• Tidak ada hasil yang ditemukan

Situasi Hak atas Kesehatan Anak dalam Ko

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Situasi Hak atas Kesehatan Anak dalam Ko"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Situasi Hak atas Kesehatan Anak dalam Konteks

Konvensi Hak Anak: Sebuah Tinjauan

1

Bagus Yaugo Wicaksono

Pengantar

Tinjauan ini diharapkan memberikan kontribusi terkait gambaran situasi hak atas kesehatan anak di Indonesia. Lingkupnya terbatas dalam konteks Konvensi Hak Anak (KHA). Lebih jauh, hasil dari tinjauan ini diharapkan juga memungkinkan untuk melihat progress pelaksanaan rekomendasi oleh Komite Hak Anak PBB ke Pemerintah Indonesia, tahun 2004, terkait dengan hak atas kesehatan anak.

Ada lima rekomendasi sehubungan hak atas kesehatan, (1) Pemerintah Indonesia menjamin akses universal pada layanan kesehatan dasar, khususnya layanan kesehatan dasar bagi ibu dan anak termasuk di wilayah pedesaan dan di daerah konflik; (2) penyediaan layanan air minum dan sanitasi diprioritaskan; (3) Agar diperkuat – upaya pencegahan malnutrisi, malaria dan penyakit akibat nyamuk lainnya, upaya mengimunisasi sebanyak mungkin anak-anak dan ibu, upaya penyediaan kondom dan alat kontrasepsi di seluruh negeri, serta upaya mempromosikan penggunaan ASI; (4) Agar diambil pendekatan 'sepanjang hayat' dalam kesehatan dan pengembangan anak dan remaja melalui pengembangan kebijakan kesehatan yang holistic dan komprehensif bagi anak dan remaja; (5) menjalin kerjasama dengan pihak-pihak lain dalam persoalan terkait.

Dari sini kemudian dapat ditarik menjadi kerangka pelaksanaan hak atas kesehatan yang meliputi (1) upaya peningkatan pengetahuan hak anak atas kesehatan pada anak-anak, para pengasuh anak (orangtua atau wali), pengambil kebijakan, politisi mapun para penggiat hak anak; (2) upaya dalam membuat langkah-langkah pembuatan undang-undang; (3) bentuk tatakelola dan koordinasi dalam melaksanakan hak atas kesehatan anak; (4) pola-pola dalam melakukan rencana aksi pelaksanaan hak atas kesehatan anak.

Akan tetapi, penggambaran situasi terkait hak anak atas kesehatan anak ini tidak terbatas pada rekomendasi Komite di atas. Dalam kerangka yang lebih luas, dasar yang digunakan dalam menjabarkan tinjauan ini berbasis pada kewajiban generik Negara dalam melaksanakan konvensi hak asasi manusia, secara khusus hak anak atas kesehatan. Ada tiga kewajiban utama yang dimiliki Negara, (1) kewajiban menghormati kebabasan dan hak; (2) kewajiban melindungi kebebasan dan hak dari pihak-pihak ketiga, masyarakat atau ancaman lingkungan; (3) kewajiban memenuhi hak melalui pemberian fasilitas dan penyediaan langsung.2

1

Disiapkan untuk Seminar Hak anak Nasional: Refleksi Pelaksanaan Konvensi Hak Anak di Indonesia, diselenggarakan oleh Yayasan Gugah Nurani Indonesia, Jakarta, Hotel Aryaduta Semanggi, 18 Juli 2013 2

(2)

Cacah Penduduk Indonesia

Data sensus penduduk nasional tahun 2010 menunjukan peningkatan dari hasil sensus sebelumnya, 2005. Terjadi peningkatan sebesar 24.266.039 jiwa selama kurun waktu tersebut. Di tahun 2005, data penduduk Indonesia, laki-laki dan perempuan sebesar 213.375.287 jiwa. Sedangkan hasil sensus tahun 2010 menunjukan 237.641.326 . Peningkatan ini juga searah dengan peningkatan jumlah penduduk usia 0-19 tahun. Jumlah penduduk pada usia ini meningkat sebanyak 7.721.884 jiwa. Dari hasil jumlah sensus pada 2005 sebanyak 81.762.113 jiwa meningkat menjadi 89.483.997 pada sensus tahun 2010.

