• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN. Desain Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "METODE PENELITIAN. Desain Penelitian"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

METODE PENELITIAN

Desain Penelitian

Penelitian dilakukan menggunakan metode survai dengan tujuan mencari data dan fakta mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan efektifitas pemberdayaan masyarakat Model Desa Konservasi (MDK) di TNBBS. Penelitian ini menguraikan fakta-fakta d a n informasi yang diperoleh di lapangan, baik secara langsung maupun tidak langsung untuk mendapat gambaran secara faktual dan akurat mengenai fakta-fakta tersebut, hubungan antara fenomena yang diteliti, menguji hipotesis, membuat makna serta implikasi dari hasil yang diperoleh.

Data yang digunakan dalam penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan teknik observasi, kuesioner dan wawancara dengan unit analisis individu masyarakat peserta program pemberdayaan MDK di TNBBS. Observasi atau pengamatan, meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap obyek untuk keperluan pencarian data tentang masyarakat kawasan TNBBS. Instrumen berupa kuesioner berisi serangkaian pertanyaan yang dijabarkan dari variabel-variabel penelitian. Kuesioner atau daftar pertanyaan yang digunakan mengarah kepada tingkat partisipasi dan kemandirian masyarakat untuk mengembangkan perilaku (pengetahuan, sikap, tindakan) dalam bidang ekologi, ekonomi, dan sosial budaya. Wawancara dilakukan terhadap responden dan pihak-pihak terkait lainnya dengan tujuan untuk mendukung data yang diperoleh melalui kuesioner.

Dengan menggunakan ketiga teknik pengumpulan data ini, diharapkan dapat saling melengkapi sehingga data yang dikumpulkan merupakan data lengkap, akurat dan konsisten (Sugiyono 2011). Selain ketiga teknik tersebut, juga dilakukan dokumentasi untuk memperoleh data-data sekunder.

Lokasi dan Waktu Penelitian

Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) terletak di bagian selatan Pulau Sumatera (gambar 6) yang secara geografis terletak pada 4o31’ - 5o57’ LS dan 103o34’ - 104o43’ BT. Secara administratif, kawasan ini termasuk dalam Provinsi Lampung dan Provinsi Bengkulu), dimana lokasi penelitian termasuk dalam Provinsi Lampung. Penelitian dilakukan di Pekon Sukaraja dan Pekon Kubu Perahu sebagai desa lokasi pemberdayaan masyarakat MDK. Peta lokasi penelitian sebagaimana dalam Lampiran 3.

Waktu pelaksanaan penelitian mulai dari survei pendahuluan, penyusunan kerangka sampling, penyusunan kuesioner, uji coba kuesioner, pengumpulan data primer dan sekunder, pengolahan dan analisis data dilakukan selama 9 (sembilan) bulan mulai dari bulan Februari sampai dengan November 2012.

(2)

Populasi dan Sampel

Populasi penelitian adalah masyarakat sasaran program pemberdayaan Model Desa Konservasi (MDK) di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Penentuan lokasi desa sebagai lokasi sampel ditentukan berdasarkan kerangka sampel data kegiatan pemberdayaan masyarakat MDK di TNBBS. Terdapat 2 (dua) pekon/desa lokasi kegiatan pemberdayaan MDK di TNBBS yaitu Pekon Sukaraja (daerah penyangga) dan Kubu Perahu (enclave).

Penentuan total sampel ditentukan berdasarkan rumus Slovin, sedangkan jumlah sampel di kedua pekon ditentukan mewakili jumlah populasi masyarakat peserta program pemberdayaan MDK di masing-masing desa/pekon. Unit analisis dalam penelitian ini adalah petani anggota kelompok penerima manfaat program pemberdayaan MDK. Secara rinci proses pengambilan sampel adalah sebagai berikut:

Keterangan:

SPTN: Seksi Pengelolaan Taman Nasional MDK: Model Desa Konservasi

SPKP: Sentra Penyuluhan Kehutanan Pedesaan Pekon Sukaraja SPTN Wilayah I Sukaraja SPTN Wilayah II Bengkunat SPTN Wilayah III Krui SPTN Wilayah IV Bintuhan

Pekon Kubu Perahu

Desa/Pekon ditentukan berdasarkan lokasi program pemberdayaan MDK

Jumlah masyarakat sasaran kegiatan MDK pada masing-masing desa

MDK: 90 orang MDK: 50 orang

Total sampel = 104 67 Responden

Dengan rincian: 1. Kel. Wana Lestari 20

orang

2. Kel. Eka Tunggal Makmur 15 orang 3. Kel. Tunas Karya 22

orang

4. SPKP 10 orang

37 Responden Dengan rincian: 1. Kel. Mulya Tani

Harapan Maju 8 orang 2. Kel. Pemuda Mandiri

12 orang 3. Kelompok eks penerima manfaaat program MDK 17 orang Jumlah sampel/responden di masing-masing desa diambil mewakili jumlah populasi masyarakat peserta program pemberdayaan MDK TNBBS

Total sampel ditentukan dengan rumus Slovin: n = N

N (α)2+1 n = jumlah sampel N = populasi α = 0.05

(3)

Pengembangan Instrumen Penelitian

Jenis Data

Jenis data adalah data primer dan sekunder. Data primer berupa hasil kuesioner dan wawancara untuk memperoleh data mengenai karakteristik masyarakat sekitar kawasan, dan kriteria/karakteristik program pemberdayaan yang diduga mempengaruhi efektifitas pemberdayaan masyarakat. Berdasarkan skala pengukuran, data dalam penelitian ini sebagian besar meliputi skala ordinal, seta sebagian kecil skala nominal dan rasio.

