• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Sistem dik Perencanaan Aparatur

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pengembangan Sistem dik Perencanaan Aparatur"

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)

1

PENGEMBANGAN SISTEM PERENCANAAN APARATUR

PEMERINTAH DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Dewasa ini banyak regulasi yang telah dikeluarkan oleh pemerintah, baik pusat maupun provisnsi dan kabupaten/kota. Berbagai kebijakan pemerintah baik pusat maupun daerah harus memiliki sebuah koherensi. Dengan demikian kebijakan tersebut saling memberikan dukungan satu atas lainnya. Namun demikian tidaklah cukup dengan hanya kebijakan saja yang harus dipenuhi. Akan tetapi masalah kepegawaian sebagai aparatur pendukung juga harus memperoleh perhatian. Untuk itulah kebijakan di bidang kepegawaian juga harus dicermati. Dengan kebijakan kepegawaian yang jelas dan bersifat simultan dapat memberikan jaminan bagi sistem pengelolaan kepegawaian yang lebih komprehensif dan kontinyu.

Perencanaan pegawai merupakan sebuah penentu bagi sistem kepegawaian. Dengan adanya perencanaan pegawai maka manajemen SDM Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dapat lebih tertata, serta terkelola dengan komprehensif. Mulai dari ketersediaan perencaan pegawai, maka dapat memberikan informasi yang jelas tentang kuantitas dan kualitas yang dibutuhkan oleh provinsi.

(2)

2 Realitas yang ada, terdapat gap antara tuntutan akan kualitas pegawai di lingkungan pemerintah Provinsi. Dengan demikian provinsi perlu malakukan upaya guna menjembatani

gap tersebut sehingga dapat menjawab masalah reformasi, otonomi daerah serta civil society. Menyadari akan hal tersebut maka program sustainable capacity building perlu menindaklanjuti dan menjembatani, dengan menyusun pedoman perencanaan kepegawaian. Dengan demikian maka terjadi proses lam sistem kepegawaian provinsi dapat dilakukan upaya peningkatan kemampuan sehingga dapat segera menjawab tuntutan tersebut.

Permasalahan perencanaan kepegawaian adalah menyangkut kuantitas dan kualitas. Kuantitas berurusan dengan seberapa banyak kebutuhan pegawai yang perlu direncanakan untuk pegisian formasi secara terus menerus. Dengan perhitungan kuantitatif dari semua lini dalam seluruh dinas, kantor dan badan termasuk UPT perlu diproyeksikan secara cermat. Sedangkan masalah kualitas pegawai yang perlu direncanakan menyangkut kompetensi, profesionalitas, kapabilitas serta kapasitas yang sesuai untuk semua jabatan.

Kenyataan yang dihadapi oleh provinsi selama ini adalah secara kuantitas kebutuhan pegawai tidak mudah untuk dipetakan. Di samping juga masalah kualitas aparatur pemerintah provinsi yang diperlukan untuk mendukung tupoksi belum diketahui secara pasti. Apakah kebutuhan akan kuantitas dan kualitas tersebut untuk pengisian jabatan dan fungsi sudah cukup memadai atau belum. Pada setiap badan, kantor serta dinas tentunya perlu didukung oleh kualitas pegawai yang sesuai. Sementara itu selama ini Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta belum memiliki perencanaan pegawai yang mampu menginformasikan kebutuhan tersebut.

1.2 Perumusan Masalah

Rumusan masalah adalah sebagai berikut:

(3)

3

b) Bagaimanakah kebutuhan perencanaan pegawai dari perspektif kuantitas dan kualitas pegawai?

1.3 Tujuan

Tujuan yang dicapai melalui detail tugas organisasi hendaknya untuk mewujudkan: a. Memberikan pedoman bagi BKD untuk merencanakan kebutuhan kuantitas dan kualitas

pegawai Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta?

b. Mewujudkan efisiensi dalam melakukan pengelolaan MSDM di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

c. Mengintegrasikan dan mensinkronisasikan antara kebutuhan dan rencana dengan formasi yang diproyeksikan secara kontinyu.

d. Untuk memberikan pola sistem manajemen SDM secara berkelanjutan.

1.4 Output

Buku pedoman pengembangan perencanaan pegawai Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

1.5 Outcome

a. Ada kejelasan tentang sistem MSDM secara menyeluruh dan berkesinambungan. b. Ada keseimbangan sistem rekrutmen dengan berpedoman pada perencanaan yang

jelas.

(4)
(5)

5 BAB II

KERANGKA TEORI

2.1 Aspek Penting Pengembangan Perencanaan

Pengembangan perencanaan kepegawaian dalam pengertian yang sederhana

menurut bussines plan pro adalah the standard Personnel Plan is a simple list with a

sum at the bottom. Terdapat banyak manfaat dengan pengembangan perencanaan

kepegawaian. Di samping itu perencanaan kepegawaian merupakan aspek manajemen

kepegawaian pemerintah yang menjembatani antara lingkungan politik luar dan

aktivitas-aktivitas inti seperti analisa pegawai, uraian kerja, evaluasi pegawai dan

imbalan/kompensasi (Sulistiyani dan Rosidah, 2009).

Pemahaman perencanaan kepegawaian hendaklah meruakan sebuah integrasi,

sinkronisasi dan simplifkasi dari analisis pekerjaan, uraian kerja, kebutuhan kompetensi

pegawai terkait dengan struktur serta jabatan maupun fungsi-fungsi yang ada. Dengan

melihat sejauhmana kemampuan untuk mensinkronisasi serta mengintegrasikan

komponen-komponen tersebut, maka akan diperoleh sebuah perencanaan yang

mendekati krbutuhan yang sesuai.

Perencanaan yang matang menungkinkan terwujudnya disain pengelolaan kepegawaian

secara terus-menerus dan terpadu. Kondisi ini memberikan jaminan stabilitas dan

keseimbangan pertumbuhan kepegawaian di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Adanya pertumbuhan yang jelas maka segala sesuatu yang diperlukan untuk

mendukung, misalnya anggaran, kebutuhan pengembangan, kebutuhan pemeliharaan,

kebutuhan untuk peningkatan kinerja dll dapat diprediksi dan direncanakan pula.

Perencanaan pegawai dalam jangka panjang memberikan dampak positif berupa kualitas

dan kuantitas pegawai yang dapat lebih terjaga. Proporsi kebutuhan untuk

pengembangan organisasi juga dapat direncanakan lebih lanjut. Di samping itu apabila

(6)

6 difasilitasi secara jelas. Tidak ada krisis dalam pengelolaan pegawai yang melanda,

ketika perencanaan ini dari periode ke periode selalu dilakukan evaluasi. Oleh karena itu

adanya pengembangan perencanaan pegawai dapat memberikan kontribusi terhadap

berlangsungnya organisasi serta aktivitas di dalamnya dapat terkelola secara optimal,

langkah-langkah organisasi menjadi lebih terarah, sehingga tujuan organisasi pemerintah

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dapat tercapai.

2.2 Pemahaman Pengembangan Perencanaan Pegawai Dalam Konteks MSDM

Kebutuhan akan perencanaan kepegawaian yang matang menjadi signifikan. Tanpa

perencanaan yang matang menurut Sutiono dan Sulistiyani dalam Sulistiyani (2003)

lemahnya sistem rekrutmen. Sebaliknya jika perencanaan matang dengan berbasis pada

job analysis, serta analisis kebutuhan yang nyata maka rekrutmen dapat dilakukan

dengan lebih mudah serta dapat dipertanggungjawabkan.

Lebih lanjut Sutiono dan Sulistiyani dalam Sulistiyani (2003) mengungkapkan bahwa

jika pola rekrutmen yang buruk memberikan kontribusi alokasi yang buruk pula. Pola

pengembangan aparatur dengan tanpa perencanaan juga kurang dapat diprediksi.

Sementara itu sebuah sistem MSDM membutuhkan semua pengelolaan SDM dapat

berjalan secara terpadu dan terpola. Untuk itu secara konsisten sangat diperlukan

pengembangan perencanaan.

Perencanaan pegawai hendaknya merupakan suatu kegiatan yang secara rutin dilakukan

peninajauan. Jika perencanaan kepegawaian secara rutin dievaluasi maka akan dapat

diketahui bagian-bagian yang memerlukan revisi. Dengan kata lain pemerintah Provinsi selalu mencermati apa yang masih belum dilakukan dan mana yang masih perlu

penyempurnaan. Di samping itu suatu Provinsi akan selalu memiliki informasi yang

terbaru atas kebutuhan pegawai baik secara kuantitas maupun kualitas.

Kegiatan pengembangan perencanaan pegawai adalah suatu aktivitas untuk merefleksi

(7)

7 sebuah arahan yang jelas, terukur dan akomodatif dalam memetakan kebutuhan pegawai

ke depan serta langkah-langkah menjaga keseimbangan pegawai, baik dilihat dari

komposisi

a. jabatan, b. usia c. gender d. jenis kelamin e. jumlah

f. kualifikasi, kompetensi serta profesioalitas

Tepenuhinya komposisi tersebut menunjukkan bahwa pegawaia di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dalam kondisi yang sesuai dengan kebutuhan. Oleh karena itu orientasi buku pedoman pengembangan perencanaan pegawai disusun untuk memberikan acuan yang jelas, proporsional dan terarah dalam menciptakan

kondisi seperti tersebut di atas.

