• Tidak ada hasil yang ditemukan

Promkes Lansia Metode Brainstorming

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan " Promkes Lansia Metode Brainstorming"

Copied!
45
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Lansia adalah seseorang yang telah memasuki usia 60 tahun keatas. Lansia merupakan kelompok umur pada manusia yang telah memasuki tahapan akhir dari fase kehidupannya. Kelompok yang dikategorikan lansia ini akan terjadi suatu proses yang disebut Aging Process atau proses penuaan. Proses penuaan adalah siklus kehidupan yang ditandai dengan tahapan-tahapan menurunnya berbagai fungsi organ tubuh, yang ditandai dengan semakin rentannya tubuh terhadap berbagai serangan penyakit yang dapat menyebabkan kematian misalnya pada sistem kardiovaskuler dan pembuluh darah, pernafasan, pencernaan, endokrindan lain sebagainya. Hal tersebut disebabkan seiring meningkatnya usia sehingga terjadi perubahan dalam struktur dan fungsi sel, jaringan, serta sistem organ. Perubahan tersebut pada umumnya mengaruh pada kemunduran kesehatan fisik dan psikis yang pada akhirnya akan berpengaruh pada ekonomi dan sosial lansia. Sehingga secara umum akan berpengaruh pada activity of daily living (Fatimah, 2010).

Kemampuan lansia untuk berdiri dan berjalan tidak lagi stabil dan mudah jatuh menyebabkan lansia cenderung membatasi aktivitas. Aktivitas erat kaitannya dengan beban mekanis yang dberikan pada tubuh. Berkurangnya beban mekanis akan mengakibatkan berkurangnya massa tulang. Hal ini menjadi salah satu pemicu terjadinya osteoporosis selain faktor hormonal, asupan kalsium, genetik dan gaya hidup. Osteoporosis adalah tulang yang keropos, yaitu penyakit yang mempunyai sifat khas berupa massa tulangnya rendah atau berkurang, disertai gangguan mikro-arsitektur tulang dan penurunan kualitas jaringan tulang yang dapat menimbulkan kerapuhan tulang (Tandra, 2009)

(2)

yang digelar dalam rangka pengabdian masyarakat memperingati Dies Natalis Unair ke-58,Prof. Dr. Agung Pranoto, dr.,MSc.Sp.PD-KEMD, Dekan Fakultas KedokteranUnair memaparkan, saat ini di Indonesia, bertambahnya angka usia harapan hidup penduduk indonesia yangsemula 64,71 (1995-2000) menjadi 67,68 (2000-2005) membuat angka kejadian osteoporosis punbertambah. Data menyebutkan, ada lima provinsi dengan resiko osteoporosis tinggi antara lain SumateraSelatan (22,82%) , Jawa Tengah (24, 02%), Yogyakarta (23,5%), Sumatera Utara (22,82%), Jawa Timur(21,42%) dan Kalimantan Timur (10,5%). Menurut data internasional Osteoporosis Foundation, lebih dari 30% wanita diseluruh dunia mengalami resiko seumur hidup untuk patah tulang akibat osteoporosis, bahkan mendekati 40%. Sedangkan pada pria, resikonya berada pada angka 13%.

Berdasarkan latar belakang diatas, maka kami tertarik untuk memberikan promosi kesehatan tentang osteoporosis pada lansia. Pemberian promosi kesehatan dapat dilakukan dengan berbagai macam metode. Salah satu metode yang tepat untuk memberikan edukasi pada pasien osteoporosis adalah menggunakan metode Brainstorming. Pada metode Brainstorming akan dilakukan praktek teknik konferensi dimana sebuah kelompok berupaya mencari solusi atas masalah tertentu dengan menghimpun semua ide yang disumbangkan oleh para anggotanya secara spontan. Metode ini pertama kali dipopulerkan oleh Alex Faickney Osborn di tahun 1930an pada buku yang berjudul Applied Imagination. Brainstorming dikenal sebagai sebuah teknik untuk mendapatkan ide-ide kreatif sebanyak-benyaknya dalam kelompok guna mencari solusi dari sebuah permasalahan (Green, 2004).

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah konsep dan masalah kesehatan pada kelompok lansia? 2. Bagaimanakah konsep promosi kesehatan dengan metode brainstorming? 3. Bagaimanakah komponen promosi kesehatan?

4. Bagaimanakah contoh penerapan promosi promosi kesehatan dengan metode brainstorming pada kelompok lansia?

1.3 Tujuan

(3)

Mampu melakukan promosi kesehatan pada lansia dengan metode Brainstorming.

1.3.2 Tujuan Khusus

Penulisan makalah tentang Promosi Kesehatan pada Lansia dengan Metode Brainstorming ini diharapkan dapat membantu mahasiswa untuk:

a. Memahami tentang konsep dan masalah kesehatan pada kelompok lansia

b. Memahami konsep promosi kesehatan dan konsep promosi kesehatan dengan metode brainstorming

c. Memahami komponen promosi kesehatan d. Memahami perencanaan promosi kesehatan 1.4 Manfaat

1.4.1 Mahasiswa

Mahasiswa mampu menyusun proposal perencanaan promosi kesehatan dan melakukan promosi kesehatan pada lansia dengan metode demonstrasi.

1.4.2 Dosen

Makalah ini dapat dijadikan tolok ukur sejauh mana mahasiswa mampu mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen dan sebagai bahan pertimbangan dosen dalam menilai mahasiswa.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Lansia 2.1.1 Definisi Lansia

(4)

kelompok umur pada manusia yang telah memasuki tahapan akhir dari fase kehidupannya. Kelompok yang dikategorikan lansia ini akan terjadi suatu proses yang disebut Aging Process atau proses penuaan. Proses penuaan adalah siklus kehidupan yang ditandai dengan tahapan-tahapan menurunnya berbagai fungsi organ tubuh, yang ditandai dengan semakin rentannya tubuh terhadap berbagai serangan penyakit yang dapat menyebabkan kematian misalnya pada sistem kardiovaskuler dan pembuluh darah, pernafasan, pencernaan, endokrindan lain sebagainya. Hal tersebut disebabkan seiring meningkatnya usia sehingga terjadi perubahan dalam struktur dan fungsi sel, jaringan, serta sistem organ. Perubahan tersebut pada umumnya mengaruh pada kemunduran kesehatan fisik dan psikis yang pada akhirnya akan berpengaruh pada ekonomi dan sosial lansia. Sehingga secara umum akan berpengaruh pada activity of daily living (Fatimah, 2010).

WHO menetapkan bahwa yang disebut penduduk lansia adalah yang berumur 60 tahun ke atas.Tetapi untuk menyusun kebijakan yang lebih mengena pada sasaran, jumlah lansia perlu dikategorikan menurut umur dan jenis kelamin, karena tiap kelompok umur mempunyai karakteristik, potensi, dan kebutuhan pelayanan yang berbeda. Lansia muda usia 60-69 tahun yang mungkin masih produktif dan menyumbangkan pertumbuhan ekonomi. Lansia menengah usia 70-79 tahun, yang diantaranyamasih produktif tetapi sebagian besar sudah memerlukan perhatian. Lansia berusia 80 tahun ke atas merupakan lansia emas yang tentunya lebih memerlukan perhatian. (Azis, 2010) 2.1.2 Batasan Lansia

1. Batasan Lansia

Ketetapan seseorang dianggap lansia sangat bervariasi karena setiap Negara memiliki criteria dan standar yang berbeda.Berikut ini pendapat para ahli yang dikutip dari Nugroho (2000) dalam Ferry dan Makfudli (2009) tentang batasan umur lansia:

(5)

Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia dalam Bab 1 Pasal 1 Ayat 2 yang berbunyi “Lanjut usia adalah seseorang yang mencapai usia adalah seseorang yang mencapai usia 60 (enam) tahun ke atas”

2) Menurut World Health Organization (WHO)

(1) Usia pertengahan (middle age) : 45 – 59 tahun (2) Lanjut usia (elderly) : 60 – 74 tahun (3) Lanjut usia tua (old) : 75 – 90 tahun (4) Usia sangat tua (very old) : di atas 90 tahun 3) Menurut Prof. Dr. Ny. Sumiati Ahmad Mohammad

(1) Masa bayi : 0 – 1 tahun

(2) Masa Prasekolah : 1 – 6 tahun (3) Masa Pubertas : 6 – 10 tahun (4) Masa dewasa : 10 – 20 tahun (5) Masa setengah umur (prasenium) : 20 – 40 tahun (6) Masa lanjut usia (senium) : 65 tahun keatas 2. Perubahan Fisik, Psikososial, Kognitif dan Sosial pada Lansia

1) Perubahan fisik

a. Sel: jumlah berkurang, ukuran membesar, cairan tubuh menurun, dan cairan intraseluler menurun.

b. Kardiovaskular: katup jantung menebal dan kaku, kemampuan memompa darah menurun (menurunya kontraksi dan volume), elastisitas pembuluh darah menurun, serta meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer sehingga tekanan darah meningkat.

c. Respirasi : otot-otot pernapasa kekuatanya menurun dan kaku, elastisitas paru menurun, kapasitas residu meningkat sehingga menarik napas lebih berat, alveoli melebar dan jumlahnya menurun, kemampuan batuk menurun, serta terjadi penyempitan pada bronkus.

d. Persyarafan : saraf pancaindra mengecil sehingga fungsinya menurun serta lambat dalam merespons dan waktu bereaksi khususnya yang berhubungan dengan stress. Berkurang atau hilangnya lapisan myelin akson, sehingga menyebabkan berkurangnya respons motorik dan refleks.

