• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN F

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN F"

Copied!
189
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN FLASHCARD YANG DIPADUKAN DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF

TIPE GROUP INVESTIGATION (GI) TERHADAP MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR BIOLOGI KELAS VII MTs.N

KELEBUH TAHUN AJARAN 2013/2014

SKRIPSI

Diajukan kepada Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Mataram untuk

Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana (S-1) Pendidikan Biologi

OLEH:

ENIDA FATMALIA NIM: 10.211.345

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN MATARAM

(2)
(3)

YAYASAN PEMBINA IKIP MATARAM

FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA Alamat : Jln, Pemuda No. 59 A Telp. (0370) 636629 Mataram 83125

HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING SKRIPSI

Skripsi yang disusun oleh Enida Fatmalia dengan Judul: Pengaruh Penggunaan

Media Pembelajaran F lashcard yang Dipadukan dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation (GI) terhadap Motivasi dan Prestasi Belajar Biologi Kelas VII MTs.N Kelebuh Tahun Ajaran 2013/2014

Telah diperiksa dan disetuji untuk melaksanakan ujian, Tanggal … Januari 2014

Oleh: DosenPembimbing Skripsi I

Ismail Efendi, M.Pd. NIDN. 2007 09 053

Dosen Pembimbing Skripsi II

Ali Imran, S.Si, M.Pd. Si. NIDN. 2012 07 001

(4)

YAYASAN PEMBINA IKIP MATARAM

FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA Alamat : Jln, Pemuda No. 59 A Telp. (0370) 636629 Mataram 83125

HALAMAN PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN SKRIPSI Skripsi dengan Judul:

Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran Flashcard yang dipadukan dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation (GI) Terhadap

Motivasi dan Prestasi Belajar Biologi Kelas VII MTs.N Kelebuh Tahun Ajaran 2013/2014

Telah Disetujui oleh Dewan Penguji Skripsi Sebagai Salah Satu Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Program Studi Pendidikan Biologi Pada tanggal 29 Januari 2014

Ketua : Ismail Efendi, M. Pd. ( )

NIDN. 2007 09 053

Anggota : Ali Imran, S. Si. M. Pd.Si. ( ) NIDN. 2012 07 001

Anggota : Any Fatmawati, M.Pd. ( )

NIK. 0831128101

Mataram, ………….. 2014 Mengetahui,

Dekan FPMIPA IKIP MATARAM

Menyetujui,

Ketua Program Studi Pendidikan Biologi

(5)

INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIDIKAN MATARAM

FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA Alamat : Jln, Pemuda No. 59 A Telp. (0370) 636629 Mataram 83125

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN

Yang bertanda tangan dibawah ini atas nama ENIDA FATMALIA menyatakan

dengan sebenar-benarnya bahwa skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri dan

dipergunakan untuk menyelesaikan Program Sarjana Pendidikan di Institut Keguruan

dan Ilmu Pendidikan Mataram dan belum pernah dipergunakan untuk program lain di

lembaga manapun juga. Hasil Karya pihak lain yang saya kutip di dalamnya telah

didokumentasikan sebagaimana mestinya pada bagian daftar pustaka.

Mataram, …… Februari 2014

(6)

Motto:

“Do’a dan Ikhtiar adalah pondasi kuat

mencapai kesuksesan”

Skripsi ini kupersembahkan untuk:

Nenekku tercinta (Hj. Siti Fatimah) dan kedua orang tuaku (Jeniah dan

Drs. H. Ahmad Ibrani) yang senantiasa

mendo’akanku, memberikan semangat dan nasihat yang tiada henti-hentinya

Seluruh sanak saudaraku yang selalu mendukung setiap langkahku

Sahabat-sahabatku tercinta (kantu’, cyla, niza, yanti, ana, adi, dan najam)

Teman-teman kelasku (Biologi G 2010)

Teman-teman seperjuanganku jurusan Pendidikan Biologi 2010

Orang yang ku cintai (Muhammad Sadli, S.Pd.) yang telah menginspirasi

dan mengajariku tentang arti sebuah

perjuangan.

(7)

KATA PENGANTAR

Puji Syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa

karena berkat limpahan rahmat serta hidayah-Nya penyusunan skripsi dengan judul

“Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran Flashcard yang Dipadukan

dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation (GI) terhadap Motivasi dan Prestasi Belajar Biologi Kelas VII MTs.N Kelebuh Tahun Ajaran 2013/2014” dapat terselesaikan dengan baik.

Terselesainya penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan, bimbingan,

dan pengarahan dari beberapa pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini peneliti

akan menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Ismail

Efendi, M.Pd. selaku pembimbing I dan Bapak Ali Imran, S.Si, M.Pd,Si. selaku

pembimbing II yang senantiasa membimbing, membantu, dan mengarahkan peneliti

dalam penyelesaian skripsi ini. Selanjutnya peneliti juga tidak lupa mengucapkan

terima kasih dan rasa hormat yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Prof. Drs. H. Toho Cholik Mutohir, MA., Ph.D. selaku Rektor IKIP

Mataram atas dukungan dan kesempatan yang telah diberikan kepada peneliti

sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik

2. Bapak Drs. Sumarjan M.Si. selaku Dekan FPMIPA IKIP Mataram atas

bimbingan dan arahan yang telah diberikan kepada peneliti selama ini sehingga

(8)

3. Bapak dan Ibu dosen FPMIPA IKIP Mataram yang telah memberikan bimbingan

kepada peneliti dalam proses penyusunan skripsi ini

4. Teman-teman seperjuangan yang peneliti banggakan yang telah memberikan

bantuan yang mungkin belum sempat terbalaskan

Skripsi ini masih memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan

saran yang sifatnya membangun sangat diharapkan oleh peneliti. Akhir kata, peneliti

berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkompetensi.

Amin

Mataram, ………….. 2014

(9)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN SKRIPSI ... ..i

HALAMAN PENGESAHAN DOSEN PENGUJI SKRIPSI ... ii

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN ... iii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... . x

DAFTAR GAMBAR ... ..xi

DAFTAR LAMPIRAN ... .xii

ABSTRAK ... .. xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian ... 7

E. Definisi Istilah dan Operasional ... 8

F. Ruang Lingkup Penelitian ... 12

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 13

A. Deskripsi Teori ... 13

(10)

2. Media pembelajaran ... 15

3. Flashcard ... 18

4. Model Pembelajaran Kooperatif... 22

5. Group Investigation (GI) ... 23

6. Motivasi Belajar ... 26

7. Prestasi Belajar ... 31

B. Penelitian yang Relevan ... 36

C. Kerangka Berpikir ... 38

D. Hipotesis ... 39

BAB III METODE PENELITIAN ... 41

A. Jenis Penelitian ... 41

B. Rancangan Penelitian ... 41

C. Pendekatan Penelitian ... 42

D. Populasi dan Sampel ... 42

E. Instrumen Penelitian ... 43

F. Teknik Pengumpulan Data ... 47

G. Teknik Analisis Data ... 47

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 51

A. Data Hasil Penelitian ... 51

1. Data Hasil Pre Test ... 52

2. Hasil Uji Instrumen ... 53

3. Data Hasil Post Test ... 53

(11)

5. Uji Hipotesis ... 55

a) Uji Homogenitas (Uji-F) ... 55

b) Uji Beda (Uji-t) ... 56

6. Data Motivasi Peserta Didik ... 56

7. Data Keterlaksanaan RPP ... 58

8. Data Kegiatan Peserta Didik ... 60

B. Pembahasan ... 63

1. Data Prestasi Belajar Peserta Didik ... 63

2. Uji Hipotesis ... 66

3. Data Motivasi Peserta Didik ... 66

4. Keterlaksanaan RPP ... 68

5. Kegiatan Peserta Didik dalam Belajar ... 69

BAB V PENUTUP ... 70

A. Simpulan ... 70

B. Saran-saran ... 70

DAFTAR PUSTAKA ... 71

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1 RPP Kelas Eksperimen ... 75

Lampiran 2 RPP Kelas Kontrol ... 80

Lampiran 3 Silabus Pembelajaran... 84

Lampiran 4 Angket Motivasi Peserta Didik Terhadap Pelajaran ... 87

Lampiran 5 Keterlaksanaan RPP Kelas Eksperimen Pertemuan Pertama ... 91

Lampiran 6 Keterlaksanaan RPP Kelas Eksperimen Pertemuan Kedua ... 93

Lampiran 7 Keterlaksanaan RPP Kelas Kontrol Pertemuan Pertama... 96

Lampiran 8 Keterlaksanaan RPP Kelas Kontrol Pertemuan Kedua ... ….98

Lampiran 9 Lembar Observasi Kegiatan Peserta Didik Kelas Eksperimen pertemuan Pertama ... .. 101

