Zakat : Tinjauan Historis& Perundang-undangan di Indonesia Dibuat untuk memenuhi tugas Ujian Tengah Semester I
Mata kuliah : Ekonomi Islam
Zakat merupakan ibadah yang wajib dikerjakan oleh setiap umat Islam, sepanjang memenuhi syarat kriteria kewajiban berzakat. Zakat adalah ibadah yang bertujuan untuk membersihkan atau mensucikan harta kekayaan yang dimiliki oleh setiap umat Islam. Apabila ditinjau dari sifatnya, ada yang bersifat pembersihan jiwa seorang muslim tanpa terkecuali, yang wajib kita keluarkan pada saat selesai bulan Ramadhan, yaitu zakat fitrah. Dan kedua, adalah yang bersifat pembersihan harta yang diwajibkan untuk kalangan tertentu, yang terikat oleh jumlah dan waktunya, atau biasa disebut zakat maal. Contoh dari zakat tipe kedua ini adalah zakat harta kekayaan, zakat emas, zakat harta temuan, zakat pertanian atau peternakan. 1
Secara historis, zakat bermula berupa infak yang harus dikeluarkan kepada fakir miskin dan demi kepentingan pembelaan agama pada masa awal-awal berkembangnya Islam. Al Quran berisi wahyu yang mewajibkan bagi setiap umat Islam untuk memberikan sedekah (pemberian yang sifatnya bebas, tidak wajib). Namun di kemudian hari, umat Islam diperintahkan untuk membayar zakat. 2
Menurut Al-Furqon Hasbi dalam bukunya “125 Masalah Zakat” disebutkan bahwa awal Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, zakat belum dijalankan. Pada waktu itu, Nabi Muhammad, para sahabat, serta kaum muhajirin yang turut hijrah bersama Nabi dari Mekah ke Madinah masih disibukkan dengan usaha untuk menghidupi diri dan keluarganya di tempat baru tersebut. Saat itu, tidak semua orang mempunyai kecukupan dalam perekonomian, kecuali Usman bin Affan, karena harta kekayaan semua mereka tinggalkan di Mekah ketika hijrah. 3
Kaum Anshor, yaitu orang-orang Madinah yang menyambut dan membantu Nabi dan para sahabat yang berhijrah dari Mekah, pada saat itu menyambut dan memberikan
1 Sumber : http://pusat.baznas.go.id/zakat-peternakan/ 2 Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Zakat
keramahtamahan yang luar biasa, namun bukan lah adat orang Arab pada saat itu untuk membebani orang lain. Itu pula sebabnya mereka bekerja keras agar bisa memperoleh kehidupan yang baik.
Kebetulan, kaum Muhajirin yang mengikuti Nabi berhijrah kebanyakan adalah ahli berdagang. Dikisahkan, pada suatu hari Saad bin ArRabi menawarkan hartanya kepada Abdurrahman bin Auf, tapi Abdurahman menolaknya, dan sebaliknya ia hanya minta ditunjukkan jalan ke pasar. Ternyata sesampai di pasar, Abdurrahman mulai berdagang mentega dan keju, dan dalam waktu tidak terlalu lama perdagangannya semakin maju dan ia menjadi kaya kembali sebagaimana sewaktu di Mekah. Kesukaan orang Mekah pada perdagangan ini sampai diungkapkan dalam Al Quran yaitu antara lain di Surat An Nur ayat 37 :
“Orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari kiamat).”
Pada saat itu, tidak semua orang Muhajirin mencari nafkah dengan berdagang, sebagian ada yang menggarap tanah milik orang-orang Anshor. Tidak sedikit pula yang mengalami kesulitan dalam hidupnya. Untuk mereka yang mengalami kesulitan perekonomian tersebut, Nabi menyediakan tempat berupa sebuah shufa (bagian masjid yang beratap) sebagai tempat tinggal mereka. Oleh karena itu, mereka disebut Ahlush Shuffa (penghuni shuffa). Untuk mencukupi kebutuhan para ahlush shuffa ini kaum Muhajirin maupun Anshor yang mampu membantu berupa sedekah. 4
Ketika para ahlush shuffa ini mulai meningkat kehidupannya maka pada saat itu pula mulai keluar perintah untuk berzakat. Zakat ini pada mulanya berupa infaq yang harus dikeluarkan seseorang kepada fakir miskin dan kepentingan pembelaan agama. Sementara jumlah banyak dan sedikitnya sendiri tidak atau belum ada batasan. Baru pada tahun ke dua setelah Hijrah, zakat kemudian dijadikan pokok ibadah yang harus dilakukan oleh setiap muslim apabila telah memiliki harta pada batas-batas yang ditetapkan, sebagaimana tertera di dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 267, yang artinya kurang lebih sebagai berikut:
"Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji."
