• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Antara Pengetahuan Tentang Asup

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Hubungan Antara Pengetahuan Tentang Asup"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

29

H u b u n ga n An ta ra Pe n ge ta h u a n

Te n ta n g As u p a n Ma ka n a n

D e n ga n S ta tu s Gizi An a k J a la n a n

D i P e la b u h a n Ka m a l Ke ca m a ta n Ka m a l

Ka b u p a te n B a n gka la n 2 0 10

Siti Nurfitria

Prodi. Psikologi

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya

Universitas Trunojoyo

AB S TRACT

Based on the East Jav a Gov ern m en t’s record of 20 0 8 , there w ere 50 2 street children in Ban gkalan . Such con dition had caused a lot of social problem s. The street children w ho had m aln utrition status could be caused by m an y thin gs, such as lack of kn ow ledge about n utrition . W hat w e did in this research w as fin din g out the corelation betw een the lev els of kn ow ledge about n utrition an d n utrition al status.

Our respon den ces w ere street children in Kam al Port, Ban gkalan R esiden ce.W e m ade question n aire to ev aluate the lev el of street children kn ow ledge about n utrition an d ratio betw een body w eight an d age as the n utrition status in dicator. This research w as an an aly tic observ ation al research w ith the cross section al design to an aly ze the correlation betw een the street children kn ow ledge about n utrition an d their n utrition al status.

The result of this research w as the correlation betw een street children kn ow ledge about n utrition an d n utrition al status p = 0 , 179 (p > 0 ,0 5). This data m ean t that there w as n o correlation betw een the lev el of street children kn ow ledge about n utrition an d their n utrition al status. H ow ev er, the other m ean in g of the result w as that the in fluen ce of the street children kn ow ledge about n utrition lev el an d their n utrition al status w as in v isible because of the other higher factors.

Ke yw o rd : Kn ow ledge, street children , n utrition al status

P EN D AH U LU AN

Data BPS menyebutkan, jumlah penduduk miskin di Indonesia (per Maret 2010) sebesar 31,02 juta orang atau 13,33% dari total penduduk Indonesia. Definisi penduduk miskin adalah penduduk dengan pengeluaran perkapita dibawah garis kemiskinan. Dari jumlah tersebut 9, 87 % berada di perkotaan.Kemiskinan akan melahirkan anak-anak yang tergolong sebagai penyandang masalah kesejahteraan sosial, diantaranya adalah anak jalanan yang jumlahnya kian hari kian meningkat.

(2)

Menurut data con sortium for street children, di Indonesia terdapat 170.000 anak jalan-an. Sedangkan menurut data Pemerintah Provinsi Jawa Timur tahun 2008 terdapat 502 anak jalanan di Bangkalan. Data ini pastinya lebih besar di lapangan, karena anak jalanan seperti fenomena gunung es. Banyaknya anak jalanan menimbulkan problem sosial berkepanjangan. Salah satunya rentan terserang gizi buruk. Solo pos tanggal 19 Juni 2010 memberitakan ada anak jalanan warga Rusukan Banjarsari yang meninggal karena gizi buruk.

Kondisi-kondisi tersebut mendorong peneliti untuk mengetahui suatu faktor dari berbagai macam faktor yang menyebabkan kekurangan gizi pada anak jalanan. Penulis sering melihat anak jalanan di Pelabuhan Kamal Kecamatan Kamal Kabupaten Bangkalan. Berdasarkan kepustakaan yang ada, maka dilakukan penelitian untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan tentang asupan makanan dan praktek kebersihan diri dengan status gizi anak jalanan di Pelabuhan Kamal Kecamatan Kamal Kabupaten Bangkalan. Sekecil apapun hasil penelitian ini, diharapkan hasilnya dapat dirasakan oleh masyarakat.

TU J U AN PEN ELITIAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan tentang asupan makanan dengan status gizi anak jalanan di Pelabuhan Kamal Kecamatan Kamal Kabupaten Bangkalan.

TIN J AU AN TEORITIS B ata s a n p e n ge ta h u a n

Benyamin Bloom (dalam Notoatmodjo, S 2003) seorang ahli psikologi pendidikan membagi perilaku manusia kedalam tiga domain yaitu : kognitif, afektif, dan psiko-motorik. Dalam perkembangannya teori Bloom ini dimodifiasi menjadi : pengetahuan, sikap, dan praktek.

