Nomer Perkara :
* 1 1 2 — P H P —
PROVINSI:
A L U K U - U
BADAN BANTUAN HUKUM DAN ADVOKASI (BBHA) PUSAT
PDI PERJUANGAN
Jakarta, 20 Desember 2015 H a l: Permohonan Permohonan Pembatalan Keputusan Komisi Pemilihan Umum
Kota Ternate Nomor 41/Kpts/KPU-KT-029.436358/Tahun 2015 Tentang Penetapan Rekapitulasl Hasll Penghitungan Perolehan Suara Dan Hasil Pemilihan Walikota dan Wakll Walikota Ternate~TatLun 2015t tanggai 17 Desember 2015.
Kepada Yang Terhormat,
Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Jl.Medan Merdeka Barat Nomor 6 Jakarta Pusat.
Yang bertandatangan dibawah ini :
REG tSTWASi
Hart
Tanggai
Jsm
0 8 -0 0
wi o 1. Nama Alamat 2. Nama AlamatDR. H. SID IK DERO SIOKONA, M.Pd.
Kelurahan Bastiong, Ternate Selatan, Kota Ternate H. DJASMAN ABUBAKAR, S.Ag.
Kelurahan Tanah Tlnggi, Ternate Selatan, Kota Ternate
Pasangan calon Walikota dan Wakll Walikota pada Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Ternate, Provinsi Maluku Utara Tahun 2015, Nomor Urut 3, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggai 19 Desember 2015 dalam hal ini memberikan kuasa kepada :
1. SIRRA PRAYUNA, SH. 2. DIARSON LU BIS, SH.
3. YANUAR PRAWIRA WASESA, SH., MSi, MH. 4. HOLDEN MAKMUR ATMAWIDJAJA, SH., MH. 5. SAYED MUHAMMAD MULYADI, SH.
6. EDISON PANJAITAN, SH.
7. SUDIYATMIKO ARIBOWO, SH.MH.
8. TANDA PERDAMAIAN NASUTION, SH. 9. TISYE ERLINA YUNUS, SH., MM. 10. PATUAN SINAGA, SH.MH.
11. SIMEON PETRUS, SH.
12. HARTONO TANUWIDJAJA, S.H, SE., AK., M.H. 13. MAGDA WIDJAJANA, SH.
14. SANDI EBENEZER SITUNGKIR, S.H, M.H.
16. IMRAN MAHFUDI, SH.
17. PASKA MARIA TOMBI, SH.MH. 18. BADRUL MUNIR, S.Ag, SH., C LA. 19. RIDWAN DARMAWAN, SH. 20. M. NUZUL WIBAWA, S.Ag., MH. 21. AZIZ FAHRI PASARIBU, SH. 22. MUHAMMAD IBNU, SH. 23. OCTIANUS, SH.
24. ACE KURNIA, S.Ag. 25. ARIES SURYA, SH.
26. BENNY HUTABARAT, SH. 27. DINI FITRIYANI, SH.,C.L.A 28. RIZKA, SH.
29. FUAD ALHADI, SH. 30. M.YAMIN MUCHLIS, SH. 15. M.PILIPUS TARIGAN, SH., MH.
Kesemuanya adalah Advokat dan Konsultan Hukum yang tergabung dalam "BADAN BANTUAN HUKUM DAN ADVOKASI (BBHA) PUSAT DPP PDI PERJUANGAN" yang berkedudukan di Perkantoran Golden Centrum Jl. Majapahit 26 Blok AG Jakarta Pusat 10160, Telepon : 021-3518457,021-3518462, fax : 021-3510479, email : [email protected], dalam hal ini masing-masing dapat bertindak baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama yang selanjutnya disebut sebagai "Penerima Kuasa".
Selanjutnya disebut sebagai... PEMOHON.
Terhadap
Komisi Pemilihan Umum Kota Ternate, yang berkedudukan di Kalumata Puncak, Ternate Selatan, Kota Ternate.
Selanjutnya disebut sebagai...TERMOHON.
Dalam hal ini mengajukan permohonan kepada Mahkmah Konstitusi perihal Perselisihan Penetapan Perolehan Suara Hasil Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Ternate Tahun 2015 berdasarkan Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kota Ternate Nomor 41/Kpts/KPU-KT-029.436358/Tahun 2015 Tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Dan Hasil Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Ternate Tahun 2015, tanggai 17 Desember 2015 yang diumumkan pada hari Kamis tanggai 17 Desember 2015 pukul 17.00 WIT.
I. KEWENANGAN MAHKAMAH KONSTITUSI
a. Bahwa berdasarkan Pasal 157 ayat (3) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota menjadi Undang- Undang, perkara perselisihan penetapan perolehan suara hasil pemilihan diperiksa dan diadili oleh Mahkamah Konstitusi sampai dibentuknya badan peradilan khusus.
b. Bahwa Pemohonan Pemohon adalah perkara perselisihan penetapan perolehan suara hasil pemilihan calon Walikota dan Wakil Walikota Ternate
c. Bahwa berdasarkan uraian tersebut diatas, menurut Pemohon Mahkamah Konstitusi berwenang memeriksa dan mengadili perkara perselisihan penetapan perolehan suara hasil pemilihan Calon Bupati dan Wakil Bupati Tahun 2015.
II. KEDUDUKAN HUKUM (LEGAL STANDING) PEMOHON
a. Bahwa berdasarkan Pasal 2 huruf a dan Pasal 3 ayat (1) huruf e Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 1 Tahun 2015 tentang pedoman beracara dalam Perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota.
b. Bahwa berdasarkan Keputusan KPU Kota Ternate Nomor 14 /KPTS/KPU-TTE 029.436358/2015 Tentang Penetapan Pasangan Calon Yang Memenuhi Syarat Sebagai Peserta Pemilihan Walikota Dan Wakil Walikota Ternate Tahun 2015 tanggai 24 Agustus 2015, Pemohon ditetapkan sebagai Penetapan Pasangan Calon Yang Memenuhi Syarat Sebagai Peserta Pemilihan Walikota Dan Wakil Walikota Ternate Tahun 2015.
BADAN BANTUAN HUKUM DAN ADVOKASI (BBHA) PUSAT
PD I P E R JU A N G A N
c. Bahwa berdasarkan Keputusan KPU Kota Ternate Nomor 15 /KPTS/KPU-TTE 029.436358/2015 Tentang Penetapan Nomor Urut Pasangan calon Peserta Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Ternate Tahun 2015 bertanggal 26 Agustus 2015, Pemohon adalah Peserta Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Ternate Tahun 2015, dengan Nomor Urut 3;
d. Bahwa berdasarkan Pasal 158 ayat (2) UU 8/2015
juncto
Pasal 6 ayat (2) PMK 1/2015 , Pemohon mengajukan permohonan pembatalan Penetapan Perolehan Suara Hasil Pemilihan Calon Bupati, dengan ketentuan sebagai berikut:BADAN BANTUAN HUKUM DAN ADVOKASI (BBHA) PUSAT
PD I P E R JU A N G A N
No. Jumlah Penduduk Perbedaan Perolehan Suara berdasarkan Penetapan Perolehan Suara Hasil Pemilihan
oleh KPU/KIP Kabupaten/Kota
1. < 250.000 2 %
2. > 250.000-500.000 1, 5 % 3. > 500.000-1.000.000 1 %
4. > 1.000.000 0,5 %
- Bahwa Pemohon sebagai pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota Ternate dengan jumlah penduduk kurang dari 250.000 jiwa. Perbedaan perolehan suara antara Pemohon dengan pasangan calon peraih suara terbanyak berdasarkan penetapan hasil penghitungan suara oleh Termohon paling banyak sebesar 2 %.
- Bahwa Pemohon memperoleh sebanyak 29.328 suara, sedangkan pasangan calon peraih suara terbanyak 34.647 suara. Sehingga perolehan suara antara Pemohon dengan pasangan calon peraih suara terbanyak terdapat selisih sejumlah 5.319 suara atau sebesar 6 %.
- Bahwa perolehan suara yang diraih oleh peraih suara terbanyak 34.647 suara (calon nomor urut 2) dilakukan dengan banyak kecurangan dan keberpihakan Termohon, dimana peraih suara terbanyak (calon nomor urut 2) dan Termohon telah melakukan kejahatan Pemilu yang sangat merusak sendi-sendi demokrasi.
- Dengan demikian, menurut Pemohon, Pemohon telah berusaha memenuhi memenuhi ketentuan Pasal 158 ayat (2) UU 8/2015
juncto
Pasal 6 ayat (2) PMK 1/2015, akan tetapi pelanggaran yang dilakukan peraih perolehan suara terbanyak (calon nomor urut 2) dilakukan secara terstruktur, sistematis dan massif yang menyebabkan Pemohon tidak dapat memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 ayat (2) UU 8/2015juncto
Pasal 6pelanggaran yang dilakukan secara terstruktur, sistematis dan massif sehingga merugikan Pemohon dan menguntungkan peraih perolehan suara terbanyak (calon nomor urut 2), hal itu menyebabkan Pemohon kesulitan untuk dapat memenuhi ketentuan Pasal 158 ayat (2) UU 8/2015
juncto
Pasal6 ayat (2) PMK 1/2015.
e. Bahwa dalam pertimbangan hukum Perkara Nomor 41/PHPU.D-VI/2008, Mahkamah menyatakan bahwa:"—
Dengan demikian, tidaksatupun Pasangan
Calon Pemilihan Umum yang boleh diuntungkan dalam perolehan suara akibat
terjadinya pelanggaran konstitusi dan prinsip keadilan dalam penyelenggaraan
Pemilihan Umum
— ,maka Mahkamah memandang perlu menciptakan
terobosan guna memajukan Demokrasi dan melepaskan diri dari kebiasaan
praktik pelanggaran sistimatis, terstruktur, dan m asif seperti perkara a quo')
f. Bahwa, demikian pula dalam Pertimbangan Hukum Perkara Nomor 57/PHPU.D- VI/2008, Mahkamah menyatakan bahwa ”—
berdasarkan Konstitusi dan
Undang-Undang MK yang menempatkan Mahkamah sebagai pengawal
konstitusi, Mahkamah berwenang memutus perkara pelanggaran atas prinsip-
prinsip Pemilu dan Pemiiukada yang diatur dalam UUD 1945 dan UU Nomor 32
Tahun 2004".