Data sekunder berupa dokumen-dokumen tentang gambaran umum kawasan TNBBS dan data desa tempat dilaksanakan penelitian dan data terkait yang mendukung, misalnya: (1) Sosial ekonomi secara umum seperti kependudukan, mata pencaharian dan lain-lain; (2) Sejarah pengelolaan hutan TNBBS dan keadaan wilayah hutan seperti letak dan tata batas; (3) Peta lokasi penelitian; dan (4) Keadaan umum daerah penelitian

Variabel Penelitian

Variabel/peubah penelitian terdiri dari variabel bebas (independent variable) dan variabel tidak bebas (dependent variable) sebagai berikut:

(1). Variabel bebas (x), yaitu variabel yang dapat mempengaruhi variabel

dependen (y) yaitu efektifitas pemberdayaan masyarakat di TNBBS. Variabel independen terdiri dari:

(a). Karakteristik sosio-demografi masyarakat sasaran (x1), yaitu ciri yang melekat dalam diri individu masyarakat yang terdiri dari: umur, pendidikan formal, pelatihan, pekerjaan, pendapatan, kepemilikan lahan, jumlah tanggungan keluarga, asal etnis pemukim, keikutsertaan dalam kelompok dan keterdedahan terdadap informasi;

(b). Interaksi dan akses masyarakat terhadap taman nasional (x2), yang terdiri dari: tingkat ketergantungan responden terhadap sumberdaya taman nasional, manfaat langsung keberadaan taman nasional bagi responden, keterlibatan dalam program pemberdayaan MDK dan akses masyarakat dalam kegiatan taman nasional.

(c). Faktor pendekatan program pemberdayaan (x2) masyarakat yang meliputi kesepahaman, kelembagaan, fasilitator, pendampingan, bentuk kegiatan pemberdayaan, jejaring kerja dan kemitraan, monitoring dan evaluasi.

(2). Variabel tidak bebas (y), terdiri dari:

(a). Partisipasi masyarakat dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat MDK dalam rangka konservasi TNBBS (y1) baik partisipasi dalam perencanaan, partisipasi dalam pelaksanaan, partisipasi dalam pemanfaatan dan partisipasi dalam monitoring dan evaluasi.

(b). Kemandirian masyarakat dalam mengembangkan perilaku (kognitif, afektif dan psikomotorik) yang meliputi bidang ekologi, ekonomi dan sosial budaya (y2).

(4)

Definisi operasional

Untuk memperoleh batasan yang jelas, variabel dan subvariabel yang diteliti didefinisikan secara operasional sehingga dapat dilakukan pengukuran. Parameter pengukuran menggunakan pernyataan dalam skala Likert. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial (Sugiyono 2009).

Definisi operasional variabel-variabel dalam kerangka pikir penelitian adalah sebagai berikut:

(1). Karakteristik sosio-demografi adalah ciri yang melekat pada individu berupa karakteristik sosial dan kependudukan yang menggambarkan perbedaan masyarakat berdasarkan usia, mata pencaharian, pendidikan, suku bangsa (etnis), pendapatan, keluarga, serta sosial budaya, hubungannya dengan orang lain dan sebagainya.

(2). Umur, adalah usia responsen dihitung dari lahir hingga saat penelitian, dinyatakan dalam tahun.

(3). Pendidikan formal adalah jenjang pendidikan formal yang pernah ditempuh/dicapai responden, dinyatakan dalam strata/tingkat pendidikan. (4). Pelatihan, adalah pendidikan di luar pendidikan formal (non formal) berupa

kegiatan pelatihan yang pernah atau sedang diikuti responden dalam 3 tahun terakhir, diukur berdasarkan frekuensi mengikuti pelatihan.

(5). Mata pencaharian adalah status pekerjaan atau jenis pekerjaan utama responden pada saat dilakukan penelitian. Dalam penelitian ini mata pencaharian dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu petani dan non petani.

(6). Pendapatan, adalah penghasilan responden yang diperoleh dari berbagai sumber baik pekerjaan tetap maupun sampingan dalam satu bulan, dinyatakan dalam rupiah dengan kategorisasi berdasarkan pada kondisi eksisting responden (data riil lapangan pada waktu dilakukan penelitian). (7). Kepemilikan lahan adalah luas lahan yang dimiliki oleh responden,

dinyatakan dalam satuan hektar per kepala keluarga.

(8). Jumlah tanggungan keluarga, adalah jumlah anggota keluarga yang menetap dan menjadi tanggungan kepala keluarga, dinyatakan dalam jiwa/KK. (9). Etnis pemukim adalah kesatuan sosial yang dapat dibedakan dengan

kesatuan sosial lainnya berdasarkan budaya, bahasa dan lainnya dan diukur berdasarkan asal etnis responden apakah merupakan etnis asli atau etnis pendatang.

(10). Keikutsertaan dalam kelompok/organisasi adalah keikutsertaan yang dinyatakan/diukur melalui keaktifan responden dalam kelompok/organisasi masyarakat berbasis kehutanan maupun diluar kehutanan.

(11). Keterdedahan terhadap informasi merupakan proses pada responden untuk mencari informasi yang dapat membantu mereka menentukan perilaku (berkaitan dengan pemberdayaan) yang diukur melalui intensitas masyarakat dalam mencari informasi baik dari teman kelompok, penyuluh, dan pihak lain, kunjungan, membaca, mendengarkan maupun menonton. (12). Interaksi dan akses terhadap taman nasional adalah hubungan positif

masyarakat dengan kawasan taman nasional dan tingkat akses masyarakat terdahap sumber daya taman nasional yang tercermin dari tingkat interaksi/ketergantungan masyarakat terhadap taman nasional, manfaat

(5)

langsung taman nasional yang dirasakan dan keterlibatan dalam kegiatan tanam nasional.

(13). Tingkat ketergantungan terhadap sumberdaya taman nasional adalah tingkat ketergantungan responden terhadap sumberdaya TNBBS dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya dinyatakan dalam frekuensi interaksi responden dengan kawasan.

(14). Tingkat manfaat langsung keberadaan taman nasional yang dirasakan adalah respon masyarakat terhadap keberadaan taman nasional yang dinyatakan dalam seberapa besar manfaat langsung kawasan yang dirasakan oleh responden (baik ekonomi, ekologis, dan sosial budaya).

(15). Tingkat keterlibatan dalam program pemberdayaan MDK adalah keikutsertaan responden dalam kegiatan pemberdayaan MDK, diukur dengan lamanya responden terlibat dalam kegian tersebut.

(16). Tingkat akses masyarakat dalam kegiatan taman nasional adalah sejauh mana masyarakat memperoleh kesempatan atau terlibat dalam kegiatan taman nasional baik dalam rangka pengelolaan kawasan konservasi. Diukur melalui intensitas keikutsertaan masyarakat (dalam kegiatan apa saja masyarakat terlibat).

