• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE KONTRASEPSI SEDERHANA DENGAN ALAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "METODE KONTRASEPSI SEDERHANA DENGAN ALAT"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

METODE

KONTRASEPSI

SEDERHANA

DENGAN ALAT

KELOMPOK 2 :

1.

Elvi Kurnianti

2.

Maya Lestari

3.

Nariyanti Desiani

4.

Nur Esa

5.

Putri Intan Nurul H

6.

Rohima Fitriani

7.

Utari Elfri Elsa

8.

Yustika Roriana

KELAS : IIB D III

Dosen Pembimbing :

(2)

DEFINISI KELUARGA BERENCANA

 

Keluarga berencana adalah tindakan yang membantu individu

untuk mendapatkan objek-objek tertentu, menghindari kehamilan

yang tidak diinginkan, mendapatkan kehamilan yang diinginkan,

mengatur interval kehamilan, menentukan jumlah anak dalam

keluarga, mengontrol saat kelahiran dalam hubungan dengan umur

suami istri ( Hanafi. 2003. hlm 879 ).

Kontrasepsi

adalah

 upaya

untuk mencegah

terjadinya

kehamilan, upaya ini dapat bersifat sementara dapat pula bersifat

permanen (Prawirohardjo, Sarwono, 2002 : 905). Banyak metode

kontrasepsi yang memberikan tingkat efektivitas hingga 99 % jika

digunakan secara tepat.  Jenis kontrasepsi yang ada saat ini adalah :

kondom (pria atau wanita), pil (baik yang kombinasi atau hanya

progestogen saja), implan/susuk, suntik, patch/koyo kontrasepsi,

diafragma dan cap, IUD dan IUS, serta vasektomi dan tubektomi.

      

(3)

Metode

Barier

pada Pria

(Kondom)

Metode

Barier

pada Pria

(Kondom)

Metode

Barier

Wanita

(Intra-Vaginal)

Metode

Barier

Wanita

(Intra-Vaginal)

(4)

1. METODE BARIER PADA PRIA (KONDOM)

Kondom merupakan selubung/sarung karet yang dapat

terbuat dari berbagai bahan di antaranya lateks (karet), plastic

(vinil), atau bahan alami (produksi alami) yang dipasang pada

penis saat hubungan seksual. Kondom terbuat dari karet sintetis

yang tipis, berbentuk silinder, dengan muaranya berpinggir

tebal, yang bila digulung berbentuk rata atau mempunyai bentuk

seperti putting susu. Berbagai bahan telah ditambahkan pada

kondom baik untuk menaikkan efektivitasnya (misalnya

penambahan spermisida) maupun sebagai aksesoris aktivitas

seksual. Modifikasi tersebut dilakukan dalam hal: bentuk, warna,

pelumas, ketebalan, dan bahan.

(5)

Macam-macam Kondom :

1)    Kulit

Dibuat dari membran usus biri biri

(caecum),

tidak

meregang

atau

mengkerut, menjalarkan panas tubuh

sehingga dianggap tidak mengurangi

sensitivitas selama sanggama namun

lebih mahal.

2)    Lateks

Paling banyak dipakai, murah, elastis.

3)    Plastik

Sangat tipis, menghantarkan panas

tubuh namun lebih mahal dari kondom

lateks

(6)

a. Indikasi

a. Indikasi

b. Kontra Indikasi

b. Kontra Indikasi

Semua pasangan usia

subur yang ingin

berhubungan sekual

dan belum

menginginkan

kehamilan. Selain itu,

untuk perlindungan

maksimum terhadap

infeksi menular

seksual (IMS)

(Puspitasari, 2009).

1)    Absolut

a.    Pria dengan ereksi yang

tidak baik

b.    Riwayat syok septic

c.    Tidak bertanggung

jawab secara sexual

d.    Interupsi sexual

foreplay menghalangi minat

sexual

e.    Alergi terhadap karet

atau lubrikan pada partner

sexual

2)    Relatif

(7)

c. Efektifitas

c. Efektifitas

d. Keuntungan

d. Keuntungan

 Kondom cukup relative bila dipakai secara benar pada setiap kali

berhubungan seksual. Pada

beberapa pasangan, pemakaian kondom tidak efektif karena tidak dipakai secara konsisten. Secara ilmiah didapatkan hanya sedikit angka kegagalan kondom yaitu 2 -12 kehamilan per 100 perempuan pertahun.