Selain itu Mahkamah juga pernah memutus terkait perkara sengketa PHPUD, dengan pertimbangan hukum bahwa dalam mengawal konstitusi, Mahkamah tidak dapat membiarkan dirinya dipasung oleh keadilan Prosedural (Procedural justice)
semata-mata, melainkan juga keadilan substansial;g. Mahkamah sebagai lembaga peradilan menjadi lebih tepat jika mengadili "hasil pemilihan umum" dan bukan sebagai peradilan terhadap angka hasil penghitungan suara, melainkan sebagai peradilan yang mengadili masalah- masalah yang juga terjadi dalam proses pelaksanaan Pemilu dan Pemiiukada (vide Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 87/PHPU.D-X/2012 paragraf pertama halaman 147);
h. Bahwa berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi yang termuat dalam beberapa putusan Mahkamah terkait dengan kedudukan hukum (
legal standing)
BADAN BANTUAN HUKUM DAN ADVOKASI (BBHA) PUSAT
diantaranya putusan Putusan Nomor 196-197-198/PHPU.D-VIII/2010, tanggai 25 November 2010, Putusan Nomor 218-219-220-221/PHPU.D-VIII/ 2010, tanggai 30 Desember 2010, Putusan Nomor 91-92/PHPU.D-IX/2011, tanggai 21 September 2012, Putusan Nomor 81/PHUP.D-VIII/2012 tanggai 12 November 2012 yang telah memberikan legal Standing kepada Bakal Pasangan Calon, meskipun Undang-Undang secara tegas menyatakan Bahwa yang dapat mengajukan Permohonan Perselisihan Hasil pemilihan Kepala Daerah ke Mahkamah Konstitusi adalah Pasangan Calon.
Bahwa Slkap Mahkamah dalam berbagai putusan tersebut diatas, ketika itu jelas berbeda dengan ketentuan Undang-Undang yang secara tegas menyebutkan bahwa Pemohon dalam sengketa PHPU Kepala Daerah adalah Pasangan Kepala Daerah, akan tetapi Mahkamah telah melakukan penerobosan hukum demi terwujudnya pemilihan kepala daerah yang demokratis dan berkuaitas dengan menjunjung tinggi hak-hak konstitusional seluruh warga negara, oleh karena itu terkait dengan adanya pembatasan persentase perolehan suara pasangan calon yang dapat mengajukan permohonan ke Mahkamah Konstitusi sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 158 ayat (2) UU 8/2015
juncto
Pasal 6 ayat (2) PM K 1/2015 dalam kasus tertentu harus haruslah dikesampingkan, hal tersebut sangatlah penting dllakukan Mahkamah Konstitusi, agar kewibaan Mahkamah Konstitusi tetap terus terpelihara dan karena konsistensinya dalam menerapkan pandangan hukumnya;Bahwa dalam permohonan
aquo
ketentuan Pasal 158 ayat (2) UU 8/2015juncto
Pasal 6 ayat (2) PMK 1/2015 tidaklah dapat diberlakukan secara mutlak, karena perolehan suara yang diraih oleh peraih suara terbanyak pertama yaitu 34.647 suara (calon nomor urut 2) dilakukan dengan banyak kecurangan dan keberpihakan Termohon, dimana peraih suara terbanyak (calon nomor urut 2) dan Termohon telah melakukan kejahatan Pemilu yang sangat merusak sendi- sendi demokrasi yang menyebabkan Pemohon kesulitan untuk dapat memenuhi ketentuan Pasal 158 ayat (2) UU 8/2015
juncto
Pasal 6 ayat (2) PMK 1/2015.BADAN BANTUAN HUKUM DAN ADVOKASI (BBHA) PUSAT
PDI P E R JU A N G A N
BADAN BANTUAN HUKUM DAN ADVOKASI (BBHA) PUSAT
PDI P E R JU A N G A N
k. Bahwa berdasarkan uraian tersebut diatas, menurut Pemohon, Pemohon memiliki kedudukan hukum
(lega/ standing)
untuk mengajukan Permohonan Permohonan Pembatalan Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kota Ternate Nomor 41/Kpts/KPU-KT-029.436358/Tahun 2015 Tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Dan Hasil Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Ternate Tahun 2015, tanggai 17 Desember 2015.III. TENGGANG WAKTU PENGAJUAN PERMOHONAN
a. Bahwa berdasarkan Pasal 157 ayat (5) UU 8/2015
junto
Pasal 5 ayat (1) PMK 1/2015, yang pada pokoknya menyatakan hanya dapat diajukan dalam jangka waktu paling lambat 3 x 24 (tiga kali dua puluh empat) jam sejak diumumkan penetapan perolehan suara hasil pemilihan oleh KPU/KIP Provinsi/Kabupaten /Kota.b. Bahwa Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kota Ternate Nomor 41/Kpts/KPU- KT-029.436358/Tahun 2015 Tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Dan Hasil Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Ternate Tahun 2015, tanggai 17 Desember 2015, yang diumumkan pada tanggai 17 Desember 2015 Pukul 17.00 WIT.
c. Bahwa berdasarkan uraian tersebut di atas, menurut Pemohon, permohonan Pemohon diajukan ke Mahkamah Konstitusi masih dalam tenggang waktu sebagaimana ditentukan oleh peraturan-perundang-undangan.
IV. POKOK PERMOHONAN
1. Bahwa berdasarkan penetapan hasil penghitungan suara oleh Termohon, perolehan suara masing-masing pasangan calon, sebagai berikut:
No. Nama Pasangan Calon Perolehan Suara
1. DR. Sudjud Siradjuddin dan Ir. Arifin Djafar, M.Si * 21.740
2. DR. H. Burhan Abdurahman, SH.MM dan Abdullah Tahir, SH 34.647 3. DR. H. Sidik Dero Siokona, M.Pd dan Diasman Abubakar, S.Aq 29.328 4. DR. H. A. Rachman Sulaiman, SH.MH dan Anwar 1.801
Jumlah Suara 87.516
(berdasarkan tabel diatas Pemohon berada di peringkat kedua dengan perolehan suara sebanyak 29.328 suara)
2. Bahwa PEMOHON sangat keberatan atas Hasil Penghitungan Suara Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Ternate Tahun 2015 yang dibuat oleh TERMOHON seperti yang tertuang Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kota Ternate Nomor 6
BADAN BANTUAN HUKUM DAN ADVOKASI (BBHA) PUSAT
PD I P E R JU A N G A N
41/Kpts/KPU-KT-029.436358/Tahun 2015 Tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Dan Hasil Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Ternate Tahun 2015, tanggai 17 Desember 2015
Jo
Berita Acara Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara di Tingkat Kota Dalam Pemilihan Walikota Dan Wakil Walikota Tahun 2015 tanggai 17 Desember 2015, karena telah terjadi pelanggaran-pelanggaran dan penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan secara Terstruktur, Sistematis dan Massif (TSM);3. Bahwa dalam Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Tahun 2015, telah tetjadi pelanggaran-pelanggaran dan penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan secara Terstruktur, Sistematis dan Massif (TSM), baik yang dilakukan oleh KPU Kota Ternate sebagai penyelenggara Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Ternate Tahun 2015 dan Termohon sangat berpihak terhadap Pasangan Calon nomor urut 2, disamping itu Pasangan Calon Nomor Urut 2 melakukan pelanggaran secara Terstruktur, Sistematis dan Massif (TSM) dalam upaya memenangkan Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Ternate Tahun 2015;
4. BEBERAPA PELANGARAN TERSEBUT DIANTARANYA:
A. Kecamatan Pulau H iri:
1. Penyaluran dana insentif kader posyandu kecamatan pulau Hiri pada seluruh kelurahan oleh dinas BPM, Kesehatan dan BKKBN rapat penyaluran disampaikan oleh dari ketiga instansi, kalau mau isentif anda naik harus tusuk no 2 pada tanggaL9 Desember 2015.
2. Bantuan dari Proyek Perikanan International Fund For Agricultural Development ( IFAD) yaitu :
a. penyaluran dari dinas perikanan kota ternate berupa alat perikanan terdiri dari kapal nelayan dan perangkat alat tangkap pada kelompok nelayan di tiga kelurahan yaitu kelurahan Mado, Togolobe dan Kelurahan Durari Isa.
b. Pembagian gantungan kunci dengan gambar no urut Paslon 2
c. Kepala Dinas Perikanan Kota Ternate menyatakan kalau mau tahun depan 2016 kalian semua dapat lagi bantuan dari pemerintah kota ternate maka pada tanggai 9 kalian semua harus menjoblos No 2 agar di tahun-tahun akan datang kalian masih dapat bantuan.
BADAN BANTUAN HUKUM DAN ADVOKASI (BBHA) PUSAT
PD I P E R JU A N G A N
d. pembagian bantuan modal untuk usaha pembuatan ikan asap untuk kelompok usaha ibu-ibu di Kecamatan pulau Hiri dan bantuan pemberian perahu dan mesin 15 PK yang disertai ajakan untuk memilih Paslon Nomor 2.
