• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dampak Gaya Hidup Mahasiswa Era Globalis (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Dampak Gaya Hidup Mahasiswa Era Globalis (1)"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

Abstraksi

Gaya hidup merupakan pola hidup seseorang yang dinyatakan dalam kegiatan, minat, dan pendapatnya dalam membelanjakan uangnya serta bagaimana mengalokasikan waktu. Perkembangan zaman sangat mempengaruhi gaya hidup masyarakat, khususnya para pemuda yang masih dalam pencarian jati diri. Masa yang paling penting dimana seorang pemuda mencari jati dirinya adalah ketika menjadi mahasiswa. Karena sebagai pemuda, mahasiswa sangat berperan penting dalam kemajuan peradaban sebuah Negara. Di Indonesia sendiri, tidak sedikit, mahasiswa menjadi tonggak sejarah perubahan di tanah air. Namun, pada era globalisasi saat ini, kontribusi mahasiswa untuk kemajuan peradaban bangsa ini mulai berkurang. Globalisasi dengan nama trend telah mengubah gaya hidup kebanyakan mahasiswa saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi mengapa dan bagaimana gaya hidup bisa berdampak pada proses belajar mahasiswa.

Metode penelitian yang kami gunakan adalah metode wawancara dengan subjek penelitian adalah para dosen dan mahasiswa di lingkungan FEB Unair yang kami bagi menjadi beberapa variabel berdasarkan klasifikasi usia dan pendidikan. Dengan begitu hasil wawancara akan semakin lengkap dan beragam karena data diperoleh dari keberagaman cara pandang dan perbedaan cara berpikir. Selanjutnya dengan hasil wawancara tersebut kami melakukan Focus Group Discussion (FGD) dengan dosen-dosen senior di lingkungan FEB Unair sehingga ditemukan sebuah simpulan maupun solusi atas permasalahan yang terjadi.

(2)

Globalisasi atas nama trend telah mengubah konsep diri dan pola pikir mahasiswa saat ini. Selain itu dampak negatif yang terjadi adalah menyebabkan softskill kerja sama berkurang. Namun di sisi lain, globalisasi juga memiliki dampak positif, yang mana jika hal itu dimanfaatkan dengan baik, maka akan sangat membantu proses belajar mahasiswa. Yang paling penting dari semuanya adalah konsep diri yang ada di dalam diri mahasiswa. Jika seorang mahasiswa memiliki visi hidup dan konsep diri yang benar, maka hal tersebut akan mampu dijadikan benteng pertahanan diri dan filter dalam menghadapi arus globalisasi. Dengan begitu, output dari hasil belajar akan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh tujuan dari pendidikan bangsa ini.

(3)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Gaya hidup sangat erat kaitannya dengan perkembangan zaman. Dewasa ini, gaya hidup lebih cenderung untuk mengikuti trend yang sedang berkembang. Trend tersebut awalnya merupakan budaya yang ada di Negara-negara barat yang maju seperti Amerika, Inggris, dll yang dijadikan sebagai kiblat oleh masyarakat di Negara-negara berkembang seperti di Indonesia ini dalam berperilaku. Apalagi di era globalisasi seperti sekarang ini, dimana terjadi proses internasionalisasi di segala bidang dan tidak ada lagi sekat atau batas antar Negara (borderless).

(4)

Namun, pada era globalisasi saat ini, banyak mahasiswa yang terlena. Gaya hidup yang bermewah-mewahan mulai menggerogoti perilaku pemuda penerus bangsa ini. Selain itu, akses informasi yang bebas melalui internet banyak disalahgunakan oleh para mahasiswa. Mereka mengabiskan waktu luang hanya untuk ber-sosial network, bermain game online maupun hal-hal kurang bermanfaat yang menyebabkan mereka menjadi apatis terhadap masa depan bangsa yang seharusnya ada di tangan mereka dan terhadap lingkungan sekitarnya. Kewajiban belajar sebagai mahasiswa menjadi dinomor sekian-kan. Padahal jika mahasiswa mampu memanfaatkan globalisasi untuk membantu proses belajar, pasti kemajuan peradaban bangsa Indonesia akan dapat segera terwujud. Ini artinya, era globalisasi memang mepunyai pengaruh yang sangat besar terhadap proses belajar mahasiswa.

