• Tidak ada hasil yang ditemukan

POSITIVISME makalah pertanian poco Koe

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "POSITIVISME makalah pertanian poco Koe"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

POSITIVISME

Positivisme adalah salah satu aliran filsafat modern. Secara umum boleh dikatakan bahwa akar sejarah pemikiran positivisme dapat dikembalikan kepada masa Hume (1711-1776) dan Kant (1724-1804). Hume berpendapat bahwa permasalahan-permasalahan ilmiah haruslah diuji melalui percobaan (aliran Empirisme). Sementara Kant adalah orang yang melaksanakan pendapat Hume ini dengan menyusun Critique of pure reason (Kritik terhadap pikiran murni / aliran Kritisisme). Selain itu Kant juga membuat batasan-batasan wilayah pengetahuan manusia dan aturan-aturan untuk menghukumi pengetahuan tersebut dengan menjadikan pengalaman sebagai porosnya (Ahmad, 2009).

Istilah Positivisme pertama kali digunakan oleh Saint Simon (sekitar 1825). Prinsip filosofik tentang positivisme dikembangkan pertama kali oleh seorang filosof berkebangsaan Inggeris yang bernama Francis Bacon yang hidup di sekitar abad ke-17 (Muhadjir, 2001). Ia berkeyakinan bahwa tanpa adanya pra asumsi, komprehensi-komprehensi pikiran dan apriori akal tidak boleh menarik kesimpulan dengan logika murni maka dari itu harus melakukan observasi atas hukum alam.

(2)

digantikan oleh konsep-konsep abstrak, seperti ‘kodrat’ dan ‘penyebab’. Pada fase ini manusia menjelaskan fenomena-fenomena dengan pemahaman-pemahaman metafisika seperti kausalitas, substansi dan aksiden, esensi dan eksistensi. Dan akhirnya pada masa positif (tahap positivisme) manusia telah membatasi diri pada fakta yang tersaji dan menetapkan hubungan antar fakta tersebut atas dasar observasi dan kemampuan rasio. Pada tahap ini manusia menafikan semua bentuk tafsir agama dan tinjauan filsafat serta hanya mengedepankan metode empiris dalam menyingkap fenomena-fenomena. (Ahmad 2009).

Auguste Comte dilahirkan pada tahun 1798 di kota Monpellir Perancis Selatan. Ayah dan ibunya menjadi pegawai kerajaan dan merupakan penganut agama Katolik yang cukup tekun. Ia menikah dengan seorang pelacur bernama Caroline Massin yang kemudian dia menyesali perkawinan itu. Dia pernah mengatakan bahwa perkawinan itu adalah satu-satunya kesalahan terbesar dalam hidupnya. Dari kecil pemikiran-pemikiran Comte sudah mulai kelihatan, kemudian setelah ia menyelesaikan sekolahnya pada jurusan politeknik di Paris 1814-1816, dia diangkat menjadi sekretaris oleh Saint Simon yaitu seorang pemikir yang dalam merespon dampak negatif renaissance menolak untuk kembali pada abad pertengahan akan tetapi harus direspon dengan menggunakan basis intelektual baru, yaitu dengan berfikir empirik dalam mengkaji persoalan-persoalan realitas sosial.

Pergulatan intelektual dengan Saint Simon inilah yang kemudian membuat pola fikir Comte berkembang. Karena ketidak cocokan Comte dengan Saint Simon akhirnya ia memisahkan diri dan kemudian Comte menulis sebuah buku yang berjudul “System of Positive Politics, Sistem Politik Positif” tahun 1824. Berawal dari pemikiran Plato dan Aristoteles, Comte mencoba menggabungkannya menjadi positivistik (Purwanto, 2008).

Terdapat tiga tahap dalam perkembangan positivisme (Wibowo, 2008), yaitu:

Tempat utama dalam positivisme pertama diberikan pada Sosiologi (positivisme sosial dan evolusioner), walaupun perhatiannya juga diberikan pada teori pengetahuan yang diungkapkan oleh Comte dan tentang Logika yang dikemukakan oleh Mill. Tokoh-tokohnya Auguste Comte, E. Littre, P. Laffitte, JS. Mill dan Spencer.

(3)

merupakan suatu ciri positivisme awal. Dalam Machisme, masalah-masalah pengenalan ditafsirkan dari sudut pandang psikologisme ekstrim, yang bergabung dengan subyektivisme.

Perkembangan positivisme tahap terakhir berkaitan dengan lingkaran Wina dengan tokoh-tokohnya O.Neurath, Carnap, Schlick, Frank, dan lain-lain (positivisme logis). Serta kelompok yang turut berpengaruh pada perkembangan tahap ketiga ini adalah Masyarakat Filsafat Ilmiah Berlin. Kedua kelompok ini menggabungkan sejumlah aliran seperti atomisme logis, positivisme logis, serta semantika. Pokok bahasan positivisme tahap ketiga ini diantaranya tentang bahasa, logika simbolis, struktur penyelidikan ilmiah dan lain-lain

A. PENGERTIAN POSITIVISME

Positivisme berasal dari kata “positif”. Kata positif disini sama artinya dengan faktual, yaitu apa yang berdasarkan fakta-fakta. Menurut positivisme, pengetahuan kita tidak pernah boleh melebihi fakta-fakta. Dengan demikian, maka ilmu pengetahuan empiris menjadi contoh istimewa dalam bidang pengetahuan. Oleh karena itu, filsafat pun harus meneladani contoh tersebut. Maka dari itu, positivisme menolak cabang filsafat metafisika. Menanyakan “hakikat” benda-benda, atau “penyebab yang sebenarnya”, termasuk juga filsafat, hanya menyelidiki fakta-fakta dan hubungan yang terdapat antara fakta-fakta. (Praja, 2005). Jadi, Positivisme adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisik. Positivisme tidak mengenal adanya spekulasi, semua harus didasarkan pada data empiris. Positivisme dianggap bisa memberikan sebuah kunci pencapaian hidup manusia dan ia dikatakan merupakan satu-satunya formasi sosial yang benar-benar bisa dipercaya kehandalan dan dan akurasinya dalam kehidupan dan keberadaan masyarakat.

(4)

pandangan dunianya menjadi doktrin bagi ilmu pengetahuan. Pandangan dunia yang dianut oleh positivisme adalah pandangan dunia objektivistik. Pandangan dunia objektivistik adalah pandangan dunia yang menyatakan bahwa objek-objek fisik hadir independen dari mental dan menghadirkan properti-properti mereka secara langsung melalui data indrawi. Realitas dengan data indrawi adalah satu. Apa yang dilihat adalah realitas sebagaimana adanya. Seeing is believing (Syaebani, 2008).