B. Kecam atan Ternate Selatan
1. Kelurahan Tobona TPS 1
- Jumlah pemilih tidak ada
- Jumlah seluruh hak pilih tidak ada
- Jumlah pemilih melebihi jumlah surat suara yang diterima
- Jumlah surat suara sah dan tidak sah tidak sama surat suara yang digunakan
TPS 2
- Jumlah pemilih melibihi jumlah surat suara yang diterima
- Jumlah surat suara yang digunakan tidak sesuai dengan jumlah pengguna hak pilih
- Form C-7 tidak ada dalam kotak suara TPS 3
- Jumlah pemilih melibihi jumlah surat suara yang diterima
- Jumlah surat suara yang digunakan tidak sesuai dengan jumlah surat suara yang digunakan
TPS 2
- DPTB 1 Tidak ada dalam data pemilih TPS 4
- Jumlah pemilih melibihi jumlah surat suara yang diterima 2. Kelurahan Kayu Merah
TPS 1
- Model CKWK tidak ditandatangani oleh KPPS dan pasangan calon dianggap sah oleh PANWAS Kecamatan PPS dan PPK
- Form C-7 tidak ada dalam kotak suara - Form C-l tidak dimasukan dalam amplop TPS 2
- Jumlah Pemilih melebihi surat suara yang diterima - Kotak suara tidak diberi label stiker KPU
TPS 6
- Surat suara tidak dimasukan kedalam amplop (Berhamburan) - Surat suara yang tidak digunakan tidak sesuai yang digunakan - Surat suara melebihi dua setengah persen
TPS 8
- Surat yang tidak digunakan tidak sesuai
BADAN BANTUAN HUKUM DAN ADVOKASI (BBHA) PUSAT
PD I P E R JU A N G A N
- Jumlah surat suara yang digunakan tidak sama dengan seluruh jumlah hak pilih dan jumlah suara sah dan tidak sah
3. Kelurahan Kelurahan Tanah Tinggi Barat
TPS 1
- Jumlah pemilih melebihi jumlah surat suara yang diterima TPS 3
- Form C-7 tidak ada dalam kotak, diberikan setelah skorsing - Jumlah pemilih melebihi surat suara yang diterima
- Surat suara yang tidak digunakan tidak sesuai dengan surat suara yang digunakan
TPS 4
- Data pemilih tidak sesuai dengan pengguna hak pilih
4. Kelurahan Kelurahan Gambesi
TPS 3
- Jumlah pemilih laki-laki dan perempuan tidak ada
- Jumlah seluruh hak pilih laki-laki dan perempuan tidak ada
- Jumlah seluruh pengguna hak pilih tidak sesuai dengan jumlah surat suara yang digunakan
- Jumlah surat suara yang tidak digunakan tidak melebihi surat suara yang digunakan
- Jumlah surat suara sah dan tidak sah tidak ada - Form C-7 tidak ada
TPS 4
- Jumlah pemilih melebihi jumlah surat suara yang diterima
5. Kelurahan Bastiong Karanee
TPS 1
- Jumlah pemilih melebihi surat suara yang diterima - Form C-7 tidak ada
TPS 7
- Form C-7 tidak ada
- Jumlah pemilih melebihi surat suara yang diterima TPS 8
- C-7 tidak ada
- Jumlah surat suara yang digunakan tidak sesuai dengan surat suara yang tidak digunakan
- Jumlah seluruh pengguna hak pilih tidak sesuai dengan surat suara yang digunakan
BADAN BANTUAN HUKUM DAN ADVOKASI (BBHA) PUSAT
PDI P E R JU A N G A N
- Tidak ada Form C-7 didalam kotak
- Jumlah pemilih melebihi jumlah surat suara yang diterima
6. Kelurahan Kelurahan Mangga Dua
TPS 1
- DPTB 2 melebihi surat suara cadangan TPS 2
- DPTB 1 dalam data pemilih tidak di cantumkan TPS 2
- DPTB 2 dalam data pemilih di cantumkan sementara penetapan DPTB 1 dari KPU tidak ada
- Jumlah pemilih laki-laki dan perempuan tidak di tulis
- Pengguna hak pilih DPT laki-laki dan perempuan tidak di tulis - Jumlah pemilihi melebihi surat suara yang diterima
- Surat suara yang tidak digunakan tidak ada
- Jumlah seluruh hal pilih tidak sesuai dengan jumlah suara sah dan tidak sah
- Form C-& tidak ada dalam kotak suara TPS 3
- DPTB 2 melebihi surat suara cadangan
- Jumlah pemilih melebihi jumlah surat suara yang di terima - Surat suara tidak di letakan dalam amplop
- PLANO c-1 tidak ada perolehan angka-angka TPS 4
- DPTB 2 jumlah pemilih melebihi jumlah surat suara yang diterima - Form C-7 tidak ada
TPS 6
- Jumlah pemilih melebihi surat suara yang diterima - Form C-7 tidak ada
TPS 7
- Jumlah seluruh pengguna hak pilih tidak sesuai dengan jumlah surat suara yang digunakan
- Jumlah surat suara yang tidak digunakan tidak sama dengan surat suara yang digunakan
- Semua Form C-1 milik saksi nomor urut satu, tiga dan empat ada tanda tipex kecuali Form C-1 milik saksi nomor urut dua
7. Kelurahan Tanah Tinggi
TPS 1
- Data pilih dan pengguna hak pilih sama pengguna hak pilih 305, surat suara yang digunakan 309
BADAN BANTUAN HUKUM DAN ADVOKASI (BBHA) PUSAT
PDI P E R JU A N G A N
- Pada saat kotak suara di anter ke orang yang sakit, saksi dari pasangan calon No. urut 1, No urut 3 dan No urut 4 tidak ikut, tetapi hanya saksi pasangan No urut 2 yang ikut
TPS 2
- Form C-7 tidak ada dalam kotak suara TPS 3
- Form C-7 tidak ada dalam kotak suara - DPTB-2 melebihi surat suara cadangan TPS 4
- Form C-7 tidak ada dalam kotak suara - DPTB-2 melebihi surat suara cadangan TPS 5
- Jumlah surat suara yang tidak digunakan melebihi dari jumlah surat suara yang digunakan
- Jumlah surat suara yang digunakan tidak sama dengan seluruh pengguna hak pilih
TPS 6
- Seluruh saksi pasangan calon tidak diberikan salinan DPT - Terjadi pencoblosan di bawah umur
8. Kelurahan Toboko
TPS 1
- DPTB tidak ditulis dalam data pemilih - Form C-7 tidak ada
TPS 3
- DPTB 1 ada sementara dalam SK KPU tidak ada
9. Kelurahan Bastiong Talangame TPS 1
- DPTB 1 tidak ditulis dalam data pemilih ( C-l KW K) - Jumlah pemilih melebihi jumlah surat suara yang diterima - Form C-7 tidak ada
TPS 2
- Form C-7 tidak ada
- Data pemilih surat suara yang diterima TPS 3
- Form C-7 tidak ada
- Data pemilih melebihi surat suara yang diterima TPS 4
- Form C-7 tidak ada
- Jumlah pemilih melebihi surat suara yang diterima
- Surat suara yang digunakan tidak sesuai dengan surat suara yang tidak digunakan
BADAN BANTUAN HUKUM DAN ADVOKASI (BBHA) PUSAT
PD I P E R JU A N G A N
TPS 5
- Jumlah surat suara yang digunakan tidak sesuai dengan jumlah surat suara yang tidak digunakan
- Form C-7 tidak ada TPS 7
- Form C-7 tidak ada dalam kotak
- Jumlah pemilih melebihi surat suara yang diterima
10. Kelurahan Jati
TPS 2
- Jumlah pemilih melebihi jumlah suara yang digunakan TPS 3
- Jumlah pemilih melebihi jumlah surat suara yang digunakan TPS 5
- Jumlah pemilih melebihi jumlah surat suara yang digunakan
11. Kelurahan Kalumata TPS 2
- Form C-7 tidak ada dalam kota suara
- Pengguna hak pilih DPTB 1, satu pemilih sementara DPTB 1 KPU tidak ada TPS 3
- Jumlah pemilih melebihi jumlah suara yang diterima - Jumlah surat suara yang tidak digunakan tidak sesuai TPS 7
- Pengguna hak pilih DPTB 1 dua puluh enam yang ditetapkan tidak ada - Jumlah surat suara yang tidak digunakan tidak sesuai
- Form C-7 tidak ada dalam kota suara TPS 8
- Pemilih DPTB 2 melebihi surat suara cadangan - Jumlah pemilih melebihi surat suara yang diterima TPS 9
- Jumlah surat suara tidak digunakan tidak sesuai TPS 11
- Jumlah pemlih melebihi surat suara yang diterima TPS 13
- Form C-7 tidak ada dalam kotan suara TPS 14
- Jumlah pemilih melebihi surat suara yang diterima TPS 15
- Form C-7 tidak ada dalam kota suara TPS 16
- Jumlah pemilih melebihi surat suara yang diterima
BADAN BANTUAN HUKUM DAN ADVOKASI (BBHA) PUSAT
PD I P E R JU A N G A N
12. Kelurahan Mangga Dua Utara TPS 1
- DPTB 2 melebihi surat suara cadangan
- Jumlah pemilih melebihi jumlah surat suara yang diterima - Jumlah surat suara yang tidak digunakan tidak sesuai TPS 2
- DPTB 2 melebihi surat suara cadangan
- Jumlah pemilih melebihi jumlah surat suara yang di terima TPS 4
- DPTB 2 melebihi surat suara cadangan
- Jumlah pemilih melebihi jumlah surat suara yang diterima
- Jumlah surat suara yang tidak digunakan tidak sesuai dengan surat suara yang digunakan
TPS 5
- Jumlah pemilih melebihi surat suara yang diterima - Jumlah DPTB 2 melebihi jumlah surat suara cadangan TPS 6
- Jumlah pemilih melebihi surat suara yang diterima - Jumlah DPTB 2 melebihi jumlah surat suara cadangan TPS 7
- Pengguna hak pilih dalam DPT tidak di tulis
- Jumlah surat suara yang tidak digunakan tidak sesuai dengan jumlah surat suara yang digunakan
TPS 10
- DPTB 2 melebihi surat suara cadangan
- Jumlah pemilih melebihi surat suara yang diterima
13. Kelurahan Ubo-Ubo TPS 2
- Form C-7 tidak ada dalam kotak suara TPS 3
- Jumlah data pemilih kosong TPS 4
- Data pengguna surat suara kosong - Segel surat suara terbuka/sobek TPS 5
- Jumlah surat suara yang digunakan tidak sesuai dengan jumlah suara hak pilih
TPS 6
- Form C-7 tidak ada dalam kotak suara
14. Kelurahan Sasa
- DPTB 1 data pemilih dicantumkan sementara data pemilih DPTB 1 yang di tetapkan KPU tidak ada
- Jumlah pemilih melebihi jumlah surat suara yang diterima
- Lampiran model C -l KWK perolehan suara calon menggunakan pensil TPS 2
- DPTB 1 dalam data pemilih di cantumkan sementara data pemilih DPTB 1 yang ditetapkan KPU tidak ada
TPS 3
- Jumlah pemilih DPTB 1 tidak ada sementara jumlah pemilih DPTB 1 yang ditetapkan KPU berjumlah 19
