• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Sejarah Perkembangan Kota Semara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Makalah Sejarah Perkembangan Kota Semara"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

SEJARAH PERKEMBANGAN STRUKTUR RUANG

KOTA SEMARANG, JAWA TENGAH

Makalah ini Diajukan untuk Memenuhi

Tugas Mata Kuliah Geografi Perkotaan

Disusun oleh :

Aulia Ayu Riandini Bulkia (0806328266)

Junita Cahyawati (0806328493)

Nurul Farhanah. H (0806328644)

Risha Aisyah (080645

Stevani Anggina (0806328770)

Departemen Geografi

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

(2)

DAFTAR ISI

BAB I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Penelitian 1.2. Tujuan Penelitian

1.3. Sistematika Penulisan BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsepsi Kota, Tata Kota dan Permukiman 2.2.Teori dan Faktor-Faktor Perkembangan Kota 2.3. Pra-Kondisi dari Perkembangan Perkotaan 2.4. Teori Asal Perkotaan

BAB III. PEMBAHASAN

3.1. Sejarah Pertumbuhan Kota Semarang 3.2. Sejarah Perkembangan Kota Semarang

3.2.1. Kota Semarang Masa Penjajahan 3.2.2. Kota Semarang Pasca Kemerdekaan 3.2.3. Kota Semarang Masa Kini

3.3. Diagram Sejarah Perkembangan Kota Semarang BAB IV. KESIMPULAN

(3)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Penelitian

Terbentuknya struktur ruang kota, cepat atau lambat, terjadi melalui proses yang bervariasi selama kurun waktu tertentu. Kota merupakan hasil karya peradaban manusia, sejalan dengan peradaban tersebut, kota mengalami pertumbuhan dan perkembangan sehingga menghasilkan suatu bentuk struktur kota yang ditemui sekarang. Wujud perkembangan struktur kota, sebagaimana yang dikemukakan Budihardjo (1996), pada hakekatnya merupakan jejak peradaban yang ditampilkan sepanjang sejarah kota sebagaimana perwujudan proses yang panjang, identias tidak bisa diciptakan pada suatu saat saja (seketika) seperti budaya dadakan, jadi perwujudan struktur suatu kota merupakan manifestasi dari berbagai kegiatan masyarakat, sehingga kota mencerminkan suatu bentuk simbol kehidupan ekonomi, sosial, budaya dan politik masyarakat.

Struktur kota dibentuk oleh elemen-elemen yang mempunyai sifat tertentu yang merupakan suatu kekuatan yang dapat mempercepat atau memperlambat proses perkembangan suatu kota. Mempelajari elemen-elemen pembentuk kota pada perkembangan kota-kota masa sekarang sangat penting bagi upaya pemahaman karakter dari kota-kota tersebut, dalam pemahaman karakter suatu kota, seperti yang dikemukakan oleh Todaro (2000), kondisi geografis merupakan penentuan awal berdirinya suatu kota yang akan menentukan bentuk fisik, fungsi dan karakter kota. Adanya potensi tertentu yang berkembang menonjol pada gilirannya akan meningkatkan fungsi kota, tidak saja dalam satu sektor belaka, melainkan kompleksitas kegiatan manusia di dalamnya.

Perkembangan dan bentuk struktur fisik suatu kota dapat diketahui melalui perubahan elemen-elemen kota sebagai pembentuk ruang kota. Elemen tersebut merupakan elemen fisik dan non fisik. Elemen fisik meliputi sarana transportasi, pasar, pusat pemerintahan, ruang terbuka, pusat peribadatan, tempat permukiman dan sebagainya, sedangkan elemen non fisik adalah manusia dengan segala aktivitasnya (Wongso, 2001).

(4)

menjadikan Kota Semarang sebagai koridor pembangunan Jawa Tengah yang menjadi salah satu pintu gerbang Jawa Tengah merupakan simpul empat pintu gerbang, yakni koridor pantai utara, koridor selatan ke arah kota-kota dinamis seperti Kabupaten Magelang, Kota Surakarta yang dikenal dengan koridor Merapi-Merbabu, koridor timur ke arah Kabupaten Demak/Kabupaten Grobogan dan barat menuju Kabupaten Kendal.

