• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH OTORITER DENGA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH OTORITER DENGA"

Copied!
111
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH OTORITER DENGAN

EMOTIONAL ABUSE

DALAM HUBUNGAN

BERPACARAN

SKRIPSI

Disusun oleh:

VIVI PRIMA KHRISMA

05.40.0099

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA

SEMARANG

(2)

HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH OTORITER DENGAN

EMOTIONAL ABUSE

DALAM HUBUNGAN

BERPACARAN

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang

untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat Guna Memperoleh Derajat Sarjana Psikologi

Disusun oleh:

VIVI PRIMA KHRISMA

05.40.0099

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA

SEMARANG

(3)

Dipertahankan di Depan Dewan Penguji Skripsi

Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang dan Diterima untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat Guna

Memperoleh Derajat Sarjana Psikologi

Pada Tanggal 25 Agustus 2011

Mengesahkan Fakultas Psikologi

Universitas Katolik Soegijapranata Dekan,

( Dr. Kristiana Haryani, M.Si )

Dewan Penguji

1. Drs. D.P. Budi Susetyo, M.Si ...

2. Drs. Y. Sudiantara, M.S ...

(4)

PERSEMBAHAN

Karya ini ku persembahkan kepada :

W

Papa dan mama ku yang selalu membantu dan mendoakan ku

W

Kakak dan adik ku yang selalu mamberi semangat

W

Seseorang yang mencintai ku

(5)

MOTTO

Musuh yang paling berbahaya di atas dunia ini adalah penakut dan 

bimbang. Teman yang paling setia, hanyalah keberanian dan 

keyakinan yang teguh. 

 

(6)

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur kepada Allah Bapa Yang Maha Kuasa dan Yesus Kristus atas segala rahmat dan berkat-Nya kepada penulis selama mengerjakan skripsi. Tak lupa ucapan terima kasih yang sangat tulus penulis sampaikan kepada pihak-pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, yakni:

1. DR. Kristiana Hayanti, M.Si selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata yang telah memberikan ijin atas surat-surat penelitian yang diajukan. 2. Drs. D. P. Budi Susetyo, M.Si selaku Dosen Pembimbing Utama yang dengan

penuh kesabaran memberikan waktu untuk memberi masukan dan membimbing dengan penuh kesabaran selama penulis mengerjakan skripsi.

3. Drs. HM. Edy Widyatmadi, M.Si selaku Dosen Wali yang telah banyak memberi masukan saat pemilihan mata kuliah dan memberikan ilmu selama penulis menempuh studi di Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang.

4. Seluruh Dosen Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata atas ilmu dan bimbingannya yang diberikan selama masa studi penulis.

5. Seluruh staf pengajaran di Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata atas bantuan dan pelayanan yang diberikan kepada penulis.

(7)

7. Mahasiswa-mahasiswi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang yang telah bersedia membantu penulis dalam proses pengumpulan data.

8. Papa dan Mama yang setia dalam suka dan duka, susah dan senang, pemberi semangat dan selalu mendoakan demi menyelesaikan skripsi ini.

9. Kakak ku Yusuf Chaca Arimatea dan adik ku I Nyoman Elisha yang selalu memberi semangat sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

10. Teman-teman seperjuangan ku Desi, Yosi, Gaby, Rangga, Wewin, Anne, Naning, Eliya, Veni, Pipit dan Mas Dimas yang udah membantu yang saya tidak tahu.

11.Nanda Ariawan yang selalu memberi suport dan doa.

12.Teman-teman Peer Educator angkatan 1, 2, dan khususnya angkatan 3.

13.Keluarga besar Radio ProAlma Fm Siti, Nuril, Aldi, Alan, Mas Fais, Mbak Cici, Putri, Nindya, Riza, Yosi, Adit, Anjar, Mas Idam, Reno Satria, Jendra, Della Dania, Ubay, Dika, Tamma dan anak-anak penyiar baru.

14.Teman-teman Geng Keyboard training Imelda Fm Tante Sekar, Sandy, Prita, Wisnu, Mbak Citra, Izzam, Ulfa, Aditya.

15.Kembaran ku Siska Susanti yang selalu memberi semangat untuk cepat wisuda. 16.Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu-persatu yang sudah membantu dalam

menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan masukan untuk penyempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat memberi manfaat bagi pembaca.

(8)

HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH OTORITER DENGAN EMOTIONAL ABUSE DALAM HUBUNGAN BERPACARAN

Abstraksi

Memasuki masa dewasa awal umumnya laki-laki dan perempuan yang belum menikah berkeinginan untuk mencari pasangan hidup untuk berkencan dan memulai masa berpacaran. Idealnya sepasang kekasih harus dapat saling mengasihi, menghargai, dan menghormati. Namun yang terjadi di masyarakat menunjukkan adanya perilaku kekerasan dalam pacaran.

Kekerasan dibagi menjadi tiga tingkatan; tingkatan pertama adalah kekerasan verbal dan emosional, tingkatan kedua adalah kekerasan seksual, tingkatan ketiga adalah kekerasan fisik. Verbal abuse dan emotional abuse dapat menjadi tipe kekuasaan dan kontrol yang paling merusak. Perilaku kekerasan biasanya merupakan hasil belajar dari pengalaman masa lalu atau pola asuh tertentu dari orang tua ataupun sebelumnya pernah menjadi korban tindak kekerasan. Tujuan penelitian ini berfungsi menguji secara empirik hubungan pola asuh otoriter dan pengalaman masa lalu dengan emotional abuse

dalam hubungan berpacaran.

Populasi dalam penelitian ini berjumlah 100 subyek, dan teknik pengambilan sampelnya menggunakan quota sampling, serta metode pengambilan data penelitian ini menggunakan metode skala, yang digunakan untuk mengungkap variabel-variabel penelitian yaitu ada 2 macam alat ukur yaitu: skala pola asuh otoriter dan emotional abuse. Data dalam penelitian ini dianalisis dengan product moment.

Hasil uji korelasi product moment yang menguji hubungan pola asuh otoriter dengan emotional abuse menghasilkan r = 0,666 dengan p<0,01. Hasil tersebut menunjukkan ada hubungan positif yang sangat signifikan antara pola asuh otoriter dengan emotional abuse dalam hubungan berpacaran. Jadi semakin besar tingkat pola asuh otoriter maka semakin besar pula perilaku emotional abuse-nya. semakin rendah pola asuh otoriter semakin rendah pula perilaku emotional abuse dalam hubungan berpacaran. Jadi hipotesis penelitian yang penulis ajukan diterima.

(9)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL... ii

HALAMAN PENGSAHAN... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN... iv

HALAMAN MOTTO... v

UCAPAN TERIMA KASIH... vi

ABSTRAKSI... viii

DAFTAR ISI... ix

DAFTAR TABEL... xii

DAFTAR LAMPIRAN... xiii

BAB I PENDAHULUAN... 1

A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Tujuan Penelitian... 6

C. Manfaat Penelitian... 7

1. Manfaat Teoritis... 7

2. Manfaat Praktis... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 8

A. Emotional Abuse Dalam Hubungan Berpacaran... 8

1. Pengertian Emotional Abuse Dalam Hubungan Berpacaran... 8

(10)

3. Bentuk-bentuk dari Emotional Abuse dalam Hubungan Berpacaran... 14

B. Pola Asuh Otoriter... 21

1. Pengertian Pola Asuh Otoriter... 21

2. Ciri-ciri Pola Asuh Otoriter... 24

C. Hubungan Antara Pola Asuh Otoriter Dengan Emotional Abuse dalam Hubungan Berpacaran... 26

D. Hipotesis... 28

BAB III METODE PENELITIAN... 29

A. Identifikasi Variabel Penelitian... 29

B. Definisi Oprasional Variabel Penelitian... 29

1. Emotional Abuse Dalam Hubungan Berpacaran... 29

2. Pola Asuh Otoriter... 30

C. Subjek Penelitian... 31

1. Populasi... 31

2. Teknik Sampling... 32

D. Pengumpulan Data... 32

1. Skala Emotional Abuse dalam Hubungan Berpacaran... 33

2. Skala Pola Asuh Otoriter... 35

E. Uji Alat Ukur... 36

1. Validitas... 37

2. Reliabilitas... 37

(11)

BAB IV PERSIAPAN DAN PELAKSANAAN PENELITIAN... 39

A. Orientasi Kancah Penelitian... 39

B. Persiapan Penelitian... 40

1. Penyusunan Alat Ukur... 41

2. Permohonan Ijin Penelitian... 43

C. Uji Coba Alat Ukur... 44

1. Tempat dan Waktu Penelitian... 44

2. Jumlah Subjek Penelitian... 45

3. Metode Pengambilan Sampel... 45

4. Uji Validitas dan Reliabilitas... 46

D. Pelaksanaan Penelitian... 48

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN... 49

A. Hasil Penelitian... 51

1. Uji Normalitas... 51

2. Uji Linieritas... 52

B. Uji Hipotesis... 52

C. Pembahasan... 53

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN... 58

A. Kesimpulan... 58

B. Saran... 59

(12)

DAFTAR TABEL

Tabel 1: Blue Print Skala Emotional Abuse Dalam Hubungan

Berpacaran... 34 Tabel 2: Blue Print Skala Pola Asuh Otoriter... 36 Tabel 3: Deskripsi Subjek Penelitian... 40 Tabel 4: Sebaran Nomor Item Skala Emotional Abuse Dalam Hubungan