Tugas khusus filsafat menurut aliran ini adalah mengoordinasikan ilmu-ilmu pengetahuan yang beraneka ragam coraknya. Tentu saja maksud positivisme berkaitan erat dengan apa yang dicita-citakan oleh empirisme. Positivisme pun mengutamakan pengalaman. Hanya saja berbeda dengan empirisme Inggris yang menerima pengalaman batiniah atau subjektif sebagai sumber pengetahuan, positivisme tidak menerimanya. Ia hanya ,mengandalkan pada fakta-fakta.

Menurut Ahmad (2009), Tujuan utama yang ingin dicapai oleh positivisme adalah membebaskan ilmu dari kekangan filsafat (metafisika). Menurut Ernst, ilmu hendaknya dijauhkan dari tafisran-tafsiran metafisis yang merusak obyektifitas. Dengan menjauhkan tafsiran-tafisran metafisis dari ilmu, para ilmuwan hanya akan menjadikan fakta yang dapat ditangkap dengan indera untuk menghukumi segala sesuatu. Hal ini sangat erat kaitannya dengan tugas filsafat. Menurut positivisme, tugas filsafat bukanlah menafsirkan segala sesuatu yang ada di alam. Tugas filsafat adalah memberi penjelasan logis terhadap pemikiran. Oleh karena itu filsafat bukanlah teori. Filsafat adalah aktifitas. Filsafat tidak menghasil proposisi-proposisi filosofis, tapi yang dihasilkan oleh filsafat adalah penjelasan terhadap proposisi-proposisi.

(5)

dengan alam maupun yang berhubungan dengan manusia—sudah ditafsirkan oleh masing-masing ilmu yang berhubungan dengannya, maka tidak ada lagi obyek yang perlu ditafsirkan oleh filsafat. Oleh karena itulah dapat disimpulkan bahwa filsafat bukanlah ilmu.

Satu-satunya tugas yang tersisa bagi filsafat adalah analisa bahasa (tahlîl al-lughah). Tujuan dari analisa ini adalah untuk mencapai kejelasan dan ketelitian, menghindari istilah-istilah dan proposisi-proposisi yang tidak jelas (tidak mempunyai arti) yang banyak didapatkan dalam bahasa (terutama bahasa filsafat), dan untuk memperoleh arti yang detail dari suatu proposisi serta menguji apakah proposisi tersebut sesuai dengan kenyataan atau tidak. Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa filsafat tidak menambahkan sesuatu yang baru bagi pengetahuan kita dan tidak pula memberi tafsiran atas apa yang terjadi di sekitar kita, tapi yang dikerjakan oleh filsafat hanyalah sekedar memberi batasan arti istilah-istilah bahasa untuk menghindari kerancuan.

B. CIRI-CIRI POSITIVISME

Ciri-ciri Positivisme antara lain:

1. Objektif/bebas nilai. Dikotomi yang tegas antara fakta dan nilai mengharuskan subjek peneliti mengambil jarak dari realitas dengan bersikap bebas nilai. Hanya melalui fakta-fakta yang teramati dan terukur, maka pengetahuan kita tersusun dan menjadi cermin dari realitas (korespondensi).

2. Fenomenalisme, tesis bahwa realitas terdiri dari impresi-impresi. Ilmu pengetahuan hanya berbicara tentang realitas berupa impresi-impresi tersebut. Substansi metafisis yang diandaikan berada di belakang gejala-gejala penampakan ditolak (antimetafisika) 3. Nominalisme, bagi positivisme hanya konsep yang mewakili realitas partikularlah yang

nyata.

4. Reduksionisme, realitas direduksi menjadi fakta-fakta yang dapat diamati.

(6)

6. Mekanisme, tesis bahwa semua gejala dapat dijelaskan dengan prinsip-prinsip yang dapat digunakan untuk menjelaskan mesin-mesin (sistem-sistem mekanis). Alam semesta diibaratkan sebagai giant clock work (Syaebani, 2008).

C. POSITIVISME SOSIAL

Positivisme sebagaimana dikembangkan oleh Auguste Comte, biasa digolongkan dalam kategori positivisme sosial. Aliran positivisme jenis ini dikembangkan di Inggris oleh para filsuf, seperti Jeremy Bentham, James Mill, dan John Stuart Mill. Sedangkan di Italia, positivisme sosial dikembangkan oleh Carlo Cattaneo dan Giuseppe Ferrari. Mereka berdua menganggap diri sebagai orang yang melanjutkan karya Gambista Vico, tokoh yang menurut mereka telah menempatkan sains tentang manusia pada pusat kemanusiaan sendiri. Para penganut positivisme sosial di Jerman, seperti Ernest Lassa, Friederich Jodl dan Eugen Duhring, lebih mengacu pada pemikiran Ludwig Feuerbach daripada pemikiran Saint Simon dan August Comte. Walaupun terdapat perbedaan pendapat di antara para penganut positivisme sosial, namun semuanya menaruh kepercayaan besar pada sains, pada kemajuan atas dasar sains, dan pada bentuk pengaturan sosial yang lebih baik sebagai akibat dari kemajuan (Syaebani, 2008).

Positivisme sosial sesungguhnya dirintis oleh Saint Simon dan penulis-penulis sosialistik dan utilitarian yang karya-karyanya juga dekat dengan tokoh besar dalam bidang ekonomi seperti Thomas Maltus dan David Ricardo. Positivisme sosial mengembangkan ilmu terutama untuk mengembangkan organisasi sosial.

a. Filsafat Positivistik Auguste Comte

Auguste Comte memiliki beberapa pemikiran yang sangat berpengaruh dalam aliran filsafat postivisme, beberapa pemikirannya antara lain:

1) Tiga Zaman Perkembangan Pemikiran Manusia

(7)

tiga zaman atau tiga stadia ini merupakan hukum yang tetap. Disini akan dijelaskan tentang ketiga zaman tersebut secara lebih terperinci.

Zaman Teologis

Pada zaman teologis, manusia percaya bahwa di belakang gejala-gejala alam terdapat kekuasaan adikodrati yang mengatur fungsi dan gerak gejala-gejala tersebut. Kuasa-kuasa ini dianggap sebagai makhluk yang memiliki rasio dan kehendak seperti manusia, tetapi orang percaya bahwa mereka berada pada tingkatan yang lebih tinggi dari makhluk insani biasa. Zaman teologis ini sendiri dapat dibagi lagi menjadi tiga periode. Ketiga periode tersebut adalah sebagai berikut:

 Animisme. Tahap animisme ini merupakan tahapan yang paling primitif, karena benda-benda sendiri dianggapnya mempunyai jiwa.

 Politeisme. Tahap ini merupakan perkembangan dari tahap pertama, dimana pada tahap ini manusia percaya pada banyak dewa yang masing-masing menguasai suatu lapang tertentu; dewa laut, dewa gunung, dewa halilintar, dan sebagainya.

 Monoteisme. Tahap ini lebih tinggi dari dua tahap sebelumnya. Karena pada tahap ini, manusia hanya percaya pada satu Tuhan saja.

