• Tidak ada hasil yang ditemukan

Agama Kecamatan Pondok Suguh

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Agama Kecamatan Pondok Suguh"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

65 Agama Kecamatan Pondok Suguh

Setelah melakukan penelitian, perkawinan bagi anak yang

masih di bawah umur yang bisa dicatatkan di KUA Kecamatan Pondok

Suguh adalah anak yang masih di bawah umur yang sudah dapat

dispensasi pernikahan dari Pengadilan Agama, dan anak yang masih di

bawah umur yang melanggar hukum adat karena paksaan Kepala Adat

dan Kepala Desa setempat (Sumardi, 2017).

Anak yang masih di bawah umur yang melanggar hukum adat

menurut Dayat sebagai salah satu Kepala Adat di Kecamatan Pondok

Suguh adalah :

Hukum adat nan wajib dinikahkan kaluenyung dilanggar adulah nan partamo hamil sebelum nyung nikah, kadau kalau ketahuan babuek maksiat atau berkhalwat, katigu kalaue nyung ketahuan paing busik dengan mete kemudian balik tengak malam mako kalau bagi uhang nan melanggar hukum ko wajib di nikahkan

dengan mamayah dendung (Dayat, 2017).

Maksudnya adalah jika seseorang yang melanggar hukum adat

seperti hamil di luar nikah, ketahuan berbuat maksiat atau berduaan

ditempat sunyi, dan pulang tengah malam dengan pasangannya yang

belum sah maka wajib dinikahkan meskipun masih di bawah umur.

Sumardi selaku kepala KUA Kecamatan Pondok Suguh

memberikan penjelasan mengenai perkawinan di bawah umur ini :

(2)

Data di atas menjelaskan bahwa terkhusus anak yang di bawah

umur yang melanggar hukum adat adalah suatu kebijakan yang diambil

oleh pihak KUA Kecamatan Pondok Suguh. Kebijakan ini diambil karena

biasanya anak yang di bawah umur yang dinikahkan itu melanggar hukum

adatnya. Selain itu kebijakan ini bertujuan untuk menjaga dan membuat

anak yang menikah tersebut merasa mempunyai tanggung jawab terhadap

apa yang telah dilakukan, bukan hanya untuk anak yang menikah itu saja,

tapi pencatatan pernikahan ini juga bertujuan agar orang tua dari anak

tersebut ikut serta menjaga dan membimbing mereka dalam menjalankan

rumah tangganya, (Sumardi, 2017).

Kebijakan ini diambil oleh pihak KUA karena adanya anak

yang masih di bawah umur melanggar hukum adat mereka dinikahkan,

namun pernikahan tersebut tidak tercatat sehingga setelah menikah

sekitar empat atau lima bulan setelah pernikahan banyak terjadi

perceraian. Hal itu terjadi karena suami atau laki-laki dari pernikahan

merasa tidak bertanggung jawab terhadap isterinya, dan kejadian seperti

ini tidak bisa dituntut secara hukum karena pernikahannya tidak tercatat

sehingga tidak mempunyai kekuatan hukum.

Dengan tercatatnya pernikahan tersebut maka pihak yang

menikah dan keluarganya akan merasa lebih bertanggung jawab terhadap

pernikahan yang dilakukan karena mempunyai kekuatan hukum dan bisa

dituntut apabila terjadi pelanggaran terhadap perjanjian pernikahan.

Disamping itu, dengan tercatatnya pernikahan tersebut pihak KUA bisa

memberikan informasi, pemahaman dan pembinaan kepada calon

mempelai sewaktu menikah tentang hak dan kewajiban suami isteri,

bahkan bukan hanya kepada calon mempelai, pemahaman dan pembinaan

juga diberikan kepada orang tuanya agar menjaga, membina, serta

membantu anaknya dalam menjalakan rumah tangganya. Informasi,

pemahaman dan pembinaan ini bertujuan agar berkurangnya angka

(3)

seperti ini melanggar hukum, yang seharusnya anak yang masih di bawah

umur tersebut jika ingin menikah sesuai dengan Undang-undang Nomor 1

Tahun 1974 Tentang Perkawinan harus mendapatkan dispensasi dari

Pengadilan Agama terlebih dahulu. Namun ini adalah suatu kebijakan yang

diambil oleh pihak KUA agar berkurangnya pernikahan di bawah umur,

dan membuat anak atau orang tua tersebut lebih bertanggung jawab.

