PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN FLASHCARD YANG DIPADUKAN DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
TIPE GROUP INVESTIGATION (GI) TERHADAP MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR BIOLOGI KELAS VII MTs.N
KELEBUH TAHUN AJARAN 2013/2014
SKRIPSI
Diajukan kepada Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Mataram untuk
Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana (S-1) Pendidikan Biologi
OLEH:
ENIDA FATMALIA NIM: 10.211.345
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN MATARAM
YAYASAN PEMBINA IKIP MATARAM
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA Alamat : Jln, Pemuda No. 59 A Telp. (0370) 636629 Mataram 83125
HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING SKRIPSI
Skripsi yang disusun oleh Enida Fatmalia dengan Judul: Pengaruh Penggunaan
Media Pembelajaran F lashcard yang Dipadukan dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation (GI) terhadap Motivasi dan Prestasi Belajar Biologi Kelas VII MTs.N Kelebuh Tahun Ajaran 2013/2014
Telah diperiksa dan disetuji untuk melaksanakan ujian, Tanggal … Januari 2014
Oleh: DosenPembimbing Skripsi I
Ismail Efendi, M.Pd. NIDN. 2007 09 053
Dosen Pembimbing Skripsi II
Ali Imran, S.Si, M.Pd. Si. NIDN. 2012 07 001
YAYASAN PEMBINA IKIP MATARAM
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA Alamat : Jln, Pemuda No. 59 A Telp. (0370) 636629 Mataram 83125
HALAMAN PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN SKRIPSI Skripsi dengan Judul:
Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran Flashcard yang dipadukan dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation (GI) Terhadap
Motivasi dan Prestasi Belajar Biologi Kelas VII MTs.N Kelebuh Tahun Ajaran 2013/2014
Telah Disetujui oleh Dewan Penguji Skripsi Sebagai Salah Satu Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)
Program Studi Pendidikan Biologi Pada tanggal 29 Januari 2014
Ketua : Ismail Efendi, M. Pd. ( )
NIDN. 2007 09 053
Anggota : Ali Imran, S. Si. M. Pd.Si. ( ) NIDN. 2012 07 001
Anggota : Any Fatmawati, M.Pd. ( )
NIK. 0831128101
Mataram, ………….. 2014 Mengetahui,
Dekan FPMIPA IKIP MATARAM
Menyetujui,
Ketua Program Studi Pendidikan Biologi
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIDIKAN MATARAM
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA Alamat : Jln, Pemuda No. 59 A Telp. (0370) 636629 Mataram 83125
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN
Yang bertanda tangan dibawah ini atas nama ENIDA FATMALIA menyatakan
dengan sebenar-benarnya bahwa skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri dan
dipergunakan untuk menyelesaikan Program Sarjana Pendidikan di Institut Keguruan
dan Ilmu Pendidikan Mataram dan belum pernah dipergunakan untuk program lain di
lembaga manapun juga. Hasil Karya pihak lain yang saya kutip di dalamnya telah
didokumentasikan sebagaimana mestinya pada bagian daftar pustaka.
Mataram, …… Februari 2014
Motto:
“Do’a dan Ikhtiar adalah pondasi kuat
mencapai kesuksesan”
Skripsi ini kupersembahkan untuk:
Nenekku tercinta (Hj. Siti Fatimah) dan kedua orang tuaku (Jeniah danDrs. H. Ahmad Ibrani) yang senantiasa
mendo’akanku, memberikan semangat dan nasihat yang tiada henti-hentinya
Seluruh sanak saudaraku yang selalu mendukung setiap langkahku
Sahabat-sahabatku tercinta (kantu’, cyla, niza, yanti, ana, adi, dan najam)
Teman-teman kelasku (Biologi G 2010)
Teman-teman seperjuanganku jurusan Pendidikan Biologi 2010
Orang yang ku cintai (Muhammad Sadli, S.Pd.) yang telah menginspirasidan mengajariku tentang arti sebuah
perjuangan.
KATA PENGANTAR
Puji Syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa
karena berkat limpahan rahmat serta hidayah-Nya penyusunan skripsi dengan judul
“Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran Flashcard yang Dipadukan
dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation (GI) terhadap Motivasi dan Prestasi Belajar Biologi Kelas VII MTs.N Kelebuh Tahun Ajaran 2013/2014” dapat terselesaikan dengan baik.
Terselesainya penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan, bimbingan,
dan pengarahan dari beberapa pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini peneliti
akan menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Ismail
Efendi, M.Pd. selaku pembimbing I dan Bapak Ali Imran, S.Si, M.Pd,Si. selaku
pembimbing II yang senantiasa membimbing, membantu, dan mengarahkan peneliti
dalam penyelesaian skripsi ini. Selanjutnya peneliti juga tidak lupa mengucapkan
terima kasih dan rasa hormat yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Prof. Drs. H. Toho Cholik Mutohir, MA., Ph.D. selaku Rektor IKIP
Mataram atas dukungan dan kesempatan yang telah diberikan kepada peneliti
sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik
2. Bapak Drs. Sumarjan M.Si. selaku Dekan FPMIPA IKIP Mataram atas
bimbingan dan arahan yang telah diberikan kepada peneliti selama ini sehingga
3. Bapak dan Ibu dosen FPMIPA IKIP Mataram yang telah memberikan bimbingan
kepada peneliti dalam proses penyusunan skripsi ini
4. Teman-teman seperjuangan yang peneliti banggakan yang telah memberikan
bantuan yang mungkin belum sempat terbalaskan
Skripsi ini masih memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan
saran yang sifatnya membangun sangat diharapkan oleh peneliti. Akhir kata, peneliti
berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkompetensi.
Amin
Mataram, ………….. 2014
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN SKRIPSI ... ..i
HALAMAN PENGESAHAN DOSEN PENGUJI SKRIPSI ... ii
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN ... iii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... . x
DAFTAR GAMBAR ... ..xi
DAFTAR LAMPIRAN ... .xii
ABSTRAK ... .. xv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Penelitian ... 6
D. Manfaat Penelitian ... 7
E. Definisi Istilah dan Operasional ... 8
F. Ruang Lingkup Penelitian ... 12
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 13
A. Deskripsi Teori ... 13
2. Media pembelajaran ... 15
3. Flashcard ... 18
4. Model Pembelajaran Kooperatif... 22
5. Group Investigation (GI) ... 23
6. Motivasi Belajar ... 26
7. Prestasi Belajar ... 31
B. Penelitian yang Relevan ... 36
C. Kerangka Berpikir ... 38
D. Hipotesis ... 39
BAB III METODE PENELITIAN ... 41
A. Jenis Penelitian ... 41
B. Rancangan Penelitian ... 41
C. Pendekatan Penelitian ... 42
D. Populasi dan Sampel ... 42
E. Instrumen Penelitian ... 43
F. Teknik Pengumpulan Data ... 47
G. Teknik Analisis Data ... 47
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 51
A. Data Hasil Penelitian ... 51
1. Data Hasil Pre Test ... 52
2. Hasil Uji Instrumen ... 53
3. Data Hasil Post Test ... 53
5. Uji Hipotesis ... 55
a) Uji Homogenitas (Uji-F) ... 55
b) Uji Beda (Uji-t) ... 56
6. Data Motivasi Peserta Didik ... 56
7. Data Keterlaksanaan RPP ... 58
8. Data Kegiatan Peserta Didik ... 60
B. Pembahasan ... 63
1. Data Prestasi Belajar Peserta Didik ... 63
2. Uji Hipotesis ... 66
3. Data Motivasi Peserta Didik ... 66
4. Keterlaksanaan RPP ... 68
5. Kegiatan Peserta Didik dalam Belajar ... 69
BAB V PENUTUP ... 70
A. Simpulan ... 70
B. Saran-saran ... 70
DAFTAR PUSTAKA ... 71
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1 RPP Kelas Eksperimen ... 75
Lampiran 2 RPP Kelas Kontrol ... 80
Lampiran 3 Silabus Pembelajaran... 84
Lampiran 4 Angket Motivasi Peserta Didik Terhadap Pelajaran ... 87
Lampiran 5 Keterlaksanaan RPP Kelas Eksperimen Pertemuan Pertama ... 91
Lampiran 6 Keterlaksanaan RPP Kelas Eksperimen Pertemuan Kedua ... 93