(17). Pendekatan pemberdayaan dalam konteks ini adalah pelaksanaan kesatuan aspek-aspek tujuan, prinsip, strategi, kriteria dan bentuk atau karakteristik pemberdayaan yang diterapkan oleh program pemberdayaan MDK di TNBBS dalam mendorong patisipasi dan kemandirian masyarakat sasaran. (18). Kesepahaman merupakan suatu proses yang melibatkan unsur-unsur terkait

secara terus-menerus agar tercapai kesepahaman atau kesamaan pandangan baik mengenai kegiatan pemberdayaan maupun mengenai manfaat dan fungsi pengelolaan kawasan konservasi. Dalam hal ini termasuk adanya kegiatan sosialisasi intensif dari pihak TNBBS dan tingkat pemahaman masyarakat dengan adanya sosialisasi tersebut.

(19). Kelembagaan adalah seperangkat ketentuan yang mengatur masyarakat (baik norma adat, lembaga lokal maupun lembaga eksternal yang menukung pemberdayaan) dimana masyarakat telah mendefinisikan secara mandiri mengenai aturan tersebut, bentuk peran, fungsi dan aktifitas yang jelas, pemberian kesempatan dan tanggung jawab berkaitan dengan kegiatan pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan TNBBS. Kelembagaan diuukur melalui keberadaan dan kejelasan aturan aturan setempat dan adanya lembaga lain yang mendukung MDK.

(20). Fasilitator adalah orang yang memberikan pendampingan dalam proses pemberdayaan masyarakat, diukur melalui kemampuannya dalam melakukan fungsi/perannya di bidang pemungkinan (enabling), penguatan

(empowering), perlindungan (protecting), dan pendukungan (supporting)

dalam rangka membantu masyarakat menuju kemandirian.

(21). Pendampingan suatu proses atau mekanisme mendampingi masyarakat berupa interaksi dinamis antara fasilitator dengan masyarakat sasaran dalam rangka pemberdayaan yang pengukurannya melibatkan intensitas dan kualitas (kesesuaian tujuan, metode, arah komunikasi, pembelajaran) dalam proses pemberdayaan.

(22). Bentuk kegiatan pemberdayaan merupakan kegiatan yang dipilih dalam pemberdayaan yang meliputi (a) peningkatan kapasitas masyarakat

(6)

(kegiatan belajar masyarakat dapat berupa pelatihan dengan substansi pengembangan perilaku masyarakat terutama keterampilan yang bersifat aplikatif dan pelatihan lain yang mendukung kegiatan masyarakat); (b) pengembangan ekonomi usaha produktif (pengembangan usaha produktif masyarakat berdasarkan potensi lokal, penerapan teknologi tepat guna, kerja sama dengan stakeholder dan pasar pengguna hasil usaha masyarakat); (c) penguatan kelembagaan (upaya untuk membentuk, meningkatkan dan memantapkan peran kelembagaan atau organisasi lokal termasuk kelompok-kelompok yang ada melalui fasilitasi dan pembinaan); dan (d) bantuan fisik/material. Dalam konteks ini hal tersebut diukur melalui tingkat proporsi berbagai bentuk kegiatan yang sesuai dengan kondisi potensi dan kebutuhan masyarakat setempat.

(23). Jejaring kerja dan kemitraan, merupakan upaya pengembangan jejaring kerja dan mencari mitra yang mendukung kepentingan pemberdayaan diukur melalui ada tidaknya mitra dalam pemberdayaan MDK terkait dukungan dan peran di bidang masing-masing yang relevan.

(24). Monitoring dan evaluasi adalah kegiatan dalam mengarahkan pelaksanaan kegiatan pemberdayaan masyarakat, menilai, serta tindak lanjut termasuk adanya alternatif pemecahan masalah. Diukur melalui intensitas monitoring dan evaluasi terhadap kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dalam pemberdayaan.

(25). Partisipasi adalah peran serta masyarakat dalam kegiatan pemberdayaan yang diukur berdasarkan tingkat partisipasi dari tingkat terendah sampai dengan tertinggi.

(26). Partisipasi dalam perencanaan adalah peran serta masyarakat dalam proses perencanaan kegiatan diukur dengan tingkat partisipasi masyarakat dari tingkat terendah (pasif) sampai tingkat tertinggi.

(27). Partisipasi dalam pelaksanaan adalah peran serta masyarakat dalam melaksanakan kegiatan diukur dengan tingkat partisipasi masyarakat dari tingkat terendah (pasif) sampai tingkat tertinggi.

(28). Partisipasi dalam pemanfaatan adalah peran serta masyarakat dalam memanfaatkan hasil kegiatan diukur dengan tingkat partisipasi masyarakat dari tingkat terendah (pasif) sampai tingkat tertinggi.

(29). Partisipasi dalam evaluasi adalah peran serta masyarakat dalam menilai hasil kegiatan diukur dengan tingkat partisipasi masyarakat dari tingkat terendah (pasif) sampai tingkat tertinggi.

(30). Kemandirian adalah kemampuan responden dalam mengembangkan perilaku (aspek kognitif, afektif dan psikomotorik) dalam bidang ekologi, ekonomi dan sosial budaya dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan kelestarian kawasan.

Matriks pengembangan instrumen

Matrik pengembangan instrumen menjelaskan secara rinci mengenai variabel, sub variabel, indikator, cara pengukuran serta skala data yang digunakan. Matrik pengembangan instrumen berdasarkan variabel yang telah ditentukan adalah sebagaimana dalam tabel berikut (Tabel 3 – Tabel 7):

(7)

Tabel 3 Sub variabel, indikator, pengukuran dan skala karakteristik sosio-demografi responden

Sub variabel Indikator Pengukuran Skala

(1). Umur Karakteristik umur 1. Tidak produktif (0 – 15 tahun) 2. Kurang Produktif ( ≥ 65 tahun) 3. Produktif (50 – 64 tahun) 4. Sangat produktif (15 – 49 tahun)

