• Tidak ada hasil yang ditemukan

Anggaran Kemiskinan dan Tren Pertumbuhan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Anggaran Kemiskinan dan Tren Pertumbuhan"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

Anggaran Kemiskinan dan Tren Pertumbuhan Penduduk Miskin pada

Periode 2011-2015

Anggaran kemiskinan yang dianggarkan dalam Aggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara- Perubahan (APBN-P) dalam lima tahun terakhir, yakni sejak 2011-2015, terus mengalami tren peningkatan (lihat tabel). Anggaran tersebut terbagi atas empat klaster. Keempat klaster tersebut dibagi berdasarkan pendekatan penyalurannya:

- Klaster I merupakan program bantuan sosial terpadu berbasis keluarg.

- Klaster II merupakan program penanggulangan kemiskinan berbasis Pemberdayaan masyarakat.

- Klaster III merupakan program penanggulangan kemiskinan berbasis Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)

- Klaster IV merupakan program peningkatan dan perluasan program pro rakyat.

Rata-rata setiap tahun anggaran kemiskinan meningkat Rp15,1 triliun hingga Rp 44 triliun dengan tren peningkatan anggaran yang cenderung semakin tinggi tiap tahunnya. Ini berlaku kecuali di tahun 2014 yang hanya meningkat Rp 15,1 triliun dan tercatat sebagai peningkatan terendah dalam periode lima tahun tersebut.

(2)

Anggaran tersebut diposkan sesuai program pada kementerian teknis, artinya tidak terpusat hanya di Kementerian Sosial saja. Bahkan, proporsi anggaran kemiskinan berkali lipat lebih besar ketimbang anggaran Kementerian Sosial itu sendiri yang rata-rata hanya berkisar Rp4 triliun pertahun saja.Karenanya, kendati anggaran untuk subsidi terus menyusut, pemerintah tetap percaya diri menyatakan keberpihakannya pada program penanggulangan kemiskinan. Beberapa tahun belakangan, indikator kesejahteraan pun turut dicantumkan sebagai asumsi dasar penyusunan anggaran yang dirumuskan sejak pembicaraan awal APBN dan APBN-P di komisi keuangan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI).

Dalam indikator kesejahteraan itu pula disebutkan target penyusutan kemiskinan tiap tahunnya.Target kemiskinan juga disertai dengan target penyusutan pengangguran, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Rasio Gini sebagai indikator yang dianggap komprehensif mengukur taraf kesejahteraan manusia Indonesia.

Tahun 2011 pemerintah menargetkan tingkat kemiskinan susut menjadi 11,5-12,5% dari jumlah penduduk Indonesia. Maret 2010 Badan Pusat Statistik (BPS), sebagaimana dijabarkan dalam nota keuangan APBN 2011 mencatat penduduk miskin di Indonesia mencapai 13,3% atau sejumlah 31 juta jiwa. Target ini tercapai pada Maret 2011 dimana sensus menyebut persentase penduduk miskin sudah susut menjadi 12,49%. Sensus kedua di tahun tersebut yakni September 2011 menyebut jumlah orang miskin di Indonesia telah susut menjadi 29,89 juta jiwa atau 12,36%.

Tahun 2012, pemerintah memasang target kemiskinan yang lebih ambisisus, yakni 10,5-11,5% dari jumlah penduduk. Anggaran kemiskinan pun ditingkatkan Rp19,2 triliun dibanding anggaran tahun 2011. Nyatanya hingga September 2012, sensus menyebut angka kemiskinan di Indonesia masih berkisar 28,59 juta orang atau 11,66 %.

Meski meleset dari target di tahun 2012, Nota Keuangan APBN 2013 tetap memasang target susut yang lebih ambisius lagi, yakni 9,5-10,5% dengan anggaran kemiskinan ditambah Rp25,5 triliun dari tahun sebelumnya. Strateginya ialah dengan mensinergikan keempat kluster dan mensinkronkan dengan pertumbuhan ekonomi serta peningkatan lapangan kerja. Sensus Maret 2013 menunjukkan penyusutan angka kemiskinan menjdi 28,07 juta jiwa atau 11,37%.

Namun di akhir tahun ini pulalah dimulainya penyusutan harga komoditas ekspor bahan mentah seperti batu bara, nikel, tembaga dan minyak mentah yang membuat wilayah yang tergantung padanya mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi. Pada bulan September 2013, jumlah penduduk miskin malah bertambah 480 ribu jiwa dengan total 28,55 juta orang atau 11,47 %. Pada tahap ini, dua tahun berturut-turut pemerintah gagal memenuhi target penyusutan kemiskinan kendati sudah menambah secara signifikan anggarannya.