(6)

persendian membesar dan menjadi kaku (atrofi oto), kram, tremor, tendon mengerut, dan mengalami sklerosis.

f. Gastrointestinal : esophagus melebar, asam lambung menurun, lapar menurun, dan peristaltic menurun sehingga daya absorpsi juga ikut menurun. Ukuran lambung mengecil serta fungsi organ aksesori menurun sehingga menyebabkan berkurangnya produksi hormon dan enzim pencernaan.

g. Genitourinaria: ginjal mengecil, aliran darah ke ginjal menurun, penyaringan di glomerulus menurun, dan fungsi tubulus menurun sehingga kemampuan mengonsentrasi urine ikut menurun.

h. Vesika urinaria: otot-otot melemah, kapasitasnya menurun dan retensi urine. Prostat: hipertrofi pada 75% lansia.

i. Vagina : selaput lender mongering dan sekresi menurun.

j. Pendengaran : membrane timpani atrofi sehingga terjadi gangguan pendengaran. Tulang-tulang pendengaran mengalami kekakuan.

k. Penglihatan : respons terhadap sinar menurun, adaptasi terhadap gelap menurun, akomodasi menurun, lapang pandang menurun, dan katarak.

l. Kulit : keriput serta kulit kepala dan rambut menipis. Rambut dalam hidung dan telinga menebal. Elastisitas menurun, vaskularisasi menurun, rambut memutih (uban), kelenjar keringat menurun, kuku keras dan rapuh, serta kuku kaki tumbuh berlebihan seperti tanduk. 2) Perubahan Psikologis

(7)

Dalam psikologi perkembangan, lansia dan perubahan yang dialaminya akibat proses penuaan digambarkan oleh hal-hal berikut.

a. Keadaan fisik lemah dan tak berdaya, sehingga harus bergantung pada orang lain.

b. Status ekonominya sangat terancam, sehingga cukup beralasan untuk melakukan berbagai perubahan besar dalam pola hidupnya.

c. Menetukan kondisi hidup yang sesuai dengan perubahan status ekonomi dan kondisi fisik.

d. Mencari teman baru untuk menggantikan suami atau istri yang telah meninggal atau pergi jauh dan/atau cacat.

e. Mengembangakan kegiatan baru untuk mengisi waktu luang yang semakin bertembah.

f. Belajar untuk memperlakukan anak yang sudah besar sebagai orang dewasa.

g. Mulai terlibat dalam kegiatan masyarakat yang secara khusus direncanakan untuk orang dewasa.

h. Mulai merasakan kebahagiaan dari kegiatan yang sesuai untuk lansia dan memiliki kemauan untuk mengganti kegiatan lama yang berat dengan yang lebih cocok.

i. Merasakan atau kesadaran akan kematian ( sense of awareness of mortality )

j. Menjadi sasaran atau dimanfaatkan oleh oknum tertentu dalam bentuk kriminalitas karena mereka tidak sanggup lagi untuk mempertahankan diri.

3) Perubahan Kognitif

(8)

banyak waktu untuk belajar hal yang baru, dan memerlukan lebih banyak isyarat bantuan untuk mengingat-ingat kembali apa yang dulu pernah diingatnya.Biasanya mereka dapat mengingat kembali beberapa saat kemudian tanpa di bantu atau dengan bantuan penjabaran fungsi atau bentuk dari hal yang dilupakan.

Gangguan kognitif yang lain yang juga menurun pada lansia adalah intelegensia atau kecerdasan. Pada lansia, lapisan otak bagian luar yang merupakan pusat intelegensi terlihat agak menciut (atrofi) terutama pada lansia yang kurang aktif.

4) Perubahan Sosial

Perubahan sosial terjadi terutama setelah seseorang mengalami pensiun. Berikut ini adalah hal – hal yang akan terjadi pada masa pensiun.

a. Kehilangan sumber finansial atau pemasukan (income) berkurang

b. Kehilangan status karena dulu mempunyai jabatan posisi yang cukup tinggi, lengkap dengan segala fasilitasnya.

c. Kehilangan teman atau relasi

d. Kehilangan pekerjaan atau kegiatan 2.1.3 Masalah Kesehatan pada Lansia

1. Osteoporosis

(9)

karenanya, massa tulang akan berkurang seiring dengan proses penuaan. Berkurangnya massa tulang ini akan berlangsung terus sepanjang sisa hidup.

Dengan demikian, osteoporosis pada lansia terjadi akibat berkurangnya massa tulang. Pada lansia, kemampuan tulang dalam menghindari keretakan akan semakin menurun. Kondisi ini juga diperparah dengan kecenderungan rendahnya konsumsi kalsium dan kemampuan penyerapannya.

Pada lansia wanita akan terjadi menopause. Pada masa menopause, terjadi kehilangan kalsium dari jaringan tulang. Osteoporosis pada menopause terjadi akibat kadar estrogen yang diproduksi ovarium menurun. Hormone estrogen diproduksi wanita dari masa kanak-kanak sampai dewasa. Pada masa menopause, hanya bagian tubuh seperti kelenjar adrenalin dan sel-sel lemak yang memproduksi estrogen, itupun dalam jumlah yang sangat kecil. Hormone tersebut diperlukan untuk pembentukan tulang dan mempertahankan massa tulang. Rendahnya hormon estrogen dalam tubuh akan membuat tulang menjadi keropos dan mudah patah. 2. Inkontinensia Urin

(10)

Lansia yang mengalami inkontinensia urin mempunyai kecenderungan untuk mengurangi minum. Hal ini selain mengganggu kesimbangan cairan yang sudah cenderung negatif pada lansia, dapat juga mengakibatkan kapasitas kandung kemih menurun dan selanjutnya akan memperberat keluhan inkontinensianya. (Ananingsih 2013)

3. Konstipasi

Pada lansia terjadi Penurunan fungsi alat pencernaan khususnya pada usus dapat menyebabkan konstipasi. Konstipasi dapat diartikan sebagai kesulitan buang air besar, yang disebabkan karena berkurangnya fungsi pergerakan usus dan kesulitan pergerakan feses. Konstipasi pada lansia selain menurunnya fungsi gastrointestinal juga dipengaruhi oleh asupan makanan. Makanan yang dapat mempengaruhi terjadinya proses konstipasi adalah makanan yang mengandung kalsium, tinggi lemak dan makanan yang tinggi gula.

Selain itu juga dipengaruhi oleh tidak ada zat gizi tertentu yang mendukung penyerapan kalsium sehingga dapat menyebabkan konstipasi. Kadar kalsium yang tinggi dalam tubuh menurunkan kontraktilitas otot, dengan demikian mengurangi reabsorpsi air (Endyarni dkk, 2004). Konsumsi kalsium yang tinggi dapat menyebabkan lamanya transit feses dalam usus besar disebakan karena menurunnya gerak peristaltik usus serta mengalami penurunan absorbsi elektrolit (William,2008). (Amri 2015)

4. DM Tipe 2

(11)

Diabetes mellitus pada lansia salah satunya karena resistensi insulin, resistensi insulin pada lansia dapat disebabkan oleh 4 faktor perubahan komposisi tubuh: massa otot lebih sedikit dan jaringan lemak lebih banyak, menurunnya aktivitas fisik sehingga terjadi penurunan jumlah reseptor insulin yang siap berikatan dengan insulin, perubahan pola makan lebih banyak makan karbohidrat akibat berkurangnya jumlah gigi sehingga, perubahan neurohormonal (terutama insulin-like growth factor-1 (IGF-1) dan dehidroepiandosteron (DHEAS) plasma) sehingga terjadi penurunan ambilan glukosa akibat menurunnya sensitivitas reseptor insulin dan aksi insulin.