Rasio

(2). Pendidikan Karakteristik pendidikan

1. Tidak tamat SD dan tamat SD/sederajad 2. SLTP, SLTA dan sederajad

3. Diploma (D1, D2 atau D3) 4. Lulus PT (S1, S2, S3) Ordinal (3). Pelatihan Karakteristik pendidikan non formal

1. Tidak pernah mengikuti pelatihan 2. Jarang mengikuti pelatihan (1 – 2 kali) 3. Sering (3 - 5 kali dalam 3 tahun terakhir) 4. Sangat sering (> 5 kali dalam 3 tahun

terakhir Ordinal (4). Mata pencaharian Karakteristik sosial ekonomi 1. Petani 2. Non Petani Nominal (5). Pendapatan Karakteristik sosial ekonomi 1. Sangat rendah (< Rp 500.000) 2. Rendah (> Rp 500.000 – 1 jt) 3. Tinggi (> Rp 1 jt – 1,5 juta) 4. sangat tinggi (> Rp 1,5 juta)

Rasio

(6). Kepemilikan lahan

Karakteristik sosial ekonomi

1. Sangat rendah (tidak mempunyai lahan) 2. Rendah (0,1 – 0,5 ha)

3. Tinggi (0,51 – 1 ha) 4. Sangat Tinggi (> 1 ha)

Rasio (7). Jumlah tanggungan keluarga Karakteristik demografi

1. Sangat rendah (0 -2 jiwa) 2. Rendah (3-4 jiwa) 3. Tinggi (4-5 jiwa) 4. Sangat Tinggi (>5 jiwa)

Rasio (8). Etnis pemukim (Status migrasi) Karakteristik sosial budaya 1. Etnis asli 2. Etnis pendatang Nominal (9) Keikutsertaan dalam kelompok/ organisasi Karakteristik kelembagaan responden

1. Tidak aktif dalam kelompok 2. Kurang aktif dalam kelompok 3. Aktif dalam kelompok 4. Sangat aktif dalam kelompok

Ordinal (10) . Keterdedahan terhadap informasi Karakteristik sosial responden

1. Tidak pernah memperoleh informasi 2. Memperoleh informasi dari 1-2 sumber 3. Memperoleh informasi dari 3-4 sumber 4. Memperoleh informasi dari > 4 sumber

(8)

Tabel 4 Sub variabel, indikator, pengukuran dan skala interaksi dan akses terhadap taman nasional

Sub Variabel Indikator Pengukuran Skala

(1). Tingkat ketergantungan terhadap

Adanya ketergantungan

1. Sangat sering, semua kebutuhan dipenuhi dengan mengambil sumberdaya kawasan

Ordinal

sumberdaya TN

terhadap sumber daya kawasan

2. Sering, sebagian besar kebutuhan dipenuhi dengan mengambil sumberdaya kawasan

3. Jarang/sesekali masuk kawasan untuk mengambil sumberdaya

4. Tidak pernah mengambil sumberdaya TN untuk kebutuhan hidupnya

(2) Tingkat nanfaat sumberdaya TN yang dirasakan Respon masyarakat terhadap manfaat langsung TNBBS

1. Tidak merasakan manfaat Merasakan satu manfaat saja, (ekonomi, ekologi dan atau sosial budaya)

2. Merasakan paling tidak 2 manfaat 3. Merasakan semua manfaat dari 3 aspek

ekologi, ekonomi dan sosial budaya

Ordinal

(3) Tingkat keterlibatan dalam program MDK

Peran aktif dalam kegiatan/program pemberdayaan

1. Tidak pernah terlibat 2. Jarang terlibat 3. Sering terlibat

4. Sangat sering/selalu terlibat

Ordinal (4) Tingkat akses terhadap kegiatan TNBBS Tingkat keterlibatan masyarakat dalam kegiatan TN 1. Sangat rendah 2. Rendah 3. Tinggi 4. Sangat Tinggi Ordinal Akses dalam perencanaan 1. Sangat rendah 2. Rendah 3. Tinggi 4. Sangat Tinggi Ordinal Akses dalam pelaksanaan 1. Sangat rendah 2. Rendah 3. Tinggi 4. Sangat Tinggi Ordinal Akses dalam pemanfaatan 1. Sangat rendah 2. Rendah 3. Tinggi 4. Sangat Tinggi Ordinal Akses dalam evaluasi 1. Sangat rendah 2. Rendah 3. Tinggi 4. Sangat Tinggi Ordinal

(9)

Tabel 5 Sub variabel, indikator, pengukuran dan skala pendekatan pemberdayaan

Sub Variabel Indikator Pengukuran Skala

(1). Kesepahaman Kejelasan informasi yang disampaikan oleh pihak pengelola dan penyuluh dengan masyarakat untuk mencapai kesepahaman

1. Tidak ada sosialisasi

2. Memberikan informasi, tidak jelas 3. Memberikan informasi, jelas 4. Memberikan informasi dengan

sangat jelas

Ordinal

Pemahaman masyarakat berkaitan informasi mengenai MDK

1. Belum mengerti 2. Kurang mengerti 3. Mengerti

4. Mengerti sangat jelas

Ordinal

(2). Kelembagaan pendukung

Keberadaan dan kejelasan aturan baik tertulis maupun tidak

1. Tidak ada aturan

2. Masih dalam proses pembuatan 3. Ada, tetapi tidak jelas

4. Ada, dan jelas

Ordinal

Keberadaan dan aktifitas organisasi eksternal yang mendukung kegiatan pemberdayaan

1. Tidak ada

2. Ada, tidak mempunyai kegiatan 3. Ada, mempunyai kegiatan, tidak

sesuai kebutuhan

4. Ada, mempunyai kegiatan, sesuai dengan kebutuhan

Ordinal

(3). Fasilitator Kemampuan dalam pendekatan pada masyarakat (kualitas hubungan dengan masyarakat)

1. Sangat kurang 2. Kurang baik 3. Baik 4. Sangat baik

Ordinal

Kemampuan dalam fungsi

enabling yaitu melakukan mediasi, negosiasi, membangun konsensus bersama, serta melakukan manajemen sumber

1. Sangat kurang 2. Kurang baik 3. Baik 4. Sangat baik

Ordinal

Kemampuan dalam fungsi

empowering (memberikan

masukan, informasi positif dan terarah berdasarkan pengetahuan, pengalamannya 1. Sangat kurang 2. Kurang baik 3. Baik/memadai 4. Sangat baik/memadai Ordinal

Kemampuan dalam fungsi

protecting meliputi interaksi dengan lembaga eksternal (menggunakan media, meningkatkan hubungan dan membangun jejaring kerja)

1. Sangat kurang 2. Kurang baik 3. Baik/memadai 4. Sangat baik/memadai

Ordinal

Kemampuan dalam fungsi

supporting(keterampilan teknis, kemampuan berkomunikasi, mengelola anggaran, dsb) 1. Sangat kurang 2. Kurang baik 3. Baik/memadai 4. Sangat baik/memadai Ordinal

(4) Pendampingan Intensitas pendampingan memadai 1. Sangat jarang 2. Jarang 3. Sering 4. Sangat sering Ordinal

Kesesuaian antara tujuan kegiatan pendampingan (MDK) dengan harapan responden.

