Kebijakan Nasional untuk
Mendorong Pengakuan hak
Masyarakat Adat atas Wilayahnya
Nurul Firmansyah, SH. M.Si
(HuMa)
Disampaikan dalam lokakarya “Mendorong Pengakuan Wilayah
Adat Bali Melalui Integrasi Sistem Informasi Wilayah Adat”
Ruang Lingkup Pembahasan
1. Putusan MK 35 sebagai pilar (milestone)
pengakuan masyarakat hukum adat dan
hak-haknya terutama terhadap wilayah
adat
2. Pengakuan MHA sebagai Subjek Hukum
dan Pengakuan hak atas wilayahnya
3. Mengenal Konsep MHA
4. Khusus : Desa Adat
(1)
Putusan MK 35 sebagai pilar
(milestone) pengakuan
masyarakat hukum adat dan
hak-haknya terutama terhadap
“
Putusan
MK 35”
Putusan MK
UU Kehutanan
Hutan negara
(hutan adat
bagian dari
hutan negara
Hutan Hak
Permohonan
Hutan Negara
Hutan Hak
Hutan Adat
Hutan Negara
Hutan hak
(terdiri dari
hutan adat dan
hutan
perseorangan/
Perubahan status hutan adat
Kawasan Hutan
Hutan Negara
Hutan
Hak
Hutan
Adat
Kawasan Hutan
Hutan
negara
Hutan
Adat
Hubungan penguasaan hutan
dengan status tanah
Hutan Negara
Hutan
perseorangan /
Badan hukum
Hutan Adat
Tanah Negara
Tanah Hak Milik dan
Hak Atas Tanah
dalam UUPA
Tanah Hak Ulayat
atas wilayah Adat :
1. Hak ulayat dimensiPublik
MK: Kontribusi dan keterbatasan
Kontribusi
•
Pembatasan kekuasaan
negara
•
Pengutamaan hak warga
negara dan atau kelompok
masyarakat (komunitas)
Keterbatasan
•
Putusan bersifat prospektif
•
Mengadili norma hukum, tidak
menyelesaikan persoalan
konkret
•
Khusus Pengakuan MHA ada
(2)
Pengakuan MHA sebagai
Subjek Hukum dan Hak atas
Pengakuan MHA Sebagai Subjek Hukum
Kerangka Hukum
Pengakuan MHA
1. Pengakuan bersifat kolektiva sebagai kesatuan MHA beserta hak-hak
tradisional/hak asal usul. Hak individual anggota MHA berada dalam ranah hak kewarganegaraan
2. Hak MHA terkait dengan
“Identitas Budaya Asal Usul” yang melekat terutama pada wilayah adat/sumber alam dan merupakan bagaian dari HAM 3. Pengakuan melalui UU yang
saat ini belum lahir UU khusus 4. Mengisi kekosongan hukum,
MK memutus untuk
mendelegasikan pengakuan MHA oleh negara kepada Pemda melalui Penetapan MHA melalui Perda
5. UU Desa adalah salah satu pengakuan MHA melalui UU dalam bentuk “desa adat” yang meneruskan mekanisme penetapan melalui Perda
Model / Bentuk Kelembagaan MHA dan
Mekanisme Penetapan
N o
Kelembagaa n
Istilah atas Wilayah dan Hak adatnya
Mekanisme penetapan
Dasar Hukum
1 Masyarakat Hukum Adat
• Istilah Objek : Wilayah Adat
• Corak Hak : Hak
ulayat/Beschikkingsrecht
• Perda Kab/kota utk MHA yang berada di wil. Kab/Kota
• Perda Provinsi yang MHA berada di lintas kab/kota
• “Keputusan kepala daerah”
• Pasal 67 UUK (diperkuat MK 35)
• Permen LHK 32/2015
• Permendagri 52/2014
2 Desa Adat • Istilah Objek : Wilayah Adat, Tanah Ulayat, Asset Desa Adat
• Corak Hak : Hak
ulayat/Beschikkingsrecht yang diistilah juga
dengan hak asal usul dan hak tradisional, juga menggunakan istilah
“kewenangan
berdasarkan hak asal usul”
• Perda Provinsi untuk susunan dan masa jabatan kepala desa adat
• Perda kab/kota untuk
penetapan desa adat
• UU 6/2014 tentang Desa
“
Penetapan MHA melalui Perda
adalah pra kondisi
mengembalikan hak atas
wilayah adat (terutama dalam
(3)
Konsep Masyarakat Hukum Adat
•
Masyarakat Hukum Adat sebagai
Adat
Rechtsgemeenschappen
dalam literatur
Hukum Adat :
–
Adat rechtsgemeenshappen berakar dari konsep
gemeinschaft
–
Gemeinschaft menjadi persekutuan hukum
(rechtsgemeenschappen) jika : mempunyai tata
susunan yang kekal, tidak ada keinginan anggota
untuk membubarkan diri, mempunyai pengurus
sendiri dan harta bersama (Ter Haar).