Zaman Metafisis

Pada zaman ini kuasa-kuasa adikodrati diganti dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang abstrak, seperti misalnya “kodrat” dan “penyebab”. Pada zaman ini metafisika dijunjung tinggi, dan abstraksi kemauan pribadi berubah menjadi abstraksi tentang sebab dan kekuatan alam semesta.

Zaman Positif

(8)

fakta-fakta. Pada zaman terakhir inilah dihasilkan ilmu pengetahuan dalam arti yang sebenarnya.

Hukum tiga zaman ini juga berlaku bagi pertumbuhan manusia. Sebagai anak, manusia berada pada zaman teologis, pada masa remaja ia masuk zaman metafisis, dan pada masa dewasa ia memasuki zaman positif. Demikian pula ilmu pengetahuan berkembang mengikuti ketiga zaman tersebut yang akhirnya mencapai puncak kematangannya pada zaman positif.

2) Susunan ilmu pengetahuan

Ilmu pengetahuan tidak semuanya mencapai kematangan yang sama pada saat yang bersamaan. Oleh karena itu memungkinkan bagi kita untuk melukiskan perkembangan ilmu pengetahuan berdasarkan rumitnya bahan yang dipelajari di dalamnya. Jadi, gejala-gejala dalam ilmu pengetahuan yang paling umum akan tampil terlebih dahulu, baru kemudian disusul dengan gejala-gejala ilmu pengetahuan yang semakin lama semakin rumit atu kompleks dan semakin kongkret. Urutan ilmu pengetahuan tersusun sedemikian rupa sehingga yang satu selalu mengandalkan ilmu pengetahuan yang lahir sebelumnya. Dengan demikian, Comte memulai dengan mengamati gejala-gejala yang paling sederhana, yait gejala-gejala yang letaknya paling jauh dari suasana kehidupan sehari-hari. Urutan dalam penggolongan ilmu pengetahuan Auguste Comte adalah sebagai berikut (Mustansyir, 2001).

 Ilmu Pasti (matematika)

Ilmu pasti merupakan dasar bagi semua ilmu pengetahuan, karena sifatnya yang tetap, abstrak, dan pasti. Dengan metode-metode yang dipergunakan, melalui ilmu pasti, kita akan memperoleh pengetahuan tentang sesuatu yang sebenarnya, yaitu hukum ilmu pengetahuan alam dalam tingkat “kesederhanaan dan ketetapan” yang tertinggi, sebagaimana abstraksi yang dapat dilakukan akal manusia.

 Ilmu Perbintangan (astronomi)

(9)

perbintangan menerangkan bagaimana bentuk, ukuran, kedudukan, serta gerak benda langit seperti bintang, bumi, bulan, matahari, atau planet-planet lainnya.

 Ilmu Alam (fisika)

Ilmu alam merupakan ilmu yang lebih tinggi daripada ilmu perbintangan, maka pengetahuan mengenai benda-benda langit merupakan dasar bagi pemahaman gejala-gejala dunia anorganik. Gejala-gejala dalam ilmu alam lebih kompleks, yang tidaka akan dapat difahami, tanpa terlebih dahulu memahami ilmu astronomi. Melalui pemahaman gejala-gejala fisika dan hukum fisika, maka akan dapat diramalkan dengan tepat semua gejala yang ditunjukkan oleh suatu benda, yang berada pada suatu tatanan atau keadaan tertentu.

 Ilmu Kimia (chemistry)

Gejala-gejala dalam ilmu kimia lebih kompleks daripada ilmu alam, dan ilmu kimia mempunyai kaitan dengan ilmu hayat (biologi) bahkan juga dengan sosiologi. Pendekatan yang dipergunakan dalam ilmu kimia ini tidak hanya melalui pengamatan (observasi) dan percobaan (eksperimen), melainkan juga dengan perbandingan (komparasi).

 Ilmu Hayat (fisiologi atau biologi)

Ilmu hayat merupakan ilmu yang kompleks dan berhadapan dengan gejala-gejala kehidupan. Gejala-gejala dalam ilmu hayat ini mengalami perubahan yang cepat dan perkembangannya belum sampai pada tahap positif pada saat itu. Hal ini berbeda dengan ilmu-ilmu sebelumnya seperti ilmu pasti, ilmu perbintangan, ilmu alam, dan ilmu kimia yang telah berada pada tahap positif. karena sifatnya yang kompleks, maka cara pendekatannya membutuhkan alat yang lebih lengkap.

 Fisika Sosial (sosiologi)

(10)

sesudah ilmu-ilmu lain mencapai kematangan. Oleh karena itu Comte beranggapan bahwa selaku “pencipta” sosiologi, ia mengantar ilmu penhetahuan masuk ke taraf positifnya. Dengan demikian, dalam merancang sosiologi, Comte mempunyai maksud praktis, yaitu atas dasar pengetahuan tentang hukum-hukum yang menguasai masyarakat mengadakan susunan masyarakat yang lebih sempurna .

Klasifikasi ilmu pengetahuan menurut Auguste Comte secara garis besar dapat diskemakan sebagai berikut:

Logika (Matematika Murni)

A. Ilmu Pengetahuan - Astronomi

- Fisika Ilmu Pengetahuan Empiris - Kimia - Biologi - Sosiologi

Metafisika

B. Filsafat

Pada umumnya Filsafat Ilmu Pengetahuan

Pada khususnya

3) Altruisme

Altruisme adalah ajaran Comte yang merupakan kelanjutan dari ajarannya tentang tiga zaman. Altruisme diartikan sebagai menyerahkan diri kepada keseluruhan masyarakat. Bahkan bukan salah satu masyarakat, melainkan I’Humanite, “suku bangsa manusia”, pada umumnya. Jadi, altruisme bukan sekedar lawan dari egoisme.

(11)

semacam pengganti Tuhan. Keilahian baru dari positivisme ini disebut Le Grand Etre, “Maha Makhluk”. Kebaktian untuk Le Grand Etre itu lengkap dengan imam-imam, santo-santo, pesta-pesta liturgi, dan lain-lain. Ini sebenarnya dapat dikatakan sebagai “suatu agama katolik tanpa agama masehi”. Dogma satu-satunya agama ini adalah “cinta kasih sebagai prinsip, tata tertib sebagai dasar, kemajuan sebagai tujuan” (Praja, 2005).

b. Metodologi A. Comte

Bagi Comte untuk menciptakan masyarakat yang adil, diperlukan metode positif yang kepastiannya tidak dapat digugat. Metode positif ini mempunyai 4 ciri (Wibowo, 2008), yaitu :

 Metode ini diarahkan pada fakta-fakta

 Metode ini diarahkan pada perbaikan terus meneurs dari syarat-syarat hidup

 Metode ini berusaha ke arah kepastian

 Metode ini berusaha ke arah kecermatan.