Berpacaran... 42 Tabel 5: Sebaran Nomor Item Skala Pola Asuh Otoriter... 43 Tabel 6: Sebaran Nomor Item Valid Skala Emotional Abuse Dalam Hubungan

Berpacaran... 47 Tabel 7: Sebaran Nomor Item Valid Skala Pola Asuh

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN A : SKALA PENELITIAN A-1 Skala Penelitian Emotional Abuse

A-2 Skala Penelitian Pola Asuh Otoriter

LAMPIRAN B : DATA KASAR SKALA PENELITIAN B-1 Data Kasar Skala Emotional Abuse

B-2 Data Kasar Skala Pola Asuh Otoriter

LAMPIRAN C : UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS SKALA C-1 Uji Validitas Dan Reliabilitas Skala Emotional Abuse

C-2 Uji Validitas Dan Reliabilitas Skala Pola Asuh Otoriter LAMPIRAN D : DATA ITEM VALID

D-1 Data Item Valid Skala Emotional Abuse

D-2 Data Item Valid Skala Pola Asuh Otoriter

LAMPIRAN E : UJI ASUMSI E-1 Uji Normalitas

E-2 Uji Linearitas

(14)

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Memasuki masa dewasa awal yaitu usia 18 sampai 40 tahun umumnya laki-laki dan perempuan yang belum menikah berkeinginan untuk mencari pasangan hidup untuk berkencan dan memulai masa berpacaran. Idealnya sepasang kekasih harus dapat saling mengasihi, menghargai, dan menghormati. Namun yang dilihat dan didengar masyarakat dari media elektronik maupun media cetak justru sebaliknya. Contohnya bintang sinetron Jill Gladys yang mendapat perlakuan kasar dari kekasihnya. Sang kekasih tega melarang ibu satu anak itu bertemu dengan anak dan keluarganya (Harian Semarang, 4 Januari 2010). Berbeda lagi dengan Rizki “The Potters”. Vocalis band ini diberitakan di

infotainment Insert tanggal 6 Maret 2010 tega menyakiti sang pacar dan berakhir dengan menyiram air panas ke tubuh kekasihnya. Menurut Set (2009, h.37) bahwa kondisi aktivitas dating di kalangan remaja terjadi secara besar-besaran dalam intensitas jumlah dan kualitas pelanggaran/kekerasan yang semakin meningkat. Terbukti sejak tahun 1994-2001, dari 1683 kasus kekerasan yang ditangani, 385 diantaranya adalah Kekerasan Dalam Pacaran atau KDP (Komnas Perempuan, 2002).

(15)

h. 170), yaitu tindakan yang disengaja untuk memaksa, menakhlukkan, mendominasi, mengendalikan, menguasai, menghancurkan, melalui cara-cara fisik, psikologis, ataupun gabungan-gabungannya, dan atau tindakan yang yang mungkin tidak disengaja, bukan intensional, tetapi didasari oleh ketidaktahuan, kekurang pedulian, atau alasan-alasan lain, yang menyebabkan subjek secara langsung atau tidak langsung terlibat dalam upaya pemaksaan, penakhlukkan, menghancurkan, mendominasi, dan merendahkan orang lain.

(16)

tingkat kekerasan emosional laki-laki dan perempuan sejajar, sehingga tidak menutup kemungkinan perempuan juga melakukan emotional abuse dalam hubungan pacaran.

Perilaku kekerasan diawali pada masa kecil dan sebagian besar mempunyai profil telah mengalami kekerasan fisik dan psikologis sewaktu anak-anak, pernah melihat salah satu orang tua memukuli atau begitu lebih dominan, salah satu atau kedua orang tuanya mengalami kekerasan, atau terus mengalami kekerasan, pecandu alkohol atau pengguna obat-obatan (Murray, 2000, h. 95-96). Menurut Dinastuti (2008, h. 52) mereka yang memiliki riwayat pernah mengalami kekerasan di masa kecil lebih beresiko untuk memiliki masalah dalam hubungan berpacaran.

(17)

bahwa kekerasan verbal dan emosional merupakan jalan menuju kekerasan fisik dan atau kekerasan seksual.

Menurut Engel (dalam Dinastuti, 2008, h. 52) selain mencakup verbal abuse di dalamnya, emotional abuse juga meliputi tingkah laku dan sikap yang secara langsung mengintimidasi, memanipulasi, dan menolak perhatian pasangan. Selanjutnya menurut Engel, hal yang paling menarik dari emotional abuse adalah seringkali pasangan yang mengalaminya tidak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan perlahan tapi menghancurkan hubungan itu sendiri. Tingkah laku mereka biasanya merupakan hasil belajar dari pengalaman masa lalu, entah karena pola asuh tertentu dari orang tua ataupun sebelumnya pernah menjadi korban tindak kekerasan.

(18)

anak-anaknya. Hal ini tentunya merupakan suatu pendekatan yang rawan untuk perkembangan anak dan remaja.

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Priyatama (2008, h. 81) menunjukkan ada hubungan positif yang signifikan antara persepsi terhadap sikap

over protective orang tua dengan kecenderungan agresi pada remaja. Menurut Berkowitz (1995, h. 225) orang tua yang keras dan suka menghukum agak cenderung menghasilkan anak-anak yang agresif dan antisosial. Penelitian yang dilakukan oleh Busbly dkk (dalam Knox & Schact, 2009, h. 430) dengan 30.600 orang yang melihat orang tuanya saling melakukan kekerasan hingga dewasa cenderung akan melakukan kekerasan dengan pasangannya. Sidi (2005, h. 147) mencatat adanya kasus seseorang yang gemar mencela atau selalu berbicara kasar dan setelah ditelusuri, ternyata dimasa kecil orang tuanya sering melontarkan kata-kata makian yang melukai batinnya dan luka batin itu terbawa hingga dewasa.Sejarah keluarga yang melakukan kekerasan hanya salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku kekerasan.

(19)

diterima anak dari orang tua akan disimpan dan direkam dalam alam bawah sadar sehingga akan dibawa sampai masa dewasa, dan terus sepanjang hidupnya. Jika orang tua melakukan emotional abuse terhadap anaknya, maka anak yang menerima kekerasan dari orangtua dalam jangka waktu yang panjang akan melakukan proses modelling terhadap perilaku tersebut. Ini dapat terjadi karena anak menganggap bahwa kekerasan boleh dan benar dilakukan dalam bergaul dengan orang lain, serta bisa diterapkan dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Hal ini menunjukkan ada hubungan antara pola asuh otoriter dengan perilaku emotional abuse.

Hubungan antara pola asuh otoriter dengan emotional abuse dalam hubungan berpacaran adalah bila seseorang yang masa kecilnya diberikan pola asuh yang otoriter, maka dampaknya anak yang menerima kekerasan tersebut akan meniru perilaku orang tuanya sehingga dalam lingkungan bersosial khususnya pada hubungan berpacaran, akan melakukan emotional abuse. Karena perilaku emotional abuse yang diterima dari orang tua dibenarkan oleh anak.

B. TUJUAN PENELITIAN

(20)

C. MANFAAT PENELITIAN a. Manfaat Teoritis

Secara teoritis penelitian ini bermanfaat bagi bidang Psikologi khususnya bidang psikologi sosial.

b. Manfaat Praktis

(21)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Emotional Abuse Dalam Hubungan Berpacaran

1. Pengertian Emotional Abuse Dalam Hubungan Berpacaran

Emotional abuse didefinisikan sebagai segala bentuk kekerasan, agresi, atau trauma yang emosional atau psikologis yang ada di alam (Ali dan Toner dalam Judith Worell, 2001, h. 379). Emotional abuse menurut Engel adalah suatu bentuk kekerasan yang menyelinap di masyarakat, bila dibiarkan akan menjadi kekerasan fisik (Engel, 2008, h. 157). Lebih lanjut Engel menjelaskan (dalam Dinastuti, 2008, h. 53) emotional abuse

adalah tingkah laku non fisik atau-pun sikap yang dilakukan untuk mengontrol, mengintimidasi, menaklukkan, merendahkan, menghukum atau mengucilkan orang lain.

Walaupun emotional abuse merupakan salah satu bentuk tindakan kekerasan yang sering ditemui, namun orang yang terlibat di dalamnya sering kali tidak menyadarinya. Banyak orang yang bertanya-tanya apakah emotional abuse ini serius, karena bukti fisiknya tidak terlihat seperti physical abuse (Education Wife Assault, 2001).

(22)

harga diri seseorang. Emotional abuse tidak normal. Emotional abuse

adalah memperlakukan secara tidak adil dengan pola yang konsisten yang terjadi selama waktu yang cukup lama. Jika ini tetap dibiarkan maka akan menjadi taruma. Emotional abuse sengaja dilakukan oleh orang lain untuk mengubah pandangan diri korban dengan tujuan mengontrol korban.

Pada emotional abuse ini si pelaku tidak perlu selalu mengacungkan tinju untuk mendapatkan kekuasaan dan kontrol, seringkali dengan tatapan yang mengancam saja sudah cukup (Murray, 2000, h. 30). Emotional abuse menciptakan bekas luka yang jauh lebih dalam dan lebih kekal dibanding kekerasan fisik (Engel dalam HealthyPlace.com, 2008, h. 1). Satu hal yang tertinggal dari emotional abuse adalah rasa putus asa (Thompson, 1993, h. 6).

