• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS KO TEKS DAN KONTEKS DALAM WACAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS KO TEKS DAN KONTEKS DALAM WACAN"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS KO-TEKS DAN KONTEKS

DALAM WACANA TEKS FILM DORAEMON (WTFD)

Oleh: Nurhidayati Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang Alamat Email: [email protected]

Critical discourse analysis is a method of analysis that can lead to a correct understanding of discourse. Among the aspects that determine the validity of discourse analysis is by utilizing the co-text and discourse context. This research aims to describe aspects of the context and contexts that are represented in the text of the film Doraemon. The method of this research is qualitative research, text data taken from transcription of Doraemon movie texts that aired RCTI on every Sunday at 08.00-09.00. The randomly generated text is retrieved. Then the data were analyzed by content analysis techniques, and presented freely informally. The results showed that the co-text aspects that influence the understanding of Doraemon movie text in the form of sentence or speech conversation on the text that precedes and follows which supports the meaning of the text afterwards or before. The context aspect that influences the understanding of discourse of Doraemon film text is in the context of situation and cultural context.

Keywords: co-text, context, discourse, film text, Doraemon.

Analisis wacana kritis merupakan metode analisis yang dapat menghantarkan pada pemahaman wacana yang benar. Di antara aspek yang menentukan kesahihan analisis wacana adalah dengan memanfaatkan aspek ko-teks dan konteks wacana. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan aspek koteks dan konteks yang terrepresentasi pada teks film Doraemon. Metode penelitian ini adalah penelitian kualitatif , data teks diambil dari transkripsi teks film Doraemon yang ditayangkan RCTI pada setiap hari minggu pukul 08.00-09.00. teks yang dijadikan data diambil secara acak. Kemudian data dianalisis dengan teknik analisis isi, dan disajikan secara informal bebas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek ko-teks yang mempengaruhi pemahaman teks film Doraemon berupa kalimat atau tuturan percakapan pada teks yang mendahului dan mengikutnya yang mendukung arti teks sesudahnya atau sebelumnya. Sedang aspek konteks yang mempengaruhi pemahaman wacana teks film Doraemon adalah berupa konteks situasi dan konteks kultural. Kata kunci: ko-teks, konteks, wacana, teks film, Doraemon.

(2)

Doraemon adalah robot kucing laki-laki yang merupakan sahabat setia seorang anak laki-laki cengeng yang bernama Nobita. Doraemon selalu menyediakan apapun yang diinginkan oleh Nobita. Selain itu dalam film ini juga ditampilkan tokoh-tokoh pendukung yang juga merupakan teman-teman Nobita yaitu Giant (anak laki-laki yang tubuhnya besar yang selalu inigin menang), Soneo (anak orang kaya), Sizuka (anak wanita yang disukai Nobita), serta orang tua masing-masing.

Wacana dalam kajian ini dipahami dari 3 dimensi kewacanaan secara simultan, yaitu (1) dimensi teks bahasa, (2) dimensi praksis wacana yaitu aspek yang berkaitan dengan partisipan dan konteks wacana, dan (3) dimensi praksis sosiokultural yaitu perbedaan dimensi sosial masyarakat institusi dan kebudayaan yang menentukan bentuk dan makna sebuah wacana. Wacana ini menarik untuk dikaji berkaitan dengan para pemeran film tersebut yang mempunyai karakter yang bervariasi dan merupakan film yang digemari baik oleh anak-anak maupun remaja.

Dalam menafsirkan suatu kalimat dalam wacana seorang analis wacana selalu dibatasi penafsirannya pada teks sebelum dan sesudahnya yang disebut ko-teks. Setiap teks menciptakan ko-teksnya sendiri. Koteks mempunyai kekuataan untuk menafsirkan wacana, bahkan juga untuk teks yang tidak mempunyai informasi mengenai tempat dan waktu, penutur, dan penerima tuturan. Ko-teks dapat berfungsi untuk merekonstruksikan sekurang-kurangnya bagian tertentu dari konteks fisiknya dan kemudian sampai pada suatu tafsiran mengenai teksnya.