Tabel 1. Jumlah Penduduk menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin

[Survei Antar Sensus Badan Pusat Statistik/BPS, 2005]

Kelompok Umur Jenis Kelamin

Laki-laki Perempuan Laki-laki + Perempuan

0-4 9.732.578 9.362.573 19.095.151

5-9 11.089.478 10.474.467 21.563.945

10-14 10.956.648 10.349.448 21.306.096

15-19 10.103.778 9.693.143 19.796.921

20-24 9.533.960 9.911.219 19.445.179

25-29 9.078.324 9.601.769 18.680.093

30-34 8.543.620 8.876.409 17.420.029

35-39 8.186.060 8.268.040 16.454.100

40-44 7.273.553 7.216.349 14.489.902

45-49 6.303.669 6.079.149 12.382.818

50-54 5.175.796 4.765.268 9.941.064

55-59 3.755.532 3.506.647 7.262.179

60-64 2.748.283 2.863.544 5.611.827

65-69 1.957.037 2.155.128 4.112.165

70-74 1.448.024 1.541.903 2.989.927

75 + 1.388.188 1.435.703 2.823.891

Jumlah 107.274.528 106.100.759 213.375.287

Tabel 2. Jumlah Penduduk menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin

[Survei Antar Sensus Badan Pusat Statistik/BPS, 2010]

Kelompok Umur Jenis Kelamin

Laki-laki Perempuan Laki-laki + Perempuan

0-4 11.662.369 11.016.333 22.678.702

5-9 11.974.094 11.279.386 23.253.480

10-14 11.662.417 11.008.664 22.671.081

(3)

20-24 9.887.713 10.003.920 19.891.633

25-29 10.631.311 10.679.132 21.310.443

30-34 9.949.357 9.881.328 19.830.685

35-39 9.337.517 9.167.614 18.505.131

40-44 8.322.712 8.202.140 16.524.852

45-49 7.032.740 7.008.242 14.040.982

50-54 5.865.997 5.695.324 11.561.321

55-59 4.400.316 4.048.254 8.448.570

60-64 2.927.191 3.131.570 6.058.761

65-69 2.225.133 2.468.898 4.694.031

70-74 1.531.459 1.924.872 3.456.331

75-79 842.344 1.135.561 1.977.905

80-84 481.462 661.708 1.143.170

85-89 182.432 255.529 437.961

90-94 63.948 106.951 170.899

95+ 36.095 68.559 104.654

Jumlah 119.630.913 118.010.413 237.641.326

Kenaikan jumlah penduduk tersebut tentunya berjalan searah dengan kewajiban Negara dalam memenuhi hak anak. Artinya, semakin meningkat jumlah anak di Indonesia, semakin bertambah pula kewajiban yang harus ditanggung oleh Pemerintah Indonesia. Dalam sesi-sesi setelah ini akan menangkap gambaran situasi hak anak atas kesehatan anak di Indonesia. Penyajian dari tinjauan ini dimulai dengan analisa kebijakan yang telah diambil pemerintah dalam melindungi hak atas kesehatan. Dari analisa legal ini akan menghasilkan gambaran sejauh mana upaya Negara dalam melindungi hak anak, khususnya hak atas kesehatan. Selanjutnya, akan akan diikuti oleh penyajian data yang menunjukan fakta pemenuhan hak atas kesehatan. Di akhir sesi, data-data yang tersaji akan dianalisis sedemikian rupa, sehingga, dari sini akan bisa memberikan gambaran sejauh mana Pemerintah Indonesia telah melaksanakan hak-hak anak, khususnya terkait topik yang dibahas dalam tinjauan ini.

Analisa Perlindungan Hak atas Kesehatan

Pengakuan hak anak di Indonesia, secara hukum internasional, dimulai sejak diratifikasinya Konvensi Hak Anak (KHA) melalui Keputusan Presiden nomor 36 tahun 1990. Pasca moment tersebut, pemerintah telah melakukan berbagai upaya guna melindungi hak anak. Sesi ini akan membahas terkait upaya yang telah diambil Pemerintah Indonesia dalam melindungi hak atas kesehatan anak.