Sehingga dengan begitu pernikahan di bawah umur akan berkurang dan

anak-anak yang putus sekolah pun akan menjadi berkurang. Hal ini sesuai

dengan diungkapan Sumardi :

Sebenarnyo iko yo melanggar undang-undang perkawinan, dan

kamipun tau itu salah seharusnyo urang tu ngurus dispensasi

perkawinan ke Pengadilan Agamo tapi cakmano lagi kalau idak

dilakukan akan banyak lagi kasus-kasus ko, jadi iko adolah

salah-satu caro kami untuk menguranggi perkawinan dibawah

umur, disamping tu bertujuan agar perkawinan mereka tu

menjago perkawinannyo (Sumardi, 2017).

Adapun faktor penyebab dicatatnya perkawinan di bawah

umur di KUA Kecamatan Pondok Suguh ini adalah:

1.1. Karena adanya paksaan dari pemuka adat di Kecamatan Pondok

Suguh, paksaan yang dimaksud di sini adalah seperti ancaman yang

diberikan kepada pihak KUA jika tidak mau menikahkan pasangan

yang direkomendasikannya tersebut (Sumardi, 2017). Menurut

pengakuan dari Kepala KUA Kecamatan Pondok Suguh hal ini pernah

mengakibatkan pertengkaran antara pihak KUA dengan pemuka adat

di Kecamatan Pondok Suguh pada tahun 2010 dikarenakan pihak KUA

enggan menikahkan pasangan yang masih di bawah umur yang belum

melengkapi persyaratan. Sehingga pada waktu itu pemuka adat dari

Desa Pondok Suguh marah dan melakukan perbuatan yang tidak baik

terhadap KUA Kecamatan Pondok Suguh seperti merusak Kantor KUA

(4)

mengumpulkan tanda tangan satu desa dan di bawa ke Kantor

Kemenag untuk menghentikan atau memindahkan Kepala KUA

Kecamatan Pondok Suguh ternyata usaha mereka tersebut

membuahkan hasil Kepala KUA pada waktu itu dipindahkan tugasnya

ke KUA lain, Jadi untuk menghindari keributan atau pertingkaian agar

tidak terulang lagi, maka pihak KUA mengambil kebijakan mau

menikahkan anak di bawah umur dengan syarat atas permintaan

Kepala Desa dan Kepala Adat setempat (Sumardi, 2017).

Paksaan yang diberikan para pemuka adat disini dikarenakan ada

orang yang masih di bawah umur yang melanggar hukum adat dan

mereka wajib dinikahkan secepat mungkin. Di Kecamatan Pondok

Suguh setiap desanya memiliki beberapa adat yang harus di patuhi,

dimana jika ada yang melanggar hukum adat seperti pasangan

tersebut hamil di luar nikah, pasangan yang pergi main pada malam

harinya dan pulang lewat dari jam dua belas malam, atau karena

didapati pasangan tersebut berduaan dan berbuat maksiat. Bagi

mereka yang melanggar hukum adat yang seperti ini wajib

dinikahkan dan membayar denda. Pernikahan seperti ini sangat

mendesak untuk dilakukan karena jika tidak segera dilakukan maka

pihak keluarga akan menanggung beban moral/aib berkepanjangan

jika tidak segera dinikahkan, disamping itu dikhawatirkan akan

berbuat maksiat berkepanjangan atau bahkan bisa bunuh diri karena

malu, oleh karena itu ini adalah salah satu penyebab bersedianya KUA

Kecamatan Pondok Suguh untuk menikahkan anak yang masih di

bawah umur (Sumardi, 2017).

1.2. Karena jauhnya Pengadilan Agama dari Kabupaten Mukomuko ke Kabupaten Bengkulu Utara dengan jarak tempuh 214,8 km atau 6 jam

perjalanan darat, sehingga perkawinan ini terpaksa dilakukan oleh

KUA Kecaman Pondok Suguh. Pihak KUA mengambil kebijakan ini

(5)