Lampiran 10 Lembar Observasi Kegiatan Peserta Didik Kelas Eksperimen Pertemuan Kedua ... 104

Lampiran 11 Lembar Observasi Kegiatan Peserta Didik Kelas Kontrol Pertemuan Pertama ... 107

Lampiran 12 Lembar Observasi Kegiatan Peserta Didik Kelas Kontrol Pertemuan Kedua ... 110

Lampiran 13 Soal Pre test ... 113

Lampiran 14 Kunci Jawaban Soal Pre test ... 116

Lampiran 15 Skor Persoal pada Uji Coba Instrumen Kelas Eksperimen ... 117

Lampiran 16 Daftar Nilai Kelas Eksperimen pada Uji Coba Instrumen ... 119

Lampiran 17 Skor Persoal pada Uji Coba Instrumen Kelas Kontrol ... 120

Lampiran 18 Daftar Nilai Kelas Kontrol pada Uji Coba Instrumen ... 122

Lampiran 19 Uji Reliabilitas Instrumen pada Kelas Eksperimen ... 123

(13)

Lampiran 21 Contoh Uji Validitas Instrumen ... 129

Lampiran 22 Tabel Validitas Soal pada Kelas Eksperimen ... 131

Lampiran 23 Tabel Validitas Soal pada Kelas Kontrol ... 132

Lampiran 24 Soal Post test ... . 133

Lampiran 25 Kunci Jawaban Soal Post test ... . 135

Lampiran 26 Kisi-kisi Soal Post test ... 136

Lampiran 27 Lembar Kerja Siswa ... 139

Lampiran 28 Daftar Hadir Peserta Didik Kelas Kontrol ... 142

Lampiran 29 Daftar Hadir Peserta Didik Kelas Eksperimen ... 143

Lampiran 30 Daftar Nilai Peserta Didik Kelas Kontrol ... 144

Lampiran 31 Daftar Nilai Peserta Didik Kelas Eksperimen ... 145

Lampiran 32 Data Motivasi Peserta Didik Kelas Kontrol ... 146

Lampiran 33 Data Motivasi Peserta Didik Kelas Eksperimen ... 148

Lampiran 34 Perhitungan Varians Kelas Eksperimen Data Moivasi Belajar ... 150

Lampiran 35 Perhitungan Varians Kelas Kontrol Data Motivasi Belajar ... 151

Lampiran 36 Uji Homogenitas (Uji-F) Data Motivasi Belajar ... 152

Lampiran 37 Uji Beda (Uji-t) Data Motivasi Belajar ... 153

Lampiran 33 Perhitungan Varians Kelas Kontrol ... 154

Lampiran 34 Perhitungan Varians Kelas Eksperimen ... 155

Lampiran 35 Uji Homogenitas (Uji-F) ... 156

Lampiran 36 Uji Beda (Uji-t)... 157

Lampiran 37 Ketuntasan Klasikal Kelas Kontrol ... 158

(14)

Lampiran 39 Nama Kelompok dan Topik yang didapatkan pada Proses

Investigasi Kelompok ... 160

(15)

PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN FLASHCARD YANG DIPADUKAN DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF

TIPE GROUP INVESTIGATION (GI) TERHADAP MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR BIOLOGI KELAS VII MTs.N

KELEBUH TAHUN AJARAN 2013/2014

OLEH:

ENIDA FATMALIA NIM. 10 211 345

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan media pembelajaran

Flashcard yang dipadukan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI) terhadap motivasi dan prestasi belajar Biologi kelas VII MTs.N Kelebuh tahun ajaran 2013/2014. Penelitian ini merupakan penelitian quasi experiment dengan rancangan penelitian menggunakan pretest-posttest control group design yang dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas VII MTs.N Kelebuh tahun ajaran 2013/2014. Sampel penelitian ini yaitu kelas VII3 sebagai kelas eksperimen dan kelas VII2 sebagai kelas kontrol. Penentuan sampel dilakukan dengan teknik Purpossive Sampling atau sampel yang bertujuan. Data prestasi belajar peserta didik diperoleh melalui tes yang dilaksanakan pada akhir proses pembelajaran atau posttest, dan data motivasi peserta didik diperoleh menggunakan angket tertutup. Sedangkan data keterlaksanaan RPP dan kegiatan peserta didik diperoleh menggunakan lembar observasi. Data prestasi belajar peserta didik kemudian dianalisis menggunakan uji-t. Berdasarkan hasil analisis data hasil tes prestasi belajar peserta didik menunjukan bahwa nilai rata-rata kelas dan persentase ketuntasan belajar klasikal diperoleh nilai secara berurutan sebesar 75 dan 85% pada kelas kontrol (VII2), sedangkan pada kelas eksperimen (VII3) diperoleh nilai berturut-turut 64 dan 54,5%. Pengujian hipotesis prestasi dan motivasi belajar dalam penelitian ini menggunakan rumus Polled Varians. Pada data prestasi belajar diperoleh nilai thitung sebesar 1,740 dan kemudian

dikonsultasikan dengan ttabel sebesar 2,021 dengan dk=40 pada taraf signifikan 5%.

Karena thitung < ttabel maka disimpulkan bahwa penggunaan media pembelajaran flashcard yang dipadukan dengan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation tidak berpengaruh terhadap prestasi belajar biologi kelas VII MTs.N Kelebuh tahun ajaran 2013/2014. Sedangkan untuk data motivasi, diperoleh thitung

sebesar 2,837 dengan ttabel yang sama. Karena thitung lebih besar dari ttabel maka

disimpulkan bahwa penggunaan media pembelajaran flashcard yang dipadukan dengan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation berpengaruh terhadap motivasi belajar biologi kelas VII MTs.N Kelebuh tahun ajaran 2013/2014

(16)

ABSTRACT

ENIDA FATMALIA: The Effect of Using Collaborative Learning Flashcard and Group Investigation Learning Model Toward Students Motivation and Achievment in Learning Biology at VII Class of MTs.N Kelebuh in Academic Years 2013/2014

(Supervised by Ismail Efendi and Ali Imran).

The research aimed finding out the effect of using collaborative learning flashcard and group investigation learning model toward students motivation and achievement in learning biology at VII class of MTs.N Kelebuh in academic years 2013/2014. The kinds of the research was quasi experimental with pretest posttest control group design with three meetings. The population of the research was whole students VII class of MTs.N Kelebuh and the sample of the research VII3 and VII2 class as experimental and control group. The sample is taken by using purposive sampling technique. The research used quasi experimental method with pretest posttest control group design. The data gathering is used objective test that has been taken validity and reliability. Based on the data analysis is gotten that there were average score pretest for experimental and control group with classical completeness 75 with percentage 85% and 64 with percentage 54,5%. Based test analyzed is gotten that t-test value score was 1,740 and t-table 2,021 with signification level 55. It means that t-test was lower than t-table (1,740 lower from 2,021). So that way, alternative hypothesis (Ha) was rejected and null hypothesis (Ho) accepted. Therefore, it taken conclusion that there was no significant effect of using collaborative learning flashcard and garoup investigation learning model toward students motivation and achievement in learning biology at VII class of MTs.N Kelebuh in academic years 2013/2014.

(17)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Proses pembelajaran merupakan kegiatan interaksi antara guru dan

peserta didik yang cukup dominan. Interaksi antara guru dan peserta didik dalam

rangka transfer of knowledge dan bahkan juga transfer of values, akan senantiasa

menuntut komponen-komponen yang ada pada kegiatan proses belajar mengajar

itu akan saling menyesuaikan dalam rangka mendukung pencapaian tujuan

belajar bagi peserta didik, komponen-komponen tersebut misalnya seperti guru,

peserta didik, metode, alat, tujuan pembelajaran, dan sarana pembelajaran. Untuk

mencapai tujuan yang dinginkan, masing-masing komponen tersebut akan saling

merespons dan mempengaruhi antara yang satu dengan yang lainnya, sehingga

tugas guru adalah bagaimana harus mendesain dari masing-masing komponen

agar proses pembelajaran lebih optimal (Sardiman, 2011).

Djamarah (1991) mengemukakan bahwa dalam pengajaran modern, guru

bukanlah orang yang aktif, tetapi sebagai fasilitator dari subyek belajar. Guru

bertugas sebagai pembimbing dan pengarah dalam rangka pencapaian tujuan

belajar anak didik. Jadi yang aktif adalah peserta didik bukanlah guru. Inilah

yang disebut dengan Cara Belajar siswa Aktif (CBSA).