Lampiran 7 Keterlaksanaan RPP Kelas Kontrol Pertemuan Pertama... 96
Lampiran 8 Keterlaksanaan RPP Kelas Kontrol Pertemuan Kedua ... ….98
Lampiran 9 Lembar Observasi Kegiatan Peserta Didik Kelas Eksperimen pertemuan Pertama ... .. 101
Lampiran 10 Lembar Observasi Kegiatan Peserta Didik Kelas Eksperimen Pertemuan Kedua ... 104
Lampiran 11 Lembar Observasi Kegiatan Peserta Didik Kelas Kontrol Pertemuan Pertama ... 107
Lampiran 12 Lembar Observasi Kegiatan Peserta Didik Kelas Kontrol Pertemuan Kedua ... 110
Lampiran 13 Soal Pre test ... 113
Lampiran 14 Kunci Jawaban Soal Pre test ... 116
Lampiran 15 Skor Persoal pada Uji Coba Instrumen Kelas Eksperimen ... 117
Lampiran 16 Daftar Nilai Kelas Eksperimen pada Uji Coba Instrumen ... 119
Lampiran 17 Skor Persoal pada Uji Coba Instrumen Kelas Kontrol ... 120
Lampiran 18 Daftar Nilai Kelas Kontrol pada Uji Coba Instrumen ... 122
Lampiran 19 Uji Reliabilitas Instrumen pada Kelas Eksperimen ... 123
Lampiran 21 Contoh Uji Validitas Instrumen ... 129
Lampiran 22 Tabel Validitas Soal pada Kelas Eksperimen ... 131
Lampiran 23 Tabel Validitas Soal pada Kelas Kontrol ... 132
Lampiran 24 Soal Post test ... . 133
Lampiran 25 Kunci Jawaban Soal Post test ... . 135
Lampiran 26 Kisi-kisi Soal Post test ... 136
Lampiran 27 Lembar Kerja Siswa ... 139
Lampiran 28 Daftar Hadir Peserta Didik Kelas Kontrol ... 142
Lampiran 29 Daftar Hadir Peserta Didik Kelas Eksperimen ... 143
Lampiran 30 Daftar Nilai Peserta Didik Kelas Kontrol ... 144
Lampiran 31 Daftar Nilai Peserta Didik Kelas Eksperimen ... 145
Lampiran 32 Data Motivasi Peserta Didik Kelas Kontrol ... 146
Lampiran 33 Data Motivasi Peserta Didik Kelas Eksperimen ... 148
Lampiran 34 Perhitungan Varians Kelas Eksperimen Data Moivasi Belajar ... 150
Lampiran 35 Perhitungan Varians Kelas Kontrol Data Motivasi Belajar ... 151
Lampiran 36 Uji Homogenitas (Uji-F) Data Motivasi Belajar ... 152
Lampiran 37 Uji Beda (Uji-t) Data Motivasi Belajar ... 153
Lampiran 33 Perhitungan Varians Kelas Kontrol ... 154
Lampiran 34 Perhitungan Varians Kelas Eksperimen ... 155
Lampiran 35 Uji Homogenitas (Uji-F) ... 156
Lampiran 36 Uji Beda (Uji-t)... 157
Lampiran 37 Ketuntasan Klasikal Kelas Kontrol ... 158
Lampiran 39 Nama Kelompok dan Topik yang didapatkan pada Proses
Investigasi Kelompok ... 160
PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN FLASHCARD YANG DIPADUKAN DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
TIPE GROUP INVESTIGATION (GI) TERHADAP MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR BIOLOGI KELAS VII MTs.N
KELEBUH TAHUN AJARAN 2013/2014
OLEH:
ENIDA FATMALIA NIM. 10 211 345
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan media pembelajaran
Flashcard yang dipadukan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI) terhadap motivasi dan prestasi belajar Biologi kelas VII MTs.N Kelebuh tahun ajaran 2013/2014. Penelitian ini merupakan penelitian quasi experiment dengan rancangan penelitian menggunakan pretest-posttest control group design yang dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas VII MTs.N Kelebuh tahun ajaran 2013/2014. Sampel penelitian ini yaitu kelas VII3 sebagai kelas eksperimen dan kelas VII2 sebagai kelas kontrol. Penentuan sampel dilakukan dengan teknik Purpossive Sampling atau sampel yang bertujuan. Data prestasi belajar peserta didik diperoleh melalui tes yang dilaksanakan pada akhir proses pembelajaran atau posttest, dan data motivasi peserta didik diperoleh menggunakan angket tertutup. Sedangkan data keterlaksanaan RPP dan kegiatan peserta didik diperoleh menggunakan lembar observasi. Data prestasi belajar peserta didik kemudian dianalisis menggunakan uji-t. Berdasarkan hasil analisis data hasil tes prestasi belajar peserta didik menunjukan bahwa nilai rata-rata kelas dan persentase ketuntasan belajar klasikal diperoleh nilai secara berurutan sebesar 75 dan 85% pada kelas kontrol (VII2), sedangkan pada kelas eksperimen (VII3) diperoleh nilai berturut-turut 64 dan 54,5%. Pengujian hipotesis prestasi dan motivasi belajar dalam penelitian ini menggunakan rumus Polled Varians. Pada data prestasi belajar diperoleh nilai thitung sebesar 1,740 dan kemudian
dikonsultasikan dengan ttabel sebesar 2,021 dengan dk=40 pada taraf signifikan 5%.
Karena thitung < ttabel maka disimpulkan bahwa penggunaan media pembelajaran flashcard yang dipadukan dengan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation tidak berpengaruh terhadap prestasi belajar biologi kelas VII MTs.N Kelebuh tahun ajaran 2013/2014. Sedangkan untuk data motivasi, diperoleh thitung
sebesar 2,837 dengan ttabel yang sama. Karena thitung lebih besar dari ttabel maka
disimpulkan bahwa penggunaan media pembelajaran flashcard yang dipadukan dengan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation berpengaruh terhadap motivasi belajar biologi kelas VII MTs.N Kelebuh tahun ajaran 2013/2014
ABSTRACT
ENIDA FATMALIA: The Effect of Using Collaborative Learning Flashcard and Group Investigation Learning Model Toward Students Motivation and Achievment in Learning Biology at VII Class of MTs.N Kelebuh in Academic Years 2013/2014
(Supervised by Ismail Efendi and Ali Imran).
The research aimed finding out the effect of using collaborative learning flashcard and group investigation learning model toward students motivation and achievement in learning biology at VII class of MTs.N Kelebuh in academic years 2013/2014. The kinds of the research was quasi experimental with pretest posttest control group design with three meetings. The population of the research was whole students VII class of MTs.N Kelebuh and the sample of the research VII3 and VII2 class as experimental and control group. The sample is taken by using purposive sampling technique. The research used quasi experimental method with pretest posttest control group design. The data gathering is used objective test that has been taken validity and reliability. Based on the data analysis is gotten that there were average score pretest for experimental and control group with classical completeness 75 with percentage 85% and 64 with percentage 54,5%. Based test analyzed is gotten that t-test value score was 1,740 and t-table 2,021 with signification level 55. It means that t-test was lower than t-table (1,740 lower from 2,021). So that way, alternative hypothesis (Ha) was rejected and null hypothesis (Ho) accepted. Therefore, it taken conclusion that there was no significant effect of using collaborative learning flashcard and garoup investigation learning model toward students motivation and achievement in learning biology at VII class of MTs.N Kelebuh in academic years 2013/2014.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Proses pembelajaran merupakan kegiatan interaksi antara guru dan
peserta didik yang cukup dominan. Interaksi antara guru dan peserta didik dalam
rangka transfer of knowledge dan bahkan juga transfer of values, akan senantiasa
menuntut komponen-komponen yang ada pada kegiatan proses belajar mengajar
itu akan saling menyesuaikan dalam rangka mendukung pencapaian tujuan
belajar bagi peserta didik, komponen-komponen tersebut misalnya seperti guru,
peserta didik, metode, alat, tujuan pembelajaran, dan sarana pembelajaran. Untuk
mencapai tujuan yang dinginkan, masing-masing komponen tersebut akan saling
merespons dan mempengaruhi antara yang satu dengan yang lainnya, sehingga
tugas guru adalah bagaimana harus mendesain dari masing-masing komponen
agar proses pembelajaran lebih optimal (Sardiman, 2011).
