintegrasian budaya Bali dalam praktikum

Kimia Dasar, maka pada penelitian ini dikembangkan model praktikum Kimia

Dasar berbasis budaya Bali yang dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis

mahasiswa. Model ini mengintegrasikan konten dan konteks budaya Bali dalam

praktikum Kimia Dasar yang memberikan peluang kepada mahasiswa untuk

belajar secara lebih bermakna (meaningful) dan memungkinkan mahasiswa

mengembangkan keterampilan berpikir kritis. Dalam model ini, mahasiswa

diberikan pemahaman terhadap budayanya sendiri dan diberikan

pengalaman-pengalaman bermakna untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis dalam

kegiatan praktikum, sehingga mahasiswa dapat menjadi seorang pemikir yang

kritis dan berhasil menghadapi kehidupan. Dengan demikian, pengembangan

model praktikum Kimia Dasar berbasis budaya Bali ini diharapkan dapat

memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengembangkan potensi

dirinya secara maksimal dan melatihkan keterampilan berpikir kritis selama

merancang, melaksanakan, dan melaporkan atau mengkomunikasikan hasil-hasil

praktikum. Pengembangan model ini juga diharapkan dapat mengurangi

keterasingan mahasiswa terhadap budayanya sendiri dan lebih memahaminya,

sehingga menumbuhkan kecintaan mahasiswa terhadap budaya yang dimiliki dan

(14)

Tabel 1.1 Rekapitulasi Hasil Penelitian yang Berkaitan dengan Keterampilan Berpikir Kritis atau Keterampilan yang Berhubungan

Penulis

(Tahun) Fokus penelitian Hasil Penelitian

Oliver-Hoyo (2003)

Peneliti mempelajari pengaruh pembelajaran inkuiri terbimbing dengan tugas membuat laporan tertulis untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis

Pembelajaran inkuiri terbimbing dengan pemberian tugas membuat laporan tertulis pada mata kuliah Kimia Dasar dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis mahasiswa

Sharma & Hannafin (2004)

Peneliti memeriksa pengaruh

scaffolding pada pengembangan

keterampilan berpikir kritis

Scaffolding pada pembelajaran secara online efektif mengembangkan

keterampilan berpikir kritis mahasiswa Sellnow dan

Ahlfeldt (2005)

Peneliti menerapkan pembelajaran berbasis masalah untuk

memperbaiki keterampilan berpikir kritis dan kerja tim.

Pembelajaran berbasis masalah dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kerja tim mahasiswa. Toledo

(2006)

Peneliti menerapkan pendekatan bertanya secara online untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis

Pendekatan bertanya secara online dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan memperluas penguasaan konten

Kipnis dan Hofstein (2007)

Peneliti menerapkan praktikum inkuiri pada mata pelajaran kimia SMA untuk mengembangkan keterampilan metakognisi

Siswa mempraktikkan kemampuan metakognisi dalam berbagai tahap dalam proses inkuiri saat melakukan aktivitas inkuiri.

Miri et al. (2007)

Peneliti menerapkan pembelajaran: (1) pemecahan masalah dunia nyata, (2) diskusi open-ended, dan (3) eksperimen berbasis inkuiri

Pemecahan masalah dunia nyata, diskusi

open-ended, dan eksperimen berbasis

inkuiri dapat meningkatkan keterampilan dan disposisi berpikir kritis

Pullaila et al. (2007)

Peneliti menerapkan pembelajaran inkuri terbimbing untuk

meningkatkan penguasaan konsep dan keterampilan berpikir kreatif

Pembelajaran inkuri terbimbing dapat meningkatkan penguasaan konsep dan keterampilan berpikir kreatif

Suja, et al. (2007)

Peneliti mengembangkan

pembelajaran sains SMP berbasis konten dan konteks budaya Bali

Sikap ilmiah, keterampilan berpikir kritis, dan ketekunan siswa tergolong tinggi melalui pembelajaran sains berbasis konten dan konteks budaya Bali Dirgantara

(2008)

Peneliti menerapkan pembelajaran laboratorium berbasis inkuri untuk meningkatkan penguasaan konsep dan keterampilan proses sains

Pembelajaran laboratorium berbasis inkuri pada pokok bahasan kalor dapat meningkatkan penguasaan konsep dan keterampilan proses sains

Redhana (2009)

Peneliti memgembangkan program pembelajaran berbasis masalah terbimbing untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis

Pembelajaran berbasis masalah terbimbing pada mata pelajaran kimia dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa

Talanquer dan Pollard (2010)

Peneliti mendeskripsikan cara alternatif mengkonseptualisasi kurikulum kimia pada jurusan sains dan teknik melalui perubahan fokus dari belajar kimia sebagai body of

knowledge menuju pemahaman

kimia sebagai suatu cara berpikir (chemistry as a way of thinking)

(15)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, permasalahan dalam penelitian ini

dapat dirumuskan sebagai berikut. “Bagaimanakah model praktikum Kimia Dasar

berbasis budaya Bali (MPKD-BBB) dapat meningkatkan keterampilan berpikir

kritis mahasiswa”.

Dari rumusan masalah ini dapat diajukan pertanyaan-pertanyaan penelitian

sebagai berikut.

1. Konten dan konteks budaya Bali apa saja yang relevan dengan topik-topik

praktikum Kimia Dasar?

2. Bagaimanakah karakteristik MPKD-BBB yang dikembangkan?

3. Sejauh mana MPKD-BBB lebih baik dalam meningkatkan penguasaan konsep

mahasiswa daripada praktikum reguler?

4. Sejauh mana MPKD-BBB lebih baik dalam meningkatkan keterampilan

berpikir kritis mahasiswa daripada praktikum reguler?

5. Bagaimanakah keterampilan proses sains mahasiswa melalui implementasi

MPKD-BBB?

6. Apa kendala-kendala yang ditemui dalam mengimplementasikan MPKD-BBB?

7. Apa keunggulan-keunggulan dari MPKD-BBB?

8. Bagaimanakah tanggapan dosen terhadap MPKD-BBB?

9. Bagaimanakah tanggapan mahasiswa terhadap MPKD-BBB?

C. Tujuan Penelitian

Mengingat pentingnya keterampilan berpikir kritis dan budaya Bali dalam

(16)

menekankan pada upaya pengintegrasian aspek budaya Bali dalam pembelajaran

atau praktikum untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis mahasiswa

melalui usaha-usaha yang dilakukan secara eksplisit. Oleh karena itu, tujuan

penelitian ini adalah menghasilkan MPKD-BBB yang teruji untuk meningkatkan

penguasaan konsep dan keterampilan berpikir kritis mahasiswa. MPKD-BBB ini

menyediakan kesempatan cukup luas bagi mahasiswa berlatih menerapkan

keterampilan berpikir kritis mahasiswa, dalam proses merancang, melaksanakan,

dan melaporkan hasil-hasil praktikum berbasis budaya Bali dengan memanfaatkan

berbagai sumber belajar secara maksimal.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian dan pengembangan ini berupa MPKD-BBB yang

diharapkan dapat memberikan manfaat baik dari segi teoretik maupun praktis.