Selain itu Al Quran surah al-Baqarah ayat 277, juga menyebutkan tentang zakat, yang artinya kurang lebih sebagai berikut:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh lagi mendirikan shalat dan membayar zakat, untuk mereka itu pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa ketakutan atas mereka dan tiada rasa berduka cita bagi mereka.”
Setelah turunnya ayat ini, kewajiban zakat juga kemudian dirinci lagi melalui ayat-ayat yang turun kemudian, dan juga melalui penjelasan dari Nabi, sehingga kewajiban zakat menjadi semakin jelas.
Dilihat dari pembahasan fiqih tentang basis-basis keuangan Islam, zakat dan sedekah digunakan secara bergantian. Namun jika melihat kata zakat, yang berasal dari bahasa Arama, memiliki arti yang lebih spesifik daripada sedekah (shadaqah) –yang diberikan dengan sukarela —dan secara tidak langsung mengungkapkan pemberian yang bersifat amaliah umum.5
Secara terminologis, zakat merupakan bagian dari harta yang wajib dibayarkan oleh setiap muslim yang memenuhi syarat, untuk diberikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya menurut ajaran Islam. Kewajiban zakat sangat fundamental, dan berkaitan erat dengan aspek-aspek ketuhanan maupun sosial ekonomi. Secara sederhana, zakat menurut pengertian secara istilah syar'i adalah kadar harta yang tertentu, diberikan kepada yang berhak menerimanya dengan syarat-syarat tertentu pula.6
5Irfan Mahmud Ra’ana, System Ekonomi Pemerintahan umar Ibn al-Khatab, terj. Mansuruddin Djoely, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1990, hlm: 75
Dalam Al Quran, posisi zakat dan sholat dianggap hampir sama pentingnya. Kita bisa melihat ini dari 30 ayat yang dalam Quran yang menyebut tentang zakat, ada 27 ayat diantaranya dimana kewajiban berzakat disebutkan bersama-sama dengan kewajiban sholat. Kita lihat misalnya surah al-Baqarah [2]: 83, 110; An-Nisa[4]:77; At-Taubah [9]:5,11,18,71; Maryam[19]:31,55; Al-Anbiya[21]: 73; Al-Hajj[22]:41; An-Nur[24]:55-56; An-Naml[27]:3; dan Lukman[31]:4). Nabi pun menegaskan bahwa zakat merupakan kewajiban yang termasuk pada pilar utama yang menegakkan rukun Islam. Sabda Nabi Muhammad tentang hal ini yaitu sesuai diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim :
"Islam adalah engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya, Engkau mengerjakan Shalat, membayar zakat, dan Shaum di bulan Ramadhan"
Tidak terdapat informasi yang jelas apakah sebelum datangnya Islam di jazirah Arab pernah ada pajak atau pungutan yang berbentuk seperti zakat.
Dalam teori sosiologi, kemiskinan akan berakibat keresahan jika terjadi dalam situasi yang berhadapan secara kontras dengan kemewahan. Oleh sebab itu Islam tidak melarang umatnya untuk mencari kekayaan sebanyak-banyaknya asalkan ia mampu menjaga kestabilan kondisi sosial (mencegah terjadinya social unrest) yakni dengan mendistribusikan kekayaannya kepada orang yang kurang beruntung. Atau dengan kata lain, kekayaan yang berhasil dikumpulkan oleh umat Islam tersebut mengandung suatu hak kaum lain yang mana wajib atasnya untuk dikeluarkan, yaitu hak para mustahik zakat, terutama fakir miskin. Di bawah ini adalah golongan mereka yang berhak menerima zakat :
1. Fakir; mereka yang hampir tidak memiliki apa-apa sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok hidup
2. Miskin; mereka yang memiliki harta namun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar untuk hidup
3. Amil; mereka yang mengumpulkan dan membagikan zakat
4. Mu’allaf; mereka yang baru masuk Islam dan membutuhkan bantuan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan barunya
6. Gharimin; mereka yang berhutang untuk kebutuhan yang halal dan tidak sanggup untuk memenuhinya
7. Fisabilillah; mereka yang berjuang di jalan Allah, melalui perang, dakwah, dan sebagainya
8. Ibnu Sabil; mereka yang kehabisan biaya di tengah perjalanan7
Dengan melihat tujuan zakat dan faktor terjadinya permasalahan hubungan sosial, maka jelas bahwa kedudukan zakat dalam Islam, selain fungsi religius sebagai tempat membuktikan ketaqwaan terhadap aturan-aturan Allah SWT., zakat juga mempunyai fungsi sosiologis yaitu menetralisis hal-hal yang menyebabkan terjadinya ketidakharmonisan kehidupan bermasyarakat yaitu faktor kesejahteraan masyarakat.