Sejarah perencanaan Kota Semarang dalam kurun waktu 1900-1970, menurut Pratiwo (2004) merupakan bagian penting dari sejarah perencaaan kota Indonesia. Kota Semarang dijadikan kota yang menjadi eksperimen perencaaan kota modern di Eropa.

Perkembangan Kota Semarang dapat kita lihat pada kawasan pusat kota, dimana terjadinya peningkatan perkembangan fisik spasial kota, pemanfaatan ruang kota maupun aktivitas-aktivitas kota seperti pada sektor perdagangan dan industri. Berakumulasinya berbagai fungsi utama kota dikawasan pusat kota ini, tidak hanya didukung oleh letak Kota Semarang secara geografis, tetapi juga didukung oleh berfungsinya elemen-elemen kota seperti pelabuhan, yaitu Pelabuhan Tanjung Emas yang menempati peringkat keempat terbesar dalam arus bongkar muat. Selain pelabuhan, jaringan transport darat (jalur kereta api dan jalan) serta transport udara, adanya Bandara Ahmad Yani yang merupakan potensi bagi simpul transport Regional Jawa Tengah dan kota transit Regional Jawa Tengah.

Aktivitas perdagangan dan perindustrian di Kota Semarang dalam hal ini telah memberikan pengaruh yang sangat besar dalam perubahan fisik spasial kota, seperti terbentuknya pusat kota yang dikenal dengan Alun-alun sebagai pusat administrasi Kolonial Belanda dan pusat perdagangan yang sampai sekarang masih ada dan menunjukan perubahan baik dari segi intensitas kegiatan maupun perubahan fisiknya. Sesuai dengan fungsi kota, yang ada yaitu sebagai koleksi dan ditsribusi barang dan jasa, maka keberadaan pusat perdagangan dan jasa komersial diharapkan mampu melayani seluruh kawasan permukiman wilayah kota, baik yang telah berkembang atau kawasan yang baru atau akan berkembang.

Berdasarkan fakta dan latar belakang permasalahan yang telah diuraikan di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai sejarah pertumbuhan struktur ruang Kota Semarang dan perkembangan yang terjadi hingga saat ini melalui fenomena-fenomena yang ada. 1.2. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk :

1. Mendeskripsikan sejarah pertumbuhan struktur ruang Kota Semarang

(5)

1.3. Sistematika Penulisan

DAFTAR ISI

BAB I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Penelitian 1.2. Tujuan Penelitian

1.3. Sistematika Penulisan BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsepsi Kota, Tata Kota dan Permukiman 2.2.Teori dan Faktor-Faktor Perkembangan Kota 2.3. Pra-Kondisi dari Perkembangan Perkotaan 2.4. Teori Asal Perkotaan

BAB III. PEMBAHASAN

3.1. Sejarah Pertumbuhan Kota Semarang 3.2. Sejarah Perkembangan Kota Semarang

3.2.1. Kota Semarang Masa Penjajahan 3.2.2. Kota Semarang Pasca Kemerdekaan 3.2.3. Kota Semarang Masa Kini

3.3. Diagram Sejarah Perkembangan Kota Semarang BAB IV. KESIMPULAN

(6)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsepsi Kota, Tata Kota dan Permukiman

Penelusuran kota dari aspek kesejahteraan dan permukiman yang dilakukan oleh Wiryoamartono (1995) pada aspek fisik diketahui bahwa permukiman negara berkaitan erat dengan peradaban Hindu, Islam, hingga modern yang menghasilkan bangunan seperti candi, masjid, keraton, makam, dan pasar. Suatu permukiman urban dibentuk oleh struktur-struktur yang tetap yaitu pusat kegiatan perdagangan (pasar), pusat pemerintahan, dan pusat peribadatan.