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yakni indera penglihatan, penciuman, pendengaran, rasa, raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.(Notoatmodjo,S 2003)

Pengetahuan adalah sesuatu yang diketahui karena mengalami, melihat, mendengar dan mempelajarinya (J.S. Badudu, 1996). Menurut Socrates “Pengetahuan adalah keyakinan yang benar”. (Notoatmodjo, S 2003)

Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi atau berperilaku baru, di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yaitu : 1) Awareness (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari atau mengetahui adanya

stimulus.

2) Interest, yakni orang mulai tertarik pada stimulus.

3) Evaluation, menimbang baik atau tidaknya stimulus terebut bagi dirinya. 4) Trial, orang telah mulai mencoba periaku baru.

5) Adoption, subyek telah berperilaku baru.

(3)

Siti Nur Fitria, Hubungan A ntara Pengetahuan Tentang A supan Mak anan... .. .. ... .. .. .. ... .. .. .. ... .. .. .. ... .. .. ... .. .. .. ... .. .31

As u p an Ma kan a n

Asupan makanan adalah masuknya makanan melalui salurannya (A.B. Harahap, 1991). Asupan makanan yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah pemberian makanan bagi anak dalam tujuan untuk memenuhi kebutuhan gizinya agar dapat mencapai tumbuh kembang yang optimal.

Zat makanan bahan dasar menurut ilmu gizi atau nutrien yang telah kita kenal adalah : karbohidrat atau hidrat arang, protein atau zat putih telur, lemak, vitamin-vitamin serta berbagai mineral (Achmad DS, 2000).

Di Indonesia, konsep diatas diejawantahkan oleh para ahli gizi dalam susunan hidangan “empat sehat” yang terdiri atas bahan makanan pokok, bahan makanan lauk pauk, bahan makanan sayur mayur dan bahan makanan buah-buahan. Kalau susunan empat sehat ini ditambah dengan susu dalam jumlah yang optimal, maka akan menjadi “lima sempurna”. Maka kemudian dikenallah slogan “empat sehat lima sempurna”. Susunan lima sempurna terutama ditujukan pada kelompok masyarakat rentan gizi yaitu balita, ibu hamil dan menyusui (Achmad DS, 2000).

Komponen makanan harus mengandung : 1) Karbohidrat

Karbohidrat sebagai zat gizi merupakan kelompok zat-zat organik yang mempunyai struktur molekul yang berbeda-beda, meski terdapat persamaan dari sudut dan fungsinya. Karbohidrat terdapat dalam bahan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan hanya sedikit yang termasuk bahan makanan hewani. Fungsi utama karbohirat yaitu sebagai sumber utama energi yang murah, mem-berikan rangsangan mekanik dan melancarkan gerakan peristaltik.

2) Protein

Protein merupakan zat gizi yang sangat penting karena yang paling erat hubungannya dengan kehidupan. Protein mengandung unsur C, H, O dan unsur khusus yang tidak terdapat pada karbohidrat maupun lemak yaitu nitrogen. Protein nabati dapat diperoleh dari tumbuh-tumbuhan, sedangkan protein hewani didapat dari hewan. Fungsi protein adalah membangun sel-sel yang rusak, membentuk zat-zat pengatur seperti enzim dan hormone dan menghasilkan energi, dalam hal ini tiap protein menghasilkan sekitar 4,1 kalori

3) Lemak

Merupakan senyawa organik yang majemuk, terdiri dariunsur-unsur C, H, O yang membentuk senyawa asam lemak dan gliserol, apabila bergabung dengan zat lain akan membentuk lipoid, fosfolipoid dan sterol. Fungsi lemak antara lain sebagai sumber utama energi atau cadangan dalam jaringan tubuh dan bantalan bagi organ tertentu dari tubuh, sebagai sumber asam lemak yaitu zat gizi yang esensial bagi kesehatan kulit dan rambut dan sebagai pelarut vitamin-vitamin (A, D, E, K) yang larut dalam lemak.