Djamarah (1991) mengemukakan bahwa dalam pengajaran modern, guru
bukanlah orang yang aktif, tetapi sebagai fasilitator dari subyek belajar. Guru
bertugas sebagai pembimbing dan pengarah dalam rangka pencapaian tujuan
belajar anak didik. Jadi yang aktif adalah peserta didik bukanlah guru. Inilah
yang disebut dengan Cara Belajar siswa Aktif (CBSA).
Penerapan model pembelajaran yang bervariasi dapat mengurangi
kebosanan peserta didik terhadap cara mengajar guru sehingga peserta didik akan
wa berhasil tidaknya suatu kegiatan pembelajaran lebih banyak bergantung pada
kualitas yang dilakukan oleh peserta didik selama pembelajaran berlangsung.
Artinya kemampuan dan kreativitas guru dalam mengelola pembelajaran dapat
dilihat dari model pembelajaran mengajar yang diterapkannya. Model mengajar
yang diterapkan oleh seorang guru harus sesuai dengan tujuan yang ingin
dicapai, materi pelajaran, karakteristik peserta didik, bahkan sampai karakteristik
setiap materi pelajaran. Dengan demikian guru harus mampu melakukan
semacam analisis kebutuhan agar dapat diterapkan suatu model mengajar yang
dianggap sesuai dengan materi pelajaran.
Salah satu model pembelajaran yang dikembangkan dan perlu untuk
diterapkan untuk membantu meningkatkan pemahaman dan penalaran peserta
didik khususnya dalam mata pelajaran biologi adalah model pembelajaran
kooperatif. Pembelajaran kooperatif ini menuntut masing-masing peserta didik
harus untuk memahami setiap materi pelajaran yang disampaikan oleh guru.
Pembelajaran kooperatif tidak akan dikatakan berhasil apabila didalam suatu
kelompok yang telah dibagi dalam kelompok peserta didik yang heterogen, salah
satu dari anggota kelompoknya belum memahami materi pelajaran. Dalam
pembelajaran kooperatif ini, peserta didik juga dituntut untuk belajar bersama
dan saling membantu satu sama lain dalam memahami materi pelajaran (Jauhar,
2011).
Motivasi terkait erat dengan kebutuhan, semakin besar kebutuhan
untuk mencapainya. Kebutuhan yang kuat terhadap sesuatu akan mendorong
seseorang untuk mencapainya dengan sekuat tenaga. Hanya dengan
memotivasilah anak didik akan dapat tergerak hatinya untuk belajar bersama
teman-temannya yang lain (Djamarah dalam Aunurrahman 2009).
Proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah proses komunikasi. Pada
komunikasi pembelajaran guru berperan sebagai pengantar pesan dan peserta
didik sebagai penerima pesan. Pesan yang dikirimkan oleh guru berupa materi
pelajaran yang dituangkan ke dalam simbol-simbol komunikasi (kata-kata dan
tulisan) baik verbal maupun nonverbal.
Menyampaikan materi pembelajaran dengan hanya menggunakan bahasa
verbal tidak selamanya berjalan dengan efektif. Dengan hanya mengandalkan
bahasa sebagai media utama, bisa terjadi peserta didik salah dalam menangkap
informasi. Dengan kata lain, peserta didik akan terbatas atau tidak optimal dalam
memahami informasi yang disampaikan guru.
Penyampaian informasi yang hanya melalui bahasa verbal selain dapat
menimbulkan verbalisme dan kesalahan persepsi, juga menyebabkan gairah
peserta didik untuk menangkap pesan akan semakin kurang, karena peserta didik
kurang diajak berfikir dan menghayati pesan yang akan disampaikan. Padahal,
untuk memahami sesuatu perlu keterlibatan peserta didik baik fisik maupun
psikis. Pada kenyataannya, memberikan pengalaman langsung pada peserta didik
bukan sesuatu yang mudah, sebab bukan hanya menyangkut segi perencanaan
yang sangat tidak mungkin dipelajari secara langsung oleh peserta didik.
Katakanlah ketika guru ingin memberikan informasi tentang kehidupan dasar
laut, maka tidak mungkin pengalaman tersebut diperoleh secara langsung oleh
peserta didik. Oleh karena itu, peranan media pembelajaran sangat diperlukan
dalam suatu kegiatan pembelajaran. Melalui media pembelajaran hal yang
bersifat abstrak bisa menjadi lebih konkrit (Sanjaya, 2011).
Bukan hanya motivasi dan aktifitas belajar peserta didik saja yang
menurun dengan bahasa verbal guru, tetapi prestasi belajar peserta didik juga
ikut menurun. Aunurrahaman (2009) menjelaskan bahwa sarana dan prasarana
pembelajaran merupakan faktor yang turut memberikan pengaruh terhadap hasil
belajar peserta didik. Bagi peserta didik, ketersediaan sarana dan prasarana
pembelajaran berdampak terhadap terciptanya iklim pembelajaran yang lebih
kondusif, terjadinya kemudahan-kemudahan bagi peserta didik untuk
mendapatkan informasi dan sumber belajar yang pada gilirannya dapat
mendorong berkembangnya motivasi untuk mencapai hasil belajar yang lebih
baik.
Selain itu, ketidaktepatan guru dalam memilih model pembelajaran juga
menjadi penyebab lain dari ketidakaktifan peserta didik dalam proses
pembelajaran. Model pembelajaran yang hanya mengandalkan guru sebagai
sumber belajar akan membuat peserta didik cenderung bosan dan tidak
bersemangat dalam belajar. Media pembelajaran merupakan komponen penting
model pembelajaran juga memiliki peranan yang tidak kalah pentingnya di dalam
proses pembelajaran.
Kebosanan dan ketidakaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran
tergambar dari rendahnya nilai rata-rata kelas pada mata pelajaran IPA Terpadu
khususnya pada materi pelajaran biologi. Berikut ini akan disajikan nilai rata-rata
kelas pada mata pelajaran IPA Terpadu kelas VII semester II MTs.N Kelebuh
Tahun Ajaran 2012/2013.
Tabel 1.1 Nilai rata-rata kelas pada mata pelajaran IPA Terpadu kelas VII semester II MTs.N Kelebuh Tahun Ajaran 2012/2013.
No Kelas Nilai Rata- Rata Kelas
1 VII 1 65,00
2 VII 2 62,50
3 VII 3 60,00
4 VII 4 68,00
Sumber : Daftar nilai semester mata pelajaran IPA Terpadu Kelas VII MTs Negeri Kelebuh
Berdasarkan uraian di atas, peneliti akan mencoba memadukan antara
media pembelajaran dan model pembelajaran yang mungkin jarang dilakukan
oleh guru. Salah satu model pembelajaran kooperatif yang sesuai dan
langkah-langkahnya dapat dengan mudah dipadukan dengan media pembelajaran adalah
Group Investigation (GI). Pada model pembelajaran ini, peserta didik dapat
menginvestigasi flashcard yang disajikan untuk dipecahkan bersama. Flashcard
merupakan kartu bergambar yang sangat menarik untuk meningkatkan aktivitas
dan bernilai ekonomis, cukup dengan menyediakan kardus bekas dan kertas
bergambar, maka flashcard siap untuk digunakan. Kelebihan lain dari flashcard
ini adalah mudah dibawa, praktis, gampang diingat, dan menyenangkan.
(Nurseto, 2011).
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukan di atas, peneliti tertarik
untuk mengambil penelitian dalam bentuk Penelitian Eksperimen Semu (Quasi
Experiment) dengan judul “Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran
Flashcard yang dipadukan dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group
Investigation (GI) Terhadap Motivasi dan Prestasi Belajar Biologi Kelas VII
MTs.N Kelebuh tahun ajaran 2013/2014.”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai
berikut:
1. Apakah ada pengaruh penggunaan media pembelajaran Flashcard yang
dipadukan dengan model pembelajaran kooperatif Tipe Group Investigation
(GI) terhadap motivasi belajar biologi kelas VII MTs.N Kelebuh tahun ajaran
2013/2014?
2. Apakah ada pengaruh penggunaan media pembelajaran Flashcard yang
dipadukan dengan model pembelajaran kooperatif Tipe Group Investigation
(GI) terhadap prestasi belajar biologi kelas VII MTs.N Kelebuh tahun ajaran
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui pengaruh penggunaan media pembelajaran Flashcard yang
dipadukan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI)
terhadap motivasi dan prestasi belajar Biologi kelas VII MTs.N Kelebuh tahun
ajaran 2013/2014.