2.3 Faktor Pengaruh Perencanaan Pegawai

Dalam rangka melakukan penyusunan pedoman pengembangan perencanaan

pegawai diperlukan sebuah analisis yang berbasis pada faktor-faktor pengaruh dari

perencanaan. Faktor pengaruh tersebut menurut Sulistiyani dan Rosidah (2009) meliputi

faktor internal dan eksternal. Adapun faktor internal meliputi:

a. rencana strategis

b. anggaran

c. estimasi produksi dan penjualan

d. usaha atau kegiatan baru

e. rancangan organisasi dan tugas pegawai.

Dengan mencermati kelima faktor internal tersebut tampaknya kebutuhan akan

rencana strategis merupakan hal yang mutlak, karena kebijakan strategis secara

(8)

8 dapat dilihat dari renstra. Sementara itu arah kebijakan ini menginformasikan dari

kebutuhan kuantitas maupun kualitas SDM. Sementara itu anggaran memberikan

informasi tentang kemampuan dana rutin Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta untuk

pembiayaan yang memungkinkan bagi pengadaan pegawai dalam satu periode

pemerintahan secara berkesinambungan. Dengan demikian memberikan input untuk

perencanaan yang mendekati realitas kemampuan Provinsi Daerah Istimewa

Yogyakarta.

Estimasi produksi dan penjualan merupakan istilah yang diadopsi dari

perusahaan tentu saja kurang sesuai untuk konteks analisis organisasi pemerintah. Untuk

itu istilah ini dapat dikonversi dengan luasan jangkauan pelayanan yang harus dilakukan oleh pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Dengan mengetahui kebutuhan

yang harus dipenuhi atas pelayanan di semua sektor maka dapat diketahui pulan sistem

distribusi pegawai, kebutuhan kuantitas serta kualitas pegawai.

Menurut Bennett (1994) job enlargment means increasing the scope of a job

through extending the range of duties and responsibilities it involves. This contradicts

the principles of specialisation and the division of labour whereby work is divided into

small units, ... Menurut pendapat ini maka sebuah pekerjaan itu perlu dilihat

lingkupnya. Jika lingkupnya luas maka diperlukan untuk memecah pekerjaan ke dalam

unit-unit yang kecil. Jika mengikuti logika ini maka perencaan pegawai juga perlu

dilakukan dengan mengadaptasi kondisi yang kondisi tertentu yang harus disediakan

SDM pendukung.

Usaha atau kegiatan baru dalam konteks organisasi publik dapat dipahami

sebagai pengembangan organisasi yang akan atau sedang dilakukan. Pengembangan

organisasi yang dimaksud dapat menyangkut pengembangan struktur yang berimplikasi

pada munculnya jabatan-jabatan baru. Tentu saja jabatan baru tersebut berkaitan erat

dengan kebutuhan rekrutmen pegawai/pejabat yang tidak lepas dari jumlah maupun

kualitas. Sementara itu pengembangan organisasi juga terkait dengan tumbuhnya tupoksi

(9)

9 Rancanagn organisasi dan tugas pegawai dapat mempengaruhi kebutuhan akan

kualifikasi minimal pegawai yang sesuai untuk organisasi dan tugas tersebut. Di

samping itu pula memberikan informasi tentang kebutuhan pegawai dalam jumlah

tertentu melalui akumulasi tugas yang akan didistribusikan.

Faktor eksternal yang mempengaruhi perencanaan kepegawaian menurut

Sulistiyani dan Rosidah (2009) adalah meliputi variabel sebagai berikut:

a. teknologi

b. sosial dan budaya

c. politik

d. ekonomi

Semua variabel di atas sangat menentukan kebutuhan SDM seperti apa yang dapat

memenuhi tuntutan perkembangan. Dengan teknologi yang selalu mengalami kemajuan

memerlukan tipologi SDM yang memiliki spesifikasi teknologi. Dengan kualitas SDM

yang memeuhi maka dapat merespons perkembangan teknologi secara berkelanjutan.

Oleh karena itu perencanaan SDM juga perlu mengakomodasi kebutuhan tersebut.

Variabel sosial dan budaya mengindikasikan sebuah kebutuhan SDM yang selalu

berkembang karena adanya perubahan-perubahan sosial budaya. Perubahan tersebut

akan berlangsung secara simultan. Untuk itu sebuah perencanaan kepegawaian

hendaknya juga memperhitungkan perubahan-perubahan lingkungan sosial budaya

sehingga dapat diidentifikasi kebutuhan pegawai baik dari sisi kuantitas maupun

kualitas.

Perkembangan politik khususnya menyangkut kebijakan-kebijakan kepegawaian

tentu saja sangat mempengaruhi pengembangan perencanaan kepegawaian dalam suatu

Provinsi. Batasan-batasan pemerintah yang mengatur seluk-beluk manajemen sumber

daya manusia harus diperhitungkan sebagai variabel yang mempengaruhi. Aturan-aturan

(10)

10 Bagaimanapun kebijakan pemerintah di bidang kepegawaian mengikat secara tetap

selama masih dalam masa berlaku.

Variabel ekonomi juga mempegaruhi kebutuhan SDM ke depan. Jika

perekonomian mengalami perkembangan yang pesat tentu saja kebutuhan SDM akan

meningkat tajam. Namun kebutuhan SDM tersebut tidak pada semua sektor atau lini,

melainkan hanya isntansi yang terkait langsung untuk manajemen perekonomian negara.

Dengan demikian kebutuhan pegawai yang harus direncanakan tentu saja mengikuti

porsi perkembangan yang ada.

2.4. Teknik Penyusunan Pedoman Perencanaan

Terdapat aturan yang sebaiknya digunakan sebagai acuan dalam perencanaan

pegawai. Dalam perencanaan tentu saja perlu lebih dulu membatasi kebutuhan

perencanaan itu untuk dimanfaatkan sebagai upaya menjawab kebutuhan insidental atau

rutin atau periodik. Masing-masing kebutuhan dilihat jangka waktunya tentu saja

berbeda-beda. Kebutuhan yang bersifat insidental tidak terlalu membutuhkan analisis

yang rumit dan kompleks. Sementara itu kebutuhan yang bersifat rutin maupun periodik

memerlukan analisis yang lebih serius.

Ada beberapa langkah yang harus dilalui dalam perencanaan SDM. Menurut

Burack dan Maryam empat langkah pokok yang dilakukan dalam perencanaan SDM

adalah:

a. Perencanaan untuk kebutuhan masa depan.

b. Perencanaan untuk keseimbangan masa depan.

c. Perencanaan untuk perekrutan dan seleksi atau untuk pemberhentian

sementara.

d. Perencanaan untuk pengembangan.

Dalam upaya perumusan pedoman pengembangan perencanaan pegawai Pemerintah

(11)

11 depan, perencanaan untuk keseimbangan masa depan dan perencanaan untuk perekrutan

dan seleksi.

Perencanaan untuk kebutuhan masa depan merupakan sebuah analisis

perencanaan pegawai yang sangat vital. Adanya rencana pegawai yang digunakan

sebagai acuan dalam memenuhi kebutuhan ke depan ini memberikan arah yang terfokus

sehingga kebutuhan dari tahun ke tahun sudah ada peta yang jelas. Adapun hal-hal yang

perlu diperhatikan dalam perencanaan kepegawaian untuk kebutuhan masa depan ini

menurut Sulistiyani dan Rosidah (2009) memperhatikan komponen sebagai berikut:

a. jumlah pegawai yang diperlukan

b. kualifikasi yang diperlukan

c. jangka waktu kebutuhan pegawai tersebut

Sedikit berbeda antara perencanaan untuk kebutuhan ke depan dengan perencanaan

untuk keseimbangan ke depan. Mengingat makna keseimbangan adalah harus memenuhi

persyaratan distribusi, jumlah, kualitas, masa kerja, umur pegawai lama perlu menjadi

komponen penting. Untuk menciptakan keseimbangan tentu saja harus ada suatu upaya

memberikan jawaban atas hal-hal ke depan yang menimbulkan masalah sehingga perlu

dilakukan upaya untuk menyeimbangkan. Untuk itu hal yang perlu diperhitungkan

sebagai bahan analisis adalah:

a. jumlah pegawai yang ada saat ini

b. usia pegawai dan kemungkinan pensiun

c. jumlah lowongan yang ada

d. pegawai yang diperlukan

Dalam penyusunan pedoman pengembangan perencanaan pegawai didisain berdasarkan

pemikiran tersebut di atas. Adapun buku pedoman tersebut memuat bagian-bagian :

a. Pedoman pengembangan perencanaan untuk kebutuhan pegawai.

