KERJASAMA PEMERINTAH RUSIA DAN CINA
DALAM MENGUASAI ENERGI DI ASIA TENGAH (2003-2008) Randi Andaru Putra
Dosen Pembimbing : Yusnarida Eka Nizmi S.IP M.Si Abstract
This research will describes about cooperation between the Governments of Russia and China in controlling energy in Central Asia from 2003-2008. Central Asia is an area that has a reserve of natural resources, including oil, gas, and other energy wealth. Cooperation between the Governments of Russia and China have been running after the end of the cold war to the present, including their cooperation conducted in Central Asia. In this research, an important point which becomes reference is describing the interests between the two countries in energy cooperation in Central Asia. United States as countries that consume the most energy in the world also took a role in maximizing the energy in Central Asia. See more United States dominance in Central Asia, Russia should do to make opposition to the area which is still the sole legacy of the Soviet Union. To maximize their campaign against the United States, Russia chose China as a cooperation partner to face the United States.
Keywords : Energy, Cooperation, National Interest, Central Asia
Pendahuluan
Energi merupakan satu hal yang diperlukan bagi sustainibilitas perekonomian suatu negara, baik sebagai komoditas ekspor maupun impor. Misalnya minyak, dimana minyak merupakan sumber energi yang paling banyak digunakan di seluruh dunia. Pada akhir abad 20, diperhitungkan bahwa minyak telah menjadi 39 persen konsumsi energi dunia, batu bara merupakan sumber energi terbesar kedua dengan 24 persen, selanjutnya, sisa sebesar 37 persen terdiri dari: gas alam (22 persen), energi nuklir (6 persen), dan lain-lain1. Banyak ahli yang
memperhitungkan bahwa minyak akan tetap menjadi sumber energi terbanyak digunakan selama dasawarsa pertama abad 21. Permintaan dunia terhadap minyak akan meningkat sekitar 2 persen tiap tahunnya antara sekarang dan 2020. Berdasarkan proyeksi Departemen Energi Amerika Serikat (AS), penggunaan minyak dunia akan meningkat dari sekitar 77 juta barel per hari di tahun 2000 menjadi 85 juta barel per hari di tahun 2005, 94 juta barel per hari di tahun 2010, 102 barel per hari di tahun 2015, dan 110 juta barel per hari di tahun 20202
Rusia mempunyai posisi penting dalam perdagangan energi dunia. Sebagai negara yang memiliki cadangan gas terbesar di dunia dengan jumlah cadangan terbukti sebesar 1.680 TCF
1 U.S. Department of Energy, Energy Information Administration, International Energy Outlook 1999, (Washington, D.C.: DoE/EIA, 1999), Tabel A2, hal:142-143.
(tahun 2001) atau dua kali lebih besar dibandingkan cadangan gas Iran, terbesar kedua untuk cadangan batubara setelah Amerika Serikat dengan jumlah cadangan sebesar 173 miliar ton, dan cadangan terbukti minyak sebesar 60 miliar barel (terbesar ke delapan di dunia)3. Perekonomian
Rusia tumbuh pesat selama empat tahun terakhir, terutama ditunjang oleh ekspor komoditi energi terutama dari kenaikan jumlah produksi minyak yang signifikan dan keuntungan dari tingginya harga minyak bumi di pasar internasional selama periode tersebut. Kondisi ini menyebabkan perekonomian Rusia sangat tergantung dari pendapatan ekspor migasnya.
Cina menjadi konsumen energi tertinggi kedua di dunia, melampaui Jepang meskipun masih dibawah Amerika Serikat, impor minyak dan energy security untuk pasokan kebutuhan minyak dalam negeri telah menjadi isu krusial di Cina4. Melakukan sebuah hubungan kerjasama dengan
berbagai negara untuk mengeskplorasi energi adalah salah satu bentuk cara yang dilakukan oleh negara Cina dalam memenuhi kebutuhan energi mereka dan negara negara yang menjadi sasaran untuk bekerjasama dalam bidang hal ini adalah negara-negara berkembang yang memiliki sumber daya energi yang besar, namun tidak mampu untuk mengelola sendiri kekayaan alam yang mereka miliki. Pertumbuhan ekonomi yang pesat di Cina akan berbanding lurus dengan meningkatnya peremintaan energi yang cukup besar. Cina melihat Asia Tengah sebagai kawasan yang sangat menarik, strategis dan penting bagi pertumbuhan energi di Cina.