1. Sangat tidak sesuai 2. Kurang sesuai 3. Sesuai 4. Sangat sesuai

(10)

Tabel 5 Sub variabel, indikator, pengukuran dan skala pendekatan pemberdayaan (lanjutan)

Sub Variabel Indikator Pengukuran Skala

Komunikasi/penyampaian informasi yang mendukung program pemberdayaan

1. Sangat tidak baik 2. Kurang baik 3. Baik 4. Sangat baik

Ordinal

Manfaat hasil yang dicapai dalam MDK sesuai dengan harapan masyarakat

1. Sangat tidak bermanfaat 2. Kurang bermanfaat 3. Bermanfaat 4. Sangat bermanfaat

Ordinal

Keseluruhan proses pembelajaran berjalan baik untuk mendukung tercapainya tujuan 1. Tidak baik 2. Kurang baik 3. Baik 4. Sangat baik Ordinal (5). Bentuk Pemberdayaan Peningkatan kapasitas masyarakat sesuai

keterampilan yang diperlukan

1. Tidak ada pelatihan

2. Ada, tidak sesuai kebutuhan 3. Ada, kurang sesuai kebutuhan 4. Ada, sesuai kebutuhan

Ordinal

Pengembangan usaha produktif sesuai dengan potensi yang ada

1. Tidak sesuai 2. Kurang sesuai 3. Sesuai 4. Sangat sesuai

Ordinal

Pengembangan jaringan dan pemasaran mendukung usaha produktif

1. Tidak ada

2. Ada, tidak mendukung 3. Ada, kurang mendukung 4. Ada dan sangat mendukung

Ordinal

Upaya penguatan kelembagaan (fasilitasi pembentukan kelompok, pembagian tugas dan aturan)

1. Tidak ada 2. Kurang

3. Ada, belum berjalan baik 4. Ada, berjalan dengan baik

Ordinal

perbandingan banyaknya bantuan dalam bentuk materi atau fisik dengan bantuan bentuk lain dalam kegiatan MDK (sesuai kebutuhan)

1. Tidak seimbang, hampir semua berupa bantuan fisik/material saja 2. Kurang seimbang

3. Seimbang tetapi belum sesuai kebutuhan

4. Sangat seimbang sesuai kebutuhan

Ordinal

(6). Jejaring kerja dan kemitraan

Adanya mitra yang terlibat dan berperan sesuai bidang masing-masing

1. Tidak ada mitra 2. Dalam proses

mengembangkan

3. Ada mitra, belum berfungsi dengan baik

4. Ada mitra, berfungsi dengan baik

Ordinal

(7). Monitoring dan evaluasi

Monitoring dan evaluasi dilakukan dalam semua kegiatan dalam MDK sehingga program terarah, terdapat penilaian, serta tindak lanjut termasuk adanya alternatif pemecahan masalah.

1. Tidak ada

2. Hanya dilakukan pada sebagian kecil kegiatan 3. Dilakukan pada sebagian

besar kegiatan

4. Dilakukan pada seluruh kegiatan

(11)

Tabel 6 Sub variabel, indikator, pengukuran dan skala variabel partisipasi

Sub Variabel Indikator Pengukuran Skala

(1). Partisipasi dalam perencanaan Peran serta masyarakat dalam proses perencanaan MDK

1.Tingkat partisipasi sangat rendah (partisipasi manipulatif/pasif dan informasi)

2.Tingkat partisipasi rendah (partisipasi konsultasi dan sumberdaya)

3.Tingkat partisipasi tinggi (partisipasi kolaborasi) 4.Tingkat partisipasi sangat tinggi (partisipasi

kendali) Ordinal (2). Partsipasi dalam pelaksanaan Peran serta masyarakat dalam melaksanakan MDK

1.Tingkat partisipasi sangat rendah (partisipasi manipulatif/pasif dan informasi)

2.Tingkat partisipasi rendah (partispasi konsultasi dan sumberdaya)

3.Tingkat partisipasi tinggi (partisipasi kolaborasi) 4.Tingkat partisipasi sangat tinggi (partisipasi

kendali) Ordinal (3). Partisipasi dalam pemanfaatan Peran serta masyarakat dalam memanfaatkan hasil MDK

1.Tingkat partisipasi sangat rendah (partisipasi manipulatif/pasif dan informasi)

2.Tingkat partisipasi rendah (partispasi konsultasi dan sumberdaya)

3.Tingkat partisipasi tinggi (partisipasi kolaborasi) 4.Tingkat partisipasi sangat tinggi (partisipasi

kendali) Ordinal (4). Partisipasi dalam evaluasi Peran serta masyarakat dalam menilai hasil kegiatan MDK

1.Tingkat partisipasi sangat rendah (partisipasi manipulatif/pasif dan informasi)

2.Tingkat partisipasi rendah (partispasi konsultasi dan sumberdaya)

3.Tingkat partisipasi tinggi (partisipasi kolaborasi) 4.Tingkat partisipasi sangat tinggi (partisipasi

kendali)

Ordinal

Tabel 7 Sub variabel, indikator, pengukuran dan skala variabel kemandirian Sub Variabel Indikator Pengukuran Skala (1). Kemandirian dalam bidang ekologi/konservasi kawasan

Aspek pengetahuan (kognitif)