(12)

12 Arah dari pedoman pengembangan perencanaan pegawai Provinsi Daerah Istimewa

Yogyakarta selanjutnya harus dibangun berdasarkan indikator-indikator yang sebaiknya

dipenuhi. Indikator-indikator tersebut dapat diasumsikan sangat menentukan tingkat

kesahihan dalam menyusun pola yang akan digunakan dalam buku pedoman. Indikator

ini akan dibangun melalui refleksi teoretis sebagaimana telah dilakukan di atas, serta

dikombinasikan dengan fenomena lapangan dengan cara melakukan pengembangan

analisis. Data sekunder serta hasil FGD maupun wawancara mendalam digunakan

sebagai bahan untuk mengintegrasikan kebutuhan nyata akan SDM/pegawai di masa

(13)

13 BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Pendekaatan Penelitian

Penelitian yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif.

Pendekatan kualitatif dalam hal ini menggali informasi terkait dengan pengembangan

perencanaan kepegawaian di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Pendekatan ini

dimaksudkan untuk memperdalam informasi khususnya dari stakeholder khususnya

BKD, Biro Organisasi yang memiliki posisi penting dalam perencanaan kepegawaian

terkait dengan pengembangan organisasi pemerintah Provinsi.

3.2 Sumber Data

Studi penyusunan pedoman pengembangan sistem perencanaan pegawai provinsi

DIY ini memerlukan sumber data primer dan sekunder. Sumber data primer merupakan

sumber data yang bersifat langsung. Data diperoleh di lapangan, peneliti mengambil data

langsung kepada pihak-pihak yang bersentuhan dengan topik pengembangan pedoman

sistem perencanaan pegawai. Pengambilan data dengan melakukan kontak secara

langsung kepada sumber data, baik dengan cara melakukan wawancara, wawancara

mendalam maupun dengan melalui focus group discussiin (FGD).

Sumber data sekunder merupakan data yang telah terekam dan telah

terdokumentasi secara tertulis. Sifat data sekunder secara umum telah tersaji dengan

rapi, teroleh dan terstruktur. Untuk itulah data sekunder biasanya telah terbukukan

dengan baik. Di sisi lain data sekunder juga dapat berupa dokumen-dokumen

(14)

14 2.3 Metodologi Penelitian

Penelitian untuk penyusunan pedoman pengembangan perencanaan pegawai ini

ditempuh dengan :

a. Desk Study

Metode ini terutama menganalisis berbagai dokumen yang terkait

dengan pengembangan perencanaan kepegawaian . Segenap regulasi dan

informasi yang terkait perencanaan kepegawaian dilacak dan dianalisis.

Cakupan regulasi meliputi regulasi yang diproduksi oleh Pemerintah

Pusat dan Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Tujuan dari

analisis ini adalah menemukan pijakan, peluang sekaligus rambu-rambu

bagi desain pengembangan perencanaan kepegawaian .

Metode ini juga melacak berbagai riset yang pernah dilakukan

oleh berbagai pihak terkait dengan pengembangan perencanaan

kepegawaian . Tujuannya adalah mengidentifikasi persoalan dan tawaran

alternatif kebijakan desain pengembangan perencanaan kepegawaian

yang ideal.

b. Field Study

1) Focus Group Discussion (FGD)

Metode ini merupakan aktivitas turun lapangan terutama

untuk mendapatkan data primer, sekaligus sekunder, yang terkait

dengan fokus studi. Teknik yang digunakan meliputi Focus Group

Discussion (FGD) dan wawancara mendalam dengan stakeholders

yang relevan. Arah dari kegiatan ini adalah mencapai target utama

yaitu agar dapat mengidentifikasi permasalahan-permasalahan

yang ada kaitannya dengan isu hubungan pengembangan

perencanaan kepegawaian serta kemungkinan-kemungkinan

(15)

15 2) Wawancara

Teknik wawancara yang digunakan dalam studi ini

merupakan sebuah pengumpulan data yang berlangsung dengan

cara menemui informan secara langsung, dan mengajukan

pertanyaan-pertanyaan secara terstruktur. Dengan demikian

diperoleh respon jawaban secara langsung secara jelas dan

terklarifikasi. Ada interaksi dinamis antara pihak peneliti dengan

informan.

3) Wawancara mendalam

Teknik wawancara mendalam adalah pengumpulan data

dengan cara melakukan pengajuan pertanyaan-pertanyaan secara

detail dan disampaikan secara langsung kepada key person. Pihak

yang diwawancara sengaja dipilih tokoh-tokoh kunci yang

memiliki informasi secara detail dan mendalam tentang pedoman

pengembangan sistem perencanaan pegawai. Teknik ini

digunakan untuk menggali informasi khususnya menyangkut

kebijakan-kebijakan terkait dengan perencanaan pegawai yang

telah dilakukan, sedang dilakukan maupun yang akan dilakukan.

Dengan informasi ini maka dapat memberikan kejelasan tentang

kebutuhan pedoman pengembangan sistem perencanaan pegawai

yang diperlukan.

2.4 Narasumber

Narasumber dalam studi ini adalah terdiri atas informan dan key person.

Informan merupakan para aktor yang memiliki informasi di bidang pengembangan

sistem perencanaan pegawai. Adapun informan dalam hal ini meliputi Staf di bidang

perencanaan pegawai di Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Daerah Istimewa

(16)

16 Key person merupakan tokoh kunci yang menguasai informasi, pengambil

kebijakan, perumus kebijakan serta eksekutor dalam pengembangan sistem

perencanaan perencanaan pegawai. Kepala Badan Kepegawaian Daerah, Kepala Biro

Organisasi serta Kepala Biro Perencanaan pegawai merupakan key person yang

diwawancara secara mendalam.

2.5 Tahap Kegiatan 1. Perencanaan

Tahap perencanaan adalah tahap untuk mempersiapkan dan memperlancar

keperluan riset. Aktivitas yang dilakukan meliputi :

a) Penyusunan rencana data,

b) Koordinasi dengan pihak terkait dan stakeholder, dan

c) Penyiapan administrasi studi.

Tujuan dari tahap ini adalah mempersiapkan pelaksanaan studi dapat berjalan

dengan baik dan lancar.

2. Studi Lapangan

Merupakan aktivitas untuk mencari data primer dan sekunder. Tim peneliti

akan menggali data primer dari para stakeholders dengan menggunakan Focus

Group Discussion (FGD), wawancara mendalam. Stakeholder yang dituju

adalah yang terkait dengan kebijakan di bidang kepegawaian. Institusi sebagai

obyek penelitian khususnya adalah BKD. Sementara stakeholder berupa Kepala

Biro Organisasi, Kepala Biro pengembangan pegawai, Kepala Badan Diklat.

3. Penyusunan Laporan

Pada tahap ini data yang diperoleh dari studi lapangan diklasifikasikan dan

dianalisis untuk kemudian dibuat draft laporan penelitian. Draft ini kemudian

dipaparkan dalam penyampaian laporan sehingga memperoleh pandangan dan

(17)

17 feedback tentang berbagai hal terkait dengan data penelitian yang telah

dilakukan, pengolahan data serta draft output mengenai standart hubungan

pengembangan perencanaan kepegawaian. Setelah itu draft disempurnakan

sehingga menjadi sebuah laporan final serta output yang memenuhi kebutuhan

dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dalam pengembangan perencanaan

kepegawaian . Tahap ini adalah akhir dari aktivitas riset.

2.6 Kebutuhan Data

Data yang dibutuhkan meliputi :

a. Data primer

1. Hasil FGD

a) Aspek-aspek yang perlu dipertimbangkan untuk

penyusunan buku pedoman pengembangan perencanaan

kepegawaian.

b) Pola formasi pegawai pemerintah Provinsi.

c) Pola atau trend kebutuhan pegawai dalam satu periode.

d) Arahan pedoman perencanaan pegawai

- isi/substansi yang harus ada

- indikator/parameter

2. Hasil Wawancara mendalam

a) Kebijakan yang pernah dilaksanakan terkait dengan

perencanaan kepegawaian.

b) Permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam sistem

(18)

18 b. Data sekunder

1. Statistik pegawai menurut distribusi umur, kepangkatan dan

golongan, dinas/badan/kantor.

2. Statistik pegawai berdasarkan distribusi jabatan struktural dan

fungsional.

c. Data dokumenter

1) Perda yang mengatur tentang kepegawaian.

2) Perda tentang tata kerja dan organisasi pemerintah

provinsi.

3) Rencana Strategis/RPJM/RPJP.

4) Kebijakan/perda di bidang kepegawaian.