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, penelitian ini merumuskan dua masalah yaitu :

1. Mengapa gaya hidup bisa mempengaruhi proses belajar?

2. Bagaimana dampak gaya hidup era globalisasi dalam proses belajar?

1.3 Tujuan Penelitian

Secara khusus tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Untuk mengidentifikasi mengapa gaya hidup bisa berdampak pada proses belajar mahasiswa.

2. Untuk mengidentifikasi bagaimana dampak gaya hidup era globalisasi dalam proses belajar mahasiswa.

(5)

2.1 Jenis dan sumber data

Jenis penelitian yang kami gunakan dalam penelitan ini adalah metode kualitatif dengan sumber data hasil studi pustaka, wawancara dan focus group discussion (FGD).

Wawancara merupakan pertemuan antara dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab sehingga dapat dikontruksikan makna dalam suatu topik tertentu (Esterberg, 2002). Wawancara merupakan alat mengecek ulang atau pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang diperoleh sebelumnya dari hasil studi pustaka. Pada metode wawancara ini, kami menggunakan 14 responden yaitu 10 dari mahasiswa dan 4 dari kalangan dosen di FEB UNAIR yang akan kami bagi menjadi beberapa variabel berdasarkan klasifikasi usia dan pendidikan. Dengan begitu hasil wawancara akan semakin lengkap dan beragam karena data diperoleh dari cara pandang dan cara pikir yang berbeda.

(6)

tingkatan persepsi dan kebiasan tertentu, sesuai dengan pemikiran masing-masing pihak. Namun dari hal ini didapatkan suatu data yang lebih bersifat deskriptif dan menyeluruh.

FGD kami lakukan pada hari Jum’at, 7 Oktober 2011, pukul 09.30 – 11.30 WIB, bertempat di LPES FEB Unair. Tujuannya adalah untuk memperoleh informasi mendalam pada konsep, persepsi dan gagasan. Kami melakukan focus group discussion (FGD) dengan 5 dosen di lingkungan FEB Unair. Hasil dari penelitian yang disajikan hanya meliputi dampak gaya hidup di era globalisasi dalam proses belajar mahasiswa.

(7)

3.1 Globalisasi dan Imperialisme

Dari hasil wawancara yang telah kami lakukan kepada 10 mahasiswa, mengatakan bahwa seluruh responden mengetahui tentang globalisasi. Inti dari definisi globalisasi yang responden ketahui adalah sebuah keadaan dimana perkembangan informasi tersebar dengan luas tanpa ada batas antara satu Negara dengan Negara lain yang bisa mempengaruhi gaya hidup penduduk di Negara tersebut.

Sedangkan hasil wawancara dengan 4 dosen sebagai responden, seluruhnya mengatakan bahwa mereka juga mengetahui tentang globalisasi. Inti dari definisi globalisasi menurut para dosen adalah sebuah proses yang mendunia dimana nilai, budaya, dan lain-lain membaur menjadi satu yang dalam proses penyebarannya antara satu Negara dengan Negara yang lain tidak ada batas (borderless).

Sedangkan untuk dampak positif, sebagian responden yang merupakan mahasiswa mengatakan bahwa dengan adanya globalisasi kita bisa mendapatkan informasi lebih banyak dengan sumber yang luas dan dalam waktu yang cepat serta kita juga bisa mengenal kebudayaan dari Negara lain. Kemudian ada juga 3 responden yang mengatakan bahwa globalisasi seharusnya bisa memacu kita untuk selalu berinovasi agar tidak kalah bersaing dengan Negara lain. Tapi sayangnya, kita malah terpengaruh dan terlena oleh globalisasi. Sedangkan untuk dampak negatif globalisasi secara umum, jika kita tidak siap, maka kita bisa dengan mudah terpengaruh oleh budaya-budaya asing yang belum tentu budaya tersebut cocok apabila diterapkan di kehidupan kita.