Pasca perang dingin berakhir yang juga ditandai dengan runtuhnya Uni Soviet, kawasan Asia Tengah telah mulai mendapatkan perhatian dan pengaruh yang dibawah oleh Amerika Serikat. Tujuan Amerika Serikat membawa pengaruhnya ke wilayah bekas Uni Soviet itu tentu untuk mendapatkan sumber energi yang ada dikawasan tersebut. Amerika Serikat mulai menanamkan pengaruhnya dengan cara memberikan bantuan atau membentuk kerjasama bilateral dengan kelima negara yang berada dikawasan Asia Tengah tersebut. Tidak hanya dalam bentuk kerjasama bilateral saja, Amerika Serikat juga menanamkan pengaruhnya dengan cara memberikan bantuan dalam bentuk militer dan juga ikut andil dalam mengatasi konflik internal dengan gerakan Islam Radikal yang mulai berkembang dikawasan Asia Tengah. Amerika Serikat juga mendirikan basis militer mereka di Uzbekistan, Kyrgyzstan dan juga Amerika Serikat mulai
3 Perkembangan Industri Migas di Rusia dikases dari dari http://www.esdm.go.id/beritagas.php?news_id=340 01 September 2012
menanamkan paham demokrasi untuk menggantikan sistem pemerintahan otoriter di Asia Tengah.
Rusia mulai mengalami kekhawatiran melihat adanya peningkatan hubungan yang terjalin antara Amerika Serikat dan kelima negara yang ada dikawasan Asia Tengah. Rusia menilai, keberadaan Amerika Serikat akan menurunkan pengaruh Rusia terhadap negara-negara Asia Tengah serta energi yang terkandung didalamnya. Melihat hal ini Rusia perlu menjalin kerjasama dengan negara lain yaitu Cina. Rusia dan Cina telah menjalin hubungan diplomatik mereka dengan baik. Berdasarkan catatan sejarah, pada tanggal 2 Oktober 1949, Cina telah melakukan hubungan diplomatik dengan Uni Soviet. Pada bulan Agustus 1991 Uni Soviet mengalami keruntuhan pasca perang dingin.Selanjutnya pada tanggal 16 Juli 2001 Rusia dan Cina menandatangani perjanjian yang dikenal dengan Treaty of Good Neighborliness and Friendly Cooperation yang pada saat itu ditanda tangani oleh kedua pemimpin negara yaitu Jiang Zemin dan Vladimir Putin pada 16 Juli 2001. Perjanjian ini secara garis besar menjadi dasar bagi hubungan baik kedua negara dalam bidang ekonomi, diplomatik dan juga geopolitik. Dalam perjanjian ini terdapat peningkatan kerjasama dalam bidang militer, konservasi energi dan lingkungan, serta perdagangan internasional. Berdasarkan hal tersebut maka yang akan menjadi permasalahan yang akan dijelaskan dalam hal ini adalah kepentingan Rusia memilih Cina sebagai rekan kerjasama dalam menguasai energi di Asia Tengah.
mempengaruhi para pengambil keputusan luar negeri. Pertama kondisi politik dalam negeri, kedua kondisi ekonomi dan militer dan ketiga konteks internasional.
Selain itu, juga untuk menghadapi kehadiran Amerika Serikat di Asia Tengah yang dinilai mengancam keamanan kawasan serta cadangan minyak disana. Bagi negara Cina ini memerlukan partner untuk menghadapi ancaman negara lain serta persaingan untuk mendapatkan jaminan pasokan minyak. Dengan demikian pemerintah Rusia dan Cina sebagai aktor rasional, membuat keputusan luar negeri. Pemerintah kedua negara memiliki alternatif keputusan, yaitu bekerjasama atau tidak. Dengan mempergunakan teori Aktor Rasional, masa pilihan rasional yang dilakukan pemerintah Rusia untuk bekerjasama atau tidak dengan Cina, dalam bidang energi dapat dijelaskan. Untuk menjelaskan permasalahan dengan lebih dalam, maka teori selanjutnya yang mendukung adalah teori aktor rasional. Menurut Graham T Allison, dalam model aktor rasional ini politik luar negeri dipandang sebagai akibat dari tindakan-tindakan aktor rasional yang dilakukan dengan sengaja untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Pembahasan
Hubungan Kerjasama Rusia dan Cina
Sejarah mencatat bahwa Rusia dan Cina awalnya telah memiliki hubungan yang tidak baik. Pada akhir tahun 1960-an Cina yang awalnya adalah rekan kerjasama bagi Uni Soviet, telah berubah menjadi musuh yang sengit. Permusuhan antara kedua negara ini telah berjalan selama kurang lebih 30 tahun. Pada bulan Mei 1989, setelah adanya kunjungan dari Mikhail Gorbachev ke Cina, hubungan kedua negara ini mulai membaik. Pada pertengahan tahun 1990-an hubungan antara Rusia dan Cina mulai mengalami perubahan yang lebih lanjut. Cina yang pada saat itu naik ke posisi sebagai kekuatan baru dunia dan Cina juga ikut serta didalam penyeimbangan yang terbatas sebagai reaksi dari pengaruh Amerika Serikat yang mulai dirasakan oleh Cina.5
Rusia adalah negara yang pada orientasi dasarnya pro terhadap negara Barat, maka Rusia melalui kebijakan luar negerinya melihat Cina sebagai mitra penyeimbangan dominasi dan kekuasan atau pengaruh Amerika Serikat. Pada bulan April 1996 Rusia dan Cina mulai membangun kerjasama kemitraan strategis mereka. Perjanjian tersebut ditandatangani oleh Cina, Kazakshtan, Kyrgyzstan, Tajikistan dan Rusia di Shanghai dan perjanjian ini dikenal dengan nama Shangai Five.