5) Dokumen rencana pegawai

6) Statistik pegawai lengkap trend 5 tahun terakhir

7) Pola kebutuhan pegawai 5 tahun terakhir

8) Struktur organisasi SKPD

9) Tupoksi satuan kerja di semua SKPD

d. Disain analisis

1. Data hasil wawancara dikodifikasikan ke dalam

kelompok-kelompok analisis yaitu:

 Pembahasan dan perencaan pegawai  Pedoman yang digunakan

(19)

19 2. Analisis melalui proses triangulasi data FGD dan analisis data

dokumenter dengan kronologi sebagai berikut:

1. Pembahasan perencanaan pegawai

a) Pembahasan tentang perencanaan pegawai

b) Waktu pelaksanaan pembahasan

i. Periodik

ii. Tahunan

iii. Insidentil

c) Hasil pembahasan berupa sebuah rencana pegawai

hingga terbentuk dokumen perencanan pegawai 2. Pedoman pengembangan sistem perencanaan

a) Penggunaan dokumen sebagai pedoman dalam

proses sistem perencanaan

b) Peta aktor yang terlibat dalam pembahasan hingga

penyusunan dokumen rencana pegawai.

c) Aspek-aspek yang dipertimbangkan dalam

perencanaan pegawai

d) Kebijakan yang telah dikeluarkan oleh Pemprov

DIY dalam bidang manajemen pegawai

e) Kebijakan yang spesifik mengatur tentang

pengembangan perencanaan pegawai

f) Ketersediaan pedoman untuk perencanaan pegawai

g) Antisipasi jika belum tersedia pedoman

pengembangan sistem perencanaan dengan metode

tertentu dalam perencanaan pegawai

i. Need assessment

(20)

20 iii. Prediksi yang bertolak dari kecenderungan

kebutuhan pegawai tahun-tahun

sebelumnya

iv. Perhitungan secara valid akan kebutuhan

pegawai

v. Pertimbangan yang dipakai dalam

penggunaan metode

vi. Ketersediaan peta kebutuhan pegawai per

SKPD

vii. Antisipasi metode tertentu jika pedoman

pemetaan kebutuhan pegawai tidak tersedia viii. Aktor yang memiliki kewenangan dalam

penyunan peta kebutuhan pegawai

ix. Kebijakan pusat yang diacu dalam

perencanaan pegawai

3. Variabel yang dianalisis dalam perencanaan pegawai

a. varibel yang berpengaruh terhadap perencanaan

pegawai

i. Tupoksi

ii. Struktur dan jabatan

iii. Jenis jabatan fungsional dan struktural

iv. Tupoksi jabatan

v. Gender

vi. Usia

vii. Lama masa kerja

viii. Kepangkatan

ix. Promosi jabatan

(21)

21 xi. Volume pekerjaan dan jumlah pegawai

xii. Rasio jumlah pegawai dan penduduk yang

dilayani

xiii. Luas wilayah

4. Sebaran pegawai yang diharapkan dari sebuah rencana

pegawai

a. sebaran pegawai sudah memenuhi :

i. Tupoksi semua dinas

ii. Tupoksi semua badan

iii. Tupoksi kantor

b. sebaran pegawai sudah memenuhi

i. gender

ii. pangkat/golongan/jabatan

iii. usia

iv. lama kerja

c. sebaran pegawai sudah memenuhi :

i. Kebutuhan pelayanan

ii. Kebutuhan pengembangan organisasi

d. sebaran pegawai memiliki pola manajemen karier

pegawai

e. sebaran pegawai memiliki kesesuian dengan kebutuhan

pengembangan pegawai/diklat

Dari hasil analisis tersebut dirancang sebuah kerangka pikir tentang

(22)

22 BAB IV

GAMBARAN UMUM PROVINSI DIY

4.1. Sejarah Singkat Yogyakarta

Provinsi DIY merupakan sebuah provinsi yang memiliki nilai sejarah yang

penting di mata Indonesia. Sebelum Indonesia merdeka, Yogyakarta sudah mempunyai

tradisi pemerintahan, karena Yogyakarta merupakan Kesultanan, termasuk di dalamnya

Kadipaten Pakualaman. Pada zaman penjajahan Belanda, daerah yang mempunyai

asal-usul dengan pemerintahannya sendiri, disebut Zelfbersturende Landschappen, atau di

masa kemerdekaan disebut dengan nama Daerah Swapraja.

Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat berdiri sejak 1755, didirikan oleh

Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I.

Sedangkan Kadipaten Pakualaman berdiri sejak 1813, didirikan oleh Pangeran

Notokusumo (saudara Sultan Hamengku Buwono II) yang kemudian bergelar Adipati

Paku Alam I. Baik Kasultanan maupun Pakualaman diakui oleh Pemerintah Hindia

Belanda sebagai kerajaan dengan hak mengatur rumah tangganya sendiri. Semua itu

dinyatakan dalam kontrak politik, yang terakhir kontrak politik Kasultanan tercantum

dalam Staatsblaad 1941 No. 47, dan kontrak politik Pakualaman dalam Staatsblaad

1941 No. 577.

Pada saat proklamasi kemerdekaan RI, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri

Paku Alam VIII menyatakan Daerah Kasultanan Yogyakarta dan Daerah Pakualaman

menjadi bagian dari wilayah Negara RI, dan bergabung menjadi satu menjadi Daerah

Istimewa Yogyakarta. Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII

sebagai Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang bertanggungjawab langsung

kepada Presiden RI. Hal tersebut dinyatakan dalam:

1. Piagam kedudukan Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paku Alam VIII

(23)

23 2. Amanat Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paku Alam VIII tertanggal 5

September 1945 (dibuat terpisah)

3. Amanat Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paku Alam VIII tertanggal

30 Oktober 1945 (dalam satu naskah).

Sebagai daerah otonom setingkat Provinsi, Daerah Istimewa Yogyakarta

dibentuk secara tersendiri dengan Undang-undang No. 3 Tahun 1950 jo. No. 19 Tahun

1950 yang sampai saat ini masih berlaku. Pada saat ini Kraton Yogyakarta dipimpin

oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Puro Pakualaman dipimpin oleh Sri Paduka

Paku Alam IX. Keduanya memainkan peran yang sangat menentukan di dalam

memelihara nilai-nilai budaya dan adat-istiadat Jawa dan merupakan pemersatu

masyarakat Yogyakarta. Kemudian Negara RI mengeluarkan Undang-undang Pokok Pemerintahan Daerah, yaitu Undang-undang No. 1 Tahun 1957, Penetapan Presiden RI

No. 6 Tahun 1959 (disempurnakan), kemudian Undang-undang No. 18 Tahun 1964.

Kesemuanya itu mengatur perihal pembentukan Pemerintahan Daerah Otonom. Yang

terakhir Undang-undang No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di

Daerah.

Sebutan kota perjuangan untuk kota ini berkenaan dengan peran Yogyakarta

dalam konstelasi perjuangan bangsa Indonesia baik pada jaman kolonial Belanda, jaman

penjajahan Jepang, maupun pada jaman perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Yogyakarta pernah menjadi pusat kerajaan, baik Kerajaan Mataram (Islam), Kesultanan

Yogyakarta maupun Kadipaten Pakualaman. Sebutan kota kebudayaan berkaitan erat

dengan peninggalan-peninggalan budaya bernilai tinggi dari masa kerajaan-kerajaan

tersebut yang hingga kini tetap terpelihara. Sebutan ini juga berkaitan dengan banyaknya

pusat-pusat seni dan budaya.

Pada saat ini Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dipimpin oleh Sri Sultan

Hamengkubuwono X dan Kadipaten Pakualaman dipimpin oleh Sri Paduka Paku Alam

IX yang sekaligus menjabat sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DIY. Keduanya

memainkan peran dalam memelihara nilai-nilai budaya dan adat istiadat Jawa dan

(24)

24 Melihat deskripsi di atas, maka Yogyakarta memiliki peranan yang sangat

penting dalam perjalanan sejarah bangsa dan negara Indonesia. mengingat peran penting

tersebut maka Yogyakarta memperoleh tempat yang terhormat di dalam sistem

pemerintahan Indonesia. atas pertimbangan tersebut maka penataan sistem pemerintahan

menjadi bagian utama. Terkait dengan hal tersebut, maka manajemen sumberdaya

manusia sebagai motor penggerak pemerintahan tersebut menjadi kebutuhan yang harus

terpenuhi. Muara dari manajemen SDM sebagaimana dimaksud adalah membutuhkan

sistem perencanaan SDM. Untuk itulah guna menjaga kelangsungan hidup DIY sebagai

pemegang peran dalam sejarah Indonesia, maka harus didukung oleh sebuah sistem

perencanaan SDM yang baik.

4.2. Kondisi Geografis

Wilayah DIY berada di bagian tengah Pulau Jawa, termasuk zone tengah bagian

selatan dari formasi geologi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Secara astronomi Provinsi

DIY terletak di antara 7033’LS – 8012’LS, yang mencakup wilayah bekas Swapraja Kesultanan Yogyakarta, wilayah bekas Swapraja Kadipaten Pakualaman dan tiga daerah

yang semula termasuk wilayah Jawa Tengah, yakni bekas daerah enclave Kapanewon di

Gunung Kidul, daerah enclave Kawedanan Imogiri dan daerah enclave Kapanewon di

Bantul.

Secara administratif keseluruhan wilayah tersebut berbatasan dengan Kabupaten

Magelang (di sebelah barat laut), Kabupaten Klaten (di sebelah timur), Kabupaten

Wonogiri (di sebelah tenggara), Samudera Indonesia (di sebelah selatan) dan Kabupaten

Purworejo (di sebelah barat). Luas wilayah DIY sekitar 3.185,80 km2, yang terbagi

dalam lima wilayah administratif , yaitu :

 Kota Yogyakarta dengan luas 32,5 km2, terdiri dari 14 kecamatan dan 45 kelurahan

 Kabupaten Sleman dengan luas 574,82 km2, terdiri dari 17 kecamatan dan 86 desa.