(8)

Sebagian besar mahasiswa juga mengatakan setuju kalau sebenarnya globalisasi saat ini merupakan bentuk neo imperialisme dari Negara - Negara maju terhadap Negara - Negara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Negara - Negara maju tersebut memandang bahwa kualitas sumber daya manusia yang dimiliki oleh Indonesia ini masih rendah, sedangkan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia sangat melimpah. Sehingga timbul keinginan dari Negara -Negara maju untuk menguasai sumber daya alam milik Indonesia dengan cara mengubah pola pikir dan gaya hidup sumber daya manusia Indonesia ini menjadi berkiblat pada Negara maju. Dengan begitu, ketika sumber daya alam Indonesia banyak dikuasai oleh Negara-negara maju, mereka justru merasa bangga karena yang menguasai adalah Negara - Negara yang mereka jadikan panutan dalam bergaya maupun berperilaku. Namun ada 3 responden yang tidak setuju dengan pernyataan bahwa globalisasi sekarang ini merupakan bentuk neo imperialisme dikarenakan itu semua tergantung dari bagaimana kita memanfaatkan globalisasi tersebut. Apabila kita bisa memanfaatkan globalisasi itu dengan baik dan kita tidak terpengaruh oleh budaya - budaya dari Negara - Negara maju, maka bisa dikatakan kalau kita tidak akan menjadi korban dari dampak - dampak negatif globalisasi tersebut.

Dari sudut pandang dosen, hanya ada 2 dosen yang mengatakan setuju bahwa globalisasi hanyalah neo-imperialisme, dengan alasan karena tujuan Negaranegara maju tersebut hanyalah untuk merusak penduduk di Negara -Negara berkembang, jika kita tidak siap maka kita akan tergerus oleh arus globalisasi. Sedangkan 2 dosen yang lain mengatakan tidak setuju dengan pernyataan bahwa globalisasi saat ini adalah sebagai bentuk neo imperialisme dari Negara - negar maju. Dengan alasan, globalisasi itu merupakan pertemuan antar budaya internasional, tergantung bagaimana kita memanfaatkannya. Ada 2 kemungkinan yang diakibatkan dari globalisasi, yang pertama hal itu akan memotivasi kita. Sedangkan yang kedua dapat menyebabkan hilangnya jati diri kita sebagai rakyat Indonesia.

(9)

tempat penjualan barangbarang dari Negara maju. Adanya serbuan produk -produk dari luar negeri yang masuk ke Indonesia membuat produsen - produsen kecil dari dalam negeri menjadi mati karena rakyat Indonesia sekarang ini jiwa nasionalismenya masih rendah. Sehingga mereka akan merasa lebih bangga apabila mereka membeli produk dari luar negeri daripada produk dari Indonesia sendiri. Padahal seharusnya dengan masuknya berbagai produk dari luar negeri tersebut bisa dijadikan sebagai motivasi bagi para produsen untuk lebih berinovasi dalam menciptakan barang-barang buatan dalam negeri sehingga barang - barang mereka juga bisa bersaing dengan produk-produk dari luar negeri. Contohnya China, meskipun China merupakan Negara berkembang tetapi produk-produknya mampu bersaing dengan produk-produk dari Negara maju.

