BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Pustaka
Dalam tinjauan pustaka, akan dibahas lebih lanjut mengenai Dana Alokasi Umum, Dana Bagi Hasil, Pendapatan Asli Daerah, Belanja Daerah, dan flypaper effect. Penjabaran teori yang melandasi penelitian ini dan beberapa penelitian terdahulu yang telah diperluas dengan tambahan referensi atau keterangan tambahan yang dikumpulkan selama pelaksanaan penelitian.
2.1.1 Dana Alokasi Umum
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, yang dimaksud dengan Dana Alokasi Umum, yang selanjutnya disingkat DAU, adalah dana yang bersumber dari pendapatan negara yang dialokasikan kepada daerah dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antardaerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi, yaitu penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Jumlah keseluruhan DAU ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) , dengan ketentuan (Nordiawan dkk, 2007 : 56) sebagai berikut : 1. Jumlah keseluruhan DAU ditetapkan sekurang-kurangnya 26% dari
2. Proporsi DAU antara provinsi dan kabupaten/kota dihitung dari perbandingan antara bobot urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi dan kabupaten/kota.
3. Jika penentuan proporsi tersebut belum dapat dihitung secara kuantitatif, proporsi DAU antara provinsi dan kabupaten/kota ditetapkan dengan imbangan 10% dan 90%.
DAU bertujuan untuk pemerataan kemampuan keuangan antardaerah yang dimaksudkan untuk mengurangi ketimpangan kemampuan keuangan antardaerah melalui penerapan formula yang mempertimbangkan kebutuhan dan potensi Daerah. DAU suatu daerah ditentukan atas besar kecilnya celah fiskal (fiscal gap) suatu daerah, yang merupakan selisih antara kebutuhan daerah (fiscal need) dan potensi daerah (fiscal capacity). Dalam Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 ini ditegaskan kembali mengenai formula celah fiskal dan penambahan variabel DAU. Alokasi DAU bagi daerah yang potensi fiskalnya besar tetapi kebutuhan fiskal kecil akan memperoleh alokasi DAU relatif kecil. Sebaliknya, daerah yang potensi fiskalnya kecil, namun kebutuhan fiskal besar akan memperoleh alokasi DAU relatif besar. Secara implisit, prinsip tersebut menegaskan fungsi DAU sebagai faktor pemerataan kapasitas fiskal (Penjelasan Undang-Undang Perimbangan).
alokasi dasar dihitung berdasarkan jumlah gaji Pegawai Negeri Sipil Daerah (PNSD). Formula penghitungan DAU adalah:
DAU = Celah Fiskal + Alokasi Dasar di mana,
Celah Fiskal = Kebutuhan Fiskal – Kapasitan Fiskal
berwenang menerbitkan data yang dapat dipertanggungjawabkan, sedangkan kapasitas fiskal daerah merupakan sumber pendanaan daerah yang berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Bagi Hasil (DBH).Yang dimaksud dengan Dana Bagi Hasil adalah dana yang bersumber dari hasil pajak dan Sumber Daya Alam (UU No. 33 Tahun 2004 beserta penjelasannya).
DAU atas dasar celah fiskal untuk suatu provinsi dihitung berdasarkan perkalian bobot provinsi yang bersangkutan dengan jumlah DAU seluruh provinsi. Bobot provinsi merupakan perbandingan antara celah fiskal provinsi yang bersangkutan dan total celah fiskal seluruh provinsi. Dengan formula sebagai berikut:
DAU Provinsi = Bobot Provinsi x DAU Provinsi di mana,
Bobot Provinsi = Celah Fiskal Provinsi / ∑ Celah Fiskal Provinsi.