Sebab-sebab kegagalan :

1)    Memakai kondom yang sudah bocor.

2)    Kondom robek waktu coitus. 3)    Semen tertumpah melalui leher kondom.

4)    Kondom tertinggal di dalam vagina oleh karena penis baru dikeluarkan setelah kendor.

5)    Tidak memakai kondom sejak permulaan.

6)    Hanya memakai kondom bila istri disangka berada dalam masa subur.

Keuntungan sebagai alat kontrasepsi :

1)  Efektif bila digunakan dengan benar 2)  Tidak mengganggu kesehatan klien. 3)  Tidak mempunyai pengaruh sistemik. 4)  Murah dan dapat dibeli secara umum. 5)  Mudah dipakai

6)  Tidak perlu resep dokter atau pemeriksaan khusus. 7)  Metode kontrasepsi sementara bila metode

kontrasepsi lainnya harus ditunda  

Keuntungansebagai alat non kontrasepsi.

1)  Memberi dorongan kepada suami untuk ikut ber-KB. 2)  Dapat mencegah penularan IMS.

3)  Mencegah ejakulasi dini.

4)  Membantu mencegah terjadinya kanker serviks (mengurangi iritasi bahan karsinogenik eksogen pada serviks).

5)  Saling berinteraksi sesama pasangan.

Keuntungan-keuntungan kontraseptif tersebut akan diperoleh, jika kondom dipakai secara benar dan konsisten pada setiap sanggama,

karena umumnya kegagalan yang timbul disebabkan pemakaian yang tidak benar, tidak konsisten, tidak teratur atau tidak

(8)

e. Kekurangan

e. Kekurangan

f. Efek Samping

f. Efek Samping

1)    Efektifitas tidak terlalu

tinggi.

2)    Cara penggunaan sangat

mempengaruhi keberhasilan

kontrasepsi

3)    Agak mengganggu

hubungan seksual (mengurangi

sentuhan langsung).

4)    Pada beberapa klien bisa

menyebabkan kesulitan untuk

mempertahankan ereksi.

5)    Harus selalu tersedia

setiap kali berhubungan

seksual.

6)    Beberapa klien malu untuk

membeli kondom ditempat

umum.

7)    Pembuangan kondom

bekas mungkin menimbulkan

masalah dalam hal limbah

1)    Keluhan utama dari

akseptor adalah

berkurangnya sensitivitas

glans penis.

(9)

g. Cara Pemakaian

g. Cara Pemakaian

1.    Gunakan kondom setiap akan melakukan hubungan seksual

2.    Agar efek kontrasepsinya lebih baik, tambahkan spermisida dalam kondom.

3.    Jangan menggunakan gigi, benda tajam seperti pisau, silet, gunting atau benda tajam lainnya pada saat membuka kemasan

4.    Pasang kondom saat penis sedang ereksi, tempelkan ujungnya pada glans penis dan tempatkan bagian penampung sperma pada ujung uretra. Lepaskan gulungan karetnya dengan jalan menggeser gulungan tersebut kearah pangkal penis. Pemasangan ini harus dilakukan penetrasi penis ke vagina.

5.    Bila kondom tidak mempunyai tempat penampungan sperma pada bagian ujungnya, maka pada saat memakai, longgarkan sedikit bagian ujungnya agar tidak terjadi robekan pada saat ejakulasi.

6.    Kondom dilepas sebelum penis melembek.

7.    Pegang bagian pangkal kondom sebelum mencabut dan melepaskan kondom di luar vagina agar tidak terjadi tumpahan cairan sperma di sekitar vagina.

8.    Gunakan kondom hanya satu kali pakai

9.    Buang kondom bekas pakai pada tempat yang aman

10. Sediakan kondom dalam jumlah yang cukup di rumah dan jangan disimpan di tempat yang panas karena hal ini dapat menyebabkan kondom menjadi

rusak atau robek saat digunakan.

11. Jangan gunakan kondom apabila kemasannya robek atau kondom tampak rapuh atau kusut.

(10)

2. METODE BARIER PADA WANITA

(INTRA-VAGINAL)

Menghalangi masuknya spermatozoa ke dalam traktus

genitalia interna wanita dan immobilisasi/mematikan

spermatozoa oleh spermisidnya.