Sedangkan menurut pandangan dari 4 dosen menanggapi pernyataan bahwa globalisasi hanya akan membuat Negara berkembang seperti Indonesia ini semakin dirugikan karena hanya dimanfaatkan saja oleh Negara maju sebagai tempat penjualan barang-barang dari Negara maju, keempat responden mengatakan bahwa seharusnya hal ini bisa dijadikan tantangan bagi para produsen dalam negeri maupun bagi pemerintah. Bagi para produsen, seharusnya hal ini bisa dijadikan motivasi bagi mereka untuk lebih berinovasi lagi dalam menciptakan barang – barang yang menpunyai daya saing dengan produk – produk dari luar negeri serta mempunyai nilai jual yang tinggi. Sedangkan bagi pemerintah seharusnya hal ini bisa memacu kinerjanya untuk membantu para produsen dan pengusaha dalam negeri agar mereka mampu bersaing dengan produk dari luar negeri sehingga mereka tidak kalah, karena apabila mereka kalah bersaing maka lama kelamaan usaha mereka juga pasti akan bangkrut. Karena pasti ada resiko globalisasi dalam persaingan pasar global.

(10)

Indonesia, maka kita pasti juga bisa menjadi produsen, dan tidak hanya menjadi konsumen dari barang-barang yang masuk ke Indonesia.

3.2 Peran Pemuda

Berdasarkan hasil wawancara yang telah kami lakukan kepada para mahasiswa, semua responden mengatakan bahwa peran pemuda di setiap perkembangan zaman ini sangatlah penting. Itu dikarenakan pemuda adalah sebagai agent of change yang memiliki gagasan-gasasan baru, daya juang dan semangat yang tinggi. Selain itu pemuda adalah calon pemimpin dan penerus bangsa kelak, sehingga masa depan bangsa Indonesia ini ada di tangan para pemuda.

Sedangkan menurut pandangan dari para dosen, mereka juga berpendapat bahwa peran dari pemuda sangat penting karena dari pergerakan pemudalah sehingga terbentuk visi dari Indonesia. Pemuda adalah sebagai koordinator dari setiap perubahan yang terjadi. Itulah sebabnya peran pemuda dalam perkembangan zaman ini sangatlah penting karena pemuda adalah penerus bangsa ini kelak. Maju atau tidaknya sebuah Negara kelak, tergantung dari bagaimana pemuda di Negara tersebut di zaman sekarang.

3.3 Peran dan Gaya Hidup Mahasiswa

(11)

dirinya agar tidak terpengaruh oleh dampak negatif yang bisa ditimbulkan dari adanya globalisasi.

Apabila dilihat dari sudut pandang dosen, maka peran mahasiswa dalam memajukan peradaban Indonesia di era globalisasi saat ini dirasa masih kurang meskipun akhir-akhir ini banyak juga mahasiswa yang berprestasi di level internasional. Hal ini dikarenakan sebagian besar mahasiswa masih kurang menggali soft skillnya dan hanya sebagian kecil mahasiswa yang mampu menggali soft skillnya sehingga mereka mampu menjadi mahasiswa yang berprestasi.

Menurut para dosen, ada beberapa hal yang menjadi penyebab mengapa mahasiswa di Indonesia ini masih kurang menggali soft skillnya. Salah satunya adalah karena gaya hidup kebanyakan mahasiswa saat ini terpengaruh oleh gaya hidup dari Negara-negara barat yang kebanyakan beraliran liberalisme sebagai akibat dari globalisasi. Hal ini mengakibatkan mahasiswa menjadi tidak punya visi yang jelas tentang dirinya, mahasiswa hanya ingin segala sesuatunya itu instan, mereka tidak ingin berusaha lebih keras lagi. Selain itu, mahasiswa sekarang juga cenderung bersifat hedonis dan materialistis sebagai akibat negatif dari adanya globalisasi itu sendiri.

Dampak dari gaya hidup yang cenderung kearah hedonisme, konsumtif, dan apatis tadi tentu saja sangat mengganggu proses belajar mahasiswa karena dengan gaya hidup yang seperti itu mereka berfikir bahwa kuliah itu adalah sebagai tempat untuk bermewah – mewahan dan juga sebagai ajang untuk pamer barang – barang mewah. Bukan untuk menuntut ilmu yang seharusnya menjadi tujuan utama bagi setiap mahasiswa. Hal ini apabila dibiarkan berlarut – larut tentu akan bisa merusak mahasiswa itu sendiri dan bahkan bisa saja sikap seperti itu menular kepada mahasiswa – mahasiswa yang lain sehingga kedepannya bangsa Indonesia juga yang akan dirugikan.