2.1.2 Dana Bagi Hasil
Berdasarkan UU No.33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, pengertian Dana Bagi Hasil yang kemudian disingkat menjadi DBH adalah “Dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dibagihasilkan kepada Daerah berdasarkan angka persentase tertentu”. Sedangkan menurut Nordiawan (2007:49) Dana Bagi Hasil (DBH) adalah “dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah dengan angka persentase tertentu didasarkan atas daerah penghasil untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Selain karena pertimbangan politis, alasan lain dari pemberian Dana Bagi Hasil ini adalah untuk mengurangi ketimpangan vertikal (vertical imbalance)”. Dua sumber Dana Bagi Hasil adalah pajak dan Sumber Daya Alam. Pajak sendiri terdiri atas Pajak Bumi dan Bangunan ( PBB), Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), serta Pajak Penghasilan (PPh), baik dari Wajib Pajak (WP) orang pribadi dalam negeri maupun dari PPh 21. Sedangkan Dana Bagi Hasil dari Sumber Daya Alam berasal dari kehutanan, pertambangan umum, perikanan, pertambangan minyak bumi, pertambangan gas bumi, serta pertambangan panas bumi.
Pembagian dan mekanisme penghitung Dana Bagi Hasil berdasarkan Undang-Undang Nomor 33 tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah No. 55 tahun 2005 tentang dana perimbangan terdirii atas:
1. Dana Bagi Hasil Pajak
2.1.2.1Dana Bagi Hasil Pajak
a. DBH Pajak Bumi dan Bangunan
Penerimaan Negara dari PBB dibagi dengan imbangan 10% untuk pemerintah pusat dan 90% untuk daerah.
b. DBH Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan
Penerimaan negara dari BPHTB dibagi dengan proporsi 29% untuk pemerintah pusat dan 80% untuk daerah. Dana Bagi Hasil BPHTB untuk daerah sebesar 80%.
c. DBH Pajak Penghasilan
Penerimaan negara dari PPh wajib pajak orang pribadi dalam negeri (WPOPDN) dan PPh 21 dibagikan kepada daerah sebesar 20% dan sisanya, yaitu sebesar 80%, untuk pemerintah pusat. DBH PPh untuk daerah ialokasikan ke provinsi dan kabupaten/kota.
2.1.2.2DBH Sumber Daya Alam
Khusus untuk kondisi dimana sumber daya alam berada pada wilayah yang berbatasan atau berada pada lebih dari satu daerah, penetapan daerah penghasil SDA dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri berdasarkan pertimbangan menteri teknis terkait.
a. DBH Kehutanan
DBH kehutanan dari Iuran Izin Usaha Pemanfaatan Hutan (IIUPH) untuk
daerah sebesar 80%.
DBH kehutanan dari Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) untuk daerah
sebesar 80%.
DBH kehutanan dari dana reboisasi sebesar 40% dibagi kepada
kabupaten/kota penghasil untuk menandai kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan diwilayahnya.
b. DBH Pertambangan Umum
c. DBH Perikanan
Dana Bagi Hasil dari perikanan berasal dari pungutan pengusaha perikanan dan pungutan hasil perikanan. DBH dari perikanan ini adalah sebesar 80% yang dibagikan porsi sama besar untuk seluruh kabupaten/kota.
d. DBH Pertambangan Minyak Bumi
DBH pertambangn minyak bumi sebesar 15,5% berasal dari penerimaan negara Sumber Daya Alam pertambangan minyak bumi dari wilayah kabupaten/kota yang bersangkutan, setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya.
e. DBH Pertambangan Gas Bumi
Penerimaan negara Sumber Daya Alam pertambangan gas bumi dapat berasal dari wilayah kabupaten/kota atau dari wilayah provinsi. Besarnya DBH pertambangan gas bumi adalah 30,5% setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya.
f. DBH Pertambangan Panas Bumi
2.1.3 Pendapatan Asli Daerah
Pemerintah Daerah dalam mengurus rumah tangganya sendiri diberikan sumber-sumber pedapatan atau penerimaan keuangan daerah untuk membiayai seluruh aktivitas dalam rangka pelaksanaan tugas-tugas pemerintah dan pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat secara adil dan makmur. Sebagaimana halnya dengan negara, maka daerah dimana masing-rnasing pemerintah daerah mempunyai fungsi dan tanggung jawab untuk meningkatkan kehidupan dan kesejahteraan rakyat dengan jalan melaksanakan pembangunan disegala bidang sebagaimana yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah pasal 10 yang menyatakan bahwa Pemerintah daerah berhak dan berwenang menjalankan otonomi, seluas-Iuasnya untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan.
