MAKALAH TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN
“Teknologi Tanaman Perkebunan Semusim”
Disusun Oleh: Kelas F Kelompok 6
1. Fajar Yudha Pratama (125040200111134) 2. Evi Dwi Asih (125040200111159) 3. Elvrado Wega Senturi (125040201111016) 4. Erlina Eka P (125040201111016)
5.
Fahma Sariahta Berutu (125040201111125)Dosen Pembimbing: Nur Azizah, SP,MP
Progam Studi Agroekoteknologi
Fakultas Pertanian
Universitas Brawijaya
Malang
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salah satu vitamin yang banyak di perlukan oleh tubuh untuk dapat melakukan aktivitas sehari-hari adalah vitamin C. Menurut Widya Karya Pangan Nasional NAS-LIPI, 1978, menyarankan mengkonsumsi vitamin C untuk anak-anak dan dewasa antara 20-30 mg per hari, sedangkan untuk ibu hamil dan menyusui perlu ditambah 20 mg per hari. Vitamin C berasal dari sayuran dan buah-buahan, terutama buah segar. Salah satu tanaman yang memiliki kandungan vitamin C tinggi adalah tanaman rosella.
Bunga rosella dalam bentuk segar memiliki kandungan gizi yang masih utuh jika dibandingkan dengan bunga rosella yang sudah dikeringkan. Bunga rosella yang dikeringkan kandungan gizinya akan berkurang karena tidak semua zat gizi stabil dalam pemanasan. Bunga rosella banyak mengandung vitamin C, vitamin A dan asam amino. Kandungan vitamin C yang terdapat dalam bunga rosella lebih banyak dibandingkan dengan buah-buahan lainnya. Dalam 100 gram bunga rosella mengandung 244,4 mg vitamin C, sedangkan dalam 100 gram jeruk mengandung 48 mg, belimbing 25,8 mg dan papaya mengandung 71 mg. Vitamin C mudah rusak karena oksidasi dan proses itu dipercepat oleh panas, sinar, alkali, enzim, oksidator, serta katalis tembaga dan besi. Maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui kandungan vitamin C pada bunga rosella
Tanaman rosella (Hibiscus sabdariffa) termasuk salah satu anggota famili Malvaceae (tanaman penghasil serat). Rosella merupakan tanaman yang sudah banyak dikenal oleh masyarakat, karena hampir seluruh bagian tanaman ini bermanfaat bagi kesehatan. Manfaat tanaman rosella diantaranya dapat digunakan sebagai obat dan perawatan tubuh. Tanaman ini juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan salad, saus, sup, teh, kopi, asinan, pudding, Permen, sirup dan jel. Tanaman rosella merupakan tanaman semusim, sehingga selesai masa pembungaannya tanaman akan mati dan sebahagian besar masyarakat sudah tidak dapat memanfaatkannya lagi.
Tanaman rosella adalah sejenis tanaman dengan tangkai panjang menjuntai ke atas, daun dengan jari-jari mirip daun singkong berujung runcing ke tepi. Bunga rosella berwarna merah, dengan nama latin Hibiscus sabdariffa Lynn. Tinggi tanaman rosella bisa mencapai 3-5 meter dan akan berbunga setelah tanaman sudah dewasa (Budi Sutomo, 2007).
Tujuan dari pembuatan makalah ini selain untuk memenuhi tugas yang telah diberikan Dosen Pembimbing, makalah ini bertujuan untuk :
Untuk mengetahui tanaman perkebunan semusim
Untuk mengetahui deskripsi dan karakteristik dari tanaman perkebunan yang
semusim.