1. Manfaat teoretik

Manfaat teoretik hasil penelitian dan pengembangan ini adalah

memperkaya khasanah praktikum inovatif yang ada dan memberikan ide-ide

berupa prinsip-prinsip dasar dalam mendesain model praktikum yang memberikan

tantangan kepada mahasiswa untuk belajar secara lebih bermakna sehingga dapat

meningkatkan penguasaan konsep dan keterampilan berpikir kritis mahasiswa.

2. Manfaat praktis

Manfaat praktis dari hasil penelitian dan pengembangan ini adalah: (a)

sebagai salah satu model praktikum alternatif untuk meningkatkan penguasaan

(17)

dosen dalam mengelola praktikum yang menekankan pada peningkatan

keterampilan berpikir kritis mahasiswa; (c) mengubah paradigma belajar

mahasiswa yang selama ini lebih banyak sebagai “konsumen ide” menjadi

berperan sebagai “produsen ide”; dan (d) sebagai bahan pertimbangan bagi

institusi pendidikan, khususnya Jurusan Pendidikan Kimia untuk merancang

kurikulum, pendekatan, metode, dan strategi pengelolaan praktikum dengan

(18)

BAB III

METODE PENELITIAN

A.Paradigma Penelitian

Berpikir kritis mencakup sejumlah keterampilan kognitif dan disposisi

intelektual yang diperlukan untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan

mengevaluasi argumen secara efektif agar dapat menemukan dan mengatasi

prasangka pribadi dan bias; dapat merumuskan dan menyajikan alasan yang

meyakinkan dalam mendukung kesimpulan; dan dapat membuat keputusan yang

rasional dan tepat tentang apa yang dilakukan dan diyakini (Bassham, et al, 2008).

Keterampilan berpikir kritis sangat penting dimiliki oleh setiap orang agar

dapat berhasil menghadapi kehidupan. Agar mahasiswa memiliki keterampilan

berpikir kritis, mahasiswa hendaknya memperoleh kesempatan berlatih dan

mengembangkan keterampilan berpikir kritis selama pembelajaran atau

praktikum. Untuk memenuhi keperluan tersebut, MPKD-BBB dirancang dan

dikembangkan. MPKD-BBB menggunakan fenomena budaya Bali sebagai

stimulus belajar bagi mahasiswa. Pertanyaan konseptual dan rancangan praktikum

yang dibuat mahasiswa melalui kerja kelompok, mendorong mahasiswa

menghasilkan ide-ide dan sekaligus membimbingnya menguasai konsep-konsep

Kimia Dasar. Ide-ide mahasiswa, dikembangkan lebih lanjut melalui pertanyaan

kritis dalam proses bimbingan rancangan praktikum, pelaksanaan praktikum,

pelaporan dan diskusi kelas. Semua rangkaian kegiatan praktikum, memberikan

(19)

keterampilan proses sains. Bagan dari paradigma yang digunakan dalam

[image:19.595.119.506.187.601.2]

penelitian dan pengembangan ini ditunjukkan pada Gambar 3.1.

Gambar 3.1 Paradigma dalam Penelitian dan Pengembangan MPKD-BBB

B.Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode Penelitian dan Pengembangan

Pendidikan (Educational Research and Development). Tahapan penelitian dan

pengembangan ini terdiri atas empat tahap, yang disebut dengan model 4D

(define, design, develop, dan disseminate) (Thiagarajan et al.,1974). Define adalah

kegiatan mengumpulkan berbagai informasi yang diperlukan (needs assessment)

melalui studi literatur dan studi lapangan untuk menyusun buram atau produk MPKD-BBB

Keterampilan: mengidentifikasi, menganalisis, dan mengevaluasi argumen secara efektif;

merumuskan alasan yang meyakinkan; dan membuat keputusan yang rasional dan tepat. Keterampilan

Berpikir Kritis

Keterampilan Proses Sains

Fenomena Budaya Bali

Pertanyaan Kritis Pertanyaan

Konseptual

Kerja Kelompok

Rancangan Praktikum

Pelaksanaan

Praktikum Pelaporan

Diskusi Kelas

(20)

awal. Design adalah kegiatan merancang produk awal. Develop adalah kegiatan

memvalidasi dan mengembangkan produk sehingga dihasilkan produk yang teruji

(valid dan reliabel) yang siap diimplementasikan. Disseminate adalah kegiatan

menyebarluaskan dan mengimplementasikan produk tanpa kehadiran peneliti.

Pada penelitian ini, kegiatan yang dilakukan hanya sampai pada tahap develop,

meliputi validasi pakar, uji coba terbatas, dan uji coba utama. Desain penelitian

selengkapnya disajikan pada Gambar 3.2.

C.Prosedur Pengembangan MPKD-BBB

1. Analisis Kebutuhan (Define)

Analisis kebutuhan dalam penelitian dan pengembangan ini dilakukan

untuk mengumpulkan berbagai informasi yang berkaitan dengan produk yang

akan dikembangkan (dalam hal ini MPKD-BBB). Pengumpulan informasi ini

dilakukan melalui studi literatur dan studi lapangan. Studi literatur berkaitan

dengan studi dokumen dan material lainnya yang mendukung pembuatan

rancangan produk. Sementara itu, studi lapangan dilakukan untuk mengumpulkan

informasi berkaitan, antara lain, dengan konten dan konteks budaya Bali yang

relevan dengan topik-topik praktikum Kimia Dasar; karakteristik mahasiswa,

faktor-faktor pendukung praktikum, meliputi: alat-alat, bahan-bahan, dan

buku-buku kimia; hambatan yang dihadapi oleh dosen dalam mengelola praktikum; dan

pandangan dosen terhadap praktikum dan asesmen keteramplan berpikir kritis.