Berdasarkan UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pusat dan Daerah Pasal 1 bahwa Pendapatan Asli Daerah, selanjutnya disebut PAD adalah pendapatan yang diperoleh daerah yang dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Adapun sumber-sumber pendapatan asli daerah (PAD) yaitu:
a. Pajak Daerah b. Retribusi Daerah
c. Hasil pengelolaan kekayaan Daerah yang dipisahkan; dan d. Lain-lain PAD yang sah.
2.1.3.1Pajak Daerah
lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap. Berdasarkan UU No. 28 Tahun 2009, jenis pengelolaan pajak terbagi dua, yaitu pajak yang dikelolal provinsi dan pajak yang dikelola kabupaten/kota.
a. Pajak yang dikelola provinsi
Pajak Kendaraan Bermotor adalah pajak atas kepemilikan dan/atau
penguasaan kendaraan bermotor.
Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor adalah pajak atas penyerahan hak
milik kendaraan bermotor.
Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor adalah pajak atas penggunaan
bahan bakar kendaraan bermotor.
Pajak Air Permukaan adalah pajak atas pengambilan dan/atau pemanfaatan
air permukaan.
Pajak Rokok adalah pungutan atas cukai rokok yang dipungut oleh
Pemerintahan.
b. Pajak yang dikelola kabupaten/kota
Pajak Hotel adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh hotel.
Pajak Restoran adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh restoran.
Pajak Hiburan adalah pajak atas penyelenggaraan hiburan.
Pajak Reklame adalah pajak atas penyelenggaraan reklame.
Pajak Penerangan Jalan adalah pajak atas penggunaan tenaga listrik, baik
Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan adalah pajak atas kegiatan
pengambilan mineral bukan logam dan batuan
Pajak Parkir adalah pajak atas penyelenggaraan tempat parkir di luar badan
jalan
Pajak Air Tanah adalah pajak atas pengambilan dan/atau pemanfaatan air
tanah.
Pajak Sarang Burung Walet adalah pajak atas kegiatan pengambilan
dan/atau pengusahaan sarang burung walet.
Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan adalah pajak atas
bumi dan/atau bangunan yang dimiliki, dikuasai, dan/atau dimanfaatkan oleh orang pribadi atau Badan.
Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah pajak atas perolehan
hak atas tanah dan/atau bangunan.
2.1.3.2Retribusi Daerah
Berdasarkan Undang-Undang No. 28 tahun 2009 pasal 108 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Objek Retribusi terbagi atas:
a. Jasa Umum; b. Jasa Usaha
c. Perizinan Tertentu.
a. Jasa Umum
Objek Retribusi Jasa Umum adalah pelayanan yang disediakan atau diberikan Pemerintah Daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau Badan.
Jenis Retribusi Jasa Umum adalah:
Retribusi Pelayanan Kesehatan
Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan
Retribusi Penggantian Biaya Cetak Kartu Tanda
Penduduk dan Akta Catatan Sipil
Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan Mayat
Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum
Retribusi Pelayanan Pasar
Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor
Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran
Retribusi Penggantian Biaya Cetak Peta
Retribusi Penyediaan dan/atau Penyedotan Kakus
Retribusi Pelayanan Tera/Tera Ulang
Retribusi Pelayanan Pendidikan; dan
Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi.
b. Jasa Usaha
Objek Retribusi Jasa Usaha adalah pelayanan yang disediakan oleh Pemerintah Daerah dengan menganut prinsip komersial yang meliputi pelayanan dengan menggunakan/memanfaatkan kekayaan daerah yang belum dimanfaatkan secara optimal dan/atau pelayanan oleh Pemerintah Daerah sepanjang belum disediakan secara memadai oleh pihak swasta.