Penerapan model pembelajaran yang bervariasi dapat mengurangi

kebosanan peserta didik terhadap cara mengajar guru sehingga peserta didik akan

(18)

wa berhasil tidaknya suatu kegiatan pembelajaran lebih banyak bergantung pada

kualitas yang dilakukan oleh peserta didik selama pembelajaran berlangsung.

Artinya kemampuan dan kreativitas guru dalam mengelola pembelajaran dapat

dilihat dari model pembelajaran mengajar yang diterapkannya. Model mengajar

yang diterapkan oleh seorang guru harus sesuai dengan tujuan yang ingin

dicapai, materi pelajaran, karakteristik peserta didik, bahkan sampai karakteristik

setiap materi pelajaran. Dengan demikian guru harus mampu melakukan

semacam analisis kebutuhan agar dapat diterapkan suatu model mengajar yang

dianggap sesuai dengan materi pelajaran.

Salah satu model pembelajaran yang dikembangkan dan perlu untuk

diterapkan untuk membantu meningkatkan pemahaman dan penalaran peserta

didik khususnya dalam mata pelajaran biologi adalah model pembelajaran

kooperatif. Pembelajaran kooperatif ini menuntut masing-masing peserta didik

harus untuk memahami setiap materi pelajaran yang disampaikan oleh guru.

Pembelajaran kooperatif tidak akan dikatakan berhasil apabila didalam suatu

kelompok yang telah dibagi dalam kelompok peserta didik yang heterogen, salah

satu dari anggota kelompoknya belum memahami materi pelajaran. Dalam

pembelajaran kooperatif ini, peserta didik juga dituntut untuk belajar bersama

dan saling membantu satu sama lain dalam memahami materi pelajaran (Jauhar,

2011).

Motivasi terkait erat dengan kebutuhan, semakin besar kebutuhan

(19)

untuk mencapainya. Kebutuhan yang kuat terhadap sesuatu akan mendorong

seseorang untuk mencapainya dengan sekuat tenaga. Hanya dengan

memotivasilah anak didik akan dapat tergerak hatinya untuk belajar bersama

teman-temannya yang lain (Djamarah dalam Aunurrahman 2009).

Proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah proses komunikasi. Pada

komunikasi pembelajaran guru berperan sebagai pengantar pesan dan peserta

didik sebagai penerima pesan. Pesan yang dikirimkan oleh guru berupa materi

pelajaran yang dituangkan ke dalam simbol-simbol komunikasi (kata-kata dan

tulisan) baik verbal maupun nonverbal.

Menyampaikan materi pembelajaran dengan hanya menggunakan bahasa

verbal tidak selamanya berjalan dengan efektif. Dengan hanya mengandalkan

bahasa sebagai media utama, bisa terjadi peserta didik salah dalam menangkap

informasi. Dengan kata lain, peserta didik akan terbatas atau tidak optimal dalam

memahami informasi yang disampaikan guru.

Penyampaian informasi yang hanya melalui bahasa verbal selain dapat

menimbulkan verbalisme dan kesalahan persepsi, juga menyebabkan gairah

peserta didik untuk menangkap pesan akan semakin kurang, karena peserta didik

kurang diajak berfikir dan menghayati pesan yang akan disampaikan. Padahal,

untuk memahami sesuatu perlu keterlibatan peserta didik baik fisik maupun

psikis. Pada kenyataannya, memberikan pengalaman langsung pada peserta didik

bukan sesuatu yang mudah, sebab bukan hanya menyangkut segi perencanaan

(20)

yang sangat tidak mungkin dipelajari secara langsung oleh peserta didik.

Katakanlah ketika guru ingin memberikan informasi tentang kehidupan dasar

laut, maka tidak mungkin pengalaman tersebut diperoleh secara langsung oleh

peserta didik. Oleh karena itu, peranan media pembelajaran sangat diperlukan

dalam suatu kegiatan pembelajaran. Melalui media pembelajaran hal yang

bersifat abstrak bisa menjadi lebih konkrit (Sanjaya, 2011).

Bukan hanya motivasi dan aktifitas belajar peserta didik saja yang

menurun dengan bahasa verbal guru, tetapi prestasi belajar peserta didik juga

ikut menurun. Aunurrahaman (2009) menjelaskan bahwa sarana dan prasarana

pembelajaran merupakan faktor yang turut memberikan pengaruh terhadap hasil

belajar peserta didik. Bagi peserta didik, ketersediaan sarana dan prasarana

pembelajaran berdampak terhadap terciptanya iklim pembelajaran yang lebih

kondusif, terjadinya kemudahan-kemudahan bagi peserta didik untuk

mendapatkan informasi dan sumber belajar yang pada gilirannya dapat

mendorong berkembangnya motivasi untuk mencapai hasil belajar yang lebih

baik.

Selain itu, ketidaktepatan guru dalam memilih model pembelajaran juga

menjadi penyebab lain dari ketidakaktifan peserta didik dalam proses

pembelajaran. Model pembelajaran yang hanya mengandalkan guru sebagai

sumber belajar akan membuat peserta didik cenderung bosan dan tidak

bersemangat dalam belajar. Media pembelajaran merupakan komponen penting

(21)

model pembelajaran juga memiliki peranan yang tidak kalah pentingnya di dalam

proses pembelajaran.

Kebosanan dan ketidakaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran

tergambar dari rendahnya nilai rata-rata kelas pada mata pelajaran IPA Terpadu

khususnya pada materi pelajaran biologi. Berikut ini akan disajikan nilai rata-rata

kelas pada mata pelajaran IPA Terpadu kelas VII semester II MTs.N Kelebuh

Tahun Ajaran 2012/2013.

Tabel 1.1 Nilai rata-rata kelas pada mata pelajaran IPA Terpadu kelas VII semester II MTs.N Kelebuh Tahun Ajaran 2012/2013.

No Kelas Nilai Rata- Rata Kelas

1 VII 1 65,00

2 VII 2 62,50

3 VII 3 60,00

4 VII 4 68,00

Sumber : Daftar nilai semester mata pelajaran IPA Terpadu Kelas VII MTs Negeri Kelebuh

Berdasarkan uraian di atas, peneliti akan mencoba memadukan antara

media pembelajaran dan model pembelajaran yang mungkin jarang dilakukan

oleh guru. Salah satu model pembelajaran kooperatif yang sesuai dan

langkah-langkahnya dapat dengan mudah dipadukan dengan media pembelajaran adalah

Group Investigation (GI). Pada model pembelajaran ini, peserta didik dapat

menginvestigasi flashcard yang disajikan untuk dipecahkan bersama. Flashcard

merupakan kartu bergambar yang sangat menarik untuk meningkatkan aktivitas

(22)

dan bernilai ekonomis, cukup dengan menyediakan kardus bekas dan kertas

bergambar, maka flashcard siap untuk digunakan. Kelebihan lain dari flashcard

ini adalah mudah dibawa, praktis, gampang diingat, dan menyenangkan.

(Nurseto, 2011).

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukan di atas, peneliti tertarik

untuk mengambil penelitian dalam bentuk Penelitian Eksperimen Semu (Quasi

Experiment) dengan judul “Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran

Flashcard yang dipadukan dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group

Investigation (GI) Terhadap Motivasi dan Prestasi Belajar Biologi Kelas VII

MTs.N Kelebuh tahun ajaran 2013/2014.”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai

berikut:

1. Apakah ada pengaruh penggunaan media pembelajaran Flashcard yang

dipadukan dengan model pembelajaran kooperatif Tipe Group Investigation

(GI) terhadap motivasi belajar biologi kelas VII MTs.N Kelebuh tahun ajaran

2013/2014?

2. Apakah ada pengaruh penggunaan media pembelajaran Flashcard yang

dipadukan dengan model pembelajaran kooperatif Tipe Group Investigation

(GI) terhadap prestasi belajar biologi kelas VII MTs.N Kelebuh tahun ajaran

(23)

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah

untuk mengetahui pengaruh penggunaan media pembelajaran Flashcard yang

dipadukan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI)

terhadap motivasi dan prestasi belajar Biologi kelas VII MTs.N Kelebuh tahun

ajaran 2013/2014.

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi dan

memperkaya khazanah ilmu pengetahuan tentang Pengaruh Penggunaan

Media Pembelajaran Flashcard yang dipadukan dengan model pembelajaran

Kooperatif Tipe Group Investigation (GI) Terhadap Motivasi dan Prestasi

Belajar peserta didik.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi peserta didik, diharapkan dengan perpaduan media pembelajaran

dan model pembelajaran ini dapat menjadi motivator dalam kegiatan

(24)

b. Bagi guru, dapat memberikan pemahaman psikologis terhadap guru-guru

dalam upaya pemanfaatan media pembelajaran dan model pembelajaran

untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar peserta didik.

c. Bagi Sekolah, diharapkan hasil penelitian ini bermanfaat untuk

pembaharuan strategi pembelajaran biologi. Dengan media pembelajaran

dan model pembelajaran ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas

pembelajaran sehingga dapat membantu mengatasi kejenuhan peserta

didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.