(4)

melalui Undang-undang Nomor 6 tahun1974 tentang Kententuan-ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial dan Undang-undang No. 40 tahun 2004 tentang Sisitem Jaminan Sosial Nasional.

Undang-undang nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, menjamin kesehatan masyarakat yang diwujudkan dalam pernyataan pasal 4 dalam undang-undang, kesehatan merupakan hak semua masyarakat. Pada giliranya semua masyarakat dijamin mendapat kesempatan yang setara dalam memperoleh derajat kesehatan yang optimal. Penting juga untuk menjadi catatan, dalam undang-undang ini juga menyinggung jaminan kesehatan terhadap ibu dan anak. Hal ini ditegaskan dalam pernyataan dalam pasal 14 dan 15, di mana secara jelas memberikan panduan terhadap jaminan kesehatan seorang ibu pada masa prakehamilan, kehamilan, persalinan, pasca persalinan dan masa di luar kehamilan dan persalinan. Sedangkan pasal 15 terkait dengan aborsi. Pasal lain yang menyangkut tentang kesehatan anak diatur dalam pasal 17 dan pasal 45.

Pasal 17 undang-undang kesehatan 1992 mengatur mengenai jaminan kesehatan khusus diarahkan pada pertumbuhan dan perkembangan anak. Di sini ditekankan bahwa jaminan kesehatan diarahkan pada peningkatan kesehatan selama masa kandungan, masa bayi, masa balita, usia prasekolah, dan usia sekolah. Sedangkan pada pasal lainya, terkait kesehatan anak, diatur dalam pasal 45 tentang kesehatan di sekolah. Arah dari jaminan kesehatan anak disekolah ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan sekolah untuk kepentingan tumbuh kembang anak yang optimal.

Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam undang-undang ini memang terkait dengan jaminan kesehatan anak. Namun begitu, memetik pernyataan Koalisis organisasi non-pemerintah pemantau hak anak, undang-undang ini dinyatakan memiliki kelemahan. Terlabih kelemahan diakibatkan karena tidak adanya jaminan secara ekplisit yang mengatur tentang hak anak atas (akses) fasilitas kesehatan, layanan kesehatan, dan obat-obatan.3

Selanjutnya, jaminan kesehatan diatur dalam undang-undang 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Dalam undang-undang ini mengatur tentang jaminan hak asasi manusia secara komprehensif. Termasuk juga, dalam perlindungan ini menjamin hak-hak anak didalamnya. Khusus terkait dengan hak anak diatur dalam bagian ke sepuluh. Ada lima belas pasal yang mengatur tentang hak anak di dalam undang-undang ini, di mana satu di antaranya menjamin hak anak atas kesehata . Pasal 6 e ja i bah a setiap anak berhak untuk memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial secara layak, sesuai dengan kebutuhan fisik dan mental spiritualnya’. Namun, agaknya, undang-undang ini masih terlalu luas cakupanya untuk bisa melindungi hak anak atas kesehatan.

Sebuah produk hukum yang khusus melindungi anak telah ditetapkan pada tahun 2002,tentang Perlindungan Anak. Undang-undang Perlindungan Anak diklaim Pemerintah Indonesia sebagai terjemahan dari KHA yang kemudian digunakan sebagai acuan operasional pelaksanaan KHA.4 Sehubungan dengan hak anak atas kesehatan, setidaknya, dalam aturan ini dijelaskan mengenai jaminan hak anak atas kesehatan. Lebih lanjut, jaminan perlindungan terhadap hak anak atas kesehatan ini diatur dalam beberapa pasal dalam undang-undang ini.5 Namun begitu, sayangnya,

3

Lihat laporan tinjauan Koalisis organisasi non-pemerintah pemantau hak anak Indonesia dalam mengkritis laporan pemerintah period ke 3 dan 4 halaman 71, 2010.

4

Lihat laporan periodic ke 3 dan 4 (versi Inggris) poin 5 halaman 5 5

(5)

perlindungan ini tidak didukung dengan penguatan acaman pidana bagi pihak-pihak yang melanggar jaminan perlindungan atas kesehatan anak tersebut.