4) Vitamin

(4)

a) Vitamin A : fungsi dalam proses melihat, metabolisme umum, dan reproduksi. b) Vitamin D :calciferol, berfungsi sebagai prohormon transport kalsium ke

dalam sel. Bahan makanan yang kaya vitamin D adalah susu.

c) Vitamin E : alpha tocoperol, berfungsi sebagai antioksida alamiah dan metabolisme selen ium. Bahan makanan kacang-kacangan dan biji-bijian khususnya kecambah banyak mengandung Vitamin ini.

d) Vitamin K : m en adion, berfungsi di dalam proses sintesis prothrom bin e yang diperlukan dalam pembekuan darah. Vitamin K terdapat dalam konsentrasi tinggi di dalam ginjal. Paru-paru dan sumsum tulang. Pada penyerapan

e) Vitamin K : m en adion, berfungsi di dalam proses sintesis prothrom bin e yang diperlukan dalam pembekuan darah. Vitamin K terdapat dalam konsentrasi tinggi di dalam ginjal. Paru-paru dan sumsum tulang. Pada penyerapan vitamin K diperlukan garam empedu dan lemak. (Soegeng Santoso dan Anne Lies, 2004 : 116).

5) Mineral

Mineral merupakan zat gizi yang diperlukan tubuh dalam jumlah yang sedikit. Mineral mempunyai fungsi sebagai pembentuk berbagai jaringan tubuh, tulang, hormon, dan enzim dan sebagai zat pengatur berbagai proses metabolism, keseim-bangan cairan tubuh, proses pembekuan darah dan zat pengatur kepekaan saraf dan untuk kontraksi otot.

Keadaan gizi kurang pada anak-anak mempunyai dampak pada kelambatan pertumbuhan dan perkembangannya yang sulit disembuhkan. Oleh karena itu anak yang bergizi kurang tersebut kemampuannya untuk belajar dan bekerja serta bersikap akan lebih terbatas dibandingkan dengan anak yang normal (Soegeng Santoso dan Anne Lies, 2004: 72).

Gizi d a n s ta tu s gizi

Istilah gizi dan ilmu gizi baru mulai dikenal sekitar tahun 1956 sebagai terjemahan kata”nutrition”. Kata gizi berasal dari bahasa arab “Ghidza” yang berarti makanan. Menurut dialek Mesir kata Ghidza dibaca “Gizi” (Soekirman, 1989).

Menurut kamus umum bahasa Indonesia, Gizi adalah makanan pokok yang dibu-tuhkan bagi pertumbuhannya (J.S. Badudu, 1996). Gizi adalah suatu proses organism menggunakan makanan yang dilakukan secara normal melalui proses digesti, absorbs, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mmpertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energy (Idrus Derwani dan Gatot Kunanto, 1990).

Adapun status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan gizi dalam variabel tertentu (IDN Supriasa, dkk, 2002), yaitu keadaan fisiologis (faal) dan biokimia dalam seluler tubuh atau secara makro adalah kesimbanan antara konsumsi dan penggunaan zat gizi.

Secara garis besar terdapat dua hal yang mempengaruhi status gizi. Pertama adalah konsumsi makanan, dan yang kedua adalah kesehatan. (IDN Supariasa, dkk, 2002): a) Konsumsi makanan, dalam hal ini tergantung dari zat gizi yang ada dalam bahan

(5)

Siti Nur Fitria, Hubungan A ntara Pengetahuan Tentang A supan Mak anan.. ... .. .. ... .. .. .. ... .. .. .. ... .. .. ... .. .. .. ... .. .33

b) Kesehatan, dimana tergantung dari daya beli keluarga untuk menyediakan makanan yang bergizi, pemeliharaan kesehatan individu, lingkungan fisik dan sosial dimana individu tinggal.

Menurut Habicht (1979) dalam pembahasan status gizi ada tiga konsep yang satu sama lain saling berkaitan. Ketiga konsep tersebut adalah:

a) Proses dari organisme dalam menggunakan bahan makanan melalui proses pencernaan, penyerapan, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pembuangan untuk pemeliharaan hidup, pertumbuhan, fungsi organ tubuh dan produksi energi. Proses ini disebut gizi atau n utrition.

b) Keadaan yang dikibatkan oleh keseimbangan antara pemasukan gizi di satu pihak dan pengeluaran oleh organisme di lain pihak, disebut n utriture.

c) Tanda-tanda atau penampilan yang diakibatkan oleh n utritureyang terlihat melalui variabel tertentu disebut sebagai status gizi. Karena itu dalam merujuk keadaan gizi seseorang perlu disebutkan variabel yang digunakan dalam penentuan, misalnya tinggi badan atau variabel pertumbuhan lainnya. Variabel-variabel yang digunakan dalam menentukan status gizi disebut indikator status gizi.