E. Definisi Istilah dan Operasional

Untuk menghindari adanya kemungkinan penafsiran yang berbeda

terhadap beberapa istilah yang akan digunakan dalam penelitian ini maka perlu

didefinisikan istilah–istilah sebagai berikut :

1. Media Pembelajaran

Media pembelajaran adalah seluruh alat dan bahan yang dapat dipakai

untuk tujuan pendidikan seperti radio, televisi, buku, koran, majalah dan

sebagainya. Alat-alat elektronik seperti radio, televisi, komputer dll, jika

digunakan dan diprogramkan untuk pendidikan maka merupakan media

pembelajaran (Rossi dan Briedle (1996), dalam Sanjaya, 2011). Media

pembelajaran yang dimaksudkan disini adalah sarana yang akan digunakan

dalam proses pembelajaran guna meningkatkan motivasi dan hasil belajar

peserta didik. Media pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini

(25)

yang digunakan dalam penelitian ini adalah kartu pengingat atau kartu flash

(flashcard).

2. Flashcard

Flashcard adalah media pembelajaran dalam bentuk kartu bergambar

yang berukuran 25 cm x 30 cm atau dapat disesuaikan dengan jumlah peserta

didik atau ukuran kelas. Gambar-gambarnya dibuat menggunakan tangan

atau foto, atau memanfaatkan gambar atau foto yang sudah ada yang

ditempelkan pada lembaran-lembaran flashcard. Flashcard yang

dimaksudkan dalam penelitian adalah media pembelajaran yang terbuat dari

kardus bekas yang dibuat dengan ukuran yang dapat disesuaikan dengan

besar kecilnya ukuran kelas dan banyaknya peserta didik di dalam kelas

tersebut. Kartu ini memiliki kelebihan antara lain menyenangkan, menarik,

sangat ampuh untuk mengkaji ulang pembelajaran, mudah dibuat, dan mudah

dibawa (Nurseto, 2011).

3. Model Pembelajaran Kooperatif

Menurut Slavin (2005) pembelajaran kooperatif adalah proses

pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok untuk memahami konsep

yang difasilitasi oleh guru. Dalam pembelajaran kooperatif, dua atau lebih

individu saling bergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama.

Model pembelajaran kooperatif yang dimaksud adalah model pembelajaran

diskusi kelompok atau investigasi didalam kelompok kecil yang telah dibagi

(26)

gender, etnis, suku, dsb. Keheterogenan ini diharapkan agar peserta didik

yang satu dengan peserta didik yang lain saling mengenal dan saling

menghargai. Model pembelajaran kooperatif dalam penelitian ini adalah

model pembelajaran yang menekankan pada penguasaan dan pemahaman

materi secara keseluruhan. Penguasaan dan pemahaman materi pembelajaran

diharapkan dapat meningkat hasil belajar peserta didik. Model pembelajaran

kooperatif yang digunakan oleh peneliti adalah metode Group Investigation

(GI).

4. Model Pembelajaran Kooperatif tipe Group Investigation (GI)

Investigasi Kelompok (Group Investigation) adalah strategi belajar

kooperatif yang menempatkan peserta didik ke dalam kelompok secara

heterogen dilihat dari kemampuan dan latar belakang, baik dari segi jenis

kelamin, suku, dan agama, untuk melakukan investigasi terhadap suatu topik

(Hobri dan Susanto, 2006). Salah satu model pembelajaran kooperatif yang

akan digunakan dalam penelitian ini adalah Investigasi Kelompok (Group

Investigation) yang merupakan model pembelajaran yang menekankan pada

investigasi suatu topik pembelajaran. Pada penelitian ini, peneliti akan

menginovasikan model pembelajaran ini dengan memadukannya dengan

media pembelajaran flashcard. Biasanya, dalam Investigasi Kelompok

(Group Investigation) ini, topik atau masalah yang biasa diinvestigasi. Tetapi

dalam penelitian ini, peneliti akan menyuuguhkan flashcard sebagai media

(27)

dilakukan sama dengan model pembelajaran Investigasi Kelompok (Group

Investigation), namun hanya saja media pembelajaran flashcard akan

ditambahkan pada kegiatan inti pada saat investigasi kelompok berlangsung.

5. Motivasi Belajar

Motivasi berasal dari kata motif, di artikan sebagai daya upaya yang

mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Berawal dari kata motif itu,

motivasi diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif.

(Sardiman, 2011). Motivasi yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah

motivasi baik dari dalam diri (intrinsik) maupun dari luar (ekstrinsik).

Motivasi yang dilakukan oleh peneliti merupakan motivasi ekstrinsik dan

diharapkan dapat membangkitkan motivasi intrinsik. Instrument

pembelajaran yang peneliti akan digunakan dalam penelitian ini adalah

angket motivasi peserta didik yang peneliti telah sesuaikan dengan kondisi

peserta didik. Peningkatan motivasi belajar peserta didik akan disajikan

dalam bentuk presentase peningkatan motivasi belajar peserta didik.

6. Prestasi Belajar

Prestasi belajar adalah sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata, yakni

prestasi dan belajar. Prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah di

kerjakan, dan di ciptakan, baik secara individual maupun kelompok.

Sedangkan belajar adalah suatu aktifitas yang di lakukan secara sadar untuk

mendapatkan sejumlah kesan atau tujuan dari bahan yang telah di pelajari

(28)

akademik yang diukur diakhir pembelajaran. Prestasi belajar dapat menjadi

tolak ukur keberhasilan suatu proses pembelajaran. Hasil belajar kognitif

peserta didik diukur menggunakan tes prestasi belajar yang sebelumnya telah

dibuat dan diuji oleh peneliti.

F. Ruang Lingkup Penelitian

Pembatasan lingkup penelitian bertujuan untuk membatasi unsur yang

digunakan guna memperlancar proses pelaksanan penelitian.

1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di MTs.N Kelebuh, Jalan Raya Batunyala,

Sanggeng, Kecamatan Praya Tengah.

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada semester II Kelas VII MTs.N Kelebuh tahun

ajaran 2013/ 2014.

3. Subyek Penelitian

Subyek penelitian adalah orang yang akan diteliti dalam suatu penelitian

(Sugiyono, 2013). Subyek pada penelitian ini adalah peserta didik kelas VII

MTs.N Kelebuh tahun ajaran 2013/2014.

4. Obyek penelitian

Obyek penelitian merupakan hal-hal yang menjadi pusat perhatian dalam

suatu penelitian, sering juga disebut sasaran penelitian (Sugiyono, 2013).

(29)

Flashcard yang dipadukan dengan model pembelajaran kooperatif tipe

Group Investigation (GI) terhadap motivasi dan Prestasi belajar Biologi kelas

(30)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA A. Deskripsi Teoritis

1. Hakekat Belajar dan Pembelajaran

a. Belajar

Berdasarkan perspektif psikologis, belajar merupakan suatu

proses perubahan, yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari

interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan

hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh

aspek tingkah laku. Pengertian belajar dapat didefinisikan sebagai

suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh

suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai

hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya

(Slameto, 2010).

Belajar bukan hanya sekedar menghafal atau mengembangkan

kemampuan intelektual, akan tetapi mengembangkan setiap aspek,

baik kemampuan kognitif, sikap, emosi, kebiasaan, dan lain

sebagainya. Konsep ini memandang manusia sebagai satu kesatuan,

bukan bagian-bagian yang terpisahkan. Ketika perkembangan

intelektual terjadi, maka aspek-aspek psikologis lainnya seharusnya

(31)

(2009), dalam belajar ditemukan hal-hal berikut kesempatan terjadinya

peristiwa yang menimbulkan respon belajar, respon si pelajar,dan kon-

sekuensi yang bersifat menggunakan respon tersebut, baik

konsekuensinya sebagai hadiah maupun teguran atau hukuman.

Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa belajar

adalah kegiatan atau suatu aktivitas seseorang untuk memperoleh

suatu perubahan sikap dan tingkah laku serta penambahan

pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungannya. Perubahan sikap

dan tingkah laku yang dimaksud seperti sikap tidak tahu menjadi tahu

dan perkembangan sifat emosionalnya.

b. Pembelajaran

Pembelajaran adalah suatu proses yang dinamis, berkembang

secara terus menerus sesuai dengan pengalaman peserta didik.

