Kepentingan Nasional vs. Kepentingan Investor:
Tinjauan Konstitusional dan Hukum Investasi Internasional atas Polemik Penerapan UU No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara kepada PT. Freeport Indonesia
Yustisia Rahman
I.
Pendahuluan
Keberadaan investasi asing di sebuah negara adalah sebuah kenyataan yang tidak lagi dapat dihindarkan. Kemudahan pergerakan uang, barang, jasa dan manusia sebagai konsekuensi logis dari globalisasi ekonomi semakin mempertegas pernyataan aksiomatis tersebut. Tidak dapat pula dinafikan bahwa investasi asing telah menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi sebuah negara, merangsang pertumbuhan ekonomi lokal, menjadi sumber masuknya mata uang asing,
teknologi, dan sumber daya manusia terdidik.1 Meski demikian, dampak sosial dan ekologis
yang mengiringi investasi asing juga tidak dapat diabaikan begitu saja, dalam beberapa kasus
persoalan tersebut bahkan sudah masuk dalam spektrum pelanggaran hak asasi manusia.2 Lebih
dari itu, keberadaan investasi asing juga kerap kali mendapatkan sorotan di tengah menguatnya sentimen nasionalisme ekonomi yang menempatkan investasi asing dalam posisi diametral
dengan kedaulatan negara atas perekonomian dan sumber daya alam.3 Dalam konteks ini,
diskursus mengenai bagaimana keseimbangan antara kepentingan nasional dengan kepentingan investor menjadi sumber perdebatan hukum dan tidak jarang menjadi isu
politik-ekonomi yang melibatkan negara penerima investasi (host countries) dengan negara asal
investor.4 Polemik mengenai ancaman PT. Freeport-McMoran Indonesia (selanjutnya disngkat
Freeport) untuk membawa sengketa investasi dengan Pemerintah Republik Indonesia ke mekanisme arbitrasi investasi internasional (UNCITRAL) sedikit banyak menggambarkan kontestasi tersebut.
Polemik ini bermula dari keengganan Freeport untuk menyesuaikan kegiatan usahanya dengan rezim perundang-undangan mineral dan batu bara (selanjutnya disingkat Minerba) dengan
1Surya P. Subedi, “International Investment Law”, in International Law, ed. Malcolm D. Evans (Oxford, United
Kingdom: Oxford University Press, 2014). Hal. 741
2 Hal ini mendorong berkembangnya gagasan untuk menjadikan perusahaan multinasional dan entitas bisnis
lainya sebagai subjek hukum internasional yang dapat dimintakan pertanggungjawaban dan kewajiban yang tercantum dalam berbagai instrumen hak asasi manusia internasional. Berkenaan dengan hal ini, pada Juni 2011 UN Human Rights Council menyepakati ‘Guiding Principles on Business and Human Rights: Implementing the United Nations “Protect, Respect, Remedy” Framework’ sebagai panduan tidak mengikat bagi pelaku usaha dalam menjalankan aktivitas bisnis yang sesuai dengan kaidah dan prinsip hak asasi manusia. Lihat Robert Mccorquodale, “The Individual and the International Legal System”, Ibid. Hal. 290-91, 740 ; Lee McConnell, “Assesing the Feasibility of a Business and Human Rights Treaty,” The International and Comparative Law Quarterly 66, no. 1 (2017).
3 Zachary Douglas, Joost Pauwelyn, and Jorge E Viñuales, The Foundations of International Investment Law:
Bringing Theory into Practice (OUP Oxford, 2014); George K Foster, “Striking a Balance between Investor Protections and National Sovereignty: The Relevance of Local Remedies in Investment Treaty Arbitration,” Columbia Journal of Transnational Law 49, no. 2 (2011): 201; Henri Bezuidenhout and Ewert Kleynhans, “Implications of Foreign Direct Investment for National Sovereignty: The Wal-Mart/Massmart Merger as an Illustration,” South African Journal of International Affairs 22, no. 1 (2015): 93–110.
dalih hal tersebut bertentangan dengan kesepakatan Kontak Karya antara Freeport dengan
Pemerintah yang harus dihormati sesuai dengan asas kesucian kontrak: pacta sun servanda.
Undang-undang Nomor 4 tahun 2009 tentang Minerba sebagai law of the land memandatkan
agar semua kegiatan usaha pertambangan yang masih menggunakan Kontrak Karya dan PKP2B (Perjanjian Karya Pengusahaan Tambang Batu Bara) sebagai alas hukum kegiatannya diubah menjadi rezim perizinan dalam bentuk Izin Usaha Pertambangan (IUP). Hal ini menimbulkan konsekuensi hukum berupa penyesuaian skema fiskal, mekanisme kepatuhan terhadap perundang-undangan nasional lainnya, dan terutama mempertegas superioritas kedudukan negara terhadap pelaku usaha di bidang pertambangan.
Dalam rangka meningkatkan manfaat ekonomi dari kegiatan investasi asing di bidang
pertambangan, UU 4/2009 juga memandatkan larangan ekspor raw material dan karenanya
menghendaki agar pemegang konsesi pertambangan untuk membangun pabrik pengolahan (smelter) sebagai syarat mendapatkan izin ekspor. Lebih dari itu, diatur pula ketentuan tentang divestasi saham agar porsi pemilikan negara dan/atau pelaku usaha nasional atas kegiatan pertambangan bisa semakin bertambah. Ancaman Freeport untuk menjadikan keinginan pemerintah dalam menerapkan ketentuan ini sebagai dasar pengajuan sengketa investasi ke
forum arbitrase internasional mengkonfirmasi keengganan mereka untuk tunduk kepada law of
the land. Di sisi lain pemerintah juga tampak mengukur diri atas ancaman tersebut, mempertimbangkan potensi kekalahan dan kerugian yang ditimbulkan dari proses arbitrase, pemerintah akhirnya (kembali) memberikan kelonggaran kepada Freeport dengan pemberian status Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) Sementara yang memberikan Freeport waktu
selama 6 (enam) bulan untuk tetap melanjutkan kegiatan ekspor konsentrat.5 Menilik ke
belakang, bukan pertama kalinya Freeport mendapatkan perlakuan khusus. Saat Undang Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan diundangkan, Freeport berkeberatan dengan ketentuan larangan kegiatan pertambangan terbuka di kawasan dengan status hutan lindung yang jelas akan mengancam kelangsungan usahanya. Merespon hal tersebut, pemerintahan Megawati menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (PERPPU) No. 1 Tahun 2004 yang membuka peluang kegiatan tambang batu bara secara terbuka di hutan lindung kepada 12 perusahaan, satu diantaranya Freeport.
Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai sejauh mana kesungguhan pemerintah untuk meningkatkan superioritas kedudukannya saat berhadapan dengan kepentingan perusahaan multinasional. Dalam konteks investasi asing di sektor berbasis lahan (pertambangan, kehutanan, dan perkebunan), pertanyaan ini berkaitan erat dengan mandat
konstitusional negara selaku “penguasa” atas sumber daya alam sesuai dengan Pasal 33 UUD 1945. Lebih dari itu, polemik Freeport ini juga dapat menjadi acuan untuk menelisik sejauh mana kesiapan pemerintah dalam mendesakkan kepentingan nasional saat berhadapan dengan investasi asing di Indonesia. Pertanyaan ini sangat relevan jika dikaitkan dengan ancaman Freeport untuk membawa permasalahan yang berakar dari polemik penerapan UU 4/2009 ke forum arbitrase internasional. Artikel ini akan mencoba menjawab kedua persoalan tersebut sisi hukum ketatanegaraan dalam menjawab konstitusionalitas kegiatan usaha pertambangan yang dilakukan oleh Freeport serta dari sisi hukum investasi internasional dalam menjawab peluang yang dimiliki oleh pemerintah untuk memastikan terjaminnya kepentingan nasional dalam relasinya dengan investasi asing di Indonesia. Dengan menjawab kedua hal
5
tersebut, diharapkan pemerintah memiliki kesiapan untuk menghadapi perlawanan hukum dari investor asing yang mungkin muncul lagi di masa yang akan datang sebagaimana yang sedikit banyak dilakukan oleh Freeport saat ini.
II.
Konstitusionalitas Aktivitas Freeport di Indonesia
Freeport adalah representasi kegiatan investasi asing di Indonesia yang penuh dengan catatan dan persoalan. Keberadaannya di tanah Papua tidak terlepas dari proses dekolonisasi Papua dari Belanda dan Indonesia yang mengklaim memiliki legitimasi historis atas Papua sebagai
bagian dari Pax Neerlandica.6 Freeport telah menginisiasi aktivitas usahanya di tahun 1960-an
sebelum Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) sebagai proses resmi dekolonisasi wilayah Papua bagian Barat dalam pengawasan Dewan Perwalian PBB dilakukan di tahun 1970-an. Dalam konteks perkembangan hukum investasi nasional, Freeport termasuk dalam kelompok pertama perusahaan asing yang mendapatkan konsesi pengusahaan tambang dengan payung hukum Undang-undang No. 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan dan Undang-undang No. 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing yang muncul di awal masa pemerintahan Orde Baru ini menandai perubahan orientasi perekonomian nasional serta Pasal 33 ayat (3) sebagai landasan konstitusional penyelengaraan kegiatan perekonomian termasuk di dalamnya penguasaan negara atas sumber daya alam di Indonesia. Bagian ini akan mengulas konstitusionalitas kegiatan pertambangan yang dilakukan oleh Freeport di Indonesia. Untuk menguji hal tersebut, analisis terhadap gagasan Pasal 33 ayat (3), kontestasi dalam upaya amandemennya, serta analisis terhadap beberapa putusan Mahkamah Konstitusi yang paling penting berkenaan dengan penerapannya akan disajikan di bagian ini.
