295 | C o u n s e l i n g M i l e n i a l ( J o u r n a l )
DAMPAK PERCERAIAN ORANG TUA TERHADAP HUBUNGAN SOSIAL REMAJA
Mudaim1, Galih Putra Linarto2
1,2
Jurusan Ilmu Pendidikan Bimbingan dan Konseling, Universitas Muhammadiyah Metro E-mail: [email protected], [email protected]2
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk megetahui dampak hubungan sosial remaja yang mengalami masalah perceraian di Desa Bajarrejo Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan penelitian kualitatif dengan jenis studi kasus dengan memilih sumber dengan teknik purposive sampling yang menjadikan individu subjek satu-satunya. Pada penelitian ini mengkaji mengenai dampak perceraian terhadap hubungan sosial remajadi mana remaja tersebut mengalami masalah orangtuanya yang bercerai. prosedur yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan observasi, triangulasi sumber dan wawancara terstruktur untuk mendapatkan informasi menganai dampak perceraian terhadap hubungan sosial remaja. Analisis data dilakukan dengan cara pengumpulan data, dalam penelitian ini menggunakan subjek MP, CM dan I. Peneliti menggunakan tiga nara sumber: satu subjek yang orang tuanya bercerai kemudian nara sumber penguat jawabanya itu teman dekat dan orang tua, kemudian reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. Dampak perceraian orang tua terhadap hubungan sosial dan penyesuaian diri remaja adalah merasa malu, marah, sedih, tidak nyaman, stres, tertekan dan menjadi pribadi introvet di lingkungan masyarakat. Peneliti memberikan saran agar remaja di berikan kasih sayang, perhatian penuh dari orang tua, lingkungan masyarakat dan di berikan konseling individu agar remaja menjadi pribadi yang hubungan sosial dan penyesuaian diri yang baik.
Kata kunci: Dampak Perceraian, Hubungan Sosial Remaja
Abstract
This study aims to determine the social relationships of adolescents who improve the problem of divorce in the village of Bajarrejo Batanghari District, East Lampung Regency. In this study researchers used qualitative research with a type of case study by choosing a source with a purposive sampling technique that made the individual subject the only one. In this study, it examines the impact of divorce on adolescent social relations where the teenager experiences problems with divorced parents. the procedure used in this study used observation, source triangulation and structured interviews to obtain information on the impact of divorce on adolescent social relations. Data analysis was done by collecting data, in this study using subjects MP, CM and I. Researchers used three speakers: one teenager whose parents divorced and then the answer reinforcer, close friends and parents, then data reduction, data presentation, conclusion drawing. The impact of parental divorce on social relations and teenage anger, anger, sadness, discomfort, stress, stress and intro-personal in the community. Researchers suggest that adolescents give attention to parents, the community environment and provide counseling so that adolescents become socially related and accept themselves well.
Keywords: Impact of Divorce, Adolescent Social Relations
296 | C o u n s e l i n g M i l e n i a l ( J o u r n a l )
Keluarga merupakan lingkungan terdekat untuk membesarkan, mendewasakan dan di dalamnya remaja mendapatkan pendidikan pertama kali. Setiap orang pasti mendambakan keluarga yang harmonis, tenang, riang gembira, saling menyayangi diantara anggota keluarga dan keluarga yang penuh dengan rasa aman. Sekarang ini permasalahan yang sering terjadi biasanya dimulai dari lingkungan keluarga, misalnya pertengkaran antar suami-istri sehingga mengakibatkan perceraian dan berdampak kurang baik bagi perkembangan kepribadian remaja.
Perceraian yang terjadi oleh orang tua memberikan pengaruh yang besar dalam perkembangan konsep diri anak dalam kehidupannya dan kehidupan sehari-hari. Perceraian sering dianggap suatu peristiwa tersendiri dan menegangkan dalam kehidupan keluarga. Tetapi, peristiwa ini sudah menjadi bagian dari kehidupan dalam masyarakat. Peristiwa perceraian dalam keluarga senantiasa membawa dampak yang mendalam untuk suami, istri dan terutama anaknya. Kasus ini menimbulkan stress, tekanan, dan menimbulkan perubahan fisik, dan mental. Keadaan ini dialami oleh semua anggota keluarga.
