• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perlindungan Terhadap Warga Sipil dan Obyek-Obyek Sipil Dari Sasaran Perang di Suriah Ditinjau Dari Prinsip Martens Clause Dalam Hague Regulations Chapter III V

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Perlindungan Terhadap Warga Sipil dan Obyek-Obyek Sipil Dari Sasaran Perang di Suriah Ditinjau Dari Prinsip Martens Clause Dalam Hague Regulations Chapter III V"

Copied!
83
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

KETENTUAN PENGATURAN PERLINDUNGAN WARGA SIPIL

dan OBYEK SIPIL DALAM PERANG DI SURIAH

A. Pengertian Warga Sipil dan Obyek Sipil 1. Pengertiaan Warga Sipil

Warga Sipil merupakan orang yang bukan termasuk ke dalam anggota

angkatan bersenjata dari suatu milisi atau suatu negara dan tidak ikut terlibat

dalam situasi permusuhan konflik bersenjata atau perang militer. Sedangkan

Militer adalah bagian dari warga sipil yang mempunyai kualifikasi militer yang

dididik, dibentuk dan dilatih untuk melakukan pertahanan negara secara militer.30

Pengertiaan anggota Militer adalah orang yang berdinas pada suatu Angkatan

Perang dan tetap terus menerus berada dalam dinas tersebut selama periode waktu

ikatan dinas.31

Menurut Konvensi Jenewa ke-IV, penduduk sipil di defenisikan sebagai

orang yang bukan merupakan anggota militer. Militer sendiri merupakan angkatan

bersenjata dari suatu negara dan segala sesuatu yang berhubugan dengan angkatan

bersenjata biasanya terdiri atas para prajurit atau serdadu.

Sedangkan pengertian penduduk sipil yang terdapat pada Pasal 50 Protokol

Tambahan I 1977 menyatakan bahwa yang dimaksud dengan penduduk sipil

adalah orang-orang selain daripada kategori yang dimaksud dalam Pasal 4 (A)

(1),(2),(3) dan (6) konvensi ke-III dan pasal 43 Protokol Tambahan I 1977. Pada

30

Suryanto Suryokusumo, Konsep Sistem Pertahanan Non-Militer, 2016. 31

(2)

intinya penduduk sipil adalah bukan pihak yang berperang dan tidak boleh

membawa senjata.

Menurut Sugeng Istanto dalam bukunya menjelaskan penduduk sipil adalah

orang, seorang atau sekumpulan orang yang bukan anggota angkatan bersenjata,

yang karenanya tidak berhak ikut serta langsung dalam permusuhan.32 Pada

hakekatnya penduduk sipil adalah seseorang atau warga masyarakat yang tidak

ikut ambil bagian dalam suatu konflik bersenjata, permusuhan, perang ataupun

suatu pertempuran dan bukan merupakan bagian dari sebuah angkatan bersenjata

serta tidak berhak turut dalam sebuah pertempuran dan harus dilindungi serta

dihormati hak-haknya oleh karena bukan merupakan sasaran penyerangan atau

bagian objek militer.

Dalam Sebuah Perang yang melibatkan angkatan bersenjata ada aturan yang

menyatakan larangan menyerang warga sipil, bahkan tindakan ini termasuk

kategori kejahatan perang. Sangat tidak beradab jika seorang tentara yang terlatih

dan bersenjata menyerang warga sipil yang tidak terlatih dan bersenjata.

Dalam suatu sengketa bersenjata, orang-orang yang dilindungi meliputi

kombatan dan penduduk sipil. Kombatan yang telah berstatus „hors de combat‟

harus dilindungi dan dihormati dalam segala keadaan. Kombatan yang jatuh

ketangan musuh mendapatkan status sebagai tawanan perang. Perlindungan dan

hak-hak sebagai tawanan perang diatur dalam Konvensi Jenewa III. Sedangkan

penduduk sipil berhak mendapatkan perlindungan sebagaimana diatur dalam

Konvensi Jenewa IV dan Protokol Tambahan 1977.

32

F. Sugeng Istanto, Perlindungan Penduduk Sipil dalam Perla wanan Rakyat Semesta

(3)

Menurut Hans-Peter Gasser, orang yang dilindungi adalah seseorang yang

berdasarkan Konvensi Jenewa dan Protokol Tambahannya, memiliki kedudukan

yang dilindungi secara khusus. 33 Sebagaimana yang telah disebutkan,

perlindungan terhadap warga sipil telah diatur dalam Konvensi Jenewa IV.

Menurut Konvensi Jenewa IV ini, perlindungan tersebut meliputi perlindungan

umum (general protection), diatur dalam Bagian II.

Sedangkan berdasarkan Protokol Tambahan, perlindungan tersebut diatur

dalam Bagian IV tentang penduduk sipil. Bagian IV Protokol tersebut ini, antara

lain mengatur mengenai perlindungan umum (general protection againts the effect

of hostilities);bantuan terhadap penduduk sipil (relief in favour of the civilian

population); serta perlakuan orang-orang yang berada dalam salah satu kekuasaan

pihak yang bersengketa (treatment of persons in the power of a party to a

conflict), termasuk di dalamnya adalah perlindungan terhadap para pengungsi,

orang yang tidak memiliki kewarganegaraan (stateless), anak-anak, wanita dan

wartawan.

Meskipun perlindungan warga sipil ini sudah memliki pengaturan hukum

Internasional nya, namun dalam implementasinya di suatu wilayah konflik

bersenjata semua seperti tidak ada gunanya, masih banyak warga sipil yang

menjadi korban luka-luka maupun tewas dan bahkan sampai meninggalkan tanah

kelahirannya untuk mendapatkan suatu kehidupan yang damai. Oleh sebab itu

Prinsip Martens Clause “Klausula Martens” ini sangat dibutuhkan dalam suatu

situasi konflik bersenjata.

33

Hans-Peter Gesser, International Humanitarian La w, An Introduction, Separate Print

(4)

Berdasarkan Konvensi Jenewa, perlindungan umum yang diberikan kepada

penduduk sipil tidak boleh dilakukan secara diskriminatif. Dalam segala keadaan,

penduduk sipil. Dalam segala keadaan, penduduk sipil berhak atas penghormatan

pribadi, hak kekeluargaan, kekayaan dan praktek ajaran agamanya. Terhadap

mereka, tidak boleh dilakukan tindakan-tindakan sebagaimana yang disebutkan

dalam pasal 27-34, yaitu ;

a. Melakukan pemaksaan jasmani maupun rohani untuk memperoleh

keterangan

b. Melakukan tindakan yang menimbulkan penderitaan jasmani

c. Menjatuhkan Hukuman kolektif

d. Melakukan intimidasi, terorisme dan perampokan

e. Menjadikan mereka sebagai sandera

f. Melakukan pembalasan (reprisal)

g. Melakukan tindakan yang menimbulkan penderitaan jasmani atau

permusuhan terhadap orang yang dilindungi.

Di antara penduduk sipil yang harus dilindungi, terdapat beberapa kelompok

orang-orang sipil yang perlu dilindungi seperti ;

1) Orang Asing di Wilayah Pendudukan

Pada waktu pecah perang antara negara yang warga negaranya berdiam di

dalam wilayah negara musuh, maka orang-orang asaing ini merupakan warga

negara musuh. Walaupun demikian, mereka tetap mendapatkan penghormatan dan

perlindungan di negara dimana mereka berdiam. Berdasarkan pasal 35 Konvensi

(5)

permohonan mereka ditolak, mereka berhak meminta agar penolakan tersebut

dipertimbangkan kembali Permintaan tersebut ditujukan kepada pengadilan atau

badan administrasi yang ditunjuk untuk melaksanakan tugas itu.

Hukum yang berlaku bagi mereka harus sesuai dengan undang-undang yang

berlaku di masa damai (hukum tentang orang asing). Perlindungan minimum atas

hak asasi manusia mereka harus dijamin. Oleh karena itu mereka harus

dimungkinkan untuk tetap menerima pembayaran atas pekerjaannya, menerima

bantuan, perawatan kesehatan, dan sebagainya. Sebaliknya, negara penahan juga

diperbolehkan mengambil tindakan yang perlu seperti membuat laporan reguler ke

kantor polisi, atau menentukan tempat tinggal tertentu jika keadaan keamanan

yang mendesak mengharuskan orang-orang asing ini untuk berpindah tempat

tinggal (pasal 42 Konvensi Jenewa IV). Mereka juga dapat dipindahkan ke negara

asal mereka kapan saja, dan apabila masih ada, mereka harus dipulangkan pada

saat terakhir setelah berakhirnya permusuhan. Mereka dapat diserahkan melalui

negara ketiga. Harus pula terdapat jaminan bahwa mereka tidak akan diajukan ke

pengadilan karena keyakinan politik atau agama yang mereka anut.34

2) Orang yang tinggal di wilayah Kependudukan

Dalam wilayah pendudukan, penduduk sipil sepenuhnya harus dilindungi.

Penguasa Pendudukan (occupying power) tidak boleh mengubah hukum yang

berlaku di wilayah tersebut. Dengan perkataan lain, hukum yang berlaku di

wilayah tersebut adalah hukum dari negara yang diduduki. Oleh karena itu,

perundang-undangan nasional dari negara yang diduduki masih berlaku secara de

34

(6)

jure, walaupun berkuasa atas wilayah pendudukan adalah Penguasa Pendudukan

secara de facto. Sejalan dengan hal ini, maka Pemerintah Daerah Wilayah yang

diduduki, termasuk pengadilannya harus diperbolehkan untuk melanjutkan

aktivitas-aktivitas mereka sedia kala.

