• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1

Karakteristik Responden

Karakteristik responden diungkap dari aspek jenis kelamin, usia, kualifikasi akademik, status kepegawaian, masa kerja, dan golongan yang dapat dilihat pada Tabel 4.1 sampai Tabel 4.6.

Tabel 4.1

Karakteristik Responden berdasarkan Jenis Kelamin

Gender

Guru yang Sudah sertifikasi

Guru yang belum sertifikasi

Frekuensi Prosen tase Frekuensi Prosentase

Laki-laki 2 2,86% 9 3,91% Perempuan 68 97,14% 221 96,09%

Total 70 100% 230 100%

Sumber: Data primer yang diolah, 2013

Pada Tabel 4.1 menunjukkan bahwa responden pada penelitian ini sebagian besar berjenis kelamin perempuan, bagi guru yang bersertifikasi (97,14) dan bagi guru yang belum bersertifikasi (96,09).

(2)

Tabel 4.2

Karakteristik Responden berdasarkan usia

Usia Guru yang sudah sertifikasi

Guru yang belum sertifikasi

Frekuensi Prosentase Frekuensi Prosentase

21-25 tahun 0 0 % 20 8,69% 26-30 tahun 1 1,43 % 22 9,56% 31-35 tahun 6 8,57% 50 21,74% 36-40 tahun 8 11,43% 36 15,65% 41-45 tahun 20 28,57% 26 11,30% 46-50 tahun 16 22,86% 31 13,47% 51-55 tahun 14 20,00% 36 15,65% 56-60 tahun 5 7,14% 9 3,91% Total 70 100% 230 100%

Sumber: Data primer yang diolah tahun, 2013.

Tabel 4.2 menunjukkan bahwa sebagian besar responden dari penelitian ini guru bersertifikasi ber-usia antara 41 tahun hingga 45 tahun (28,57%), dan guru yang belum bersertifikasi berusia antara 31 tahun hingga 35 tahun (21,74%).

(3)

Tabel 4.3

Karakteristik Responden berdasarkan Jenjang Pendidikan

Pendidikan

Guru yang sudah sertifikasi

Guru yang belum sertifikasi

Frekuensi Prosentase Frekuensi Prosentase

SLTA 12 17,14% 68 29,56% D 2 4 5,71% 127 55,22% S 1 54 77,14% 35 15,22% Total 70 100% 230 100%

Sumber: Data primer yang diolah tahun 2013

Responden pada penelitian ini sebagian besar berkualifikasi akademik untuk guru yang sudah ber-sertifikasi adalah berkualifikasi akademik S1 (77,14%), sedangkan guru yang belum bersertifikasi prosentase terbesar adalah responden dengan berkualifikasi aka-demik D2 (55,22%).

Tabel 4.4

Karakteristik Responden berdasarkan Status Kepegawaian

Status Guru yang bersertifikasi

Guru yang belum sertifikasi

Frekuensi Prosentase Frekuensi Prosentase

PNS 45 64,29% 41 17,83% Swasta 25 35,71% 189 82,17% Total 70 100% 230 100%

Sumber: Data primer diolah tahun 2013

Tabel 4.4 menunjukkan bahwa responden pada penelitian ini sebagian besar adalah guru dengan status PNS (64,29%) bagi guru bersertfikasi, dan

(4)

(82,17%) berstatus swasta bagi guru yang belum bersertifikasi.

Tabel 4.5

Responden Berdasarkan Pengalaman dan Masa Kerja Kenaikan per 4 thn – 5 thn

Masa Kerja

Guru yang bersertifikasi Guru yang belum sertifikasi

Frekuensi Prosentase Frekuensi Prosentase

1-5 Tahun 0 0% 50 21,74% 6-10 Tahun 3 4,29% 95 41,30% 11-15 Tahun 18 25,71% 35 15,22% 16-20 Tahun 14 20,00% 13 5,62% 21-25 Tahun 11 15,74% 20 8,70% 26-30 Tahun 22 31,43% 12 5,22% 31-35 Tahun 2 2,88% 3 1,30% 36-40 Tahun 0 0,00% 2 0,00% Total 70 100% 230 100%

Sumber: Data primer diolah tahun 2013

Dari Tabel 4.5 responden penelitian ini sebagian besar mempunyai masa kerja 26 sampai 30 tahun (31,43%) untuk guru bersertifikasi dan masa kerja 6 sampai 10 tahun untuk guru yang belum bersertifikasi (41,30%). Ada perbedaan masa kerja 10 tahun.

