I.
IDENTIFIKASI PERMASALAH
Tabel 1. Identifikasi permasalahan di Desa Kebon Agung
No Permasalahan Lokasi Sumber
Bangunan rumah jamur yang tidak lagi dimanfaatkan
Menumpuknya limbah kulit singkong di sekitar Pabrik
Cassava Mandiri Sejahtera
Minimnya pengetahuan terkait pemanfaatan dan pengolahan limbah kulit singkong
Kualitas air sumur yang kurang baik
Harga hasil perkebunan sawit, karet dan singkong gajah dibawah standar (murah)
Melimpahnya limbah penggilingan padi (kulit padi/sekam)
Pengetahuan pemanfaatan terhadap limbah kulit padi masih kurang pembuatan label pada produk
12.
13.
14.
homeindustry
Minimnya pengetahuan dalam berwirausaha
Kurangnya lahan untuk pertanian.
PPL kurang aktif dalam membimbing kelompok tani.
Desa Kebon Agung
Desa Kebon Agung
Desa Kebon Agung
M
M
P
II.
PRIORITAS PEMILIHAN PERMASALAHAN
Tabel 2. Prioritas pemilihan permasalahan program kerja
No Permasalahan Alasan Pemilihan Pabrik Cassava Mandiri Sejahtera pemanfaatan limbah kulit singkong terkait pemilihan dalam teknik pengemasan dan
III.
RENCANA PROGRAM KKN-STIPER KUTAI TIMUR
Tabel 3. Rencana program KKN-STIPER Kutai Timur
No Nama Program Waktu
*M : Mandiri SM : Swadaya Masyarakat S : Instansi Swasta P: Instansi Pemerintah L : Sumber dana lainnya
Sumber : Masyarakat Desa Kebon Agung, 2018
Tanggal : 7 September 2018 Mengetahui,
Kepala Desa Kebon Agung Ketua Kelompok Mahasiswa
Suwanan Bagus Wahyu P Dewi Aswatika
IV.
PELAKSANAAN KEGIATAN INDIVIDU
4.1 Program Kerja I Pemanfaatan Limbah Kulit Singkong Menjadi Produk Olahan Krupuk Kulit Singkong
4.1.1 Latar belakang
Hampir setiap kegiatan manusia menghasilkan limbah (sampah). Dimana dengan produksi limbah yang berlebihan dapat menimbulkan masalah bagi lingkungan. Selain baunya yang tidak sedap, sampah sering dihinggapi lalat. Dan juga dapat mendatangkan wabah penyakit. Oleh karena itu dibutuhkan penanganan serta pengelolaan limbah, agar tidak menimbulkan dampak yang lebih besar lagi kepada masyarakat. Dalam pemecahan masalah limbah perkotaan dengan melihat limbah sebagai sumberdaya yang harus dimanfaatkan. Selama ini bagi masyarakat, limbah dianggap tidak berguna lagi. Namun, sebenarnya limbah juga bisa diubah menjadi barang yang bermanfaat serta dapat bernilai ekonomis.
Desa Kebon Agung merupakan salah satu desa kecamatan yang terdapat pabrik pengolahan singkong hal tersebut didasarkan karena singkong gajah merupakan salah satu potensi unggulan di kecamatan rantau pulung khususnya Desa Kebon Agung. Pabrik Cassava Mandiri Sejahtera tersebut mengelolah singkong menjadi tepung tapioka dimana yang dimanfaatkan hanya daging singkong saja, sehingga limbah berupa kulit singkong hanya ditumpuk dan biasanya juga hanya dijadikan sebagai pakan ternak.
4.1.2 Tinjauan pustaka
Kulit singkong merupakan limbah organik produk tanaman singkong (Manihot utilissima Pohl.) yaitu limbah pangan utama di negara berkembang. Setiap kilogram ubi kayu biasanya dapat menghasilkan kulit 15-20% dari total berat ubi kayu tersebut. Selama ini yang hanya dimanfaatkan sebagai pupuk maupun penambah makanan ternak, padahal kulit singkong dapat diolah menjadi produk-produk makanan yang mampu menjadi peluang usaha misalnya produk awetan kering kulit singkong yaitu keripik kulit singkong dengan berbagai rasa, selain itu kulit singkong dapat dibuat menjadi tape kulit singkong.