sedangkan untuk mengurus dispensasi perkawinan ke Pengadilan

Agama sangat jauh, dan menempuh proses yang panjang dan sidang

keliling tidak ada dilakukan oleh pihak Pengadilan Agama Arga

Makmur sehingga jika tidak segera dilakukan pernikahan

dikhawatirkan pasangan ini berbuat maksiat ataupun lainnya seperti

bunuh diri karena menanggung beban moral/ aib berkepanjangan di

masyarakat. Kendala Pengadilan Agama yang jauh ini dikarenakan

untuk wilayah Kabupaten Mukomuko sendiri belum adanya

Pengadilan Agama. Untuk Kabupaten Mukomuko Pengadilan

Agamanya masih menumpang ke Kabupaten Bengkulu Utara yang

terletak di Arga Makmur, sampai saat sekarang ini untuk

pembangunan Pengadilan Agama Mukomuko masih dalam

perencanaan hal ini dikarenakan Kabupaten Mukomuko sendiri

merupakan masih kabupaten yang baru hasil dari pemekaran pada

tahun 2003, jadi untuk sementara waktu jika ada yang ingin menurus

masalah perkawinan, kewarisan, wakaf ataupun lainnya harus ke

Pengadilan Agama Arga Makmur terlebih dahulu, untuk menuju ke

Pengadilan Arga Makmur tersebut memiliki jarah tempuh sejauh

214,8 km yang cukup lama yang hanya bisa dilalui melalui kendaraan

jalur darat. Biasanya jarak antara Kabupaten Mukomuko dan Arga

Makmur jika dilalui dengan kendaraan roda dua atau empat bisa

memakan waktu sekitar 6 jam perjalanan, sehingga ini menjadi salah

satu alasan KUA Kecamatan Pondok Suguh mau menikahkan pasangan

yang masih di bawah umur (Sumardi, 2017).

1.3. Karena masih rendahnya pengetahuan masyarakat tentang tatacara

perkawinan menurut hukum yang ada di Indonesia. Hal ini dapat

dilihat dengan banyaknya anak-anak yang putus sekolah, banyak

anak-anak yang ikut orang tuanya bertani, dan kurangnya sosialisasi

tentang hukum perkawinan yang berlaku di Indonesia oleh penyuluh

(6)

dilakukan dalam setahun bisa satu atau dua kali saja di adakan. Oleh

karena itu kebijakan ini juga diambil oleh KUA Kecamatan Pondok

Suguh untuk mengurangi angka pernikahan di bawah umur dan

perceraian yang diakibatkan kurangnya pemahaman masyarakat

tentang perkawinan menurut hukum yang berlaku di Indonesia.

Sehingga dengan dicatatnya perkawinan tersebut pihak KUA bisa

memberi informasi, pemahaman ataupun arahan kepada mereka

mengenai tanggung jawab suami atau isteri dalam pernikahan dan

bagaimana seharusnya sikap orang tua terhadap anaknya yang

menikah di bawah umur. Di samping itu dengan tercatatnya

pernikahan ini bisa juga membuat mereka lebih merasa bertanggung

jawab terhadap pernikahannya karena jika terjadi pelanggaran selama

pernikahannya bisa diproses secara hukum (Sumardi, 2017).

2. Sanksi Terhadap Pegawai Kantor Urusan Agama Kecamatan Pondok Suguh Yang Mencatatkan Perkawinan di Bawah Umur

Pegawai Kantor Urusan Agama Kecamatan Pondok Suguh yang

dimaksud disini adalah Kepala KUA, Penghulu, PPN ataupun lainnya yang

bertugas di KUA Kecamatan Pondok Suguh dapat dikenai sanksi apabila

melakukan pelanggaran, di KUA Kecamatan Pondok Suguh sendiri

sebenarnya sudah terjadi pelanggaran yaitu menikahkan anak yang masih

di bawah umur sebelum adanya bukti dispensasi dari Pengadilan Agama,

namun sampai saat sekarang ini pegawai KUA Kecamatan Pondok Suguh

belum mendapatkan sanksi, ini dikarenakan perkara atau pelanggaran

yang dilakukannya merupakan jenis pelanggaran tindak pidana delik

aduan.

Delik aduan menurut Samidjo adalah suatu delik yang diadili

apabila yang berkepentingan atau yang dirugikan melakukannya, bila

tidak ada pengaduan maka jaksa tidak akan melakukan penuntutan

(7)

yang hanya dapat dituntut apabila ada pengaduan dari orang yang

dirugikan (Lamintang 2010, 207). Jadi delik

aduan adalah perbuatan pidana yang hanya dapat diproses secara hukum

apabila orang yang dirugikan melakukan pengaduan kepada yang

berwajib, tampa pengaduan dari korban atau orang yang dirugikan karena

delik / perbuatan tersebut tidak dapat di proses. Maka selama perbuatan

tersebut tidak dilaporkan pegawai KUA tersebut tidak akan dapat sanksi.

Akan tetapi secara normatif pegawai KUA tersebut tetap melakukan

pelanggaran dan dapat hukuman atau sanksi.