Perceraian bukan merupakan akhir kehidupan suami istri. Namun orang tua yang telah bercerai harus tetap memikirkan bagaimana membantu anak mengatasi masalah akibat ayah ibunya berpisah. Karena perceraian tidak hanya berdampak pada pasangan suami istri tersebut akan tetapi keluarga dari masing-masing pihak dan anaklah yang paling merasakan dampak dari perceraian tersebut.
Hal yang terjadi setelah perceraian orang tua yakni anak yang mengalami perubahan prilaku, pribadi, sosial dan emosionalnya sebelum dan setalah terjadinaperceraian orang tua. Dikarenakan anak beranggapan sudah tidak adanya perhatian orang tua yang penuh karena ibu dan ayahnya sudah bercerai. Perceraian juga mempengaruhi dan memberikan dampakterhadap tingkah laku anti sosial turut dikaitkan dengan tingkah laku dan struktur keluarga itu sendiri.
297 | C o u n s e l i n g M i l e n i a l ( J o u r n a l )
Fenomenanya ada remaja yang memiliki permasalahan perceraian orang tuanya yang berdampak bagi dirinya. Hal ini disebabkan oleh bebrapa factor baik itu faktor internal dan eksternal. Peristiwa perceraian itu menimbulkan berbagai akibat terhadap orang tua dan anak mulai dari masalah social dan lain-lain. Remaja yang mengalami permasalahan orang tua yang berceraiakan terlihat berbeda dengan remaja yang keluarganya harmonis dan bahagia perbedaan itu terlihat dari dampak, pola asuh dan juga hubungan sosialnya.
Menurut Dogun (2002:117) menyatakan bahwa: “Kasus perceraian membawa akibat yang sangat mendalam. Pristiwa ini menyebabkan ibu dan ayah menjadi kurang mampu mengatasi kehidupan anaknya sehari-hari. Akibat yang lain muncul serentetan kasus seperti tindakan-tindakan yang semestinya tidak terjadi”.
Fenomenanya masih remaja yang memiliki permasalahan perceraian orang tuanya yang berdampak bagi dirinya. Hal ini disebabkan oleh bebrapa faktor baik itu faktor internal dan eksternal. Peristiwa perceraian itu menimbulkan berbagai akibat terhadap orang tua dan anak mulai dari masalah sosial dan lain-lain. Remaja yang mengalami permasalahan orang tua yang bercerai akan terlihat berbeda dengan remaja yang keluarganya harmonis dan bahagia perbedaan itu terlihat dari dampak, pola asuh dan juga hubungan sosialnya.
Menurut hasil beberapa penelitian, hampir 60% hasil penelitian kasus perceraian di Amerika Serikat dan 75% di Inggris melibatkan anak-anak. meski sudah ada ketentuan dan undang-undang tentang pihak siapa yang bertanggung jawab atas diri anak dalam kasus perceraian, namun kenyataannya sering pihak ibu yang mencapai 90% mengambil alih tanggung jawab itu.
Berdasarkan hasil prasurvei di Desa Banjarrejo Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur pada hari Minggu tanggal 28 Oktober 2018 terdapat remaja yang berinisial
298 | C o u n s e l i n g M i l e n i a l ( J o u r n a l )
MP (17 tahun) mengalami masalah akibat perceraian orang tua. Masalah perceraian ini dapat menimbulkan dampak yang positif/negatif bagi MP untuk masa depannya.
Idealnya remaja yang mengalami permasalahan seperti MP mendapatkan perhatian, kasih sayang dan pola asuh dari orang tuanya karena masa remaja ini adalah masa pencarian jati diri untuk dirinya dan juga harus diberikan bimbingan, pemahaman dan juga bisa menerima masalah dalam keluarganya dan tidak mengalami masalah atau dampak yang buruk bagi remaja.
Keluarga telah membentuk kepribadian seseorang sejak kecil dan terus memberikan pengaruh yang amat besar kepada tingkah laku, sikap dan pemikiran seseorang dalam alam dewasa, sehingga ketika keluarga tersebut mengalami masalah seperti perceraian akan menimbulkan dampak bagi suami, istri dan anaknya.