Rukmana (1997), menyatakan bahwa komponen kimia dan gizi pada 100 gram kulit singkong adalah sebagai berikut: protein 8,11 gram, serat kasar 15,2 gram, pektin 0,22 gram, lemak 1,29 gram, kalsium 0,63 gram, sedangkan komponen kimia dan gizi daging singkong dalam 100 gram adalah protein 1 gram, kalori 154 gram, karbohidrat 36,8 gram, lemak 0,1 gram sehingga dapat disimpulkan bahwa kandungan protein singkong lebih rendah dibandingkan kulit singkong
Kulit singkong merupakan limbah dari tanaman singkong yang memiliki karbohidrat tinggi yang dapat digunakan sebagai sumber bagi ternak. Persentase jumlah limbah bagian luar sebesar 0,5-2% dari berat total singkong segar dan limbah kulit bagian dalam sebesar 8-15%. Limbah dari singkong ini mengandung beberapa komposisi 74,73% nutrisi, 17,45% bahan kering, 15,20% serat kasar, 0,63% Ca, 0,22% P ( Sudaryanto,1998).
kulit singkong sering dianggap remeh dan menjadi limbah rumah tangga padahal banyak bermanfaat yang didapat dari kulit singkong.
4.1.3 Waktu dan tempat pelaksanaan
Kegiatan pengolahan produk krupuk kulit singkong ini dilaksanakan pada hari jumat-rabu, 23-29 Agustus 2018. Adapun demonstrasi masak dilaksanakan pada hari senin, 27 Agustus 2018 pada Pukul 09.00- 13.00 WITA bertempat di Posyandu Desa Kebon Agung Kecamatan Rantau Pulung.
4.1.4 Metode pelaksanaan
Metode pelaksanaan kegiatan dilaksanakan dalam dua tahapan, yaitu penyuluhan dan praktek pembuatan produk (demontrasi produk). Penyuluhan dilakukan pada seluruh peserta, menjelaskan proses kerja pembuatan produk secara menyeluruh. Pada tahapan pembuatan produk dilakukan secara bersama-sama dengan ibu-ibu Desa Kebon Agung.
a. Alat dan bahan
a) Kulit singkong 500 Gram b) Tepung tapioka 1 Kg c) Royco 2 Bungkus d) Bawang Merah 5 Buah e) Bawang Putih 8 Buah f) Lada 3 gram
h) Air i) Garam b. Prosedur kerja
1) Rendam kulit singkong yang sudah dibersihkan selama 30 menit 2) Rebus kulit singkong
3) Haluskan kulit singkong yang sudah direbus bersamaan dengan bumbu (Royco, lada, ketumbar,bawang merah dan bawang putih)
4) Tambahkan Tepung tapioka ke dalam adonan yang sudah dihaluskan 5) Masukan adonan ke dalam loyang kemudian kukus selama 25-30 menit 6) Adonan dimasukkan ke dalam freezer selama 5 jam
7) Pemotongan adonan yang sudah beku 8) Penjemuran selama 3 hari
4.1.5 Estimasi biaya
Pelaksanan program kerja KKN berupa pengolahan produk krupuk kulit singkong tentunya membutuhkan dana untuk dapat menunjang kegiatan tersebut. Dana yang diperoleh bersumber dari dana pribadi mahasiswa. Biaya yang dikeluarkan untuk program kerja pemanfaatan limbah kulit singkong menjadi olahan produk berupa krupuk kulit singkong adalah sebagai berikut :
Tabel 4. Rincian pengeluaran biaya krupuk kulit singkong
No Bahan Satuan Harga
4.1.6 Pelaksanaan kegiatan
Program kerja Pengolahan kerupuk kulit singkong membutuhkan waktu selama 5-7 hari pengerjaan, proses yang dilakukan sebelum penjemuran dilakukan demosntrasi masak bersama ibu PKK, Ibu kampung KB (keluarga berencana) dan salah satu Home industry. Sebelum pelakasanaan demonstrai masak peserta mencicipi sampel krupuk kulit singkong yang siap dimakan. Selanjutnya dilakukan percobaan cara pengolahan limbah kulit singkong menjadi krupuk kulit singkong . Kelompok ibu PKK dan kampung KB merupakan organisasi di Desa Kebon Agung yang memiliki program kerja dan aktif berkegiatan sehingga layak menjadi wadah yang baik dalam pengembangan potensi keahlian dalam pengolahan produk pangan yaitu krupuk kulit singkong. Kelompok ibu PKK dan kampung KB ini berperan dalam usaha pengembangan masyarakat.
