Masa Depan Islam di Indonesia
Oleh: Ziaulhaq*
Abstrak:
Masa depan Islam Indonesia berada di tangan liberal dan revivalis sebab keduanya memiliki potensi sebagai masa
depan Islam Indonesia. Kemungkinan ini sangat berkaitan dengan perkembangan kekinian yang akan
membentuk masa depan Islam Indonesia sebab keduanya juga secara intens terlibat dalam ranah perpolitikan. Untuk itu, kemungkinan yang paling logis
bagi masa depan Islam Indonesia adalah Islam yang mampu mengapresiasi politik secara baik sebab tidak
dapat dipungkiri masa depan Islam Indonsia sangat tergantung dalam wiliyah tersebut.
Kata Kunci: Skenerio, Liberal dan Revivalis
slam Indonesia secara global dapat diklasifikasikan pada—apa yang disebut Charles Kurzman—tiga wujud kostumeri, revivalis dan liberal. Namun, di antara ketiga ini yang paling memainkan peran dalam membentuk masa depan Islam Indonesia justeru berada di tangan dua wujud Islam, yaitu revivalis dan liberal sebab keduanya model Islam ini bersikap ingin menguasai dan memiliki. Untuk itu, tidak mengherankan kalau keduanya saling memperluas jaringan dan pengaruh dalam wewujudkan ideologi masing-masing di tengah umat Islam.
I
diajukan berdasar-kan kenyataan kekinian yang paling mungkin dan sangat mungkin bagi pembentukan masa depan. Untuk itu, tulisan ini akan diajukan dua skenario —yang paradok—yang paling menentukan bagi kelan-jutan masa depan Islam Indonesia. Mendeskripsikan masa depan Islam Indonesia dimaksudkan untuk mempersiapkan segala alternatif yang paling kemungkinan dilakukan dalam upaya mewu-judkan masa depan Islam yang benar-benar terencana.
Dua Skenerio Masa Depan Islam
Dalam kaitan ini, paling tidak terdapat dua skenario utama tentang masa depan Islam liberal di Indonesia, yaitu skenerio yang bersifat optimistik dengan semakin membaiknya proses demokratisasi sekuler dan skenerio yang bersifat pesimistik dengan kemung-kinannya kemenangan kelompok politik Islam revivalis.1 Namun,
yang pasti bahwa kedua skenerio ini sebenarnya memang sama-sama berpotensi untuk terjadi sebab memang keduanya merupa-kan dua realitas masa depan Islam Indonesia.
1. Skenario Keberhasilan Demokratisasi Indonesia
Melihat realitas kekinian, terutama sejak Indonesia memasuk era baru reformasi sebenarnya memberi pengaruh yang signifikan dalam proses demokratisasi sebab reformasi telah membuka wawa-san kebebasan dalam segala halnya sebagaimana yang tidak ditemukan ketika masa sebelumnya, tepatnya saatnya rezim orde baru berkuasa.2 Kenyataan ini memberi pengaruh yang
berarti bagi masa depan demokrasi di Indonesia sebab salah satu agenda utama reformasi adalah demokrasi itu sendiri. Walaupun harus diakui bahwa belum sepenuhnya berjalan sebagaimana mestinya—terutama dalam bidang politiknya—sebab masih kuatnya pengaruh otoritas pemerintah orde baru sampai hari ini. Suatu yang tidak dapat dipungkiri bahwa “rahmat” terbesar reformasi dalam bidang keagamaan, lebih tepatnya lagi dalam bidang pemikirannya telah mengilhami lahirnya beragam aliran pemikiran keagamaan, yang sebelumnya tidak dapat tumbuh secara baik.3 Pertumbuhan aliran pemikiran keagamaan
ini tidak hanya menguntungkan bagi kelompok-kelompok Islam liberal. Akan tetapi, juga memberi pengaruh yang sangat berarti bagi kelompok-kelompok Islam revivalis karena keduanya pada masa reformasi seakan-akan mendapatkan momentumnya untuk menunjukkan identitasnya masing-masing.
tidak menjadikan isu-isu agama sebagai mainstream utama politiknya, paling tidak menunjukkan kalau mayoritas umat Islam Indonesia mendukung proses demokratisasi Indonesia.4
Kenyataan inilah yang sangat memungkinkan sekali kalau demok-ratisasi negara menjadi masa depan Indonesia sebab proses demokratisasi ini yang sangat mungkin terjadi paling tidak untuk ukuran masa depan yang paling dekat yang diperkuat bahwa pemerintah yang berkuasa sepenuhnya mendukung proses demo-kratisasi ini. Karena memang kondisi kekinian menunjukkan kalau pemerintah atau partai politik yang berkuasa berada di tangan kelompok-kelompok yang secara eksplisit menunjukkan kecen-derungan perilaku politik demokratis yang sangat dekat dengan proses demokratisasi tersebut. Walaupun tetap saja kenyataan perjuangan ideologi politik kelompok politik Islam revivalis tetap saja menjadi rival utama bagi kelompok yang berafilasi dengan demokrasi.