(3)

Dalam menganalisis wacana diperlukan interpretasi untuk dapat memahami maksud yang disampaikan oleh penutur, dengan menggunakan prinsip-prinsip penafsiran yaitu prinsip interpretasi lokal (prinsip lokalitas), dan prinsip analogi. Prinsip interpretasi lokal memberikan tuntunan kepada partisipan tutur/analis wacana untuk tidak menciptakan konteks yang lebih luas dari yang diperlukan agar diperoleh suatu interpretasi yang sangat mendekati maksud aslinya. Prinsip ini sangat tergantung pada kemampuan analis wacana dalam menggunakan dunia luas dari pengalaman masa lampau yang telah dimilikinya untuk menginterpretasikan gaya bahasa yang dijumpainya (Wahab,1990:56).

Adapun prinsip analogi didasarkan pada pengalaman masa lampau yang relevan. Dalam prinsip analogi segala sesuatu diasumsikan seperti dalam keadaan sebelumnya, kecuali jika analis mendapatkan informasi bahwa beberapa aspek telah berubah. Dengan demikian, pemahaman terhadap wacana didasarkan pada pengetahuan pribadi analis wacana berkaitan dengan maksud yang dituturkan, terhadap pribadi dan prilaku penutur, serta terhadap konteks-konteks yang melatarbelakangi munculnya tuturan tersebut.

Dengan mengacu pada pendapat Cooks (1989:9-10) dan Mey (1993:184-185), ko-teks dipahami sebagai lingkungan kebahasaan yang melingkupi suatu wacana, yang dapat berwujud ujaran, kata, kalimat, paragraf, atau wacana. Dengan demikian, dalam menafsirkan sebuah wacana penganalis dibatasi penafsirannya pada teks sebelum dan sesudahnya yang disebut ko-teks. Setiap teks menciptakan ko-teksnya sendiri. Ko-teks mempunyai kekuataan untuk menafsirkan wacana, bahkan juga untuk teks yang tidak mempunyai informasi mengenai tempat dan waktu, penutur, dan penerima tuturan. Ko-teks dapat berfungsi untuk merekonstruksikan sekurang-kurangnya bagian tertentu dari konteks fisiknya dan kemudian sampai pada suatu tafsiran mengenai teksnya.

(4)

yang inheren dan hadir bersama teks. Konteks diungkapkan melalui karakterisasi bahasa yang digunakan penutur. Oleh Halliday, something di atas diolah menjadi

sesuatu yang telah ada dan hadir dalam partisipan sebelum tindak komunikasi dilakukan, karena itu konteks mengacu pada konteks kultural dan konteks sosial yang diidentifikasikan atas ranah, tenor, dan modi (Halliday, 1978:67; Wirth, 1984:95).

Aspek konteks mengacu pada segala latar belakang pengetahuan, situasi, dan teks. Konteks sebagai pengetahuan berkaitan dengan kompetensi komunikasi yang dimiliki bersama oleh penutur dan mitra tutur serta yang menyertai dan mewadai sebuah tuturan. Konteks sebagai situasi berkaitan dengan kompetensi sosial, budaya, dan strategi; dan konteks sebagai teks berkaitan dengan

keberadaan unsur-unsur teks yang bisa dipisahkan, diartikan, dan dimaknai sebagaimana pendapat Schiffrin (1994:66) dan Leech (1983:13-14).

Dalam kajian ini, pemahaman konteks diarahkan pada pengertian sempit dan luas. Dalam pengertian sempit, konteks mengacu pada faktor di luar teks. Sedang dalam pengertian luas, konteks dapat didefinisikan sebagai pengetahuan yang relevan dengan ciri dunia dan ko-teks. Pengetahuan yang relevan dengan ciri dunia berkaitan dengan situasi fisik, situasi sosial dan budaya, penanggap, skemata mereka, dan teks lain (interteks) (Cook,1989:24).

Sesuai dengan pendapat Brown & Yule (1996:35-40), konteks situasi yang akan dideskripsikan menghubungkan kategori-kategori berikut. (1) Ciri-ciri yang relevan dari para peserta: orang-orang, kepribadian pada perbuatan verbal, dan nonverbal para peserta; (2) tujuan-tujuan yang relevan; dan (3) akibat perbuatan verbal. Wacana dalam teks film Doraemon dipandang sebagai satu unit bahasa yang dalam penggunaannya dibentuk oleh struktur dan tekstur tertentu, unit semantis yang kohesif dan koheren, dan proses sosiosemantis yang dilengkapi konteks situasi serta konteks kultural (Halliday & Hasan, 1985:12-25; Brown & Yule, 1996:35).