Orang-orang Sipil di wialayah tersebut harus dihormati hak-hak asasinya;

misalnya mereka tidak boleh dipaksa bekerja untuk Penguasa Pendudukan, tidak

boleh dipaksa untuk melakukan tindakan kegiatan-kegiatan militer. Penguasa

Pendudukan bertanggung jawab untuk memelihara dinas-dinas kesehatan, rumah

sakit dan bangunan-bangunan lainnya. Perhimpunan Palang Merah atau Bulan

Sabit Merah Nasional harus tetap diperbolehkan untuk melanjutkan

tugas-tugasnya. Penguasa Pendudukan juga harus memperhatikan kesejahteraan

anak-anak, serta menjamin kebutuhan makanan dan kesehatan penduduk; dan bila

Penguasa Pendudukan tidak mampu melakukan hal tersebut maka mereka harus

mengijinkan adanya bantuan yang datang dari luar negeri.

Sebaliknya Penguasa Pendudukan, dapat membentuk peraturan

perundang-undangan sendiri, mereka juga dapat membentuk pengadilan militer yang bersifat

non-politis. Namun, adanya pembentukan tersebut tidak boleh melepaskan

kewajiban Penguasa Pendudukan untuk tetap melaksanakan kewajibannya sesuai

dengan Konvensi Jenewa, untuk memelihara keamanan dan ketertiban dan untuk

menjaga segala infrastruktur di daerah tersebut agar tetap dapat berfungsi

sebagaimana sedia kala. Dalam melakukan kegiatan peradilan, Penguasa

Pendudukan juga harus menghormati dan menerapkan asas-asas hukum umum

(7)

hukuman yang dijatuhkan haruslah seimbang dengan pelanggaran yang dilakukan;

pidana mati hanya boleh dijatuhkan terhadap kasusu pelanggaran berat, seperti

mata-mata, sabotase terhadap peralatan militer, atau karena pelanggaran yang

disengaja yang memang dapat dijatuhi hukuman mati menurut peraturan

perundang-undangan yang berlaku.

3) Interniran Sipil

Penduduk sipil yang dilindungi dapat diinternir. Ketentuan-ketentuan

tentang peralakuan orang-orang yang diinternir diatur dalam Seksi IV, pasal

79-135 Konvensi Jenewa IV. Menurut Mochtar Kusumaatmadja, tindakan

perampasan kebebasan dapat dilakukan apabila terdapat alasan keamanan yang rill

dan mendesak. Tindakan untuk menginternir penduduk sipil pada hakekatnya

bukan merupakan suatu hukuman, namun hanya merupakan tindakan pencegahan

administratif.35Oleh karena itu, walaupun penduduk sipil ini diinternir, namun

mereka tetap memiliki kedudukan dan kemampuan sipil mereka dan dapat

melaksanakan hak-hak sipil mereka.

Orang-orang sipil yang dapat diinternir adalah ;36

a) Penduduk sipil musuh dalam wialyah pihak yang bersengketa yang perlu

diawasi dengan ketat demi kepentingan keamanan37

35

Mochtar Kusumaatmadja, Konvensi-konvensi Palang Merah, Op.cit.

36 Lihat pasal 79 Konvensi Jenewa IV yang berbunyi : “Pihak-pihak dalam pertikaian hanya boleh menginternir orang-orang yang dilindungi, sesuai dengan aturan-aturan pasal-pasal 41-48, 68-78”

37

(8)

b) Penduduk sipil musuh dalam wilayah pihak yang bersengketa yang dengan

suka rela menghendaki untuk diinternir, atau karena keadaannya

menyebabkan ia diinternir38

c) Penduduk sipil musuh dalam wilayah yang diduduki, apabila Penguasa

Pendudukan menghendaki meraka perlu diinternir karena alasan mendesak

d) Penduduk sipil yang telah melakukan pelanggaran hukum secara khusus

bertujuan untuk merugikan Penguasa Pendudukan.39

Selanjutnya, para interniran sipil ini tidak boleh di tempatkan di dalam

daerah-daerah yang sangat terancam bahaya perang. Bila kepentingan militer

memerlukan, tempat interniran ini harus ditandai dengan huruf “IC” (TI = Tempat

Interniran; IC = Internment Camps), atau sistem penandaan lainnya yang

disepakati.40 Pengurusan para interniran harus dilakukan oleh negara Penahan,

termasuk meliputi layaknya tempat interniran, makanan dan pakaian, kebersihan

dan pengamatan kesehatan, serta kegiatan-kegiatan keagamaan. Setiap tempat

interniran, harus ditempatkan di bawah kekuasaan seorang perwira yang

bertanggung jawab yang dipilih dari anggota angkatan bersenjata tetap atau

pemerintahan sipil biasa dari Negara Penahan.41

Para interniran sipil, walaupun dilindungi sepenuhnya oleh Konvensi

Jenewa, tetap dapat dijatuhi sanksi pidana dan sanksi disipliner. Yang penting,

penjatuhan sanksi-sanksi tersebut harus sesuai dengan peraturan

perundang-undangan yang berlaku di daerah yang diinternir tersebut.

38

Lihat pasal 42 ayat (2), Konvensi Jenewa IV 39

Lihat pasal 68 ayat (1), Konvensi Jenewa IV 40

Lihat pasal 83, Konvensi Jenewa IV 41

(9)

Segera setelah permusuhan berakhir, interniran sipil harus dipulangkan

kembali ke negara asal mereka. Namun hal ini tidak menutup kemungkinan untuk

melakukan tindakan-tindakan serupa selama berlangsungnya permusuhan antara

pihak yang bersengketa.

4) Perlindungan Khusus

Disamping perlindungan umum yang diberikan terhadap penduduk sipil

dalam sengketa bersenjata sebagaimana diuraikan di atas, maka terdapat pula

sekelompok penduduk sipil tertentu yang dapat menikmati perlindungan khusus.

Mereka umumnya adalah penduduk sipil yang tergabung dalam suatu organisasi

sosial yang melaksanakan tugas-tugas yang bersifat sosial untuk membantu

penduduk sipil lainnya pada waktu bersengketa senjata. Mereka adalah penduduk

sipil yang menjadi anggota Perhimpunan Palang Merah Nasional dan anggota

Perhimpunan Penolong Sukarela lainnya, termasuk anggota Pertahanan Sipil.

Pada saat melaksanakan tugas-tugas yang bersifat sosial (sipil), biasanya

mereka dilengkapi dengan sejumlah fasilitas (transportasi, bangunan-bangunan

khusus), maupun lambang-lambang khusus. Apabila sedang melaksanakan

tugasnya, mereka harus dihormati (respected) dan dilindungi (proctected).

„Dihormati‟ berarti mereka harus dibiarkan untuk melaksanakan tugas-tugas sosial

mereka pada waktu sengketa bersenjata, sedangkan pengertian „dilindungi‟ adalah

(10)

2. Pengertiaan Objek Sipil dan Objek Militer

Objek sipil adalah semua objek yang bukan objek militer, dan oleh karena

itu tidak dapat dijadikan sasaran serangan pihak yang bersengketa. Sebaliknya,

jika suatu objek termasuk dalam kategori sasaran militer, maka objek tersebut

dapat dihancurkan berdasarkan ketentuan-ketentuan Hukum Humaniter. Suatu

objek yang dianggap sebagai sasaran militer bukan hanya meliputi objek-objek

militer saja seperti tank, barak-barak militer, pesawat mliter atau kapal perang

sebagaimana terlihat pada gambar di samping, akan tetapi yang termasuk sasaran

militer adalah semua objek dapat dikategorikan sebagai sasaran militer

berdasarkan ketentuan Hukum Humaniter.

Sering kita lihat dalam berbagai konflik yang ada, rumah-rumah penduduk

sipil, hotel, atau sekolah yang merupakan fasilitas umum, menjadi sasaran

serangan pada waktu sengketa bersenjata. Reaksi selanjutnya adalah banjirnya

protes atas hal tersebut, terutama dari kalangan NGO, pemerhati konflik, pers dan

masyarakat umum sendiri. Benarkah selalu demikian?

Penentuan apakah suatu objek merupakan objek sipil ataukah sasaran militer

secara yuridis menurut Hukum Humaniter, telah lama diupayakan dalam berbagai

forum. Secara kasat mata, apalagi pada waktu damai, penentuan demikian

memang tidak menemukan kesulitan. Artinya, kita bisa menentukan dengan

santai, bahwa objek tertentu merupakan objek sipil atau sasaran militer. Rumah

sakit, sekolah, pasar, mall, lapangan bermain, tempat rekreasi, museum, adalah

sederet objek sipil yang dengan mudah dikenali. Adapun, kita dengan mudah pula

(11)

baja, pesawat udara militer, markas dan barak-barak militer sebagai suatu sasaran

militer.

Akan tetapi, pada waktu terjadinya peperangan, penentuan apakah suatu

objek termasuk ke dalam objek sipil ataukah sasaran militer tidak semudah yang

kita bayangkan. Dalam kondisi seperti itu, penentuan mengenai status suatu objek

harus selalu didasarkan kepada aturan-aturan Hukum Humaniter, karena Hukum

Humaniter ini akan berlaku jika terjadi sengketa bersenjata atau peperangan.