Tanaman rosella (Hibiscus sabdariffa) adalah sejenis semak (perdu) yang ada di seluruh wilayah tropis dunia. Asal rosella Florida Cranberry adalah dari Afrika Barat. Masyarakat pada umumnya telah mengenal kenaf atau rosella (Hibiscus cannabinus) sebagai tanaman penghasil serat karung dan kembang sepatu (Hibiscus rosasinensis). Sedangkan bunga rosella merah (Hibiscus sabdariffa Lynn), belum begitu dikenal. Bunga rosella merah (Hibiscus sabdariffa Lynn), dikenal di berbagai negara dengan nama yang berbeda-beda, diantaranya ialah, India Barat (Jamaican Sorrel ), Perancis (Oseille Rouge), Spanyol (Quimbombo Chino), Afrika Utara (Carcade), dan Senegal (Bisap), Indonesia (Vinagreira, Zuring, Carcade, atau asam Citrun). Dalam bahasa Melayu, tanaman ini dikenal dengan nama asam paya, Asam kumbang atau asam susur. Tanaman rosella memiliki dua varietas dengan budidaya dan manfaat yang berbeda, yaitu:
a. Hibiscus sabdariffa var. Altisima, rosella berkelopak bunga kuning, yang bisa dimanfaatkan serat batangnya sebagai bahan membuat tali dan karung goni.
b. Hibiscus sabdariffa var. Sabdariffa, rosella berkelopak bunga merah yang kini mulai diminati petani dan dikembangkan untuk diambil bunga dan bijinya sebagai tanaman herbal dan bahan baku minuman kesehatan meskipun varietas ini juga mempunyai potensi
untuk diambil seratnya. (Comojime, 2008).
Tanaman rosella merupakan tanaman semusim, sehingga setelah selesai masa pembungaannya tanaman akan mati dan sebagian besar masyarakat sudah tidak dapat memanfaatkannya lagi. Pemanfaatan batang tanaman rosella merah yang juga memiliki potensi serat dapat menambah nilai ekonomi tanaman rosella. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman rosella merupakan peristiwa yang sangat kompleks, yang dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor lingkungan. Dengan perlakuan dan pengaturan volume penyiramana di harapkan dapat meningkatkan serat pada batang rosella.
a. Metodologi
Metodologi yang di gunakan pada jurnal yaitu menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial dengan 2 faktor yaitu :
P2=480 mL dan
P3=720 mL.
Dengan 5 kali pengulangan. Penentuan volume air perlakuan dilakukan berdasarkan kapasitas lapang tanah yang akan digunakan untuk menanam. Setelah tanaman berumur 3 minggu, perlakuan diberikan selama 95 hari. Setelah panen, dibuat preparat penampang lintang dan penampang bujur batang dengan metode tanpa embedding dan preparat maserasi dan diamati menggunakan fotomigrograf.
Pengukuran dimensi serat menggunakan mikroskop Olympus BH-2 dengan pembesaran 40 X, 100 X dan 400 X. Pemilihan dimensi serat untuk pengukuran yaitu panjang serat dan diameter serat yang utuh atau tidak patah, rusak, terlipat, pecah, terpotong dan kerusakan lainnya.
Variabel yang diukur yaitu :
Jumlah sel serat sklerenkim batang tiap berkas
Diameter serat batang dan
Panjang serat batang serta
Intensitas cahaya, namun variabel tersebut hanya variabel pendukung. Karena
pengukurannya dilakukan setiap hari pada waktu yang sama.
b. Pembahasan
Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa, perlakuan naungan, volume penyiraman dan interaksi kedua faktor tersebut memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap jumlah sel serat sklerenkim batang rosella. Perlakuan tanpa naungan menghasilkan jumlah sel serat sklerenkim yang sama dengan perlakuan naungan paranet 55% tetapi lebih banyak dibandingkan perlakuan naungan paranet 75%. Perlakuan volume penyiraman 480 mL dan 720 mL menghasilkan jumlah sel serat sklerenkim yang sama dan lebih banyak dibandingkan volume penyiraman 240 mL. Interaksi kedua faktor menunjukkan tanaman pada volume penyiraman 480 mL dan 720 mL menghasilkan jumlah sel serat terbanyak baik pada perlakuan tanpa naungan ataupun naungan paranet 55%. Sehingga jumlah sel terbanyak dihasilkan oleh tanaman dengan perlakuan tanpa naungan dan pada naungan 55% hal tersebut di sebabkan karena pengaruh cahaya terhadap pembelahan sel melalui mekanisasi penyediaan cadangan makanan untuk proses pembelahan. Intensitas cahaya yang tinggi pada tempat tanpa naungan akan meningkatkan proses fotosintesis tanaman sehingga karbohidrat yang dihasilkan untuk proses pembelahan sel juga meningkat.