Karakter yang paling menonjol dari kota terlihat pada kawasan pusat kotanya karena perkembangan kota diawali pada inti (core) kota yang memiliki beberapa fungsi kegiatan kota seperti pusat jasa, perdagangan, pusat rekreasi dan sosial budaya. Pola penggunaan lahan kota-kota di Indonesia tidak seragam. Pulau Jawa memiliki pola lahan di pusat perkota-kotaan dengan tanah lapang atau alun-alun yang dikelilingi bangunan penting (Jayadinata, 1992). Sarana dan prasarana yang ada di sekeliling alun-alun seperti bangunan kantor, kabupaten, masjid, gereja, penjara, dan pasar.

2.2. Teori dan Faktor-Faktor Perkembangan Kota

Sebagian besar terjadinya kota berawal dari desa yang mengalami perkembangan secara pasti (Ilhami, 1990). Faktor yang mendorong desa menjadi kota adalah keberhasilan desa menjadi pusat kegiatan tertentu, misalnya menjadi pusat pemerintahan, pusat perdagangan, pusat pertambangan, pusat pergantian transportasi, dan sebagainya.

Pengertian kota menurut Dickison (dalam Jayadinata, 1990) adalah suatu permukiman yang bangunan rumahnya rapat dan penduduknya bernafkah bukan pertanian. Kota umumnya mempunyai rumah-rumah yang mengelompok atau terpusat.

Pengertian kota menurut Branch (1995) adalah sebagai tempat tinggal dari beberapa ribu penduduk atau lebih. Perkotaan diartikan sebagai area terbangun dengan struktur dan jalan-jalan, pemukiman yang terpusat pada suatu area dengan kepadatan tertentu yang membutuhkan sarana dan pelayanan pendukung yang lebih lengkap dibandingkan dengan desa.

Mayer (dalam Daldjoeni, 1968) melihat kota sebagai tempat bermukim penduduknya, yang terpenting bukan rumah tinggal, jalan raya, rumah ibadah, kantor, dan sebagainya. Melainkan penghuni yang menciptakan segalanya itu. Kota sebagai permukiman dan wadah komunikasi.

(7)

Perkembangan pola dan struktur ruang fisik kota dapat ditinjau dari aspek kehidupan perkotaan, seperti kehidupan sosial, ekonomi, politik dan budaya (Yunus, 1994).

Bintarto (1986) menyatakan bahwa proses perkembangan kota tergantung pada kondisi alam dan sumber daya binaan yang ada di daerah kota dan sekitarnya yang membawa implikasi terhadap perubahan peruntukan guna lahan, baik struktur maupun polanya.

Rahardjo (1980), dalam Yunus (1994) menyebutkan terdapat tiga pola klasik yang menggambarkan perkembangan kota dalam memanfaatkan penggunaan tanah yaitu: (1) Pola Konsentrik (Concentric Zone Model) oleh Ernest W. Burgess (1925) menyatakan bahwa pola pemanfaatan ruang kota berhubungan dengan nilai ekonomi, sehingga kota terbagi atas ; (a) pusat kota (Central Busines District) yang terdapat pada lingkaran dalam, terdiri atas bangunan kantor, hotel, bank, bioskop, pasar, toko dan pusat perbelanjaan; (b) jalur peralihan (transition zone) terdapat pada lingkaran tengah, terdiri atas rumah sewaan, kawasan industri, perumahan buruh; (c) jalur perumahan para buruh (zone of-working men's homes) terdapat pada lingkaran tengah kedua, terdiri atas kawasan perumahan untuk tenaga kerja pabrik; (d) jalur permukiman yang lebih baik (zone of better residences) terdapat pada lingkaran luar, terdiri atas kawasan perumahan yang luas untuk tenaga kerja halus dan kaum madya; (e) jalur para penglaju (zone of commuters) terdapat pada luar lingkaran, dan terdiri dari masyarakat golongan madya dan golongan atas di sepanjang jalan besar.