Berdasarkan Pasal 52 Protokol Tambahan I tahun 1977, maka sudah

ditentukan apa yang dimaksudkan dengan objek sipil dan sasaran militer.

Perhatikan redaksional pasal tersebut berikut ini :

Pasal 52. Perlindungan Umum Objek-objek sipil

1. Objek-objek sipil bukan merupakan sasaran serangan atau tindakan

balasan. Objek-objek sipil adalah semua objek yang bukan merupakan

sasaran militer sebagaimana dimaksud dalam ayat (2).

2. Serangan harus hanya ditujukan pada sasaran militer. Sasaran militer

adalah terbatas pada objek-objek yang karena sifatnya, lokasinya, tujuan

atau kegunaannya dapat memberikan kontribusi yang efektif pada operasi

militer dan apabila (objek-objek tersebut) dihancurkan baik keseluruhannya

maupun sebagian, dikuasai atau dinetralisir, dalam situasi yang terjadi

pada saat itu, maka hal tersebut dapat memberikan keuntungan militer yang

pasti.

3. Dalam hal terdapat keragu-raguan tentang apakah suatu objek biasanya

(12)

atau sekolah, digunakan untuk memberikan kontribusi yang efektif pada

operasi militer, maka hal demikian harus dianggap (sebagai) tidak

digunakan untuk tujuan-tujuan militer.

Berdasarkan ketentuan di atas, maka suatu sasaran militer, harus memiliki

beberapa syarat tertentu sehingga penghancurannya dapat dibenarkan menurut

prinsip kepentingan militer. Syarat tersebut adalah :

a. Objek yang karena sifatnya, lokasinya, atau tujuan penggunaannya dapat

memberikan kontribusi yang efektif pada operasi militer;

b. Objek yang apabila dihancurkan (seluruhnya maupun sebagian), dikuasai

atau dinetralisir, maka dapat memberikan keuntungan militer yang pasti.

Kita juga dapat melihat pula dalam pasal-pasal yang terdapat dalam Hague

Regulation, yang telah menggambarkan usaha untuk membedakan obyek-obyek

mana yang boleh dan tidak boleh diserang. Pasal-pasal yang perlu diperhatikan,

antara lain : Pasal 23 ayat (g) Hague Regulation, yang melarang ; menghancurkan

harta benda musuh kecuali....sangat diperlukan oleh kepentingan berperang.

Menurut Austin, pasal ini menyatakan adanya keinginan yang tumpang tindih

untuk melindungi kombatan dan penduduk sipil sekaligus. Ini dapat dilihat

sebagai suatu usaha untuk menganggap bahwa „harta benda musuh‟ adalah obyek

-obyek yang tidak boleh diserang.

Aturan-aturan yang secara khusus memberikan perlindungan pada penduduk

sipil merupakan aturan yang dirancang sekaligus berkenaan dengan suatu

pemboman. Ketentuan ini tidak saja melindungi penduduk sipil, tetapi juga

(13)

sebagai obyek-obyek sipil dan menghindarkannya dari sasaran serangan secara

langsung. Ini ditunjukkan dalam pasal 25 Hague Regulation yang melarang ;

„serangan atau pemboman, dengan cara apapun, suatu perkotaan, pedesaan,

pertambangan atau bangunan-bangunan yang tidak dipertahankan‟ sedangkan

Pasal 27 Hague Regulation menyatakan bahwa „semua tindakan-tindakan yang

perlu dilakukan sedapat mungkin untuk memisahkan bangunan-bangunan

keagamaan, seni, ilmu, monumen-monumen sejarah, rumah-rumah sakit,

tempat-tempat dimana mereka yang luka dan sakit dirawat, asalkan semua bangunan ini

tidak digunakan untuk tujuan-tujuan militer‟.Ketentuan ini juga menyebutkan

secara eksplisit obyek-obyek apa saja yang tidak boleh dijadikan sasaran serangan

dalam peperangan.

B. Pengaturan Hukum Humaniter Internasional Mengenai Perlindungan Warga Sipil dan Obyek Sipil

1. Pengaturan Hukum Humaniter Internasional terhadap Warga Sipil Dalam konflik bersenjata internasional (international armed conflict) atau

sering disebut sebagai “perang”, harus tetap ada dan mesti dipertahankan dalam

melindungi penduduk sipil, maka hukum internasional telah memberikan

perlindungan hukum bagi para penduduk sipil. Dalam hal ini maka akan terpikir

ada dua hal hukum yang biasa diajukan, yaitu ;

a. Perang tersebut memiliki cukup legitimasi (jus ad bello).

b. Dalam perang tersebut tersedia cukup koridor tentang metode dan sarana

(14)

berperang (jus in bellum), sering disebut sebagai bagian dari hukum

humaniter internasional (international humanitarian law).

Saat terjadi perang, hak-hak sipil tetap dilindungi oleh hukum hak asasi

manusia internasional mencakup wilayah yang lebih luas. Hak sipil, hak politik,

hak ekonomi, hak budaya, hak sosial, hak atas pendidikan, hak pembangunan,

lingkungan dan sebagainya yang utamanya berlaku di waktu bukan perang.

Perlindungan penduduk sipil dalam Hukum Humaniter Internasional

dibedakan menurut bentuk dan isinya yang tertuang dalam Hukum Internasional

kebiasaan dan hukum internasional perjanjian. Adapun aturan-aturan tersebut

berdiri sendiri terlepas dari satuan pengaturan lainnya. Aturan-aturan dalam

halnya perlindungan penduduk sipil ini terdapat pada Instruksi Lieber tahun 1863

yang berbentuk Hukum Humaniter Internasional kebiasaan, dan yang berbentuk

Hukum Humaniter Internasional perjanjian meliputi Konvensi Jenewa 1864,

Konvensi Den Haag 1899/1907, Konvensi Jenewa 1949 dan Protokol Tambahan

1977.42

Dimulai dari Instruksi Lieber tahun 1863, Instruksi pemerintah Amerika

Serikat, yang dianggap sebagai kodifikasi hukum perang internasional dengan

menggunakan kata-kata seperti “unarmed citizens”, “private citizens”,

“inoffensive citizens”, “private individuals” dan “non-combatant” menetapkan

beberapa ketentuan yang mengatur orang sipil. Instruksi itu membedakan orang

sipil dalam tiga kelompok, yakni orang sipil yang “inoffensive”, orang sipil yang

ikut serta langsung dalam permusuhan, dan orang sipil yang terkait dalam

42

(15)

pelaksanaan tugas angkatan bersenjata. Bagi mereka instruksi tersebut

menetapkan perlindungan dan larangan.43

Orang sipil yang “inofffensive” mendapatkan perlindungan pribadi, harta

dan kehormatannya. Mereka tidak boleh dibunuh, dijadikan budak, dipindah

paksakan atau dipaksa bekerja pada pihak yang menang. Kesuciaan hubungan

keluarga juga tidak boleh dicemarkan. Orang sipil yang turut serta langsung dalam

permusuhan sebagai peserta “leeve en masse” diberi kedudukan sebagai

“belligerent”. Orang sipil yang terkait aktif dalam pelaksanaan tugas angkatan

bersenjata bila tertangkap musuh berhak mendapatkan status tahanan perang.

Disamping perlindungan itu instruksi tersebut juga menetapkan larangan bagi

penduduk sipil, misalnya larangan dilakukannya perbuatan perang oleh orang

sipil. Di wilayah pendudukan orang sipil dilarang melakukan perlawanan

bersenjata.44 Ketentuan hukum humaniter internasional dalam instruksi lieber

1863 yang mengatur penduduk sipil itu berlaku pada penduduk sipil beserta

perlindungan yang ditetapkannya sebagai ketentuan hukum humaniter

internasional kebiasaan.45

Selanjutnya pengaturan perlindungan penduduk sipil dalam bentuk

perjanjian internasional ialah Konvensi Jenewa tahun 1864. Merupakan perjanjian

internasional hukum humaniter internasional pertama yang menetapkan

perlindungan bagi korban perang. Konvensi yang dimaksudkan untuk melindungi

korban perang ini menetapkan perlindungan bagi mereka yang luka di medan

(16)

mengatur tingkah laku orang sipil dalam konflik bersenjata dan perlindungan

terhadapnya.

Di rasa perlu untuk memperbaharui aturan sebelumnya, maka pada tahun

1899 dan 1907 diadakan Konvensi Den Haag untuk mendapatkan aturan tentang

hukum dan kebiasaan perang darat “Regulations respecting the laws and Custom

of war on Land” atau disebut juga Pengaturan Den Haag “Hague Regulation”.

Pengaturan Den Haag ini lebih banyak mengatur “belligerents”, baik kualifikasi

maupun hak dan kewajibannya. “Belligerents” adalah mereka yang tunduk pada

hukum perang. Dalam istilah sekarang mereka dikategorikan sebagai kombatan.