Hasil pengamatan perbedaan jumlah sel pada perlakuan penyiraman yang berbeda dapat dilihat pada gambar:
Penampang lintang batang rosella pada perbesaran 400 X dengan perbedaan volume penyiraman: A. 240 mL, B. 480 mL, C. 720 mL.
tumbuh menjadi terhambat dibandingkan tanaman dengan penyiraman yang sesuai dengan kapasitas lapang media tanam.
pada kombinasi volume penyiraman 480 mL dan 720 mL dengan intensitas cahaya tanpa naungan dan naungan paranet 55% sel tanaman akan lebih banyak membelah. Hal ini disebabkan adanya cadangan makanan untuk proses pembelahan yang lebih banyak dari perlakuan intensitas cahaya yang tinggi juga dengan penyediaan air yang memenuhi kapasitas media lapang dibandingkan perlakuan naungan paranet 75% dan volume penyiraman 240 mL.
Tabel 2 menunjukkan bahwa perlakuan naungan paranet 55% menghasilkan ukuran diameter sel serat sklerenkim paling besar diikuti perlakuan naungan paranet 75% sedangkan perlakuan tanpa naungan menghasilkan diameter sel serat sklerenkim terkecil. Perlakuan volume penyiraman 720 mL menghasilkan ukuran diameter sel serat sklerenkim paling besar sedangkan volume penyiraman 480 mL dan 240 mL menghasilkan diameter sel serat sklerenkim yang sama. Interaksi kedua faktor menunjukkan bahwa tanaman pada perlakuan naungan paranet 55% pada volume penyiraman yang berbeda menghasilkan diameter sel terbesar. Hal ini disebabkan intensitas cahaya yang tinggi pada tempat tanpa naungan akan mengakibatkan perusakan auksin tanaman yang berperan dalam proses perluasan sel.
Tabel 3 menunjukkan bahwa perlakuan naungan paranet 55% menghasilkan ukuran panjang sel serat sklerenkim paling panjang diikuti perlakuan naungan paranet 75% sedangkan perlakuan tanpa naungan menghasilkan panjang sel serat sklerenkim terpendek. Perlakuan volume penyiraman 720 mL menghasilkan ukuran panjang sel serat sklerenkim paling panjang sedangkan volume penyiraman 480 mL dan 240 mL menghasilkan panjang sel serat sklerenkim yang sama. Interaksi kedua faktor menunjukkan bahwa panjang sel terpanjang dihasilkan oleh tanaman dengan kombinasi perlakuan naungan paranet 55% dan volume penyiraman 720 mL. Perbedaan intensitas cahaya memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap ukuran sel-sel serat sklerenkim pada pertumbuhan batang rosella, baik terhadap ukuran diameter sel maupun panjang sel. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya jumlah auksin pada tanaman yang terletak pada intensitas cahaya rendah. Perusakan auksin karena cahaya lebih sedikit pada tanaman yang ternaungi paranet 75%.
Tanaman pada perlakuan volume penyiraman 720 mL memberikan hasil panjang sel serat sklerenkim terpanjang. Hal ini disebabkan ketersediaan air mempunyai peranan penting dalam proses pertumbuhan sel. Proses pemanjangan membutuhkan pemberian air yang banyak, adanya hormon tertentu yang memungkinkan dinding-dinding sel merentang dan adanya gula.