Alat penelitian yang pertama menurut Comte adalah observasi. Kita mengobservasi fakta; dan kalimat yang penuh tautologi hanyalah pekerjaan sia-sia. Tindak mengamati sekaligus menghubungkan dengan sesuatu hukum yang hipotethik, diperbolehkan oleh Comte. Ini merupakan kreasi simultan observasi dengan hukum, dan merupakan lingkaran tak berujung. Eksperimentasi menjadi metode yang kedua menurut Comte. Suatu proses reguler fenomena dapat diintervensi dengan sesuatu lain tertentu. Metode yang ketiga adalah komparasi. Untuk hal-hal yang lebih kompleks seperti biologi dan sosiologi, metode penelitian yang terbaik adalah komparasi.

(12)

c. Sosiologi A. Comte

Comtelah yang pertama-tama menggunakan istilah sosiologi untuk menggantikan istilah phisique sociale dari Quetelet. Comte membedakan antara social statics dan social dynamics. Pembedaan tersebut hanyalah untuk tujuan analisis. Keduanya menganalisis fakta sosial yang sama, hanya saja dengan tujuan yang berbeda, yang pertama menelaah fungsi jenjang-jenjang peradaban, yang kedua menelaah perubahan-perubahan jenjang tersebut.

Comte juga membedakan antara konsep order dan progress. Order terjadi apabila masyarakat stabil berpegang pada prinsip dasar yang sama. Dan terdapat persamaan pendapat. Disebut ada progress, dengan diconothkan ketika muncul ide Protestantisme dan revolusi Perancis (Moehadjir, 2001).

Positivisme Comte mengakui eksistensi dan menolak esensi. Ia menolak setiap definisi yang tidak bisa digapai oleh pengetahuan manusia. Bahkan ia juga menolak nilai (value). Dasar dari pandangan positivistik dari ilmu sosial budaya tersebut yakni adanya anggapan bahwa (a) gejala sosial budaya merupakan bagian dari gejala alami, (b) ilmu sosial budaya juga harus dapat merumuskan hukum-hukum atau generalisasi-generalisasi yang mirip dalil hukum alam, (c) berbagai prosedur serta metode penelitian dan analisis yang ada dan telah berkembang dalam ilmu-ilmu alam dapat dan perlu diterapkan dalam ilmu-ilmu sosial budaya. Akibatnya, ilmu sosial budaya menjadi bersifat predictive dan explanatory sebagaimana halnya dengan ilmu alam dan ilmu pasti. Generalisasi-generalisasi tersebut merangkum keseluruhan fakta yang ada namun sering kali menegasikan adanya “contra-mainstream”. Manusia, masyarakat, dan kebudayaan dijelaskan secara matematis dan fisis.

(13)

dengan perkembangan ilmu filsafat yang bersifat ilmiah, Comte melihat kemajuan intelektual yang logis yang melewati ilmu-ilmu sesudahnya, yaitu teologis purba, penjelasan metafisik, dan akhirnya sampai ke terbentuknya hukum-hukum ilmiah yang bersifat positif.

(14)

perasaan yang dibatasi oleh lingkaran yang makin lama makin meluas, dari individu mengikat dan membentuk ikatan emosional bertahap menerus sampai ketahap universal. Prinsip-prinsip Keteraturan Sosial ini sejalan dengan perspektif organiknya. Comte sangat menerima saling ketergantungan yang harmonis antara “bagian-bagian” masyarakat, dan sumbangannya terhadap bertahannya stabilitas sosial. Meskipun keteraturan sosial dapat terancam oleh anarki sosial, moral, dan intelektual, selalu akan diperkuat kembali.

Analisa comte mengenai keteraturan sosial dapat dibagi dalam dua fase. Pertama, usaha untuk menjelaskan keteraturan sosial secara empiris dengan menggunakan metode positif. Kedua, usaha untuk meningkatkan keteraturan sosial sebagai suatu cita-cita yang normative dengan menggunakan metode-metode yang bukan tidak sesuai dengan postivisme, tetapi yang menyangkut perasaan dan juga intelek. Comte lebih tertarik untuk menjelaskan perkembangan evolusi daripada menjelaskan stabilitas keteraturan sosial. konsensus terhadap kepercayaan-kepercayaan serta pandangan-pandangan dasar selalu merupakan dasar utama solidaritas dalam masyarakat. Karena dalam sejarah manusia dominan dipengaruhi oleh cara berpikir teologis sehingga tidak mengherankan kalau agama dilihat sebagai sumber utama solidaritas sosial. Selain itu agama mendorong individu untuk disiplin dalam mencapai tujuan serta mengatasi kepentingan individu dan mempersatukan emosional individu dalam keteraturan sosial. ikatan emosional ini didukung oleh kepercayaan bersama dan partisipasi bersama dalam kegiatan-kegiatan pemujaan. Singkatnya secara tradisional Agama sudah merupakan institusi pokok yang mementingkat altruisme lebih daripada egoisme. Pengaruh masa lampau dalam membentuk opini merangsang individu untuk bertindak spontan menurut cara-cara yang perlu untuk mempertahankan keteraturan social.

(15)

meningkat pembagian kerja yang tinggi, akan sangat ditekan dengan merugikan solidaritas sosial. untuk mencegah timbulnya disintegrasi pembagian kerja, pemerintah harus mengatur pelbagai “bagian” dalam masyarakat itu. Pemerintah itu sendiri, dengan pembagian antara pemimpin dan pengikut, merupakan satu manifestasi pembagian kerja. Comte mengemukakan bahwa pemerintah merupakan suatu gejala social alamiah yang dapat diruntut bentuk dasarnya, sampai pada masyarakat-masyarakat primitif. Tetapi kekuasaan pemerintah akan meluas, begitu masyarakat menjadi lebih kompleks karena pembagian kerja. Meluasnya pemerintahan ini perlu untuk mengimbangi individualisme yang semakin bertambah yang muncul karena meningkatkan pembagian kerja. Dalam analisa mengenai pembagian kerja dan dalam analisanya mengenai fungsi agama yang bersifat interogatif, Comte mendahului beberapa sumbangan utama dari Durkheim.