Selanjutnya, undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan, amandemen dari undang-undang kesehatan sebelumnya, menunjukan upaya peningkatan perlindungan. Selain mengatur mengenai jaminan perlindungan yang lebih luas, dalam undang-undang ini memberikan batasan pembiayaan kesehatan, yakni 5 % APBN, 10 % APBD di mana 2/3 untuk kegiatan preventif dan promotif. Lebih lanjut, upaya perlindungan dalam undang-undang ini juga mencakup kesehatan ibu dan anak. Khususnya jaminan ibu dan anak diarahkan pada upaya peningkatan kesehatan ibu dalam mempersiapkan kelahiran pasca kelahiran, serta upaya untuk meningkatkan kesehatan bayi. Di sini juga menjamin kesehatan anak, tidak hanya kesehatan fisik, namun juga mengarah pada kesehatan mental, yakni dengan menjamin diadakanya sarana bermain untuk anak. Namun begitu, dalam konteks hak anak, undang-undang ini masih belum sensitive terhadap prinsip umum hak anak, yaitu hak anak untuk didengar (partisipasi anak). Anak-anak masih belum diberikan ruang berpartisipasi dalam mengungkapkan keinginan mereka atas kesehatan mereka.

Dalam penerapan kesehatan, pemerintah juga mengupayakan untuk memberikan jaminan kesehatan bagi masyarakat. Jaminan kesehatan yang mencoba menyentuh pokok-pokok pemenuhan kesejahteraan sosial diatur dalam undang-undang Nomor 6 tahun1974 tentang Kententuan-ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial. Semangat dasarnya, undang-undang ini sebagai ujung tombak dalam memberikan jaminan kesejahteraan sosial, termasuk pada fakir miskin dan anak-anak terlantar.6 Namun sayangnya, jika ditelisik mendalam, tak ada satu pasalpun yang mengatur khusus anak di dalamnya. Sedang undang-udang Sisitem Jaminan Sosial Nasional yang disahkan pada tahun 2004 dimaksudkan untuk menjamin kesehatan keluarga, anak di dalamnya, melalui asuransi orangtua. Namun begitu, esensi dari undang-undang ini menyiratkan adanya batasan pemberian asuransi kepada semua masyarakat. Khususnya, asuransi hanya akan mungkin didapat bagi para orangtua yang bekerja di lembaga-lembaga formal. Hal ini akan berdampak bagi anak anak yang orangtuanya bekerja pada institusi informal atau usaha mandiri, mereka tidak termasuk dalam mekanisme sistem jaminan sosial nasional.

Upaya Pemenuhan Hak atas Kesehatan

Pemenuhan hak atas kesehatan dimulai dari peningkatan kesehatan ibu dan anak yang dilakukan secara menyeluruh. Selanjutnya, upaya pemenuhan lain harus mengarah pada pencegahan munculnya kasus gizi buruk dan pencegahan munculnya bencana penyakit lain yang mungkin untuk dilakukan pencegahan. Upaya ini termasuk didalamnya peningkatan penyediaan layanan air minum dan sanitasi kepada masyarakat, imunisasi pada bayi, antisipasi penyakit di wilayah tropis – missal pencegahan penyebaran akibat nyamuk malaria dan sebagainya. Sebelum melihat lebih jauh pada situasi tersebut, terlebih dalam sesi ini akan menyajikan kada kesediaan fasilitas kesehatan di masing-masing proponsi di Indonesia.

Dalam upaya menjalankan pemenuhan hak anak di Indonesia, pemerintah telah membentuk jajaran yang bertugas sebagai garda depan. Mereka adalah para tenaga kesehatan yang mempunyai

6

(6)

keahlian di bidangnya. Mengacu pada database Kementrian Kesehatan RI, di seluruh Indonesia tersedia beberapa bidang tenaga kesehatan, meliputi tenaga medis 51.788, perawat dan bidan 278.221, tenaga farmasi 19.953, tenaga gizi 12.762, tenaga keteknisian medis 15.483, tenaga sanitasi 12.517, tenaga kesmas 16.341 dan dokter gigi 9.774.7 Total dari keseluruhan tenega kesehatan tersebut berjumlah 416.839 petugas. Persebaran tenaga kesehatan terbesar di Pulau Jawa, di mana 29% persebaran tenaga kesahatan berada di 5 provinsi di Pulau Jawa dan lainya, sebesar 71% tenaga medis tersebar di 29 provinsi di Indonesia.