Engel (dalam Dinastuti, 2008, h. 54) menegaskan bahwa pelaku

emotional abuse seringkali tidak bermaksud dan tidak menyadari akan tingkah lakunya yang menyakiti pasangannya. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Langhinrichsen-rohling dkk (dalam Hamel, 2005, h. 4) lebih dari setengah atau sekitar 83% pasangan berpacaran melakukan

emotional abuse dan tingkat kekerasan emosional laki-laki dan

perempuan sejajar.

(23)

h. 21) masa pacaran adalah masa untuk belajar saling mencintai, dengan harapan kelak akan menjadi suami-istri yang bahagia. Kedua muda-mudi yang berpacaran mempunyai hak dan kewajiban untuk semakin mengenal dan menyayangi. Tentu saja kasih sayang itu bukan hanya diomongkan dan dirasakan, namun juga harus diungkapkan dan diwujudkan secara nyata dalam hidup mereka.

Kekerasan emosional dalam pacaran (Supatmiati, 2007, h. 44) adalah keadaan emosi yang sengaja dibuat oleh seseorang untuk mengendalikan pasangannya. Contohnya mengejek, curiga berlebihan, selalu menyalahkan pacar, mengekang, meremehkan, dll. Ironisnya dengan tidak ada bukti fisik, banyak yang beranggapan bahwa korban kekerasan emosional itu terlalu berlebihan. Terlalu sensitif, contohnya suatu teguran mungkin hanya untuk bercanda, tetapi si pacar sudah menganggap itu terlalu kasar. Lalu ada juga yang sebenarnya sudah mengalami kekerasan emosional, tetapi dia merasa pasrah.

(24)

bukti nyata seperti kekerasan fisik, namun jika di biarkan korban akan mengalami trauma psikologis yang mendalam.

2. Faktor-faktor Emotional Abuse dalam Hubungan Berpacaran

Menurut Engel (dalam Dinastuti, 2008, h. 54) ada dua faktor yang memperngaruhi emotional abuse dalam hubungan berpacaran adalah

a.Pola asuh tertentu dari orang tua

b. Pengalaman masa lalu yang sebelumnya pernah menjadi korban tindak kekerasan.

Menurut Utamadi dan Muljono (2009, h.1) faktor-faktor yang mempengaruhi emotional abuse dalam hubungan berpacaran adalah a. Pengaruh keluarga

(25)

menunjukkan hubungan antara perilaku orangtua dengan kepribadian anak di kemudian hari. Rata-rata pelaku kekerasan dalam rumah tangga pada masa kecilnya sering mendapat atau melihat perlakukan yang kasar dari orangtuanya, baik pada dirinya, saudaranya, atau pada ibunya. Walaupun secara logika dia membenci perilaku ayahnya, akan tetapi secara tidak sadar perilaku itu terinternalisasi dan muncul pada saat dia menghadapi konflik.

b. Lingkungan sekolah

Sekolah dipandang sebagai tempat anak belajar bersosialisasi, dan memperoleh pendidikan dan ketrampilan untuk dapat hidup dengan baik di masyarakat. Sayangnya yang kurang disadari adalah kenyataan bahwa di sekolah pula individu bersosialisasi dengan anak - anak lain yang berasal dari latar belakang yang beraneka. Bila seseorang ini, tidak mampu menyesuaikan diri , maka akan muncul konflik dalam diri. Bila ia tidak mampu melakukan kontrol diri maka akan cenderung memicu perilaku agresif diantaranya berbentuk kekerasan emosional.

c. Pengaruh media massa

(26)

menyesal, minta maaf, dan berjanji tidak akan mengulangi tindakan dia lagi, dan bersikap manis kepada pasangannya. Pada saat inilah, karena korban sangat mencintai dan berharap pelaku akan tidak melakukannya lagi, maka korban akan memaafkannya, dan hubungan diharapkan bisa berjalan lancar kembali. Padahal kekerasan ini seperti sesuatu yang berpola, jika seseorang memang mempunyai kebiasaan bersikap kasar pada pasangan, akan cenderung mengulanginya karena hal ini sudah menjadi bagian dari kepribadiannya dan merupakan cara untuk menghadapi konflik atau masalah.

Menurut Susilowati (2008, h.1) penyebab seseorang melakukan

emotional abuse dalam hubungan berpacaran antara lain:

a. Pelaku melakukan intimidasi terhadap sikap orang tua mereka dalam memperlakukan orang lain.

b. Pelaku mengalami kekerasan dalam rumah tangga pada masa kanak-kanaknya.

c. Adanya persepsi bahwa hanya sedikit orang yang menyadari akibat dari kekerasan yang dilakukan.

d. Berusaha menjaga citra diri; misalnya dalam diri laki-laki ingin terlihat sebagai pemimpin dan hal ini mendapat dukungan dari masyarakat. 3. Bentuk-bentuk dari Emotional Abuse dalam Hubungan Berpacaran

(27)

belakang, kompetensi, penampilan fisik; menyumpahi, menggoda, mengejek, mengancam, dan merendahkan (Dinastuti, 2008, h. 57).

Penganiayaan pasangan menurut Singer et al (dalam Videbeck, 2008, h. 257) antara lain dengan mengejek, meremehkan, berteriak dan memekik, merusak barang, dan mengancam, serta bentuk penganiayaan yang lebih tidak terlihat, misalnya menolak berbicara dengan korban atau berpura-pura tidak melihat korban.

Ada bentuk emotional abuse yang dialami oleh pasangan yang menjalin hubungan berpacaran menurut Engel (dalam Dinastuti, 2008, h. 54) :

a.Dominasi : usaha untuk mengontrol tingkah laku orang lain.

b.Serangan verbal (Verbal assault): kata-kata yang mengecilkan, merendahkan, mengkritik, mempermalukan, mengejek, mengencam, menyalakan terus menerus, menggunakan kata-kata kasar atau mengekspresikan kebencian.

c.Terus menerus mengkritik dan menyalahkan.

d.Pengharapan yang salah (abusive expectation): mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin dipenuhi oleh pasangan, karena pelaku tidak pernah puas dengan apapun yang dilakukan oleh pasangannya.

(28)

f. Respon tidak terduga: perubahan suasana hati yang cepat dan drastir, ledakan emosi secara tiba-tiba tanpa ada sebab yang jelas, dan respons yang tidak konsisten untuk stimulus yang sama.

g.Selalu ingin menciptakan konflik atau krisis: sengaja memulai pertengkaran, selalu bermasalah dengan orang lain, senang berada dalam suatu ‘drama’.

h.Pembunuhan karakter (character assassination): membesar-besarkan kesalahan, mengkritik dan mempermalukan pasangan di depan orang lain, mengecilkan prestasi pasangan.

i. Gaslighting: pelaku menggunakan berbagai cara untuk membuat pasangannya meragukan persepsi, ingatan dan kewarasannya sendiri. j. Pelecehan seksual (sexual harassment): pendekatan secara seksual yang

dapat diterima, tingkah laku seksual yang tidak diharapkan atau tidak dapat diterima; misalnya memaksa berhubungan seksual, menyentuh bagian-bagian tubuh tertentu dengan cara yang kasar atau tidak sopan.

Menurut Adinda (2008, h. xviii) bentuk-bentuk emotional abuse

(29)

Menurut Murray (2000, h. 46) pelaku emotional abuse melakukan kekuasaan dan kontrol terhadap pasangan dengan:

a.Kekerasan kemarahan/emosional: merendahkan, membuat pasangan merasa buruk pada dirinya sendiri, memanggil pasangan dengan sebutan yang buruk, membuat pasangannya berpikir bahwa ia gila, menghina, membuat pasangannya merasa bersalah.

b.Menggunakan status sosial: memperlakukan pasangan seperti pelayan, membuat semua keputusan, menjadi orang yang menentukan peran pria dan wanita.

c.Intimidasi: membuat takut dengan tatapan dan gerak tubuh, merusak benda-benda kesayangan, menyiksa hewan kesayangan, memamerkan senjata.

d.Menyangkal/ menyalahkan: menyepelekan kekerasan dan tidak memperdulikannya secara serius, mengatakan bahwa kekerasan itu tidak ada, melemparkan tanggung jawab atas perilaku kekerasan, mengatakan pasangannyalah penyebabnya.

(30)

f. Tekanan teman sebaya: mengancam akan mengekspos kelemahan pasangannya atau menyebarkan gosip, mengatakan kebohongan yang jahat tentang pasangannya kepada kelompok.

g.Pemaksaan seksual: melakukan manipulasi atau ancaman untuk mendapatkan seks.

h.Isolasi pengucilan: mengontrol apa yang dilakukan, siapa yang ditemui dan diajak bicara, apa yang dibaca dan kemana pasangan pergi, membatasi keterlibatan pihak luar, menggunakan rasa cemburu untuk membenarkan tindakan.

Menurut Ali dan Toner (dalam Worell, 2001, h. 381-383) unsur-unsur dalam emotional abuse adalah

a.Membatasi kebebasan

Emotional abuse dalam hubungan berpacaran, pelaku menggunakan kekuasaannya untuk membatasi kebebasan pasangannya. bentuk batasannya seperti membatasi waktu di luar rumah dan membuat pasangan sulit bersosialisasi atau bekerja. bentuk batasan yang lebih halus ditunjukkan untuk membuat pasangannya harus ada dimana saja si pelaku berada. misalnya ia mungkin menunjukkan bahwa ia merasa kesepian ketika pasangannya tidak ada atau bahwa ia tidak dapat melakukan apa-apa tanpa pasangannya.