- Jumlah pemilih melebihi jumlah surat suara yang diterima TPS 4
- Jumlah pemilih DPTB 1 ada 6 sementara di tetapkan KPU tidak ada - Jumlah surat suara yang tidak di gunakan tidak sesuai dengan jumlah
surat suara yang digunakan TPS 5
- Jumlah pemilih melebihi jumlah surat suara yang diterima
C. Kecamatan Kota Ternate Tengah Kelurahan Malsaro
1. Di TPS 03 saat membuka kotak suara TPS 3 dan membuka amplop form c-kwk dalam kondisi tidak bersegel, berbeda dengan amplop yang di TPS yang lain
2. TPS 4 jumlah pengguna hak pilih dalam data pemilih melebihi jumlah suara yang sudah termasuk 2,5%
3. Di TPS 5 adanya ketidak sesuaian antara jumlah pemilih (286) dengan jumlah surat suara yang diterima termasuk cadangangan 2.5% (493). Pengguna DPTB-2 juga dipertanyakan dan PPK juga tidak memperlihatkan daftar hadir/ absen pemilih form C-2 dan jumlah data pemilih melebihi jumlah surat suara meski sudah ditambah 2,5%
Kelurahan Makasar Timur
1. Di TPS 1 data dan informasi dalam pembacaan form model Cl-KWK berbeda pada data pemilih yang sama dengan persuara hak pilih
2. Di TPS 2 data dan informasi dalam pembacaan model Cl-KWK oleh PPS berbeda pada data pemilih dan jumlah seluruh persuara hak pilih
3. Di TPS 3, angka partisipasi pemilih TPS 3 sangat minim saksi no 3 menolak perolehan suara di TPS ini karena berdasarkan informasi masarakat pemilih banyak yang tidak memperoleh undangan coblos dan jumlah DPTB 2 sebanyak 17 orang tanpa ada kejelasan identitas;
4. Di TPS 5 data dan informasi dalam model Cl-KWK terdapat data pemilih (DPT) dan pengguna hak pilih dalam angka yang sama yaitu 100% DPT dan tingkat partisipasi
14
BADAN BANTUAN HUKUM DAN ADVOKASI (BBHA) PUSAT
BADAN BANTUAN HUKUM DAN ADVOKASI (BBHA) PUSAT
PD I P E R JU A N G A N
pemilih dan Pengguna hak pilih (DPTB-1) juga menjadi keberatran sasi no3 karena tidak ada kejelasan absensi / daftar hadir pemilih kuga DPTB-2
5. Di TPS 6 jumlah DPTB-2 yang tidak jelas serta terdapat perbedaan angka pada jumlah seluruh pengguna hak pilih dengan jumlah surat suara yang digunakan
Kelurahan Marikrubu
1. TPS 02 Kel. Marikrubu Jumlah pemilih menggunakan KTP melampaui batas suara tambahan 25%. Jumlah seluruh pengguna haj pilih (1+2+3+4) 311 laki-laki sementara pemilih perempuan yang seharusnya 336 tapi tercatat 324.
2. Di TPS 3 Kelurahan Marikrubu terdapat jumlah penulisan angka pada pengguna hak pilih dalam PPT 297 laki-laki dan 301 perempuan seharusnya 143 laki-laki dan 170 perempuan total 313 bukan 598
Kelurahan Kota baru
1. Di TPS 1 adanya perubahan angka dengan menggunakan tip-ex (tidak dicoret) dan terjadi kesalahan dalam menjumlahkan seluruh pengguna hak pilih
Kelurahan Takoma
1. Di TPS 1, TPS 2 dan TPS 3 total pengguna hak pilih yaitu 19 orang dengan menggunakan pemilih tambahan 2 (DPTB-2) dengan menggunakan KTP; PPK tidak menunjukan daftar pemilih (absensi) sebagai bahan melakukan verifikasi keberadaan data pemilih;
Kelurahan Makasar Barat
1. Di TPS 1 terdapat perbedaan jumlah data suara DPT dan juga terjadi kesalahan angka dalam jumlah suara sah dan tidak sah pada poin 3
2. Di TPS 2 terdapat pengguna hak pilih dengan menggunakan DPTB-2 sebanyak 18 orang
3. Di TPS 3 terdapat pengguna hak pilih dengan menggunakan DPTB-2 sebanyak 15 orang
4. Di TPS 4 data DPT dengan menggunakan DPTB-2 yang sengaja diterimakan yaitu dengan total DPTB-2 yaitu 28 orang dan PPK tidak memperbolehkan saksi melihat form C-7
5. Di TPS 5 data DPTB-2 dengan jumlah 21 orang saksi meminta untuk memberikan / menunjukan daftar hadir form c-7 tetapi tidak diberikan/diperlihatkan
BADAN BANTUAN HUKUM DAN ADVOKASI (BBHA) PUSAT
PD I P E R JU A N G A N
6. Di TPS 6 terdapat perbedaan penghitungan hasil suara sah dan Data pemilihan DPTB-2 menggunakan KTP / identitas lain direncanakan oleh penyelenggara dengan jumlah 26 orang
Kelurahan Kota Baru
1. Di TPS 1 terdapat perubahan angka pada pengguna hak pilih atau DPT untuk laki- laki dan perempuan ( ketidaksesuaian data) dan jumlah pengguna hak pilih DPTB-2 yang tinggi serta
2. Di TPS 3 adanya Kesalahan pengisian jum lah data pilih DPT laki-laki 304 terdapat kesalahan administrasi serta tidak dihitung adanya pemilih berdasarkan DPTB-2 sejumlah 1 orang laki-laki
Kelurahan Tanah Raja
1. Di TPS 1 terjadi perbedaan data pengguna surat suara tidak sesuai, Ketidaksuaian jumlah surat suara yang di terima termasuk cadangan 2,5% (1+2+3+4) dengan jumlah surat suara dikembalikan / pemilih karena rusak / keliru coblos, jumlah surat suara yang tak digunakan dan jumlah suara yang digunakan
Kelurahan Muhajirin
1. Di TPS 3 terjadi kesalahan jumlah seharusnya dalam form model C-1KWK yang benar adalah 190
2. Di TPS 4 terdapat kesalahan pencatana angka di dalam data pemilih dan pengguna hak pilih berbeda dengan pengguna hak pilih
Kelurahan Takoma
1. Di TPS 3 dokumen model Cl-KWK rusak tidak sesuai prosedur dan terdapat tip-x serta kesalahan pengisian di DPTB-1 dan DPTB-2
Kelurahan Kalumpung
1. Di TPS 1 jumlah pengguna hak pilih point 4 ( DPTB-2) yang begitu besar yaitu total 65 orang.
2. Di TPS 4 terjadi perbedaan pada jumlah suara sah dan tidak sah
3. Di TPS 5 terdapat jumlah pemilih berdasarkan DPT-2 sebanyak 25 orang dan terdapat perbedaan pengisian form model cl-kwk untuk kolom jumlah seluruh suara sah dan jumlah seluruh suara tidak sah.
Kelurahan Moya Ternate Tengah
1. Di TPS 2 perbedaan jumlah pengguna hak pilih tetap (DPT) laki-laki 187 dan perempuan 163 dan terdapat selisih 5 suara dari jumlah yang benar yaitu
BADAN BANTUAN HUKUM DAN ADVOKASI (BBHA) PUSAT
PD I P E R JU A N G A N
seharusnya 350 serta terdapat pemilih berdasarkan DPTB-2 sebanyak 10 orang yang tidak jelas datanya/ daftar pemilih
Kelurahan Santiong
1. Di TPS 1 terdapat temuan KPPS tidak mencantumkan pengguna hak pilih dalam daftar DPT untuk laki-laki dan perempuan di model Cl-KWK
Kelurahan Gamalama
1. Di TPS 1 dan 2 terdapat Perbedaan antara dara pilih untuk DPPH dan DPTB-2 dengan hak pilih
2. Di TPS 2 terdapat perbedaan jumlah data penggunaan surat suara
PELANGGARAN DAN KECURANGAN YANG DILAKUKAN OLEH
PASANGAN CALON NOMOR URUT 2
1. Pada tanggai 18 atau 19 November 2015 jam 9 malam, bertempat di Kelurahan Sulamadaha tampak sejumlah kepala SKPD Kota Ternate turut hadir dalam kampanye terbatas paslon Burhan Abdullah dengan warga setempat. SKPD yang hadir diantaranya adalah Mujáis Walanda (Kabag Kesra), Yunus Yau (Kepala BKD), Ruslan Bian (Kadis Perikanan) dilaporkan oleh Panwas Kecamatan Pulau Ternate (berita Koran terlampir)
2. Pada tanggai 20 atau 21 November 2015 Panwaslu memanggil ketiga orang tersebut untuk dimintai keterangan dan klarifikasi atas laporan Panwas Kecamatan Pulau Ternate (berita Koran terlampir)
3. Pada tanggai 22 atau 23 November 2015 Panwaslu Kota Ternate mengeluarkan hasil kajian hokum atas laporan tersebut bahwa kehadiran ketiga orang PNS dalam kampanye terbatas itu tidak terdapat unsur-unsur pelanggaran (berita Koran terlampir)
4. Namun pada hari pemungutan suara di tanggai 9 November 2015 sekitar jam 15.00 bertempat di pusat data quick count pasangan calón Burhan- Abdullah yang terletak di aula Veliya hotel milik Burhan Abdurahman tampak hadir sejumlah kepala SKPD memberikan ucapan selamat kepada Burhan Abdullah atas hasil perolehan suara yang diraih kedua pasangan itu. Padahal dalam UU ASN dan Peraturan Pemerintah No.53 Tahun 2015 melarang dan memberikan sanksi tegas kepada PNS yang terlibat secara aktif mulai dari awai tahapan hingga selesai pilih hitung dan ditegaskan oleh MENPAN-RB melalui surat edaran nomor B/2355/M.PAN-RB/07/2015. Terlampir bukti foto sejumlah Kepala SKPD dan Kepala Bidang dalam lingkungan Pemerintah Kota Ternate
BADAN BANTUAN HUKUM DAN ADVOKASI (BBHA) PUSAT
PD I P E R JU A N G A N
5. H-3 sejumlah anggota KPPS diganti oleh PPS meski pergantian itu adalah kewenangan PPS akan tetapi akibat dari pergantian itu memunculkan protes masyarakat yang diwujudkan dengan pemboikotan kantor lurah Gambesi dan Kalumata. Dan di hari yang sama di kelurahan Tanah Tinggi ditemukan ada ketua KPPS dan anggota KPPS adalah orang tua dan anak yang diduga pendukung paslon nomor urut 2 (terlampir SK, SK perubahan dan bukti kliping Koran)
6. Bahwa pada saat pendistribuan formulir C6/undangan pemilih tidak dibagikan secara maksimal dan terkesan sengaja ataupun terdapat unsur kelalaiannya sehingga formulir C6 itu banyak yang dikembalikan kepada KPUD Ternate. Meski demikian apapun alasannya dengan tidak dibagikan form C6 membuat angka partisipasi pemilih menjadi berkurang dan mengakibatkan kecilnya angka perolehan suara seluruh pasangan calon. Tapi paling tidak hal ini telah membuktikan terjadi kejahatan hak-hak konstitusional yang dilakukan oleh penyelenggara di seluruh tingkatan.