(25)

25  Kabupaten Kulonprogo dengan luas 586,27 km2, terdiri dari 12 kecamatan

dan 88 desa.

 Kabupaten Gunungkidul dengan luas 1.485,36 km2, terdiri dari 18 kecamatan dan 144 desa

Secara geografis wilayah DIY tersusun atas empat satuan, yaitu Pegunungan

Selatan, Gunung api Merapi, dataran rendah antara Pegunungan Selatan dan

Pegunungan Kulonprogo, dan Pegunungan Kulonprogo dan dataran rendah selatan.

4.3. Kependudukan

Sebutan Yogyakarta sebagai daerah tujuan wisata menggambarkan potensi

Provinsi ini dalam bidang pariwisata. Kekuatan Yogyakarta menjadi daerah tujuan

wisata kedua setelah Bali perlu menjadi komitmen seluruh elemen. Berbagai jenis obyek

wisata dikembangkan di daerah ini, mulai dari wisata alam, wisata sejarah, wisata

budaya, wisata minat khusus, wisata pendidikan, bahkan yang terbaru wisata malam.

Predikat sebagai kota pelajar berkaitan dengan sejarah dan peran kota ini dalam dunia

pendidikan di Indonesia. Disamping tersedianya berbagai jenjang pendidikan di provinsi

ini, juga terdapat banyak mahasiswa dari berbagai Provinsi di Indonesia yang menimba

ilmu di kota Yogyakarta, sehingga tidak berlebihan jika Yogyakarta disebut sebagai

miniatur Indonesia.

Tahun 2005 Yogyakarta mencatat keberhasilan di bidang kependudukan dalam

hal pencapaian angka harapan hidup tertinggi di Indonesia yaitu 73 tahun. Angka

harapan hidup DIY lebih tinggi disbanding rerata Indonesia yang nilainya 70,7 tahun.

Diantara Kabupaten dan Kota, Kabupaten Sleman merupakan konsentrasi Lansia di

DIY. Usia harapan hidup di Sleman adalah 74 tahun. Usia harapan hidup yangpanjang

merupakan representasi banyak factor antara lain kondisi ekonomi yang menjamin

kesejahtraan rumah tangga dan keterkecukupan kebutuhan dasarnya, pelayanan

kesehatan yang efektif dalam mengatasi penyakit dan gangguan kesehatan masyarakat,

kualitas lingkungan yang baik dan sosio cultural masyarakat yang menjamin hidup lebih

(26)

26 Dibidang kependudukan, perwujudan keluarga kecil berkualitas merupakan

langkah penting untuk mencapai pembangunan berkelanjutan. Berdasarkan IPM, yang

merupakan indeks komposit dari indeks angka harapan hidup, indeks angka melek huruf,

indeks rerata lama sekolah dan indeks pengeluaran riil perkapita dari seluruh provinsi di

Indonesia, DIY menempati urutan IPM yang baik yaitu kelompok empat besar.

Sedangkan untuk jumlah penduduk, jika diasumsikan pertumbuhan dalam jangka

panjang rata-rata sebesar kurang lebih 1% per tahun, maka jumlah penduduk Provinsi

DIY pada tahun 2025 diperkirakan akan mencapai sekitar 3.776.500 jiwa (BPS).

Masalah kependudukan tentunya memiliki konsekuensi yang bersifat langsung

dengan pelayanan. Keberadaan pemerintah sebaliknya sebagai penyelenggara pelayanan

publik, menghadapi masalah upaya untuk meningkatkan efektivitas pelayanan. Kendati Pemerintah Provinsi tidak secara langsung berhadapan dengan masyarakat dalam

penyelenggaraan pelayanan publik, namun Pemerintah Provinsi setidaknya memberikan

pelayanan kepada Pemerintah Kabupaten/kota. Untuk itulah secara koordinatif

Pemerintah Provinsi DIY berhubungan dengan 4 Kabupaten dan 1 Kota sebagai upaya

peningkatan pelayanan publik. Tentu saja dengan wilayah yang relatif luas mencakup 5

Kabuapetn Kota ini maka perlu ditingkatkatkan kapasitas SDM pada Provinsi DIY.

Guna menopang sistem pelayanan publik yang secara koordinatif

diselenggarakan bersama Kabupaten dan Kota ini maka perlu dilakukan pengembangan

sistem perencanaan pegawai di Provinsi DIY. Untuk itulah keberadaan pedoman

pernecanaan pegawai menjadi sangat diperlukan.

4.4. Ekonomi dan Sumberdaya Alam

Kegiatan investasi baik yang dilakukan oleh domestic (PMDN) maupun asing (PMA) di

DIY dari waktu ke waktu mengalami pasang surut, sesuai dengan perkembangan

keadaan politik nasional, kebijakan pemerintah, dan kondisi maksro nasional.

(27)

27 mengalami peningkatan yang ditunjukkan penerbitan Surat Ijib Usaha Perdagangan

(SIUP) dan Tanda Daftar Perusahaan (TDP).

Kontribusi sektor pertanian (termasuk perikanan dan kehutanan) terhadap PDRB selama

sepuluh tahun terakhir rerata sebesar 16, 33 % (terbesar ketiga setelah sektor jasa dan

perdagangan). Apabila diukur dari kesejahteraan, nilai tukar (terms of trade) petani di

DIY dalam sepuluh tahun terakhir meningkat dari 96,9% menjadi 133,3% (tertinggi di P.

Jawa). Sedangkan untuk produksi benih ikan dan udang selama sepuluh tahun terakhir

(28)

28 4.5. Kondisi SDM

Permasalahan MSDM yang tampak secara umum dapat diinformasikan melalui data

statistik pegawai. Baik kondisi pegawai terkait dengan kuantitas maupun kulitas tentu

dapat menggambarkan daya dukung yang dimiliki oleh Pemerintah Provinsi DIY.

Terkait dengan wilayah administrasi dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.1 Jumlah Wilayah Administrasi

Sumber : Biro Tata Pemerintahan Setda Prov. DIY, 2008 dalam

Terkait dengan wilayah administrastif di atas menunjukkan tentang keluasan jangkauan

pelayananan. Jangkauan pelayanan yang luas tentunya memerlukan pegawai yang lebih

banyak, sekaligus dengan penngkatan kualiatas secara memadai. Sekalipun Provisni

tidak berhadapan langsung dengan pelayanan kepada masyarakat, namun memberikan

koordinasi dengan Kabupaten dan kota tetap saja memerlukan sebuah pelayanan yang

memadai.

Guna melihat secara jelas tentang jumlah pegawai yang dimiliki oleh

(29)

29 Grafik 4.1 Pegawai pemprov DIY

Sumber: BKD DIY 2010, diolah 2010

Dukungan pegawai pada setiap SKPD juga mengindikasikan kekuatan

Pemerintah Provinsi DIY. Adanya distribusi yang seimbang antar SKPD memberikan

kekuatan yang stabil bagi setiap SKPD. Distribusi pegawai tentunya perlu

dipertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan dan tupoksi dengan staffing yang

dilakukan di setiap SKPD. Sementara itu tentunya BKD memiliki peran yang strategis

dalam masalah distribusi pegawai tersebut. Untuk dapat mengetahui tentang distribusi

pegawai per unit organisasi yang ada dalam 33 SKPD. Berikut adalah komposisi

pegawai dalam masing-masing unit organisasi:

(30)

30 NO. UNIT ORGANISASI/INSTANSI LAKI-LAKI / ESELON

JML

4 Biro Administrasi Kesejahteraan Rakyat

Dan Kemasyarakatan 0 1 3 5

9 0 0 0 4 4 13

5 Biro Administrasi Perekonomian Dan

Sumber Daya Alam 0 1 2 4

7 0 0 1 4 5 12

6 Biro Administrasi Pembangunan 0 1 1 5 7 0 0 2 3 5 12

7 Biro Organisasi 0 0 1 6 7 0 1 2 3 6 13

8 Biro Umum, Hubungan Masyarakat Dan

Protokol 0 1 4 6

11 0 0 0 4 4 15

9 Sekretariat DPRD 0 1 4 6 11 0 0 0 6 6 17

10 Inspektorat 0 1 4 1 6 0 0 1 2 3 9

11 Badan Perencanaan Pembangunan

Daerah 0 1 6 8

17 Badan Kesatuan Bangsa Dan

Perlindungan Masyarakat 0 1 4 6

11 0 0 0 2 2 13

18 Badan Ketahanan Pangan Dan

Penyuluhan 0 1 5 8

14 0 0 0 3 3 17

19 Badan Kerjasama Dan Penanaman

Modal 0 1 3 3

(31)