Gejala klasik DM seperti poliuria, polidipsi, polifagia, dan penurunan berat badan tidak selalu tampak pada lansia penderita DM karena seiring dengan meningkatnya usia terjadi kenaikan ambang batas ginjal untuk glukosa sehingga glukosa baru dikeluarkan melalui urin bila glukosa darah sudah cukup tinggi. Selain itu, karena mekanisme haus terganggu seiring dengan penuaan, maka polidipsi pun tidak terjadi, sehingga lansia penderita DM mudah mengalami dehidrasi hiperosmolar akibat hiperglikemia berat

DM pada lansia umumnya bersifat asimptomatik, kalaupun ada gejala, seringkali berupa gejala tidak khas seperti kelemahan, letargi, perubahan tingkah laku, menurunnya status kognitif atau kemampuan fungsional (antara lain delirium, demensia, depresi, agitasi, mudah jatuh, dan inkontinensia urin). Inilah yang menyebabkan diagnosis DM pada lansia seringkali agak terlambat. Bahkan, DM pada lansia seringkali baru terdiagnosis setelah timbul penyakit lain.

5. Anemia

(12)

tangan menjadi pucat, Hb<8gram/dl, serta kemampuan konsentrasi menurun. (Maryam dkk, 2008)

6. Depresi

Seiring bertambahnya usia, penuaan tidak dapat dihindarkan dan terjadi perubahan keadaan fi sik; selain itu para lansia mulai kehilangan pekerjaan, kehilangan tujuan hidup, kehilangan teman, risiko terkena penyakit, terisolasi dari lingkungan, dan kesepian. Hal tersebut dapat memicu terjadinya gangguan mental. Depresi merupakan salah satu gangguan mental yang banyak dijumpai pada lansia akibat proses penuaan. Berdasarkan data di Canada, 5-10% lansia yang hidup dalam komunitas mengalami depresi, sedangkan yang hidup dalam lingkungan institusi 30-40% mengalami depresi dan cemas.

Depresi menurut WHO (World Health Organization) merupakan suatu gangguan mental umum yang ditandai dengan mood tertekan, kehilangan kesenangan atau minat, perasaan bersalah atau harga diri rendah, gangguan makan atau tidur, kurang energi, dan konsentrasi yang rendah.5,6 Masalah ini dapat akut atau kronik dan menyebabkan gangguan kemampuan individu untuk beraktivitas sehari-hari.

Para lansia depresi sering menunjukkan keluhan nyeri fi sik tersamar yang bervariasi, kecemasan, dan perlambatan berpikir. Perubahan pada lansia depresi dapat dikategorikan menjadi perubahan fisik, perubahan dalam pemikiran, perubahan dalam perasaan, dan perubahan perilaku (Irawan 2013).

1. Perubahan fisik

 Perubahan nafsu makan sehingga berat badan turun (lebih dari 5% dari berat badan bulan terakhir)

 Gangguan tidur berupa gangguan untuk memulai tidur, tetap tertidur, atau tidur terlalu lama

 Jika tidur, merasa tidak segar dan lebih buruk di pagi hari

 Penurunan energi dengan perasaaan lemah dan kelelahan fisik

(13)

 Nyeri, nyeri kepala, dan nyeri otot dengan penyebab fisik yang tidak diketahui

 Gangguan perut, konstipasi 1. Perubahan pemikiran

 Pikiran kacau, melambat dalam berpikir, berkonsentrasi, atau sulit mengingat informasi

 Sulit dan sering menghindari mengambil keputusan

 Pemikiran obsesif akan terjadi bencana atau malapetaka

 Preokupasi atas kegagalan atau kekurangan diri menyebabkan kehilangan kepercayaan diri

 Menjadi tidak adil dalam mengambil keputusan

 Hilang kontak dengan realitas, dapat menjadi halusinasi (auditorik) atau delusi

 Pikiran menetap tentang kematian, bunuh diri, atau mencoba melukai diri sendiri

2. Perubahan perasaan

 Kehilangan minat dalam kegiatan yang dulu merupakan sumber kesenangan

 Penurunan minat dan kesenangan seks

 Perasaan tidak berguna, putus asa, dan perasaan bersalah yang besar

 Tidak ada perasaan

 Perasaan akan terjadi malapetaka

 Kehilangan percaya diri

 Perasaan sedih dan murung yang lebih buruk di pagi hari

 Menangis tiba-tiba, tanpa alasan jelas

 Iritabel, tidak sabar, marah, dan perasaan agresif 3. Perubahan perilaku

 Menarik diri dari lingkungan sosial, kerja, atau kegiatan santai

 Menghindari mengambil keputusan

 Mengabaikan kewajiban seperti pekerjaan rumah, berkebun, atau membayar tagihan

 Penurunan aktivitas fisik dan olahraga

 Pengurangan perawatan diri seperti perawatan diri dan makan

 Peningkatan penggunaan alkohol atau obat-obatan 7. Demensia

(14)

orang awam mengatakan merupakan gejala lupa yang terjadi pada orang lanjut usia. Pikun ini termasuk gangguan otak yang kronis. Biasanya (tetapi tidak selalu) berkembang secara perlahan-lahan, dimulai dengan gejala depresi yang ringan atau kecemasan yang kadangkadang disertai dengan gejala kebingungan, kemudian menjadi parah diiringi dengan hilangnya kemampuan intelektual yang umum atau demensia. Jadi istilah pikun yang dipakai oleh kebanyakan orang, terminologI ilmiahnya adalah demensia. (Schaei & Willis, 1991). Jabaran demensia sekarang adalah "kehilangan kemampuan kognisi yang sedemikian berat hingga mengganggu fungsi sosial dan pekerjaan" (Kusumoputro, 2006).

Orang yang mengalami demensia selain mengalami kelemahan kognisi secara bertahap, juga akan mengalami kemunduran aktivitas hidup seharihari (activity of daily living/ADL) Ini pun terjadi secara bertahap dan dapat diamati. Awalnya, kemunduran aktivitas hidup seharihari ini berujud sebagai ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas hidup yang kompleks (complex activity of daily living) seperti tidak mampu mengatur keuangan, melakukan korespondensi, bepergian dengan kendaraan umum, melakukan hobi, memasak, menata boga, mengatur obat-obatan, menggunakan telepon, dan sebagainya. Lambat laun penyandang tersebut tidak mampu melakukan aktivitas hidup sehari-hari yang dasar (basic activity of daily living) berupa ketidakmampuan untuk berpakaian, menyisir, mandi, toileting, makan, dan aktivitas hidup sehari-hari yang dasar (basic ADL).

8. Hipertensi

(15)

Hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi 2 golongan besar yaitu :( Lany Gunawan, 2001 )

a) Hipertensi essensial ( hipertensi primer ) yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya

b) Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang di sebabkan oleh penyakit lain.Hipertensi primer terdapat pada lebih dari 90 % penderita hipertensi, sedangkan 10 % sisanya disebabkan oleh hipertensi sekunder. Meskipun hipertensi primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya, data-data penelitian telah menemukan beberapa faktor yang sering menyebabkan terjadinya hipertensi.

Pada umumnya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik. Hipertensi terjadi sebagai respon peningkatan cardiac output atau peningkatan tekanan perifer. Namun ada faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi:

a. Genetik: Respon nerologi terhadap stress atau kelainan eksresi atau transport Na.

b. Obesitas: terkait dengan level insulin yang tinggi yang mengakibatkan tekanan darah meningkat.

c. Stress Lingkungan.

d. Hilangnya Elastisitas jaringan and arterisklerosis pada orang tua serta pelabaran pembuluh darah.

Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya perubahan – perubahan pada :

1. Elastisitas dinding aorta menurun

2. Katub jantung menebal dan menjadi kaku. 3. Kemampuan jantung memompa darah menurun

4. Kehilangan elastisitas pembuluh darah. Hal ini terjadi karena kurangnya efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi. 5. Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer

9. Gangguan Penglihatan

a. Penurunan kemampuan penglihatan

(16)

orang tidak mengalami atau jarang mengalami penurunan penglihatan seirinng dengan bertambahnya usia.

b. Glaukoma

Glaukoma dapat terjadi pada semua usia tapi resiko tinggi pada lansia usia 60 tahun keatas, kerusakan akibat glaukoma sering tidak bisa diobati namun dengan medikasi dan pembedahan mampu mengurangi kerusakan pada mata akibat glaukoma. Glaukoma terjadi apabila ada peningkatan tekanan intra okuler (IOP) pada kebanyakan orang disebabkan oleh oleh peningkatan tekanan sebagai akibat adanya hambatan sirkulasi atau pengaliran cairan bola mata (cairan jernih berisi O2, gula dan nutrisi), selain itu disebabkan kurang aliran darah kedaerah vital jaringan nervous optikus, adanya kelemahan srtuktur dari syaraf.

Populasi yang berbeda cenderung untuk menderita tipe glaukoma yang berbeda pula pada suhu Afrika dan Asia lebih tinggi resikonnya di bandinng orang kulit putih, glaukoma merupakan penyebab pertama kebutuhan di Asia.

Tipe glaukoma ada 3 yaitu :

1. Primary open angle Gloueoma (glaukoma sudut terbuka)

2. Normal tenion glukoma (glaucoma bertekanan normal)

3. Angel clousure gloukoma (Glaukoma sudut tertutup )

c. Katarak

Katarak adalah tertutupnya lensamata sehingga pencahayaan di fokusing terganggu (retina) katarak terjadi pada semua umur namun yang sering terjadi pada usia > 55 tahun. Tanda dan gejalanya berupa : Bertanbahnya gangguan penglihatan, pada saat membaca / beraktifitas memerlukan pencahayaan yang lebih, kelemahan melihat dimalam hari, penglihatan ganda. Penanganannya yang tepat adalah pembedahan untuk memperbaiki lensa mata yang rusak pembedahan dilakukan bila katarak sudah mengganggu aktifitas namun bila tidak mengganngu tidak perlu dilakukan pembedahan.

(17)

a. Gangguan Pendengaran Tipe Konduktif

Gangguan bersifat mekanik, sebagai akibat dari kerusakan kanalis auditorius, membrana timpani atau tulang-tulang pendengaran. Salah satu penyebab gangguan pendengaran tipe konduktif yang terjadi pada usia lanjut adalah adanya serumen obturans, yang justru sering dilupakan pada pemeriksaan. Hanya dengan membersihkan lobang telinga dari serumen ini pendengaran bisa menjadi lebih baik.

b. Gangguan Pendengaran Tipe Sensori-Neural

Penyebab utama dari kelainan ini adalah kerusakan neuron akibat bising, prebiakusis, obat yang oto-toksik, hereditas, reaksi pasca radang dan komplikasi aterosklerosis.

c. Prebiakusis

Hilangnya pendengaran terhadap nada murni berfrekwensi tinggi, yang merupakan suatu fenomena yang berhubungan dengan lanjutnya usia. Bersifat simetris, dengan perjalanan yang progresif lambat.

Terdapat beberapa tipe presbiakusis, yaitu : 1) Presbiakusis Sensorik 2) Presbiakusis neural

3) Prebiakusis Strial ( metabolic )

4) Prebiakusis Konduktif Kohlear ( mekanik ) d. Tinitus

Suatu bising yang bersifat mendengung, bisa bernada tinggi atau rendah, bisa terus menerus atau intermiten. Biasanya terdengar lebih keras di waktu malam atau ditempat yang sunyi. Apabila bising itu begitu keras hingga bisa didengar oleh dokter saat auskkkultasi disebut sebagai tinnitus obyektif.

2.1.4 Masalah Gizi pada Lansia

(18)

2003). Prevalensi masalah gizi pada lansia yang meningkat telah diperlihatkan oleh sejumlah penelitian (Watson, 2003).

1. Kegemukan atau obesitas

Obesitas pada lansia biasanya disebabkan karena pola konsumsi yang berlebihan, banyak mengandung lemak, protein dan karbohidrat yang tidak sesuai dengan kebutuhan. Selain itu, proses metabolism yang menurun pada lansia dapat menyebabkan kalori yang berlebih akan diubah menjadi lemak sehingga mengakibatkan kegemukan jika tidak diimbangi dengan peningkatan aktivitas fisik atau penurunan jumlah makanan (Depkes RI, 2003). Obesitas merupakan suatu kondisi kelebihan berat badan yang menempatkan lansia dalam peningkatan resiko mengalami kondisi kronis, seperti hipertensi, penyakit arteri koroner, diabetes dan stroke. Kondisi ini menyebabkan kelemahan sendi dan pembatasan mobilisasi dan kemandirian pada lansia (Stanley, Blair& Beare, 2005)

2. Kurang Energi Kronik (KEK)

Beberapa penyebab KEK pada dewasa, seperti yang dijelaskan di bawah ini:

a. Nafsu makan tidak enak karena berkurangnya fungsi alat perasa dan penciuman

b. Gigi-geligi yang tanggal, sehingga menggangu proses mengunyah makanan

c. Faktor stress/depresi, kesepian, penyakit kronik, efek samping obat, merokok, dll.

3. Malnutrisi

(19)

terjatuh atau mengalami ketidakmampuan dalam mobilisasi yang menyebabkan cedera atau luka tekan (Watson, 2003).

Pada kondisi lain, malnutrisi juga dapat dimanifestasikan dengan kurangnya energi kronis. Kurang energi kronik pada lansia ini biasanya disebabkan oleh makan tidak enak karena berkurangnya fungsi alat perasa dan penciuman, banyak gigi yang tanggal sehingga terasa sakit jika untuk makan dan nafsu makan yang berkurang karena kurang aktivitas, kesepian, depresi, penyakit kronis serta efek samping obat (Depkes RI, 2003). Selain itu, kehilangan selera makan yang berkepanjangan pada lansia dapat menyebabkan penurunan BB yang drastic, sehingga kondisi ini dapat menyebabkan lansia mengalami kekurangan gizi yang dimanifestasikan dengan pemeriksaan secara klinis lansia terlihat kurus (Depkes RI, 2003) 4. Kekurangan Zat Mikro

a. Kekurangan Vit.A dapat menyebabkan kekeringan pada selaput lendir mata dan sering dikaitkan dengan katarak pada lansia. b. Kekurangan Vit.B1, asam folat, dan Vit. B12. Kekurangan

Vitamin tersebut dapat menyebabkan meningkatnya kadar homeostein sehingga menyebabkan penebalan pembuluh darah dan resiko jantung koroner serta hipertensi

c. Kekurangan Vit.C menyebabkan sariawan di mulut dan perdarahan gusi. Vitamin ini bersumber dari sayur dan buah-buahan.

d. Kekurangan mineral Zn (seng) menyebabkan terjadinya kekurangan pada daya pengecap dan kelainan pada kulit.

e. Kekurangan Vit.D menyebabkan penurunan densitas tulang yang makin parah

2.2 Konsep Brainstorming

2.2.1 Pengertian Metode Pembelajaran Brainstorming

(20)

Menurut Isroy, Brainstroming adalah piranti perencanaan yang dapat menampung kreativitas kelompok dan sering digunakan sebagai alat pembentukan untuk mendapatkan ide-ide yang banyak, dan metode brainstorming merupakan salah satu cara mendapatkan sejumlah ide yang mudah dan menyenangkan para pesertanya. Pada dasarnya brainstorming adalah salah satu bentuk diskusi kelompok yang bertujuan untuk mencari solusi masalah (Kunu,2013).

Menurut Guntar, teknik brainstorming adalah teknik untuk menghasilkan gagasan yang mencoba mengatasi segala hambatan dan kritik. Kegiatan ini mendorong munculnya banyak gagasan, termasuk gagasan yang nyeleneh, liar, dan berani dengan harapan bahwa gagasan tersebut dapat menghasilkan gagasan yang kreatif. Brainstorming sering digunakan dalam diskusi kelompok untuk memecahkan masalah bersama. Brainstorming juga dapat digunakan secara individual. Sentral dari brainstorming adalah konsep menunda keputusan (Luthfiyati,2013).

Metode Brainstorming adalah suatu metode atau mengajar yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas. Ialah dengan melontarkan suatu masalah ke kelas oleh guru, kemudian siswa menjawab atau menyatakan pendapat, atau komentar sehingga mungkin masalah tersebut berkembang menjadi masalah baru, atau dapat diartikan pula sebagai satiu cara untuk mendapatkan banyak ide dari sekelompok manusia dalam waktu yang singkat (Roestiyah,2012).