7. Bahwa di hari pilih hitung pada jam 10.30 Yunus Yau Kepala BKD kota Ternate sudah mengetahui hasil perolehan suara di Kecamatan Batang Dua yang disebarkan melalui Facebook yang perolehan suara itu sesuai dengan hasil rekapitulasi diseluruh TPS setempat padahal dalam peraturan PKPU No.10 Tahun 2015 pasal 3 ayat 3 menjelaskan bahwa pemungutan suara dilaksanakan pukul 07.00 sampai dengan pukul 13.00 (bukti status Facebook Yunus Yau terlampir)
8. Bahwa ada banyak dugaan keterlibatan camat dan lurah dalam mendukung dan mengarahkan masyarakat pemilih untuk memilih pasangan calon omor urut 2 yang dilaporkan kepada PANWASLU Kota Ternate (bukti laporan dan berita Koran terlampir)
V. PETITUM
Berdasarkan seluruh uraian sebagaimana tersebut diatas, Pemohon memohon kepada Mahkamah Konstitusi untuk menjatuhkan putusan sebagai berikut:
1. Mengabulkan permohonan Pemohonan untuk seluruhnya;
2. Membatalkan Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kota Ternate Nomor 41/Kpts/KPU-KT-029.436358/Tahun 2015 Tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Dan Hasil Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Ternate Tahun 2015, tanggai 17 Desember 2015 pukul 17.00 WIT;
3. Mendiskualifikasi Pasangan calon Nomor Urut 2. DR. H. Burhan Abdurahman, SH.MM dan Abdullah Tahir, SH sebagai Pasangan Calon Peserta Peserta Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Ternate Tahun 2015.
BADAN BANTUAN HUKUM DAN ADVOKASI (BBHA) PUSAT
PD I P E R JU A N G A N
4. Menetapkan Pemohon sebagai Pemenang Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Ternate Tahun 2015.
atau
5. Memerintahkan kepada Termohon untuk melaksanakan Pemungutan Suara Ulang (PSU) di seluruh TPS di Kota Ternate.
6. Memerintahkan kepada Komisi Pemilihan Umum Kota Ternate untuk melaksanakan putusan ini.
Atau
Apabila Mahkamah Konstitusi berpendapat lain, mohon putusan yang seadil- adilnya
(ex aequo et bono)
Hormat kami,
KUASA HUKUM PEMOHON
M.YAMIN MUCH LIS, SH
PASKA MARIA TOM BI, SH.MH. M.PILIPUS TARIGAN, SH., MH.
Hal :
BADAN BANTUAN HUKUM DAN ADVOKASI (BBHA) PUSAT
PDI PERJUANGAN
Ha ri
Ténggat
Jzrr»
V
\> J^^UCV) 2ol-fe,akarta' 2 Januari 2016
Permohonan Permohonan Pembatalan Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kota Ternate Nomor 41/Kpts/KPU-KT-029.436358/Tahun 2015 Tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Penghitungan 'Perolehan Suara Dan Hasil Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Ternate Tahun 2015, tanggai 17 Desember 2015 (Perbaikan).
Kepada Yang Terhormat,
Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Jl.Medan Merdeka Barat Nomor 6 Jakarta Pusat.
Yang bertandatangan dibawah ini :
1. Nama : DR. H. SID IK DERO SIOKONA, M.Pd. Warga Negara : Indonesia
Alamat : Kelurahan Bastiong, Ternate Selatan, Kota Ternate Nomor tlp/HP : 021-3518462/081380704988
Email : [email protected]
2. Nama : H. DJASMAN ABUBAKAR, S.Ag. Warga Negara : Indonesia
Alamat : Kelurahan Tanah Tinggi, Ternate Selatan, Kota Ternate Nomor tlp/HP : 021-3518462/081380704988
Email : [email protected]
Pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota pada Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Ternate, Provinsi Maluku Utara Tahun 2015, Nomor Urut 3, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggai 19 Desember 2015 dalam hal ini memberikan kuasa kepada :
i
Perkantoran Golden Centrum, Jl. Majapahit 26, Blok AG, Jakarta Pusat 10160
1. SIRRA PRAYUNA, SH. 16. IMRAN MAHFUDI, SH.
2. DIARSON LUBIS, SH. 17. PASKA MARIA TOMBI, SH.MH. 3. YANUAR PRAWIRA WASESA, SH., MSi, MH. 18. B A D R U L M U N IR , S.A g, SH., CLA. 4. HOLDEN MAKMUR ATM A WID J AJ A, SH., MH. 1 9. RIDWAN DARMAWAN, SH. 5. SAYED MUHAMMAD MULYADI, SH. 20. M. NUZUL WIBAWA, S.Ag., MH.
6. EDISON PANJAITAN, SH. 21. AZIZ FAHRI PASARIBU, SH. 7. SUDIYATMIKO ARIBOWO, SH.MH. 22. MUHAMMAD IBNU, SH.
8. TANDA PERDAMAIAN NASUTION, SH. 23 OCTIANUS SH 9. TISYE ERLINA YUNUS, SH., MM. £ ACE KURNIA, S.Ag. 10. PATUAN SINAGA, SH.MH. 25 ARIES SURYA SH
11. SIMEON PETRUS, SH. 26. BENNY HUTABARAT, SH. 12. HARTONO TANUWIDJAJA, S.H, SE., AK., M.H. 27. DINI FITRIYANI, SH .,C .L .A 13. MAGDA WIDJAJANA, SH. 28 RIZKA SH
14. SANDI EBENEZER SITUNGKIR, S.H, M.H. 29 FUAD ALHADI SH
15. M.PILIPUS TARIGAN, SH., MH. 3 0! M.YAMIN MUCHLIS, SH.
Kesemuanya adalah Advokat dan Konsultan Hukum yang tergabung dalam "BADAN BANTUAN HUKUM DAN ADVOKASI (BBHA) PUSAT DPP PDI PERJUANGAN" yang berkedudukan di Perkantoran Golden Centrum Jl. Majapahit 26 Blok AG Jakarta Pusat 10160, Telepon : 021-3518457,021-3518462, fax : 021-3510479, email : [email protected], dalam hal ini masing-masing dapat bertindak baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama yang selanjutnya disebut sebagai "Penerima Kuasa".
Selanjutnya disebut sebagai... PEMOHON. Terhadap
Komisi Pemilihan Umum Kota Ternate, yang berkedudukan di Kalumata Puncak, Ternate Selatan, Kota Ternate.
Selanjutnya disebut sebagai...TERMOHON.
Dalam hal ini mengajukan permohonan kepada Mahkmah Konstitusi perihal Perselisihan Penetapan Perolehan Suara Hasil Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Ternate Tahun 2015 berdasarkan Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kota Ternate Nomor 41/Kpts/KPU-KT-029.436358/Tahun 2015 Tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Dan Hasil Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Ternate Tahun 2015, tanggai 17 Desember 2015 yang diumumkan pada hari Kamis tanggai 17 Desember 2015 pukul 17.00 WIT.
I. KEWENANGAN MAHKAMAH KONSTITUSI
1. Bahwa berdasarkan Pasal 157 ayat (3) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor
1 Tahun 2014 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota menjadi Undang-Undang, perkara perselisihan penetapan perolehan suara hasil pemilihan diperiksa dan diadili oleh Mahkamah Konstitusi sampai dibentuknya badan peradilan khusus.
2. Bahwa Pemohonan Pemohon adalah perkara perselisihan penetapan perolehan suara hasil pemilihan calon Walikota dan Wakil Walikota Ternate. 3. Bahwa berdasarkan uraian tersebut diatas, menurut Pemohon Mahkamah
Konstitusi berwenang memeriksa dan mengadili perkara perselisihan penetapan perolehan suara hasil pemilihan Calon Walikota dan Wakil Walikota Tahun 2015.
II. KEDUDUKAN HUKUM (LEGAL STANDING) PEMOHON
1. Bahwa berdasarkan Pasal 2 huruf a dan Pasal 3 ayat (1) huruf e Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 1 Tahun 2015 tentang pedoman beracara dalam Perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota.
2. Bahwa berdasarkan Keputusan KPU Kota Ternate Nomor 14 /KPTS/KPU-TTE 029.436358/2015 Tentang Penetapan.-Pasangan Calon Yang Memenuhi Syarat Sebagai Peserta Pemilihan Walikota Dan Wakil Walikota Ternate Tahun 2015 tanggai 24 Agustus 2015, Pemohon ditetapkan sebagai Penetapan Pasangan Calon Yang Memenuhi Syarat Sebagai Peserta Pemilihan Walikota Dan Wakil Walikota Ternate Tahun 2015.