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi dan
memperkaya khazanah ilmu pengetahuan tentang Pengaruh Penggunaan
Media Pembelajaran Flashcard yang dipadukan dengan model pembelajaran
Kooperatif Tipe Group Investigation (GI) Terhadap Motivasi dan Prestasi
Belajar peserta didik.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi peserta didik, diharapkan dengan perpaduan media pembelajaran
dan model pembelajaran ini dapat menjadi motivator dalam kegiatan
b. Bagi guru, dapat memberikan pemahaman psikologis terhadap guru-guru
dalam upaya pemanfaatan media pembelajaran dan model pembelajaran
untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar peserta didik.
c. Bagi Sekolah, diharapkan hasil penelitian ini bermanfaat untuk
pembaharuan strategi pembelajaran biologi. Dengan media pembelajaran
dan model pembelajaran ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas
pembelajaran sehingga dapat membantu mengatasi kejenuhan peserta
didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
E. Definisi Istilah dan Operasional
Untuk menghindari adanya kemungkinan penafsiran yang berbeda
terhadap beberapa istilah yang akan digunakan dalam penelitian ini maka perlu
didefinisikan istilah–istilah sebagai berikut :
1. Media Pembelajaran
Media pembelajaran adalah seluruh alat dan bahan yang dapat dipakai
untuk tujuan pendidikan seperti radio, televisi, buku, koran, majalah dan
sebagainya. Alat-alat elektronik seperti radio, televisi, komputer dll, jika
digunakan dan diprogramkan untuk pendidikan maka merupakan media
pembelajaran (Rossi dan Briedle (1996), dalam Sanjaya, 2011). Media
pembelajaran yang dimaksudkan disini adalah sarana yang akan digunakan
dalam proses pembelajaran guna meningkatkan motivasi dan hasil belajar
peserta didik. Media pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini
yang digunakan dalam penelitian ini adalah kartu pengingat atau kartu flash
(flashcard).
2. Flashcard
Flashcard adalah media pembelajaran dalam bentuk kartu bergambar
yang berukuran 25 cm x 30 cm atau dapat disesuaikan dengan jumlah peserta
didik atau ukuran kelas. Gambar-gambarnya dibuat menggunakan tangan
atau foto, atau memanfaatkan gambar atau foto yang sudah ada yang
ditempelkan pada lembaran-lembaran flashcard. Flashcard yang
dimaksudkan dalam penelitian adalah media pembelajaran yang terbuat dari
kardus bekas yang dibuat dengan ukuran yang dapat disesuaikan dengan
besar kecilnya ukuran kelas dan banyaknya peserta didik di dalam kelas
tersebut. Kartu ini memiliki kelebihan antara lain menyenangkan, menarik,
sangat ampuh untuk mengkaji ulang pembelajaran, mudah dibuat, dan mudah
dibawa (Nurseto, 2011).
3. Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut Slavin (2005) pembelajaran kooperatif adalah proses
pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok untuk memahami konsep
yang difasilitasi oleh guru. Dalam pembelajaran kooperatif, dua atau lebih
individu saling bergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama.
Model pembelajaran kooperatif yang dimaksud adalah model pembelajaran
diskusi kelompok atau investigasi didalam kelompok kecil yang telah dibagi
gender, etnis, suku, dsb. Keheterogenan ini diharapkan agar peserta didik
yang satu dengan peserta didik yang lain saling mengenal dan saling
menghargai. Model pembelajaran kooperatif dalam penelitian ini adalah
model pembelajaran yang menekankan pada penguasaan dan pemahaman
materi secara keseluruhan. Penguasaan dan pemahaman materi pembelajaran
diharapkan dapat meningkat hasil belajar peserta didik. Model pembelajaran
kooperatif yang digunakan oleh peneliti adalah metode Group Investigation
(GI).
4. Model Pembelajaran Kooperatif tipe Group Investigation (GI)
Investigasi Kelompok (Group Investigation) adalah strategi belajar
kooperatif yang menempatkan peserta didik ke dalam kelompok secara
heterogen dilihat dari kemampuan dan latar belakang, baik dari segi jenis
kelamin, suku, dan agama, untuk melakukan investigasi terhadap suatu topik
(Hobri dan Susanto, 2006). Salah satu model pembelajaran kooperatif yang
akan digunakan dalam penelitian ini adalah Investigasi Kelompok (Group
Investigation) yang merupakan model pembelajaran yang menekankan pada
investigasi suatu topik pembelajaran. Pada penelitian ini, peneliti akan
menginovasikan model pembelajaran ini dengan memadukannya dengan
media pembelajaran flashcard. Biasanya, dalam Investigasi Kelompok
(Group Investigation) ini, topik atau masalah yang biasa diinvestigasi. Tetapi
dalam penelitian ini, peneliti akan menyuuguhkan flashcard sebagai media
dilakukan sama dengan model pembelajaran Investigasi Kelompok (Group
Investigation), namun hanya saja media pembelajaran flashcard akan
ditambahkan pada kegiatan inti pada saat investigasi kelompok berlangsung.
5. Motivasi Belajar
Motivasi berasal dari kata motif, di artikan sebagai daya upaya yang
mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Berawal dari kata motif itu,
motivasi diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif.
(Sardiman, 2011). Motivasi yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah
motivasi baik dari dalam diri (intrinsik) maupun dari luar (ekstrinsik).
Motivasi yang dilakukan oleh peneliti merupakan motivasi ekstrinsik dan
diharapkan dapat membangkitkan motivasi intrinsik. Instrument
pembelajaran yang peneliti akan digunakan dalam penelitian ini adalah
angket motivasi peserta didik yang peneliti telah sesuaikan dengan kondisi
peserta didik. Peningkatan motivasi belajar peserta didik akan disajikan
dalam bentuk presentase peningkatan motivasi belajar peserta didik.
6. Prestasi Belajar
Prestasi belajar adalah sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata, yakni
prestasi dan belajar. Prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah di
kerjakan, dan di ciptakan, baik secara individual maupun kelompok.
Sedangkan belajar adalah suatu aktifitas yang di lakukan secara sadar untuk
mendapatkan sejumlah kesan atau tujuan dari bahan yang telah di pelajari
akademik yang diukur diakhir pembelajaran. Prestasi belajar dapat menjadi
tolak ukur keberhasilan suatu proses pembelajaran. Hasil belajar kognitif
peserta didik diukur menggunakan tes prestasi belajar yang sebelumnya telah
dibuat dan diuji oleh peneliti.
F. Ruang Lingkup Penelitian
Pembatasan lingkup penelitian bertujuan untuk membatasi unsur yang
digunakan guna memperlancar proses pelaksanan penelitian.
1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di MTs.N Kelebuh, Jalan Raya Batunyala,
Sanggeng, Kecamatan Praya Tengah.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada semester II Kelas VII MTs.N Kelebuh tahun
ajaran 2013/ 2014.
3. Subyek Penelitian
Subyek penelitian adalah orang yang akan diteliti dalam suatu penelitian
(Sugiyono, 2013). Subyek pada penelitian ini adalah peserta didik kelas VII
MTs.N Kelebuh tahun ajaran 2013/2014.
4. Obyek penelitian
Obyek penelitian merupakan hal-hal yang menjadi pusat perhatian dalam
suatu penelitian, sering juga disebut sasaran penelitian (Sugiyono, 2013).
Flashcard yang dipadukan dengan model pembelajaran kooperatif tipe
Group Investigation (GI) terhadap motivasi dan Prestasi belajar Biologi kelas
BAB II
KAJIAN PUSTAKA A. Deskripsi Teoritis
1. Hakekat Belajar dan Pembelajaran
a. Belajar
Berdasarkan perspektif psikologis, belajar merupakan suatu
proses perubahan, yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari
interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan
hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh
aspek tingkah laku. Pengertian belajar dapat didefinisikan sebagai
suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh
suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai
hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya
(Slameto, 2010).
Belajar bukan hanya sekedar menghafal atau mengembangkan
kemampuan intelektual, akan tetapi mengembangkan setiap aspek,
baik kemampuan kognitif, sikap, emosi, kebiasaan, dan lain
sebagainya. Konsep ini memandang manusia sebagai satu kesatuan,
bukan bagian-bagian yang terpisahkan. Ketika perkembangan
intelektual terjadi, maka aspek-aspek psikologis lainnya seharusnya
(2009), dalam belajar ditemukan hal-hal berikut kesempatan terjadinya
peristiwa yang menimbulkan respon belajar, respon si pelajar,dan kon-
sekuensi yang bersifat menggunakan respon tersebut, baik
konsekuensinya sebagai hadiah maupun teguran atau hukuman.
Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa belajar
adalah kegiatan atau suatu aktivitas seseorang untuk memperoleh
suatu perubahan sikap dan tingkah laku serta penambahan
pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungannya. Perubahan sikap
dan tingkah laku yang dimaksud seperti sikap tidak tahu menjadi tahu
dan perkembangan sifat emosionalnya.
b. Pembelajaran
Pembelajaran adalah suatu proses yang dinamis, berkembang
secara terus menerus sesuai dengan pengalaman peserta didik.
Semakin banyak pengalaman yang dilakukan peserta didik, maka akan
semakin kaya, luas, dan sempurna pengetahuan mereka. Pembelajaran
juga bukanlah sekedar penguasaan materi pelajaran, akan tetapi proses
untuk mengubah tingkah laku peserta didik sesuai dengan tujuan yang
akan dicapai (Sanjaya, 2008).
Proses pembelajaran atau pengajaran kelas (Classroom
Teaching) menurut Dunkin dan Briddle dalam Sagala (2009) berada
dalam empat variabel interaksi yaitu variabel pertanda (presage
berupa peserta didik, sekolah, dan masyarakat, variabel proses
(process variables) berupa interaksi peserta didik dengan pendidik,
dan variabel produk (product variables) berupa perkembangan peserta
didik dalam jangka pendek atau dalam jangka panjang.
2. Media Pembelajaran
a. Pengertian Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk
jamak dari medium, secara harfiah berarti perantara atau pengantar.
Association for Education and Communication Technology (AECT),
mengartikan kata media sebagai segala bentuk dan saluran yang
dipergunakan untuk proses informasi. National Education Association
(NEA) mendefinisikan media sebagai segala benda yang dapat
dimanipulasikan, dilihat, didengar, dibaca atau dibicarakan beserta
instrumen yang dipergunakan untuk kegiatan tersebut. Sedangkan
Heinich, dkk mengartikan istilah media sebagai “the term refer to
anything that carries information between a source and a receiver”.
(Nurseto, 2011).
Rossie dan Briedle (dalam Wina Sanjaya, 2012) membedakan
media dan media pembelajaran. Media adalah perantara dari sumber
informasi, contohnya video, komputer, televisi, koran, majalah, dll.
Alat-alat tersebut merupakan media manakala digunakan untuk
pembelajaran adalah seluruh alat dan bahan yang dapat dipakai untuk
tujuan pendidikan seperti radio, televisi, koran, majalah, dll. Bagi Rossi
dan Briedle media sama dengan alat-alat fisik yang mengandung
informasi dan pesan pendidikan guna mencapai tujuan pembelajaran
yang efektif dan efisien.
Media adalah sumber atau alat belajar, maka secara luas dapat
diartikan dengan manusia, benda ataupun peristiwa yang
memungkinkan anak didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan
sikap (Djamarah, 1991).
Berdasarkan beberapa uraian diatas dapat disimpulkan bahwa
media pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan oleh
pendidik sebagai alat, bahan, dan sumber pembelajaran dalam kegiatan
belajar mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan yang efektif dan
efisien.
b. Jenis-jenis Media Pembelajaran
Banyak media yang dapat digunakan untuk menunjang kegiatan
interaksi belajar mengajar. Untuk itu media dalam pendidikan dapat
digolongkan dalam tujuh kategori, yaitu sebagai berikut:
1) Relathing dalah manusia (pengajar), benda yang sesungguhnya
(bukan gambar ataupun model), dan peristiwa yang sebenarnya
2) Verbal Presentation adalah media tulis/cetak, misalnya buku teks,
referensi, dan bahan bacaan lainnya.
3) Grafik Presentation adalah misalnya chart, diagram, gambar atau
lukisan.
4) Stiil picture seperti foto, slide, film strip, overhead, projector,
transparence.
5) Audio (recording) seperti kaset, reel tape, piringan hitam, sound
track pada film ataupun pita pada tape.
6) Program adalah kumpulan informasi yang beurutan. Program dapat
berupa verbal (buku teks), visual maupun video.
7) Simulation adalah media yang dikenal dengan istilah simulation and
game, yaitu suatu permainan yang menirukan kejadian yang
sebenarnya (Djamarah,1991).
c. Manfaat Media Pembelajaran
Beberapa manfaat media pembelajaran secara umum menurut
Wina Sanjaya (2012) adalah sebagai berikut:
1) Menangkap suatu objek atau peristiwa-peristiwa tertentu
2) Memanipulasi keadaan, peristiwa atau suatu objek
3) Menambah gairah dan motivasi belajar peserta didik
Penggunaaan media tidak lain untuk mengurangi verbalisme
agar anak didik mudah memahami bahan pelajaran yang akan disajikan.
tujuan pembelajaran. Bila penggunaan media pembelajaran tidak tepat
maka akan mengakibatkan pada pencapaian tujuan pembelajaran yang
kurang efektif dan efisien.
3. Flashcard
a. Pengertian Flashcard
Flashcard adalah media pembelajaran dalam bentuk kartu
bergambar yang berukuran 25 cm x 30 cm. Gambar-gambarnya dibuat
menggunakan tangan atau foto, atau memanfaatkan gambar atau foto
yang sudah ada yang ditempelkan pada lembaran-lembaran flashcard.
Gambar-gambar pada flashcard merupakan rangkaian pesan yang
disajikan dengan keterangan setiap gambar yang dicantumkan pada
bagian belakangnya. Flashcard hanya cocok untuk kelompok kecil
peserta didik tidak lebih dari 30 orang peserta didik. Kelebihan flashcard
antara lain mudah dibawa, praktis, gampang diingat, menyenangkan
(Nurseto, 2011).
Menurut Muti’ah (2012), flashcard atau kartu kilas adalah suatu
kartu bolak balik yang sangat ampuh digunakan untuk mengingat dan kaji
ulang dalam proses belajar, atau definisi lain menyebutkan bahwa
flashcard adalah kartu kecil yang berisi gambar, teks, atau tanda simbol
berhubungan dengan gambar tersebut. Flashcard biasanya berukuran 17
cm x 12 cm atau dapat disesuaikan dengan besar kecilnya kelas yang
dihadapi. Kartu–kartu tersebut menjadi petunjuk atau rangsangan bagi
peserta didik untuk memberikan respon yang diinginkan
Berdasarkan beberapa uraian tentang Flashcard diatas, dapat
diambil kesimpulan bahwa flashcard adalah sebuah media pembelajaran
yang berbentuk seperti kartu kilas yang ukuran dapat disesuaikan dengan
ukuran kelas, media pembelajaran yang sangat menarik dan
menyenangkan dan sangat ampuh digunakan sebagai kartu pengingat.
b. Cara Pembuatan flashcard
1) Menyiapkan kertas yang agak tebal seperti kertas duplek atau
dari bahan kardus. Kertas ini berfungsi untuk menyimpan atau
menempelkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan
pembelajaran.
2) Kertas tersebut diberi tanda dengan spidol menggunakan
penggaris, untuk menentukan ukuran 25 cm x 30 cm atau dapat
disesuaikan dengan ukuran kelas dan banyaknya peserta didik.
3) Potong-potonglah kertas duplek/kardus tersebut dengan gunting
atau cuter hingga tepat berukuran 25 cm x 30 cm atau yang
disesuaikan. Buatlah kartu-kartu tersebut sejumlah gambar yang
4) Membuat desain gambar menggunakan komputer dengan ukuran
yang sesuai lalu setelah selesai ditempelkan pada alas yang
berupa kardus bekas yang dipotong sesuai ukuran gambar
5) Jika gambar yang akan ditempel memanfaatkan gambar yang
sudah ada, misalnya gambar-gambar yang dijual di toko,
majalah, koran, maka selanjutnya gambar-gambar tersebut
tinggal dipotong sesuai dengan ukuran kertas alas, lalu
ditempelkan menggunakan perekat atau lem kertas.
6) Pada bagian akhir adalah memberi tulisan pada bagian belakang
kartu-kartu tersebut sesuai dengan nama objek pada halaman
muka. Nama-nama ini biasa dengan menggunakan beberapa
bahasa misalnya Indonesia dan Inggris (Nurseto, 2012).
