• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Jejaring Sosial Gereja Methodis Indonesia Studi Kasus di GMI Resort Sei Bahar Kabupaten Muaro Jambi, Jambi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Jejaring Sosial Gereja Methodis Indonesia Studi Kasus di GMI Resort Sei Bahar Kabupaten Muaro Jambi, Jambi"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Manusia selalu berhubungan dengan manusia lain, dikarenakan manusia selalu

membutuhkan sesamanya. Hal tersebut menjadikan manusia atau individu tidak terlepas dari

suatu kelompok. Semua individu merupakan anggota dari sebuah kelompok, baik itu bagian

dari sebuah organisasi, institusi ataupun sebuah negara.

Individu ataupun sekumpulan individu sebagai anggota dari organisasi secara sadar

maupun tanpa disadari memiliki kemampuan untuk mempengaruhi individu atau sekumpulan

individu lainnya. Seseorang individu dapat mempengaruhi teman yang ada didalam

kelompoknya, kemudian teman tersebut akan mempengaruhi temannya yang lain yang masih

didalam organisasi yang sama atau temannya yang ada di dalam organisasi lain. Tidak hanya

sebatas itu, orang lain yang tidak dikenal seorang individu tersebut juga dapat memberi

pengaruh melalui teman yang ia kenal.

Hal diatas adalah menggambarkan bagaimana setiap individu adalah terlibat didalam

jejaring sosial. Posisi seseorang di dalam jejaring seseorang tidak hanya ditentukan seberapa

banyak ia terhubung, namun juga bagaimana dia menjadi jembatan penghubung bagi

orang-orang lainnya. Memiliki hubungan dengan banyak orang-orang dan memiliki banyak pengikut

adalah satu hal yang penting dalam jejaring sosial.

Manfaat jejaring sosial yaitu menghubungkan dalam menjangkau orang-orang dengan

luas. Jejaring sosial akan membentuk hubungan-hubungan yang panjang, bercabang dan

sangat rumit.

(2)

1. Keterhubungan secara politik, Dimana Barack Obama mendapat dukungan kampanye

dengan bantuan sumbangan $600 juta dolar dari tiga juta orang lebih. Dimana Obama

lebih menghubungkan para pendukung sehingga para pendukung membangun

jaringan sosial baik secara online ataupun secara jaringan antar para pendukung.

(Connected : 2010)

2. Jejaring bisnis Cina, yang dijelaskan oleh Ann Wan Seng (skripsi Rizka Firdahlia,

2009) dijelaskan bahwa bagaimana bisnis orang Cina. Konsep perdagangan bangsa

Cina lebih cenderung mengarah ke prinsip simbolis, yaitu setiap pedagang saling

melengkapi. Misalnya mereka menjual barang-barang yang berbeda diantara

pedagang. Kekuatan bisnis orang Cina terletak pada jaringan dan hubungan yang

tercipta dikalangan pedagang.. Melalui jaringan mereka memastikan persaingan

sesama pedagang adalah adil dan sesuai dengan tatacara perdagangan yang telah

ditentukan. Ikatan yang terjadi diantara pedagan Cina ini membuat mereka solid.

Dari kedua poin diatas jejaring sosial membantu dalam kehidupan masyarakat, namun

juga dapat digunakan terhadap penyebaran hal-hal yang tidak diinginkan atau penyebaran

dalam hal kejahatan didalam masyarakat seperti pada penyebaran Jaringan teroris solo

(Purwawidada : 2014) merupakan suatu himpunan jejearing yang bersifat radikal yang

mengaku dengan alasan membela agama. Didalam penyebaran teroris Solo tersebut dengan

menggunakan jejaring gerakan Darul Islam di Jawa Barat, yang beberapa tokohnya

berinteraksi dengan tokoh di Jawa Tengah. Tahap pembentukan jaringan teroris Solo, dimana

ada beberapa kelompok yang dinyatakan rentetan suatu jaringan teroris solo, diantaranya

kelompok Hambali, kelompok Ali Gufron, kelompok Noordin M Top, kelompok Sigit

Qardhawi, kelompok Farhan, kelompok M Thoriq, kelompok Abu Hanifah, kelompok Abu

(3)

Dampak buruk lainnya yaitu jejaring sosial penyebaran penyakit menular dari satu

individu ke individu lainnya dan menular keluar lingkaran seseorang yang terkena penyakit

menular tersebut dan terhubung ke lainnya.