Rusia dan Cina telah sering mengumumkan ke dunia internasional bahwa kerjasama yang mereka bentuk bukan ditujukan untuk negara-negara dunia ketiga. Seperti yang terlihat dalam pertemuan antara Presiden Zemin dan Yeltsin yang menjelaskan bahwa kerjasama mereka berisikan tentang penyeimbangan yang bertujuan untuk memperkuat posisi mereka terhadap isu-isu yang berkembang dimana mereka merasa bahwa Amerika Serikat tidak mengacuhkan mereka. Wacana yang berkembang, Shangai Five meskipun menitikberatkan pada kerjsama bilateral. Namun, hubungan kerjasama antara Rusia dan Cina yang mulai terbentuk pada tahun 1990-an itu dinilai hanyalah sebagai langkah kecil pertama. Kerjasama kedua negara ini secara langsung memberikan citra yang lebih bersifat ke positif terhadap Cina namun di sisi lain Rusia mengalami kekhwatiran bahwa imigrasi Cina yang berada di Timur Jauh akan mengancam keamanan nasional Rusia dan membuat posisi Rusia menjadi lemah di jangka waktu yang panjang. Dalam hal ini masih juga terdapat kesenjangan yang besar bagi krisis ekonomi Rusia, seperti angkatan tentara Rusia yang mulai memburuk dan negara juga menjadi lemah dan juga perekonomian Cina yang masih diarahkan oleh kelompok rezim6.
Kerjasama Rusia dan Cina Dalam Menguasai Energi di Asia Tengah
Meskipun tidak menjadi negara pengimpor dibidang energi hingga tahun 2003, namun sekarang Cina telah menjadi konsumen kedua terbesar di dunia setelah Amerika Serikat. Dalam rangka menopang perekonomian Cina yang sedang berkembang hingga 9 persen per tahun sejak tahun 1978, Cina semakin membutuhkan pasokan energi bagi perkembangan perekonomiannya. Pada saat sekarang 30 persen dari konsumsi minyak Cina bergantung kepada impor dan ini terus akan diperkirakan akan meningkat menjadi 70 persen pada tahun 2020.7 Saat ini, hampir 60
persen impor energi Cina berasal dari negara-negara Timur Tengah. Jika hal ini terus berlanjut, pada tahun 2010 Timur Tengah akan memasok lebih dari tiga per empat minyak mentah ke Cina8. Dalam rangka untuk mengamankan pasokan energinya, Cina telah mulai mencari sumber
energi alternatif lainnya. Oleh karena itu Cina melihat negara tetangganya yaitu negara-negara kawasan Asia Tengah sebagai cadangan energi yang paling nyaman bagi Cina. Namun Cina bukanlah satu-satunya negara yang memiliki kepentingan ekonomi di sana, namun juga ada
6 For a discussion of the discrepancy between Russian and Chinese economies in this period, see Dmitri Trenin Russia’s China Problem (Moscow: Carnegie Center 1999) hal. 28.
Amerika Serikat dan Rusia yang tentu masih memiliki pengaruh bagi negara-negara bekas Uni Soviet tersebut.
Presiden Rusia, Vladimir Putin mengatakan bahwa Rusia dan Cina telah saling mengetahui sejarah masing-masing dan budaya antara kedua negara dengan sangat baik, dan bahkan kedua negara memiliki kemungkinan untuk tetap menjaga hubungan yang baik dan mencapai keuntungan dari kerjasama yang telah mereka bentuk.9 Pembentukan Organisasi Kerjasama
Shanghai (SCO) pada tahun 2001, dinilai sebagai pertanda yang baik bagi kerjasama keamanan kedua negara. SCO adalah organisasi regional kemanan dunia yang tidak ikut melibatkan partisipasi dari Amerika Serikat dan tentu hal ini membuat Amerika Serikat memiliki beberapa sikap curiga dan pandangan negatif terhadap SCO. Dalam hal hubungan perdagangan, Cina dan Rusia mengalami pertumbuhan yang sangat pesat, pada tingkat 30 persen per tahun. Dari sisi Rusia, hubungan perdagangan dengan Cina jauh lebih besar dibandingkan dengan Amerika Serikat. Karena masalah energi adalah masalah utama yang hampir dihadapi oleh setiap negara, pada tahun 2001 Cina mencapai konsensus dengan Rusia untuk membangun pipa minyak transmisi dari Angarsk yang berada di Siberia Timur ke Daqing yang berada di Laut Cina. Pada KTT yang diadakan pada akhir Mei 2003, China National Petroleum Company (CNPC) dan Rusia Yukos (Corporation) mulai membangun kesepakatan awal yang telah di proses selama bertahun-tahun. Berdasarkan perjanjian ini, Rusia berjanji untuk mengirim 5 miliar barel minyak ke Cina yang berada di Laut Timur Cina10. Minyak tersebut akan diangkut melalui pipa
sepanjang 2.400 km yang menghubungkan antara Angarsk di Seberia Timur ke kompleks minyak Cina di Daqing, Provinsi Heilongjiang.