Jenis Retribusi Jasa Usaha adalah:
Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah
Retribusi Pasar Grosir dan/atau Pertokoan
Retribusi Tempat Pelelangan
Retribusi Terminal
Retribusi Tempat Khusus Parkir
Retribusi Tempat Penginapan/Pesanggrahan/Villa
Retribusi Rumah Potong Hewan
Retribusi Pelayanan Kepelabuhanan
Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga
Retribusi Penyeberangan di Air; dan
c. Perizinan Tertentu
Objek Retribusi Perizinan Tertentu adalah pelayanan perizinan tertentu oleh Pemerintah Daerah kepada orang pribadi atau Badan yang dimaksudkan untuk pengaturan dan pengawasan atas kegiatan pemanfaatan ruang, penggunaan Sumber Daya Alam, barang, prasarana, sarana, atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan.
Jenis Retribusi Perizinan Tertentu adalah:
Retribusi Izin Mendirikan Bangunan
Retribusi Izin Tempat Penjualan Minuman Beralkohol
Retribusi Izin Gangguan
Retribusi Izin Trayek; dan
Retribusi Izin Usaha Perikanan.
2.1.3.3Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan
Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 26 hasil pengelolaan kekayaan milik daerah yang dipisahkan merupakan penerimaan daerah yang berasal dari pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan. Jenis pendapatan tersebut dirinci menurut obyek pendapatan yang mencakup:
a. Bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik daerah/BUMD b. Bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik
pemerintah/BUMN dan
Dalam hal ini hasil laba perusahaan daerah merupakan salah satu daripada pendapatan daerah yang modalnya untuk seluruhnya atau untuk sebagian merupakan kekayaan daerah yang dipisahkan. Maka sewajarnya daerah dapat pula mendirikan perusahaan yang khusus dimaksudkan untuk menambah penghasilan daerah disamping tujuan utama untuk mempertinggi produksi, yang kesemua kegiatan usahanya dititkberatkan kearah pembangunan daerah khususnya dan pembangunan ekonomi nasional umumnya serta ketentraman dan kesenangan kerja dalam perusahaan menuju masyarakat adil dan makmur. Oleh karena itu, dalam batas-batas tertentu pengelolaan perusahaan haruslah bersifat professional dan harus tetap berpegang pada prinsip ekonomi secara umum, yakni efisiensi (Penjelasan atas UU No.5 Tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah).
Penganggaran yang dihasilkan melalui pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan memperhatikan rasionalitas dengan memperhitungkan nilai kekayaan daerah yang dipisahkan dan memperhatikan perolehan manfaat ekonomi, sosial dan/atau manfaat lainnya dalam jangka waktu tertentu, dengan berpedoman pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 52 Tahun 2012 tentang Pedoman Pengelolaan Investasi Daerah. Pengertian rasionalitas dalam konteks hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan yang dimaksud adalah (a) Bagi perusahaan daerah yang menjalankan fungsi pemupukan laba (profit oriented)
kualitas maupun cakupan layanan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat (pemendagri no.37 tahun 2014).
2.1.3.4Lain-Lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah
Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 26, Jenis lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah disediakan untuk menganggarkan penerimaan daerah yang tidak termasuk dalam jenis pajak daerah, retribusi daerah, dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dirinci menurut obyek pendapatan yang mencakup:
Hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan
Jasa giro
Pendapatan bunga
Penerimaan atas tuntutan ganti kerugian daerah
Penerimaan komisi, potongan ataupun bentuk lain sebagai akibat dari
penjualan
Pengadaan barang dan/atau jasa oleh daerah
Penerimaan keuntungan dari selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang
asing
Pendapatan denda atas keterlambatan pelaksanaan pekerjaan
Pendapatan denda pajak
Pendapatan denda retribusi
Pendapatan dari pengembalian
Fasilitas sosial dan fasilitas umum
Pendapatan dari penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan; dan
Pendapatan dari angsuran/cicilan penjualan
Penganggaran Lain-lain PAD Yang Sah meliputi (Pemendagri No.37 tahun 2014 tentang APBD untuk tahun 2015):
Pendapatan hasil pengelolaan dana bergulir sebagai salah satu bentuk
investasi jangka panjang non permanen.