Peluang terbesar bagi masa depan Islam liberal di Indonsia paling tidak bahwa ideologi pemikiran yang diusung Islam liberal ini tidak menjadi suatu tantangan bagi demokratisasi Indonesia. Bahkan menjadi “penyuara” utama bagi keberlangsungan demokratisasi tersebut. Oleh karena itu, sangat dipastikan bahwa pemerintah yang berkuasa tentu saja selain tidak menganggap kelompok Islam liberal ini sebagai tantangan yang dapat mengancam kebijakan pemerintah maka sangat mungkin sekali kalau pemerintah yang berkuasa justeru memberikan posisi yang strategis bagi kelompok Islam liberal karena keberadaannya dapat membantu pemerintah dalam menciptakan proses demokratisasi tersebut.
Karena sebenarnya pemerintah juga berkepentingan terhadap Islam liberal, terutama sebagai upaya memperkecil ruang gerak kelompok politik Islam revivalis yang menjadi tantangan bagi kelompok politik berkuasa yang setiap saat dapat saja menjadi mengancam peme-rintah yang berkuasa. Pada dasarnya, antara pemerintah yang berkuasa dengan kelompok Islam liberal ini memiliki kedekatan—yang mana antara keduanya saling mempengaruhi—sebab salah satu proyeksi Islam liberal yang menerima dan sekaligus sebagai penyuara utama demokratisasi. Oleh karena itulah, nampaknya pemerintah yang berkuasa justeru akan menganggap kelompok Islam liberal ini menjadi bagian utama proyeksi politik dan kebijakan pemerintah yang berkuasa.
ada. Proses sosialisasi pemikiran Islam liberal ini dapat dipastikan akan perkuat atau memperluas jaringan Islam liberal di tengah masyarakat dengan
Semakin terbukanya sikap inklusifitas masyarakat Indonesia untuk dapat menerima perbedaan, termasuk juga perbedaan antara agama dan terlebih lagi perbedaan dalam ranah keagamaan. Terbukanya inklusifitas ini tentu saja sangat berkaitan langsung dengan semakin intensifnya persentuhan budaya lintas agama yang secara langsung akan dipengaruhi oleh segala bentuk perkembangan yang akan terjadi seperti munculnya kecende-rungan postmodernisme, globalisasi dan teknologi informasi dalam kenyataan hidup yang semakin sekuler yang secara pasti akan menumbuhkan semangat inklusitas bagi masyarakat Islam Indonesia apabila memang proses demokratisasi berjalan sebagai-mana mestinya maka saat yang bersamaan itu pula dapat dipastikan yang muncul adalah demokrasi sekuler yang tidak bersandarkan pada kepentingan agama di dalamnya.5
2. Skenario Kemenangan Politik Islam Revivalis
Skenerio kedua ini tentu saja adalah kemungkinan yang paling buruk bagi masa depan Islam liberal apabila ternyata kelompok politik Islam revivalis dapat menggantikan posisi kelompok politik yang menyuarakan demokrasi sebagai pemerintah yang berkuasa. Dalam kaitan ini, kondisi kekinian menunjukkan bahwa kelompok politik Islam revivalis telah menunjukkan wujudnya, terutama semakin menguatnya kelompok politik seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk menduduki posisi tertentu dalam pemerin-tahan, walaupun secara signifikan belum memberi ancaman yang berarti bagi kelompok politik lainnya.
Namun, kesempatan kelompok ini menduduki posisi penting di pemerintahan akan memberi pengaruh yang berarti apabila pengaruh politik kelompok ini semakin menguat di masa depannya sebab kelompok ini secara strategis telah berupaya secara maksimal untuk memperkokoh posisinya dengan menggalang masa dari kelompok lapisan bawah, terutama kelompok-kelompok ma-syarakat kelas bawahnya atau kelompok-kelompok yang memiliki perjuangan ideologi tertentu, serta juga diperkuat dengan doktrin keagamaan yang selalu menjadi “senjata” utama kelompok revivalis Islam ini dapat upaya memperkuat pengaruhnya di kalangan masyarakat.6
menjadi gerakan “raksa-sa” yang siap mengalahkan kelompok politik non revivalis tersebut.
Selain itu, kelompok politik Islam revivalis ini akan semakin kuat disebabkan kuatnya kelompok revivalis lainnya seperti HTI dan IM yang memiliki perjuangan yang sama dengan kelompok politik revivalis tersebut, walaupun kelompok ini tidak bergerak sebagai kekuatan politik.7 Akan tetapi, dapat dipastikan bahwa apresiasi
politiknya disalurkan untuk memperkuat kelompok politik Islam revivalis tersebut paling tidak kelompok HTI dan IM ini merasa bahwa gerakan politik Islam revivalis ini merupakan representasi perjuangan kelompok ini masing-masing. Jika demikian, adalah sesuatu yang logis apabila kelompok ini akan semakin membesar pengaruhnya di masa depan.