Pola ini beranggapan bahwa suatu kota mempunyai kecenderungan berkembang ke arah luar di semua bagian-bagiannya. Masing-masing zone tumbuh sedikit demi sedikit ke arah luar dan karena semua bagian-bagiannya berkembang ke segala arah, maka pola keruangan yang dihasilkan berbentuk seperti lingkaran yang berlapis-lapis dengan pusat kegiatan (CBD) sebagai intinya.

(2) Pola Sektor (Sector Model) oleh Homer Hoyt (1939); mengatakan bahwa kota tersusun sebagai: (a) lingkaran pusat yang relative terletak di tengah kota, (b) pada sektor tertentu terdapat kawasan industri ringan dan kawasan perdagangan, di atas pada bagian sebelah menyebelahnya terdapat kawasan tempat tinggal kaum buruh, (d) agak jauh dari pusat kota dan sektor industri serta perdagangan terdapat sektor permukiman yang lebih baik, (e) lebih jauh lagi terdapat sektor permukiman kelas tinggi, sebagai kawasan tempat tinggal golongan atas.

(8)

perbelanjaan/niaga lain di pinggiran, (h) kawasan permukiman kelas menengah dan kelas tinggi, (i) kawasan industri di pinggiran. Pola ini menyatakan bahwa suatu kota dibentuk oleh pusat-pusat kegiatan fungsional kota yang mempunyai peranan yang penting di dalam kota.

Tiga model kota menurut Burges, Homer Hoyt dan Harris Ullman. Sumber : N. Daldjoeni (1968)

Perkembangan satu kota tidak akan sama dengan perkembangan kota lain. Kota dapat berkembang secara alamiah ataupun secara teratur dan terarah sesuai dengan rencana kota. Faktor-faktor perkembangan dan pertumbuhan yang bekerjapada suatu kota dapat mengembangkan dan menumbuhkan kota pada suatu arah tertentu.

Perkembangan kota secara umum menurut Branch (1995) sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi internal yang menjadi unsur terpenting dalam perencanaan kota secara komprehensif. Unsur eksternal yang menonjol juga dapat mempengaruhi perkembangan kota.

Faktor internal yang mempengaruhi perkembangan kota adalah:

1. Keadaan geografis yang mempengaruhi fungsi dan bentuk fisik kota. Kota yang berfungsi sebagai simpul distribusi, perlu terletak di simpul jalur transportasi, di pertemuan jalur transportasi regional atau dekat pelabuhan laut.

2. Tapak (site) merupakan faktor-faktor kedua yang mempengaruhi perkembangan suatu kota. Salah satu yang dipertimbangkan dalam kondisi tapak adalah topografi. Kota yang berlokasi di dataran yang rata akan mudah berkembang ke semua arah, sedangkan yang berlokasi di pegunungan biasanya mempunyai kendala topografi. Kondisi tapak lainnya berkaitan dengan kondisi geologi. Daerah patahan geologis biasanya dihindari oleh perkembangan kota.

(9)

berkembang lebih pesat daripada kota berfungsi tunggal, misalnya kota pertambangan, kota yang berfungsi sebagai pusat perdagangan, biasanya juga berkembang lebih pesat daripada kota berfungsi lainnya. Short (1984) mengemukakan terdapat lima fungsi kota yang dapat mencerminkan karakteristik struktur ruang suatu kota, yaitu: (a) kota sebagai tempat kerja, (b) kota sebagai tempat tinggal, (c) pergerakan dan transportasi, (d) kota sebagai tempat investasi, (e) kota sebagai arena politik.

4. Sejarah dan kebudayaan juga mempengaruhi karakteristik fisik dan sifat masyarakat kota. Kota yang sejarahnya direncanakan sebagai ibu kota kerajaan akan berbeda dengan perkembangan kota yang sejak awalnya tumbuh secara organisasi. Kepercayaan dan kultur masyarakat juga mempengaruhi daya perkembangan kota. Terdapat tempat-tempat tertentu yang karena kepercayaan dihindari untuk perkembangan tertentu.