Tabel 3. Data Tenaga Kesehatan

Sementara data sarana kesehatan masyarakat di Indonesia lebih banyak didominasi oleh Pusat Pelayanan Terpadu (posyandu). Di Indonesia, posyandu yang tersebar di 33 propinsi mencapai 225.373 unit. Persebaran posyandu terbanyak di propinsi Jawa Tengah, 47.763 unit dan Jawa Barat, 45.632 unit. Sedangkan Kepulauan Riau dan Kepulauan Bangka Belitung memiliki persebaran posyandu terendah, yakni 948 dan 903 unit. Sedangkan untuk sarana kesehatan masyarakat berupa Pusat Kesehatan Masyarakat (puskesmas) dan Pusat Kesehatan Masyarakat Pembantu (pustu), di seluruh Indonesia masing-masing ada 8.737 unit puskesmas dan 22.650 unit pustu.

Tabel 4. Data Sarana Kesehatan

Pemenuhan hak atas kesehatan di Indonesia masih membutuhkan penanganan yang serius. Hal ini ditunjukan oleh data tingkat akses kesehatan yang masih cenderung rendah. Laporan dari Kementrian Sosial RI menunjukan bahwa anak balita terlantar dan anak terlantar relatif masih tinggi. Anak balita terlantar ini berkisar pada umur 0-5 tahun, sedangkan anak terlantar ini berkisar pada umur 6-18 tahun. Dalam angka, di tahun 2011, anak balita terlantar mencapai 1,224,168, sedangkan

7

Sumber dari Bank Data Kementrian Kesehatan RI :

(7)

anak terlantar mencapai 3,115,777.8 Pada masing-masing kelompok ini mempunyai karakter

tersendiri, khususnya terkait dengan akses hak atas kesehatan.

Tabel. 5 Karakter Anak Balita dan Anak Terlantar9

Tingkat kematian ibu dan anak

Indonesia masih memiliki tingkat kematian anak yang tinggi. Dalam kajian Unicef misalnya, diteka ka bah a pola ke atia a ak sebagia besar terjadi pada saat baru lahir eo atal , bulan perta a kehidupa .10

Lebih lanjut, analisa Unicef ini menyatakan bahwa 19 perseribu kematian anak pada masa neonatal, 15 perseribu pada usia 2 sampai 11 bulan dan 10 perseribu meninggal pada 1 sampai 5 tahun. Kasus ini juga searah dengan tingkat kematian ibu melahirkan di Indonesia. Laporan berita Voice of America memetik pernyataan dari statemen LSM internasional, Save the Children, yang menyatakan bahwa Indonesia berada pada urutan 106 dari seluruh daftar Negara berkembang yang berjumlah 130 negara. Berita ini juga memetik pernyataan dari Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi, menunjukkan bahwa angka kematian ibu masih mencapai 228 per 100.000 kelahiran hidup.11

Dalam pengalaman Yayasan Gugah Nurani Indonesia, kematian anak juga disebabkan karena rendahnya upaya pemerintah dalam menyebarluaskan informasi jaminan kesehatan ke masyarakat. Di Darusalam, Medan, seorang anak meninggal akibat penanganan terhadap akses kesehatan terlambat. Orangtuanya merasa takut untuk membawa anaknya periksa di rumah sakit. Hal ini mengingat pendapatan orangtua yang sengat rendah. Sang ibu bekerja sebagai pemulung dengan penghasilansekitar 15 ribu perhari, sedang ayahnya bekerja serabutan, tanpa gaji tetap. Keluarga tidak memahami mekanisme baik jaminan kesejahteraan masyarakat (jamkesmas) dan jaminan kesejahteraan sosial (jamkesos). Sementara, ketika si anak, secara kasat mata, terlihat menderita bengkak di bawah kedua pundaknya, keluarga melihatnya seperti kasus wajar. Sampai, perlahan-lahan penyakitnya tersebut mulai memburuk.

8Ke e tria Sosial ‘epublik I do esia.