(31)

Emotional abuse walaupun tidak disertai dengan kekerasan fisik, tetapi akan ada bahaya ancaman fisik. misalnya, korban melaporkan bahwa pasangannya telah meneror dengan ancaman-ancaman fisik.

c.Ancaman yang melibatkan anak-anak

Ancaman fisik tidak hanya melibatkan wanita itu sendiri. ketika korban sudah memliki anak, ancaman juga dapat melibatkan anak-anak. pelaku dapat mengancam akan menyiksa dan mengambil anaknya.

d.Membuat korban ketergantungan

Pelaku membuat pasangannya tidak percaya kepada siapa pun dan tidak dapat hidup tanpa dirinya. Hal ini dapat terjadi dengan mengisolasi korban dari keluarga dan teman-temannya.

e.Manipulasi psikologis

Tujuannya untuk memaksa korban menghakimi dirinya sendiri dan membuat korban merasa memiliki kelemahan sehingga berpikiran tidak sehat. hal ini menyebabkan korban menjadi lebih tergantung pada pelaku dalam mengambil keputusan dan mendefinisikan kenyataan.

f. Kekerasan keuangan

(32)

Secara umum bentuk-bentuk emotional abuse dalam hubungan berpacaran adalah sebagai berikut:

a.Dominasi : pelaku menggunakan kekuasaannya untuk mengontrol dan mengawasi pasangan seperti mengatur tingkah laku, menjadi orang yang menentukan peran pria dan wanita, membuat semua keputusan, mengontrol keuangan yang tujuannya membuat korban kepercayaan kepada pelaku.

b.Agresivitas verbal : mencela, menyumpahi, mengejek-jelekan, merendahkan dengan kata-kata yang buruk, mencaci-maki, mengancam kehidupan pasangan seperti akan melukai orang-orang terdekat, hewan kesayangan atau anak untuk korban yang sudah memiliki anak, mengancam akan meninggalkan korban atau mengancam bunuh diri. c.Mengkritik dan menyalahkan : tidak pernah menghargai apa yang

dilakukan pasangan, tidak mau disalahkan jika terjadi suatu masalah, menyangkal tidak ada kekerasan dan tidak memperdulikan secara serius.

d.Pengharapan yang salah (abusive expectation) : mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin dipenuhi oleh pasangan, karena pelaku tidak pernah puas dengan apapun yang dilakukan pasangan. Contohnya pelaku terbiasa minta uang kepada korban dan saat korban tidak memiliki uang, pelaku akan marah.

(33)

mengikuti kehendak pelaku. Tujuannya membuat korban lebih tergantung dengan pelaku dalam mengambil keputusan dan mendefinisikan kenyataan.

f. Respon tidak terduga : perubahan mood atau suasana hati yang cepat dan drastis, ledakan emosi secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas, dan merespon yang berbeda dengan stimulus yang sama.

g.Selalu ingin menciptakan konflik atau krisis : pelaku selalu sengaja memulai pertengkaran atau konflik dengan korban atau dengan orang lain dan senang bila dalam kondisi pertikaian.

h.Pembunuhan karakter (character assassination) : mempermalukan korban didepan umum, membuat korban seperti pelayan, menyebarkan kebohongan kepada teman korban, membesar-besarkan masalah, mengecilkan prestasi korban.

i. Gaslighting : memanipulasi pasangan agar meragukan persepsi, ingatan dan kewarasan korban.

j. Pelecehan seksual (sexual harassment) : melakukan manipulasi dan ancaman untuk mendapatkan sex, menyentuh bagian-bagian tubuh tertentu dengan cara yang kasar atau tidak sopan.

k.Intimidasi : membuat korban takut dengan tatapan dan gerak tubuh, merusak barang-barang kesayangan, memamerkan senjata tajam.

(34)

keluarga dan sahabat, mengunakan alasan cemburu untuk membenarkan tindakannya.

B. Pola Asuh Otoriter

1. Pengertian Pola Asuh Otoriter

Pola asuh otoriter menurut David (dalam Shochib, 1997, h. 19) adalah orang tua yang lebih menekankan kekuasaan dibanding relasi. Anak merasa seakan-anak orang tua mempunyai buku peraturan, ketetapan, ditambah daftar pekerjaan yang tidak pernah habis. Orang tua bertindak sebagai bos dan pengawas tinggi dan anak-anak tidak memiliki kesempatan atau peluang agar dirinya “didengarkan”.

(35)

Menurut Berkowitz (1995, h. 233) orang tua otoriter cenderung memaksa anaknya mengikuti aturan mereka secara kaku, tetapi mereka tidak menjelaskan aturan itu secara jelas. Mereka keras dan suka menghukum dalam menerapkan disiplin, dan mereka mudah marah jika anak-anak menentangnya.

Menurut Nilam (2009, h. 11) orangtua yang memiliki pola asuh otoriter ini berusaha membentuk, mengendalikan, dan mengevaluasi perilaku serta sikap anak berdasarkan serangkaian standar mutlak, nilai-nilai kepatuhan, menghormati otoritas, kerja, tradisi, tidak saling memberi dan menerima dalam komunikasi verbal. Orang tua kadang-kadang menolak anak dan sering menerapkan hukuman.

(36)

Menurut Solihin (2004, h. 134) sikap otoriter sering dipertahankan oleh orang tua dengan dalih untuk menanamkan disiplin pada anak. Sebagai akibat dari sikap otoriter ini, anak menunjukkan sikap pasif (hanya menunggu saja), dan menyerahkan segalanya kepada orang tua.

Di samping itu, menurut Watson (dalam Solihin, 2004, h. 134) Tingkah laku yang tidak dikehendaki pada diri anak dapat merupakan gambaran dari keadaan di dalam keluarga. Hal yang paling penting adalah bahwa kehidupan seorang anak hendaknya tidak diatur oleh kebutuhan orang tua dan menjadikan anak sebagai obyek untuk kepentingan orang tua. Efisiensi menurut konsep orang tua ini akan mengeringkan potensi anak, menghambat perkembangan emosional anak, serta menelantarkan minat anak.

Tempramen orang tua, terutama dari ayah, yang sifatnya meledak-ledak, disertai tindakan sewenang-wenang dan kriminil itu tidak hanya memberikan sifat tempramentnya tetapi juga menimbulkan iklim demoralisasi psikis pada lingkungannya. Selain itu juga merangsang reaksi-reaksi emosional yang sangat impulsif pada anak. Pengaruh ini makin memperburuk jiwa anak sehingga berakibat mudah membangkitkan pola kriminil pada anak (dalam Kartono, 1986, h. 225).

(37)

karena memiliki harapan tertentu kepada anak dan mengalami ketegangan tersendiri karena harapan yang terlalu tinggi (Nilam, 2009, h. 12).

Dari definisi-definisi diatas dapat dirumuskan pola asuh otoriter adalah pola pengasuhan anak yang bersifat pemaksaan, keras dan kaku di mana orang tua akan membuat berbagai aturan yang “saklek” harus dipatuhi oleh anak-anaknya tanpa mau tahu perasaan sang anak. Orang tua akan emosi dan marah jika anak melakukan hal yang tidak sesuai dengan yang diinginkan oleh orang tuanya. Hukuman mental dan fisik akan sering diterima oleh si anak dengan alasan agar anak terus tetap patuh dan disiplin serta menghormati orang-tua yang telah membesarkannya. Sebagai akibat dari sikap otoriter ini adalah anak menunjukkan sikap pasif dan menyerahkan segalanya kepada orang tua. Kemungkinan terburuk akibat pola asuh otoriter ini dapat membangkitkan pola kriminil pada anak.

2. Ciri-ciri Pola asuh Otoriter

Menurut Hurlock (1992, h. 126) orang tua yang mempunyai sikap otoriter pada umumnya bercirikan :

a. Orang tua menentukan apa yang perlu diperbuat oleh anak tanpa memberikan penjelasan tentang alasannya.

b. Apabila anak melanggar ketentuan yang sudah digariskan oleh orang tua, anak tidak diberikan kesempatan untuk memberikan alasan dan penjelasan sebelum hukuman diterima anak.

(38)

d. Orang tua jarang atau tidak pernah memberikan hadiah, baik yang berupa kata-kata maupun bentuk lain apabila anak berbuat sesuatu yang sesuai dengan harapan orang tua.

Menurut Berkowitz (1995, h. 234) gaya orang tua otoriter adalah: a. Menetapkan aturan yang kaku

b. Tidak menerangkan aturan dengan jelas.

c. Menerapkan disiplin dengan keras, suka menghukum. d. Kurang hangat dan dekat.

e. Bersikap marah dan tidak senang.

Ciri-ciri pola asuh otoriter menurut David (Shochib, 1997, h. 20) adalah:

a. Kurang peka dalam memenuhi kebutuhan anak.

b. Adanya kesenjangan antara hubungan orang tua dan anak. c. Hampir sepanjang waktu anak dimarahi atau ditekan. d. Anak merasa terancam dan tidak sayang.

Ciri-ciri pola asuh otoriter menurut Baumrind (dalam Santrock, 2003, h. 185):

a. Membuat batasan

b. Lebih cenderung menggunakan hukuman/punishment agar sang anak menurut apa yang diperintahkan.

c. Adanya pemberlakuan aturan.

(39)

Secara umum ciri-ciri pola asuh otoriter ada enam yaitu orang tua cederung menetapkan aturan yang kaku dan batasan-batasan yang jelas, orang tua selalu menentukan apa yang harus dilakukan oleh anak tanpa memberikan alasan yang jelas, orang tua akan memberi hukuman fisik dan psikis bila anak melanggar sehingga anak merasa terancam, adanya kesenjangan antara orang tua dan anak akibat minimnya berkomunikasi dengan anak, orang tua kurang peka terhadap kebutuhan anak, orang tua jarang memberikan reward pada anak baik dalam bentuk kata-kata maupun benda bila anak berbuat sesuatu yang diharapkan orang tua.

