• Tidak ada hasil yang ditemukan

Produktivitas dan Daya Saing Industri Pa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Produktivitas dan Daya Saing Industri Pa"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Produktivitas dan Daya Saing Industri Pariwisata Indonesia

Menghadapi Persaingan Global

Oleh : Myra P. Gunawan

Pendahuluan

Posisi pariwisata dalam pembangunan nasional

Pariwisata merupakan sektor alternatif untuk mengatasi masalah ekonomi suatu negara. Makin banyak negara berkembang yang memiliki keterbatasan sumber daya untuk mengembangkan sektor lain, saat ini mengandalkan kepada sektor pariwisata. Indonesia sejak hampir setengah abad lalu memutuskan untuk mengembangkan pariwisata dan mengambil tindakan konkret dengan merencanakan Pulau Bali sebagai destinasi pariwisata, antara lain dengan pembangunan Nusa Dua yang sekarang terkenal di dunia.

Pariwisata ditugasi untuk menjadi penghasil devisa nonmigas saat harga minyak dan gas bumi menurun pada tahun 80-an. Perkembangannya melaju pesat sampai terjadinya krisis nasional 1998 yang berdampak besar terhadap perkembangan pariwisata, tidak hanya di Bali, tetapi secara nasional. Dalam kabinet kerja yang sekarang, pariwisata juga kembali ditugaskan menjadi sektor unggulan untuk mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi nasional.

Kemauan politik yang sangat kuat ditunjukkan dengan adanya perintah Presiden tidak hanya kepada Menteri Pariwisata, tetapi juga jajaran menteri lainnya. Perintah untuk memperoleh 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara pada akhir periode Kabinet Kerja seyogianya tidak dianggap sebagai ‘the ultimate goal’ pembangunan kepariwisataan. Segala sumber dana dan daya (fund and forces) dikerahkan untuk mencapai sasaran tersebut.

(2)

selain untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, juga memiliki banyak tujuan lain, yaitu peningkatan kesejahteraan, menghapus kemiskinan, mengatasi pengangguran, melestarikan alam, lingkungan, dan sumber daya, memajukan kebudayaan, mengangkat citra bangsa, memupuk rasa cinta tanah air, memperkukuh jati diri dan kesatuan bangsa, serta mempererat persahabatan antarbangsa (Pasal 4).

Tolok ukur keberhasilan seyogianya dikaitkan dengan fungsi dan peran yang melekat serta tujuan yang dirumuskan dalam UU tersebut. Namun, perlu juga diingat bahwasanya pariwisata hanyalah salah satu kendaraan pembangunan bagi Indonesia yang dilimpahi dengan berbagai kekayaan alam dan budaya untuk terciptanya bangsa yang sejahtera.

Karakter industri pariwisata dan pengukuran produktivitasnya

Pariwisata merupakan industri terbesar di dunia. Industri pariwisata terdiri atas berbagai jenis usaha dalam serangkaian industri berbeda yang memberikan barang dan jasa kepada pengunjung, seperti akomodasi, perdagangan eceran, dan transportasi. Australia membagi ke dalam dua kelompok, yaitu (i) tourism characteristic: jenis usaha/industri dimana pengunjung mengonsumsi sedikitnya 25% dari luarannya dan (ii) tourism connected: mencakup kelompok usaha/industri terkait dengan konsumsi pengunjung < 25%. Selain itu, perlu ditambahkan bahwa ciri utama yang harus dipenuhi adalah usaha dalam kedua kelompok tersebut harus melayani wisatawan secara langsung. Produsen barang yang tidak langsung menjual kepada wisatawan tidak termasuk di dalamnya (Australian Bureau of Statistics).

Indonesia belum melakukan pembedaan secara definitif, sering kali hanya disebutkan industri terkait pariwisata yang sebenarnya sangat luas. Dalam UU No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan disebutkan berbagai jenis usaha yang membentuk industri pariwisata, akomodasi, transportasi, kawasan wisata, dan lain-lain hingga usaha spa (Pasal 14, Bab IV).

(3)

kualitas pelayanan merupakan bagian penting yang dinilai oleh konsumen. Apabila kualitas ini tak diperhitungkan secara memadai, perkiraan tentang output dapat over- atau underestimated (Long and Shah, 2010 dalam Productivity Commission, 2015).