Pengaturan Den Haag tidak menetapkan batasan pengertian orang sipil. Namun

dalam pengaturan Den Haag tidak terdapat ketentuan-ketentuan orang-orang yang

tidak tergolong “Belligerents” yakni orang-orang yang tidak ikut permusuhan

“hostilities” atau dengan kata lain disebut sebagai penduduk sipil. Pengaturan Den

Haag ini melindungi penduduk sipil yang berada di wilayah pendudukan. Bentuk

perlindungan tersebut ialah perlindungan terhadap tindakan sewenang-wenang

dari musuh yang menguasainnya. Bentuk perlindungan tersebut antara lain46 :

a. Larangan pemaksaan penduduk sipil mmberikan informasi tentang angkatan

bersenjata pihak lawan bertikai atau tentang perlengkapan pertahanan;

b. Larangan meminta sumpah kepada penduduk sipil untuk setia kepada

penguasa pendudukan;

c. Penghormatan hak-hak pribadi penduduk sipil

d. Larangan menjarah penduduk sipil

46

(17)

e. Larangan pemungutan pajak dan pungutan lain secara sewenang-wenang;

f. Larangan penghukuman kolektif pada orang sipil;

g. Larangan pencabutan hak milik penduduk sipil secara sewenang-wenang.

Pada perkembangannya dalam pengaturan perlindungan penduduk sipil,

pada tahun 1949 diadakan Konvensi Jenewa tentang perlindungan korban perang.

Memiliki empat bagian dari Konvensi Jenewa (Geneva Convention) tahun 1949

yang terdiri atas :

1) Perlindungan terhadap korban luka dan yang menderita sakit dalam konflik

bersenjata

2) Perlindungan terhadap korban luka, korban yang menderita sakit dan korban

kapal karam akibat konflik bersenjata di laut

3) Perlakuan terhadap tawanan perang

4) Perlindungan terhadap penduduk sipil dalam waktu berperang

Perlindungan penduduk sipil ketika dalam keadaan perang yang diatur

secara khusus dalam Pasal 4 Konvensi Jenewa IV 1949 menyebutkan bahwa ;

“Persons protected by the Convention are those who, at a given moment

and in anymanner whatsoever, find themselves, in case of a conflict or

occupation, in the handsof a Party to the conflict or Occupying Power of which

they are not nationals. Nationals of a States which is not bound by the

Convention are not protected by it. Nationals of a neutral State who find

themselves in the territory of a belligerent State, and Nationals of a co-belligerent

(18)

nationals has normal diplomatic representationin the State in whose hands they

are”.

Secara umum, Konvensi Jenewa IV tersebut berlaku kepada „penduduk sipil

musuh‟ apabila dilihat dari sudut pandang pihak yang menguasai mereka atau

dalam hal ini berarti penduduk sipil negara bersengketa yang jatuh dalam

kekuasaan musuh karena mereka yang dianggap paling membutuhkan

perlindungan dari pendudukan „belligerent‟ tersebut.

Hal ini berarti bahwa selain di wilayahnya sendiri, suatu negara dalam

perang juga berkuasa diwilayah musuh yang diduduki oleh angaktan perangnya.

Dapat juga orang-orang yang dilindungi atu „Protected persons‟ dalam Konvensi

Jenewa IV dirumuskan sebagai berikut ;

a. Warga negara sipil musuh di wilayah negara pihak yang bersengketa

b. Penduduk sipil di wilayah musuh yang diduduki, terkecuali ;

a) Warga negara dari pendudukan sendiri

b) Warga negara dari pendudukan sekutu

c) Warga negara dari sekutu

d) Warga negara dari negara netral yang mempunyai hubungan diplomatik

dengan pendudukan, dan

e) Warga negara dari negara bukan peserta konvensi

Pembatasan penting terhadap hak-hak perlindungan yang diberikan

konvensi ini kepada orang-orang yang dilindungi ini diatur dalam paragraf

terakhir dalam Pasal 14 dari Konvensi Jenewa IV yaitu status „protected persons‟

(19)

orang-orang yang dilindungi menurut Konvensi Jenewa IV ini karena Konvensi Jenewa

IV ini hanya melindungi penduduk sipil saja. Selanjutnya, dalam pasal 5, pasal ini

mengatakan bahwa penduduk sipil di wilayah pihak dalam sengketa atau wilayah

yang diduduki, yang melakukan atau dicurigai keras melakukan atau terlibat

peperangan sebagai mata-mata bagi pihak musuh, akan kehilangan status dari

perlindungan terseut.

Dikarenakan adanya perkembangan pemahaman tentang pertikaian

bersenjata, kebutuhan perlindungan yang lebih luas lagi bagi mereka yang luka,

sakit dan korban karam serta perkembangan cara dan sarana perang beberapa

waktu yang lalu lahirlah Protokol Tambahan tahun 1977. Protokol tambahan ini

merupakan tambahan pada Konvensi Jenewa 1949, namun melihat dari isi aturan

yang terkandung di dalamnya Protokol Tambahan 1977 in juga merupakan

tambahan dari Kovensi Den Haag 1907 karena memuat aturan dan tata cara serta

sarana pertikaian senjata. Keberadaan dari Protokol Tambahan adalah sebagai

bentuk penyempurnaan Konvensi Jenewa 1949. Bukan sebagai pengganti dari

Konvensi Jenewa 1949. Protokol ini sendiri terdiri dari dua bagian, yakni Protokol

Tambahan I dan Protokol Tambahan II. Protokol Tambahan I memuat aturan

tentang perlindungan korban konflik bersenjata yang bersifat internasional,

sedangkan Protokol Tambahan II memuat aturan perlindungan korban konflik

(20)

Ketentuan pokok yang terdapat dalam Protokol Tambahan I 1977 antara lain

47

; Melarang serangan yang membabi buta dan reprisal terhadap; Penduduk sipil

dan orang-orang sipil; Obyek-obyek yang sangat penting bagi kelangsungan hidup

penduduk sipil; Benda-benda budaya dan juga tempat-tempat religius; Bangunan

dan instalansi berbahaya; Lingkungan alam.

Tidak Hanya pada Protokol Tambahan I, Protokol Tambahan II juga

memiliki beberapa hal yang diatur khusus di dalamnya. Ketentuan-ketentuan

dalam Protokol Tambahan II antara lain menentukan hal-hal sebagai berikut :48

Mengatur jaminan-jaminan yang sifatnya fundamental bagi semua orang, apakah

mereka yang terlibat atau tidak dalam suatu pertempuran. Menentukan hal-hal

bagi orang-orang yang kebebasannya dibatasi dalam menerima peradilan yang

adil. Memberikan perlindungan penduduk sipil dan obyek-obyek perlindungan

melarang dilakukannya tindakan intervensi secara sengaja.

Mengenai ruang lingkupnya, Pasal 1 ayat (2) Protokol Tambahan II yang

tidak lain sebagai perlengkapan Konvensi Jenewa 1949, menetapkan bahwa

Protokol Tambahan II ini berlaku kepada semua konflik bersenjata yang tidak

dirumuskan dalam Pasal 1 Protokol Tambahan I 1977 tentang perlindungan

korban konflik bersenjata yang berlangsung di wilayah negara-negara peserta

konvensi.

Dalam Protokol Tambahan II ini, ditegaskan bahwa negara yang sedang

dilanda konflik bersenjata dalam negeri memiliki kedaulatan yang penuh untuk

melakukan tindakan penyelamatan dalam bentuk apapun. Oleh sebab itu, dapat

47

Iskandarsyah, Pengantar Hukum Humaniter,op.cit 48

(21)

disimpulkan bahwa tidak ada satu pun ketentuan dari Protokol ini yang boleh

digunakan sebagai suatu pembenaran bagi campur tangan (intervensi) pihak luar

di dalam konflik bersenjata atau di dalam urusan dalam negeri atau luar negeri

suatu negara. Protokol Tambahan II tahun 1977, Pasal 3 ayat (2).

Protokol I dan II tahun 1977 juga menjabarkan dalam hal menetapkan

perlindungan bagi orang sipil antara lain :49

Protokol Tambahan I tahun 1977 menetapkan a.l :

a. Larangan menyerang orang sipil;

b. Keharusan dilakukannya penhati-hatian dalam melakukan perbuatan perang

demi untuk melindungi orang sipil;

c. Larangan dilakukannya kekerasan kepada orang sipil;

d. Larangan pemindahan paksa orang sipil;

e. Jaminan mendapatkan bantuan;

f. Kesempatan memberi bantuan korban konflik bersenjata.

Prtokol Tambahan II tahun 1977 menetapkan a.l :

a. Perlindungan terhadap operasi militer;

b. Larangan dijadikannya orang sipil sebagai sasaran konflik bersenjata;

c. Larangan menjadikan kelaparan orang sipil sebagai sarana pertikaian;

d. Larangan menyerang bangunan dan instalansi yang mengandung kekuatan

berbahaya;

e. Larangan pemindahan paksa orang sipil;

49

(22)

f. Perlindungan kumpulan dan orang sipil penolong korban pertikaian

bersenjata.

Perikemanusiaan sebagai suatu asas pokok hukum perang, dalam bentuknya

yang modern, untuk pertama kalinya dirumuskan oleh Rousseau menyatakan teori

pembatasan tentang siapa yang merupakan musuh dalam perang. Rousseau

membedakan penduduk sipil dan Kombatan berdasarkan Perikemanusiaan.