(16)

moralitas Agama humanitas semakin terperinci. Ditandai dengan bentuk sebuah kalender baru yang dia susun dengan hari-hari tertentu untuk menghormati ilmuwan-ilmuwan besar dan lain-lain yang sudah berjasa dan bekerja demi kemanusiaan. Disamping itu akan ada ritus dan do’a yang disusun untuk menyalurkan hasrat-hasrat individu dan memasukkannya ke dalam the gret being of humanity. Ada juga kultus terhadap kewanitaan dengan dirayakannya perasaan altruistik wanita. Comte sendiri sebagai imam agungnya berlutut didepan altarnya sendiri (sebuah kursi mewah) sambil memegang seikat rambut kepala Clothide de vaux, dan dia mengusulkan supaya kuburnya merupakan tempat ziarah. Apapun kekurangan dan ekses gagasan Comte yang terperinci itu untuk mereorganisasi masyarakat dan mendirikan agama baru, masalah yang dia hadapi sungguh penting, baik menurut titik pandang intelektual maupun moral. Masalah inipun merupakan dilemma bertahun-tahun lamanya antara akal budi lawan emosi, pemahaman intelektual lawan tanggung jawab moral, keteraturan lawan kemajuan. Walaupun banyak pertanyaan yang menyertainya, tidak mungkin kita dapat meninjaunya dari satu perspektif ilmuah (positif) saja, masalah-masalah itu tentunya dapat dibicarakan menurut perspektif humanistik. Ahli ilmu sosial sekarang, yang berpegang pada cita-cita suatu imu sosial yang bersifat objektif, analitis, didasarkan pada data empiris, ditunjuk dan diilhami oleh nilai-nilai moral humanistic, berarti ia setia pada impian “bapak sosiologi” itu (Sopandi, 2009).

d. Bentham dan Mill

Tokoh semasa dengan Comte yang juga memberi landasan positivisme adalah Jeremy Bentham dan James Mill. Menurut keduanya ilmu yang valid adalah ilmu yang dilandaskan pada fakta. Ethik tradisional yang dilandaskan pada moral, diganti dengan ethik yang dilandaskan pada motif perilaku, pada kepatuhan manusia terhadap aturan. Mill menolak kekuasaan absolut dari agama. Ia berpendapat bahwa kebebasan manusia itu bagaikan a sacred fortress (benteng suci) yang aman dari penyususpan otoritas apapun. Wawasan ini menjadi marak pada akhir abad ke-20.

(17)

Positivisme evolusioner berangkat dari fisika dan biologi yang menggunakan doktrin evolusi biologis. Doktrin yang digunakan adalah doktrin evolusi biologik. Postivisme evolusioner dipelopori oleh orang-orang seperti Charles Lyell, Charles Darwin, Herbert Spencer, Ernst Haeckel dan Wilhelm Wundt. Seperti penganut positivisme sosial, para penganut positivisme evolusioner juga percaya akan adanya kemajuan. Perbedaan antara mereka terletak pada alasan yang mendasari kemajuan tersebut. Kalau positivisme sosial mendasarkan kemajuan pada gejala perkembangan masyarakat dan sejarah, maka positivisme evolusioner mendasarkan pada alam sebagaimana dapat dikenali oleh fisika dan biologi. Positivisme evolusioner telah meninggalkan suatu warisan bagi dunia pemikiran dewasa ini, berupa gagasan tentang adanya evolusi bersifat universal, satu garis ke depan, berkeseinambungan, niscaya dan pasti bersifat progresif.

a. Herbert Spencer

Konsep evolusi Spencer diilhami konsep evolusi biologik. Dalam konsepnya, evolusi merupakan proses dari sederhana menuju kompleks. Pengetahuan manusia menurut Spencer terbatas pada kawasan fenomena. Agama yang otentik mengungkap kawasan yang penuh misteri, yang tidak diketahui, yang tak terbatas, hal mana yang fenomena tunduk kepada yang misteri. Sebagai perintis sosiologi, Spencer berpendapat bahwa sosiologi merupakan disiplin ilmu teoretik yang mendeskripsikan perkembangan masyarakat manusia. Pandangan tersebut diterima oleh sosiolog positivistik seperti Emile Durkheim. Spencer, dan selanjutnya positivis lainnya menerima penafsiran evolusi yang bersifat hal dan gerak yang materialistik ataupun kesdaran yang spiritualistik (Moehadjir, 2001).

b. Haeckel dan Monisme

(18)

Dalam perkembangannya, konsep evolusioner tersebut diperkaya dengan masuknya unsur kebebasan (Dewey), atau unsur baru dan kreatif (Bergson dan Morgan).

E. POSITIVISME KRITIS

Di samping positivisme sosial dan positivisme evolusioner, juga berkembang apa yang disebut positivisme kritis. Aliran pemikiran ini, yang kadang juga disebut Kantianisme empiris, dipelopori oleh pemikir-pemikir seperti Ernst Mach dan Richard Avenarius. Aliran pemikiran positivisme kritis ini secara historis merupakan pendahulu dari aliran pemikiran kelompok atau lingkungan Wina dan apa yang secara umum disebut empirisme logis, empirisme imliah, neopositivisme atau positivisme logis.

a.Mach dan Avenarius

Pada akhir abad ke-21, postivisme menampilkan bentuk lebih kritis dalam karya-karya Ernst Mach dan Richard Averianus, dan lebih dikenal sebagai empiriocritisisme. Bagi Mach dan Avenarius, fakta (sebagaimana para positivis lainnya memandang), menjadi satu-satunya jenis unsur untuk membangun realitas. Realitas bagi keduanya adalah sejumlah rangkaian hubungan beragam hal inderawi yang relatif stabil. Unsur hal yang inderawi itu dapat berupa fisik maupun psikis. Dengan demikian sesuatu itu adalah serangkaian relasi inderawi, dan pemikiran kita adalah persepsi kita atau representasi dari sesuatu itu.

Teori tentang konsep, hukum ilmiah, dan kausalitas pada positivisme kritis ini berbeda dengan pada positivisme tradisional. Menurut Mach, konsep merupakan abstraksi selektif atas sejumlah fakta yang pemilihannya lebih didominasi oleh yang biologik. Oleh karena minat orang satu berbeda dengan orang lain, maka konsep yang terbentuk pun menjadi berbeda. Ahli hukum, dokter, atau lainnya akan menampilkan konsep yang berbeda karena selektivitas berdasar interesnya akan memberikan warna persepsinya.

b. Pearson

(19)

Mach dan Pearson hendak membebaskan pengertian kausalitas dari konsep paksaan. Konsep fungsi dalam matematik, menurut Mach, dapat dipakai sebagai pengganti konsep sebab. Matematika telah berhasil menggunakan bentuk persamaan untuk menjelaskan tentang sesuatu unsur dapat menjadi fungsi terhadap unsur-unsur lainnya.

c.Petzoldt

Segaris dengan Mach, Joseph Petzoldt mengajukan konsep law of univocal determination sebagai pengganti prinsip kausalitas. Menurut Petzoldt hukum ini memungkinkan orang memilih kondisi mana yang diperkirakan lebih efektif terhadap determinasi suatu fenomena. Pearson menyimpulkan dari konsep deskriptifnya tentang hukum ilmiah nahwa hukum hanya memberikan efek logis, tidak perlu sampai efek fisik. Teori gerak putar planet dengan sendirinya menampilkan keharusan logis gerak putar planet, tetapi tidak mengharuskan dapat diamatinya sekuensi gerak putar yang inderawi. Pandangan postivisme kritis ini menjadi anteseden munculnya neopositivisme, yang juga dikenal sebagai postivisme logis.