Tingkat pengetahuan/ pemahaman masyarakat taman nasional

1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik

Ordinal

Tingkat pengetahuan/ pemahaman masyarakat fungsi taman nasional

1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik

Ordinal

Pengetahuan masyarakat dalam mengidentifikasi manfaat-manfaat kawasan TN (manfaat ekonomi, ekologi dan sosial budaya)

1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik

Ordinal

Pengetahuan masyarakat tentang akibat tindakan merusak kawasan

1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik

(12)

Tabel 7 Sub variabel, indikator, pengukuran dan skala variabel kemandirian (lanjutan)

Sub Variabel Indikator Pengukuran Skala Pengetahuan masyarakat tentang

aturan dan sanksi bagi tindakan merusak hutan 1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik Ordinal

Pengetahuan masyarakat tentang pengelolaan lahan yang

memperhatikan kaidah konservasi

1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. sangat baik Ordinal Aspek persepsi dan sikap (afektif)

Kesadaran akan pentingnya konservasi kawasan TNBBS 1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. sangat baik Ordinal

Kesadaran tentang manfaat penting TNBBS dari segi ekologi, ekonomi, dan sosial budaya TNBBS 1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. sangat baik Ordinal

Kesadaran terhadap dampak perambahan dan tindak ilegal lain yang merusak hutan

1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. sangat baik

Ordinal

Kesadaran tentang pentingnya mematuhi peraturan berkaitan dengan pengelolaan TN 1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. sangat baik Ordinal

Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pentingnya

pengelolaan lahan yang

memperhatikan kaidah konservasi

1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. sangat baik Ordinal Aspek tindakan/ keterampilan (psikomotorik)

Kemampuan dalam konservasi kawasan TNBBS yang tercermin dari intensitas keikutsertaan masyarakat dalam mendukung kelestarian kawasan 1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik Ordinal Kemampuan dalam memanfaatkan kawasan TN secara bijaksana tanpa merusak

1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik

Ordinal

Kemampuan dalam melakukan pencegahan dan mengurangi tindakan yang mengakibatkan kerusakan kawasan 1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik Ordinal

Kemampuan dalam mentaati peraturan berkaitan dengan himbauan untuk menjaga kelestarian dan tidak merusak hutan 1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik Ordinal Kemampuan menerapkan pengelolaan lahan sesuai dengan kaidah konservasi 1. Tidak pernah 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik Ordinal

(13)

Tabel 7 Sub variabel, indikator, pengukuran dan skala variabel kemandirian (lanjutan)

Sub Variabel Indikator Pengukuran Skala (2). Kemandirian dalam bidang ekonomi

Mengetahui cara

meningkatkan pendapatan tanpa harus masuk(merusak) ke dalam kawasan 1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik Ordinal

Mengetahui potensi yang dimiliki untuk dikembangkan

1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik Ordinal Mengetahui cara

mengembangkan potensi agar mermanfaat 1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik Ordinal

Mengetahui sarana prasarana yang diperlukan bagi pengembangan usaha 1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik Ordinal

Mengetahui bagaimana cara memperoleh modal yang diperlukan bagi pengembangan usaha 1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik Ordinal

Mengetahui teknologi tepat guna yang dapat diterapkan dalam pengembangan usaha

1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik Ordinal Mengetahui cara mengembangkan jaringan kerja dan pemasaran

1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik

Ordinal

Mengetahui cara untuk meningkatkan mutu/daya saing

1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik Ordinal Aspek persepsi dan sikap (afektif)

Kesadaran untuk mengolah lahan secara optimal tanpa melakukan perambahan atau kegiatan lain dalam kawasan 1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik Ordinal

Kesadaran terhadap pentingnya mengenali dan menggali potensi untuk dikembangkan 1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik Ordinal

Kesadaran terhadap pentingnya mencari cara untuk

mengembangkan potensi 1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik Ordinal Kesadaran terhadap

pentingnya sarana prasarana yang diperlukan bagi pengembangan usaha 1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik Ordinal

(14)

Tabel 7 Sub variabel, indikator, pengukuran dan skala variabel kemandirian (lanjutan)

Sub Variabel Indikator Pengukuran Skala Kesadaran terhadap

pentingnya modal yang diperlukan bagi pengembangan usaha 1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik Ordinal

Kesadaran tentang pentingnya menerapkan teknologi tepat guna untuk meningkatkan produktifitas

1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik

Ordinal

Kesadaran tentang pentingnya mengembangkan jaringan kerja dan pemasaran untuk

meningkatkan produktifitas 1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik Ordinal

Kesadaran akan pentingnya meningkatkan mutu/daya saing

1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik Ordinal Aspek tindakan/ keterampilan (psikomotorik) Kemampuan dalam meningkatkan pendapatan tanpa merusak kawasan TN

1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik Ordinal Kemampuan mengenali/mengali potensi yang dimiliki untuk dikembangkan 1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik Ordinal Kemampuan mengembangkan potensi agar bermanfaat

1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik Ordinal Kemampuan dalam mengupayakan ketersediaan sarana parsarana bagi pengembangan usaha 1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik Ordinal Kemampuan dalam mengupayakan modal bagi pengembangan usaha 1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik Ordinal Kemampuan dalam menerapkan teknologi tepat guna 1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik Ordinal Kemampuan dalam mengembangkan jaringan kerja 1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik Ordinal Kemampuan meningkatkan mutu/daya saing 1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik Ordinal

(15)

Tabel 7 Sub variabel, indikator, pengukuran dan skala variabel kemandirian (lanjutan)

Sub Variabel Indikator Pengukuran Skala (3). Kemandirian dalam bidang sosial budaya

Aspek pengetahuan (kognitif)

Mengetahui cara mengembangkan kapasitas/kemampuan 1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik Ordinal

Mengetahui adanya aturan-aturan berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat 1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik Ordinal

Mengetahui tentang kerjasama, pengembangan kelompok dan kelembagaan dalam pemberdayaan 1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik Ordinal Mengetahui pentingnya beradaptasi terhadap perubahan lingkungan 1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik Ordinal Aspek persepsi dan sikap (afektif)

Kesadaran akan pentingnya upaya mengembangkan kapasitas diri

1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik

Ordinal

Kesadaran akan pentingnya mematuhi aturan-aturan 1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik Ordinal