Perlindungan penduduk sipil dalam perang ditetapkan berdasarkan tuntutan

peradaban yang menghendaki dilaksanakannya prinsip pembedaan antara warga

negara dan negaranya. Pembedaan itu dimaksudkan untuk melindungi penduduk

sipil di masa perang. Perlindungan itu dibedakan dalam tiga macam perlindungan

bagi penduduk sipil yang berbeda yakni penduduk sipil yang inoffensive,

penduduk sipil yang ikut serta langsung dalam permusuhan dengan mengangkat

senjata dan penduduk sipil yang terkait dalam pelaksanaan tugas angkatan

bersenjata. Penduduk sipil yang inoffensive mendapatkan perlindungan pribadi,

harta dan kehormatannya. Mereka ini tidak boleh dibunuh, dijadikan budak,

dipindah paksakan atau dipaksa bekerja pada pihak yang menang. Kesucian

hubungan keluarga juga tidak boleh dicemarkan.

Penduduk sipil yang ikut serta langsung dalam permusuhan sebagai peserta

levee en masse ditetapkan sebagai public enemy, meskipun mereka tidak

memenuhi persyaratan yang ditetapkan bagi belligerent. Dengan ditetapkannya

peserta leeve en masse sebagai public enemy itu maka bila tertangkap musuh

(23)

Penduduk sipil diwilayah yang diduduki musuh, misalnya yang melakukan

perlawanan bersenjata, dinyatakan sebagai pelanggaran hukum perang. Demikian

pula orang-orang yang melakukan perbuatan permusuhan tanpa menjadi anggota

angkatan bersenjata tidak ditetapkan sebagai public enemy, yang karenanya bila

tertangkap musuh maka mereka tidak berhak atas perlindungan sebagai tawanan

perang. Mereka ini diperlakukan sebagai perampok atau pembajak.

Perlindungan Penduduk Sipil dalam Pelanggaran Humaniter serius diatur

dalam Konvensi Geneva (IV) TAHUN 1949, Grave Breaches dipakai untuk

membedakan antara kejahatan perang yang terjadi dalam konflik bersenjata

internasional dalam hubungannya dengan istilah “orang-orang yang dilindungi”

(the protected persons) dengan kejahatan yang dilakukan dalam konflik internal

atau domestik (Psl 4 Jo.Psl 147 Konvensi Geneva IV).

Sementara yang dimaksud sebagai “the protected persons” adalah; mereka

yang dalam waktu tertentu dan dengan cara apapun, mendapatkan dirinya, dalam

sebuah konflik atau pendudukan berada pada kekuasaan salah satu pihak dalam

konflik, di mana nasionalitas mereka tidak sama dengan pihak yang

menguasainya. Penggunaan terminologi “the protected person” di atas, memang

mengarah pada proposisi bahwa tawanan perang ataupun orang-orang sipil dalam

konflik internal, tidak mendapat perlindungan oleh Konvensi Geneva. Maksudnya

meskipun pasal 3 serta Protokol Tambahan No.2 Konvensi Geneva dengan jelas

melindungi kaum sipil serta tawanan perang dalam konflik internal tekstual

(24)

protected persons”. Dalam perkembangannya hal tersebut di atas ternyata tidak

bersifat absolut.

Beberapa praktik hukum pidana internasional nyatanya memasukan para

korban sipil dalam konflik internal sebagai “the protected persons”. Pengadilan

Kejahatan Internasional untuk bekas Yugoslavia (The International Tribunal of

Former Yugoslavia), dalam beberapa keputusannya memutuskan bahwa muslim

Bosnia termasuk “orang-orang yang dilindungi” dari Kejahatan Serbia Bosnia dan

begitu pula sebaliknya (Karine Lescure, 1996). Hal ini mengindikasikan bahwa

yang terpenting dalam pengkasiflikasian “orang-orang yanng dilindungi”

bukanlah legal nationality dari seseorang, tetapi juga kenyataan bahwa ada kondisi

yang secara de facto memperlihatkan tidak adanya perlindungan diplomatik atau

hukum terhadap korban-korban tersebut.

“Kelemahan” Konvensi Geneva, tampaknya menjadi perhatian khusus para

pelaku hukum internasional. Usaha perluasan penafsiran atas konflik internal terus

meningkat.50 Dalam Hal ini Hukum Humaniter Internasional juga mempunyai

suatu prinsip yang dapat membedakan Warga Sipil dalam Konflik bersenjata,

dimana Prinsip ini dikenal dengan Prinsip Pembedaan. Prinsip Pembedaan ini

membedakan antara Warga Sipil dengan Kombatan, pembedaan ini perlu

diketahui untuk mengetahui siapa yang dapat/boleh dijadikan objek sasaran dan

siapa yang harus dilindungi. Dengan kata lain, adanya prinsip pembedaan ini

dapat diketahui siapa yang turut ikut dalam permusuhan, sehingga dijadikan objek

50

(25)

sasaran dan siapa yang tidak ikut serta dalam permusuhan untuk mendapatkan

perlindungan.

Prinsip Pembedaan ini berguna untuk menghormati dan melindungi Warga

sipil dari sasaran perang serta untuk tidak menyerang objek-objek sipil, seperti

rumah sakit, sekolah, rumah ibadah dan lainya. Tujuan prinsip pembedaan ini

adalah untuk melindungi Warga sipil.

Oleh karena itu, berkenaan dengan tindakan peperangan tidak hanya

berakibat terhadap anggota angkatan bersenjata, tetapi juga berakibat terhadap

warga sipil. Apalagi warga sipil sebagai pihak yang lemah dan menderita, sangat

mudah dijadikan sasaran kekerasan dengan berbagai tuduhan dibuat-buat. Hukum

Humaniter juga telah mengatur perlindungan terhadap penduduk sipil dalam Pasal

27 Konvensi Jenewa IV 1949, yang pengaturannya lebih sempurna daripada

Konvensi Den Haag. Namun dalam praktiknya, ketentuan tersebut tidak

diterapkan secara sungguh-sungguh. Menurut M.Gaussyah, 51 bahwa untuk

mewujudkan cita-cita melindungi segenap bangsa dan seluruh warga negara,

maka harus diadakan lembaga/alat yang bertugas melindungi penduduk, yaitu alat

negara atau lembaga Kepolisian sebagai penegak Hukum yang bertanggung jawab

penuh bagi keamanan.

Perkembangan teknik persenjataan modern dewasa ini mengakibatkan

bertambah susahnya usaha untuk mencegah Warga Sipil turut menjadi sasaran

perang. Kenyataan bahwa perang modern merupakan perang yang total,

mengakibatkan perlindungan yang diberikan oleh hukum perang internasional

51

(26)

secara negatif, dengan menempatkan di luar perang jelas tidak memadai lagi

dewasa ini.52 Warga sipil membutuhkan perlindungan yang lebih positif/baik dan

netralisasi dari perbuatan yang dilatarbelakangi oleh faktor politik, ekonomi,

kekuasaan dan lainnya, yang hanya menimbulkan penderitaan bagi Warga sipil

yang tidak ikut dalam konflik bersenjata tersebut. Oleh karena itu, Warga sipil

dibedakan secara tegas dengan pihak-pihak yang terlibat secara langsung dalam

konflik bersenjata tersebut. Disamping itu Warga sipil harus bersikap netral atau

tidak boleh ikut serta dalam konflik bersenjata.

Ketentuan Pasal 4 Konvensi Jenewa IV 1949 menetukan, orang-orang yang

dilindungi dalam Konvensi ini adalah mereka yang dalam suatu peristiwa

pendudukan, pada suatu saat tertentu dengan cara bagaimanapun juga ada dalam

tangan satu pihak dalam sengketa atau kekuasaan pendudukan yang bukan negara

mereka. Orang sipil dapat jatuh dibawah kekuasaan negara pendudukan dan untuk

itu diperlakukan perlindungan.

Pemerintah atau negara wajib melakukan penegakan hukum secara

maksimal guna melindungi orang-orang yang menjadi korban dari pelanggaran

hukum humaniter. Dasar Hukum bagi tindakan kejahatan dapat mendasarkan pada

Konvensi Den Haag IV tahun 1907 yang menyatakan bahwa penduduk sipil dan

pihak-pihak yang berperang akan tetap tunduk pada perlindungan dan

prinsip-prinsip pokok umum hukum internasional sebagai yang ditetapkan dalam

kebiasaan bangsa-bangsa yang beradab.

52

(27)

Prinsip-prinsip Hukum tersebut, seperti prinsip pembedaan, prinsip

kemanusiaan dan prinsip kesatria pada dasarnya telah menjadai landasan bagi

setiap negara dalam pengaturan hukum lebih lanjut dan bagi tindakan atau

perbuatan yang dilakukan oleh aparat negara atau kombatan yang terlibat dalam

konflik bersenjata. Dalam kenyataan, prinsip dan aturan yang telah ditetapkan

tersebut kurang dilaksanakan dengan sebenarnya oleh para pihak yang

bersengketa dalam konflik bersenjata tersebut, sehingga terjadi tindakan

kekerasan terhadap orang-orang yang seharusnya dilindungi.

Sebenarnya, semua konflik bersenjata yang terjadai pada umumnya,

mengharuskan pemerintah negara yang bersagkutan mengambil kebijakan lebih

tegas untuk melindungi dan menyelesaikan masalah tersebut secara tuntas dengan

cara yang damai. Kenyataan nya menunjukan bahwa banyak orang-orang menjadi

koraban hanya karena keegoisan dari para pihak bersengketa, dan hal ini dapat

dilihat dalam kasus Perang Suriah yang sudah berlangsung kurang lebih 6 tahun.