Tahapan dalam analisis kebutuhan untuk merancang buram MPKD-BBB

(21)
[image:21.595.114.538.109.663.2]

Gambar 3.2 Tahapan dalam Analisis Kebutuhan (Define) dan Hubungannya dengan Penyusunan Buram MPKD-BBB (Design) yang Dilanjutkan dengan Validasi Ahli, Uji Coba Terbatas, dan Uji Coba Utama (Develop) D es ig n D ev el o p D ef in e Kendala-Kendala Dosen dalam Pengelolaan Praktikum Kimia Dasar

Pandangan Dosen terhadap Praktikum. Kimia Dasar dan Asesmen Keterampilan

Berpikir Kritis Budaya Bali

Fasilitas Pendukung Praktikum Kimia Dasar Karakteristik Mahasiswa Analisis Keterampilan Proses Sains Analisis Keterampilan Berpikir Kritis Indikator Keterampilan Berpikir Kritis Pertanyaan Kritis

MPKD-BBB Hasil Revisi Berdasarkan Uji Coba Terbatas

MPKD-BBB Hasil Revisi Berdasarkan Uji Coba Utama

Validasi Ahli

Uji Coba Terbatas

Uji Coba Utama MPKD-BBB Hasil Revisi Berdasarkan Masukan Ahli Perangkat Praktikum:

Pedoman Pengelolaan Praktikum Deskripsi Pengelolaan Praktikum Lembar Kerja Mahasiswa (LKM) Tes Keterampilan Berpikir Kritis Pedoman Observasi Angket Buram MPKD-BBB Indikator Keterampilan Proses Sains Analisis Silabus Kimia Dasar Analisis Kebutuhan

Studi Literatur Studi Lapangan

Konsep-konsep Esensial Daftar Analisis Konsep Pertanyaan Konseptual

Analisis Teori dan Temuan Penelitian

Model-model Praktikum

(22)

a. Studi Literatur

Studi literatur dilakukan untuk mengkaji silabus mata kuliah Kimia Dasar,

teori dan hasil penelitian terkait, keterampilan proses sains, dan keterampilan

berpikir kritis, sebagai dasar untuk merancang produk awal (buram) MPKD-BBB

(Gambar 3.2). Kegiatan yang dilakukan pada studi literatur ini adalah sebagai

berikut.

1) Menganalisis silabus mata kuliah Kimia Dasar untuk menghasilkan

konsep-konsep esensial.

2) Menganalisis konsep-konsep esensial sehingga diperoleh daftar analisis

konsep.

3) Menganalisis teori-teori dan temuan-temuan penelitian yang berkaitan dengan

model-model praktikum, khususnya model praktikum inkuiri.

4) Menganalisis keterampilan proses sains untuk menghasilkan indikator

keterampilan proses sains.

5) Menganalisis keterampilan berpikir kritis untuk menghasilkan indikator

keterampilan berpikir kritis.

6) Menyusun pertanyaan-pertanyaan konseptual berdasarkan daftar analisis

konsep dan fenomena budaya Bali. Pertanyaan konseptual ini dituangkan

dalam MPKD-BBB.

7) Pertanyaan kritis yang diajukan kepada mahasiswa didasarkan atas indikator

keterampilan berpikir kritis dan respon mahasiswa terhadap pertanyaan

(23)

8) Menyusun tes keterampilan berpikir kritis berbasis konten kimia

menggunakan acuan indikator-indikator keterampilan berpikir kritis Ennis

(1985) yang berhasil dirumuskan sebelumnya.

b. Studi lapangan

Studi lapangan dilakukan dengan maksud untuk mengumpulkan data

berkenaan dengan: (1) konten dan konteks budaya Bali yang relevan dengan

topik-topik praktikum Kimia Dasar; (2) karakteristik mahasiswa; (3) fasilitas

pendukung praktikum Kimia Dasar, meliputi alat-alat, bahan-bahan dan

buku-buku kimia yang digunakan sebagai sumber belajar oleh dosen dan mahasiswa;

(4) kendala-kendala yang dihadapi oleh dosen dalam mengelola praktikum Kimia

Dasar; dan (5) pandangan dosen terhadap pengelolaan praktikum dan asesmen

keterampilan berpikir kritis (Gambar 3.2). Eksplorasi konten dan konteks budaya

Bali dilakukan melalui penelusuran dokumen (transkrip lontar dan buku) serta

informasi dari nara sumber yang berkompeten berkaitan dengan budaya Bali,

yaitu: petani garam, pengusaha/pembuat arak, pengrajin perak dan emas,

pemangku, dan ibu-ibu rumah tangga. Sementara itu, karakteristik mahasiswa,

fasilitas pendukung praktikum Kimia Dasar, kendala-kendala yang dihadapi oleh

dosen dalam mengelola praktikum, dan pandangan dosen terhadap pengelolaan

praktikum dan asesmen keterampilan berpikir kritis diperoleh dengan cara

mengedarkan angket kepada empat dosen Kimia Dasar dan 14 mahasiswa yang

telah menyelesaikan mata kuliah Kimia Dasar pada salah satu jurusan di institusi

(24)

tentang daya dukung lembaga dan dosen sehingga model praktikum yang

dikembangkan didukung oleh kondisi yang ada dan layak diterapkan.

2. Perancangan Buram MPKD-BBB (Design)

Hasil-hasil yang diperoleh pada studi literatur dan studi lapangan

digunakan sebagai bahan untuk merancang buram MPKD-BBB (Gambar 3.2).

Buram MPKD-BBB yang dirancang harus memperhatikan kelayakan agar dapat diimplementasikan di lapangan, seperti tersedianya fasilitas pendukung (alat-alat,

bahan-bahan, dan buku-buku kimia) dan sumber daya manusia (dosen) berkualitas

yang mengimplementasikan model praktikum tersebut.

3. Pengembangan MPKD-BBB (Develop)

a. Validasi ahli

Buram MPKD-BBB yang sudah dirancang, selanjutnya, divalidasi oleh

tiga ahli; satu ahli memiliki keahlian dalam bidang konten kimia, dua ahli

memiliki keahlian dalam bidang pembelajaran dan asesmen. Validasi ini

dimaksudkan untuk mengetahui keterbacaan MPKD-BBB. Masukan-masukan

yang diberikan para ahli digunakan untuk menyempurnakan buram MPKD-BBB

(Gambar 3.2).

b. Uji coba terbatas dan revisi produk

Uji coba terbatas (Gambar 3.2) dilaksanakan pada satu kelas di salah satu

jurusan pada institusi pendidikan di Bali. Rancangan penelitian yang digunakan

pada uji coba terbatas ini adalah one group pretest-posttest design. Detail kegiatan

(25)

1) Peneliti mempersiapkan pelaksanaan uji coba terbatas.

a) Memilih dan menetapkan satu kelas pada salah satu jurusan di institusi

pendidikan di Bali sebagai tempat uji coba terbatas.

b) Memperkenalkan MPKD-BBB kepada dosen-dosen Kimia Dasar dan

mendiskusikannya agar mereka dapat mengimplementasikan model yang

sedang dikembangkan dengan baik.

c) Menyiapkan fasilitas pelaksanaan uji coba terbatas.

2) Dosen melaksanakan pretes (tes awal). Tes yang digunakan pada tes awal

adalah tes keterampilan berpikir kritis berbasis konten kimia.

3) Dosen mengelola praktikum dengan menerapkan MPKD-BBB.