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tembakau merupakan jenis tanaman yang sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia. Tembakau memiliki peranan penting dalam roda perekonomian Indonesia, karena tembakau merupakan salah satu komoditas perdagangan penting di dunia. Tembakau merupakan bukan hanya sumber pendapatan bagi para petani tetapi juga memberikan pendapatan bagi Negara. Tanaman ini tersebar di seluruh Nusantara dan mempunyai kegunaan yang sangat banyak terutama untuk bahan baku pembuatan rokok. Tembakau dan rokok merupakan produk bernilai tinggi, sehingga bagi beberapa negara termasuk Indonesia tembakau berperan dalam perekonomian nasional, yaitu sebagai salah satu sumber devisa, sumber penerimaan pemerintah dan pajak (cukai), sumber pendapatan petani dan lapangan kerja penduduk di perdesaan. Di dalam daun tembakau terdapat kandungan alkaloid nikotin yang dapat digunakan sebagai insektisida, sebagai obat luka dan sebagai zat pewarna alami contohnya zat pewarna baju. Selain itu tembakau Juga dimanfaatkan sebagai kunyahan (Jawa : susur), terutama di kalangan ibu–ibu di pedesaan.
Tanaman Tembakau termasuk dalam famili Solanaceae yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Tanaman tembakau merupakan salah satu tanaman tropis asli Amerika yang digunakan pertama kali di Amerika Utara dan masuk ke Eropa melalui Spanyol. Setelah masuk ke Eropa, tembakau menjadi semakin popular sebagai barang dagangan dan menyebar dengan sangat cepat di seluruh Eropa, Afrika, Asia dan Australia. Terdapat banyak jenis tembakau yang ada di Indonesia. Namun, kebanyakan dari jenis tembakau tersebut hanya bisa diusahakan pada saat musim kemarau saja, sedangkan kebutuhan air harus terpenuhi secara cukup sehingga pemberian air harus dilakukan secara intensif.
Tujuan
PEMBAHASAN
Tanaman tembakau (Nicotiana tabacum Linn) termasuk dalam famili Solanaceae dan genus Nicotianae. Tanaman ini dikenal kira-kira lima abad yang lalu, sejak ditemukan oleh colombus (1492). Beberapa nama daerah dari Nicotiana tobacum Linn yaitu; Bengkulu dan lampung namanya tembakau, di jawa dengan nama bako, di Aceh bakong, di Tapanuli timbako, di Nias Fanisa. Tanaman tembakau merupakan tanaman semusim dan tingginya dapat mencapai 2,5 m, memiliki batang berkayu yang tegak dan berwarna hijau.
Klasifikasi Tanaman Tembakau
2. Tanam: pada awal, pertengahan dan akhir Juni, secara double rows, jarak dalam baris 40 cm dan antar baris 50 cm, bibit dua tanaman perlubang diambil yang baik.
3. Pupuk: pupuk kandang 0.5 l/lubang (7 hari sebelum tanam),pupuk N (150 kg/ha pada 10 dan 25 hst), TSP pada saat tanam (150 kg/ha).
4. Pemeliharaan: dangir (10 hst), bumbun (30 hst), penyiraman dan pengendalian HPT. 5. Pemberian air: microsprayer (frek. 0-7 hst tiap hari, 8-50 hst tiap 4 hari selama satu jam), petani (gembor 0-30 hst tiap hari dan tiap dua hari pada 56 hst).
6. Panen: 20 Agustus, 4 September dan 18 September 1997.
7. Pengolahan hasil: pemeraman (3-4 hari), penggulungan, perajangan, penjemuran.
Parameter pengamatan yang dilakukan yaitu :
produksi tembakau: dalam bentuk rajangan kering yang siap dipasarkan.
Mutu: kadar gula dan kadar nikotin. harga x produksi mutu Indeks =
Biaya usahatani: sewa tanah, sarana produksi, tenaga kerja dan peralatan.
Biaya pemberian air: metode petani (iuran air, biaya tenaga siram, pembuatan
sumuran), microsprayer (iuran air, biaya penyusutan, bunga modal, pemeliharaan dan tenaga kerja.