Pendapatan bunga atau jasa giro dari dana cadangan
Pendapatan dana Kapitasi Jaminan Kesehatan Nasional pada
2.1.4 Belanja Daerah
Menurut Renyowijoyo (2010 : 175), belanja daerah diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Perlindungan dan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat dimaksudkan untuk diwujudkan dalam bentuk pelayanan dasar, pendidikan, penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan, fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak, serta mengembangkan sistem jaminan sosial. Belanja daerah harus mempertimbangkan analisis standar belanja, standar harga, tolok ukur kinerja, dan standar pelayanan minimal yang ditetapkan sesuai dengan perundang-undangan.
Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2014 tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, belanja dikelompokkan menjadi:
a. Belanja tidak langsung b. Belanja langsung
2.1.4.1 Belanja Tidak Langsung
Penganggaran belanja tidak langsung memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Belanja Pegawai
Penganggaran untuk gaji pokok dan tunjangan Pegawai Negeri Sipil
Daerah (PNSD).
Penganggaran belanja pegawai untuk kebutuhan pengangkatan Calon
PNSD
Penganggaran penyelenggaraan jaminan kecelakaan kerja dan kematian
bagi Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah, Pimpinan dan Anggota DPRD serta PNSD
Penganggaran tambahan penghasilan PNSD
Penganggaran Insentif Pemungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah
Tunjangan profesi guru PNSD dan dana tambahan penghasilan guru PNSD
yang bersumber dari APBN
b. Belanja Bunga
Bagi daerah yang belum memenuhi kewajiban pembayaran bunga pinjaman, baik jangka pendek, jangka menengah, maupun jangka panjang supaya dianggarkan pembayarannya dalam APBD.
c. Belanja Subsidi
d. Belanja Hibah dan Bantuan Sosial
Penganggaran belanja hibah dan bantuan sosial yang bersumber dari APBD mempedomani peraturan kepala daerah yang telah disesuaikan dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 39 Tahun 2012 serta peraturan perundang-undangan lain di bidang hibah dan bantuan sosial.
e. Belanja Bagi Hasil Pajak
Penganggaran Dana Bagi Hasil Pajak Daerah yang bersumber dari
pendapatan pemerintah provinsi kepada pemerintah kabupaten/kota harus mempedomani Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009.
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014, pemerintah kabupaten/kota
menganggarkan belanja Bagi Hasil Pajak Daerah dan Retribusi Daerah kepada pemerintah desa paling sedikit 10% (sepuluh per seratus) dari pajak daerah dan retribusi daerah kabupaten/kota.
Pendapatan Bagi Hasil Pajak Daerah dari pemerintah provinsi untuk
pemerintah kabupaten/kota dan pendapatan Bagi Hasil Pajak Daerah dan Retribusi Daerah dari pemerintah kabupaten/kota untuk pemerintah desa dalam APBD harus diuraikan ke dalam daftar nama pemerintah kabupaten/kota.
f. Belanja Bantuan Keuangan
Pemerintah provinsi atau pemerintah kabupaten/kota dapat
membantu pelaksanaan urusan pemerintahan daerah yang tidak tersedia alokasi dananya dan/atau menerima manfaat dari pemberian bantuan keuangan tersebut.
Bantuan keuangan kepada partai politik dianggarkan pada jenis belanja
bantuan keuangan
Belanja bantuan keuangan tersebut harus diuraikan daftar nama
pemerintah daerah/desa selaku penerima bantuan keuangan.
g. Belanja Tidak Terduga
Penganggaran belanja tidak terduga dilakukan secara rasional dengan mempertimbangkan Realisasi Tahun Anggaran dan kemungkinan adanya kegiatan-kegiatan yang sifatnya tidak dapat diprediksi sebelumnya, diluar kendali dan pengaruh pemerintah daerah. Belanja tidak terduga merupakan belanja untuk mendanai kegiatan yang sifatnya tidak biasa atau tidak diharapkan terjadi berulang, seperti kebutuhan tanggap darurat bencana, penanggulangan bencana alam, dan bencana sosial, termasuk pengembalian atas kelebihan penerimaan daerah tahun-tahun sebelumnya.