Gambar 2. Produk Krupuk Kulit singkong
Dengan adanya inovatif berupa pengolahan krupuk kulit singkong, kini masyarakat Desa Kebon Agung dapat memanfaatkan limbah kulit singkong yang ada sehingga dapat dijadikan sebagai suatu usaha dan sehingga hasil yang diperoleh pada saat budidaya tanaman singkong tidak hanya di peroleh dari hasil jualan daging singkongnya saja melainkan tambahan nilai ekonomi dari pemanfatan kulit singkong yang msih memiliki banyak protein jika dibandingkan dengan dagingnya. Selain itu produk olahan kerupuk kulit singkong juga bersifat tahan lama sehingga tidak ada kekhawatiran terkait umur simpan yang sangat pendek jika terus mengembangkan inovatif krupuk kulit singkong.
4.1.7 Masalah dan solusi a. Masalah
b. Solusi
Dalam pelaksanaan program kerja berupa demonstrasi masak pengolahan limbah kulit singkong menjadi produk olahan krupuk kulit singkong sebelum diadakannya demonstrasi masak sebaiknya mahasiswa KKN mengajak semua masyarakat yang ada di Desa Kebon Agung dan ajakan tersebut seharusnya disampaikan jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan demonstrasi masak, agar masyarakat dapat mengatur jadwal kesibukan mereka masing-masing sehingga dapat hadir pada saat kegiatan. Bahan dan alat dipersiapkan terlebih dulu dan dalam menyiapkan bahan mahasiswa KKN sebaiknya bekerjasama dengan kelompok-kelompok ibu PKK, kampung KB dan kelompok lainnya agar bahan dan alat yang dibutuhkan dapat dibantu oleh pihak-pihak kelompok yang diajak kerjasama sehingga bisa lebih banyak persiapannya jika terkait keterbatasan dana.
4.1.8 Kesimpulan dan saran a. Kesimpulan
Dengan gizi berupa protein yang tinggi pemanfatan limbah kulit singkong dapat dilakukan dengan pembuatan krupuk kulit singkong yang sangat menunjang ekonomi masyarakat jika terus dikembangkan.
b. Saran
4.2 Program Kerja II Sosialisasi Teknik Pengemasan dan labelling
4.2.1 Latar belakang
Pada dasarnya produk segar atau olahan pangan mudah mengalamikerusakan .Untuk menghambat proses tersebut perlu adanya teknik dimana dalam mengurangi proses terjadinya laju transpirasi. Cara yang paling efektif untuk menurunkan laju respirasi adalah dengan menurunkan suhu produk namun demikian beberapa cara tambahan dari cara pendinginan tersebut dapatmeningkatkan efektifitas penurunan laju respirasi. Cara tambahan selain menurunkan suhu dilakukan pengemasan. Dalam industri pangan pengemasan merupakan salah satu cara untuk membantu melindungi bahan pangan dari kerusakan, melindungi bahan yang ada di dalamnya dari pencemaran serta gangguan fisik seperti gesekan, benturan dan getaran mikrobiologis selama pengangkutan, penyimpanan dan pemasaran.Pengemasan menjadi hal yang sangat penting karena akan memudahkan dalam kegiatan transportasi dan penyimpanan.
