• Tidak ada hasil yang ditemukan

ETIKA DALAM FILSAFAT PENDIDIKAN docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ETIKA DALAM FILSAFAT PENDIDIKAN docx"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

ETIKA DALAM FILSAFAT PENDIDIKAN

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

“Filsafat Pendidikan”

Dosen Pengampu:

Titis Thoriquttyas, M.Pd. I

Disusun Oleh:

1. Inayatul Mufarohah 932124616

2. Wahidah Ma’rifatunnisa’ 932124716 3. Ghofur Fajri 932125416 4. Ririn Vepy Zuni Astari 932125516

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM JURUSAN TARBIYAH

(2)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena hanya atas berkah, rahmat, hidayah, dan inayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ Etika dalam Filsafat Pendidikan ” Dengan selesainya makalah ini tidak terlepas dari bantuan banyak pihak yang telah memberikan masukan-masukan kepada penulis. Untuk itu penulis mengucapkan banyak terimakasih

Dalam penyusunan makalah ini, banyak pihak yang turut membantu serta memberikan dorongan pemikiran dan materi. Oleh karena itu, kami menyampaikan ucapan terimakasih yang setulus-tulusnya kepada Pak Titis Thoriquttyas, M.Pd. I, selaku Dosen Mata Kuliah Filsafat Pendidikan dan juga berbagai pihak yang telah memberikan sumbangan dalam penyelesaian makalah ini.

Selanjutnya, kami menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurna. Namun demikian, kami berharap semoga makalah ini bermanfaat dan memberikan sumbangan pengalaman bagi pembacanya.

Kediri, 25 September 2017

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...ii

DAFTAR ISI...iii

BAB I PENDAHULUAN...1

A. Latar Belakang...1

B. Rumusan Masalah...1

C. Tujuan Penulisan...1

BAB II PEMBAHASAN...2

A. Nilai- Nilai Etika...2

1. Pengertian Etika...2

2. Ruang Lingkup Etika...2

3. Teori-teori etika...3

4. Pendekatan dalam etika...5

B. Etika dalam Filsafat Pendidikan...6

BAB III PENUTUP...8

A. Kesimpulan...8

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Etika adalah cabang filsafat yang membahas secara kritis dan sistematis masalah moral. Kajian etika terfokus pada nilai- nilai, norma masyarakat, kebiasaan yang menguraikan perilaku manusia tersebut, dan juga dapat menegaskan mana yang benar dan mana yang buruk.

Dalam perkembangannya, etika sangat mempengaruhi kehidupan manusia, dengan memberi orientasi cara menjalani hidup melalui rangkaian tindakan sehari- hari. Etika tidak mempersoalkan keadaan manusia, tetapi mempersoalkan bagaimana manusia itu harus bertindak.

Filsafat etika sangat besar mempengaruhi pendidikan, karena salah satu tujuan pendidikan adalah untuk mengembangkan perilaku manusia dan menciptakan suatu kepribadian yang mandiri, dinamis dan kreatif. Dari terwujudnya moral seperti itu, menunjukkan terwujudnya target pengembangan sistem pendidikan. Dalam makalah ini, akan dijelaskan mengenai etika – etika dalam filsafat pendidikan.

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud Etika?

2. Bagaimana Posisi Etika dalam Filsafat Pendidikan?

C. Tujuan Penulisan

1. Untuk Mengetahui Pengertian Etika.

(5)

BAB II

mengandung analisis konsep- konsep seperti harus, mesti, benar, salah, serta mengandung pencarian kehidupan yang baik secara moral. Sedangkan menurut terminologis, etika memiliki tiga makna, yakni : a. Etika sebagai kumpulan nilai- nilai atau asas tentang hak dan

kewajiban moral atau akhlak.

b. Etika sebagai nilai- nilai benar atau salah, baik dan buruk yang dianut oleh masyarakat.

c. Etika sebagai ilmu pengetahuan tentang apa yang baik dan buruk serta tentang hak dan kewajiban moral.1

Etika dalam filsafat merupakan bagian dari aksiologi karena berbicara tentang tujuan yang hendak dicapai dalam sgala sesuatu.2 Etika merupakan

teori tentang nilai, dan ilmu kesusilaan yang memuat dasar berbuat sesuatu. Dalam pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana yang benar dan mana yang buruk.