F. POSITIVISME LOGIS

Pada tahun 1922 Moritz Schlick—waktu itu professor ilmu-ilmu induktif di Universitas Vienna—mendirikan sebuah perkumpulan yang dikenal sebagai Vienna Circle (Halaqah Vienna). Perkumpulan yang dianggap sebagai penerus Machisme ini diikuti oleh banyak ilmuwan matematika dan fisika, antara lain: Waismann, Neurach, H. Feigl, F. Kaufmann dan Carnap. Kajian-kajian yang diadakan oleh perkumpulan ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Wittgenstein, terutama melalui bukunya yang terkenal, Tractatus Logico-Philosophicus yang terbit pertama kali pada tahun 1922 dalam bahasa Jerman.

(20)

yang dibahas dalam metafisika adalah permasalahan yang berada di luar batas pengalaman manusia sehingga tidak dapat dibuktikan kebenarannya secara empiris (Ahmad, 2009).

Positivisme logis adalah aliran pemikiran dalam filsafat yang membatasi pikirannya pada segala hal yang dapat dibuktikan dengan pengamatan atau pada analisis definisi dan relasi antara istilah-istilah. Fungsi analisis ini mengurangi metafisika dan meneliti struktur logis pengetahuan ilmiah. Tujuan dari pembahasan ini adalah menentukan isi konsep-konsep dan pernyataan-pernyataan ilmiah yang dapat diverifikasi secara empiris.

Tujuan akhir dari penelitian yang dilakukan pada positivisme logis ini adalah untuk mengorganisasikan kembali pengetahuan ilmiah di dalam suatu sistem yang dikenal dengan ”kesatuan ilmu” yang juga akan menghilangkan perbedaan-perbedaan antara ilmu-ilmu yang terpisah. Logika dan matematika dianggap sebagai ilmu-ilmu formal.

Positivisme berusaha menjelaskan pengetahuan ilmiah berkenaan dengan tiga komponen yaitu bahasa teoritis, bahasa observasional dan kaidah-kaidah korespondensi yang mengakaitkan keduanya. Tekanan positivistik menggarisbawahi penegasannya bahwa hanya bahasa observasional yang menyatakan informasi faktual, sementara pernyataan dalam bahasa teoritis tidak mempunyai arti faktual sampai pernyataan-pernyataan itu diterjemahkan ke dalam bahasa observasional dengan kaidah-kaidah korespondensi (Wibowo, 2008).

Postivisme logis menolak yang absolut, karena itu merupakan kebenaran di luar waktu, merupakan sesutau yang transenden, dan itu merupakan ilusi, sesuatu yang tak bermakna. Menurut para positivis ini, dunia abadi itu sesuatu yang tidak dapat dibuktikanada atau tidak adanya. Realisme dan idealisme merupakan tesis ideologis yang tiada makna. Oleh karena itu, postivisme logis juga menolakethik transendental yang berada di kawasan metafisik. Schlik berupaya membebaskan segala bentuk ethik dari kawasan transenden dan menjadikan ethik yang melandaskan pada teori naturalistik. Salah satu teori ethik positivistik adalah emotive theory. Jangan mencuri dimaknai sebagai sesuatu yang diperintahkan bagi kebaikan dirinya ataupun bagi kebaikan masyarakat (Moehadjir, 2001)

(21)

proposisi atau bentuk lain, perlu diverifikasi benar salahnya. Prinsip ini disebut juga sebagai asas verfikasi. Schlick dianggap sebagai orang yang pertama kali mengenalkan asas ini—dalam kalangan Vienna Circle—setelah melakukan diskusi yang panjang dengan Wittgenstein. Secara implisit dalam Tractatus Wittgenstein telah menyatakan penerimaannya terhadap asas verifikasi. Hal inilah yang membuat para pengikut positivisme berpendapat bahwa suatu proposisi (al-qadhîyah) dianggap mempunyai arti hanya apabila proposisi tersebut dapat dibuktikan kebenarannya. Ini sangat erat kaitannya dengan Hume yang membagi proposisi ke dalam dua bagian: pertama, proposisi logis dan matematis; dan kedua, proposisi empiris. Hanya dua jenis proposisi inilah yang dianggap memiliki arti. Oleh karena itulah para pengikut positivisme menolak proposisi-proposisi yang ada dalam metafisika, dengan alasan bahwa proposisi-proposisi tersebut tidak dapat digolongkan ke dalam salah satu dari dua jenis proposisi di atas.

Untuk memperjelas kajian kita, berikut ini akan kita uraikan pengertian proposisi, macam-macamnya, dan beberapa hal penting yang berkenaan dengan itu. Proposisi adalah satuan pemikiran. Dengan istilah lain dapat dikatakan bahwa proposisi adalah batas terkecil dari pembicaraan yang dapat dipahami. Apabila kita membagi-bagi satu kesatuan pemikiran —sebuah makalah misalnya—maka bagian-bagian terkecil dari pemikiran tersebut itulah yang kita namakan sebagai proposisi. Sebenarnya proposisi masih bisa dibagi lagi ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil. Hanya saja bagian-bagian tersebut sudah tidak dapat dikatakan sebagai pemikiran lagi. Bagian terkecil dari pemikiran (proposisi) inilah yang dapat dibuktikan benar atau salahnya. Cara yang digunakan untuk membuktikan bahwa suatu proposisi bernilai benar atau salah sangat tergantung pada jenis proposisinya. Dalam hal ini dikenal dua jenis proposisi, yaitu:

a.Proposisi berita (al-qadhîyah al-ikhbârîyah).

(22)

tambahan dari pengertian cahaya yang sebelumnya sudah kita ketahui. Oleh karena itulah proposisi ini disebut dengan proposisi berita.

Contoh lain dari proposisi jenis ini adalah: “Ahmad Syawqi adalah orang pertama yang menulis drama puitis dalam sastra Arab.” Subyek dari proposisi ini adalah Ahmad Syawqi. Ahmad Syawqi adalah sebuah nama. Dan tidak dengan sendirinya pemilik nama itu adalah orang pertama yang menulis drama puitis dalam sastra Arab. Oleh karena itu, proposisi di atas memberitakan kepada kita sesuatu yang sebelumnya belum kita ketahui.

Cara yang digunakan untuk menghukumi proposisi jenis ini, apakah benar atau salah, adalah dengan kembali pada kenyataan (alam). Sebuah proposisi yang berbunyi: “Gula mencair dalam air”, dapat kita buktikan kebenarannya dengan mengambil sesendok gula dan memasukkannya ke dalam segelas air. Dan karena kenyataan membuktikan bahwa apabila kita memasukkan gula ke dalam air maka dia akan mencair, maka dapat kita simpulkan bahwa proposisi di atas adalah benar. Oleh karena itu, apabila ada proposisi yang berbunyi: “Gula tidak mencair di dalam air”, maka ini adalah proposisi yang salah.

b. Proposisi pengulangan (al-qadhîyah al-tikrârîyah, repetisi)

Yang dimaksud dengan proposisi pengulangan adalah proposisi yang unsur-unsur predikatnya merupakan pengulangan dari unsur-unsur subyeknya. Dengan demikian proposisi jenis ini tidak memberikan pengetahuan baru bagi kita. Misalnya: “Janda adalah perempuan yang pernah menikah.” Proposisi ini tidak memberitakan sesuatu yang baru bagi kita, karena apabila kita ditanya ‘Apakah itu janda?’, kita tidak akan bisa menjawabnya kecuali dengan menyebut sifat yang ada dalam proposisi tersebut, yaitu ‘perempuan yang pernah menikah’. Dengan kata lain lain dapat dijelaskan bahwa subyek dan predikat yang terdapat dalam proposisi pengulangan ini memiliki arti yang sama, hanya saja memiliki susunan kata yang berbeda.