3.4 Globalisasi dan Proses belajar Mahasiswa

(12)

maka tentunya akan ditemukan sebuah perbedaan yang sangat mencolok. Sistem pendidikan di era globalisasi saat ini sudah jauh lebih maju daripada sistem pendidikan sebelum globalisasi berkembang seperti saat ini. Salah satu perbedaan yang sangat mencolok adalah dari segi fasilitas. Untuk mencari informasi dari Negara lain ataupun ilmu – ilmu tambahan, sekarang aksesnya jauh lebih mudah dan jauh lebih cepat dibandingkan dengan dulu sebelum globalisasi. Dulu kalau kita ingin mencari – cari informasi atau kita ingin mencari tambahan ilmu, kita harus pergi ke perpustakaan. Tetapi sekarang, kita tinggal mencari saja di internet.

Sistem pendidikan di Indonesia saat ini lebih menitik beratkan kepada hasil daripada proses. Misalnya saja ketika kita menempuh pendidikan SMA. Selama 3 tahun kita menuntut ilmu, syarat kelulusan kita hanya ditentukan dari hasil UNAS selama 4 hari saja. Tidak peduli apakah selama kita belajar 3 tahun itu kita rajin mengerjakan tugas atau tidak, kita sering membolos atau tidak, yang penting kita bisa mendapatkan hasil UNAS yang baik sehingga kita bisa lulus. Meskipun mungkin saja ketika UNAS itu kita melakukan hal-hal yang dilarang seperti mencontek, dll. Hal ini menjadi sangat ironis ketika justru siswa-siswa yang rajin, yang ketika ujian berlangsung dia mengerjakannya dengan jujur malah tidak lulus karena nilainya di bawah standar kelulusan. Sedangkan siswa yang ketika ujian berlangsung melakukan kecuranagan dan selama sekolah sering membolos justru bisa lulus dengan nilai yang baik. Inilah kelemahan yang sangat mendasar dari sistem pendidikan di Indonesia. Apabila hal seperti ini di biarkan berlarut-larut tanpa ada suatu perubahan yang berarti, maka kedepan pendidikan di Indonesia ini hanya akan menciptakan para generasi pelajar yang terbiasa untuk berbuat curang karena yang terpenting bagi mereka adalah mereka bisa mendapatkan hasil yang bagus tidak peduli bagaimanapun prosesnya, apakah proses yang dia lakukan itu melanggar hukum atau tidak.

(13)

Tetapi, dalam setiap hal selalu ada dampak positif dan dampak negatif yang timbul. Menurut para mahasiswa sendiri, dampak positif dari globalisasi terhadap proses belajar mahasiswa adalah dengan adanya globalisasi, maka mahasiswa menjadi sangat terbantu dalam setiap pengerjaan tugasnya. Hal ini tentu saja membuat mahasiswa bisa menghemat waktu, tenaga dan biaya yang harus dikeluarkan dibandingkan dengan apabila mereka harus mencari secara manual dari toko-toko buku atau pergi ke perpustakaan-perpustakaan.

Sedangkan sisi negatif dari globalisasi khususnya dalam bidang teknologi internet bagi proses belajar mahasiswa adalah apabila mahasiswa itu terlalu bergantung kepada internet, hal ini bisa menyebabkan mahasiswa lebih cenderung berubah menjadi lebih malas, tidak mandiri, dan hanya ingin segala sesuatunya itu bisa dia capai atau bisa dia raih melalui cara yang instan saja tanpa ada usaha.

Menurut para dosen yang telah kami wawancarai, dampak positif dari globalisasi terhadap proses belajar mahasiswa adalah mahasiswa bisa memperoleh informasi yang sebanyak – banyaknya tidak hanya informasi yang berasal dari dalam negeri, tapi juga informasi yang berasal dari luar negeri. Selain itu, dengan globalisasi maka kita bisa tahu berbagai kebudayaan yang ada di Negara – Negara lain di dunia ini, sehingga pengetahuan mahasiswa menjadi bertambah.