1. Pasal 33 Sebagai Basis Penguasaan Negara Atas Sumber Daya Alam
Indonesia adalah satu dari sedikit negara yang mencantumkan pengaturan tentang kegiatan ekonomi dalam konstitusinya. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari semangat zaman ketika UUD 1945 disusun. Kahin (1952) menyatakan bahwa perumusan konstitusi Indonesia dipengaruhi
oleh: semangat anti kolonialisme, Islam, kolektivisme masyarakat adat, dan sosialisme.7 Ciri
sosialisme dalam UUD 1945 dapat dilihat dengan adanya pengaturan tentang sistem
perekonomian nasional (Pasal 33), provisi yang lazim ditemukan di negara bercorak sosialis.8
Pasal 33 merupakan landasan konstitusional bagi penyelenggaraan sistem perekonomian yang
6 Pax Neerlandica merupakan doktrin pemerintahan kolonial Belanda dalam rangka ekspansi wilayah kolonial
untuk unifikasi wilayah dan upaya menciptakan ketertiban dengan penerapan sistem hukum dan administrasi kolonial. Unifikasi wilayah kepulauan Nusantara ini merupakan cikal bakal wilayah yang menjadi Republik Indonesia Modern. Lihat Paul Bijl, “Human Rights and Anticolonial Nationalism in Sjahrir’s Indonesian Contemplations,” Law & Literature, January 18, 2017. Hal. 12; Yuliani Sri Widaningsih, “Nationalism In The Indonesian Multicultural Community,” PROCEEDING ICTESS, 2017. Hal. 222.
7 George McTurnan Kahin and Nin Bakdi Soemanto, Nasionalisme Dan Revolusi Di Indonesia: Refleksi
Pergumulan Lahirnya Republik (Sebelas Maret University Press, 1995). Hal. 65.
8 Jimly Asshiddiqie, Gagasan Kedaulatan Rakyat Dalam Konstitusi Dan Pelaksanaannya Di Indonesia:
berorientasi pada kesejahteraan (ayat 1) yang dilakukan dengan melakukan “penguasaan
negara” atas cabang-cabang produksi (ayat 2) dan sumber daya agraria (ayat 3). Merujuk pada rumusan ini, semua bentuk kegiatan usaha berbasis lahan, termasuk di dalamnya kegiatan
usaha pertambangan, harus dilakukan dalam kerangka “penguasaan negara” untuk menjamin
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Aktivitas pertambangan Freeport (seharusnya) di Papua tidak dapat dilepaskan dari kerangka konstitusional ini. Dalam konteks tersebut, bagian ini akan mengulas sejauh mana kerangka hukum yang menjamin aktivitas usaha Freeport telah sesuai dengan semangat Pasal 33 ayat (3) UUD 1945.
a. Original Intent Pasal 33 ayat (3) UUD 1945
Dicantumkannya pengaturan tentang sistem perekonomian dalam konstitusi kita adalah bentuk
penolakan pendiri bangsa terhadap corak demokrasi liberal a la Barat yang hanya
menitiberatkan pada aspek politik dan kebebasan semata. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari perkembangan gagasan kedaulatan rakyat di negara-negara Eropa yang memisahkan kekuasaan politik, yang diatur dengan hukum publik/politik, dengan kekuasaan ekonomi, yang diatur dengan hukum privat (perdata). Prinsip dasar liberalisme yang menihilkan peran negara
selaku pemegang kekuasaan politik ini tertuang dalam karya klasik Montesquieu, Spirit of Law:
…That we should not regulate by the principles of political law those things which depend on the principles of civil law. As man have given up their natural independence to live under political laws, they have given up the natural community of goods to live
under civil laws…By the first, they acquired liberty, by the second property. We should not decide by the laws of liberty, which, as we have already said, is only the government
of the community, what ought to be decided by the laws concerning property...9
Gagasan ini ditolak oleh pendiri bangsa yang menghendaki demokrasi Indonesia mencakup pula demokrasi ekonomi -yang menjamin kesejahteraan rakyat, selain demokrasi politik -yang menjamin kebebasan dan hak-hak sipil politik, sebagaimana dikemukakan oleh Ir. Soekarno dalam sidang BPUPKI, 1 Juni 1945:
Di Amerika ada suatu Badan Perwakilan Rakyat, dan tidakkah di Amerika kaum kapitalis merajalela?...Padahal ada Badan Perwakilan Rakyat! Tak lain tak bukan
sebabnya...adalah yang dinamakan democratie di sana itu hanyalah politieke
democratie saja; semata-mata tidak ada sociale rechtvaardighied, tak ada keadilan
sosial, tidak ada ekonomische democratie sama sekali...saya usulkan: kalau kita
mencari demokrasi, hendaknya bukan demokrasi Barat, tetapi permusyawaratan yang
memberi hidup, yakni politiek ekonmische democratie yang mampu mendatangkan
kesejahteraan sosial.10
Konseptualisasi gagasan demokrasi ekonomi ini dapat dilihat secara lebih praktis dari pandangan Prof. Mr. Soepomo saat sidang BPUPKI, 31 Mei 1945 tentang negara integralistik
9 Baron Secondat Montesquieu, “The Spirit of Law” in Great Books of The Western World, 2nd Edition, Mortimer
J. Adler (ed.), (Chichago: Encyclopedia Britannica Inc., 1990). Hal. 221.
10 Sekretariat Negara, Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia
yang menggambarkan bagaimana pola penguasaan negara atas “perusahaan” dan “tanah” dilakukan :
Sekarang tentang perhubungan antara negara dan perekonomian. Dalam negara
berdasar integralistik...maka dalam lapangan ekonomi akan dipakai sistem “sosialisme
negara” (staatsocialisme). Perusahaan-perusahaan yang penting akan diurus oleh
negara sendiri, akan tetapi pada hakikatnya negara yang akan menentukan di mana dan di masa apa dan perusahaan apa yang akan diselenggarakan oleh pemerintah pusat atau
oleh pemerintah daerah atau yang akan diserahkan kepada sesuatu badan hukum prive
atau kepada seseorang, itu semua tergantung daripada kepentingan negara, kepentingan rakyat seluruhnya...Begitu pun tentang hal tanah. Pada hakikatnya negara yang menguasai tanah seluruhnya, tambang-tambang yang penting untuk negara akan diurus
oleh negara sendiri.11
Menilik ke belakang, gagasan mengenai perlunya penguasaan negara atas sumber daya agraria telah disampaikan oleh Moh. Hatta yang menanggap bahwa hal tersebut merupakan
kolektivisme yang berakar dari sistem nilai masyarakat desa.12 Kolektivisme itu ditunjukan
dengan melakukan penguasaan atas tanah:
...segala tanah lainnya di liar lingkungan desa dan tanah milik rakyat adalah di bawah kekuasaan negara. Perusahaan di atas tanah menguasai hidup orang banyak yaitu tempat orang banyak menggantungkan dasar hidupnya, mestilah berlaku di bawah kekuasaan atau pemilikan negara. Cara menjalankan eksploitasinya boleh diserahkan kepada badan yang bertanggung jawab, di bawah pemilikan anggota badan pengurus
negara atau bagiannya menurut peraturan yang tertentu.13
Gagasan para perumus UUD 1945 tentang demokrasi ekonomi pada dasarnya tidak menempatkan hak menguasai negara sebagai sesuatu yang absolut, sebab secara implisit Pasal 33 tidak melarang penguasaan atau pemilikan sumber daya agraria oleh entitas privat. Berkenaan dengan itu, Asshiddiqie (1995) berpendapat bahwa Pasal 33 UUD 1945 sebetulnya memberikan kategorisasi atas jenis-jenis sumber kemakmuran (yakni cabang produksi dan sumber daya alam) yang dapat menjadi acuan bagaimana hak menguasai negara dilakukan: i) Sumber-sumber kemakmuran yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak; ii) Sumber-sumber kemakmuran yang penting bagi negara, tetapi tidak menguasai hajat hidup orang banyak; iii) Sumber-sumber kemakmuran yang tidak penting bagi negara, tetapi menguasai hajat hidup orang banyak; iv) Sumber-sumber kemakmuran yang tidak
penting bagi negara dan tidak menguasai hajat hidup orang banyak.14 Berdasarkan kategorisasi
ini negara dapat mengidentifikasi kegiatan-kegiatan apa saja yang harus secara mutlak harus diusahakan oleh negara, dapat diberikan kepada badan usaha milik negara, atau sepenuhnya dapat diberikan kepada entitas privat.
11 Ibid., Hal. 62-3.
12 Bivitri Susanti, “Neo-liberalism and Its Resistance in Indonesia’s Constitution Reform 1999-2002, (Tesis
Magister Hukum, University of Warwick, UK, 2002). Hal. 64.
b. UUPA 1960 Sebagai Pengejawantahan Pasal 33 ayat (3)
Aturan peralihan UUD 1945 memandatkan dilakukannya perubahan sistem perundang-undangan kolonial sebagai manifestasi kemerdekaan seutuhnya Republik Indonesia. Satu diantaranya berkaitan dengan hukum keperdataan yang mengatur kegiatan perekonomian dan hubungan hukum antara manusia dengan tanah dan/atau properti. Salah satu keberhasilan pemerintahan Orde Lama dalam hal ini adalah pengundangan Undang-undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (UUPA) yang secara radikal mengubah konsep hukum kebendaan atas tanah dan properti yang sebelumnya diatur dalam Buku ke-II
Kitab Undang-undang Hukum Perdata kolonial (Burgerlijk Wetboek). Lebih dari itu, UUPA
memberikan kejelasan mengenai penerapan hak menguasai negara yang diatur dalam Pasal 33
ayat (3) dengan menghapuskan asas domeinverklaring yang dianut dalam sistem hukum tanah
kolonial.