Perlu pula ditambahkan bahwa antara status gizi dan indikator status gizi terdapat suatu perbedaan yaitu indikator tidak hanya merupakan refleksi dari status gizi, tetapi juga refleksi dari pengaruh faktor-faktor non gizi. Karena itu, indikator yang digunakan walaupun sensitif tetapi kurang spesifik untuk status gizi.(IDN Supariasa, dkk, 2002)

Ukuran-ukuran tubuh (antropometri) merupakan refleksi dari pengaruh faktor genetik dan lingkungan. Faktor-faktor lingkungan yang berkaitan langsung dengan gizi, antara lain konsumsi makanan, penyakit infeksi; sementara yang tidak berkaitan secara langsung, antara lain kegiatan fisik dan pola perkembangan tubuh menurut umur dan jenis kelamin. Di negara berkembang penyakit infeksi dan konsumsi makanan yang kurang memenuhi syarat gizi merupakan dua faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan dan status gizi anak, terutama pada usia balita. Keadaan ini sangat erat kaitannya dengan masalah sosial ekonomi masyarakat setempat. (IDN Supariasa, dkk, 2002)

Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat penilaian yaitu: antropometri, klinis, biokimia, dan biofisik. Adapun penilaian secara tidak langsung dibagi menjadi tiga yaitu:survey konsumsi makanan, statistik vital dan faktor ekologi (IDN Supariasa, dkk, 2002).

Dengan menggunakan cara statistk dan kadang-kadang disertai gejala klinik, maka status gizi/pertumbuhan anak dapat ditentukan. Dibawah ini adalah beberapa klasifiikasi yang sering dipakai: (IDN Supariasa, dkk, 2002).

1) Berat badan terhadap umur

(6)

Kelebihan berat badan per umur, antara lain:

a. Dapat lebih mudah dan lebih cepat dimengerti oleh masyarakat. b. Sensitif untuk melihat perubahan status gizi jangka pendek. c. Dapat mendeteksi kegemukan.

Kelemahan:

a. Dapat mengakibatkan kekeliruan interpretasi status gizi bila terdapat oedema. b. Memerlukan data umur yang akurat.

c. Sering terjadi kesalahan dalam pengukuran, misalnya pengaruh pakaian atau gerak anak dalam penimbangan.

d. Secara operasional sering mengalami hambatan karena masalah sosial budaya setempat (masih ada orang tua yang tidak mau menimbangkan anaknya karena dianggap seperti barang dagangan, dan sebagainya).

(Jahari, Abas Basuni).

Beberapa klasifikasi berdasarkan berat badan terhadap umur: a) Klasifikasi menurut Gomez:

(7)

Siti Nur Fitria, Hubungan A ntara Pengetahuan Tentang A supan Mak anan.. ... .. .. ... .. .. .. ... .. .. .. ... .. .. ... .. .. .. ... .. .35

2) Tinggi badan terhadap umur

Tinggi badan merupakan antropometri yang menggambarkan keadaan pertumbuhan skeletal. Dalam keadaan normal, tinggi badan tumbuh bersamaan dengan pertumbuhan umur. Petumbuhan tinggi badan relatif kurang sensitif terhadap defisiensi gizi jangka pendek. Pengaruh defisiensi zat gizi terhadap tinggi badan baru akan tampak pada saat yang cukup lama. Indeks tinggi badan per umur lebih menggambarkan status gizi masa lalu. Indeks tinggi badan per umur disamping dapat memberi gambaran tentang status gizi masa lampau, juga lebih erat kaitannya dengan masalah sosial ekonomi (Bengoa, 1975). Oleh karena itu indeks tinggi badan per umur dapat pula digunakan sebagai indicator perkembangan keadaan sosial ekonomi masyarakat. Beberapa klasifikasi berdasar tinggi badan terhadap umur:

Berat badan memiliki hubungan linier dengan tinggi badan. Dalam keadaan normal, perkembangan berat badan akan searah dengan percepatan tertentu. Indeks tunggal berat badan per tinggi badan merupakan indikator yang baik untuk mnyatakan status gizi saat ini, seperti halnya dengan berat badan per umur, digunakan bila data umur yang akurat sulit diperoleh. Karena itu indeks berat badan per tinggi dapat member gambaran proporsif berat badan relatif terhadap tinggi badan, maka indeks ini merupakan pula indikator kekurusan.