Kementrian Sosial Dalam Angka: Pembangunan Kesejahteraan Sosial , Pusat Data dan Informasi Kesejahteraan Sosial, 2012,

9Ke e tria Sosial ‘I da Bada Pusat Statistik ‘I. Profil Pe ya da g Masalah Kesejahteraa Sosial

I do esia ,

10

Ringkasan Kajian Unicef 2012. Kesehatan Ibu dan Anak. http://www.unicef.org/indonesia/id/A5_-_B_Ringkasan_Kajian_Kesehatan_REV.pdf

11

Angka Kematian Ibu Masih Tinggi di Indonesia, 16 Juli 2013, sumber:

(8)

Mengetahui kondisi anaknya semakin parah, keluarga membawa ke puskesmas. Karena kondisinya tak kunjung sembuh, orangtua kemudian membawa ke pengobatan alternative. Hasilnya juga sama. Si anak belum kunjung membaik. Kemudian, dengan bantuan dari pekerja social (Yayasan Gugah Nurani Indonesia), anak ini dibawa ke rumah sakit. Setelah melalui berbagai pemeriksaan, pihak dokter menyatakan bahwa anak tersebut mengidap tumor. Pihak rumah sakit menganjurkan untuk dirawat intensif. Namun, sayangnya, kondisi anak semakin memburuk. Sampai akhirnya meninggal setalah mendapat perawatan selama beberapa hari di rumah sakit.12

Balita gizi kurang dan gizi buruk

Sampai saat ini, Pemerintah Indonesia telah menunjukan performanya dalam menurunkan prevelensi anak dalam kondisi gizi kurang dan gizi buruk. Dari tahun 1989, prevelensi terhadap kekurangan gizi pada balita di Indonesia turun dari 31,0 persen menjadi 21,6 persen di tahun 2000. Namun angka ini masih belum sepenuhnya stabil. Di tahun 2005, angka prevelensi tersebut meningkat menjadi 24,5 persen. Namun, dalam tahun-tahun berikutnya mengalami penurunan. Semisal di tahun 2007, angka prevelensi balita kekurangan gizi menjadi 18,4 persen.13 Tidak hanya itu, tahun 2010 juga menurun menjadi 17,9 persen.14 Jika dilihat dalam hitungan jumlah, balita dengan gizi kurang dan gizi buruk ini masih relatif tinggi. Menurut catatan dari bank data Kementrian Kesehatan RI, data perbulan dari Januari – Juni 2013 menunjukan angka sebagai berikut.

Diagram 1. Gizi Kurang dan Gizi Buruk di Indonesia

[Data Bulanan Bank Data Kementerian Kesehatan RI, Januari – Juni 2013]15

12

Kasus ini terjadi pada salah satu anak dampingan Yayasan Gugah Nurani Indonesia 13

Dipetik dari makalah ilmiah Dr. dr. Citrakesumasari, M.Kes, dala A alisis Situasi Ibu da A ak: Global,

Nasio al, Sula esi Barat da Kabupate Pol a , diterbitka U i ersitas hasanudin, 2012. 14

Profil Data Kesehatan di Indonesia. Kementrian /kesehatan RI, 2012 15

(9)

Kasus balita dengan gizi kurang dan gizi buruk juga menjadi perhatian oleh Yayasan Gugah Nurani Indonesia. Pengalaman dalam mendampingi balita dengan kekurang gizi terjadi di Kelurahan Wonokusumo, Kota Surabaya. Pada masyarakat urban di sana, umumnya, pemberian makan terhadap anak seringkali terabaikan. Ditambah lagi dengan munculnya makanan-makanan instan, maka para orangtua seringkali tidak menyadari dampak buruk akan hal tersebut. Catatan dari penggiat gizi anak setempat, dalam hal ini adalah petugas posyandu, menunjukan bahwa anak-anak di kelurahan tersebut masuk dalam kategori gizi buruk maupun gizi kurang.