Semakin banyak pengalaman yang dilakukan peserta didik, maka akan

semakin kaya, luas, dan sempurna pengetahuan mereka. Pembelajaran

juga bukanlah sekedar penguasaan materi pelajaran, akan tetapi proses

untuk mengubah tingkah laku peserta didik sesuai dengan tujuan yang

akan dicapai (Sanjaya, 2008).

Proses pembelajaran atau pengajaran kelas (Classroom

Teaching) menurut Dunkin dan Briddle dalam Sagala (2009) berada

dalam empat variabel interaksi yaitu variabel pertanda (presage

(32)

berupa peserta didik, sekolah, dan masyarakat, variabel proses

(process variables) berupa interaksi peserta didik dengan pendidik,

dan variabel produk (product variables) berupa perkembangan peserta

didik dalam jangka pendek atau dalam jangka panjang.

2. Media Pembelajaran

a. Pengertian Media Pembelajaran

Kata media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk

jamak dari medium, secara harfiah berarti perantara atau pengantar.

Association for Education and Communication Technology (AECT),

mengartikan kata media sebagai segala bentuk dan saluran yang

dipergunakan untuk proses informasi. National Education Association

(NEA) mendefinisikan media sebagai segala benda yang dapat

dimanipulasikan, dilihat, didengar, dibaca atau dibicarakan beserta

instrumen yang dipergunakan untuk kegiatan tersebut. Sedangkan

Heinich, dkk mengartikan istilah media sebagai “the term refer to

anything that carries information between a source and a receiver”.

(Nurseto, 2011).

Rossie dan Briedle (dalam Wina Sanjaya, 2012) membedakan

media dan media pembelajaran. Media adalah perantara dari sumber

informasi, contohnya video, komputer, televisi, koran, majalah, dll.

Alat-alat tersebut merupakan media manakala digunakan untuk

(33)

pembelajaran adalah seluruh alat dan bahan yang dapat dipakai untuk

tujuan pendidikan seperti radio, televisi, koran, majalah, dll. Bagi Rossi

dan Briedle media sama dengan alat-alat fisik yang mengandung

informasi dan pesan pendidikan guna mencapai tujuan pembelajaran

yang efektif dan efisien.

Media adalah sumber atau alat belajar, maka secara luas dapat

diartikan dengan manusia, benda ataupun peristiwa yang

memungkinkan anak didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan

sikap (Djamarah, 1991).

Berdasarkan beberapa uraian diatas dapat disimpulkan bahwa

media pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan oleh

pendidik sebagai alat, bahan, dan sumber pembelajaran dalam kegiatan

belajar mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan yang efektif dan

efisien.

b. Jenis-jenis Media Pembelajaran

Banyak media yang dapat digunakan untuk menunjang kegiatan

interaksi belajar mengajar. Untuk itu media dalam pendidikan dapat

digolongkan dalam tujuh kategori, yaitu sebagai berikut:

1) Relathing dalah manusia (pengajar), benda yang sesungguhnya

(bukan gambar ataupun model), dan peristiwa yang sebenarnya

(34)

2) Verbal Presentation adalah media tulis/cetak, misalnya buku teks,

referensi, dan bahan bacaan lainnya.

3) Grafik Presentation adalah misalnya chart, diagram, gambar atau

lukisan.

4) Stiil picture seperti foto, slide, film strip, overhead, projector,

transparence.

5) Audio (recording) seperti kaset, reel tape, piringan hitam, sound

track pada film ataupun pita pada tape.

6) Program adalah kumpulan informasi yang beurutan. Program dapat

berupa verbal (buku teks), visual maupun video.

7) Simulation adalah media yang dikenal dengan istilah simulation and

game, yaitu suatu permainan yang menirukan kejadian yang

sebenarnya (Djamarah,1991).

c. Manfaat Media Pembelajaran

Beberapa manfaat media pembelajaran secara umum menurut

Wina Sanjaya (2012) adalah sebagai berikut:

1) Menangkap suatu objek atau peristiwa-peristiwa tertentu

2) Memanipulasi keadaan, peristiwa atau suatu objek

3) Menambah gairah dan motivasi belajar peserta didik

Penggunaaan media tidak lain untuk mengurangi verbalisme

agar anak didik mudah memahami bahan pelajaran yang akan disajikan.

(35)

tujuan pembelajaran. Bila penggunaan media pembelajaran tidak tepat

maka akan mengakibatkan pada pencapaian tujuan pembelajaran yang

kurang efektif dan efisien.

3. Flashcard

a. Pengertian Flashcard

Flashcard adalah media pembelajaran dalam bentuk kartu

bergambar yang berukuran 25 cm x 30 cm. Gambar-gambarnya dibuat

menggunakan tangan atau foto, atau memanfaatkan gambar atau foto

yang sudah ada yang ditempelkan pada lembaran-lembaran flashcard.

Gambar-gambar pada flashcard merupakan rangkaian pesan yang

disajikan dengan keterangan setiap gambar yang dicantumkan pada

bagian belakangnya. Flashcard hanya cocok untuk kelompok kecil

peserta didik tidak lebih dari 30 orang peserta didik. Kelebihan flashcard

antara lain mudah dibawa, praktis, gampang diingat, menyenangkan

(Nurseto, 2011).

Menurut Muti’ah (2012), flashcard atau kartu kilas adalah suatu

kartu bolak balik yang sangat ampuh digunakan untuk mengingat dan kaji

ulang dalam proses belajar, atau definisi lain menyebutkan bahwa

flashcard adalah kartu kecil yang berisi gambar, teks, atau tanda simbol

(36)

berhubungan dengan gambar tersebut. Flashcard biasanya berukuran 17

cm x 12 cm atau dapat disesuaikan dengan besar kecilnya kelas yang

dihadapi. Kartu–kartu tersebut menjadi petunjuk atau rangsangan bagi

peserta didik untuk memberikan respon yang diinginkan

Berdasarkan beberapa uraian tentang Flashcard diatas, dapat

diambil kesimpulan bahwa flashcard adalah sebuah media pembelajaran

yang berbentuk seperti kartu kilas yang ukuran dapat disesuaikan dengan

ukuran kelas, media pembelajaran yang sangat menarik dan

menyenangkan dan sangat ampuh digunakan sebagai kartu pengingat.

b. Cara Pembuatan flashcard

1) Menyiapkan kertas yang agak tebal seperti kertas duplek atau

dari bahan kardus. Kertas ini berfungsi untuk menyimpan atau

menempelkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan

pembelajaran.

2) Kertas tersebut diberi tanda dengan spidol menggunakan

penggaris, untuk menentukan ukuran 25 cm x 30 cm atau dapat

disesuaikan dengan ukuran kelas dan banyaknya peserta didik.

3) Potong-potonglah kertas duplek/kardus tersebut dengan gunting

atau cuter hingga tepat berukuran 25 cm x 30 cm atau yang

disesuaikan. Buatlah kartu-kartu tersebut sejumlah gambar yang

(37)

4) Membuat desain gambar menggunakan komputer dengan ukuran

yang sesuai lalu setelah selesai ditempelkan pada alas yang

berupa kardus bekas yang dipotong sesuai ukuran gambar

5) Jika gambar yang akan ditempel memanfaatkan gambar yang

sudah ada, misalnya gambar-gambar yang dijual di toko,

majalah, koran, maka selanjutnya gambar-gambar tersebut

tinggal dipotong sesuai dengan ukuran kertas alas, lalu

ditempelkan menggunakan perekat atau lem kertas.

6) Pada bagian akhir adalah memberi tulisan pada bagian belakang

kartu-kartu tersebut sesuai dengan nama objek pada halaman

muka. Nama-nama ini biasa dengan menggunakan beberapa

bahasa misalnya Indonesia dan Inggris (Nurseto, 2012).

Adapun beberapa contoh gambar yang akan digunakan pada flashcard

yang akan disajikan oleh peneliti pada proses pembelajaran:

Gambar 2.1 Beberapa contoh gambar yang akan digunakan oleh peneliti sebagai gambar di flashcard

(38)

1) Tebak Pasang

Peserta didik dikelompokkan berpasang-pasangan,

kemudian pasangan ini dipisahkan menjadi 2 kubu, kubu yang

satu adalah para pembawa flashcard soal ukuran A4 dan kubu

yang satunya lagi adalah para pembawa flashcard jawaban

ukuran A4 juga. Jika seorang anak di kubu soal membacakan

soalnya maka pasangannya yang ada di kubu jawaban harus

menjawab dengan benar jika salah akan dihukum, jika benar

harus menjelaskan alasannya.