Disamping itu, Rusia dan Cina juga memiliki kepentingan yang strategis dibawah SCO. Tujuan dari kedua negara ini adalah untuk melawan pasukan teroris dan memperkenalkan ke dunia internasional stabilitas kawasan tersebut, juga untuk memperkuat hubungan politik dan ekonomi dengan negara-negara Asia Tengah. Tetapi pada saat yang sama, sementara Cina ingin meningkatkan kerjasama energi dengan negara negara kawasan Asia Tengah, Rusia bersedia untuk mendapatkan kembali pengaruhnya di Asia Tengah melalui bantuan dari Cina, karena Rusia menilai bahwa Cina sebagai mitra yang mampu untuk membantu Rusia mempertahankan pengaruhnya di Asia Tengah11. Meskipun hubungan Rusia dan Cina telah berada di tingkat yang 9 Ren Donfeng (2003), The Central Asia policies of China, Russia and the USA, and the Shanghai Cooperation Organization process: a view from China, (Stockholm: International Peace Research Institute, 2003), hal.11
10 Ibid hal 12
tinggi, namun ada beberapa unsur perbedaan kompetitif yang muncul dalam hubungan kerjasama mereka. Jaringan pipa yang menghubungankan antara Kazakshtan dan Cina yang baru beroperasional pada Mei 2004 tidak mendapat sambutan oleh Rusia, Kazakshtan dan Cina telah menandatangani kesepakatan untuk membangun pipa minyak dari Kazakshtan ke Druzhba, daerah perbatasan Cina pada Mei 2006 sepanjang 1.240 kilometer.
Persaingan Rusia dan Amerika Serikat di Asia Tengah
Persaingan yang sangat jelas terlihat antara Amerika Serikat dan Rusia, yang mana Rusia berusaha untuk tetap mempertahankan pengaruhnya sebagai negara pelindung atau penyokong dari negara-negara Asia Tengah. Amerika Serikat memandang Rusia yang pada awalnya sebelum membangun aliran pipa BTC yang menguasai rute distribusi energi dari Laut Kapia merupakan ambsi besar dari Rusia yang ingin mebguasai rute energi di Asia Tengah. Namun sebaliknya, kehadiran Amerika Serikat di Asia Tengah, terutama waktu pembangunan pipa BTC dan juga kehadiran pangkalan militer Amerika Serikat di negara-negara Asia Tengah selama perang Afghanistan pada tahun 2001, membuat Rusia mengalami dilema terhadap perilaku Amerika Serikat tersebut. Dalam hal ini Rusia memandang bahwa Amerika Serikat sedang memperkuat pengaruh politik dan militer mereka di negara-negara bekas Uni Soviet tersebut. Pada bulan Mei tahun 2000, Menteri Luar Negeri Rusia mengatakan bahwa Rusia tidak dapat membiarkan kepentingan-kepentingan tertentu dari luar yang memperlemah posisi Rusia di Laut Kaspia, serta seharusnya tidak ada yang terlukai jika Rusia berhasil membatasi usaha-usaha yang menganggu kepentingan Rusia.12
Masuknya angkatan militer Amerika Serikat ke Asia Tengah dilihat oleh Rusia sebagai usaha yang dilakukan oleh Amerika Serikat untuk menanamkan pengaruh politiknya di Asia Tengah dan tentu hal ini membawa dilema tersendiri bagi Rusia. Rusia beranggapan bahwa Amerika Serikat telah mengambil keuntungan dari kepercayaan negara-negara Asia Tengah untuk mendukung geopolitik yang dilakukan oleh Amerika Serikiat di Kaut Kaspia. Kehadiran militer Amerika Serikat di negara-negara Asia Tengah bermula pada perang Afghanistan yang terjadi pada tahun 2001 dalam melaksanakan Operation Enduring Freedom (OEF). Terlebih lagi, ketika Amerika Serikat mulai mengirim angkatan militer mereka ke negara Georgia pada bulan Februari 2002, dimana alasan Amerika Serikat mengirimkan militer mereka adalah untuk
meningkatkan kemampuan Georgia dalam hal melindungi perbatasan wilayahnya dan juga pembangunan infrastruktur mereka, termasuk didalamnya pipa minyak dan gas, dari ancaman Abkhazia dan Ossetia dan militan-militan Islam Hal tersebut juga dipandang oleh Rusia sebagai usaha Amerika Serikat untuk mengurangi dominasi pengaruh Rusia di kawasan13
Rusia tentu tidak ingin pengaruhnya akan menurun atau bahkan hilang di Asia Tengah. Oleh karena itu, pada awal tahun 2003, Rusia mulai melalukan suatu kebijakan dengan cara menempatkan sebuah skuadron pesawat tempur dan juga mengirimkan sebanyak 700 angkatan militer di pangkalan Biskek, Kyrgyzhstan. Kebijakan Rusia dalam mengirimkan pasukan militer tersebut adalah bentuk dukungan yang diberikan oleh Rusia terhadap tentara reaksi cepat bersaama Rusia reaksi cepat bersama Rusia, Kazakshtan, Kyrgizstan dan Tajikistan dalam kerangka Collective Security Organization (CSTO). Akan tetapi banyak para analisis yang meilhat kebijakan Rusia tersebut merupakan upaya yang dilakukan oleh Rusia untuk mengimbangi masuknya Amerika Serikat di Asia Tengah, terutama basis militer milik Amerika Serikat yang sudah mulai didirikan di negara-negara Asia Tengah14.