(14)

mereka lebih suka untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang sifatnya bersenang-senang.

Ada beberapa solusi yang coba ditawarkan oleh para mahasiswa yang kami wawancarai agar mahasiswa bisa terhindar dari dampak negatif globalisasi sehingga tidak mengganggu proses belajarnya. Yaitu memproteksi diri sendiri dengan meningkatkan iman dan taqwa serta mahasiswa juga harus lebih kritis terhadap setiap informasi yang mahasiswa terima. Mereka harus bisa memilah mana informasi yang memang benar – benar baik bagi mereka, dan mana informasi yang berbau negatif yang bisa mengganggu proses belajarnya. Selain itu mahasiswa juga harus sadar bahwa mereka adalah calon pemimping bangsa kelak, dimana itu berarti bahwa nasib bangsa ini kedepannya ada di tangan kita.

Sedangkan solusi yang ditawarkan oleh dosen untuk mahasiswa agar tidak terpengaruh oleh dampak negatif globalisasi yang bisa berakibat buruk bagi proses belajar mahasiswa adalah mahasiswa harus bisa memilah antara informasi yang positif bagi dirinya dengan informasi yang berbau negatif. Hal ini hanya bisa dilakukan apabila mahasiswa memiliki keimanan yang kuat serta mahasiswa mempunyai sifat yang kritis dan objektif terhadap setiap informasi yang mereka dapatkan dari globalisasi khususnya di bidang internet.

3.5 Hubungan Proses Belajar, Gaya Hidup, dan Globalisasi

Menurut James O, Whittker merumuskan belajar sebagai proses di mana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman. Drs. Slameto merumuskan pengertian tentang belajar, menurutnya belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh sesuatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan.

(15)

Berdasarkan eksperimennya B.F Skinner percaya bahwa proses adaptasi tersebut akan mendatangkan hasil yang optimal apabila ia diberi penguat (reinforce).

Menurut Chaplin dalam Dictionary of psychology, membatasi belajar dengan dua macam rumusan. Rumusan pertama berbunyi, belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman. Rumusan keduanya, belajar adalah proses memperoleh respon-respon sebagai akibat adanya latihan khusus.

Reber dalam kamus susunannya yang tergolong modern, Dictionary of psychology, membatasi belajar dengan dua macam definisi. Pertama, belajar adalah proses memperoleh pengetahuan, biasanya sering dipakai dalam pembahasan psikologi kognitif. Kedua belajar adalah suatu perubahan kemampuan bereaksi yang relatif langgeng sebagai hasil latihan yang diperbuat.

Untuk mengidentifikasi bagaimana hubungan antara proses belajar apakah dipengaruhi oleh dampak gaya hidup, maka kita perlu menelaah, apa itu gaya hidup.

Gaya hidup menurut Kotler (2002: 192) adalah pola hidup seseorang di dunia yang diekspresikan dalam aktivitas, minat, dan opininya. Gaya hidup menggambarkan “keseluruhan diri seseorang” dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

(16)

sehari-hari yang dinyatakan dalam kegiatan, minat dan pendapat yang bersangkutan. Gaya hidup mencerminkan keseluruhan pribadi yang berinteraksi dengan lingkungan.

Dari berbagai definisi di atas dapat disimpulkan bahwa gaya hidup adalah pola hidup seseorang yang dinyatakan dalam kegiatan, minat dan pendapatnya dalam membelanjakan uangnya dan bagaimana mengalokasikan waktu.

Dalam kaitannya dengan globalisasi, gaya hidup identik dengan trend yang ada saat ini. Berdasarkan penelitian yang kami lakukan, ternyata gaya hidup merupakan hasil dari proses globalisasi. Yang mana awal mula munculnya globalisasi adalah pada bidang ekonomi. Dalam pranala Wikipedia didapatkan bahwa globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekedar definisi kerja (working definition), sehingga bergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat. Sedangkan menurut rangkuman dari hasil wawancara yang kami lakukan kepada para mahasiswa dan dosen, mereka berpendapat bahwa globalisasi adalah sebuah keadaan dimana perkembangan informasi tersebar dengan luas tanpa ada batas antara satu Negara dengan Negara lain yang bisa mempengaruhi gaya hidup penduduk di Negara tersebut.