3. Bahwa berdasarkan Keputusan KPU Kota Ternate Nomor 15 /KPTS/KPU-TTE 029.436358/2015 Tentang Penetapan Nomor Urut Pasangan calon Peserta Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Ternate Tahun 2015 bertanggal 26
Agustus 2015, Pemohon adalah Peserta Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Ternate Tahun 2015, dengan Nomor Urut 3;
4. Bahwa berdasarkan Pasal 158 ayat (2) UU 8/2015
juncto
Pasal 6 ayat (2) PMK 1/2015 , Pemohon mengajukan permohonan pembatalan Penetapan Perolehan Suara Hasil Pemilihan Calon Bupati, dengan ketentuan sebagai berikut:No. Jumlah Penduduk Perbedaan Perolehan Suara berdasarkan Penetapan Perolehan Suara Hasil Pemilihan
oleh KPU/KIP Kabupaten/Kota
1. <_250.000 2 %
2. > 250.000-500.000 1, 5 % 3. > 500.000-1.000.000 1 %
4. > 1.000.000 0,5 %
5. Bahwa Pemohon sebagai pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota Ternate dengan jumlah penduduk 220.539 jiwa. Perbedaan perolehan suara antara Pemohon dengan pasangan calon peraih suara terbanyak berdasarkan penetapan hasil penghitungan suara oleh Termohon paling banyak sebesar 2 %.
6. Bahwa Pemohon memperoleh sebanyak 29.328 suara, sedangkan pasangan calon peraih suara terbanyak 34.647 suara. Sehingga perolehan suara antara Pemohon dengan pasangan calon peraih suara terbanyak terdapat selisih sejumlah 5.319 suara atau sebesar 6 %.
7. Bahwa perolehan suara yang diraih oleh peraih suara terbanyak 34.647 suara (calon nomor urut 2) dilakukan dengan banyak kecurangan dan keberpihakan Termohon, dimana peraih suara terbanyak (calon nomor urut 2) dan Termohon telah melakukan kejahatan Pilkada yang sangat merusak sendi-sendi demokrasi.
8. Dengan demikian, menurut Pemohon, Pemohon telah berusaha memenuhi memenuhi ketentuan Pasal 158 ayat (2) UU huruf a 8/2015 juncto Pasal 6 ayat (2) huruf a PMK 1/2015, akan tetapi pelanggaran yang dilakukan peraih perolehan suara terbanyak (calon nomor urut 2) dilakukan secara terstruktur, sistematis dan massif yang menyebabkan Pemohon tidak dapat memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158 ayat (2) huruf a UU 8/2015 juncto Pasal 6 ayat (2) huruf a PMK 1/2015. Disamping itu Termohon juga melakukan banyak pelanggaran yang dilakukan secara terstruktur, sistematis dan massif sehingga merugikan Pemohon dan menguntungkan peraih perolehan suara terbanyak (calon nomor urut 2), hal itu menyebabkan Pemohon kesulitan untuk dapat memenuhi ketentuan Pasal 158 ayat (2) huruf a UU 8/2015 juncto Pasal 6 ayat (2) huruf a PMK 1/2015.
9. Bahwa dalam pertimbangan hukum Perkara Nomor 41/PHPU.D-VI/2008, Mahkamah menyatakan bahwa: "----Dengan demikian, tidak satupun Pasangan Calon Pemilihan Umum yang boleh diuntungkan dalam perolehan suara akibat terjadinya pelanggaran konstitusi dan prinsip keadilan dalam penyelenggaraan Pemilihan Umum
—,
maka Mahkamah memandang perlu menciptakan terobosan guna memajukan Demokrasi dan melepaskan diri dari kebiasaan praktik pelanggaran sistimatis, terstruktur, dan masif seperti perkara a quo')10. Bahwa, demikian pula dalam Pertimbangan Hukum Perkara Nomor 57/PHPU.D- VI/2008, Mahkamah menyatakan bahwa "--berdasarkan Konstitusi dan
Undang-Undang MK yang menempatkan Mahkamah sebagai pengawal konstitusi, Mahkamah berwenang memutus perkara pelanggaran atas prinsip-prinsip Pemilu dan Pemiiukada yang diatur daiam UUD 1945 dan UU Nomor 32 Tahun 2004". Selain itu Mahkamah juga pernah memutus terkait perkara sengketa PHPUD, dengan pertimbangan hukum bahwa dalam mengawal konstitusi, Mahkamah tidak dapat membiarkan dirinya dipasung oleh keadilan Prosedural (Procedural justice) semata-mata, melainkan juga keadilan substansial;
11.Mahkamah sebagai lembaga peradilan menjadi lebih tepat jika mengadili "hasil pemilihan umum" dan bukan sebagai peradilan terhadap angka hasil penghitungan suara, melainkan sebagai peradilan yang mengadili masalah- masalah yang juga terjadi dalam proses pelaksanaan Pemilu dan Pemilukada (vide Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 87/PHPU.D-X/2012 paragraf pertama halaman 147);
12. Bahwa berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi yang termuat dalam beberapa putusan Mahkamah terkait dengan kedudukan hukum
(legal standing)
diantaranya putusan Putusan Nomor 196-197-198/PHPU.D-VIII/2010, tanggai 25 November 2010, Putusan Nomor 218-219-220-221/PHPU.D-VIII/ 2010, tanggai 30 Desember 2010, Putusan Nomor 91-92/PHPU.D-IX/2011, tanggai 21 September 2012, Putusan Nomor 81/PHUP.D-VIII/2012 tanggai 12 November 2012 yang telah memberikan legal Standing kepada Bakal Pasangan Calon, meskipun Undang-Undang secara tegas menyatakan Bahwa yang dapat mengajukan Permohonan Perselisihan Hasil pemilihan Kepala Daerah ke Mahkamah Konstitusi adalah Pasangan Calon.
13. Bahwa Sikap Mahkamah dalam berbagai putusan tersebut diatas, ketika itu jelas berbeda dengan ketentuan Undang-Undang yang secara tegas menyebutkan bahwa Pemohon dalam sengketa PHPU Kepala Daerah adalah Pasangan Kepala Daerah, akan tetapi Mahkamah telah melakukan penerobosan hukum demi terwujudnya pemilihan kepala daerah yang demokratis dan berkuaitas dengan menjunjung tinggi hak-hak konstitusional seluruh warga negara, oleh karena itu terkait dengan adanya pembatasan persentase perolehan suara pasangan calon yang dapat mengajukan permohonan ke Mahkamah Konstitusi sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 158 ayat (2) huruf a UU 8/2015
juncto
Pasal 6 ayat (2) huruf a PM K 1/2015 dalam kasus tertentu harus haruslah dikesampingkan, hal tersebut sangatlah penting dilakukan Mahkamah Konstitusi, agar kewibaan Mahkamah Konstitusi tetap terus terpelihara dan karena konsistensinya dalam menerapkan pandangan hukumnya;14. Bahwa demi Hak Konstitusional PEMOHON dan sesuai dengan fakta-fakta yang terjadi pada pentahapan pemungutan dan perhitungan suara begitu banyak pelanggaran yang dilakukan, baik oleh Pasangan Calon Nomor Urut 2 DR. H. Burhan Abdurahman, SH.MM dan Abdullah Tahir, SH, maupun oleh Penyelenggara Pemilihan, yaitu mulai dari KPPS, PPK dan KPU Kota Ternate, dimana pelanggaran-pelanggaran tersebut telah dilaporkan secara resmi kepada Panwas Kecamatan dan Panwas Kota Ternate tetapi sampai dengan waktu rekapitulasi di tingkat KPU Kota Ternate, Panwas Kecamatan maupun Panwas Kota Ternate tidak pernah melakukan tindak lanjut maupun pengkajian terhadap Laporan PEMOHON sebagaimana diatur dalam Pasal 134 ayat (5) UU No. 8
Tahun 2015 tentang Perubahan atas UU No. 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU No. 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota Menjadi Undang-Undang menyebutkan bahwa "Dalam ha! laporan pelanggaran Pemilihan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) telah dikaji dan terbukti kebenarannya, Bawaslu, Bawaslu Provinsi, Panwas Kabupaten/Kota, Panwas Kecamatan, PPL, dan Pengawas TPS wajib menindaklanjuti laporan pa/ing iama 3 (tiga) hari setelah laporan diterima".
15. Bahwa atas kelalaian, ketidak patutan dan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh Panwas Kecamatan dan Panwas Kota Ternate tersebut dan demi Hak Konstitusional PEMOHON maka PEMOHON mengajukan Permohonan Perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Ini ke Mahkamah Konsitusi untuk dapat memeriksa dan mengadilinya sesuai dengan Kewenagan Mahkamah dan Asas Hukum Acara Mahkamah Konstitusi yang dijadikan dasar hukum dan pedoman dalam beracara antara lain, yaitu Asas Ius Curia Novit, Pasal 16 UU Kekuasaan Kehakiman menyebutkan bahwa "Pengadilan Tidak Boleh Memeriksa, Mengadili dan Memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalil bahwa hukum tidak ada atau kurang jetas melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya. Dengan kata lain bahwa Mahkamah dianggap mengetahui hukum yang diperlukan. Mahkamah tidak dapat menolak memeriksa, mengadili dan memutus setiap perkara yang
diajukan dengan alasan bahwa hukumnya tidak ada atau hukumnya kurang jelas".
16. Bahwa dalam permohonan aquoketentuan Pasal 158 ayat (2) huruf a UU 8/2015 juncto Pasal 6 ayat (2) huruf a PMK 1/2015 tidaklah dapat diberlakukan secara mutlak, karena perolehan suara yang diraih oleh peraih suara terbanyak pertama yaitu 34.647 suara (calon nomor urut 2) dilakukan dengan banyak kecurangan dan keberpihakan Termohon, dimana peraih suara terbanyak (calon nomor urut 2) dan Termohon telah melakukan kejahatan Pilkada yang sangat merusak sendi-sendi demokrasi yang menyebabkan Pemohon kesulitan untuk dapat memenuhi ketentuan Pasal 158 ayat (2) UU 8/2015 junctoPasal 6 ayat (2) huruf a PMK 1/2015.
17. Bahwa berdasarkan uraian tersebut diatas, menurut Pemohon, Pemohon memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan Permohonan Permohonan Pembatalan Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kota Ternate Nomor 41/Kpts/KPU-KT-029.436358/Tahun 2015 Tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Dan Hasil Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Ternate Tahun 2015, tanggai 17 Desember 2015.