(5)

Tabel 4.6

Karakteristik Responden berdasarkan Pangkat dan Golongan

Golongan Guru yang bersertifikasi

Guru yang belum bersertifikasi

Frekuensi Prosentase Frekuensi Prosen tase

II/a - II/b 0 0,00% 108 46,97% II/c - II/d 0 0,00% 72 31,30% III/a - III/b 23 32,87% 37 16,07% III/c - III/d 27 38,57% 13 5,65% IV/a - IV/b 20 28,57% 0 0,00% IV/c - IV/d 0 0,00% 0 0,00% Total 70 100% 230 100 %

Sumber: Data primer diolah tahun 2013

Berdasarkan Tabel 4.6, responden dalam peneli-tian ini sebagian besar guru yang bersertifikasi mem-punyai pangkat dan golongan III/c-III/d (38,57%) untuk guru yang belum bersertifikasi mempunyai pangkat dan golongan II/a-II/b (46,97%).

4.2

Analisis Data

4.2.1 Analisis Diskriptif Kinerja Mengajar Guru

Diskripsi klasifikasi distribusi frekuensi kinerja mengajar guru yang sudah bersertifikasi dan guru yang belum bersertifikasi dapat terlihat pada Tabel 4.7 dan 4.8 sebagai berikut.

(6)

Tabel 4.7

Frekuensi Kinerja Mengajar Guru yang Bersertifikasi

Kategori Rentang Skor Frekuensi Guru Prosentase

Sangat Tinggi 51 ≤ x ≤ 60 52 74,29% Tinggi 42 ≤ x ≤ 50 18 25,71% Sedang 33 ≤ x ≤ 41 0 0,00% Rendah 24 ≤ x ≤ 32 0 0,00% Sangat rendah 15 ≤ x ≤ 23 0 0,00% Jumlah 70 100,00%

Sumber : Data primer yang diolah tahun 2013

Tabel 4.7 menunjukkan sebagian besar kinerja mengajar guru TK yang sudah bersertifikasi berada pada kategori Sangat Tinggi (74,29%).

Tabel 4.8

Frekuensi Kinerja Mengajar Guru yang Belum Sertifikasi

Kategori Rentang Skor Frekuensi Guru Prosentase

Sangat Tinggi 51 ≤ x ≤ 60 7 3,04% Tinggi 42 ≤ x ≤ 50 77 33,49% Sedang 33 ≤ x ≤ 41 141 61,30% Rendah 24 ≤ x ≤ 32 5 2,17% Sangat Rendah 15 ≤ x ≤ 23 0 0% Jumlah 230 100%

Sumber : Data primer yang diolah tahun 2013

Tabel 4.8 menunjukkan responden dalam pene-litian ini sebagian besar kinerja mengajar guru yang belum bersertifikasi berada pada kategori Sedang (61,30%).

(7)

4.3

Uji Normalitas

Sugiyono (2010) menyatakan, bahwa hipotesis yang telah dirumuskan akan diuji dengan statistik parametris yang mensyaratkan bahwa data setiap variabel yang akan dianalisis harus berdistribusi normal. Oleh karena itu sebelum pengujian hipotesis dilakukan, terlebih dahulu akan dilakukan pengujian normalitas data. Tujuan uji ini adalah untuk menge-tahui apakah data yang diambil, adalah data yang berdistribusi normal. Uji normalitas dalam penelitian

ini menggunakan uji statistik non-parametrik

Kolmogorov-Smirnov (K-S) dengan ketentuan jika probabilitas > 0,05 maka variabel yang diuji bersifat normal, apabila probabilitas < 0,05 maka variabel yang diuji bersifat tidak normal. Pengujian dilakukan dengan bantuan program SPSS for window versi 16.0.

Untuk mengetahui apakah data dari instrumen variabel kinerja mengajar guru bersertifikasi dan guru belum bersertifikasi terdistribusi dengan normal, di bawah ini ditampilkan Tabel 4.9 sebagai berikut:

(8)

Tabel 4.9

Hasil Uji Normalitas Data

Guru bersertifikasi Guru belum sertifikasi

N 70 230

Normal Parameters Mean 34.3286 32.4957 Std.Deviation 1.39067 3.31300 Most Extrem Defferences

Absolut .157 .087 Positive .130 .087 Negative -157 -074 Kolmgorov-Smirnovz 1.312 1.324 Asymp.Sig (2-tailed) .064 .060

Sumber: Data primer yang diolah tahun 2013

Pada Tabel 4.9 dapat dilihat bahwa uji normali-tas terhadap variabel kinerja mengajar untuk kelom-pok guru bersertifikasi memperoleh angka 0,064. Angka ini lebih besar dari 0,05, untuk kelompok guru belum sertifikasi memperoleh angka 0,060. Angka ini lebih besar dari 0,05, oleh karena itu data variabel kinerja mengajar guru bersertifikasi dan guru belum bersertifikasi memiliki distribusi normal.