Secara normatif pegawai pencatat nikah yang melakukan

pelanggaran sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975

Tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang

Perkawinan, dapat diancam hukuman kurungan selama-lamanya tiga

bulan atau denda setinggi-tingginya Rp. 7.500 (tujuh ribu lima ratus

rupiah). Hal ini terdapat dalam pasal 45 ayat (1) poin (b) menjelaskan

bahwa Pegawai Pencatat yang melanggar ketentuan yang di atur dalam

pasal 6, 7, 8, 9, 10 (1), 11, 13, 44 Peraturan Pemerintah ini di hukum

dengan hukuman kurungan selama-lamanya 3 (tiga) bulan atau denda

setinggi-tingginya Rp. 7,500,- (tujuh ribu lima ratus rupiah). Adapun

pasal-pasal tersebut adalah

Pasal 6

1) Pegawai pencatat yang menerima pemberitahuan kehendak

melangsungkan perkawinan, meneliti apakah syarat-syarat perkawinan telah dipenuhi dan apakah tidak terhadapat halangan perkawinan menurut undang-undang.

2) Selain penelitian terhadap hal sebagai dimaksud dalam ayat (1) pegawai pencatat meneliti pula:

a. Kutipan akta kelahiran atau surat kenal lahir calon mempelai.

Dalam hal tidak ada akta kelahiran atau surat kenal lahir padat dipergunakan surat keterangan yang menyatakan umur dan asal-usul calon mempelai yang diberikan oleh Kepala Desa atau yang setingkat dengan itu

(8)

c. Izin tertulis/izin pengadilan sebagai dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2), (3), (4), dan (5) undang-undang, apabila salah seorang calon mempelai atau keduanya belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun.

d. Izin pengadilan sebagai dimaksud Pasal 4 Undang-Undang, dalam hal calon mempelai adalah seorang suami yang masih mempunyai isteri. e. Dispensasi pengadilan/pejabat sebagai dimaksud Pasal 7 ayat (2)

Undang-Undang.

f. Surat kematian isteri atau suami yang terdahulu atau dalam hal perceraian: surat keterangan perceraian, bagi perkawinan untuk kedua kalinya atau lebih.

g. Izin tertulis dari pejabat yang ditunjuk oleh Menteri HANKAN/ PENGAB, apabila salah seorang calon mempelai atau keduanya anggota Angkatan Bersenjata.

h. Surat kuasa autentik atau dibawa tangan yang disahkan oleh Pegawai Pencatat, apabila salah seorang calon mempelai atau keduanya tidak dapat hadir sendiri karena sesuatu alasan yang penting, sehingga mewakilkan kepada orang lain.

Pasal 7

1) Hasil penelitian sebagai dimaksud pasal 6, oleh Pegawai Pencatat ditulis dalam sebuah daftar yang diperuntukkan untuk itu.

2) Apabila, ternyata dari hasil penelitian terdapat halangan perkawinan sebagaimana dimaksud undang-undang dan atau belum dipenuhinya persyaratan tersebut dalam pasal 6 ayat (2) Peraturan Pemerintah ini, keadaan itu segera diberitahukan kepada calon mempelai atau kepada orang tua atau kepada wakilnya.

Pasal 8

Setelah dipenuhi tata cara dan syarat-syarat pemberitahuan serta tiada sesuatu halangan perkawinan, pegawai pencatat menyelenggarakan pengumuman tentang pemberitahuan kehendak melangsungkan perkawinan dengan cara menempelkan surat pengumuman menurut formulir yang ditetapkan pada kantor pencatatan perkawinan pada suatu tempat yang sudah ditentukan pada kantor pencatatan perkawinan pada suatu tempat yang sudah ditentukan dan mudah dibaca oleh umum.

Pasal 9

Pengumuman ditandatangani oleh Pegawai Pencatat dan memuat:

a. Nama, umur, agama/kepercayaan, pekerjaan, tempat kediaman dari calon mempelai dan dari orang tua calon mempelai, apabila salah seorang atau keduanya pernah kawin disebutkan nama isteri dan atau suami mereka terdahulu.

b. Hari, tanggal, dan tempat perkawinan akan dilangsungkan. Pasal 10

(9)

Pasal 11

1) Sesaat sesudah dilangsungkan perkawinan sesuai dengan ketentuan-ketentuan pasal 10 Peraturan Pemerintah ini, kedua mempelai menandatangani akta perkawinan yang telah disiapkan oleh Pegawai Pencatat berdasarkan ketentuan yang berlaku.