4) Peneliti melakukan observasi terhadap implementasi MPKD-BBB untuk

mengetahui keterlaksanaan dan hambatan-hambatan yang dihadapi dalam

mengimplementasikan MPKD-BBB.

5) Dosen melaksanakan postes (tes akhir). Tes yang digunakan pada tes akhir

sama dengan tes yang digunakan pada tes awal.

6) Dosen mengedarkan angket untuk mengetahui tanggapan mahasiswa terhadap

MPKD-BBB yang diterapkan.

7) Peneliti mewawancarai dosen untuk mengetahui tanggapannya terhadap

MPKD-BBB.

8) Peneliti menyempurnakan MPKD-BBB berdasarkan hasil-hasil uji coba

(26)

c. Uji coba utama dan revisi produk

MPKD-BBB yang telah disempurnakan berdasarkan hasil uji coba

terbatas, selanjutnya, dilakukan uji coba utama (Gambar 3.2). Uji utama ini

dilaksanakan pada salah satu jurusan di institusi pendidikan di Bali, menggunakan

dua kelas paralel (satu kelompok eksperimen dan satu kelompok kontrol). Pada

kelompok eksperimen diterapkan MPKD-BBB, sedangkan pada kelompok kontrol

diterapkan praktikum reguler yang biasa digunakan oleh dosen-dosen Kimia

Dasar. Jumlah mahasiswa pada kelompok eksperimen sebanyak 28 orang dan

kelompok kontrol sebanyak 26 orang. Uji coba utama ini menggunakan rancangan

eksperimen kuasi, yaitu nonequivalent control group design:

Kelompok Eksperimen (KE) : O X1 O’

Kelompok Kontrol (KK) : O X2 O’

(diadaptasi dari Creswell, 2008).

Keterangan : O = skor tes awal O’ = skor tes akhir

X1 = MPKD-BBB X2 = praktikum reguler

Detail kegiatan yang dilakukan pada uji coba utama dapat diuraikan

sebagai berikut.

1) Peneliti mempersiapkan pelaksanaan uji coba utama.

a) Memilih dan menetapkan dua kelas paralel pada salah satu jurusan di

institusi pendidikan di Bali.

b) Memperkenalkan MPKD-BBB kepada dosen-dosen Kimia Dasar dan

mendiskusikannya agar mereka dapat mengimplementasikan MPKD-BBB

(27)

c) Menyiapkan fasilitas pelaksanaan uji coba utama.

2) Dosen melaksanakan tes awal pada kedua kelompok (eksperimen dan

kontrol). Tes yang digunakan pada tes awal adalah tes keterampilan berpikir

kritis berbasis konten kimia.

3) Dosen mengelola praktikum pada kelompok eksperimen dengan menerapkan

MPKD-BBB, sedangkan pada kelompok kontrol diterapkan praktikum

reguler. Kelompok eksperimen dan kontrol diajar oleh dosen yang berbeda.

4) Peneliti melakukan observasi terhadap pelaksanaan praktikum pada kelompok

eksperimen untuk mengetahui keunggulan dan hambatan yang dihadapi

dalam mengimplementasikan MPKD-BBB.

5) Dosen melaksanakan tes akhir baik pada kelompok eksperimen maupun

kelompok kontrol. Tes yang digunakan pada tes akhir sama dengan tes yang

digunakan pada tes awal.

6) Dosen mengedarkan angket kepada mahasiswa untuk mengetahui

tanggapannya terhadap MPKD-BBB yang diikuti.

7) Peneliti mewawancarai dosen yang mengimplementasikan MPKD-BBB

untuk mengetahui tanggapannya terhadap MPKD-BBB.

8) Peneliti melakukan analisis dan evaluasi terhadap efektivitas MPKD-BBB

ditinjau dari ketercapaian tujuan, yaitu peningkatan penguasaan konsep dan

keterampilan berpikir kritis mahasiswa.

9) Peneliti menyempurnakan MPKD-BBB berdasarkan hasil-hasil yang

diperoleh pada uji coba utama (jika ada) sehingga dihasilkan MPKD-BBB

(28)

Produk akhir dari penelitian ini berupa Model Praktikum Kimia Dasar

Berbasis Budaya Bali (MPKD-BBB) yang telah teruji yang dapat meningkatkan

penguasaan konsep dan keterampilan berpikir kritis mahasiswa.

D. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan pada penelitian ini didasarkan atas data yang

diperlukan. Tabel 3.1 meringkaskan hubungan antara data yang diperlukan,

[image:28.595.115.512.250.751.2]

sumber data, dan instrumen penelitian yang digunakan.

Tabel 3.1 Hubungan antara Data yang Diperlukan, Sumber Data, dan Instrumen Penelitian

Kegiatan Data yang diperlukan Sumber data Instrumen penelitian Studi

lapangan

Konten dan konteks budaya Bali yang relevan dengan topik-topik praktikum Kimia Dasar

Nara sumber yang berkompeten berkaitan dengan budaya Bali, dokumen

1) Pedoman wawancara 2) Daftar isian

Karakteristik mahasiswa Dosen Angket Fasilitas pendukung praktikum

Kimia Dasar

Alat-alat, bahan-bahan, dan buku-buku kimia

Pedoman observasi Kendala-kendala dalam

mengelola praktikum

Dosen Angket

Pandangan dosen terhadap praktikum dan asesmen keterampilan berpikir kritis

Dosen Angket

Validasi ahli

Keterbacaan dari buram MPKD-BBB

Pakar Format expert

judgement Uji coba

terbatas

Data efektivitas penerapan MPKD-BBB

Implementasi MPKD-BBB

1) Pedoman observasi 2) Tes keterampilan

berpikir kritis Keterlaksanaan dan hambatan

dalam mengimplementasikan MPKD-BBB

Implementasi MPKD-BBB

Pedoman observasi

Tanggapan dosen dan mahasiswa terhadap MPKD-BBB

Dosen dan mahasiswa 1) Pedoman wawancara 2) Angket

Uji coba Utama

Data efektivitas penerapan MPKD-BBB

Implementasi MPKD-BBB

1) Pedoman observasi 2) Tes keterampilan

berpikir kritis Keunggulan dan hambatan

dalam mengimplementasikan MPKD-BBB

Implementasi MPKD-BBB

Pedoman observasi

Tanggapan dosen dan mahasiswa terhadap MPKD-BBB

Dosen dan mahasiswa

(29)

E.Analisis Data

Data yang diperoleh pada penelitian ini terdiri atas data kualitatif dan data

kuantitatif. Data kualitatif berupa: (1) konten dan konteks budaya Bali yang

relevan dengan topik-topik praktikum Kimia Dasar, (2) karakteristik

MPKD-BBB; (3) kunggulan dan hambatan dalam mengimplementasikan MPKD-MPKD-BBB;

serta (4) tanggapan dosen dan mahasiswa terhadap MPKD-BBB. Data kuantitatif

berupa: skor penguasaan konsep; skor keterampilan berpikir kritis; dan skor

keterampilan proses sains.