Dalam mempertahankan pengaruh dan kekuasaan yang dimiliki oleh Rusia atas aliran energi dari Kaspia, Rusia mengambil kebijakan untuk mendukung gerakan separatis yang terjadi di Abkhazia dan Ossetia Selatan, dimana kedua wilayah ini merupakan wilayah yang berdekatan dengan rute pipa BTC dan menolak untuk menarik pasukan Rusia dari Georgia. Melihat kebijakan yang diambil oleh Rusia, Amerika Serikat mulai memperketat penjagaan bersama dengan pasukan Georgia untuk menghalang serangan terhadap pipa BTC. Persaingan yang paling terlihat antara Amerika Serikat dan Rusia adalah dalam konflik Nagorno-Karabakh, dimana pada saat itu Armenia dibantu oleh Rusia dan Azrbaijan dibantu oleh Amerika Serikat.
Kepentingan Amerika Serikat di Asia Tengah
Kepentingan Amerika Serikat di Asia Tengah dapat disederhanakan dalam tiga kata yaitu : keamanan, energi dan demokrasi. Amerika Serikat telah melancarkan perjuangan untuk menjaga
13 The Relationship of the United States with Russia , diakses dari
http://usforeignpolicy.about.com/od/countryprofile1/p/usrussia.htm pada 31 Oktober 2012
negara Barat khususnya Amerika Serikat dari ancaman teroris yang berasal dari Afghanistan maupun keamanan terhadap ketergantungan kestabilan pasokan energi dari Timur Tengah. Kunci utama kepentingan nasional masalah keamanan Amerika Serikat adalah sumber energi dan Laut Kaspia telah menjadi sumber bahan alternatif bahan bakar fosil bagi Amerika Serikat. Tingkat produksi Laut Kaspia cukup besar dengan puncak produksi Laut Kaspia sebanding dengan produksi minyak Iran dan Kuwait jika digabungkan, dan mereka jauh lebih kecil dari total organisasi pengekspor minyak (OPEC).
Dalam hal memenuhi kebutuhan energi, pemerintah Amerika pada masa pemerintahan Presiden Bush telah mengeluarkan salah satu strategi yang dikenal dengan National Energy Policy Development Group yang langsung dipimpin oleh wakil presiden Amerika Serikat pada waktu itu Dick Cheney atau yang lebih dikenal dengan nama Chiney Report.15 Dalam strategi
yang dibuat oleh Bush ini, ada beberapa strategi seperti : program mitigasi harga, kebijakan efisensi energi, peningkatan pasokan energi domestik, pengembangan energi yang dapat diperbaruhi dan memperkuat hubungan kerjasama dengan produsen energi luar negeri. Pada tahun 2002, Amerika Serikat mencatat memproduksi minyak hingga 9 juta barel per hari, namun produksi tersebut masih belum mencukupi untuk permintaan minyak domestik Amerika Serikat yang mencapai 19.8 juta barel per hari, oleh karena itu untuk menutupi kekurangan tersebut, Amerika Serikat harus mengimpor minyak dari luar sebanyak 10.8 juta barel per harinya16.
Kekurangan akan produksi minyak telah membuat Amerika Serikat untuk terus memperoleh kekuasaan dan otoritas yang lebih menekan kepada konsumen untuk mengurangi ketergantungan mereka terhadap bahan bakar fosil dan berusaha untuk mendapatkan sumber-sumber energi alternatif. Jika Amerika Serikat tidak mengedepankan keamanan energinya maka tentu akan berdampak tidak baik kepada sustainibilitas perekonomian Amerika Serikat, terutama dalam bidang industri, tingkat eskpor Amerika Serikat juga akan terus berkurang dan tentu GDP Amerika Serikat juga mengalami penurunan.
Kepentingan Cina Bekerjasama Dengan Rusia di Asia Tengah
Cina tentu memiliki beberapa alasan dan kepentingan untuk melakukan kerjasama dengan negara Rusia atau ini lebih dikenal dengan agenda Cina. Agenda Cina dalam hal ini berisikan
15 The Bush/Cheney Energy Strategy: Implications For U.S. Foreign And Military Policy, dalam
http://www.informationclearinghouse.info/article4458.htm diakses pada 13 Desember 2012
kepentingan-kepentingan yang bersifat strategis yang ingin di capai oleh Cina dan berkaitan dengan kerjasama yang dilakukan bersama dengan Rusia. Adapun kepentingan strategis Cina dalam menjalin kerjasama dengan Rusia seperti menghilangkan pandangan bahwa munculnya Cina akan menjadi ancaman bagi negara lain dengan cara menekankan konsep munculnya Cina sebagai “peacul rising”, “harmonious world” atau “peaceful development”.