C. Hubungan Antara Pola Asuh Otoriter Dengan Emotional Abuse dalam Hubungan Berpacaran

Pola asuh otoriter adalah sistem pengasuhan orang tua yang membatasi individu untuk menuruti keinginan orang tua akan memicu individu melakukan tindak kekerasan. Mengajari anak memahami dan mengkomunikasikan emosinya akan mempengaruhi banyak aspek dalam perkembangan dan keberhasilan hidupnya. Sebaliknya, gagal mengajari anak memahami dan mengkomunikasikan emosinya dapat membuat mereka rentan terhadap konflik-konflik dengan orang lain (Shapiro, 1998, h. 273).

(40)

perempuan ketika ia dewasa. Straus dan Gelles (Roberts dan Gilbert, 2009, h. 371) menemukan bahwa dalam suatu perbandingan antar laki-laki pelaku kekerasan dengan kelompok kontrol yang terdiri dari laki-laki non kekerasan, anak lelaki dari orang tua yang mengalami tindak kekerasan mempunyai tingkat memukul istri 900 kali lebih banyak dari pada anak lelaki dari orang tua yang non kekerasan. Hal ini sama seperti pendapat Adinda (2008, h. xviii) bahwa sekitar 75% pelaku kekerasan mengatakan bahwa mereka menyaksikan bagaimana sang ayah telah menyiksa ibu mereka, sisanya karena faktor pencitraan laki-laki yang hebat dan wujud kontrol.

Emotional abuse dalam hubungan berpacaran adalah tingkah laku non fisik atau-pun sikap yang dilakukan untuk mengontrol, mengintimidasi, menaklukkan, merendahkan, menghukum atau mengucilkan kekasihnya (Engel dalam Dinastuti, 2008, h. 53) .

Hubungan antara pola asuh otoriter dengan emotional abuse dalam hubungan berpacaran adalah bila seseorang diasuh dengan sistem pola asuh otoriter maka orang tersebut akan melakukan emotional abuse terhadap lingkungan sosialnya termasuk dalam hubungan berpacarannya.

D. Hipotesis

(41)
(42)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Identifikasi Variabel Penelitian

Identifikasi variabel penelitian perlu dilakukan untuk dapat mengenal fungsi dan peranan dari masing-masing variabel penelitian. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

Variabel Tergantung : Emotional Abuse dalam Hubungan berpacaran Variabel Bebas : Pola Asuh Otoriter

B. Definisi Oprasional Variabel Penelitian

1.Emotional Abuse dalam Hubungan Berpacaran

Emotional abuse dalam hubungan berpacaran adalah segala bentuk kekerasan non fisik yang sengaja dilakukan untuk mengontrol pasangan dan jika dibiarkan akan menyebabkan trauma psikologis, namun sering kali tidak disadari karena kekerasan tersebut sebagai alasan bentuk rasa kasih sayang terhadap pasangan. Hal ini sering terjadi di dalam hubungan berpacaran tetapi jarang untuk dilakukan penelitian karena sebagian orang menganggap dalam suatu hubungan tidak pernah terjadi emotional abuse. Bentuk kekerasan seperti ini sering tidak disadari karena tidak ada bukti nyata seperti kekerasan fisik, namun jika di biarkan korban akan mengalami trauma psikologis yang mendalam.

(43)

emotional abuse dalam hubungan berpacaran yaitu dominasi, agresivitas verbal, mengkritik dan menyalahkan, pengharapan yang salah (abusive expectation), pemerasan emosional (emotional blackmail), respon tidak terduga, selalu ingin menciptakan konflik atau krisis, pembunuhan karakter

(character assassination), gaslighting, pelecehan seksual (sexual harassment), intimidasi, mengisolasi.

Semakin tinggi skor yang diperoleh maka, semakin tinggi pula

emotional abuse yang dilakukan individu kepada pasangannya. Sebaliknya, jika nilai skor skala rendah, maka semakin rendah pula emotianal abuse

yang dilakukan individu tersebut. 2.Pola Asuh Otoriter

Pola asuh otoriter adalah pola pengasuhan anak yang bersifat pemaksaan, keras dan kaku di mana orang tua akan membuat berbagai aturan yang harus dipatuhi oleh anak-anaknya tanpa mau tahu perasaan sang anak. Orang tua akan emosi dan marah jika anak melakukan hal yang tidak sesuai dengan yang diinginkan oleh orang tuanya. Hukuman mental dan fisik akan sering diterima oleh si anak dengan alasan agar anak terus tetap patuh dan disiplin serta menghormati orang-tua yang telah membesarkannya.

(44)

alasan yang jelas. Orang tua akan memberi hukuman fisik dan psikis bila anak melanggar sehingga anak merasa terancam. Adanya kesenjangan antara orang tua dan anak akibat minimnya berkomunikasi dengan anak. Orang tua kurang peka terhadap kebutuhan anak. Orang tua jarang memberikan reward pada anak baik dalam bentuk kata-kata maupun benda bila anak berbuat sesuatu yang diharapkan orang tua.

Semakin tinggi skor yang diperoleh maka mengindikasikan pola asuh otoriter orang tua semakin tinggi dan sebaliknya, jika skor skala semakin rendah maka mengindikasikan pola asuh otoriter orang tua semakin rendah. C. Subjek Penelitian

1.Populasi

Menurut Azwar (1999, h. 77) populasi adalah kelompok subyek yang hendak dikenai generalisasi hasil penelitian. Kelompok subyek ini harus memiliki ciri-ciri atau karakteristik-karakteristik bersama yang membedakannya dari kelompok subyek yang lain.

(45)

2. Teknik Sampling

Dalam penelitian ini, peneliti hanya menggunakan perwakilan populasi (sampel). Menurut Hadi (2000, h. 21) sampel merupakan sebagian dari populasi. Jumlah sampel penelitian sangat tergantung dari besaran tingkat ketelitian atau kesalahan yang diinginkan peneliti. Makin besar jumlah sample mendekati jumlah populasi maka peluang kesalahan dalam melakukan generalisasi akan semakin kecil, dan sebaliknya semakin kecil jumlah sampel penelitian maka diduga akan semakin besar kemungkinan kesalahan dalam melakukan generalisasi.

Sampel yang digunakan dalam penelitian berjumlah 100 orang yang memenuhi karakteristik populasi. Menurut Abrami dkk (dalam Indria dan Nindyati, 2007, h. 95), sampel penelitian sebesar 30 responden dianggap mendekati distribusi normal. Hal ini berarti, semakin besar jumlah sampel, distribusi sampel akan semakin menyerupai distribusi normal. Hal tersebut sangat bermanfaat untuk pengujian hipotesis penelitian agar peluang kesalahan generalisasi semakin kecil.

Teknik yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan quota sampling. Pada quota sampling peneliti berusaha untuk memasukan ciri-ciri tertentu mengenai respondennya menurut yang dikehendakinya (Adi, 2004, h. 11).

D. Metode Pengumpulan Data

(46)

sikap (Azwar, 2005, h. 97). Skala sikap disusun untuk mengungkap sikap pro dan kontra, positif dan negatif, setuju tidak setuju terhadap objek sosial. Dalam skala sikap, objek sosial tersebut berlaku sebagai objek sikap. Subjek memberi respon dengan empat kategori intensitas, yaitu: Sangat sering, Sering, Jarang, dan Tidak Pernah.

Penelitian ini menggunakan dua macam skala untuk mengukur variabel-variabel penelitian, yaitu :

1. Skala Emotional Abuse dalam Hubungan Berpacaran

Skala ini digunakan untuk mengukur emotional abuse dalam hubungan berpacaran yang disusun oleh peneliti berdasarkan bentuk-bentuk emotional abuse dalam hubungan berpacaran :

a. Dominasi,

b. Agresivitas verbal,

c. Mengkritik dan menyalahkan,

d. Pengharapan yang salah (abusive expectation), e. Pemerasan emosional (emotional blackmail), f. Respon tidak terduga,

g. Selalu ingin menciptakan konflik atau krisis, h. Pembunuhan karakter (character assassination), i. Gaslighting,

j. Pelecehan seksual (sexual harassment), k. Intimidasi,

(47)

Skala ini direncanakan terdiri dari 48 item dengan pernyataan yang bersifat Favourable dan Unfavourable, serta menggunakan empat alternatif jawaban yaitu Sangat sering (SS), Sering (S), Jarang (J), Tidak pernah (TP). Skor yang digunakan untuk pernyataan Favourable adalah SS = 4, S = 3, J = 2, dan TP = 1. Sebaliknya, untuk pernyataan

Unfavourable adalah SS = 1, S = 2, J = 3, TP = 4.