Theodore Levitte merupakan orang yang pertama kali menggunakan istilah Globalisasi pada tahun 1985 yang menunjuk pada politik-ekonomi, khususnya politik perdagangan bebas dan transaksi keuangan.

(17)

cenderung berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia, bahkan berpengaruh terhadap bidang-bidang lain seperti budaya dan agama.

Hal ini sejalan dengan proses awal mula munculnya globalisasi. Yaitu berawal dari ego Amerika Serikat yang ingin menguasai perekonomian dunia. Saat itu, industri-industri di Amerika banyak yang mengambil tenaga kerja dari luar Amerika Serikat itu sendiri dikarenakan upah untuk tenaga kerja yang berasal dari dalam negeri jauh lebih mahal dibandingkan tenaga kerja dari luar negeri. Hal inilah yang akhirnya menjadi cikal bakal terciptanya sebuah globalisasi, sehingga globalisasi itu identik dengan ekonomi.

Liberalisasi juga sangat erat kaitannya dengan globalisasi ekonomi. Dalam perkembangannya, orang-orang yang berdagang menjual produknya dari suatu Negara ke Negara yang lain. Kemudian pedagang tersebut juga membawa pengaruh sosial dan budaya dari Negara asalnya untuk diterapkan kepada penduduk di Negara yang menjadi tujuan dari penjualan produknya. Dari interaksi-interaksi yang dilakukan oleh pedagang dari luar negeri dengan penduduk dari dalam negeri itu bisa menyebabkan timbulnya transformasi budaya. Sehingga hal itu juga bisa merubah perilaku dari orang-orang yang terkait dalam transformasi tersebut, dan perubahan perilaku tersebut cenderung ke arah perubahan yang negatif dikarenakan budaya dari Negara asing tersebut tidak cocok apabila di terapkan di lingkungannya.

(18)

BAB IV Penutup

4.1 Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang kami lakukan menunjukkan bahwa gaya hidup di era globalisasi saat ini sangat berpengaruh pada proses belajar mahasiswa. Dari sisi negatif, gaya hidup seperti hedonisme, konsumerisme, di era globalisasi saat ini, membuat para mahasiswa terlena dan bersikap apatis terhadap masa depannya sendiri maupun masa depan bangsa yang seharusnya berada di tangannya. Bagi mahasiswa yang kaya dan ber-uang bisa mengakses apapun tanpa perlu kualifikasi yang memadai. Sehingga, jangan disalahkan jika kampus pada akhirnya, hanya menjadi catwalk pertunjukkan kekayaan dan kemewahann belaka. Bukan lagi sebagai tempat belajar dan mengajar yang kondusif.

Globalisasi atas nama trend telah mengubah konsep diri dan pola pikir mahasiswa saat ini. Selain itu dampak negatif yang terjadi adalah menyebabkan softskill kerja sama berkurang. Namun di sisi lain, globalisasi juga memiliki dampak positif, yang mana jika hal itu dimanfaatkan dengan baik, maka akan sangat membantu proses belajar mahasiswa. Yang paling penting dari semuanya adalah konsep diri yang ada di dalam diri mahasiswa. Jika seorang mahasiswa memiliki visi hidup dan konsep diri yang benar, maka hal tersebut akan mampu dijadikan benteng pertahanan diri dan filter dalam menghadapi arus globalisasi. Dengan begitu, output dari hasil belajar akan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh tujuan dari pendidikan bangsa ini. Yaitu menciptakan mahasiswa yang mampu berprestasi dan mengharumkan nama Indonesia di level internasional.