(8)

b) Waterlow

 Persentil 10-5 : malnutrisi sedang  

 < Persentil ke 5 : malnutrisi berat 

4) Lingkar lengan atas

 <76% atau < 12,5 cm : malnutrisi berat 

An a k J a la n a n

Menurut UNICEF (1986), anak jalanan adalah anak yang berusia kurang dari 16 tahun yang bekerja di jalan-jalan perkotaan, tanpa perlindungan dan mereka menghabis-kan waktu di jalanan atau alasan mereka berada di jalanan. Begitu pula dalam Konvensi Regional I tentang Anak Jalanan di Asia pada tahun 1989 juga disebutkan bahwa anak jalanan adalah anak yang hidup dijalanan dan anak yang menghabiskan waktunya untuk bekerja dijalanan guna membiayai hidupnya, baik yang masih memiliki rumah dan keluarga maupun mereka yang sudah tidak memiliki keluarga lagi. (Abdulsjani,2009)

Sementara itu menurut In tern ation al Con ference on Street Children, (1986), dijelas-kan bahwa anak jalanan pada dasarnya dapat dikelompokkan dalam tiga kategori yaitu: 1) Anak yang hidup/tinggal di jalanan (children of the street/ liv in g in the street).

(9)

Siti Nur Fitria, Hubungan A ntara Pengetahuan Tentang A supan Mak anan... .. .. ... .. .. .. ... .. .. .. ... .. .. .. ... .. .. ... .. .. .. ... .. .37

a) Putus hubungan atau lama tidak bertemu dengan orang tuanya minimal setahun sekali;

b) Berada dijalanan seharian dan meluangkan 8-10 jam untuk bekerja, sisanya untuk menggelandang;

c) Tidak bersekolah lagi;

d) Bertempat tinggal di jalanan dan tidur disembarang tempat, seperti emper toko, kolong jembatan, dan lain-lain;

e) Pekerjaannya mengamen, mengemis, pemulung dan serabutan yang hasilnya untuk diri sendiri;

f) Rata-rata berusia di bawah 14 tahun

2) Anak yang bekerja dijalanan (children on the street/ w orkin g children).

Mereka adalah anak-anak yang menghabiskan sebagian besar waktunya di jalanan atau tempat-tempat umum untuk membantu ekonomi. Pada kelompok ini anak-anak memiliki hubungan dengan anggota keluarganya dan sebagian masih duduk dibangku sekolah. Kelompok ini bercirikan:

a) Berhubungan tidak teratur dengan keluarganya, yakni pulang secara periodik misalnya seminggu sekali, sebulan sekali, dan tidak tentu, mereka umumnya berasal dari luar kota untuk bekerja di jalanan.

b) Berada dijalanan 8-12 jam untuk bekerja dan sebagian lagi mencapai 16 jam; c) Bertempat tinggal dengan cara mengontrak sendiri/bersama teman,dengan

orang tua/saudara/ditempat kerjanya dijalanan. Tempat tinggal umumnya kumuh yang terdiri dari orang-orang sedaerah;

d) Tidak bersekolah lagi;

e) Pekerjaannya menjual koran, pengasong, pencuci mobil, pemulung, penyemir sepatu, dan lain-lain. Bekerja merupakan kegiatan utama setelah putus sekolah terlebih diantara mereka harus membantu orang tuanya yang miskin, cacat/ tidak mampu;Rata-rata berusia di bawah 16 tahun.

e) Anak-anak yang berpotensi menjadi anak jalanan (urn erable to becom e street children).

Mereka adalah anak-anak yang sering berhubungan dengan jalanan seperti menjual koran. Ciri-ciri dari anak yang termasuk kelompok ini adalah:

a) Setiap hari bertemu dengan orang tua;

b) Berada dijalanan sekitar 4-6 jam untuk berkerja; c) Tinggal dan tidur bersama orang tua atau walinya;

d) Pekerjaannya menjual koran, pengamen, menjual alat-alat tulis, menjual kantong plastik, penyemir, untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dan orang tuanya;

e) Rata-rata berusia di bawah 14 tahun.(Abdulsjani, 2009)

H IPOTES IS

(10)

METOD E

Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik.Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dimana ingin mengamati variabel bebas dan variabel terikat pada satu kali pengamatan dimana data dikumpulkan pada saat yang sama. Penelitian ini dilaku-kan di Pelabuhan Kamal, Kecamatan Kamal, Kabupaten Bangkalan.Penelitian ini dilaksana-kan pada 1 Juli-31 Agustus 2010.

Populasi penelitian adalah semua anak jalanan di Pelabuhan Kamal, Kecamatan Kamal, Kabupaten Bangkalan.