Blue print skala emotional abuse dalam hubungan berpacaran dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1

Blue print skala emotional abuse dalam hubungan berpacaran

Indikator Jumlah Item Jumlah

Item

Favourable Unfavourable

Dominasi 2 2 4

Agresivitas verbal 2 2 4

Mengkritik dan menyalahkan 2 2 4

Pengharapan yang salah

(abusive expectation) 2 2 4

Pemerasan emosional

(emotional blackmail) 2 2 4

Respon tidak terduga 2 2 4

Selalu ingin menciptakan

konflik atau krisis 2 2 4

Pembunuhan karakter

(character assassination) 2 2 4

Gaslighting 2 2 4

Pelecehan seksual (sexual

harassment) 2 2 4

Intimidasi 2 2 4

Mengisolasi 2 2 4

(48)

2. Skala Pola Asuh Otoriter

Skala ini digunakan untuk mengukur pola asuh otoriter yang disusun oleh peneliti berdasarkan ciri-ciri:

a. Orang tua cederung menetapkan aturan yang kaku dan batasan-batasan yang jelas,

b. Orang tua selalu menentukan apa yang harus dilakukan oleh anak tanpa memberikan alasan yang jelas,

c. Orang tua akan memberi hukuman fisik dan psikis bila anak melanggar sehingga anak merasa terancam,

d. Adanya kesenjangan antara orang tua dan anak akibat minimnya berkomunikasi dengan anak,

e. Orang tua kurang peka terhadap kebutuhan anak,

f. Orang tua jarang memberikan reward pada anak baik dalam bentuk kata-kata maupun benda bila anak berbuat sesuatu yang diharapkan orang tua.

(49)

Tabel 2

Blue print skala Pola asuh otoriter

Indikator Jumlah Item Jumlah

Item

Favourable Unfavourable

Orang tua cederung

menetapkan aturan yang kaku dan batasan-batasan yang jelas

2 2 4

Orang tua selalu menentukan apa yang harus dilakukan oleh anak tanpa memberikan alasan yang jelas

2 2 4

Orang tua akan memberi hukuman fisik dan psikis bila anak melanggar sehingga anak merasa terancam

2 2 4

Adanya kesenjangan antara orang tua dan anak akibat minimnya berkomunikasi dengan anak

2 2 4

Orang tua kurang peka

terhadap kebutuhan anak 2 2 4

Orang tua jarang memberikan

reward pada anak 2 2 4

Jumlah Item 12 12 24

E. Uji Alat Ukur

(50)

1. Validitas

Validitas berasal dari validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya (Azwar, 1999, h. 5). Pada penelitian ini menggunakan dua

variabel yaitu; Emotional abuse dalam hubungan berpacaran

( )

Y dan

pola asuh otoriter

( )

X . Cara yang digunakan untuk mengukur korelasi

antara masing-masing item yaitu menggunakan koefisien korelasi. Untuk mengetahui keeratan hubungan antara variabel bebas dan

tergantung dengan menggunakan koefisien korelasi yaitu dengan menggunakan nilai absolut itu sendiri. Apabila dua variabel mempunyai nilai r=0, berarti antara dua variabel tersebut tidak ada hubungan. Sedangkan apabila dua variabel mempunyai r=+ 1, maka dua variabel tersebut mempunyai hubungan (Algifari, 1997, h. 38-39).

Dalam kasus nyata, sering terjadi kesulitan perhitungan dengan menggunakan cara perhitungan tangan (manual), untuk menghindari kejadian seperti itu maka peneliti menggunakan perhitungan program komputer statistik sehingga perhitungan yang dihasilkan lebih valid. 2. Reliabilitas

(51)

Peneliti menggunakan perhitungan program komputer SPSS (Statistical Package For Social Science) for windows release 13. karena SPSS 13 sudah teruji ketepatannya mengolah data dan sudah pasti reliabilitasnya tidak diragukan lagi.

F. Teknik Analisis Data

Pada penelitian ini menggunakan dua variabel yaitu; Emotional abuse

dalam hubungan berpacaran

( )

Y dan pola asuh otoriter (X). Karena pada

penelitian ini mencari hubungan antara variabel bebas dan variabel tergantung, maka pengolahan data yang tepat untuk penelitian ini menggunakan analisis

data korelasi yaitu koefisien korelasi product moment

( )

r .

(52)

BAB IV

PERSIAPAN DAN PELAKSANAAN PENELITIAN

A. Orientasi Kancah Penelitian

Sebelum melakukan penelitian tahap awal yang perlu dilakukan adalah menentukan kancah atau tempat penelitian. Peneliti melakukan penelitian di Universitas Katolik Soegijapranata Semarang. Unika Soegijapranata berdiri tanggal 5 Agustus 1982 sebagai kelanjutan dari Universitas Katolik Atma Jaya Semarang dan Institut Teknologi Katolik Semarang (ITKS). Universitas Katolik Soegijapranata Semarang memiliki 11 fakultas yaitu fakultas Arsitektur, Teknik Sipil, Manajemen, Akuntansi, Ilmu Hukum, Psikologi, Teknik Elektro, Teknologi Pangan, Sastra Inggris, Teknik Informatika dan Disain Komunikasi Visual, satu Program studi diploma Perpajakan.

(53)

Karakteristik populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa dan mahasiswi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang yang berusia 18-24 tahun, penelitian ini menggunakan 100 sampel sebagai subjek penelitian dengan deskripsi yang dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3

Deskripsi Subjek Penelitian

Usia 18 19 20 21 22 23 24 Total

Jenis kelamin Laki-laki 2 1 10 14 7 11 5 50 Perempuan 3 3 4 12 10 15 3 50

Total 5 4 14 26 17 26 8 100

Penelitian ini dilakukan di Universitas Katolik Soegijapranata Semarang dengan di dasarkan pada pertimbangan sebagai berikut:

a.Belum ada penelitian mengenai Hubungan Emotional Abuse Dengan Pola Asuh Otoriter Dalam Hubungan Berpacaran.

b.Berdasarkan pengalaman peneliti pernah menemui kasus kekerasan emosional di lingkungan Universitas Katolik Soegijapranata Semarang. c.Keterbatasan waktu dalam penelitian.

d.Ada ijin dari pihak Rektorat Universitas Katolik Soegijapranata Semarang. e.Lokasi penelitian mudah dijangkau oleh peneliti.

B. Persiapan Penelitian

(54)

1. Penyusunan Alat Ukur

Penelitian ini menggunakan dua skala sebagai alat pengumpulan data. Kedua skala ini bersifat tertutup, dalam arti subjek penelitian hanya diminta untuk memilih satu dari empat alternatif jawaban yang telah disediakan dan yang paling sesuai dengan keadaan diri subjek. Tiap item disediakan empat alternatif jawaban yaitu Sangat sering (SS), Sering (S), Jarang (J), Tidak pernah (TP). Dua skala dalam penelitian ini yaitu: a. Skala Emotional Abuse Dalam Hubungan Berpacaran

(55)

Tabel 4.

Sebaran Nomor Item

Skala Emotional Abuse Dalam Hubungan Berpacaran

NO Indikator Nomor Item Total

Favorabel Unfavorabel 7 Selalu ingin menciptakan

konflik dan krisis

48, 30 18, 42 2

b. Skala Pola Asuh Otoriter

(56)

pada anak baik dalam bentuk kata-kata maupun benda bila anak berbuat sesuatu yang diharapkan orang tua. Item-item skala Pola Asuh Otoriter terdiri dari dua kelompok yaitu kelompok item favorabel dan kelompok item unfavorabel. Adapun sebaran item-item dalam skala Pola Asuh Otoriter dapat dilihat dalam tabel 5.

Tabel 5

Sebaran Nomor Item Skala Pola Asuh Otoriter

2. Permohonan Ijin Penelitian

Permohonan ijin penelitian ini dilakukan oleh peneliti setelah penyusunan ulat ukur disetujui oleh dosen pembimbing. Surat permohonan ijin Penelitian diajukan secara tertulis kepada Dekan Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, yang diajukan kepada Wakil

NO Indikator Nomor Item Total

Favorabel Unfavorabel 1 Orang tua cenderung menetapkan

aturan yang kaku dan batasan yang jelas.

14, 10 2, 22 2

2 Orang tua menentukan apa yang harus dilakukan tanpa alasan yang jelas.

9, 15 11, 24 2

3 Orang tua memberikan hukuman fisik & psikis sehingga anak merasa terancam.

20, 1 8, 16 2

4 Kesenjangan antara orang tua dan anak akibat minimnya

berkomunikasi.

17, 3 7, 23 2

5 Orang tua kurang peka terhadap kebutuhan anak.

5, 18 12, 21 2

6 Orang tua jarang memberikan reward pada anak.

4, 6 13, 19 2

(57)

Rektor I Universitas Katolik Soegijapranata Semarang dengan nomor surat 805/B.7.3/FP/V/2011 dengan tanggal 30 Mei 2011. Berdasarkan permohonan tersebut Wakil Rektor I Universitas Katolik Soegijapranata Semarang memberikan ijin untuk melakukan penelitian secara tertulis dengan nomor surat 1355/B.7.3/Rek/VI/2011 dengan tanggal 6 Juni 2011.

Berdasarkan hal tersebut peneliti melakukan pengambilan data di Kampus Universitas Katolik Soegijapranata Semarang. Untuk lebih jelasnya, bukti-bukti yang terkait dengan surat perijinan dapat dilihat pada lampiran G.

C. Uji Coba Alat Ukur

1. Tempat dan Waktu Penelitian

(58)

2. Jumlah Subjek Penelitian

Jumlah subjek yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 100 orang dengan perincian 50 perempuan dan 50 laki-laki yang memenuh kriteria yang sudah ditetapkan peneliti. Peneliti menggunakan subjek 100 orang karena jumlah tersebut dapat mewakili sebagian besar populasi dan dapat bermanfaat untuk pengujian hipotesis penelitian agar peluang kesalahan generalisasi semakin kecil. Alasan peneliti menggunakan perincian 50 laki-laki dan 50 perempuan karena jumlah mahasiswa laki-laki dan perempuan di Universitas Katolik Soegijapranata Semarang ini tidak jauh berbeda.