Osborn dalam Gie (1995) mensyaratkan 4 ketentuan dalam melaksanakan teknik brainstorming yaitu:

1. Kritik tidak diperkenankan

2. Pengaliran ide secara bebas dianjurkan 3. Kualitas lebih diharapkan

4. Penggabungan dan penyampuran dicari

(21)

Berdasarkan pengertian dan ketentuan dasar dari metode brainstorming maka untuk tahapan-tahapan pembelajaran untuk memulai brainstorming, antara lain:

a. Tahap Pemberian informasi dan motivasi (Orientasi)

Guru menjelaskan masalah yang dihadapi beserta latar belakangnya dan mengajak siswa aktif untuk menyumbangkan pemikirannya.

b. Tahap Identifikasi (Analisa).

Pada tahap ini siswa diundang untuk memberikan sumbang saran pemikiran sebanyak-banyaknya. Semua saran yang masuk ditampung, ditulis dan tidak dikritik. Pimpinan kelompok dan peserta hanya boleh bertanya untuk meminta penjelasan. Hal ini agar kreativitas siswa tidak terhambat.

c. Tahap Klasifikasi (Sintesis).

Semua saran dan masukan peserta ditulis. Langkah selanjutnya mengklasifikasikan berdasarkan kriteria yang dibuat dan disepakati oleh kelompok. Klasifikasi bisa berdasarkan struktur/ faktor-faktor lain.

d. Tahap Verifikasi.

Kelompok secara bersama melihat kembali sumbang saran yang telah diklasifikasikan. Setiap sumbang saran diuji relevansinya dengan permasalahannya. Apabila terdapat sumbang saran yang sama diambil salah satunya dan sumbang saran yang tidak relevan bisa dicoret. Kepada pemberi sumbang saran bisa diminta argumentasinnya.

e. Tahap Konklusi (Penyepakatan)

Guru/pimpinan kelompok beserta peserta lain mencoba menyimpulkan butir-butir alternatif pemecahan masalah yang disetujui. Setelah semua puas, maka diambil kesepakatan terakhir cara pemecahan masalah yang dianggap paling tepat.

(22)

mengajar yang digunakan untuk mendapatkan ide-ide atau gagasan sebanyak mungkin dari siswa tentang materi yang diajarkan. Siswa dituntut untuk lebih aktif dalam memecahkan masalah yang diberikan oleh guru di dalam kelas, dalam hal ini siswa diminta untuk dapat mengemukakan setiap ide atau gagasannya yang berkaitan dengan tema pembelajaran sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar dan baik.

2.2.3 Teknik Brainstorming

Dalam sesi brainstorming terdapat banyak teknik yang bisa digunakan seperti teknik Freewriting, Listing/Bulleting, Cubing dan lain sebagainya. Pada bagian ini akan dijelaskan uraian singkat tentang teknik-teknik tersebut. Berikut beberapa teknik brainstorming yang layak Anda terapkan :

1) Freewriting

Alirkan gagasan-gagasan original Anda melalui tulisan dalam selembar kertas atau mengetikkannya melalui komputer. Anda tidak perlu kuatir tentang ide baik atau buruk, masalah grammar, dan lain sebagainya. Tuliskan gagasan yang muncul dari kepala Anda secara spontan sesuai dengan waktu yang telah Anda tentukan.

2) Listing / Bulleting

Pada teknik ini, Anda diminta untuk menuliskan daftar ide-ide yang muncul berdasarkan topik-topik tertentu. Hal ini dapat membantu Anda untuk memperluas prespektif mengenai masing-masing topik.

3) Cubing

Teknik ini memungkinkan Anda untuk mengembangkan topik dari enam arah yaitu deskripsi masalah, perbandingan, penyesuaian, analisa masalah, penerapan, serta adanya pro dan kontra yang timbul terhadap problem solving yang akan digunakan.

(23)

Teknik ini menjadi favorit banyak orang karena dengan bantuan kamus atau encyclopedia Anda dapat mengembangkan pemikiran berdasarkan ribuan kata yang terdapat dalam kamus tersebut. Istilah yang Anda gunakan untuk kata kunci pemecahan masalah akan didefinisikan oleh kamus disertai dengan alternatif kata-kata lain yang bisa Anda pergunakan.

5) Journalistic Questions

Teknik ini menggunakan daftar pertanyaan yang sering digunakan oleh para wartawan yaitu 5W dan IH meliputi What, Who, When, Where, Why, dan How. Tuliskan masing-masing element tersebut dalam lembar yang berlainan. Lalu masukkan gagasan-gagasan baru untuk menjawab berbagai elemen pertanyaan tersebut.

2.2.4 Kelebihan dan Kekurangan Metode Brainstorming A. Kelebihan Motode Brainstorming

Metode brainstorming memiliki banyak kelebihan. Adapun beberapa ahli mengungkapkan kelebihan metode brainstorming sebagai berikut:

Roestiyah,2012 mengungkapkan dalam bukunya, ada beberapa kelebihan metode brainstorming, yaitu sebagai berikut: 4. Anak-anak aktif berfikir untuk menyatakan pendapat,

2. Melatih siswa bepikir dengan cepat dan tersusun logis, 3. Meningkatkan partisipasi siswa dalam menerima pelajaran, 4. Siswa yang kurang aktif mendapat bantuan dari temannnya

yang pandai atau dari guru, 5. Terjadi persaingan yang sehat, 6. Anak merasa bebas dan gembira,

7. Suasana demokrasi dan disiplin dapat ditumbuhkan.

Sedangkan Sudjana, 2001 mengungkapkan ada beberapa kelebihan metode brainstorming, yaitu sebagai berikut:

(24)

2. Menghasilkan jawaban atau atau pendapat melalui reaksi berantai,

3. Penggunaan waktu dapat dikontrol dan metode ini dapat digunakan dalam kelompok besar atau kecil,

4. Tidak memerlukan banyak alat atau tenaga professional. B. Kekurangan Motode Brainstorming

Selain memiliki banyak kelebihan, metode brainstorming juga memiliki kelemahan. Berikut kelemahan-kelemahan metode brainstorming yang dari berbagai sumber:

Roestiyah,2012 mengungkapkan beberapa kelemahan metode brainstorming lainnya, yaitu sebagai berikut:

1. Guru kurang memberi waktu yang cukup kepada siswa untuk berpikir dengan baik,

2. Anak yang kurang pandai selalu ketinggalan,

3. Guru hanya menampung pendapat tidak pernah merumuskan kesimpulan,

4. Tidak menjamin hasil pemecahan masalah,

5. Masalah bisa berkembang ke arah yang tidak diharapkan. Sedangkan Sudjana juga mengungkapkan ada beberapa kelemahan metode brainstorming, yaitu sebagai berikut:

1. Peserta didik yang kurang perhatian dan kurang berani mengemukakan pendapat akan merasa terpaksa untuk menyampaikan buah pikirannya,

2. Jawaban mudah cenderung mudah terlepas dari pendapat yang berantai,

3. Peserta didik cenderung beranggapan bahwa semua pendapatnya diterima,

4. Memerlukan evalusi lanjutan untuk menentukan prioritas pendapat yang disampaikan,

5. Anak yang kurang pandai selalu ketinggalan,

(25)

BAB 3

PERENCANAAN PROMOSI KESEHATAN PADA KELOMPOK LANSIA

3.1 Menentukan Kebutuhan Promosi Kesehatan Kasus Semu:

Di Kelurahan Mulyorejo, rata-rata pendidikan terakhir masyarakatnya adalah SMP, sebagian besar dari mereka meyakini bahwa penyakit osteoporosis merupakan penyakit yang timbul karena faktor usia sehingga bagi mereka tidak ada hubungan antara konsumsi vitamin atau kalsium dan jarang berolahraga dengan angka kejadian osteoporosis. Keyakinan tersebut tidak dapat segera diluruskan karena ada faktor yang mempengaruhi berupa masih jarang sekali penyuluhan yang dilakukan petugas Puskesmas terkait dengan penyakit osteoporosis kepada masyarakat di Kelurahan Mulyorejo. Selain itu, di Kelurahan Mulyorejo juga tidak ada kebijakan dari pihak kelurahan untuk sering mengadakan kegiatan olahraga bersama seperti jalan sehat ataupu yang lain, sehingga tidak heran kalau gaya hidup masyarakat di Kelurahan Mulyorejo cenderung tidak sehat terbukti ada 4 dari 10 lansia yang terkena penyakit osteoporosis.

