• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENYULUHAN PARTISIPATIF dan Model Pemberdaya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENYULUHAN PARTISIPATIF dan Model Pemberdaya"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS UJIAN AKHIR SEMESTER KOMUNIKASI PENYULUHAN PUBLIK

OLEH:

AZWANIL FAKHRI

NIM. 157045030

MAGISTER ILMU KOMUNIKASI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

i

DAFTAR ISI ... i

PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1

Rumusan Masalah ... 3

PEMBAHASAN Uraian Teoritis ... 4

Kajian yang Relevan dan Analisis Studi Kasus ... 8

Analisis Hasil ... 16

SIMPULAN DAN SARAN ... 22

(3)

1

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Reformasi telah mengubah suasana otokrasi menjadi demokrasi, yang dalam

praktiknya menampakkan kebebasan berfikir, berbicara dan bertindak. Pembangunan

nasional yang telah berjalan lebih dari 30 tahun telah banyak mengubah wajah

pertanian Indonesia. Namun, sektor pertanian masih tetap menjadi tumpuan utama

perekonomian negara. Pergeseran arah kebijakan pembangunan pertanian di

Indonesia diikuti dengan perubahan paradigma kebijakan. Jika pada masa Orde Baru

yang dapat dilihat secara konseptual pada setiap Rencana Pembangunan Lima Tahun

(Repelita), paradigma kebijakan pembangunan pertanian bertujuan meningkatkan

produksi untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri, memperluas lapangan

kerja dan produksi orientasi ekspor, maka di akhir tahun 90-an atau era reformasi

telah bergeser pada tujuan agribisnis yang lebih kompleks, yaitu meningkatkan peran

serta (pertisipasi), efisiensi, dan produktivitas petani yang berkelanjutan dan

berwawasan lingkungan.

Berubahnya paradigma pembangunan pertanian juga berdampak kepada

perubahan paradigma kinerja penyuluhan pertanian, perikanan, dan kehutanan. Potret

penyuluhan sebelumnya sangat diwarnai oleh misi pembangunan pertanian yang

dicanangkan oleh pemerintah dengan sasaran utama usaha peningkatan produksi

melalui intensifikasi dengan fokusnya pada target produksi yang cenderung

dipaksakan dalam rangka mengamankan swasembada pangan sebagai agenda

nasional pada waktu itu. Konsekuensi logis misi tersebut menjadikan penyuluhan

pertanian lebih banyak bersifat “top-down dan farmer last”. Penyuluhan Pertanian

menjadi paket instruksi dari pemerintah kepada para petani melalui para petugas

khususnya penyuluh pertanian, oleh karena itu yang terjadi bukan pemberdayaan

tetapi menjadikan petani semakin tidak berdaya karena faktanya petani diposisikan

(4)

tani dan kesejahteraannya, bahkan lebih jauh telah mematikan dinamika internal

petani sebagai modal utama upaya pemberdayaan.

Hal ini diperparah dengan sikap dan perilaku sebagian besar petugas pertanian

dengan berbagai proyeknya di semua lini yang cenderung melakukan kegiatan yang

membuat para petani bersikap menunggu dan menciptakan ketergantungan. Dalam

kesehariannya para petani lebih banyak menunggu anjuran, arahan dan bahkan

instruksi yang dilakukan para petugas khususnya para penyuluh pertanian yang

sehari-hari berada dilapangan.

Penyuluhan pertanian diakui telah banyak memberikan sumbangan pada

keberhasilan pembangunan pertanian di Indonesia. Penyuluhan telah berhasil

menyampaikan berbagai inovasi pertanian kepada petani dengan segala metodenya

sehingga para petani meningkat pengetahuan dan ketrampilannya serta dapat

mengubah sikap petani menjadi mau dan mampu menerapkan inovasi baru.

Perjalanan pengembangan penyuluhan pertanian di Indonesia yang dimulai sejak

akhir abad 19 ternyata mengalami pasang surut dan liku-liku yang dinamika sesuai

dengan perkembangan zaman.

Revitalisasi dan reformasi penyuluhan pertanian di era agribisnis merupakan

suatu tuntutan zaman yang tidak dapat dihindarkan. Oleh karena itu maka

pembenahan dan pemberdayaan kelembagaan penyuluhan serta peningkatan

kemampuan penyuluh harus menjadi bahan kajian bagi para pakar yang akan

dijadikan kebijakan bagi pemerintah. Secara umum pertanian berkelanjutan bertujuan

untuk meningkatkan kualitas kehidupan melalui pemberdayaan petani sesuai prinsip

dasar yang digaungkan sejak dahulu, yakni bertani lebih baik (better farming)

sehingga usahatani menjadi lebih baik (better bussiness) dan muaranya petani

menikmati kehidupan yang lebih baik (better living). Untuk mencapai tujuan tersebut,

dilakukan dengan meningkatkan pengembangan sumberdaya manusia,

memberdayakan petani, menjaga stabilitas lingkungan dan memfokuskan tujuan

(5)

2. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam makalah ini adalah bagaimana wajah penyuluhan

masa depan yang bekerja dengan cara pandang baru, yakni petani sebagai mitra. Cara

pandang ini mengubah pondasi kerja penyuluh dari sebelumnya lebih banyak

berperan sebagai guru yang lebih banyak memberikan instruksi, maka sekarang

menjadi fasilitator pembelajar yang berprinsip memberdayakan petani sesuai dengan

(6)

PEMBAHASAN

1. Uraian Teoritis

Penyuluhan Pertanian adalah suatu usaha atau upaya untuk mengubah

perilaku petani dan keluarganya, agar mereka mengetahui dan mempunyai kemauan

serta mampu memecahkan masalahnya sendiri dalam usaha atau kegiatan-kegiatan

meningkatkan hasil usahanya dan tingkat kehidupannya. Menurut U. Samsudin S

(dalam Kartasapoetra, 1987) penyuluhan pertanian adalah suatu cara atau usaha

pendidikan yang bersifat non-formal untuk para petani dan keluarganya di perdesaan.