Jelasnya perlindungan terhadap warga sipil sangat lemah sekali, baik karena

penyeangan yang tidak tepat sasaran ataupun pemboman maupun akibat

kekerasan dari pihak yang bertikai yang kurang peduli bagi keselamatan Warga

sipil.

Ketentuan Pasal 3 common article sebagai ketentuaan minimal, telah

meletakkan kewajiban untuk melindungi kombatan yang tidak lagi bertempur.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa terhadap orang yang terlibat dalam

konflik bersenjata itu sendiri dilindungi oleh hukum humaniter internasional,

(28)

dalam konflik bersenjata tersebut harus mendapatkan perlindungan yang sangat

optimal dan maksimal, akan tetapi dalam kenyataannya yang paling banyak

menjadi korban dalam konflik bersenjata tersebut adalah orang-orang yang tidak

ikut dalam konflik bersenjata tersebut.

Sudah semestinya pihak-pihak yang terlibat dalam pertikaian atau konflik

bersenjata memperhatikan hak-hak penduduk sipil yang patut dilindungi dan

dihormati dengan menatti dan tidak melakukan tindakan pelanggran dengan

menyerang penduduk sipil yang sebenarnya bukan merupakan sasaran atau obyek

penyerangan dalam suatu pertikaian atau konflik bersenjata, sehingga tidak

menimbulkan korban yang tidak semestinya (collateral damage) bahkan pihak

yang bertikai dalam suatu konflik bersenjata juga tidak diperbolehkan menjadikan

penduduk sipil sebagai alat pertikaian atau konflik bersenjata, menyebarkan teror

dan kelaparan demi mendapatkan keuntungan terhadap jalannya pertikaian atau

konflik bersenjata tersebut.

2. Pengaturan Hukum Humaniter Internasional terhadap Obyek-obyek Sipil

Dimana kenyataan dalam sebuah konflik bersenjata warga sipil yang

menjadi korban tidak hanya menderita karena terkena serangan langsung dari

sasaran konflik bersenjata, namun ada hal lain yang menyebabkan penderitaan

warga sipil menjadi sangat menderita akibat objek (fasilitas) sipil yang tidak dapat

digunakan sebagaimana fungsi dari kegunaanya. Objek (fasilitas) yang sangat

(29)

Tempat Ibadah, Bangunan budaya (besejarah), sumber makanan dan air, instalasi

yang mengandung tenaga listrik dan air, dan lain-lainya.

Oleh sebab itu Protokol Tambahan 1977, mengatur perlindungan objek sipil

dari sasaran-sasaran akibat dari adanya konflik bersenjata, teaptnya pengaturan ini

terdapat pada Pasal 57 dimana ditentukan sebagai dasar bahwa dalam melakukan

operasi militer harus selalu diusahakan untuk menyayangi/melindungi (spare)

penduduk sipil, orang sipil dan obyek sipil.

Ketentuan selanjutnya ditujukan kepada mereka yang merencanakan atau

menentukan suatu serangan. Mereka diwajibkan mengambil tindakan

pengamanan, diantaranya :

1) Meneliti benar-benar bahwa objek serangan bukan orang sipil atau objek

sipil dan bahwa objek tersebut tidak secara khusus mendapat perlindungan.

Objek yang akan diserang haruslah objek militer seperti yang ditentukan

dalam Pasal 52 ayat 2, dan objek-objek tersebut tidak dinyatakan sebagai

objek terlarang oleh protokol ini;

2) Mengambil tindakan yang perlu dalam memilih alat (means) dan cara

(methods) menyerang, dengan maksud untuk mencegah, atau

sekurang-kurangnya memperkecil adanya korban tak disengaja/kebetulan (incidental)

di kalangan penduduk sipil atau kerusakan pada objek sipil;

3) Menangguhkan penentuan serangan yang dapat diperkirakan/diharapkan

akan menimbulkan korban di kalangan penduduk sipil dan kerusakan pada

objek sipil yang lebih besar, dibandingkan dengan keuntungan militer yang

(30)

Apabila ternyata bahwa : objek serangan bukan objek militer, atau objek

dilindungi secara khusus, atau serangan menimbulkan kerugian yang melebihi

manfaat militer, serangan harus dibatalkan (cancelled). Apabila suatu serangan

memengaruhi penduduk sipil, harus diberikan peringatan sebelumnya kecuali

apabila keadaan tidak mengizinkan. Di sini tidak ditentukan siapa yang harus

menilai apakah keadaan mengizinkan atau tidak. Dapat diperkirakan bahwa hanya

komandolah yang dapat membuat penilaian itu. Selanjutnya ditentukan bahwa

apabila dimungkinkan membuat pilihan di antara beberapa objek militer yang

memberikan keuntungan militer yang sama, harus dipilih objek yang dapat

menimbulkan kerugian kepada penduduk sipil dan objek sipil. Juga di sini

komandan atau perencana serangan yang dapat membuat keputusan ketentuan

semacam ini juga berlaku di laut dan di udara.

Ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam Pasal 57 ini benar-benar

mengharuskan para komandan serangan untuk memilih cara menyerang yang

sesuai dengan ketentuan tersebut. Dapat dipahami bahwa dengan adanya

ketentuan-ketentuan itu cara menyerang menjadi sangat dibatasi. Mungkin sekali

harus dipilih cara menyerang, yang dilihat dari segi militer kurang

menguntungkan tersebut tidak bertentangan dengan Hukum Humaniter

Internasional. Selain tindakan pengamanan seperti yang baru saja diuraikan, masih

ada tindakan-tindakan lain yang harus diperhatikan untuk mencegah atau

mengurangi efek-efek serangan terhadap penduduk sipil dan objek sipil. Pihak

(31)

1) Berusaha memindahkan penduduk sipil, objek sipil yang berada di bawah

pengawasan mereka, dari sekitar objek militer. Dalam hal ini harus

diperhatikan Pasal 49 dari Konvensi IV tentang deportasi.

2) Mencegah ditempatkannya objek militer di dalam kota atau wilayah yang

padat penduduknya.

3) Mengambil tindakan pengamanan lain untuk melindungi penduduk sipil dan

objek sipil yang berada di bawah pengawasannya terhadap bahaya yang

berasal dari operasi militer.

Masih ada ketentuan lain mengenai serangan yang perlu mendapat perhatian

para komandan, yaitu dilarangnya serangan membabi-buta (indiscriminate attack).

Pengertian serangan membabi-buta yaitu :

1) Serangan yang tidak ditujukan kepada objek militer tertentu;

2) Serangan dengan menggunakan cara atau alat bertempur yang tidak dapat

ditujukan kepada objek militer tertentu;

3) Serangan dengan menggunakan cara atau alat bertempur yang efeknya tidak

dapat dibatasi, seperti yang ditentukan dalam protokol ini.

Denagn demikian, dapat dikatakan serangan membabi-buta mempunyai sifat

tidak dapat membedakan antara objek militer dengan objek sipil. Sebagai contoh

dari apa yang dimaksudkan dengan serangan yang membabi-buta dapat

dikemukakan :

1) Serangan yang dilakukan dengan pemboman, dengan cara atau alat apapun,

(32)

berlainan dan terpisah, yang terletak di dalam suatu kota, dusun atau

wilayah, dimana terdapat pula konsentrasi penduduk sipil dan objek sipil;

2) Serangan yang dapat diharapkan akan menimbulkan korban jiwa pada

penduduk sipil, luka-luka pada orang sipil, kerusakan pada objek sipil yang

berlebihan, dibandingkan dengan hasil yang diharapkan.

Protokol I, berbeda dengan Konvensi-konvensi sebelumnya. Objek-objek

yang mungkin dapat dijadikan sasaran serangan, dibagi dalam dua golongan besar

dengan batasan tertentu, yaitu objek militer dan objek sipil. Pembagian semacam

ini perlu diadakan karena objek yang dapat diserang hanyalah objek militer saja.

Adapun batasan dari objek sipil terdapat pada Pasal 52 ayat 1. Secara

negatif dinyatakan bahwa objek sipil (civilian object) adalah semua objek yang

bukan objek militer seperti dicantumkan dalam Pasal 52 ayat 2. Di dalam ayat 1

ditegaskan bahwa objek sipil tidak boleh dijadikan objek suatu serangan atau

reprisal. Mengenai objek militer, ayat 2 tidak memberikan batasan yang jelas.

Dinyatakan bahwa objek militer adalah terbatas pada objek-objek yang karena:

sifat, lokasi, tujuan atau penggunaannya meberikan saham (contribution) yang

efektif untuk suatu aksi militer. Selanjutnya penghancuran atau perebutan atau

netralisasi untuk sebagian atau seluruhnya dari objek itu, akan memberikan

keuntungan militer nyata (difinite) pada saat itu.