Data kualitatif dan data skor keterampilan proses sains mahasiswa

dianalisis secara deskriptif interpretatif. Sementara data kuantitatif yang berupa

skor penguasaan konsep dan skor keterampilan berpikir kritis dianalisis

menggunakan statistik inferensial. Persentase gain ternormalisasi setiap

mahasiswa pada masing-masing kelompok dihitung dengan rumus:

100 S

S S S g %

pre max

pre post

x − − =

Keterangan: % g = persentase gain ternormalisasi, Spost = skor tes akhir, Spre =

skor tes awal, dan Smax = skor maksimum

[image:29.595.112.513.248.615.2]
(30)

Tabel 3.2 Kriteria Peningkatan atau Perolehan Penguasaan Konsep dan Keterampilan Berpikir Kritis Mahasiswa (Hake, dalam Savinainem dan Scott, 2002)

No. % g Kategori

1. < 30 Rendah 2. 30 ≤ % g < 70 Sedang 3. ≥ 70 Tinggi

Analisis data kuantitatif pada tahap uji coba terbatas dilakukan sebagai

berikut. Perbedaan rerata pada dua sampel yang berpasangan atau sebuah sampel

dengan subyek yang sama tetapi mengalami pengukuran yang berbeda, dianalisis

menggunakan uji-t (paired sample t-test) atau uji Wilcoxon Signed Rank. Untuk

skor tes awal dan skor tes akhir berdistribusi normal, maka uji beda dilakukan

dengan menggunakan uji-t (paired sample t-test). Sebaliknya, untuk skor tes awal

dan/atau skor tes akhir berdistribusi tidak normal, maka uji beda dilakukan dengan

uji Wilcoxon Signed Rank.

Analisis data skor penguasaan konsep dan keterampilan berpikir kritis pada

tahap uji coba utama dilakukan sebagai berikut. Perbedaan rerata untuk dua

sampel bebas atau dua sampel yang mengalami perlakuan berbeda, dianalisis

menggunakan uji-t (independent sample t-test) atau uji U Mann-Whitney. Untuk

% g pada masing-masing kelompok (eksperimen dan kontrol) berdistribusi normal

dan variansi kedua kelompok homogen, maka uji beda % g dilakukan dengan

menggunakan uji-t (independent sample t-test). Sebaliknya, untuk % g pada salah

satu atau kedua kelompok berdistribusi tidak normal dan/atau variansi antar kedua

kelompok tidak homogen, maka uji beda % g dilakukan dengan uji U

[image:30.595.109.518.134.592.2]
(31)

BAB V

KESIMPULAN DAN IMPLIKASI

A. Kesimpulan

Berdasarkan analisis data dan pembahasan hasil analisis data yang

diperoleh melalui kegiatan dalam penelitian ini, serta mengacu pada

pertanyaan-pertanyaan penelitian yang telah dirumuskan sebelumnya, dapat dirumuskan

kesimpulan sebagai berikut.

1. Konten dan konteks budaya Bali yang relevan dengan topik-topik praktikum

Kimia Dasar berkaitan dengan bidang (1) pangan, meliputi: pembuatan garam

dapur, arak, tuak, cuka, daluman dan santan, pelunakan daging, serta

pemeraman buah pisang; (2) sandang, yaitu pewarnaan kain tenun ikat

Gringsing; (3) ritual, meliputi: upacara ngaben, panca mahabhuta, dan

pancadhatu; (4) kerajinan tradisional, meliputi: pembuatan dan perawatan

keris pusaka, penyepuhan emas, dan pembuatan bokor dan dulang; (5)

obat-obatan, meliputi: obat penghentian candu, obat sengatan lebah, dan obat

gigitan ular; dan (6) pertanian, yaitu pestisida alami

2. Karakteristik dari MPKD-BBB meliputi: (1) materi praktikum dibingkai

dalam fenomena budaya Bali sebagai stimulus belajar; (2) mahasiswa

bertanggung jawab untuk memikirkan dan membuat rancangan praktikum, (3)

pertanyaan konseptual untuk membantu mahasiswa menguasai konsep-konsep

Kimia Dasar; (4) pertanyaan kritis untuk mengembangkan ide-ide mahasiswa;

(32)

3. MPKD-BBB lebih baik dalam meningkatkan penguasaan konsep mahasiswa

dibandingkan praktikum Kimia Dasar reguler. Peningkatan penguasaan

konsep mahasiswa untuk keseluruhan konsep pada topik asam-basa berada

pada kategori rendah, yaitu rerata gain ternomalisasi sebesar 27,48 %.

Peningkatkan tertinggi (48,89 %) terjadi pada konsep indikator, sedangkan

terendah (15,24 %) terjadi pada konsep derajat ionisasi. Peningkatan

penguasaan konsep mahasiswa untuk keseluruhan konsep pada topik

elektrolisis berada pada kategori sedang, yaitu rerata gain ternomalisasi

sebesar 31,05 %. Peningkatan tertinggi (32,64 %) terjadi pada konsep anoda,

katoda, dan elektroda, sedangkan terendah (16,36 %) terjadi pada konsep

elektroplating.

4. MPKD-BBB lebih baik dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis

mahasiswa dibandingkan praktikum Kimia Dasar reguler. Peningkatan

keterampilan berpikir kritis mahasiswa untuk keseluruhan indikator pada topik

asam-basa tergolong rendah, yakni rerata gain ternormalisasi sebesar 27,48 %.

Peningkatan tertinggi (38,56 %) terdapat pada indikator mengidentifikasi atau

merumuskan kriteria untuk mempertimbangkan jawaban yang mungkin,

sedangkan terendah (22,31 %) terjadi pada indikator menarik kesimpulan atau

merumuskan hipotesis. Peningkatan keterampilan berpikir kritis mahasiswa

untuk keseluruhan indikator pada topik elektrolisis tergolong sedang, yakni

rerata gain ternormalisasi sebesar 31,05 %. Peningkatan tertinggi (85,71 %)

terdapat pada indikator memilih kriteria untuk mempertimbangkan solusi yang

(33)

mengaplikasikan prinsip-prinsip yang dapat diterima.

5. Keterampilan proses sains mahasiswa pada keseluruhan indikator untuk topik

elektrolisis lebih tinggi daripada topik asam-basa. Pada topik asam-basa,

keterampilan proses sains mahasiswa pada keseluruhan indikator tergolong

baik (rerata skor 76,09), rerata skor tertinggi (89,49) terjadi pada indikator

melakukan percobaan, dan rerata skor terendah (67,59) terjadi pada indikator

menginterpretasikan. Pada topik elektrolisis, keterampilan proses sains

mahasiswa pada keseluruhan indikator tergolong sangat baik (rerata skor

87,33), rerata skor tertinggi (95,11) terjadi pada indikator melakukan

percobaan, dan rerata skor terendah (80,95) terjadi pada indikator mengamati.