III. TENGGANG WAKTU PENGAJUAN PERMOHONAN
1. Bahwa berdasarkan Pasal 157 ayat (5) UU 8/2015 junto Pasal 5 ayat (1) PMK 1/2015, yang pada pokoknya menyatakan hanya dapat diajukan dalam jangka waktu paling lambat 3 x 24 (tiga kali dua puluh empat) jam sejak diumumkan penetapan perolehan suara hasil pemilihan oleh KPU/KIP Provinsi/Kabupaten /Kota.
2. Bahwa Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kota Ternate Nomor 41/Kpts/KPU-KT- 029.436358/Tahun 2015 Tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Penghitungan
2015, tanggai 17 Desember 2015, yang diumumkan pada tanggai 17 Desember 2015 Pukul 17.00 WIT.
3. Bahwa berdasarkan uraian tersebut di atas, menurut Pemohon, permohonan Pemohon diajukan ke Mahkamah Konstitusi masih dalam tenggang waktu sebagaimana ditentukan oleh peraturan-perundang-undangan.
IV. POKOK PERMOHONAN
1. Bahwa berdasarkan penetapan hasil penghitungan suara oleh Termohon, perolehan suara masing-masing pasangan calon, sebagai berikut :
No. Nama Pasangan Calon Perolehan Suara
1. DR. Sudjud Siradjuddin dan Ir. Arifin Djafar, M.Si 21.740
2. DR. H. Burhan Abdurahman, SH.MM dan Abdullah Tahir, SH 34.647 3. DR. H. Sidik Dero Siokona, M.Pd dan Djasman Abubakar, S.Ag 29.328 4. DR. H. A. Rachman Sulaiman, SH.MH dan Anwar 1.801
Jumlah Suara 87.516
(berdasarkan tabel diatas Pemohon berada di peringkat kedua dengan perolehan suara sebanyak 29.328 suara)
2. Bahwa PEMOHON sangat keberatan atas Hasil Penghitungan Suara Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Ternate Tahun 2015 yang dibuat oleh TERMOHON seperti yang tertuang Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kota Ternate Nomor 41/Kpts/KPU-KT-029.436358/Tahun 2015 Tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Dan Hasil Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Ternate Tahun 2015, tanggai 17 Desember 2015
Jo
Berita Acara Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara di Tingkat Kota Dalam Pemilihan Walikota Dan Wakil Walikota Tahun 2015 tanggai 17 Desember 2015, karena telah terjadi pelanggaran-pelanggaran dan penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan secara Terstruktur, Sistematis dan Massif (TSM);3. Bahwa dalam Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Tahun 2015, telah terjadi pelanggaran-pelanggaran dan penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan secara Terstruktur, Sistematis dan Massif (TSM), baik yang dilakukan oleh KPU Kota Ternate sebagai penyelenggara Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Ternate Tahun 2015 dan Termohon sangat berpihak terhadap Pasangan Calon nomor urut 2, disamping itu Pasangan Calon Nomor Urut 2 melakukan pelanggaran secara Terstruktur, Sistematis dan Massif (TSM) dalam upaya memenangkan Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Ternate Tahun 2015;
ADAPUN PELANGARAN YANG DILAKUKAN OLEH TERMOHON UNTUK MEMENANGKAN PASANGAN CALON NOMOR URUT 2 APALAH SEBAGAI BERIKUT:
A. Pihak penyelenggara KPU Kota Ternate dan Panwas Kota Ternate sejak awai sudah berpihak kepada pasangan calon incumbent no urut 2. Hal ini dapat dibuktikan melalui proses sebagai berikut:
4. Bahwa proses pencetakan surat suara yang sudah menyalahi aturan oleh KPU Ternate dengan merubah
specimen.
KPU Kota Ternate tidak sesuai dengan berita acara nomor 54/BA/XI/2015. (atas pelanggaran tersebut sudah dilaporkan ke Bawaslu dan DKPP Tertanggal, Kamis 26 November 2015, pukul 12.00 wit. Pengaduan No. 230/i-p/L-DKPP/2015);5. Bahwa Sekretaris KPU memiliki hubungan keluarga yang sangat erat dengan calon walikota nomor urut 2 (Ipar). Ketidak independen dan keberpihakan sekretaris KPU tersebut secara masif sangat berpengaruh terhadap proses dan tahapan terkait jenis, standar dan kebutuhan perlengkapan penyelenggaraan Pemilihan. Diantaranya :
a. Sekretaris KPU terindikasi mengatur proses pelelangan proyek tender pengadaan surat suara dan formulir pemilu;
b. Sekretaris KPU tidak melaksanakan hasil keputusan validasi surat suara yang tertuang dalam berita acara yang sudah ditandatangani oleh seluruh pihak terkait;
c. Sekretaris KPU mengacaukan kondisi Pasangan Calon lain selain nomor 2, dengan menyampaikan informasi fiktif terkait kondisi specimen desain foto surat suara yang dinyatakan buram (tidak sesuai hasil validasi terakhir) dan mendesak pasangan calon lain untuk mengganti desain foto melalui email. Informasi yang terkesan sangat mendesak tersebut disampaikan secara inprosedural (via telpon dan diwaktu istirahat pukul 00:15) sehingga mengakibatkan kepanikan di pihak masing-masing PASLON;
d. Bahwa tindakan penyelenggara tersebut disengaja dengan tujuan menjebak pasangan calon nomor 1, 3 dan 4 agar turut mengganti desain foto dan merubah specimen yang sudah divalidasi.
B. Proses Pemenang Tender Pengadaan Surat Suara dan Formulir Pemilu sarat muatan kolusi, nepotisme dan rekayasa di internal sekretariat
KPU serta pihak dari Tim PASLON Nomor 2 :
6. Bahwa pemilik Perusahan Swasta (Pihak ke-3) pemenang tender pengadaan surat suara dan formulir pemilu, memiliki hubungan keluarga dengan pihak Sekretariat KPU dan Tim pasangan Nomor urut
2 diantaranya :
a. Pemilik CV. LIMAS (pemenang tender pencetakan surat suara) Sdr. MUHRID SUMADAYO adalah suami dari Sdri. KRISTIN HOFELIN/ Bendahara APBN pada sekretariat KPU Kota Ternate yang juga memiliki hubungan keluarga (ipar) dengan Koordinator Tim Paslon Nomor 2 (Sdr. MUBIN A. WAHID);
b. Pemilik CV. SURYATI INDAH (pemenang tender pencetakan formulir dan sertifikat pemilihan) Sdr. RUSLI HUSEN memiliki l i
hubungan keluarga dekat (paman) dari sdr. DJABIR SALIM, S.Pd (PPK APBD di Sekretariat KPU Kota Ternate).
7. Bahwa Sdr. DJABIR SALIM yang menandatangani surat Persetujuan Cetak Surat Suara dimana secara inprosedural melakukan perubahan desain foto pasangan calon nomor 2 dan mengabaikan hasil validasi serta meminta CV. LIMAS untuk menindak lanjuti proses pencetakan surat suara sementara KPU belum melaksanakn rapat klarifikasi terkait komplain dari PASLON Nomor 1, 2 dan 3.
8. Bahwa tindakan inprosedural yang dilakukan sdr. DJABIR SALIM ini secara terstruktur dan masiv merupakan perintah dari Sekretaris KPU Sdr. RAJAK HUSEN.
C. Adanya Nepotisme Oknum Panwas Kota Ternate dan terindikasi berpihak kepada PASLON nomor 2, sebagai berikut:
9. Bahwa Panwas tidak pro-aktif atas adanya laporan pelanggaran yang dilakukan Paslon nomor 2 khususnya terkait keterlibatan oknum PNS dan Pejabat Daerah dalam Politik praktis dengan tidak menindak lanjuti rekomendasi ke Pejabat Walikota, termasuk pemilih yang memilih lebih dari 1 (satu ) kali, yang diketahui Panwas harus dilakukan Pemungutan suara ulang di TPS tersebut (Bukti P-28)
10. Bahwa ketidak-aktifan tersebut juga terjadi sampai adanya pelanggaran-pelanggaran pada saat pemasangan alat peraga yang
provokatif dan tidak beretika.
11. Bahwa dalam rapat terkait klarifikasi KPU atas complain Tim Paslon menyangkut validasi surat suara, pihak Panwas yang telah menandatangani berita acara validasi (Sdr. WAHYUNI BAILUSY) turut membenarkan rencana perubahan desain surat suara dan melanggar hasil validasi.
12. Bahwa Sdri. WAHYUNI BAILUSY (anggota Panwas Kota Ternate) adalah adik kandung dari Ketua Tim Pemenangan Paslon Nomor 2 (Sdr. MUHAJIRIN BAILUSY).
D. KPU KOTA TERNATE MELAKUKAN PELANGGARAN TERHADAP PROSES, TAHAPAN VERIFIKASI DAN PEMUTAKHIRAN DATA PEMILIH. HAL INI DIBUKTIKAN MELALUI TINDAKAN KPU KOTA TERNATE SEBAGAI BERIKUT :
13.Daftar pemilih tetap yang telah ditetapkan oleh KPU Kota Ternate Tertanggal 2 Oktober 2015, bernomor 42/BA/X/2015 sejumlah 151.920. sementara hasill rekapan form Db KWK berdasarkan form C l KWK, jumlahnya terdapat perbedaan yaitu 151.879, terdapat selisih 76 pemilih.
14.Jumlah surat suara yang di cetak oleh pihak percetakan sesuai persetujuan cetak surat suara oleh KPU Kota Ternate sejumlah, untuk surat suara 151.920. surat suara cadangan 2,5% sejumlah 3.798. jika ditotal antara surat suara dan surat suara cadangan 2,5% jumlahnya yaitu 155.718. Akan tetapi, dalam hasil rekapitulasi Form DB KWK oleh KPU Kota Ternate berbeda jumlahnya yaitu 153.044. terdapat selisih surat suara yaitu 2674.