Hasil
a. Produksi Tembakau
Penerapan metode pemberian air antara metode microsprayer (M) dan petani (P), tidak menunjukkan pengaruh yang nyata pada uji BNT 5% terhadap produksi rata-rata tembakau dan nisbah BK/BB.
berarti ada peningkatan mutu daun tembakau. Nisbah gula/nikotin yang rendah, menunjukkan aroma yang semakin keras dan kuat.
Metode microsprayer mempengaruhi sistem perakaran tanaman. Dimana berdasarkan pola pancaran microsprayer yang berbentuk kabut dan bentuk pembasahan di tanah berupa lingkaran (Karmeli and Stephen, 1977), air akan lebih banyak membasahi zone perakaran di permukaan tanah sehingga perkembangan akar tanaman cenderung menyebar ke arah horisontal. Hal ini menyebabkan akar tanaman bisa dengan mudah menyerap air.
Biaya upah pengairan per hektar metode microsprayer lebih murah daripada metode petani dan biaya tahunan relatif tidak jauh berbeda. Penerimaan metode microsprayer relatif lebih baik daripada metode petani.
b. Harga Tembakau
Harga tembakau kedua perlakuan sama, karena keduanya ditanam di lokasi yang sama. Perbedaan harga dalam pengamatan, karena tembakau tersebut dijual tidak dalam waktu yang bersamaan. Pada panen awal harganya masih tinggi tetapi pada panen akhir harga menjadi rendah karena gudang mulai menutup pembeliannya.
c. Mutu dan Indeks Mutu
Rerata nisbah gula/nikotin, sebagai rasio perbandingan kadar gula dan kadar nikotin dari metode microsprayer lebih rendah daripada metode petani. Mutu tembakau dipengaruhi oleh kadar gula dan kadar nikotin pada daun tembakau. Kadar gula merupakan penyusun mutu tembakau karena asap makin halus dan sebagai tembakau tipe aromatis, faktor aroma pada tembakau madura sangat penting. Sedangkan nikotin sangat berpengaruh terhadap berat ringannya rasa isap tembakau.
aroma yang semakin keras dan kuat. Penerapan metode tidak berpengaruh nyata, tetapi indeks mutu metode microsprayer cenderung lebih tinggi daripada metode petani. Hal ini karena produksinya lebih tinggi sedangkan harga tidak berpengaruh.
Nilai tambah yang diperoleh petani dengan penerapan metode microsprayer yaitu petani memiliki lebih banyak waktu luang. Jadi jika selama ini petani menghabiskan banyak waktu untuk menyirami tanamannya, maka dengan metode ini petani hanya membutuhkan sedikit waktu saja dan waktu luang yang ada bisa dipergunakan untuk melakukan kegiatan lain seperti misalnya berdagang atau melakukan pekerjaan lain yang bisa memberikan penghasilan tambahan.
KESIMPULAN
yang dihasilkan dengan metode microsprayer adalah tembakau dengan rasa dan aroma yang lebih kuat. Biaya upah pengairan per hektar metode microsprayer lebih murah daripada metode petani dan biaya tahunan relatif tidak jauh berbeda. Penerimaan metode microsprayer relatif lebih baik daripada metode petani.
Secara umum baik penerapan metode microsprayer maupun metode petani adalah tidak layak karena nilai NPV masing-masingnya lebih kecil dari 0 dan B/C rationya labih kecil dari 1. Kalaupun petani lebih menyukai berusahatani tembakau, itu karena mereka tidak memperhitungkan tenaga yang mereka keluarkan sehingga menganggapnya sebagai keuntungan yang mereka peroleh setelah tembakau mereka terjual.
Kurniati, Evi.2001. “Analisis Finansial Penerapan Metode Pemberian Air Irigasi dengan Microsprayer pada Tanaman Tembakau Sawah (Nicotiana tabacum) di Madura” dalam Jurnal Tekonologi Pertanian, Vol. 2, Nomor 2, Agustus, (hlm. 1-13).