Teknologi pengemasan dan pemilihan jenis bhan pengemas dirancang sedemikian rupa sehingga bahan pangan dapat terhindar dari serangan serangga maupun mikroba. Selain itu juga dapat menghasilkan produk pangan yang memiliki daya simpan yang relatif lebih lama dengan kandungan nilai nutrisi yang relatif masih baik. Pengemasan juga dapat meningkatkan nilai tambah bahan yang dikemas seperti bahan atau produk menjadi lebih menarik dan harga jualnya lebih tinggi. Pada dunia pemasaran persaingan merupakan hal yang lumrah dan wajar. Maka dari itu berbagai usaha dilakukan dalam upaya memenangkan persaingan ini. Salah satu diantaranya adalah membuat desain kemasan produk yang menarik sehingga dapat mengundang konsumen untuk membeli produk yang dipasarkan. Desain kemasan belum begitu populer, karena pemahaman tentang manfaatnya belum dirasakan. Disamping itu untuk usaha-usaha mikro dan idustri kecil rumahan, kemasan masih dipandang hanya sebagai pembungkus semata bukan sebagai media pemikat konsumen.
mutu barang serta usaha promosi yang dilakukan, tetapi juga dalam upaya yang sama oleh mutu dan penampilan kemasan itu sendiri.
Desa kebon Agung merupakan salah satu desa dari kecamatan Rantau Pulung yang memiliki paling sedikit lima Home industry pangan, diantaranya; usaha rumahan rengginang singkong, Jamu-jamuan, produksi coklat, produksi bahan baku dari kacang-kacangan, dan keripik singkong. Adapun hasil produk yang dihasilkan hanya menggunakan kemasan yang cepat rusak dan belum meiliki label yang menarik, sehingga mahasiswa KKN merasa perlu mengadakan sosialisasi terkait teknik pengemasan dan labelling.
4.2.2 Tinjauan pustaka
Kemasan adalah desain kreatif yang mengaitkan bentuk, struktur, material, warna, citra, tipografi dan elemen-elemen desain dengan informasi produk agar produk dapat dipasarkan. Kemasan digunakan untuk membungkus, melindungi, mengirim, mengeluarkan, menyimpan, mengidentifikasi dan membedakan sebuah produk di pasar (Klimchuk dan Krasovec, 2006).
Menurut Kotler & Keller (2009), pengemasan adalah kegiatan merancang dan memproduksi wadah atau bungkus sebagai sebuah produk. Pengemasan adalah aktivitas merancang dan memproduksi kemasan atau pembungkus untuk produk. Biasanya fungsi utama dari kemasan adalah untuk menjaga produk. Namun, sekarang kemasan menjadi faktor yang cukup penting sebagai alat pemasaran (Rangkuti, 2010).
bukan sebagai media pemikat konsumen. Demikian juga kemasan masih dianggap penyebab ongkos produksi tinggi. Keberhasilan pemasaran suatu barang, tidak hanya ditentukan oleh mutu barang serta usaha promosi yang dilakukan, tetapi juga dalam upaya yang sama oleh mutu dan penampilan kemasan itu sendiri. Saat ini fungsi kemasan kemasan bukan lagi sebagai pelindung atau wadah namun juga merupakan suatu alat promosi dari produk yang dikemasnya (Natadjaja, 2007).
Faktor-faktor desain kemasan meliputi :
a. Faktor keamanan : Kemasan harus melindungi produk terhadap berbagai kemungkinan yang dapat menjadi penyebab timbulnya kerusakan barang. b. Faktor ekonomi : Perhitungan biaya produksi yang efektif termasuk
pemilihan bahan, sehingga tidak melebihi proporsi manfaatnya.
c. Faktor pendistribusian : Kemasan harus mudah didistribusikan hingga ke tangan konsumen, kemudahan penyimpanan dan pemajangan perlu dipertimbangkan sehingga tidak menyulitkan perletakan di rak atau tempat pemajangan.
d. Faktor komunikasi: Sebagai media komunikasi kemasan menerangkan dan mencerminkan produk, citra merk dan juga bagian dari produksi dengan pertimbangan mudah dilihat, dipahami dan diingat.