Begitu jugalah yang terjadi dalam penyebaran agama yang tidak terlepas dari jaringan

sosial. Jaringan sosial yang terbentuk memudahkan dalam penyebaranya.Sebagai sistem nilai

agama memiliki arti khusus dalam kehidupan individu serta dipertahankan sebagai bentuk

ciri khas. Menurut Mc Guire (dalam Ishomuddin: 2002), diri manusia memiliki bentuk sistem

nilai tertentu. Sistem nilai ini merupakan suatu yang bermakna bagi dirinya. Sistem ini

dibentuk melalui belajar dan proses sosialisasi. Perangkat sistem nilai ini diperluas oleh

keluarga, teman, institusi pendidikan, dan masyarakat luas. Sistem nilai yang berdasarkan

agama dapat memberi individu dan masyarakat perangkat sistem nilai dalam bentuk

keabsahan dan pembenaran dalam mengatur sikap individu dan masyarakat.

Dalam hal ini peneliti akan membahas mengenai jaringan dalam aliran agama Kristen.

Agama Kristen sendiri memiliki banyak aliran seperti, advent, pentakosta dan sebagainya.

Namun dalam penelitian ini, akan membahas mengenai jejaring sosial pada aliran Methodist.

Di Indonesia Methodist sendiri dikenal dengan sebutan Gereja Methodist Indonesia atau

sering disingkat GMI.

Aliran Methodist (Aritonang 2005) lahir dari Inggris sejak abad ke 18, kemudian

menyebar keseluruh dunia. Tokoh utamanya adalah dua bersaudara Wesley yaitu John dan

Charlrs, paling utama dalam penyebarannya adalah John. Aliran ini sekarang melembaga

dalam puluhan organisasi gereja, Yang terbanyak ada di Amerika Serikat yaitu Union

Methodist Church. Methodist mulai masuk ke Indonesia dari Singapura dan Malaya,

termasuk jaringan persekolahannya sudah sejak 1870-an. Kemudian sejumlah pemuda

(4)

Methodist di Singapura dan Penang. Pendekatan Methodist di Indonesia sejak 1888 hingga

1900 dimulai dari pendirian sekolah-sekolah berbahasa Tionghoa dan Inggris yang menjadi

daya tarik yang kuat.

Kemerdekaan Indonesia membawa perubahan terhdap Methodist di Indonesia yaitu

gerakan Methodits yang semakin lama berorientasi dengan keadaan lokal hingga tahun 1964

nama terhadap pengikut Methodist yaitu Misi Methodist berubah menjadi Gereja Methodist

Indonesia (GMI) (http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/17090/4/Chapter%201.pdf)

Dijelaskan Ricard Daulay 1996 dalam jurnal yang terdapat di alamat

(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/17090/4/Chapter%201.pdf), GMI adalah

organisasi gereja yang berdiri sendiri sama seperti organisasi gereja yang lainnya.

Masing-masing organisasi gereja mempunyai corak dan ciri yang berlainan yang berlatar belakang

dari perbedaan misi zending (organiasi penginjilan) dan kondisi lokal seperti misi zending

Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), dengan konsep suku Batak Toba, sedangkan

Methodist disebarkan oleh misi zending Amerika Serikat dengan konsep nasional.

Misi GMI di Sumatera Timur dimulai dengan mendirikan kebaktian berbahasa Inggris

dan Sekolah Minggu (Kebaktian untuk kalangan anak-anak) serta kebaktian berbahasa

Tionghoa. Selajutnya jemaat-jemaat GMI berkembang dengan menjangkau berbagai suku

pribumi, terutama suku batak yang merantau ke Sumatera Timur. Namun djelaskan

(Aritonang: 2005) kemudian kebanyakan jemaat batak Methodis tersebut beralih ke HKBP

karena merasa kurang cocok dengan tata ibadah yang ada di Methodist, karena sebelumnya

jemaat batak tersebut memang sudah Kristen dari penginjilan HKBP.

Pekerjaan di Sumatera Selatan (Palembang) dimulai tahun 1908. Medan dan Bogor

yang pertama di jangkau oleh Methodist adalah etnis Tionghoa, terutama lewat sekolah

(5)

warga Methodist yang datang dari Malaya dan Singapura lalu berkembang ke masyarakat

Tionghoa yang ada disana. (Aritonang: 2005)

Sementara masuknya GMI ke wilayah Jambi berasal dari Sumatera Selatan

(Palembang). GMI memulai misinya pada GMI Moria Jambi, kemudian GMI Moria Jambi

memulai pelayanannya ke daerah Sungai Bahar pada tahun 1990.