AT Mosher menambahkan penjelasan bahwa dalam penyuluhan terkandung arti

aktivitas pendidikan di luar bangku sekolah yang disesuaikan dengan waktu dan

keadaan petani sebagai sasaran penyuluhan itu sendiri (Kartasapoetra, 1987).

Margono (dalam Mardikanto, 2009) memaknai penyuluhan sebagai kegiatan

pemberdayaan masyarakat. Istilah ini telah lazim digunakan oleh banyak pihak sejak

Program Pengentasan Kemiskinan pada dasawarsa 1990-an. Terkait hal tersebut,

selanjutnya Mardikanto (2009) merangkum kegiatan penyuluhan dari berbagai

pemahaman, yaitu:

1) Penyebarluasan (informasi), penyuluhan sebagai terjemahan dari kata

“extension”, dapat diartikan sebagai proses penyebarluasan, dalam hal ini informasi tentang ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang dihasilkan oleh

perguruan tinggi ke dalam praktik atau kegiatan teknis.

2) Penerangan/penjelasan, penyuluhan berasal dari kata ”suluh” atau obor,dapat

diartikan sebagai kegiatan penerangan atau memberikan terang bagi yang

dalam kegelapan.

3) Pendidikan non-formal (luar sekolah),

4) Perubahan perilaku, penyuluhan adalaah proses aktif yang memerlukan

interaksi antara penyuluh dan yang disuluh agar terbangun “perubahan

(7)

5) Rekayasa sosial, melakukan segala upaya untuk menyiapkan sumberdaya

manusia agar mereka tahu, mau dan mampu melaksanakan peran sesuai

dengan tugas pokok dan fungsinya dalam sistem sosialnya masing-masing.

6) Pemasaran inovasi (teknis dan sosial)

7) Perubahan sosial, penyuluhan dalam jangka panjang diharapan mampu

menciptakan pilihan-pilihan baru untuk memperbaiki kehidupan

masyarakatnya.

8) Pemberdayaan masyarakat, penyuluhan bertujuan untuk mewujudkan

masyarakat madani dan mandiri dalam pengertian dapat mengambil keputusan

(yang terbaik) bagi kesejahteraannya sendiri.

9) Penguatan kapasitas, upaya untuk melebih mampukan individu agar lebih

mampu berperan di dalam kelompok dan masyarakat global.

Penyuluhan secara sistematis adalah suatu proses yang; 1) Membantu petani

menganalisis situasi yang sedang dihadapi dan melakukan perkiraan ke depan; 2)

Membantu petani menyadarkan terhadap kemungkinan timbulnya masalah dari

analisis tersebut; 3) Meningkatkan pengetahuan dan mengembangkan wawasan

terhadap suatu masalah, serta membantu menyusun kerangka berdasarkan

pengetahuan yang dimiliki petani; 4) Membantu petani memperoleh pengetahuan

yang khusus berkaitan dengan cara pemecahan masalah yang dihadapi serta akibat

yang ditimbulkannya sehingga mereka mempunyai berbagai alternatif tindakan; 5)

Membantu petani memutuskan pilihan tepat yang menurut pendapat mereka sudah

optimal; 6) Meningkatkan motivasi petani untuk dapat menerapkan pilihannya; dan 7)

Membantu petani untuk mengevaluasi dan meningkatkan keterampilan mereka dalam

membentuk pendapat dan mengambil keputusan (Van den Ban & Hawkins, 1999).

Penyuluhan pertanian sebagai sebagai suatu sistem pemberdayaan petani merupakan

suatu sistem pendidikan non-formal bagi keluarga petani yang bertujuan membantu

petani dalam meningkatkan keterampilan teknis, pengetahuan, mengembangkan

perubahan sikap yang lebih positif dan membangun kemandirian dalam mengelola

lahan pertaniannya. Penyuluhan pertanian sebagai perantara dalam proses alih

(8)

belajar, menyediakan informasi teknologi, informasi input dan harga input-output

serta informasi pasar (Badan SDM Pertanian, 2003).

Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan

Pertanian, Perikanan dan Kehutanan mengamanatkan bahwa penyelenggaraan

penyuluhan menjadi wewenang dan tanggung jawab Pemerintah dan pemerintah

daerah. Wewenang dan tanggung jawab pemerintah tersebut diwujudkan antara lain

dengan memantapkan sistem penyelenggaraan penyuluhan pertanian yang meliputi

aspek penataan kelembagaan, ketenagaan, penyelenggaraan, prasarana dan sarana,

serta pembiayaan penyuluhan.

Menurut Undang-undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan

Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan menyebutkan fungsi sistem penyuluhan

meliputi:

1) Memfasilitasi proses pembelajaran pelaku utama dan pelaku usaha

2) Mengupayakan kemudahan akses pelaku utama dan pelaku usaha ke sumber

informasi, teknologi, dan sumberdaya lainnya agar mereka dapat

mengembangkan usahanya

3) Meningkatkan kemampuan kepemimpinan, manajerial, dan kewirausahaan

pelaku utama dan pelaku usaha

4) Membantu pelaku utama dan pelaku usaha dalam menumbuhkembangkan

organisasinya menjadi organisasi ekonomi yang berdaya saing tinggi,

produktif, menerapkan tata kelola berusaha yang baik, dan berkelanjutan

5) Membantu menganalisis dan memecahkan masalah serta merespon peluang

dan tantangan yang dihadapi pelaku utama dan pelaku usaha dalam mengelola

usaha

6) Menumbuhkan kesadaran pelaku utama dan pelaku usaha terhadap kelestarian

fungsi lingkungan

7) Melembagakan nilai -nilai budaya pembangunan pertanian, perikanan, dan

kehutanan yang maju dan modern bagi pelaku utama secara berkelanjutan.

Lebih lanjut Undang-undang tersebut menyebutkan bahwa untuk lebih

(9)

sumberdaya manusia yang berkualitas, andal, serta berkemampuan manajerial,

kewirausahaan, dan organisasi bisnis sehingga pelaku pembangunan pertanian,

perikanan, dan kehutanan mampu membangun usaha dari hulu sampai dengan hilir

yang berdaya saing tinggi dan mampu berperan serta dalam melestarikan hutan dan

lingkungan hidup sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.

Pemberdayaan adalah upaya memberdayakan (mengembangkan klien dari

keadaan tidak atau kurang berdaya menjadi mempunyai daya) guna mencapai

kehidupan yang lebih baik. Jadi pemberdayaan masyarakat adalah upaya

mengembangkan mayarakat dari keadaan kurang atau tidak berdaya menjadi punya

daya dengan tujuan agar masyarakat tersebut dapat mencapai/ memperoleh kehidupan

yang lebih baik. Payne (dalam Mardikanto & Soebiato, 2015) mengatakan sebagai

berikut: “to help clients gain power of decision and action over their own lives by

reducing the effect of sosialor personal blocks to exercising cacityand self-confidence

to use power and by transferring power from the environment to clients.”Artinya

bahwa tujuan pemberdayaan masyarakat adalah untuk membantu masyarakat

memperoleh daya untuk mengambil keputusan dan menentukan tindakan yang akan

mereka lakukan yang terkait dengan diri mereka sendiri, termasuk mengurangi efek

hambatan pribadi dan sosial dalam melakukan tindakan. Hal ini dapat dilakukan

melalui peningkatan kemampuan dan rasa percaya diri pada masyarakat untuk

menggunakan daya yang ia miliki, antara lain melalui transfer daya dari

lingkungannya.

Dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 Tentang Perlindungan dan

Pemberdayaan Petani bahwa pemberdayaan petani adalah segala upaya untuk

meningkatkan kemampuan Petani untuk melaksanakan Usaha Tani yang lebih baik

melalui pendidikan dan pelatihan, penyuluhan dan pendampingan, pengembangan

sistem dan sarana pemasaran hasil Pertanian, konsolidasi dan jaminan luasan lahan

pertanian, kemudahan akses ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi, serta

penguatan Kelembagaan Petani. Pemberdayaan masyarakat mengacu kepada kata

empowerment, yaitu sebagai upaya untuk mengaktualisasikan potensi yang sudah

(10)

berat pada pentingnya masyarakat lokal yang mandiri sebagai suatu sistem yang

mengorganisir diri mereka sendiri sehingga diharapkan dapat memberi peranan

kepada individu bukan sekedar objek, tetapi justru sebagai subjek pelaku

pembangunan yang ikut menentukan masa depan dan kehidupan masyarakat secara

umum.

Dalam hubungan ini, Tjokrowinoto (dalam Mardikanto & Soebiato, 2015),

menekankan deskripsi mengenai ciri-ciri pembangunan yang berpusat pada

pemberdayaan manusia:

Pertama; Prakarsa dan proses pengambilan keputusan untuk memenuhi

kebutuhan masyarakat tahap demi tahap harus diletakkan pada masyarakat itu

sendiri

Kedua; Fokus utamanya adalah meningkatkan kemampaun masyarakat untuk

mengelola dan memobilisasi sumberdaya-sumberdaya yang terdapat di

komunitas untuk memenuhi kebutuhan mereka

Ketiga; Pendekatan ini mentoleransi adanya variasi lokal dan karenanya ia

bersifat lentur (flexible) menyesuaikan dengan kondisi lokal

Keempat; Di dalam melaksanakan pembangunan, pendekatan ini menekankan

pada proses social learning yang di dalamnya terdapat interaksi kolaboratif

antara birokrasi dan komunitas, mulai dari proses perencanaan sampai

evaluasi proyek dengan mendasarkan diri saling belajar

 Kelima; Proses pembentukan jejaring (networking) antara birokrasi dan

lembaga komunitas atau swadaya masyarakat, satuan-satuan organisasi

tradisional yang mandiri, merupakan bagian yang integral dari pendekatan

ini,baik untuk meningkatkan kemampuan mereka mengidentifikasi dan

mengelola pelbagai sumber, maupun untuk menjaga keseimbangan antara

struktur vertikal dan hrizontal. Melalui proses networking inilah diharapkan

terjadi simbiose antara struktur-struktur pembangunan di tingkat lokal.

(11)

1. Judul : Persepsi Pelaku Usaha Perikanan terhadap

Nama Jurnal : Jurnal Penyuluhan perikanan dan Kelautan Volume (Edisi); hal : Vol. 7 No.1: hal. 16-25

Alamat URL/doi : -

Ringkasan Analisis

Tulisan ini tentang persepsi pelaku usaha perikanan terhadap kinerja penyuluh

perikanan yang dibutuhkan oleh pelaku usaha. Daerah penelitian tersebar di 13

Kabupaten/Kota yang ada di 11 Provinsi yang meliputi Kabupaten/Kota: Bintan,

Kota Bengkulu, Kota Palembang, Pendeglang, Sumedang, Tasikmalaya, Boyolali,

Gunung Kidul, Kulonprogo, Pacitan, Sambas, Bangli, dan Maros. Lokasi penelitian

tersebut merupakan wilayah yang memiliki potensi perikanan dengan pelaku usaha

sebagian besar usaha budidaya perikanan air tawar. Penelitian ini bertujuan untuk

mengetahui persepsi pelaku usaha perikanan terhadap kinerja penyuluh perikanan

yang dibutuhkan oleh pelaku usaha. Penelitian ini berbentuk survey deskriptif yaitu

penelitian untuk membuat pencandraan (deskripsi) mengenai situasi atau kejadian,

mengidentifikasi masalah atau untuk mendapatkan justifikasi keadaan dan

praktik-praktik yang sedang berlangsung.

Persepsi pada hakikatnya adalah merupakan proses penilaian seseorang

terhadap obyek tertentu. Di dalam proses persepsi individu dituntut untuk

memberikan penilaian terhadap suatu obyek yang dapat bersifat positif/negatif,

senang atau tidak senang dan sebagainya. Persepsi merupakan proses psikologis dan

hasil dari penginderaan serta proses terakhir dari kesadaran, sehingga membentuk

proses berfikir. Pada kenyataannya sebagian besar sikap, tingkah laku dan

(12)

Persepsi pelaku usaha terhadap kinerja penyuluh perikanan meliputi persepsi

terhadap keberadaan penyuluh perikanan di wilayah usahanya, persepsi sikap pelaku

usaha terhadap tingkat kebutuhan bantuan penyuluh perikanan dalam memajukan

usaha yang ditekuni pelaku usaha, persepsi pelaku usaha terhadap jenis bantuan yang

diharapkan dari penyuluh perikanan, persepsi pelaku usaha terhadap frekuensi

kehadiran penyuluh perikanan yang dibutuhkan di lokasi usaha, persepsi pelaku usaha

terhadap cara penyuluh memberikan penyuluhan, persepsi pelaku usaha terhadap

harapan dengan adanya kelompok usaha perikanan, persepsi cara pelaku usaha dalam

menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam usahanya.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut terdapat poin penting mengenai persepsi

pelaku usaha terhadap kinerja penyuluh perikanan yaitu, keberadaan penyuluh masih

sangat diharapkan oleh pelaku usaha, oleh karena itu penyuluh perikanan harus

mampu, siap merespon pelaku usaha dan penyuluh harus menguasai dan

memanfatkan teknologi informasi, komunikasi dan edukasi, sehingga keberadaanya

mempunyai arti bagi pelaku usaha. Meningkatkan materi penyuluhan perikanan yang

dibutuhkan pelaku usaha terutama yang tekait dengan peningkatan produksi bagi

kelangsungan usahanya. Metode penyuluhan perikanan yang diharapkan pelaku usaha

dari penyuluh perikanan adalah dengan memberi contoh usaha.

Kinerja penyuluh dapat diukur melalui persepsi dari pelaku usaha perikanan

air tawar. Persepsi merupakan proses penilaian terhadap objek tertentu yang dapat

berupa perasaan senang/ tidak senang, suka/ tidak suka yang pada akhirnya akan

mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang terhadap objek tertentu. Tulisan diatas

dapat diketahui kinerja penyuluh perikanan dengan melihat persepsi atau pandangan

pelaku usaha terhadap segala sesuatu yang dilakukan oleh penyuluh. Peran penyuluh

masih sangat dibutuhkan oleh pelaku usaha namun keterbatasan jumlah penyuluh,

materi, dan cara penyampaian yang kurang yang mengakibatkan proses penyuluhan

kurang dinilai baik. Tulisan tersebut mencoba mengetahui persepsi pelaku usaha

dengan melihat berapa sering penyuluh datang, bagaimana materi, cara penyampaian

(13)

selanjutnya guna kinerja penyuluh perikanan yang lebih baik lagi sehingga, sebaiknya

memberikan solusi-solusi yang terdapat kendala maupun masalah.

2. Judul : Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Penyuluh Pertanian dan Dampaknya pada Perilaku Petani Jagung di Provinsi Gorontalo (Factors Affecting the Performance of Agricultural Extension and its Impact on the

Nama Jurnal : Jurnal Ilmiah Agropolitan Volume (Edisi); hal : Vol. 3 No.1: hal. 293-303

Alamat URL/doi : http://repository.ung.ac.id/get/simlit_res/1/36/Fa ktor-Faktor-yang-Mempengaruhi-Kinerja- Penyuluh-Pertanian-dan-Dampaknya-pada-

Perilaku-Petani-Jagung-di-Provinsi-Gorontalo.pdf.

Ringkasan Analisis

Tulisan ini menceritakan tentang Kinerja penyuluh pertanian (performance)

merupakan respons atau perilaku individu terhadap keberhasilan kerja yang dicapai

oleh individu secara aktual dalam suatu organisasi sesuai tugas dan tanggungjawab

yang diberikan kepadanya yang dilaksanakan secara efektif dan efisien berdasarkan

periode waktu tertentu dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Penelitian ini

dilaksanakan di Provinsi Gorontalo yang mempunyai lima daerah kabupaten dan satu

kota. Pertimbangan lokasi penelitian, karena (1) Gorontalo adalah provinsi yang

memprogramkan agropolitan dengan tanaman utama adalah jagung, (2) jumlah

(14)

petani di Provinsi Gorontalo pada umumnya membudidayakan jagung sebagai

tanaman utama untuk meningkatkan ekonomi keluarga. Metode yang digunakan

adalah metode survey melalui wawancara dan pengisian kuesioner.

Penyelenggaraan penyuluhan pertanian diupayakan agar tidak menimbulkan “ketergantungan” petani kepada penyuluh, akan tetapi diarahkan untuk menciptakan kemandirian petani dengan memposisikannya sebagai wiraswasta agribisnis, agar

petani dapat berusahatani dengan baik dan hidup lebih layak berdasarkan sumberdaya

lokal yang ada disekitar petani. Kinerja penyuluh dalam hal ini sangat dibutuhkan

kinerja penyuluh pertanian yang terintegrasi pada pelaksanaan tugas pokok dan

fungsi penyuluh pertanian dalam merencanakan, mengorganisasikan, mengawasi,

mengimplementasikan dan mengevaluasi program penyuluhan pertanian.

Faktor-faktor internal yang dapat meningkatkan kinerja penyuluh pertanian

adalah: umur, masa kerja, jumlah petani binaan, kemampuan merencanakan program

penyuluhan, kemampuan kepemimpinan penyuluh, pengembangan potensi diri,

kebutuhan untuk berafiliasi, kemandirian intelektual dan kemandirian sosial. Semua

faktor internal tersebut berpengaruh nyata pada peningkatan kinerja penyuluh

pertanian. Peubah karakteristik, kompetensi, motivasi dan kemandirian penyuluh

berpengaruh tidak langsung pada perubahan perilaku petani jagung, sedangkan

kinerja penyuluh pertanian melalui dimensi kualitas mengapresiasi keragaman

budaya dan kualitas pengelolaan informasi berpengaruh langsung pada perilaku

petani.

Derajat hubungan antar peubah kompetensi dan kemandirian penyuluh

tergolong kuat, sedangkan derajat hubungan antar peubah kompetensi dan motivasi

penyuluh, serta derajat hubungan antar peubah motivasi dan kemandirian penyuluh

tergolong lemah.

3. Judul : Faktor-Faktor Penentu Peningkatan Kinerja Penyuluh Pertanian dalam Memberdayakan Petani (Kasus di Kabupaten Kampar Provinsi Riau)

(15)

Jenis Pustaka : Jurnal

Alamat URL/doi : http://journal.ipb.ac.id/index.php/jupe/article/do wnload/2174/1203

Ringkasan Analisis

Tulisan ini berisi tentang faktor-faktor penentu manakah yang efektif

berpengaruh terhadap tingkat kinerja penyuluh pertanian. Penelitian ini adalah

penelitian penjelasan (explanatory research), yaitu menjelaskan hubungan kausalitas

antara peubah-peubah melalui pengujian hipotesis. Penelitian dilakukan di Kabupaten

Kampar Provinsi Riau. Kabupaten Kampar merupakan salah satu Kabupaten

memiliki potensi pengembangan agribisnis di Provinsi Riau.

Pemerintah telah melakukan berbagai upaya, di antaranya telah

dicanangkannya Revitalisasi Penyuluhan Pertanian (RPP), yaitu suatu upaya

mendudukkan, memerankan dan memfungsikan serta menata kembali penyuluhan

pertanian agar terwujud kesatuan pengertian, kesatuan korp dan kesatuan arah

kebijakan. Salah satu tonggak untuk pelaksanaan revitalisasi ini adalah telah

disahkannya Undang-undang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan

(SP3K) No. 16 Tahun 2006 pada tanggal 18 Oktober 2006. UU ini merupakan suatu

titik awal dalam pemberdayaan para petani melalui peningkatan sumberdaya manusia

dan kelembagaan para penyuluh pertanian PNS, swasta dan penyuluh pertanian

swadaya. Permasalahan pokok yang dihadapi selama ini adalah rendahnya kualitas

dan kuantitas tenaga penyuluh (termasuk di Kabupaten Kampar Provinsi Riau).

Kinerja penyuluh pertanian dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal

(16)

kepuasan petani yang menerima jasa penyuluhan pertanian. Faktor internal yang

diduga berpengaruh terhadap kinerja penyuluh adalah kompetensi penyuluh

pertanian. Faktor eksternal yang diduga berpengaruh terhadap kinerja penyuluh

adalah karakteristik sistem sosial (yaitu aspek-aspek yang mendukungan/menghambat

perubahan dalam sistem sosial sebagai akibat proses intervensi pembangunan

pertanian).

Kinerja penyuluh pertanian dalam memberdayakan petani adalah perilaku

aktual yang diperagakan penyuluh sebagai kewajibannya mengemban tugas-tugas

pemberdayaan yang diamanahkan kepadanya, yang diukur dari tingkat kepuasan

petani. Berdasarkan temuan penelitian, tingkat kinerja penyuluh pertanian dalam memberdayakan petani terdiri dari 6 aspek termasuk kategori “cukup.” Artinya, kinerja pemberdayaan yang meliputi: pengembangan perilaku inovatif petani (kinerja

penyuluh dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sikap dan adopsi inovasi);

penguatan partisipasi petani (kinerja penyuluh membantu/memfasilitasi petani

mengidentifikasi kebutuhannya, melibatkan petani dalam proses perencanaan,

pelaksanaan, dan evaluasi program penyuluhan); penguatan kelembagaan petani

(kinerja penyuluh memanfaatkan potensi kelembagaan petani yang berakar kuat dari

dalam masyarakat, memotivasi/memfasilitasi kerjasama dan dinamika kelompok.);

penguatan akses terhadap berbagai sumberdaya (kinerja penyuluh

memotivasi/memfasilitasi petani menemukan/memanfaatkan inovasi, kemudahan

mendapatkan/menyediakan sarana produksi yang berkualitas, modal usaha, teknologi

pertanian spesifik lokasi, pemasaran yang menguntungkan dan akses teknologi

pengolahan hasil pertanian); penguatan kemampuan petani berjaringan (kinerja

penyuluh memotivasi dan memfasilitasi petani menjalin kerjasama dalam dan antar

kelompok tani, serta dengan kelembagaan agribisnis lain) dan kaderisasi (kinerja

penyuluh menumbuhkan kader-kader petani untuk pendampingan dan mendampingi kader jika menemui kesulitan) termasuk kategori “cukup” (sudah ke arah baik, namun belum relatif baik).

Faktor-kaktor karakteristik petani (umur, pendidikan formal, pengalaman

(17)

kinerja penyuluh. Artinya, karakteristik petani belum berperan terhadap kinerja

penyuluh atau sebaliknya kinerja penyuluh belum memperhatikan (berdasarkan)

karakteristik petani, kecuali pendidikan non formal. Pelaksanaan pemberdayaan

seharusnya penyuluh juga memperhatikan karakteristik petani seperti usia, tingkat

pendidikan formal dan pengalaman petani. Faktor-faktor karakteristik sistem sosial

yang lain yaitu: sistem kelembagaan petani; akses petani terhadap tenaga ahli,

kelembagaan penelitian dan penyuluhan dan kepemimpinan lokal belum berpengaruh

secara nyata terhadap kinerja pemberdayaan oleh penyuluh pertanian. Faktor-faktor

ini seharusnya juga ditingkatkan untuk lebih meningkatkan tingkat kinerja penyuluh

pertanian dalam memberdayakan petani. Kompetensi manajerial penyuluh tidak

berpengaruh nyata terhadap kinerja penyuluh pertanian dalam memberdayakan

petani. Artinya, kompetensi kewirausahaan yang dimiliki oleh penyuluh pertanian

belum mendukung kinerja penyuluh pertanian. Hal ini disebabkan oleh kompetensi

wirausaha penyuluh pertanian belum relatif tinggi (kategori "cukup"). Manajemen

yang dilakukan penyuluh adalah manajemen terpusat atau sudah terpola dari pusat. Di

lain pihak, petani memiliki permasalahan dan kebutuhan yang berbeda-beda, yang

seharusnya perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kegiatan penyuluhan pertanian

berdasarkan analisis kebutuhan petani.

Petani berada pada usia produktif dan pengalaman beragribisnis cukup lama,

namun belum ditunjang oleh pendidikan formal dan non formal yang tinggi serta

belum didukung oleh luas penguasaan lahan pertanian yang memadai. Tingkat kinerja

penyuluh pertanian dalam memberdayakan petani relatif belum baik (kategori “cukup”), hal ini disebabkan oleh faktor-faktor yang berpengaruh nyata terhadap kinerja penyuluh pertanian yaitu: karakteristik sistem sosial (nilai-nilai sosial budaya;

fasilitasi agribisnis oleh lembaga pemerintah dan akses petani terhadap kelembagaan

agribisnis) dan kompetensi penyuluh (kompetensi komunikasi; kompetensi penyuluh

(18)

3. Analisis Hasil

Menurut Alma S. Tan (dalam Valera, et. al., 1987), bahwa konsep atau

pemikiran mengenai fungsi penyampaian penyuluhan dapat dilihat dari dinamika,

proses dalam kerangka sistem (framework system). Lebih lanjut menjelaskan bahwa

di dalam sistem penyuluhan terdapat tiga komponen pokok/utama yaitu: sistem

penelitian, sistem perubahan dan sistem klien.

Gambar 1. Komponen utama dalam sistem Perubahan (Alma S.Tan.1987)

Sistem Penelitian; adalah suatu kegiatan untuk menghasilkan ilmu dan

teknologi yang dapat dimanfaatkan oleh pengguna (petani). Teknologi yang

dihasilkan berupa teknologi tepat guna sesuai dengan kondisi masyarakat lokal.

(pengetahuan, ekonomi, pendidikan, kebiasaan, tujuan dan nilai-nilai budaya).

Sedangkan Sistem Perubahan; adalah suatu sistem di mana kegiatan-kegiatan lebih

diarahkan pada suatu perubahan pada sistem sosial terutama dalam transfer teknologi.

Faktor dan sistem ini adalah doktrin, kerja keras, kelembagaan, pengorganisasian

program, struktur organisasi, pendekatan atau metode; materi, agen perubah dan

program pemberdayaan. Pendekatan penyuluhan yang diorganisasikan merupakan

perpaduan dan kombinasi strategis yang dari metode-metode di dalam penyuluhan

(19)

lainnya tidak berdiri sendiri (Vicentre A. Martinez dan Ramiro F. Plopino dalam

Valera, et al, 1987).

Sementara itu,Sistem klien; adalah kelompok, komunitas dan masyarakat desa

yang merupakan klien dari sistem penyampaian penyuluhan. Di dalam konteks

penyuluhan, klien merupakan sasaran sekaligus mitra utama dalam pembangunan

pertanian. Klien merupakan penerima informasi inovasi teknologi sesuai

kebutuhannya yang diperoleh dengan memanfaatkan saluran komunikasi yang

ada.sehingga esensi dari sistem penyampaian penyuluhan yaitu mekanisme transfer

teknologi. Sistem penyebaran dari inovasi teknologi akan sukses jika ada koordinasi

dan kerjasama dari semua komponen sistem.

Sistem penyuluhan pertanian di Indonesia didefinisikan sebagai sistem

pendidikan non formal untuk petani (termasuk nelayan) dan keluarganya, bertujuan

mencapai kemampuan dan pengetahuan lebih baik, mengembangkan sikap positif

terhadap perubahan dan menambah kepercayaan diri di dalam usahataninya dan

kehidupannya. Ide dasarnya adalah untuk membantu petani untuk berdiri sendiri,

sehingga mereka dapat memecahkan masalahnya dengan mengadopsi/menerapkan

teknologi yang lebih baik di dalam usahataninya.

Klien adalah kelompok sasaran pembangunan atau pembinaan yang berada

dalam suatu sistem sosial yang heterogen. Sistem sosial dapat diartikan sebagai suatu

peran sosial yang berinteraksi, atau kelompok sosial yang memiliki nilai, norma dan

tujuan yang sama (Gama, 1996). Menurut Campbell dan Barker (dalam FAO, 1997),

para klien adalah suatu kelompok orang yang heterogen yang dapat dibedakan dari

pengusaan sumberdaya (lahan, ternak, sumber-sumber ekonomi), status sosial,

bahasa, jenis kelamin, umur, agama dan kesukuan. Roger dan Shoemaker dalam

Hanafi (1987), menguraikan bahwa klien merupakan kelompok orang atau

masyarakat yang berbeda dalam bahasa, status sosial ekonomi, kemampuan teknis,

nilai-nilai, norma-norma dan sikap-sikapnya.

Pelayanan dalam sistem penyuluhan pertanian harus dapat menggunakan

semua pilihan metode atau pendekatan untuk mencapai sejumlah besar klien; dalam

(20)

informasi ketersediaan input, pasar, harga input dan output. Untuk menyediakan

informasi yang spesifik yang dibutuhkan klien terutama yang berkaitan dengan

teknologi dan target yang ingin dicapai dapat dipekerjakan kelompok-kelompok

spesialis. Pada prinsipnya para klien mencakup semua orang yang terlibat dalam

usaha tani. Permasalahannya bahwa untuk memberikan pelayanan komersial dan

organisasi pendukung di tingkat desa akan mengalami kekurangan tenaga penyuluh

yang bisa diharapkan untuk menyediakan informasi dan pelayanan jasa konsultasi

secara produktif.

Untuk mengatasi hal tersebut maka pelayanan dengan sistem klien diperlukan

pendidikan dan latihan kepada petani-petani berhasil agar dapat membantu

melakukan pelayanan jasa penyuluhan pertanian kepada kliennya. Nagel (dalam

FAO, 1997), mengatakan kementerian basis penyuluhan tidak dapat mencapai

mayoritas dan potensial klien untuk ekonomi, sosio-psikologi dan alasan-alasan

teknis. Secara kuantitatif peningkatan staf penyuluh lapangan menunjukkan bahwa

penyuluh yang semakin dekat dengan petani belum memproduksi client-to-agent

sebagai perbandingan untuk pengendalian. Selain itu keterbatasan biaya, sarana dan

prasarana penyuluhan secara infrastruktur pedesaan yang kurang memadai

merupakan beberapa kendala yang dihadapi penyuluh dalam pelaksanaan program

penyuluhan pertanian.