Orang tua yang bercerai akan mempengaruhi kehidupan atau perkembangan anaknya. Karena anak mendapat kurangnya dukungan dan perhatian dari keluarganya sehingga dia mencari lingkungan baru yang bisa menerima dan memberikan perhatian penuh. Penyebab lain masalah tersebut kurang bisanya dia menerima perceraian yang terjadi pada orang tuanya sehingga mempengaruhi pribadi dan bahkan sikap sosialnya dan dia mencari ruang lingkup baru yang bisa membuat MP nyaman dan mendapatkan perhatian. Memberikan pengetahuan kepada MP supaya lebih bisa memahami dan menerima keadaannya keluarganya.
Berdasarkan latar belakang masalah menunjukkan bahwa adanya dampak terhadap remaja yang orang tuanya bercerai sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul: “StudiKasus Dampak Perceraian Orang Tua terhadap Hubungan Sosial Remaja di Desa Banjarrejo Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur”.
299 | C o u n s e l i n g M i l e n i a l ( J o u r n a l ) METODE PENELITIAN
Penelitian yang dilakukan oleh peneliti selalu melibatkan pendekatan untuk
mempermudah peneliti dalam melakukan penelitian. Melalui adanya pendekatan
dalam penelitian akan membantu peneliti menentukan langkah penelitiannya untuk
mencari informasi atau data secara mutlak apa adanya.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini merupakan pendekatan secara kualitatif, Denzin dan Lincoln (dalam Moleong 2007:5) menyatakan bahwa: “pendekatan penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar ilmiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada”. Jenis pendekatan studi kasus dan digunakan dalam penelitian ini dengan maksud untuk memehami fenomena tentang apa yang dialami subjek penelitian, yaitu prilaku subjek, hubungan sosial subjek, tindakan subjek. Dalam penelitian ini peneliti melakukan studi kasus dengan menggunakan penelitian kualitatif untuk mendapatkan data dari permasalahan yang terjadi. Sehingga informasi dan data secara sempurna nantinya bisa didapat secara maksimal melalui proses wawancara, observasi, triangulasi sumber dan analisis data yang dilakukan peneliti dengan baik.
Menurut Sugiyono (2016) Sumber data dalam penelitian adalah: “manusia dan benda seperti alat dokumentasi”. Sedangkan menurut Arikunto (2014) menyatakan bahwa: “sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana dapat diperoleh Penentuan sumber menggunakan teknik purposive sampling dengan maksud menggunakan individu yang mempunyai masalah satu-satunya subjek dalam penelitian. Dalam penelitian ini peneliti melakukan studi kasus dengan menggunakan penelitian kualitatif untuk mendapatkan data dari permasalahan yang terjadi. Sehingga informasi dan data secara sempurna nantinya bisa didapat secara maksimal melalui proses wawancara, observasi, triangulasi sumber dan analisis data yang dilakukan peneliti dengan baik. Prosedur penelitian dengan
300 | C o u n s e l i n g M i l e n i a l ( J o u r n a l )
menggunakan observasi dan wawancara tidak terstruktur, triangulasi sumber dan triangulasi, metode analisis data dengan cara menggumpulkan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Uraikan tahap-tahapan penelitian kualitatif itu meliputi langkah-langkah sebagai berikut:
a. Persiapan
1) Menyusun rancangan penelitian, penelitian yang dilakukan berangkat dari permasalahan mengenai studi kasus dampak perceraiain orangtua terhadap remaja di Desa Banjarrejo Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur. 2) Memilih lokasi yaitu sesuai dengan permasalahan yang diangkat dalam
penelitian, maka dipilih lokasi penelitian yang akan digunakan sebagai sumber data yaitu: di Desa Banjarrejo Kecamatan Batanghari Kabupaten Lampung Timur.
3) Mengurus perizinan yaitu mengurus berbagai hal yang diperlukan untuk kelancaran kegiatan penelitian.
4) Menjajaki dan melihat keadaan yaitu proses penjajagan lapangan dan sosialisasi diri dengan keadaan, karena penelitilah yang menjadi alat utamanya maka penelitilah yang akan menentukan apakah lapangan merasa terganggu atau tidak.