31

20 Kantor Perwakilan Daerah 0 0 1 1 2 0 0 0 2 2 4

21 Gerai Investasi 0 0 1 3 4 0 0 0 0 0 4

22 Badan Pemberdayaan Perempuan Dan

Masyarakat 0 0 2 5

7 0 1 3 6 10 17

23 Rumah Sakit Grhasia 0 0 0 4 4 0 1 3 7 11 15

24 Satuan Polisi Pamong Praja 0 0 1 3 4 0 0 0 0 0 4

25 Dinas Pertanian 0 1 3 8 12 0 0 2 7 9 21

26 Balai Pengawasan Dan Sertifikasi Benih

Pertanian 0 0 1 1

2 0 0 0 1 1 3

27 Balai Pengembangan Perbenihan

Tanaman Pangan Dan Hortikultura 0 0 1 3

4 0 0 0 0 0 4

28 Balai Pengembangan Sumberdaya

Manusia Pertanian 0 0 1 1

2 0 0 0 2 2 4

29 Balai Pengembangan Bibit, Pakan

Ternak Dan Diagnostik Kehewanan 0 0 0 3

3 0 0 1 0 1 4

30 Balai Proteksi Tanaman Pertanian 0 0 0 3 3 0 0 1 0 1 4

31 Dinas Kelautan Dan Perikanan 0 1 3 8 12 0 0 1 4 5 17

32 Balai Pengembangan Teknologi

Kelautan Dan Perikanan 0 0 1 2

36 Balai Kesatuan Pengelolaan Hutan

(KPH) 0 0 1 2

38 Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah

Raga 0 0 4 10

(32)

32

59 Balai Penyelenggara Jaminan

Kesehatan Sosial 0 0 1 1

2 0 0 0 2 2 4

60 Dinas Tenaga Kerja Dan Transmigrasi 0 1 4 10 15 0 0 1 5 6 21

61 Balai Latihan Kerja Dan Pengembangan

Produktivitas 0 0 1 1

2 0 0 0 2 2 4

62 Balai Hiperkes Dan Keselamatan Kerja 0 0 0 1 1 0 0 1 2 3 4

63 Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan

Dan Energi Sumber Daya Mineral 0 0 7 15

(33)

33

64 Balai Pengelolaan Sumber Daya Air

Provinsi 0 0 1 2

66 Balai Instalasi Pengelolaan Air Limbah

(IPAL) 0 0 1 1

2 0 0 0 1 1 3

67 Dinas Perhubungan, Komunikasi Dan

Informatika 0 1 5 11

17 0 0 1 5 6 23

68 Trans Jogja 0 0 1 1 2 0 0 0 1 1 3

69 Kantor Pengendalian Lalu Lintas Dan

Angkutan Jalan 0 0 1 1

2 0 0 0 1 1 3

70 Plaza Informasi 0 0 1 2 3 0 0 0 1 1 4

71 Dinas Perindustrian, Perdagangan

Koperasi Dan Usaha Kecil Menengah 0 1 5 6

12 0 0 1 9 10 22

72 Balai Pengembangan Teknologi Tepat

Guna 0 0 1 1

2 0 0 0 2 2 4

73 Balai Metrologi 0 0 1 3 4 0 0 0 0 0 4

74 Balai Pelayanan Bisnis 0 0 0 2 2 0 0 1 1 2 4

75 Dinas Pendapatan, Pengelolaan

Keuangan Dan Aset 0 1 6 16

23 0 0 1 7 8 31

76 Kantor Pelayanan Pajak Daerah Di Kota

Yogyakarta 0 0 1 1

2 0 0 0 2 2 4

77 Kantor Pelayanan Pajak Daerah Di

Kabupaten Bantul 0 0 1 3

4 0 0 0 0 0 4

78 Kantor Pelayanan Pajak Daerah Di

Kabupaten Kulonprogo 0 0 0 3

3 0 0 1 0 1 4

79 Kantor Pelayanan Pajak Daerah Di

Kabupaten Gunungkidul 0 0 1 3

4 0 0 0 0 0 4

80 Kantor Pelayanan Pajak Daerah Di

Kabupaten Sleman 0 0 1 1

2 0 0 0 2 2 4

81 Sekretariat Komisi Pemilihan Umum

Provinsi 0 1 3 3

(34)

34

J U M L A H 1 30 151 314 496 0 7 43 203 253 749

Sumber: BKD DIY, 2010

Dari tabel di atas terlihat bahwa distribusi pegawai dari aspek gender sudah

dipertimbangkan, secara akumulasi jumlah pegawai pria dengan perempuan 496:253.

Untuk eselon IV laki-laki 314 dan perempuan 203. Namun untuk posisi eselon II dan III

nampaknya cenderung didominasi laki-laki.

Di samping dari sisi distribusi yang seimbang dalam setiap SKPD, masih diperlukan

dukungan kualitas pegawai. Kualitas pegawai secara umum diinformasikan melalui latar

belakang pendidikan dan kecakapan. Pendidikan secara umum menginformasikan

tentang kapasitas pegawai. walaupun pendidikan bukan merupakan satu-satunya

pendukung dalam pembentukan kemampuan pegawai, namun secara umum pendidikan

masih menjadi tolok ukur kemampuan pegawai. Deskripsi dari latar belakang

pendidikan pegawai adalah sebagai berikut:

Grafik 4.2

(35)

35 Pendidikan SLTA masih menduduki peringkat atas dalam prosentasenya yakni

891 untuk perempuan dan lak-laki 1942. Hal ini perlu mendapat perhatian untuk

pengembangannya. Perlu membut peta pengembangan pegawai yang terencana baik

untuk peningkatan melalui kuliah maupun keikutsertan diklat. Diklat sebagai salah

satu pembentuk kompetensi pegawai Provinsi DIY merupakan komplementer yang

harus ada dalam sistem pengembangan pegawai. Keberadaan diklat menopang secara

langsung untuk peningkatan kemampuan pegawai. Masalah diklat perlu diungkapkan

dalam rangka mengetahui intervensi kecakapan pegawai. Inovasi diklat diperlukan

sehingga dapat memberikan kontribusi dalam perencanaan pegawai. Dengan mengetahui

kebutuhan diklat diharapkan dapat penopang peningkatan kemampuan pegawai, dan

(36)

36 BAB V

ANALISIS SISTEM PERENCANAAN PEGAWAI PROVINSI DIY

5.1. Lembaga Organisasi Pemerintah Provinsi DIY

Masalah kelembagaan merupakan bagian penting yang menentukan dalam perencanaan

pegawai. Sistem perencanaan pegawai memberikan kontribusi besar dalam menentukan

jumlah dan proporsi serta komposisi pegawai yang perlu direncanakan. Bagaimanapun

kualifikasi pegawai, kebutuhan akan kuantitas sangat tergantung dari struktur yang akan menampung pegawai tersebut. Adapun komposisi jumlah organisasi yang ada dapat

dilihat sebagai berikut:

Tabel 5.1 Jumlah unit organisasi Pemprov DIY

No Organisasi Jumlah

1. Biro 7

2. Dinas 13

3. Kantor 7

4. Badan 9

5. Sekretariat DPRD 1

6. RS. Daerah 1

7. UPT dll 43

Jumlah 81

(37)

37 Dengan stabilitas kelembagaan maka dalam penyusunan sistem perencanaan pegawai

tidak mengalami perubahan. Dapat dikatakan bahwa permintaan pegawai tidak akan

bersifat fluktuatif. Jumlah maupun kualitas lebih terprediksi. Untuk menjawab

permasalahan perencanaan pegawai dengan ciri kelembagaan yang relatif stabil, dapat

dilakukan dengan:

1. Melihat permitaan tetap yang berlangsung setiap tahun

2. Perencanaan, dalam hal ini dapat bersifat inkremental yaitu dengan melihat

perubahan-perubahan parsial sehingga perencanaan hanyalah merupakan upaya

penyesuaian.

Ketika dikaitkan dengan RPJM Pemprov DIY 2009-2013 maka perlu melakukan redesain kebutuhan pegawai serta kualifikasinya sesuai dengan misi, khususnya

pada indikator yang digunakan untuk melihat keberhasilan misi ketiga yakni ”

Meningkatkan efisiensi dan efektifitas tata kelola pemerintahan yang berbasis good governance”. Berikut adalah jabaran dari misi tersebut :

Tabel 5.2

Indikator Efisiensi dan Efektifitas Tata Kelola Pemerintahan yang

(38)

38

Sumber: Pemprov DIY 2010

Mencermati data yang terkait dengan bidaag kepegwaian yakni standar SKPD yang mendapatkan dan menerapkan ISO hanya 2 SKPD pada tahun 2010 dan 3 SKPD pada tahun 2011, 2012 dan 2013 mengindikasaikan bahwa nampaknya pemerintahan provinsi kurang menekankan akan pentingnya data pegawai. Hal ini perlu mendapat perhatian dan keseriusan, sisi lain perlunya penekanan akan pemenuhan data dari masing-masisng SKPD untuk dioleh oleh BKD menjadi informasi yang lengkap dan akurat.