Etika sangat mempengaruhi kehidupan manusia, karena etika memberi manusia itu orientasi cara mereka menjalani hidup melalui rangkaian tindakan sehari- hari. Etika membantu manusia untuk mengambil sikap, maka dari itu etika tidak mempersoalkan keadaan manusia tetapi mempersoalkan bagaimana manusia itu harus bertindak.

Jadi pada intinya, “etika” berarti ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan.

1 Teguh Wangsa Ghandi, Filsafat Pndidikan(Yogyakarta: Ar-Ruz Media, 2016)., 54

(6)

2. Ruang Lingkup Etika

Etika sebagai ilmu memiliki beberapa ruang lingkup kajian, Yakni : a. Etika menyelidiki sejarah dalam berbagai aliran, lama dan baru

tentang tingkah laku manusia.

b. Etika membahas tentang cara- cara menghukum, menilai baik dan buruk suatu pekerjaan.

c. Etika menyelidiki faktor- faktor penting yang mencetak memenuhi, dan mendorong lahirnya tingkah laku manusia.

d. Etika menerangkan mana yang baik dan mana yang buruk.

e. Etika mengajarkan cara- cara yang ditempuh juga untuk meningkatkan budi pekerti ke jenjang kemuliaan.

f. Etika menegaskan arti dan tujuan hidup yang sebenarnya. Sehingga manusia secara aktif dapat mengerjakan kebiasaan yang baik dan menjauhi segala kelakuan yang buruk. 3

Manusia sebagai pendukung nilai dengan kesadarannya memberikan penilaian manakah sesuatu perbuatan yang baik dan yang buruk. Untuk dapat menilai, suatu perbuatan baik atau buruk tentu dia harus tahu suatu perbuatan baik atau buruk yang disebut dengan kesadaran etis atau kesadaran moral.

Kesadaran etis itu potensial ada pada manusia. Kesadaran etis inilah yang akan menjadi indikator bagi manusia untuk memberikan keputusan nilai terhadap sesuatu, yang bernilai baik atau buruk.

3. Teori-teori etika a. Egoisme

Adalah perbuatan yang memberi hasil atau manfaat bagi diri sendiri. Egoisme secara praktis tampak dalam aliran berikut ini.

1) Hedonisme

Hedonisme berarti corak budaya yang lebih mengutamakan kesenangan dalam hati yang bersifat materi. Mereka berpendapat ukuran makmur atau tidaknya suatu kehidupan, bahagia atau tidaknya suatu kehidupan seseorang hanya dapat di identifikasi dengan kesenangan materi.4 Mereka ingin memenuhi keakuannya

(7)

2) Eudaemonisme

Eudaemonisme berarti bahagia atau kebahagiaan yang lebih tertuju pada rasaa bahagia yang bertujuan untuk memperoleh kebahagiaan. Aristoteles berpendapat bahwa kebahagiaan tercapai dalam kegiatan yang merrealisasikan bakat bakat dan kesenangan manusia. Setiap manusia harus hidup dengan mengembangkan bakat dan kemampuan yang ada pada dirinya, sehingga kebahagiaan yang merupakan tujuan itu akan tercapai.

b. Deontologisme

Deontologisme berpendapat baik buruknya suatu tindakan tidak diukur berdasarkan akibat yang ditimbulkannya, tetapi berdasarkan sifat-sifat tertentu dar itindakan dan perbuatan yang akan dilakukan. Bentuk dari Deontologisme ada 2, yaitu:

1) Deontologisme tindakan

Tema sentralnya adalah baik dan buruknya suatu tindakan dapat dirumuskan untuk situasi tertentu dan sama sekali tidak ada peraturan umum.