GMI Distrik I Wilayah 2 adalah merupakan daerah yang tergabung dalam daerah

Palembang dan Jambi. Resort Sei Bahar Jambi adalah daerah GMI yang tergabung dalam tiga

kecamatan yaitu Kecamatan Sungai Bahar, Bahar Utara dan Bahar Selatan. Dimana tiga

kecamatan tersebut awalnya merupakan satu kecamatan, namun seiring bertambahnya

penduduk kemudian pada tahun 2010 daerah tersebut dibagi menjadi tiga kecamatan. Tiga

kecamatan tersebut termasuk dalam kabupaten Muaro Jambi merupakan daerah perkebunan

kelapa sawit. Sudah dimulai sebelum tahun 1990 daerah ini merupkan tujuan program

pemerintah melakukan transmigrasi masyarakat dari daerah pulau Jawa dan daerah sumatera

sendiri dengan tujuan mengadu nasib untuk berkebun ataupun menjadi pekerja diperkebunan

kelapa sawit yang ada.

GMI di resort Sei Bahar dengan memulai ibadah di salah satu desa yaitu unit VI.

Dimulai dari suku batak yang ada di daerah tersebut dengan ibadah dirumah-rumah warga.

Kemudian pada tahun 1993 jemaat memutuskan untuk iuran membeli sebidang tanah dengan

bantuan GMI Moria yang ada di Jambi, Jemaat Sei Bahar tersebut memulai membangun

rumah ibadah. Sebagian besar anggota yaitu merupakan suku batak yang bekerja sebagai

karyawan pabrik kelapa sawit PTP N VI yang ada di desa Bunut. Oleh karena itu

pembangunan rumah ibadah yaitu di desa Bunut dengan nama GMI Palmarum Bunut.

Selanjutnya perjalanan GMI yang ada di desa Bunut ini membuka

(6)

- GMI Maranatha Talang Bukit desa Unit 6

- GMI Bukit Zaitun desa Unit 14 pada tahun 1994

- GMI Pardomuan Nauli tahun 2006

- GMI Imanuel desa Muara Bahar tahun 2010

- GMI Agape desa Unit 1 tahun 2011

- GMI Pos Kebaktian Efata desa Bungku tahun 2012

Walau tidak semua desa terdapat pos pelayanan GMI beberapa jemaat bergabung di

satu titik pos pelayanan. Hal diatas tersebutlah yang melatarbelakangi peneliti untuk meneliti

mengenai Pemanfaatan Jaringan Sosial pada masyarakat jemaat GMI yang ada di daerah

Sungai Bahar, dimana peneliti sendiri mengamati keberadaannya yang cukup berkembang

dibanding gereja yang lain. Pada tahun 2011 GMI Agape yang terletak di desa Unit 1 yang

merupakan GMI terdekat di tempat tinggal peneliti mendirikan pos pelayanan yang awalnya

melaksanakan kebaktian di rumah jemaat dengan berpindah-pindah tiap minggunya,

kemudian menyewa rumah bedeng dan pertengahan tahun 2013 sudah dapat mendirikan

rumah ibadah yang permanen dalam artian berdiri dengan bagunan semen utuh. Hal ini tidak

secepat gereja yang lain yang diamati oleh peneliti salah satunya gereja tempat peneliti

beribadah ketika Sekolah Dasar tahun 2002 yaitu Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat

(GPIB) yang ketika peneliti duduk di bangku SD beribadah di tempat tersebut, jemaat GPIB

sudah dikatakan memenuhi gereja, namun tahun 2010 baru lah mendirikan gereja permanen.

Letak dari GPIB dan GMI Agape adalah masih termasuk ke dalam satu desa yaitu desa Suka

Makmur (Unit 1).

Hal inilah yang kemudian menjadi latar belakang peneliti mengenai bagaimana

jejaring Sosial Gereja Methodis Indonesia Pada distrik I wilayah II resort Sei Bahar

(7)

1.2Rumusan Masalah

Dari rumusan masalah diatas peneliti membuat rumusan masalah guna memfokuskan

penelitian. Adapun yang menjadi Rumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana pemetaan dan analisis jejaringan sosial dalam GMI di kecamatan

Sungai Bahar, Muaro Jambi, Jambi ?

2. Siapa aktor yang memiliki nilai tertinggi dalam sentralitas derajat, sentralitas

kedekatan, dan sentralitas perantara dalam jejaring sosial GMI di kecamatan

Sungai Bahar, kabupaten Muaro Jambi, Jambi ?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah yang telah diuraikan, adapun tujuan yang akan

dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui pemetaan jejaring sosial dan menganalisis jejaring sosial yang

terdapat pada Gereja Methodist Indonesia di Kecamatan Sungai Bahar, Kabupaten

Muaro Jambi, Jambi.

