Nusantara pada Masa Pemerintahan
Kolonial
D
I
S
U
S
U
N
Oleh :
Nama
: Khairani Khairunnisa
Kelas
: VII-1
No.Absen: 20
SMPN 27 Jakarta
A. Kedatangan Bangsa Barat di Indonesia
Kedatangan bangsa Eropa ke Asia sangat berkaitan dengan imperialisme dan kolonialisme. Imperialisme adalah hak untuk memerintah. Kolonialisme adalah penguasaan suatu wilayah dan rakyatnya oleh negara lain untuk tujuan-tujuan yang bersifat militer atau ekonomi.
Pengembaraan bangsa Eropa ke Asia mulai dirintis oleh Marcopolo dari Venesia, Italia. Ia berhasil memasuki Benua Asia di Turkistan dan ke Cina sampai ke Semenanjung Melayu, lalu kembali lagi ke Eropa melalui India dan Teluk Parsi (1271-1295)
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kedatangan Bangsa Eropa ke Asia
a. Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Perkembangan ilmu pengetahuan ditandai dengan berkembangnya ilmu tentang geografi, astronomi (ilmu perbintangan), penemuan, kompas, mesiu, dan teknik pelayaran.
b. Ekonomi
Awalnya bangsa Eropa memperoleh rempah-rempah dari Asia Barat yang dibeli dengan harga mahal. Oleh karena itu, bangsa Eropa ingin memperoleh barang tersebut dari pusatnya sehingga memperoleh banyak keuntungan.
c. Politik
Kekalahan Konstatinopel ke tangan Turki Usmania (1453) mendorong bangsa Eropa untuk ekspansi ke dunia timur, yang menimbulkan gerakan pelayaran dan penjelajahan besar-besaran.
d. Semangat Gold, Glory dan Gospel
Gold adalah kekayaan, dapat berupa emas ataupun rempah-rempah. Glory adalah kejayaan untuk mendapat dan menguasai daerah rempah-rempah. Gospel adalah menyebarkan agama nasrani oleh Franciscus Xaverius.
B. Sistem Pemerintahan Kolonial di Indonesia
Tahun 1510, Alfonso de Albuquerque (1459-1515) sebagai panglima angkatan laut Portugis berhasil menguasai Goa dan dijadikannya sebagai pangkalan Portugis.
Pada 1509, Portugis tiba di bawah pimpinan Siquera. Portugis melakukan kontak dengan penguasa setempat, yaitu Sultan Mahmud Syah.
Setelah Malaka dapat dikuasai, Portugis menancapkan pengaruhnya di Pasai dan Minangkabau.
Pada 1512, Portugis tiba di Ternate dan melakukan hubungan dagang dengan para penguasa Ternate. Portugis mendirikan benteng di Ternate yang dimanfaatkan untuk melakukan monopoli perdagangan cengkih.
Penjelajahan Portugis di Nusantara berakhir pada abad 16 M. Di Timor Timur, berakhir pada 1674 setelah Belanda mulai bersaing menguasai Nusantara.
2. Pemerintahan Belanda di Indonesia
a) Kedatangan Belanda
Pertempuran antara Portugis dan Spanyol pada 1580, menyebabkan tersendatnya pasokan rempah ke Belanda, sehingga Raja Spanyol Phillip II, sebagai pemenang perang, menutup pelabuhan Lisabon bagi kapal belanda.
Pada 1596, Cornelius de Houtman memimpin pelayaran Belanda ke Nusantara dan berlabuh di Banten, namun ekspedisi pertama ini gagal.
Pada 1598, rombongan pedagang Belanda tiba di Banten di bawah pimpinan Yacob van Neck. Kedatangan ini diterima baik oleh penguasa Banten. Pada saat itu, Banten sedang mengalami kemunduran akibat tindakan orang Portugis, sehingga keadaan ini dimanfaatkan oleh Belanda untuk melakukan hubungan perdagangan.