Terkait dengan rsio jumlah SKPD dengan tenaga arsiparis dari tahun ketahun meningkat dari 1:1 menjadi 1:2. Hal tersebut telah mengacu pada jangkauan pelayanan masyarakat. Semestinya pemprov DIY perlu menargetkan rasio SKPD dengan pegawai yang berhubungan langsung dengan penyelenggaraan pelayanan publik.

Dari indikatior yang telah ditetapkan dalam RPJM di atas secara implisit pemerintahan provinsi DIY sangat urgen untuk menekankan pada pentingnya data pegawai sehingga pemenuhan terhadap prediksi kebutuhan dapat terealisasi.

3. Peraturan-peraturan yang terkait:

Perlunya melihat peraturan-peraturan yang berlaku dalam menyusun pedoman

(39)

39 a) Peraturan Daerah Istimewa Yogyakarta No 7 Tahun 2007 tentang

Urusan Pemerintahan yang menjadi Kewenangan Provinsi Daerah

Istimewa Yogyakarta;

b) Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta No 5

Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah dan

Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Daerah

Istimewa Yogyakarta;

c) Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta No 1

Tahun 2009 tentang Penetapan Anggaran Pendapatan dan Belanja

Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun Anggaran

2009;

d) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2008

Tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.

Khususnya tentang peraturan yang berurusan pemerintah

mengindikasikan cakupan kewenangan yang menjadi proporsi pemerintah

Provinsi DIY. Dengan peraturan tersebut maka menunjukkan luas sempitnya

kewenangan yang dimiliki. Jika kewenangannya luas maka tentu memerlukan

dukungan pegawai yang banyak dan memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan.

Sementara itu jenis kewenangan akan memerlukan dukungan kompetensi

pegawai yang sesuai kuantitas dan kualitas.

Untuk peraturan tentang organisasi dan tata laksana menggambarkan

suatu cakupan manajemen organisasi yang ada di SKPD pemerintah Provinsi.

Cakupan ini memerlukan dukungan sistem kepegawaian yang mampu

mendukung sistem dan organisasi tata laksana. Dengan disain organisasi dan tata

laksana tertentu maka memerlukan suplay pegawai yang memenuhi standar yang

ditentukan dengan demikian organisasi dan tata laksana tersebut dapat bergerak

sesuai dengan mekanisme dan prosedur yang ada serta mampu mencapai tujuan

(40)

40 Keberadaan pegawai dalam pemerintah Provinsi selalu terkait dengan

persediaan anggaran. Khususnya anggaran rutin pegawai sebagai beban tetap

yang harus diampu oleh pemerintah provinsi. Gaji pegawai merupakan anggaran

rutin yang harus dikeluarkan oleh pemerintah. Untuk itulah peraturan tentang

anggaran ini hendaknya diakomodasi dalam mempertimbangkan rancanagan

buku pedoman sistem perencanaan pegawai.Besar kecilnya plafont anggaran

rutin pegawai dapat menjadi acuan dalam penyusunan pedoman sistem

perencanaan pegawai. Jika anggaran rutin tersebut tetap dari tahun ke tahun

maka akan sulit untuk melakukan penambahan pegawa sehingga di dalam sistem

perencanaan pegawai sementinya menyebutkan komponen anggaran

Dalam pelaksanaan peraturan evaluasi juga menekankan bahwa salah

satu variabel yang dievaluasi adalah manajemen sumber daya manusia, yang

hakikatnya berupa maanajemen kepegawaian. Muara dari evaluasi ini adalah

penyelenggaraan manajemen pegawai mulai dari perencanaan hingga pemutusan

hubungan kerja. Unsur perencanaan menjadi bagian penting untuk dievaluasi.

Jika tersedia pedoman sistem perencanaan pegawai maka akan memudahkan

untuk pelaksanaan evaluasi, karena ibaratnya upaya menilai ini tinggal menelisik

dan mencocokkan parameter dengan capaian yang diperoleh.

4. Penataan Jabatan Struktural

Penaataan jabatan struktural merupakan hal yang penting. Kondisi ini merupakan

bagian yang diperhitungkan dalam sistem perencanaan pegawai. Dalam rengka

penataan jabatan struktural ini dilakukan hal-hal sebagai berikut1:

(1) Melakukan fit and proper test untuk mengetahui kompetensi pejabat

struktural yang bersangkutan;

(2) Melakukan uji assessment center dan penyampaian visi dan misi bagi

pejabat yang akan promosi ke Eselon II;

(41)

41 (3) Menerapkan metode scoring untuk penempatan PNS dalam jabatan

struktural berdasarkan Surat Mendagri dan OTDA No.

811.212.2/007321/SJ tanggal 6 November 2000;

(4) Melakukan impassing pejabat struktural ke jabatan fungsional tertentu.

5. Penataan Jabatan Fungsional

Perkembangan tuntutan masyarakat terhadap pelayanan yang

berorientasi pada kebutuhan riil semakin kompleks, maka jabatan

fungsional merupakan salah satu jawaban terhadap pemenuhan kebutuhan

masyarakat. Jabatan ini dirancang untuk mengisi fungsi-fungsi tertentu yang

benar-benar berkontribusi terhadap capaian kinerja birokrasi. Domain atau ranah jabatan fungsional saat ini sangat terbuka bagi setiap Pemerintah

Daerah untuk mengisi sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Jabatan fungsional memberikan peluang kepada aparatur untuk bekerja

secara profesional karena ada hubungan yang sangat signifikan antara

kinerja seorang pejabat fungsional dengan jenjang karir yang akan dialami.

Semakin baik kinerja seorang pejabat fungsional ada kemungkinan untuk

meniti karier juga lebih baik, setidaknya dari segi kepangkatan dan segala

konsekuensinya.

Penataan jabatan fungsional memberikan kontribusi dalam

penyusunan pedoman sistem perencanaan pegawai. Penataan jabatan

fungsional menginformasikan jenis jabatan fungsional, serta rumpun jabatan

fungsional. Jenis maupun rumpun jabatan fungsional selain

menginformasikan tentang kebutuhan kuanitas serta kualitass pejabat

fungsional, juga menginformasikan kompetensi yang dibutuhkan. Dan ini

sangat erat laitannya dengan tupoksi, uraian kerja, serta kompetensi yang

harus dimiliki.

(42)

42 Sebagaimana jabatan fungsional yang telah diuraikan dalam di

atas, maka jabatan fungsional umum juga perlu dilengkapi di masing-masing

SKPD. Jika hal ini dapat diwujudkan maka pelayanan unit kerja akan

semakin baik, sejalan dengan semakin terpenuhinya jabatan-jabatan

fungsional umum seperti misalnya jabatan pranata komputer. Pengisian

jabatan fungsional umum semakin mendesak untuk direalisasikan karena

sesuai dengan semangat merampingkan organisasi tetapi tetap kaya fungsi

7. Pengembangan sistem reward dan punishment

Guna mengupayakan penerapan reward dan punishment ini, Pemerintaah

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta telah menerbitkan Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 49 Tahun 2005 tentang

Pedoman Pemberian Penghargaan (reward) dan sanksi (punishment) bagi

pegawai negeri sipil di lingkungan Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa

Yogyakarta. Sebagaimana diurai dalam butir menimbang, peraturan ini

dimaksudkan untuk mewujudkan aparatur pemerintah yang profesional dan

berdedikasi tinggi, sehingga perlu didukung oleh sistem insentif berupa

penghargaan dan sanksi sepadan dengan tingkat kontribusi setiap pegawai

negeri sipil di lingkungan Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Penting bagi pemerintah daerah untuk berusaha merealisasikan

Peraturan Gubernur tersebut, agar keraguan birokrasi untuk mereformasi

diri setidaknya akan semakin berkurang. Hal ini memang mendasar, sebab

selama ini kebanyakan dari pejabat birokrasi masih menemukan

kebingungan ketika harus melakukan pemberian penghargaan dan sanksi

untuk mendukung terwujudnya aparatur yang bersih, berwibawa dan

berorientasi pada pengabdian.

Peraturan Gubernur ini secara tegas menetapkan bahwa klasifikasi

kinerja merupakan dasar dalam menentukan bentuk penghargaan dan

(43)

43 (performance based incentive), setidaknya ada tujuh belas unsur yang dinilai

dalam menentukan klasifikasi kinerja yang dinamakan dimensi kinerja.

Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa instrumen untuk mewujudkan

pemerintahan yang baik di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta semakin

lengkap.

Penghargaan dan hukuman sebenarnya merupakan paket yang

menyatu dengan sistem manajemen pegawai. Disain perngahargaan dan

hukuman dapat menjadi komponen yang penting dalam perencanaan

pegawai. Dengan adanya sistem penghargaan serta hukuman memungkinkan

sebuah sistem perencanaan pegawai memperoleh dukungan moril. Semangat

untuk meningkatkan kualitas serta kinerja menjadi bagian penting sehingga dalam perencanaan pegawai memperhitungkan adanya prestasi atau kinerja

tinggi yang dihargai. Sedangkan turunnya kompetensi dan tidak

terpenuhinya target ini merupakan bagian yang penting untuk menegakkan

pelaksanaan suatu rencana pegawai sehingga dapat memenuhi rencana yang

telah ditentukan.