5. Unsur-unsur umum, misalnya jaringan jalan, penyediaan air bersih berkaitan dengan kebutuhan masyarakat luas, ketersediaan unsur-unsur umum akan menarik kota ke arah tertentu.

2.3. Pra-Kondisi dari Perkembangan Perkotaan

Penekanan pada perubahan institusional menghubungan pertumbuhan kota-kota dengan restrukturisasi sosial-politik utama masyarakat, yang dianggap sebagai elemen kunci perkembangan peradaban.

Childe dalam Pacione (2005) menentukan sepuluh karakteristik dari peradaban perkotaan sebagai berikut :

Karakteristik primer

1. Ukuran dan kepadatan kota. Penambahan jumlah populasi berarti perluasan level dari integrasi sosial.

2. Spesialisasi pekerjaan. Pembagian pekerjaan yang jelas diantara pekerja, sebagai suatu sistem distribusi dan pertukaran.

3. Konsentrasi surplus. Ada arti sosial untuk pekerjaan mengumpulkan dan mengelola kelebihan (surplus) produksi petani dan pekerjaan tangan yang lainnya.

(10)

5. Pengaturan negara. Ada pengaturan baik yang terstruktur dengan anggota masyarakat yang berdasarkan satu wilayah tempat tinggal. Hal ini menggantikan identifikasi politik yang berdasrkan hubungan kekerabatan.

Karakteristik sekunder

6. Pekerjaan umum monumental. Ada sejumlah pembangunan bersama dalam bentuk candi, istana, gudang, dan sistem irigasi.

7. Perdagangan jarak jauh. Spesialisasi dan pertukaran mengalami perluasan melebihi kota dalam pengembangan perdagangan.

8. Standardisasi, pekerjaan seni monumental. Pembangunan pesat bentuk-bentuk seni memberikan ekspresi kepada identifikasi simbolik dan estetika dari bentuk seni.

9. Penulisan. Seni menulis terbentuk ketika proses organisasi sosial dan manajemen. 10.Aritmatika geometri dan astronomi. Persis, ilmu prediktif dan rekayasa yang dimulai.

Duncan dalam Pacione (2005) menjabarkan pra-kondisi dari perkembangan perkotaan masa pra-industri, yaitu sebagai berikut :

Populasi

Kehadiran populasi ukuran tertentu yang berada permanen di satu tempat adalah syarat utama. Lingkungan, tingkat teknologi dan organisasi sosial semua membatasi seberapa besar populasi akan tumbuh. Terutama yang penting adalah sejauh mana basis pertanian menciptakan surplus makanan untuk mempertahankan kota populasi. Kota-kota awal relatif kecil dalam bila dibandingkan dengan kota modern sekarang, yaitu sekitar kurang lebih 25.000 jiwa.

Lingkungan

Kunci pengaruh lingkungan, termasuk topografi, iklim, kondisi sosial dan sumber daya alam terhadap pertumbuhan perkotaan awal diilustrasikan dengan lokasi kota-kota Timur Tengah awal di Sungai Tigris dan Efrat, yang menyediakan pasokan air, ikan dan tanah subur yang bisa dibudidayakan dengan teknologi sederhana.

(11)

Selain pengembangan keterampilan pertanian, tantangan utama bagi masyarakat perkotaan awal Timur Tengah adalah untuk mengembangkan teknologi pengelolaan sungai untuk mengeksploitasi manfaat air dan meminimalkan resiko banjir.

Organisasi sosial

Pertumbuhan penduduk dan perdagangan menuntut struktur organisasi yang lebih kompleks termasuk infrastruktur politik, ekonomi dan sosial, birokrasi dan

Pengembangan kompleks jaringan perdagangan skala besar memacu pertumbuhan masyarakat perkotaan. Kebutuhan untuk menambah produksi untuk tujuan perdagangan seperti untuk menghidupi populasi yang bertambah akan mengacu pada spesialisasi dan intensifikasi, dan bagi penduduk yang bermukim tetap akan membentuk pasar produksi local dan juga perdagangan.