Upaya yang dilakukan oleh penggiat masyarakat di sana adalah melakukan diskusi dan perencanaan terhadap kasus tersebut. Bekerjasama dengan pihak Gugah Nurani Indonesia, kemudian mereka membuat program paket makanan tambahan. Penggiat kesehatan masyarakat tersebut kemudian membuat jadwal untuk pemberian makan kepada anak-anak di sana. Mereka memberikan asupan gizi. Setelah program berjalan beberapa bulan, catatan penggiat kesehatan setempat mendapati bahwa ada peningkatan tingakat gizi pada anak-anak di sana.16

Akses air bersih dan sanitasi

Catatan dalam Profil Data Kesehatan di Indonesia, 2011, yang diterbitkan oleh Kementrian Kesehatan Sosial menunjukan tingkat akses air bersih dan sanitasi bervariasi, antara kota dan desa. Dalam data tersebut, menyatakan bahwa 98 persen masyarakat perkotaan bisa mengakses air bersih. Sedangan angka ini cenderung lebih rendah di daerah pedesaan, yaitu 71 persen. Sedang untuk tingkat penggunaan sanitasi di Indonesia juga bervariasi, antara desa dan kota. Masyarakat perkotaan, 67 persen dari mereka telah menggunakan sarana sanitasi sehat. Sedang untuk masyarakat pedesaan sebesar 36 persen.

Terkait dengan akses air bersih dan sanitasi, di Kampung Bulu Cina, Kecamatan Hamparan Perak, Deli Serdang terjadi kasus ini. Pengalaman Yayasan Gugah Nurani menunjukan bahwa dalam satu desa tersebut semua masyarakat tidak bisa mengakses air bersih. Meskipun setiap masyarakat bisa mempunyai sumur (hampir disetiap rumah), namun kondisinya sangat tidak layak. Air dari dalam sumur tersebut keruh dan berbau sangat tajam. Dampak dari penggunaan air ini terhadak anak-anak, hampir seluruh dari anak-anak di desa tersebut menderita penyakit kulit.17

16

Kasus ini merupakan hasil kerjasama antara Penggiat Kesehatan Masyarakat kelurahan Wonokusumo dan Yayasan Gugah Nurani Indonesia, Surabaya, pada tahun 2013

17

(10)

Sebuah Tinjauan

Dari ulasan di atas dapat dilihat upaya-upaya pemerintah dalam memenuhi hak atas kesehatan anak di Indonesia. Upaya-upaya tersebut terlihat telah berbuah hasil. Secara umum, upaya tersebut dapat ditinjau dalam dua kelompok, (1) langkah-langkah perlindungan hukum dan yang yang ke dua (2) hasil dari pemenuhan hak atas kesehatan.

Tinjauan langkah-langkah perlindungan hukum

Secara umum, pemerintah Indonesia telah melakukan upaya dalam penyelarasan antara Konvensi dengan hukum domestik. Seperti misalkan dengan membuat undang-undang Perlindungan Anak yang meng-ejawantahkan Konvensi Hak anak. Selain itu, terkait lebih fokus terhadap perlindungan hak atas kesehatan anak juga telah dijamin melalui undang-undang terkait lainya.

Namun begitu, yang menjadi catatan adalah, di dalam peraturan perundang-undangan tersebut mesih disertai esensi yang bisa berdampak pada perenggutan hak atas kesehatan anak. Seperti misalkan adanya diskrimanasi dalam memberikan akses kesehatan dikarenakan mekanisme pemberian jaminan kesehatan; lemahnya perlindungan pidana atas pelanggaran hak kesehatan anak; lemahnya konsep pelibatan anak dalam proses pengambilan kebijakan terkait pemenuhan hak anak; luasnya cakupan perlindungan anak sehingga belum bisa spesifik.

Tinjauan hasil dari pemenuhan hak atas kesehatan

Proses pelaksanaan pemenuhan hak atas kesehatan anak oleh pemerintah telah berjalan. Hasil dari pelaksanaan tersebut juga telah menunjukan hasil. Di mana, hasil tersebut telah diukur oleh pemerintah dengan tugas dan tanggungjawab masing-masing.

