• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tiga Strategi Manajemen Sistem Informasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Tiga Strategi Manajemen Sistem Informasi"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

P e n d a h u l u a n

SERI 999 E-ARTIKEL SISTEM DAN TEKNOLOGI INFORMASI PROF. RICHARDUS EKO INDRAJIT

HALAMAN 1 DARI 4 (C) COPYRIGHT BY RICHARDUS EKO INDRAJIT, 2012

Tiga Strategi Manajemen Sistem Informasi

oleh Prof. Richardus Eko Indrajit - [email protected]

EKOJI

999

Nomor 103, 20 Desember 2012

(2)

Setiap  perusahaan  memiliki  rencana  korporat  yang  disusun  dan  direvisi  secara  berkala.  Dokumen rencana yang dikenal sebagai business plan ini secara prinsip menjabarkan strategi  perusahaan,  dengan  segala  kelebihan  dan  keterbatasan  sumber  daya  yang  dimiliki,  dalam  proses  pencapaian  visi  dan  misi  usahanya.  Dikatakan  sebagai  strategi  karena  tidak  hanya  berisi deskripsi global mengenai hal‐hal yang ingin dicapai dalam jangka panjang saja, namun  berisi  ringkasan perencanaan dan  pengembangan  sumber daya‐sumber daya yang  dimiliki,  seperti keuangan,  manusia,  asset,  dan lain sebagainya.  Strategi  Manajemen Sistem Informasi  merupakan sub‐bagian dari sebuah business plan, terutama bagi perusahaan dimana peranan  sistem  informasi  dinilai  sangat  kritikal  bagi  kelangsungan  hidup  organisasi.  Ada  tiga  pilar  utama  yang  harus  diperhatikan  dalam  penyusunan  strategi  tersebut,  yaitu:  Information  System Strategy (IS Strategy), Information Technology Strategy (IT Strategy), dan Information  Management Strategy (IM Strategy). 

Hal pokok yang harus  dipertimbangkan masak‐masak dalam penyusunan IS Strategy adalah  bagaimana  mende�inisikan  kebutuhan  akan  sistem  informasi  yang  mendukung  kebutuhan  bisnis  korporat  secara  umum.  Setiap  perusahaan  memiliki  kebutuhan  yang  unik  akan  informasi.  Kebutuhan  tersebut  tidak  hanya  terbatas  pada  jenis  maupun  karakteristik  informasi  saja,  namun  lebih  jauh  lagi  menyangkut  relevansi  informasi  yang  dihasilkan,  kecepatan alir informasi dari satu bagian ke bagian lain dalam organisasi, kualitas keakuratan  informasi,  target  nilai  ekonomis  informasi  yang  diperoleh,  batasan  biaya  yang  harus  dikeluarkan  dalam  pengolahan  informasi,  struktur  para  pengguna  informasi,  dan  lain  sebagainya.  Untuk  menjamin  agar  informasi  dapat  mengalir  dengan  baik  dalam  sebuah  organisasi, sehingga dapat mendukung segala perencanaan korporat yang telah disusun, perlu  dikembangkan sebuah sistem  informasi  perusahaan.  Melihat bahwa  dalam sistem  informasi  tersebut  banyak  sekali  terlibat  komponen‐komponen  internal  organisasi  dan  komponen‐ komponen eksternal lain, maka perlu adanya strategi khusus untuk menjamin terjadinya “the  �low of information” yang efektif dan berkualitas.

Sumber: Leicester University, 1997

Di  era  modern ini,  komponen  utama  yang  dibutuhkan  untuk  menghasilkan  sebuah  sistem  informasi yang efektif dan e�isien adalah teknologi informasi. Teknologi informasi merupakan  sebuah domain dari produk‐produk hasil perkembangan ilmu komputer dan telekomunikasi.  Pada  kenyataannya,  saat  ini  terdapat  beragam  tipe  produk‐produk  yang  berkaitan dengan 

