Pentingnya Penetapan Perda Pengakuan Hak Masyarakat Adat Mentawai (Oleh: Pinda Simanjuntak, Program Manager Inklusi Sosial YCM-Mentawai)
Hutan adalah anugerah Tuhan yang harus dijaga dan dilindungi serta menjadi sumber kehidupan dan pengetahuan bagi masyarakat Mentawai. Hak kelola huta tersebut dira pas sejak tahu 97 _a melalui regulasi pemerintah pusat tentang penunjukan dan penetapan kawasan hutan Mentawai yang berdampak pada struktur dan pola ruang Mentawai saat ini. Dampak dari penunjukan kawasan hutan bagi masyarakat adalah hilangnya hak pengusaan dan pengelolaan masyarakat Mentawai terhadap hutan yang secara turun temurun dijaga dan dilestarikan berdasarkan kearifan budaya. Sementara di level kebijakan, bisa dicermati dari sikap politik DPRD Mentawai dalam proses pembahasan dan penetapan Ranperda RTRW tahun 2014 lalu. DPRD Mentawai bisa dikatakan sengaja menunda pembahasan dan penetapan Perda RTRW hampir tiga tahun (2012-2014). Penundaan penetapan Perda RTRW tersebut digunakan dengan berbagai upaya meloby dan koordinasi DPRD Mentawai di Provinsi maupun di Pemerintah Pusat. Hal ini dilakukan sebagai bentuk dari keberpihakan DPRD Mentawai terhadap masyarakat Mentawai sebagai penerima mamfaat kebijakan. Namun upaya yang dilakukan untuk merevisi ranperda RTRW tersebut mentok . Bahkan Bupati Mentawai Yudas Sabaggalet harus menerima surat teguran dua kali dari Gubernur Sumbar agar Pemda Mentawai segera menetapkan Perda RTRW Mentawai.
Sikap politik menunda penetapan Ranperda RTRW oleh DPRD Mentawai saat itu sangat masuk akal. Akar persoalannya jelas Ketidak Adila Rua g bagi Mentawai. Bagaimana tidak? Dari ± 601.135 ha total luas kepulauan Mentawai ± 491.935,29 ha (82%) telah disulap menjadi kawasan hutan yang dikuasai oleh negara. Kawasan hutan ini dibebani dengan fungsi dan konsesi-konsesi usaha hasil hutan baik berupa kayu maupun bukan kayu. Berdasarkan SK Menhut Nomor SK.35/Menhut-II/2013, luas dan fungsi kawasan hutan di Kabupaten Kepulauan Mentawai saat ini terdiri dari KSA/KPA seluas 183.378,87 ha, Hutan Lindung seluas 7.670,73 ha, Hutan Produksi seluas 246.011,41 ha dan Hutan Produksi Konversi seluas 54,856, 28 ha. Sisanya 109,199,71 ha (18%) adalah Area Penggunaan Lain (APL) dimana sebagian besar pemukiman penduduk berada disekitar dan di dalam kawasan hutan dengan lokasi yang terpencar-pencar pada 4 (empat) pulau utama.
Fungsi kawasan hutan Kepulauan Mentawai lebih banyak hanya diakui dan dipahami oleh aparatur pemerintahan, sementara ditengah-tengah masyarakat kurang begitu dipahami dan diakui adanya penunjukan dan penetapan kawasan hutan. Hal ini wajar terjadi karena kuatnya klaim pengakuan kepemilikan wilayah adat yang dikuasai masyarakat secara turun-temurun dalam bentuk tanah ulayat. Jika dilihat dari sejarahnya sejak zaman Belanda memang tidak pernah masyarakat Mentawai menyerahkan tanahnya sebagai kawasan hutan sebagaimana yang terjadi di daratan Pulau Sumatera (khususnya Sumatera Barat) yang dikenal dengan adanya Solok Regheling, peta register dan adanya bukti bukti penyerahan lahan/tanah dari ninik mamak kepada Pemerintahan Hindia Belanda sebagai hutan larangan dan hutan simpanan.
Utara, PT.MPL di Pagai Selatan, Pagai Utra dan Sikakap dan fungsi Lindung bisa dikatakan tidak diakui masyarakat Mentawai. Mereka hanya tahu bahwa mereka tinggal dan bermukim serta berladang ditanah ulayat yang mereka peroleh dan kuasai secara turun temurun jauh sebelum negara ini ada.
Penunjukan dan penetapan kawasan hutan di Mentawai diakui menjadi sumber dari segala persoalan yang menimpa masyarakat Mentawai dari dulu hingga sekarang. Sejarah mengingatkan kita, ketika masyarakat mengklaim tanah hak miliknya telah masuk dalam fungsi kawasan hutan produksi yang telah dibebani izin HPH kepada perusahaan, sudah berapa banyak tokoh maupun warga Mentawai di tekan, dimasukkan ke penjara, bahkan diancam untuk dibunuh hanya karena mereka mau mempertahankan hak atas tanahnya? Tindakan untuk mempertahankan hak atas tanah oleh masyarakat tersebut dianggap sebagai provokator terhadap hutan negara oleh aparat. Bahkan anggota DPRD Mentawai periode saat ini dari Partai Golkar dan PDI-Perjuangan periode sebelumnya ada yang pernah di tangkap dan interogasi oleh kepolisian hingga dimasukkan dalam penjara. Tidak terkecuali kepada Pejabat Pemerintah Daerah Mentawai saat ini, sebelum mereka PNS juga adalah orang-orang yang pernah terlibat memperjuangkan hak atas tanahnya yang telah dikapling-kapling oleh negara secara tidak adil.