Tanaman tebu (Saccharum officinarum) dimanfaatkan sebagai bahan baku utama dalam industri gula. Pengembangan industri gula mempunyai peranan penting bukan saja dalam rangka mendorong pertumbuhan perekonomian di daerah serta penambahan atau penghematan devisa, tetapi juga langsung terkait dengan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat dan penyediaan lapangan kerja. Bagian lain dari tanaman seperti daunnya dapat pula dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan bahan baku pembuatan pupuk hijau atau kompos. Ampas tebu digunakan oleh pabrik gula itu sendiri untuk bahan bakar selain itu biasanya dipakai oleh industri pembuat kertas sebagai campuran pembuat kertas.
Daun tebu yang kering (dalam bahasa Jawa, dadhok) adalah biomassa yang mempunyai nilai kalori cukup tinggi. Di pedesaan dadhok sering dipakai sebagai bahan bakar untuk memasak; selain menghemat minyak tanah yang makin mahal, bahan bakar ini juga cepat panas. Dalam konversi energi pabrik gula, daun tebu dan juga ampas batang tebu digunakan untuk bahan bakar boiler, yang uapnya digunakan untuk proses produksi dan pembangkit listrik.
Tanaman ini sangat dibutuhkan sehingga kebutuhannya terus meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk. Namun peningkatan konsumsi gula belum dapat diimbangi oleh produksi gula dalam negeri.
1.2 Tujuan
Bertujuan untuk mendapatkan kombinasi akibat perlakuan komposisi media tanam dan varietas serta mendapatkan komposisi media tanam yang tepat untuk pertumbuhan bibit dengan teknik bud chip dari tiga varietas tebu (Saccharum officinarum L.).
PEMBAHASAN
besar. Selain itu, Saccharum officinarum berdaya tunas tinggi pada keadaan tanah dan iklim yang cocok, dan umumnya beradaptasi dengan baik di daerah tropis.
Kebutuhan akan tanaman tebu terus meningkat. Namun peningkatan konsumsi gula belum dapat diimbangi oleh produksi gula dalam negeri. Penyebab rendahnya produksi gula dalam negeri salah satunya dapat dilihat dari sisi on farm, diantaranya penyiapan bibit dan kualitas bibit tebu. Selain permasalah dari sisi bibit, semakin sedikitnya ketersediaan lahan menyebabkan kebutuhan lahan untuk pembibitan juga semakin sulit sehingga di butuhkan teknologi penyiapan bibit yang sigkat.
Teknik pembibitan Bud chip adalah teknik pembibitan tebu secara vegetatif yang menggunakan bibit satu mata. Bibit ini berasal dari kultur jaringan yang kemudian ditanam di Kebun Bibit Pokok (KBP). Bibit yang di gunakan berumur 5 - 6 bulan, murni (tidak tercampur dengan varietas lain), bebas dari hama penyakit dan tidak mengalami kerusakan fisik. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap hasil pembibitan dengan teknik bud chip adalah media tanam. Komposisi media tanam yang digunakan pada teknik ini terdiri dari tanah, kompos dan pasir.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi cangkul, chisel mortisier (alat pemotong batang tebu), hot water treatment (HWT), alat steam media tanam, tray, penggaris, oven, alat tulis, kamera, leaf area meter (LAM) dan jangka sorong. Bahan yang digunakan antara lain tanaman tebu varietas PS 92-750, VMC 76-16 dan PS 862, tanah, pasir, kompos blotong N10, fungisida, insektisida dan ZPT.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah percobaan Faktorial yang disusun secara acak kelompok. Percobaan ini terdapat 2 faktor,
Faktor 1 ialah varietas (V) yang terdiri dari 3 macam, yaitu: (V1) Varietas PSJK 922,
(V2) Varietas PS 862, (V3) Varietas VMC 76-16.