3. Teori Militer

Beberapa teori mengatakan bahwa asal mula kota terletak pada kebutuhan orang untuk berkumpul bersama untuk perlindungan terhadap ancaman eksternal, aglomerasi awal menuju perluasan kota selanjutnya. Wheatley dalam Pacione (2005) percaya bahwa peperangan mungkin telah memberi kontribusi pada intensifikasi pembangunan perkotaan di beberapa tempat dengan menginduksi konsentrasi penduduk untuk tujuan defensif.

4. Teori Religius

(12)

disesuaikan ke dalam tangan seorang elit agama yang mengontrol pembagian surplus hasil produksi yang disediakan sebagai persembahan. Ada bukti yang jelas tentang tempat-tempat suci dan kuil di lokasi kota kuno dan bisa ada sedikit keraguan bahwa agama memainkan peran penting dalam proses transformasi sosial yang dibuat kota. Namun, hal ini tidak mungkin menjadi satu-satunya faktor tunggal.

5. Teori Konsesus

Proses perkotaan bukan suatu penyusunan linier di mana salah satu faktor yang menyebabkan perubahan dalam faktor kedua, yang kemudian menyebabkan perubahan dalam ketiga, dan seterusnya. Sebaliknya, munculnya peradaban harus dikonseptualisasikan sebagai rangkaian proses interaksi yang dipicu oleh kondisi ekologi dan budaya yang menguntungkan dan yang terus berkembang melalui interaksi yang saling menguatkan.

BAB III PEMBAHASAN

3.1. Sejarah Pertumbuhan Kota Semarang

(13)

perbukitan Krapyak sampai Jerakah. Masa ini merupakan awal terbentuknya dataran alluvial / sedimen kwarter. Sedimentasi dibentuk berdasarkan endapan yang berasal dari muara Kali Kreo, Kali Kripik, Kali Garang serta merupakan jalur aktivitas transportasi utama. Kerajaan yang ada pada masa itu adalah Medang Kawulan ( hasil integrasi Kerajaan Bhumi Mataram dan Cailendra ) yang pada masa 924 memindahkan ibukotanya ke Waharu di Jawa Timur. Dari masa Medang Kawulan sampai Majapahit kawasan Semarang tak dikenal sama sekali. Baru setelah Demak - Pajang, Semarang berfungsi lagi dan dikenal luas. Pada masa Demak - Pajang dikenal beberapa wilayah Semarang yang merupakan pedukuhan terbesar antara lain : Inderono (Gisik Drono ), Tirang Amper, Jurang Suru, Lebuapi, Tinjomoyo, Wotgalih ( Wotgaleh ), Gajahmungkur, Sejonilo dan Gedung Batu.Pedukuhan - pedukuhan ini merupakan pemukiman yang dikuasai Ajar - Ajar ( pimpinan ritus Hindu ) dan terletak kira-kira disepanjang kali Semarang sampai hulunya. Pada masa permulaan pemerintahan kerajaan Demak, Kyai Pandang Arang ( Sunan Tembayat ) ditunjuk menjadi Bupati Semarang Pertama dan meresmikan Tirang Amper menjadi pusat kegiatan penyiaran agama Islam di kawasan Semarang berikut tempat tinggalnya pada tahun 1418, ( Mukti Ningrat Catur Bhumi ). Fungsi kawasan Semarang pada waktu itu sebagai kawasan perniagaan kerajaan Demak dan pusat penyiaran Agama Islam di kawasannya.