Asas domeinverklaring merupakan asas penguasaan tanah yang diberlakukan oleh pemerintah
kolonial melalui Agrarische Wet (Staatsblad No. 55 Tahun 1870) dan Agrarische Besluit
(Staatsblad No. 118 Tahun 1870). Asas domeinverklaring menyatakan bahwa semua tanah
yang pihak lain tidak dapat membuktikan bahwa tanah itu eigendoom (milik) –nya, adalah
domein negara. Dengan asas ini maka pihak lain yaitu rakyat harus dapat membuktikan bahwa
sebidang tanah adalah hak eigendoom-nya, jika tidak dapat membuktikannya maka negara-lah
yang memilikinya. Asas ini sebenarnya bertentangan dengan ketentuan dalam Pasal 1865 Burgerlijk Wetboek yang menyatakan bahwa barang siapa yang mendalilkan sebuah hak atau mengemukakan peristiwa untuk menguatkan haknya ataupun membantah hak orang lain, harus membuktikan haknya atau peristiwa tersebut. Oleh karena itu, seharusnya negara yang membuktikan bahwa tanah itu miliknya bukan pihak lain (rakyat) yang harus membuktikan
bahwa tanah itu miliknya.15
Van Vollenhoven mengecam penerapan asas domeinverkalring Karena tidak memberikan
jaminan perlindungan bagi hak-hak rakyat pribumi dan masyarakat hukum adat dalam bentuk
hak ulayat atas tanah.16 Dalam tafsiran pemerintah Hindia Belanda, tanah-tanah yang dipunyai
rakyat secara turun
temurun, demikian juga tanah-tanah ulayat masyarakat hukum adat adalah tanah domein
negara. Hak atas tanah yang bersumber dari hukum adat tidak disamakan dengan hak milik
dalam Burgerlijk Wetboek , sehingga hanya dianggap sebagai hak memakai tanah domein
negara bahkan kemudian dianggap sebagai vrij lands domein (tanah negara bebas) yang dapat
diambil alih oleh negara selaku pemilik tanah.17 Meskipun terdapat ketentuan bahwa
pengambilalihan harus disertai dengan kompensasi yang disebut recognite, hal ini tidak
dimengerti oleh rakyat yang tingkat kesadaran hukumnya rendah sehingga menimbulkan
kesewenang-wenangan. Sebagaimana dikemukakan dalam Penjelasan UUPA bahwa: “Asas
domein adalah bertentangan dengan kesadaran hukum rakyat Indonesia dan asas daripada
negara yang merdeka dan modern”.18
15 Muhammad Bakri, Hak Menguasai Tanah Oleh Negara: Paradigma Baru Untuk Reformasi Agraria (Citra
Media, 2007).
16 Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia: Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria, Isi Dan
Pelaksanaannya (Djambatan, 2003). Hal. 45.
17 Ibid.Hal. 46.
Asas domeinverklaring memungkinkan negara untuk memberikan hak atas tanah kepada pihak lain selaku pemilik tanah. Dengan asas ini maka hubungan hukum antara negara dengan tanah adalah hubungan kepemilikan sehingga penguasaan negara atas tanah tidak semata berdimensi publik tetapi juga berdimensi perdata.19 Asas domeinverklaring
sebagai produk Agrarische Wet yang diundangkan pada 9 April 1870 tak dapat dilepaskan dari
keinginan kuat pemilik modal swasta Belanda yang ingin menikmati keuntungan dari pengelolaan tanah di Hindia Belanda sebagaimana yang pernah dilakukan oleh pemerintah
kolonial saat periode tanam paksa.20 Setelah diundangkannya Agrarische Wet dan Agrarische
Besluit maka Hindia Belanda secara khusus Pulau
Jawa telah berkembang menjadi perkebunan besar milik swasta asal Belanda. Sementara itu penduduk yang semula merupakan petani pemilik tanah kehilangan tanah-tanah mereka karena
penerapan asas domeinverklaring, mereka kemudian menjadi buruh-buruh di perkebunan besar
milik pengusaha-pengusaha Belanda. Dengan demikian sebenarnya Agrarsiche Wet dan
Agrarsiche Besluit lebih merupakan suatu undang-undang penanaman modal daripada sebuah kebijakan
pertanahan.21
UUPA merubah secara fundamental pola penguasaan atas tanah sebagai salah satu sumber
kemakmuran rakyat. Asas domeinverkalring dengan tegas dicabut22 dan diberlakukan konsep
hak menguasai negara merujuk kepada Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang berorientasi kepada
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pencabutan asas domenverklaring menunjukan bahwa
penguasaan negara atas tanah bukanlah dalam bentuk pemilikan perdata yang merugikan rakyat, sebagaimana disebutkan dalam Penjelasan UUPA:
Undang-undang Pokok Agraria berpangkal pada pendirian bahwa untuk mencapai apa yang ditentukan dalam Pasal 33 ayat (3) Undang-undang Dasar tidak perlu dan tidaklah pula pada tempatnya, bahwa bangsa Indonesia ataupun negara, bertindak sebagai pemilik tanah. Adalah lebih tepat jika negara, sebagai organisasi kekuasaan dari seluruh
rakyat (bangsa) bertindak selaku badan penguasa.23
Atas dasar ketentuan dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945, maka seluruh kekayaan alam (bumi, air ,dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya) pada tingkatan tertinggi dikuasai oleh
negara, sebagai organisasi kekuasaan dan penjelmaan seluruh rakyat.24 Dengan dicabutnya asas
domeinverklaring, UUPA menghapuskan pemilikan perdata dalam konsep penguasaan negara. Oleh Karena itu sebagaimana disebutkan dalam Pasal 2 ayat (2) UUPA, konsep penguasaan negara atau hak menguasai negara atas bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya hanya memiliki dimensi publik dimana negara diberikan kewenangan untuk:
19 Bakri, Hak Menguasai Tanah Oleh Negara: Paradigma Baru Untuk Reformasi Agraria ., Hal. 33.
20 Endang Suhendar and Ifdhal Kasim, Tanah Sebagai Komoditas: Kajian Kritis Atas Kebijakan Pertanahan Orde
Baru (ELSAM, 1996).Hal. 13.
21 Ibid. Hal. 15.
22 Sebagaimana dicantumkan dalam bagian memutuskan pada konsiderans-nya, UUPA dengan tegas menyatakan
mencabut keberlakuan Agrarische Wet (S. 1870-55), Domein Verklaring dalam Agrarische Besluit (S. 1870-118), Algemene domeinverklaring (S. 1875-119a), Domein Verklaring untuk Sumatera (S 1874- 94f), Domeinverklaring untuk Manado (S. 1877 -55), Domeinverklaring untuk wilayah Borneo (S. 1888 -58), Koninklijk Besluit (S. 1872 -117), Buku ke-II Kitab Undang-undang Hukum Perdata Indonesia (Burgerljk Wetboek) sepanjang yang mengenai bumi, air, serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya
a. Mengatur dan menyelenggarakan peruntukan, penggunaan, persediaan, dan pemeliharaan bumi, air, dan ruang angkasa.
b. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dengan
bumi, air, dan ruang angkasa.
c. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dan
perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai bumi, air, dan ruang angkasa.
UUPA menyatakan bahwa hak menguasai negara bersumber dari hak bangsa yakni hubungan
antara bangsa Indonesia, yakni kesatuan seluruh tanah-air dari seluruh rakyat Indonesia,25
dengan kekayaan alam (bumi, air, ruang angkasa, dan kekayaan alam yang terkandung di
dalamnya).26 Dalam Penjelasan Umum No. II/1, hak bangsa Indonesia atas kekayaan alam
merupakan semacam hak ulayat yang diangkat pada tingkatan yang paling atas yaitu tingkatan
yang mengenai seluruh wilayah Indonesia.27 Dari hak bangsa ini diturunkan kewenangan
kepada negara melalui hak menguasai negara sebagaimana disebutkan dalam Pasal 2 ayat (2) UUPA. Negara kemudian mengatur hak-hak perorangan yang diturunkan dari hak menguasai negara dan pelaksanaannya harus bertujuan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat (Pasal 2 ayat (3) UUPA) dan menghormati hak ulayat masyarakat hukum adat (Pasal 3 UUPA). Hal ini menunjukan bahwa arah kebijakan negara, baik menurut Pasal 33 UUD 1945 maupun UUPA, adalah kemakmuran seluruh rakyat, bukan kemakmuran orang per orang, namun
demikian harkat dan derajat individu dipelihara dan dijunjung tinggi.28 Dalam hal ini negara
hanya mempunyai kekuasaan untuk mengatur upaya pencapaian kemakmuran tersebut.