(5)

pemaknaan rekaman kebahasaan berlangsung (Djajasudarna, 1994:76; Brown & Yule, 1996:7). Teks merupakan manifestasi wacana secara penuh, Recour mendefinisikan teks sebagai “any discours fixed by writing” yang bermakna sekumpulan wacana yang dijalin atau diawetkan melalui tulisan. Tulisan

merupakan medium di mana sekumpulan wacana dijalin yang menurut Ricoueur teks merupakan karya yang merupakan sebuah totalitas singular. Teks juga mengusung ciri-ciri yang melekat pada wacana yaitu berada dalam dialektika peristiwa makna dan dialektika pengertian acuan (Mukalam & Hadi Hardono, 2006).

Hal ini didasarkan pada konsep Van Dijk (1977:94) bahwa pemahaman tentang konteks terhadap suatu teks sangat dibutuhkan sebagai prasyarat untuk menjadikan suatu bentuk ekspresi kebahasaan bermakna. Pengetahuan konteks merupakan bagian dari struktur mental individu dan sistem konvensi interaksional suatu masyarakat.

Dengan mengacu pada pandangan Halliday & Hasan (1985:12-20), konteks sosial wacana yang merupakan lingkungan terjadinya tuturan mencakup (1) medan wacana (field of discourse), (2) pelibat wacana (tenor of discourse), dan (3) sarana /organisasi wacana (mode of discourse).

Medan wacana mengacu pada hal-hal yang terjadi, pada sifat tindakan sosial yang sedang berlangsung, segala sesuatu yang sedang dilakukan para pelibat/peserta yang didalamnya bahasa memegang peranan. Pelibat wacana mengacu pada orang-orang, sifat, kedudukan, serta jenis hubungan peranan. Sarana/organisasi wacana merupakan bagian yang diperankan oleh bahasa seperti penyusunan simbol-simbol tekstual dan fungsinya dalam suatu konteks, salurannya, mode retorikanya misalnya (membujuk, menjelaskan, mendidik, dan sebagainya).

METODE PENELITIAN

(6)

diambil secara acak dari transkripsi teks film Doraemon yang ditayangkan stasiun TV RCTI pada setiap hari Minggu jam 08.00-09.00 pagi.

(7)

KONTEKS WACANA

KONTEKS

SITUASI KONTEKS

KULTURAL

MEDAN WACANA

PELIBAT WACANA

ORGANISASI WACANA

-Sistem budaya - Sistem norma - Sistem artifak yang merupakan pengetahuan, pra-anggapan, dan pikiran bersama Aktivitas/peristiwa sosial:

Apa aktivitasnya? Bagaiman proses dan struktur partisipannya, serta keadaan yang melingkupinya?

Partisipan:

Bentuk partisipasinya Statusnya

Perannya

(8)

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bagian ini dibahas aspek ko-teks dan aspek konteks yang mendukung terciptanya wacana teks film Doraemon. Melalui pemahaman aspek ko-teks dan konteks tersebut pembaca dapat memperoleh pemahaman yang komprehensif terhadap wacana teks film Doraemon.

Para pemeran dalam film Doraemon ini adalah: (1) Doraemon (D), (2) Nobita (N), (3) Ibu (I), (4) Bapak (B), (5) Sizuka (S), (6) Suneo (SN), (7) Giant (G), (8) alat Doraemon (A) (9) penagih koran (PK), dan (10) pedagang keliling (PK) dan yang dimaksud dengan Tt adalah tuturan.

Teks 1 (Film Doraemon 1)

Tt 1. I : Kami mau ke Hokkaido untuk menghadiri pesta pernikahan saudara sepupumu, Sumire.

2. B : Pulangnya besok malam 3. N : Aku juga mau ikut

4. I : Kan kamu nggak boleh bolos sekolah 2 hari. 5. B : Lebih enak tinggal di rumah kan ada Doraemon.

6. I : Iya, benar kalau ditemani Doraemon aku tak perlu cemas. 7. N : Selamat jalan.

Kata kami pada tuturan pertama yang diucapkan oleh ibu Nobita adalah

kami yang mempunyai makna lebih dari satu orang. Hal ini akan bisa dipahami siapa yang dimaksud dengan kami selain ibu Nobita adalah dengan melihat aspek konteks tuturan berupa medan wacana dan pelibat wacana yang pada waktu tuturan tersebut diucapkan ibu Nobita sedang bersama ayahnya dalam keadaan ibu dan bapaknya sudah siap pergi dengan pakaian khusus sambil membawa

perlengkapan koper dan bekal. Pemahaman tuturan kesatu ini juga ditunjang oleh aspek ko-teks yang berupa tuturan kedua yang diucapkan oleh ayah Nobita yang menyatakan bahwa mereka akan pulang dari Hokaido besok malam. Kata nya