15. Bahwa hasil rekapan bedasarkan Form C l KWK data pemilih tambahan DPTbl sejumlah 404 pemilih, lebih besar dari jumlah DPTbl yang ditetapkan oleh Pihak KPU Kota Ternate sejumlah 179 pemilih. KPU Kota Ternate tidak sesuai dengan berita acara nomor 49/BA/X/2015 tentang rapat pleno rekapitulasi pemilih tetap tambahan 1 (DPTbl). Sementara dalam hasil rekapan Form DB KWK hasil pleno KPU Kota Ternate, jumlah DPTbl yaitu sebanyak 202 pemilih.
16.Terdapat 3.670 pemilih yang tidak dapat dipertanggung jawabkan didalam DPTb2 karena tidak di cantumkan dalam form C7 dan Form ATb-2.
17. Pihak penyelenggara secara terstruktur dan sistimatis pada saat proses pleno rekapilutasi di tingkat PPK, saksi menemukan di dalam kotak suara tidak terdapat formulir C7, dan formulir model A.Tb2 atau absensi daftar pemilih. Saksi menyampaikan keberatan dan meminta penyelengara PPK menunjukan formulir C7 atau absensi daftar hadir pemilih dan formulir model A.Tb2 (DPTb2), akan tetapi tidak diberikan
dan juga tidak terdapat di dalam kotak suara.
(bukti rekaman
video).
18.Terdapat pengakuan dari anggota panwascam dan ketua PPK bahwa data penguna hak pilih dengan mengunakan DPTbl dan DPTb 2, merupakan hal yang sudah direncanakan terlebih dahulu oleh pihak penyelenggara,
(bukti rekaman video pernyataan anggota
panwascam dan ketua PPK).
Kondisi ini membenarkan bahwa pihak penyelenggara secara sengaja dan menyalahi prosedur melakukan tindakan terstruktur, slstimatis dan masif, membiarkan penguna hak pilih tambahan (DPTbl dan DPTb2) tanpa memiliki kejelasan identitas yang jelas-jelas menyalahi aturan perundang- undangan.19. Bahwa terdapat 66.271 (44%) daftar pemilih tetap (DPT) yang tidak dapat menggunakan hak pilih. Penyelenggara secara sengaja tidak mendistribusikan undangan secara menyeluruh guna menekan angka partisipasi pemilih. Tindakan ini tentu sangat merugikan serta mempengaruhi hasil perolehan suara paslon. Terdapat sejumlah warga masyarakat kota Ternate yang tidak memperoleh undangan menyampaikan surat pernyataan membenarkan kondisi tersebut.
20. Pada TPS 6 Kelurahan Tanah Tinggi ditemukan pelanggaran berupa oknum yang bukan anggota KPPS atas nama Wahyuni menandatangani Formulir C l KWK. (Bukti terlampir berupa lampiran SK penetapan KPPS Kelurahan Tanah Tinggi dan Formulir C l KWK).
E. PENGGELEMBUNGAN DAN PENGURANGAN SUARA YANG DILAKUKAN OLEH TERMOHON UNTUK MEMENANGKAN PASANGAN CALON NOMOR URUT 2:
a. Kecamatan Ternate Tenaah ;
21. Bahwa jumlah pemilih yang menggunakan hak pilih harus sama dengan jumlah surat suara yang terpakai/ digunakan dan harus sama dengan jumlah suara sah dan tidak sah. Bahwa telah terjadi selisih yang signifikan antara pengguna hak pilih (23.918), dengan jumlah suara sah dan tidak sah (23.513), akibatnya terdapat 405 suara pem ilh yang dihilangkan.
22Jumlah pemilih yang menggunakan KTP atau Identitas kependudkan lainnya sebanyak 1.167 tidak dapat dipertanggungjawabkan karena tidak dicantumkan di dalam form C7 dan Form ATb-2. Pada saat Rapat
Pleno PPK , pada saat Kotak suara dibuka dan diperiksa semua dokumen yang ada, tidak terdapat Form C7 dan Form ATb-2 didalam kotak suara. (P-9.1).
23. Para saksi Tidak diberikan Salinan DPT dan DPTb pada saat pencoblosan berlangsung (Bukti P-14.1, P-14.3, P-14.6, P.14.10, P-28)
24.Terjadi mobilsisasi pemilih dari TPS Kelurahan Dufa-dufa di kecamatan ternate Utara ke TPS di kelurahan Makassar Timur di kelurahan TernateTengah (P-15.5, P-15.6).
b. Kecamatan Ternate Selatan
25.Total peroleham suara sah Calon senbanyak 25.398 tidak sesuai dengan pengguna hak pilih yakni sebanyak 28.760 sehingga ada selisih sebanyak 3.362 suara yang sengaja dihilangkan.
26.Jumlah pemilih yang menggunakan KTP atau Identitas kependudkan lainnya sebanyak 1.484 orang tidak dapat dipertanggungjawabkan karena tidak dicantumkan di dalam form C7 dan Form ATb-2. Pada saat Rapat Pleno PPK , pada saat Kotak suara dibuka dan diperiksa semua dokumen yang ada, tidak terdapat Form C7 dan Form ATb-2 didalam kotak suara.( Bukti P-9.2)
27. Para saksi Tidak diberikan Salinan DPT dan DPTb pada saat pencoblosan berlangsung (Bukti P-13.5, vide Bukti P-28)
28.Terjadi mobilsisasi pemilih dari satu TPS ke TPS lainnya (Bukti P-13.10).
c. Kecamatan Ternate Utara
29.Total peroleham suara sah Calon sebanyak 22.754 tidak sesuai dengan pengguna hak pilih yakni sebanyak 21.151 sehingga terjadi penggelembungan suara sebanyak 1.243 .
30.Jumlah pemilih yang menggunakan KTP atau Identitas kependudkan lainnya sebanyak 819 orang tidak dapat dipertanggungjawabkan karena tidak dicantumkan di dalam form C7 dan Form ATb-2. Pada saat Rapat Pleno PPK , pada saat Kotak suara dibuka dan diperiksa semua dokumen yang ada, tidak terdapat Form C7 dan Form ATb-2 didalam kotak suara.(Bukti P-9.3).
31. Para saksi Tidak diberikan Salinan DPT dan DPTbl pada saat pencoblosan berlangsung (Bukti P-15.2, vide Bukti P-28)
d. Kecamatan Ternate Pulau
32. Bahwa terjadi selisih antara jumlah pengguna hak pilih (9.339) dengan Suara sah dan suara tidak sah ( 9.685) sehingga terjadi pengurangan atau sengaja dihilangkan sebanyak 623 suara. 33.Jumlah pemilih yang menggunakan KTP atau Identitas kependudkan
lainnya sebanyak 60 orang tidak dapat dipertanggungjawabkan karena tidak dicantumkan di dalam form C7 dan Form ATb-2. Pada saat Rapat Pleno PPK , pada saat Kotak suara dibuka dan diperiksa semua dokumen yang ada, tidak terdapat Form C7 dan Form ATb-2 didalam kotak suara. Disamping itu Para saksi tidak diberikan salinan DPT dan DPTb-1 oleh KPPS (Bukti P-5).
e. Kecamatan Hiri
34. Bahwa terjadi selisi antara Penguna Hak Pilih 1.732 dengan suara Sah dan tidak Sah 1.120, akibatnya terdapat 612 suara yang dihilangkan .
f. Kecamatan Pulau Moti
35. Terdapat Daftar pemilih Tambahan 2 ( DPTb2) 1.167 yang tidak terdaftar menggunakan Hak Pilih
36. Surat suara yang di digunakan 2.677, jumlah pengguna Hak Pilih harus sama dengan Jumlah surat suara yang digunakan dan harus sama dengan Suara sah dan tidak sah, telah terjadi selisih yang signifikan antara pengguna hak pilih (23.918), dengan jumlah suara sah dan tidak sah (23.513), akibatnya terdapat 405 pemilih yang dihilangkan;
Bahwa berdaasarkan data penggelembungan di seluruh Kecamatan yang ada di Kota Ternate maka terbukti total suara yang digelembungkan oleh Termohon adalah 1.243 suara dan total suara yang dihilangkan adalah 5.407 suara.
PELANGGARAN YANG DILAKUKAN OLEH TERMOHON PADA SAAT PENCOBLOSAN UNTUK MEMENANGKAN PASANGAN CALON NOMOR URUT 1.
1. Kecamatan Ternate Selatan
37. Bahwa pada tanggai 9 desember 2015, saksi paslon no urut 3 tepatnya di TPS 02 kelurahan jambula, menemukan adanya pelanggaran yang di lakukan oleh saudara SOFYAN AHMAD yang menggunakan undangan atas nama ANUAR UMAR dan mencolos di TPS 2, padahal saudara SOFYAN AHMAD terdaftar di TPS 03, setelah di konfirmasi (NORMAWATI HAMID) yang menjadi saksi di TPS tersebut adalah saudara SOFYAN AHMAD juga sebelumya telah
menggunakan hak pilihnya di TPS 3 (Bukti P - 13.9)
38. Bahwa pada tanggai 09 desember 2015, pukul 11:00 di lokasi TPS 07 kel. Manggadua (tepatnya di kantor lurah Mangga Dua), saksi paslon no. 3 di TPS tersebut mendapati dua orang wanita 1). Nur/isa Patimura, domisili kelurahan Kalumata(kec. Ternate selatan) berdasarkan KTP, 2). Eti, berdomisili di kel. Sabia (kec. Ternate utara)mereka berdua ada di TPS 7 kel. Manggadua untukikut mencoblos Di TPS tersebut. Kemudian dilakukan pengecekan di DPT kedua orang tersebut ternyata tidak terdapat nama yang dimaksud. Atas pelanggaran tersebut saksi sudah meminta form keberatan dan sempat memanggil kedua pelaku namun kedua pelaku menolak memberikan keterangan dan buru-buru pergi. Hal ini di ketahui KPPS setempat. Temuan ini sudah di sampaikan ke PANWAS dan PPK namun tidak ada tindaklanjutnya hingga kini (Bukti P - 13.10)
39.Bahwa di TPS 07, ditemukan adanya form Cl.KWK milik petugas terdapat tipe-ex, sedangkan form C l milik para saksi tidak terdapat tipe-ex, padahal pada saat perhitungan tidak ada kejadian salah hitung. Sepengetahuan kami kalaupun ada kesalahan penulisan cukup dicoret bukan di tipe-ex (Bukti P - 13.10)