6. Kendala yang dihadapi dalam mengimplementasikan MPKD-BBB adalah

pelaksanaan praktikum membutuhkan waktu yang lama, sehingga diperlukan

adanya penambahan waktu.

7. Keunggulan dari MPKD-BBB adalah: (1) praktikum lebih menarik,

menantang, dan kondusif; (2) mempermudah dosen mengelola praktikum; (3)

memotivasi dosen mempelajari berbagai sumber informasi; (4) membantu

dosen menggali ide-ide mahasiswa secara lebih mendalam dan

mengembangkannya, (5) mempermudah dosen dalam membimbing

mahasiswa; (6) memumbuhkan keingintahuan mahasiswa; (7) menumbuhkan

sikap positif mahasiswa terhadap praktikum; dan (8) praktikum dapat

meningkatkan penguasaan konsep, keterampilan berpikir kritis, dan

(34)

8. Tanggapan dosen terhadap MPKD-BBB sangat positif, yaitu MPKD-BBB

dapat: (1) memperluas wawasannya tentang praktikum berbasis budaya Bali;

(2) memperoleh gambaran tentang keterampilan berpikir kritis mahasiswa; (3)

mempermudah mengelola dan membimbing mahasiswa; serta (4)

mempermudah dalam meningkatkan pemahaman konsep mahasiswa.

9. Sebagian besar mahasiswa (92,71 %) memberikan respon positif terhadap

MPKD-BBB. Mahasiswa merasakan bahwa: (1) adanya keunikan dari

praktikum ini dalam menghubungkan budaya Bali dengan materi praktikum;

(2) memiliki pengalaman merancang praktikum sendiri; (3) praktikum

menyenangkan dan mempermudah pemahaman materi Kimia Dasar; (4)

praktikum memberikan motivasi untuk mempelajari lebih banyak referensi

dan terlibat aktif dalam kegiatan praktikum; dan (5) praktikum meningkatkan

kemampuan berkomunikasi. Mahasiswa menyarankan agar praktikum ini terus

dipertahankan dan dikembangkan untuk praktikum-praktikum kimia lainnya.

B. Implikasi Penelitian

Temuan-temuan yang dirumuskan dalam kesimpulan penelitian,

memberikan beberapa implikasi sebagai berikut.

a. Untuk dosen kimia

1) Memanfaatkan MPKD-BBB untuk meningkatkan penguasaan konsep dan

keterampilan berpikir kritis mahasiswa.

2) Mengadaptasikan MPKD-BBB pada praktikum kimia yang lain, agar terjadi

(35)

b. Untuk institusi

Sebagai bahan pertimbangan untuk merancang kurikulum, pendekatan,

metode, dan strategi pengelolaan praktikum dengan mengadopsi dan

mengadaptasi MPKD-BBB.

c. Untuk penelitian selanjutnya

1) Penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan mengembangkan model

praktikum berbasis budaya lokal untuk mata kuliah/praktikum kimia yang

lain, misalnya Kimia Anorganik, Kimia Fisika, Kimia Analitik, dan Biokimia.

2) Penelitian selanjutnya dapat dilakukan untuk mengetahui apakah MPKD-BBB

ini dapat digunakan untuk melatihkan keterampilan berpikir tingkat tinggi

yang lain, misalnya keterampilan berpikir kreatif.

3) Penelitian selanjutnya dapat dilakukan adalah mengembangkan asesmen

keterampilan berpikir kritis berbasis budaya Bali yang bebas konten atau

(36)

DAFTAR PUSTAKA

Aikenhead, G. dan Huntey, B. (n.d.). Teacher’ Views on Aboriginal Students

Learning Western and Aboriginal Science. [Online]. Tersedia: http://www.rsc.org/ Publishing/Journals/RP/index.asp. [22 Juli 2010].

Arends, R. I. (2008). Learning to Teach. Buku I. Edisi Ketujuh. Cetakan Pertama. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Bassham, G. et al. (2008). Critical Thinking: A Student Introduction. 3rd Ed. Singapore: McGraw-Hill Company, Inc.

Baker, D. dan Taylor, P. C. S. (1995). “The Effect of Culture on the Learning of Science in Non-Western Countries: the Result of an Integrated Research Review.” Journal Science Education. 17(6), 695-704.

Bers, T. (2005). “Assessing Critical Thinking in Community Colleges.” New

Directions for Community Colleges. 130, 15-25.

Beyer, B. K. (1988). Developing A Thinking Skill Program. Boston. London. Sydney. Toronto: Allyn and Bacon, Inc.

Beyer, B. K. (1995). Critical Thinking. Bloomington, IN: Phi Delta Kappa Educational Foundation.

Badan Standar Nasional Pendidikan. (2006). Panduan Penyusunan Kurikulum

Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah.

Jakarta: BSNP.

Barnhardt, R. (n.d.). Teaching/Learning accros Culture: Strategis for Succes. [Online]. Tersedia: http://www.ankn.uaf.edu/TLAC.hyml. [21 Desember 2003].

Butterworth, J. dan Thwaites, G. (2005). Thinking Skills. Cambridge: Cambridge University Press.

Carroll, R. T. (2004). Becoming a Critical Thinker. [Online]. Tersedia: http://skepdic.com/refuge/etlessons/ch1.pdf. [6 Juli 2007].

Chalupa, M. dan Sormunen, C. (1995). “You Make the Difference in the Classroom: Strategies for Developing Critical Thinking.” Business

(37)

Cobern, W. W. dan Aikenhead, G. S. (1996). Cultural Aspects of Learning

Science. [Online]. Tersedia: http://wmich.edu/slcsp/121.htm. [21 Desember

2003].

Costa, A. L. (1985). “Teaching For, Of, and About Thinking”. Dalam A. L. Costa (Eds). Developing Minds: A Resource Book for Teaching Thinking. Alexandria: Association for Supervision and Curriculum Development.

Costa, V. B. (1995). “When Science is “Another World”: Relationships Between Worlds of Family, Friends, School, and Science”. Science Education. 79(3), 313-333.

Creswell, J. W. (2008). Educational Research Design; Planning, Conducting, and

Evaluating Qualitative and Quantitative Research. 3rd Ed. Singapore: Pearson Merrill Prentice Hall.

Dahar, R. W. (1985). Kesiapan Guru Mengajarkan Sains di Sekolah Dasar

Ditinjau dari Segi Pengembangan Keterampilan Proses Sains (Suatu Studi Eluminatif tentang Proses Belajar Mengajar Sains di Kelas 4, 5, dan 6 Sekolah Dasar). Disertasi Doktor pada FPS IKIP Bandung: Tidak

Diterbitkan.