(9)

Tuturan 4 yang diucapkan oleh ibu Nobita bisa dipahami bahwa konteks kultural yang melingkupi budaya dan norma para partisipan tuturan tidak menghendaki seorang anak bolos sekolah 2 hari. Adapun tuturan 5 dan 6 dapat dipahami bahwa mereka sudah tahu kehebatan Doraemon sehingga ibu dan ayah Nobita mempercayai Doraemon untuk menemaninya di rumah. Hal ini juga dipertegas oleh aspek ko-teks berupa tuturan 7 yang diucapkan oleh Nobita yaitu dia tidak juga menyangkal akan skemata orang tuanya tentang dapat

dipercayainya Doraemon untuk menemaninya, dan ucapan Selamat jalan

menyatakan bahwa ia sudah siap ditinggal pergi dengan ditemani Doraemon.

Teks pertama tersebut jika sekilas dibaca oleh orang yang tidak

mempunyai pengetahuan tentang siapa Doraemon akan bertanya–tanya siapakah

Doraemon, sehingga orang tua tidak perlu cemas meninggalkan anaknya sendirian karena telah ditemani oleh Doraemon.

Teks II (Film Doraemon 1)

Tt 1. N : Doraemon, ada sesuatu yang menyulitkan!

2. D : Wah, Nobita ada yang perlu dibicarakan. Aku ada urusan mendadak, jadi 2 atau 3 hari aku pergi.

3. N : Tapi...

4. D : Oh ya. Pakai ini saja” Tali Penolong”. Karena tali ini akan menolong apa saja. Sudah ya!

Untuk memahami teks II ini misalnya tuturan 1 tentang apa yang dimaksud dengan sesuatu yang menyulitkan adalah harus dipahami dari ko-teks yang mendahuluinya berupa teks I yang menyatakan bahwa Nobita telah ditinggal pergi oleh orangtuanya selama 2 hari. Tuturan 2 dari Doraemon dapat dipahami dari konteks situasi berupa aspek pelibat wacana yaitu Doraemon yang statusnya sebagai sahabat Nobita yang sudah memahami karakter Nobita yang cengeng sehingga ia tidak menanggapi kesulitan yang dihadapi oleh Nobita, bahkan

Doraemon tidak ingin tahu apa kesulitan yang akan dikatakan oleh Nobita, bahkan dia mengatakan akan meninggalkannya juga. Hal tersebut sesuai dengan

(10)

Tuturan 3 dari Nobita yaitu tapi.... tidak akan bisa dipahami jika tidak mengetahui konteks situasi sebagaimana pendapat Halliday dan Hasan (1989:12-20) yang menyatakan bahwa menurut asumsi pendekatan sosiosemantik, subjek merekayasa piranti konteks menjadi fungsi ideasional, interpersonal, dan tekstual. Dalam tuturan 3 tersebut penutur menggunakan fungsi interpersonal yaitu

merekayasa konteks hubungan peran, status dan hubungan sosial pemakai bahasa untuk memilih unsur-unsur leksis yang tepat, yaitu berupa kata tapi.. Kata tersebut sudah bisa dipahami oleh mitra tuturnya yaitu Doraemon bahwa sahabatnya Nobita pasti membutuhkan bantuan alatnya yang ada pada kantong ajaibnya. Dengan demikian, tuturan 4 dari Doraemon menyatakan bahwa Doraemon telah memberikan alatnya berupa tali penolong yang selanjutnya dia pergi.

Pada seri cerita yang lain dengan judul Kalender yang berubah tanggal,

konteks situasi khususnya yang terkait dengan pelibat wacana ini, sebagaimana terdapat pada kutipan teks berikut.

TEKS III (Film Doraemon 2)

N : Tak lama lagi hari Natal tiba, apa tidak bisa dipercepat? Hai Mon! Rubah kalender?

D : Bisa bisa. Kalender yang berubah tanggal.

Kalau skrupnya diputar, tanggalnya akan berubah.