Keuntungan Metode Barier Intra-vaginal :

1)    Mencegah kehamilan

2)    Mengurangi insidens penyakit akibat hubungan seks.

Kerugian Metode Barier Intra-vaginal :

1)    Angka kegagalan relatif tinggi.

2)    Aktivitas hubungan seks harus dihentikan sementara

untuk memasang alatnya.

(11)

MACAM MACAM BARIER

PADA WANITA

Diafragma 

(Diaphrag

ma)

Kap Serviks 

cap)

(Cervical

Spons 

(Sponge)

(12)

1)    DIAFRAGMA (TANGKUP VAGINA)

Diafragma terbuat dari lateks atau karet

dengan cincin yang fleksibel dengan

bentuk seperti topi yang menutupi mulut

rahim. Diafragma diletakkan posterior dari

simfisis pubis sehingga serviks (leher

rahim) tertutupi semuanya.

Diafragma dapat dipasang 6 jam atau

lebih sebelum melakukan sanggama. Bila

sanggama dilakukan berulang kali pada

saat yang sama, maka perlu ditambahkan

spermisid setiap sebelum sanggama

berikutnya.  Diafragma tidak boleh

dikeluarkan selama 6-8 jam setelah

sanggama selesai, pembilasan (douching)

tidak diperkenankan, diafragma dapat

dibiarkan didalam vagina selama 24 jam

setelah sanggama selesai, lebih lama dari

itu kemungkinan dapat timbul

(13)

a. Cara Kerja

a. Cara Kerja

c. Kontra Indikasi

c. Kontra Indikasi

1.  Mencegah masuknya sperma

melalui kanalis servikalis ke uterus

dan saluran telur (tuba falopi)

2.  Sebagai alat untuk

menempatkan spermisida.

1)    Tidak menyukai metode

kontrasepsi hormonal, seperti

perokok, atau di atas usia 35

tahun.

2)    Tidak menyukai penggunaan

akdr.

3)    Menyusui dan perlu

kontrasepsi

4)    Memerlukan proteksi terhadap

IMS

5)    Memerlukan metode

sederhana sambil menunggu

metode yang lain.

1)    Kelainan anatomis dari vagina, serviks dan uterus : 

Prolapsus uteri, cystocele/rectocele yang besar, retroversi atau anteflexi uterus yang berlebihan, septum vagina. 2)    Infeksi traktus urinarius yang

berulang ulang

3)    Alergi terhadap latex atau spermisid

4)    Riwayat Sindrom Syok Toksik (Toxic Shock Syndrome)

5)    Nyeri pelvis/nyeri introitus yang sementara oleh sebab apapun (PID, Herpes, baru mengalami episiotomi, introitus yang sangat sempit/ketat) 6)    Postpartumn (bayi aterm) 6-12 minggu

7)    Ketidakmampuan calon akseptor atau pasangannya untuk mempelajari dan melaksanakan teknik insersi yang benar.

 

(14)

d. Keefektifitas

d. Keefektifitas

f. Kekurangan

f. Kekurangan

Tingkat kegagalan 6 -16 kehamilan per 100 perempuan per tahun pertama, bila tidak digunakan

dengan spermisida.

1)    Efektif bila digunakan dengan benar.

2)    Tidak mengganggu produksi ASI. 3)    Tidak mengganggu kesehatan klien.

4)    Tidak mengganggu hubungan seksual karena telah dipersiapkan sebelumnya.

5)    Dapat dipakai selama haid Kelebihan non kontrasepsi:

1)    Memberikan perlindungan

terhadap penyakit menular seksual. 2)    Kemungkinan mempunyai efek perlindungan terhadap timbulnya displasia cervical

1)        Memerlukan tingkat

motivasi yang tinggi dari

pemakai

2)        Wanita perlu

memegang/manipulasi

genitalia nya sendiri

3) Menjadi mahal bila sering

dipakai, disebabkan oleh

biaya untuk spermisidnya.