Meskipun dalam UU No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan disebutkan bahwa pariwisata merupakan bagian dari kebutuhan dasar, tetapi secara realita orang menempatkannya dalam posisi yang bervariasi, bergantung pada kemampuan ekonomi; pangan, sandang, dan papan – kemudian pendidikan dan kesehatan menduduki prioritas yang lebih tinggi. Meski demikian, kita perlu berpandangan bahwa pariwisata bukan sekadar sebagai kebutuhan rekreatif, tetapi menjadi bagian dari kesehatan dan pendidikan yang utuh. Permintaan akan produk/elemen produk pariwisata tidak hanya sangat variatif dari berbagai sisi, tetapi juga sangat elastis.

Produktivitas industri pariwisata juga tidak sederhana untuk dapat diukur. Productivity Commission Australia mendefinisikannya sebagai: productive efficiency with which firms and organisations, industries, and the economy as a whole, turn inputs, such as labor, capital, and raw materials into output (Productivity Commission, 2014 dalam Productivity Commission, 2015). Memperkirakan produktivitas pariwisata yang terdiri atas berbagai elemen industri yang berbeda-beda tidaklah mudah. Industri pariwisata tidak diukur dari produksi barang dan jasa sebagaimana sektor lain, tetapi dari jumlah produk yang dikonsumsi oleh pengunjung/wisatawan.

(4)

Neraca Satelit Pariwisata Nasional & Produktivitas

Meski pernah menjadi tuan rumah pelatihan tentang produktivitas yang diselenggarakan oleh Asian Productivity Organization (APO), sepanjang perjalanan pembangunan para pihak lebih banyak membicarakan jumlah wisatawan sebagai tolok ukur keberhasilan. Salah satu (atau mungkin satu-satunya) hasil pengukuran yang dapat dipakai untuk bahasan produktivitas adalah Neraca Satelit Pariwisata Nasional yang telah dilakukan sejak tahun 2000 dan berlanjut setiap tahunnya hingga 2014.

Hasil perhitungan mengindikasikan bahwa:

Investasi dan pengeluaran pemerintah dalam kurun kurang dari 10 tahun (2005–2013) meningkat dengan signifikan, masing-masing sebesar 438% dan 147%, yaitu dari Rp22,53 T dan Rp2,88 T (2005) menjadi Rp121,30 T dan Rp7,12 T (2013). Pada periode yang sama, pengeluaran wisatawan (mancanegara + nusantara) meningkat 166% dari Rp116,16 T menjadi Rp307,59 T.

Pada kurun waktu yang sama, dampak ekonomi yang dihasilkan dari pengeluaran wisatawan mancanegara dan nusantara, investasi, dan pengeluaran/belanja pemerintah terhadap berbagai indikator ekonomi makro, dari tahun ke tahun meningkat dalam jumlah, tetapi kenaikannya tak sepesat kenaikan pengeluaran pemerintah dan investasi.

(5)

Tabel 1. Dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh berbagai jenis pengeluaran terhadap indikator

4. Pengeluaran wisatawan nusantara 71,70 123,17 177,84 5. Pengeluaran wisatawan mancanegara 44,46 80,46 129,75

6. Jumlah (4 + 5)

Jumlah (3 + 4 + 5) 116,16141,57 203,63273,49 307,59436,01

Dampak (T Rp):

7. Output 306,5 505,02 790,01

8. PDB 143,62 233,89 365,02

9. Pajak tak langsung 5,4 8,36 13,26

10. Upah dan gaji 45,63 75,54 118,34

11. Tenaga kerja (juta orang) 4,41 6,98 9,61

Produktivitas

12. Pengeluaran wisatawan (4 + 5)/input

(1 + 2) 4,57 2,92 2,39

13. Output/input (7 : 3)

(T Rp output per T Rp input) 12,6 7,2 6,1

14. a. Output/tenaga kerja (7 : 11)

(juta Rp/th) 69,5 72,3 82,2

b. Output/upah dan gaji 6,69 6,68 6,69

(6)

Diduga bahwa peran pariwisata bagi Provinsi Bali sangat dominan, sementara bagi provinsi lain bervariasi, termasuk emerging province seperti Bangka Belitung yang muncul ‘mengalahkan’ provinsi lain yang sudah lebih dahulu mengandalkan pariwisata. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh kekuatan sektor-sektor lainnya di provinsi yang bersangkutan.