Teks ketiga tersebut juga merupakan kutipan yang memanfaatkan aspek konteks yang berupa pelibat wacana. Pada teks tersebut yang menjadi pelibat wacana adalah Nobita dan Doraemon yang masing-masing pemeran sudah tahu karakter masing-masing mitra tuturnya. Nobita yang sudah lama menjadi sahabat Doraemon selalu ingin menempuh jalan pintas dan selalu merengek pada

(11)

mengeluarkan kantong ajaibnya sehingga diperoleh alat yang dapat mempercepat waktu.

Pada seri cerita yang lain, yang berjudul Menukar Mama, aspek konteks yang berupa pelibat wacana ini nampak pada kutipan teks film berikut.

Teks IV (Film Doraemon 3)

S : Aku tak salah, yang salah papa. SN : Dari dulu mamaku selalu begitu

N : Sudah tak sayang sudah tak ramah. AA… Malangnya aku, mungkin hanya aku saja.

D : Sudah, kalian tak boleh berkata begitu. Mau tahu sebabnya, segera kita menukar mama.

S : EE…

D : Siapkan foto Ibu kalian, dikocok, cya…cya…, dibagi tiga. Nobita mendapat ibunya Shizuka.

Shizuka mendapat ibunya Suneo Suneo mendapat ibunya Nobita. Bagaimana setuju tidak?

Nah, masukkan masing-masing lembar kasus keluarga. Pulanglah ke Ibu yang baru.

N : Jadi Ibuku diganti ya.

(12)

penelitian Soimah (2013) yang menyatakan bahwa pemahaman wacana dipengaruhi oleh koneks fisik, epistemik, dan sosial.

Teks V (Fil Doraemon 1)

Tt. 1. N : Keterlaluan, keterlaluan, semuanya meninggalkanku sendirian. 2. A : Syuu---sst

3. N : Hugh, menyebalkan, aku nggak mau dihibur olehmu. Ah membosankan sekali. Main di luar juga nggak bisa. Siapa yang mau menggantikanku jaga rumah?

Eh, kamu mau menjaga rumah?

Tapi, tali kan belum pernah menjaga rumah. Nggak apa-apa?

Kalau begitu tolong ya. Tapi aku jadi khawatir.

Untuk memahami teks V tersebut diperlukan pemahaman tentang ko-teks berupa teks yang mendahuluinya. Contoh tuturan 1 bisa dipahami dari ko-teks berupa teks I dan II bahwa yang dimaksud dengan semuanya adalah ibu, bapak (ibu dan ayah Nobita) dan Doraemon yang telah meninggalkan Nobita. Tuturan 2 sulit dipahami jika tuturan itu tidak dikaitkan dengan medan wacana berupa proses dan struktur partisipan, serta keadaan yang melingkupi sebagaimana dinyatakan oleh Halliday dan Hasan (1985:12-15). Medan wacana pada teks V ini menyatakan bahwa Nobita tinggal di rumah dengan hanya ditemani oleh alat Doraemon yaitu berupa tali penolong yang dapat dirujuk dari ko-teks yang ada pada teks II.

Tuturan 2 menyatakan tentang proses bekerjanya alat Doraemon yang pada waktu terjadinya tuturan merupakan bagian dari partisipan yang dapat bersuara, bergerak, dan berpartisipasi serta berperan membantu Nobita dalam menjaga rumah.

Teks VI (Film Doraemon 1)

Tt. 1 PK : Selamat siang. Tagihan koran! Permisi.... Ah tak ada yang di rumah, repot juga nih.

2.A : Derrrt...srut srut...

(13)

Teks VII (Film Doraemon 1)

Tt.1. PK : Permisi, saya pedagang keliling. Apa anda mau belanja? 2. A : Tak perlu apa-apa.

3. PK : Aku tak akan pulang. : Uh.... Aku gagal.

Pada teks VI dapat ditemukan konteks kultural berupa budaya norma di masyarakat Jepang tentang tata cara tagihan koran dan pedagang keliling yang menawarkan barangnya. Konteks situasi pada teks VI dan VII mengacu pada pendapat Brown & Yule (1996:35) yang menjelaskan tentang hubungan kategori-kategori ciri-ciri yang relevan dari para peserta tuturan berupa perbuatan verbal dan nonverbal, serta tujuan-tujuan yang relevan dari tuturan serta akibat dari perbuatan.

Sebagaimana teks VI yang peserta tuturnya adalah manusia dan alat Doraemon. Penagih koran yang tidak menemukan seorangpun di rumah Nobita, akan tetapi dia merasa lega karena telah menemukan apa yang diminta, yaitu uang tagihan koran. Budaya mengucapkan terimakasih selalu melekat meskipun yang ia hadapi bukan manusia.