2) Permainan Kartu

Peserta didik dikelompokkan menjadi 5 kelompok dan

duduk bersama membentuk sebuah lingkaran, masing-masing

anak membawa 5 soal dan 5 jawaban dalam flashcard bolak

balik ukuran 7 cm × 12 cm. Salah satu anak menjatuhkan soal

miliknya sedang salah satu anak yang lainnya menjawab soal

tersebut. Bila jawabannya benar maka dia menjatuhkan soal

miliknya dan dijawab teman yang lainnya, begitu seterusnya.

Siapa yang soal miliknya habis lebih dulu maka dia

pemenangnya.

3) Ciluk Ba

Pendidik menyuguhkan flashcard dalam ukuran setengah

(39)

teman-temannya dalam kelompok diskusi (seperti permainan

Ciluk Ba). Setelah permainan selesai, kelompok yang berhasil

menjawab lebih cepat dan benar salah satu anggotanya yang

mewakili dipersilahkan menjelaskan di depan kelas kepada

semua teman-temannya. Pada saat permainan, pendidik

melakukan bimbingan individual kepada peserta didik (Sutanto

Windura dalam Muti’ah, 2012).

4. Model Pembelajaran kooperatif

Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan

sejumlah peserta didik sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat

kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya,

setiap peserta didik anggota kelompok harus salaing bekerja sama dan

saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Pembelajaran

kooperatif belum selesai jika salah satu dari teman dalam kelompok belum

menguasai bahan pelajaran (Jauhar, 2011).

Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dalam

kelompok kecil yang memiliki tingkatan kemampuan yang berbeda.

Strategi belajar khususnya diraancang untuk memberi dorongan kepada

peserta didik agar bekerjasama selama proses pembelajaran. Menurut

Slavin (2005) pembelajaran kooperatif adalah proses pembelajaran yang

(40)

oleh guru. Dalam pembelajaran kooperatif, dua atau lebih individu saling

bergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama.

Belajar kooperatif adalah kegiatan yang berlangsung dalam

lingkungan belajar berbentuk kelompok kecil, sehingga peserta didik

dapat saling berbagi ide dan bekerja secara kolaboratif untuk

menyelesaikan tugas akademik. Di dalam belajar kooperatif tidak hanya

dituntut keberhasilan individu namun juga keberhasilan kelompok. Dari

pemikiran itulah dalam belajar kooperatif, peserta didik belajar dalam

kelompok kecil yang bersifat heterogen dari segi gender, etnis, dan

kemampuan akademik untuk saling membantu satu sama lain dalam

mencapai tujuan bersama (Hobri dan Susanto, 2006).

Berdasarkan beberapa uraian diatas, dapat disimpulakn bahwa

model pembelajaran kooperatif adalah sebuah model pembelajaran yang

dilakukan dengan cara membentuk kelompok kecil yang memiliki anggota

yang heterogen dengan berpacu pada pemahaman dan penguasaan materi

pelajaran dengan saling membantu antara peserta didik yang satu dengan

yang lainnya.

5. Model Pembelajaran kooperatif Tipe group investigation (GI) a. Pengertian Group Investigation (GI)

Investigasi Kelompok (Group Investigation) adalah strategi belajar

kooperatif yang menempatkan peserta didik ke dalam kelompok secara

(41)

kelamin, suku, dan agama, untuk melakukan investigasi terhadap suatu

topik (Hobri dan Susanto, 2006).

GI tidak akan dapat diimplementasikan dalam lingkungan

pendidikan yang tidak mendukung dialog interpersonal atau yang tidak

memperhatikan dimensi rasa sosial dari pembelajaran didalam kelas.

Komunikasi kooperatif diantara sesama teman kelas akan mencapai hasil

terbaik apabila dilakukan dalam kelompok kecil, dimana pertukaran

diantara teman sekelas dan sikap-sikap kooperatif bisa terus bertahan

(Slavin, 2005).

Menurut Aunurrhaman (2010) model pembelajaran GI merupakan

model pembelajaran yang menjadi wahana untuk mendorong dan

membimbing keterlibatan peserta didik didalam proses pembelajaran.

Keterlibatan ini dalam bentuk bertukar pikiran melalui komunikasi yang

terbuka dan bebas serta kebersamaan dari kegiatan merencanakan sampai

pada pelaksanaan pemilihan topik-topik investigasi.

Berdasarkan beberapa uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa

model pembelajaran kooperatif tipe group investigation (GI) merupakan

model pembelajaran yang menekankan pada kerjasama antara peserta

didik secara bebas dan terbuka dalam hal pemahaman materi pelajaran,

peserta didik juga dituntut untuk memilih sendiri topik/materi pelajaran

(42)

b. Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif Tipe Group Investigation (GI) yang dipadukan dengan media pembelajaran Flashcard

Langkah-langkah pembelajaran dalam mengimplementasikan

model pembelajaran kooperatif tipe group investigation (GI) yang

dipadukan dengan media pembelajaran flashcard di dalam lingkungan

kelas yang baik dan efisien adalah sebagai berikut:

Tabel 2.1 Perpaduan Langkah-langkah Pembelajaran Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation (GI) dengan Media Pembelajaran

Flashcard.

Langkah-langkah model pembelajaran GI

Langkah-langkah pembelajaran media pembelajaran flashcard

Perpaduan langkah-langkah model pembelajaran GI dan

media pembelajaran

flashcard

Tahap 1:

mengidentifikasi topik dan mengatur peserta didik ke dalam kelompok Tahap 2 :

merencananakan tugas yang akan dipelajari Tahap 3: melaksanakan investigasi

Tahap 4 : Menyiapkan laporan akhir

Tahap 5 :

Mempresentasikan laporan akhir Tahap 5 :

Mempresentasikan

1. Pendidik menyuguhkan

flashcard dalam ukuran setengah kertas A4

2. Flashcard diberikan untuk dijawab soal-soalnya dengan cepat bersama teman-temannya dalam kelompok diskusi 3. Setelah semua telah

terjawab, kelompok yang berhasil

menjawab lebih cepat dan benar salah satu anggotanya yang

1. Mengidentifikasi topik oleh guru dan peserta didik, dimana masing-masing topik memiliki

flashcardnya masing-masing

2. Pembagian kelompok yang bernggotakan 5-6 orang perkelompoknya 3. Perencanaan investigasi

di dalam kelompok 4. Menginvestigasi

flashcard yang sudah disediakan berdasarkan topik yang dipilih oleh masing-masing

(43)

laporan akhir Tahap 6 : evaluasi pencapaian

(Slavin, 2005)

mewakili dipersilahkan

menjelaskan di depan kelas kepada semua teman-temannya. 4. Setelah kelompok

pertama selesai, dilanjutkan oleh kelompok berikutnya 5. Apabila semua

kelompok sudah selesai mepresentasikan laporan masing-masing kelompoknya, pendidik mengevaluasi setiap kelompok (Sutanto Windura dalam Mutiah, 2012).

5. Kelompok yang sudah selesai dipersilahkan untuk mempresentasikan hasil investigasi mereka oleh perwakilan. Waktu yang digunakan untuk menginvestigasi

ditentukan seminimal dan seefisien mungkin.

6. Apabila kelompok pertama telah selesai, maka akan dilanjutkan

dengan kelompok

berikutnya.

7. Setelah semua kelompok selesai mempresentasikan hasil investigasi mereka, maka guru mengevaluasi dan menambahkan materi yang dianggap masih kurang dari materi yang dipresentasikan oleh masing-masing kelompok

6. Motivasi Belajar

a. Pengertian Motivasi Belajar

Motivasi berasal dari kata motif, yang diartikan sebagai daya upaya

yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat

dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam diri dan didalam subjek

untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan.

Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern

(kesiapsiagaan). Berawal dari kata motif itu, maka motivasi dapat

(44)

aktif pada saat-saat tertentu, terutama bila kebutuhan untuk mencapai

tujuan yang sangat dirasakan atau mendesak (Sardiman, 2011).

Menurut Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri

seseorang yang ditandai dengan munculnya feeling dan didahului dengan

tanggapan tehadap adanya tujuan. Perubahan energi dalam diri seseorang

itu berbentuk suatu aktivitas nyata berupa kegiatana fisik. Karena

seseorang mempunyai tujuan tertentu dari aktivitasnya, maka seseorang

mempunyai motivasi yang kuat untuk mencapainya dengan segala upaya

yang dapat dia lakukan untuk mencapainya.

Motivasi sangat diperlukan dalam proses pembelajaran, sebab

seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan

mungkin melakukan aktivitas belajar. Hal ini merupakan suatu pertanda,

bahwa sesuatu yang akan dikerjakan itu tidak menyentuh kebutuhannya.

Segala sesuatu yang menarik minat orang lain belum tentu menarik minat

orang tertentu selama orang tertentu tidak bergayut dengan kebutuhannya.