2.1.4.2 Belanja Langsung
Penganggaran belanja langsung dalam rangka melaksanakan program dan kegiatan pemerintah daerah memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Penganggaran Belanja Langsung
dituangkan dalam bentuk program dan kegiatan, yang manfaat capaian kinerjanya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat dalam rangka peningkatan kualitas pelayanan publik dan keberpihakan pemerintah daerah kepada kepentingan publik.
b. Belanja Pegawai
Dalam rangka meningkatkan efisiensi anggaran daerah, penganggaran honorarium bagi PNSD dan Non PNSD memperhatikan asas kepatutan, kewajaran dan rasionalitas dalam pencapaian sasaran program dan kegiatan sesuai dengan kebutuhan dan waktu pelaksanaan kegiatan dalam rangka mencapai target kinerja kegiatan dimaksud.
c. Belanja Barang dan Jasa
Pemberian jasa narasumber/tenaga ahli dalam kegiatan dianggarkan pada
jenis Belanja Barang dan Jasa dengan menambahkan obyek dan rincian obyek belanja baru serta besarannya ditetapkan dengan keputusan kepala daerah.
Penganggaran uang untuk diberikan kepada pihak ketiga/masyarakat
hanya diperkenankan dalam rangka pemberian hadiah pada kegiatan yang bersifat perlombaan atau penghargaan atas suatu prestasi.
Penganggaran belanja barang pakai habis disesuaikan dengan kebutuhan
Penganggaran penyelenggaraan jaminan kesehatan bagi fakir miskin dan
orang tidak mampu
Penganggaran belanja yang bersumber dari dana kapitasi Jaminan
Kesehatan Nasional pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Milik Pemerintah Daerah yang belum menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah (PPK-BLUD) mempedomani Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2014.
Penganggaran Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan
Bermotor milik pemerintah daerah dialokasikan pada masing-masing SKPD.
Pengadaan barang/jasa yang akan diserahkan kepada pihak
ketiga/masyarakat pada tahun anggaran berkenaan, dianggarkan pada jenis belanja barang dan jasa.
Penganggaran belanja perjalanan dinas dalam rangka kunjungan kerja dan
studi banding, baik perjalanan dinas dalam negeri maupun perjalanan dinas luar negeri, dilakukan secara selektif.
Dalam rangka memenuhi kaidah-kaidah pengelolaan keuangan daerah,
penganggaran belanja perjalanan dinas harus memperhatikan aspek pertanggungjawaban sesuai biaya riil atau lumpsum.
Penyediaan anggaran untuk perjalanan dinas yang mengikutsertakan
non-PNSD diperhitungkan dalam belanja perjalanan dinas.
Penganggaran untuk menghadiri pendidikan dan pelatihan bimbingan
Manusia Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) serta pejabat/staf pemerintah daerah, yang tempat penyelenggaraannya di luar daerah harus dilakukan sangat selektif.
Penganggaran untuk penyelenggaraan kegiatan rapat, pendidikan dan
pelatihan, bimbingan teknis atau sejenisnya diprioritaskan untuk menggunakan fasilitas aset daerah.
d. Belanja Modal
Pemerintah daerah harus memprioritaskan alokasi belanja modal pada
APBD untuk pembangunan dan pengembangan sarana dan prasarana yang terkait dengan peningkatan pelayanan kepada masyarakat.