Teks VIII (Film Doraemon 1)

Tt 1. N : Aman deh... main ke rumah Shizuka ah... 2. SN : Main kasti yuk!

3. G : Ayo ikut!

4. N : Sebel, kalau kalah aku pasti dipukul.

5. G : Hei Nobita! Awas kalau kamu bikin kesalahan! 6. N : Ah... pakai mengancam segala...

: Waa, sudah dipukul tinggi sekali bolanya. : Ini sih nggak bisa ditangkap

7. A : Syut...Tap...plop.

8. N : Kapan kamu datang ke sini? Dan bagaimana menjaga rumahnya? Hah, sudah dikunci?

9. S + G : Tangkapan yang bagus. Permainanmu bagus. Giliranmu memukul sekarang!

10. N : Tolong ya masukkan ke kantong.

11. G : Ini kesempatan, kalau nggak terpukul keterlaluan! 12. N : Lagi-lagi begitu.

(14)

Konteks yang melatarbelakangi teks VIII ini adalah merujuk pada suasana di luar rumah. Tuturan pertama merujuk pada aspek koteks yang dipahami dari wacana pada teks VII yaitu tentang kemampuan alat Doraemon untuk menjaga rumah, melayani penagih koran, dan mengusir pedagang keliling yang bandel. Hal ini sesuai dengan pendapat Cook (1989:9) yang menyatakan bahwa dalam

menafsirkan suatu kalimat dalam wacana seorang analis selalu dibatasi

penafsirannya pada teks sebelum dan sesudahnya yang disebut ko-teks. Ko-teks dapat berupa ujaran, kata, kalimat, paragraf, wacana, atau teks lain.

Tuturan pertama yang diucapkan Nobita dapat dipahami bahwa kalimat ini diucapkan pada konteks fisik dan keadaan Nobita sedang dalam perjalanan ke rumah Shizuka. Hal ini sesuai dengan pendapat Wahab (1990:57-60) bahwa analis wacana memerlukan interpretasi untuk dapat memahami maksud yang

disampaikan oleh penutur dengan menggunakan prinsip interpretasi lokal sehingga tidak menciptakan konteks yang lebih luas dari yang diperlukan. Adapun prinsip analogi dari tuturan pertama dan kedua ini dapat

digambarkan bahwa pada saat Nobita sedang dalam keadaan senang karena akan bermain ke rumah Shizuka (teman perempuan yang disukainya), tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara Suneo dan Giant yang mengajaknya main kasti dengan perkataan yang bernada mengancam.

Berdasarkan aktivitas sosial dan proses kegiatan serta partisipan yang merupakan bagian dari medan wacana dan berdasarkan prinsip analogi dapat dipahami bahwa Nobita sedang dalam keadaan sulit, karena ulah Giant dan Suneo (teman yang selalu mengganggunya) di lapangan kasti. Pada saat sulit tersebut alat Doraemon datang membantunya sehingga permainan berakhir dengan kemenangan Nobita.

Teks IX (Film Doraemon 1)

Tt. 1. N : Kamu benar-benar bisa diandalkan, ya. Shizuka ayo main denganku!

2. S : Aku sedang disuruh Ibu.

(15)

4. S : Tempatnya jauh sekali lho. 5. N : Kamu mau jadi apa? 6. A : Toplak-toplak...

7. N : Dengan kuda lebih cepat. 8. S : Kyaaaa... cepat sekali!

Teks IX dapat dipahami bahwa konteks situasi yang terjadi meliputi aktivitas yang menyenangkan karena penutur dan mitranya adalah pelibat wacana yang mempunyai hubungan akrab dan saling menyukai serta ditambah dengan alat Doraemon yang selalu membantu keperluan mereka. Sesuai dengan pendapat Brown & Yule (1996:35-40), bahwa dalam menganalisis sebuah wacana , konteks situasi yang akan dideskripsikan menghubungkan kategori-kategori berikut. (1) Ciri-ciri yang relevan dari para peserta: orang-orang, kepribadian pada perbuatan verbal, dan nonverbal para peserta; (2) tujuan-tujuan yang relevan; dan (3) akibat perbuatan verbal. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian Riski (2015) bahwa analisis wacana kritis merupakan alat praktis untuk menciptakan pemahaman wacana yang benar.