4)        Insersi relatif sukar

5)        Pada kasus tertentu,

dapat terasa oleh suami saat

senggama

6)     Beberapa wanita

mengeluh kebasahan yang

disebabkan oleh

spermisidnya

 

(15)

g. Efek Samping

g. Efek Samping

h. Cara Pemakaian

h. Cara Pemakaian

Efek samping yang serius

umumnya tidak ada, bilamana diafragma dipakai sebagaimana semestinya. Kadang kadang reaksi alergi dan iritasi vagina, infeksi. Sebab sebab kegagalan :

1)      Ketidaktauan cara pemasangan yang benar

2)      Ukuran diafragma tidak tepat 3)      Terjadinya perubahan letak diafragma selama sanggama

4)      Adanya cacat/kerusakan pada diafragma

      Perlu diperhatikan :

      Jika ada kemungkinan terjadi sindrom syok keracunan, rujuk segera pasien  ke fasilitas

pelayanan kesehatan yang lebih lengkap. Apabila terjadi panas lebih dari 38 derajat Celcius maka berikan rehidrasi per oral dan

analgesi.

1)        Gunakan diafragma setiap kali melakukan hubungan seksual.

2)        Pertama kosongkan kandung kemih dan cuci tangan. 3)        Pastikan diafragma tidak berlubang (tes dengan mengisi diafragma dengan air atau melihat menembus cahaya)

4)     Oleskan sedikit spermisida krim atau jelly pada cap diafragma (untuk memudahkan pemasangan tambahkan krim atau jelli, remas bersamaan dengan pinggirannya) 5)        Posisi saat pemasangan diafragma:

a)       Satu kaki diangkat ke atas kursi atau dudukan toilet. b)       Sambil berbaring

c)       Sambil jongkok

6)      Lebarkan kedua bibir vagina

7)      Masukkan diafragma kedalam vagina jauh ke belakang, dorong bagian depan pinggiran ke atas di balik tulang pubis. 8)  Masukkan jari kedalam vagina sampai menentuh serviks, sarungkan karetnya dan periksa serviks telah telindungi. 9)    Diafragma dipasang di vagina sampai 6 jam sebelum berhubungan seksual. Jika hubungan seksual berlangsung diatas 6 jam setelah pemasangan, tambahkan spermisida di dalam vagina. Diafragma berada dalam vagina paling tidak 6 jam setelah terlaksananya hubungan seksual. Jangan

tinggalkan diafragma lebih dari 24 jam sebelum diangkat. 10)  Mengangkat dan mencabut diafragma dengan

menggunakan jari telunjuk dan tengah.

(16)

2) KAP SERVIKS (SERVICAL CAP )

Suatu alat kontrasepsi yang hanya

menutupi serviks saja.  Dibandingkan

dengan diafragma, kap serviks lebih

dalam/tinggi kubahnya tetapi

diameternya lebih kecil, umumnya lebih

kaku, menutupi serviks karena hisapan

(suction), bukan karena pegas.  Zaman

dahulu kap serviks terbuat dari

logam/plastik, sekarang yang banyak

adalah dari karet.

Syarat pemakaian kap serviks :

1.    Serviks harus dapat dicapai

2.    Serviks cukup panjang untuk

menahan kap

(17)

a. Cara Kerja

a. Cara Kerja

c. Kontra Indikasi

c. Kontra Indikasi

Cervical caps akan menutupi

pembukaan serviks sehingga

menahan sperma agar tidak

mendapatkan akses mencapai

saluran alat reproduksi bagian

atas (uterus& tuba falopii) dan

sebagai alat tempat

spermisida senjata sperma

tambahan untuk membunuh

sperma-sperma yang tidak

tertahan pada kaps serviks

Cervical caps dapat digunakan

untuk wanita atau pasangan

yang ingin menunda untuk

mempunyai anak.

1.    Bentuk serviks yang

abnormal (ukuran, posisi)

2.    Postpartum 6-12 minggu

3.    Radang serviks (cervicitis)

yang kronis, infeksi adneksa

atau neoplasma serviks

4.    Otot vagina yang

sensitive, erosi atau laserasi

serviks

5.    Perdarahan pada vagina,

termasuk ketika sedang

menstruasi

6.    Riwayat TSS, Riwayat PID,

atau alergi dengan karet atau

spermiside

 

(18)

d. Keefektifitas

d. Keefektifitas

f. Kekurangan

f. Kekurangan

Pada 100 wanita yang menggunakan metode ini selama satu tahun, terdapat sebanyak 7 orang yang hamil.