Konsep hak menguasai negara dalam UUPA mensyaratkan adanya peran negara yang kuat dalam mendistribusikan kemakmuran kepada seluruh rakyat dengan prinsip-prinsip keadilan, atau pemihakan kepada kepentingan rakyat. Dalam pemikiran ini tidak dikehendaki berlakunya prinsip ekonomi pasar terutama dalam hal-hal yang menyangkut hajat hidup rakyat banyak,
apalagi yang menyangkut masalah pertanahan sebagaimana amanat Pasal 33 UUD 1945.29
Prof. Boedi Harsono bahkan menyatakan bahwa penjabaran konsep hak menguasai negara
dalam UUPA merupakan penafsiran otentik atas kata “dikuasai” yang tercantum dalam Pasal
33 ayat (2) dan (3) UUD 1945.30
25 UUPA, Pasal 1 ayat (1) 26 UUPA, Pasal 1 ayat (3)
27 UUPA, Penjelasan No. II/1
28 Komitmen untuk menghormati hak-hak individual sebagai wujud keselarasan kolektivisme dan individualisme
ditunjukan dalam rumusan pokok UUPA yang dibuat oleh Panita Soewahjo (diketuai oleh Soewahjo Soemodilogo), selaku panitia perumus naskah UUPA yakni: (i) Penghapusan asas domeinverklaring dan pengakuan hak rakyat yang harus ditundukan dibawah kepentingan umum; (ii) Penggantian asas domein dengan “hak menguasai negara” sesuai dengan ketentuan Pasal 38 ayat (3) UUDS 1950 (Pasal 33 ayat (3) UUD 1945); (iii) Penghapusan dualisme hukum agraria; (iv) Hak-hak atas tanah meliputi hak milik sebagai hak terkuat yang dilekati dengan fungsi sosial, hak usaha, hak bangunan, dan hak pakai; (v) Hak milik hanya dapat dipunyai oleh WNI; (vi) Perlunya penetapan batas maksimum dan minimim luas tanah yang boleh dimiliki; (vii) Pengerjaan dan pengusahaan sendiri tanah pertanian oleh pemiliknya sebagai asas; dan (viii) Pelaksanaan pendaftaran tanah dan perencanaan penggunaan tanah. Kasim dan Suhendar, op. cit., hal 46-50.
29 Ibid., Hal. 21-2
30 Harsono, Hukum Agraria Indonesia: Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria, Isi Dan
c. Kontestasi Ekonomi Pancasila vs Neo-Liberalisme dalam Amandemen Pasal 33
Meski telah mendapatkan penjabaran yang detail berkenaan dengan konsepsi, ruang lingkup dan arah pelaksanaannya dalam UUPA, Pasal 33 ayat (3) tidak pernah benar-benar dilaksanakan secara utuh terutama dalam masa pemerintahan Orde Baru. Pemerintah Orde Baru cenderung menerapkan Pasal 33 ayat (3) secara pragmatis dengan mempertimbangkan perkembangan situasi perekonomian, sehingga dalam kurun 32 tahun penguasaan negara bergerak dalam pendulum monopoli oleh negara/badan usaha milik negara dan liberalisasi. Meski UUPA tidak pernah benar-benar dihapuskan, pemerintah Orde Baru mengabaikan regulasi populis ini dengan mengeluarkan berbagai regulasi dan kebijakan yang nyata bertabrakan dengan semangat hak menguasai negara untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Lebih dari itu, Pasal 33 ayat (3) juga digunakan oleh negara pada saat itu untuk melegitimasi praktik monopoli yang sarat nuansa korupsi, kolusi dan nepotisme.
Tumbangnya pemerintahan Orde Baru dengan kesenjangan ekonomi yang nyata melahirkan desakan untuk melakukan pembaruan dalam struktur perekonomian dengan secara utuh menerapkan demokrasi ekonomi (TAP MPR No. XVI/MPR/1998) dan pembaruan penguasaan sumber daya alam (TAP MPR IX/MPR/2001). TAP MPR XVI/1998 mengafirmasi belum
terwujudnya amanat demokrasi ekonomi sebagaimana tercantum dalam Pasal 33 UUD 194531
serta masih menumpuknya aset dan kekuatan ekonomi (faktor produksi) pada sekelompok
orang.32 Secara lebih tegas TAP MPR IX/2001 menyatakan bahwa dalam hal sumber daya
agraria dan sumber daya alam, masih terjadi ketimpangan struktur penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan pemanfaatannya sehingga menimbulkan konflik, penurunan kualitas
lingkungan dan berbagai persoalan lainnya.33 Dua keputusan politis ini melandasi proses
amandemen pasal 33 UUD 1945 dalam proses amandemen konstitusi 1999-2002, yang dalam perjalanannya memperlihatkan perbedaan paradigma dan ideologi dalam memandang hubungan antara negara dan perekonomian.
Pembahasan penting mengenai konsep penguasaan negara dalam proses
amandemen ini dapat dilihat dalam rapat ke-47 PAH I tanggal 26 Juni 2000 yang
mengagendakan pandangan fraksi-fraksi.34 Dalam pembahasan ini terungkap
agar konsep penguasaan negara atas sumber-sumber kemakmuran dalam Pasal 33 tetap dipertahankan namun dengan penjabaran yang lebih lengkap dan memadai agar tidak terjadi distorsi dalam penerapannya. Sebagaimana yang dungkapkan oleh Pataniari Siahaan dari Fraksi PDIP:
…sampai saat ini MPR belum dapat merinci dan menjabarkan apa yang dimaksud Pasal 33 tersebut…apa sajakah cabang produksi penting yang menguasai hajat hidup orang banyak yang harus dikuasai negara dan apa saja cabang produksi yang kurang penting yang dapat dikelola oleh
perusahaan swasta dan perorangan? Juga dipertanyakan apa yang
31 TAP MPR No. XVI/MPR/1998, Konsiderans huruf a 32 Ibid., Pasal 3.
33 TAP MPR IX/MPR/2001, Konsiderans huruf c
34 Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi, Naskah Komprehensif
dimaksud dengan kekuasaan negara, apakah dikuasai sama dengan
dimiliki oleh negara atau dikelola negara?35
Hal senada juga dikemukakan oleh Ali Hardi Kiaidemak dari Fraksi PPP yang menyatakan bahwa:
…ternyata kesederhanaan daripada penuangan ide-ide yang cemerlang dan tulus dari para pendiri negara kita dalam Pasal 33 dalam perjalanannya
ternyata oleh kekuasaan pemerintahan di waktu yang lampau telah
dikembangkan, diimplementasikan dengan terlalu menitikberatkan pada
kepentingan kekuasaan, bukan lagi pada orientasi kerakyatan dan
kebersamaan…Demikian juga pengembangan istilah dikuasai negara. ini
karena kepentingan kekuasaan pada saat itu maka dikuasai negara
diartikan bukan dalam arti fisik tetapi bisa dalam arti pengawasan
sehingga kita melihat bahwa bagaimana pertambangan, bagaimana usaha-usaha besar
yang menguasai hidup orang banyak lalu diserahkan kepada
pengusaha swasta yang dikuasai perorangan.36
Kedua pendapat ini menginginkan agar ketentuan mengenai penguasaan
negara atas sumber-sumber kemakmuran tetap dipertahankan tetapi dengan
penjabaran yang lebih terang untuk menghindari penyalahgunaan sebagaimana yang terjadi pada masa lalu. Oleh karena itu dalam rapat pembahasan ini muncul
gagasan untuk menambahkan kata “diatur” dan “diatur berdasarkan undang-undang” setelah kata “dikuasai” agar tidak terjadi penyalahgunaan kewenangan.37 Terungkap pula usulan agar
ketentuan mengenai penguasaan negara dikaitkan
dengan fungsi lembaga perwakilan rakyat untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan.38
Sementara itu Fraksi PKB dan Fraksi PAN mengusulkan agar
penguasaan negara diatur berdasarkan prinsip-prinsip yang umum diterapkan
dalam kegiatan ekonomi yakni “asas efisiensi”, “asas keadilan”, “asas pembangunan berkelanjutan”, “asas kelestarian lingkungan” dan “asas
penghormatan terhadap hak milik pribadi”.39 Ada pula usulan untuk
menghapuskan sama sekali kata “dikuasai” dalam rumusan amandemen Pasal 33,
sebagaimana yang diungkapkan oleh Hamdan Zoelva dari Fraksi PBB:
…kata-kata dikuasai oleh negara ini dalam sejarah kita telah memberikan implikasi negatif dalam hal ini negara telah melaksanakan kekuasaannya
sedemikian rupa sehingga bisa memperkosa hak-hak rakyat dan
masyarakat. Oleh karena itu, dalam hal dikuasai oleh negara ini kami
usulkan kata-kata yang lebih manusiawi, yaitu diurus oleh negara.40
35 Ibid., Hal. 341. 36 Ibid., Hal. 349
37 Pendapat ini diusulkan oleh Fraksi Partai Golkar dan Fraksi PPP. Ibid., hal 347
dan 349.
38 iusulkan oleh Fraksi PDKB yang mengusulkan rumusan: “Sumber kekayaan alam
dan keuangan negara, dikelola dengan permufakatan lembaga perwakilan rakyat”. Lihat Ibid., hal. 352.