Depdiknas. (2006). Permendiknas No. 22/2006: Standar Isi untuk Satuan

Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: BSNP.

Depdiknas. (2007). Permendiknas No. 16/2007: Standar Kualifikasi Akademik

dan Kompetensi Guru. Jakarta: BSNP.

Dirgantara, Y. et al. (2008). “Model Pembelajaran Laboratorium Berbasis Inkuiri untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep dan Keterampilan Proses Sains Siswa MTs pada Pokok Bahasan Kalor. Jurnal Pendidikan IPA. 2(1), 87-97.

Domin, D. S. (2007). “Students’ Perceptions of When Conceptual Development Occurs during Laboratory Instruction”. Journal of Chemistry Education

Research and Practice. 8(2), 140-152.

Donder, I K. (2004). Panca Dhatu (Atom, Atma dan Animisme). Surabaya: Paramita.

(38)

Ennis, R. (1985). “Curriculum for Critical Thinking”. Dalam A. L. Costa (Eds).

Developing Minds: A Resource Book for Teaching Thinking. Alexandria:

Association for Supervision and Curriculum Development.

Ennis, R. E. (1987). A Taxonomy of Critical Thinking Dispositions and Abilities. In J. B. Baron dan R. J. Sternberd (Eds). Teaching Thinking Skills: Theory

and Practice. New York: W. H. Freeman and Company.

Ernst, J. dan Monroe, M. (2004). “The Effects of Environment-Based Education on Students’ Critical Thinking Skills and Disposition toward Critical Thinking”. Environmental Education Research. 10(4), 507-522.

Facione, P. A. et al. (2002). The California Critical Thinking Skill Test: Test

Manual 2002 Update Edition. Milbrae CA: The California Academic Press.

Filsaime, D. K. (2008). Menguak Rahasia Berpikir Kritis dan Kreatif. Cetakan Pertama. Jakarta: Prestasi Pustaka.

Fisher, A, (2009). Berpikir Kritis: Sebuah Pengantar. Jakarta: Erlangga.

Gega, P. C. (1995). Science in Elementary Education. New York: MacMilans Publishing Company.

Green, W. J., Elliott, C. dan Cummins, R. H. (2004). “Prompted Inquiry-Based Learning in the Introductory Chemistry Laboratory”. Journal of Chemical

Education. 81(2), 239-241.

Harlen, W. (1991). The Teaching of Science. London: David Fulton Publishers.

Haukoos, G. dan LeBeau, D. (1992). “Inservice Activity that Emphasizes the Importance of the Cultural in Teaching School Science”. Journal of

American Indian Education–Arizona State University. 32(1). [Online].

Tersedia: http://jaie.asu.edu/v34/ V34S2imp.htm. [3 April 2009].

Hoaglund, J. (1993). “Critical Thinking: A Socratic Model.” Argumentation. 7(3), 291-311.

Hofstein, A. dan Mamlok-Naaman, R. (2007). “The Laboratory in Science Education: The State of The Art”. Journal of Chemistry Education Research

and Practice, 8(2), 105-107.

(39)

Howe, E. R. (2004). “Canadian and Japanese Teachers’ Conceptions of Critical Thinking: A Comparative Study”. Teachers and Teaching: Theory and

Practice. 10(5), 506-525.

Innabi, H. dan Sheikh, O. E. (2006). “The Change in Mathematics Teachers’ Perceptions of Critical Thinking after 15 Years of Educational Reform in Jordan”. Educational Studies in Mathematics. 64, 45-68.

Jegede, O. J. dan Aikenhead, G.S. (n.d.). Transcending Cultural Borders:

Implications for Science Teaching. Tersedia: http://www.whk.edu.hk/cridal/

misc/jegede.htm. [23 Mei 2002].

Johnson, E. B. (2007). Contextual Teaching and Learning. Bandung: Mizan Learning Center (MLC).

Jones, D. (1996). Critical Thinking in an Online Word. [Online]. Tersedia: http:// www.library.ucsb.edu/untangle/jones.html. [16 Oktober 1996].

Joyce, B., Weil, M. dan Calhoun, E. (2000). Models of Teaching. 6th Ed. Boston: Allyn and Bacon.

Keenan, C. W., Kleinfelter, D. C., dan Wood, J. H. (1980). General College

Chemistry. Jilid Satu. Jakarta : Erlangga.

Ketpichainarong, W., Panijpan, B., dan Ruenwongsa, W. (2010). Enhanced Learning of Biotechnology Students by An Inquiry-Based Cellulase Laboratory. International Journal of Environmental and Science Education. 5(2), 169-187.

Kipnis, M. dan Hofstein, A. (2007). “The Inquiry Laboratory as A Source for Development of Metacognitive Skills”. International Journal of Science and

Mathematics Education. 6(3), 601-627.

Liliasari. (2010). “Pengembangan Keterampilan Berpikir Melalui Pembelajaran Sains Menuju Masa Depan”, dalam Teori, Paradigma, Prinsip, dan

Pendekatan Pembelajaran MIPA dalam Konteks Indonesia. Bandung:

FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia.

Limniou, M., et al. (2007). “The Integration of A Viscosity Simulator in A Chemistry Laboratory”. Journal of Chemistry Education Research and

Practice. 8(2), 220-231. [Online]. Tersedia: http://www.rsc.org/images/

issue%208/2/2tcm18/85055. pdf. [4 Maret 2008].

(40)

MacNeil, J. dan Valaric, L. (2003). “Incomplete Combusion with Candle Flames: A Guided-Inquiry Experiment in the First-Year Chemistry Lab”. Journal of

Chemical Education. 80(3), 302-304.

Maryam, S. et al., (2001). Peningkatan Kemampuan Guru dalam Penggunaan

“Modul Bertanya” sebagai Upaya untuk Meningkatkan Penguasaan dan Aplikasi Konsep Kimia Siswa Kelas II2 SMUN 4 Singaraja. Laporan Penelitian DIKTI. Tidak Diterbitkan.

Marzano, R. J., Pickering, D., dan McTighe, J. (1993). Assessing Student

Outcomes: Performance Assessment Using the Dimensions of Learning Model. Alexandria: Association for Supervision and Curriculum

Development.

Marzano, R. et al. (1988). Dimensions of Thinking: A Framework for Curriculum

and Instruction. Alexandria: Association for Supervision and Curriculum

Development.

McGregor, D. (2007). Developing Thinking Developing Learning : A Guide to

Thinking Skills in Education. Berkshire: Open University Press.

McGraw-Hill.

Minium, E. W., King, B., dan Bear, G. (1993). Statistical Reasoning in

Psychology and Education. 3rd Edition. Toronto: John Wiley and Sons, Inc.