Hubungan kerjasama yang dilakukan oleh Cina dengan Rusia adalah salah satu bentuk kemitraan strategis yang bisa semakin meyakinkan konsep kemunculan Cina sebagai negara yang bersahabat dan menjalin kerjasama dengan negara-negara lainnya. Dalam hal ini, Cina melihat Rusia adalah negara yang tepat untuk melakukan kerjasama strategis. Adapun alasan mengapa Cina lebih memilih Rusia sebagai mitra kerjsama nya dikarenakan Rusia masih mempunyai kejayaan pada masa lalu dalam artian Rusia masih memiliki pengaruh yang cukup besar di dunia internasional. Akan tetapi Cina tidak menerima jika kerjasama yang dilakukannya bersama Rusia adalah salah satu bentuk dari strategi untik mengimbangi pengaruh Amerika Serikat di Asia Tengah yang mana Asia Tengah masih berada dibawah pengaruh dari Rusia. Rusia bagi Cina adalah negara yang masih memiliki pengaruh internasional didukung dengan Rusia juga memiliki hak veto di PBB. Bagi Cina, Rusia masih belum maksimal didalam memainkan peranan sebagai strategic counterweight dan Rusia juga tidak setuju atau menolak dengan kebijakan One Policy Cina yang mempertanyakan status Taiwan.17
Dalam kerjasama ini, Cina tidak mempunyai kepentingan dibidang “balancing games” dikarenakan Cina memiliki hubungan kerjasama yang lebih banyak dengan negara lain dibandingkan dengan Rusia. Sebagai contoh negara-negara Barat memandang bahwa Cina adalah negara yang mempunyai potensi atau ingin menjadi negara hegemoni dan bagi Cina perkembangan militer dalam negeri mereka adalah sebagai bentuk untuk menjamin keamanan pertumbuhan ekonomi dalam negeri mereka. Cina memiliki hubungan kerjasama yang baik dengan negara-negara anggota ASEAN, Afrika, Amerika Selatan, Eropa dan juga hubungan yang baik dan juga yang buruk dengan Amerika Serikat.18
17 Felgenhauer, Pavel, “Putin in Stalin’s Footsteps”, Moscow Times, 31 Juli 2003. “Putin Says Russia Does Not Want to be Superpower”, Novosti, 19 Desember 2007, dalam skripsi “Implikasi Strategic Partnership China-Rusia Tahun 2001-2010 Terhadap Upaya Dalam Memenuhi Kebeutuhan Kepentingan Energy Security” Sri Rezeki, Universitas Indonesia
Cina memiliki pandangan yang berbeda dengan Rusia, Cina lebih melihat hubungan kerjasamanya dengan Rusia adalah bentuk suplemen dari hubungan Cina dengan negara-negara Barat bukan sebagai bentuk alternatif. Dalam menjalin kerjasama dengan Rusia, Cina tidak menginginkan adanya pihak lain yang menganggap hubungan kerjasama mereka adalah sebagi bentuk sebuah ancaman bagi negara-negara lain. Cina adalah negara yang mempunyai prisip harmonious world China yang mana Cina ingin membuat lingkungan luar atau dunia internasional yang leih bersifat ramah dan memberi dukungan terhadap Cina sehingga Cina bisa memberikan fasilitas dalam modernisasi dalam negeri mereka19
Faktor utama yang menjadi alasan Cina menjalin kerjasama dengan Rusia adalah demi kepentingan pasokan energi dalam negeri Cina. Cina melakukan kerjasama dengan Rusia bertujuan untuk mengamankan sumber impor energinya dari kekurangan energi yang dialami oleh negara Asia lainnya seperti negara Jepang. Dalam hal ini Cina begitu antusias dalam membangun proyek ESPO (East Siberian-Pacific Ocean oil pipeline) bersama dengan Rusia. Cina memandang bahwa energi adalah alat kebutuhan penting bagi pertumbuhan ekonominya, sedangkan Rusia melihat bahwa energi merupakan kekuatan dalam mencapai tujuan geopolitik mereka. Cina mendapatkan keuntungan dari hubungan Rusia yang tidak baik dengan negara-negara Barat seperti impor energi dari Rusia akan lebih banyak diberikan kepada Cina dan harga yang Cina dapatkan juga jauh lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan negara-negara Barat.