Tuturan 1 menyatakan tentang kepuasan Nobita terhadap alat Doraemon yang telah membantunya dalam permainan kasti, sebagaimana dapat dilihat pada koteks yang mendahuluinya. Tuturan 2 dapat dipahami dari aspek kultural, di mana norma budaya dari anak yang berbakti pada ibunya yang melekat pada diri pemeran Shizuka ini. Tuturan 5 sebenarnya merupakan penolakan yang halus dari Shizuka. Akan tetapi Nobita yang sangat menyukai Shizuka tidak mau menyerah, ia lalu memanfaatkan alat Doraemon dan mengubahnya menjadi kuda sehingga dapat mengantarkan Shizuka ke tempat yang dituju dengan cepat. Dengan demikian, akhirnya keduanya mempunyai kesempatan bermain bersama.

SIMPULAN

(16)

teks film Doraemon adalah berupa konteks situasi dan konteks kultural. Konteks situasi mengacu pada medan wacana, pelibat wacana, dan organisasi wacana. Medan wacana tertentu mempengaruhi penutur untuk memilih tuturan tertentu sesuai dengan pelibat wacana yang lain. Disamping itu juga aspek skemata atau pengetahuan para pelibat wacana juga mempengaruhi tuturan para pemain film Doraemon ini. Begitu juga konteks kultural dari film tersebut yang menyatakan bahwa norma atau aturan tertentu berlaku di negara tempat pembuatan film tersebut yaitu negara Jepang tentang larangan seorang anak membolos dalam waktu 2 hari, budaya mengucapkan terimakasih, berbakti pada orang tua, serta aspek kultural yang terkait dengan sikap dan sifat para pelibat wacana yaitu sikap dan sifat Shizuka yang baik hati, dan sopan, lembut dan taat pada orang tua, sikap Giant yang kasar, sifat dan sikap Nobita yang cengeng dan selalu mengandalkan pada alat Doraemon.

DAFTAR RUJUKAN

Brown, G. & Yule, G. 1996. Discourse Analisys. Cambridge: Cambridge University Press.

Cook, Guy. 1989. Discourse. Oxford: Oxford University Press.

Djajasudarma, T. Fatimah. 1994. Wacana, Pemahaman dan Hubungan Unsur. Bandung: Eresco.

Halliday, M.A.K. 1978. Language as Social Semiotics. London: University Park Press.

Halliday, M.A.K. Hasan R. 1985. Language, Context, and Text: Aspect of Language in A Social Semaiotic Perspective. London: Oxford University Press.

Leech, G. 1983. Prinsip-Prinsip Pragmatik. Terjemahan oleh: M.D.D. Oka. I. Jakarta: Universitas Indonesia.

Mey, Jacob L. 1993. Pragmatics an Introduction. Oxford: Blackwell Publishers. Mukalam & Hadi Hardono, P. 2006. Teori Interpretation Paul Ricoueur Telaah

tentang Kritiknya atas Hermenutika Romantis dan Strukturalisme. Dalam

Humanioka, 19(2) April 2006. Yogjakarta: Fakultas Ilmu Budaya.

(17)

Schiffrin, D. 1994. Approaches to Discourse. USA: Blackwell Publisher.

Soimah, Ari Rachmawati. 2013.Analisis Wacana Tekstual dan Kontekstual dalam Novel Prawan Ngisor Kreteg Karya Soetarno. Dalam: Jurnal Pendidikan bahasa, Sastra dan Budaya Jawa. Universitas Muhammadiyah Purworejo. Vol. 03/No.04/ November 2013.

Stubbs, M. 1983. Discourse Analysis. Chicago: The University of Chicago Press. Van Dijk, Teun, A. 1977. Text and Context. London: Longman.

Wahab, Abdul. 1988. Linguistik: dari Pra-Sokrates ke Pragmatik. Malang: Penyelenggaraan Pendidikan Pascasarjana Proyek Peningkatan/ Pengembangan Perguruan Tinggi IKIP Malang.

Wahab, Abdul. 1990. Butir-Butir Linguistik. Surabaya: Airlangga University Press.

(18)

LAMPIRAN

Teks Film Doraemon 1:

TEMAN YANG PANJANG DAN PENDEK

I : Kami mau ke Hokkaido untuk menghadiri pesta pernikahan saudara sepupumu, Sumire.

B : Pulangnya besok malam

N : Aku juga mau ikut

I : Kan kamu nggak boleh bolos sekolah 2 hari. B : Lebih enak tinggal di rumah kan ada Doraemon.