3.1.1 Diagnosa Masalah 1. Osteoporosis 2. Hipertensi

3. Gangguan penglihatan 4. Demensia

3.1.2 Prioritas Masalah Osteoporosis

3.2 Mengembangkan Komponen Promosi Kesehatan 3.2.1 Tujuan Promosi Kesehatan

3.2.1.1 Tujuan jangka panjang

Mengoptimalkan kualitas hidup pada lansia dengan osteoporosis.

(26)

Meningkatkan perilaku lanisa untuk mengobati osteoporosis dan menghindari factor-faktor yang memperburuk osteoporosis 3.2.1.3 Tujuan jangka pendek

Meningkatkan pengetahuan tentang penyakit osteoporosis 3.2.2 Sasaran

a. Sasaran Primer : Lansia dengan Osteoporosis di kelurahan Mulyorejo

b. Sasaran Sekunder : Keluarga Lansia dengan Osteoporosis di kelurahan Mulyorejo

c. Sasaran Tersier : Kader Posyandu Lansia kelurahan Mulyorejo

3.2.3 Materi / Isi Promosi Kesehatan a. Pengertian dari osteoporosis b. Tanda dan gejala osteoporosis c. Penyebab osteoporosis

d. Pengobatan osteoporosis e. Kompilkasi dari osteoporosis

3.2.4 Metode

Brainstorming metode putaran bebas

3.2.5 Media

a. LCD + proyektor b. Leaflet

3.2.6 Rencana evaluasi

1. Lansia mampu memahami tentang penyakit osteoporosis

2. Bagi lansia yang bisa menjawab pertanyaan dari penyaji akan diberikan reward atau hadiah

(27)

3.2.7 Jadwal Pelaksanaan

Promosi kesehatan dilakukan pada tanggal 16 November 2016 di Balai RW 4 Kelurahan Mulyorejo, Surabaya. Rencana

Kegiatan

Waktu (bulan/minggu)

November Desember Januari Februari Maret April

Sub Kegiatan I II III IV I II III IV V I II III IV I II III IV I II III IV V I II III IV Permohonan

kerjasama dengan Puskesmas

Mulyorejo Pembuatan SAP Promosi kesehatan metode

brainstorming Pendidikan

(28)

BAB 4

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Topik : Penyakit Osteoporosis pada Kelompok Lansia Sasaran : Kelompok Lansia yang mengalami Osteoporosis Hari/Tanggal : Sabtu, 28 Oktober 2016

Tempat : Posyandu Lansia Kelurahan Mulyorejo, Surabaya. Pelaksanan : Mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga Waktu : Pukul 08.00-08.50 WIB

I. Tujuan Instruksional Umum

Setelah mengikuti penyuluhan selama + 50 menit, peserta dapat memahami tentang penyakit osteoporosis dengan mengunakan metode brainstorming.

II. Tujuan Instruksional Khusus

Setelah mendapat penyuluhan, peserta dapat: 1. Menjelaskan pengertian osteoporosis

2. Menyebutkan tanda dan gejala osteoporosis dengan benar 3. Menjelaskan penyebab dari osteoporosis

4. Menjelaskan pengobatan osteoporosis 5. Menjelaskan komplikasi osteoporosis III. Materi

1. Pengertian dari osteoporosis 2. Tanda dan gejala dari osteoporosis 3. Penyebab osteoporosis

b. Menyeting waktu kegiatan sesuai dengan rencana c. Mengevaluasi pengetahuan peserta setelah kegiatan 2. Penyaji

(29)

3. Notulen

a. Mencatat sumbang saran pemikiran yang diberikan peserta mengenai osteoporosis

b. Mencatat hasil dari kegiatan

VIII. Pelaksanaan

Petugas melakukan persiapan Peserta duduk di kursi yang telah di sediakan waktu & mekanisme kegiatan.

kontrak waktu dan mekanisme kegiatan pada kelompok lansia beserta latar belakangnya

(30)

sebanyak-banyaknya mengenai osteoporosis pada kelompok lansia.

Semua saran

3. Peserta turut serta dalam

mengklasifikasikan hasil brainstorming

(31)

IX. Evaluasi

1. Kriteria struktur

a) Kontrak waktu dan tempat dilakukan 7 hari sebelum acara dilaksanakan

b) Pembuatan SAP dan White board dilakukan 2 minggu sebelumnya c) Peserta hadir ditempat yang telah ditentukan

d) Pengorganisasian penyelenggaraan kegiatan dilakukan sebelum dan saat penyuluhan dilaksanakan

2. Kriteria Proses

a) Peserta antusias terhadap materi kegiatan

b) Peserta mendengar dan memperhatikan pada saat kegiatan c) Pelaksanaan kegiatan sesuai dengan SAP

d) Pengorganisasian berjalan sesuai dengan job description 3. Kriteria Hasil

a) Peserta yang datang sejumlah 10 orang atau lebih b) Acara dimulai tepat waktu

c) Audiensi mengikuti kegiatan sesuai dengan aturan yang telah dijelaskan

(32)

BAB 5

MATERI PENYULUHAN OSTEOPOROSIS 5.1 Pengertian Osteoporosis

Osteoporosis berasal dari kata osteo dan porous, osteo artinya tulang, dan porous berarti berlubang-lubang atau keropos. Jadi, osteoporosis adalah tulang yang keropos atau penyakit yang mempunyai sifat khas berupa massa tulangnya rendah atau berkurang, disertai gangguan mikro-arsitektur tulang dan penurunan kualitas jaringan tulang, yang dapat menimbulkan kerapuhan tulang ( Tandra, 2009).

Menurut WHO pada International Consensus Development Conference, di Roma, Itali, 1992 Osteoporosis adalah penyakit dengan sifat-sifat khas berupa massa tulang yang rendah, disertai perubahan mikroarsitektur tulang, dan penurunan kualitas jaringan tulang, yang pada akhirnya menimbulkan akibat meningkatnya kerapuhan tulang dengan risiko terjadinya patah tulang (Suryati, 2006).

Menurut National Institute of Health, osteoporosis adalah kelainan kerangka, ditandai dengan kekuatan tulang yang mengkhawatirkan dan dipengaruhi oleh meningkatnya risiko patah tulang. Sedangkan kekuatan tulang merefleksikan gabungan dari dua faktor, yaitu densitas tulang dan kualitas tulang (Junaidi, 2007).

Gambar 1. Perbedaan Tulang Normal dan Tulang Osteoporosis Sumber : www.themonitordaily.com

5.2 Tanda dan gejala dari osteoporosis

Lansia dengan osteoporosis akan mengeluh nyeri punggung kronis, kelemahan otot, nyeri sendi, penurunan tinggi badan, dan penurunan mobilitas.

a. Nyeri

(33)

barang berat. Sifat nyeri tersebut tajam atau seperti terbakar, yang bertambah berat bila bergerak membungkuk, mengangkat beban lebih berat, melompat, atau tanpa trauma sedikit pun. Keadaan ini menunjukkan adanya fraktur kompresi pada korpus vertebra. Vertebra yang paling sering terkena adalah T12 dan L1. Apabila tulang sembuh,, nyeri akan hilang, apabila masih ada nyeri, penyebabnya spasme otot pada vertebra.

b. Deformitas

Osteoporosis tidak menyebabkan deformitas pada ekstremitas, kecuali bila ada fraktur. Deformitas kolumna vertebratalis akan terjadi sesudah episode fraktur kompresi yang berulang-ulang. Terkadang deformitas muncul tanpa ada nyeri pinggang yang nyata. Deformitas tersebut meliputi:

1) Penurunan tinggi badan, adanya fraktur kompresi ini menyebabkan tinggi bdan lansia dapat berkurang beberapa sentimeter apabila proses tersebut mengenai beberapa korpus vertebra.

2) Dorsal kifosis, kelainan ini muncul sebagai gejala khas adanya proses osteoporosis spinal yang berlangsung lama. Bila proses bertambah berat dan lama, kosta bawah dapat bersentuhan dengan krista iliaka.

c. Fraktur

Fraktur patologis pada ekstremitas dapat menyebabkan deformitas. Tempat yang paling sering terkena fraktur akibat osteoporosis adalah kolum femoris dan radius distalis yang terjadi karena jatuh. Hal ini dapat dimengerti karena pada lansia terjadi penurunan reflex keseimbangan.

d. Kelemahan otot

(34)

dan menjadi salah satu faktor meningkatnya risiko jatuh dan patah tulang.