Adapun beberapa contoh gambar yang akan digunakan pada flashcard
yang akan disajikan oleh peneliti pada proses pembelajaran:
Gambar 2.1 Beberapa contoh gambar yang akan digunakan oleh peneliti sebagai gambar di flashcard
1) Tebak Pasang
Peserta didik dikelompokkan berpasang-pasangan,
kemudian pasangan ini dipisahkan menjadi 2 kubu, kubu yang
satu adalah para pembawa flashcard soal ukuran A4 dan kubu
yang satunya lagi adalah para pembawa flashcard jawaban
ukuran A4 juga. Jika seorang anak di kubu soal membacakan
soalnya maka pasangannya yang ada di kubu jawaban harus
menjawab dengan benar jika salah akan dihukum, jika benar
harus menjelaskan alasannya.
2) Permainan Kartu
Peserta didik dikelompokkan menjadi 5 kelompok dan
duduk bersama membentuk sebuah lingkaran, masing-masing
anak membawa 5 soal dan 5 jawaban dalam flashcard bolak
balik ukuran 7 cm × 12 cm. Salah satu anak menjatuhkan soal
miliknya sedang salah satu anak yang lainnya menjawab soal
tersebut. Bila jawabannya benar maka dia menjatuhkan soal
miliknya dan dijawab teman yang lainnya, begitu seterusnya.
Siapa yang soal miliknya habis lebih dulu maka dia
pemenangnya.
3) Ciluk Ba
Pendidik menyuguhkan flashcard dalam ukuran setengah
teman-temannya dalam kelompok diskusi (seperti permainan
Ciluk Ba). Setelah permainan selesai, kelompok yang berhasil
menjawab lebih cepat dan benar salah satu anggotanya yang
mewakili dipersilahkan menjelaskan di depan kelas kepada
semua teman-temannya. Pada saat permainan, pendidik
melakukan bimbingan individual kepada peserta didik (Sutanto
Windura dalam Muti’ah, 2012).
4. Model Pembelajaran kooperatif
Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan
sejumlah peserta didik sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat
kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya,
setiap peserta didik anggota kelompok harus salaing bekerja sama dan
saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Pembelajaran
kooperatif belum selesai jika salah satu dari teman dalam kelompok belum
menguasai bahan pelajaran (Jauhar, 2011).
Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dalam
kelompok kecil yang memiliki tingkatan kemampuan yang berbeda.
Strategi belajar khususnya diraancang untuk memberi dorongan kepada
peserta didik agar bekerjasama selama proses pembelajaran. Menurut
Slavin (2005) pembelajaran kooperatif adalah proses pembelajaran yang
oleh guru. Dalam pembelajaran kooperatif, dua atau lebih individu saling
bergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama.
Belajar kooperatif adalah kegiatan yang berlangsung dalam
lingkungan belajar berbentuk kelompok kecil, sehingga peserta didik
dapat saling berbagi ide dan bekerja secara kolaboratif untuk
menyelesaikan tugas akademik. Di dalam belajar kooperatif tidak hanya
dituntut keberhasilan individu namun juga keberhasilan kelompok. Dari
pemikiran itulah dalam belajar kooperatif, peserta didik belajar dalam
kelompok kecil yang bersifat heterogen dari segi gender, etnis, dan
kemampuan akademik untuk saling membantu satu sama lain dalam
mencapai tujuan bersama (Hobri dan Susanto, 2006).
Berdasarkan beberapa uraian diatas, dapat disimpulakn bahwa
model pembelajaran kooperatif adalah sebuah model pembelajaran yang
dilakukan dengan cara membentuk kelompok kecil yang memiliki anggota
yang heterogen dengan berpacu pada pemahaman dan penguasaan materi
pelajaran dengan saling membantu antara peserta didik yang satu dengan
yang lainnya.
5. Model Pembelajaran kooperatif Tipe group investigation (GI) a. Pengertian Group Investigation (GI)
Investigasi Kelompok (Group Investigation) adalah strategi belajar
kooperatif yang menempatkan peserta didik ke dalam kelompok secara
kelamin, suku, dan agama, untuk melakukan investigasi terhadap suatu
topik (Hobri dan Susanto, 2006).
GI tidak akan dapat diimplementasikan dalam lingkungan
pendidikan yang tidak mendukung dialog interpersonal atau yang tidak
memperhatikan dimensi rasa sosial dari pembelajaran didalam kelas.
Komunikasi kooperatif diantara sesama teman kelas akan mencapai hasil
terbaik apabila dilakukan dalam kelompok kecil, dimana pertukaran
diantara teman sekelas dan sikap-sikap kooperatif bisa terus bertahan
(Slavin, 2005).
Menurut Aunurrhaman (2010) model pembelajaran GI merupakan
model pembelajaran yang menjadi wahana untuk mendorong dan
membimbing keterlibatan peserta didik didalam proses pembelajaran.
Keterlibatan ini dalam bentuk bertukar pikiran melalui komunikasi yang
terbuka dan bebas serta kebersamaan dari kegiatan merencanakan sampai
pada pelaksanaan pemilihan topik-topik investigasi.
Berdasarkan beberapa uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa
model pembelajaran kooperatif tipe group investigation (GI) merupakan
model pembelajaran yang menekankan pada kerjasama antara peserta
didik secara bebas dan terbuka dalam hal pemahaman materi pelajaran,
peserta didik juga dituntut untuk memilih sendiri topik/materi pelajaran
b. Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif Tipe Group Investigation (GI) yang dipadukan dengan media pembelajaran Flashcard
Langkah-langkah pembelajaran dalam mengimplementasikan
model pembelajaran kooperatif tipe group investigation (GI) yang
dipadukan dengan media pembelajaran flashcard di dalam lingkungan
kelas yang baik dan efisien adalah sebagai berikut:
Tabel 2.1 Perpaduan Langkah-langkah Pembelajaran Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation (GI) dengan Media Pembelajaran
Flashcard.
Langkah-langkah model pembelajaran GI
Langkah-langkah pembelajaran media pembelajaran flashcard
Perpaduan langkah-langkah model pembelajaran GI dan
media pembelajaran
flashcard
Tahap 1:
mengidentifikasi topik dan mengatur peserta didik ke dalam kelompok Tahap 2 :
merencananakan tugas yang akan dipelajari Tahap 3: melaksanakan investigasi
Tahap 4 : Menyiapkan laporan akhir
Tahap 5 :
Mempresentasikan laporan akhir Tahap 5 :
Mempresentasikan
1. Pendidik menyuguhkan
flashcard dalam ukuran setengah kertas A4
2. Flashcard diberikan untuk dijawab soal-soalnya dengan cepat bersama teman-temannya dalam kelompok diskusi 3. Setelah semua telah
terjawab, kelompok yang berhasil
menjawab lebih cepat dan benar salah satu anggotanya yang
1. Mengidentifikasi topik oleh guru dan peserta didik, dimana masing-masing topik memiliki
flashcardnya masing-masing
2. Pembagian kelompok yang bernggotakan 5-6 orang perkelompoknya 3. Perencanaan investigasi
di dalam kelompok 4. Menginvestigasi
flashcard yang sudah disediakan berdasarkan topik yang dipilih oleh masing-masing
laporan akhir Tahap 6 : evaluasi pencapaian
(Slavin, 2005)
mewakili dipersilahkan
menjelaskan di depan kelas kepada semua teman-temannya. 4. Setelah kelompok
pertama selesai, dilanjutkan oleh kelompok berikutnya 5. Apabila semua
kelompok sudah selesai mepresentasikan laporan masing-masing kelompoknya, pendidik mengevaluasi setiap kelompok (Sutanto Windura dalam Mutiah, 2012).
5. Kelompok yang sudah selesai dipersilahkan untuk mempresentasikan hasil investigasi mereka oleh perwakilan. Waktu yang digunakan untuk menginvestigasi
ditentukan seminimal dan seefisien mungkin.
6. Apabila kelompok pertama telah selesai, maka akan dilanjutkan
dengan kelompok
berikutnya.
7. Setelah semua kelompok selesai mempresentasikan hasil investigasi mereka, maka guru mengevaluasi dan menambahkan materi yang dianggap masih kurang dari materi yang dipresentasikan oleh masing-masing kelompok
6. Motivasi Belajar
a. Pengertian Motivasi Belajar
Motivasi berasal dari kata motif, yang diartikan sebagai daya upaya
yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat
dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam diri dan didalam subjek
untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan.
Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern
(kesiapsiagaan). Berawal dari kata motif itu, maka motivasi dapat
aktif pada saat-saat tertentu, terutama bila kebutuhan untuk mencapai
tujuan yang sangat dirasakan atau mendesak (Sardiman, 2011).
Menurut Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri
seseorang yang ditandai dengan munculnya feeling dan didahului dengan
tanggapan tehadap adanya tujuan. Perubahan energi dalam diri seseorang
itu berbentuk suatu aktivitas nyata berupa kegiatana fisik. Karena
seseorang mempunyai tujuan tertentu dari aktivitasnya, maka seseorang
mempunyai motivasi yang kuat untuk mencapainya dengan segala upaya
yang dapat dia lakukan untuk mencapainya.
Motivasi sangat diperlukan dalam proses pembelajaran, sebab
seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan
mungkin melakukan aktivitas belajar. Hal ini merupakan suatu pertanda,
bahwa sesuatu yang akan dikerjakan itu tidak menyentuh kebutuhannya.
Segala sesuatu yang menarik minat orang lain belum tentu menarik minat
orang tertentu selama orang tertentu tidak bergayut dengan kebutuhannya.
Oleh karena itu, apa yang seseorang lihat sudah tentu akan
membangkitkan minatnya sejauh apa yang ia lihat itu mempunyai
hubungan dengan kepentingan sendiri (Djamarah, 1991).
Selanjutnya Eysenck dan kawan-kawan (dalam Slameto, 2010)
merumuskan motivasi sebagai suatu proses yang menentukan tingkatan
kagiatan, intensitas, konsistensi, serta arah umum dari tingkah laku
dan sebagainya. Peserta didik yang tampaknya tidak bermotivasi,
mungkin pada kenyataannya cukup bermotivasi tapi tidak dalam hal-hal
yang diharapkan pengajar. Mungkin peserta didik cukup bermotivasi
untuk berprestasi disekolah, akan tetapi pada saat yang sama ada
kekuatan-kekuatan lain, seperti teman-teman, yang mendorongnya untuk
tidak berprestasi di sekolah.
Berdasarkan beberapa definisi diatas, maka dapat disimpulakan
bahwa motivasi adalah suatu daya penggerak yang timbul dengan adanya
feeling yang mengakibatkan seseorang melakukan sesuatu yang ia
butuhkan dan dalam keadaan yang mendesak untuk mencapai suatu
tujuan tertentu.
b. Macam-macam motivasi
Macam-macam motivasi berdasarkan sumbernya dibagi menjadi 2,
yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik.
1) Motivasi intrinsik
Motivasi intrinsik maksudnya adalah motif-motif yang menjadi aktif
atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam setiap
individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.
Bila seseorang telah memiliki motivasi intrinsik dalam dirinya,
maka ia secara sadar akan melakukan suatu kegiatan yang tidak
intrinsik sangat diperlukan, terutama belajar sendiri. Seseorang yang
tidak memiliki motivasi intrinsik sulit sekali melakukan aktivitas belajar
terus menerus. Seseorang yang memiliki motivasi intrinsik selalu ingin
maju dalam belajar. Keinginan ini dilatarbelakangi oleh pemikiran yang
positif, bahwa semua mata pelajaran yang dipelajari sekarang akan
dibutuhkan dan sangat berguna kini dan masa datang. Seseorang yang
mempunyai minat yang tinggi untuk mempelajari suatu mata pelajaran,
maka ia akan mempelajarinya dalam jangka waktu tertentu. Seseorang itu
boleh di katakan memiliki motivasi untuk belajar. Motivasi itu muncul
karena ia membutuhkan sesuatu dari apa yang di pelajarinya. Motivasi
memang berhubungan dengan kebutuhan seseorang yang memunculkan
kesadaran untuk melakukan aktivitas belajar. Oleh karena itu, minat
adalah kesadaran seseorang, bahwa sesuatu objek, seseorang, suatu soal
atau suatu situasi ada sangkut pautnya dengan dirinya.
Perlu ditegaskan bahwa peserta didik yang memiliki motivasi
intrinsik cenderung akan menjadi orang yang terdidik, yang
berpengetahuan, yang mempunyai keahlian dalam bidang tertentu. Untuk
mendapatkan semua itu tidak ada cara lain yang lebih tepat kecuali
belajar. Belajar adalah suatu cara untuk mendapatkan pengetahuan.
Belajar bisa di konotasikan dengan membaca. Dengan begitu, membaca
adalah gerbang ilmu menuju lautan ilmu pengetahuan. Kreativitas
Tidak ada seorang pun yang berilmu tanpa melakukan aktivitas
membaca. Evolusi pemikiran manusia yang semakin maju dalam
rentangan masa tertentu karena membaca, yang hal itu tidak terlepas dari
masalah motivasi sebagai pendorongnya, yang berhubungan dengan
kebutuhan untuk maju.
Dorongan untuk belajar bersumber pada kebutuhan, yang berisikan
keharusan untuk menjadi orang yang terdidik dan berpengetahuan. Jadi,
motivasi intrinsik muncul berdasarkan kesadaran dengan tujuan esensial,
bukan sekedar atribut dan selemonia.
2) Motivasi ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah kebalikan dari motivasi intrinsik.
Motivasi ekstinsik adalah motif – motif yang aktif yang berfungsinya
karena adanya perangsang dari luar.
Motivasi ekstrinsik bukan berarti motivasi yang tidak di perlukan
dan tidak baik dalam pendidikan. Motivasi ekstrinsik di perlukan agar
peserta didik mau belajar. Berbagai macam cara bisa di lakukan agar
peserta didik termotivasi untuk belajar. Guru harus bisa membangkitkan
minat peserta didik dengan memanfaatkan motivasi ekstrinsik dalam
berbagai bentuknya. Kesalahan penggunaan bentuk-bentuk motivasi
ekstrinsik akan merugikan peserta didik. Akibatnya, motivasi ekstrinsik
malas belajar. Padahal telah di ketahui, bahwa motivasi memberi
semangat kepada seorang peserta didik dalam aktifitas belajarnya.
Untuk itu seorang guru harus bisa memepergunakan motivasi
ekstrinsik ini dengan tepat dan benar dalam rangka menunjang proses
interaksi belajar mengajar (Djamarah, 1991).
c. Fungsi Motivasi
1) Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau
motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan
motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan di kerjakan
2) Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak di
capai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan
kegiatan yang harus di kerjakan sesuai dengan rumusan
tujuannya.
3) Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan–perbuatan
apa yang harus di kerjakan yang serasi guna mencapai tujuan,
dengan menyisihkan perbuatan–perbuatan yang tidak bermanfaat
bagi tujuan tersebut (Sardiman, 2011)
7. Prestasi Belajar
a. Pengertian Prestasi Belajar
Prestasi belajar adalah sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata,
yakni prestasi dan belajar. Prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang
Prestasi tidak akan pernah dihasilkan selama seseorang tidak melakukan
kegiatan. Sedangkan belajar adalah suatu aktivitas yang dilakukan secara
sadar untuk mendapatkan sejumlah kesan dari bahan yang telah dipelajari.
Belajar adalah suatu aktivitas yang sadar akan tujuan. Tujuan dalam
belajar adalah terjadinya suatu perubahan dalam diri individu, perubahan
dalam arti menuju ke perkembangan pribadi individu seutuhnya.
Jadi prestasi belajar secara utuh dapat diartikan sebagai hasil
yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan
dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar. Prestasi
belajar dalam dunia pendidikan diartikan sebagai penilaian pendidikan
tentang kemajuan peserta didik dalam segala hal yang dipelajari di
sekolah yang menyangkut pengetahuan atau kecakapan atau keterampilan
yang dinyatakan sesudah hasil penilaian, (Djamarah, 1991).
Prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan
yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari
aktivitas dalam belajar. Presatsi belajar juga diartikan sebagai hasil yang
dicapai oleh individu setelah individu yang bersangkutan mengalami
suatu proses belajar atau diajarkan pengetahuan tertentu. Prestasi belajar
pada dasarnya bukan saja nilai yang diberikan kepada peserta didik, tetapi
juga peningkatan keterampilan, pengetahuan, sikap dan berbagai variabel
Berdasarkan pendapat-pendapat para ahli diatas tentang prestasi
belajar, maka dapat dilihat bahwa penekanan dari setiap
pendapat-pendapat tersebut adalah terletak pada kata perubahan dan hasil.