Zakat juga mengarahkan umat Islam ke arah yang lebih mulia, yaitu dengan kekuatan ekonomi yang dibangun dari kesadaran berzakat umat, maka umat Islam telah menguatkan agama dan saudara sesama muslim. Laik jika kemudian Nabi Muhammad Rasulallah SAW menganjurkan kepada para amil zakat atau siapapun yang menerima harta zakat, untuk mendoakan mereka dengan sholawat, doa yang sama yang diucapkan untuk Nabi.
Perundang-undangan Zakat di Indonesia
Sejak Islam datang ke tanah air kita, zakat telah menjadi satu sumber dana untuk kepentingan pengembangan agama Islam. Dalam perjuangan bangsa Indonesia menentang penjajahan Barat pendahulu, zakat merupakan sumber dana perjuangan ketika satu persatu tanah air kita dikuasai oleh penjajah Belanda. Pemerintah Kolonial itu mengeluarkan Bijblad Nomor 1892 tanggal 4 Agustus 1893 yang berisi kebijaksanaan pemerintah kolonial mengenai zakat. Yang menjadi pendorong pengeluaran peraturan tentang zakat itu adalah alasan klasik rezim kolonial yaitu mencegah terjadinya penyelewengan keuangan zakat oleh para penghulu atau naib bekerja untuk melaksanakan administrasi kekuasaan pemerintah Belanda, tapi tidak diberi gaji atau tunjangan untuk membiayai hidup dan kehidupan mereka beserta keluarganya. Dan untuk melemahkan (dana) kekuatan rakyat yang bersumber dari zakat itu. Pemerintah Hindia Belanda
melarang semua pegawai pemerintah dan priyayi pribumi ikut serta membantu pelaksanaan zakat.8
Perhatian pemerintah terhadap lembaga zakat mulai meningkat pada tahun 1968. Pada tahun itu, pemerintah mengeluarkan peraturan Menteri Agama Nomor 4 dan Nomor 5 / 1968. Masing-masing tentang pembentukan Badan Amil Zakat dan pembentukan Baitul Mal ( Balai Harta Kekayaan ) di tingkat pusat, propinsi dan kabupaten/kotamadya. Setahun sebelumnya, yakni pada tahun 1967, pemeritah telah pula menyiapkan RUU zakat yang akan diajukan kepada DPR untuk disahkan menjadi undang-undang. Menteri Keuangan, pada waktu itu, dalam jawabannya kepada Menteri Agama, menyatakan bahwa peraturan mengenai zakat tidak perlu dituangkan dalam undang-undang, cukup dengan peraturan Menteri Agama saja. Karena pendapat itu, Menteri menunda pelaksanaan peraturan Menteri Agama No 4 dan No 5 Tahun 1968 tersebut di atas. Kemudian beberapa hari setelah itu, pada peringatan Isra’ dan Mi’raj di Istana Negara tanggal 22 Oktober 1968, Presiden Soeharto manganjurkan untuk menghimpun zakat secara sistematis dan terorganisasi seperti Badan Amil Zakat Nasional yang dipelopori oleh Pemerintah Daerah khusus Ibukota Jakarta.Dengan di pelopori Pemerintah Daerah DKI Jaya yang pada waktu itu dipimpin oleh Gubernur Ali Sadikin, berdirilah di Ibukota ini Badan Amil Zakat, Infak dan Sedekah (disingkat BAZIS ). Pada tahun 1968 yang terbentuk diberbagai daerah.9
Sebagaimana dilansir dalam situs resmi Baznas, sejak tahun 1964 Indonesia telah memulai penyusunan Rancangan Undang-Undang tentang Pelaksanaan Zakat, dan rancangan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tentang Pelaksanaan Pengumpulan Pembagian Zakat serta pembentukan Baitul Maal. Namun pada saat itu proses penyusunan rancangan UU tersebut berhenti di tengah jalan karena situasi politik dan Negara yang tidak memungkinkan.10
Pada masa Orde Baru, rancangan UU tentang Zakat diajukan oleh Menteri Agama pada saat itu KH M Dachlan kepada Pemimpin DPR-GR tahun 1967, namun upaya tersebut gagal karena tidak tercapai kesepakatan dengan menteri keuangan Frans Seda, yang berpendapat bahwa zakat tidak perlu diatur dalam undang-undang.