Penganggaran untuk pengadaan kebutuhan barang milik daerah dan
pemeliharaan barang milik daerah menggunakan dasar perencanaan kebutuhan dan pemeliharaan barang milik
Penganggaran pengadaan tanah untuk kepentingan umum mempedomani
Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012
Penganggaran belanja modal digunakan untuk pengeluaran yang dilakukan
dalam rangka pengadaan aset tetap berwujud yang mempunyai nilai manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan untuk digunakan dalam kegiatan pemerintahan.
e. Surplus atau Defisit APBD
Surplus atau Defisit APBD adalah selisih antara anggaran pendapatan
Dalam hal APBD diperkirakan surplus, penggunaan surplus tersebut
diutamakan untuk pembayaran pokok utang, penyertaan modal (investasi) daerah, pemberian pinjaman kepada pemerintah pusat/pemerintah daerah lain dan/atau pendanaan belanja peningkatan jaminan sosial.
Dalam hal APBD diperkirakan defisit, pemerintah daerah menetapkan
penerimaan pembiayaan untuk menutup defisit tersebut, yang bersumber dari sisa lebih perhitungan anggaran tahun anggaran sebelumnya, pencairan dana cadangan, hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan, penerimaan pinjaman, dan/atau penerimaan kembali pemberian pinjaman atau penerimaan piutang.
Pemerintah Daerah wajib mempedomani penetapan batas maksimal defisit
APBD
2.1.5 Flypaper Effect
Transfer antarpemerintah merupakan fenomena umum yang terjadi di semua negara di dunia terlepas dari sistem pemerintahannya dan bahkan sudah menjadi ciri yang paling menonjol dari hubungan keuangan antarapusat dan daerah (Kuncoro, 2004). Tujuan utama implementasi transfer adalah untuk mengatasi masalah eksternalitas, mengoreksi ketidakseimbangan vertikal, pemerataan fiskal antardaerah (horizontal equity) dan mencapai tujuan pembangunan tertentu (Kuncoro, 2007). Namun, Pendapatan daerah merupakan syarat utama dalam mengupayakan belanja daerah (Pevcin, 2011)
dalam merespon transfer Pemerintah Pusat yang telah dilakukan menghasilkan kesimpulan bahwa respon Pemerintah Daerah berbeda untuk transfer dan pendapatan daerahnya sendiri. Ketika respon Pemerintah Daerah lebih besar untuk transfer dibanding pendapatan daerahnya sendiri maka disebut flypaper effect.
Flypaper effect dapat terkendali dalam dua versi (Kuncoro, 2007) yaitu : Pertama merujuk pada peningkatan pajak daerah dan anggaran belanja pemerintahan yang berlebihan, dan kedua mengarah pada elastisitas pegeluaran terhadap transfer yang lebih tinggi daripada elastisitas pengeluaran terhadap penerimaan pajak daerah. Pada penelitian yang dilakukan oleh Maimunah (2006) diketahui bahwa tidak terdapat perbedaan terjadinya flypaper effect baik pada daerah yang Pendapatan Asli Daerahnya tinggi maupun pada daerah yang Pendapatan Asli Daerahnya rendah.
2.2 Tinjauan Peneliti Terdahulu
Hasil dari beberapa peneliti akan digunakan sebagai bahan referensi dan perbandingan dalam penelitian ini, antara lain adalah sebagai berikut : Maimunah (2006) melakukan penelitian tentang Flypaper Effect pada Dana Alokasi Umum dan Pendapatan Asli Daerah terhadap Belanja Daerah Kabupaten/Kota di Sumatera dan menemukan besarnya nilai Dana Alokasi Umum dan Pendapatan Asli Daerah berpengaruh positif terhadap Belanja Daerah dan ada Pengaruh
flypaper effect dalam memprediksi Belanja Daerah periode ke depan.
bahwa Dana Alokasi Umum dan Pendapatan Asli Daerah mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Alokasi Belanja Daerah. Jika dilihat lebih lanjut, tingkat ketergantungan Alokasi Belanja Daerah lebih dominan terhadap Pendapatan Asli Daerah daripada Dana Alokasi Umum.