Apabila kelompok Islam revivalis ini dapat mengalahkan posisi politik kelompok non revivalis maka sudah dapat dipastikan akan semakin memperkuat proses formalisasi syari’ah sebab salah satu visi utama kelompok politik Islam revivalis adalah untuk menjadi-kan Islam sebagai bagian dari utama kehidupan berbangsa. Untuk itulah, apabila formalisasi ini semakin nyata tentu secara signifikan pula kelompok Islam liberal akan mendapat tekanan yang serius sebab kelompok Islam revivalis tidak akan memberikan tempat yang nyaman bagi perkembangan Islam liberal di Indonesia maka saat yang bersamaan pula kelompok Islam liberal akan kehilangan masa depannya di Indonesia.
secara nyata juga tidak memberi sedikitpun peluang bagi Islam liberal karena semangat eklusitas keberagamaan merupakan salah satu bentuk sikap perla-wanan terhadap perkembangan Islam liberal.
Kenyataan lain yang akan muncul adalah semakin nyatanya kelom-pok-kelompok radikal sebab tumbuhnya eklusifitas keberagaman, yang secara langsung telah mempersubur menguatnya kelompok-kelompok radikal yang tidak saja akan mengamcam segala sesuatu yang ada di luar kelompok ini.8 Akan tetapi, juga menjadi
tantangan yang serius bagi kelompok politik Islam revivalis sebab kenyataan ini dipengaruhi oleh sikap eklusifitas keberagamaan yang tidak pernah dapat menerima segala perbedaan, termasuk ideologi politik maka saat yang bersamaan itu pula kecenderungan radika-lisme menjadi alternatif pilihan yang tidak dihindari.
Dengan demikian, tentunya apabila kelompok politik Islam revivalis akan mampu merebut posisi kelompok moderatis maka sudah dapat dipastikan Islam liberal tidak hanya tidak mampu bertahan untuk masa depan. Namun, juga akan mendapat tantangan yang serius— termasuk juga pemberangusan terhadap segala agenda-nya—yang secara pasti akan menyebabkan Islam liberal tidak akan memiliki masa depan di Indonesia dan justeru hanya akan menjadi kelompok pinggiran yang cepat atau lambat hilang seiring semakin menguatnya kelompok-kelompok yang non mainstreamnya.
Alternatif Masa Depan Islam
totalitas, terlebih lagi masa depan Islam liberal dengan mempertimbangkan beberapa alternatif yang sangat mungkin untuk ditempuh.
Berdasarkan pemetaan di atas dan sebagaimana yang disebutkan sebelumnya bahwa sebenarnya Islam liberal dapat dikatakan sangat mungkin sekali menjadi mazhab pemikiran Islam di masa depannya bagi Islam Indonesia sebab Islam liberal ini dapat mengakumulasi secara baik segala bentuk kemajuan menjadi bagian dari kelompok itu sendiri. Namun, di satu sisi lainnya tantangan yang datang pun sangat luar biasa yang akan dapat menghambat perkembangan Islam liberal di masa depannya, baik itu yang datang dari dalam sendiri yang berwujud dalam bentuk kelompok Islam revivalis yang memang secara kontras sangat berbeda dengan Islam liberal. Tidak hanya sampai di situ kelompok Islam revivalis inipun secara nyata-nyata menunjukkan perlawanan terhadap Islam liberal.
Menariknya lagi kelompok Islam revivalis ini juga memiliki kekuatan yang sangat berbanding. Bahkan dalam tahapan tertentu justeru melampui kelompok-kelompok Islam liberal disebabkan kemam-puan kelompok revivalis ini dalam membangun basis yang bersumber dari kelas menengah ke bawah yang cenderung diabai-kan sama sekali oleh kelompok Islam liberal. Karena memang disadari atau tidak komunitas kelompok bawah ini menjadi kelompok yang paling mayoritas dibanding kelompok yang lainnya karena memang sebenarnya kelompok Islam liberal dapat disebut sebagai kelompok pinggiran apabila berhadapan dengan kelompok Islam revivalis dengan kekuatan masanya dari kelas menengah ke bawah.
masyarakat secara langsung. Karena memang apabila tidak ada upaya yang serius dari kelompok Islam liberal ini untuk membendung menguatnya gerakan kelompok Islam revivalis tentu saja akan menyebabkan kelompok Islam liberal akan semakin termarginalkan. Apabila penmarginalan ini terjadi tentu saja masa depan Islam liberal sangat terancam sebagai tandingan dari kelompok mayoritas Islam revivalis. Untuk itulah, sangat penting agenda-agenda yang berisikan penyuara pemikiran-pemikiran Islam liberal ke tengah-tengah masyarakat kelas menengah ke bawah ini maka dalam konteks ini adalah sangat penting melakukan jaringan-jaringan berbasis masa tersebut.