Bagi Cina, Rusia bukanlah negara yang menjadi partner utama dalam mendapatkan pasokan energinya, melainkan sebagai salah satu pemasok energi yang mempu dalam memenuhi kebutuhan energi dalam negeri Cina. Alasan Cina menjalin hubungan kerjasama dengan Rusia adalah Cina tidak ingin hanya bergantung terhadap satu sumber energi saja yaitu di Timur Tengah. Selain itu Cina juga melihat bahwa negara-negara seperti Afrika dan Amerika Latin adalah negara yang bisa dijadikan sebagai pemasok energi bagi Cina, namun terhalang oleh letak geostrategis yang jauh dan prasarana untuk membawa energi ini ke Cina juga sangat beresiko dan tidak efesien. Maka dari itu Cina melihat bahwa Rusia adalah hal yang paling menguntungkan karena letak kedua negara yang secara geografis berdekatan yang akan
mempermudah transportasi energi dan bisa mengontrol dengan mudah tanpa mengeluarkan modal atau biaya yang banyak. 20
Kepentingan Rusia Dalam Bekerjasama Dengan Cina di Asia Tengah
Tidak berbeda dengan Cina yang memiliki beberapa kepentingan dalam menjalin hubungan kerjsama dengan negara Rusia, Rusia juga tentu memiliki kepentingan strategis yang ingin dicapai didalam menjalin kerjasama dengan Cina. Dalam kerjasama ini, Rusia menekankan dua hal yang menjadi point utamanya. Point pertama adalah dalam bidang strategi global atau menyeimbangi pengaruh atau hegemoni Amerika Serikat yang mulai membuat Rusia resah dikawasan Asia Tengah. Pada tahun 2008 keadaan dalam negeri Rusia jauh lebih stabil dan sejahtera jika dibandingkan pada masa pemerintahan Gorbachev dan Yelstin, namun Rusia tidak begitu memainkan peran yang penting didalam perpolitikan internasional.
Presiden Putin melihat bahwa Rusia membutuhkan strategi khusus seperti misalnya berkerjasama dengan negara lain yang mempunyai kekuatan besar untuk menjadikan Rusia sebagai negara yang mempunyai kekuatan penuh dalam hubungan internasional. Dalam pandangan Rusia, Cina adalah negara yang mempunyai kekuatan ekonomi tanpa batas, politik dan juga dalam bidang militer. Jika Cina terus mengalami perkembangan, maka kerjasama antara Rusia dan Cina juga akan terus mengalami perkembangan dan membuat kekuatan Amerika Serikat terus menurun. Untuk mengimbangi kekuatan Cina dan Amerika Serikat, maka putin menggunakan kebijakan luar negeri yang dikenal dengan multi vectored yang dijalankan oleh Rusia sesuai dengan kepentingan nasionalnya. Pada masa yang akan datang, Rusia akan menjadi negara yang strategis dan menjadi jembatan antara negara timur dan barat dan bahkan Rusia bisa menjadi pihak ketiga didalam dunia yang multipolar kedepannya, bersama dengan Cina dan Amerika Serikat. Bagi Rusia, hubungan kerjasamanya dengan Cina merupakan dukungan tersendiri bagi Rusia dalam menumbuhkan kepercayaan diri Rusia di dunia internasional.
Kerjasama yang dilakukan oleh Rusia dan Cina bisa dikatakan lebih dari sekedar bentuk maneuver geopolitik bahkan menyangkut mengenai kepentingan keamanan negara Rusia.21 Rusia
juga telah menciptakan perbatasan yang stabil , membuat kemanan Russian Far East dan intergritas teritorial wilayah Rusia. Pada saat sekarang bagi Rusia, Cina adalah bentuk jaminan yang paling menjanjikan dari kebangkitan dan potensi perkembangan dalam negeri Cina. Oleh 20 William Tompson, Putin and the Oligarchs : A Two Sided Commitment Problem, dalam Leading Russia : Putin in Perspective, Edited Alex Pravda, ( Oxford University Press, 2005) hal 192
karena itulah Rusia memilih Cina sebagai partner kerjasamanya ditambah lagi dengan Rusia yang telah banyak berpengalaman dalam menjalin hubungan kerjasama dengan wilayah Barat yang menimbulkan kekecewaan dan tidak nyaman bagi Rusia.
Dengan menjalin kerjasama dengan Cina, maka Rusia mendapatkan keuntungan secara politik, keamanan dan nasional. Sebagai bukti, Rusia dan Cina telah menyelesaikan kasus migrasi ilegal Cina yang sempat menganggu stabilitas keamanan kedua negara. Selain itu Cina juga menjadi pasar utama dalam perdagangan senjata dengan Rusia dimana perdagangan senjata dengan Rusia telah berhasil membawa bisnis militer Rusia keluar dari kebangkrutan. Dalam kerjasama ini, Cina juga telah berhasil memperkenalkan Rusia kepada komunitas Asia Pasifik yang secara langsung tentu membawa keuntungan ekonomi bagi Rusia. Dalam hubungan kerjasamanya dengan Cina, Rusia ingin sejajar dengan negara-negara yang mempunyai power kuat termasuk Amerika Serikat dan memiliki status yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara biasa dalam sistem internasional.