2. Untuk mengetahui keberadaan aktor yang memiliki nilai sentralitas tetinggi baik

dalam sentralitas derajat, sentralitas kedekatan, dan sentralitas perantara dalam

jejaring sosial GMI Resort Sei Bahar, kabupaten Muaro Jambi, Jambi.

1.4Manfaat Penelitian

(8)

a. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian nantinya diharapkan dapat menambah wawasan dan sumbangan

ilmu pengetahuan dalam kajian ilmiah khususnya mahasiswa Departemen

Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, serta

memberikan sumbangan pengetahuan terkait dengan analisis jejaring sosial atau

social network analysis.

b. Manfaat Praktis

Penelitian ini sangat bermanfaat bagi penulis sendiri dalam hal meningkatkan

wawasan dan kemampuan akademis dalam mengkaji Jaringan Sosial dalam

Gereja Methodis Indonesia resort Sei Bahar kabupaten Muaro Jambi, Jambi.

1.5Definisi Konsep a. Jaringan Sosial

Jaringan Sosial merupakan suatu jaringan tipe khusus, dimana ‘ikatan’ yang

menghubungkan satu titik ke titik lain dalam jaringan adalah hubungan sosial.

Berpijak pada jenis ikatan ini, maka secara langsung atau tidak langsung yang

menjadi anggota suatu jaringan sosial adalah manusia (person). Bisa saja, yang

menjadi anggota suatu jaringan sosial itu berupa sekumpulan dari orang yang

mewakili titik-titik, jadi tidak harus satu titik diwakili dengan satu orang, misalnya

organisasi, instansi, pemerintah atau negara (jaringan negara-negara nonblok).

(Agusyanto, 2007 :13)

b. Social Network Analysis (SNA)/ Analisis jaringan sosial

Analisis jaringan sosial adalah suatu teknik untuk mempelajari hubungan atau

(9)

dalam kerangka social network analysis bisa divisualisasikan atau diwakilkan

kedalam bentuk matriks atau grafik (jurnal.mti.cs.ui.ac.id/index.php/jsi/article/)

c. Gereja Methodis Indonesia

Gereja Methodis Indonesia (disingkat GMI) adalah sebuah gereja Protestan di

Indonesia yang beraliran Mehtodis atau Wesleyen. GMI merupakan gereja

beraliran Methodis terbesar di Indonesia.

(http://id.wikipedia.org/wiki/Gereja_Methodis_Indonesia diakses pada 21 Juni

2014)

d. Modal Sosial

Menurut Bourdieu (dalam Irwansyah Hasibuan 2004) modal sosial adalah

keseluruhan sumber daya aktual dan potensi sekaligus, terkait dengan hubungan

kelembagaan yang tetap berpangkal pada saling kenal dan saling mengakui.

Anggota kelompok menerima dukungan secara penuh. Tentang besar kecilnya

modal sosial yang dimiliki seseorang dalam komunitas tertentu, memang sangat

tergantung pada berapa besar jaringan hubungan yang dapat diciptakannya, baik

secara kuantitas maupun kualitas.

e. Ucinet

Ucinet adalah sebuah perangkat lunak komputer yang digunakan untuk

menganalisis jaringan sosial yang kemudian divisualisasikan kedalam NetDraw.

f. Aktor

Aktor dalam jejaring sosial adalah suatu titik yang merupakan individu. Dimana

dalam konsep jejaring sosial titik tersebut berhubungan dengan titik lain.

Keterhubungan titik satu ketitik yang lain menjadi satu kesatuan yang disebut

Referensi

Dokumen terkait

Bagi usaha kecil dan menengah (UKM), keberhasilan dalam pengembangan inovasi produk menunjukkan bahwsa UKM sudah selangkah lebih maju dibanding dengan

Peserta didik diberikan stimulus berupa pemberian materi oleh guru (selain itu misalkan.. penunjang lain, dari internet/materi yang berhubungan dengan lingkungan,

other angiosperm species, we constructed a phylogenetic tree based on analysis of the homeodomain region. Figure 3 shows that POH1 is placed in the same branch with DOH1 , but

Sehingga untuk data kejadian kanker payudara di kota Makassar tahun 2011 terhadap umur dapat diasumsikan memenuhi bentuk regresi logistik biner dengan menggunakan

[r]

Disimpulkan bahwa pemberian asam lemak terproteksi (ALT) yang berasal dari hasil sampig pengolahan limbah ikan (200-300 g/ekor/hari) meningkatkan konsumsi bahan kering,

Jika NISN yang diinput telah ada didalam basisdata, maka aplikasi akan menampilkan nama siswa, alamat, kelas dan nilai-nilai kriteria yang telah diinputkan pada

LAPORAN LABA RUGI KOMPREHENSIF Untuk Periode yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2017.. (dalam