Kesadaran akan pentingnya bekerjasama dan mengembangkan kelompok 1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik Ordinal

Kesadaran pentingnya beradaptasi terhadap perubahan lingkungan

1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik Ordinal Aspek tindakan/ keterampilan (psikomotorik)

Kemampuan melakukan upaya untuk pengembangan kapasitas diri 1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik Ordinal

Mampu mematuhi aturan-aturan 1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik

Ordinal

Mampu bekerja dalam kelompok 1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik

Ordinal

Mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan 1. Sangat kurang 2. Kurang 3. Baik 4. Sangat baik Ordinal

(16)

Kisi-kisi instrumen

Instrumen penelitian berupa kuesioner terdiri dari 96 pertanyaan dengan rincian, 13 (tiga belas) pertanyaaan untuk kerakteristik individu; 27 (dua puluh tujuh) pertanyaan untuk faktor pendekatan pemberdayaan; 4 (empat) pertanyaan untuk partisipasi masyarakat; dan kemandirian 52 (lima puluh dua) pertanyaan. Kisi-kisi Instrumen secara rinci diuraikan dalam Lampiran 4.

Uji Instrumen

Untuk memperoleh hasil penelitian yang valid dan reliabel diperlukan instrumen yang valid dan reliabel pula. Instrumen yang valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur, dan reliabel bila terdapat kesamaan data dalam waktu yang berbeda. Instrumen yang valid harus mempunyai validitas internal dan eksternal (Sugiyono 2011). Validitas internal merupakan kesahihan penelitian apabila kreiteria dalam instrumen secara teoritis mencerminkan apa yang akan diukur. Sedangkan validitas eksternal merupakan kesahihan penelitian apabila terdapat kesesuaian antara kriteria yang ada pada instrumen dengan fakta-fakta di lapangan. Hal ini berarti instrumen yang valid harus dikembangkan berdasarkan teori yang mendukung dan fakta empiris di lapangan.

Instrumen dalam penelitian ini diuji validitasnya melalui validitas internal dan eksternal. Pengujian tersebut dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut: (a) definisi operasional variabel yang akan diukur; (b) studi literatur (pustaka) sebagai referensi (acuan); (c) konsultasi dengan pembimbing (ahli); (d) uji coba instrumen di lapangan; (e) mempersiapkan format tabulasi jawaban; (f) menghitung korelasi menggunakan pendekatan korelasi item-total dikoreksi

(corrected item-total correlation).

Model pengujian dengan pendekatan korelasi item-total dikoreksi digunakan untuk menghilangkan spurious overlap, yaitu adanya tumpang tindih atau pengaruh kontribusi masing-masing skor item terhadap skor total. Untuk menghilangkan efek spiruous overlap tersebut maka koefisien korelasi item-total dikoreksi dengan nilai simpangan baku (standard deviation) skor item dengan skor total (Kusnendi, 2008). Untuk menentukan apakah sebuah item dinyatakan valid atau tidak maka para ahli menetapkan besaran koefisien korelasi item total dikoreksi sebesar 0,25 atau 0,30 sebagai batas minimal valid tidaknya sebuah ítem hal ini berarti apabila nilai koefisien korelasi sama atau lebih besar dari 0,25 atau 0,30 mengindikasikan item tersebut memiliki validitas yang memadai (Kusnendi 2008).

Reliabilitas diuji menggunakan metode cronbach alpha dengan rumus:

α = n n - 1 ∑Vi Vt

[

1 -

]

Keterangan:

α : Koefisien cronbach alpha

n : Jumlah item

Vi : Varians skor tiap-tiap item

∑Vi : Jumlah varians skor tiap-tiap item Vt : Varians total

(17)

Alat ukur dinilai cukup reliabel apabila nilai koefisien cronbach alpha (α) lebih besar dari kisaran 0.5 – 1.0. Menurut Babbie (1989), suatu instrumen dianggap cukup reliabel apabila nilai koefisien alpha ≥ 0.6. dengan ukuran kemantapan sebagai berikut:

(a). Nilai koefisien alpha 0.00 – 0.20 berarti kurang reliabel (b). Nilai koefisien alpha 0.21 – 0.40 berarti agak reliabel (c). Nilai koefisien alpha 0.41 – 0.60 berarti cukup reliabel (d). Nilai koefisien alpha 0.61 – 0.80 berarti reliabel (e). Nilai koefisien alpha 0.81 – 1.00 berarti sangat reliabel

Berdasarkan uji instrumen, diperoleh koefisien cronbach alpha (α) untuk uji reliabilitas dan korelasi item-total dikoreksi untuk uji validitas sebagai berikut:

Tabel 8 Hasil uji instrumen penelitian

Variabel Jumlah item Skala ordinal Uji reliabilitas (Croanbach Alpha)

Ket Uji validitas (corrected item-total correlation) Ket Variabel bebas (x) 1.Karakteristik demografis dan sosial 2.Interaksi dan akses terhadap TNBBS 3.Pendekatan pemberdayaan 36 1-4 0.940 Sangat reliabe l 0.257 – 0.790 Valid Variabel tidak bebas (y) 1.Partisipasi 2.Kemandirian 56 1-4 0.958 Sangat reliabe l 0.263 – 0.745 Valid

Berdasarkan uji reliabilitas, instrumen penelitian termasuk dalam kategori sangat reliabel. Dengan demikian instrumen dapat dikatakan memiliki konsistensi terhadap respon atau pengukuran pada fenomena yang sama. Sedangkan pada uji validitas, pada umumnya semua item instrumen valid pada koefisien korelasi item total dikoreksi lebih besar dari koefisien korelasi minimum (0,25). Hal ini berarti bahwa instrumen dapat mengukur apa yang akan diukur.

Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data adalah suatu proses pengadaan data untuk keperluan penelitian (Nazir 2009). Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam mencapai tujuan penelitian atau menguji hipotesis yang telah dirumuskan. Data yang dikumpulkan harus cukup valid dan reliabel, sehingga diperlukan kecermatan dalam memilih teknik yang tepat.