(14)
(15)
(16)

3.2. Sejarah Perkembangan Kota Semarang 3.2.1. Kota Semarang Masa Penjajahan

Kondisi kota Semarang di bawah kolonialisme Belanda cukup pesat perkembangannya dengan dibangunnya berbagai kepentingan Belanda. Misalnya sarana dan prasarana perkotaan seperti jalan, transportasi kereta api, pasar-pasar dan sebagainya. Hal ini terbukti pada tanggal 16 Juni 1864 dibangun jalan kereta api (rel) pertama di Indonesia. Dimulai dari Semarang menuju Kota Solo dan Kedungjati, Surabaya dan ke Magelang serta Yogyakarta kemudian dibangun 2 stasiun kereta api yang masih ada sekarang yaitu Tawang dan Poncol.

Pada abad ke XIV, Belanda juga mendirikan Pelabuhan Tanjung Emas. Pelabuhan Tanjung Emas ini dikatakan memiliki fungsi strategis sebagai pusat perdangangan nasional dan internasional (The World Market 1870-1900). Pelabuhan Tanjung Emas bukan hanya sebagai pusat perdagangan import-ekspor, tetapi juga sebagai jalur masuk barang-barang dari Eropa yang dipasarkan akan dipasarkan di Jawa dan Indonesia.

(17)

Selanjutnya secara berturut-turut muncul pula perkembangan lainnya seperti pada tahun 1857 layanan telegram antara Batavia - Semarang - Ambarawa - Surabaya mulai dibuka, tahun 1884 Semarang mulai melakukan hubungan telepon jarak jauh (Semarang-Jakarta dan Semarang-Surabaya), dibukanya kantor pos pertama di Semarang pada tahun 1862.

Sesuai dengan aspek yang mempengaruhi perkembangan kota, faktor internal yaitu aktivitas perdagangan dan perindustrian di kota Semarang telah memberikan pengaruh dalam perubahan fisik spasial kota, dengan terbentuknya pusat kota yang dikenal dengan nama Alun-alun. Ketika masa kolonialisme, Alun-alun dijadikan pusat administrasi Kolonial Belanda dan pusat perdagangan.

3.2.2. Kota Semarang Pasca Kemerdekaan Indonesia

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia dan dengan keberhasilan bangsa Indonesia melenyapkan penjajahan dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), maka tahun 1950 Kota Semarang menjadi Kotapraja di Propinsi Jawa Tengah. Irama kehidupan Semarang tak banyak berbeda dengan kota-kota lain di Indonesia. Bahkan pada saat negeri ini masih terns menghadapi ujian dan keprihatinan selama 20 tahun setelah kemerdekaan, maka Semarang mengalami situasi dan dalam kondisi yang sama. Pecahnya pemberontakan G.30.S PKI mempakan salah satu upaya memecah sistem kehidupan dan tata negara Indonesia. Semarang juga mengalami masa-masa penuh teror dan traumatis. Setelah berbagai pemberontakan berhasil ditumpas, maka sekarang bertahap masyarakat dan bangsa ini mulai membenahi kehidupannya.Pada tahun 1976 dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah (PP) No. 16 tahun 1976 wilayah Semarang mengalami pemekaran sampai ke Mijen, Gunungpati dan Tembalang di wilayah Selatan, Genuk di wilayah Timur dan Tugu di wilayah Barat. Seluruh wilayah Semarang meliputi 273,7 Km2. Dari semula 5 Kecamatan menjadi 9 Kecamatan.

(18)

Perkembangan selanjutnya yang tampak menonjol adalah industri dan pernukiman penduduk. Industri dikembangkan di wilayah Kaligawe-Terboyo, Bugangan (Genuk) dan Tugu, s edangkan permukiman banyak dikembangkan di daerah Selatan.

3.2.3. Kota Semarang Masa Kini

Perkembangan kota adalah proses perubahan keadaan perkotaan dari suatu keadaan ke keadaan yang lain dalam waktu yang berbeda. Sehubungan dengan hal ini, tinjauan perkembangan akan ditinjau dari kehidupan ekonomi, politik dan budaya.