SERI 999 E-ARTIKEL SISTEM DAN TEKNOLOGI INFORMASI PROF. RICHARDUS EKO INDRAJIT

(3)

teknologi informasi yang secara garis besar dapat dibagi dua: perangkat keras dan perangkat  lunak.  Pada  jajaran  perangkat  keras  dikenal  produk‐produk  seperti  komputer,  printer,  monitor,  modem,  router,  hub,  scanner,  hard  disk,  disk  drive,  CD‐ROM  device,  dan  lain  sebagainya;  sementara  pada  jajaran  perangkat  lunak  dikenal  istilah‐istilah  seperti  sistem  operasi, database, spreadsheet, aplikasi, word processor, protocol, dan lain sebagainya. Sesuai  dengan tipe dan fungsinya,  masing‐masing kelas produk  tersebut masih dibagi  lagi menjadi  berbagai jenis variasi yang selalu berkembang dari waktu ke waktu sesuai  dengan kemajuan  teknologi yang ada.  Fenomena yang terlihat sehubungan dengan hal ini adalah berlombanya  beribu‐ribu  perusahaan  untuk  menciptakan  produk‐produk  yang  dapat  dijadikan  standar  internasional  pada  kelasnya  masing‐masing.  Dari  kenyataan ini  saja  sudah terlihat,  bahwa  perusahaan  memerlukan  strategi  khusus  paling  tidak  dalam  memilih  teknologi  mana  saja  yang  akan  dibeli  dan  dimanfaatkan  agar  dapat  dikembangkan  sistem  informasi  yang  dibutuhkan.  Alasan  lain  diperlukannya  IT  Strategy  ini  adalah  karena  adanya  suatu  resiko  tertentu  yang  akan  menjadi  tanggungan  perusahaan  sehubungan  dengan  pemilihan  suatu  teknologi tertentu. Contohnya adalah sebagai berikut:

Perkembangan  teknologi  informasi  sedemikian  cepatnya  (tumbuh  secara 

eksponensial) sehingga usia suatu produk  tertentu sangat pendek karena tergantikan  dengan versi yang baru yang lebih baik;

Untuk  satu jenis  kelas produk,  terdapat beribu‐ribu vendor yang menjualnya dengan 

kelebihan dan kekurangan kualitas produk dan pelayanan yang dimiliki;

Sistem  teknologi  informasi  terdiri  dari  ratusan  komponen  berbeda  yang  disatu  sisi 

saling independen, sementara di sisi lain memiliki ketergantungan yang sangat tinggi;

Perusahaan dapat  melihat  infrastruktur  teknologi  informasi  ini  dari  berbagai  sudut 

pendekatan, seperti teknologi informasi sebagai cost center,  pro�it center, investment  center,  atau  service  center  yang  masing‐masing  memiliki  cara  penanganan  yang  berbeda;

Teknologi informasi yang dibangun harus secara signi�ikan menjawab kebutuhan akan 

informasi  yang  telah  dide�inisikan  pada  IS  Strategy  dengan  catatan  tetap  mempertimbangkan  keterbatasan  perusahaan  (misalnya  biaya  investasi  dan  kemampuan sumber daya manusia); dan lain sebagainya.

Katakanlah  IS  Strategy  dan  IT  Strategy  sudah disusun  dengan  baik.  Lalu  siapa  yang  akan  melaksanakannya?  Seandainya  telah  dipilih  satu  tim  khusus  (misalnya  Divisi  Teknologi  Informasi  atau  Konsultan  Teknologi  Informasi),  bagaimana  strateginya  supaya  efektif?  Disinilah diperlukannya strategi ketiga yaitu IM Strategy. Dalam IM Strategy harus dijabarkan  bagaimana  strategi  perusahaan  agar  target  pembentukan  sebuah  sistem  informasi  yang  handal  dengan  me‐utilisasikan  teknologi  informasi  yang  ada  dapat  diterapkan  secara  operasional  (manajemen  pengelolaan  sistem  informasi),  baik  untuk  jangka  pendek,  jangka  menengah,  dan  jangka  panjang,  sejalan  dengan  tumbuhnya  perusahaan  di  masa‐masa  mendatang.  Tekanan  strategi  di  sini  tidak  hanya  pada  siapa  yang  akan  bertanggung jawab  terhadap implementasi  sistem  informasi, tetapi lebih jauh lagi  pada bagaimana sistem  yang  telah dibangun dapat dipelihara dan dikembangkan di kemudian hari. 