I : Iya, benar kalau ditemani Doraemon aku tak perlu cemas.

N : Selamat jalan.

N : Doraemon, ada sesuatu yang menyulitkan!

D : Wah, Nobita ada yang perlu dibicarakan. Aku ada urusan mendadak, jadi 2 atau 3 hari aku pergi.

N : Tapi... Ah membosankan sekali. Main di luar juga nggak bisa. Siapa yang mau menggantikanku jaga rumah?

Eh, kamu mau menjaga rumah?

Tapi, tali kan belum pernah menjaga rumah. Nggak apa-apa?

N : Sebel, kalau kalah aku pasti dipukul.

G : Hei Nobita! Awas kalau kamu bikin kesalahan! N : Ah... pakai mengancam segala...

: Waa, sudah dipukul tinggi sekali bolanya. : Ini sih nggak bisa ditangkap

A : Syut...Tap...plop.

(19)

S + G : Tangkapan yang bagus. Permainanmu bagus. Giliranmu memukul

N : Ya…ya…tak apa-apa. Sekarang aja Bu. Sama saja kan sekarang atau besok. Ayolah Bu.

I : Sabar dong, sekarang kan baru tanggal 22 Desember. Itu hadiah Natal! Sebaiknya sih diberikan pada hari Natal.

N : Aku dapat hadiah Roll Skate.

D : Asyik ya.

N :Kenapa tidak cepat diberikan ya. Aku ingin pakai sepuasnya. Gampang sih, tapi ibu pasti tak akan mengerti.

Hari ini hari Senin, cuaca cerah.Tapi tak bias apa-apa. Tak lama lagi hari natal tiba. Apa tidak bias dipercepat. T : Minggu petang, Apa kabar Anda semua?

I : Hari Minggu?

N : Terlanjur

I : Televisi..tak pantas mengatakan hal yang tak benar.

D : Ya baguskan?

N : Yang penting hadiahnya.

I : Rencananya kita akan beli hari Minggu, tapi semuanya kelupaan. A.. bila dilihat lagi, hari ini benar-benar tanggal 22.

N :Mau shopping, selamat berbelanja. Pasti maubeli skate. … dan seterusnya.

Teks Film Doraemon 3

D : Siapkan foto Ibu kalian semua.

Dikocok cya cya, dibagi 3,NObita dapat ibunya Shizuka. Shizuka mendapat ibunya Suneo.

Soneo mendapat ibunya Nobita.

Bagimana setuju tidak? Seandainya ditukar saja.

(20)

N : Jadi Ibuku diganti ya?

D : Udahlah pulang saja jangan khawatir. N : Ada PR, aku mau ambil buku catatan dulu.

D : E…tunggu tunggu.

I : Oh Nobita. Soneo sedang tak ada di rumah, ada perlu? D : Ini kan sudah jadi rumah Soneo?

Rumahmu di sini sambil mengucapkan salam.

N : Malu ah.

D : Tak apa-apa.

I : Adaapa?

N : Maaf mengganggu.

D : Tidak enak ya?

N : Keringat dingin. Mesti bagaimana nih.

Referensi

Dokumen terkait

tentang perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum, larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu bagi barangsiapa melanggar larangan tersebut,

utama dalam film Shogun tersebut, yaitu John Blackthrone sebagai seorang asing.. yang diangkat menjadi samurai, sedangkan di negara Jepang orang

Dengan kata lain, karena pemahaman yang menjadi acuan utama dari hermeneutika itu sendiri, yaitu makna tersirat yang ada di dalam teks tersebut, terdapat tiga unsur yang

mencakup pengetahuan yang pada umumnya merupakan hasil konsensus, perjanjian, atau aturan yang berlaku dalam disiplin ilmu tertentu. Pengetahuan tentang teknik dan metode

Siswa juga menganalisis norma dan aturan, hak dan kewajiban sebagai warga negara yang diatur dalam konstitusi dan norma yang berlaku, serta dapat mempraktikkannya;

semua norma-norma yang lebih rendah dalam sistem norma hukum tersebut, serta menentukan berlaku atau tidaknya norma- norma dimaksud. Oleh karena Indonesia adalah negara

tentang perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum, larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu bagi barangsiapa melanggar larangan tersebut,

Tesis yang berjudul “Geguritan Kasmaran Analisis Teks dan Konteks” ini disusun guna memenuhi persyaratan mengikuti ujian akhir untuk meraih gelar master pada