(23)

pernah menikah, maka proposisi di atas adalah benar dan akan salah apabila dikatakan bahwa janda adalah perempuan yang belum menikah, kecuali apabila kita sepakat untuk merubah definisi kata janda.

Seluruh proposisi yang ada ilmu eksakta adalah proposisi berita karena proposisi-proposisi tersebut menggambarkan apa yang terjadi di alam nyata dan sangat erat hubungannya dengan pengalaman. Sedangkan semua proposisi yang ada dalam matematika dan logika adalah proposisi pengulangan karena proposisi-proposisi tersebut hanya merupakan pengulangan susunan kalimat (tahshîl al-hâshil, mengadakan yang sudah ada). Oleh karena itulah, para pengikut positivisme menyatakan bahwa proposisi-proposisi dalam matematika dan logika semuanya bersifat a priori. Namun demikian hal ini tidak lantas menjadikan proposisi-proposisi tersebut keluar dari lingkup pengalaman, tapi justru sebaliknya. Penjelasan dari hal ini adalah bahwa sebenarnya proposisi-proposisi yang ada dalam matematika dan logika itu—dalam bentuk yang sangat abstrak dan umum— menggambarkan hubungan antara satu benda dengan benda yang lain di alam nyata.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa—menurut positivisme logis—suatu proposisi dianggap mempunyai arti hanya apabila proposisi tersebut dapat dibuktikan benar-salahnya, baik dengan menggunakan verifikasi logis (al-tahaqquq al-manthiqî) maupun verifikasi empiris (al-tahaqquq al-tajrîbî). Sementara proposisi yang tidak mungkin dibuktikan salah-benarnya dengan salah satu dari dua jenis verifikasi ini dianggap tidak mempunyai arti.

Hal ini pada gilirannya sangat mempengaruhi ‘apakah sebenarnya yang benar-benar bisa disebut sebagai ilmu?’ Berdasarkan dua jenis proposisi di atas, positivisme membagi ilmu ke dalam dua bagian. Pertama, ilmu-ilmu formal yang mencakup matematika, logika (dalam arti sempit), dan logika terapan. Dan kedua, ilmu aktual yang mencakup ilmu-ilmu eksakta.

(24)

Sedangkan metafisika harus keluar dari lingkaran ilmu. Hal ini disebabkan karena materi yang dibahas dalam metafisika adalah segala sesuatu yang ada di balik alam nyata tapi bukan merupakan bagian dari alam nyata itu. Dan karena manusia tidak dapat menerangkan kecuali sesuatu yang ada di alam nyata, maka proposisi-proposisi yang ada dalam metafisika tidak dapat dikatakan benar atau salah.

Demikian halnya dengan etika dan estetika. Dua yang terakhir disebut ini tidak dapat digolongkan baik ke dalam ilmu-ilmu formal maupun ilmu-ilmu aktual. Alasannya adalah karena keduanya berhubungan erat dengan perasaan. Dan karena setiap orang mempunyai perasaan yang berbeda dengan yang lain, maka proposisi-proposisi yang ada dalam keduanya tidak dapat diuji kebenarannya (Ahmad, 2009)

G. KRITIK TERHADAP POSITIVISME

Pandangan epistemologi Barat yang bersifat antroposentrisme dengan mendistorsi nilai-nilai religi seperti nampak dalam positivisme — menimbulkan ketidakpuasan, baik di kalangan ilmuan muslim maupun ilmuan Barat. Syed Hossen Nasr memaparkan, banyak kalangan yang semakin menyadari bahwa aplikasi ilmu pengetahuan modern yang sebagian besar berasal dari Barat, baik langsung maupun tidak langsung, menimbulkan malapetaka lingkungan sangat nyata yang belum pernah terjadi sebelumnya. Al-Faruqi menjelaskan, sains yang bersifat sekuler-materialistik mengakibatkan ummat saat ini menghadapi masalah yang sangat berat dalam semua aspek. Masalah-masalah ekonomi, sosial, politik yang berpatokan pada standar keilmuan sekuler merupakan puncak gunung es dari krisis yang sangat mendalam pada tingkat intelektual dan moral.

(25)

Mustahilnya Positivisme

Menurut Dzulfikar (2007), doktrin empirisme dan positivisme bersandar pada beberapa proposisi dasar berikut ini:

1) pengalamaninderawi adalah sumber pertama pengetahuan manusia, dan tidak ada pengetahuan rasional apa pun yang mendahului pengalaman.

2) pengalaman inderawi adalah asas satu-satunya untuk menegaskan (men-tashdiq, to assent) kebenaran suatu proposisi. Dalam bentuk ekstrimnya, suatu proposisi dianggap mempunyai makna jika ia dapat ditasdik secara empirik).

3)suatu proposisi, jika mungkin mencapai pengalaman inderawi yang memberi petunjuk tentangnya, meskipun kita tidak memiliki pengalaman seperti itu, mempunyai arti dan perlu dibahas.

Jelas proposisi-proposisi ini mustahi, di sini akan diberikan beberapa bukti yang cukup simpel.

Pertama, karena dalam pengamatan pengalaman apa pun, mau tidak mau kita mesti menerima prinsip non-kontradiksi terlebih dahulu, sehingga kita bisa mengidentifikasi bahwa A=A, dan A bukanlah bukan A. Tanpa menerima prinsip ini terlebih dahulu, yang jelas merupakan prinsip niscaya rasional tak terindera, tidak mungkin mengidentifikasi semua pengalaman indera, sehingga semua pengalaman indera kehilangan maknanya.

Kedua, pengalaman inderawi kehilangan seluruh makna obyektifnya jika tanpa menerima terlebih dahulu prinsip kausalitas. Apa yang diterima mata adalah image/bayangan, bukan benda yang dilihatnya sebagai dirinya sendiri. Prinsip kausalitaslah yang memberikansuatu relasi antara image dengan benda sebenarnya, bahwa image adalah suatu akibat yang disebabkan oleh benda yang dilihat. Tanpa menerima prinsip kausalitas -yang jelas merupakan prinsip niscaya rasional tak terindera - seluruh penangkapan image indera kita tidak memestikan apa pun tentang apa yang diindera.