Oleh karena itu, apa yang seseorang lihat sudah tentu akan

membangkitkan minatnya sejauh apa yang ia lihat itu mempunyai

hubungan dengan kepentingan sendiri (Djamarah, 1991).

Selanjutnya Eysenck dan kawan-kawan (dalam Slameto, 2010)

merumuskan motivasi sebagai suatu proses yang menentukan tingkatan

kagiatan, intensitas, konsistensi, serta arah umum dari tingkah laku

(45)

dan sebagainya. Peserta didik yang tampaknya tidak bermotivasi,

mungkin pada kenyataannya cukup bermotivasi tapi tidak dalam hal-hal

yang diharapkan pengajar. Mungkin peserta didik cukup bermotivasi

untuk berprestasi disekolah, akan tetapi pada saat yang sama ada

kekuatan-kekuatan lain, seperti teman-teman, yang mendorongnya untuk

tidak berprestasi di sekolah.

Berdasarkan beberapa definisi diatas, maka dapat disimpulakan

bahwa motivasi adalah suatu daya penggerak yang timbul dengan adanya

feeling yang mengakibatkan seseorang melakukan sesuatu yang ia

butuhkan dan dalam keadaan yang mendesak untuk mencapai suatu

tujuan tertentu.

b. Macam-macam motivasi

Macam-macam motivasi berdasarkan sumbernya dibagi menjadi 2,

yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik.

1) Motivasi intrinsik

Motivasi intrinsik maksudnya adalah motif-motif yang menjadi aktif

atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam setiap

individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.

Bila seseorang telah memiliki motivasi intrinsik dalam dirinya,

maka ia secara sadar akan melakukan suatu kegiatan yang tidak

(46)

intrinsik sangat diperlukan, terutama belajar sendiri. Seseorang yang

tidak memiliki motivasi intrinsik sulit sekali melakukan aktivitas belajar

terus menerus. Seseorang yang memiliki motivasi intrinsik selalu ingin

maju dalam belajar. Keinginan ini dilatarbelakangi oleh pemikiran yang

positif, bahwa semua mata pelajaran yang dipelajari sekarang akan

dibutuhkan dan sangat berguna kini dan masa datang. Seseorang yang

mempunyai minat yang tinggi untuk mempelajari suatu mata pelajaran,

maka ia akan mempelajarinya dalam jangka waktu tertentu. Seseorang itu

boleh di katakan memiliki motivasi untuk belajar. Motivasi itu muncul

karena ia membutuhkan sesuatu dari apa yang di pelajarinya. Motivasi

memang berhubungan dengan kebutuhan seseorang yang memunculkan

kesadaran untuk melakukan aktivitas belajar. Oleh karena itu, minat

adalah kesadaran seseorang, bahwa sesuatu objek, seseorang, suatu soal

atau suatu situasi ada sangkut pautnya dengan dirinya.

Perlu ditegaskan bahwa peserta didik yang memiliki motivasi

intrinsik cenderung akan menjadi orang yang terdidik, yang

berpengetahuan, yang mempunyai keahlian dalam bidang tertentu. Untuk

mendapatkan semua itu tidak ada cara lain yang lebih tepat kecuali

belajar. Belajar adalah suatu cara untuk mendapatkan pengetahuan.

Belajar bisa di konotasikan dengan membaca. Dengan begitu, membaca

adalah gerbang ilmu menuju lautan ilmu pengetahuan. Kreativitas

(47)

Tidak ada seorang pun yang berilmu tanpa melakukan aktivitas

membaca. Evolusi pemikiran manusia yang semakin maju dalam

rentangan masa tertentu karena membaca, yang hal itu tidak terlepas dari

masalah motivasi sebagai pendorongnya, yang berhubungan dengan

kebutuhan untuk maju.

Dorongan untuk belajar bersumber pada kebutuhan, yang berisikan

keharusan untuk menjadi orang yang terdidik dan berpengetahuan. Jadi,

motivasi intrinsik muncul berdasarkan kesadaran dengan tujuan esensial,

bukan sekedar atribut dan selemonia.

2) Motivasi ekstrinsik

Motivasi ekstrinsik adalah kebalikan dari motivasi intrinsik.

Motivasi ekstinsik adalah motif – motif yang aktif yang berfungsinya

karena adanya perangsang dari luar.

Motivasi ekstrinsik bukan berarti motivasi yang tidak di perlukan

dan tidak baik dalam pendidikan. Motivasi ekstrinsik di perlukan agar

peserta didik mau belajar. Berbagai macam cara bisa di lakukan agar

peserta didik termotivasi untuk belajar. Guru harus bisa membangkitkan

minat peserta didik dengan memanfaatkan motivasi ekstrinsik dalam

berbagai bentuknya. Kesalahan penggunaan bentuk-bentuk motivasi

ekstrinsik akan merugikan peserta didik. Akibatnya, motivasi ekstrinsik

(48)

malas belajar. Padahal telah di ketahui, bahwa motivasi memberi

semangat kepada seorang peserta didik dalam aktifitas belajarnya.

Untuk itu seorang guru harus bisa memepergunakan motivasi

ekstrinsik ini dengan tepat dan benar dalam rangka menunjang proses

interaksi belajar mengajar (Djamarah, 1991).

c. Fungsi Motivasi

1) Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau

motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan

motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan di kerjakan

2) Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak di

capai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan

kegiatan yang harus di kerjakan sesuai dengan rumusan

tujuannya.

3) Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan–perbuatan

apa yang harus di kerjakan yang serasi guna mencapai tujuan,

dengan menyisihkan perbuatan–perbuatan yang tidak bermanfaat

bagi tujuan tersebut (Sardiman, 2011)

7. Prestasi Belajar

a. Pengertian Prestasi Belajar

Prestasi belajar adalah sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata,

yakni prestasi dan belajar. Prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang

(49)

Prestasi tidak akan pernah dihasilkan selama seseorang tidak melakukan

kegiatan. Sedangkan belajar adalah suatu aktivitas yang dilakukan secara

sadar untuk mendapatkan sejumlah kesan dari bahan yang telah dipelajari.

Belajar adalah suatu aktivitas yang sadar akan tujuan. Tujuan dalam

belajar adalah terjadinya suatu perubahan dalam diri individu, perubahan

dalam arti menuju ke perkembangan pribadi individu seutuhnya.

Jadi prestasi belajar secara utuh dapat diartikan sebagai hasil

yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan

dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar. Prestasi

belajar dalam dunia pendidikan diartikan sebagai penilaian pendidikan

tentang kemajuan peserta didik dalam segala hal yang dipelajari di

sekolah yang menyangkut pengetahuan atau kecakapan atau keterampilan

yang dinyatakan sesudah hasil penilaian, (Djamarah, 1991).

Prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan

yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari

aktivitas dalam belajar. Presatsi belajar juga diartikan sebagai hasil yang

dicapai oleh individu setelah individu yang bersangkutan mengalami

suatu proses belajar atau diajarkan pengetahuan tertentu. Prestasi belajar

pada dasarnya bukan saja nilai yang diberikan kepada peserta didik, tetapi

juga peningkatan keterampilan, pengetahuan, sikap dan berbagai variabel

(50)

Berdasarkan pendapat-pendapat para ahli diatas tentang prestasi

belajar, maka dapat dilihat bahwa penekanan dari setiap

pendapat-pendapat tersebut adalah terletak pada kata perubahan dan hasil.

Perubahan yang dimaksudkan adalah perubahan keadaan, baik sikap,

prilaku dan sebagainya yang menuju kearah yang lebih baik. Sedangkan

hasil dapat dimaknai sebagai sesuatu yang didapatkan dari sebuah

pengalaman atau kesan-kesan tertentu setelah melakukan suatu kegiatan,

akan tetapi untuk mendapatkan prestasi belajar yang baik, maka berikut

terdapat beberapa faktor yang perlu diperhatikan.

b. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar

Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur

yang sangat fundamental dalam setiap peyelenggaraan jenis dan jenjang

pendidikan.Ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan

pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang di

alaminya.Belajar adalah key trem (istilah kunci) yang paling vital dalam

setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak pernah

ada pendidikan.Sebagian orang beranggapan bahwa belajar adalah

semata-mata mengupulkan atau menghafalkan fakta-fakta yang tersaji

dalam bentuk informasi atau materi pelajaran. Orang yang beranggapan

seperti begitu demikian biasanya akan segera merasa bangga ketika

(51)

besar informasi yang terdapat dalam buku teks atau yang di ajarkan oleh

gurunya.

