Peran Perguruan Tinggi dalam Membangun Budaya
Keterbukaan Informasi Publik
Afrizal Tjoetra
11. Pendahuluan
Setiap orang mempunyai hak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi publik untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, dan menyimpan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia2. Untuk memberikan jaminan terhadap pemenuhan hak dimaksud,
Pemerintah Republik Indonesia bersama Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia telah menetapkan undang-undang yang antara lain mengatur mengenai hak dan kewajiban publik, hak dan kewajiban badan publik, serta pengaturan terkait Komisi Informasi.
Dengan demikian, hak atas informasi publik merupakan hak konstitusional setiap warga negara Indonesia. Pengaturannya ditetapkan melalui Undang-undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (selanjutnya disebut UU KIP). Undang-undang ini disahkan pada 30 April 2008 dan diberlakukan dua tahun sejak Undang-undang ini diundangkan3.
Untuk itu, setiap badan publik pemerintah dan non pemerintah diwajibkan melaksanakan pemenuhan hak dimaksud melalui penyediaan, pengelolaan serta pelayanan atas informasi publik. Selain itu, badan publik wajib menyediakan informasi publik yang akurat, benar, dan tidak menyesatkan4. Dalam melakukan kewajibannya,
badan publik harus membangun dan mengembangkan sistem informasi dan dokumentasi untuk mengelola Informasi Publik secara baik dan efisien sehingga dapat diakses dengan mudah5.
2. Perguruan Tinggi dan Keterbukaan Informasi Publik
1 Dosen pada Jurusan Sosiologi – FISIP Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh. Meraih gelar Doktor pada bidang kajian Konflik dan Perdamaian di Fakulti Ilmu Kemasyarakatan, Universiti Sains Malaysia (USM), Pulau Pinang – Malaysia. Alumni Program Studi Pendidikan Dunia Usaha, Angkatan 1990 dan saat ini dipercaya sebagai Ketua Komisi Informasi Aceh.
2 Lihat Pasal 28 F UUD 1945, Amandemen Kedua. 3 Lihat Pasal 64 ayat (2) UU KIP.
Perguruan Tinggi adalah satuan pendidikan yang menyelenggarakan Pendidikan Tinggi6.
Mengenai Pendidikan Tinggi dinyatakan sebagai jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program diploma, program sarjana, program magister, program doktor, dan program profesi, serta program spesialis, yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi berdasarkan kebudayaan bangsa Indonesia7.
Jika merujuk Pasal 1 angka 3 Undang-undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (selanjutnya disebut UU KIP) maka badan publik dimaknai lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif, dan badan lainnya yang fungsi dan tugas pokoknya berkaitan dengan penyelenggaraan negara, yang sebagian atau seluruh dananya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan/atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), atau organisasi nonpemerintah sepanjang sebagian atau seluruh dananya bersumber dari APBN dan/atau APBD, sumbangan masyarakat, dan/atau luar negeri. Berikutnya, lebih dirinci dalam Lampiran I Peraturan Komisi Informasi Nomor 1 Tahun 2010 tentang Standar Layanan Informasi Publik (Perki SLIP). Dengan demikian, Perguruan Tinggi sebagai lembaga yang menyelenggarakan pendidikan tinggi, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat juga termasuk badan publik.
Sebagai badan publik, Perguruan Tinggi memiliki hak dan kewajiban dalam pengelolaan informasi publik, termasuk kewajiban membentuk Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID). Pengaturan mengenai PPID dilingkungan Perguruan Tinggi dapat merujuk pada Peraturan Menteri Riset, Teknologi, Dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2016 Tentang Layanan Informasi Publik Di Lingkungan Kementerian Riset, Teknologi, Dan Pendidikan Tinggi. Kewajiban ini juga menjadi bagian yang tak terpisahkan untuk mewujudkan akuntabilitas Perguruan Tinggi sebagaimana telah diatur dalam Pasal 78 Undang-undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Perguruan Tinggi (selanjutnya disebut UU PT). Akuntabilitas Perguruan Tinggi merupakan bentuk pertanggungjawaban Perguruan Tinggi kepada masyarakat, terdiri atas akuntabilitas akademik dan akuntabilitas non akademik.Wujud pertanggungjawaban
dimaksud disusun dalam sebuah laporan tahunan yang dipublikasikan kepada masyarakat.
Apalagi, Perguruan Tinggi mempunyai peran penting dan strategis dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, dengan mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi untuk memajukan kesejahteran umum dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Hal ini dinyatakan dalam penjelasan UU PT. Hal ini selaras dengan salah satu tujuan pembentukan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (selanjutnya disebut UU KIP), yakni Pasal 3 huruf f yang menyebutkan “mengembangkan ilmu pengetahuan dan mencerdaskan kehidupan bangsa”.