Mengingat bahwa batasan tersebut cukup luas sehingga dapat menimbulkan

tafsiran yang berbeda-beda, ayat 3 memberikan petunjuk apa yang harus

dilakukan apabila timbul keragu-raguan, yaitu apakah suatu objek itu merupakan

(33)

sebagai objek sipil. Sebagai contoh disebut bahwa apabila diragukan apakah suatu

tempat ibadah atau sebuah sekolah dipakai untuk kepentingan militer, objek

tersebut harus dianggap bukan objek militer. Selain ada pembedaan antara objek

sipil dan militer, ada juga ketentuan yang secara tegas melarang, atau dengan kata

lain, objek-objek tersebut mendapat perlindungan. Objek-objek yang dilindungi

ini dapat dibagi dalam dua golongan, yaitu sebgai berikut :

1) Objek yang dilindungi secara umum

Objek yang termasuk golongan ini adalah sebagai berikut :

a. Objek kebudayaan-tempat ibadah

Dalam Pasal 53 dikatakan bahwa dilarang untuk melakukan tindakan

permusuhan (act of hostilities) terhadap monumen bersejarah, benda-benda

budaya atau tempat-tempat ibadah, yang merupakan peninggalan budaya

suatu bangsa. Dilarang pula menggunakan objek-objek tersebut untuk

keperluan militer.

b. Objek yang mutlak perlu untuk kelangsungan hidup penduduk sipil.

Mengenai hal ini, Pasal 54 mengatakan bahwa dilarang untuk membiarkan

penduduk mati kelaparan (starvation) sebagai suatu cara berperang.

Dilarang pula untuk menyerang, menghancurkan atau merusak objek yang

mutlak diperlukan untuk kelangsungan hidup penduduk sipil, seperti bahan

makanan, ternak, daerah pertanian dan sumber serta instalasi air minum,

dengan motif apapun. Di antara motif yang disebut ialah untuk membiarkan

penduduk sipil mati kelaparan agar penduduk pindah dan seterusnya. Dalam

(34)

berlaku apabila objek tersebut dipakai untuk kepentingan militer. Dalam

ayat 5 dinyatakan bahwa apabila oleh salah satu pihak dianggap sangat

perlu, dilihat dari segi kepentingan militer, pihak tersebut dapat melakukan

hal-hal yang dinyatakan terlarang itu.

c. Perlindungan terhadap „Natural Environment‟

Dalam suatu perang atau pertikaian bersenjata diusahakan jangan sampai

„natural environment‟ mengalami kerusakan yang hebat secara luas (wide

spread), untuk waktu yang lama. Perlindungan ini mencakup larangan

penggunaan cara atau metode perang yang bertujuan untuk merusak

„natural environment‟ sehingga membahayakan kelangsungan hidup

penduduk. Serangan terhadap „natural encironment‟ sebagai reprisal juga

dilarang.

d. Perlindungan terhadap instalansi yang mengandung tenaga berbahaya

(dangerous forces)

Pasal 56 yang mengatur hal ini terdiri dari tujuh ayat. Pertama, yang

dimaksudkan dengan bangunan instalansi yang mengandung tenaga

berbahaya adalah bendungan (dams), tanggul (dikes) dan Pusat Pembangkit

Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Bangunan-bangunan seperti itu tidak boleh

menjadi objek serangan sekalipun objek itu merupakan objek militer apabila

serangan semacam itu akan melepasakan tenaga membahayakan penduduk.

Objek-objek militer lain yang terletak pada atau dekat dengan

bangunan/instalansi tersebut juga tidak boleh diserang apabila serangan

(35)

Ayat 2 memberikan pengecualian terhadap ketentuan di atas. Perlindungan

tersebut hapus apabila:

a) Suatu bendungan atau tanggul tidak dipakai untuk fungsi normalnya, tetapi

digunakan untuk secara langsung membantu suatu operasi militer dan

serangan tersebut merupakan satu-satunya untuk mengakhiri bantuan

tersebut;

b) Suatu PLTN memberikan tenaga listrik untuk membantu secara langsung

sautu operasi militer;

c) Objek militer pada kota dekat bangunan/instalansi tersebut dipakai untuk

secara langsung membantu operasi militer.

Ayat 7 menentukan bahwa bangunan/instalansi semacam itu harus diberi

tanda yang sudah ditentukan, yaitu tiga lingkaran Orange.

2) Objek yang dilindungi secara khusus.

Bab V, Seksi I dari Bagian IV mengatur soal daerah (localities) dan zona

(zones) yang berbeda di bawah lindungan khusus. Pengertian daerah di sini adalah

daerah yang tidak dipertahankan (nondefended localities), dan zona yang

didemiliterisasi (demiliterized zones).

a. Daerah yang tidak dipertahankan.

Di dalam Pasal 59 dengan tegas ditentukan bahwa pihak bertikai dilarang

menyerang daerah yang tidak dipertahankan dengan cara apapun. Pihak bertikai

dapat menyatakan sebagai daerah yang tidak dipertahankan setiap tempat yang

didiami, dekat atau dalam mana angkatan bersenjata yang bermusuhan sedang

(36)

dapat dinyatakan sebagai daerah yang tidak dipertahankan harus memenuhi

syarat:

a) Semua kombatan, semua senjata dan alat militer yang mobil harus di

evakuasi;

b) Instalansi tetap militer yang berada di situ tidak boleh dipakai untuk

kepentingan yang bersifat permusuhan;

c) Tidak dilakukan kegiatan untuk membantu operasi militer.

b. Zona yang didemiliterisasi

Pasal 60 mengatur zona yang didemiliterisasi. Pihak-pihak yang bertikai

dilarang memperluas operasi militer ke daerah yang telah disepakati bersama

sebagai zona yang diidemiliterisasi. Persetujuan untuk membentuk zona yang

demikian harus memenuhi syarat-syarat antara lain :

a) Harus dinyatakan secara tegas (express agreement);

b) Dapat dilakukan secara tertulis atau dengan lisan;

c) Dapat diadakan secara langsung (antara pihak yang bertikai) atau melalui

negara pelindung;

d) Harus ditentukan batas-batas zona seteliti mungkin dan apabila perlu

dicantumkan cara pengawasan;

e) Persetujuan tersebut dapat diadakan dalam masa damai, atau setelah

permusuhan pecah.

Dengan adanya pengaturan terhadap objek sipil yang telah diatur dalam

Protokol Tambahan I 1997 ini masih belum semua terikat dan benar-benar tunduk

(37)

bersenjata masih banyak objek sipil yang terkena serangan dari sasaran militer

yang sehingga membuat penderitaan warga sipil semakin memburuk dalam situasi

konflik bersenjata.53

C. Masalah-Masalah yang timbul terhadap Warga Sipil dan Obyek Sipil akibat Perang Suriah

Perang adalah pelaksanaan atau bentuk konflik dengan intensitas kekerasan

yang tinggi. Von Clausewitz, seorang militer dan filsuf Jerman mengatakan antara

lain bahwa perang adalah kelanjutan politik dengan cara-cara lain. Dengan prinsip

tersebut ia melihat bahwa hakekat kehidupan bangsa adalah suatu perjuangan

sepanjang masa dan dalam hal ini ia identikkan politik dengan perjuangan

tersebut.

Dahulu rakyat tidak mengetahui adanya perang, karena peperangan

dilakukan oleh dua negara dengan masing-masing menggunakan prajuritnya

bahkan prajurit sewaan. Saat ini, bersamaan dengan tumbuhnya demokrasi dalam

pemerintahan dan dukungan teknologi yang cepat, maka berubahlah perang dan

konflik antar negara menjadi sangat luas dan kompleks. Dalam alam demokrasi,

perang dan konflik telah melibatkan secara politis seluruh rakyat negara yang

bersangkutan. Dengan alat-alat komunikasi mutakhir setiap manusia dimanapun

berada akan dapat dijangkau oleh radio, bahkan televisi, sarana komunikasi dan

informasi lainnya sebagai alat konflik yang akan mempengaruhi pikirannya.

53

(38)

Negara yang memulai perang, melakukannya dengan melancarkan serangan

berkekuatan militer terhadap Negara yang hendak ditundukkannya. Serangan

dengan kekuatan militer dapat berupa satu ofensif luas yang dinamakan invasi,

juga dapat berupa serangan dengan sasaran terbatas. Hal ini, mencerminkan

adanya konflik bersenjata dimana pihak-pihak yang berperang menggunakan

kemampuan senjata yang dimiliki. Konflik bersenjata umumnya terjadi antar

Negara, namun konflik bersenjata bukan perang dapat terjadi di dalam suatu

Negara sebagai usaha yang dilakukan daerah untuk memisahkan diri atau gerakan

separatisme dengan menggunakan kekerasan senjata, dan usaha terorisme baik

yang bersifat nasional maupun internasional.

Masalah-masalah tersebut, ada yang berkembang sepenuhnya sebagai usaha

domestik karena dinamika dalam satu Negara, tetapi juga ada yang terjadi karena

peran atau pengaruh Negara lain. Meskipun masalah-masalah itu tidak termasuk

perang, dampaknya bagi Negara yang mengalami bisa sama atau dapat melebihi.

Dewasa ini (pada masa damai), sering terjadi konflik di dalam suatu Negara

yang dipandang akan berdampak langsung maupun tidak langsung bagi stabilitas

suatu Negara. Kesalahan tindakan preventif terhadap konflik yang terjadi, akan

berakibat fatal bagi keutuhan sebuah Negara. Pengalaman penanganan konflik

etnik yang melanda Uni Soviet dan Negara-negara bagian, misalnya,

menyadarkan banyak Negara akan arti pentingnya tindakan preventif untuk

pencegahan konflik, agar tidak berdampak negatif bagi keamanan nasional

mereka. Pengalaman Uni Soviet, yang gagal untuk mengantisipasi konflik

(39)

ternyata telah menyadarkan banyak Negara akan dampak langsung konflik bagi

aspek pertahanan. Begitu pula sulitnya penanganan konflik yang dipicu oleh

masalah identitas agama yang menyebabkan konflik, yang belum kunjung selesai

di India antara Hindu dan Muslim sehingga Muslim membentuk identitas

tersendiri sejak akhir abad 19 mendorong setiap Negara untuk mengantisipasi sifat

dan jenis-jenis konflik yang mungkin berdampak bagi faktor keamanan dan

pertahanan.