Skinner dalam Barlow (1985) berpendapat bahwa belajar adalah

suatu proses adaptasi atau peyesuaian tingkah laku yang berlangsung

secara progresif. Skinner,seperti juga Pavlov dan Guthier, adalah seorang

pakar teori belajar berdasarkan proses conditioning yang pada prinsipnya

memperkuat dugaan bahwa timbulnya tingkah laku itu lantarannya ada

hubungan antara stimulan (rangsangan) dengan respon.

Prestasi belajar di sekolah sangat dipengaruhi oleh kemampuan

umum kita yang diukur oleh IQ, IQ yang tinggi meramalkan sukses

terhadap prestasi belajar. Namun IQ yang tinggi ternyata tidak menjamin

sukses di masyarakat. Semua itu merupakan faktor yang yang

mendukung untuk menetukan cara belajar seseorang, berikut ini akan di

paparkan mengenai pengtahuan faktor-faktor yang mempengaruhi

prestasi belajar anak yaitu :

1) Pengaruh pendidikan dan pembelajaran

Seorang secara genetis telah lahir dengan suatu organisme yang

disebut inteligensi yang bersumber dari otaknya. Struktur otak telah

ditentukan secara genetis, namun berfungsinya otak tersebut menjadi

kemampuan umum yang disebut inteligensi, sangat dipengaruhi oleh

interaksi dengan lingkungannya. Pada kala bayi lahir ia telah dimodali

(52)

informasi. Cara pengelolaan inteligensi sangat mempengaruhi kualitas

manusianya. tetapi sayang perlakuan lingkungan dalam caranya tidak

selalu menguntungkan perkembangan inteligensi yang berpangaruh

terhadap kepribadian dan kualitas kehidupan manusia. Ternyata dari

berbagai penelitian bahwa pada umumnya hanya kurang lebih 5% neuron

otak berfungsi penuh.

Interface antar berbagai stimulus lingkungan melalui interaksi

untuk mewujudkan aktualisasi diri individu secara optimal dalam

masyarakat di mana ia hidup dan juga aktualisasi daerah pada masyarakat

yang lebih luas, nasional maupun global, inilah yang harus menjadi

perhatian pengelola ataupun atasan atas perlakuan subjek SDM, dalam

hal kita para guru dalam perlakuannya terhadap peserta didik.

2) Perkembangan dan Pengukuran Otak

Untuk meningkatkan kecerdasan anak maka produksi sel

neuroglial, yaitu sel khusus yang mengelilingi sel neuron yang merupakan

unit dasar otak, dapat ditingkatkan melalui berbagai stimulus yang

menambah aktivitas antara sel neuron (synaptic activity), dan

memungkinkan akselerasi proses berfikir. Dengan demikian inteligensi

manusia dapat ditingkatkan, meskipun dalam batas-batas tipe

inteligensinya.

Otak dewasa manusia tidak lebih dari 1,5 kg, namun otak

(53)

seluruh dirinya (selfhood), kebudayaan, kejiwaan serta bahasa dan

ingatannya. ”Celebral Cortex" otak dibagi dalam dua belahan otak yang

disambung oleh segumpal serabut yang disebut "Corpus Callosum".

Belahan otak kanan menguasai belahan kiri badan, sedangkan belahan

otak kiri menguasai belahan kanan badan. Respon, tugas dan fungsi

belahan kiri dan kanan berbeda dalam menghayati berbagai pengalaman

belajar, sebagaimana seorang mengalami realitas secara berbeda-beda dan

unik. Belahan otak kiri terutama berfungsi untuk merespons terhadap hal

yang sifatnya linier, logis, teratur, sedangkan kanan untuk

mengembangkan kreativitasnya, mengamati keseluruhan secara holistik

dan mengembangkan imaginasinya. Dengan demikian ada dua

kemungkinan cara berpikir, yaitu cara berpikir logis, linier yang menuntut

satu jawaban yang benar multidimensional memungkinkan lebih dari satu

jawaban.

3) Kecerdasan (Inteligensi) Emosional

Prestasi belajar di sekolah sangat dipengaruhi oleh kemampuan

umum kita yang diukur oleh IQ, IQ yang tinggi meramalkan suskse

terhadap prestasi belajar. Emosi selain mengandung perasaan yang

dihayati seseorang, juga mengandung kemampuan mengetahui

(menyadari) tentang perasaan yang dihayati dan kemampuan bertindak

terhadap perasaan itu. Bahkan pada hakekatnya emosi itu adalah impuls

(54)

Prestasi dalam belajar merupakan dambaan bagi setiap orangtua

terhadap anaknya. Prestasi yang baik tentu akan didapat dengan proses

yang baik juga. Belajar merupakan proses dari sesuatu yang belum bisa

menjadi bisa, dari perilaku lama ke perilaku baru, dari pemahaman lama

ke pemahaman baru.

Dalam proses belajar, hal yang harus diutamakan adalah

bagaimana anak dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungan dan

rangsangan ada, sehingga terdapat reaksi yang muncul dari anak. Reaksi

yang dilakukan merupakan usaha untuk menciptakan kegiatan belajar

sekaligus menyelesaikannya. Sehingga nantinya akan mendapatkan hasil

yang mengakibatkan perubahan pada anak sebagai hal baru serta

menambah pengetahuan (Humaidi, dkk, 2010).

B. Hasil Penelitian yang Relevan

Beberapa hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah sebagai

berikut:

1. Hasil penelitian oleh Abdul Karis (2010) yang berjudul “Efektivitas

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC Dengan Media Kartu Soal

Terhadap Hasil Belajar Peserta Didik di Kelas VIII SMP Nusa Bangsa

Demak Tahun Pelajaran 2009/2010” dan hasil dari penelitiannya adalah

model pembelajaran kooperatif tipe CIRC dengan media kartu soal sangat

(55)

matematika pada materi pokok Sistem Persamaan Linier Dua Variabel

(SPLDV).

2. Hasil penelitian oleh Fitria Catur Wulandari (2011) yang berjudul

“Efektivitas Metode Index Card Match Pada Materi Pokok Bilangan

Pecahan Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Kelas VII di

MTs Negeri 1 Pamotan” dan hasil penelitiannya adalah hasil

pembelajaran matematika dengan menggunakan metode Index Card

Match lebih baik dan efektif digunakan dari pada pembelajaran

konvensional terhadap kemampuan pemecahan masalah pada materi

Bilangan pecahan di MTs Negeri 1 Pamotan Rembang Tahun Pelajaran

2010 / 2011.

3. Hasil Penelitian Oleh Khoirul Mutiah (2012) dengan Judul “Pengaruh

Penggunaan Math Flashcard Terhadap Hasil Belajar Peserta Didik Kelas

VIII Semester Genap di MTs Puteri Sunniyyah Selo Tahun Ajaran

2011/2012” dan hasil penelitiannya adalah hasil belajar matematika

peserta didik kelas VIII MTs Puteri Sunniyyah Selo tahun ajaran

2011-2012 dengan pembelajaran menggunakan Math flashcard lebih baik dari

pada hasil belajar peserta didik yang m

Gambar

Tabel 1.1 Nilai rata-rata kelas pada mata pelajaran IPA Terpadu kelas VII semester II MTs.N Kelebuh Tahun Ajaran 2012/2013
Gambar 2.1 Beberapa contoh gambar yang akan digunakan oleh peneliti sebagai gambar di  flashcard
Tabel 2.1 Perpaduan Langkah-langkah  Pembelajaran Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation (GI) dengan Media Pembelajaran
Tabel 3.1 Rancangan Penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

pada peneltian ini pemekatan terhadap nira berfungsi untuk meningkatkan konsentrasi gula pada nira sehingga substrat yang dapat dikonversi menjadi bioetanol akan semakin banyak

Berikut ini merupakan rancangan antarmuka untuk menu permainan. Pada perancangan ini level permainan disusun dalam bentuk tabel. Pada 1 halaman maksimal pilihan

Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2016 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Badan Kepegawaian Negara (Lembaran Negara

Majalah FHM Indonesia mendorong laki-laki untuk menjadi metroseksual yang lebih sadar tubuh (sadar akan fashion , perawatan tubuh, perawatan wajah, dan kesehatan) dan penampilan

 Subjek kelompok eksperimen ada yang serius mengerjakan dan ada yang tidak serius mengerjakan  Peneliti memotivasi subjek agar tetap semangat mengerjakan soal. 

Sementara pada saat reverse link laju kesalahan bit pada kanal AWGN lebih baik sekitar 6,4 kali daripada pada kanal Rayleigh fading untuk nilai Eb/No 3 dB, sedangkan energi

Media yang digunakan untuk primer adalah ilustrasi manual, akan terdapat karakter atau tokoh akan digabungkan dengan elemen-elemen desain seperti tipografi, warna,