1.    Dapat digunakan selama menyusui. 2.    Efektif, meskipun tanpa spermiside, bila dibiarkan di serviks untuk waktu > 24 jam, pemberian spermiside sebelum bersenggama menambah

efektifitasnya.

3.    Tidak terasa oleh suami pada saat sanggama.

4.    Dapat dipakai oleh wanita sekalipun ada kelainan anatomis/fungsional dari vagina misalnya sistokel, rektokel, prolapsus uteri, tonus otot vagina yang kurang baik.

5.    Jarang terlepas selama sanggama.

1.    Angka kegagalan tinggi

2.    Peningkatan risiko

infeksi (cervisitis, cystitis)

3.    Membutuhkan evaluasi dari

tenaga kesehatan

4.    Ketidaknyamanan ketika

pemakaian, penggunaannya cukup

sulit.

5.  Ukuran cervical caps yang

digunakan sewaktu-waktu harus

diubah tergantung pada kehamilan,

abortus/keguguran, operasi pelvic

atau perubahan berat badan.

6.    Tidak boleh digunakan pada

wanita yang sedang menstruasi.

7.    Beberapa wanita merasa nyeri

dan pasangannya merasa tidak

nyaman.

8.    Tidak dapat mencegah

penyebaran IMS (infeksi menular

seksual), HIV AIDS

(19)

g. Efek Samping

g. Efek Samping

h. Cara Pemakaian

h. Cara Pemakaian

1.     Timbulnya sekret yan

sangat berbau bila kap

serviks dibiarkan terlalu

lama didalam vagina.

2.     Menyebabkan iritasi

pada daerah vagina,

serviks karena kontak

yang terlalu lama dengan

karet (kap) dan spermiside

nya.

3.     Menyebabkan infeksi

pada saluran kemih.

4.  Berisiko terjadi Toxic

Shock Syndrom (TSS). Hal

ini terjadi jika pemakaian

cervical caps dilakukan

pada saat menstruasi.

5.     Bertambahnya

abnormalitas serviks yang

berhubungan dengan HPV.

 

1.    Tahap pertama untuk memasukkan atau mengeluarkan kap serviks adalah mencuci tangan. Pemakai memasukkan kap serviks saat seksualitasnya bangkit dan sebelum melakukan hubungan seksual.

2. Sebelum memasukkan, isi sepertiga kubah kap serviks dengan spermisida. Pisahkan labia dengan kedua tangan. Tangan yang lain menjangkau sekeliling pinggiran kap diantara ibu jari dengan jari telunjuk.

3.   Masukkan kap ke dalam vagina dan dorong kap sepanjang dinding vagina sejauh kap itu bisa masuk. Cara ini bisa

dilakukan dengan cara berdiri, mengangkat satu kaki ke atas, posisi jongkok, berbaring.

4.    Gunakan jari untuk menempatkan kap di serviks, tekan pinggiran kap di sekitar serviks sampai serviks sudah tertutup dengan kap tersebut. Periksa posisi kap

 dengan cara mendorong kubah kap untuk memastikan bahwa serviks sudah tertutupi.

5.    Usap dengan jari mengelilingi pinggiran kap.

6.    Pemakai harus mempertahankan kap serviks selama 6 jam setelah ejakulasi intravagina terakhir untuk memastikan bahwa sperma yang tertinggal di dalam

 vagina tidak memasuki ke dalam rongga uterus.

7.    Namun, untuk mengeluarkan kap serviks harus dilakukan dalam kurun waktu 48 jam. Setelah itu kap serviks dilepaskan, lalu bersihkan kap dengan sabun dan  air hangat dan diangin-anginkan, setelah itu disimpan dengan benar agar dapat  digunakan kembali.

(20)

3) SPONGE (SPONS)

Spon merupakan sejenis alat berbentuk

busa yang cara kerja dengan cara

dimasukkan ke dalam vagina beberapa

jam sebelum melakukan hubungan intim,

dan biarkan didalam vagina selama 30

jam sesudah berhubungan. Spon yang

dimasukkan ke dalam vagina bekerja

dengan cara melepaskan zat pembunuh

sperma (spermicide) saat berada dalam

kondisi lembab karena air, dan

ditempatkan diatas serviks.