Sampel penelitian menggunakan teknik penarikan sampel dari populasi dengan teknik sampling aksidental (acciden tal sam plin g) yang merupakan teknik penentuan berdasarkan kebetulan yaitu siapa saja anak jalanan yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti di wilayah penelitian dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang cocok sebagai sumber data(Sugiyono, 2009).Karena akan dilakukan analisis multivariate, maka jumlah sampel minimal 10 kali dari jumlah variabel (Roscoe, 1982 dalam Sugiyono, 2009).Jumlah sampel penelitian ini 20 orang.

Data variabel pengetahuan tentang asupan makanan dikumpulkan dengan cara wawancara.Sedangkan data variabel status gizi dikumpulkan dengan cara menimbang berat badan yang akan dimasukkan ke dalam lembar grafik pertumbuhan NCHS.

Data yang diperoleh akan diolah dengan bantuan komputer untuk kemudian dilakukan uji statistik Spearman Rho dengan bantuan program SPSS For Windows versi 17.0 untuk melihat hubungan antar variabel.

H AS IL D AN P EMB AH AS AN

Penelitian di Pelabuhan Kamal Kecamatan Kamal Kabuaten Bangkalan pada bulan Juli-Agustus 2010 menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan tentang asupan makanan kurang sesuai dengan status gizi anak jalanan.

Hasil uji Spearman menggunakan program SPSS for Windows Versi 17,0 p= 0,179 (p> 0,05) didapatkan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan tentang asupan makanan dengan status gizi anak jalanan.

H a s il ko re la s i va ria b e l p e n ge ta h u an te n ta n g as u p a n m a ka n an a n d e n gan s ta tu s gizi a n a k ja la n a n

Co rre la tio n s

pengetahuan

tentang asupan satus gizi

makanan responden

Spearman's rho Pengetahuan Correlation Coefficient 1.000 .313 tentang asupan

Sig. (2-tailed) . .179 makanan

N 20 20

satus gizi responden Correlation Coefficient .313 1.000

Sig. (2-tailed) .179 .

(11)

Siti Nur Fitria, Hubungan A ntara Pengetahuan Tentang A supan Mak anan... .. .. ... .. .. .. ... .. .. .. ... .. .. .. ... .. .. ... .. .. .. ... .. .39

Bagi anak yang sedang dalam masa pertumbuhan, gizi merupakan hal yang penting karena sangat berpengaruh terhadap pertumbuhannya dan secara tidak langsung juga berpengaruh terhadap masa depannya, karena anak yang tidak bertumbuh kembang secara optimal akan banyak menemui keendala pada saat anak itu menjdi dewasa, baik masalah di dalam pertumbuhan dan prkembangannya maupun kendala dalam mencapai kemampuan yang optimal. Masalah yang dihadapi antara lain masalah kesehatan karena sistem kekebalan tubuhnya tidak berkembang dengan baik, dikarenakan faktor-faktor kekebalan yang dibutuhkan tidak dibentuk sesuai kebutuhan. Karena itu pada masa pertumbuhannya, anak harus mendapatkan asupan makanan yang baik dan cukup agar tersedia gizi yang baik untuk tumbuh kembangnya (IDN Supariasa ,dkk. 2002)

Status gizi pada anak dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan faktor genetik. Dalam hal ini perilaku dibagi menjadi tiga yaitu knowledge, afektif dan psikomotor.). (Notoatmodjo. S, 2003).

Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior). Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan suatu faktor pendukung atau kondisi yang memungkinkan, antara lain adanya fasilitas. Sikap ibu yang poitif terhadap imunisasi harus mendapat konfirmasi dari suaminya, dan adanya fasilitas imunisasi yang mudah dicapai agar sang ibu tersebut dapat mengimunisasikan anaknya. Di samping faktor fasilitas, juga diperlukan faktor dukungan dari pihak lain, misalnya dari suami atau istri, orang tua atau mertua, dan lain-lain. Praktek ini mempunyai beberapa tingkatan yaitu : persepsi (perception), respon terpimpin (guided response), mekanisme (mechanism), dan adatasi (adaptation). (Notoatmodjo. S, 2003).