Harus diakui masih adanya pandangan yang berbeda terkait keterbukaan informasi publik dilingkungan Perguruan Tinggi. Secara umum masih terdapat pimpinan Perguruan Tinggi mempertanyakan tentang urgensinya publik (diluar Perguruan Tinggi) untuk mengetahui sejumlah informasi publik dilingkungan kampus. Perbedaan ini muncul karena kurangnya sosialisasi pada badan publik, terutama Perguruan Tinggi. Sehingga menimbulkan keraguan untuk melaksanakan UU KIP, keterbatasan dana, dan kurangnya dorongan masyarakat kepada Perguruan Tinggi untuk melaksanakan UU KIP. Untuk itu, diperlukan upaya bersama agar layanan informasi publik dilingkungan Perguruan Tinggi dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku.
Pada sisi yang lain, sejumlah permohonan penyelesaian sengketa informasi publik di Komisi Informasi Aceh (KIA) sepanjang 2013-2016 menunjukkan tantangan yang beragam. Berdasarkan data KIA per Januari 2017 diketahui bahwa 5 (lima) Perguruan Tinggi di Aceh telah disengketakan oleh Pemohon, yaitu Universitas Teuku Umar (UTU), Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), UIN Ar-Raniry, Universitas Jabal Ghafur (Unigha), dan STKIP Bina Bangsa Meulaboh. Pernyataan yang acapkali muncul dari perwakilan Badan Publik saat pelaksanaan sidang sengketa informasi publik, antara lain :
1. belum mengetahui tentang pelaksanaan UU KIP (padahal sudah berlaku sejak 2010 lalu);
4. mempertanyakan tentang alasan permohonan informasi yang diajukan oleh Pemohon dan pemanfaatannya.
Padahal, UU KIP menjamin hak publik untuk memperoleh informasi dan memastikan kewajiban Badan Publik dalam pengelolaan informasi publik. Penggunaan hak atas informasi publik akan mendorong badan publik untuk aktif memenuhi kewajiban memberikan pelayanan informasi publik. Peran ini seharusnya juga dilaksanakan oleh Perguruan Tinggi, utamanya pemenuhan informasi publik pada mahasiswa sebagai agent of change sekaligus social control. Peran generasi muda untuk mengawal perubahan kondisi sosial politik diperlukan dalam mewujudkan negara yang baik dan bersih, serta melaksanakan keterbukaan informasi publik.
3. Peran Perguruan Tinggi dalam Membangun Budaya yang Terbuka
Pelaksanaan budaya akademik di Perguruan Tinggi tak dapat dipisahkan dengan pengelolaan informasi publik. Berdasarkan UU KIP, informasi publik dimaknai sebagai informasi yang dihasilkan, disimpan, dikelola, dikirim, dan/atau diterima oleh suatu badan publik yang berkaitan dengan penyelenggara dan penyelenggaraan negara dan/atau penyelenggara dan penyelenggaraan Badan Publik lainnya yang sesuai dengan UU KIP serta informasi lain yang berkaitan dengan kepentingan publik. Informasi publik ini sangat erat kaitannya dengan seluruh rangkaian kegiatan yang berlangsung dalam Perguruan Tinggi, baik dilaksanakan oleh dosen, mahasiswa, serta tenaga non kependidikan. Namun, dalam pelaksanaannya masih memerlukan kerja serius agar pengelolaan informasi publik dapat memenuhi keperluan civitas akademika dan masyarakat secara luas.
menjadi bagian utama membangun budaya keterbukaan informasi publik dalam masyarakat.
Hanya saja, pelaksanaan UU KIP belum berjalan efektif dalam dunia pendidikan tinggi. Hal ini sesuai dengan hasil evaluasi yang dilakukan oleh Komisi Informasi Pusat maupun Komisi Informasi Aceh (KIA). Landasan kegiatan evaluasi badan publik berdasarkan Pasal 37 Perki SLIP, yakni :
“(1) Komisi Informasi dapat melakukan evaluasi pelaksanaan layanan informasi publik oleh badan publik 1 (satu) kali dalam setahun. Dan, ayat (2) Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Badan Publik dan diumumkan kepada publik.”
Sedangkan penetapan hasil akhir peringkat kualifikasi badan publik dilakukan dengan merujuk Pasal 8, Perki 5 Tahun 2016 tentang Metode dan Teknik Evaluasi Keterbukaan Informasi Badan Publik, yang terdiri atas:
a. Informatif dengan nilai 97 – 100;
b. Menuju informatif dengan nilai 80 – 96; c. Cukup informatif dengan nilai 60 – 79; d. Kurang informatif dengan nilai 40 – 59; dan e. Tidak informatif dengan nilai <39.