Miri, B, Ben-Chaim, D. dan Zoller, U. (2007). Purposely Teaching for the

Promotion of Higher-Order Thinking Skills: A Case of Critical Thinking.

[Online]. Tersedia: http://www.springerlink.com/content. [14Januari 2008].

National Research Council (2000). Inquiry and the National Science Education

Standards: A Guide for Teaching and Learning. [Online]. Tersedia:

http://books.nap. edu/html/inquiry_addendum/notice.html. [9 Oktober 2001]

National Science Teachers Association, (1998). Standards for Science Teacher

Preparation. Associtiation for The Education of Teachers in Science.

National Science Teachers Association, (2003). Standards for Science Teacher

Preparation.

Nickerson, R. S., Perkins, D. N., dan Smith, E. E. (1985). The Teaching of

Thinking. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, Inc.

Ogawa, M. (2002). Science as the Culture of Scientist: How to Cope with

(41)

Oxtoby, D. W., Gillis, H. P., dan Nachtrieb, N. H. (2001). Principles of Modern

Chemistry. Fourth Edition. Jilid Satu. Jakarta: Erlangga.

Oliver-Hoyo, M.T. (2003). “Designing a Written Assignment to Promote the Use of Critical Thinking Skills in An Introductory Chemistry Course”. Journal

of Chemical Education. 80(8), 889-903.

Paraskevas, A. dan Wickens, E. (2003). “Andragogy and the Socratic Method: The Adult Learner Perspective.” Journal of Hospitality, Leisure, Sport and

Tourism Education. 2(2), 4-14.

Paul, R. (1990). Critical Thinking: What Every Person Needs to Survive in a

Rapidly Changing World. Rohnert Park, CA: Center for Critical Thinking

and Moral Critique.

Paul, R. dan Binker, A. J. A. (1990). Socratic Questioning. Rohnert Park, CA: Center for Critical Thinking and Moral Critique.

Paul, R., Binker, A. J. A., Martin, D., Vetrano, C., dan Kreklau, H. (1989).

Critical Thinking Handbook: 6th-9th Grades. Rohnert Park, CA: Center for

Critical Thinking and Moral Critique.

Paul, R. dan Elder, L. (2005). A Guide for Educator to Critical Thinking

Competency Standars. [Online]. Tersedia: http://www.criticalthinking.org.

[25 Maret 2007].

Philips, V. dan Bond, C. (2004). “Undergraduates’ Experiences of Critical Thinking”. Higher Education Research and Development. 23(3), 277-294.

Piaw, C.Y. (2004). Creative and Critical Thinking Styles. Serdang: Universiti Putra Malaysia Press.

Polite, V. C. dan Adams, A. H. (1996). Improving Critical Thinking Through

Socratic Seminars. [Online]. Tersedia: http://www.temple.edu. [8 Juli

2007].

Prince, M. dan Felder, R. (2007). “The Many Face of Inductive Teaching and Learning”. Journal of College Science Teaching. 36(5), 14-20.

Pullailla, A., Redjeki, S., and Rusdiana, D. (2007). “Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep dan Keterampilan Berpikir Kreatif Siswa SMA pada Materi Suhu dan Kalor”. Jurnal

Pendidikan IPA. 1(3), 287-295.

(42)

Ramig et al. (1995). Teaching Science Process Skill. Good Apple, An Inprint of Paramount Suplement Education.

Raras, N. T. (2004). Kajeng Kliwon: Kerinduan Kosmik Panca Maha Bhuta. Cetakan Pertama. Surabaya: Paramita.

Redhana, I W. (2008). “Praktikum Biokimia melalui Open-Ended Laboratory”.

Jurnal Pendidikan IPA. 1(1), 32-47.

Redhana, I W. (2009). Pengembangan Program Pembelajaran Berbasis Masalah

Terbimbing untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa pada Mata Pelajaran Kimia SMA. Disertasi Doktor pada SPs UPI Bandung:

Tidak diterbitkan.

Redhana, I W., Suardana, I N., dan Soma, I W. (2000). Penerapan Modul

Bertanya-Diskusi-Informasi (MDI) dalam Meningkatkan Aktivitas dan Penguasaan Materi Kimia Siswa Sekolah Menengah Umum. Laporan

Penelitian DIKTI. Tidak Diterbitkan.

Reeve, A. M. (2004). “A Discovery-Based Friedel Crafts Acylation Experiment: Student-Designed Experimental Procedure”. Journal of Chemical

Education. 81(10), 1497-1499.

Reveles, J. M., Kelly, G. J and Duran, R. P. (2007). “A Sociocultural on Mediated Activity in Third Grade Science”. Journal of Cultural Science Education. (1), 467-495.

Rustaman, N. Y. (2007). “Basic Scientific Inquiry in Science Education and Its Assessment”. Proceeding of The First International on Science Education. ISBN: 979-25-0599-7. 19-28.

Sardjiyo dan Pannen, P. (2005). “Pembelajaran Berbasis Budaya: Model Inovasi Pembelajaran dan Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi.” Jurnal

Pendidikan. 6(2), 83-98.

Savinainen, A. dan Scott, P. (2002). “The Force Concept Inventory: A Tool for Monitoring Student Learning”. Physics Education. 39(1), 45-52.

Schafersman, S. D. (1991). Introduction to Critical Thinking. [Online]. Tersedia: http://www.freeinquiry.com/critical-thinking.html. [25

Gambar

Tabel 1.1 meringkas beberapa hasil penelitian yang berkaitan dengan upaya untuk
Gambar 3.1 Paradigma dalam Penelitian dan Pengembangan MPKD-BBB
Gambar 3.2 Tahapan dalam Analisis Kebutuhan (Define) dan Hubungannya
Tabel 3.1  Hubungan antara Data yang Diperlukan, Sumber Data, dan Instrumen
+3

Referensi

Dokumen terkait

function edit3_CreateFcn(hObject, eventdata, handles) if ispc &amp;&amp; isequal(get(hObject,'BackgroundColor'),

Tujuan penelitian ini secara umum adalah untuk memperoleh dan mendeskripsikan data mengenai implementasi Problem Based Learning dalam pembelajaran IPA materi Peristiwa

[r]

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana pada Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. © Rizky Ihsan

Penulisan ilmiah ini membahas mengenai penilaian investasi dengan metode Payback Period, metode Net Present Value, metode Internal Rate of Return, metode Average Rate of Return

Laporan keuangan adalah hal yang penting bagi perusahaan dalam pengambilan keputusan atau mengetahui posisi atau keadaan keuangan suatu perusahaan selama periode tertentu, dan

Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah siswa kelas X didasarkan pada pertimbangan bahwa kelas tersebut masih memiliki kemampuan matematika yang masih

Hasil Tes Keterampilan Lompat Jongkok Kelas Kontrol.. Hasil Uji Normalitas