Setelah seseorang mengetahui stimulus atau objek kesehatan, kemudian mengadakan penilaian atau pendapat terhadap apa yang diketahui, proses selanjutnya diharapkan ia akan melaksanakan atau mempraktekkan apa yang diketahui atau yang disikapinya (dinilai baik). Inilah yang disebut praktek kesehatan atau juga dapat dikatakan sebagai perilaku keehatan. Oleh sebab itu, indikator praktek kesehatan ini juga mencakup hal-hal terebut diatas yakni : tindakan (praktek) sehubungan dengan tindakan, tindakan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan, tindakan kesehatan lingkungan. Adapun untuk memperoleh data praktek atau perilaku yang paling akurat adalah melalui pengmatan (observasi). Namun juga dapat dilakukan melalui wawancara dengan pendekatan recall atau mengingat kembali perilaku yang telah dilakukan oleh responden beberapa waktu yang lalu. (Notoatmodjo. S, 2003).

Dari hasil penelitian di Pelabuhan Kamal Kecamatan Kamal Kabupaten Bangkalan, status gizi anak jalanan 70 % mengalami malnutrisi, baik ringan (20 %), sedang (35 %), maupun berat (15 %).Sedangkan tingkat pengetahuan tentang asupan makanan 65 % adalah kurang. ,.Hal ini dikarenakan tingkat pendidikan responden yang rendah.Namun demikian masih ada 15 % responden yang tingkat pengetahuan tentang asupan makanan baik.

(12)

Hasil analisa data dengan uji Spearman menggunakan program SPSS for Windows Versi 17,0 didapatkan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan status gizi anak jalanan. dengan p=0,179 (p> 0,05).Hasil penelitian dibandingkan referensi tidak sesuai. Diharapkan makin tinggi pengetahuan tentang asupan makanan maka makin optimal pula status gizi.Hal ini dikarenakan banyak faktor lain yang mempengaruhi.

Salah satu faktornya adalah tidak dilakukan pengukuran tinggi badan sehingga tidak memperhitungkan faktor genetik. Faktor genetik ini mempengaruhi pertumbuhan skeletal yang nantinya berpengaruh pada status gizi. (IDN Supariasa, dkk, 2002).

Tinjauan pustaka yang lain menyebutkan kesukaan anak terhadap jenis makanan tertentu cukup penting dalam mempengaruhi asupan anak.Ada dua teori, yang pertama “ The N ature Theory “. Anak sudah punya insting sejak lahir untuk menyukai makanan yang menarik dan manis.Namun dikhawatirkan jikaanak diberi kebebasan memilih jenis makanan yang disukai dia akan memilih jenis makanan yang menarik tapi kurangmengandung zat gizi

yang diperlukan. Kedua, “ The N urture Theory “. Kesukaan anak terhadap jenis makanan

tertentu dipengaruhi lingkungan di mana anak tersebut tinggal.Apabila seorang anak sejak kecil dibiasakan ibunya mengkonsumsi jenis makanan tertentu, hal ini akan diterima anak.Jadi walaupun pengetahuan tentang asupan makananbaik, belum tentu akan memilih makanan yang kandungan gizinya baik,karena bisa jadi anak lebih memilih makanan yang menarik tapi kurang kandungan gizi.(Suhardjo,1992)

Faktor adanya infeksi, baik virus influenza, saluran nafas, diare, penyakit saluran cerna juga mempengaruhi status gizi.Infeksi dapat terjadi pada semua distribusi umur. Pada anak, kejadian infeksi dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan anak., baik karena faktor imunitas tubuh yang tidak berkembang maupun karena kurang gizi. (Soetjiningsih, 1995).Kejadian penyakit infeksi dapat menyebabkan gizi kurang karena makanan atau zat yang diperlukan tidak dapat digunakan karena adanya bakteri patogen.(Nelson, 2003)

Faktor fisik antara lain cuaca, musim, keadaan geografis suatu daerah yang berdampak pada kegagalan panen akan berdampak pada tumbuh kembang anak .Selain itu ketersediaan tenaga dan pelayanan kesehatan di daerah tersebut juga sangat mempengaruhi status gizi. (IDN Supariasa, dkk, 2002).

KES IMP U LAN

Berdasarkan hasil penelitian dan uraian pembahasan yang telah dikemukakan, maka dapat ditarik kesimpulan tidak terdapat hubungan secara bermakna antara pengetahuan tentang asupan makanan dengan status gizi anak jalanan di Pelabuhan Kamal Kecamatan Kamal Kabupaten Bangkalan.

S ARAN

1) Saran untuk peneliti

Hasil penelitian ini jauh dari sempurna, diharapkan peneliti mempersiapkan materi yang lebih matang serta mengetahui kondisi masyarakatdi lapangan.