e. Faktor ergonomi: Pertimbangan agar kemasan mudah dibawa dan dipegang, dibuka dan mudah diambil sangatlah penting.
f. Faktor estetika: Keindahan ada kemasan merupakan daya tarik visual yang mencakup pertimbangan penggunaan warna, bentuk, merek, ilustrasi, huruf, tata letak dan maskot, tujuannya adalah mencapai mutu daya tarik visual secara optimal.
g. Faktor identitas: Secara keseluruhan kemasan harus berbeda dengan kemasan lain, memiliki identitas produk agar mudah dikenali dan dibedakan dengan produk lain.
h. Faktor promosi: Kemasan punya peranan penting dalam bidang promosi, dalam hal ini kemasan berfungsi sebagai ”silent sales person”.
menggunakan kemasan yang ramah lingkungan dan dapat didaur ulang dan dipakai ulang.
Secara umum fungsi kemasan adalah sebagai bahan pelindung atau pengaman produk dari pengaruh-pengaruh luar yang dapat mempercepat terjadinya kerusakan pada setiap jenis produk yang terdapat di dalamnya serta dapat meningkatkan harga jual. Adapun fungsi pelabelan yaitu sebagai media atau sarana informasi dan promosi dari produk yang ditawarkan yang ada di dalam kemasan.
4.2.3 Waktu dan tempat pelaksanaan
Kegiatan ini dilaksanakan pada hari senin, 27 Oktober 2018 Pukul 12.00-13.00 WITA bertempat di Posyandu Desa Kebon Agung Kecamatan Rantau Pulung.
4.2.4 Metode pelaksanaan
Program Sosialisasi pengemasan dan pelabelan ini dilaksanakan selama satu hari setelah melaksanakan demonstrasi masak kerupuk kulit singkong. Contaoh label yang sudah dicetak dengan desain menggunakan aplikasi software
berupa coreldraw. Pelaksanaan program sosialisasi ini dihadiri oleh ibu PKK, Ibu Kampung KB dan salah satu Home industry yang ada di Desa Kebon Agung dengan maksud agar dapat secara langsung melihat dan membimbing para warga untuk mengemas dan memberi pelabelan pada produk-produk yang berhasil diciptakan oleh warga masing-masing.
a. Alat dan bahan
Alat dan Bahan yang digunakan : 1. Gunting
2. Plastik PP yang sudah jadi 3. Kertas Stiker yang sudah dicetak
4.2.5 Estimasi biaya
Program kerja KKN berupa sosialisasi teknik pengemasan dan labelling
diperoleh bersumber dari dana pribadi mahasiswa. Biaya yang dikeluarkan untuk program adalah sebagai berikut:
Tabel 5. Rincian pengeluaran biaya sosialisai teknik pengemasan dan labelling
No Bahan/alat Satuan Harga
Sumber : Data primer KKN STIPER 2018
4.2.6 Pelaksanaan kegiatan
Gambar 3. Produk olahan krupuk kulit singkong yang belum di beri kemasan
Gambar 5. Pemberian label pada Produk olahan krupuk kulit singkong
Masyarakat kini mengetahui pentingnya kemasan dalam suatu produk meskipun pendanan masih menjadi masalah buat beberapa orang. Setelah diadakannya program kerja terkait sosialisasi teknik pengemasan labelling hasil tindak lanjutnya ialah melalu program kerja kelompok KKN dua Home indsutry
kini menggunakan label yang menarik dari hasil desain teman-teman KKN. Harapannya produk-produk hasil dari pengolahan Home indsutry dapat mengikuti ajang pertunjukan produk unggulan desa sehingga dapat dikenal secara luas dan dapat masuk ke tingkat pemasaran yang lebih luas. Adapun kendala yang diperoleh ialah belum adanya pembinaan terkait cara memperoleh perizinan PIRT (pangan industri rumah tangga). Sehingga sampai sekarang usaha dari beberapa UKM belum dapat masuk ke mini market.