4.4

Analisis Perbedaan antar Variabel

Penelitian

4.4.1 Perbedaan Kinerja Mengajar Guru yang Sudah

Bersertifikasi dengan yang Belum Bersertifi-kasi

Hasil perhitungan Perbedaan Kinerja Mengajar antara guru TK yang sudah bersertifikasi dengan guru TK yang belum bersertifikasi dapat dilihat pada Tabel 4.10 dan 4.11.

(9)

Tabel 4.10

Nilai rata-rata (mean) Kinerja Mengajar Guru

Group Statistic

Kinerja Mengajar Guru N Mean Std.

Deviation

Std. Error Mean

Guru yang sudah

bersertifikasi 70 34,3286 1,39067 0,16622 Guru yang belum

bersertifikasi 230 32,4957 3,31300 0,21845

Sumber: Data primer diolah tahun 2013

Tabel 4.10 menunjukkan bahwa skor rata-rata (mean) kinerja mengajar guru bersertifikasi sebesar 34,3286 sedangkan rata-rata skor guru yang belum bersertifikasi sebesar 32,4957. Artinya nilai rata-rata (mean) guru yang bersertifikasi lebih besar dengan selisih mean sebesar 1,8329.

Tabel 4.11

Analisis Perbedaan Kinerja Mengajar Guru yang Sudah Bersertifikasi dengan

yang Belum Bersertifikasi

Independent Samples Test

Levene's Test for Equality of Variances

t-test for Equality of Means

F Sig. T Df Sig. (2-tailed) Mean Diffe-rence Std. Error Diffe-rence 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper Kinerja Equal varianceassu med Equal variances not assumed 37.376 .000 6,677 270,268 .000 1.83292 .274450 1,29249 2,37335 4,505 270.268 .000 1,83292 .40683 1,03230 2,63354

(10)

Berdasarkan perhitungan uji beda rata-rata antara kelompok guru yang sudah bersertifikasi dengan kelompok guru yang belum bersertifikasi seperti tersaji dalam Tabel 4.13 diperoleh hasil thitung

sebesar 6,677 dan 4,505 dengan signifikansi 0,00<0,05 yang artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara kinerja mengajar guru yang sudah bersertifikasi dengan guru yang belum bersertifikasi.

4.5

Uji Hipotesis

Penelitian ini menguji satu hipotesis yang diajukan yaitu:

Ada perbedaan yang signifikan kinerja mengajar guru TK yang sudah bersertifikasi dengan guru TK yang belum bersertifikasi di Dinas Pendidikan Kabupaten Temanggung.

Hasil penelitian ini, berdasarkan perhitungan uji beda rata-rata kelompok guru TK yang sudah ber-sertifikasi dan kelompok guru yang belum bersertifi-kasi diperoleh thitung sebesar 6,677 dan 4,503 dengan

signifikansi 0,00 < 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan kinerja mengajar antara kelompok guru TK yang sudah bersertifikasi dengan kelompok guru TK yang belum bersertifikasi di Wilayah Dinas Pendidikan Kabupaten Temanggung, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini diterima.

(11)

4.6

Pembahasan

Penelitian ini menemukan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan kinerja mengajar guru TK di Dinas Pendidikan Kabupaten Temanggung, antara guru yang sudah bersertifikasi dengan guru yang belum bersertifikasi, adanya perbedaan kinerja menga-jar antara guru yang sudah bersertifikasi dengan guru yang belum bersertifikasi dipengaruhi oleh:

Pertama, kualifikasi pendidikan. Responden dalam penelitian ini untuk kelompok guru yang sudah bersertifikasi sebagian besar berkualifikasi akademik S1 (77,14%) memiliki kinerja mengajar pada kategori “Sangat Tinggi” (74,29%), sedangkan untuk kelompok guru yang belum bersertifikasi sebagian besar berkua-lifikasi akademik D2 (55,22%) memiliki kinerja menga-jar pada kategori “Sedang” (61,00%). Hal ini berpe-ngaruh terhadap kinerja mengajar guru, dimungkin-kan pada aspek keterampilan mengajar pada indikator gaya mengajar selama proses pembelajaran, penyam-paian materi yang sulit selama pembelajran, bagaima-na cara menjawab pertanyaan dari siswa, berdasar-kan refleksi peneliti terdapat perbedaan yang dominan antara guru yang bersertifikasi dengan guru yang belum bersertifikasi, sebagian besar guru yang bersertifikasi menuliskan jawaban selalu, sedangkan untuk guru yang belum bersertifikasi sebagian besar menuliskan jawaban jarang, Hasil ini dikuatkan pendapat Sabrina (2010) menyatakan bahwa

(12)

kualifika-si pendidikan sangat mempengaruhi baik tidaknya kinerja mengajar guru. Kemampuan seorang guru sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikannya, kare-na melalui pendidikan seseorang mengalami proses belajar dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak bisa menjadi bisa. Selama menjalani pendidikan sese-orang banyak menerima masukan baik berupa ilmu pengetahuan maupun keterampilan yang akan mem-pengaruhi pola pikir dan prilakunya. Artinya jika tingkat pendidikan seseorang lebih tinggi maka makin banyak pengetahuan serta keterampilan yang diajar-kan kepadanya sehingga kinerja mengajarnya adiajar-kan semakin baik karena didukung bekal keterampilan dan pengetahuan yang diperolehnya.

Wuviani (2004) yang meneliti tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja mengajar guru menemukan bahwa ada pengaruh yang positif dan signifikan kualifikasi pendidikan terhadap kinerja mengajar guru, semakin tinggi kualifikasi pendidikan-nya juga semakin tinggi tingkat kinerja mengajarpendidikan-nya.

Kedua, pengalaman dan masa kerja responden. Pada penelitian ini kelompok guru TK yang sudah bersertifikasi sebagian besar dengan masa kerja 26-30 tahun, sedangkan untuk kelompok guru yang belum bersertifikasi sebagian besar dengan masa kerja 6-10 tahun, dengan perbedaan 16 tahun. Yang mempenga-ruhi perbedaan kinerja mengajar antara guru yang bersertifikasi dengan guru yang belum bersertifikasi terkait dengan masa kerja responden dimungkinkan

(13)

pengalaman kerja. Hal ini peneliti melalui refleksi selama penelitian pada aspek keterampilan guru dalam pengelolaan kelas, pengelolaan siswa selama kegiatan belajar mengajar, serta pengelolaan tugas siswa dan tugas guru, untuk guru yang bersertifikasi memiliki tingkat kinerja mengajar sangat tinggi karena memiliki pengalaman kerja cukup lama. Semakin banyak pengalaman kerja guru, semakin baik juga guru dalam keterampilan pengelolaan kelas, keteram-pilan dalam pengelolaan siswa, serta keteramketeram-pilan dalam pengelolaan tugas siswa dan tugas guru, sema-kin baik juga tingkat sema-kinerja mengajarnya. Sedangkan guru belum bersertifikasi dalam hal pengalam kerja masih sedikit, sehingga kinerja mengajarnya berada pada kategori sedang. Semakin sedikit guru dalam pengalaman kerja, semakin berkurang juga guru dalam keterampilan pengelolaan kelas, keterampilan pengelolaan siswa selama proses belajar mengajar, serta keterampilan dalam pengelolaan tugas siswa dan guru, serta semakin rendah tingkat kinerja mengajar-nya.

Hanif (2004) mengemukan kinerja mengajar guru dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satu di antaranya adalah pengalaman guru, terbukti bahwa semakin banyak pengalaman kerja guru juga akan semakin meningkat tingkat kinerja mengajar guru.

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil peneli-tian Yanti (2012). Karena penelipeneli-tian yang dilakukan Yanti (2012) ditemukan bahwa ada perbedaan yang

(14)

signifi-kan kinerja mengajar antara guru bersertifikasi dengan guru yang belum bersertifikasi. Hasil peroleh-an nilai rata-rata masing-masing kinerja mengajar guru, untuk guru yang sudah bersertifikasi memiliki rata-rata kinerja mengajar 88,85, sedangkan guru yang belum bersertifikasi memiliki rata-rata kinerja mengajar 79,15. Selanjutnya hasil uji beda ttest

diper-oleh nilai thitung sebesar -2,497 dengan probabilitas

dari 0,018.