Variasi peran pariwisata terhadap berbagai indikator ekonomi daerah dapat digambarkan dalam tabel berikut.

Tabel 2. Dampak pariwisata terhadap berbagai indikator ekonomi di berbagai provinsi

Daerah Bali DKI Banten Sulteng Riau Sumsel Jabar Jateng Babel Indonesia

Tahun 2007 2009 2008 2008 2007 2006 2010 2013 2011 2008 2014

Output 51,56 6,46 2,56 6,04 2,31 1,25 3,79 5,38 4,89 5,06

PDB 46,16 5,85 3,04 4,92 2,14 1,07 3,91 5,94 4,84 4,70

PTL 66,44 8,33 3,23 7,23 4,03 1,50 3,90 6,63 6,51 4,32

U & G 36,12 6,54 3,15 2,49 3,11 1,17 3,79 5,52 6,86 4,97

Kesempatan

Kerja 40,56 9,48 4,03 2,78 5,22 1,04 3,97 5,14 3,06 6,84

Sumber: Nesparda berbagai provinsi dengan berbagai tahun perhitungan dan Nesparnas 2008, 2014 Diperkirakan produktivitas tiap provinsi akan berbeda akibat perbedaan kesiapan daerah, kemauan politik dalam pengembangan pariwisata, dan struktur ekonominya. Bangka Belitung termasuk provinsi yang secara khusus menyiapkan diri untuk mengembangkan pariwisata sejak menyadari bahwa peran sektor primer dari timah makin menurun dalam dua dekade terakhir. Pesan yang ingin disampaikan adalah: (i) bahwa posisi pariwisata dalam struktur ekonomi wilayah berbeda antara satu daerah dengan daerah lain, demikian pula potensi dan kemampuannya untuk berkembang sehingga replikasi keberhasilan (Bali) perlu dipikirkan masak-masak, dan (ii) bahwa menggunakan ‘angka-angka’ nasional sebagai indikator perlu dilakukan dengan hati-hati.

Persaingan Global: Dinamika Daya Saing Pariwisata Indonesia

(7)

Pariwisata internasional pada tingkat global tumbuh secara berkelanjutan dan Asia Pasifik, di mana Indonesia terletak, merupakan kawasan yang berkembang terpesat di antara kawasan lainnya dalam kunjungan internasional maupun sebagai sumber pasar. Eropa dan Amerika merupakan kawasan yang sudah lebih mapan dalam perkembangan industri pariwisata, dan menempatkan berbagai negara maju di dalam wilayahnya sebagai pemegang ‘piala’ daya saing. Demikian pula dengan berbagai negara maju atau yang pesat berkembang di kawasan Asia Pasifik: Jepang, Australia, Selandia Baru, dan Korea Selatan.

Pentingnya daya saing suatu negara atau bagian negara ditunjukkan dengan fakta bahwa banyak negara, seperti Irlandia, Saudi Arabia, Yunani, Kroasia, Bahrain, Filipina, Guayana, dan Spanyol, memiliki badan penasihat, lembaga pemerintah khusus untuk menangani permasalahan daya saing (Wikipedia, 2016)

Pengukuran yang dilakukan oleh World Economic Forum (WEF) sejak satu dekade terakhir, untuk 133/4 negara merupakan suatu strategic tools untuk mengukur berbagai faktor dan kebijakan yang menjadikan Travel & Tourism menarik untuk dikembangkan. Berbagai ukuran ini memberi manfaat untuk tiap-tiap negara untuk dapat melihat kekuatan dan kelemahannya dibandingkan negara-negara lain dan mengambil tindakan untuk meningkatkan daya saingnya.

Daya saing Indonesia versi WEF

(8)

terakhir meningkat signifikan menjadi peringkat 42. Pertanyaannya, dari mana peningkatan tersebut terjadi dan apa artinya.