Berdasarkan hasil evaluasi Komisi Informasi Pusat rata-rata keterbukaan informasi pada 85 badan publik Perguruan Tinggi Negeri berada pada kualifikasi cukup informatif (dengan nilai 73,31), dengan rincian sebagai berikut8 :
No
. Peringkat Perguruan Tinggi Kualisifikasi Nilai Ket.
1. Peringkat I Universitas Brawijaya Informatif 97.23
2. Peringkat II Universitas Indonesia Menuju Informatif 96.04 3. Peringkat III Institut Pertanian Bogor Menuju Informatif 82.71 4. Peringkat IV Universitas Negeri Malang Cukup Informatif 78.25 5. Peringkat V Universitas Padjajaran Cukup Informatif 76.12 6. Peringkat VI Universitas Gadjah Mada Cukup Informatif 70.41 7. Peringkat VII Universitas Lambung
Mangkurat
Cukup Informatif 62.4
8. Peringkat VIII Universitas Negeri Yogyakarta Cukup Informatif 60.5
9. Peringkat IX Institut Teknologi Bandung Kurang Informatif 56.94 10. Peringkat X Universitas Sriwijaya Kurang Informatif 52.51
Sedangkan sesuai hasil evaluasi Komisi Informasi Aceh (KIA) pada 2017 lalu, diketahui bahwa secara umum Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Aceh termasuk kualifikasi tidak informatif, dengan gambaran sebagai berikut9 :
No Jumlah BP
Informatif dengan nilai 97 – 100; 0
2. Menuju informatif dengan nilai 80 – 96 0
3. Cukup informatif dengan nilai 60 – 79; 1
4. Kurang informatif dengan nilai 40 – 59; 0
5. Tidak informatif dengan nilai <39 11
Berikutnya, hasil peringkat 5 (lima) besar Badan Publik PTN di Aceh untuk tahun 201710
adalah :
Berdasarkan hasil evaluasi di atas, masih diperlukan upaya serius dan bersama untuk memastikan kampus kita melaksanakan agenda keterbukaan informasi publik. Pengelolaan informasi publik ini juga menjadi bagian dalam pengembangan sumber daya manusia.
Padahal, proses interaksi dalam lingkungan Perguruan Tinggi sangat erat kaitannya dengan pengelolaan dan pemanfaatan informasi publik. Keperluan atas informasi publik di Perguruan Tinggi ibarat “ikan memerlukan air untuk melangsungkan kehidupannya”. Keperluan atas informasi publik sangat mendukung saat dosen dan/atau mahasiswa melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi, baik informasi publik bersumber dari internal kampus maupun badan publik lainnya. Sejumlah peran yang dapat dijalankan antara lain :
1. Sebagai “lokomotif” dalam melaksanakan UU KIP dengan pembenahan sistem pengelolaan informasi secara benar, akurat, dan mudah diakses;
2. Sebagai “fasilitator: dalam membangun masyarakat sadar informasi yang memanfaatkan informasi publik untuk meningkatkan peran aktif masyarakat dalam pengambilan kebijakan publik dan pengelolaan badan publik yang baik; dan
3. Menjadi “motivator” agar masyarakat dan badan publik lainnya dapat memanfaatkan penyediaan informasi publik untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan mencerdaskan kehdupan bangsa.
4. Penutup
Pelaksanaan UU KIP masih di Perguruan Tinggi masih belum optimal. Masih terdapat sejumlah tantangan yang harus dikelola bersama. Tantangan dimaksud antara lain : 1. Memastikan setiap informasi publik dapat diakses oleh masyarakat (terutama civitas
akademik); hal ini sesuai dengan ketentuan UU PT. Selain itu, untuk memastikan Perguruan Tinggi sebagai badan publik menjalankan UU KIP sebagaimana yang telah ditetapkan, termasuk Perki SLIP dan Perki Nomor 1 Tahun 2013 tentang Prosedur Penyelesaian Sengketa Informasi Publik.
2. Meningkatkan kesadaran masyarakat atas pentingnya informasi publik; utamanya pemanfaatan informasi publik untuk meningkatkan partisipasi aktifnya dalam pembangunan.
4. Memastikan pembangunan budaya yang terbuka di kampus; dengan pengelolaan informasi publik dan pelayanannya akan mendukung penciptaan lingkungan Perguruan Tinggi yang terbuka dan meningkatkan sikap saling menghargai atas karya ilmiah yang dihasilkan seseorang.