4.2 Saran

Agar proses belajar dan output yang diharapkan bisa tercapai, maka perlu adanya integritas dari pendidikan, pihak pemerintah, dan mahasiswa sendiri tentunya dalam mengatasi dampak negatif dari globalisasi.

(19)

Namun sekarang sangat ironis sekali. Sekarang segala sesuatu menjadi lebih mudah, informasi dan ilmu bisa kita dapatkan dimanapun kita berada. Tetapi kebanyakan mahasiswa saat ini kurang memanfaatkannya dengan baik. Salah satu penyebabnya adalah dikarenakan sistem pendidikan saat ini masih belum didesain untuk disesuaikan dengan tingkat kemajuan teknologi, sehingga sistem pendidikan kurang maksimal. Jika dalam pengelolaan sistem pendidikan saat ini bisa disesuaikan dengan kemajuan teknologi yang terus berkembang, maka dari sistem pendidikan tersebut akan mampu menciptakan mahasiswa yang kreatif dan inovatif. Dengan begitu, kedepannya diharapkan dampak–dampak negatif dari globalisasi itu dapat berkurang sehingga tidak mengganggu proses belajar mahasiswa serta bisa tercipta mahasiswa yang mampu bersaing dengan mahasiswa dari Negara lain.

(20)

Daftar pustaka

Syahrul, Ahan. 2011. Intelektual dan Peradaban Masyarakat. Intrans: Malang. Wikipedia. 2011.22 September 2011. Globalisasi. (online).

(http://id.wikipedia.org/wiki/Globalisasi. Diakses 7 Oktober 2011). Anesya, Devania. 2011. 15 Maret 2011. Teknik Pengumpulan Data: Wawancara

dan FGD (Focus Group Discussion). (online).

(http://frenndw.wordpress.com/2011/03/15/teknik-pengumpulan-data-wawancara-dan-fgd-forum-group-discussion/. Diakses 7 Oktober 2011). Parasian Hutagalung, Nimrot, dkk. 2007. Globalisasi Budaya Ditengah Masalah

Identitas Nasional. (online).

( http://feelsafat.files.wordpress.com/2007/12/globalisasi-budaya-ditengah-masalah-identitas-nasional.pdf. diakses 8 Oktober 2011).

____________. 2010. 28 April 2010. Pengertian Gaya Hidup. (online).

(http://www.membuatblog.web.id/2010/04/pengertian-gaya-hidup.html. Diakses 8 Oktober 2011).

Referensi

Dokumen terkait

Bagi mahasiswa Shopping bukan hanya sekedar berbelanja, banyak hal yang bisa dilakukan di Mall sehingga Shopping di Mall telah menjadi gaya hidup bagi sebagian mahasiswa..

Dampak positif dari perpindahan kampus Undip Pleburan ini adalah bertambahnya kemajemukan yang terjadi pada masyarakat Tembalang, semakin banyaknya jumlah teman yang bisa dimiliki,

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa jumlah responden yang dikategorikan sangat hedon sebanyak 6,6%, 82,8% mahasiswa berperilaku hedon sedang, dan mahasiswa

terjadi dalam sebuah kancah, lapangan atau wilayah tertentu. Berdasarkan simpulan hasil penelitian ini adalah 1) faktor yang menyebabkan mahasiswa UNP Kediri

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah peneliti lakukan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut : Dampak gaya hidup konsumtif pada kehidupan

Dampak positif globalisasi ekonomi dari sisi semakin mudahnya diperoleh barang impor yang dibutuhkan masyarakat dan belum bisa diproduksi di Indonesia, alih tehnologi juga bisa

2 implikasi sosial mahasiswa urban unismuh Makassar adalah timbulnya keinginan untuk membeli barang-barang yang bermerk tentunya memberikan sisi positif terhadap kita dimana kota dapat

Dampak lainya dosen sudah merasakan kejenuhan dengan daring, karena dosen kebanyakan terbiasa dengan perkuliahan tatap muka yang langsung berinteraksi dengan mahasiswa dan bisa melihat