2) Akta perkawinan yang telah ditandatangani oleh mempelai itu, selanjutnya ditandatangani pula oleh kedua saksi dan Pegawai Pencatat yang menghadiri perkawinan dan bagi yang melangsungkan perkawinan menurut agama Islam, ditandatangani pula oleh wali nikah atau yang mewakilinya.

3) Dengan penandatanganan akta perkawinan, maka perkawinan telah tercatat secara resmi.

Pasal 13

1) Akta perkawinan dibuat dalam rangkap 2 (dua) helai pertama disimpan oleh Pegawai Pencatat, helai Kedua disimpan pada Panitera Pengadilan dalam wilayah Kantor Pencatat Perkawinan itu berada.

2) Kepada suami dan isteri masing-masing diberikan kutipan akta perkawinan.

Pasal 44

Pegawai Pencatat dilarang untuk melakukan pencatatan perkawinan seorang suami yang akan beristeri lebih dari seorang sebelum adanya izin Pengadilan seperti yang dimaksud dalam pasal 43.

Secara keseluruhan pelanggaran oleh Pegawai Pencatat Nikah

dapat terjadi, lebih banyak kepada kejujuran dan ketelitian kerja mereka,

baik terhadap hal-hal yang bersifat normatif berupa persyaratan

perkawinan, maupun teknis seperti ketelitian mengisi formulir-formulir

tertentu, demi terciptanya tertib administrasi dan hukum.

Di KUA Kecamatan Pondok Suguh yang terjadi adalah

pencatatan perkawinan anak yang masih di bawah umur yang belum

mendapatkan dispensasi dari Pengadilan Agama. Sedangkan dalam

Peraturan Pemeritah Nomor 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Pasal 7 Ayat (2)

menyatakan: Apabila ternyata dari hasil penelitian terdapat halangan

perkawinan sebagaimana dimaksud undang-undang dan atau belum

dipenuhinya persyaratan tersebut dalam pasal 6 ayat (2) Peraturan

Pemerintah ini, keadaan itu segera diberitahukan kepada calon mempelai

atau kepada orang tua atau kepada wakilnya. Jadi seharusnya KUA

(10)

sebelum adanya bukti dispensasi dari Pengadilan Agama sebagaimana

yang telah di jelaskan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Pasal

7. Hal ini jelas melanggar Undang-Undang Pernikahan. Oleh karena itu

Pegawai Pencatat Nikah di KUA Kecamatan Pondok Suguh yang

melakukan pelanggaran ini dapat dijatuhkan hukuman sebagaimana yang

telah disebutkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975

tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang

Perkawinan Pasal 45 ayat (1) bagian (b) yaitu dapat dijatuhkan dengan

hukuman kurungan selama-lamanya 3 (tiga) bulan atau denda

Referensi

Dokumen terkait

Minta surat pengantar dari ketua RT (Rukun Tetangga) di mana calon mempelai bertempat tinggal, yang ditujukan ke kelurahan. Dan dari kelurahan itulah calon mempelai

Dalam kasus pengajuan dispensasi nikah yang disebabkan calon mempelai telah hamil di luar nikah, hampir seluruh penetapan dispensasi nikah yang dikeluarkan Pengadilan

Madînah adalah tempat di mana orang-orang berperadaban (umat Islam beserta penganut agama dan kepercayaan lain dalam naungan tasâmuh } : toleransi) tinggal dan mengembangkan

17 Departemen Agama RI, Pedoman Pembantu Pegawai Pencatat Nikah, hal.. persyaratan pencatatan nikah, PPN menanyakan kepada calon mempelai tentang wali yang berhak

hanya boleh dilakukan calon mempelai yang telah mencapai umur yang telah ditetapkan dalam pasal 7 Undang-undang No. Fauzan, Pokok-pokok Hukum Perdata Wewenang Peradilan

Madînah adalah tempat di mana orang-orang berperadaban (umat Islam beserta penganut agama dan kepercayaan lain dalam naungan tasâmuh } : toleransi) tinggal dan mengembangkan

Foto copy Keterangan Penghasilan orangtua dan atau surat keterangan tidak mampu dari Lurah/Kepala Desa tempat orang tua mahasiswa tinggal;1. Pada saat yang sama mahasiswa calon

Terkait dengan penerapan Undang-undang Nomor 16 Tahun 2019 Pasal 7 di Pengadilan Agama Parepare, berdasarkan wawancara dari salah satu orang tua yang mendampingi anaknya untuk melakukan