8 Sumber : http://konsultasi-hukum-online.com/2013/07/sejarah-perkembangan-zakat-di-indonesia/ 9 Ibid.
Baru pada masa pemerintahan BJ Habibie lahirlah UU Pengelolaan Zakat. Menteri Agama pada saat itu yaitu Malik Fajar mengajukan UU ini kepada Ketua DPR-MPR saat itu yaitu Harmoko. Perjalanan panjang UU Pengelolaan Zakat mencapai babak baru ketika pada 27 Oktober 2011 Rapat Paripurna DPR-RI mensahkan RUU Pengelolaan Zakat Infak dan Shadaqah menjadi Undang-Undang Pengelolaan Zakat sebagai pengganti UU no.38 tahun 1999.
Pengelolaan zakat secara terlembaga di Indonesia terhitung sejak berdirinya Bazis DKI pada tahun 1968, yang kemudian disusul pula oleh banyak lembaga serupa. Peran lembaga-lembaga ini tidak hanya mengumpulkan zakat, namun juga sebagai agen-agen untuk sosialisasi zakat yang dilakukan secara terorganisir dan massif.
Namun lahirnya UU Pengelolaan Zakat ini bukannya tanpa kontroversi. Sebagian pihak menganggap UU ini terlalu sentralistik dalam pelaksanaannya. Sebagian lembaga amil zakat (LAZ) yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Zakat mengajukan permohonan uji materi terhadap UU Pengelolaan Zakat ini. UU ini digugat ke Mahkamah Konstitusi karena tiga hal yaitu :
1. Pertama, terkait masalah sentralisasi dalam pengelolaan zakat dimana pasal 6 dan pasal 17 UU ini menyatakan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) lah yang berhak mengelola zakat di tanah air, sementara posisi LAZ hanya untuk membantu Baznas.
2. Kedua, terkait dengan pembatasan pembentukan LAZ dimana pasal 18 ayat 2 UU zakat menyatakan LAZ hanya bisa berdiri di atas badan hukum organisasi kemasyarakatan (ormas), padahal banyak LAZ yang telah lama berdiri melalui badan di luar ormas. 3. Ketiga, terkait masalah kriminalisasi amil (pengelola) zakat dimana pasal 38 UU zakat
menyatakan hanya pihak yang mendapat izin dari pejabat yang berwenang yang dapat mengelola zakat. Padahal kenyataannya banyak pengelolaan zakat di seluruh institusi Islam seperti di masjid-masjid, atau mushala-mushala.11
Dalam kesempatan seminar membahas UU Pengelolaan Zakat tahun 2011 ini, Ketua Panja UU Zakat yaitu H. Gondo Radityo mengungkapkan bahwa UU zakat ini mempunyai beberapa pesan dan muatan. Yang pertama, secara konstitusional, bahwa UU Pengelolaan Zakat sesuai dengan UUD RI tahun 1945 pasal 20, 21, 29, dan 34 ayat 1. Kedua, secara ideologis, bahwa Negara berkewajiban menata dan mengatur tata laksana dalam rangka peningkatan
kualitas umat melalui pengelolaan zakat yang efektif dan efisien. Ketiga, secara filosofis, UU Pengelolaan Zakat ini bertujuan memotong mata rantai kemiskinan. Keempat, secara sosio-politik, UU ini hendak mendorong adanya integrasi, sinergi dan koordinasi yang jelas dalam pengelolaan dana zakat dan dana sosial keagamaan lainnya, serta dapat terpadu dari pusat sampai daerah sehingga menciptakan program-program tepat sasaran, jumlah, dan waktu bagi para mustahik zakat.12 Dalam UU zakat tahun 2011 ini pula tercetus usulan adanya zakat sebagai
unsur pengurang pajak.