8. Pengembangan pengawasan komprehensif

Persoalan yang berkaitan dengan pengawasan dan penilaian

kinerja instansi harus dilaksanakan secara baik, mengingat anggaran yang

saat diterapkan oleh Pemerintah di seluruh Indonesia termasuk Pemerintah

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta adalah anggaran berbasis kinerja.

Dengan demikian menjadi kewajiban bagi setiap Pemerintah Daerah untuk

mengupayakan penilaian kinerja baik secara instansional maupun secara

holistik bagi seluruh SKPD yang ada di lingkup pemerintahannya. Dalam hal ini, Pemerintah Provinsi DIY telah menyusun LAKIPDA guna mengetahui

posisi kinerja yang dicapai dari tahun ke tahun. Secara formal dokumen

LAKIPDA merupakan salah satu patokan kinerja yang dapat digunakan

(44)

44 perencanaan tahun yang akan datang serta mengisi celah kekurangan yang

terjadi pada masa lampau sebagai akibat dari keterbatasan sumber daya

pemerintahan maupun pembangunan yang antara lain mencakup (man,

money, material, methode, machine dan market).

5.2 Lingkup Analisis

Analisis ini dilakukan untuk mengidentifikasi sistem perencanaan yang dilakukan di

Provinsi DIY. Hal ini dilakukan untuk mengetahui tradisi dalam sistem kepegawaian

untuk membuat peta kebutuhan pegawai secara periodik. Provinsi DIY telah

menggunakan perencanaan pegawai sebagai acuan standar dalam rangka manajemen

SDM secara menyeluruh dan komprehensif. Adapun ruang lingkup analisis ini

adalah sebagai berikut:

1. Pembahasan perencanaan pegawai

2. Pedoman pengembangan sistem perencanaan

a. Penggunaan dokumen sebagai pedoman dalam proses pengadaan dan

rekrutmen pegawai

b. Peta aktor yang terlibat dalam pembahasan hingga penyusunan dokumen

rencana pegawai.

c. Aspek-aspek yang dipertimbangkan dalam perencanaan pegawai

d. Kebijakan yang telah dikeluarkan oleh Pemprov Banten dalam bidang

manajemen pegawai

e. Kebijakan yang spesifik mengatur tentang pengembangan perencanaan

pegawai

f. Ketersediaan pedoman untuk perencanaan pegawai

g. Antisipasi jika belum tersedia pedoman pengembangan sistem

perencanaan dengan metode tertentu dalam perencanaan pegawai

i. Need assessment

ii. Trial and error

iii. Prediksi yang bertolak dari kecenderungan kebutuhan pegawai

(45)

45 iv. Perhitungan secara valid akan kebutuhan pegawai

h. Pertimbangan yang dipakai dalam penggunaan metode

i. Ketersediaan peta kebutuhan pegawai per SKPD

j. Antisipasi metode tertentu jika pedoman pemetaan kebutuhan pegawai

tidak tersedia

k. Aktor yang memiliki kewenangan dalam penyusunan peta kebutuhan

pegawai

l. Kebijakan pusat yang diacu dalam perencanaan pegawai

1. Variabel yang dianalisis dalam perencanaan pegawai

a. varibel yang berpengaruh terhadap perencanaan pegawai i. Tupoksi

ii. Struktur dan jabatan

iii. Jenis jabatan fungsional dan struktural

iv. Tupoksi jabatan

v. Gender

vi. Usia

vii. Lama masa kerja

viii. Kepangkatan

ix. Promosi jabatan

x. Pensiun

xi. Volume pekerjaan dan jumlah pegawai

xii. Rasio jumlah pegawai dan penduduk yang dilayani

xiii. Luas wilayah

xiv. Kedaerahan/suku

2. Sebaran pegawai yang diharapkan dari sebuah rencana pegawai

a. sebaran pegawai sudah memenuhi :

(46)

46 ii. Tupoksi semua badan

iii. Tupoksi kantor

b. sebaran pegawai sudah memenuhi

i. gender

ii. pangkat/golongan/jabatan

iii. usia

iv. lama kerja

c. sebaran pegawai sudah memenuhi :

i. Kebutuhan pelayanan

ii. Kebutuhan pengembangan organisasi

d. sebaran pegawai memiliki pola manajemen karier pegawai e. sebaran pegawai memiliki kesesusian dengan kenutuhan

pengembangan pegawai/diklat

5.3 Analisis Kondisi Eksisting dalam Sistem Perencanaan Pegawai

1. Pembahasan perencanaan pegawai

Pembahasana perencanaan pegawai telah dilakukan secara periodik

dalam rentang satu tahun sekali. Pembahasan tersebut melibatkan

masing-masing SKPD, BKD, Setda, Baperjagat. Hasil pembahasan menjadi rencana

untuk menentukan pegawai yang dibutuhkan di tiap SKPD. Pemutakhiran data

dilakukan BKD tiap bulan melalui masukan data dari masing-masing SKPD.

Terkait dengan keakuratan data akan akan sangat ditentukan dari sumber daya yang ada di masing-masisng SKPD. Di samping itu dokumen data belum

sampai pada penyajian data yang menginformasikan pengembangan karir

pegawai.

2. Pedoman pengembangan sistem perencanaan

Hasil wawancara menunjukkan informasi bahwa dokumen pembahasan

perencanaan pegawai sebagai acuhan dalam proses pengadaan. Usulan dari

(47)

47 provinsi. Keterlibatan dalam penyusunan perencanaan pegawai adalah setiap

SKPD,BKD, Stkda. Peta aktor yang terlibat dalam pembahasan hingga

penyusunan dokumen rencana pegawai terhitung sudah mewakili secara

demokratis. Akan tetapi usulan BKD untuk kebutuhan pegawai yang

mempertimbangkan aspek kebutuhan per SKPD pada akhirnya akan tergantung

pada pemerintahan pusat juga anggaran yang disediakan.

Adapun aspek-aspek yang dipertimbangkan dalam perencanaan pegawai

jumlah pegawai yang ada, analisis jabatan, analisis beban kerja. Selanjutnya

dalam wawancara tersirat bahwa keseluruhan analisis tersebut sudah dilakukan

oleh masing-masing SKPD. Dalam perencanaan pegawai mengacu pada

Peraturan Daerah Provinsi DIY Nomor 6 Tahun 2008 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Provinsi DIY, Peraturan daerah Provinsi DIY Nomor 7

Tahun 2008 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Inspektorata, Badan Perencanaan

Pembangunan Daerah.Lembaga Teknis Daerah dan Satuan Polisi Pamong Praja

Provinsi DIY.Peraturan Daerah Provinsi DIY Nomor 5 Tahun 2008. Tentang

Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi

DIY.

Pertimbangan dalam pengembangan pegawai yang selama ini dilakukan

mendasarkan pada need assesment, diklat yang telah

dilakukan,pangkat/golongan yang dipersyaratkan, personality. Sedang untuk

Eselon II juga dipertimbangkan kelayakan dan kepantasan. Metode yang

dipakai dalam membuat pedoman pengembangan sistem perencanaana adalah

analisis kebutuhan yang telah dilakukan oleh BKD, namun hanya sebatas

penyediaan informasi akan kebutuhan pegawai. Trial and error tidak dipakai

ketika merencanakan kebutuhan pegawai. Ini mengindikasikan bahwa

sebetulnya provinsi DIY telah berusaha untuk lebih hati-hati ketika proses

penentuan kebutuhan pegawai. Sehingga yang perlu diperhatikan adalah ketika

proses pelaksanaannya serta implementasinya di lapangan harus benar-benar

Gambar

Tabel 4.1 Jumlah Wilayah Administrasi
Grafik 4.1 Pegawai pemprov DIY
Grafik 4.2
Tabel 5.1  Jumlah unit organisasi  Pemprov DIY
+3

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil belajar siswa dalam pembelajaran pendidikan Agama Islam, seorang guru harus memiliki pengetahuan tentang evaluasi hasil

Jika Anda tidak tahu jenis kain atau bahannya terbuat dari apa, tentukan suhu penyetrikaan yang benar dengan cara menyetrika pada bagian yang tak terlihat apabila Anda

Adapun variabel yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM Pimpinan), Sarana Pendukung, dan Komitmen Pimpinan SKPD yang diduga

Dengan ini saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat keseluruhan atau sebagian tulisan orang lain yang saya ambil dengan cara

TT : Tinggi tanaman (cm), JA : Jumlah anakan (batang per rumpun), UB : Umur berbunga (hst), UP : Umur panen (hst), BK : Bobot kering brangkasan (gram), DH : Daya hasil (ton

Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengembangan Sumber Daya Manusia, berdasarkan hasil Rapat Kelulusan Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan Golongan II Periode VIII

Indeks amilolitik diukur dengan menggunakan media MSM padat yang ditambahkan 1% substrat karbohidrat (daun singkong, daun pepaya dan daun sente).. Potongan kertas

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan studi pustaka terhadap beberapa referensi yang menjelaskan tentang area Cekungan Kalimantan Tengah, pengolahan