Menurut saya agenda utama dalam upaya memperkuat posisi Islam liberal di masa depannya harus mengkonsentrasikan pada upaya penyentuhan kelas bawah ini sebab masa yang paling terbesar justeru berada di kelas bawah ini. Jika demikian, mengabai-kannya sama halnya telah meruntuhkan masa depan yang semakin nyata tersebut. Dalam upaya proyeksi penyentuhan masyarakat kelas menengah ke bawah ini tidak terlalu tepat harus dimuati dengan berbagai pemikiran yang justeru membingungkan kelas ini. Namun, cara yang paling efektif menurut saya untuk merebut hati masyarakat ini dengan menempuh jalur Institusi pendidikan, institusi advokasi hukum hingga institusi sosial keagamaan yang telah lama dimanfaatkan kelompok Islam revivalis dalam mengem-bangkan sayapnya.
revivalis juga dikarenakan basis pendidikan yang secara sadar ataupun tidak menjadi produsen terbesar dalam upaya penumbuhan kelompok Islam revivalis. Oleh sebab itu, dengan pendekatan institusi pendidikan Islam liberal telah melakukan pengawalan pengaruh Islam revivalis ini dari tingkat yang paling awal bagi penumbuhan kecenderungan keberagamaan.
Selain itu juga dalam agenda yang paling utama lagi kelompok Islam liberal ini harus melihat moment politik sebagai bagian dari upaya proyeksi pemikiran Islam liberal yang lebih konsisten dengan keterlibatan dalam partai politik. Keterlibatan dengan partai politik dimaksudkan bahwa kelompok Islam liberal ini tidak hanya besentuhan dengan pemikiran-pemikiran keislaman semata, tetapi juga memiliki ambisi kekuasaan untuk semakin memperkokoh posisi dengan menjadi bagian dari pemerintahan yang berkuasa maka apabila alternatif ini dapat ditempuh peluang Islam liberal di Indonesia semakin menjadi nyata.
Penutup
Catatan
Menurut Eleonora B. Masini skenerio berfungsi untuk menggambarkan kondisi-kondisi saat ini yang berawal dari situasi tertentu. Kemudian, bergerak setahap demi setahap menuju ke masa depan. Eleonora B. Masini, Why Future Studies, terj. Rohmah Roihani (Yogyakarta: BKF Media bekerjasama dengan Kreasi Wacana, 2004), hlm. 114, Ziauddin Sardar, The Future of Muslim Civilization, terj. Rahmani Astuti (Bandung: Pustaka, 1993), hlm. 19.
2Ahmad Ali Nurdin, “Islam and State: A Study of the Liberal Islamic
3Azyumardi Azra, Islam Reformis: Dinamika Intelektual dan Gerakan Politik Indonesia Kontemporer (Jakarta: Grafindo Persada, 1999), hlm. 3-4, Al-Chaidar, Pemilu 1999: Pertarungan Ideologis Partai-Partai Islam versus Partai-Partai-Partai-Partai Sekuler (Jakarta: Darul Falah, 1999), hlm. 228.
4Saiful Mujani, Religious Democrats: Democratic Culture and Muslim Political Participation in Post-Suharto Indonesia (Dissertation: The Ohio State University, 2003), hlm. 93.
5Ziaulhaq, Masa Depan Islam Liberal di Indonesia (Tesis: Program
Pascasarjana IAIN SU, 2009), Luthfi Assyaukanie, Islam and the Secular State in Indonesia (Singapore: Institute of Southeast Asian Studies, 2009).
6Ahwan Fanani, “Akar dan Pemikiran Gerakan Revivalis Islam
Indonesia: Studi Terhadap Partai Keadilan Sejahtera”, dalam Kamaruddin, et.al, Quo Vadis Islamic Studies in Indonesia? (Current Trends and Future Challanges) (Direktorat Pendidikan Islam Depertemen Agama RI berkerjasama PPs UIN Alauddin Makasar, 2006), hlm. 153-183.
7Muhammad Ismail Yusanto, “Menantang Modernisasi dan Globalisasi: Perjuangan Hizbut Tahrir Indonesia”, dalam Majalah AlWa’e, vol. xxi, Januari 2003.
8Martin van Bruinessen, “Genealogies of Islamic Radicalism in
post-Suharto Indonesia”, dalam
www.let.uu.nl/~martin.vanbruinessen/personal/ publications/genealogies_islamic_ radicalism.htm.