Dari  paparan singkat mengenai  ketiga strategi  tersebut dapat  dilihat  hubungan keterkaitan  yang cukup erat di antaranya (Earl, 1989):

 IS  Strategy  lebih  menekankan  pada  sisi  demand perusahaan  akan  perlunya  sebuah  sistem  yang  dapat  menjamin  terciptanya  aliran  informasi  yang  e�isien  dan  efektif; 

SERI 999 E-ARTIKEL SISTEM DAN TEKNOLOGI INFORMASI PROF. RICHARDUS EKO INDRAJIT

(4)

dimana IT Strategy yang berada dalam sisi supply akan menjawab tantangan tersebut  dalam bentuk penentuan spesi�ikasi  teknologi yang diperlukan; dan IM Strategy akan  menggambarkan  jalan  yang  harus  ditempuh  agar  target  pengembangan  dan  implementasi sistem informasi dapat menjadi kenyataan; dan

 IS Strategy lebih menekankan pada hubungan antara informasi dan kebutuhan bisnis  perusahaan;  sementara  pada  IT  Straegy  fokus  pembahasan  lebih  ditekankan  pada  teknologi  yang harus  dimiliki dan dikembangkan; dan IM Strategy lebih berorientasi  pada teknik manajemen yang akan dipergunakan.

Hal  yang  perlu  diingat  bagi  para  praktisi  manajemen,  baik  yang  terlibat  secara  langsung  dalam  pembuatan  ketiga  strategi  di  atas  maupun  sebagai  pihak  yang  dipengaruhi  oleh  pembuatan strategi tersebut, adalah:

Lingkungan bisnis pada era modern ini sedemikian dinamisnya sehingga perusahaan 

harus  selalu mengadakan  peninjauan kembali strategi  bisnis yang dimilikinya secara  berkala dan melakukan revisi‐revisi yang diperlukan;

Antara  ketiga  strategi  tersebut  terdapat  keterkaitan  yang  sangat  erat  sehingga 

perubahan pada salah satu strategi akan sangat mempengaruhi strategi yang lain; dan

Strategi  harus  dapat  diimplementasikan  secara  operasional  sehingga  harus  ada 

pengejawantahannya dalam bentuk tindakan‐tindakan taktis sehari‐hari.

Dengan  kata lain,  tantangan  yang  harus  dihadapi  manajemen  perusahaan adalah membuat  sebuah strategi yang selain harus dapat dengan mudah diimplementasikan, dapat pula secara  cepat dan mudah beradaptasi  (�leksibel) dengan perubahan‐perubahan yang ada, baik  yang  disebabkan  oleh  komponen‐komponen  internal  perusahaan  maupun  karena  aspek‐aspek  lingkungan eksternal lainnya.

‐‐‐ akhir dokumen ‐‐‐

SERI 999 E-ARTIKEL SISTEM DAN TEKNOLOGI INFORMASI PROF. RICHARDUS EKO INDRAJIT

Referensi

Dokumen terkait

(1) Apabila permohonan pemberitahuan pencatatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) telan lengkap Suku Dinas dalam waktu paling lambat 14 (empat belas) han

Hasil penelitian menunjukkan bahwa akuntabilitas dan transparansi mempunyai pengaruh positif baik secara simultan maupun parsial terhadap kinerja Unit Pengelola Kegiatan

Berdasarkan hasil penelitian laboratoris yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa (1) Lama kontak pasta Ca(OH) 2 yaitu dua minggu, empat minggu dan 12

Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Kedaulatan Pangan dan Pertanian yang diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian Universitas Gajah Mada di Yogyakarta pada tanggal 6

Hasil wawancara singkat dengan petugas promosi kesehatan pada tanggal 12 Februari 2008 di Dinas Kesehatan Kota Pematangsiantar menyatakan bahwa rendahnya kinerja tenaga

Berdasarkan hasil simulasi dan analisis menunjukkan bahwa dari sisi delivery probability , overhead ratio, dan average latency, ProPHETv2 memiliki nilai yang lebih

Selama Sepekan lalu, sektor properti mencatatkan pelemahan terbesar mencapai 4,1%, ditekan oleh saham POLL yang melemah sebesar 28,3% yang merupakan emiten dengan market cap terbesar

Karena hasil penelitian yang menggunakan model pembelajaran menyatakan adanya peningkatan hasil belajar siswa, maka dipandang perlu bagi penulis untuk mengetahui