Terkait dengan pelayanan tenaga kesehatan dan sarana kesehatan, penyebaranya masih belum merata. Sebagain besar fasilitas tersebut baru tersebar di Pulau Jawa. Ketidak merataan ini memungkinkan akan menghambat pelayan kesehatan di wilayah-wilaya terpencil, sehingga hal ini akan berkontribusi pada pelanggaran hak atas kesehatan anak. Selain itu, pemenuhan hak bagi anak-anak terlantar masih belum optimal. Angka anak balita terlantar dan anak terlantar masih relatif tiggi. Hal ini mungkin jadi akibat dari belum tepatnya sistem jaminan sosial terhadap keluarga dan anak. Di mana jaminan sosial, berdasar undang-undang Sistem Jaminan Sosial masih mendiskriminasi hak anak yang keluarganya tidak bekerja pada institusi formal.

(11)

sepenuhnya tepat sasaran. Dalam kasus kematian anak yang didampingi Yayasan Gugah Nurani Indonesia, menunjukan bahwa upaya pemerintah dalam melaksanakan undang-undang dan program ditingkat masyarakat masih lemah. Dalam hal ini, kematian anak disebabkan karena kekurang sigapan keluarga akibat penyebarluasan informasi dari pemerintah yang kurang memadai.

Begitu juga dengan kasus gizi buruk dan gizi buruk dan akses terhadap air bersih. Dalam kasus balita gizi buruk dan gizi kurang, terlihat pemerintah masih belum optimal dalam menggunakan metode pendekatan pelaksanaan program. Hal itu terlihat dari kasus gizi kurang dan gizi buruk yang terjadi di wilayah urban di Surabaya. Peningkatan pemenuhan gizi tersebut bias lebih efektif ketika andil dari penggiat kesehatan masyarakat didukung penuh. Sedangkan pada akses air bersih dan sanitasi, pemerintah masih belum sepenuhnya melaksanakan ditingkat pedesan. Kasus penyakit kulit yang terjadi di Deli Serdang menunjukan bahwa upaya pemenuhan akses air bersih dan sanitasi belum menyentuh daerah itu.

Rekomendasi

1. Perlu adanya evaluasi dan penyesuaian antara perundang-undangan terkait hak atas kesehatan anak, konvensi internasional dan fakta lapangan.

2. Perlu peningkatan upaya penyebarluasan informasi pelayanan kesehatan dan jaminan kesehatan, terkait dengan hak anak yang diatur dalam Konvensi Hak Anak, ke masyarakat. 3. Perlu meningkatkan pengembangan metode dan pendekatan, seperti meningkat

keterlibatan komunitas, dalam melaksanakan pemenuhan hak atas kesehatan anak di Indonesia.

4. Perlu upaya pemerataan fasilitas baik tenaga kesehatan, pekerja sosial dan sarana kesehatan di seluruh wilayah di Indonesia.

Gambar

Tabel 2. Jumlah Penduduk menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin
Tabel 4. Data Sarana Kesehatan

Referensi

Dokumen terkait

Demikian pula secara lebih khusus penghormatan, perlindungan dan pemenuhan terhadap HAM dibidang hak ekonomi dalam bidang hak atas keselamatan dan kesehatan kerja

Hak-hak dasar manusia tersebut secara umum dapat berupa: Bebas dari tekanan, diskriminasi, kekerasan untuk meningkatkan standar kesehatan termasuk akses kesehatan, informasi

Dalam konteks demikian hak atas pendidikan menjadi hak dasar manusia, yang wajib dipenuhi oleh negara dan oleh karenanya pemerintah termasuk pemerintah daerah

Komite Hak-Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya terkait kemajuan dari realisasi hak atas kesehatan oleh pemerintah Indonesia. Kelompok Kerja Bisnis dan Hak Asasi

•Bagaimana partisipatif publik untuk mengajak keterlibatan orang lain terhadap penegakan dan perlindungan HAM khususnya Hak atas Kesehatan dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional di

Dalam pelayanan kesehatan dikenal adanya hak atas rahasia medis (medical secrecy). Hak ini merupakan hak dasar individual yang bersumber dari hak asasi manusia,

yuridis sebagai berikut: (1) Apa saja akibat lemahnya perlindungan hak dan akses atas kesehatan bagi TKI ilegal di Malaysia?; (2) Bagaimana pengaturan perlindungan hak bagi

Sehingga hak atas kesehatan mencakup wilayah yang luas dari faktor ekonomi dan sosial yang berpengaruh pada penciptaan kondisi dimana masyarakat dapat mencapai kehidupan