faktor 2 ialah media tanam (M) dengan komposisi tanah : kompos : pasir yang
terdiri dari 3 macam, yaitu : (M1) (10% : 70% : 20%, (M2) (70% : 20% : 10%) , (M3)
Pengamatan dilakukan pada tiap tray perlakuan dengan 4 sampel non destruktif dan 18 tanaman destruktif. Parameter pengamatan non destruktif meliputi diameter batang, tinggi tanaman, jumlah ruas batang dan jumlah daun. Parameter pengamatan destruktif meliputi luas daun, bobot segar total tanaman dan bobot kering total tanaman. Data pengamatan yang diperoleh dianalis menggunakan analisis ragam (uji F) pada taraf 5%. Apabila terdapat beda nyata (F hitung > F tabel 5%), maka akan dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf 5%.
a. Tinggi Tanaman
kombinasi perlakuan V1 dan M1 menghasilkan rerata tinggi tanaman lebih tinggi. Hal tersebut diduga karena pada komposisi media M1 dengan prosentase tanah : kompos : pasir (10% :70% : 20%) mengandung aplikasi kompos blotong yang lebih banyak sehingga kebutuhan nutrisi dan vitamin untuk tanaman terpenuhi. Menurut Brady (1990) bahwa bahan organik yang ditambahkan ke dalam tanah menyediakan zat pengatur tumbuh tanaman yang memberikan keuntungan bagi pertumbuhan tanaman seperti vitamin, asam amino, auksin dan giberelin yang terbentuk melalui dekomposisi bahan organik. Kompos blotong adalah bahan organik yang mengandung unsur N tinggi.
b. Jumlah Daun
Meningkatnya jumlah daun tidak terlepas dari adanya aktifitas pemanjangan sel yang merangsang terbentuknya daun sebagai organ fotosintesis terutama pada tanaman tingkat tinggi (Gardner et al,1991). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pengamatan umur 70,80 dan 90 hst. terdapat interaksi antara perlakuan V1 dan M1. Kombinasi perlakuan V1 dan M1 menghasilkan rerata jumlah daun lebih tinggi. komposisi media M1 dengan perbandingan tanah : kompos : pasir (10% : 70% : 20%) baik digunakan sebagai media tanam karena mampu menyediakan unsur nitrogen yang dapat membantu tanaman untuk menghasilkan fotosintat yang sangat diperlukan dalam pertumbuhan tanaman.
c. Diameter Batang
Perlakuan komposisi media tanam tidak terjadi interaksi terhadap diameter batang pada beberapa umur.
d. Jumlah Ruas Batang
e. Luas Daun
Hasil analisis ragam menunjukkan
bahwa terjadi interaksi antara komposisi media tanam dan varietas terhadap luas daun menunjukkan bahwa pada umur 80 hst,
f. Bobot Segar Total Tanaman
Tidak terjadi interaksi terhadap rerata bobot segar total tanaman pada berbagai umur pengamatan.
Selain bobot basah total tanaman, parameter pertumbuhan tanaman juga dapat diamati melalui bobot kering total tanaman. Terdapat interaksi pada parameter bobot kering total tanaman terhadap varietas dan komposisi media tanam pada umur pengamatan 70 hst.
g. Bobot Kering Total Tanaman
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa terjadi interaksi antara komposisi media tanam dan varietas terhadap bobot kering total menunjukkan bahwa terdapat interaksi antar perlakuan pada umur 70 hst.
komposisi media tanam berbeda. Kombinasi perlakuan V1 dan M1 nyata memiliki rerata nilai bobot kering total tanaman lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh dari kedua faktor, baik dari faktor internal dan eksternal. Media tanam M1 memiliki komposisi tanah : kompos : pasir (10% : 70% : 20%) yang mampu meningkatkan bobot kering total tanaman secara nyata, karena komposisi media tanam yang tepat mengandung komposisi tanah : pasir dan kompos yang sesuai bagi pertumbuhan tanaman.
pemberian blotong berpengaruh baik pada peningkatan bobot tebu. Varietas juga memberikan pengaruh yang nyata dalam peningkatan bobot kering tanaman. Sebaiknya pembibitan tebu (Saccharum officinarum L.) dengan teknik bud chip ditanam pada media dengan komposisi media tanah : pasir : kompos (10% : 20% :70%) menggunakan varietas PSJK 922.
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA