MAKALAH LIBRARY RESEARCH HUKUM DAN HAM Arah Penyelesaian HAM Berat di Indonesia
Disusun oleh :
Siti Khoerunnisa 8111416016
Amaliahana Rizki Prihandianti 8111416064
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG SEMARANG
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang maha pengasih dan maha penyayang, kami panjatkan puji syukur atas kehadirat rahmat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas paper yang bertema “ Arah Penyelesaian HAM Berat dalam Kasus Terorisme” dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada Bapak Ridwan Arifn selaku Dosen mata kuliah Hukum dan HAM UNNES yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap paper ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai bagaimana bagaimana arah penyelesaian HAM berat yang terjadi di Indonesia trutama dalam membahas kasus terorisme yang semenjak dahulu tidak pernah selesai . kami juga menyadari sepenuhnya bahwa didalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan paper yang telah kami buat di masa yang akan dating, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga paper sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun bagi civitas akademik dan masyarkat luas. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari Anda demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.
Semarang, 10 Oktober 2017
Penyusun
DAFTAR ISI
Sampul……….I Kata Pengantar………...………II Daftar Isi………...………..III Daftar Kasus………...………..….IV Bab I Pendahuluan
Latar Belakang………...….………1 Rumusan Masalah………...…….3 Metode Penelitian………...………..4 Bab II Pembahasan
Sub Pembahsan 1………...………..5 Sub Pembahsan 2………...………...8 Sub Pembahsaan 3………...………..….11 Bab III
DAFTAR KASUS
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia menemukan 3 pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat yang terjadi di Rumah Tahanan Kelas II-B Sialang Bungkuk, Pekanbaru, Riau. Perlakuan tidak manusiawi yang diterima para tahanan dan narapidana tersebut akibat dampak dari jumlah penghuni rumah tahanan yang
melebihi kapasitas.
Rutan Sialang Bungkuk kata dia, tidak mampu memenuhi standar minimum kebutuhan para narapidana seperti kebutuhan air, ventilasi udara, dan tempat tidur. Kebutuhan air sebagai kebutuhan dasar tidak terpunuhi lantaran hanya memiliki dua unit pompa air yang sewaktu-waktu akan rusak bila digunakan
ratusan orang.
Rutan Sialang Bungkuk sewajarnya dapat menampung 561 orang tahanan, namun pada faktanya rumah tahanan itu dipaksakan untuk 1.870 orang.
Selain itu, sikap arogansi yang berujung pada penganiayaan dan kekerasan terhadap narapidana menjadi temuan Komnas HAM. Belum lagi adanya pemerasan dan pungutan liar dilakukan petugas terhadap keluarga napi yang hendak membesuk. Berbagai modus pungutan terjadi di rutan tersebut, seperti pindah kamar yang dikenakan tarif hingga jutaan rupiah, tarif menelepon dan tarif berkunjung untuk keluarga.
Menurut Nurcholis, persoalan Rutan Sialang Bungkuk tidak dapat diselesaikan oleh daerah melainkan butuh perhatian pemerintah melalui Kementerian terkait maupun Presiden RI. Komnas HAM mengaku akan mengirimkan rekomendasi kepada Presiden Joko Widodo untuk segera mengambil tindakan terhadap over kapasitas di rutan.Adapun rumusan rekomendasi yang bakal disampaikan Komnas HAM yakni memberikan grasi untuk tahanan tindak pidanan ringan (tipiring) dan tahanan narkoba yang masuk dalam kategori pemakai mengingat kasus narkoba terbesar di Riau.
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hak asasi manusia pada dasarnya ada sejak manusia dilahirkan, karena hak tersebut melekat sejak keberadaan manusia itu sendiri. Akan tetapi, persoalan hak asasi manusia baru mendapat perhatian ketika mengimplementasiannya dalam kehidupan bersama manusia. HAM mulai menjadi perhatian manakala ada hubungan dan keterkaitan antara individu dan masyarakat1.
Secara flsafati bisa dijelaskan bahwa HAM adalah hak yang melekat atau inherent pada diri manusia yang berasal dari Tuhan sejak manusia itu dilahirkan. Manusia mempunyai derajat luhur dan dilengkapi oleh Tuhan budi dan nurani. Kewajiban menghormati dan memajukan serta menegakkan HAM merupakan kewajiban yang mendasar bagi setiap pelaku dalam hubungan internasional, baik dalam skala nasional maupun internasional. Hak-hak dan kebebasan fundamental manusia itu berakar pada idea Sang Pencipta, sedangkan HAM secara obyektif adalah kewenang-kewenangan pokok yang melekat pada manusia sebagai manusia, dan yang harus diakui dan dihormati oleh Negara.2
Pemikiran pertama tentang keselarasan hidup manusia dalam masyarakat dikemukakan oleh Aristoteles, pemikir Yunani pada abad IV SM, yang menyatakan bahwa untuk mencapai tujuan hidup manusia membutuhkan manusia lain, sehingga keberadaan masyarakat mutlak agar individu manusia dapat memilki arti dan berkembang3. Pemikiran ini mendapat tempat pada waktu itu dan
menjadi dasar munculnya institusi Negara.
HAM di deklarasikan pada tahun 1948 disahkan oleh Majelis Umum PBB. Ide tentang hak asasi manusia yang berlaku saat ini berakar sejak era Perang Dunia
1 Mahrus Ali dkk, Penyelesaian Pelanggaran HAM Berat in Court System and Out Court System (Depok: Gramata Publishing, 2011), 1.
II. Pembunuhan dan kerusakan dahsyat yang ditimbulkan Perang Dunia II menggugah suatu kebulatan tekad untuk membangun sebuah organisasi internasional yang sanggup meredakan krisis internasional serta menyediakan suatu forum utntuk diskusi dan mediasi. Sejumlah Negara juga melangkah jauh dalam mencapai mencapai standar internasional HAM yaitu dengan membentuk Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, dan kemudian menerapkan Action Plan .
Namun Persoalan hak asasi manusia tidak berhenti pada penerimaan universalitas serta upaya-upaya pencapai standar internasional HAM. Untuk beberapa kali kejadian pelanggaran HAM di Indonesia menunjukan perlunya pemahaman HAM tidak sebatas karena hak itu dipunyai oleh semua manusia, namun juga pelayanan terhadap hak itu perlu dilakukan oleh setiap manusia.4
Nilai-nilai HAM seharusnya diterapkan secara menyeluruh di segala lapisan masyarakat sehingga segala bentuk diskriminasi rasial, seksual dan pelanggaran ham berat lainnya benar-benar mendapat perhatian yang memadai.
Pengaturan tentang hak asasi manusia dan penegakannya di Indonesia dibagi dalam 4 masa, yaitu:
a. Masa Kemerdekaan
Indonesia merdeka tiga tahun sebelum terjadinya UDHR, tetapi dalam konstitusinya, Indonesia dengan jelas dan tegas telah mengakui adanya hak asasi manusia yang fundamental. UUD RI telah mengakui hak rakyat maupun hak individu, yakni hak semua bangsa untuk merdeka, hak atas persamaan di hadapan hukum dan dalam pemerintahan, hak atas pekerjaan, hak atas penghidupan yang layak, kebebasan berserikat dan berkumpul, kebebasan mengeluarkan pendapat, kebebasan beragama dan hak atas pendidikan.
b. Masa Orde Lama
Pada masa Orde Lama, terjadi tiga kali penggantian konstitusi, yaitu konstitusi RIS, UUDS dan kembali pemberlakuan UUD 1945. Di masa RIS dan UUDS, hak asasi manusia mengalami kemajuan pesat, tetapi dalam masa pemberlakuan kembali UUD 1945 bangsa Indonesia megalami kemunduran perhatiannya terhadap HAM.
c. Masa Orde Baru
Pada masa Orde Baru Indonesia mengesahkan tidak lebih dari dua instrument internasional mengenai HAM, yakni Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan, 1979 dan Konvensi tentang Hak Anak, 1989. Dapat dikatakan bahwa penghormatan HAM pada masa ini sangat minim.
d. Masa Reformasi dan Transisi
Komitmen Negara RI untuk menghormati dan menegakan HAM meningkat menjadi komitmen kosntitusional dengan perubahan kedua UUD 1945 yang diterima oleh MPR pada tanggal 18 Agustus 2000 dan pembuatan peraturan perundang-undangan sebagai “perangkat lunak” berlanjut dengan diundangkannya UU Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM, yang juga memungkinkan dibentuknya pengadilan HAM ad hoc guna mengadili pelanggaran HAM yang berat yag terjadi sebelum diundangkannya undang-undang tersebut.
Macam-macam Pelanggaran HAM berat dibagi menjadi dua, yakni kejahatan Genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Kententuan mengenai genosida diatur dalama Pasal 8.5 Pasal ini pada intinya menyatakan bahwa suatu perbuatan
dikategorikan sebagai genosida, jika perbuatan tersebut yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa, ras, kelompok etnis, kelompok agama, dengan cara membunuh anggota kelompok, mengakibatkan penderitaan fsik atau mental yang berat terhadap anggota-anggota kelompok, menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang dapat mengakibatkan kemusnahan secara fsik baik seluruh atau sebagiannya dan memaksakan tindakan-tindakan yang bertujuan mencegah kelahiran di dalam kelompok.
Jenis kedua tindakan pidana yang dikategorikan sebagai pelangaran hak asasi manusia yang berat berdasarkan UU No. 26 Tahun 2000 adalah kejahatan terhadap kemanusiaan yang diatur dalam Pasal 9. Undang-undang ini menyatakan, bahwa kejahatan terhadap kemanusiaan adalah salah satu perbuatan yang dilakukan sebagai suatu bagian dari serngan yang meluas atau
5 Ibid., Hlm. 43.
sistematik yang diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung tehadap penduduk sipil.
Masalah HAM berat sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 seperti apa yang telah dijelaskan sebelumnya. Bahkan para pelaku pelanggaran HAM berat dapat diadili dalam pengadilan Ad Hoc, akan tetapi sampai saat ini arah penyelesaian HAM berat masih terlalu multi tafsir dan masih banyak pro kontra teradap upaya penyelesaian kasus HAM Berat. Dengan adanya hal semacam itu mengakibatkan Negara Indonesia belum bisa terbebas dari pelanggaran-pelanggaran terhadap HAM berat.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana penerapan HAM di Indoneisa?
2. Apa peran lembaga Komnas HAM terhadap pelanggaran HAM berat? 3. Bagaimana arah penyelesaian HAM berat di Indonesia?
C. Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan dalam makalah ini adalah: 1. Metode Pustaka
Yaitu metode yang dilakukan dengan mempelajari dan mengumpulkan data dari pustaka yang berhubungan dengan alat, baik berupa buku, jurnal hukum, jurnal ilmiah dan jurnal internasional.
2. Diskusi
BAB II PEMBAHASAN
Penerapan HAM di Indonesia
Indonesia seperti halnya mayoritas negara-negara lain di dunia berusaha memperbaiki good governance, Hak Asasi Manusia (HAM) dan demokrasi. Empat penekanan yang terkandung di dalam democratic governance, seperti transparansi dan tanggung jawab, kepatuhan pada aturan hukum, pelibatan partisipasi maksimal, dan desentralisasi setidaknya sudah mewakili hal-hal yang harus dilakukan suatu negara dalam menjalankan good governance. Dua hal yang lain yaitu perlindungan dan peningkatan HAM serta kepatuhan untuk menjalankan mekanisme demokrasi idealnya akan memperkuat good governance guna menuju ke democratic governance. Harus diakui penerapan HAM di Indonesia masih membutuhkan landasan yang baku dan kuat. Amandemen terhadap UUD 1945 dianggap dapat memperbaiki jaminan HAM, namun sejumlah konstitusi yang pernah diterapkan di Indonesia menunjukkan adanya sikap maju-mundur terhadap penegakan dan perlindungan HAM. Dalam UUD 1945 hanya memuat
beberapa pasal terkait HAM. Namun jika dilihat pada UUDS 1950 memperluas cakupan HAM.6
Penerapan HAM di Indonesia sendiri sudah tercantum pada pasal 28A sampai 28J UUD 1945. Dalam pasal tersebut dijelaskan bahwa setiap manusia memiliki hak nya masing-masing. Contoh hak untuk hidup, hak memiliki kebebasan memeluk agama, hak untuk pendidikan yang layak, dan lain sebagainya. Selain itu pemerintah juga mengeluarkan undang-undang yang mengatur tentang HAM, yakni Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak asasi Manusia. Selain itu dalam rangka perlindungan dan penegakan HAM oleh lembaga-lembaga Negara di antaranya dilaksanakan oleh: Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Komisi Nasional Perempuan (Komnas Perempuan), Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR), namun dalam perkembangannya KKR justru dibubarkan karena tidak sesuai dengan fungsi dan tugasnya yang sesungguhnya sehingga tidak memberikan keadilan pada masyarakat. Selain dilakukan oleh Komisi yang dibentuk oleh Negara, perlindungan dan penegakan HAM saat ini lebih banyak dilakukan oleh lembaga peradilan, khususnya pasca reformasi.7
Komnas HAM dibuat berdasarkan UU Nomor 39 tahun 1999 yang berfungsi untuk perlindungan, pemajuan, penegakkan, dan pemenuhan HAM warga negaranya. Adapun tujuan dari Komnas HAM adalah :
1. Mengembangkan kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan hak asasi dikeluarkannya UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia.
6 Kurniawan Kunto dkk, 2005, “Menuju Democratic Goverment”, Jurnal Ilmu Sosial dan Politik, Vol. 8 No. 3, Maret 2005, 296.
Berdasarkan Undang-undang No. 26/2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia, Komnas HAM adalah lembaga yang berwenang menyelidiki pelanggaran hak asasi manusia yang berat. Dalam melakukan penyelidikan ini, Komnas HAM dapat membentuk tim ad hoc yang terdiri atas Komisi Hak Asasi Manusia dan unsur masyarakat.
Komnas HAM berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, mendapatkan tambahan kewenangan berupa Pengawasan. Dimana Pengawasan adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh Komnas HAM dengan maksud untuk mengevaluasi kebijakan pemerintah baik pusat maupun daerah yang dilakukan secara berkala atau insidentil dengan cara memantau, mencari fakta, menilai guna mencari dan menemukan ada tidaknya diskriminasi ras dan etnis yang ditindaklanjuti dengan rekomendasi.
Selain Komnas HAM, ada juga lembaga yang khusus untuk menangani kasus HAM yang terjadi pada anak, yakni Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).
Kekerasan pada anak adalah merupakan salah satu bentuk pelanggaran HAM yang merusak masa depan. Seperti bunyi pasal 28 ayat (2) UUD 1945 “setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan diskriminasi”. Pasal tersebut menjelaskan bahwa setiap anak berhak untuk hidup yang bebas tanpa adanya kekerasan dan diskriminasi.
Kekerasan sangat dekat dengan kehidupan anak. Sejak usia dini, anak-anak sudah dikenalkan pada bentuk-bentuk kekerasan mulai dari kekerasan verbal, hingga seksual. Pengalaman anak-anak berhadapan dengan kekerasan, dapat dijelaskan baik dari segi bentuk-bentuk kekerasan yang dialami, pelaku kekerasan, tempat kejadian dan sebab-sebab terjadinya kekerasan. Kekerasan terhadap anak dapat terjadi dimana saja, dirumah, di sekolah, masyarakat, kantor polisi serta lapas Anak. Pelaku biasanya adalah orang dekat dengan anak, bisa orangtua, kakek, nenek, kakak, keluarga dekat lainnya. Pelaku biasanya adalah orang yang bertanggung jawab untuk melindungi anak-anak.
psikisnya yang mengakibatkan anak jadi susah untuk berkembang dan sulit bersosialisasi. Anak sangat berpengaruh dalam membangun masa depan bangsa, jika saat ini marak terjadinya kekerasan dan diskriminasi terhadap anak bagaimana nasib masa depan bangsa nanti.
Pengaturan hukum mengenai perlindungan anak juga diatur dalam ketentuan UU HAM, dan secara spesifk diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Dalam ketentuan undang-undang tersebut mengamanatkan dibentuknya Komisi Perlindungan Anak (KPAI) yang bersifat independen.
Selain itu terdapat pula Komisi Nasional Perempuan (Komnas Perempuan). Kaum perempuan selalu tertinggal dan termarjinalkan dalam bidang ekonomi, kebebasan dan martabat yang setara”. Lalu pada tahun 1993 munculah Deklarasi Penghapusan Kekerasan Terhadap Wanita. Hal ini yang mendorong Indonesia membentuk Komnas Perempuan untuk melindungi kaum perempuan dari segala bentuk kekerasan dan diskriminasi.
Mahkamah Konstitusi (MK). Mahkamah Konstitusi berwenang menguji Undang-Undang terhadap konstitusi atau dikenal dengan constitutional review. Pelaksanaannya di Indonesia dan di berbagai negara, uji konstitusionalitas disandarkan kepada suatu alas hak (legal standing), bahwa Undang-Undang yang akan diuji telah merugikan hak dan atau wewenang konstitusional pemonohon constitutional review. Hak-hak yang ada dalam UUD 1945 meliputi hak sipil politik, hak ekonomi, sosial dan budaya, hak pembangunan, dan lainnya yang muatannya bisa dikatakan telah mewakili substansi materi HAM yang ada dalam generasi pertama hingga keempat.8
8 Sri Hastuti Puspitasari, Perlindungan HAM dalam Struktur Ketatanegaraan Republik Indonesia,
Tidak hanya itu saja, masih terdapat lembaga-lembaga perlindungan HAM lainnya. Selain lembaga-lembaga perlindungan Hak Asasi Manusia, Indonesia juga memiliki lembaga peradilan penegakan HAM. Salah satunya adanya pengadilan HAM yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. Pada undang-undang tersebut dijelaskan bagaimana cara penyelesaian terhadap kasus HAM. Berdasarkan undang-undang tersebut, proses persidangannya berlandaskan pada ketentuan Hukum Acara Pidana. Proses penyidikan dan penangkapan dilakukan oleh Jaksa Agung dengan disertai surat perintah dan alasan penangkapan, kecuali tertangkap tangan.
Peran lembaga Komnas HAM terhadap pelanggaran HAM berat
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dibentuk pada tanggal 7 Juni 1993 berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 50 tahun 1993 tentang Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Keputusan Presiden tersebut lahir menindaklanjuti hasil rekomendasi Lokakarya tentang Hak Asasi Manusia yang diprakarsai oleh Departemen Luar Negeri Republik Indonesia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang diselenggarakan pada tanggal 22 Januari 1991 di Jakarta.
Komnas HAM bukan lembaga yang menggantikan fungsi pengadilan, karena memang bukan badan peradilan, bukan persidangan hukum, dan tidak memiliki kekuasaan untuk mengirim seseorang ke penjara, atau memvonis seseorang karena suatu kejahatan tertentu. Hanya saja, Komnas HAM dapat melakukan beberapa hal penting yang secara umum tidak dapat dicapai melalui proses penuntutan-persidangan di pengadilan pidana. Komnas HAM dapat menangani kasus dalam jumlah relatif besar dibandingkan dengan Pengadilan Pidana. Dalam situasi dimana terjadi pelanggaran HAM yang berat yang meluas dan sistematis di bawah rezim sebelumnya, Komnas HAM dapat menyelidiki semua kasus-kasus atau sejumlah besar kasus yang ada secara komprehensif dan tidak dibatasi kepada penanganan sejumlah kecil kasus saja.
masa yang akan datang. Komnas HAM juga dapat dipakai untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan besar seperti; bagaimana suatau pelanggaran HAM terjadi; mengapa terjadi, faktor apakah yang terdapat dalam suatu masyarakat atau dalam suatu negara yang memungkinkan kejadian tersebut terjadi; dasar segala ketentuan aturan hukum. Hal ini didasari bahwa negara memiliki kewajiban-kewajiban untuk menghargai hak asasi orang lain di setiap tempat serta untuk melindungi dan menegakkan hak asasi warga Negara di wilayah mereka.9
Sampai kini Komnas HAM telah menyelesaikan penyelidikan terhadap sejumlah peristiwa pelanggaran berat HAM. Berikut ini adalah kasus-kasus yang penyelidikannya telah diselesaikan Komnas HAM :
Dari 10 kasus tersebut, 3 kasus telah diselesaikan proses peradilannya yaitu Kasus Timor Timur 1999 dan Tanjung Priok 1984 ditangani oleh Pengadilan HAM Ad Hoc Jakarta. Kasus pelanggaran berat HAM Abepura 2000 ditangani di Pengadilan HAM Makassar (bukan masa lalu). Sementara sisanya belum di proses
Pengadilan HAM maupun Pengadilan HAM Ad Hoc. Komnas HAM telah melimpahkan hasil penyelidikan dari peristiwa-peristiwa tersebut ke Kejaksaan Agung agar segera melakukan penyidikan. Tapi, berkas itu kemudian dikembalikan lagi kepada Komnas HAM. Komnas HAM pun mengembalikannya lagi kepada Kejaksaan Agung. Bolak-balik berkas tersebut ternyata memakan waktu bertahun-tahun. Dan kasus tak kunjung terselesaikan.10 Apabila Komnas
HAM tidak mampu menyelesaikan kasus pelanggaran berat HAM maka korban dapat menggunakan mekanisme di International Criminal Court (ICC) atau Mahkamah Pidana Internasional sesuai Pasal 17 Angka (2) dan (3) Statuta Roma 1998.
Ada beberapa hal yang menghambat penyelesaian kasus-kasus pelanggaran berat HAM masa lalu. Hambatan pertama yaitu belum berjalannya proses penyidikan. Hambatan kedua, soal belum dibentuknya Pengadilan HAM Ad Hoc. Hambatan ketiga, adalah dibatalkannya UU No. 27 Tahun 2004 tentang KKR oleh Mahkamah Konstitusi pada 7 Desember 2006. Keempat, tidak adanya keberanian dan goodwill (itikad baik dan kemauan yang sungguh-sungguh) dari presiden untuk membentuk Pengadilan HAM Ad Hoc untuk kasus pelanggaran berat HAM Penghilangan Orang Secara Paksa. Kelima, ada perbedaan keinginan dari korban kasus pelanggaran berat HAM masa lalu tentang mekanisme yang harus digunakan untuk menyelesaikan kasusnya. Dan yang terakhir karena sikap masyarakat umum yang cenderung apatis atau tidak mau peduli tentang perlunya penyelesaian kasus pelanggaran berat HAM masa lalu.
Pengaduan berbagai kasus pelanggaran hak asasi manusia yang disampaikan oleh masyarakat baik yang datang secara langsung ke Komnas HAM maupun melalui surat, ditangani oleh Komnas HAM sesuai dengan fungsi pemantauan maupun mediasi. Bentuk-bentuk pelanggaran hak asasi manusia yang diadukan oleh masyarakat yang selama ini terjadi hampir di seluruh daerah meliputi pelanggaran hak sipil dan politik maupun pelanggaran hak ekonomi, sosial, dan budaya. Pengaduan terhadap adanya pelanggaran ini dapat dilakukan baik secara langsung bertatap muka dengan Komnas HAM maupun secara tidak
10 Muhammad Nurkhoiron dkk, 2016, “Komisi Nasional Hak Asasi Manusia”, Jurnal Ham, Vol. XIII, 2016.
langsung melalui surat. Dalam 2006 telah diterima sebanyak 3.372 pengaduan, atau rata-rata 281 pengaduan setiap bulannya.
Seluruh pengaduan yang diterima dianalisis secara intensif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Berdasar analisis tersebut diambil tindak lanjut yang diperlukan, baik dengan meneruskan pengaduan tersebut kepada instansi pemerintah yang bersangkutan; mengadakan peninjauan lapangan untuk memperoleh fakta lanjutan; menyarankan diadakannya mediasi, atau, jika diduga ada pelanggaran HAM yang berat, mengusulkan pembentukan tim ad hoc penyelidikan berdasar Undang-undang No 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia.
Untuk menangani perbuatan pelanggaran hak asasi manusia yang berat ini diperlukan langkah-langkah penyelidikan, penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan yang bersifat khusus, sehingga dalam undang-undang nomor 26 tahun 2000 juga mengatur tentang ketentuan hukum acara yang bersifat khusus yang berbeda dengan penanganan ordinary crimes.
Arah penyelesaian HAM berat di Indonesia
Pelanggaran HAM dapat berupa pelanggaran HAM ringan maupun pelanggaran HAM berat. Pelanggaran HAM ringan yakni pelanggaran HAM yang tidak mengancam jiwa manusia, namun berbahaya apabila tidak segera diatasi/ditanggulangi. Misal, seperti kelalaian dalam memberikan pelayanan kesehatan, pencemaran lingkungan secara disengaja oleh masyarakat dan sebagainya. Sedangkan pelanggaran HAM berat yakni pelanggaran HAM yang bersifat berbahaya, dann mengancam nyawa manusia, seperti pembunuhan, penganiayaan, perbudakan, perampokan dan lain sebagainya.
Sebelum masuk ke dalam arah penyelesaian kasus HAM berat, perlu kita ketahui bahwa ada beberapa konsep untuk melakukan perlindungan terhadap Hak Asasi Manusia, diantaranya adalah :
1. International security through Human Rights Protection by States
security. In line with this view. Article 55 of the 1945 United Nations Charter articulates that universal respect for and observance of human rights and fundamental freedoms for all with no distinction as to race, sex, language or religion are conditions of stability anda well-being that are necessary for peaceful and friendly relations among nations.
2. Security as justifcation to Limit Human Rights
Relative to must human rights, the interests of security constitute a legitimate aim to limit or infringe them. This applies frst of all in respect of national security.11
Dari kedua pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa perlindungan HAM wajib didapatkan kepada seluruh manusia tanpa terkecuali. Tanpa melihat agama, gender serta bahasa. Oleh sebab itu perlu adanya penegakan hukum. Penegakan hukum dapat dipandang sebagai suatu proses untuk mewujudkan keinginan-keinginan hukum menjadi kenyataan. Keinginan hukum adalah pikiran-pikiran badan pembuat undang-undang yang dirumuskan dalam peraturan-peraturan hukum.
Menurut Junaedi, dosen Fakultas Hukum Universitas Semarang, mengutip dari pendapatnya prof Satjipto, penegakan hukum di Indonesia penuh dengan kompleksitas dan kerumitan. Maka dari itu, untuk dapat melindungi HAM, pemerintah membuat Undang-Undang Nomor 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. Bentuk pengadilan Hak Asasi Manusia ada dua macam yaitu Pengadilan HAM Permanen dan Pengadilan HAM Ad Hoc. Pengadilan HAM Permanen mempunyai kewenangan untuk memeriksa dan mengadili suatu peristiwa yang terjadi setelah berlakunya Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000. Sedangkan Pengadilan HAM ad hoc mengadili suatu peristiwa yang terjadi sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000. Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 31 Tahun 2001 tanggal 12 Maret 2001, pemerintah telah membentuk Pengadilan HAM pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Pengadilan Negeri Surabaya, Pengadilan Negeri Medan dan Pengadilan Negeri Makassar.
Undang-undang Pengadilan HAM ternyata mengenal dua macam pelanggaran hak asasi manusia yang dapat diperiksa melalui pengadilan HAM
11 Piet Hein Van Kempen, 2013, “Four Concept of Security A Human Right Perspective”, Human
Right Law Review, Vol. 4
dilihat dari segi waktu terjadinya kejahatan (tempus delicti), yaitu pelanggaran hak asasi manusia yang berat yang terjadi setelah dan sebelum dibentuknya Undang-Undang Nomor 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. Pembedaan ini menjadi penting, mengingat Undang-Undang Nomor 26 tahun 2000 memperlakukan kedua macam tindak pidana ini berbeda.
Pasal 10 Undang-Undang Nomor 26 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia menyatakan, bahwa semua ketentuan yang ada dalam KUHAP berlaku juga bagi pemeriksaan perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat, kecuali ditentukan secara khusus oleh Undang-Undang Pengadilan HAM. Ini berarti, jika Undang-Undang Pengadilan HAM tidak menentukan lain maka proses pemeriksaan perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat mengacu pada ketentuan-ketentuan dalam KUHAP.
Apabila diperinci ketentuan-ketentuan mengenai proses pemeriksaan pelanggaran hak asasi manusia yang berat yang secara khusus ditentukan oleh Undang-Undang Nomor 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM yang merupakan penyimpangan dari KUHP berkaitan dengan beberapa hal, yaitu pengangkapan (pasal 11), penahanan (pasal 12-pasal 17), penyelidikan (pasal 25), sumpah (pasal 26), dan pemeriksaan sidang pengadilan (pasal 27-28), perlindungan saksi dan korban, pemberian kompensasi, restitusi, dan rehabilitasi. Mengingat kejahatan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 ini adalah bukan tindak pidana biasa, maka selayaknya juga dibuat hukum acara yaang khusus, seperti halnya Rules of Procedure and Evidence of Intent Court yang berbeda dengan hukum acara untuk tindak pidana biasa seperti yang diatur dalam KUHAP.12
Sistem pidana terdiri dari tiga hal, yaitu: jenis pidana dan lamanya sanksi pidana, dan aturan pelaksanaan pidana. Jenis pidana terdiri sanksi pidana, seperti: pidana mati, pidana penjara, pidana denda, dan lain-lainnya. Dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM, masalah pidana hanya berkaitan dengan dua hal, yaitu: jenis pidana dan lamanya pidana, sedangkan aturan pelaksanaan pidana tidak diatur dalam undang-undang tersebut. Jenis pidana meliputi dua jenis pidana, yaitu: pidana penjara dan pidana
mati. Pidana penjara dalam undang-undang tersebut meliputi pidana penjara seumur hidup dan pidana penjara selama waktu tertentu, yaitu paling lama 25 tahun. Sedangkan, mengenai lamanya sanksi pidana dikenal ancaman pidana minimum khusus yang bervariasi, yakni paling singkat 10 tahun dan paling lama 25 tahun (pasal 36 dan pasal 37), paling singkat 5 tahun dan paling lama 15 tahun (pasal 38 dan pasal 39), dan paling singkat 10 tahun dan paling lama 20 tahun (pasal 40).
Dalam UU No 26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan HAM, permasalahan mengenai pertanggungjawaban pidana diatur dalam pasal 36 sampai dengan 40. Pada kasus ini pelaku dapat dikenakan pasal 37 UU No 26 Tahun 2000 yang berbunyi “Setiap orang yang melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf a, b, d, e, atau j dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling lama 25 (dua puluh lima) tahun dan paling singkat 10 (sepuluh) tahun.
BAB III KESIMPULAN
dilihat pada UUDS 1950 memperluas cakupan HAM. Penerapan HAM di Indonesia sendiri sudah tercantum pada pasal 28A sampai 28J UUD 1945. Selain itu dalam rangka perlindungan dan penegakan HAM oleh lembaga-lembaga Negara di antaranya dilaksanakan oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), lembaga ini bukan menggantikan posisi Pengadilan Pidana akan tetapi Komnas HAM dapat menangani kasus dalam jumlah relatif besar dibandingkan dengan Pengadilan Pidana. Dalam situasi dimana terjadi pelanggaran HAM yang berat yang meluas dan sistematis di bawah rezim sebelumnya, Komnas HAM dapat menyelidiki semua kasus-kasus atau sejumlah besar kasus yang ada secara komprehensif dan tidak dibatasi kepada penanganan sejumlah kecil kasus saja.
Komnas HAM berada dalam posisi untuk menyediakan bantuan praktis bagi para korban, yang secara spesifk mengindentifkasi dan membuktikan individu-individu atau keluarga mana saja yang menjadi korban kejahatan masa lampau sehinga mereka secara hukum berhak untuk mendapatkan bentuk reparasi di masa yang akan datang.
Arah penyelesaian HAM berat di Indonesia dapat diselesaikan dengan dua macam bentuk pengadilan Hak Asasi Manusia yaitu Pengadilan HAM Permanen dan Pengadilan HAM Ad Hoc. Pengadilan HAM Permanen mempunyai kewenangan untuk memeriksa dan mengadili suatu peristiwa yang terjadi setelah berlakunya Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000. Sedangkan Pengadilan HAM ad hoc
mengadili suatu peristiwa yang terjadi sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000. Sedangkan Pasal 10 Undang-Undang Nomor 26 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia menyatakan, bahwa semua ketentuan yang ada dalam KUHAP berlaku juga bagi pemeriksaan perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat, kecuali ditentukan secara khusus oleh Undang-Undang Pengadilan HAM. Ini berarti, jika Undang-Undang Pengadilan HAM tidak menentukan lain maka proses pemeriksaan perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat mengacu pada ketentuan-ketentuan dalam KUHAP.
Ali, Mahrus dkk. Penyelesaian Pelanggaran HAM Berat in Court dan Out Court System. Depok: Gramata Publishing, 2011.
Puspitasari, Sri Hastuti. Perlindungan HAM dalam Struktur Ketatanegaraan Republik Indonesia, dalam Eko Riyadi (Ed), Mengurai Kompleksitas Hak Asasi Manusia. Yogyakarta: PUSHAM UII, 2007.
Nickel, James.W. Hak Asasi Manusia, Making Sense of Human Right. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1996.
Sudiro, Ahmad. Hukum dan Keadilan Aspek Nasional dan Internasional. Jakarta: PT Raja Grafndo Persada, 2013.
Yuliarso, Kurniawan Kunto. 2005. “Menuju Democratic Governance: Jurnal Ilmu Sosial dan Politik”. Vol. 8 No. 3, Maret 2005. 296.
Putra, M. Amin. 2015. “Eksistensi Lembaga Negara dalam Penegakan HAM di Indonesia: Fiat Justitia Jurnal Ilmu Hukum”. Vol. 9 no. 3, Juli – September 2015. 256.
Nurkhoiron, Muhammad. 2016. “ Komisi Nasional Hak Asasi Manusia: Jurnal Ham”. Vol. XIII, 2016.
Widyawati, Anis. 2008. “Kajian Hukum Internasinal Terhadap HAM: Jurnal Pandecta”. Vol. 2 No. 2, Juli – Desember 2008. 41.
Van Kempen, Piet Hein. 2013. “Four Concept of Security A Human Right Respective: Human Right Law Review”. Vol. 4, Februari 2013.