2) Deontologisme peraturan

Kaidah yang berlaku adalah baik buruknya tindakan diukur pada satu atau beberapa peraturan yang berlaku umum, tidak dilihat dari baik buruknya perbuatan itu

c. Utilitarianisme

Teori ini berpendapat bahwa baik buruknya tindakan seseorang itu diukur dari akibat yang ditimbulkannya, jadi suatu perbuatan dikatakan baik jika membawa manfaat. Sebaliknya, dikatakan buruk jika menimbulkan mudharak.5 Untuk itu paham ini mengatakan agar setiap

orang menjadikan dirinya membawa manfaat sebesar-besarnya. Ada 2 bentuk utilitarianisme:

1) Utilitariaanisme tindakan

bentuk ini menganjurkan agar segala tindakan manusia menghasilkan akibat baik yang sebesar mungkin, semua cara harus ditempuh dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan dari tindakan tersebut.

2) Utilitarianisme peraturan

Bentuk dari utilitarianisme peraturan adalah bertindaklah selalu sesuai dengan kaidah-kaidah, yang penetapannya mengahasilkn

(8)

kelebihan akibat baik yang sebesar mungkin dibandingkan dengan akibat-akibat buruknya.

4. Pendekatan- Pendekatan dalam etika a. Etika deskriptif

Etika deskriptif merupakan pndekatan yang mendeskripsikan tingkah laku moral dalam arti luas seperti adat kebiasaan, anggapan tentang perbuatan baik dan buruk tindakan yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan. Dalam pendekatan ini, etika hanya di paparkan atau diungkapkan secara deskriptif atau apadanya.6

b. Etika normatif

Etika normatif adalah etika yang tidak hanya melukiskan tingkah laku moral sebagaimana adanya, tetapi juga menilai, menjustifikasi dan mengevauasi. Oleh karena itu, nilai baik buruk, salah benar tidak hanya digambarkan atau dideskripsikan tetapi juga dievaluasi.

Etika normatif terbagi menjadi tiga, yaitu etika umum dan etika khusus, etika umum tidak sampai melahirkan kesimpulan etis yang bersifat normatif. Etika khusus diarahkan untuk mematerialisasikan pandangan-pandangan etis kedalam wilayah perilaku keseharian manusia.

c. Metaetika

Meta berarti melebihi dan melampaui. Meta etika bergerak seolah olah pada taraf lebih tinggi dari perilaku etis yaitu pada taraf bahasa yang di gunakan di bidang moral. Pada intinya metaetika berbeda dengan dua pendekatan sebelumnya, jika etika deskriptif bersifat mendeskripsikan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat, etika normatif bersifat memeriksa nilai-nilai etis tersebut maka, metaetika justru lebih tertarik membicarakan sesuatu yang lebih abstrak.7

(9)

B. Posisi Etika dalam Filsafat Pendidikan

Pada hakikatnya, pendidikan mencakup kegiatan mendidik, mengajar, dan melatih. Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai suatu usaha untuk mentransformasikan segala nilai. Jika membahas tentang tujuan pendidikan, akan terkait erat dengan sistem nilai dan norma- norma dalam suatu konteks kebudayaan.

Dalam proses pendidikan, karakter merupakan proses mengukir atau memahat jiwa sedemikian rupa sehingga berbentuk unik, menarik dan berbeda dari yang lain. Membangun karakter harus dibangun mulai dari rumah, sekolah dan kemudian masyarakat dan kita harus siap menghadapi berbagai watak dan karakter dari orang disekitar kita, tetapi ada nilai- nilai umum yang disepakati bersama. Jadi konsep etika merupakan komponen kunci dalam pengambilan keputusan.8

Antara ilmu (pendidikan), dan etika memiliki hubungan erat. Masalah moral tidak dapat dilepas dengan tekat manusia, untuk menemukan kebenaran dan mempertahankan kebenaran diperlukan keberanian moral. Sulit membayangkan jika perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa disertai adanya kendali dari dari nilai- nilai etika agama.