Pengembangan pertanian berkelanjutan dan berwawasan lingkungan terutama

yang berkaitan dengan penyuluhan kepada para klien tidak lagi membedakan

berdasarkan kategori kelompok petani tertentu yang menjadi sasaran, akan tetapi

harus menjangkau semua lapisan petani; mulai dari petani kecil, buruh tani/petani

yang tidak memiliki lahan, wanita tani dan kaum muda tani (Campbell dan Baker

dalam FAO, 1997). Menurut Swanson, Roling dan Jiggins (dalam FAO, 1997),

menjelaskan bahwa ada empat faktor utama yang perlu diperhatikan dalam mencari

atau pemberian suatu kerangka penyuluhan untuk pengembangan teknologi yang

sesuai dengan kebutuhan kelompok target dan para klien. Faktor-faktor tersebut

adalah; 1) Zona-agroekologi, 2) Akses terhadap sumberdaya, 3) Jenis kelamin

(21)

Sistem penyuluhan yang dikembangkan oleh FAO dalam bukunya “Improving

Agricultural Extension” juga menekankan bahwa penyuluhan haruslah berkelanjutan, mencakup kelayakan teknis, kelayakan ekonomi, penerimaan sosial, dan keamanan

lingkungan. FAO mengenalkan SARD (Sutainable Agricultural and Rural

Development) yaitu bagaimana melihat penyuluhan dalam negara sebagai instrumen

kebijakan untuk meningkatkan produksi pertanian, ketahanan pangan, dan

mengurangi kemiskinan di pedesaan (Swanson et al, 1997). Penyuluhan harus

mampu mengekplorasi kegiatan penyuluhan sebagai sebuah organisasi pembelajaran

partisipatif (participatory learning organization) dan mampu melahirkan pemimpin

dari masyarakat bersangkutan (Earnest et al., 1995). Pendekatan penyuluhan telah berubah dari model sosok “guru” ke “pembelajar” dan dari kelembagaan ke kebutuhan komunitas (White & Burnham, 1995).

Sejalan dengan ini, Patterson (1998) menambahkan bahwa penyuluhan baru

harus memperhatikan sistem (managing systems), bukan sekedar orang per orang

(people), dan membantu tercapainya visi komunitas. Dibutuhkan pula perubahan

struktur kelembagaan, yaitu lingkungan yang mampu mendorong kerjasama dan

koordinasi, melalui pengembangan struktur kelembagaan. Agen-agen penyuluhan

harus aktif membangun relasi yang formal antara lembaga penelitian dan konsultasi

dengan sektor swasta.

Penyuluh pemerintah memiliki tugas khusus, yakni untuk meningkatkan

efisiensi sistem secara keseluruhan melalui penguatan sinergi antara tiga segmen

yaitu penelitian, penyuluhan dan petani. Penguatan tiga segmen ini idealnya diikuti

dengan pemanfaatan teknologi informasi dan multimedia. Perkembangan teknologi

informasi dan multimedia begitu cepat sehingga menuntut peningkatan kualitas

sumberdaya tenaga penyuluh mesti mengikuti perubahan dan perkembangan zaman.

Penyuluh pertanian dituntut untuk memahami teknologi informasi dan

komunikasi selain dan ilmu-ilmu mengenai pertanian. Oleh sebab itu para penyuluh

juga harus mampu mengaplikasikan teknologi informasi sebelum mereka melakukan

kegiatan penyuluhan. Penggunaan teknologi sebagai media informasi bagi petani,

(22)

motivasi serta dapat dilakukan langsung oleh petani itu sendiri, sehingga

menimbulkan kedisiplinan terhadap diri petani itu sendiri.

Seiring dengan itu, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi serta

pertimbangan efektivitas dan efisiensi penyebarluasan informasi, salah satu solusi

yang ditawarkan dalam rangka mengatasi persoalan transfer teknologi dan

pengetahuan pertanian adalah pemanfaatan information and communication

technologies (lCTs) untuk penyuluhan pertanian atau dikenal dengan istilah “cyber

extension” yang menggunaan jaringan internet, komputer dan digital interactive

multimedia untuk memfasilitasi diseminasi teknologi pertanian. Model ini dipandang

sangat strategis karena mampu meningkatkan akses informasi bagi petani, penyuluh,

peneliti maupun masyarakat pertanian lainnya. Di sisi lain, penyuluhan pertanian ke

depan sangat mungkin merupakan jasa yang bersifat komersial, di mana penyuluh

telah dianggap sebagai hal yang esensial sehingga petani berani membayar tinggi

terhadap pelayanan yang mereka terima.

Dengan demikian, ciri penyuluhan modern adalah: 1) Penanggung jawab

penyuluhan tidak semata-mata pemerintah nasional, namun dapat dijalankan oleh

beragam pihak dan pada berbagai level; 2) Organisasi penyuluhan berbentuk “learning organization”, di mana pelaksana penyuluhan tidak lagi terstruktur secara ketat, namun ada kesempatan terus menerus untuk melakukan penyesuaian misi,

pelayanan, produk, kultur, dan prosedur organisasi; 3) Fungsi penyuluhan lebih luas

dari sekedar mentranfer teknologi, namun juga mencakup upaya untuk memobilisasi,

mengorganisasikan, dan sekaligus mendidik petani; 4) Penyuluhan sebagai sistem

pengetahuan yang komprehensif, tidak terpisah antara penemuan teknologi dengan

transfernya; 5) Model transfer teknologi lebih realistik, siklis, dan dinamis (antara

petani, peneliti, penyuluh dan guru); 6) Desain penyuluhan memungkinkan untuk

mengembangkan learning model dengan melibatkan para stakeholders utama; 7)

Pendekatan penyuluhan lebih pada pemecahan masalah, melibatkan teknologi

informasi eksperimental, mengaitkan penelitian, manajer penyuluhan, dan organisasi

(23)

penyuluh swadaya (dari petani) dan penyuluh swasta; dan 9) Posisi petani tidak hanya

sebagai objek penyuluhan, namun sebagai objek sekaligus subjek penyuluhan.