PAH I akhirnya berhasil merumuskan usulan perubahan yang kemudian diajukan dalam Rapat Paripurna Sidang Tahunan MPR pada 10 Agustus 2000. Namun usulan
perubahan mengenai Pasal 33 belum dibahas secara mendalam
sehingga tidak dicapai kesepakatan, oleh karena itu BP MPR kembali ditugaskan untuk mempersiapkan rancangan amandemen pada sidang Majelis berikutnya. Adapun
rumusan usulan perubahan Pasal 33, termasuk mengenai konsep
penguasaan negara atas sumber-sumber kemakmuran, dilampirkan dalam TAP MPR No. IX/MPR/2000 yang selengkapnya berbunyi:
(1) Perekonomian disusun dan dikembangkan sebagai usaha bersama seluruh rakyat secara berkelanjutan berdasarkan atas asas keadilan, efisiensi, dan
demokrasi ekonomi untuk mewujudkan kemakmuran, kesejahteraan, dan
keadilan sosial bagi seluruh rakyat.
(2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai dan/atau diatur oleh negara berdasarkan asas keadilan dan efisiensi yang diatur dengan undang-undang.
(3) Bumi, air, dan dirgantara serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai dan/atau diatur oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, yang diatur dengan undang-undang.
(4) Pelaku ekonomi adalah koperasi, badan usaha milik negara, dan usaha swasta termasuk usaha perseorangan.
(5) Penyusunan dan pengembangan Perekonomian Nasional harus senantiasa menjaga dan meningkatkan tata lingkungan hidup, memperhatikan dan menghargai hak Ulayat, serta menjamin keseimbangan kemajuan seluruh wilayah negara.
Dalam usulan perubahan ini konsep penguasaan negara tetap dipertahankan dengan pembatasan yakni pengaturan oleh undang-undang, berdasarkan asas efisiensi dan keadilan, serta ditujukan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Adapun secara keseluruhan usul perubahan Pasal 33 UUD 1945 yang menambah dua ayat tambahan adalah untuk mengakomodir ketentuan dalam penjelasan UUD 1945 yang disepakati untuk dihapuskan.
Dalam pembahasan pada periode perubahan ketiga UUD 1945, rumusan amandemen Pasal 33 UUD 1945 mendapatkan masukan dari Tim Ahli Ekonomi yang disertakan dalam rapat pembahasan PAH I. Tim Ahli Ekonomi diketuai oleh Prof. Dr. Mubyarto sebagai ketua, Dr. Sri Mulyani sebagai sekretaris, dan anggota yang terdiri dari Prof. Drs. Dawam Rahardjo, Dr.
Sjahrir, Prof. Dr. Bambang Sudibyo, Dr. Didiek J. Rachbini, dan Dr. Sri Adiningsih.41
Dilibatkannya Tim Ahli Ekonomi dalam perumusan usulan perubahan Pasal 33 UUD 1945 ditujukan untuk memberikan pengetahuan teknis dan masukan sesuai dengan disiplin ilmu agar perumusan naskah usulan amandemen tidak berputar dalam perdebatan normatif dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik. Namun dalam perjalanannya terdapat perbedaan pandangan dan ideologi ekonomi yang mencolok diantara anggota tim ahli yang bertitik tolak dari perbedaan pandangan mengenai perlu tidaknya mempertahakan rumusan asli Pasal 33
UUD 1945. Perdebatan dan perbedaan pandangan yang begitu mencolok
ini menimbulkan polarisasi yang tajam sehingga usulan Tim Ahli Ekonomi selalu disampaikan dalam dua versi. Pendapat pertama dirumuskan oleh Mubyarto dan Dawam Rahardjo yang bersikeras mempertahankan rumusan asli Pasal 33 UUD 1945 sebagai manifestasi pelaksanaan ekonomi kerakyatan. Sementara pendapat kedua dirumuskan oleh Sjharir, Bambang Sudibyo, Didiek J. Rachbini, Sri Mulyani, dan Sri Adiningsih yang lebih realistis dengan situasi ekonomi Indonesia kontemporer sehningga cenderung berpandangan
neo-liberal.42
Perbedaan pandangan di antara tim ahli ekonomi sudah tampak sejak pertemuan pertama tim
ahli pada 19 Maret 2001. Menurut Mubyarto, dalam pertemuan tersebut tim ahli “bersepakat
untuk berbeda pendapat”.43 Tim ahli sepakat untuk tetap mencantumkan pengaturan sistem
ekonomi dalam konstitusi namun tidak bersepakat mengenai usualan perubahan Pasal 33 UUD
1945. Mayoritas tim ahli beranggapan bahwa kata “dikuasai” yang terdapat dalam Pasal 33
ayat (2) dan (3) sebagai keniscayaan dianutnya sistem sosialisme yang sangat mempengaruhi
pemikiran ekonomi Bung Hatta dalam merumuskan Pasal 33 UUD 1945.44 Berikut pernyataan
Sjahrir:
Bilamana kita memperhatikan literatur sistem ekonomi, maka sulit bagi kita untuk menghindari kesan bahwa ketiga ayat-ayat dari Pasal 33 tersebut merupakan ayat-ayat yang cocok dengan pengertian sistem ekonomi sosialis. Saya tidak ingin mempertentangkan ayat-ayat tersebut dengan realitas di Indonesia kini, apalagi dengan kenyataan gejala globalisasi yang berlangsung di seluruh dunia, tetapi cukup tampak tanda-tanda bahwa sulit sekali untuk bisa mempertahankan sepenuhnya ayat-ayat
tersebut tanpa perubahan apapun.45
Pandangan ini disanggah oleh Mubyarto yang menyatakan bahwa sistem ekonomi Indonesia berdasarkan Pasal 33 bukanlah sistem ekonomi sosialis, melainkan sistem ekonomi yang disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan sebagaimana yang
dicantumkan dalam Pasal 33 ayat (1). Selain
itu dalam penjelasan Pasal 33 UUD 1945 dijelaskan bahwa Indonesia menganut demokrasi
ekonomi yang bertolak belakang dengan sosialisme yang sentralistis. Kata “dikuasai” dalam
ayat (2) dan (3) tidak menunjukan sistem ekonomi Indonesia melainkan mekanisme operasional, yaitu bagaimana pokok-pokok kemakmuran rakyat yakni cabang produksi yang menguasai hajat hidup rakyat banyak, bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya diatur pemanfaatannya sedemikian rupa sehingga melahirkan kesejahteraan bagi
rakyat secara keseluruhan.46
Usulan untuk menghapuskan kata “dikuasai” juga disampaikan oleh Sri Adiningsih yang
menyatakan bahwa kata “dikuasai oleh negara” dalam Pasal 33 ayat (2) dan (3) mengandung bllured kejernihan dan dapat menimbulkan multi-interpretasi sehingga tidak layak untuk
dijadikan rumusan dalam pasal-pasal konstitusi.47Selain itu kata “dikuasai oleh negara” lekat
42 Ibid., hal 379
43 Mubyarto, Amandemen Konstitusi…, op. cit., hal. 9 44 Ibid., hal. 10
45 Susanti, op. cit., hal. 68.
46 Mubyarto, Amandemen Konstitusi…,op. cit., hal. 11
47 Sri Adiningsih, Perlunya Amandemen UUD 1945 Dalam Bidang Ekonomi, Makalah
mencirikan kuatnya intervensi negara dalam perekonomian yang tidak sesuai lagi dengan trend perekonomian global yang semakin bebas, terbuka, dan peran negara yang minimal.
Perkembangan penting yang banyak mempengaruhi kita pada saat ini adalah proses
demokratisasi dan market economy di banyak negara. Selain itu perubahan penting
yang perlu mendapat perhatian dalam bidang ekonomi adalah adanya liberalisasi pasar pada tingkat global. Indonesia sudah mengikatkan diri dengan AFTA, APEC, dan WTO yang tentunya semua komitmen yang dibuat tersebut tidak dapat ditiadakan begitu saja.48
Perbedaan pandangan diantara tim ahli berlanjut dalam rapat pleno ke-18 PAH I 16 Mei 2001 yang mengagendakan penyampaian kesimpulan dan pendapat Tim Ahli Ekonomi. Usulan yang disampaikan oleh Sri Adiningsih itu selengkapnya berbunyi:
1) Perekonomian disusun dan diatur sebagai usaha bersama berdasarkan atas azas
kemanusiaan, moralitas sosial, keadilan, manfaat dan berkelanjutan, serta perlindungan konsumen dan pemihakan pada usaha kecil dan menengah serta demokrasi ekonomi melalui sistem pasar yang berdaya saing-efisien-terbuka dan persaingan sehat untuk mewujudkan sebesar kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.
2) Darat, laut, termasuk dasar laut dan tanah dibawahnya, udara diatasnya, serta seluruh
lingkungan dan kekayaan yang terkandung di dalam dasar wilayah kedaulatan dan kewenangan Indonesia diatur oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat yang diatur dengan undang-undang.
3) Penyusunan dan pengaturan perekonomian nasional harus senantiasa menjaga dan
meningkatkan tata lingkungan hidup yang harmonis, memperhatikan dan menghargai
hak ulayat, dan menjamin keseimbangan kemajuan seluruh warga negara.49
Usulan perubahan ini tidak disepakati secara bulat oleh tim ahli ekonomi sebab Mubyarto dan Dawam Raharadjo bersikeras untuk mempertahankan rumusan Pasal 33 dalam naskah asli UUD 1945. Menurut Mubyarto tidak terwujudnya kesejahteraan rakyat bukan disebabkan oleh tidak memadainya konsep demokrasi ekonomi dalam Pasal 33 UUD 1945, melainkan Karena penguasa tidak pernah menerapkannya secara sungguh-sungguh. Mubyarto juga berpendapat bahwa dengan lahirnya TAP MPR No. XVI/MPR/1998 tentang Politik Ekonomi dalam Rangka Demokrasi Ekonomi, menunjukan adanya komitmen untuk meluruskan kekeliruan dalam pelaksanaan Pasal 33 sebagai landasan konstitusional demokrasi ekonomi. Berikut ini adalah pendapat Mubyarto:
…kesimpulan kita adalah bahwa terjadinya pengurasan kekayaan alam bukanlah ketentuan Pasal 33 tidak memadai atau karena kesalahan Pasal 33 tetapi karena dasar demokrasi ekonomi benar-benar telah dilanggar atau tidak dilaksanakan. Perubahan dan tertib pembahasan dan perdebatan sengit di antara anggota Tim Ahli bidang ekonomi, khususnya perlu tidaknya Pasal 33 diamandemen, seakan-akan
diselenggarakan oleh Kajian Ekonomi Pembangunan Indonesia, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia 3 Juli 2001, hal. 2.