Simpulan
Melihat kondisi Asia Tengah yang terus mulai mendapat pengaruh dari Amerika Serikat, Rusia merasa perlu mengambil langkah agar Rusia tidak kehilangan pengaruh besarnya di kawasan yang menjadi warisan dari Uni Soviet tersebut. Rusia menyadari bahwa mereka tidak akan bisa untuk menghadapi Amerika Serikat sendiri dan berusaha untuk mencari partner agar mengurangi dominasi Amerika Serikat dan juga mengusir Amerika Serikat keluar dari Asia Tengah. Dalam hal ini Rusia memilih Cina sebagai rekan yang akan dijadikan mitra atau partner kerjasama dalam menghadapi Amerika Serikat di Asia Tengah. Adapun alasan Rusia memilih Cina sebagai rekan kerjasamanya adalah karena Rusia dan Cina sudah cukup lama memulai hubungan kerjasama mereka yaitu pada pasca perang dingin dan mulai terbentuknya Treaty of Good Neighborliness and Friendly Cooperation and Friendship yang menjadi penanda hubungan kerjasama yang baik diantara kedua negara.
Untuk mengimbangi pengaruh Amerika Serikat di Asia Tengah, Rusia, Cina dan juga kelima negara yang ada di Asia Tengah membentuk organisasi yang disamakan dengan Shanghai Cooperation Organization (SCO). Tujuan utama dari pembentukan SCO ini adalah sebagai konsep keamanan baru yang berlandaskan kepada rasa saling percaya, perlucutan senjata dan keamanan koperasi, hubungan dengan negara-negara baru dengan kemitraan bukan kesejajaran pada intinya, dan model baru kerjasama regional yang menampilkan upaya bersama negara-negara dari semua ukuran dan saling kerjasama yang menguntungkan. Melalui SCO, Rusia, Cina dan negara-negara Asia Tengah telah melakukan beberapa latihan militer gabungan sebagai bentuk tanda kepada Amerika Serikat bahwa Rusia mulai terusik dengan adanya kehadiran pangkalan militer Amerika Serikat di Asia Tengah. Pada tahun 2005, Presiden Uzbekistan Islam Karimov juga telah menyampaikan sikapnya terhadap Amerika Serikat dan meminta Amerika Serikat segera meninggalkan dan membongkar pangkalan militer mereka dalam waktu 180 hari.
Cina sebagai negara yang menjadi mitra kerjasama Rusia tentu mempunyai kepentingan nasional yang akan dicapainya dalam kerjasama tersebut. Seperti yang telah dijelaskan pada sebelumnya, Cina merupakan negara konsumen energi kedua terbesar di dunia setelah Amerika Serikat. Untuk tetap menjaga kestabilan energi dan perkembangan perekonomian dalam negerinya, Cina harus bisa menjamin pasokan energi dalam negerinya yang didatangkan dari luar tidak mengalami pemberhentian atau hambatan. Cina melihat Asia Tengah adalah sebagai kawasan yang mempunyai cadangan energi yang kaya dan melalui kerjasama yang terjalin denga Rusia, tentu akan semakin mudah bagi Cina untuk mendapatkan aksesbilitas energi yang terdapat di Asia Tengah. Cina juga telah melalukan pendekatan kepada negara-negara Asia Tengah dengan cara memberikan bantuan ekonomi dan mendirikan beberapa perusahaan investasi minyak di Asia Tengah. Selain itu juga menjalin kerjasama dalam bentuk perdagangan dengan negara-negara Asia Tengah dan juga mendirikan beberapa proyek pembangunan aliran pipa minyak yang membawa minyak dari Asia Tengah ke Cina. Melalui kerjasama yang terjalin bersama Rusia, maka Cina tentu akan mendapatkan keuntungan yang cukup besar yaitu dapat dengan mudah mendapatkan aksesbilitas energi yang ada di kawasan Asia Tengah.
Donfeng Ren , The Central Asia policies of China, Russia and the USA, and the Shanghai Cooperation Organization process: a view from China, Stockholm: International Peace Research Institute, 2003
John, Seaman. Energy Security, Transnational Pipelines and China’s Role in Asia, Paris, Institut Français des Relations Internationales
Mazegga Marc Antoine Eyl and Olgu Okumus, “Turkey and Europe`s quest for gas: The equilibrium of a bargaining position and its possible consequences for new gas transport routes”. INGAS, 2009.
Morgan, Patrick. Theories and Approaches to International Politics: What are We Think? New Brunswick: Transaction, 1982
Wilson, Jeanne L. Strategic Parteners : Russian-Chinese Relations in the Post Soviet Era Armonk, New York ; M.E Sharpe, 2004
Jurnal :
Blank, Stephen J.: “China, Kazakh Energy and Russia: An Unlikely Ménage à Trois”, China and Eurasia Forum Quarterly, vol. 3, no. 3
Haiyun, Wang. “The Security Situation In Central Asia”, International Strategic Studies, No.1, January, 2001
Yana Leksyutina Russia-Chinese Relations :Repprachement or Rivalry? Chair Inbev – Baillet Latour Working Papers, No 37, 2000
Website :
China v US energy consumption dalam
http://www.guardian.co.uk/business/datablog/2010/aug/03/us-china-energy-consumption-data (diakases pada 03 September 2012)
Energy Information Administration (EIA), Country Analysis Briefs: Russia, ( April 2007), tersedia di : http://www.eia.doe.goviemeukabs/Russia/Oil.html . (diakses pada 13 November 2012)