Tabel 3. Daya saing pariwisata (travel & tourism) Indonesia dalam 10 tahun terakhir

Competitiveness Index Pillars 2007 RANKING2013 2017

T&T Competitiveness 60 70 42

A. Enabling Environment

P1. Business Environment 68 84 60

P2. Safety and Security 50 85 91

P3. Health and Hygiene 103 112 108

P4. Human Resources and Labour Market 62 61 64

P5. ICT Readiness 80 87 91

B. T&T Policy and Enabling Conditions

P6. Prioritization of Travel & Tourism 6 19 12

P7. International Openness 17

P8. Price Competitiveness 1 9 5

P9. Environmental Sustainability 81 125 131

C. Infrastructure

P10. Air Transport Infrastructure 64 54 36

P11. Ground and port infrastructure 89 87 69

P12. Tourist Service Infrastructure 87 113 96

D. Natural and Cultural Resources

P13. Natural Resources 6 14

P14. Cultural Resources and Business Travel 38 23

Sumber: The Travel & Tourism Competitieness Report, 2007, 2013, 2017

(9)

Sementara itu hasil penelitian (Kusuma, 2016) menunjukkan bahwa dalam usaha skala kecil dan menengah yang teridentifikasi sebagai simpul pelayanan dalam pola perjalanan wisatawan mancanegara, menunjukkan dominannya sumber daya domestik yang dipakai dalam usaha terkait. Meski demikian, masih ditemukan penggunaan komponen sumber daya nonlokal pada jenis usaha tertentu. Dengan demikian, selain produktivitas, masih ada permasalahan lain terkait dengan manfaat yang tinggal (retention) di Bali atau kebocoran ekonomi yang perlu diminimalkan.

Di sisi lain, nilai untuk keberlanjutan lingkungan, situasi prasarana pariwisata, kesiapan ICT, keamanan dan keselamatan, serta kesehatan lingkungan masih rendah perlu digarisbawahi. Langkah terkait dengan peningkatan nilai untuk human resources dan labour market (kemudahan memperoleh tenaga kerja terampil yang diperlukan untuk menghasilkan produk pariwisata yang berkualitas) juga perlu diperhatikan.

Pembandingan dengan negara tetangga Malaysia dan Thailand

Negara yang dicakup dalam penilaian WEF bervariasi dalam berbagai dimensi, termasuk ‘ukurannya’. Perbandingan antara negara berukuran kecil dan besar atau sangat besar sebenarnya kurang relevan, misalnya membandingkan Singapura, Hongkong, Latvia, dan Luxemburg dengan Indonesia, India, China, atau Amerika. Perbandingan antara negara maju dan berkembang juga tidak terlalu relevan.

Kemajuan pariwisata Indonesia perlu diapresiasi, tahap demi tahap kita melangkah ke depan. Sebelum menyejajarkan diri dengan negara maju di tingkat global, akan ditunjukkan posisi Indonesia terhadap dua negara tetangga yang sekaligus pesaing. Singapura atau Hongkong tidak dipilih karena tidak komparabel. Jepang dan Australia sudah di depan mewakili Asia Pasifik di kancah global. Oleh karena itu, dalam tulisan ini dipilih Thailand dan Malaysia sebagai pembanding. Kedua negara tersebut merupakan negara dengan perkembangan pariwisata yang signifikan dari sisi jumlah kunjungan internasional maupun peringkat WEF-nya.

(10)
(11)

Tabel 4. Perbandingan berbagai indikator pilihan antara Malaysia-Thailand dan Indonesia Tahun 2017

Indikator Peringkat

Malaysia Thailand Indonesia

Pelatihan bagi pekerja 9 53 34

Praktik rekrutmen/pemecatan 10 28 27

Kemudahan memperoleh tenaga terampil 10 88 45

Gaji dan produktivitas 6 52 26

Efektivitas pemasaran 7 20 51

Pengembangan industri yang berkelanjutan 6 55 60

Biaya memperoleh izin pembangunan 58 1 103

Partisipasi sekolah menengah 96 8 90

Kecepatan pengolahan data 53 9 28

Permintaan akan pariwisata alam digital 31 1 43

Ketersediaan rental mobil 72 1 113

Melihat perbandingan tersebut, tampak jelas perbedaan kondisi atau strategi dari ketiga negara. Malaysia dan Thailand unggul dalam jumlah kunjungan internasional, terlepas dari kekayaan sumber daya wisata yang dimilikinya yang semua orang Indonesia tentu merasa tidak kalah. Malaysia memperlihatkan efektivitas pemasaran, pengembangan industri yang berkelanjutan, dan penyelenggaraan berbagai pelatihan bagi tenaga kerjanya, sementara Thailand menunjukkan keunggulan dalam perizinan dan penyediaan kebutuhan wisatawan, dan Indonesia mengandalkan keterbukaan dan tarif. Ada indikasi tentang daya saing Malaysia dan Thailand dalam kualitas sumber daya manusianya.