48 Ibid., hal. 3.
mengisyaratkan bahwa jika Pasal 33 tidak diamandemen maka krisis ekonomi tidak
akan pernah teratasi, KKN akan terus merajalela…50
Perdebatan yang sengit dalam tubuh tim ahli berujung pada mundurnya Mubyarto dan Dawam Rahardjo dari kenggotaan tim ahli pada 23 Mei 2001. Dalam surat pengunduran dirinya, Mubyarto menyatakan bahwa hal ini adalah konsekuensi atas pendiriannya untuk tetap mempertahankan naskah asli Pasal 33 UUD 1945. Sementara itu tim ahli seolah diamanatkan hanya untuk mengubah Pasal 33 UUD 1945 sebagaimana usulan perubahan yang dilampirkan
dalam TAP MPR No. IX/MPR/2000.51
Mundurnya Mubyarto dan Dawam Rahardjo dari keanggotaan Tim Ahli bidang Ekonomi membuat dominasi kelompok berpandangan neo-liberal semakin kuat. Secara garis besar pandangan neo-liberal menghendaki agar perumusan ketentuan mengenai ekonomi dalam konstitusi memperhatikan tiga hal pokok yakni : intervensi negara yang minimal dan hanya dibenarkan untuk menjamin berjalannya mekanisme pasar serta dijalankan berdasarkan undang-undang; ditegaskannya sistem ekonomi pasar sesuai dengan kenyataan ekonomi kontemporer; dan perlindungan terhadap hak milik pribadi termasuk investasi asing dari
pengambilalihan oleh negara.52 Usulan tim ahli tidak banyak memberikan perubahan berarti
dalam rumusan perubahan Pasal 33 sebagaimana yang dilampirkan dalam TAP MPR No. IX/MPR/2000. Meski demikian perdebatan sengit yang terjadi antara kutub ekonomi kerakyatan dan ekonomi neo-liberal dalam tubuh Tim Ahli Ekonomi telah memunculkan kembali wacana untuk mempertahankan naskah asli Pasal 33 UUD 1945 sebagai sistem ekonomi yang sesuai dengan jati diri bangsa dalam pembahasan pada perubahan keempat konstitusi.
Mundurnya Mubyarto dari keanggotaan Tim Ahli Ekonomi terutama disebabkan oleh keinginan yang kuat dari mayoritas tim ahli dan anggota PAH I untuk menghapuskan asas kekeluargaan dalam Pasal 33 ayat (1) UUD 1945 dan menggantinya dengan asas-asas ekonomi
yang lazim digunakan dalam sistem ekonomi pasar seperti “asas efisiensi” dan “asas keadilan”.
Dihapuskannya “asaskekeluargaan” akan menimbulkan konsekuensi yuridis bagi keberadaan
konsep “penguasaan negara” sebagai mekanisme operasional pelaksanaan sistem ekonomi
berdasarakan atas asas kekeluargaan. Hal ini dikarenakan konsep “dikuasai oleh negara” menunjukan intervensi negara yang kuat yang bertentangan dengan prinsip efisiensi karena dalam paradigma ekonomi pasar diyakini dapat mendistorsi perekonomian.
Usulan untuk merombak fundamen Pasal 33 UUD 1945 juga tampak dalam pembahasan usulan perubahan keempat UUD 1945. Pada rapat ke-5 PAH I, 25 Februari 2002, Boediono yang saat itu menjabat sebagai Menteri Keuangan memberikan usulan untuk mengganti asas kekeluargaan:
Mengenai asas kekeluargaan…ini adalah nampaknya sebagai suatu istilah yang sangat
elastis. Kalau suatu istilah itu begitu elastisnya, itu tampaknya bisa menampung berbagai penafsiran dan akibatnya bisa menimbulkan pengertian yang sangat berbeda mengenai hal ini. Oleh sebab itu, pendapat kami pribadi, alangkah baiknya kalau konteks yang elastis ini diganti, atau bukan diganti, tapi dijabarkan menjadi asas-asas
50 Ibid., hal. 377-378
yang lebih spesifik. Misalnya soal efisiensi, keadilan, soal pembangunan berkelanjutan,
demokrasi ekonomi dalam arti yang lebih spesifik.53
Terkait dengan konsep penguasaan negara, Sjahril Sabirin yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia memberikan pendapat:
Kami merasakan misalnya ayat (2) dan (3) itu sudah lebih fleksibel dbandingkan yang lama karena disini cabang-cabang produksi yang penting bagi negara yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai, sudah pakai dan atau diatur oleh negara. Jadi, ini sudah lebih fleksibel dibandingkan dengan yang lama sehingga bisa saja pelaksanaannya swasta, tetapi diatur oleh negara sehingga faktor-faktor efisiensi dan
lain sebagainya itu dapat dicapai tanpa mengorbankan kepentingan umum.54
Meski demikian perdebatan yang tajam di dalam tubuh tim ahli pada pembahasan perubahan ketiga UUD 1945 telah melahirkan pula wacana untuk kembali ke naskah asli UUD 1945. Sebagaimana diungkapkan oleh Soedijarto dari Fraksi Utusan Golongan pada rapat PAH I tanggal 28 Januari 2002:
Disadari bahwa di abad XXI ini dunia telah sepenuhnya menjadi satu kesatuan ekonomi global yang dikuasai oleh kapitalisme global yang menganut pasar bebas. Oleh karena
itu, setiap negara harus membangun sistem ekonomi yang handal…Namun banyak
negara di Eropa terutama di negara-negara Skandinavia dan Jerman yang merupakan pemain tangguh dalam percaturan ekonomi global, tetapi sistem ekonomi nasionalnya tidak sepenuhnya dikembangkan dengan asas pasar bebas. Oleh karena itu, F-UG
berpendapat bahwa Pasal 33 Undang-undang Dasar 1945 harus tetap dipertahankan.55
Perdebatan dalam tubuh tim ahli bidang ekonomi juga mempengaruhi pendapat publik yang menghendaki agar rumusan asli Pasal 33 tetap dipertahankan. Secara politis hal ini turut mempengaruhi pandangan anggota PAH I yang mayoritas menolak diadopsinya pandangan neo-liberal dalam usulan perubahan Pasal 33 UUD 1945. Dalam pembahasan perubahan keempat UUD 1945 tampak keinginan untuk mempertahankan gagasan para pendiri bangsa namun pada saat yang bersamaan juga berupaya untuk mengakomodir globalisasi. Dengan demikian asas kekeluargaan sebagai sistem ekonomi dan konsep penguasaan negara sebagai mekanisme operasional pelaksanaannya tetap dipertahankan. Akan tetapi terdapat pembatasan dan kualifikasi tambahan dalam pelaksanaannya agar tidak terjadi penyimpangan sebagaimana yang terjadi di masa lalu. Konsep penguasaan negara sebagai operasional penyelenggaran
perekonomian atas asas kekeluargaan harus dilaksanakan berdasar demokrasi
ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi, berkelanjutan, berwawasan lingkungan,
kemandirian, dan keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.56 Usulan
perubahan Pasal 33 ini kemudian ditempatkan menjadi ayat (4) dan (5) dalam Pasal 33 yang rumusan aslinya tetap dipertahankan.
Usulan perubahan Pasal 33 disampaikan dalam Rapat Paripurna ke-3 Sidang Tahunan MPR pada 3 Agustus 2002. Meskipun tidak menyampaikan secara eksplisit, fraksi-fraksi di MPR secara prinsip menyepakati rumusan perubahan Pasal 33 UUD 1945. Hal ini menunjukan
53 Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan MK, op. cit., hal. 407. 54 Ibid., hal. 395.
disepakatinya jalan tengah antara kelompok yang menginginkan agar rumusan asli Pasal 33 tetap dipertahankan dan kelompok yang menginginkan agar konstitusi adaptif dengan perkembangan ekonomi yang semakin dinamis. Soetjipno dari Fraksi PDIP bahkan menyatakan bahwa tetap dipertahankannya rumusan asli Pasal 33 sesuai dengan cita negara
hukum (rechtstaat) dan kedaulatan rakyat (volkssouvereiniteit) yang berkembang ke arah
negara hukum materiel (materiele rechtstaat), sehingga kedaulatan rakyat juga mencakup
bidang ekonomi selain bidang politik.57
Meski demikian terdapat pula kekhawatiran terjadinya distorsi dan bias akademik dengan
diadopsinya kata “efisiensi” dalam rumusan ayat (4) yang dapat melumpuhkan paham
“kebersamaan dan kekeluargaan” dengan paham individualisme dan liberalisme ekonomi.58 Selain itu perubahan judul bab yang menaungi Pasal 33 yang sebelumnya berjudul
“Kesejahteraan Sosial”menjadi “Perekonomian dan Kesejahteraan Sosial” dikhawatirkan akan
menjadikan posisi rakyat dan kemakmuran rakyat yang substansial menjadi derivat dari
perekonomian.59 Sebagaimana dikemukakan oleh Prof. Dr. Sri-Edi Swasono anggota Fraksi
Utusan Golongan:
…mengenai Pasal 33 telah diubah dari judul aslinya, justru ini akan menimbulkan
distorsi yang sangat-sangat jauh…Justru judul bab yanglama, “Kesejahteraan Sosial”
artinya bahwa ekonomi itu merupakan derogate dari tujuan mensejahterakan rakyat.