Dalam Konflik bersenjata di Suriah ini merupakan perang saudara yang

terjadi akibat adanya kepentingan politik dan kekuasaan, dan aktor dari konflik di

Suriah ini antara lain adalah Pemerintahan Suriah yang dipimpin Oleh Bashar Al

Assad yang berkonflik dengan Oposisi yang menentang pemerintahan Assad,

yang terbagi menjadi 2 kelompok oposisi, yaitu kelompok pertama adalah Free

Syrian Army (FSA) dan kedua Syrian National Council (SNC) dan ada juga

oposisi yang dibentuk atas adanya inisiatif intervensi negara Amerika yaitu Syrian

National Council for Opposition and Revolutionary Forces (SNCORF). Konflik

Suriah ini sudah berlangsung kurang lebih hampir 7 tahun lamanya dan korban

jiwa sudah sangat banyak serta kerusakan-kerusakan yang terjadi akibat konflik

tersebut sudah sangat parah, baik kerusakan obyek-obyek sipil maupun

(40)

Dalam konflik bersenjata Suriah masyarakat/warga sipil dan obyek sipil

tidak luput dari sasaran dari konflik tersebut, baik terhadap warga sipil biasanya

terjadi hal-hal sebagai berikut :

1) Terjadi kekerasan tubuh maupun nyawa terhadap seseorang

2) Penyanderaan

3) Pelecehan Martabat, pemerkosaan

4) Penjatuhan dan pelaksanaan pidana tanpa proses peradilan yang menjamin

hak-hak seseorang

5) Kelaparan terhadap setia orang

6) Hialngnya Mata Pencaharian seseorang

7) Membludaknya para pencari suaka (pengungsi/imigran)

8) Perbudakan dan perdagangan orang. dan masih banyak yang lainnya.

Sedangkan dampak yang terjadi akibat adanya konflik bersenjata terhadap

obyek sipil, sebagai berikut :

1) Hancurnya fasilitas-fasilitas umum seperti, Rumah Sakit, Sekolah Tempat

Ibadah Lembaga-lembaga Hukum, dan lain-lainnya

2) Hancurnya sumber kelangsungan kehidupan bagi masyarakat sipil, seperti

sumber makanan, sumber minum, sumber listrik, dan lain-lainnya

Dari berbagai masalah yang timbul terhadap warga sipil dan obyek sipil

yang berakibat dari adanya konflik bersenjata di Suriah tersebut sebenarnya

semua sudah dilindungi sesuai dengan peraturan-peraturan yang telah ada dan

dibuat dalam bentuk Konvensi-konvensi Internasional, tetapi dalam kenyataan nya

(41)

yang sama sekali tidak ditaati sama sekali. Padahal pengaturan-pengaturan yang

mengatur Konflik bersenjata ini sangat penting adanya suatu kesadaran untuk

mentaati nya, karena ini menyangkut akan kelangsungan suatu umat manusia dan

(42)

BAB IV

PERLINDUNGAN WARGA SIPIL DAN OBYEK SIPIL DALAM PERANG SURIAH DITINJAU DARI PRINSIP MARTENS CLAUSE

A. Latar Belakang Penyebab Timbulnya Perang di Suriah

Dalam konflik di Suriah bukanlah perbedaan mazhab keagamaan melainkan

politik dan ekonomi dari oposisi penentang Assad dan negara-negara pendukung

oposisi, ada tiga pihak yang berperan dan terlibat dalam konflik ini, Presiden

Bashar al-Assad dan para pendukungnya, Oposisi Suriah, dan kelompok Jihadis.

Konflik ini berawal dari sebuah protes terhadap penangkapan beberapa

pelajar di kota Darra. Ketika itu Maret 2011, 15 pelajar berumur 9-15 tahun

menulis slogan-slogan anti pemerintah di tembok-tembok kota. Slogan-slogan itu

berbunyi, “Rakyat mengiginkan rezim turun”.54

Polisi Suriah yang dipimpin oleh

Jendral Atef Najib, sepupu Presiden Bashar al-Assad menangkap dan

memenjarakan anak-anak tersebut. Akibatnya, lahirlah gelombang protes yang

menuntut pembebasan anak-anak tesebut. Reaksi tentara terhadap protes itu

berlebihan, sehingga menembaki para pemerotes yang mengakibatkan 4 orang

meninggal. Reaksi itu tidak meredakan para pemerotes, sebaliknya semakin

meluas dari kota Daraa menuju kota-kota pinggiran Latakia dan kota Banyas di

Pantai Mediterania atau Laut Tengah, Homs, Ar Rasta, dan Hama di Suriah Barat,

serta Deir es Zor di Suriah Timur.

54

Dina Y. Sulaeman, Praha Suriah: Membongkar Persekongkolan Multinasional

(43)

Protes dan demonstrasi ini kemudian berkembang menjadi perang sipil yang

dahsyat. Perang ini tidak saja menggunakan senjata konvesional sebagaimana

layaknya yang digunakan dalam perang, tapi juga menggunakan senjata kimia.55

Ada pandangan yang menyatakan bahwa perang yang saat ini terjadi Suriah

adalah perang antara mazhab Syi‟ah yang diwakili oleh Bashar al-Assad dan para

penentangnya yang bermazhab Sunni. Pandangan ini dibangun atas fakta yang

terjadi di Suriah: ada dua kekuatan besar yang sedang bertarung, yakni Arab Saudi

yang bermazhab Sunni dan Iran bermazhab Syi‟ah. Fakta lainnya adalah bahwa

pemerintahan Assad didukung oleh Iran dan gerakan Hizbullah, Iran merupakan

negara yang bermazhab Syi‟ah dan Hizbollah adalah gerakan berhaluan Syi‟ah

yang bermarkas di Lebanon. Sebaliknya para penentang Assad mendapat

dukungan negara-negara yang bermazhab Sunni seperti Arab Saudi, Quwait, dan

Afganistan.

Dengan merujuk peta konflik yang terjadi di Suriah, pertanyaan menarik

yang perlu diajukan adalah apakah benar konflik di Suriah kemudian bisa

dikatakan sebagai konflik yang dilatarbelakangi oleh perbedaan kepercayaan

(Agama)? Terlalu sederhana untuk menyatakan bahwa konflik tersebut

merupakan konflik teologis, meskipun asumsi tersebut juga tidak bisa diabaikan

sama sekali. Sebuah konflik terjadi tidak disebabkan oleh satu sebab tunggal.

Konflik selalu lahir oleh sebab yang kompleks dan diliputi oleh banyak faktor dan

kepentingan. Isu agama biasanya merupaka salah satu faktor pemicu di antara

faktor-faktor yang lahir sebagai penyebab konflik.

55 Merdeka.com, “

Mereka mau hancurkan Suriah, bukan sekadar tumbangkan Assad,” 24

(44)

Atas dasar pandangan ini, dapat dimengerti kemudian, jika para analis

konflik Suriah menyatakan bahwa konflik tersebut bukan konflik perbedaan

teologis, antara Sunni versus Syi‟ah.56 Dalam sebuah wawancara dengan jaringan

AS Fox News, Rabu 18 September 2013, Bashar al-Assad bahkan menyebut

konflik yang terjadi di Suriah bukan “perang saudara” melainkan telah diserang

oleh puluhan ribu pejuang jihad asing yang bersekutu dengan al-Qaeda.57 Jika

bukan konflik agama dan juga bukan konflik saudara, lalu apa penyebab lahirnya

konflik di Suriah, siapa saja pihak yang terlibat dan memainkan peran kunci

dalam konflik tersebut dan apa dampaknya bagi rakyat Suriah dan dunia

internasional.

1) Kronologi Konflik Suriah

Untuk mengetahui sumber konflik Suriah kita perlu mengetahui kronologi

konfliknya, karena pada runtutan peristiwa konflik itulah sejatinya tersimpan

pengetahuan apa yang menjadi sebab lahirnya konflik di Suriah.

Konflik Suriah dapat dirunut dari peristiwa protes yang dilakukan oleh

sekelompok pelajar saat mereka menulis slogan-slogan antipemerintah di

tembok-tembok kota.58 Slogan-slogan itu berbunyi, “Rakyat menginginkanrezim turun.”59

Kepolisian pemerintah Suriah menangkap para pelajar itu kemudian

memenjarakan mereka selama satu bulan. Selama dalam masa penahanan, para

pelajar itu mengalami penyiksaan, hal itu diketahui setelah para pelajar itu

dibebaskan.

56

Dina Y. Sulaeman, Praha ra Suriah, Op.cit.

57 www.antaranews.com, “Basha r: Suriah bukan perang saudara, tetapi diserang

al-Qaida,” 19 September 2013.

58

Ibid

59 Siti Muti‟ah, “

Referensi

Dokumen terkait