2) Saran untuk instansi terkait

(13)

Siti Nur Fitria, Hubungan A ntara Pengetahuan Tentang A supan Mak anan... .. .. ... .. .. .. ... .. .. .. ... .. .. .. ... .. .. ... .. .. .. ... .. .41

D AFTAR PU S TAKA

Azwar, Azrul. (1983). Pen gan tar Pen didikan Kesehatan. Jakarta :Sastra Hudaya Badrus,

J, S. (1996). Kam us Um um Bahasa In don esia. Jakarta :Pustaka Sinar Harapan Berg,

Alan. (1985). Gizi Dalam Pem ban gun an N asion al. Jakarta

CV. Rajawali

---Buku Kesehatan Ibu dan Anak (2009). Jakarta :Departemen Kesehatan RI

Djaeni S, Achmad. (2000). Ilm u Gizi Un tuk M ahasisw a dan Profesi Jilid I dan Jilid

II.JakartaDian Rakyat

Harahap, A, B. (1991). Kam us Profesion al, Jakarta : Penerbit Erlangga

Mansjoer, Arif, Suprohaita. (2000). Kapita Selekta Kedokteran Jilid II. Jakarta :Media Aesculap Fakultas Kedokteran Indonesia UI

Nelson, Behrman. (2003). Textbook of Pediatric 17th Edition. Jakarta : Penerbit Buku

Kedokteran EGC

Notoatmodjo, Soekidjo. (2003). Ilm u Kesehatan Masy arakat Prin sip-Prin sip Dasar.

Jakarta :Penerbit Rineka Cipta

Notoatmodjo, Soekidjo.(2003). Pen didikan dan Perilaku Kesehatan.Jakarta : Penerbit

Rineka Cipta

Sediaoetama, A, D.(2004). Ilm u Gizi Un tuk M ahasisw a dan Profesi. Jilid II.Jakarta : Dian

Rakyat

Soetjiningsih. (1995). Tum buh Kem ban g An ak.Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC

Sugiyono.(2009.)Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.Bandung :Penerbit Alfabeta

Suhardjo. (1992). Pem berian M akan an Pada Bay i dan An ak.Jogjakarta : Penerbit Kanisius

Supariasa, Nyoman, I Dewa. (2002). Pen ilaian Status Gizi. Jakarta :Penerbit Buku

Kedokteran EGC

www. bps.go.id//brs-file/kemiskinan-01jul10.pdf www. jatimprov.go.id/dbfile/bidlahta01/2008

www.solopos.com/2010/solo/giziburuk-anakbalita-jalan-meregangnyawa-26670 www.street children.org.uk

(14)

Referensi

Dokumen terkait

Fokus kegiatan ialah pengkajian terhadap metode pembibitan kakao secara vegetatif yaitu sambung pucuk, sambung samping, okulasi, dan SE yang bertujuan mengetahui metode paling

Merekonstruksi model wajah 3D dengan menggunakan metode tertentu sehingga dapat menghasilkan model wajah 3D baru yang sesuai dengan fitur citra wajah 2D.. Memodifikasi hasil

Penjelasan dari gambar tersebut yaitu entitas kepala sekolah menyerahkan surat SPA 1 Acc SPR 1 Acc SPGA 1 Acc SPGA G 1 Acc SPK 1 Acc SPAB 1 Acc ke entitas staf tata usaha

Pemesanan Barang (Order) Sistem Biaya Prosedur Kebijakan Konsumen (Distributor) Waktu pemesanan terbatas Pemesanan terbatas Prosedur pemesanan yang sulit dsfs Pencatatan

bahwa berdasarkan Surat Kawat Menteri Dalam Negeri Nomor : 061/6859/SJ, tanggal 4 Nopember 1982, Surat Menteri Dalam Negeri Nomor : 061/11034/SJ, tanggal 19 Nopember 1983 perihal

Berdasarkan pembahasan di atas maka simpulan pelaporan data keuangan lembaga amil zakat berdasarkan akuntansi zakat yang merujuk pada PSAK no 109 dan UNDANG-

Karakter Tuan Mandor dalam perannya sebagai tokoh antagonis dalam komik strip Si Bujang terlihat pada beberapa panel gambar berisi teks atau dialog serta ekspresi

Metode yang digunakan adalah metode deskriptif, analisis skoring , dan analisis location quotient (LQ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bubu, pancing, gillnet, dan