5.3 Penyebab Osteoporosis

Perkembangan osteoporosis sangat komplek meliputi factor-faktor nutrisi, fisik, hormonal, dan genetic. Adapun tiga factor utama yang mempengaruhi osteoporosis menurut Risnanto dan Uswatun Insani (2014) adalah:

1. Defisiensi Kalsium

Hal ini dapat disebabkan antara lain karena intake kalsium dalam makanan yang tidak adekuat. Menurunnya kalsium ada hubungannya dengan bertambahnya usia yaitu dengan berkurangnya absorpsi kalsium, tidak adekuatnya intake vitamin D atau penggunaan obat-obat tertentu missal oenggunaan kortikosteroid dalam waktu yang lama.

2. Kurangnya latihan yang teratur

Imobilisasi dapat menyebabkan proses menurunnya massa tulang. Olahraga atau latihan yang teratur dapat mencegah penurunan massa tulang. Tekanan-tekanan mekanis pada latihan akan membuat otor-otot berkontraksi yang dapat merangsang formasi tulang.

3. Perbedaan jenis kelamin

Hormon-hormon reproduksi mempengaruhi kekuatan tulang. Pada wanita postmenopouse, hormone-hormon reproduksi dan timbunan kalsium tulang menurun dalam hal ini adalah esterogen.

4. Gangguan kelenjar endrokin

Selain tiga hal tersebut diatas, gangguan kalenjar endokrin dapat menyebabkan osteoporosis antara lain: penyakit cushing, thyrotoxicosis, atau hipersekresi kalenjar adrenal.

5.4 Pengobatan Osteoporosis a) Latihan Fisik

(35)

istirahat baring yang lama. Keepatan hilangnya massa tulang terutama disebabkan oleh peningkatan resorpsi yang tidak diikuti dengan pembentukan tulang. Kecepatannya berkisar 1-2% per minggu pada istirahat baring yang lama atau astronaut dan 1-2% per tahun pada wanita sesudah menopause.

Aktivitas fisik yang bermanfaat untuk kesehatan lansia sebaiknya memenuhi kriteria FITT (frekuensi, intensity, time, type). Frekuensi adalah seberapa sering aktivitas dilakukan, berapa hari dalam satu minggu. Intensitas adalah seberapa keras suatu aktivitas dilakukan. Biasanya diklasifikasikan menjadi intensitas rendah, sedang, dan tinggi. Waktu mengacu pada durasi, seberapa lama suatu aktivitas dilakukan dalam satu pertemuan, sedangkan jenis aktivitas adalah jenis-jenis aktivitas fisik yang dilakukan.

Jenis-jenis aktivitas fisik pada lansia menurut Kathy (2002), meliputi latihan aerobic, penguatan otot, fleksibilitas, dan latihan keseimbangan. Seberapa banyak suatu latihan dilakukan tergantung dari tujuan setiap individu, apakah untuk kemandirian, kesehatan, kebugaran, atau untuk perbaikan kinerja.

1). Latihan aerobic

Lansia direkomendasikan melakukan aktivitas fisik setidaknya selama 30 menit pada intensitas sedang hamper setiap hari dalam seminggu. Berpartisipasi dalam aktivitas seperti berjalan, berkebun, melakukan pekerjaan rumah, dan naik turun tangga dapat mencapai tujuan yang diinginkan.

Lansia dengan usia lebih dari 65 tahun disarankan melakukan olahraga yang tidak terlalu membebani tulang, seperti berjalan, latihan dalam air, bersepeda statis, dan dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Bagi lansia yang tidak terlatih harus mulai dengan intensitas rendah dan peningkatan dilakukan secara individual berdasarkan toleransi terhadap latihan fisik.

(36)

meningkatnya kebutuhan oksigen, misalnya berjalan, berenang, bersepeda, dan lain-lain. Latihan fisik dilakukan sekurangnya 30 menit dengan intensitas sedang, 5 hari dalam seminggu atau 20 menit dengan intensitas tinggi, 3 hari dalam seminggu, atau kombinsi 20 menit intensitas tinggi 2 hari dalam seminggu dan 30 menit dengan intensitas sedang 2 hari dalam seminggu. 2). Latihan penguatan otot

Bagi lansia disarankan untuk menambah latihan penguatan otot disamping latihan aerobic. Kebugaran otor memungkinkan melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri.

Latihan fisik untuk penguatan otot adalah aktivitas yang memperkuat dan menyokong otot dan jaringan ikat. Latihan dirancang supaya otot mampu membentuk kekuatan untuk menggerakkan atau menahan beban, misalnya aktivitas yang melawan gravitasi seperti gerakan berdiri dari kursi, ditahan beberapa detik, berulang-ulang atau aktifitas dengan tahanan tertentu misalnya latihan dengan tali elastic. Latihan penguatan otot dilakukan setidaknya 2 hari dalam seminggu dengan istirahat diantara sesi untuk masing-masing kelompok otor. Intensitas untuk membentuk kekuatan otot menggunakan tahanan atau beban dengan 10-12 repetisi untuk masing-masing latihan. Intensitas latihan meningkat seiring dengan meningkatnya kemampuan individu. Jumlah repetisi harus ditingkatkan sebelum beban ditambah. Waktu yang dibutuhkan adalah satu set latihan dengan 10-15 repetisi.

3). Latihan fleksibilitas dan keseimbangan

Kisaran sendi (ROM) yang memadai pada semua bagian tubuh sangat penting untuk mempertahankan fungsi musculoskeletal, keseimbangan dan kelincahan pada lansia. Latihan fleksibilitas dirancang dengan melibatkan setiap sendi-sendi utama (panggul, punggung, bahu, lutut, dan leher).

(37)

teratur. Latihan fleksibilitas disarankan dilakukan pada hari-hari dilakukannya latihan aerobic dan penguatan otot atau 2-3 hari per minggu. Latihan dengan melibatkan peregangan otot dan sendi. Intensitas latihan dilakukan dengan memperhatikan rasa tidak nyaman atau nyeri. Peregangan dilakukan 3-4 kali untuk masing-masing tarikan dipertahankan 10-30 detik. Peregangan dilakukan terutama pada kelompok otot-otot besar, dimulai dari otot-otot kecil. Contoh: latihan yoga.

Latihan keseimbangan dilakukan untuk membantu mencegah lansia jatuh. Lansia keseimbangan dilakukan setidaknya 3 hari dalam seminggu. Sebagian besar aktivitas dilakukan pada intensitas rendah.

b) Atur gizi

Dalam hal makanan, terdapat dua unsur mineral dan vitamin yang berfungsi untuk pembentukan tlang yaitu kalsium dan vitamin D. kalsium berperan dalam menjaga kepadatan tulang agar tulang tidak mudah keropos. Meskipun demiian, tidak berarti pula dibenarkan mengonsumsi kalsium secara berlebihan. Kebutuhan kalsium tiap orang berbeda tergantung pada usia dan kebutuhan kalsium manusia berkisar 1.000-1.300 mg/hari. Pada usia memasuki menopause, lebutuhan kalsium bertambah. Makanan yang kaya akan kalsium seperti produk susu, ikan, sayuran hijau, dan biji-bijian seperti susu kedelai, tahu, tempe. Tetapi agar kalsium diserap oleh tubuh secara maksimal, diperlukan vitamin D. karena itu jika tubuh tidak memilii cukup vitamin D, tubuh tidak mampu menyerap kalsium dari makanan yang kita makan. Akibatnya tubuh terpaksa mengambil kalsium dari tulang. Vitamin D dapat diperoleh dari kulit yang terpapar sinar matahri pagi serta berasal dari makanan seperti ikan laut, kuning telur, hati, dan juga bisa dari suplemen vitamin D. meskipun demikian, tidak boleh mengonsumsi vitamin D berlebihan karena dapat membahayakan kesehatan. Dalam hal ini diperlukan konsultasi pada dokter maupun ahli gizi (Anies, 2006).

(38)

Obat-obatan yang dipakai untuk mengobati osteoporosis adalah obat untuk membantu pembentukan tulang seperti steroid anabolic dan fluorida. Selain itu obat-obatan yang dipakai adalah kalsium, bisofosfonat, kalsitonin yang berguna untuk menghambat resorpsi tulang (Risnanto dan Uswatun Insani 2014).