3. Metode Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel peneliti menggunakan metode quota sampling

yaitu teknik pengambilan sampel yang sudah ditentukan jumlah subjek serta subjek tersebut harus memenuhi karakteristik yang ditentukan peneliti. Karena waktu yang terbatas maka dalam pengambilan data, peneliti dibantu oleh empat rekan yang bertugas menyebarkan skala. Setiap rekan peneliti dan peneliti bertugas menyebarkan 20 skala.

(59)

dan tidak menimbulkan salah pengertian serta untuk menghindari penyataan yang kurang jelas maksudnya.

Uji coba alat ukur bertujuan menguji apakah validitas dan reliabilitas alat ukur tersebut dapat digunakan dalam kancah penelitian yang telah dipilih dan untuk ini dilakukan metode try out terpakai. Data yang berhasil diperoleh dari kancah penelitian adalah sebanyak 100 orang. Sebelum peneliti memberikan skala uji coba kepada subjek, peneliti terlebih dahulu memberikan petunjuk mengenai cara pengisian skala tersebut.

4. Uji Validitas dan Reliabilitas

Supaya mendapatkan data penelitian yang dapat dipertanggung jawabkan, maka setelah semua terkumpul dilakukan perhitungan validitas dan reliabilitas menggunakan alat bantu Statistical Packages for Social Sciences (SPSS) for Windows versi 13.0. Untuk mengetahui validitas item mendasari pendapat Hadi (1993, h. 34) suatu alat ukur dikatakan valid bila alat ukur dapat memberikan hasil yang diteliti dari gejala-gejala yang hendak diukur.

a. Skala Emotional Abuse Dalam Hubungan Berpacaran

(60)

emotional abuse dalam hubungan berpacaran dapat dilihat pada table nomor 6.

Tabel 6.

Sebaran Nomor Item Valid

Skala Emotional Abuse Dalam Hubungan Berpacaran

NO Indikator Nomor Item Valid Gugur

Favorabel Unfavorabel

4 Pengharapan yang salah

Keterangan: * item yang gugur

Hasil uji reliabilitas diperoleh koefisien alpha sebesar 0,919. yang berarti skala ini memiliki reliabilitas tinggi dalam mengukur emotional abuse dalam hubungan berpacaran. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran C-1.

b. Skala Pola Asuh Otoriter

(61)

0,699, sehingga sebanyak dua item yang gugur. Rincian item yang valid dan gugur dari skala pola asuh otoriter dapat dilihat pada table 7.

Tabel 7

Sebaran Nomor Item Valid Skala Pola Asuh Otoriter

Keterangan : * item yang gugur

Hasil uji reliabilitas diperoleh koefisien alpha sebesar 0,905. yang berarti skala ini memiliki reliabilitas tinggi dalam mengukur emotional abuse dalam hubungan berpacaran. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran C-2.

D. Pelaksanaan Penelitian

penelitian dilaksanakan pada tanggal 6-13 Juni 2011 dari pukul 10.00 – 15.00 WIB di Universitas Katolik Soegijapranata Semarang. Subjek

No Indikator Nomor Item Valid Gugur

Favorabel Unfavorabel

1

Orang tua cenderung

menetapkan aturan yang kaku dan batasan yang jelas.

14, 10 2, 22 4 0

2

Orang tua menentukan apa yang harus dilakukan tanpa alasan yang jelas.

9, 15 11, 24 4 0

3

Orang tua memberikan hukuman fisik & psikis

sehingga anak merasa terancam.

20, 1 8, 16* 3 1

4

Kesenjangan antara orang tua dan anak akibat minimnya berkomunikasi.

17, 3 7, 23* 3 1

5 Orang tua kurang peka terhadap

kebutuhan anak. 5, 18 12, 21 4 0

6 Orang tua jarang memberikan

reward pada anak. 4, 6 13, 19 4 0

(62)

adalah mahasiswa program sarjana (S1) yang berusia 18-24 tahun dan diperoleh secara quota sampling. Jumlah subjek yang digunakan adalah 100 orang dengan rincian 50 mahasiswa dan 50 mahasiswi.

Penelitian ini dilaksanakan di tiga tempat yang ada di kawasan Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, yaitu Gedung Antonius lantai 1-4, Gedung Thomas Aquinas, Gedung Albertus. Teknik yang dilakukan oleh peneliti mendatangi satu per satu mahasiswa yang sesuai dengan karakteristik penelitian dan dilanjutkan dengan permintaan untuk kesediaan mengisi skala penelitian.

Peneliti terlebih dahulu bertanya kepada calon subjek berapa usia, dari fakultas mana, sedang berpacaran tau pernah berpacaran dan bersediakah mengisi skala. Bagi mereka yang bersedia, peneliti segera memberikan skala penelitian dan menjelaskan prosedur pengisian skala. Peneliti juga memberikan kesempatan kepada subjek apabila tidak jelas dengan pengerjaan skala.

Peneliti dibantu oleh empat rekannya dalam menyebarkan skala penelitian. Setiap harinya peneliti dibantu oleh satu orang rekan. Setiap hari peneliti menyebarkan skala minimal berjumlah 20 skala setiap harinya sampai memenuhi quota 100 subjek. Selama enam hari diperoleh subjek sebanyak 100 mahasiswa

(63)
(64)

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode analisis data product moment, yang bertujuan untuk melihat ada atau tidak hubungan antara pola asuh otoriter dengan emotional abuse. Karenanya diperlukan pengujian validitas dan reliabilitas dari item-item hasil penelitian.

Uji normalitas penelitian dan uji linieritas hubungan pola asuh otoriter dengan emotional abuse harus dilakukan terlebih dahulu sebelum melakukan pengujian terhadap korelasi antar variabel.

1. Uji Normalitas

Data dari variabel penelitian diuji normalitas sebarannya dengan menggunakan program Statistical Package for Social Science (SPSS) for Windows Release 13.0 yaitu uji Kolmogorov Smornov-Z. Bila nilai K-S-Z lebih dari 0,05 maka data tersebut normal tetapi apabila nilai K-S-Z kurang dari 0,05 maka data tersebut dikategorikan sebagai data tidak normal (Santoso, 2002, h. 169)

(65)

2. Uji Linieritas

Uji linieritas untuk melihat hubungan pada variabel pola asuh otoriter dengan emotional abuse, dengan menggunakan program Statistical Package for Social Science (SPSS) for Windows Release 13.0 yaitu diuji dengan Curve Estimation.

Uji linieritas ini dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel yang ada, yaitu variabel pola asuh otoriter dan variabel emotional abuse

memiliki Flin sebesar 77,979 (p>0,05) yang berarti hubungan antara pola asuh otoriter dengan emotional abuse adalah hubungan linier. Lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran E-2.

B. UJI HIPOTESIS

Setelah terbukti bahwa sebaran data yang diperoleh normal dan diantara kedua variabel terdapat hubungan linier, maka dilaksanakan pengujian terhadap hipotesis dengan menggunakan korelasi Product Moment.

Hasil uji korelasi product moment yang menguji hubungan pola asuh otoriter dengan emotional abuse menghasilkan r = 0,666 dengan p<0,01. Hasil tersebut menunjukkan ada hubungan positif yang sangat signifikan antara pola asuh otoriter dengan emotional abuse dalam hubungan berpacaran. Jadi semakin besar tingkat pola asuh otoriter maka semakin besar pula perilaku

(66)

C. PEMBAHASAN

Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara pola asuh otoriter dengan emotional abuse dalam hubungan berpacaran dipilih dalam penelitian ini dan hipotesis penelitian yang berbunyi apakah ada hubungan positif antara pola asuh otoriter dengan emotional abuse dalam hubungan berpacaran, diterima. Setelah pengambilan data dengan memberikan kuesioner kepada 100 subjek yang kemudian dilakukan proses pengolahan data, diperoleh hasil yang mendukung hipotesis tersebut.

Berdasarkan uji analisis, koefisien korelasi antara variabel pola asuh otoriter dengan variabel emotional abuse sebesar r= 0,666 dengan p<0,01 menunjukkan ada hubungan positif antara pola asuh otoriter dengan emotional abuse dalam hubungan berpacaran. Hasil menunjukan semakin orang tua menggunakan pola asuh yang sangat otoriter maka anak akan melakukan

emotional abuse dalam hubungan berpacaran. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian dari Zahra (2005, h. 11), penelitian yang dilakukan oleh Busbly dkk (dalam Knox & Schact, 2009, h. 430), Shapiro (1998, h. 273), Roberts dkk (2009, h. 371), Adinda (2008, h. xviii), dan Engel (dalam Dinastuti, 2008) dimana kesamaan dari penelitian ini menunjukan bahwa pola asuh sangat mempengaruhi perilaku emotional abuse.

(67)

terhadap konflik-konflik dengan orang lain (1998, h. 273). Lebih lanjut Brassard dan Galardo (dalam Wiehe, 1998, h. 32) berpendapat orang tua yang menekan emosi anak seperti rasa sakit, sukacita, dan kemarahan bisa mendorong anak untuk melakukan hal yang sama dan dengan demikian tidak tanggap terhadap kebutuhan emosional mereka.