5) Memilih dan memanfaatkan informasi yaitu ketika peneliti menjajaki dan mensosialisasikan diri di lapangan, ada hal penting lainnya yang perlu peneliti lakukan yaitu menentukan nara sumber yaitu remaja (MP) serta pihak-pihak lain yang mampu memberikan informasi mengenai permasalahan dalam penelitian ini.
6) Menyiapkan wawancara penelitian dalam penelitian kualitatif yaitu peneliti sebagai pengumpul data (instrumen). Peneliti terjun secara langsung ke
301 | C o u n s e l i n g M i l e n i a l ( J o u r n a l )
lapangan untuk mengumpulkan sejumlah informasi yang dibutuhkan. Dalam rangka kepentingan pengumpulan data, teknik yang digunakan dapat berupa kegiatan observasi, wawancara dan studi dokumentasi.
b. Lapangan
1) Memahami dan Memasuki Lapangan yaitu memahami latar penelitian, latar terbuka dimana secara terbuka orang berinteraksi sehingga peneliti hanya mengamati, latar tertutup dimana peneliti berinteraksi secara langsung dengan orang.
2) Penampilan, menyesuaikan penampilan dengan kebiasaan, adat, tata cara, dan budaya latar penelitian.
3) Pengenalan hubungan peneliti dilapangan, bertindak netral denngan peran serta dalam kegiatan dan hubungan akrab dengan subyek.
4) Jumlah waktu studi, pembatasan waktu melalui keterpenuhan informasi yang dibutuhkan
5) Aktif dalam kegiatan (pengumpulan data) peneliti merupakan instrumen utama dalam pengumpulan data, jadi peneliti harus berperan aktif dalam pengumpulan sumber.
c. Pengelolaan Data
1) Analisi data yaitu melakukan analisis terhadap data yang telah didapatkan, peneliti dalam hal ini bisa melakukan interpretasi dari data yang didapatkan dilapangan.
2) Mengambil kesimpulan dan verifikasi, berdasarkan kegiatan-kegiatan sebelumnya, langkah selanjutnya adalah menyimpulkan dan melakukan verifikasi atau kritik sumber apakah data tersebut valid atau tidak.
302 | C o u n s e l i n g M i l e n i a l ( J o u r n a l )
3) Narasi hasil analisis yaitu pelaporan hasil penelitian dalam bentuk tulisan dan biasanya pendekatan kualitatif lebih cenderung menggunakan metode deskriptif analisis.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan data-data yang didapatkan dilapangan melalui wawancara dan observasi, maka data tersebut akan peneliti paparkan dan dianalisis dengan metode deskriptif sehingga peneliti akan menguraikan data-data yang ada berupa kata.
Setelah dilakukan reduksi dan analisis data penelitian tersebut, maka dapat penulis data yang relevan berdasarkan fokus dan tujuan penelitian, secara rinci dengan penyajian penelitian sebagai berikut:
A. Dampak Perceraian Orang Tua terhadap Hubungan Sosial Remaja
Perceraian orang tua mempunyai dampak hubungan sosial yang dapat mempengaruhi remaja. pada temuan penelitian ini senada dengan teori yang dijelaskan oleh Asih (dalam Ningrum: 2013) dijelaskan bahwa “Dampak yang bisa terjadi pada anak remaja dari pasangan bercerai, biasanya dari segi psikis. Seperti perasaan malu, sensitif, rendah diri. Sehingga perasaan tersebut dapat membuat remaja menarik diri dari lingkungan”.
B. Dampak Perceraian Orang Tua terhadap Penyesuaian Diri Remaja
Dampak perceraian ini sangat berkaitan dengan cara penyesuaian diri, hasil peneltian ini senada dengan teori yang dikemukakan oleh Adrian (dalam Ningrum: 2013) perceraian bagi anak adalah “tanda kematian keutuhan keluarganya, rasanya separuh diri anak telah hilang, hidup tak akan sama lagi setelah orangtua mereka
303 | C o u n s e l i n g M i l e n i a l ( J o u r n a l )
bercerai dan mereka harus menerima kesedihan dan perasaan kehilangan yang mendalam, perasaan kehilangan, penolakan dan ditinggalkan”.