5.5 Komplikasi Osteoporosis

(39)
(40)

DAFTAR HADIR PELAKSANAAN PENYULUHAN MAHASISWA DI POSYANDU LANSIA KELURAHAN MULYOREJO SURABAYA

TANGGAL 28 OKTOBER 2016

No. Nama Alamat Ttd

(41)

TANGGAL 28 OKTOBER 2016

(42)

LEMBAR OBSERVASI PELAKSANAAN PENYULUHAN MAHASISWA DI POSYANDU LANSIA KELURAHAN MULYOREJO SURABAYA

TANGGAL 28 OKTOBER 2016

Kriteria Struktur Kriteria Proses Kriteria Hasil a. Kontrak waktu

c. Peserta ditempat yang telah

b. Menyampaikan tujuan dan maksud tujuan ( ) pengalaman pasien mengenai osteoporosis lansia ( )

b. Menjelaskan tentang tanda dan gejala osteoporosis ( )

c. Menjelaskan tentang pengobatan osteoporosis ( )

d. Menjelaskan komplikasi-komplikasi pada osteoporosis ( )

a. Peserta antusias terhadap materi penyuluhan ( )

b. Peserta mendengarkan dan memperhatikan penyuluhan( ) c. Peserta yang datang sejumlah

lebih dari 10 orang ( ) d. Acara dimulai tepat waktu ( ) e. Peserta dapat megikuti

kegiatan sesui dengan aturan yang telah dijelaskan ( ) f. Peserta mampu menjawab

dengan benar 75% dari pertanyaan penyuluh ( ) g. Peserta mampu menjawab

dengan benar pertanyaan tentang osteoporosis ( )

BAB 6 PENUTUP

7.1 Kesimpulan

(43)

stress fisiologis. Terjadi perubahan dari berbagai aspek pada lansia meliputi perubahan fisik, kognitif, sosial, dan psikologis.

Masalah kesehatan yang terjadi pada lansia berbeda dengan orang dewasa.Masalah yang sering ditemui pada lansia adalah immobility (kurang bergerak) dan instability (berdiri dan berjalan tidak stabil atau mudah jatuh). Hal ini menyebabkan lansia cenderung membatasi aktivitas. Aktivitas yang turun mengakibatkan berkurangnya massa tulang. Hal ini menjadi salah satu pemicu terjadinya osteoporosis.

Osteoporosis adalah tulang yang keropos, yaitu penyakit yang mempunyai sifat khas berupa massa tulangnya rendah atau berkurang, disertai gangguan mikro-arsitektur tulang dan penurunan kualitas jaringan tulang yang dapat menimbulkan kerapuhan tulang (Tandra, 2009)

Pada metode Brainstorming akan dilakukan praktek teknik konferensi dimana sebuah kelompok berupaya mencari solusi atas masalah tertentu dengan menghimpun semua ide yang disumbangkan oleh para anggotanya secara spontan. Brainstorming dikenal sebagai sebuah teknik untuk mendapatkan ide-ide kreatif sebanyak-benyaknya dalam kelompok guna mencari solusi dari sebuah permasalahan (Green, 2004)..

7.2 Saran

Mahasiswa Fakultas Keperawatan diharapkan mampu mengembangkan konsep promosi kesehatan dengan metode brainstorming lebih mendalam lagi, selain itu mahasiswa hendaknya mampu memberikan promosi kesehatan pada kelompok lansia secara benar dan optimal sesuai dengan peran perawat sebagai promotor kesehatan dan dengan metode yang tepat.

DAFTAR PUSTAKA

Amri, A.I., 2015. ASUPAN KALSIUM, VITAMIN C DAN KEJADIAN KONSTIPASI PADA LANSIA DI PANTI WREDA BHAKTI DHARMA

SURAKARTA. pp.1–11. Available at:

http://eprints.ums.ac.id/38013/1/NASKAH PUBLIKASI.pdf.

Ananingsih, E.S. dkk, 2013. Pengaruh Latihan Kegel Terhadap Perubahan Inkontinensia Pada Lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Teratai

(44)

http://jurnal.poltekkespalembang.ac.id/wp-content/uploads/2015/04/6-Jurnal-Esti-Sri-Ananingsih.pdf.

David Minter dan Michael Reid. 2007. Lightning In A Bottle (Lightning Innovation Strategy),terj. Haris Priyatno. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta.

Departemen Kesehatan RI.2003. Pedoman Tatalaksana Gizi Usia Lanjut Untuk Tenaga Kesehatan. Jakarta : Direktorat Bina Gizi Masyarakat Ditjen Binkesmas Depkes RI

Fatimah.(2010). Merawat Manusia Lanjut Usia. Jakarta: Trans Info Media

Hartati, S. dan C.G.W., 2010. Clock Drawing: Asesmen Untuk Demensia. Jurnal Psikologi Undip, 7, pp.1–10. Available at: ejournal.undip.ac.id.

International Osteoporosis Foundation. The Asian Audit Epidemiology, Costs and Burden of Osteoporosis in Asia 2009. Osteoporosis. 2009:1-60

Irawan, H., 2013. Gangguan Depresi pada Lanjut Usia. Cermin Dunia Kedokteran, 40(11), pp.815–819. Available at: http://kalbemed.com/Portals/6/06_210

Junaidi, I, 2007. Osteoporosis - Seri Kesehatan Populer. Cetakan Kedua, Penerbit PT Bhuana Ilmu Populer.

Kathy Gunter. 2002. Healthy, Active Aging: Physical Activity Guidelines for Older Adults. Oregon State University

Kunu Hanna Grietje dan Enny Prisillia Uneputty. Pengaruh Metode Brainstroming Terhadap Hasil Belajar Bahasa Jerman Siswa Kelas XI SMA Negeri 3 Ambon. Jurnal Penelitian Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Jerman FKIP Universitas Pattimura Ambon,2013. hlm.3

Luthfiyati N.A, Elah Nurlaela, Dian Usdiyana. 2013. Model Pembelajaran Osborn. Bandung: Jurnal Penelitian

Maryam, R Siti dkk.2008. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta: Salemba Medika

Risnanto dan Uswatun Insani. 2014. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Medikal Bedah: Sistem Muskuloskeletal. Yogyakarta: Deepublish

(45)

Stanley, M., Blair, A.K,. Beare, P.G.2005.Gerontological Nursing Promoting Successful Aging with Older Adults.Philadelphia: F.A. Davis Company Sudjana, D. 2001. Metode & Metode Pembelajaran Partisipatif. Bandung: Falah

Production

Suryati, A, Nuraini, S. 2006. Faktor Spesifik Penyebab Penyakit Osteoporosis Pada Sekelompok Osteoporosis Di RSIJ, 2005. Jurnal Kedokteran dan Kesehatan, Vol.2, No.2, Juli 2006:107-126.

Tandra, H, 2009. Segala Sesuatu Yang Harus Anda Ketahui Tentang Osteoporosis Mengenal, Mengatasi dan Mencegah Tulang Keropos. Jakarta. PT Gramedia Pustaka Utama.

Gambar

Gambar 1. Perbedaan Tulang Normal dan Tulang Osteoporosis

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka dapat disimpulkan penerapan metode brainstorming pada pembelajaran Bahasa Indonesia materi mengomentari persoalan faktual

Metode resitasi merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam kegiatan belajar mengajar, karena metode resitasi merupakan metode

Dapat disimpulkan, bahwa metode bernyanyi adalah salah satu metode pembelajaran yang digunakan oleh guru untuk meningkatkan ketertarikan para siswa dalam pembelajaran.,

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa konseling Islami solution focused brief therapy merupakan salah satu teknik dalam bimbingan konseling yang menggunakan

Pemahaman ini sejalan dengan konsep yang disampaikan Roestiyah, Brainstorming adalah suatu teknik atau cara mengajar yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas, ialah

Tongkat sebagai salah satu alat bantu berjalan untuk lansia masih kerap menerima adanya keluhan dari pengguna yaitu kekurangnyamanan saat digunakan.[2] Dimana tongkat tersebut

Langkah-langkah yang digunakan dalam brainstorming yaitu membentuk kelompok dan menetapkan pimpinan, menginformasikan aturan-aturan dalam brainstorming, pemimpin kelompok

Metode mengajar keseluruhan merupakan salah satu metode mengajar yang digunakan oleh setiap guru, metode mengajar keseluruhan adalah suatu cara mengajar yang beranjak dari yang umum ke