Pada 1602, Belanda mendirikan VOC (Vereenigde Oost indische Compagnie) atas saran Yohan van Oldebarnevelt. Tujuannya yaitu :
1. Mempersatukan usaha dagang di Indonesia 2. Menghindari persaingan antar pedagang
3. Mengatasi persaingan antara pedangan Eropa lainnya
Pimpinan VOC dipegang oleh dewan 17, di Indonesia dipimpin oleh gubernur jenderal. Gubernur jenderal yang pertama yaitu Pieter Both.
VOC mendapat hak istimewa (octrooi), yaitu :
1. Memonopoli perdagangan di wilayah Amerika Selatan & Afrika 2. Mengangkat pegawai
5. Membuat perjanjian dengan penguasa setempat atas nama pemerintah Belanda
6. Mempunyai angkatan perang, mendirikan benteng, dan menjajah Pada 1618, terjadi pergantian kepemimpinan VOC yaitu Jan Pieterzoon Coen. Siasat yang dijalankannya untuk menguasai barang dagangan tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya.
Coen memilih Jayakarta untuk dijadikan pangkalan VOC. Namun, beberapa tahun kemudian, Inggris dengan kongsi dagang yang bernama East Indian Company (EIC) meminta izin mendirikan loji di Jayakarta, sehingga terjadi persaingan antara VOC dan EIC di Jayakarta. Coen dan armadanya menyerang tentara Banten dan Inggris, serta menyerbu dan menduduki Jayakarta. Pada Mei 1619, Jayakarta resmi dinamakan Batavia dan VOC secara resmi berkuasa di Banten.
Siasat VOC adalah melakukan devide et impera (politik memecah belah) antara keluarga dalam satu kerajayaan dan keluarga lain. Cara lain yang dilakukan Belanda adalah melancarkan monopoli perdagangan di Indonesia.
b) Bubarnya VOC
VOC dibubarkan pada 31 Desember 1799, penyebabnya yaitu : 1. Persaingan dagang dengan Perancis dan Inggris
2. Penduduk Indonesia tidak mampu membeli barang yang dijual VOC 3. Perdagangan gelap
4. Pegawai-pegawai VOC melakukan korupsi
5. VOC harus mengeluarkan dana besar untuk membiayai tentara dan pegawai
Pada 1799-1807, Indonesia dikuasai oleh Republik Bataf (Bataafsche Republiek). Dalam waktu yang bersamaan, Belanda terlibat perang dengan Perancis di bawah pimpinan Napoleon Bonaparte untuk menyatukan Eropa dengan Perancis. Pada 1807, Belanda dikalahkan Perancis. Akibatnya, Republik Bataf dihapus dan diganti dengan Kerajaan Belanda oleh Napoleon dengan rajanya adalah Lodewijk Bonaparte. Kerajaan Belanda mengangkat Herman Willem Daendels sebagai gubernur jenderal untuk Indonesia.
c) Pemerintahan Daendels (1808-1811)
1. Membuat angkatan perang, mendirikan benteng, pabrik mesiu, rumah sakit tentara, dan kapal perang kecil sebanyak 40 buah 2. Membuat jalan antara Anyer sampai Panarukan
3. Membuat Preanger Stesel, yaitu sistem yang mengharuskan rakyat khususnya di daerah Priangan untuk menanam kopi
4. Dikeluarkan aturan pajak yang tinggi
Daendels memerintah dengan kejam dan keras, sehingga menimbulkan reaksi dan pertentangan, salah satunya perlawanan yang dilakukan oleh rakyat Sumedang di bawah pimpinan Pangeran Kornel atau Pangeran Kusumahdinata (1791-1828) yang terjadi karena rakyat dipaksa bekerja untuk membuat jalan nelalui bukit yang penuh cadas.
Perancis menyadari bahwa Inggris tidak dapat dikalahkan. Sehingga, Napoleon memanggil Daendels untuk diikutsertakan dalam penyerbuan ke Rusia pada Perang Koalisi VI. Daedels kemudian diganti oleh Jenderal Janssens. Namun pemerintahannya tidak berlangsung lama karena Janssens menyerah pada Inggris pada 18 September 1811.