Perubahan yang dimaksudkan adalah perubahan keadaan, baik sikap,
prilaku dan sebagainya yang menuju kearah yang lebih baik. Sedangkan
hasil dapat dimaknai sebagai sesuatu yang didapatkan dari sebuah
pengalaman atau kesan-kesan tertentu setelah melakukan suatu kegiatan,
akan tetapi untuk mendapatkan prestasi belajar yang baik, maka berikut
terdapat beberapa faktor yang perlu diperhatikan.
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar
Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur
yang sangat fundamental dalam setiap peyelenggaraan jenis dan jenjang
pendidikan.Ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan
pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang di
alaminya.Belajar adalah key trem (istilah kunci) yang paling vital dalam
setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak pernah
ada pendidikan.Sebagian orang beranggapan bahwa belajar adalah
semata-mata mengupulkan atau menghafalkan fakta-fakta yang tersaji
dalam bentuk informasi atau materi pelajaran. Orang yang beranggapan
seperti begitu demikian biasanya akan segera merasa bangga ketika
besar informasi yang terdapat dalam buku teks atau yang di ajarkan oleh
gurunya.
Skinner dalam Barlow (1985) berpendapat bahwa belajar adalah
suatu proses adaptasi atau peyesuaian tingkah laku yang berlangsung
secara progresif. Skinner,seperti juga Pavlov dan Guthier, adalah seorang
pakar teori belajar berdasarkan proses conditioning yang pada prinsipnya
memperkuat dugaan bahwa timbulnya tingkah laku itu lantarannya ada
hubungan antara stimulan (rangsangan) dengan respon.
Prestasi belajar di sekolah sangat dipengaruhi oleh kemampuan
umum kita yang diukur oleh IQ, IQ yang tinggi meramalkan sukses
terhadap prestasi belajar. Namun IQ yang tinggi ternyata tidak menjamin
sukses di masyarakat. Semua itu merupakan faktor yang yang
mendukung untuk menetukan cara belajar seseorang, berikut ini akan di
paparkan mengenai pengtahuan faktor-faktor yang mempengaruhi
prestasi belajar anak yaitu :
1) Pengaruh pendidikan dan pembelajaran
Seorang secara genetis telah lahir dengan suatu organisme yang
disebut inteligensi yang bersumber dari otaknya. Struktur otak telah
ditentukan secara genetis, namun berfungsinya otak tersebut menjadi
kemampuan umum yang disebut inteligensi, sangat dipengaruhi oleh
interaksi dengan lingkungannya. Pada kala bayi lahir ia telah dimodali
informasi. Cara pengelolaan inteligensi sangat mempengaruhi kualitas
manusianya. tetapi sayang perlakuan lingkungan dalam caranya tidak
selalu menguntungkan perkembangan inteligensi yang berpangaruh
terhadap kepribadian dan kualitas kehidupan manusia. Ternyata dari
berbagai penelitian bahwa pada umumnya hanya kurang lebih 5% neuron
otak berfungsi penuh.
Interface antar berbagai stimulus lingkungan melalui interaksi
untuk mewujudkan aktualisasi diri individu secara optimal dalam
masyarakat di mana ia hidup dan juga aktualisasi daerah pada masyarakat
yang lebih luas, nasional maupun global, inilah yang harus menjadi
perhatian pengelola ataupun atasan atas perlakuan subjek SDM, dalam
hal kita para guru dalam perlakuannya terhadap peserta didik.
2) Perkembangan dan Pengukuran Otak
Untuk meningkatkan kecerdasan anak maka produksi sel
neuroglial, yaitu sel khusus yang mengelilingi sel neuron yang merupakan
unit dasar otak, dapat ditingkatkan melalui berbagai stimulus yang
menambah aktivitas antara sel neuron (synaptic activity), dan
memungkinkan akselerasi proses berfikir. Dengan demikian inteligensi
manusia dapat ditingkatkan, meskipun dalam batas-batas tipe
inteligensinya.
Otak dewasa manusia tidak lebih dari 1,5 kg, namun otak
seluruh dirinya (selfhood), kebudayaan, kejiwaan serta bahasa dan
ingatannya. ”Celebral Cortex" otak dibagi dalam dua belahan otak yang
disambung oleh segumpal serabut yang disebut "Corpus Callosum".
Belahan otak kanan menguasai belahan kiri badan, sedangkan belahan
otak kiri menguasai belahan kanan badan. Respon, tugas dan fungsi
belahan kiri dan kanan berbeda dalam menghayati berbagai pengalaman
belajar, sebagaimana seorang mengalami realitas secara berbeda-beda dan
unik. Belahan otak kiri terutama berfungsi untuk merespons terhadap hal
yang sifatnya linier, logis, teratur, sedangkan kanan untuk
mengembangkan kreativitasnya, mengamati keseluruhan secara holistik
dan mengembangkan imaginasinya. Dengan demikian ada dua
kemungkinan cara berpikir, yaitu cara berpikir logis, linier yang menuntut
satu jawaban yang benar multidimensional memungkinkan lebih dari satu
jawaban.
3) Kecerdasan (Inteligensi) Emosional
Prestasi belajar di sekolah sangat dipengaruhi oleh kemampuan
umum kita yang diukur oleh IQ, IQ yang tinggi meramalkan suskse
terhadap prestasi belajar. Emosi selain mengandung perasaan yang
dihayati seseorang, juga mengandung kemampuan mengetahui
(menyadari) tentang perasaan yang dihayati dan kemampuan bertindak
terhadap perasaan itu. Bahkan pada hakekatnya emosi itu adalah impuls
Prestasi dalam belajar merupakan dambaan bagi setiap orangtua
terhadap anaknya. Prestasi yang baik tentu akan didapat dengan proses
yang baik juga. Belajar merupakan proses dari sesuatu yang belum bisa
menjadi bisa, dari perilaku lama ke perilaku baru, dari pemahaman lama
ke pemahaman baru.
Dalam proses belajar, hal yang harus diutamakan adalah
bagaimana anak dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungan dan
rangsangan ada, sehingga terdapat reaksi yang muncul dari anak. Reaksi
yang dilakukan merupakan usaha untuk menciptakan kegiatan belajar
sekaligus menyelesaikannya. Sehingga nantinya akan mendapatkan hasil
yang mengakibatkan perubahan pada anak sebagai hal baru serta
menambah pengetahuan (Humaidi, dkk, 2010).
B. Hasil Penelitian yang Relevan
Beberapa hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Hasil penelitian oleh Abdul Karis (2010) yang berjudul “Efektivitas
Model Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC Dengan Media Kartu Soal
Terhadap Hasil Belajar Peserta Didik di Kelas VIII SMP Nusa Bangsa
Demak Tahun Pelajaran 2009/2010” dan hasil dari penelitiannya adalah
model pembelajaran kooperatif tipe CIRC dengan media kartu soal sangat
matematika pada materi pokok Sistem Persamaan Linier Dua Variabel
(SPLDV).
2. Hasil penelitian oleh Fitria Catur Wulandari (2011) yang berjudul
“Efektivitas Metode Index Card Match Pada Materi Pokok Bilangan
Pecahan Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Kelas VII di
MTs Negeri 1 Pamotan” dan hasil penelitiannya adalah hasil
pembelajaran matematika dengan menggunakan metode Index Card
Match lebih baik dan efektif digunakan dari pada pembelajaran
konvensional terhadap kemampuan pemecahan masalah pada materi
Bilangan pecahan di MTs Negeri 1 Pamotan Rembang Tahun Pelajaran
2010 / 2011.
3. Hasil Penelitian Oleh Khoirul Mutiah (2012) dengan Judul “Pengaruh
Penggunaan Math Flashcard Terhadap Hasil Belajar Peserta Didik Kelas
VIII Semester Genap di MTs Puteri Sunniyyah Selo Tahun Ajaran
2011/2012” dan hasil penelitiannya adalah hasil belajar matematika
peserta didik kelas VIII MTs Puteri Sunniyyah Selo tahun ajaran
2011-2012 dengan pembelajaran menggunakan Math flashcard lebih baik dari
pada hasil belajar peserta didik yang m