Dampak buruknya dengan menggunakan

spon sebagai alat kontrasepsi adalah

tidak dapat mencegah penyakit seksual

yang menular. Tak hanya itu spon ini

dapat menyebabkan iritasi vagina dan

(21)

4) KONDOM WANITA

Dasarnya : kombinasi antara Diafragma dan

Kondom. Alat ini terdiri dari 2 cincin

polyurethane yang lentur berbentuk diafragma

yang terdapat pada masing-masing ujung dari

suatu selubung lunak polyurethane yang

longgar. Sebelum dipasang, biasanya

ditambahkan spermisid pada alatnya.

Brand yang dipasarkan antara lain Femidom,

Dominique, Protectiv, dan Care. Baru-baru  ini

juga dipasarkan  kondom wanita yang terbuat

dari bahan lateks (seperti kondom pria) sehingga

tidak menimbulkan suara berisik saat dipakai.

Dipasarkan dengan brand Reddy, V Amour, dan

Sutra. Pengujian secara in vitro menunjukkan

kondom wanita impermeabel terdapat HIV,

sitomegalo virus dan hepatitis virus.

Alasan utama dari dikembangkannya kondom

wanita adalah karena pada kondom pria dan

diafragma biasa, kedua alat tersebut tidak

menutupi daerah perineum sehingga masih ada

kemungkinan penyebaran mikroorganisme

(22)

Kondom wanita yang telah tersedia saat ini :

1.  Reality Vaginal kondom

Berupa “tabung” polyuretnane, panjang 17 cm, dengan 2

cincin polyuretnane lentur pada masing-masing ujungnya,

insersi alat ini seperti insersi diafgrama.

2.    Women’s Choice Female Condomme = Condomme

Bentuknya seperti kondom pria, dengan ujung-dalam yang

lebih tebal yang berada pada bagian atas vagina, dan

suatu cincin-luar yang menutupi labia, condomme terbuat

dari lateks, dan 30% lebih tebal daripada kondom pria

agar supaya lebih kuat, insersi Condomme dilakukan

dengan suatu aplikator plastik yang dapat dipakai ulang.

3.    Kondom vagina ketiga

Yang masih dalam taraf uji-coba, berupa suatu

celana-dalam lateks dengan suatu kantong-tergulung yang

“built-in” dan  berada tepat pada mulut vagina, Sebelum

sanggama, wanita mendorong kantong tersebut kedalam

vagina. Alat ini menutupi seluruh perineum dan genitalia

eksterna, sehingga dapat memberikan perlindungan

(23)

Cara Pemakaian

Cara Pemakaian

Cincin yang terbuka berada di luar vagina, sedangkan

cincin tertutup berada di bawah simfisis. Cincin-dalam

dipasang tinggi di dalam vagina, dan tidak perlu

(24)

THANK YOU FOR YOUR ATTENTION 

Referensi

Dokumen terkait

berencana Puskesmas Kartasura, akseptor KB banyak yang menggunakan alat.. kontrasepsi hormonal dibandingkan menggunakan alat

FAKTOR PERILAKU YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMILIHAN ALAT KONTRASEPSI METODE MEDIS OPERATIF PRIA (MOP) (STUDI PADA AKSEPTOR KB BARU DI KECAMATAN KAPONGAN KABUPATEN

FAKTOR PERILAKU YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMILIHAN ALAT KONTRASEPSI METODE MEDIS OPERATIF PRIA (MOP) (STUDI PADA AKSEPTOR KB BARU DI KECAMATAN KAPONGAN KABUPATEN

Menurut BKKBN provinsi Jawa Timur, saat ini banyak Pasangan Usia Subur (PUS) yang menggunakan alat kontrasepsi berupa KB suntik. Berdasarkan wawancara dengan

Kurangnya pengetahuan ibu-ibu yang masih PUS (Pasangan Usia Subur) tentang pemilihan alat kontrasepsi banyak dipengaruhi oleh pendapat dimasyarakat yang beranggapan

Pada 1997 wanita pernah kawin yang menggunakan alat kontrasepsi jenis hormonal paling banyak berada kelompok umur di bawah 40 tahun, sedangkan jenis nonhormonal

Berdasarkan data variabel tingkat pengetahuan suami tentang KB pria dengan data status penggunaan alat kontrasepsi pada suami di Kelurahan Sangkrah Kota

Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa tingkat pengetahuan tentang metode kontrasepsi vasektomi pada pria di desa babadan kecamatan karangdowo kabupaten klaten yang paling