Jadi, tujuan utamanya adalah mensejahterakan rakyat dan ekonomi harus mendukung
dan harus menjadi referensi…jadi, kalau dibalik maka tidak jelas lagi subject matter
-nya di dalam kehidupan ekonomi…Kedua mengenai ayat (4)…dalam rumusan seperti
ini menimbulkan semacam kontradiksi dan inkonsistensi dan bahkan mungkin
menimbulkan penafsiran yang tidak jelas…misalnya efisiensi, efisiensi ini dalam scope
apa? Sebab kalau hanya efisiensi saja…akan terjadi struktur proses produksi yang
sangat berubah menjadi kapital intensif…Dengan kata lain, harus ada perkataan
efisiensi yang berkemandirian, efisiensi yang berkeadilan…60
Menurut Sri-Edi Swasono, pencantuman kata “efisiensi” memiliki implikasi serius sebab
dalam ilmu ekonomi kata “efisiensi” berorientasi pada perolehan keuntungan maksimum
(maximum gain) dalam aktivitas usaha dan kepuasan maksimum (maximum satisfaction) dalam
transaksi ekonomi individu.61 Hal ini merupakan dasar dari paham ekonomi neo-klasik yang
berkembang menjadi paham ekonomi neo-liberalisme yang beroperasi melalui pasar bebas. Agar prinsip efisiensi sesuai dengan demokrasi ekonomi menurut Pasal 33, maka perlu dilakukan perubahan menjadi efisiensi ekonomi yang berdimensi kepentingan sosial yang tidak
berorientasi pada kepentingan perorangan. Dengan mencantumkan kata “efisiensi berkeadilan”
maka pelaksanaan prinsip efisiensi dalam kegiatan ekonomi harus berdasarkan kepada pemihakan terhadap yang lemah, yang miskin, dan yang terbelakang dalam
rangka mewujudkan keadilan.62
57 Ibid., hal. 478
58 Sri Edi Swasono, “Mewaspadai Otoritarianisme dan Tirani Ekonomi…”,op. cit.,
hal. 11.
59 Ibid., Hal. 12.
60Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan MK, op. cit., hal. 476
Usulan Sri-Edi Swasono untuk mengubah kata “efisiensi” menjadi “efisiensi berkeadilan” mementahkan kembali usulan perubahan yang diajukan oleh PAH I BP MPR. Setelah melalui berbagai pembahasan akhirnya pada 8 Agustus 2002 PAH I menyepakati perubahan kata
“efisiensi” menjadi “efisiensi berkeadilan” pada Pasal 33 ayat (4), dan pada sidang paripurna
MPR tanggal 10 Agustus 2002 ditetapkan menjadi bagian dari perubahan keempat UUD
1945.63 Adapun rumusan Pasal 33 Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945
secara lengkap adalah:
1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.
2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup
orang banyak dikuasai oleh negara.
3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan
dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
4) Perekonomian Nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan
prinsip keadilan, kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta menjaga keseimbangan, kemajuan, dan kesatuan ekonomi nasional.
5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanan Pasal ini diatur dalam
undang-undang.
d. Interpretasi Mahkamah Konstitusi atas Hak Menguasai Negara
Politik hukum liberal tidak lama setrelah amandemen UUD 1945 yang tampak pada
perundang-undangan privatisasi BUMN dan sektoral menimbulkan polemik yang luas di
masyarakat. Pengajuanundang-undang privatisasi sektoral, seperti UU ketenagalistrikan, UU
Minyak danGas Bumi, dan UU Sumber Daya Air serta Undang-undang Penanaman Modalke
Mahkamah Konstitusi merupakan wujud penolakanmasyarakat terhadap kebijakan privatisasi
pasca reformasi.64 Keberadaan Mahkamah Konstitusi sebagai lembaga tinggi negara yang
memiliki kewenanganuntuk melakukan pengujian undang-undang terhadap Undang-undang
Dasar Negara RI Tahun 194565 membuka peluang bagi resistensi terhadap derasnya arus
liberalisasi ekonomi yang mewarnai proses pembentukan hukum setelahamandemen keempat
konstitusi.
Lima perundang-undangan yang terkait dengan penguasaan negara atas
sumber-sumber kemakmuran yang diajukan ke Mahkamah Konstitusi yakni
UU Ketenagalistrikan, UU Minyak dan Gas Bumi, UU Sumber Daya Air, dan UU Penanaman Modal memilki benang merah yang dapat dilihat dari dalil
permohonan pengujian perundang-undangan tersebut. Benang merah tersebut
berkaitan dengan penetrasi liberalisme/neo-liberalisme dalam bentuk deregulasi,
privatisasi, liberalisasi, dan komersialisasi dalam pengelolaan sumber-sumber
kemakmuran. Hal tersebut dianggap akan mereduksi peran negara dalam penguasaan
sumber-sumber kemakmuran menurut Pasal 33 UUD Negara RI
Tahun 1945 dalam rangka mewujudkan kesejahteraan rakyat.
63 Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan MK, op. cit., hal. 484. 64 Yudho, op. cit., hal. 97-99.
65 Indonesia, Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Pasal 24 C
Atas pengajuan permohonan pengujian tersebut, dilihat dari amar putusannya Mahkamah Konstitusi memberikan putusan yang bebeda-beda. Ada pemohonan yang dikabulkan secara keseluruhan (UU Ketenagalistrikan), ditolak
dengan conditionally constitutional (UU Sumber Daya Air),66 dan dikabulkan
sebagian (UU Minyak dan Gas Bumi dan UU Penanaman Modal). Meski putusan
yang diberikan berbeda-beda, namun lewat putusan-putusan ini Mahkamah
Konstitusi telah berperan memberikan penafsiran atas frasa “dikuasai oleh negara”
yang tercantum dalam Pasal 33 ayat (2) dan (3) UUD Negara RI tahun 1945.
Dalam memberikan penafsiran terhadap frasa “dikuasai oleh negara” Mahkamah
Konstitusi menyatakan bahwa dalam ketentuan tersebut terdapat daya berlaku normatif sebagai berikut:
1. Konstitusi memberikan kewenangan kepada negara untuk menguasai
cabang-cabang produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak;
2. Kewenangan tersebut ditujukan kepada mereka baik yang akan maupun
yang telah mengusahakan cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak. Pada cabang produksi yang jenis produksinya belum ada atau baru akan diusahakan, yang jenis produksi tersebut penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak,
negara mempunyai hak diutamakan/didahulukan yaitu negara
mengusahakan sendiri dan menguasai cabang produksi tersebut serta pada
saat yang bersamaan melarang perorangan atau swasta untuk
mengusahakan cabang produksi tersebut.
3. Pada cabang produksi yang diusahakan oleh perorangan atau swasta dan
ternyata produksinya penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak, negara dapat mengambil alih cabang produksi tersebut dengan
cara yang sesuai dengan aturan hukum yang adil.67
Penguasaan oleh negara, menurut Mahkamah Konstitusi, tidak ditujukan
untuk kekuasaan semata melainkan agar negara dapat menunaikan kewajibannya sebagaimana yang tecantum dalam Pembukaan UUD Negara RI Tahun 1945. Penguasaan negara atas cabang produksi mengandung misi untuk memenuhi kepentingan masyarakat, yaitu: ketersediaan yang cukup, distribusi yang merata,
dan terjangkaunya harga bagi banyak orang.68 Kedua hal ini merupakan keutuhan
paradigma yang dianut oleh konstitusi dan merupakan cita hukum (rechtside) dari
UUD Negara RI Tahun 1945.
Konsep penguasaan negara dalam Pasal 33 UUD Negara RI Tahun 1945 menurut Mahkamah Konstitusi mengandung pengertian yang lebih tinggi dan
66 Yang dimaksud dengan conditionally constitutional dalam putusan pengujian UU
Sumber Daya Air terhadap UUD Negara RI Tahun 1945 adalah bahwa dalam menjalankan undang-undang tersebut pemerintah haruslah memperhatikan pertimbangan hukum yang disampaikan oleh Mahkamah Konstitusi. Jika pelaksanaannya ditafsirkan lain, maka undangundang tersebut tidak menutup kemungkinan untuk dilakukan pengujian kembali. Hal ini merupakan terobosan hukum yang dilakukan oleh MK mengingat undang-undang menyatakan bahwa pengujian udang-undang terhadap konstitusi adalah final dan mengikat. Lihat: Mahkamah Konstitusi, Putusan No. 058-059-060-063/PUU-II/2004 dan No. 008/PUU-III/2005, hal. 495
lebih luas dari pada pemilikan dalam konsepsi hukum perdata. Konsep penguasaan negara adalah konsepsi hukum publik yang berkaitan dengan prinsip kedaulatan rakyat yang dianut dalam konstitusi, baik dibidang politik (demokrasi politik) maupun ekonomi (demokrasi ekonomi). Dalam paham kedaulatan rakyat itulah rakyat dipahami sebagai sumber, pemilik, sekaligus pemegang kekuasaan tertinggi dalam kehidupan bernegara, sesuai dengan doktrin dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Dalam pengertian tertinggi tersebut, tercakup pula
kepemilikan publik oleh rakyat secara kolektif.69 Meski menolak konsepsi
perdata dalam konsep penguasaan negara, Mahkamah Konstitusi menyatakan
bahwa kepemilikan perdata itu adalah suatu konsekuensi logis penguasaan oleh negara yang mencakup juga pengertian kepemilikan publik oleh kolektivitas
rakyat atas sumber-sumber kemakmuran.70 Dengan demikian, meski Mahkamah
Konstitusi menyatakan bahwa konsep penguasaan negara berdimensi hukum
publik, hal itu tidak berarti bahwa peran negara direduksi menjadi sebatas pengatur (regulator) dalam kegiatan perekonomian.
Dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut, Mahkamah Konstitusi
kemudian mengintroduksi penafsiran penguasaan negara dalam Pasal 33 UUD
Negara RI Tahun 1945 yang mencakup lima fungsi, yakni71:
1. Fungsi Pengurusan oleh negara (Besturdaad) dilakukan dengan
kewenangan negara dalam hal ini pemerintah untuk mengeluarkan dan mencabut faslitas perizinan, lisensi, dan konsesi.
2. Fungsi pengaturan oleh negara (Regelandaad) dilakukan melalui
kewenangan legislasi oleh DPR bersama dengan pemerintah, dan
regulasi oleh pemerintah.
3. Fungsi pengelolaan (beheersdaad) dilakukan melalui mekanisme
pemilikan saham dan/atau melalui keterlibatan langsung dalam
manajemen Badan Usaha Milik Negara atau Badan Hukum Milik
Negara sebagai instrumen kelembagaan untuk medayagunakan
sumber-sumber kemakmuran untuk rakyat.
4. Fungsi pengawasan oleh negara (toezichthoudensdaad) dilakukan oleh
negara dalam hal ini pemerintah dalam rangka mengawasi dan
mengendalikan agar pelaksanaan penguasaan negara atas cabang
produksi yang penting dan/atau menguasai hajat hidup orang banyak
dimaksud benar-benar dilakukan untuk sebesar-besar kemakmuran
rakyat.
5. Fungsi kebijakan oleh negara (beleid) dilakukan dengan kewenangan
untuk mengadakan dan merumuskan kebijakan.
Selain mendefinisikan cakupan fungsi penguasaan negara, dalam putusan pengujian Undang-undang Minyak dan Gas Bumi MK menyatakan bahwa tingkat konstitusionalitas penguasaan negara dapat dilihat secara bertingkat. Pada tingkatan pertama, penguasaan negara dilakukan
69 Ibid., hal. 332-333.
70 Ibid.
dengan pengelolaan langsung sumber daya alam oleh negara. Jika negara sudah memiliki kemampuan teknologi dan finansial namun tidak melakukan pengelolaan tersebu, maka dapat dikategorikan sebagai tindakan yang inkonstitusional. Pada tingkatan kedua, negara membuat kebijakan dan pengurusan yang hanya dapat dibenarkan (dinyatakan konstitusional) jika negara secra faktual belum memiliki kemapuan untuk menjalankan penguasaan negara pada tingkatan pertama. Pada tingkatan terakhir, yang hanya dibenarkan jika negara sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk melakukan pengelolaan sumber daya alam secara langsung, penguasaan negara dilakukan dengan menjalankan fungsi pengaturan dan pengawasan. Mahkamah berpandangan bahwa untuk memastikan penguasaan negara diterapkan secara
konstitusional akan menjamin tercapainya unsur “sebesar-besarnya kemakmuran rakyat” dalam Pasal 33 ayat (3), sebagaimana dikemukakan oleh Mahkamah dalam putusannya:
Sepanjang negara memiliki kemampuan baik modal, teknologi dan manajemen dalam mengelola sumber daya alam maka negara harus memilih untuk melakukan pengelolaan secara langsung atas sumber daya alam. Dengan pengelolaan secara langsung, dipastikan seluruh hasil dan keuntungan yang diperoleh akan masuk menjadi keuntungan negara yang secara tidak langsung akan membawa manfaat lebih besar bagi rakyt. Pengelolaan langsung yang dimaksud di sini, baik dalam bentuk pengelolaan langsung oleh negara (organ negara) melalui Badan Usaha Milik Negara. Pada sisi lain, jika negara menyerahkan pengelolaan sumer daya alam untuk dikelola oleh perusahaan swasta atau badan hukum lain di luar negara, keuntungna bagi negara aan terbagi sehingga manfaat bagi rakyat juga akan berkurang.
Meski menegaskan peran dominan negara dalam penguasaan atas sumbersumber kemakmuran,
Mahkamah Konstitusi juga memberikan keabsahan atau
konstitusionalitas bagi pelaksanaan privatisasi. Hal ini terkait dengan penafsiran Mahkamah terhadap asas efisiensi berkeadilan yang terdapat dalam Pasal 33 ayat
(4) UUD Negara RI Tahun 1945.72 Dalam fungsi pengelolaan (behersdaad) yang
dilakukan oleh BUMN melalui kepemilikan perdata atas saham, diperbolehkan
adanya share-holding atau berbagi saham antara saham dari pemerintah dengan
saham modal swasta. Selengkapnya Mahkamah dalam amar putusannya
menyatakan:
…maka penguasaan dalam arti pemilikan privat itu harus dipahami
bersifat relatif dalam arti tidak mutlak selalu harus 100%, asalkan
penguasaan oleh negara c.q. Pemerintah atas pengelolaan sumber-sumber
kekayaan dimaksud tetap terpelihara sebagaimana mestinya. Meskipun
pemerintah hanya memiliki saham mayoritas-relatif, asalkan tetap
menentukan dalam proses pengambilan keputusan atas penentuan
kebijakan dalam badan usaha yang bersangkutan, maka divestasi ataupun privatisasi atas pemilikan saham pemerintah dalam badan usaha milik
negara yang bersangkutan tidak dapat dianggap bertentangan dengan
Pasal 33 UUD 1945…73
Terkait dengan penafsiran Pasal 33 ayat (4), dalam putusan pengujian
Undang-undang Penanaman Modal, Mahkamah Konstitusi menjabarkan prinsip-prinsip dasar
demokrasi ekonomi yang diturunkan dari Pasal 33 ayat (4) UUD
Negara RI Tahun 1945 sebagai berikut74:
1. Asas efisiensi berkeadilan adalah asas yang mengedepankan efisiensi yang
berkeadilan dalam usaha untuk mewujudkan iklim usaha yang adil,
kondusif dan berdaya saing.
2. Asas berkelanjutan adalah asas yang secara terencana mengupayakan
berjalannya proses pembangunan melalui penanaman modal untuk
menjamin kesejahteraan dan kemajuan dalam segala aspek kehidupan,
baik masa kini maupun masa yang akan datang.
3. Asas berwawasan lingkungan adalah asas penanaman modal yang
memperhatikan dan mengutamakan perlindungan dan pemeliharaan
lingkungan hidup.
4. Asas kemandirian adalah asas yang mengedepankan potensi bangsa dan
negara dengan tidak menutup diri pada masuknya modal asing demi terwujudnya pertumbuhan ekonomi.
5. Asas keseimbangan, kemajuan, dan kesatuan ekonomi nasional, adalah
asas yang berupaya menjaga keseimbangan kemajuan ekonomi wilayah dalam kesatuan nasional.
Penafsiran makna demokrasi ekonomi yang merujuk pada Pasal 33 ayat
(4) UUD Negara RI Tahun 1945 sebagaimana yang dikemukakan oleh Mahkamah Konstitusi
berbeda dengan penjabaran mengenai demokrasi ekonomi sebagaimana
yang tercantum dalam Penejelasan UUD 1945 sebelum dihapuskan pada
amandemen keempat. Demokrasi ekonomi menurut penjelasan UUD 1945
diartikan dengan produksi dikerjakan oleh semua, untuk semua di bawah
pimpinan atau penilikan anggota-anggota masyarakat. Kemakmuran
masyarakatlah yang diutamakan bukan kemakmuran orang-seorang.
2. Kronik Pengaturan Kegiatan Pertambangan Freeport
Aktivitas pertambangan yang dilakukan oleh Freeport di wilayah Papua adalah contoh yang paling tepat untuk menggambarkan relasi Indonesia sebagai sebuah negara berdaulat dengan kekuatan investor asing. Berbagai kemudahan dalam hal regulasi dan pemberian konsesi yang diberikan negara kepada Freeport -yang dengan sendirinya menyimpangi mandat penguasaan negara dalam Pasal 33 ayat (3), dan berbagai ancaman Freeport untuk membawa persoalan yang muncul berkenaan dengan penyesuaian aktivitas mereka terhadap aturan yang lebih ketat ke forum arbitrasi internasional mempertegas relasi yang tidak imbang antara negara dengan sebuah entitas privat. Bagian ini akan menganalisis beberapa regulasi dan kebijakan penting yang memberikan legitimasi kepada Freeport untuk menjalankan aktivitas usahanya di Papua. Analisis tersebut akan digunakan untuk menilai sejauhmana kegiatan usaha Freeport telah sejalan dengan mandat penguasaan negara atas sumber daya alam yang diatur di Pasal 33 ayat (3) yang telah dijelaskan di bagian sebelumnya.