–
Mempunyai kedaulatan atas wilayah yang disebut
dengan Beschikkingsrechts yang berdimensi publik
dan privat
–
Adat rechtsgemeenscappen mempunyai susunan yg
terbagi tiga : geneologis, teritorial,
teritorial-geneologis
–
Adat rechtgemeenscappen merupakan unit sosial
dari rechtskringen (19 wilayah bekerjanya hukum
adat)/Kulturkreise
–
Adat rechtsgemeenschappen sebagai unit sosial
adalah pemangku hukum adat
•
Kriteria keberadaan masyarakat
hukum adat (actual existing) tafsir
Mahkamah Konstitusi :
–
Ada masyarakat yang warganya memiliki
perasaan kelompok (in group feeling)
–
Ada pranata pemerintahan adat
–
Ada harta kekayaan dan/atau
benda-benda adat
–
Ada perangkat norma hukum adat
–
Terdapat unsur adanya wilayah tertentu
–
Kriteria diatas tidak bersifat kumulatif
–
Adat rechtsgemeenscappen mempunyai
susunan yg terbagi tiga : geneologis,
teritorial, teritorial-geneologis, dan
Masyarakat Adat dan Masyarakat Hukum Adat
Masyarakat Adat
Masyarakat Hukum Adat
Satuan manusia se-identitas
Satuan manusia sewilayah (teritori)
Hidup secara de facto
Hidup secara de jure
Berbasis budaya (Culturally based)
Berbasis politik (Politically based)
(4)
Jenis Hak Wilayah Adat dan Mekanisme Pengakuan Haknya
No Jenis Hak Adat Unit Sosial Kawasan Hutan Non Kawasan
Hutan
Mekanisme Penetapan Hak
1 Hak Ulayat bagian dari hutan hak 2. Desa Adat :
Asset Desa Adat
1. MHA : “Hak ulayat” 2. Desa Adat :
Asset Desa Adat
1. Di kawasan hutan melalui mekanisme Permen 32/2015 yang dipersyaratkan terlebih dahulu pengakuan MHA/Desa Adat melalui Perda/kep.Kepala daerah kab/kota
2. Hak MHA diluar kawasan hutan mengalami kekosongan hukum sejak Permen Agraria 5/1999 dicabut oleh Permen ATR 9/2015 yang kemudian diubah dengan Permen ATR 10/2016 3. Hak Desa Adat diluar kawasan hutan
menjadi asset desa adat termasuk tanah/wilayah adat
2 Hak Milik Adat (Hak Komunal)
Klan, Keluarga yang
merupakan bagian dari MHA atau Desa Adat
1. Hutan Adat yang
merupakan bagian dari hutan hak
1. Hak komunal 1. Baik dikawasan hutan maupun diluar kawasan hutan tidak mempersyaratkan pengakuan unit sosial MHA dalam bentuk Klan, Keluarga
2. Diawali dengan Identifikasi dan verivikasi IP4T (panitia adhoc) 3. Hasil identifikasi dan verivikasi
dipaduserasi dengan rencana tata ruang-jika berada di kawasan hutan diajukan permohonan untuk
dikeluarkan
4. Bupati/walikota dan gubernur untuk Penatapan
Format Kelembagaan Desa Dalam UU Desa
Kewenangan berdasarkan hak asal usul
Kewenangan untuk membentuk struktur desa adat berdasarkan adat
Kewenangan menjalankan hukum adat
Kewenangan menjalankan administrasi desa
Desa Adat
Lembaga Semi Formal (Quasi Negara)
Lembaga Adat
Otonomi lokal berskala desa
Kewenangan menjalankan administrasi desa