3. Pemerintahan Inggris di Indonesia (1811-1816)
Sejak Belanda menyerah kepada Inggris, gubernur jenderal Inggris di India, Lord Minto mengangkat Thomas Stamford Raffles menjadi letnan gubernur di Jawa. Kebijakan Raffles, yaitu :
1. Kerja paksa dihapus, kecuali di daerah Priangan 2. Monopoli dan pelayaran hongi dihapuskan 3. Melarang politik perbudakan
4. Contingen (penyerahan hasil bumi) diganti dengan Landrente Stesel (sistem pajak bumi), sedangkan penyerahan wajib dihapuskan
Kebijakan dalam bidang pemerintahan :
1. Pulau Jawa dibagi menjadi 16 karedensinan 2. Kekuasaan para bupati dikurangi
3. Sistem juri ditetapkan dalam pengadilan Sistem Landrente Stesel yang diterapkan, yaitu :
1. Petani membayar sewa tanah sesuai keadaan tanah 2. Pajak bumi dibayar dengan uang/beras
Belanda, kecuali Bangka, Belitung, dan Bengkulu. Sehingga pemerintahan mengadakan penelitian, ia menerapkan Tanam Paksa (Cultuur Stesel). Peraturannya yaitu:
1. Rakyat harus menanami 1/5 tanah dengan kopi, tebu, teh, dan tembakau
2. Hasil tanaman harus dijual kepada pemerintah dengan harga yang ditetapkan
3. Tanah yang ditanami tanaman ekspor bebas dari pajak
4. Kaum petani tidak boleh bekerja lebih keras daripada bekerja untuk penanaman padinya
5. Rakyat yang tidak memiliki tanah harus kerja rodi selama 65 hari setiap tahun
6. Kerusakan tanaman menjadi tanggung jawab pemerintah
Pelaksanaan Tanam Paksa diserahkan kepada kepala daerah yang mendapat cultuur procenten atau hadiah menurut banyaknya hasil.
Peraturan Tanam Paksa dengan praktiknya berbeda. Akibatnya, rakyat sangat menderita, sementara Hindia Belanda memperoleh keuntungan besar.
Akhirnya, pelaksanaan Tanam Paksa mengundang reaksi dari kalangan Bangsa Belanda sendiri, diantaranya Baron van Hoevel dan Eduard Douwes Dekker.
b) Sistem Usaha Swasta Asing
Pada 1850, Tanam Paksa banyak ditentang oleh pengusaha-pengusaha Belanda karena tidak sesuai dengan paham liberal.
C. Kebudayaan Pada Masa Pemerintahan Kolonial Eropa di
Indonesia (abad 16-20)
1. Persebaran Agama Kristen
Persebaran agama kristen melalui seorang misionaris dan zending yang ikut dalam pelayaran. Contohnya adalah seorang misionaris yang bernama Fransiscus Xaverius. Ia adalah orang asal Portugis yang menyebarkan agama kristen di Maluku.
2. Pendidikan
Pada masa kolonial, didirikan sekolah dengan tujuan untuk mendapatkan tenaga kerja yang murah. Contoh sekolah pada masa itu : - Sekolah Dokter Djawa (1851)
- OSVIA untuk menghasilkan hakim, jaksa dan pangreh praja - Sekolah Tinggi Teknik (sekarang ITB) pada 1920
3.
Kereta Api
Pada pertengahan abad ke-19, dibuat jalur kereta api untuk pengangkutan hasil perkebunan dan sarana transportasi. Pada 1863, Poolman membuat jalan Semarang-Yogyakarta. Adapun perusahaan Nederland Indische Stroomtram-Maschappij membuat jalan Batavia-Biutenzorg
4. Meriam
Peninggalan bangsa kolonial salah satunya adalah meriam. Contoh : meriam Nyai Setomi di Solo, Si Jagur di Jakarta, dan Ki Amuk di Banten
5.
Arsitektur dan Bahasa
Pada bidang arsitektur, dapat dapat dilihat dari bangunan kuno dan kantor pemerintahan pada masa kolonial. Contohnya :
- Gedung sate yang masih digunakan untuk pemerintahan
- Ornamen pada gerbang Masjid Penyengat atau Keraton Surakarta