Temuan peneltian ini senada dengan teori yang dikemukakan oleh Dogun (2002:113) menyatakan bahwa “Peristiwa perceraian dalam keluarga senantiasa membawa dampak yang mendalam. Kasus ini menimbulkan stres dan menimbulkan perubahan fisik, juga mental.Keadaan ini dialami oleh semua anggota keluarga, ayah, ibu, dan anak”. Perceraian sangat luas dampaknya bisa seperti juga cara menyesuaikan diri diri setelah orang tuanya bercerai, anak merasa minder jika bergaung dengan teman-temannya yang oang tuanya tidak bercerai atau lengkap.
KESIMPULAN
1. Dampak perceraian orang tua terhadap hubungan sosial remaja adalah merasa malu, marah, kecewa, hubungan dengan orang tua sudah tidak harmonis terutama kepada ayahnya, hubungan sosial dengan teman terganggu seperti lebih suka sendiri atau bermain berdua dengan teman akrabnya, lebih suka untuk berdiam diri dirumah dan tidak nyaman ketika berada di lingkungan masyarakat, dalam komunikasi dengan orang tua, teman lebih keras namun di masyarakat lebih menjadi pribadi yang pendiam.
Jika hal ini dilakukan dengan cara memberikan perhatian, kasih sayang yang penuh terhadap remaja dan memberikan kesempatan untuk remaja diberi kesempatan di masyarakat maka hubungan sosial remaja akan menjadi lebih baik dari yang semula merasa malu, marah, kecewa dan pendiam menjadi lebih baik lagi dilingkungan keluarga, teman dan masyarakat.
2. Dampak perceraian orang tua terhadap penyesuaian diri remaja adalah merasa tidak nyaman, tertekan, stress dan lebih dekat dengan ibunya, merasa canggung jika bermain dengan teman yang mempunyai orang tua lengkap, sering dikucilkan jika bermain
304 | C o u n s e l i n g M i l e n i a l ( J o u r n a l )
dengan teman-temannya, menjadi pribadi yang pendiam dan tertutup dan mencoba untuk berubah jadi lebih terbuka.
Jika hal ini dilakukan dengan cara memberikan terapi konseling, kenyamanan dalam keluarga, lingkungan bermain dan masyarakat maka penyesuaian diri remaja akan menjadi baik dan lebih ke extrovert karena diberikan kesempatan dan diberikan perlakuan yang baik dan menyenangkan.
SARAN
Agar dampak perceraian orang tua terhadap hubungan sosial remaja yang dialami oleh MP dapat teratasi baik hubunggan sosial dan penyesuaian dirinya maka:
a. Agar remaja yang mengalami dampak perceraian orang tua pertama tidak merasa malu, marah, kecewa dan hubungan dengan orang tua, teman dan masyarakat baik di beri dukungan, diberikan terapi seperti konseling individu dengan konselor dan kasih sayang agar hubungan sosialnya dengan orang tua terutama ayah, teman bermain dan masyarakat lebih baik lagi.
b. Agar remaja yang mengalami dampak perceraian terhadap penyesuaian diri pertama tidak merasa stress, tertekan, tidak nyaman, merasa canggung bermain dan pendiam ketika di masyarakat diberi kenyamanan baik dalam keluarga, tidak membahas tentang perceraian orang tua ketika bermain dengan teman, masyarakat lebih peka agar tidak menjadi pribadi yang pendiam ketika di masyarakat dan lebih diajak untuk selaluikut kegiatan yang ada di dalam masyarakat.
305 | C o u n s e l i n g M i l e n i a l ( J o u r n a l ) DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsini. 2014. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Teknik. Jakarta: Rineka Cipta.
Dewi dan Utami. 2013. Subjective Well‐Being Anak Dari Orang Tua Yang Bercerai. Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Jurnal Psikologi. Volume 35, NO. 2, 194 – 212.
Dagun, M. S. 2002. Psikologi Keluarga. Jakarta : Rineka Cipta.
Moleong, Lexy. J. 2017. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Ningrum, Putri Rosalia. 2013. Perceraian Orang Tua dan Penyesuaian Diri Remaja. e
jurnal.psikologi.fisip.unmul.org. ISSN 0000-0000.
Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: CV. Alfabeta.
Tim Penyusun PPKI. 2015. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Edisi Revisi. Metro: Universitas Muhammadiyah Metro.