Inilah refleksi atas dosa dan keserakahan yang dilakukan negara terhadap Mentawai dan daerah lainnya lewat regulasi kehutanan sejak zaman Orde Baru. Untuk menebus dosa tersebut, pemerintah pusat menjadikan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) No. 35/PUU-X/2012 sebagai corong penebusan dosa-dosa negara.
Putusan MK 35 tersebut memiliki arti luar biasa bagi masyarakat adat di Indonesia termasuk Masyarakat adat di Kepulauan Mentawai karena permohonan Judisial Review (JR) yang diajukan Aliasi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) bersama dua (2) komunitas masyarakat adat terhadap UU No. 41 Tahun 1999 tentang kehutanan menyatakan bahwa HUTAN ADAT BUKAN LAGI HUTAN NEGARA , melainkan hutan yang berada di dalam wilayah masyarakat adat. Putusan ini jelas merupakan momentum bagi Mentawai melalui pemerintah dan DPRD Mentawai untuk mendapatkan kembali hak-haknya yang telah dira pas negara .
Putusan MK ini mejadi tonggak sejarah untuk merefleksikan perjuangan masyarakat adat di Mentawai untuk medapatkan pengakuan atas hak-haknya, wilayah adatnya, serta hak untuk mengelola kekayaan alam di dalam wilayah adat. Ini menunjukkan bahwa isu kepentingan masyarakat adat sudah mulai mendapatkan perhatian dan komitmen pemerintah pusat.
Turunan dari Putusan MK 35 ini, pemerintah pusat telah mengeluarkan beberapa peraturan diantaranya Surat Edaran Menteri Kehutanan No. 1 Tahun 2013 , Peratuan Menteri Kehutanan No. 62 Tahun 2013 tentang Pengukuhan Kawasan Hutan, Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 52 Tahun 2014 tentang Pedoman Pengakuan dan Perlindungan Hak Masyarakat Hukum Adat, serta peraturan bersama menteri dalam negeri (Perber) No. 79 tahun 2014 yang menjelasakan prosedur verifikasi penguasaan tanah dalam kawasan hutan. Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang, BPN No. 9 tahun 2015 tentang Hak Komunal Atas Tanah.
merencanakan pembentukan peraturan dan kebijakan daerah yang bertujuan mengakui dan melindungi keberadaan masyarakat adat dan wilayah adat.
Untuk Mentawai, pemerintah daerah, melalui Bappeda telah menyusun Ranperda Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat (PPMHA) tahun 2014, dan menjadi Program Legislasi Daerah (Prolegda) tahun 2015. Namun proses pembahasan tak jadi dilakukan DPRD Mentawai tahun 2015 ini dengan alasan waktu yang tidak cukup. Alasan ini terungkap saat komunitas dan pengurus AMAN Mentawai mendatangi DPRD Mentawai untuk menyampaikan aspirasi yang diterima pimpinan dan anggota DPRD Mentawai melalui Rapat Dengar Pendapat Umum di ruang sidang paripurna DPRD Mentawai 2 November yang lalu.
Solusi terhadap masalah yang dihadapi masyarakat adat dalam mempertahankan, memperjuangkan dan memulihkan hak-haknya yang telah dirampas oleh perusahaan maupun oleh pemerintah pusat dapat dikunci dengan sebuah produk hukum daerah (Perda Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat). Produk hukum tersebut tentu tergantung pada kemauan politik di DPRD Mentawai saat ini.
Sekedar berbagi informasi, ada tiga jalur hukum prosedur pengakuan dan perlindungan keberadaan masyarakat hukum adat, dan wilayah adatnya. Jalur pertama adalah dengan pembentukan Perda Pengakuan Masyarakat Hukum Adat berdasarkan usulan dari masyarakat atau pemerintah daerah, DPRD dapat memasukkannya dalam Program Legislasi Daerah untuk kemudian dilanjutkan dengan pembuatan naskah akademik dan rancangan perda, setelah pembahasan rancangan perda, pansus dan sidang paripurna, perda dapat disahkan pada sidang paripurna DPRD. Masyarakat adat yang dapat menjalankan urusan pemerintahan dapat ditetapkan sebagai desa adat berdasarkan UU. No . 6 Tahun 2014 Tentang Desa. Jalur ini sudah dilakukan dan sedang berproses untuk penetapan Perda tahun 2016
Jalur kedua adalah dengan dikeluarkannya surat keputusan Bupati, ini merujuk pada Permendagri No. 52 tahun 2014. Hasil dari identifikasi yang dilakukan oleh camat, disampaikan kepada panitia masyarakat hukum adat yang tediri dari sekretaris daerah (Sekda), Kepala SKPD terkait, bagian hukum dan camat. Setelah melakukan verifikasi, panitia memberikan rekomendasi kepada Bupati untuk kemudian ditindaklanjuti menjadi SK Bupati.