Ada beberapa kategorisasi yang dihasilkan oleh subjek dalam penelitian ini. Hasil pengkategorian dilakukan dengan cara membandingkan mean Hipotetik (MH) dan mean Empirik (ME). Pola asuh otoriter dalam penelitian ini menjadi variabel bebas, menunjukkan nilai Mean Empirik (ME) adalah 41,50 . Nilai Mean Hipotetik (MH) adalah 55, maka Mean Empirik (ME) berada di posisi tingkat rendah. Emotional abuse dalam hubungan berpacaran dalam penelitian ini menjadi variabel tergantung, menunjukan nilai Mean Empirik (ME) adalah 70,61 . Nilai dari Mean Hipotetik (MH) adalah 97,5 maka mean empirik berada di posisi tingkat rendah.

Dalam penelitian ini emotional abuse dalam hubungan berpacaran yang dialami mahasiswa Universitas Katolik Soegijapranata berada di tingkat rendah, hal ini disebabkan karena sebagian besar dari mereka tidak ingin mengontrol pasangannya. Hal ini bukan berarti emotional abuse dalam hubungan berpacaran tidak pernah dilakukan, tetapi upaya untuk mengontrol pasangan ini tidak sampai membuat pasangan berpacaran menjadi tidak nyaman.

(68)

Sumbangan efektif dari pola asuh otoriter yaitu 44,4 % (r²= 0,444) yang mempengaruhi emotional abuse dalam hubungan berpacaran. sebanyak 44,4 % emotional abuse dalam hubungan berpacaran dipengaruhi oleh pola asuh otoriter. Sedangkan sisanya sebesar 55,6 % dipengaruhi variabel lain di luar variabel dalam penelitian ini. Selain faktor pola asuh yang otoriter, terdapat faktor lain yang dapat mempengaruhi emotional abuse dalam hubungan berpacaran yaitu pengalaman masa lalu, lingkungan sekolah, pengaruh media massa, tidak menyadari akibat dari perilaku kekerasan yang dilakukan, atau faktor menjaga citra diri didepan orang lain.

Pada penelitian ini, emotional abuse dan pola asuh otoriter terbukti memiliki hubungan yang positif. Emotional abuse dipengaruhi oleh pola asuh yang diterapkan orang tua kepada anak. Hal ini sejalan dengan pendapat Berkowitz (1995, h. 225) yang menyatakan bahwa orang tua yang keras dan suka menghukum cenderung menghasilkan anak-anak yang agresif dan antisosial. Orang tua sebagai lingkungan pertama yang dapat menunjuang perkembangan emosi anak, harus dapat membantu dalam menciptakan suasana yang mendukung tercapainya perkembangan emosi anak.

(69)

melanggar norma, kepribadian lemah dan seringkali menarik diri dari lingkungan sosialnya.

Peran orang tua sangat penting bagi tumbuh kembang anak. Dengan pola asuh yang tepat dan mampu mengajarkan anak memahami dan menyalurkan emosi yang tepat maka anak akan terhindar dari akibat buruk pola asuh yang salah. Temperamen orang tua, terutama dari ayah, yang sifatnya meledak-ledak, disertai tindakan sewenang-wenang dan kriminil itu tidak hanya memberikan sifat tempramentnya tetapi juga menimbulkan iklim demoralisasi psikis pada lingkungannya. Selain itu juga merangsang reaksi-reaksi emosional yang sangat impulsif pada anak. Pengaruh ini makin memperburuk jiwa anak sehingga berakibat mudah membangkitkan pola kriminil pada anak (dalam Kartono, 1986, h. 225). Anak akan melakukan apa yang dia pelajari dari orang tua. Jika orang tua menggunakan pola asuh otoriter akibatnya anak akan berperilaku emotional abuse pada lingkungan sosialnya termasuk dalam hubungan berpacaran.

Pada penelitian ini tidak terlepas dari beberapa kelemahan-kelemahan yang dapat mempengaruhi hasil dari penelitian ini, antara lain :

1. Penelitian ini menggunakan try out terpakai, sehingga memungkinkan terjadinya hal-hal yang mencemari hasil penelitian. Hal ini menyebabkan subjek masih dihadapkan pada skala yang belum dibersihkan dari item-item gugur.

(70)

telah merasa bosan. Hal tersebut menyebabkan pengisian skala kurang sungguh-sungguh.

3. Penelitian ini tidak memperhitungkan apakah subjek tinggal di kost atau tinggal bersama orang tua. Hal ini berpengaruh terhadap pengisian skala karena variabel yang diukur (pola asuh otoriter) berkaitan dengan kehadiran atau ketidak hadiran orang tua.

(71)

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara pola asuh otoriter dengan emotional abuse dalam hubungan berpacaran. Hal ini berarti bahwa pola asuh yang diterapkan orang tua adalah pola asuh otoriter maka anak cenderung akan melakukan emotional abuse dalam hubungan berpacaran. Jadi hipotesis yang menyatakan ada hubungan yang positif antara pola asuh otoriter dengan emotional abuse dalam hubungan berpacaran dapat diterima.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan yang telah diperoleh, di bawah ini ada beberapa saran-saran yang dikemukakan yaitu :

1.Bagi orang tua

(72)

memberi yang terbaik untuk anaknya, tidak memberikan hukuman mental dan fisik untuk mendisiplinkan agar anak tidak mendapat luka batin yang mendalam sehingga dapat membangkitkan pola kriminil pada anak.

2.Bagi anak

Anak harusnya mengerti bahwa aturan yang diterapkan dari orang tua bertujuan untuk memberikan yang terbaik untuk dirinya. Anak juga harus tanggap dengan lingkungan dengan tidak melakukan kekerasan khususnya

emotional abuse agar tidak rentan terhadap konflik dengan orang lain termasuk dalam menjalin hubungan berpacaran dengan lawan jenis.

3.Bagi peneliti selanjutnya

Peneliti lain yang tertarik dengan penelitian ini, khususnya mengenai

emotional abuse dalam hubungan berpacaran dapat dilanjutkan dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain seperti faktor traumatis, jenis kelamin, atau menggunakan subjek dengan usia remaja akhir. Melalui faktor tersebut, peneliti lain dapat mengetahui lebih banyak hal-hal yang mempengaruhi emotional abuse dalam hubungan berpacaran.

(73)

DAFTAR PUSTAKA

Adi, R. 2004. Metodologi Penelitian Sosial dan Hukum. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Adinda, T. 2008. Kekerasan Itu Berulang Padaku. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Ahmadi, H. A. 2007. Psikologi Sosial. Jakarta: Rineka Cipta.

Algifari. 1997. Analisis Regresi: Teori, Kasus, dan Solusi Edisi Pertama. Yogyakarta: BPFE.

Azwar, S. 1999. Validitas dan Reliabilitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Azwar, S. 2005. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Berkowitz, L. 1995. Emotional Behavior: Buku Kesatu. Jakarta: Penerbit PPM. Boeree, C. G. 2004. Personality Theories. Yogyakarta: Prismasophie.

Clarke-Stewart, A. & Friedman, S. 1987. Child Development: Infancythrough Adolescence. United States Of America: John Wiley & Son.

Daryanto, S. 1998. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: Apollo.

Dinastuti. 2008. Gambaran Emotional Abuse Dalam Hubungan Berpacaran Pada Empat Orang Dewasa Muda. Manasa, Volume 2, No. 1, Juni 2008.

Friedman, H. S., Schustack, M. W. 2008. Kepribadian: Teori Klasik dan Riset Modern Jilid 1. Jakarta: Penerbit Erlangga. (Edisi ketiga)

Hadi, S. 1993. Metodologi Penelitian: untuk Penulisan Laporan, Skrpsi, Thesis dan Disertasi Jilid 1. Yogyakarta: Andi.

Hadi, S. 2000. Metodologi Research Jilid 1. Yogyakarta: Andi.

Hamel, J. 2005. Gender Inclusive Treatment of Intimate Partner Abuse. New York: Springer.

Gambar

Tabel 1
Tabel 3
Tabel 4.
Tabel 5
+3

Referensi

Dokumen terkait

hubungan pola asuh otoriter orang tua dengan prestasi belajar anak kelas satu sekolah dasar, sehingga dalam penelitian selanjutnya dan yang berhubungan. dengan judul

Baumrind dalam Putri (2012) menyatakan bahwa pola asuh orang tua dibedakan menjadi 4 bagian diantaranya pola asuh otoriter yaitu orang tua cenderung menetapkan

Hasil penelitian Iffah (2006) menunjukkan bahwa orang tua yang menerapkan, pola asuh yang baik, remaja cenderung dapat menyelesaikan masalah dengan baik dan mudah,

Adanya pola asuh otoriter yang sedang yang diterima oleh remaja SMA N 1 Karangdowo karena lingkungan Karangdowo masih termasuk lingkungan pedesaan, dimana cara-cara

Rerata empirik pada variabel pola asuh otoriter sebesar 84,15 dan rerata hipotetik sebesar 95 yang berarti pada umumnya remaja SMA N 1 Karangdowo mempunyai tingkat pola

yang dilakukan, dapat ditarik kesimpulan bahwa hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini diterima, yaitu ada hubungan positif yang signifikan antara Pola Asuh Otoriter Orang

Kisi-kisi Instrumen Pola Asuh Orang Tua Variabel Sub Variabel Indikator Pola Asuh Authoritarian Menetapkan peraturan yang kaku dan memaksa Menghukum perilaku anak yang buruk

HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH OTORITER ORANG TUA DENGAN MOTIV ASI BELAJAR SISWA SMA DHARMA P ANCASILA MEDAN SKRIP SI Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Universitas Medan Area Guna