Pendekatan-pendekatan tersebut di atas menuntut para penyuluh untuk

meningkatkan pengetahuan, pengalaman dan kompetensi mereka agar mampu

memahami kondisi petani (potensi dan permasalahan) dan memperluas sasaran

penyuluhan tidak hanya bagi lembaga produksi (kelompoktani) namun semua

lembaga yang bergerak dalam kegiatan agribisnis di pedesaan sebagai satu kesatuan

(24)

SIMPULAN DAN SARAN

Sebagai suatu simpulan dari makalah ini, maka dapat disebutkan bahwa ciri

penyuluhan modern adalah: 1) Penanggung jawab penyuluhan tidak semata-mata

pemerintah nasional, namun dapat dijalankan oleh beragam pihak dan pada berbagai

level; 2) Organisasi penyuluhan berbentuk “learning organization”, di mana

pelaksana penyuluhan tidak lagi terstruktur secara ketat, namun ada kesempatan terus

menerus untuk melakukan penyesuaian misi, pelayanan, produk, kultur, dan prosedur

organisasi; 3) Fungsi penyuluhan lebih luas dari sekedar mentranfer teknologi, namun

juga mencakup upaya untuk memobilisasi, mengorganisasikan, dan sekaligus

mendidik petani; 4) Penyuluhan sebagai sistem pengetahuan yang komprehensif,

tidak terpisah antara penemuan teknologi dengan transfernya; 5) Model transfer

teknologi lebih realistik, siklis, dan dinamis (antara petani, peneliti, penyuluh dan

guru); 6) Desain penyuluhan memungkinkan untuk mengembangkan learning model

dengan melibatkan para stakeholders utama; 7) Pendekatan penyuluhan lebih pada

pemecahan masalah, melibatkan teknologi informasi eksperimental, mengaitkan

penelitian, manajer penyuluhan, dan organisasi petani; 8) Jenis penyuluh tidak

terbatas hanya pegawai pemerintah, namun juga penyuluh swadaya (dari petani) dan

penyuluh swasta; dan 9) Posisi petani tidak hanya sebagai objek penyuluhan, namun

sebagai objek sekaligus subjek penyuluhan.

Seiring dengan itu, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi serta

pertimbangan efektivitas dan efisiensi penyebarluasan informasi, salah satu solusi

yang ditawarkan dalam rangka mengatasi persoalan transfer teknologi dan

pengetahuan pertanian adalah pemanfaatan information and communication

technologies (lCTs) untuk penyuluhan pertanian atau dikenal dengan istilah “cyber

extension” yang menggunaan jaringan internet, komputer dan digital interactive

(25)

sangat strategis karena mampu meningkatkan akses informasi bagi petani, penyuluh,

peneliti maupun masyarakat pertanian lainnya.

Pendekatan-pendekatan tersebut di atas, menjadi suatu saran yang menuntut

para penyuluh untuk meningkatkan pengetahuan, pengalaman dan kompetensi

mereka agar mampu memahami kondisi petani (potensi dan permasalahan) dan

memperluas sasaran penyuluhan tidak hanya bagi lembaga produksi (kelompoktani)

namun semua lembaga yang bergerak dalam kegiatan agribisnis di pedesaan sebagai

(26)

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian. (2003). Pengembangan Penyuluhan Pertanian Nasional. Jakarta: Kementerian Pertanian

Food and Agriculture Organization. (1997). Improving Agricultural Extension; A Reference Manual. Roma; Food and Agriculture Organization of the United Nations.

Gama, Judistira K. (1996). Ilmu-ilmu sosial; Dasar-Konsep-Proposisi. Modul Mata Ajar Program Pascasarjana. Bandung: Universitas Padjadjaran.

Hanafi, Abdillah. (1987). Memasyarakatkan Ide-ide baru; Disarikan dari Karya Everet Roger dan F. Floyd Shoemaker “Communication of Innovations”. Surabaya: Penerbit Usaha Nasional.

Kartasapoetra, A.G.(1987). Teknologi Penyuluhan Pertanian. Jakarta: Bina Aksara

Mardikanto, Totok. (2009). Sistem Penyuluhan Pertanian. Surakarta: UNS Press

Mardikanto, Totok & Poerwoko Soebiato. (2015). Pemberdayaan Masyarakat dalam Persepektif Kebijakan Publik. Bandung: Penerbit Alfabeta

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2006 Tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2013 Tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani

Valera, Jaime, B., Vicente A, Marinez, dan Ramino F. Plopino. (1987). An Introduction Extension Delivery Systems. Manila: Island Publishing House, Inc.

Gambar

Gambar 1. Komponen utama dalam sistem Perubahan (Alma S.Tan.1987)

Referensi

Dokumen terkait

Terdapat pengaruh yang signifikan antara pengetahuan perawat terhadap Kinerja pelaksanaan Asuhan Keperawatan di RSUD Kabupaten Bekasi Tahun 2015, dimana dari hasil

Dalam hal terjadi kenaikan MOPS yang menyebabkan harga patokan di atas harga jual eceran, untuk melindungi kepentingan publik ditetapkan batas atas harga jual yaitu tingkat harga

Hak Asasi Manusia yang tidak dapat dikurangi (non derogable rights) dalam keadaan apapun dan oleh siapapun meliputi; hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kebebasan pribadi,

Zato bi lahko rekli, da internet služi kot nekakšen pospeševalec pri razmahu terorizma in predvsem teroristov samotarjev, saj posamezniki v internetnem okolju iščejo podporo s

Pengaruh Dukungan Informasional Orang Tua dan Fasilitas Belajar terhadap Motivasi Belajar Mata Pelajaran Ekonomi pada Siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 1

EasyVR Commander adalah software yang digunakan untuk mengkonfigurasi modul EasyVR yang terhubung ke dengan menggunakan mikrokontroler yang menyediakan

Desain file merupakan perancangan basis data yang akan menampung data entri sehingga dapat dibaca dari program yang telah dirancang, adapun desain file kamus Bahasa Jepang

Karena hasil ES merupakan nilai delta, maka set point pada kedua kontroler tersebut merupakan nilai set point laju aliran reflux dan steam reboiler awal dan ditambahkan