Yang menjadi dasar kesamaan peneli-tian Yanti (2012) dengan penelitian ini selain hasil yang menun-jukkan adanya perbedaan kinerja mengajar guru yang bersertifikasi dengan guru yang belum bersertifikasi adalah kedua-nya penelitian dilakukan pada lembaga pendidikan formal.

Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian Asrori (2012). Karena penelitian Asrori (2012), menyatakan bahwa kinerja mengajar guru memiliki empat dimensi yakni perencanaan pembela-jaran, pelaksanaan pembelapembela-jaran, evaluasi pembelajar-an dpembelajar-an perbaikpembelajar-an atau pengembpembelajar-angpembelajar-an. Dari empat dimensi tersebut, dua dimensi memiliki kriteria yang sama antara guru yang sudah bersertifikasi maupun yang belum bersertifikasi dengan kriteria sangat baik, sedangkan dua dimensi lainnya yaitu pelaksanaan pembelajaran dan perbaikan atau pengembangan keduanya dengan kriteria baik.

(15)

Setelah dilakukan uji beda mean dengan Anova satu jalan menunjukkan nilai thitung sebesar 0,875

dengan signifikansi 0,05, atau 0,875>0,05, maka dapat disimpulkan tidak ada perbedaan yang signifi-kan kinerja mengajar antara guru yang sudah berser-tifikasi dengan guru yang belum berserberser-tifikasi pada Madrasah Aliyah Kota Bekasi. Dengan demikian bahwa program sertifikasi guru yang diharapkan dapat mendorong kinerja mengajar guru, ternyata tidak banyak berpengaruh mengubah kinerja mengajar yang lebih baik dari pada guru yang belum bersertfikasi. Hal ini bertolak belakang dengan hasil penilitian yang dilakukan kepada guru TK yang bersertifikasi dan guru yang belum bersertifikasi di Dinas Pendidikan Kabupaten Temanggung, karena pada penelitian ini di- temukan ada perbedaan yang signifikan, dan kinerja mengajar guru TK yang sudah bersertifikasi lebih baik dari guru yang belum bersertifikasi. Artinya program sertifikasi ada pengaruhnya terhadap kinerja mengajar guru TK di Dinas Pendidikan Kabupaten Temanggung. Yang menjadi dasar tidak sejalan penelitian Asrori (2012) dengan penelitian ini, selain hasil pene-litian adalah: (1) jumlah sampel penepene-litian Asrori guru bersertifikasi 50 orang guru, guru belum sertifikasi 100 orang guru, sedangkan penelitian ini 230 orang guru belum bersertifikasi dan 70 orang guru berser-tifikasi, (2) teknik pengumpulan data penelitian Asrori menggunakan metode survei, sedangkan untuk pene-litian ini menggunakan skala, (3) instrumen penepene-litian

(16)

Asrori terdiri 45 butir pertanyaan sedangkan pada penelitian ini terdiri 15 butir pertanyaan.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil statistik uji t untuk variabel kelompok acua diperoleh nilai signifikansi 0,000; karena signifikansi lebih kecil dari 0,05 (0,000&lt;0,05), dan koefisien

Berdasarkan Tabel 4.12 diperoleh nilai rxy sebesar 0,370, dengan p=0,017 &lt; 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat korelasi yang signifikan dengan arah positif

a. Jika signifikansi t &lt; 0,05 maka H 0 ditolak yaitu variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen. Jika signifikansi t &gt; 0,05 maka H 0 diterima

variabel program diskon sebesar 3.752 lebih besar dari pada t tabel yaitu 1.66071 dengan signifikansi 0,000 &lt; 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa variabel program diskon

maka koefisien regresi tersebut signifikan karena signifikansi 0,000 &lt; 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa profitabilitas berpengaruh positif signifikan terhadap nilai

Sehingga, karena signifikansi pada output sistole perlakuan (0,007) dan diastole perlakuan (0,003)&lt; α (0,05) Maka H 0 ditolak jadi ada perbedaan antara sebelum

Pada tingkat signifikansi α = 5%; maka koefisien regresi tersebut signifikan karena nilai signifikansi 0,001 &lt; 0,05 yang dapat disimpulkan bahwa pergantian auditor

Karena nilai p&lt;0,05, maka dapat dikatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada kadar gula darah sewaktu antara kelompok eksperimen yang telah melakukan puasa Senin