Pendidikan di orientasikan pada upaya menciptakan suatu keperibadian yang mantap dan dinamis, mandiri, dan kreatif tidak hanya pada siswa, tetapi juga pada seluruh komponen yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan. Terwujudnya kondisi mental moral dan spiritual religius menjadi target arah pengembangan sistem pendidikan.

Etika sangat besar mempengaruhi pendidikan, sebab tujuan pendidikan itu adalah untuk mengembangkan perilaku manusia, antara lain afeksi peserta didik. Segala sesuatu yang memiliki sisi keterkaitan, dengan nilai atau memiliki relevansi etis dapat dipandang sebagai etika. Dari terwujudnya moral seperti itu, menunjukkan terwujudnya target pengembangan sistem pendidikan.

(10)

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Etika merupakan teori tentang nilai, dan ilmu kesusilaan yang memuat dasar berbuat sesuatu. Etika merupakan cabang filsafat yang membahas tentang perilaku manusia. Dalam pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana yang benar dan mana yang buruk.

Etika sebagai ilmu memiliki beberapa ruang lingkup kajian, Yakni: Etika menyelidiki sejarah dalam berbagai aliran, lama dan baru tentang tingkah laku manusia, etika membahas tentang cara- cara menghukum,, menilai baik dan buruk suatu pekerjaan, etika menyelidiki faktor- faktor penting yang mencetak memenuhi, dan mendorong lahirnya tingkah laku manusia.

(11)

DAFTAR PUSTAKA

Aripin Banasuru, Filsafat Dan Filsafat Ilmu, Bandung: Alfabeta CV, 2014

Hasan Basri, Filsafat Pendidikan Islam, Yogyakarta: Bandung: CV Pustaka Setia,

2009

Saiful Sagala dan Syawal Gultom, Praktik Etik Pendidikan di Seluruh Wilayah

NKRI, Bandung: Alfabeta, 2011

Tedi Priatna, Etika Pendidikan, Bandung: CV PUSTAKA SETIA,2012

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas, maka untuk memperjelas ruang lingkup pembahasan agar tidak keluar dari alurnya, penelitian ini menfokuskan

Secara khusus kesimpulan dalam peneltian ini adalah (1) Hasil berpikir kritis sebelum diterapkan model Discovery learning dengan persentase 47,36% berada

Lepas dari hal tersebut, permasalahannya adalah produk yang beredar sering tidak memenuhi/tidak sesuai aturan batas kadar thiamin yang ditentukan oleh Farmakope

Maka sebagaimana nilai dan norma sosial, institusi, pranata, atau lembaga sosial akan menjadi pengarah atau ukuran-ukuran yang digunakan oleh masyarakat, sehingga

Jika Lembar Data Keselamatan kami telah diberikan kepada Anda beserta persediaan tinta Asli yang diisi ulang, diproduksi ulang, dan kompatibel atau non-HP, harap diketahui

IDENTIFIKASI MASALAH PERUMUSAN HIPOTESIS PENGUJIAN HIPOTESIS BUAT KESIMPULAN Memahami sumber masalah Merumuskan masalah penelitian Membuat kerangka konsep Merumuskan

KBS01 menjelaskan bahwa masih bingung cara yang disubstitusikan persamaan yang mana, lalu KBS03 mencoba persamaan (1) tapi KBS03 ragu.. Selanjutnya peneliti membenarkan hasil

Sementara walaupun jumlah pemukiman yang ada di Desa Srigading lebih rendah jumlahnya, akan tetapi terdapat beberapa blok pemukiman yang berada sangat dekat dengan