Untuk segmen tertentu, wisatawan lebih peka terhadap kualitas pengalaman yang ditawarkan oleh produk daripada harganya. Pernyataan berikut dapat dipertimbangkan.

(12)

than price. The demand for eco-friendly tourism is growing among international tourists (Secretaría de Estado de Turismo Instituto de Turismo, 2013).

Faktor Penentu Posisi Daya Saing Indonesia Secara Global

Pola pikir tentang industri kepariwisataan

Pemerintah perlu mengkaji berbagai kebijakan nasional yang berpengaruh terhadap kinerja industri pariwisata pada masa mendatang. Peningkatan produktivitas dan daya saing industri pariwisata Indonesia merupakan permasalahan yang lebih krusial dibandingkan peningkatan jumlah wisatawan. Pemerintah Australia misalnya, membentuk Productivity Commission (badan penasihat khusus untuk melakukan penelitian independen terkait dengan permasalahan ekonomi, sosial, dan lingkungan) untuk membantu pemerintah dalam perumusan berbagai kebijakan jangka panjang dengan tujuan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. Saat ini dengan pendekatan Indonesia Incorporated, sinergi dengan industri penerbangan sudah dilakukan, infrastruktur sudah digalakkan, berbagai kementerian sudah siap mendukung, anggaran untuk sektor pariwisata sudah semakin besar, tetapi perencanaan menyeluruh masih perlu dimatangkan. Perencanaan pengembangan industri perlu lebih nyata dan tersistem.

Meski ada kebijakan umum untuk pemerataan pembangunan, pemerataan secara geografis perlu selektif. Prioritas perlu dicanangkan dengan mempertimbangkan produktivitas sumber daya yang diperlukan dan tidak terlepas dari kehadiran berbagai sektor lain. Pemerataan kesejahteraan masyarakat menjadi tantangan untuk segala skala pembangunan. Namun, perlu diingat bahwa kehadiran pariwisata bukan dimaksudkan untuk menggeser atau menafikan sektor lain yang mempunyai peran berbeda: ketahanan pangan, kelestarian lingkungan, peningkatan jati diri, dan revitalisasi budaya lokal (benda dan tak benda).

Kebijakan pemerintah

(13)

Pembukaan secara luas visa kunjungan dapat meningkatkan risiko masuknya tenaga kerja ilegal ataupun pengedar narkoba dan bahkan teroris.

Tahun ini kita diingatkan oleh WEF yang mengambil tema: Paving the way for a more sustainable and inclusive future, dan UNWTO dengan International Year of Sustainable Tourism for Development. Kalau kita perhatikan hasil penilaian WEF, peringkat sustainability Indonesia justru turun dari 81 (2007) menjadi 125 (2012) dan 131 (2017). Unsur lingkungan ini penting, segmen pasar menengah ke atas meletakkan lingkungan sebagai penentu pilihan destinasinya.

Menyasar segmen pasar menengah ke atas, mempunyai konsekuensi, yaitu memenuhi tuntutan mereka yang lebih sadar akan value for money. Mereka tidak mencari produk murah (murahan), tetapi mencari pengalaman yang berkualitas dan bermakna dalam perjalanannya. Terkait hal tersebut, diperlukan sumber daya intelektual yang kreatif dan inovatif, didukung oleh penjaga garis depan (frontliners) yang ramah dan terampil.

Meski produktivitas per tenaga kerja naik (Nesparnas), indeks kita dalam Human Resource and Labor Market (WEF) selama 10 tahun terakhir masih berkutat di posisi 60-an. Ini dapat berakibat pada ketidakpuasan wisatawan, atau mengindikasikan kurangnya pekerja sektor pariwisata menghadapi pertumbuhan pasar. Kebijakan pendidikan perlu dirumuskan dan peta pendidikan yang sekarang ada perlu dipantau dan dievaluasi untuk kemudian menyinergikan (daripada mencampuradukkan) pendidikan kepariwisataan dengan pendidikan hospitality. Yang dibutuhkan bukan hanya tenaga kerja, tetapi juga wirausahawan, pemikir, dan pemimpin yang handal.