Sebagai ibukota Provinsi Jawa Tengah, Semarang terletak pada posisi strategis di jalur pantai utara dan sebagai simpul regional dan nasional. Sebagai simpul nasional, karena Semarang memiliki bandar udara dan pelabuhan serta dilewati arus lalu lintas menuju ibukota negara Jakarta, sedangkan sebagai simpul regional, karena Semarang memiliki hinterland atau daerah belakang yang meliputi kawasan Kedungsapur (Kendal, Demak, Ungaran, dan Purwodadi). Daerah Kedungsapur tersebut merupakan simpul strategis. Wilayah Kabupaten Semarang dengan ibukota di Ungaran merupakan penyangga air bersih, sedangkan daerah Demak dan Purwodadi merupakan daerah penyangga permukiman dan penyedia tenaga kerja bagi berlangsungnya kegiatan industri di Semarang. Berbagai industri yang tumbuh di Semarang yang meliputi kawasan Tugu, Genuk maupun di sekitar Jalan Kaligawe, merupakan potensi besar yang kemudian menjadikan Semarang tumbuh sebagai kota besar.

(19)

1,5 juta jiwa, sudah pasti Semarang menghadapi berbagai permasalahan yang serius. Persoalan yang lain adalah berkaitan dengan peluang kerja. Menurut Terry McGee (1971) ada dua kenyataan yang menyolok di negara Dunia Ketiga. Pertama, kota-kota di negara-negara Dunia Ketiga tumbuh luar biasa.

Pertumbuhan Kota Semarang yang demikian pesat tersebut pada akhirnya memerlukan perencanaan strategis untuk diimplementasikan guna menunjang pembangunan kota yang berkelanjutan.

(20)
(21)

BAB IV KESIMPULAN

(22)

DAFTAR PUSTAKA

Pacione, Michael. 2005. Urban Geography: A Global Perspective. Routledge: New York. Kurniawati, Feri. 2010. Skripsi Perkembangan Struktur Ruang Kota Semarang Periode 1960-2007. UMY : Surakarta.

Thian, Joe. Liem.2004. Riwayat Semarang. Jakarta: Hasta Wahana

http://www.dephub.go.id/files/media/file/25%20pelabuhan/Tanjung%20Emas.pdf (diunduh pada tanggal 26 Februari pukul 16.32 WIB)

http://www.ftsl.itb.ac.id/wp-content/uploads/2007/05/Technical%20and%20Socio-Economics.pdf (diunduh pada tanggal 26 Februari 2011 pukul 16.49 WIB)

Referensi

Dokumen terkait

Banyaknya situs bangunan bersejarah di kota Semarang seringkali dipandang sebagai lokasi yang tidak menarik untuk diperhatikan, bahkan mungkin sebagian masyarakat

Kegiatan (Pelaku, Aktivitas dan Fasilitas) : Pusat Pelatihan Olahraga Offroad di Kota Semarang .... Istilah – Istilah dalam Pusat Pelatihan Olahraga Offroad

Analisis yang telah dilakukan adalah analisis aktivitas perdagangan di pusat Kota Salatiga dengan output keterkaitan lokasi dan aktivitas pusat kota dengan

Kayutangan yang sekarang adalah Jalan Basuki Rahmat, merupakan salah satu kawasan bersejarah di Kota Malang, kawasan ini pada masa colonial merupakan kawasan pusat perdagangan

Sebuah kota yang dibangun sebagai pusat ritual yang ditujukan bagi Dewi Athena, Puteri kesayangan Dewa Zeus (pimpinan para dewa dalam mitologi Yunani. Ketinggian 70 m dari

Analisis yang telah dilakukan adalah analisis aktivitas perdagangan di pusat Kota Salatiga dengan output keterkaitan lokasi dan aktivitas pusat kota dengan

Pasar sebagai pusat perekonomian dan sekaligus sebagai simbol dari Kota Payakumbuh, menjadi suatu penanda dalam pemafaatan ruang fisik yang menjadi pusat berkumpul

Hasil analisis menunjukkan bahwa perkembangan kota yang dilihat dari perubahan jumlah penduduk dan perubahan lahan terbangun berpengaruh terhadap perubahan suhu di Kota Semarang