Setiawan (2010), dalam penelitiannya yang berjudul Pengaruh Dana Alokasi Umum, dan Pendapatan Asli Daerah terhadap Belanja Daerah (studi kasus pada Provinsi Jawa Tengah). Hasil penelitiannya mendapatkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara Dana Alokasi Umum dan Pendapatan Asli Daerah terhadap Belanja Daerah
Listiorini (2011) dengan judul Fenomena Flypaper Effect pada Dana Perimbangan dan Pendapatan Asli Daerah terhadap Belanja Daerah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara. Meneliti pengaruh dana perimbangan dari pemerintah pusat yang diberikan kepada pemerintah daerah. Penelitian ini menunjukkan bahwa secara simultan terjadi fenomena flypaper effect pada DAU, DAK, DBH dan PAD berpengaruh terhadap Belanja Daerah kabupaten/kota di Sumatera Utara dan secara parsial, terjadi fenomena flypaper effect dimana nilai koefisien DAU terhadap Belanja Daerah lebih besar dari nilai koefisien PAD dan keduanya berpengaruh signifikan terhadap Belanja Daerah di kabupaten/kota Sumatera Utara, sedangkan variabel DAK dan DBH tidak berpengaruh signifikan terhadap Belanja Daerah, dan riset ini menunjukkan bahwa variabel DAK dan DBH tidak berpengaruh signifikan terhadap kenaikan Belanja Daerah.
Daerah (Studi Kasus Kabupaten/Kota di Sumatera Utara). Hasil penelitian nya adalah Pengaruh Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus, secara simultan berpengaruh positif terhadap Belanja Pemerintah Daerah pada Pemerintah Daerah di Sumatera Utara
Tabel 2.1 Pendapatan Asli Daerah berpengaruh positif terhadap Belanja Daerah dan ada pengaruh flypaper effect
kasus pada parsial terjadi fenomena
2.3 Kerangka Konseptual
Kerangka teoritis adalah suatu model yang menerangkan bagaimana hubungan suatu teori dengan faktor-faktor yang penting yang telah diketahui dalam suatu masalah tertentu (Erlina, 2008). Pada penelitian ini variabel independen adalah Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, dan Dana Bagi Hasil sedangkan variabel dependen adalah Belanja Daerah. Adapun kerangka konseptual dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :
Gambar 2.1
2.3.1 Pengaruh Dana Alokasi Umum Terhadap Belanja Daerah
Dana Alokasi Umum menunjukkan jika Pendapatan Asli Daerah berpengaruh terhadap Belanja Daerah maka kemungkinan besar Dana Alokasi Umum ikut berpengaruh terhadap Belanja Daerah. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi Dana Alokasi Umum yang diterima oleh pemerintah daerah maka semakin meningkat nilai pemerintah daerah tersebut, disebabkan peran Dana Alokasi Umum sangat signifikan, karena Belanja Daerah lebih di dominasi dari jumlah Dana Alokasi Umum. Dana Alokasi Umum yang diterima pemerintah daerah akan ditunjukkan untuk belanja pemerintah daerah, salah satunya adalah untuk belanja modal, hal ini tidak jauh beda dari peran Pendapatan Asli Daerah yaitu dengan pembangunan infrastruktur dan sarana prasarana oleh pemerintah daerah akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi daerah.
2.3.2 Pengaruh Dana Bagi Hasil Terhadap Belanja Daerah
dengan perubahan dalam penerimaan pemerintah daerah atau perubahan pendapatan terjadi sebelum perubahan pengeluaran.
2.3.3 Pengaruh Pendapatan Asli Daerah Terhadap Belanja Daerah
Peningkatan Pendapatan Asli Daerah menunjukan kemampuan daerah dalam memperoleh dana yang dialokasikan untuk tujuan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Kenaikan Pendapatan Asli Daerah akan memicu, mencerminkan serta kecukupan dalam membiayai belanja daerah. Semakin besar kemampuan pemerintah daerah dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah maka semakin besar pula kemampuan pemerintah daerah dalam menanggung beban dan membiayai kewajiban belanja daerah. Meningkatnya Pendapatan Asli Daerah, sangat membantu dalam belanja pemerintah daerah terutama dalam pembangunan daerah menjadi lebih baik serta membantu pertumbuhan ekonomi daerah.
2.4 Hipotesis Penelitian