Daftar Pustaka

Blanke, J. dan Chiesa, T. 2007. The Travel & Tourism Competitiveness Report 2007. The World Economic Forum.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Bali. 2007. Neraca Satelit Pariwisata Daerah

Provinsi Bali Tahun 2007.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Bangka Belitung. 2011. Neraca Satelit Pariwisata

(14)

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta. 2009. Neraca Satelit

Pariwisata Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta Tahun 2009.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. 2013. Neraca Satelit Pariwisata

Daerah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Riau. 2007. Neraca Satelit Pariwisata Daerah

Provinsi Riau Tahun 2007.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tengah. 2008. Neraca Satelit Pariwisata

Daerah Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2008.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dan Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat. 2011.

Neraca Satelit Pariwisata Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2011.

Dinas Pariwisata, Seni, dan Budaya dan Badan Pusat Statistik Provinsi Banten. 2011. Neraca

Satelit Pariwisata Daerah Provinsi Banten Tahun 2010.

Kusuma, P.G.A. 2016. Pengembangan Model Kontribusi Wisatawan Mancanegara terhadap

Penyerapan Sumber Daya Domestik. Disertasi Program Doktor, Institut Teknologi

Bandung.

Productivity Commission. 2015. Australia’s International Tourism Industry. Australian Government.

Pusat Data dan Informasi Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dan Direktorat Statistik Perdagangan dan Jasa Badan Pusat Statistik. 2006. Neraca Satelit Pariwisata Nasional

(Nesparnas) 2006. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Jakarta.

Pusat Pengelolaan Data dan Sistem Jaringan. 2009. Neraca Satelit Pariwisata Nasional

(Nesparnas) 2009. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Jakarta.

Pusat Data dan Informasi. 2014. Neraca Satelit Pariwisata Nasional (Nesparnas) 2014. Kementerian Pariwisata, Jakarta.

Schwab, et al. 2017. The Travel & Tourism Competitiveness Report 2013. The World Economic Forum.

(15)

Suryawardani, I.O. 2014. Tourism Leakage from the Accommodation in Bali. Disertasi Program Doktor, Universitas Udayana.

Gambar

Tabel 1. Dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh berbagai jenis pengeluaran terhadap indikator
Tabel 2. Dampak pariwisata terhadap berbagai indikator ekonomi di berbagai provinsi
Tabel 3. Daya saing pariwisata (travel & tourism) Indonesia dalam 10 tahun terakhir
Tabel 4. Perbandingan berbagai indikator pilihan antara Malaysia-Thailand dan Indonesia

Referensi

Dokumen terkait

Indonesia memiliki banyak potensi untuk berkembang karena lahan yang masih banyak tersedia dan upah pekerja yang relatif rendah, namun minim dari segi

menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya ilmiah yang berjudul “Analisis Sektor Basis dan Potensi Daya Saing Wilayah Pada Kabupaten Lumajang Pasca Otonomi Daerah ” adalah

menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya ilmiah yang berjudul “Analisis Sektor Basis dan Potensi Daya Saing Wilayah Pada Kabupaten Lumajang Pasca Otonomi Daerah ” adalah

Hasil analisis ini memberi implikasi pada kebijakan yang harus dilakukan oleh pemerintah daerah kota Surakarta untuk mengembangkan sektor pariwisata karena dengan memperhatikan

Provinsi Sumatera Utara memiliki banyak daya tarik wisata alam yang menjadi daerah tujuan wisata dan memiliki potensi alam yang tidak kalah dengan daerah lainnya di Indonesia..

Berdasarkan hasil analisis indikator daya saing pariwisata di kabupaten sekitar wilayah Danau Toba dapat dilihat bahwa pada tahun 2012 sampai 2016 Kabupaten

Posisi suatu bangsa berdasarkan sumberdaya yang dimiliki merupakan faktor produksi yang diperlukan untuk bersaing dalam industri tertentu. Faktor produksi digolongkan kedalam

Bedasarkan studi literatur dan hasil penelitian ke lapangan, diperoleh beberapa daerah yang memiliki sumber daya mineral lempung bentonit adalah yaitu Aceh Utara, Bener