(26)

Keempat, dan bagaimana mungkin pengalaman inderawi membuktikan kesalahan inheren pada penginderaan dengan dirinya sendiri? Apa beda oase fatamorgana dengan oase sejati bagi indera penglihatan kita? Bagaimana mungkin sesuatu yang mungkin salah membenarkan (men-tashdiq) kebenaran dirinya sendiri?

Kelima, jadi bagaimana mungkin semua eksperimen dilakukan jika keberadaan matter saja tidak mampu ditahkik dan kesalahninheren tak bisa teratasi.

Keenam, danbahkan bukankah semua proposisi yang dinyatakan tersebut tidak dapat diindera?Sehingga jika mereka termasuk pengetahuanprimer (sumber pengetahuan), maka karena proposi pertama mempersyaratkan keter-indera-an sumber-sumber pengetahuan, jelas menurut dirinya sendiri seluruh proposisi ini bukan pengetahuan primer. Atau pun, jika mereka rnerupakan suatuu pengetahuan yang perlu di-tashdiq, proposisi kedua meniadakan kemungkinan untuk men-tashdiq ketiga proposisi ini. Dan, mari kita persilahkan para positivis menjelaskan kemungkinan membenarkan untuk melakukan suatu eksperimen untuk menguji kebenaran ketiga proposisi ini berdasarkan proposisi ketiga.

Ada satu pertanyaan yang penting, mungkin. Kenapa mereka terjebak ke dalam pemikiran senaif itu? Hal ini mungkin saja terjadi karena pemahaman dogmatis keagamaan Eropa pra-Renaissance yang menekan akal manusia dan kemanusiaan membuat akal manusia mencari kemerdekaan dirinya pada zaman Renaissance dengan semangat anti-agama, sebagaimana sebelumnya 'agama' telah menegaskan otoritasnya yang mutlak dan memojokkan 'akal'. Dan ini adalah akar dari sekularisme.

Karl R. Popper: Kritik terhadap Positivisme Logis

Asumsi pokok teorinya adalah satu teori harus diuji dengan menghadapkannya pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidakbenarannya, dan Popper menyajikan teori ilmu pengetahuan baru ini sebagai penolakannya atas positivisme logis yang beranggapan bahwa pengetahuan ilmiah pada dasarnya tidak lain hanya berupa generalisasi pengalaman atau fakta nyata dengan menggunakan ilmu pasti dan logika. Dan menurut positivisme logis tugas filsafat ilmu pengetahuan adalah menanamkan dasar untuk ilmu pengetahuan.

(27)

menghasilkan pengetahuan ilmiah melalui induksi. Tujuan Ilmu Pengetahuan adalah mengembangkan pengetahuan ilmiah yang berlaku dan benar, untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan logika, namun jenis penalaran yang dipakai oleh positivisme logis adalah induksi dirasakan tidak tepat sebab jenis penalaran ini tidak mungkin menghasilkan pengetahuan ilmiah yang benar dan berlaku, karena elemahan yang bisa terjadi adalah kesalahan dalam penarikan kesimpulan, dimana dari premis-premis yang dikumpulkan kemungkinan tidak lengkap sehingga kesimpulan atau generalisasi yang dihasilkan tidak mewakili fakta yang ada. Dan menurutnya agar pengetahuan itu dapat berlaku dan bernilai benar maka penalaran yang harus dipakai adalah penalaran deduktif.

(28)

DAFTAR PUSTAKA

Achmadi, Drs. Asmoro.1997. Filsafat Umum. Ed. 1, cet. Ke-2. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Ahmad, Abu. 2009. Logical Positivisme. http//:philosphisme.blogspot.com. 9 Februari 2009

Dzulfikar. 2007. Kritik Terhadap Positivisme.

http://awaited12th.blogspot.com/2007/06/kritik-positivisme-bahan-kuliah,html. 9

Februari 2009.

Moehadjir, Prof. Dr. H. Noeng. 2001. Filsafat Ilmu: Positivisme, PostPositivisme, dan PostModernisme. Yogyakarta: Rakesarasin.

Mustansyir, Drs. Rizal, M.Hum & Drs. Misnal Munir, M.Hum. 2001. Filsafat Ilmu. Cet.ke-1. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Poedjawijatna, Prof. Ir. 1997. Pembimbing ke Arah Alam Filsafat. Cet. Ke-10. Jakarta: Rineka Cipta.

Praja, Prof. Dr. Juhaya S. 2005. Aliran-Aliran Filsafat dan Etika. Ed. 1. cet. Ke-2. Jakarta: Kencana.

Purwanto, Edi. 2008. Menyelami Dunia Positivisme.

http://jendelapemikiran.wordpress.com/2008/05/14/menyelami-dunia-positivisme-mencari-dunia-post-positifisme/ . 9 Februari 2009.

Sopandi, Cecep. 2009. Perspektif Positivis Comte Tentang Masyarakat.

http://pelajar-islam.or.id/index.php?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=59. 9 Februari 2009

Syaebani. 2008. Filsafat Positivisme dan Ciri-Cirinya.

http://syaebani.blogspot.com/2008/05/filsafat-positivisme-dan-ciri-cirinya.html. 9

Februari 2009.

Syopiansyah, & Ujang Maman. 2009. Sains (Science) dan Dominasi Positivisme.

http://syopian.net/blog/?p=287. 9 Februari 2009

Wibowo, Arif. 2008. Positivisme dan Perkembangannya.

http://staff.blog.ui.edu/arif51/2008/03/31/positivisme-dan-perkembangannya/. 9

(29)

Referensi

Dokumen terkait

Sebagaimana yang telah kita ketahui tujuan didirikannya lembaga pendidikan islam yang tidak lain adalah madrasah untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan pendidikan

Tujuan umum dari penulisan ini adalah untuk memenuhi syarat yang diperlukan guna mencapai gelar Sarjana Hukum pada Universitas Jember, sebagai sarana untuk

Karangan ilmiah merupakan karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis dengan metodologi penulisan yang baik dan benar.. Dimana dalam penulisan

Untuk mencapai tujuan hukum acara pidana, diperlukan bekal pengetahuan ilmu lain bagi aparat penegak hukum agar dapat membantu dalam menemukan kebenaran mareriil. Daktiloskopi

Tujuan pendidikan pada dasarnya adalah membangun dan mengembangkan ketrampilan (skills), pengetahuan (knowledge), dan sikap (attitudes) yang diperlukan mahasiswa

Manusia adalah makhluk yang lemah dibanding makhluk lain namun dengan akal budinya dan kemauannya yang sangat kuat maka manusia dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan

Tujuan seorang pendidik mengembangkan literasi sains peserta didiknya untuk meningkatkan (Kusuma dalam Pertiwi, Atanti, & Ismawati, 2018): 1) pengetahuan dan penyelidikan Ilmu

Tujuan ilmu juga mencapai kebenaran, dengan kata lain, dalam ilmu kita manusia ingin memperoleh pengetahuann yang benar, karena ilmu merupakan pengetahuan yang