4.2.7 Masalah dan solusi a. Masalah
Dalam pelaksanaan kegiatan sosialisasi teknik pengemaan dan labelling
kendala yang dihadapi yaitu masyarakat hanya dapat mempraktekan satu jenis dan bentuk pengemasan saja, hal tersebut dikarenakan keterbatasan dana dalam memberikan beberapa contoh jenis pengemasan secara langsung, sedangkan dari teknik labelling peserta tidak mendapatkan informasi terkait cara memperoleh atau mendapatkan nomor PIRT yang merupakan bagian penting yang harus ada dalam sebuah label.
b. Solusi
Saat pelaksanan program kerja sebaiknya masyarakat diperlihatkan secara langsung beberapa jenis pengemasan yang dapat digunakan dalam pemilihan pengemasan produk. Sedangkan dari pemberian label sebaiknya masyarakat diberikan pelatihan yang lebih dalam terkait cara dan teknis mendapatkan minimal nomor PIRT sehingga produk dari beberapa home industry yang ada di Desa Kebon Agung dapat memasuki mini market yang terdekat.
4.2.8 Kesimpulan dan saran a. Kesimpulan
Secara umum fungsi kemasan adalah sebagai bahan pelindung atau pengaman produk dari pengaruh-pengaruh luar yang dapat mempercepat terjadinya kerusakan pada setiap jenis produk yang terdapat di dalamnya serta dapat meningkatkan harga jual. Adapun fungsi pelabelan yaitu sebagai media atau sarana informasi dan promosi dari produk yang ditawarkan yang ada di dalam kemasan.
b. Saran
Diharapkan kepada beberapa Home industry di Desa Kebon Agung agar produk hasil olahannya dapat dikemas dengan pemilihan jenis kemasan yang baik dan sesuai dengan karakteristik dari sifat produk hasil olahannya dan diberikan label sebagai pengenal dari produk yang mereka produksi sehingga beberapa
V. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran
5.2.1 Untuk Desa dan Pemerintahan Setempat
Dapat menyempurnakan program mahasiwa KKN yang belum sesuai dan melanjutkan program-program yang telah direncanakan. Program-program yang telah dilaksanakan mahasiswa KKN semoga dapat bermanfaat untuk kepentingan masyarakat setempat.
5.2.2 Untuk Mahasiswa KKN Berikutnya
DAFTAR PUSTAKA
Klimchuk, Marianne dan Sandra A. Krasovec. 2006. Desain Kemasan. Jakarta: Erlangga.
Kotler dan Keller. 2009. Manajemen Pemasaran. Jilid I. Edisi ke 13. Jakarta: Erlangga.
Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, 2018. Panduan Kuliah Kerja Nyata. Sekolah Tinggi Pertanian Kutai Timur.
Natadjaja, L. 2007. Analisa Elemen Grafis Desain Kemasan Indomie Goreng Pasar Lokal dan Ekspor. Nirmana. Vol 9 No. 1: 20-30.
Rahmat, Rukmana. 1997. Ubi Kayu Budidaya Dan Pasca Panen. Kanisius: Yogyakarta.
Lampiran 1. Dokumentasi pelaksanaan program kerja pemanfaatan limbah kulit
singkong menjadi produk olahan krupuk kulit singkong
Bahan baku Berupa Kulit singkong Sebelum dan sesudah di haluskan
Hasil
Pembekuan adonan setelah pengukusan
Penyusunan krupuk yang akan dijemur
Sosialisasi Teknik Pengemasan dan labelling bersama ibu PKK, KB dan Home industry
Demo masak bersama ibu-ibu desa Kebon Agung
Lampiran 2. Dokumentasi pelaksanaan program kerja sosialisasi Teknik pengemasan dan labelling
Contoh Pengemasan produk dan labelling KUKUSI (Krupuk Kulit Singkong)
Desain label krupuk kulit singkong dengan varian rasa pedas
LAPORAN KEGIATAN INDIVIDU
KULIAH KERJA NYATA
NAMA : DEWI ASWATIKA
NIM : 15412011000583
KELOMPOK : I (SATU)
DESA : KEBON AGUNG
LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT SEKOLAH TINGGI PERTANIAN KUTAI TIMUR