Mengenai zakat sebagai pengurang pajak, Prof Dr Didin Hafidudin mengatakan bahwa13 :
Setiap muzaki yang melakukan pembayaran zakat melalui Badan Amil Zakat (menurut nomenklatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 berubah menjadi BAZNAS, BAZNAS Provinsi dan BAZNAS Kabupaten/Kota) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang teregistrasi mendapat insentif dalam kaitan dengan pembayaran pajak penghasilan, yaitu bukti pembayaran zakat atau disebut Bukti Setoran Zakat diperhitungkan sebagai komponen biaya yang menjadi pengurang penghasilan kena pajak atau disebut “pengurang penghasilan bruto”. Pembayaran zakat atas gaji karyawan melalui Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Kementerian/Lembaga dan BUMN baik dilakukan secara tunai maupun payroll system juga diakomodasi sebagai pengurang penghasilan kena pajak, dengan syarat UPZ tersebut menyetorkan dana zakat yang terkumpul kepada BAZNAS dan atas dasar itu BAZNAS menerbitkan kwitansi bukti setoran zakat.Terkait dengan itu, dalam Undang-Undang tentang Pengelolaan Zakat (UU No 23 Tahun 2011) bahwa BAZ atau LAZ wajib memberikan bukti setoran zakat kepada setiap muzaki. Bukti setoran zakat tersebut digunakan sebagai pengurang penghasilan bruto dalam pengisian SPT tahunan.Pembayaran zakat sebagai pengurang penghasilan kena pajak (penghasilan bruto) telah berlaku sejak 2001. Namun sampai saat ini masih banyak Wajib Pajak orang pribadi pemeluk agama Islam atau pembayar zakat (muzaki) yang belum memanfaatkan pengurangan penghasilan bruto atas Pajak Penghasilan (PPh) tersebut. Untuk itu amil zakat dan pegawai pajak di semua kantor pelayanan diharapkan dapat memberi informasi dan penjelasan kepada para muzaki dan Wajib Pajak yang dilayaninya.Penting diketahui bahwa pengurang penghasilan bruto sebetulnya tidak hanya zakat atas penghasilan yang dibayarkan oleh Wajib Pajak orang pribadi pemeluk agama Islam, tetapi
12 Notulensi Diskusi UU Zakat, tanggal 24 November 2011, di dalam tautan :
juga berlaku untuk zakat penghasilan yang dibayarkan oleh Wajib Pajak badan dalam negeri yang dimiliki oleh pemeluk agama Islam kepada badan atau lembaga zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah.
Dalam ketentuan perpajakan yang berlaku di negara kita, khususnya yang terkait dengan PPh adalah Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 dan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2010 bahwa zakat atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib dikurangkan dari penghasilan bruto. Kebijakan Ditjen Pajak juga menetapkan bahwa terhadap Wajib Pajak orang pribadi yang ketika penyampaian SPT Tahunan PPh yang menyatakan kelebihan bayar (termasuk lebih bayar karena pemotongan zakat), niscaya akan dilakukan pengembalian kelebihan pembayaran pajaknya tanpa melalui pemeriksaan, tetapi cukup dengan penelitian oleh pegawai pajak.
Upaya mensosialisasikan zakat sebagai pengurang penghasilan bruto, tidak cukup hanya dilakukan oleh BAZNAS dan Kementerian Agama saja. Tetapi membutuhkan koordinasi, kerjasama dan sinergi dengan instansi terkait, terutama jajaran Direktorat Jenderal Pajak. Koordinasi, kerjasama dan sinergi itulah yang ke depan perlu dibangun di tingkat institusi, karena bagi umat Islam zakat dan pajak adalah dua kewajiban yang seiring dan paralel.
Potensi zakat yang sangat besar untuk kemajuan umat Islam dan rakyat Indonesia secara keseluruhan sudah seharusnya dikelola dengan baik agar dapat digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Potensi zakat di Indonesia per tahun, sekitar 217 triliun Rupiah menurut Aida S. Budiman – Direktur Eksekutif Departemen Internasional Bank Indonesia.14
Namun dari nilai tersebut hanya sekitar 2,7 triliun Rupiah saja potensi zakat yang berhasil diserap oleh Baznas beserta lembaga amil zakat lain di seluruh Indonesia. Penyerapan itupun sebagian besar habis untuk membeli sembako saja, padahal masih banyak program jangka panjang yang bisa didanai dengan dana zakat contohnya untuk dana pendidikan.
Sebagai penutup kami simpulkan bahwa zakat dalam Islam selain memiliki fungsi religious sebagai symbol ketaatan kepada Allah SWT juga berfungsi sosiologis yaitu sebagai pemerataan pendistribusian harta kepada kaum yang tidak mampu. Potensi zakat yang begitu