(18)

Dalam penelitian ini, data di peroleh melalui pengamatan di lapangan (observasi), kuesioner, wawancara serta dokumentasi. Pengamatan dilakukan untuk memperoleh data secara langsung terhadap obyek penelitian. Kuesioner dilakukan dengan mengajukan pertanyaan tertulis kepada sejumlah masyarakat sebagai responden. Sebagian besar kuesioner menggunakan kuesioner tertutup (telah disediakan alternatif-alternatif jawabannya), dimana pertanyaan diarahkan untuk mengetahui karakteristik individu, pendekatan pemberdayaan, partisipasi dan kemandirian masyarakat. Wawancara dilakukan untuk mendukung data penelitian. Wawancara dilakukan terhadap masyarakat, pihak pengelola TNBBS, penyuluh, serta pihak-pihak terkait lainnya. Dokumentasi dilakukan untuk mengumpulkan data sekunder melalui pencatatan dan pengumpulan dokumen yang sudah ada tentang gambaran umum kawasan TNBBS, data desa dan data terkait yang mendukung penelitian.

Analisis Data

Pengolahan dan analisis data merupakan bagian sangat penting dalam penelitian karena data tersebut dapat diberi arti dan makna yang berguna dalam memecahkan masalah dan bermanfaat untuk menguji hipotesis (Nazir 2009). Analisis data dilakukan secara kuantitatif dengan statistik deskriptif dan inferensial. Statistik deskriptif digunakan untuk mengetahui karakteristik individu, pendekatan pemberdayaan dan efektifitas pemberdayaan MDK di TNBBS.

Data hasil penelitian dianalisis untuk memperoleh hubungan berbagai variabel yang diteliti, dan memberikan penjelasan secara kualitatif sebagai pendukung. Data yang diperoleh dari kuesioner dikelompokkan menurut variabel yang telah ditentukan, menggunakan skoring dan pengkategorian. Analisis yang dilakukan adalah: (1) Memberikan skor pada setiap data dan kemudian di tabulasi; (2) Menggolongkan, menghitung jawaban dan memprosentasekan berdasarkan kategori jawaban. Skor yang digunakan adalah skala Likert. Skala Likert yang digunakan terdiri dari 4 (empat) tingkat yang merupakan gradasi dari sangat rendah/jelek sampai sangat tinggi/baik. Kemudian data diolah menggunakan tabulasi distribusi frekuensi dan kemudian dianalisis.

Untuk mengetahui perbedaan nilai rata-rata dua populasi yang mewakili lokasi penelitian, yaitu Pekon Sukaraja dan Pekon Kubu Perahu, digunakan uji nonparametrik yaitu uji beda Mann-Whitney. Untuk mengetahui hubungan antar variabel digunakan analisis korelasi Rank Spearman. Uji ini digunakan untuk mengetahui hubungan masing-masing variabel dengan rumus/persamaan:

N 6

Σ

di2 i =1 rs = 1- n (n2 – 1) Keterangan:

rs = Koefisien korelasi spearman

di = Selisih antar jenjang

(19)

Koefesien korelasi merupakan pengukuran statistik kovarian atau asosiasi antara dua variabel. Besarnya koefisien korelasi berkisar antara +1 sampai dengan -1, yang berarti koefisien korelasi dapat bernilai positif dan dapat pula negatif. Koefesien korelasi menunjukkan kekuatan hubungan linear dan arah hubungan dua variabel. Jika koefesien korelasi positif, maka kedua variabel mempunyai hubungan searah. Artinya jika nilai variabel X tinggi, maka nilai variabel Y akan tinggi pula. Sebaliknya, jika koefesien korelasi negatif, maka kedua variabel mempunyai hubungan terbalik. Artinya jika nilai variabel X tinggi, maka nilai variabel Y akan menjadi rendah (dan sebaliknya). Interpretasi mengenai kekuatan hubungan antara dua variabel (De Vaus 2002) adalah sebagai berikut:

(a). 0 : Tidak ada korelasi antara dua variabel

(b). 0,01 – 0,09 : Korelasi kurang berarti (sangat lemah) (c). 0,10 – 0,29 : Korelasi lemah

(d). 0,30 – 0,49 : Korelasi cukup (moderat) (e). 0,50 – 0,69 : Korelasi kuat

(f). 0,70 – 0,89 : Korelasi sangat kuat

(g). ≥ 0.90 : Korelasi mendekati sempurna

Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan perangkat statistik

Gambar

Gambar 3 Proses pengambilan sampel
Tabel 3 Sub variabel, indikator, pengukuran dan skala karakteristik sosio- sosio-demografi responden
Tabel 4 Sub variabel, indikator, pengukuran dan skala interaksi dan akses  terhadap taman nasional
Tabel 5 Sub variabel, indikator, pengukuran dan skala pendekatan pemberdayaan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis implementasi Balance Scorecard pada Perusahaan Umum Pembangunan Perumahan Nasional (PERUM PERUMNAS) Regional IV Bandung

Oleh karena itu pada penelitian melakukan proses analisis untuk mengetahui penggunaan internet melalui data jaringan yang terjadi pada jaringan internet di prodi Ilmu Komputer,

Parfum Laundry Kota Jakarta Timur Beli di Toko, Agen, Distributor Surga Pewangi Laundry Terdekat/ Dikirim dari Pabrik.. BERIKUT INI PANGSA PASAR PRODUK

Klon C3 yang berasal dari tegakan alam di kawasan plot konservasi genetik cendana di Watusipat, Gunungkidul menunjukkan hasil terbaik dalam induksi kalus

Hasil wawancara dan observasi menunjukkan rendahnya kreativitas dan prestasi belajar siswa kelas IV SD Negeri 3 Pliken, sehingga penelitian ini bertujuan untuk

Metode Studi kepustakaan ini berguna untuk mencari informasi yang berkaitan dengan hal-hal yang dapat membantu peningkatan kinerja pada sebuah sistem basis data terkait dengan

Uji coba instrumen tersebut bertujuan untuk menentukan valid atau tidaknya suatu tes angket dan apakah angket tersebut cocok digunakan untuk mengetahui hubungan motivasi

Bedasarkan penelitian ini, jumlah populasinya lebih dari 100 orang responden, maka sampel diambil mengguanakan teknik random sampling ini adalah teknik pengambilan