Titik Balik

(3)

Uniknya, sensus Maret 2014 malah menyebutkan bahwa 320 juta penduduk miskin Indonesia telah berhasil keluar dari pengeluaran perkapita di bawah garis kemiskinan. Penduduk miskin susut tipis ,menjad 11,25%.Pada September 2014, jumlah penduduk miskin tersisa 27,73 juta orang atau 10,96%. Jumlah ini berkurang 550 ribu orang dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2014 atau berkurang 870 ribu orang sepanjang tahun.

Bak mendapat angin segar, pemerintah yang saat itu baru berganti menggelontorkan dana untuk anggaran kemiskinan Rp44 triliun lebih banyak ketimbang tahun 2014 untuk tahun 2015. Peningkatan ini tercatat dalam APBNP 2015, dimana pada APBN 2015 yang dirampungkan oleh rezim Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, anggaran kemiskinan hanya tercatat naik Rp1,6 triliun saja dari angka tahun 2014.

Ironisnya, statistik menyebutkan pada bulan Maret 2015, jumlah penduduk Indonesia mencapai 28,59 juta orang atau 11.22%. Artinya, 860 juta orang masuk perangkap kemiskinan atau hanya selisih 10 ribu orang yang berhasil keluar dari perangkap tersebut di tahun 2014. Padahal, Nota Keuangan APBN 2015 menargetkan penyusutan penduduk miskin menjadi 9-10% saja.

Patut dicatat bahwa tahun 2015 merupakan tahun dimana penyerapan fiskal terlambat lantaran mengalami perubahan dalam APBN-P 2015, termasuk di dalamnya penyaluran anggaran kemiskinan. Anggaran ini baru mulai terserap pada pertengahan tahun, yang juga mengakibatkan efek berkelanjutannya kurang masif. Sensus kemiskinan berikutnya yakni pada September 2015 menyebutkan penduduk miskin hanya susut 80 juta jiwa saja menjadi 28,51 juta orang (11,13%), jauh dibawah target pemerintah.

Bukan Kuantitas, Tapi Kualitas

Data lima tahun terakhir membuktikan kepada kita bahwa untuk memerangi kemiskinan, anggaran bukanlah faktor yang banyak memberi pengaruh. Kuantitas anggaran tidak serta-merta membuat kemiskinan susut sesuai target. Hal ini selayaknya disadari oleh para pemangku kepentingan (stakeholders), dalam hal ini pemerintah dan para pembuat anggaran untuk lebih mengetengahkan tinjuan sosial, feasibility program dan keberlanjutannya untuk mengentaskan kemiskinan, alih-alih hanya memakai tolak ukur ekonomistis yang tidak komprehensif.

Jika ditinjau dengan lebih cermat tentu kita akan menemukan cacat permanen dalam sistem penganggaran, terutama jika dikaitkan dengan kesejahteraan, selama pengarusutamaan isu kemiskinan hanya melulu dikaitkan dengan sektor ekonomi, meski ranah sosial dan ekonomi bagaimanapun tidak bisa dipisahkan begitu saja. Tinjauan yang menyeluruh juga akan menemukan anomali lain seperti realisasi penyerapan bantuan sosial tiap tahunnya selalu terserap lebih dari 97%, bahkan mendekati 100%. Pencapaian itu semestinya memberi dampak yang terukur apabila penganggaran memang dibuat dengan pertimbangan dan kerangka berpikir yang tepat.

Referensi

Dokumen terkait

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEARAH NUSA TENGGARA BARAT RESOR LOMBOK TIMUR. DATA SOP INISIATIF BAESKRIM POLRI SATRESKRIM SEMESTER 2

Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh penggunaan media kartu kata bergambar terhadap keterampilan membaca nyaring anak tunarungu, adanya pengaruh penggunaan

Dengan ini kami beritahukan bahwa perusahaan Saudara telah menyampaikan Dokumen Penawaran dan Isian Kualifikasi untuk paket pekerjaan tersebut di atas.. Sebagai kelanjutan

Gambar 3- Kromatogram Gas Eugenol pada Sampel Minyak Atsiri Bunga Cengkeh dari Daerah di Maluku. Gambar 4-Kromatogram Gas Eugenol pada Sampel Minyak Atsiri Bunga

Also the rules in Clash Of Clans and Pou also make the player will never be in a game over state, in contrast to Subway Surfers that allows players to

Gubernur Kepala Daerah dapat memerintahkan menutup atau melarang penggunaan suatu bangunan yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Daerah ini,

• Pada komponen struktur tekan dengan lilitan spiral, maka panjang lewatan yang berada dalam lingkupan tulangan spiral diijinkan untuk dikalikan dengan 0,75, namun tidak boleh